Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Pasien
Nama : An.N
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Kp. Babakan Sukatani Tapos RT/RW 08/02, Depok
Usia : 16 tahun
Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 09 September 2000
Pendidikan : SMA

Ayah
Nama : Alm. Tn. N
Agama : Islam
Alamat : Kp. Babakan Sukatani Tapos RT/RW 08/02, Depok
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petani

Ibu
Nama : Ny. N
Agama : Islam
Alamat : Kp. Babakan Sukatani Tapos RT/RW 08/02, Depok
Pendidikan : -
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Tanggal masuk RS : 25 April 2017 dari IGD RSUD Budhi Asih Jakarta

II. ANAMNESIS
Dilakukan secara auto dan allo-anamnesis dengan kakak pasien pada tanggal
27 April 2017 pukul 10.00 WIB di Ruang Dahlia Timur lantai 6 RSUD Budhi Asih
Jakarta.

2
A. Keluhan Utama :
Os datang dengan keluhan sesak sejak 1 bulan SMRS.

B. Keluhan Tambahan :
Os mengeluh demam sejak 1 minggu SMRS. Batuk sejak 1 bulan SMRS.
Tidak nafsu makan. Berat badan menurun sejak 1 bulan SMRS. Keringat malam.
BAB cair sejak 2 minggu SMRS.

C. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :


Pasien datang di antar kakaknya dari IGD RSUD Budhi Asih Jakarta pada hari
Selasa tanggal 25 April 2017 dengan keluhan sesak sejak 1 bulan SMRS. Sesak
timbul perlahan dan menetap. Sesak dirasakan saat aktifitas maupun saat istirahat.
Sesak tidak di pengaruhi posisi. Pasien juga mengeluh demam sejak 1 bulan SMRS.
Demam timbul perlahan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Demam naik turun.
Selain itu pasien mengeluh batuk sejak 1 bulan SMRS. Batuk berdahak berwarna
putih kental. Batuk darah disangkal. Pilek disangkal. Pusing dan penurunan kesadaran
disangkal. Os mengeluh keringat malam. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan.
Mual, muntah dan nyeri perut disangkal. Berat badan pasien menurun sekitar 6
kilogram sejak 1 bulan SMRS. Pasien menyangkal adanya benjolan di lipat ketiak dan
lipat paha. BAK dalam batas normal. BAB cair sejak 2 minggu SMRS. BAB cair
sebanyak 1x berwarna kuning disertai ampas, lendir (-), darah (-). Pasien belum
berobat, hanya minum obat warung paracetamol untuk mengatasi demamnya namun
keluhan tidak berkurang. Riwayat flek paru, radang paru dan asma disangkal. Pasien
mengaku tinggal serumah dengan kakak pasien yang menderita TB Paru dengan
pengobatan OAT yang sudah selesai (6 bulan).

3
D. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

Morbiditas kehamilan DM (-), HT (-), TORCH (-)


KEHAMILAN
Perawatan Antenatal Tidak pernah kontrol kehamilan
Tempat Kelahiran Rumah
Penolong Persalinan Dukun
Spontan
Cara persalinan
Penyulit : Tidak ada
Masa Gestasi Cukup bulan
Berat lahir : tidak tau
Panjang : tidak tau
KELAHIRAN Lingkar kepala : tidak tau
Kedaan saat lahir :
Keadaan Bayi Langsung menangis (-)
Kemerahan (-)
Kuning (-)
Nilai APGAR : tidak tau
Kelainan Bawaan : Tidak ada
Kesimpulan riwayat kehamilan/ kelahiran :
Kakak pasien tidak tau riwayat kehamilan dan kelahiran, namun kakak pasien
mengatakan tidak ada kesulitan saat persalinan dan bayi (pasien) sehat setelah lahir.

D. Riwayat Tumbuh Kembang :


Pertumbuhan gigi : tidak tau
Psikomotor :
Tengkurap : tidak tau (Normal: 3 - 6 bulan)
Duduk : tidak tau (Normal: 6 - 9 bulan)
Berdiri : 12 bulan (Normal: 9 - 12 bulan)
Berjalan : tidak tau (Normal: 12 - 18 bulan)
Bicara : tidak tau
Membaca dan menulis : tidak tau

Perkembangan Pubertas
Rambut pubis : 12 tahun
Payudara : 13 tahun
Menarche : 12 tahun
Gangguan Perkembangan Mental / Emosi

4
Pasien mengaku masih terpukul atas kepergian ayahnya 5 bulan yang lalu.

Kesimpulan Riwayat Tumbuh Kembang :


Pasien dan kakak pasien tidak tau riwayat tumbuh kembang pasien.

F. Riwayat Makanan :
Umur di bawah 1 tahun
Umur
ASI/PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
(bulan)
02 ASI - - -
24 ASI - - -
46 ASI - - -
68 ASI + + -
8 10 ASI/PASI + + -
10 -12 ASI/PASI + + -

Umur di atas 1 tahun


Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah
Nasi / Pengganti 3 kali sehari dan 1 centong
Sayur 3 kali sehari dan setengah centong
Daging 1 kali seminggu
Telur 1 kali sehari dan 1 butir
Ikan 3 kali seminggu dan 1 ekor
Tahu 1 kali sehari dan 1 buah
Tempe 1 kali sehari dan 1 buah
Susu (merk/tambahan) 2 kali sebulan dan 1 gelas
Tambahan -

Kesulitan makanan : +
Pasien makan dalam jumlah sedikit.
Kesimpulan Riwayat Makanan : Asupan gizi baik namun jumlah kurang.

G. Riwayat Imunisasi :
Vaksin Dasar ( umur ) Ulangan ( umur )
BCG - x x - - -
DPT / PT - - - - 5 tahun -
POLIO 2 bulan - - - - -
CAMPAK - x x - - -

5
HEPATITIS B - - - - - -
MMR - x x - - -
TIP A - - - - - -
Kesimpulan Riwayat Imunisasi: Imunisasi dasar tidak lengkap.

H. Riwayat Keluarga :
a. Corak Reproduksi

Jenis Lahir Abortu Mati Keterangan


No Usia Hidup
kelamin mati s (sebab) kesehatan
1. 30 tahun Perempuan + - - - Sehat
Riwayat
2. 27 tahun Perempuan + - - -
Sakit TB
3. 23 tahun Perempuan + - - - Sehat
4. 16 tahun Perempuan + - - - Sakit

b. Riwayat Pernikahan

Ayah Ibu
Nama Tn. N Ny. N
Perkawinan ke- 1 1
Umur saat menikah - -
Pendidikan terakhir SD -
Agama Islam Islam
Suku bangsa Betawi Betawi
Keadaan kesehatan Meninggal Sehat
Kosanguinitas Tidak ada Tidak ada
Penyakit, bila ada Maag dan Asma Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga orang tua pasien : -

Riwayat penyakit anggota keluarga lain yang serumah : -

Kesimpulan Riwayat Keluarga :

Terdapat keluarga 1 rumah yaitu kakak pasien yang mempunyai riwayat sakit TB
Paru 6 bulan yang lalu, pengobatan OAT tuntas selama 6 bulan yang lalu.

I. Riwayat Lingkungan dan Perumahan :

6
Perumahan : Milik Sendiri

Keadaan rumah : bersih, 4 orang dalam satu rumah, sanitasi baik, ventilasi baik,
pencahayaan baik dan sumber air bersih.

Daerah / Lingkungan : padat dan bersih


Kesimpulan keadaan lingkungan : Baik

J. Riwayat Penyakit yang pernah diderita :

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur


Alergi (-) Difteri (-) Penyakit jantung (-)
Cacingan (-) Diare (-) Penyakit ginjal (-)
DBD (-) Kejang (-) Penyakit darah (-)
Demam
(-) Kecelakaan (-) Radang paru (-)
Tifoid
Otitis (-) Morbili (-) TBC 16 tahun
Parotitis (-) Operasi (-) Lain-lain (-)

Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah di derita :


Pasien tidak pernah menderita penyakit sebelumnya, hanya TBS saat ini (umur 16
tahun).

III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Kesan Gizi : Kurang

Berat Badan : 29 kg
Tinggi Badan : 150 cm
Lingkar kepala : 52 cm
Lingkar dada : 71 cm
Lingkar lengan atas : 18 cm

Status Gizi
BB/U : 29/54 x 100% = 53,70% (Sangat kurang)
TB/U : 150/163 x 100% = 92,02% (Normal)

7
BB/TB : 29/41 x 100% = 70,73% (Gizi kurang)
Status Gizi : Gizi Kurang

Tanda Vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Frekuansi nadi : 80 x/menit menit (kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri,
regular)
Frekuensi pernapasan : 32 x/menit
Suhu : 36,5 C (diukur di aksila kiri)

STATUS GENERALIS

1. Kepala : normocephali
Wajah : simetris, tidak ada dismorfik wajah
Rambut : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut

Mata
Bentuk : normal, kedudukan bola mata simetris
Palpebra : normal, tidak terdapat ptosis, lagoftalmus, oedem, perdarahan,
blepharitis, maupun xanthelasma
Gerakan : normal, tidak terdapat strabismus, nistagmus
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Pupil : bulat, isokor, reflex cahaya langsung positif pada mata kanan dan kiri,
reflex cahaya tidak langsung positif pada mata kanan dan kiri.

Telinga
Bentuk : normotia
Liang telinga : lapang

8
Serumen : tidak ditemukan serumen pada telinga kanan maupun kiri
Nyeri tarik helix : tidak ada nyeri tarik pada helix kanan maupun kiri
Nyeri tekan tragus : tidak ada nyeri tekan pada tragus kanan maupun kiri

Hidung
Bagian luar : normal, tidak terdapat deformitas, tidak hiperemis, tidak ada
sekret, tidak ada nyeri tekan dan tidak terdapat napas cuping
hidung
Septum : simetris, tidak ada deviasi
Mukosa hidung : tidak hiperemis, konka nasalis tidak edema

Mulut dan Tenggorok


Bibir : bentuk normal, tidak pucat, tidak sianosis
Gigi - geligi : tidak ada karies
Mukosa mulut : normal, tidak hiperemis, tidak halitosis dan tidak ada
stomatitis
Lidah : normoglosia, tidak tremor, tidak kotor dan tidak ada stomatitis
Tonsil : ukuran T1/T1, tidak hiperemis, kripta normal dan tidak ada
detritus
Faring : tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di tengah dan
tidak ada post nasal drip

2. Leher
Bendungan vena : tidak ada bendungan vena
Kelenjar tiroid : tidak membesar
Trakea : di tengah

3. Kelenjar Getah Bening


Leher : tidak terdapat pembesaran di KGB leher
Aksila : tidak terdapat pembesaran di KGB aksila
Inguinal : tidak terdapat pembesaran di KGB inguinal

4. Thorax

9
- Bentuk normal. Retraksi (-). Dinding dada asimetris. Dinding dada kiri tertinggal
saat gerakan napas. Pernapasan torakoabdominal. Tidak ada efloresensi yang
bermakna.

Paru-paru
Inspeksi : asimetris, hemithorax kiri tertinggal, tipe pernapasan
torakoabdominal

Palpasi : vocal fremitus hemithorax kiri melemah

Perkusi : sonor pada lapang paru kanan, redup pada ICS 4 midclavicularis kiri

Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronkhi, tidak terdengar


wheezing pada kedua lapang paru.

Jantung
Inspeksi : tidak tampak pulsasi abnormal

Palpasi : teraba ictus cordis pada ICS V 1 cm lateral dari linea


midklavikularis sinistra

Perkusi : Batas kanan jantung : ICS 2 ICS 4 linea midclavicularis dextra

Batas kiri jantung : ICS 5 linea midclavicularis sinistra

Batas atas jantung : ICS 2 parasternal sinistra

Auskultasi : bunyi jantung I&II regular, tidak terdengar gallop maupun murmur

5. Abdomen
Inspeksi : datar, tidak terdapat striae dan kelainan kulit, tidak terdapat pelebaran
vena
Auskultasi : bising usus positif 3x/menit
Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, tidak terdapat nyeri tekan pada
seluruh kuadran abdomen, tidak teraba massa pada adneksa, pada
pemeriksaan ballottement negatif pada ginjal kanan dan kiri

10
Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen, shifting dullness (-), nyeri
ketok CVA -/-

6. Genitalia
Perempuan

7. Kelenjar Getah Bening


Preaurikular : tidak terdapat pembesaran
Postaurikular : tidak terdapat pembesaran
Submandibula : tidak terdapat pembesaran
Aksila : tidak terdapat pembesaran
Supraklavikula: tidak terdapat pembesaran
Inguinal : tidak terdapat pembesaran

8. Ekstremitas Atas
Inspeksi : bentuk normal
Palpasi : akral hangat +/+, oedem -/-, CRT < 3

Ekstremitas Bawah
Inspeksi : bentuk normal
Palpasi : akral hangat +/+, oedem -/-, CRT < 3

9. Tulang belakang
Bentuk normal, deviasi (-), benjolan (-), nyeri tekan (-), skoliosis (-), hiperlordosis (-),
gibus (-)

10. Susunan saraf


Tanda Rangsang Meningeal
- Kaku kuduk : (-)
- Laseq : (-)
- Brudzinski I : (-)
- Brudzinski II : (-)
Refleks Fisiologis
- Biceps : +/+
- Triceps : +/+
- Patella : +/+

11
- Achilles : +/+
Refleks Patologis
- Babinski : -/-
- Chaddock : -/-
- Oppenheim : -/-
- Gordon : -/-
- Hoffmann Tromner: -/-
Nervus Kranialis
- N.I : tidak dilakukan
- N.II : isokor, refleks cahaya langsung dan tidak langsung +/+
- N.III, IV, VI : tidak dilakukan
- N.V : tidak dilakukan
- N.VII : wajah simetris
- N.VIII : dapat mendengar
- N.IX, X : tidak ada gangguan menelan
- N.XII : lidah simetris

11. Kulit
Sawo matang, ikterik (-), pucat (-), eritema (-), ptekie (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 25 April 2017
Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Darah Rutin
Leukosit 7.2 4.5 12.5 ribu/L
Eritrosit 3.9 3.8 5.2 juta/L
Hemoglobin 10.2 12.8 16.8 g/dL
Hematokrit 31 35 47 %
Trombosit 371.000 154 386 ribu/L
MCV 79.8 80 100 fL
MCH 26.4 26 34 pg
MCHC 33.1 32 36 g/dL
RDW 11.5 < 14 %
GDS 105 < 110 mg/dL
Elektrolit
Natrium 132 135 155 mmol/L
Kalium 3.5 3.6 5.5 mmol/L
Klorida 95 98 109 mmol/L

12
Rontgen Thorax
Deskripsi : COR : sulit dinilai
Pulmo : hilus baik
terdapat perselubungan homogen pada hemithorax kiri
Sudut costofrenikus : kiri sulit dinilai, kanan lancip
Tulang : skoliosis
Kesan : Efusi Pleura Sinistra

V. RESUME
Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 bulan SMRS. Sesak timbul perlahan
dan menetap. Sesak dirasakan saat aktifitas maupun saat istirahat. Pasien juga mengeluh
demam sejak 1 bulan SMRS. Demam dengan suhu tidak terlalu tinggi, naik turun dan timbul
perlahan. Selain itu pasien mengeluh batuk sejak 1 bulan SMRS. Batuk berdahak berwarna
putih kental. Pasien mengeluh keringat malam. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan dan
berat badan pasien menurun sekitar 6 kilogram sejak 1 bulan SMRS. BAB cair sejak 2
minggu SMRS. BAB cair sebanyak 1x berwarna kuning disertai ampas. Pasien sudah minum
paracetamol namun keluhan tidak berkurang. Riwayat flek paru, radang paru dan asma
disangkal. Pasien mengaku tinggal serumah dengan kakak pasien yang menderita TB Paru
dengan pengobatan OAT yang sudah selesai (6 bulan). Pasien lahir di tolong dukun, tidak ada
penyulit saat kehamilan dan persalinan dan data outcome bayi tidak diketahui. Riwayat
tumbuh kembang tidak diketahui. Riwayat makanan baik namun jumlah sedikit. Riwayat
imunisasi dasar tidak lengkap. Pasien tinggal di lingkungan yang padat namun bersih.
Sebelumnya pasien tidak pernah menderita penyakit tertentu. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, kesan gizi
kurang. Berat badan 29 kg, tinggi badan 150 cm dan didapatkan status gizi kurang menurut
kurva CDC. Tanda vital tekanan darah yaitu 110/80 mmHg, nadi 80 kali/menit, pernapasan
32 kali/menit dan suhu 36,5oC. status generalis dalam batas normal kecuali pada pemeriksaan
thorax, dari inspeksi terlihat dinding dada asimetris, dinding dada kiri tertinggal saat gerakan
napas dan tipe pernapasan torakoabdominal. Pada pemeriksaan paru, palpasi vocal fremitus
asimetris, bagian hemithorax kiri melemah. Perkusi sonor pada lapang paru kanan dan redup
pada ICS 4 midclavicularis kiri. Auskultasi suara napas vesikuler, rokhi -/-, wheezing -/-,
suara napas tambahan (-). Pada pemeriksaan neurologis tidak terdapat kelainan. Pada

13
pemeriksaan penunjang di dapatkan hemoglobin 10,2 g/dL (menurun) dan natrium 132
mmol/L (menurun). Pada pemeriksaan rontgen thorax AP didapatkan kesan efusi pleura
sinistra.

VI. DIAGNOSIS BANDING


1. Efusi Pleura ec Suspek TB Paru
2. Efusi Pleura ec Bronkopneumonia

VI. DIAGNOSIS KERJA


1. Efusi Pleura ec Suspek TB Paru

VII. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Foto thorax ulang
2. Laboratorium LED
3. Mantoux test
4. BTA sputum
5. Pungsi pleura

VII. PENATALAKSANAAN
- O2 2lpm nasal kanul
- IVFD KAEN 1B 2cc/kgBB
- Paracetamol 350mg k/p
- Inj Cefotaxime 3x750mg
- Inj Dexamethasone 3x5mg

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : Ad Bonam
Ad Fungtionam : Ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam

IX. FOLLOW UP

14
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Kejang / convulsion / seizure / insult adalah perubahan aktivitas motorik dan atau
perilaku yang bersifat bangkitan (paroxysmal) dalam waktu terbatas akibat dari adanya
aktivitas listrik abnormal di dalam otak.(1)
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh
dengan cepat hingga 38oC dan kenaikan suhu tubuh diakibatkan oleh proses ekstrakranial.
Pada kejang demam, kejang harus di dahului dengan demam.(3,7)

3.2 Epidemiologi
Kejang demam merupakan penyebab kejang tersering pada anak. Kejang demam
umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan 5 tahun, puncaknya adalah usia 14 18 bulan.(3)
Insidens terjadinya kejang demam sekitar 5 10% di India, 8,8% di Jepang, 0,35% di
Hongkong, 0,5-1,5% di China dan 2 - 5 % di Amerika Serikat. Berdasarkan ras dapat terjadi
pada semua jenis ras. Kejang demam lebih cenderung terjadi pada anak laki-laki di banding
anak perempuan.(4)
Belum ada data di Indonesia mengenai kejang demam, namun kejadian kejang demam
simpleks didapatkan sekitar 80%.(3)

3.3 Faktor Resiko


Terdapat faktor resiko sehingga kejang demam dapat berulang, yaitu(5,7) :
3.3.1 Mayor
o Umur kurang dari 1 tahun
o Durasi demam kurang dari 24 jam
o Demam dengan suhu 38 39oC

15
3.3.2 Minor
o Riwayat keluarga dengan kejang demam
o Riwayat keluarga dengan epilepsy
o Kejang demam kompleks
o Laki laki
o Hiponatremia

3.4 Etiologi
Penyebab kejang demam adalah lepasnya sitokin inflamasi (IL-1-beta) atau
hiperventilasi yang menyebabkan alkalosis dan meningkatkan pH otak sehingga terjadi
kejang. Demam yang memicu terjadinya kejang disebabkan oleh proses ekstrakranial
biasanya karena infeksi saluran pernapasan akut, otitis media akut, roseola, infeksi saluran
kemih dan infeksi saluran cerna.(3,7)

3.5 Klasifikasi Kejang Demam(3)


3.5.1 Kejang Demam Simpleks
o Kejang umum tonik, klonik, atau tonik-klonik, anak mengantuk setelahnya
o Berlangsung singkat < 15 menit
o Tidak berulang dalam 24 jam
o Tanpa kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang
3.5.2 Kejang Demam Kompleks
o Kejang fokal/parsial atau kejang fokal menjadi umum
o Berlangsung > 15 menit
o Berulang dalam 24 jam
o Ada kelaian neurologis sebelum atau sesudah kejang

3.6 Klasifikasi Kejang(1)


3.6.1 Kejang Epileptik
3.6.1.1 Kejang Parsial
o Kejang Parsial Sederhana
o Kejang Parsial Komplek
o Kejang Pasial Benigna dengan Spike Sentrotemporal
o Kejang Parisal Kontinua/Ensefalitis Rasmussen

3.6.1.2 Kejang Umum


o Kejang Absans
o Kejang Tonik-Klonik

16
o Epilepsi Mioklonik
o Spasme Infantil
o Sindrom Landau-Kleffner
3.6.1.3 Status Epileptikus

3.6.2 Kejang Non-Epileptik


3.6.2.1 Infeksi
o Kejang Demam
o Ensefalitis
o Meningitis Bakteri
o Meningitis Tuberkulosis
o Empiema Subdural
o Abses Serebri
o Rabies
o Tetanus
o Neurosifilis
o Malaria Serebral
o Toksoplasmosis
o Sistiserkosis Serebri
o Sigelosis

3.6.2.2 Injuri Serebral


o Hipoksia-Iskemia Serebri
o Konkusi Serebral
o Hematoma Ekstra / Subdural
o Perdarahan Intrakranial / Intraventrikular
o Sindrom Bayi Digoncang
o Sindrom Munchausen
o Heatstroke

3.6.2.3 Trombosis Serebri


o Polisitemia
o Anemia Sel Sabit
o Trombosis Sinus Venosus Serebri
o Hemiplegia Infantil Akut

3.6.2.4 Ensefalopati
o Palsi Serebral
o Ensefalopati Mitokondrial

17
o Epilepsi Mioklonik Serabut Merah
o Penyakit Leigh
o Sindroma Zellweger
o Sindroma Dravet
o Pertusis
o Ensefalopati Hipertensi
o Ensefalopati Disentri Toksik
o Vaskulitis Serebri
o Lupus Eritematosus Sistemik
o Mononukleosis Infeksiosa
o Ensefalopati Bilirubin
o Sindrom Hemolitik Uremik
o Sindrom Reye
o Gasoline / Petrol Sniffing
o Sensory Precipitated Seizures

3.6.2.5 Penyakit Degeneratif


o Ensefalopati Demielinasi
o GM1 Gangliosidosis
o GM2 Gangliosidosis
o Penyakit Krabbe
o Penyakit Schindler
o Leukodistrofi Metakromatik
o Sialidosis
o Sindrom Rett
o Sindrome Serebromakular
o Penyakit Gaucher
o Penyakit Niemann-Pick
o Panensefalitis Sklerosing Subakut
o Sindrom Riley-Day

3.6.2.6 Tumor Otak


o Neuroepitel Disembrioplastik
o Ganglioglioma
o Meningioma
o Astrositoma
o Oligodendroglioma
o
3.6.2.7 Sindrom Neurokutaneus
o Sindrom Sturge-Weber
o Sklerosis Tuberosa
o Neurofibromatosis
o Sindrom Nervus Epidermal Linier

18
3.6.2.8 Penyakit Metabolisme
o Hipokalsemia
o Hiponatremia
o Hipomagnesia
o Asidosis Metabolik
o Hipoglikemia
o Hiperamonemia
o Hiperglisinema Nonketotik
o Hiperekspleksia
o Penyakit Wilson

3.6.2.9 Defisiensi Enzim


o Glukose-6-Fosfatase
o Amilo-1,6-Glukosidase
o Fruktosa-1,6-Difosfatase
o Piruvat Karboksilase
o Glikogen Sintase
o Galaktosemia
o Fruktose-1,6-Bifosfat Aldolase
o Penyakit Urin Sirup Mapel
o Fenilketonuria
o Piridoksin
o Gaba Transaminase
o Gamma Hidroksibutirik Asiduria

3.6.2.10 Endokrin
o Hipopituitarisme
o Hipoparatiroida
o Hipertiroid
o Defisiensi ACTH
o Penyakit Addison
o Fekromositoma

3.6.2.11 Intoksikasi
o Obat-obatan
o Bahan Kimia

3.6.3 Kejang Psikogen


o Kejang Psikogen
o Kejang Henti Nafas

19
o Tik
o Sindrome Tourrete
o Sindrom Sandifer

3.7 Manifestasi Klinis


Kejang selalu didahului oleh naiknya suhu tubuh dengan cepat. Kejang demam
simpleks berupa kejang umum klonik atau tonik-klonik, berlangsung < 15 menit. Kejang
demam kompleks menunjukkan tanda kejang demam fokal atau parsial selama maupaun
sesudah kejang.(3)
Anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mencari fokus infeksi penyebab demam. Pada
kejang demam ditemukan neurologis yang normal.(3)

3.8 Diagnosis
Untuk menanggulangi masalah kejang pada anak perlu di pastikan apakah anak masih
dalam keadaan kejang atau tidak. Jika masih kejang berikan terapi awal kejang. Jika sudah
tidak kejang, maka di lajutkan langkah untuk mendiagnosis kejang. Sebelumnya diperlukan
informed consent kepada orang tua atau wali pasien.(1)

3.8.1 Anamnesis
3.8.1.1 Identitas
Identitas perlu di lengkapi mulai dari nama, usia, jenis kelamin, agama dan suku bangsa
anak. Lalu nama, usia, pendidikan dan pekerjaan orang tua.(2) Guna untuk memperoleh
informasi tentang aspek epidemiologi yang berhubungan dengan penyakit anak dan untuk
data administrasi.(1)
3.8.1.2 Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit sekarang disusun secara kronologis mulai dari keadaan kesehatan
anak sejak sebelum terdapat keluhan sampai ia dibawa berobat. (2) Jika keluhan utama adalah
kejang maka untuk melengkapi riwayat penyakit sekarang perlu ditanyakan sifat-sifat kejang
yaitu berapa lama kejang berlangsung, meliputi seluruh tubuh atau hanya pada bagian tubuh
tertentu.(1) Jika kejang umum melibatkan kedua sisi tubuh, jika kejang fokal melibatkan sisi
kanan atau sisi kiri tubuh.(2) Sifat kejang apakah tonik (kaku) atau klonik (kelojotan), kegiatan
anak sebelum dan sesudah kejang, apakah menangis, diam tidur atau dapat dibangunkan atau
tidak sadar.(1) Ditanyakan pula suhu saat kejang, lama serangan, interval antara dua serangan
dan kesadaran saat kejang dan pasca kejang. (2) Apakah kejang terjadi pertama kali atau
kesekian kali dalam kurun waktu tertentu.(1)

20
Ditanyakan keluhan-keluhan lain dari sistem saraf seperti iritabel, nyeri kepala,
kesadaran menurun, kejang, lumpuh layu/kaku. Keluhan lain yang non-spesifik yaitu demam,
lesu, nyeri otot, nyeri kepala, lemah, anak rewel, tidak mau main. Keluhan spesifik pada
organ respirasi seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas, nafas berbunyi, nyeri
dada. Pada sistem digestif di tanyakan mual, tidak mau makan, muntah, mencret, tidak buang
air, nyeri perut dan nyeri epigastrium. Pada sistem kemih di tanykan nyeri kencing, nyeri
pinggang, sembab dan kemih bedarah. Sistem sirkulasi ditanyakan nyeri dada prakordial,
sesak nafas, kebiruan, posisi jongkok, sembab, bengkak sendi berpindah. Sistem hematologi
di tanyakan pucat, perdarahan dari hidung, gusi termasuk kebiruan di bawah kulit, warna
kuning. Sistem muskulo-skeletal seperti nyeri dan bengkak pada otot atau tulang atau
persendian.(1)
Dalam riawayat penyakit sekarang perlu di lengkapi riwayat penyakit yang pernah di
derita, riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, riwayat makanan, riwayat imunisasi,
riwayat pertumbuhan dan perkembangan, riwayat keluarga dan data perumahan.(2)
Kejang demam sering di jumpai pada bayi dan anak. Oleh karena itu perlu di bedakan
kejang yang disertai demam tersebut merupakan kejang demam atau epilepsi yang di
bangkitkan serangannya oleh demam atau perlu dicurigai adanya infeksi sistem saraf pusat.(2)
Pada kejang demam terdapat karakteristik tertentu seperti sebagian besar terjadi pada
usia 6 bulan sampai 5 tahun, demam mendahului kejang, kejang umumnya terjadi dalam 24
jam setelah anak mulai demam (tersering dalam 16 jam pertama), sebelum dan sesudah
kejang anak sadar dan tidak terdapat kelainan neurologis. Pasien juga tidak pernah
mengalami kejang tanpa demam.(2)

3.9 Pemeriksaan Fisik


3.9.1 Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan umum diperiksa mulai dari keadaan umum, tanda vital (tekanan darah, nadi,
pernapasan), data antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, tebal lapisan lemak
bawah kulit, lingkar lengan atas).(1)

3.9.2 Pemeriksaan Organ


Pemeriksaan organ atau sistem seperti kepala, leher, toraks (jantung dan paru-paru),
abdomen, genitalia, anggota badan, sistem saraf, kelenjar getah bening dan kulit.(1)
Kepala meliputi besar / bentuk, ubun-ubun besar, sutura, rambut, bentuk wajah
apakah simetris kanan dan kiri.(1)

21
Mata, dinilai ketajaman dan lapangan penglihatan, hipertelorisme, supersilia, silia,
eksoptalmus, strabismus, nystagmus, miosis, midriasis, warna dan bercak di iris, reflex
cahaya langsung dan tidak langsung dan pemeriksaan retina dengan funduskopi.(1,2)
Hidung, bentuk sadel, jembatan hidung, napas cuping hidung, sianosis, deviasi
septum dan sekresi.(1)
Mulut dan tenggorok, ulkus, lidah berselaput, tonsil membesar dan hiperemi,
pseudomembran, warna dan pembengkakan gingiva, lengkung palatum, trismus, edema
peritonsilar dan parafaring, pertumbuhan atau jumlah atau morfologi atau kerapatan gigi.(1,2)
Telinga, letak atau posisi telinga, sekresi, tanda otitis media, dan nyeri tekan mastoid.
Leher, di nilai tiroid, kelenjar getah bening, skrofuloderma, retraksi, murmur, bendungan
vena, tekanan vena sentral, refluks hepatojugular, fistel, ulkus, sayap leher, letak trakea dan
kaku kuduk.(1,2)
Toraks, di nilai bentuk, asimetrik, pembengkakan, nyeri, posisi scapula, fraktur,
tasbeh dan kelainan payudara. Jantung, adakah tonjolan precordial, pulsasi, iktus, bunyi
jantung, murmur, irama gallop, getaran, bising gesek perikard, batas jantung atau
kardiomegali, sterna lift, pulsasi epigastrium. Paru-paru, asimetri, pekak, hipersonor,
fremitus, batas paru-hati, suara nafas, ronki basah, ronkhi kering, bising gesek pleura dan
bronkofoni. Abdomen, bentuk, kolateral atau arah aliran, smiling umbilicus, distensi, gerakan
peristaltic, rigiditas, nyeri tekanan, masa abdomen, pembesaran hati/limpa, bising usus, dan
tanda-tanda asites.(2)
Anogenitalia, adakah atresia, sekresi, vesikel, eritema, ulkus, papula, hidrokel,
kriptorkismus, epispadia, hipospadia, edema dan benjolan pada lipat inguinal.(1)
Ekstremitas, tonus atau trofi otot, jari tabuh, sianosis, bengkak dan nyeri otot atau
tulang atau sendi, tonus, edema pretibial dan cacat bawaan.(1)
Tulang belakang, apakah kifosis, scoliosis, lordosis, tanda spina bifida dan gibus.
Susunan saraf, sistem motoric dan sensorik, refleks fisiologik, refleks patologik, uji
saraf otak, uji tekanan itrakranial dan tanda rangsang meningeal (kaku kuduk, kernig dan
brudzinski).(2)
Kelenjar getah bening, adakah pembesaran atau bengkak, konsistensi, permukaan, dan
nyeri spontan atau tekan.(1)
Kulit, keringat atau kelembapan, ruam, pigmentasi, fibroma, angioma, ptekie,
hematoma, infeksi jaringan bawah kulit dan keadaan rambut.(1)
Pada kejang demam di lihat kesadaran apakah terdapat penurunan kesadaran. Suhu
tubuh, apakah terdapat demam. Tanda rangsang meningeal, biasanya negative. Bila perlu

22
dilakukan pemeriksaan saraf kranialis. Periksa juga tanda-tanda peningkatan intracranial
seperti ubun-ubun besar menonjol, papil edema. Tanda infeksi ekstrakranial seperti ISPA,
OMA dan ISK. Pemeriksaan neurologi seperti tonus, motoric, refleks fisiologis dan refleks
patologis.(6)

3.10 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah tepi (hematologi) yaitu jumlah
sel darah merah (eritrosit), kadar haemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), jumlah sel darah putih
(leukosit), hitung jenis leukosit, jumlah keeping darah (trombosit), laju endap darah (LED)
dan morfologi sel darah tepi.(1)
Pemeriksaan urin dan feses seperti pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, fisis dan
kimia serta biakan.
Pemeriksaan kimia darah, untuk uji fungsi berbagai organ atau sistem seperti hati,
ginjal, keseimbangan elektrolit, pH dan asam basa.
Analisis cairan serebrospinal pada kasus kejang penting untuk menilai apakah ada
infeksi pada sistem saraf pusat. Juga di perlukan pemeriksaan mikrobiologik termasuk
serologi serta biakan dari bakteri dan virus.(1)
Pemeriksaan pencitraan seperti foto rontgen paru, elektrokardiografi (EKG),
ekokardigrafi, elektroensefalografi (EEG), elektromiografi (EMG), computed tomography
(CT), magnetic resonance imaging (MRI), angiografi dan lain-lain.(1)

3.11 Diagnosis Banding


Berdasarkan data-data yang di kumpulkan dari anamnesis sampai pemeriksaan
penunjang maka selanjutnya adalah menetapkan menetapkan beberapa diagnosis banding,
menentukan diagnosis kerja dan diagnosis pasti yang ditetapkan berdasarkan uji identifikasi
penyebab penyakitnya. (1)
Penyakit kejang pada anak di bagi menjadi akut, subakut dan kronik. Pada anak yang
mengalami kejang pertama perlu di tentukan apakah kejang timbul dengan atau tanpa
provokasi. Penyabab kejang dengan provokasi atau kejang anak simtomatik adalah termasuk
infeksi seperti meningitis dan ensefalitis, gangguan metabolisme seperti hipoglikemia,
hipokalsemia, hypernatremia, trauma kepala seperti konkusi serebral, perdarahan intracranial,
structural abnormal yaitu cacat bawaan, tumor dan iskemia. Penyebab lain adalah keracunan
terhadap camphor, carbamazepine, carbon-monoxide, cocaine, cyanide, aminopyline,
amphetamine, anticholinergic, antidepressant cyclic, plumbum, lithium, propoxyphene,

23
salicylate, strychnine. Kejang juga dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan hipoksia iskemia
yang berakibat terjadinya ensefalopati yang menimbulkan edema otak, kejang dapat berat dan
refrakter terhadap pemberian antikonvulsan.(1)

3.12 Penatalaksanaan
Tindakan utama kejang pada anak adalah secara stimultan mengatasi kejang
(simtomatik) sekaligus juga menghilangkan penyebab penyakit primer (kausatif). Bila
penyakit primer sudah dapat diatasi maka diharapkan gejala kejang akan hilang dan tidak
mengalami eksaserbasi. Terapi lain bersifat suportif atau resusitatif sesuai indikasi.(1,8)
1. Tindakan untuk anak kejang saat sebelum dan sesudah di tempat pelayanan kesehatan
o Posisikan lateral dekubitus agar sekresi mulut dapat mengalir keluar dan posisi
lidah tidak menggangu jalan nafas
o Upayakan agar leher dalam posisi lurus untuk menjaga agar saluran nafas
tetap terbuka
o Jangan memasukkan benda apapun kedalam mulut anak
o Menjaga agar lidah tidak tergigit dengan memasang batang elastik di rahang
atas dan bawah
o Membersihkan jalan nafas dan memberi dukungan ventilasi sesuai dengan
kebutuhan pasien
o Tunggui anak, perhatikan lamanya kejang, jika lebih dari 5 menit anak harus
segera mendapat pertolongan
o Bila kejang berakhir dan anak terlihat tertidur maka biarkan anak bangun
dengan sendirinya, jika anak menjadi tidak sadar maka butuh pertolongan
o Memberikan obat antikejang ke dalam dubur (per rektal)
o Secepatnya dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD)

2. Obat anti konvulsi di berikan sesuai indikasi


Benzodiazepine, diazepam dan lorazepam intravena digunakan sebagai terapi awal
untuk status epileptikus. Diazepam di berikan 0,05-0,3 mg/kg intravena dalam waktu 2-3
menit bila perlu dapat diulang setiap 30 menit sampai maksimum 5 20 mg. dosis lorazepam
untuk neonatus adalah 0,05 0,2 mg/kg intravena dalam 2 5 menit dan dapat diulang dalam
10 15 menit. Pada bayi dan anak adalah 0,1 mg/kg dapat diulang 0,05 mg/kg. untuk
adolesen adalah 0,07 mg/kg dan dapat diulang dalam 10 15 menit.
Nitrazepam (Magadon) efektif untuk kejang absans, mioklonik dan spasme infantilis,
dosisnya 0,2 mg/kg/hari dinaikkan secara perlahan menjadi 1/mg/kg/hari 3 kali.
Clobazam (frisium) sebagai tambahan untuk kejang parsial kompleks atau kejang
yang tidak dapat dikontrol. Dosisnya 0,25 1 mg/kg/hari 2 3 kali sehari.

24
Carbamazepin (Tregetol) untuk terapi kejang umum dan kejang parsial. Dosis untuk
anak umur kurang dari 6 tahun adalah 5 mg/kg/hari dalam 2 4 dosis kemudian setiap 5 7
hari ditingkatkan dengan 5 mg /kg. untuk anak umur 6 12 tahun diberikan dosis 10
mg/kg/hari dalam 2 4 dosis pemberian ditingkatkan dengan 100 mg atau 5 mg/kg/hari.
Reaksinya adalah leukopenia dan hepatotoksik terutama terjadi dalam 3 4 bulan pertama.
Ethosuximide efektif untuk kejang absans tipikal, mioklonik dan epolepsi akinetik.
Dosis untuk umur kurang dari 6 tahun 15 mg/kg/hari dalam 2 kali pemberian. Untuk anak
umur lebih dari 6 tahun dosisnya 250 mg 2 kali sehari.
Gabapentin diberikan sebagai tambahan terapi pada kasus kejang parsial kompleks
yang refrakter dan kejang umum tonik-klonik sekunder. Untuk anak umur 2 12 tahun
diberikan 15 35 mg/kg/hari dalam 3 dosis. Untuk anak lebih dari 12 tahun diberikan 300
mg setiap hari.
Lamotrigine sebagai tambahan terapi pada kejang parsial kompleks dan kejang umum
tonik-klonik. Untuk anak 2 12 tahun diberi 0,6 mg/kg/hari dalam 1 2 dosis. Reaksi yang
mungkin timbul adalah nausea, nyeri kepala, disines, penglihatan kabur, diplopia, ataksia dan
ruam makulopapular. Lamotrigine juga dapat menyebabkan Stevens-Johnson syndrome,
angiodema atau TEN (toxic epidermal necrolysis).
Phenobarbital dan primadone adalah obat yang relatif aman untuk kejang umum
tonik-klonik. Dapat diberikan secara oral dan intravena dengan bolus 15 20 mg/kg dan
dosis rumatan untuk neonatus adalah 3 4 mg/kg/hari IV setiap 12 24 jam dan untuk anak
5 6 mg/kg/hari setiap 12 24 jam. Propofol bersifat nonbarbiturat dengan efek sedatif,
hipnotik dan anestesi umum. Dosis sedatif untuk anak adalah 1,5 3 mg/kg/dosis IV dalam 2
menit.
Phenytoin (dilantin) digunakan untuk kejang umum tonik-klonik primer atau
sekunder, kejang parsial dan status epileptikus. Dosis untuk neonatus adalah 15 20 mg/kg
intravena sedangkan dosis untuk anak 15 18 mg/kg, dosis rumatan untuk anak umur 5 6
tahun adalah 8 10 mg/kg/hari, untuk umur 7 9 tahun 6 8 mg/kg/hari dan untuk umur 10
16 tahun 6 7 mg/kg/hari setiap 12 24 jam.
Tiagabine digunakan untuk pengobatan kejang parsial kompleks sebagai obat
tambahan. Untuk adolesen dan dewasa dengan dosis awal 4 mg/hari.
Topiramate untuk obat tambahan pada terapi kejang kompleks refrakter dengan atau
tanpa generalisasi. Untuk anak umur 2 16 tahun diberikan dosis 1 3 mg/kg/hari waktu
malam.

25
Valproic acid (depakene, depakote) sebagai obat antikonvulsan dengan spektrum luas
termasuk kejang umum tonik-klonik, kejang absans dan kejang mioklonik. Neonatus dengan
kejang refrakter diberikan 20 mg/kg sedangkan pada anak diberikan dosis 10 15 mg/kg/hari
dalam 2 3 dosis. Reaksinya adalah perubahan perilaku, gangguan ringan gastrointestinal,
alopesia, tremor, hiperfagi dan sindroma Reye.
Vigabatrin untuk spasme infentil dan sebagai obat tambahan untuk kasus kejang yang
kurang respon dengan pemberian antikonvulsan lain. Dosisnya 40 150 mg/kg/hari dalam 1
2 dosis.
Levetiractam atau leviractam (keppra) diberikan untuk obat tambahan pada kejang
parsial. Dosisnya 1000 3000 mg/hari.
Oxcarbazepine (trileptal) diberikan sebagai obat tambahann pada terapi kejang
parsial. Pada anak 3 17 tahun diberikan 8 -10 mg/kg/hari dalam 2 kali pemberian.
Zonisamide (zonegran) sebagai obat tambahan pada kejang parsial dan kejang
mioklonik. Dosis anak adalah 2 4 mg/kg/hari.
ACTH untuk spasme infantil dan untuk kejang kriptogenik dan simtomatik. ACTH
sama efektifnya dengan prednison. Mekanisme kerjanya belum diketahui secara pasti, namun
langsung berkerja pada otak. Efek sampingnya hiperglikemia, hipertensi, gangguan elektrolit,
gangguan gastrointestinal, dan infeksi.

3. Terapi diet ketogenik


Terapi diet ketogenik adalah dengan diet tinggi lemak, relatif rendah karbohidrat dan
pengaturan ketat terhadap kalori, cairan dan protein. Diharapkan menghasilkan keton dalam
jumlah cukup untuk mengendalikan kejang. Dalam terapi diet ketogenik harus di pastikan
pertumbuhan anak serta kebutuhan nutrien dapat berlangsung dan dipenuhi dengan baik.

4. Tindakan bedah
Tindakan bedah dilakukan jika tidak respons terhadap pengobatan, pada kasus dengan
kejang yang persisten atau dengan kejang yang frekuen dan tidak berhasil diatasi dengan
sedikitnya 3 macam obat antikonvulsan. Pembedahan meliputi membuang daerah otak yang
menyebabkan timbulnya kejang. Terapi pembedahan selain dengan maksud mengangkat
tumor jinak di otak, juga tumor otak di kelenjar adrenal berupa feokromositoma sebagai
penyakit primer penyebab dari timbulnya kejang pada anak.

5. Stimulasi saraf vagus

26
Stimulasi saraf vagus (VNS) di bagian kiri dari leher secara intermitten dapat
mengurangi kejang setelah 12 bulan terapi. Rangsangan listrik dilakukan dengan menanam
pacemaker sebagai stimulator di bawah kulit pada bagian atas dada kiri yang diikat pada
kabel di leher. Biasanya VNS dilakukan pada anak umur 12 tahun.

6. Terapi simtomatik
Pada kasus kejang yang disertai demam yang tinggi maka diperlukan antipiretik
seperti acetaminophen (paracetamol) dapat diberikan dengan dosis 10 15 mg/kg
atau ibuprofen dengan dosis 15 10 m/kg. Antipiretik dapat diberikan jika suhu anak lebih
dari 39oC atau bila anak terganggu karena demamnya seperti anak tidak tenang, tidak dapat
tidur dan tidak mau makan.(8)

7. Terapi kausal
Penyebab utama adalah infeksi yaitu lebih dari 80%. Terdapat beberapa obat yang
dapat diberikan sesuai dengan indikasi atau hasil uji resistensi, yaitu(1,8)
o Ampicillin
o Oxacillin
o Cefotaxim
o Ceftriaxone
o Chloramphenicol
o Gentamycin
o Acyclovir
o Antimalaria

8. Terapi kausal lainnya


Terapi kausal yang lain adalah terapi sulih hormon untuk kasus kejang dengan
penyakit defisiensi hormon sebagai penyakit primernya seperti pada defisiensi ACTH atau
defisiensi hormon adrenal.
9. Terapi lainnya
Terapi yang lain bersifat suportif dengan tujuan memperbaiki dan mempertahankan
keadaan umum pasien yaitu memberi kecukupan akan kebutuhan nutrisi, cairan dan
elektrolit, inhalasi oksigen, dan lainnya.

Tatalaksana Kejang Demam


o Antipiretik

27
Paracetamol 10 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari atau ibuprofen 5 10
mg/kgBB/kali 3 4 kali sehari
o Anti kejang
Diazepam oral dengan dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam rektal dosis 0,5
mg/kgBB setiap 8 jam pada saat suhu tubuh lebih dari 38,5oC.
o Pengobatan Rumatan / jangka panjang
Diberikan jika kejang lebih dari 15 menit, terdapat kelainan neurologi yang nyata sebelum
atau sesudah kejang seperti hemiparesis, paresis Todd, serebral palsi, retardasi mental dan
hidrosefalus. Dapat diberikan fenobarbital dengan dosis 3 4 mg/kgBB/hari dibagi 1 2
dosis atau asam valproat dengan dosis 15 40 mg/kgBB/har dibagi 2 3 dosis. Pengobatan
diberikan selama setahun bebas kejang kemudian di hentikan secara bertahap 1 2 bulan.(6)
3.13 Prognosis
Prognosis kejang pada anak ditentukan oleh factor primernya dan factor kejadian
kejangnya sendiri. Jika kejang berlangsung semakin lama dapat berakibat terjadinya
kerusakan atau bias menyisakan sekuele berupa deficit neurologik seperti spastisitas dan
retardasi mental. Bila pertolongan dilakukan segera prognosis dapat baik.(1)

3.14 Edukasi
Kejang pada anak dapat menimbulkan bangkitan kejang oleh karena itu diperlukan
pengamatan serta tindakan yang adekuat serta memahami karakteristik kejang. Perlunya
edukasi kepada orang tua tentang perhatian khusus pada lamanya kejang berlangsung,
amankan anak jika sedang terjadi kejang, cari pertolongan segera, melakukan pertolongan
sendiri untuk menghentikan kejang, memahami efek samping dari penggunaan obat
antikonvulsan dan memperhatikan diet sesuai dengan anjuran dokter.(1)

28
BAB IV
PEMBAHASAN

29
BAB V
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

1. Widagdo. Tatalaksana Masalah Penyakit Anak dengan Kejang. Penerbit Sagung Seto.
Jakarta: 2012.
2. Wahidiyat I, Sastroasmoro S. Pemeriksaan Klinis pada Bayi dan Anak, Penerbit Sagung
Seto. Jakarta: 2012.
3. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta E. Kapita Selekta Kedokteran. IV ed. Penerbit
Media Aesculapius. Jakarta: 2014.
4. Tejani N. Febrile Seizures. American Academy of Pediatrics. United States: 2016.
5. Kligmann, Stanton, Geme ST, Schor, Behrman. Nelson Textbook of Pediatrics. 19th ed.
Elsevier Saunders. United State of America: 2011.
6. Pudjiadi A, Hegar B, Handryastuti S, Idris N, Gandaputra E et al. Pedoman Pelayanan
Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2009.
7. Febrile Seizure. Available at http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-
seizure/basics/definition/con-20021016 Access on April 18 2017.
8. Friedman JN. Emergency management of the paediatrics patients with generalized
convulsive status epilepticus. Pediatrics Child Health. United States: 2011.

30