Anda di halaman 1dari 2

HASIL PANEN PETANI MEROSOT

Sektor pertanian juga terkena dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh perubahan
pola musim, curah hujan, dan kenaikan paras muka air laut. Petani harus bekerja lebih keras lagi
menghadapi musim kering yang berkepanjangan dan musim hujan yang pendek namun dengan
intensitas tinggi. Kondisi ini akan membuat hasil panen merosot tajam.
Di Indonesia saat ini sudah sulit meramalkan kapan musim hujan atau kemarau tiba.
Semuanya bisa berubah dengan cepat dan tidak menentu. Para petani pun sangat sulit dalam
menentukan masa tanam.
Perubahan pola curah hujan akan bervariasi, tergantung pada lokasi. Di banyak kawasan
pertanian, periode musim kemarau terjadi lebih panjang. Sebaliknya, pada musim hujan,
periodenya lebih pendek namun memiliki intensitas yang sangat tinggi. Fenomena semacam ini
akan mudah menimbulkan banjir. Sawah pun rusak dan bahkan gagal panen karena terendam
banjir.
Begitu pula di saat musim kemarau akan terjadi kekeringan yang berkepanjangan.
Kelangkaan air akan terjadi di berbagai tempat. Lahan lahan pertanian bakal kekurangan
persediaan air. Kelangkaan air dapat memicu konflik social karena akan saling berebut air untuk
mengairi sawahnya. Berbagai kondisi ini jelas memiliki implikasi besar pada ketahanan pangan
nasional.

A. Bencana Bagi Petani


Mengingat kurangnya informasi, dampak pemanasan global terhadap pertanian tidak
dapat dihitung secara akurat. Yang bisa dilakukan adalah dengan cara generalisasi luas areal yang
bakal terkena dampak. Jika iklim berubah seperti yang diramalkan, prospeknya bisa beraneka
ragam dan bisa jadi suram.
Penurunan curah hujan merupakan bencana bagi petani yang miskin yang mengandalkan
air irigasi dari curah hujan. Negara Negara yang tergantung pada hujan musiman akan
menemui masalah pelik jika terjadi perubahan besar dalam arah angina musiman atau jumlah
hujan yang dibawa musim tersebut.
Di daerah tropic beriklim semi kering juga menghadapi persoalan pelik akibat pemanasan
global. Dampak serupa juga terjadi di daerah barat-tengah Amerika Serikat. Suhu udaranya
menjadi lebih panas, angina lebih kencang, dan berdebu.
Fakta menunjukkan, para petani di berbagai Negara mampu melakukan adaptasi-adaptasi
besar dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan bersiap mengganti tanaman ketika pasar
berubah dan juga menerapkan varietas biji baru ketika varietas tersebut lebih menguntungkan
serta mengubah teknik bertani atau mengambil langkah apa pun guna meningkatkan keamanan
atau pendapatan mereka.

B. Tidak Semuanya Negatif


Mengapa kondisi pertanian di negara komunis itu lebih baik dengan adanya perubahan
iklim? Peningkatan karbondioksida (CO2) di udara akan membuat tanaman pertanian tumbuh
lebih baik. Berdasarkan riset di laboratorium, beberapa tanaman pangan seperti gandum,
kentang, kapas, padi, barley, ubi kayu, buah-buahan dan sayur-sayuran menunjukkan kenaikan
hasil 10-15% ketika kandungan CO2 di udara meningkat dua kali lipat. Walaupun begitu,
tanaman yang tumbuh lebih cepat dan lebih besar akan memerlukan lebih banyak unsur hara dan
air.
Di sisi lain, meningkatnya CO2 juga membuat gulma (tanaman pengganggu) tumbuh
lebih baik. Dengan demikian hal ini akan meningkatkan kompetisi terhadap air dan unsur hara
antara tanaman pokok dan gulma.
Boleh jadi pada kondisi suhu udara yang lebih panas, lebih lembab, dan kaya CO2 akan
mampu menghasilkan lebih banyak pangan daripada sekarang.