Anda di halaman 1dari 5

Zakat Dalam Perspektif Antropologi

Disusun Oleh:

ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
Zakat Dalam Perspektif Antropologi
Dalam ajaran Islam dikenal beberapa konsep dan model pemberian, yakni sadaqah,
infaq, wakaf, dan zakat. Namun dalam kesempatan ini saya memfokuskan pada konsep zakat
karena beberapa alasan; Pertama, zakat adalah salah satu ritual (ibadah) dalam Islam yang
krusial, karena zakat disejajarkan dengan ibadah mendasar lainnya, yaitu shalat. Kedua, zakat
adalah bentuk ritual yang bersifat strategis, dalam pengertian zakat bukan hanya semata
ibadah individual, namun juga ibadah yang bersifat sosial kolektif (muamalah). Ketiga, jika
ritual selama ini dimengerti sebagai tindakan simbolik yang dilakukan komunitas agama,
dibandingkan ritual lainnya seperti shalat, puasa dan haji, misalnya, zakat tidak hanya bersifat
simbolik, melainkan ditindakan secara real, meterial dan terukur. Hal inilah yang membuat
saya tertarik mengangkat permasalahan ibadah zakat, yang dalam kesempatan ini diletakkan
dalam kerangka tema system of giving. pembahasan mengenai zakat pada kesempatan ini
lebih ditekankan bagaimana empiria zakat sebagai system of giving diimplimentasikan dalam
sebuah situasi sosiokultural tertentu. Katakanlah dalam konteks Indonesia. Selanjutnya
pembahasan tentang zakat ini akan dihampiri dan dikaji dari beberapa teori yang mambahas
mengenai pemberian
Dalam antropologi, beberapa teori menjelaskan mengenai pengertian gift dan system
of giving. Bisa disebutkan salah satunya Marcel Mauss dan Levi-Strauss. Namun, dari
beberapa tulisan yang membahas mengenai gift, nampaknya Mauss lah yang secara khusus
dan mendalam memberikan perhatian kepada tema ini. Mauss, membangun teorinya
mengenai pemberian (gift) ini melalui riset etnografis-antopologis terhadap kehidupan
masyarakat kuno di Melanesia dan Polynesia.
Dalam bukunya, Mauss meletakkan pemberian (gift) sebagai suatu sistem pelayanan
total (system of total services). Disebut sebagai pelayanan total karena pelayanan ini tidak
bersifat individual tetapi kolektif yang menuntut kewajiban suatu pertukaran dan kontrak
dengan yang lain. Yang menarik adalah, sebagai suatu kewajiban tindakan pemberian tidak
dapat berdiri sendiri, ia selalu menuntut kehadiran tindakan wajib lainnya, yaitu: menerima
dan membalas. Dengan kata lain, tindakan memberi sebagai suatu kewajiban berada dalam
relasi sirkular dengan kewajiban lainnya.
Menurut Mauss, kita wajib memberi sesuatu kepada pihak lain, namun pada saat yang
sama kita secara sadar mempersiapkan diri untuk wajib menerima pemberian (sebagai
balasan) dari orang lain, yang selanjutnya kita wajib membalas pemberian itu. Menurut
Mauss, kita tidak ada hak untuk menolak suatu pemberian-pemberian. Sebab, menolak
pemberian dianggap sebagai bentuk ketakutan untuk membalas.
Adapun yang hendak dicapai dari system pelayanan total semacam ini adalah sebuah
prestasi. Namun demikian prestasi ini tidak dipahami sebagai besaran hasil yang kita terima
dari seseorang, melainkan besaran pembalasan kepada orang yang memberikan sesuatu
kepada kita. Bila perlu, kata Mauss, seseorang wajib memberikan sebagai balasan segala
yang dimilikinya. Ini kemudian yang disebut Mauss sebagai potlatch. Potlach, pada dasarnya
dilandasi oleh hubungan seremonial untuk saling berkompetisi yang pada gilirannya akan
mengarah pada praktik penghancuran kekayaan (destruction of wealth). Namun demikian,
destruction of wealth ini tidak berarti seseorang telah kehilangan segalanya, akan tetapi justru
dalam proses ini seseorang akan mendapatkan sebuah status dan prestise bahkan power.
Kembali kepada tema zakat dalam tulisan ini. Bagaimana konsep Mauss ini
diletakkan dalam menjelaskan konsep zakat?
Sebenarnya, dalam bukunya, Mauss menyempatkan diri memberikan catatan
mengenai konsep sadaka, yang dalam Islam dikenal dengan sadaqah atau sedekah. Ia
memberikan catatan bahwa sadaqah adalah bentuk pemberian yang telah mengalami evolusi.
Menurutnya, sadaqah lebih merupakan bentuk pemberian yang terlahir akibat perkembangan
konsep moral dan keyakinan mengenai pemberian dan harta kekayaan, di satu sisi, dan
konsep pengorbanan di sisi lain konsep potlatch, destruction of wealth dihapuskan di sini.
Karena dalam wacana agama Islam, misalnya, potlatch dianggap sebagai tindakan
penghancuran yang sia-sia (destroyed in useless sacrifice).
Dengan demikian, dalam konsep Zakat, pengertian pemberian hanya dipahami
sebagai kewajiban memberi, tidak lagi dimengerti dalam kaitannya dengan kewajiban
menerima dan membalas. Proses pertukaran dan resiprositas seolah lenyap di sini. Yang
hendak dicapai dari zakat sebagai sistem pemberian bukan lagi prestasi berupa penghancur
kekayaan, melainkan pendistribusian kekayaan. Oleh karena itu, zakat sebagai sistem
pemberian sejatinya menjadi semacam anti-tesis bagi sistem pemberian yang dipraktikkan di
dalam masyarakat-masyarakat di masa sebelumnya (kuno).
Meski pengertian, cara kerja dan tujuan zakat berbeda dengan konsep pemberian dari
Mauss, akan tetapi pengertiannya mengenai potlatch sebagai system pemberian total yang
senantiasa dilakukan secara kolektif memperkaya perspektif kita dalam memahami makna
zakat secara antropologis. Bagian penting dari pemikiran Mauss yang bisa kita rujuk dalam
memahami antopologi zakat adalah pada penjelasannya bahwa potlatch adalah bentuk praktik
pemberian sebagai sistem total, yang melaluinya lah keberadaan suatu masyarakat dapat
berlangsung. Artinya suatu sistem pemberian merupakan suatu mekanisme yang mampu
memelihara keberlanjutan suatu masyarakat. Tidak adanya sistem pemberian yang bekerja di
masyarakat akan menggerakkan masyarakat itu pada suatu kondisi disintegrasi. Kalau
sejenak kita tarik masalah pemberian ini ke ranah filsafat, maka bisa dirumuskan demikian:
(1) secara ontologis haruslah ada karena dialah yang menyangga adanya masyarakat; (2)
secara etis pemberian wajib ditindakkan sehingga kehidupan masyarakat terus berlangsung
dan terintegrasi.
Pada pengertian inilah dalam hemat saya kita bisa memahami mengapa perintah
zakat masuk sebagai salah satu rukun Islam. Yaitu, zakat harus diberikan kepada orang lain
yang berhak agar sebuah ummat (masyarakat) mampu terus bertahan dan memelihara dirinya
dari kehancuran. Oleh sebab itu, kendati kewajiban zakat merupakan kewajiban setelah
syahadat (kesaksian), shalat dan puasa sesungguhnya zakat menjadi rukun yang paling
fundamental dan menentukan bagi keberlangsungan ajaran Islam itu sendiri di mayarakat.
Pandangan lain dari Bourdieu yang bertentnagan dengan Mauss, yaitu menurutnya
bahwa setiap pemberian tidak mungkin terbalaskan. Bahkan, sekalipun memang akan terjadi
tindakan pemberian balasan (counter-gift), sejatinya pemberian tersebut bukan sebagai
pemberian dalam rangka balasan, melainkan sebuah tindak pemberian yang berbeda.
Mengapa? Karena menurut Bourdieu: selalu ada jeda atau waktu interval antara pemberian
(the gift) dengan balasannya (counter-gift). Sehingga dengan selalu adanya jeda, setiap
balasan (counter-gift) tidak serta-merta dipandang sebagai balasan atas satu pemberian (the
gift) sebelumnya. Akan tetapi, justru karena adanya waktu interval inilah yang membuat
pengamat seperti Mauss memaksakan pembacaannya seolah-olah hubungan antara gift dan
counter-gift bersifat resiprokal. Dalam pandangan Bourdieu, Mauss telah melakukan reduksi
pengertian pemberian sebagai logika praktis sehari-hari ke dalam kerangka ilmiah yang
sudah mengendap di kepalanya sebagai pengamat.
Hanya saja, menurut Bourdieu, tidak mudah bagi kita untuk melepaskan kacamata
(perspektif) dengan skema pengamatan ini. Dan pada titik ini, sepertinya saya menangkap
bahwa Bourdieu secara diam-diam ingin berkompromi dengan Mauss, dan tidak ingin
membuang begitu saja konsep Mauss mengenai pemberian. Yang ditolak oleh Bourdieu dari
konsep Potlacth adalah terdapat dua unsur: pertama, pemberian sebagai hubungan resiprokal
dan yang kedua, potlatch sebagai proses penghancuran.
Bourdieu tidak setuju dengan Mauss bahwa dalam sistem pemberian seperti potlatch
atau bentuk pemberian lainnya, mangandung proses penghancuran atau destruksi diri. Pun
juga bukan sebagai proses redistribusi sebagaimana yang menjadi tujuan dari pelaksanaan
zakat, melainkan sebaliknya, yang terjadi adalah proses akumulasi.
Kalau kita hubungkan pendapat Bourdieu bahwa pemberian bukanlah suatu bentuk
distruksi atau redistribusi, kita mencoba menghubungkannya dengan beberapa data temuan
mengenai implikasi dari suatu model pemberian, dalam koteks ini zakat.
Berdasarkan catatan dan temuan studi lapangan di beberapa desa di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, sebelum tahun 1970-an, masyarakat desa lebih senang menyerahkan zakatnya
kepada kiai dan modin. Menurut mereka menyerahkan zakat kepada kiai atau modin adalah
pilihan yang tepat karena menurut mereka kiai atau modin adalah orang yang paling mengerti
agama. Di samping itu, penyerahan zakat kepada kiai adalah bentuk penghormatan yang tidak
pernah putus dari masyarakat dan para murid karena ia telah mengajarkan ilmu agama yang
berguna masyarakat. Oleh karenanya kiai yang memiliki banyak murid, dapat dipastikan ia
akan banyak menerima zakat baik untuk disalurkan maupun yang digunakan sendiri.
Penyaluran zakat oleh masyarakat kepada kiai ini nampaknya memiliki implikasi
yang signifikan dalam menempatkan peran kiai di masyarakat. Sebab, penyerahan zakat
kepada kiai, bukan melulu sebagai perkara pelaksanaan ibadah, atau wujud rasa hormat dan
terima kasih kepada kiai, tetapi juga sebagai gejala adanya aliran sejumlah sumberdaya
(resource) kepada pihak-pihak tertentu yang punya otoritas, dalam hal ini kiai. Di sini kita
melihat semacam hubungan-hubungan produktif kekuasaan. Dalam kajian antropologis,
kekuasaan dipahami sebagai entitas yang senantiasa mengarah dan menagkumulasi sumber-
sumber kekuasaan, sehingga ia makin kuat dan efektif beroperasi di dalam tubuh masyarakat.
Salah satu sumber-sumber kekuasaan di sini adalah zakat dalam pengertian distribution of
wealth.
Zakat dapat diletakkan sebagai sumber kekuasaan dalam bentuk kapital. Dan zakat
sebagai kapital selain ia mengandung makna ekonomi, ia juga mengusung makna simbolik
kultural. Bourdieu cukup baik memberikan pehaman mengenai kapital multiwajah sebagai
hasil perkembangan model kapital. Bahwa, kapital beroperasi di masyarakat tidak hanya
dalam wujudnya yang ekonomi, namun juga bersifat kulural simbolik. Kendati bentuknya
simbolik ia tetap mengeram wataknya sebagai kapital yang bagaimanapun bisa dikonversikan
menjadi kapital yang material ekonomi. Dalam distribusi zakat, antara pemberi zakat,
penyalur dan penerima, telah terjadi hubungan-hubungan pertukaran ekonomi secara
simbolik. Watak relasi ekonomi yang demikian ini, oleh Bourdieu disebut dengan good-faith
economy
Pertukaran ekonomi simbolik ini melahirkan sebuah relasi tertentu, dalam hal ini
relasi superordinat-subordinat, misalnya. Mereka yang senantiasa memberi zakat, secara
sosiologis diposisikan sebagai superordinat dan penerima sebagai subordinat. Maka tidak
heran jika sebutan seperti Pak Haji, Tuan, bos, juragan, dsb. kerap disematkan kepada
pemberi zakat (superordinat) sebagai bentuk penghormatan kultural oleh masyarakat
penerima zakat. Dengan kata lain pertukaran simbolik yang berlansung dalam zakat ini pada
gilirannya dapat pula dilihat sebagai pertukaran politis.
Zakat pada dasarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari sebuah system
pemberian masyarakat di era sebelumnya. Dari segi mekanisme dan tujuan, zakat berbeda
dengan konsep pemberian dari Mauss. Kalau Mauss melihat dalam system pemberian,
sebagaiman potlatch, mengandung proses penghancuran kekayaan sebagai bentuk prestasi
suatu kelompok, maka zakat adalah sebuah redistribusi sumberdaya (ekonomi) di satu sisi,
dan sekaligus pada tingkat tertentu sebagimana dikatakan Bourdieu menandai adanya
akumulasi sumberdaya (simbolik-politis) di sisi lain. Namun demikian, ada persamaan
substansial antara zakat dan potlatch, yaitu keberadaannya sebagai mekanisme atau systems
untuk menghindarkan masyarakat dari proses kehancuran atau disintegrasi. Hanya saja yang
perlu kita kritisi pada konsep pemberian, baik itu dari Mauss maupun Bourdieu, semuanya
cenderung menyematkan pengertian pemberian (gift) dalam perspektif material-ekonomi.
Artinya, setiap pemberian selalu diandaikan sebagai pemberian sesuatu yang bersifat material
dan bernilai ekonomi. Padahal bisa saja, pemberian yang dilakukan dalam wujudnya yang
immaterial dan non-ekonomi, ini yang kemudian lazim dikenal dengan giving time dan
giving care. Artinya, yang kita berikan bukan sumberdaya material, melainkan kita
meluangkan waktu dan peduli untuk melibatkan diri kegiatan-kegiatan sosial (muamalah).

Rujukan:
Mauss, Marcel, The Gift: The Form anf Reason for Exchange in Archaic Societies, W.D
Halls, terj, W.W. Norton: London, 1990