Anda di halaman 1dari 13

ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH

DISUSUN
O

KELOMPOK : 5 judul ke-6


KHALIS SYUHADA (160802067)
M RIYAN HIDAYAT (160802062)

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU PEMERINTAHAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH
Oleh:
Khalis Syuhada (160802067)
Riyan Hidayat (160802062)

A. PENDAHULUAN

Sehubungan dengan persoalan ini, Ibn Habib An-Naisabari pernah mengemukakan tiga
pendapat mengenai kaitan ayat-ayat Al-Quran terhadap muhkam-mutasyabih.
Pertama, seluruh ayat Al-Quran adalah muhkam berdasarkan firman Allah dalam QS. Hud : 1,
Kedua, seluruh ayat Al-Quran adalah mutasyabih berdasarkan firman Allah dalam QS. Az-
Zumar : 39,
Ketiga, pendapat yang paling tepat, ayat-ayat Al-Quran terbagi dalam dua bagian,
yaitu muhkan dan mutasyabih berdasarkan firman Allah dalam QS. Ali Imran : 7.

B. Pengertian Muhkam Dan Mutasyabih

Manna Khalil Al-Qattan menjelaskan Muhkam dan Mutasyabih dalam buku studi Ilmu-
Ilmu Quran, bahwa menurut bahasa Muhkam yang artinya saya menahan binatang itu, juga
bisa diartikan,saya memasang hikmah pada binatang itu. Hikmah dalam ungkapan ini berarti
kendali.Muhkam berarti (sesuatu) yang dikokohkan, jadi kalam Muhkam adalah perkataan yang
seperti itu sifatnya. Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari 2 (dua)
hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain, karena adanya kemiripan diantara keduanya secara
konkrit maupun abstrak. Jadi, tasyabuh Al-Kalam adalah kesamaan dan kesesuaian perkataan,
karena sebagainya membetulkan sebagian yang lain. 1
Sedangkan menurut terminologi (istilah), muhkam dan mutasyabih diungkapkan para
ulama, seperti berikut ini :
1. Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik
melalui takwil ataupun tidak. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya

1 Hadi, Abd. 2010, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, Surabaya:Graha Pustaa Islamic Media
hanya dapat diketahui Allah, seperti saat kedatangan hari kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf-
huruf muqathaah. (Kelompok Ahlussunnah)2
2. Abi Hatim mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat1 yang harus diimani dan
diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak
harus diamalkan.
3. Mayoritas Ulama Ahlul Fiqh yang berasal dari pendapat Ibnu Abbas mengatakan, lafadz
muhkam adalah lafadz yang tak bisa ditakwilkan melainkan hanya satu arah/segi saja.
Sedangkan lafadz yang mutasyabbih adalah lafadz yang bisa ditakwilkan dalam beberapa
arah/segi, karena masih sama (semakna-red).

Dari pengertian-pengertian ulama diatas, sudah dapat disimpulkan bahwa inti pengertian dari
ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi dan tidak
menimbulkan pertanyaan jika disebutkan. Yang termasuk dalam kategori ayat-ayat muhkam itu
nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas) dan zhahir
(makna lahir). Adapun pengertian dari ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya
belum jelas. Yang 3termasuk dalam kategori ayat-ayat mutasyabih adalah mujmal (global),
muawwal (harus ditakwil), musykil, dan mubham (ambigius).

C. Sikap ulama terhadap Ayat-Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat mutasyabih tidak diketahui tawilnya oleh
sipapun kecuali Allah sendiri. Mereka mewajibkan supaya orang tidak mencari-cari tawilnya
dan menyerahkan persoalan itu kepada Allah SWT.

Meskipun demikian, Abul Hasan al-Asyari berpendapat bahwa, ayat yang berhenti atau
berakhir pada kalimatdan orang-orang yang berilmu mendalam. Dengan demikian para ulama
itu mengetahui tawilnya. Pendapat tersebut diperjelas oleh Abu Ishaq asy-Syirazi yang
mendukungnya dengan mengatakan: Pengetahuan Allah mengenai tawil ayat-ayat
mutasyabihat itu dilimpahkan juga pada ulama yang ilmunya dalam, sebab firman yang

2 Hadi, Abd. 2010, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, Surabaya:Graha Pustaa Islamic Media

3
diturunkan-Nya itu adalah pujian bagi mereka. Kalau mereka tidak mengetahui maknanya,
berarti mereka sama dengan kaum awam.

Ar-Raghib al-Asfahani mengambil jalan tengah yaitu:


Ayat atau lafaz yang sama sekali tidak tidak dapat diketahui hakikatnya, seperti waktu tiba hari
kiamat.
Ayat atau lafaz yang khusus hanya diketahui maknanya oleh orang-orang yang ilmunya dalam
dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang
Selain mereka. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh doa Rasulullah SAW kepada Ibnu
Abbas: Ya Allah, karuniailah ia ilmu yang mendalam mengenai agama, dan limpahkanlah
pengetahuan tentang tawil kepadanya.
*Dari mazhab salaf (para ulama dikalangan generasi sahabat Nabi)
Menyerahkan hakikat mananya hanya kepada Allah. Mereka mensucikan Allah dari
pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang
diterangkan Al-Quran.
*Dari mazhab khalaf (para ulama dikalangan generasi-generasi berikutnya)
Boleh mengartikan ayat tersebut sesuai dengan pemakaian bahasa yang sesuai dengan
kalamullah (kesempurnaan Allah).

D. Fawatih As-Suwar

Menurut bahasa, fawatih adalah jama dari kata fatih atau fawatih yang berarti
awalan/pembuka. Sedangkan suwar adalah jama dari kata surah yang berarti sekumpulan ayat-
ayat Al-Quran yang diberi nama tertentu.
Jadi, fawatih as-suwar berarti beberapa pembuka dari surah-surah Al-Quran / beberapa
macam awalan dari surah-surah Al-Quran. Sebab, seluruh surah Al-Quran yang berjumlah 114
buah itu dibuka dengan 10 pembukaan, dan tidak ada satu surahpun yang keluar dari 10
pembukaan itu. Dan tiap-tiap macam pembukaan itu mempunyai rahasia/hikmah sendiri-sendiri.
Diantara pembukaan itu ada yang berbentuk al-muqathaah, kata, maupun kalimat.4
Istilah fawatih as-suwar sering dijumbuhkan orang dengan al-hurufull muqathaah.
Diantaranya adalah Dr. Shubhi Ash-Shalih dalam kitabnya Mabahits Fi Ulumil Quran. Karena
4 Abu Djalal, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya, 2012.
itu, perlu ditegaskan bahwa fawatih as-suwar itu berbeda dengan hurufull muqathaah yang
hanya mempunyai salah satu macam dari fawatih as-suwar yang ada 10 macam itu.
Menurut Imam Al-Qasthalani dalam kitabnya Lathaiful Iayarati, fawatihush suwar
dibedakan menjadi 10 macam, yaitu:
1. Pembukaan dengan pujian kepada Allah SWT (Al-Istiftaahu Bits Tsanaai)
a. Menetapkan sifat-sifat terpuji (Al-Itsbaabu Sifaatil Maddhi) dengan menggunakan:
* hamdalah, yang terdapat pada 5 surah, yaitu:
-
Surah Al-Fatihah dengan lafal
- Surah Al-Anam dengan lafal
-
Surah Al-Kahfi dengan lafal
- Surah Saba dengan lafal
-
Surah Fathir dengan lafal
* tabaaraka, yang terdapat dalam 2 surah, yaitu:
- Surah Al-Furqan dengan lafal
- Surah Al-Mulk dengan lafal
b. Mensucikan Allah SWT dari sifat-sifat negatif (Tanziihu An Shifatin Nuqshaan) dengan
menggunakan lafadz tasbih yang terdapat dalam 7 surah, yaitu:
- Surah Al-Isra dengan lafal
maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam.
- Surah Al-Ala dengan lafal
sucikanlah nama Tuhanmu yang paling tinggi.5
- Surah Al-Hadid dengan lafal

semua yang ada dilangit dan yang ada dibumi bertasbih pada Allah ( menyatakan kebesaran
Allah.
-
Surah Al-Hasyr dengan lafal
telah bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi.
- Surah Al-Shaff dengan lafal

telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada dilangit dan apa saja yang ada dibumi.

6
- Surah Al-Jumah dengan lafal

5 Abu Djalal, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya, 2012.


telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada dilangit dan apa saja yang ada dibumi.
- Surah Al-Taghabun dengan lafal

telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada dilangit dan apa saja yang ada dibumi.
2. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-purus (Istiftaahu Bil Huruufi Al-Muqaththaati).
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 209 surah dengan memakai 14 huruf dengan
tanpa diulang, yakni: hamzah, ha, ro, sin, shod, tho, ain, qaf, kaf, lam, mim, nun, ha, ya.
Pembukaan dengan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surah-surah Al-Quran
disusun dalam 14 rangkaian, terdiri dari 5 kelompok, yaitu:
a. Terdiri atas satu huruf, terdapat pada 3 tempat; Shad (surah Shad), Qaf(surah Qaf),
dan Nun (surah Al-Qalam).
b. Terdiri atas dua huruf, terdapat pada sembilan tempat; ( Q.S. Al Mumin, Q.S. As Sajdah,
Q.S. Az Zuhruf, Q.S. Ad Duhkan, Q.S. Al Jatsiyah, dan Q.S. Al Ahqaf); ( Q.S.
Thaha); ( Q.S. An Naml); dan (Q.S. Yaasin).
c. Terdiri atas tiga huruf, terdapat pada tiga belas tempat; ( Q.S. Al Baqoroh, Q.S. Ali Imron,
Q.S. Ar Rum, Q.S. Lukman, dan Q.S. Sajdah); (Q.S. Yunus, Q.S. Hud, Q.S. Ibrahim, Q.S.
Yusuf, dan Q.S. Al Hijr); dan ( Q.S. Al Qoshosh dan Q.S. As Syuara).
d. Terdiri atas empat huruf, terdapat pada dua tempat; yakni ( Q.S. Ar Radu) dan ( Q.S.
Al Araf).
e. Terdapat atas lima huruf, terdapat pada dua tempat; ( Q.S. Maryam) dan ( Q.S.
As Syura).
3. Pembukaan dengan Nida/panggilan (Al-Istiftaahu Bin Nidaa).
a. Nida untuk Nabi , yang terdapat dalam Q.S. Al Ahzab, At Tahrim dan At
Thalaq. dalam Q.S. al Muzammil dan dalam Q.S. Al Mudatsir.
b.Nida untuk kaum mukminin dengan lafadz terdapat dalam Q.S. Al Maidah,
Q.S. Al Mumtahanah dan Al Hujurat.
c.Nida untuk umat manusia terdapat dalam Q.S. An Nisa dan Q.S. Al Hajj.
4. Pembukaan dengan Jumlah Khabariyah (Al-Istiftaahu Bil Jumalil Khabariyyati).
Jumlah khabariyah dalam pembukaan surat ada dua macam, yaitu :
a. Jumlah Ismiyyah, terdapat 11 surat, yaitu:

6 Abu Djalal, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya, 2012.


- Surah At-Taubah dengan lafal
- Surah An-Nur dengan lafal
-
Surah Az-Zumar dengan lafal
- Surah Muhammad dengan lafal
- Surah Al-Fath dengan lafal
- Surah Ar-Rahman dengan lafal
- Surah Al-Haqqah dengan lafal
- Surah Nuh dengan lafal
- Surah Al-Qadr dengan lafal
- Surah Al-Qaqiah dengan lafal
- Surah Al-Kautsar dengan lafal
b. Jumlah Filiyyah, terdapat dalam 12 surat, yaitu :
- Surah Al-Anfal dengan lafal
-
Surah An-Nahl dengan lafal
- Surah Al-Anbiya dengan lafal
- Surah Al-Muminun dengan lafal
- Surah Al-Qamar dengan lafal
- Surah Al-Mujadilah dengan lafal

- Surah Al-Maarij dengan lafal


- Surah Al-Qiyamah dengan lafal
- Surah Al-Balad dengan lafal
- Surah Abas dengan lafal

- Surah Al-Bayyinah dengan lafal
- Surah At-Takatsur dengan lafal 7

5. Pembukaan dengan sumpah/qasam (Al-Istiftaahu Bil Qasami).


Terdapat dalam 15 surah, yaitu:
a. Sumpah dengan benda-benda angkasa, terdapat dalam 8 surah yaitu:
- Surah Ash-Shaaffat dengan lafal
- 8 Surah An-Najm dengan lafal
- Surah Al-Mursalaat dengan lafal
7 Rosihon Anwar, Ulumul Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2013.
- Surah An-Naziat dengan lafal
- Surah Al-Buruj dengan lafal
- Surah Ath-Thariq dengan lafal
- Surah Al-Fajr dengan lafal
-
Surah Asy-Syams dengan lafal
b. Sumpah dengan benda-benda bawah, terdapat dalam 4 surah yaitu:
- Surah Adz-Dzariyat dengan lafal
- Surah Ath-Thur dengan lafal
- Surah At-Tin dengan lafal
- Surah Al-Adiyat dengan lafal
c. Sumpah dengan waktu, terdapat dalam 3 surah yaitu:
- Surah Al-Lail dengan lafal
- Surah Adh-Dhuha dengan lafal
- Surah Al-Ashr dengan lafal
6. Pembukaan dengan syarat (Al-Istiftaahu Bis-Syarthi).
Syarat-syarat yang dipakai Allah sebagai pembukaan surah-surah Al-Quran ada 2
macam dan digunakan dalam 7 surah, sebagai berikut:
a. Syarat yang masuk pada jumlah ismiyah, dipakai diawal 3 surah diantaranya:
-
Surah At-Takwir dengan lafal
- Surah Al-Infithar dengan lafal

- Surah Al-Insyiqaq dengan lafal
b. Syarat yang masuk pada jumlah filiyah, dipakai diawal 4 surah, diantaranya:
- Surah Al-Waqiah dengan lafal
- Surah Al-Munafiqun dengan lafal
-
Surah Az-Zalzalah dengan lafal
-
Surah An-Nashr dengan lafal
7. Pembukaan dengan fiil amar (Al-Istiftaahu Bil Amri).
Ada 6 fiil amar yang dipakai untuk membuka surah-surah al-Quran, yang terdiri dari 2
lafal dan digunakan untuk membuka 6 surah-surah sebagai berikut:
a. Dengan fiil Amar yang hanya untuk membuka satu surah yaitu Surah Al-Alaq.
8 Rosihon Anwar, Ulumul Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2013.
b. Dengan fiil amar , yang digunakan dalam 5 surah sebagai berikut:
- Surah Al-Jinn dengan lafal
- Surah Al-Kafirun dengan lafal
-
Surah Al-Ikhlash dengan lafal
- Surah Al-Falaq dengan lafal
- Surah An-Nas dengan lafal

8. Pembukaan dengan pertanyaan (Al-Istiftaahu Bil Istifhaami).
a. Pertanyaan positif (Al-Istifhaamu Al-Muhiibiyyu), yaitu bentuk pertanyaan yang dengan
kalimat positif yang tidak ada alat negatifnya. Terdapat dalam 4 surah yaitu:
- Surah Ad-Dahru, dengan lafal:
bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa.
- Surah An-Naba, dengan lafal: .
tentang apakah mereka saling bertanya-tanya. Tentang berita yang besar.
- Surah Al-Ghasyiyyah, dengan lafal:
sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan.
- Surah Al-Maun, dengan lafal:
tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama.
b. Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan yang dalam kalimat negatif. Diantaranya:
- Surah al-Insyirah dengan lafal
- Surah Al-Fiil dengan lafal
9. Pembukaan dengan doa (Al-Istiftaahu Bid Duaai).9
a. Doa atau harapan yang berbentuk kata benda (Ad-Duaaul Ismiyyu)ada di 2 surat yaitu:
- Surah Al-Muthaffifin, dengan lafal:
kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.
- Surah Al-Humazah, dengan lafal:
kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela
b. Doa atau harapan yang berbentuk kata kerja (Ad-Duaaul Filiyu) membuka satu surah
saja yaitu surah Al-Lahab
10. Pembukaan dengan alasan (Al-Istiftaahu Bit-Talili).

Hanya terdapat dalam surah Al-Quraisy, dengan lafal:
9 Rosihon Anwar, Ulumul Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2013.
karena kebiasaan orang-orang Quraisy

E. Faedah Atau Hikmah Ayat-Ayat Muhkam dan Ayat-Ayat Mutasyabih

Dalam pembahasan ini perlu dijelaskan faedah atau hikmah ayat-ayat muhkam lebih
dahulu sebelum menerangkan faedah ayat-ayat mutasyabih

1. Hikmah Ayat-Ayat Muhkamat

a) Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya


lemah. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar
arti dan faedahnya bagi mereka.

b) Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan


bagi mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan
pelaksanaan ajaran-ajarannya.10

c) Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi


kandungan Al-Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang
dipahami, dan jelas pula untuk diamalkan.11

d) Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya,


karena lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak
harus menuggu penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

2. Hikmah Ayat-Ayat Mutasyabih

109.http://rinaldihardiansah.blogspot.co.id/2015/04/makalah-ilmu-al-muhkam-wal-mutasyabih.html

11
a) Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba untuk meyakini
keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan
untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu
tidak diuji, tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan
keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaannya. Ayat-ayat
mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena
kesadaraannya
akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

b) Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih. Sebagaimana


Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap
orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya Allah memberikan
pujian bagi orang-orang yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak
mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka
berkata rabbana la tuzighqulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan
mengharapkan ilmu ladunni.

c) Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha dan


persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal tersebut
menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha
Mengetahui segala sesuatu.12

d) Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan


balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan
manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.

e) Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-


macam.

12 http://rinaldihardiansah.blogspot.co.id/2015/04/makalah-ilmu-al-muhkam-wal-mutasyabih.html
F. PENUTUP
Kesimpulan

Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi dan tidak
menimbulkan pertanyaan jika disebutkan. Sedang mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya
belum jelas. Ulama berbeda pendapat dalam hal memahami ayat-ayat mutasyabih, yaitu antara
bisa tidaknya manusia memahami/memaknai ayat-ayat mutasyabihat. Sebab munculnya ayat
muhkam mutasyabih terbagi menjadi tiga tinjauan yaitu, Adanya kesamaran dalam lafadz,
kesamaran makna ayat dan kesamaran makna dan ayat. Terdapat tiga macam ayat mutasyabih
yaitu ayat yang tidak bisa dipahami oleh manusia, yang bisa dipahami semua orang dengan
pemahaman yang dalam dan ayat yang bisa dipahami oleh pakarnya saja. Terdapat hikmah
adanya ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang secara garis besar masuk pada tataran
pemafaman dan penggunaan logika akal.

Saran
Dalam memahami ayat-ayat muhkamat dan mutasyabih tentunya akan menemui perbedaan
antara ulama satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, kami sebagi mahasiswa tidak sepantasnya
saling salah menyalahkan pendapat satu dengan yang lainnya. Karena setiap pendapat yang
dikeluarkan oleh para ulama tentunya semuanya memiliki dasar. Kita harus lebih bijak dalam
mengatasi perbedaan.
DAFTAR PUSTAKA

http://rinaldihardiansah.blogspot.co.id/2015/04/makalah-ilmu-al-muhkam-wal-mutasyabih.html
Abu Djalal, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya, 2012.
Rosihon Anwar, Ulumul Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2013.
Al-Qattan, Manna Khalil. 2009, Studi Ilmu-Ilmu Quran, Bogor:Lintera Antar Nusa
Hadi, Abd. 2010, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, Surabaya:Graha Pustaa Islamic Media