Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MANDIRI DOSEN PEMBIMBING

EKONOMI ISLAM 2 Heri Sunandar.Dr.M.Cl

HARTA DAN KEKAYAAN DALAM KEUANGAN PUBLIK ISLAM

DI SUSUN OLEH :

NURHIKMAH (11525201211)

LOKAL C

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2017

1
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmmanirahim, puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karuniaNya,sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.
Penulisan makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai media pembelajaran di mata kuliah
EKONOMI ISLAM 2 dalam rangka memenuhi tugas diperguruan tinggi Universitas Islam
Negri Sultan Syarif Kasim Riau.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan kata atau kalimat dan tata letak dalam makalah ini
tentunya banyak sekali kekurangan dan kekhilafan, baik kata atau kalimat.
Untuk kebaikan dan sempurnanya makalah ini ,kkritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan .Dan akhirnya semoga dapat bermanfaat bagi pembaca ,penyusun dan Mahasiswa ,

Pekanbaru, April 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 2
Daftar isi 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian harta 5
B. jenis pembagian harta 5-6
C. harta dan kekayaan dalam keuangan public islam 6-9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 10
Daftar Pustaka

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Telah menjadi kemakluman bersama bahwa allah menciptakan manusia di dunia


untuk menjadi pengelola dan khalifah di bumi. Allah pun menganugrahkan kekyaan
dunia yang melimpah ruah kepada manusia untuk kesejahteraan hidup mereka.

Harta adalah bagian drai kebutuhan yang akan dipergunkan untuk pelayanan, aka
dari harta itu harus melayani menurut kehendak manusia. harta dalam pandangan islam
pada hakikatnya adalah milik allah SWT. Kemudian allah telah menyerahkannya kepada
manusia untuk menguasai harta tersebut melalui izinnya sehingga orang tersebut sah
memiliki harta tersebut

B. Rumusan masalah
A. Apa itu pengertian harta?
B. Apa saja jenis pembagian harta ?
C. Bagaimana harta dan kekayaan dalam keuangan public islam?

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian harta

Harta adalah sesuatu yang di gandrungi oleh tabiat manusia dan mungkin dsimpan
untuk di gunakan saat dibutuhkan. Namun harta tersebut tidak akan bernilai kecuali bila
dibolehkan mengunakannya secara syariat.

Harta menurut ulama adalah sesuatu yang berwujud dan dapat dipegang dalam
pengunaannya dan manfaat pada waktu yang diperlukan.

B. Jenis pembagian harta


Harta dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
1. Harta berbentuk benda yaitu segala sesuatu yang berbentuk materi yang
dapat dirasakan oleh indera, seperti mobil dan sebagainya
2. Harta berbentuk manfaat yaitu paedah yang diperoleh dari suatu benda.

Harta juga dibagi menjadi beberapabagian sesuai dengan asumsi berikut :

1. Perlindungan syara yaitu harta yang memiliki harga. Orang yang membuat
harta jenis ini jika rusak harus mengantinya, apabila digunakan dengan
cara yang tidak sebagaimana mestinya.
2. Harta yang bergerak dan tidak bergerak
Harta yang tidak bergerak
yaitu semua jenis harta yang tidak bisa di pindahkan dari suatu tempat ke
tempat yang lain.
Harta yang bergerak
Yaitu semua jenis harta yang bisa dipindahkan dari suatu tempat ke tempat
yang lainnya.
3. Harta yang memiliki kesamaan yaitu jenis harta yang ada padanannya di
pasar sedikitpun tidak ada perbedaanya seperti beras, kurma, an yang
sejenisnya.
4. Harta yang konsumtif dan tidak konsumtif
Harta yang konsumtif yaitu harta yang akan habis ketika
dimanfaatkan.seperti makanan, minuman, dan yang sejenis.
Harta yang tidak konsutif yaitu harta yang dapat dimanfaatkan sementara
tetapi bahannya tetap ada.

5
5. Harta yang dapat dimiliki dan tidak dapat dimilik
Harta yang mutlak dan dapat dimiliki yaitu harta yang di khususkan untuk
kepentingan umum.
Hara yang tidak dapat dimiliki atas izin syara yaitu harta yang telah
diwakafkan1.
C. Harta dan kekayaan dalam keuangan publik islam

Manusia adalah makhluk paling dinamis yang diciptakan Allah. Kedinamisan ini
lahir karena keistimewaan yang diberikan Allah kepada manusia berupa akal, nalar, rasa
dan indra. Dengan kemampuan itu manusia dapat mencipta dan mengembangkan
pengetahuan, sehingga kehidupan umat manusia terus mengalami pergeseran dan
perubahan. Dengan hal itu pula manusia diberikan amanah oleh Allah SWT sebagai
khalifah dimuka bumi untuk memakmurkan bumi, dalam artian manusia mengelola
segala potensi yang ada pada bumi, baik itu pada permukaan bumi maupun yang ada
dalam bumi untuk kemanfaatan manusia, baik itu makanan , perhiasan, harta benda, dan
jenis harta kekayaan lainnya.

Dalam melaksanakan kegiatannya tersebut, manusia diberi petunjuk oleh Allah


SWT berupa tuntunan wahyu dan tuntunan suri teladan berupa Al-Quran dan hadist.
Petunjuk ini diberikan sebagai pedoman, pandangan hidup dan jalan hidup yang semata-
mata untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.

Perkembangan ekonomi islam telah menjadikan islam sebagai satu-satunya solusi


masa depan. Hal ini ditandai dengan semakin banyak dan maraknya kajian akademis
serta bermunculannya lembaga perekonomian islam di Indonesia. Begitu pula gerakan
sosial untuk menigkatkan filantropi masyarakat yang berupa zakat, infak, sedekah dan
wakaf yang menjadi bagian penting dalam keuangan public islam.

Focus studi keuangan (finance) adalah kekayaan atau kepemilikan dalam arti
umum, misalnya harga barang modal (capital asset). Sedangkan keuangan public (public
finance) fakusnya lebih khusus yaitu mengenai pendapatan dan belanja pemerintah.

1 Asyaraf Muhammad Dawwabah, Meneladani Bisnis Rasulullah , (Semarang:


pustaka riski putra, 2008), hlm.2

6
Dengan kata lain fokusnya adalah kekayaan public yaitu kekayaan atau hak milik yang
dikelola oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat.

Abu ubaid membagi kekayaan public menjadi 2 kategori yaitu :

1. Mal mutaqawwam, merupakan harta untuk kaum nonmuslim yang terdiri


dari minuman anggur, babi dan lain-lain. Sebagi sumber dari pendapatan
public, pemerintah yang hanya menerima mal mutaqawwam sesaui
dengan ajaran islam. Oleh sebab itu, untuk pembayaran objrk pajaknya,
seorang nonmuslim harus menukar dengan uang tunai.
2. Mal ghayr mutaqawwam, merupakan harta untuk kaum muslim yang
berasal dari harta yang halal. Harta kaum muslimin tidak dianggap sebagai
harta public (anwal) dalam wilayah pemerintahan islam. Oleh sebab itu,
harta jenis ini tidak bisa dipungut pajaknya.

Pembagian harta dan kekayaan dan kekayaan public tersebut oleh Abu Ubaid di
berikan beberapa kreteria yang hanya dikhususkan kepada rasulullah SAW dan orang lain
tidak ada haknya, harta itu antara lain :

1. Harta yang telah Allah limpahkan kepada rasulnya dari kaum musyrikin.
Yaitu harta yang tidak di raih oleh kaum muslimin dengan cra
mengunakan kuda an pasukan seperti fadak dan harta kekayaan bani
nadhir.
2. Ash shafi, yaitu harta yang telah dipilih untuk dijadikan sebagai hak
kepemilikan Rasulullah dari setiap ghanimah yang diraih oleh pasukan
muslimin, sebelum harta ghanimah itu dibagikan kepada kaum muslimin.
3. Seperlima harta ganimah, yaitu harta yang sudah di bagikan kepada orang
yang berhak dan setelah dibagi seperlima.

Sebagian para sahabat Rasulullah bersepakat bahwa setelah Rasulullah wafat,


maka harta tersebut tidak diwariskan atau diserahkan kepada keluarga dekatnya. Artinya
seluruh kekayaan nabi habis (selesai) begitu beliau wafat.

Berkenaan dengan kekayaan Negara atau public, ada tiga prosedur tindakan yang
harus dilaksanakan penguasa dalam menunaikan amanahnya yaitu :

7
Menghimpun harta benda dari sumbernya
Didistribusikan sesuai dengan haknya
Dan tidak menghalangi bagi yang berhak menerimanya

Keberhasilan penguasa dalam melaksankan tiga prosedur tersebut dibentuk oleh


cara pandang terhadap hubungan antara jabatannya dan status harta kekayaan Negara.
Penguasa harus menyadari bahwa kekayaan negaa bukanlah milik pribadinya melainkan
milik rakyat.

Gambaran bentuk kesadaran akan hal-hal tersebut dalam ketiga prosedur antara
lain :

1. Kekayaan Negara dapat dihimpun oleh penguasa berdasarkan klasifikasi


sumber, yaitu harta benda yang berhak dihimpun berdasarkan pada Al-
Quran dan As-sunah yang harta benda yang dihimpun berlandaskan pada
ijtihad. Pertama, berdasarkan Al-quran dan as-sunah, harta benda yang
merupakan milik Negara, antara lain ghanimah, zakat dan fai. Ghanimah
adalah harta rampasan yang diperoleh dari peperangan. Zakat merupakan
harta benda ynag dipungut dari umat islam dengan kadar tertentu. Fai
adalah harta rampasan yang diperoleh tanpa peperangan. Harta yang
dihimpun dengan landasan ijtihat adalah jenis harta benda yang tidak
secara tegas disebutkan dalam Al-Quran maupun as-sunah antara lain
harta tidak bertuan dan jizyah dari ahlulkitab (yahudi dan nasrani).
2. Distribusi kekayaan Negara juga mengikuti pola normative dan ijtihad.
Secara normative (sesuai dengan apa yang disebut dalam Al-Quran dan
As-sunnah) ganimah diperuntukkan bagi Allah, Rasul dan keluarganya,
anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Sedangkan sisanya dibagikan
kepada pasukan yang ikut dalam pertempuran.
3. Pelaksanaan amanat harta benda yang timbul akibat dari penyimpangan
hubungan kemasyarakatan dilakukan dengan mengembalikan harta benda
tersebut kepada orang yang berhak (pemiliknya).

Sebelum islam hadir, pemerintah suatu negra di pandang sebagai satu-satunya


penguasa kekayaan dan perbendaharaan. Rasulullah lah merupakan kepala Negara

8
pertama yang memperkenalkan konsep baru dalam bidang keuangan Negara pada abad
ke 7, yakni semua pendapatan Negara di kumpulkan terlebih dahulu, kemudian
dibelanjakan sesuai kebutuhan Negara, jadi status harta itu adalah milik Negara. Tempat
pengumpulan harta itu disebut dengan baitulmal.2

Dalam islam harta bukan sebagai tujuan akan tetapi sebagai sarana untuk
mendapatkan manfaat dan untuk mencapai sebuah keinginan. Barang siapa yang
munguakan harta daam koridor tersebut maka ia akan menjadi kebaikan untuk dirinya
dan masyrakat.3

2 Nurul huda, Keuangan public islam pendekatan teoritis dan syariah , (jakarta:
kencana , 2012), hlm.77-79

3 Op.cit hlm.3

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Harta adalah sesuatu yang di gandrungi oleh tabiat manusia dan mungkin dsimpan
untuk di gunakan saat dibutuhkan. Namun harta tersebut tidak akan bernilai kecuali bila
dibolehkan mengunakannya secara syariat. Harta menurut ulama adalah sesuatu yang
berwujud dan dapat dipegang dalam pengunaannya dan manfaat pada waktu yang
diperlukan.

Berkenaan dengan kekayaan Negara atau public, ada tiga prosedur tindakan yang
harus dilaksanakan penguasa dalam menunaikan amanahnya yaitu :

Menghimpun harta benda dari sumbernya


Didistribusikan sesuai dengan haknya
Dan tidak menghalangi bagi yang berhak menerimanya

DAFTAR PUSTAKA

Dawwabah Muhammad asyaraf. 2008 . Meneladani Bisnis Rasulullah. Semarang: pustaka riski
putra
huda Nurul. 2012. Keuangan public islam pendekatan teoritis dan syariah. jakarta: kencana

10