Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH AUDITING II

Disusun oleh Kelompok 3 (AK6-B3):


1 Akhmad Farid (142010300109)
2 Saputri Wijayanti (142010300120)
3 Afik Amaliyah (142010300137)
4 Esty Nugraheni (142010300140)
5 Ika Mailina Firdina (142010300150)
6 Eka Listya Putri (142010300169)

FAKULTAS EKONOMI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
SEMESTER GENAP 2017

1. a. Buat siklus / alur kas keluar untuk pembayaran hutang ?


Kas untuk pembayaran hutang usaha atau utang dagang perusahaan biasa
mengeluaran kas dengan cek, sedangkaan untuk pengeluaran kecil hanya
mengambil dari kas kecil perusahaan. Sistem pengeluaran kas dengan cek dibagi
menjadi dua macam sistem , yang masing-masing sistem tersebut terdiri dari
berbagai jaringan prosedur berikut ini :
1) Sistem akuntansi pengeluaran kas dengan cek yang tidak memerlukan
permintaan cek , yang terdri dari jaringan prosedur berikut ini :
a. Prosedur pembuatan bukti kas keluar
b. Prosedur pembayaran kas
c. Prosedur pencatatan pengeluaran kas

Dalam transaksi pembelian barang, pengeluaran kas untuk pembayaran


hutang kepada pemasok tidak memerlukan dokumen permintaan cek,
dikarenakan sistem pembelian secara otomatis mengumpulkan dokumen-
dokumen pendukung seperti (surat order pembelian, laporan penerimaan
barang, dan faktur dari pemasok) ke tangan bagian hutang. Dalam voucher
system bagian hutang membuat bukti kas keluar (voucher) atas dasar
dokumen pendukung tersebut .
Pada saat utang kepada pemasok jatuh tempo, bukti kas keluar dipakai
sebagai perintah kebagian kasa untuk membuat cek. Atas dasar bukti kas
keluar tersebut , bagian kasa mengisi cek, mendapatkan otorisasi atas cek
dari pihak yang berwenang, dan kemudian mengirimkan cek, tersebut
kepada kreditur. Dengan demikian, pengeluaran cek untuk pembayaran
utang yang timbul dari transaksi pembelian tidak memrlukan dokumen
permintaan cek, karena bagian hutang menerima berbagai dokumen yang
diperlukan dalam pembuatan bukti kas keluar dari system akuntansi
pembelian, sehingga pembuatan bukti kas keluar (sebagi perintah
pengeluaran kas) dapat secara otomatis dilakukan oleh bagian utang
berdasarkan dokumen-dokumen yang terkumpul ditangannya .

2) Sistem akuntansi pengeluaran kas dengan cek yang memerlukan permintaan


cek , yang terdiri dari jaringan prosedur berikut ini :
a. Prosedur permintaan cek
b. Prosedur pemmbuatan bukti kas keluar
c. Prosedur pembayaran kas
d. Prosedur pencatatan pengeluaran kas
Jika pengeluaran kas timbul dari transaksi selain dari transaksi
pembelian, dokumen-dokumen pendukung seperti kontrak kontrak
pembelian jasa berada ditangan fungsi yang memerlukan jasa tersebut. Oleh
karena itu, jika ada pembayaran maka fungsi yang memerlukan jasa
tersebur mengajukan permintaan cek kepada bagian hutang .
a. Prosedur Permintaan Cek
Dalam prosedur ini fungsi yang memerlukan cek mengajukan
permintaan pengeluaran kas mengajukan permintaan pengeluaran kas
dengan mengisi permintaan cek. Dokumen ini dimintakan otorisasi dari
kepala fungsi yang bersangkutan dan dikirimkan ke fungsi akuntansi
(yaitu bagian Hutang ) sebagai dasar yang terakhir ini dalam pembuatan
bukti kas keluar.

b. Prosedur Pembuatan Bukti Kas Keluar


Berdasarkan dokumen pendukung yang dikumpulkan melalui system
pembelian atau berdasarkan permintaan cek yang diterima fungsi
akuntansi (bagian Hutang), dalam prosedur pembuatan bukti kas keluar,
bagian hutang membuat bukti kas keluar, bukti kas keluar ini berfungsi
sebagai perintah kepada fungsi kas untuk mengisi cek sebesar jumlah
rupiah yang tercantum pada dokumen tersebut dan mengirimkan cek
tersebut kepada kreditur yang namanya ditulis dalam dokumen tersebut .

c. Prosedur Pembayaran Kas


Dalam prosedur ini, fungsi kas mengisi cek, meminta tanda tangan
atas cek kepada pejabat yang berwenang, dan mengirimkan cek tersebut
kepada kreditur yang namanya tercantum pada bukti kas keluar .

d. Prosedur Pencatatan Pengeluaran Kas


Dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat pengeluaran kas
didalam jurnal pengeluaran kas atau register cek. dalam one-time
voucher system dengan cash basis, disamping fungsi akuntansi mencatat
pengeluaran kas di dalam jurnal pengeluaran kas, pendebitan yang
timbul dari transaksi pengeluaran dicatat dalam buku pembantu (dalam
kartu biaya dan kartu persediaan)

Bagan alur sistem pengeluaran kas dengan cek


Sistem pengeluaran kas dengan cek dibagi menjadi 2 macam berikut ini :
1. Sistem pengeluaran kas dengan cek dalam account payable system.

2. Sistem pengeluaran kas dengan cek dalam voucher payable system.


a) One time voucher payable system dengan cash basis
b) One time voucher payable system dengan accrual basis

c) Built up voucher payable system


b. Penjelasan perbedaan Account Receivable dengan biaya yang masih harus
dibayar ?
a) Pengertian
Account Receivable
Account Receivable disebut juga piutang. Menurut Donald E. Keiso
(2004:386), piutang adalah klaim uang, barang, jasa kepada pelanggan atau
pihak pihak lainnya. Sedangkan menurut Sukrisno Agoes, (2004:173),
piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan
atau jasa secara kredit.Piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, di mana
yang paling umum ialah dari penjualan barang atau jasa secara kredit. Kredit
dapat diberikan dalam bentuk perkiraan terbuka atau berdasarkan instrumen
kredit yang sahih, yang disebut surat promes (wesel). Surat promes
(promissory note), yang sering disebut wesel (nota), adalah janji tertulis
untuk membayar sejumlah uang tertentu atas permintaan atau pada suatu
tanggal yang telah ditetapkan.

Biaya yang masih harus dibayar

Biaya-biaya yang harus dibayarkan disebut juga Accrual Payable yaitu


perusahaan kepada pihak lain atau jasa-jasa yang telah dilakukan oleh pihak
lain demi kepentingan perusahaan. Biaya tersebut sudah merupakan
kewajiban perusahaan untuk membayarnya, namun belum dibayarkan oleh
perusahaan, sehingga masih merupakan utang atau kewajiban yang harus
ditanggung oleh perusahaan untuk melunasinya. Yang termasuk dalam
kelompok ini adalah hutang gaji dan upah, hutang komisi, dan hutang bunga.
Accrual Payable ini termasuk liabilitas jangka pendek (Current Liability).

b) Akun
Account Receivable
Account Receivable (piutang) termasuk dalam akun aktiva (aset)

Biaya yang masih harus dibayar


Biaya-biaya yang harus dibayarkan (Accrual Payable) termasuk dalam akun
pasiva (liabilitas).
c) Tujuan Audit
Account Receivable

1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control)

yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan

kas.
2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (ke otentikan) dari

pada piutang.
3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan

cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak

tertagih).
4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability)

yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih (notes receivable).


5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan

prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi

Keuangan.

Biaya yang masih harus dibayar


1. Untuk meyakini bahwa terdapat internal control yang baik atas liabilitas
jangka pendek.
2. Untuk meyakini bahwa liabilitas jangka pendek tercantum dilaporan
posisi keuangan (neraca) didukung oleh bukti yang lengkap dan berasal
dari transaksi yang benar-benar terjadi.
3. Untuk meyakini bahwa semua liabilitas jangka pendek perusahaan sudah
tercatat per tanggal neraca.
4. Untuk meyakini bahwa jumlah accrual expense reasonable (layak).
5. Untuk meyakini bahwa kewajiban sewa, jika ada, sudah tercatat sesuai
dengan standar akuntansi sewa guna usaha (PSAK No. 30 Revisi 2007
tentang sewa).
6. Untuk meyakini bahwa utang dalam mata uang asing per tanggal nerca,
sudah dikonveksikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah
BI dan Selisih kurs dibebankan pada rugi laba tahun berjalan.
7. Untuk menyakinkan bahwa biaya bunga dan bunga yang terutang dari
liabilitas jangka pendek telah dicatat per tanggal neraca.
8. Untuk menyakinkan bahwa bunga liabilitas jangka pendek yang tercatat
pada tanggal neracabetul telah terjadi, dihitung secara akurat dan
merupakan beban perusahaan.
9. Untuk menyakinkan bahwa semua persyaratan dalam perjanjian kredit
telah diikuti oleh perusahaan sehingga tidak terjadi bank default (right
and obligation).
10. Untuk penyajian current liabilities dalam neraca dan catatan laporan
keuangan telah sesuai dengan SAK.

d) Prosedur Audit
Account Receivable

Sukrisno Agoes (2004:176) menyarankan prosedur audit piutang usaha


sebagai berikut:
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan,
piutang dan penerimaan.
2. Buat Top Schedule dan Supporting Schedule piutang pertanggal neraca.
3. Minta aging shedule dari piutang usaha pertanggal neraca yang antara lain
menunjukkan nama pelanggan (customer), saldo piutang, umur piutang
dan kalau bisa subsequent collections-nya.
4. Periksa mathematical accuracy-nya dan check individual balance ke
subledger lalu totalnya ke general ledger.
5. Test check umur piutang dari beberapa customer ke subledger piutang dan
sales invoice.
6. Kirimkan konfirmasi piutang:
1) Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirim
surat konfirmasi.
2) Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi
negatif.
3) Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di
surat konfirmasi.
4) Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada klien
untuk dicari perbedaannya.
5) Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi

7. Periksa subsequent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti


penerimaan kas untuk periode sesudah tanggal neraca sampai mendekati
tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan (audit field work). Perhatikan
bahwa yang dicatat sebagai subsequent collections hanyalah yang
berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa.
8. Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan
untuk mengetahui kemungkinan adanya contingent liability.
9. Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah
jumlah yang disediakan oleh klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu
besar dan terlalu kecil.
10. Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan
lain-lain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal
neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual melalui invoice sebelum
tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum cari tahu
alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa,
yang dibatalkan dalam periode berikutnya.
11. Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank,
dan correspondence file untuk mengetahi apakah ada piutang yang
dijadikan sebagai jaminan.
12. Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.
13. Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.

Biaya yang masih harus dibayar


1. Pelajari dan evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek.
2. Minta rincian dari liabilitas jangka pendek, baik utang usaha maupun
kewajiban lainnya, kemudian periksa penjumlahannya (footing) serta
cocokkan saldonya dengan saldo utang di buku besar.
3. Untuk utang usaha cocokkan saldo masing-masing supplier dengan saldo
menurut subsidiary ledger utang usaha.
4. Secara test basis, periksa bukti pendukung dari saldo utang kepada
beberapa supplier, perhatikan apakah angkanya cocok dengan purchase
requisition, purchase order, reseving report dan supplier invoice. Periksa
juga perhitungan mathematis dari dokumen-dokumen tersebut dan
otorisasi dari pejabat perusahaan yang berwenang.
5. Seandainya terdapat monthly statement of account dari supplier, maka
harus dilakukan rekonsiliasi antara saldo utang menurut statement of
account tersebut dengan saldo subsidiary ledger utang.
6. Pertimbangkan untuk mengirim konfirmasi kepada beberapa supplier baik
yang saldonya besar maupun yang saldonya tidak berubah sejak tahun
sebelumnya.
7. Periksa pembayaran sesudah tanggal neraaca (subsequent payment) untuk
mengetahui apakah ada kewajiban yang belum dicatat (unrecorder
liabilities) per tanggal neraca dan untuk menyakinkan diri mengenai
kewajaran saldo utang per tanggal neraca.
8. Seandainya ada utang kepada bank baik dalam bentuk kredit modal kerja,
kredit investasi, maupun kredit overdraft, maka kirim konfirmasi ke bank,
periksa surat perjanjian kreditnya dan buatkan excerpt dari perjanjian
kredit tersebut, dan periksa otorisasi dari direksi untuk perolehan kredit
bank tersebut.
9. Seandainya ada utang dari pemegang saham atau dari direksi atau dari
perusahaan afiliasi, yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun yang akan
datang, harus dikirim konfirmasi, periksa perjanjian kreditnya dan periksa
apakah ada pembebanan bunga atas pinjaman tersebut.
10. Seandainya ada utang leasing, periksa apakah pencatatannya sudah sesuai
dengan standar akuntansi sewa, dan apakah bagian yang jatuh tempo
dalam waktu satu tahun yang akan datang sudah dicatat sebagai utang
jangka pendek.
11. Periksa perhitungan dan pembayaran bunga, apakah sudah dilakukan
secara akurat dan tiap jumlah beban bunga tersebut dengan jumlah yang
tercantum pada laporan rugi laba. Perhatikan juga aspek pajaknya.
12. Seandainya ada saldo debit dari utang usaha maka harus ditelusuri apakah
ini merupakan uang muka pembelian atau karena adanya pengembalian
barang yang dibeli tetapi sudah dilunasi sebelumnya. Kalau jumlahnya
besar harus direklasifikasikan sebagai piutang.
13. Seandainya ada uang muka penjualan per tanggal neraca, periksa bukti
pendukungnya dan periksa apakah saldo tersebut sudah diselesaikan
diperiode berikutnya misalnya dengan megirimkan barang yang dipesan
oleh pembeli.
14. Seandainya ada kredit jangka panjang , harus diperiksa apakah bagian
yang jatuh tempo satu tahun yang akan datang sudah direklasifikasikan
sebagai utang jangka pendek.
15. Seandainya ada kewajiban dalam mata uang asing, periksa apakah saldo
tersebut per tanggal neraca telah dikonversikan kedalam rupiah dengan
menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal neraca, dan selisih
kurs yang terjadi dibebankan pada rugi laba tahun berjalan.
16. Untuk utang PPh 21 dan PPN periksa apakah utang tersebut sudah
dilunasi pada periode berikutnya. Seharusnya hutang PPh 21 dan PPN per
31 Desember dilunasi dibulan Januari tahun berikutnya. Sedangakan
untuk PPh Badan harus diperiksa apakah pada waktu mengisi dan
memasukan SPT PPh Badan, perusahaan telah membayar PPh 29.
17. Periksa dasar perhitungan accrued expense yang dibuat oleh perusahaan,
apakah reasonable dan konsisten dasar perhitungan tahun sebelumnya.
Selain itu harus diperiksa pembayaran sesudah tanggal neraca.
18. Periksa notulen rapat direksi, pemegang saham dan perjanjian-perjanjian
yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga, untuk mengetahui apakah
semua kewajiban yang tercantum dalam notulen dan perjanjian tersebut
sudah dicatat per tanggal neraca.
19. Kirim konfirmasi kepada penasihat hukum perusahaan.
20. Periksa apakah penyajian utang jangka pendek di neraca dan catatan atas
laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
(SAK).

2. Buat prosedur audit untuk siklus perolehan dan pembayaran aktiva tetap ?

Sistematika pengujian substantif investasi aset tetap :

1. Prosedur pendahuluan
2. Prosedur pengujian analitis
3. Prosedur pengujian transaksi
4. Prosedur pengujian saldo akun
5. Prosedur pengujian estimasi akuntansi
6. Prosedur pengujian penyajian dan pengungkapan

Deskripsi masing-masing prosedur pengujian substantif

1. Prosedur awal
Prosedur awal atau prosedur pendahuluan adalah prosedur pengujian substantif
yang dilakukan untuk mengawali rangkaian prosedur pengujian substantif yang
lain, yang mencakup sejumlah prosedur sebagai berikut:

a. Memahami industri dan bisnis untuk mendapatkan pemahaman yang baik


tentang karakteristik volume transaksi dan sebaran aset tetap pada level industri
dan juga level perusahaan yang diaudit, karena masing-masing industri dan juga
masing-masing perusahaan memiliki pola dan volume investasi aset tetap yang
berbeda-beda.
b. Mendapatkan data audit aset tetap periode sebelumnya.
c. Mendapatkan bukti transaksi dan bukti pembukuan yang berhubungan dengan
investasi aset tetap, termasuk daftar-daftar aset tetap yang dimiliki perusahaan.
d. Mencocokkan saldo awal akun-akun aset tetap dengan saldo per audit periode
sebelumnya.
e. Melakukan obversasi awal terhadap ada tidaknya transaksi yang tidak lazim,
baik dari sisi jumlah tranksi maupun dari sisi sumber transaksi.
f. Membuat catatan untuk temuan transaksi yang tidak lazim, baik dari sisi jumlah
transaksi maupun dari sisi sumber transaksi, untuk dijadikan sebagai sasaran
utama prosedur audit selanjutnya.

2. Prosedur pengujian analitis


Prosedur analitis merupakan kelanjutan dari prosedur awal atau prosedur
pendahuluan, dengan tujuan untuk menganalisis kesetaraan saldo akun dengan
angka pembanding, misalnya angka anggaran, angka periode sebelumnya, dan jika
tersedia dengan angka rata-rata industri. Prosedur analitis bisa dilakukan dengan
membandingkan angka absolut atau angka relatif (persentase). Berikut ini contoh-
contoh prosedur analitis:
a. Perputaran Aset Tetap
Average
Net Sales
Assets

Kenaikan tidak wajar perputaran aset tetap menjadi indikasi kesalahan
pembukuan atau kapitalisasi aset tetap.
b. Perputaran Total Aset
Net Sales
Average Total Assets
Kenaikan tidak wajar perputaran aset tetap menjadi indikasi kesalahan
pembukuan atau kapitalisasi aset tetap.
c. Persentase Beban Depresiasi dari Aset Tetap
Depreciation Espenses
Average PPE ( Property , Palnt ,Equipment )
Kenaikan persentase beban depresiasi secara tidak wajar menjadi indikasi
kesalahan perhitungan dan pembukuan beban depresiasi.
d. Persentasi Beban Reparasi dan Pemeliharaan dari Penjualan Bersih
RepairMaintenance Espenses
Net Sales

Kenaikan persentase secara tidak wajar menjadi indikasi kekeliruan


pembebanan beban reparasi dan pemeliharaan.

e. Return on Total Assets


( Net Income+ ( Interst x ( 1tax rate ) ) )
Average Total Assets
Kenaikan ROA secara tidak wajar menjadi indikasi kesalahan pembukuan atau
kapitalisasi aset tetap.

Catatan:

Angka-angka rasio tersebut dibandingkan dengan rasio pembanding, misalnya


rasio periode sebelumnya, rasio anggaran, dan rasio industri. Investigasi lebih
mendalam dilakukan terhadap angka rasio yang berbeda secara signifikan.

3. Prosedur pengujian transaksi


Prosedur pengujian transaksi merupakan kelanjutan dari prosedur analitis,
dilakukan dengan cara menguji secara sampling mutasi debit dan kredit pada akun
yang terkait dengan aset tetap, yang dipandang memerlukan pengujian secara lebih
mendetil. Prosedur pengujian transaksi antara lain adalah :

a. Tracing secara sampling dari butkti transaksi ke bukti pembukuan, seperti


jurnal, buku pembantu, dan buku besar, untuk memastikan bahwa seluruh
transaksi telah dibukukan secara lengkap dan tepat.
b. Vouching secara sampling dari bukti pembukuan ke bukti transaksi, untuk
memastikan bahwa laporan didukung dengan bukti yang valid, pembukuan
dilakukan dengan tepat.
c. Inspeksi bukti transaksi secara sampling, yaitu pemeriksaan secara langsung
terhadap bukti transaksi untuk menguji validitas bukti, termasuk kebenaran
perkalian, penjumlahan, dan seterusnya.
d. Pemeriksaan ketepatan pisah batas (cut-off) transaksi secara sampling, untuk
memastikan bahwa transaksi dibukukan sesuai dengan periode terjadinya
transaksi.

4. Prosedur pengujian saldo akun


a. Prosedur pengujian saldo akun ditujukan untuk menguji eksistensi aset tetap,
pengujian dilakukan dengan cara melakukan inspeksi atau pemeriksaan
langsung terhadap keberadaan dan kondisi aset tetap dan juga status
kepemilikan aset tetap.
b. Prosedur ini dilakukan mengingat data pembukuan belum tentu sesuai dengan
eksistensi dari aset yang dilaporkan, misalnya aset yang bersangkutan dalam
kondisi rusak atau hilang.

5. Prosedur pengujian estimasi akuntansi


Pengujian estimasi akuntansi ditujukan untuk menguji ketepatan pelaporan nilai
aset tetap yang didasarkan pada estimasi, misalnya: ketepatan perhitungan beban
depresiasi, ketepatan estimasi revaluasi aset tetap, ketepatan estimasi penurunan
nilai aset tetap, ketepatan estimasi kerugian aset tetap dan seterusnya. Pengujian
estimasi akuntansi dilakukan dengan cara melakukan reviu terhadap kewajaran
estimasi, keandalan bukti-bukti pendukung estimasi akuntansi, membandingan
nilai estimasi dengan data-data pembanding yang relevan, serta konfirmasi nilai
estimasi ke pihak yang relevan, misalnya ke lembaga jasa estimasi yang digunakan
oleh klien.

6. Prosedur pengujian penyajian dan pengungkapan.


Pengujian penyajian dan pengungkapan ditujukan untuk menilai kesesuaian cara
penyajian dengan standar penyajian aset tetap yang diatur dalam SAK, sedangkan
pengujian pengungkapan ditujukan untuk menilai kecukupan pengungkapan atau
penjelasan terhadap aset tetap, untuk menurunkan potensi pengguna laporan
keuangan salah dalam membuat kesimpulan tentang aset tetap yang dilaporkan
oleh manajemen. Isu-isu yang tentang penyajian dan pengungkapan misalnya :

a. Aset tetap adalah aset yang aktif digunakan dalam kegiatan operasional
perusahaan dan memiliki umur ekonomis lebih dari satu periode akuntansi,
tetapi terdapat kemungkinan aset tetap tertentu masih memiliki nilai ekonomi
tetapi tidak lagi digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan.
b. Aset tetap digunaan sebagai jaminan utang jangka panjang.
c. Aset tetap sedang dalam proses pembangunan, belum digunakan dalam kegiatan
operasional perusahaan.