Anda di halaman 1dari 12

2.1.

PENGERTIAN TEORI BELAJAR


Teori belajar Behaviorisme Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah
laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang member respon terhadap
lingkungan, Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman.1[1] Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon
(Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan
perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan
guru kepada siswa, sedangkan Respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus
yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat
diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus)
dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat
terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

2.2. SEJARAH DAN TOKOHNYA


2.2.1. Sejarah
Behaviorisme mulai mengalami perkembangan dengan lahirnya teori-teori tentang
belajar yang di peroleh oleh Edward Lee Thorndike, Ivan Petrovich Pavlo, dan Guthrie.
Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian yang menghasilkan penemuan-
penemuan yang berharga mengenai hal belajar.
Pada mulanya, pendidikan dan pengajaran di amerika serikat didominasi oleh pengaruh
dari Edward Lee Thorndike (1874-1949). Teori belajar Edward Lee Thorndike disebut
connectionism, karena belajar merupakan proses pembentuan koneksi-koneksi antara
stimulus dan respon, teori ini sering pula disebut trial-and-error learning, individu yang
belajar melakukan kegiatan melalui prosses trial-end-error dalam rangka memilih respon
yang tepat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas-atas hasil
penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-
anak dan orang dewasa.
Obyek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan
obyek melakukan berbagai pola aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal itu obyek
mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilandalam membuat koneksi
suatu reakssi dengan stimulasinya.

2.2.2. Tokoh-Tokohnya

Edward Lee Thorndike (1874-1949)


Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan,
atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu ineraksi
yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Dari defenisi ini maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat

1
dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak
kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori
belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing
yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis
bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori trial-and-
error.
Cirri-ciri belajar dengan trial-and-error yaitu :

1. Ada motif pendorong aktifitas,

2. Ada berbagai respon terhadap situasi,

3. Ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah.

4. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.

Thorndike menemukan hukum-hukum.

1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)


Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh
stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga
asosaiasi cenderung diperkuat.

2. Hukum latihan (Low of Exercise)


Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut
semakin kuat.

3. Hukum akibat (Low of effect)


Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan
dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.

Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon,
namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat
diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri
seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang
tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris
murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika
atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana
dapat diamati dan diukur.

Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles
Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat
terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull
mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction)
adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan
biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi
biologis (Bell, Gredler, 1991).

Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-
stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti
oleh gerakan yang sama.2[2] Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan
respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir
yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat
terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang
dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin
diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie
juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses
belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku
seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon
secara tepat. Siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola
kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler,
1991).

Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)


Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini
anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi
percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa
disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari
pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi
Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan
stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara
individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah
suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan
reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan
pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan
dan penentuan pribadi dihiraukan.

Skinner (1904-1990)
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi
dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Teori
Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar
behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran
berprogram, modul dan program-program pembelajaranlain yang berpijak pada konsep

2
hubungan stimulus-respon serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement),
merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang
dikemukakan oleh Skinner.
Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalam
belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah
laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan
lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. 3[3]
Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan
stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya.
Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar
sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Skinner membagi menjadi 2 jenis respon.
1. Responden
Respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlo.
2. Operans
Respon yang terjadi karena situasi random. Operans conditioning adalah suatu proses
penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang
kembali atau menghilang sesuai keinginan.

Prinsip belajar Skinners adalah :


1. Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar
diberi penguat.
2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan
sebagai sistem modul.
3. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan
hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
4. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan
dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.
5. dalam pembelajaran digunakan shapping

2.3. PRINSIP-PRINSIP UTAMA TEORI BEHAVIORIISME

a) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari
jiwa atau mental yang abstrak
b) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem
untuk sciene, harus dihindari.
c) Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek
yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
d) Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh
para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya
pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan
faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
e) Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat
positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.

3
f) Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua
periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

2.4. PENERAPAN TEORI DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori
dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar
sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill
atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement
dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus respon, individu atau siswa pasif, perilaku
sebagai hasil yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara
ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting
dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di
Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat yang
paling dini, seperti kelompok bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah
Menengah, bahkan sampai Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill
(pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan
telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan
mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar
atau siswa. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah
ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan
dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.
Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang
diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami
oleh murid.
Demikian halnya dalam proses belajar mengajar, siswa dianggap sebagai objek pasif
yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para
pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standart-standart
tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Begitu juga dalam
proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati
sehingga hal-hal yang bersifat unobservable kurang dijangkau dalam proses evaluasi.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan
mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat
otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti
kinerja mesin atau robot. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan
potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai pengetahuan telah terstruktur
rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan
yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat
esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan
disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan
sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan
dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan
pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah
objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh
sistem yang berada di luar diri siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, yang menuntut siswa untuk
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau
tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau
akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan
kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku
teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku
teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya
menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar.
Maksudnya bila siswa menjawab secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini
menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang
sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah
selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara
individual.
\
2.5. PENERAPAN DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN PAI
Penerapan dalam belajar dan pembelajaran PAI dapat di lakukan dengan cara
pendekaran di antaranya:
a) Pendekatan pengalaman, yakni memberikan pengalalaman keagamaan kepada peserta
didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
b) Pendekatan pembiasaan, yakni memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
senantiasa mengamalkan ajaran agamannya atau akhlakul karimah.
c) Pendekatan emosional, yakni usaha untuk mengubah perasaan dan emosi peserta didik
dalam meyakini, memahami dan menghayati akidah Islam serta member motivasi agar
peserta didik ikhlas mengamalkan agamanya, khususnya yang berkaitan dengan
akhlakul karimah.
d) Pendekatan rasional, yakni usaha untuk memberikan pesanan kepada rasio dalam
memahami dan menerima kebenaran ajaran agama;
e) Pendekatan fungsional, yakni usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan
menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-
hari sesuai dengan tingkat perkembangannya.
f) Pendekatan keteladan, yakni menyuguhkan keteladan, baik yang langsung melalui
penciptaan kondisi pergaulan yang akrab antara personal sekolah, perilaku pendidik
dan tenaga kependidikan lain yang mencerminkan akhlak terpuji, maupun yang tidak
langsung melalui suguhan ilustrasi berupa kisah-kisah keteladan.
BAB III
3.1 . Kesimpulan

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat
diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang
menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.
Stimulus tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang
menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik
terhadap stimulus. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-
R (stimulus-Respon).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat
yang mendasarinya yaitu:
a. Mementingkan pengaruh lingkungan
b. Mementingkan bagian-bagian
c. Mementingkan peranan reaksi
d. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
e. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang di inginkan.

Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip
prinsip sebagai berikut:
1. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak
awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan
dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan
menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang
harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah,
tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui
simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang
kompleks.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik


1. Kelebihan Teori Behavioristik
Kelebihan teori behaviorisme adalah sebagai berikut:
a) Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru
dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau
pujian.
b) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar
2. Kelemahan Teori Behavioristik
Kelemahan teori behaviorisme adalah sebagai berikut:
a) Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat
mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.
b) Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa
yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman
sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa (teori skinner) baik hukuman
verbal maupun fisik seperti kata-kata kasar, ejekan, jeweran yang justru berakibat
buruk pada siswa.

Documents.tips
Login / Signup

Leadership

Technology

Education

Marketing

Design

More Topics

Search

1. Home

2. Documents

3. Kekurangan Dan Kelebihan Teori Humanistik


Kekurangan Dan Kelebihan Teori Humanistik
1. Kelebihan:
a.Bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,analisis terhadapfenomena
social.
b.Siswa merasa senang,berinisiatif dalam belajar.
c.Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
2. Kekurangan:
a.Bersifat individual.
b.Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yangmendukung.
c.Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
Kelemahan dan Kelebihan Teori Belajar Humanistik
Kekurangan :
Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
Kelebihan
Dalam pembelajaran pada teori ini, siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Selain itu Teori humanistik mempunyai pengaruh yang signifikan pada ilmu psikologi dan
budaya populer. Sekarang ini banyak psikolog yang menerima gagasan ini ketika teori
tersebut membahas tentang kepribadian, pengalaman subjektif manusia mempunyai bobot
yang lebih tinggi daripada relitas
IV. Kelebihan dan kekurangan teori Humanistik
A. Kelebihan Teori Humanistik
1. selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipatif-dialogis dan
humanis.
2. Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasan
mengungkapkan gagasan.
3. keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah
kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya
mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
B. Kekurangan Teori Humanistik :
1. Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah.
2. Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif.
3. Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis
Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut Humanistik
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik,
lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruang kelads
lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan.
Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah
,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswaa dengan komentsr ysng
menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
Meskipun demikian, kritik dari teori humanistik tetap mempunyai beberapa argumentasi:
- Teori humanistik terlalu optimistik secara naif dan gagal untuk memberikan
pendekatanpada sisi buruk dari sifat alamiah manusia
- Teori humanistik, seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji dengan mudah
- Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif. Beberapa kritisi menyangkal
bahwa konsep ini bisa saja mencerminkan nilai dan idealisme Maslow sendiri.
- Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis
of 2

Kekurangan Dan Kelebihan Teori


Humanistik
Download Kekurangan Dan Kelebihan Teori Humanistik

Transcript
Kekurangan Dan Kelebihan Teori Humanistik 1. Kelebihan: a.Bersifat pembentukan
kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,analisis terhadapfenomena social. b.Siswa merasa
senang,berinisiatif dalam belajar. c.Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran
siswa. 2. Kekurangan: a.Bersifat individual. b.Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada
motivasi dan lingkungan yangmendukung. c.Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
Kelemahan dan Kelebihan Teori Belajar Humanistik Kekurangan : Peserta didik kesulitan dalam
mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Kelebihan Dalam pembelajaran
pada teori ini, siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Selain itu Teori humanistik mempunyai pengaruh yang signifikan pada
ilmu psikologi dan budaya populer. Sekarang ini banyak psikolog yang menerima gagasan ini
ketika teori tersebut membahas tentang kepribadian, pengalaman subjektif manusia mempunyai
bobot yang lebih tinggi daripada relitas IV. Kelebihan dan kekurangan teori Humanistik A.
Kelebihan Teori Humanistik 1. selalu mengedepankan akan hal-hal yang bernuansa demokratis,
partisipatif-dialogis dan humanis. 2. Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya
kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan. 3. keterlibatan peserta didik dalam
berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal-
bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.
B. Kekurangan Teori Humanistik : 1. Teori humanistik tidak bisa diuji dengan mudah. 2. Banyak
konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif. 3. Psikologi humanistik mengalami
pembiasan terhadap nilai individualistis Ciri-ciri guru yang baik dan kurang baik menurut
Humanistik Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil,
menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruang
kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak
efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka
melukai perasaan siswaa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang
peka terhadap perubahan yang ada. Meskipun demikian, kritik dari teori humanistik tetap
mempunyai beberapa argumentasi: - Teori humanistik terlalu optimistik secara naif dan gagal
untuk memberikan pendekatanpada sisi buruk dari sifat alamiah manusia - Teori humanistik,
seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji dengan mudah - Banyak konsep dalam
psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini
masih buram dan subjektif. Beberapa kritisi menyangkal bahwa konsep ini bisa saja
mencerminkan nilai dan idealisme Maslow sendiri. - Psikologi humanistik mengalami pembiasan
terhadap nilai individualistis
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/06/07/kekurangan-dan-
kelebihan-teori-kognitif-dan-konstruktivistik-4/

1. Sebagian besar dalam kurikulum pendidikan negara Indonesia lebih menekankan pada
teori kognitif yang mengutamakan pada pengembangan pengetahuan yang dimiliki pada
setiap individu.

2. Pada metode pembelajaran kognitif pendidik hanya perlu memeberikan dasar-dasar dari
materi yang diajarkan unruk pengembangan dan kelanjutannya deserahkan pada peserta
didik, dan pendidik hanya perlu memantau, dan menjelaskan dari alur pengembangan
materi yang telah diberikan.
3. Dengan menerapkan teori kognitif ini maka pendidik dapat memaksimalkan ingatan yang
dimiliki oleh peserta didik untuk mengingat semua materi-materi yang diberikan karena
pada pembelajaran kognitif salah satunya menekankan pada daya ingat peserta didik
untuk selalu mengingat akan materi-materi yang telah diberikan.

4. Menurut para ahli kognitif itu sama artinya dengan kreasi atau pembuatan satu hal baru
atau membuat suatu yang baru dari hal yang sudah ada, maka dari itu dalam metode
belajar kognitif peserta didik harus lebih bisa mengkreasikan hal-hal baru yang belum ada
atau menginovasi hal yang yang sudah ada menjadi lebih baik lagi.

5. Metode kognitif ini mudah untuk diterapkan dan juga telah banyak diterapkan pada
pendidikan di Indonesia dalam segala tingkatan

6. KELEMAHAN DARI METODE PEMBELAJARAN KOGNITIF

Selain meninjau dari segi kelebihan teori kognitif, brikut adalah beberapa kelemahan dari metode
pembelajaran kognitif:

1. Pada dasarnya teori kognitif ini lebih menekankan pada kemampuan ingatan peserta
didik, dan kemampuan ingatan masing-masing peserta didik, sehingga kelemahan yang
terjadi di sini adalah selalu menganggap semua peserta didik itu mempunyai kemampuan
daya ingat yang sama dan tidak dibeda-bedakan.

2. Adakalanya juga dalam metode ini tidak memperhatikan cara peserta didik dalam
mengeksplorasi atau mengembangkan pengetahuan dan cara-cara peserta didiknya dalam
mencarinya, karena pada dasarnya masing-masing peserta didik memiliki cara yang
berbeda-beda.

3. Apabila dalam pengajaran hanya menggunakan metode kognitif, maka dipastikan peserta
didik tidak akan mengerti sepenuhnya materi yang diberikan .

4. Jika dalam sekolah kejuruan hanya menggunakan metode kognitif tanpa adanya metode
pembelajaran lain maka peserta didik akan kesulitan dalam praktek kegiatan atau materi.

5. Dalam menerapkan metode pembelajran kognitif perlu diperhatikan kemampuan peserta


didik untuk mengembangkan suatu materi yang telah diterimanya.