Anda di halaman 1dari 121

Estimasi Stok Sumber Daya ..... di Perairan Kabupaten Bengkalis (Priatna, A.

& Wijopriono)

ESTIMASI STOK SUMBER DAYA IKAN DENGAN METODE HIDROAKUSTIK


DI PERAIRAN KABUPATEN BENGKALIS

Asep Priatna1) dan Wijopriono2)


1)
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta
2)
Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 8 Oktober 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 22 Nopember 2010;
Disetujui terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Perairan Bengkalis termasuk wilayah pengelolaan perikanan Selat Malaka, merupakan kawasan
dengan status pemanfaatan tinggi sehingga diperlukan tahapan pemantauan yang intensif dan
penelitian potensi sumber daya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai estimasi
biomassa dan kepadatan stok sumber daya ikan dengan metode akustik. Data kuantitatif yang
diperoleh akan menjadi sumber informasi terkini dari kondisi sumber daya ikan di perairan Kabupaten
Bengkalis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 di perairan Kabupaten Bengkalis yang
merupakan bagian dari Selat Malaka. Perangkat akustik yang digunakan adalah split beam
echosounder Simrad EY60 dengan frekuensi 120 kHz. Data hasil tangkapan dengan trawl dari jenis
ikan pelagis dan demersal yang dominan di perairan ini digunakan untuk memverifikasi data akustik.
Estimasi biomassa pada luas daerah 5.433 km2 adalah 9.374 ton dengan kepadatan stok 0,44 ton/ km2
untuk ikan pelagis dan 4.441,5 ton dengan kepadatan stok 0,17 ton/km2 untuk ikan demersal.

KATA KUNCI: hidroakustik, biomassa, kepadatan stok, ikan pelagis, ikan demersal, Bengkalis

ABSTRACT: Fish stock estimation by hidroacoustic survey in Bengkalis waters. By: Asep
Priatna and Wijopriono

Bengkalis waters was included in the regional fisheries management of Malacca Strait, having high
utilization in fisheries. Therefore intensive monitoring as well as research on fish stock is needed. The
aim of the research was to estimate fish biomass and stock density based on acoustic method. The
quantitative data are source of current information for fish resources condition in Bengkalis waters. The
survey was conducted in October 2009 in Bengkalis waters. Simrad EY60 split beam echosounder with
frequency 120 kHz was used for acquisition of acoustic data. Both pelagic and demersal fish as
dominant species caught were used for verification acoustic data. The biomass estimation on 5,433
km2 covered area was about 9,374 ton with stock density about 0.44 ton/km 2 for pelagic fish, while
4,441.5 ton with stock density about 0.17 ton/km2 for demersal fish.

KEYWORDS: hidroacoustic, biomass, stock density, pelagic fish, demersal fish, Bengkalis
terkumpul melalui sistem pemantauan berkala
PENDAHULUAN (Balai Riset Perikanan Laut, 2007).

Semakin pesatnya perkembangan Perairan Bengkalis termasuk wilayah


pembangunan perikanan, maka upaya penyajian pengelolaan perikanan Selat Malaka, merupakan
informasi sumber daya perikanan terbaru mutlak kawasan yang berbeda pada status pemanfaatan
diperlukan bagi para perencana pembangunan tinggi dan telah memasuki tahapan diperlukannya
perikanan di suatu daerah. pemantauan yang sangat intensif serta
dilakukannya penelitian yang lebih spesifik
Pendugaan kuantitatif atas ukuran populasi terutama terhadap potensi sumber daya ikan
ikan sangat diperlukan dalam pengembangan dan (Anonimus, 2009). Di dalam pembangunan
pengelolaan sumber daya ikan. Pemanfaatan perikanan, angka potensi sangat diperlukan yang
sumber daya ikan dapat dilakukan secara optimal akan menunjukkan bahwa sumber daya ikan
apabila sediaan (stock) dan sebaran sumber daya tersebut mempunyai batas. Ini berarti bahwa
ikan tersebut diketahui secara pasti sehingga pembangunan perikanan tidak dapat dipacu terus-
langkah-langkah kebijakan eksploitasi dapat menerus tanpa melihat batas kemampuan sumber
dilakukan dengan tepat tanpa membahayakan daya tersebut ataupun daya dukungnya. Di lain
kelestariannya. Informasi sumber daya secara pihak, berapa angka potensi sumber daya ikan
kuantitatif yang dapat digunakan sebagai indikator yang tersedia belum banyak diketahui.
stok sangat ditentukan oleh tersedianya informasi
dasar seperti dari hasil survei kapal-kapal
penelitian maupun informasi yang
___________________
Korespondensi penulis:
Jl.Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera-Jakarta 14440, Telp.(021) 6602044 1
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 1-10
masing jenis ikan
tersebut (Afas, 2007).
Menurut Widodo et
al. (1998) potensi ikan
Penerapan metode
demersal 119.600
akustik dalam
ton/tahun sedangkan
pendugaan stok ikan
hasil penelitian
mempunyai beberapa
dengan Baruna Jaya
keunggulan yaitu
VII tahun 2001
sebesar 147.300 menghasilkan data
ton/tahun. Penelitian yang cepat, in situ,
oleh Sumiono (2008) relatif akurat, serta
tentang ikan demersal tidak membahayakan
di Selat Malaka sub sumber daya ikan
daerah Pulau yang diamati. Selain
Bengkalis dan Pulau untuk pendugaan stok
Rupat, diperoleh rata- ikan, hasil
rata laju tangkap 34,1 pengamatan
kg/jam dengan hidroakustik dapat
kepadatan stok 0,9 memberikan suatu
ton/km2 dan biomassa gambaran mengenai
7.800 ton pada daerah distribusi dari
yang disurvei seluas pengelompokkan
sumber daya ikan
8.676 km2.
yang berada di suatu
Beberapa metode perairan.
langsung yang dapat
dipergunakan untuk Tujuan penelitian
pengkajian stok ikan ini adalah untuk
antara lain model mendapatkan nilai
dinamika biomassa, dugaan stok serta
dinamika kolam, sebaran kelimpahan
Thomson & Bell, VPA, ikan
swept area, transek
visual, dan
hidroakustik telah
banyak dilakukan
(Widodo, 2002).
Identifikasi jenis ikan
serta verifikasi
terhadap echo dari
sasaran yang
terdeteksi sangat
diperlukan dalam
estimasi stok ikan
dengan metode
akustik. Verifikasi
echo terhadap ikan
target di perairan
tropis menggunakan
ukuran ikan target
dominan yang
terdapat di perairan
tersebut, mengingat
sumber daya ikan di
perairan tropis yang
bersifat multi species
dan berinteraksi satu
sama lain sehingga
sangat sulit untuk
memisahkan masing-
dengan metode selama periode
akustik. Data pelayaran dengan
kuantitatif yang kecepatan kapal
diperoleh diharapkan berkisar antara 7-8
dapat menjadi knot. Jalur akuisisi
sumber informasi data mencakup luasan
terkini dari kondisi daerah yang
sumber daya ikan di memungkinkan
perairan Kabupaten analisis secara spasial
Bengkalis. yang dibuat dengan
bentuk zig-zag
BAHAN DAN menurut MacLennan
METODE (1992) dengan
panjang tiap transek
Penelitian ini sekitar 12 nmi dari
dilaksanakan pada batas gugusan pulau
bulan Oktober 2009 di ke arah luar.
perairan Kabupaten
Bengkalis yang Selama penelitian
merupakan bagian diperoleh 14 stasiun
dari Selat Malaka trawl. Hasil tangkapan
mulai dari utara Pulau ikan secara in situ
Rupat sampai timur dengan menggunakan
Pulau Bengkalis. jaring trawl ditujukan
Wahana penelitian ini untuk memverifikasi
adalah kapal nelayan data akustik untuk
setempat. Perangkat estimasi biomassa
hidroakustik yang ikan. Rata-rata waktu
digunakan adalah penarikan jaring
SIMRAD EY60 (towing) tiap stasiun
portable splitbeam adalah 1 jam dan rata-
echosounder dengan rata kecepat
frekuensi transducer
120 kHz. Gambaran lokasi
penelitian, jalur
Akuisisi data akuisisi data akustik
akustik dilakukan dan posisi stasiun
terus-menerus pada trawl ditunjukkan
siang dan malam hari dalam Gambar 1.

2.5

2
1

3
4

Titinaka
2
LintangUtara

5 6
7 9
Batupanjang 10
8
Guntung 11
Sepahat

1.5 Bengkalis
12
13
0 nmi 15 30 45
14
Kudap
trek akustik
Sinunjung

Lalang Kurau
Merbau
trawl
1
101 101.5 102 102.5 103
Bujur Timur

Gambar 1. Lokasi penelitian, trek


akuisisi data akustik, dan posisi stasiun trawl.
Figure 1. Research location, acoustics
track, and trawling positions.
2
Estimasi Stok Sumber Daya ..... di Perairan Kabupaten Bengkalis (Priatna, A. & Wijopriono)
Menurut Hile (1936) dalam Effendie
(2002), hubungan panjang (L) dan bobot
Pengolahan dan Analisis Data
(W) dari suatu spesies ikan yaitu:
Data akustik diolah dengan
menggunakan software SONAR ver.4. W=aLb .......................................................... (5
Analisis untuk estimasi ikan pelagis
dilakukan mulai dari kedalaman 5-55 m
dengan strata tiap 10 m, sementara
strata untuk ikan demersal 5 m dari
dasar perairan.

Dengan mengingat sifat-sifat ikan


demersal yaitu kelompok ikan yang
menghuni dasar atau dekat dasar
perairan (Aoyama, 1973), maka
diasumsikan kolom air dengan
ketinggian 5 m dari dasar perairan
merupakan habitat ikan demersal dan
selebihnya merupakan habitat ikan
pelagis.

Elementary sampling distance unit


adalah 1 nmi. Hasil ekstraksi berupa nilai
area backscattering coeficient (sA,
2 2
m /nmi ) dan distribusi nilai target strength
ikan tunggal dalam satuan decibel (dB)
sebagai indeks refleksi ukuran ikan.

Hubungan target strength dan bs


(backscattering cross-section, m2) dihitung
berdasarkan atas MacLennan & Simmonds
(1992) yaitu:

TS=10 log bs ..............................................

Persamaan untuk densitas ikan (A,


ind./nmi2) adalah:

A=sA/bs ....................................................

Panjang ikan (L) berhubungan dengan


bs yaitu:

bs=aLb ......................................................

Hubungan target strength dan L adalah:

TS=20 log L+A .............................................

di mana:
A = nilai target strength untuk 1
cm panjang ikan (normalized
target strength)

Konversi nilai target strength menjadi


ukuran panjang (L) untuk ikan pelagis
digunakan persamaan TS = 20 log L-73,97
(Hannachi et al., 2004) sedangkan untuk
ikan demersal digunakan persamaan TS =
21,8 log L-74,9 (Anonimus, 2002).
Menurut Mac Lennan & Simmonds ikan gerot-gerot (Pomadasys sp.) sebagai
(1992) dalam Natsir et al. (2005) ikan demersal, merupakan jenis yang
persamaan panjang dan bobot untuk tertangkap di semua stasiun trawl dengan
mengkonversi panjang dugaan menjadi persentase komposisi jenis yang paling
bobot dugaan adalah: banyak pada masing-masing stasiun trawl.
Kedua jenis ikan tersebut dipilih untuk
i mewakili populasi ikan pelagis dan demersal
Wt=a{{ni(Li+L/2) b+1-(Li-L/2) b+1}/ pada daerah penelitian karena merupakan
{(b+1)L}} ... (6 jenis yang mendominansi dengan nilai
1
penyebaran yang luas.
di mana:
Wt = bobot total (g) Hubungan panjang bobot ikan puput
L = selang kelas panjang (cm) diperoleh persamaan W = 0,005*L 3,392
dan untuk ikan gerot-gerot adalah W =
Li = nilai tengah dari kelas panjang ke-i (cm) 2,695
= jumlah individu pada kelas ke-i 0,03*L (Gambar 2). Konstanta a dan
ni
b digunakan dalam konversi dari ukuran
a, b = konstanta untuk spesies tertentu
panjang dugaan berdasarkan atas nilai
target strength menjadi bobot dugaan.
Selain nilai estimasi stok ikan
berdasarkan atas komposisi ukurannya, Dugaan Stok Ikan
hasil analisis juga disajikan dalam bentuk
peta sebaran densitas tiap strata Total luas perairan yang diamati 1.584
kedalaman. nmi2 atau 5.433 km2. Terdapat perbedaan
luas daerah perairan pada masing-masing
HASIL DAN BAHASAN strata kedalaman dikarenakan adanya
perubahan kontur dasar perairan pada
Pendugaan Ukuran dan Bobot Ikan daerah yang diamati, sehingga terdapat
perbedaan cakupan luas daerah tiap strata
Berdasarkan atas komposisi hasil kedalaman. Cakupan luas daerah serta rata-
tangkapan (Lampiran 1 dan 2), ikan puput rata kepadatan ikan (ekor/1.000 m3) tiap
(Pellona ditchela) sebagai ikan pelagis dan strata kedalaman disajikan pada Tabel 1.

3
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 1-10

Gambar 2. Grafik hubungan panjang bobot ikan puput dan ikan gerot-gerot.
Figure 2. Length weight relationship Pellona ditchela and Pomadasys maculates.

Tabel 1. Cakupan luas daerah serta rata-rata kepadatan ikan (ekor/1.000 m 3) tiap strata kedalaman
Table 1. Area covered and mean of fish density (ind./1,000 m3) each depth strata

Strata/ Luas daerah/ Densitas rata-


Level Persentase luas/ Total area Average den
Percentage of area 2
Dari pengambilan contoh akustik diperoleh nilai nilai estimasi 3.642 ton (Balai Riset Perikanan Laut, (ekor/1.000
(m) (km )

estimasi total biomassa ikan pelagis sampai 2008),5-15sehingga tingkat86,6pemanfaatan ikan4.710demersal 2


kedalaman 55 m adalah 9.374 ton dengan kepadatan sudah15- 2582% dari potensinya52,7. 2.866 7
stok 0,44 ton/km2. Berdasarkan atas data produksi 25-35 50,4 2.741 10
perikanan pelagis Kabupaten Bengkalis tahun 2008 35-45 37,6 2.044 11
14
Hasil penelitian menunjukkan nilai estimasi biomassa

diperoleh nilai estimasi 7.767 ton (Balai Riset 45-55 25,6 1.396
maupun kepadatan stok ikan demersal lebih rendah
0- -5 100,0 5.433 8
Perikanan Laut, 2008), sehingga berdasarkan atas dibandingkan hasil penelitian sebelumnya dengan
hasil akustik dari penelitian ini tingkat pemanfaatan metode swept area oleh Sumiono (2008), terjadi
ikan pelagis sudah 83% dari potensinya. Komposisi penurunan nilai biomassa ikan demersal 40% dan
jumlah individu, biomassa, serta kepadatan stok penurunan nilai kepadatan stok 80%. Meningkatnya
untuk masing-masing selang ukuran ikan tiap strata tekanan penangkapan akibat penambahan jumlah
kedalaman disajikan dalam Tabel 2. armada dan alat tangkap (Balai Riset Perikanan Laut,
2008), merupakan salah satu faktor yang
Sementara nilai estimasi total biomassa ikan menyebabkan semakin turunnya sumber daya ikan
demersal 4.441,5 ton dengan kepadatan stok 0,17 di perairan Bengkalis. Komposisi jumlah individu,
ton/km2. Berdasarkan atas data produksi perikanan biomassa, serta kepadatan stok untuk masing-masing
demersal Kabupaten Bengkalis tahun 2008 diperoleh selang ukuran ikan disajikan dalam Tabel 3.

4
Tabel 2. Komposisi jumlah individu, biomassa, serta kepadatan stok untuk masing-masing selang
ukuran ikan pelagis tiap strata kedalaman
Table 2. Number of pelagic fish composition, biomass, and stock density by size distributions
each depth strata

Nilai target strength (dB) (-60)-(-57) (-57)-(-54) (-54)-(-51) (-51)-(-48)


Panjang (cm) 5,0-7,1 7,1-10,0 10,0-14,1 14,1-19,9
Bobot (g) 1,2-3,8 3,8-12,2 12,2-39,3 39,3-126,9
Komposisi individu (%)
5-15 m 55,4 24,0 11,5 6,1
15-25 m 58,7 23,5 9,9 4,9
25-35 m 55,7 25,0 11,3 5,4
35-45 m 49,8 28,6 12,9 5,8
45-55 m 32,8 35,2 19,1 8,8
Biomassa (ton)
5-15 m 67,8 94,9 146,8 250,3
15-25 m 136,1 175,9 240,0 380,0
25-35 m 174,5 252,5 368,6 567,0
35-45 m 132,4 244,9 357,1 517,3
45-55 m 73,2 253,2 444,3 656,2
2
Kepadatan stok (ton/km )
5-15 m 0,001 0,002 0,003 0,005
15-25 m 0,005 0,006 0,008 0,013
25-35 m 0,006 0,009 0,013 0,021
35-45 m 0,006 0,012 0,017 0,025
45- 55 m 0,005 0,018 0,032 0,047

Tabel 3. Komposisi jumlah individu, biomassa, serta kepadatan stok untuk masing-masing selang
ukuran ikan demersal
Table 3. Number of demersal fish composition, biomass, and stock density by size distributions
each depth strata

Nilai target strength (dB) (-60)-(-57) (-57)-(-54) (-54)-(-51) (-51)-(-48)


Panjang (cm) 5,6-7,9 7,9-11,1 11,1-15,7 15,7-22,1
Bobot (g) 3,1-7,7 7,7-19,7 19,7-49,8 49,8-126,4
Komposisi individu (%) 35,7 27,6 18,4 11,8
Biomassa (ton) 230,9 453,1 765,8 1.248,4
Kepadatan stok (ton/km2) 0,01 0,02 0,03 0,05
5
Estimasi Stok Sumber Daya ..... di Perairan Kabupaten Bengkalis (Priatna, A. & Wijopriono)

J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 1-10

banyak terdapat di perairan sekitar Pulau Rupat dibanding


Sebaran Spasial Sumber Daya Ikan ikan di perairan sekitar Pulau Bengkalis. Keberadaan
sumber daya ikan di perairan sekitar Pulau Rupat
Nilai kepadatan stok ikan pelagis dan demersal yang terdeteksi hampir di sepanjang jalur pelayaran. Sementara
diperoleh merupakan jumlah biomassa dari sumber daya ikan hanya terdeteksi di sebagian kecil wilayah perairan di
ikan terhadap luasan daerah yang diamati. Perolehan nilai sebelah utara Pulau Bengkalis.
kepadatan stok tersebut belum mencerminkan kondisi
sumber daya ikan yang sebenarnya, karena menurut sifat Hasil overlay antara daerah penangkapan, trek akustik dan
hidupnya terdapat ikan yang berkelompok (schoals) dan sebaran spasial sumber daya ikan, menunjukkan bahwa
menyendiri (soliter). sasaran sumber daya ikan sebagian besar terdeteksi pada
jalur pelayaran di daerah pinggiran atau pada kedalaman
Analisis terhadap sebaran spasial berguna untuk yang lebih dangkal. Penyebaran sumber daya ikan yang tidak
mengetahui pola agregasi dari sumber daya ikan di suatu merata diduga akibat aktivitas penangkapan nelayan
perairan yang diamati sehingga dapat diketahui kondisi setempat, di mana kegiatan penangkapan di perairan Pulau
dari keberadaan sumber daya ikan yang mendekati Bengkalis lebih banyak dibandingkan di perairan Pulau Rupat.
sebenarnya di alam. Selain itu daerah penangkapan cenderung berada di perairan
bagian tengah atau yang lebih dalam (Gambar 4).
Gambar 3 merupakan gambaran sebaran spasial sumber
daya ikan pelagis dan demersal. Hasil deteksi akustik pada saat
survei memperlihatkan bahwa keberadaan ikan pelagis maupun
demersal lebih
Utara
Lintan

Guntung
g

5-15 m
Batupanjang

2.5
Sepahat

1.5 Bengkalis

Kudap
3
ekor/1000 m
Titinaka
2 5 to 10 Sinunjung
Merbau
10 to 15
Lalang Kurau
1
101 101.5 102 102.5 103
25-35 m Bujur Timur
15-25 m
2.5 2.5

Titinaka Titinaka
2 2
Lintang Utara

Lintang Utara
Batupanjang Batupanjang

Guntung Guntung

Sepahat Sepahat

1.5 Bengkalis 1.5 Bengkalis

3 3
ekor/1000 m ekor/1000 m
5 to 20 5 to 10
Kudap Kudap

20 to 40 10 to 15
Sinunjung Sinunjung
40 to 60 Merbau 20 to 25 Merbau
Lalang Kurau Lalang Kurau
1 1
101 101.5 102 102.5 103 101 101.5 102 102.5 103
Bujur Timur
2.5 35-45 m Bujur Timur

Titinaka
2

Lintang Utara
Batupanjang

Guntung
3
ekor/1000 m Sepahat

1.5 5 to 20 Bengkalis

20 to 40

Kudap
40 to 60

Sinunjung
60 to 80 Merbau
Lalang Kurau

1
101 101.5 102 102.5 103
Bujur Timur
6
Estimasi Stok Sumber Daya ..... di Perairan Kabupaten Bengkalis (Priatna, A. & Wijopriono)

45-55 m 0 - -5 m (demersal)

Gambar 3. Sebaran spasial ikan pelagis dan demesal.


Figure 3. Spatial distributions of pelagic and demersal fish.

2.5LU

P.BERUK

P.BABI Tanjungmedang

Titakar
2LU

P.KETAM
Teluklencah
Rempong
P.PAYUNG
P.MAMPU
P.BARU
BATUPANJANG
Selat
Rupat
DUMAI

Perapattunggal
Selatbaru

1.5LU S
el
Kampungjawa at Ben BENGKALIS Telukpambong
gka 2.5
lis Limau

Sungaiselar Tanjungpadang
LEGENDA SUNGAIPAKNING
Teluknipah
SKALA 1 : 2.000.000 Dedap
Pangkalanjambu
Sekodi
DURI
Gill net monofilament
Tanjungdatuk
Gillnet nylon S Biran
Rawai dasar e
a

l
t Telesung

P Kuat Kualamerbau Tanjungrangsang Titinaka


Tramel net a
j 2
n
TELUKBELITUNG Tanjungkedabu
Jaring Batu a
n

g Kurau 3
Bubu kawat SELATPANJANG ekor/1000 m

Utara
1LU
101BT 101.5BT 102BT 102.5BT 103BT
5 to 20

Lintang
Guntung

Batupanjang

Gambar 4. Daerah penangkapan ikan di perairan Kabupaten Bengkalis. 20 to 40 Sepahat

Figure 4. Fishing ground in Bengkalis waters.


1.5
40 to 60

60 to 80

KESIMPULAN sistem operasi penangkapan di Selat Malaka dan 80 to 100


pantai timur Sumatera, T. A. 2009, di Balai Riset
1

1. Estimasi biomassa sumber daya ikan pelagis di Perikanan Laut-Muara Baru, Jakarta. 101 101.5

perairan Kabupaten Bengkalis pada luas daerah


5.433 km2 adalah 9.374 ton dengan kepadatan DAFTAR PUSTAKA
stok 0,44 ton/km2. Sementara biomassa ikan
demersal 4.441,5 ton dengan kepadatan stok 0,17 Aoyama, T. 1973. The Demersal Fish Stocks and
ton/km2. Fisheries of South China Sea. IPFC/SCS/DEV/
73/3. Rome.
2. Keberadaan ikan pelagis maupun demersal pada
saat survei dilaksanakan lebih banyak terdapat di Afas. 2007. Report of the 1st Asian Fisheries
perairan sekitar Pulau Rupat dibanding di perairan Acoustics Society. 6-8 November 2007. Dalian.
sekitar Pulau Bengkalis. China.

PERSANTUNAN Anonimus. 2009. Kajian Potensi Sumber Daya Ikan


dan Lingkungannya di Perairan Kabupaten
Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan Bengkalis. Dinas Kelautan dan Perikanan
hasil riset pengkajian stok, lingkungan sumber daya Kabupaten Bengkalis.
ikan demersal dan pelagis ekonomis penting dan

7
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 1-10
Balai Riset Perikanan Laut. 2007. Status dan Tren Mac Lennan, D. N. & E. J. Simmonds. 1992. Fisheries
Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Laut Arafura. Acoustic. Chapman and Hall. London. 325 pp.
Executive Summary. Badan Riset Kelautan dan
Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2 Natsir, M., B. Sadhotomo, & Wudianto. 2005. Pendugaan
pp. biomassa ikan pelagis di perairan Teluk Tomini dengan
metode akustik bim terbagi. Jurnal Penelitian Perikanan
Balai Riset Perikanan Laut. 2008. Riset pengkajian stok, Indonesia. 11 (6): 101-107.
lingkungan sumber daya ikan demersal dan pelagis
ekonomis penting, dan sistem operasi penangkapan Sumiono, B. 2008. Sumber daya ikan demersal dan
di Selat Malaka dan pantai timur Sumatera. Laporan struktur komunitas makrozoobentos di perairan Selat
Akhir Tahun. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Malaka. Thesis. Program Pasca Sarjana. Program
Departemen Kelautan dan Perikanan. 63 pp. Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia. 96 pp.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan
Pustaka Nusatama. 163 pp. Widodo, J., K. A. Aziz, B. E. Prijono, G. H. Tampubolon, N.
Naamin, & A. Djamali (eds). 1998.
Hannachi, M. S., L. B. Abdallah, & O. Marrakchi. 2004. Potensi dan Penyebaran Sumber Daya Ikan Laut di
Acoustic Identification of Small Pelagic Fish Species: Perairan Indonesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok
Target Strength Analysis and School Descriptor Sumber Daya Ikan Laut di Indonesia. Lembaga Ilmu
Classification. MedSudMed Technical Documents Pengetahuan Indonesia. 251 pp.
No.5.
Widodo, J. 2002. Pengantar Pengkajian Stok Ikan. Pusat
Mac Lennan, D. N. 1992. Acoustical measurement of fish Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan
abundance. Journal Acoust. Soc. Am. 62: 1-15. Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan.
Jakarta. 11 pp.

8
Lampiran 1. Komposisi hasil tangkapan jenis ikan demersal dengan jaring trawl di perairan
Kabupaten Bengkalis pada bulan Oktober 2009
composition of the catch of demersal fish species with trawl nets in the waters of the Bengkalis
District in October 2009

Stasiun trawl/Trawl stations


No. Famili/Family No. Spesies/Species 2 3 4 5 7 8
w n w n w n w n w n w n
1. Apogonidae 1. Apogon sp. 0,01 4 0,30 55 0,26 47
2. Ariidae 2. Arius sp. 0,30 3 0,80 3 2,02 12
3. Bothidae 3. P. spinosus 0,08 1 0,20 4 0,32 8 0,02 5 0,35 6 0,17 4
4. Centriscidae 4. Centriscus sp. 0,01 1
5. Charcarinidae 5. Charcharinus sp. 0,25 1 0,35 1
6. Cynoglossidae 6. Cynoglossus sp. 0,04 3 0,04 2 0,10 6 0,10 9
7. Dasyatididae 7. Dasyiatis sp. 1,80 1 1,70 3 6,70 11 3,80 7 0,75 3
8. Himantura sp. 0,30 1
8. Ephippidae 9. Drepane longimana 0,12 3 0,50 2 0,11 2
10. Ephippus orbis 0,20 11 0,06 5 0,01 1
9. Gerridae 11. Gerres kapar 0,19 13 0,38 27 1,23 126
10. Haemulidae 12. Pomadasys sp. 0,27 18 0,26 19 0,13 1 2,61 611
11. Harpadontidae 13. Harpadon sp. 0,01 1
12. Kurtidae 14. Kurtus indicus 0,05 1
13. Lactaridae 15. Lactarius sp. 0,07 1
14. Leiognathidae 16. Gazza minuta 1,60 133 12,35 1.017 0,47 60
17. Leiognathus bindus 0,25 12 0,01 1
18. Leiognathus decorus 0,05 9
19. Secutor ruconius 0,33 118 2,55 980 3,75 1.112 0,04 13 0,10 88
15. Lutjanidae 20. Lutjanus ruselli 0,30 3
16. Monacanthidae 21. Monacanthus sp. 0,01 1
17. Mullidae 22. Upeneus sulphureus 1,20 64 1,45 99 1,74 152 0,80 47 1,20 51 2,32 114
18. Muraenesocidae 23. Muraenesox 0,15 1
19. Platycephalidae 24. Platycephalus sp. 0,08 4 0,21 8 0,20 4 0,03 3
20. Polynemidae 25. P. microstoma 0,03 1 0,01 1 0,14 5 0,96 127 0,55 15 1,70 48
26. P. nigripinnis 0,06 5
21. Scianidae 27. Johnius sp. 0,70 48 0,34 13 3,93 179 5,60 585
28. Otolithes ruber 5,30 330 1,50 12
29. Pennahia sp. 1,80 69
22. Siganidae 30. Siganus sp. 0,05 1
23. Sillaginidae 31. Sillago robusta 0,05 7 0,01 1
24. Soleidae 32. Aesopia sp. 0,01 1
25. Sygnathidae 33. Hyppocampus sp. 0,02 1
26. Synodontidae 34. S. micropectoralis 0,08 3 1,75 30 2,32 47 0,25 3 1,84 35
35. Synodus sp. 0,02 1
27. Teraponidae 36. Terapon therap 0,16 4 0,20 12 0,56 29 2,05 72 0,02 1
28. Tetraodontidae 37. Arothron sp. 0,50 1
38. Lagocephalus sp. 0,25 6
39. Lagocephalus inermis 0,05 1 0,55 13 1,05 13 0,71 17 0,30 5 1,20 27
29. Triacantidae 40. Triacanthus sp. 1,50 55 2,72 27 0,70 7 0,80 22 2,30 82
30. Trchiuridae 41. Trichiurus sp. 0,19 6 0,10 2 0,07 2
Keterangan/Remarks: w = bobot jenis ikan hasil tangkapan (kg); n = jumlah ikan hasil tangkapan (ekor); stasiun 1, 6, 9,
dan 12 unsuccessful
9
Estimasi Stok Sumber Daya ..... di Perairan Kabupaten Bengkalis (Priatna, A. & Wijopriono)

Lampiran 2. Komposisi hasil tangkapan jenis ikan pelagis dengan jaring trawl di perairan
10

Kabupaten Bengkalis pada bulan Oktober 2009


Appendix 2. The composition of the catch of pelagic fish species with trawl nets in the
waters of the Bengkalis District in October 2009

Stasiun trawl/Trawl stations


No. Famili/Family No. Spesies/Species 2 3 4 5 7 8
w n w n w n w n w n w n
1. Carangidae 1. Alectis ciliaris 0,03 1
2. Atule mate 0,01 1 0,05 1 0,02 1
3. Carangoides malabaricus 0,01 1 0,07 2 0,02 1 0,01 1
4. Megalaspis cordyla 0,14 3 0,03 2
5. Pampus argenteus 0,01 2 0,08 3 0,10 2 0,30 5
6. Scomberoides sp. 0,05 11
7. Selaroides leptolepis 0,01 1
2. Chirocentridae 8. Chirocentrus dorab 0,80 1
J. Lit. Perikan . Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 1-10
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)

KELIMPAHAN STOK SUMBER DAYA IKAN DEMERSAL


DI PERAIRAN SUB AREA LAUT JAWA

Badrudin1), Aisyah1), dan Tri Ernawati2)


1)
Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-Jakarta
2)
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 25 Nopember 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 25 Pebruari 2011;
Disetujui terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Tulisan ini menyajikan data dan informasi tentang present status perikanan demersal di Laut Jawa,
dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan di sub area Laut Jawa yang tidak merata. Data yang
dianalisis merupakan sebagian hasil survei Balai Riset Perikanan Laut di Pelabuhan Perikanan Pantai
Tegal pada tahun 2010 dan pada periode tahun sebelumnya. Eksploitasi sumber daya ikan demersal di
perairan Laut Jawa sudah berlangsung sejak lama dan mencapai puncaknya pada sekitar tahun 1970-
an di mana trawl dioperasikan secara intensif terutama di sepanjang pantai utara Jawa. Tingginya
tekanan penangkapan di perairan pantai sampai kedalaman 40-an m telah menyebabkan menurunnya
kelimpahan sumber daya, sebagaimana tampak pada hasil tangkapan cantrang kecil dan jaring arad
yang dioperasikan secara harian. Kelimpahan dan ukuran individu ikan demersal di kawasan yang
lebih dalam tampak cukup besar sebagaimana tercermin dari hasil tangkapan cantrang besar yang
dioperasikan lebih lama. Dari fenomena tersebut dapat diduga bahwa sumber daya ikan demersal di
perairan pantai sudah mengalami tangkap lebih (overfishing) yang mengarah kepada penurunan stok
atau bahkan depleted. Kegiatan penangkapan ikan di perairan yang lebih dalam di mana tekanan
penangkapan relatif lebih rendah tampak memberikan keuntungan.

KATA KUNCI: ikan demersal, kelimpahan stok, sub area Laut Jawa

ABSTRACT: Demersal fish stock abundance in the Java Sea sub areas. By: Badrudin,
Aisyah, and Tri Ernawati

Based on data analysis and information collected, this paper describes the present status of
demersal fisheries in the Java Sea and the uneven level of exploitation of the fish resources in the
Java Sea sub areas. Data analyzed provide part of research results carried out by the Research
Institute for Marine Fisheries. Data were obtained from a number of surveis carried out in Tegal landing
place in 2010 and from the previous years. Demersal resources in the Java Sea have been exploited
for years, where high fishing intensity occurred in the north coast of Java. High fishing pressure in the
coastal waters lead to the decreasing fish resources abundance, as reflected by the catch of small size
cantrang and arad operated on daily bases. The relatively high abundance of demersal fish and bigger
size of individual fish caught by the offshore cantrang in the deeper waters indicating that this waters
provide a lightly exploited area. From this phenomenon it is likely that the status of exploitation of fish
resources in the coastal waters are already overfishing that lead to decreasing stock or even depleted.
Fishing activities in the relatively lower fishing pressure of the deeper waters area is still likely
profitable.

KEYWORDS: demersal fisheries, resources abundance, Java Sea sub areas


rendah dan gerak ruaya yang tidak jauh
PENDAHULUAN (Aoyama, 1973).

Perairan yang relatif dangkal yang dikenal Pelaksanaan kerja sama penelitian sumber
sebagai continental shelf dengan dasar yang relatif daya ikan demersal Indonesia-Jerman yang
rata dan berlumpur merupakan daerah penangkapan dimulai pada tahun 1974 dapat dianggap sebagai
sumber daya ikan demersal. Perairan yang cukup benchmark bagi penelitian sumber daya ikan
luas dengan kondisi yang demikian hanya terdapat demersal yang dilaksanakan secara teratur di
di kawasan Paparan Sunda dan Paparan Sahul. kawasan barat Indonesia. Pada awal periode
Daerah penangkapan ikan demersal di kawasan kerja sama penelitian telah diidentifikasi bahwa
Indonesia lainnya relatif sempit. Kelompok ikan berdasarkan atas sebaran jenis ikan peperek
demersal adalah jenis-jenis ikan yang sebagian (Leiognathus splendens) perairan Laut Jawa
besar dari siklus hidupnya berada di dasar atau dibagi menjadi perairan inshore yang dicirikan
sekitar dasar perairan. Ciri-ciri kelompok ikan oleh kehadiran jenis ikan peperek tersebut
tersebut adalah aktivitas yang

___________________
Korespondensi penulis:
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur-Jakarta 14430, Telp. (021) 64711940, Fax. (021) 6402640, E-mail: rccf_office@indo.net.id 11
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 11-21

atau Sumatera Selatan, selatan Kalimantan,


dan offshore di mana tidak dijumpai lagi ikan dan perairan offshore meliputi kawasan bagian
peperek dalam hasil tangkapan. Perairan inshore tengah Laut Jawa (Gambar 1).
Laut Jawa meliputi perairan inshore utara Jawa,
timur Lampung

Gambar 1. Garis imajiner sebaran ikan peperek, Leiognathus splendens sub area Laut Jawa (Aj1 = inshore timur
Lampung/Sumatera Selatan; Aj2, Aj3, Aj4 = inshore pantai utara Jawa; Aj5, Aj6, Aj7 = inshore
selatan Kalimantan; Aj8, Aj9, Aj10, Aj11 = offshore Laut Jawa*).
Figure 1. Distribution area of pony fish, Leiognathus splendens in the Java Sea sub areas (Aj1 = inshore area of
East Lampung/South Sumatera; Aj2, Aj3, Aj4 = inshore North Java coast; Aj5, Aj6, Aj7 = inshore
area of south coast of Kalimantan; Aj8, Aj9, Aj10, Aj11 = offshore area of Java Sea *)
Sumber/Sources: *) Deskripsi sub area Laut Jawa (Losse & Dwiponggo, 1977)
Keterangan/Remarks:
Sub area inshore Laut Jawa:
Aj1 = dieksploitasi oleh trawlers dari Jakarta
Aj2 = dieksploitasi oleh trawlers dari Jakarta, Cirebon; dan purse seine dari Tegal
Aj3 = dieksploitasi oleh trawlers dari Semarang, Pekalongan; purse seine Pekalongan dan Tegal; gill
netters dan bagan
Aj4 = dieksploitasi oleh trawlers dari Surabaya; gill netters dan artisanal dari Madura
Aj5 = dieksploitasi oleh trawlers dari Jakarta secara musiman
Aj6 = dieksploitasi oleh trawlers secara musiman (pukat udang) Kotabaru
Aj7 = dieksploitasi oleh trawlers dari Kotabaru (terlihat pada bulan Juli 1976)
Offshore Laut Jawa:
Aj8 = tidak ada kegiatan penangkapan ikan. Virgin ground (?)
Aj9 = tidak ada kegiatan penangkapan ikan. Tidak ada trawlers. Jamur meja (sponges).
Virgin ground (?)
Aj10 = tidak ada kegiatan penangkapan ikan. Trawlers dari Semarang dilaporkan menangkap ke Karimun
Jawa. Virgin ground (?)
Aj11 = tidak ada kegiatan penangkapan, kecuali gillnetter dari Bangka. Virgin ground (?)

Data dasar yang diperoleh dari sejumlah


survei kerja sama di perairan tersebut adalah laju
tangkap sebagai indeks kelimpahan stok. Laju
tangkap yang tinggi mencerminkan kepadatan
stok yang tinggi (Badrudin et al., 2004). Laju
tangkap tersebut merupakan dasar bagi
penghitungan kepadatan stok (stock density),
biomassa (standing stock), dan potensi (potential
yield) yang setara dengan maximum sustainable
yield. Sebagaimana diketahui bahwa indeks
kelimpahan stok (stock abundance) merupakan
salah satu indikator dari keberlanjutan
berkembangnya teknologi penangkapan sampai
pengembangan (sustainability development) sumber dewasa ini dapat dikatakan hampir tidak ada lagi
daya ikan secara runtun waktu. Salah satu indeks daerah penangkapan ikan yang virgin, kecuali
kelimpahan stok adalah catch per unit of effort atau sumber daya inkonvensional ikan laut dalam di
catch rate. Eksploitasi sumber daya ikan demersal di Samudera Hindia (Badrudin et al., 2006; Suprapto &
Indonesia sudah berlangsung sejak lama. Dengan Badrudin, 2006) dan perairan slope Laut Arafura
(Badrudin et

12
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)
HASIL DAN BAHASAN
al., 2005). Dengan demikian, asumsi dasar
Indeks Kelimpahan Stok
yang sering diterapkan dalam pendugaan
potensi sumber daya ikan demersal, di Laut
Dari sejumlah kegiatan survei di perairan
Jawa seperti potential yield = 0,5 biomassa
inshore dan offshore tersebut diperoleh
(Guland, 1983) mestinya sudah tidak akurat
informasi adanya kecenderungan dari
lagi.
kelompok ikan demersal untuk
menggerombol di perairan inshore tertentu
Berdasarkan atas hasil penelitian yang
dalam kaitannya dengan musim timur dan
dilakukan pada tahun 2010 dan hasil-hasil
barat. Pada musim timur di mana angin
penelitian pada tahun sebelumnya, tulisan ini
tenggara berhembus kencang telah
membahas kelimpahan sumber daya ikan
menyebabkan timbulnya kawasan-kawasan
demersal di Laut Jawa sebagai salah satu
perairan yang teduh (lee area) di perairan
indikator tentang present status yang dapat
Tanjung Selatan-Muara Barito dan Tanjung
menjadi salah satu dasar bagi pengelolaan
Puting-Teluk Kumai. Kegiatan pengambilan
(Food and Agriculture Organization, 2009).
contoh penangkapan pada musim timur di
Menurut definisi (Larcombe & McLoughlin,
kawasan perairan tersebut menghasilkan laju
2007) secara umum, kondisi sumber daya
tangkap, sebagai indeks kelimpahan stok,
ikan demersal di Laut Jawa sudah mengalami
yang lebih tinggi dibandingkan dengan
overfishing/overfished atau bahkan depleted
kawasan perairan lainnya. Sebaliknya pada
sebagaimana terjadi pada stok tuna sirip biru
periode musim barat di mana kawasan yang
(southern bluefin tuna) di Samudera Hindia
relatif teduh terjadi di perairan pantai timur
(Majkowski, 2007).
Lampung atau Sumatera Selatan, telah
menghasilkan laju tangkap yang tinggi
BAHAN DAN METODE
dibandingkan dengan kawasan lainnya
(Badrudin et al., 1989). Perilaku
Data yang dianalisis merupakan sebagian
pengelompokkan ikan demersal tersebut
hasil survei Balai Riset Perikanan Laut, Pusat
diduga berkaitan erat dengan adanya arus
Riset Perikanan Tangkap pada tahun 2010 dan
atau massa air dengan organisme atau ikan
pada periode sebelumnya. Data laju tangkap
yang ada di dalamnya yang membentuk
sebagai indeks kelimpahan stok periode tahun
sejenis pusaran yang kemudian membentuk
1974-1986 merupakan hasil survei dengan
kawasan perairan yang teduh.
menggunakan kapal penelitian K. M. Mutiara 4.
Data (sampel) komposisi hasil tangkapan
Dari tabel distribusi ikan demersal menurut
cantrang besar, cantrang kecil, dan jaring arad
kedalaman perairan (Saeger et al., 1976)
diperoleh dari sebagian catatan hasil lelang
tampak bahwa ada kecenderungan bahwa
(buku bakul kapal cantrang besar, cantrang
sebaran ikan demersal akan menurun sesuai
kecil, dan arad) yang dilakukan di Pelabuhan
dengan bertambahnya kedalaman. Dengan
Perikanan Pantai Tegal pada tahun 2006, 2008,
kata lain, bahwa makin dalam suatu perairan
2009, dan 2010. Hasil tangkapan cantrang
kepadatan stoknya semakin kecil. Untuk
besar diperoleh di perairan offshore, sedangkan
perairan Paparan Sunda kepadatan stok yang
hasil tangkapan cantrang kecil dan arad
tinggi berada pada kedalaman sampai 40 m.
diperoleh di perairan inshore. Dengan mengacu
Keadaan ini diduga berlaku umum.
kepada hasil penelitian sebelumnya (Losse,
1981), perairan offshore dan inshore tersebut
Potential Yield
merupakan sub area Laut Jawa, di mana stok
sumber daya ikan demersal yang ada
Potential yield adalah hasil tangkapan
diasumsikan sebagai sub stok atau populasi
yang dapat diambil dari suatu perairan tanpa
yang terpisah. Asumsi tersebut didasarkan atas
menggangu kelestarian stoknya (Saeger et
hasil penelitian Lloyd et al., 1996, yang
al., 1976). Dugaan besarnya potential yield
mengatakan bahwa stok ikan anggoli
tersebut diperoleh dari hasil survei
(Pristipomoides multidens) yang merupakan
penangkapan dengan trawl melalui metode
jenis ikan demersal famili Lutjanidae di Laut
swept area. Pada dasarnya potential yield
Arafura sektor Indonesia terpisah dengan
tersebut adalah sama dengan the maximum
populasi ikan yang sama yang ada Laut Arafura
sustainable yield yang diperoleh dari analisis
sektor Australia. Terpisahnya stok ikan demersal
data catch dan effort melalui aplikasi model
di kedua sektor Laut Arafura tersebut
produksi surplus (the surplus production
disebabkan karena pergerakan yang rendah
model). Dari survei penangkapan tersebut
atau migrasi yang tidak jauh.
dapat diperoleh dugaan angka rata-rata laju
tangkap (catch rate) sebagai indeks
kelimpahan stok yang kemudian dapat satuan luas, ton/km2). Dengan asumsi, bahwa
dikembangkan menjadi dugaan rata-rata kepadatan
kepadatan stok (dalam satuan bobot per

13
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 11-21
menyisakan separuh
dari stok yang ada,
stok tersebut adalah
diharapkan keberadaan
merata, maka
(availability) sumber
perkalian antara
daya ikan tersebut akan
kepadatan stok
dengan luas perairan berlanjut.
yang di survei dapat
diperoleh dugaan Potential yield
standing stock atau sumber daya ikan
biomassa. Dikatakan demersal di wilayah
oleh Gulland (1983) pengelolaan perikanan
dengan mengambil Laut Jawa yang dibagi
separuh dari berdasarkan atas sub
biomassa yang ada area inshore dan
maka sumber daya offshore secara
ikan tersebut keseluruhan sekitar
diperkirakan akan 714.000-an ton, yang
lestari yang dikatakan terdiri atas perairan
dengan rumus: inshore utara Jawa,
timur Lampung, dan
selatan Kalimantan
Py=0,5 MBo ..................................................
sekitar 245.680
di mana:
M

m
o
r
t
a
l
i
t
a
s

a
l
a
m
i

B
o

b
i
o
m
a
s
s
a

Dengan perkataan
lain, bahwa dengan
ton (Losse, 1981) Sumatera Selatan dan
sebagaimana utara Jawa. Hal ini
disajikan pada Tabel didasarkan atas bahwa
1. basis operasi
penangkapan dengan
Dari hasil survei trawl pada waktu itu
selama tahun 1976- hanya terpusat di
1977 di Laut Jawa perairan utara Jawa,
diperoleh estimasi mulai dari Banten atau
besarnya potensi Kronjo, Jakarta, Subang
sumber daya ikan atau Blanakan, Cirebon,
demersal di berbagai Tegal, Semarang,
perairan sub area Laut Juwana, Rembang, dan
Jawa, seperti perairan Tuban. Sebaliknya
inshore utara Jawa, tekanan penangkapan di
perairan offshore Laut perairan selatan
Jawa dan perairan Kalimantan dan di
inshore Kalimantan bagian offshore (lepas
Selatan. Sebagaimana pantai) Laut Jawa pada
diketahui pada waktu kedalaman lebih dari 40
itu, tekanan m relatif rendah. Relatif
penangkapan sumber rendahnya tekanan
daya ikan demersal di penangkapan tersebut
berbagai sub area Laut juga tercermin dari
Jawa tidak merata, di angka laju tangkap
mana tekanan yang sebagai indeks
paling tinggi terjadi di kelimpahan stok yang
perairan inshore timur relatif lebih tinggi (Tabel
Lampung atau 1).

Tabel 1. Indeks kelimpahan stok (laju tangkap),


kepadatan stok, dan potential
yield sumber daya ikan
demersal di Laut Jawa
Table 1. Stock abundance index (catch rate),
stock density, and potential
yield of demersal fish in the
Java Sea

Kepadatan
Luas/ Laju tangkap/ stok/ Biomassa/ Potential
Sub area Width Catch rate Stock Biomass yield
(km2) (kg/jam) density (103 ton) (103 ton)
(ton/km2)
Utara Jawa 26.160 189 2,8 74 37
Selatan Kalimantan 113.590 201 3,0 343 171
Timur Lampung/Sumatera Selatan 27.180 181 2,7 74 37
Lepas pantai Laut Jawa 298.750 209 3,1 938 469
Total 465.680 - - 1.429 714
Sumber/Sources: Losse (1981)
sub area tersebut. Lebih
kecilnya indeks
Tampak bahwa kelimpahan stok di
sebaran laju tangkap perairan pantai utara
sebagai indeks Jawa dan timur
kelimpahan stok di Lampung diduga terkait
perairan sub area Laut dengan intensifnya
Jawa sedikit berbeda. kegiatan penangkapan
Hal ini diduga akibat di kawasan perairan itu.
tidak meratanya Sebagaimana diketahui
tekanan penangkapan bahwa kedua perairan
pada masing-masing tersebut telah secara
bersama-sama
dieksploitasi oleh kapal- (Tangerang atau
kapal penangkapan Banten) dan Muara
yang berbasis di utara Karang dan Pasar Ikan,
Jawa. Pantai timur Jakarta. Dari
Lampung atau pengamatan di
Sumatera Selatan lapangan sampai saat
merupakan daerah ini Pelabuhan Kronjo,
penangkapan (fishing Tangerang merupakan
ground) kapal-kapal basis kapal cantrang
yang berbasis di Kronjo yang beroperasi di timur
Lampung, Laut Jawa,
dan bahkan sampai ke
selatan Kalimantan.
Basis-basis Perikanan
cantrang yang utama di
utara Jawa mulai dari
barat ke timur adalah
Kronjo, Blanakan
(Subang-Jawa Barat),
Tegal-Jawa Tengah, dan
Brondong-Jawa Timur.
Selain itu ada sejumlah
pendaratan ikan hasil
perikanan cantrang
yang relatif lebih kecil
mulai dari barat ke timur
sepanjang pantai utara
Jawa seperti Muara
Sabak atau Tangerang,
Eretan, Indramayu,
Losari, Brebes,

14
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)

Batang, dan Rembang. Tingginya tekanan


penangkapan Perikanan cantrang sebagai
generasi penerus trawl tersebut diduga
terus berlangsung sampai saat ini,
sebagaimana terbukti dari hasil survei pada
tahun 2010 di Pelabuhan Perikanan Pantai
Tegalsari, Tegal.

Sub Area Perairan Pantai Utara Jawa

1. Indeks kelimpahan stok sumber daya


ikan demersal

Gambaran tentang pengaruh penangkapan


terhadap indeks kelimpahan stok sumber daya
ikan demersal di perairan utara Jawa Tengah
pada tiga tahun sebelum dan sesudah
pelarangan penggunaan trawl melalui
Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980
tentang pelarangan penggunan trawl, dikatakan
oleh Badrudin (1987) sebagaimana pada
Gambar 2. Dari gambar tersebut tampak bahwa
komunitas sumber daya ikan yang tertangkap
dengan trawl di perairan utara Jawa Tengah
yang merupakan daerah penangkapan sumber
daya ikan demersal yang terluas di perairan
utara Jawa di dominansi oleh kelompok sumber
daya ikan demersal. Komunitas sumber daya
ikan demersal tersebut juga didominansi oleh
kelompok ikan peperek. Hal ini tampak jelas dari
tiga kurva paralel yang terbentuk yang selama
tiga tahun sebelum dan sesudah pelarangan
trawl (Gambar 2). Tampak bahwa antara tahun
1978-1979, trend catch per unit of effort sebagai
indeks kelimpahan stok cenderung menurun.
Hal ini diduga akibat tingginya tekanan
penangkapan terhadap sumber daya ikan
demersal tersebut. Antara tahun 1984-1986
menunjukkan kenaikan yang signifikan yang
diduga karena rendahnya tekanan penangkapan
sebagai akibat dilarang beroperasinya kapal
penangkapan ikan dengan trawl. Antara tahun
1980-1983 kegiatan pengambilan contoh
penangkapan trawl dengan kapal penelitian di
perairan utara Jawa untuk sementara dihentikan
akibat diberlakukannya Keputusan Presiden
Nomor 39 Tahun 1980 tersebut.

Perairan paparan (shelf) utara Jawa


Timur relatif sempit dibandingkan dengan
pantai utara Jawa Barat atau Jawa Tengah.
Perairan paparan utara Jawa Tengah
merupakan kawasan perairan paparan
yang terluas di utara Jawa.

Berdasarkan atas data laju tangkap sebagai


indeks kelimpahan stok dari sejumlah kelompok
ikan pada periode tiga tahun sebelum dan
beberapa tahun
320

Kg/jam
setelah dihapusnya trawl melalui Keputusan
240 Presiden Nomor 39 Tahun 1980, tampak adanya
perubahan laju tangkap dari beberapa kelompok
CPUE
Peperek ikan. Pada periode tiga tahun sebelum
dihapusnya trawl, tampak adanya sedikit
160 penurunan trend dari laju tangkap secara umum
CPUE Demersal
baik dari laju tangkap total maupun laju tangkap
kelompok ikan demersal. Kelompok ikan
CPUE peperek (Leiognathidae) dengan ke kecualian
Total
80 pada tahun 1978 yang menunjukkan kenaikan,
tren secara umum dapat dikatakan relatif
konstan. Keadaan yang sebaiknya terjadi pada
0
1977 1978 1979 1984 1985 1986
periode sesudah dihapusnya trawl. Setelah
tahun 1984, baik laju tangkap total, kelompok
Gambar 2. Tren indeks kelimpahan stok ikan demersal dan kelompok ikan peperek
(catch per unit of effort) menunjukkan peningkatan laju tangkap yang
total, total demersal, dan sangat menonjol (Gambar 2). Perubahan yang
ikan peperek cepat dari laju tangkap kelompok ikan demersal
(Leiognathidae) pada lainnya juga ditunjukkan oleh kelompok ikan
periode sebelum dan kuniran (Mullidae) dan kapas-kapas (Gerreidae),
sesudah penghapusan di mana kecenderungan yang menurun tajam
trawl di pantai utara Jawa terjadi pada tiga tahun sebelum dihapusnya
Tengah. trawl, sebaliknya sejak tahun 1984-1986 trend
Figure 2. Trend of total index of abundance laju tangkap tersebut naik secara tajam
(catch per unit of effort), (Gambar 3). Keadaan yang sama dengan bobot
demersal fish, and pony yang lebih kecil terjadi pada tren laju tangkap
fish (Leiognathidae) in the kelompok ikan kurisi (Nemipteridae), beloso
pre and after trawl ban (Synodontidae), dan kelompok ikan rucah. Ikan
period in the north coast of rucah adalah jenis-jenis ikan yang (pada waktu
Central Java. itu) merupakan kelompok yang belum dimakan
(Lampiran 1).

15
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : Figure 3. Trend of five groups of demersal
fish in the pre and after
11-21 trawl ban period in the sub
area of the north coast of
16 Central Java.
Kg/jam Gerreidae Sumber/Sources: Badrudin (1987)

Mullidae
12
Suatu fenomena yang berbeda ditunjukkan
Nemipteridae
oleh kelompok ikan lemah (Lactaridae),
8 manyung (Ariidae), gerot-gerot (Pomadasyidae),
Syndontidae

kakap
Trashfish
merah (Lutjanidae), dan layur
4
(Trichiuridae). Dari penampilan tren laju tangkap
kelima kelompok ikan tersebut tampak bahwa
tekanan penangkapan yang cukup tinggi yang
0 berlangsung saat itu diduga tidak berpengaruh
1977 1978 1979 1984 1985 1986
langsung terhadap indeks kelimpahan stoknya.
Gambar 3. Tren indeks kelimpahan stok lima Hal ini diduga kuat bahwa kelima kelompok ikan
kelompok ikan demersal tersebut berada di luar daerah penangkapan
pada periode sebelum dan trawl. Sebagaimana diketahui bahwa sasaran
sesudah penghapusan trawl utama dari perikanan trawl tersebut adalah
di sub area perairan pantai udang, sedangkan ikan dapat dikatakan
utara Jawa Tengah. merupakan hasil tangkap sampingan. Dengan
proporsi hasil tangkapan udang sekitar 5% dari
hasil tangkapan total, sudah dapat
mengembalikan seluruh biaya operasional pada
15
trip tersebut (Baum, 1978). Hal yang
mengherankan adalah tren dari ikan gerot-gerot Kg/jam
(Pomadasyidae) pada periode tahun 1984-1986
yang cenderung menurun, sedangkan ikan 10 Ariidae

kakap merah (Lutjanidae) dan bawal putih


(Stromateidae) pada periode tahun 1984-1985 Lactarid
ae
cenderung naik yang kemudian menurun pada
periode satu tahun berikutnya (Gambar 4).
Lutjani
dae
Sub Area Perairan Selatan Kalimantan
5

Secara administratif, sebagian perairan Pomadasy


idae
selatan Kalimantan termasuk ke dalam
wilayah administrasi Provinsi Kalimantan
Tengah dan sebagian masuk ke dalam Stromatei
dae

Provinsi Kalimantan Selatan. Pada masing-


masing kedua wilayah administratif tersebut 0
terdapat adanya tanjung yang selama periode 1977 1978 1979 1984 1985 1986

kegiatan
Gambar 4. Tren indeks kelimpahan stok lima
kelompok ikan demersal
pada periode sebelum dan
sesudah penghapusan trawl
di sub area perairan pantai
utara Jawa Tengah.
Figure 4. Trend of five groups of demersal
fish in the pre and after
trawl ban period in the sub
area of the north coast of
Central Java.
Sumber/Sources: Badrudin
(1987)

penelitian dianggap mencirikan wilayah


perairan. Perairan Tanjung Puting merupakan
ciri khas perairan Kalimantan Tengah dan
perairan Tanjung Selatan merupakan ciri khas
Kalimantan Selatan. Dengan asumsi bahwa
antara bulan April sampai Oktober adalah
musim timur dan bulan Oktober sampai April
adalah musim barat, kegiatan penelitian di
perairan selatan Kalimantan yang dilakukan
antara tahun 1976-1984, dapat
dikelompokkan menjadi tiga kegiatan (cruise)
yang dilakukan pada musim timur dan lima
kegiatan pada musim barat (Tabel 2).

Tingginya indeks kelimpahan stok di selatan


Kalimantan tampaknya ada kaitannya dengan
musim timur dan musim barat. Pada periode
musim timur sebagimana telah dikatakan
terdahulu, perairan Tanjung Selatan diduga
merupakan tempat berlindungnya ikan demersal
dari tekanan arus akibat hembusan angin
tenggara yang terus-menerus pada kecepatan
yang tinggi. Sebagaimana tampak dari rata-rata
indeks kelimpahan stok pada tiga tahun berturut-
turut (tahun 1977, 1978, dan 1979) sekitar 409
kg/jam dengan koefisien variasi yang relatif
rendah (15%). Sebaliknya pada periode musim
barat rata-rata indeks kelimpahan stok antara
tahun 1978, 1980, 1982, 1983, dan 1984 hanya rendahnya tekanan penangkapan. Gambaran
sekitar 176 kg/jam. Tingginya indeks kelimpahan tersebut diperoleh dari wawancara dengan
stok tersebut diduga tetap berlangsung sampai nakhoda kapal cantrang berbasis Tegal yang
saat ini, yang diduga sebagai akibat relatif beroperasi di perairan selatan Kalimantan.

16
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)

Tabel 2. Indeks kelimpahan stok jenis-jenis ikan demersal (kg/jam) di perairan Laut Jawa sub area
Tanjung Selatan, Kalimantan Selatan
Table 2. Stock abundance index of some demersal fish (kgs/hour) in Tanjung Selatan waters of the Java
Sea sub area

Keterangan/Remarks: + = <0,5 kg. a) dilaksanakan pada musim peralihan barat


Sumber/Sources: Badrudin et al. (1989)
wawancara dengan nakhoda kapal cantrang
Sub Area Perairan Offshore Laut Jawa yang mengaku menangkap ikan di selatan
Kalimantan tersirat dari data global
Kegiatan penangkapan ikan dengan cantrang positioning system ternyata menangkap
yang dilakukan nelayan di perairan offshore Laut sampai ke perairan offshore Laut Jawa.
Jawa secara rinci belum diperoleh contoh. Namun
dari
Musim timur/East monsoon
Jenis ikan/Kind of fish
1976 1977 1979 1978
Ariidae 38 87 64 24
Carangidae 13 14 7 4
Clupeidae 56 30 35 22
Drepanidae 12 27 45 14
Leiognathidae 77 122 82 11
Lutjanidae 16 14 23 13
Pomadasyidae 15 25 32 14
Rays 25 66 41 19
Lain-lain 104 90 68 29
Total catch rate 356 475 397 150
Rata-rata musim 409
Sd (koef.var.) 60,45 (15 %)
Rata-rata 264 (Sd: 137;

Gambar 5. Indeks kelimpahan stok di perairan offshore Laut Jawa.


Figure 5. Index of stock abundance in the offshore waters of the Java Sea.
Sumber/Sources: Losse & Dwiponggo (1977)

di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari, Tegal.


Sebagaimana tampak pada Gambar 5 tersebut Komposisi hasil tangkapan dan indeks kelimpahan stok
indeks kelimpahan stok di perairan offshore cukup dari kedua jenis cantrang (besar dan kecil) disajikan
tinggi. Kondisi tersebut diduga tetap berlangsung pada Tabel 3. Komposisi hasil tangkapan utama
sampai saat ini sebagaimana terbukti dari hasil cantrang yang dioperasikan di peraian offshore
tangkapan cantrang kecil dan besar yang didaratkan

17
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 11-21

besar dan ukuran tersebut tidak pernah dijumpai


dan inshore Laut Jawa tampak berbeda. Ini tertangkap di perairan inshore (Gambar 6 dan 7).
menunjukkan bahwa komunitas ikan demersal di Jenis ikan hasil tangkapan utama cantrang pada
perairan inshore sudah berubah. Adanya perubahan tahun 2008, 2009, dan 2010 antara lain ikan swanggi,
komposisi jenis ikan merupakan hal yang terjadi pada coklatan, kurisi, gulamah, dan tigawaja. Menurut Beck
perikanan yang dieksploitasi, di mana penyebab & Sudrajat (1978) jenis-jenis ikan tersebut di Laut
utamanya adalah tingginya tekanan penangkapan. Jawa merupakan tipe jenis ikan yang habitatnya
Sebagimana diketahui bahwa tiap jenis ikan memiliki berada di perairan yang lebih dalam. Hasil tangkapan
ketahanan yang berbeda terhadap tekanan di perairan inshore sebagimana tercermin pada hasil
penangkapan. Jenis ikan hasil tangkapan utama tangkapan cantrang kecil dan arad tahun 2009
cantrang pada tahun 2008, 2009, dan 2010 yang didominansi oleh kelompok ikan beloso (Saurida
tertangkap dominan, antara lain ikan swanggi spp.) dan ikan peperek (Leiognathidae). Kelompok
(Priacanthus spp.), coklatan (Scolopsis taeniopterus), ikan coklatan tidak tertangkap dengan arad di
kurisi (Nemipterus spp.), dan gulamah, tigawaja perairan inshore, sebaliknya di perairan offshore tidak
(Sciaenidae). dijumpai adanya simping (scallops, Amusium spp.),
cumi-cumi (squids), sotong (cuttle fish), dan udang
Dari data ukuran panjang ikan contoh, yang dalam hasil tangkapannya.
diambil pada bulan Agustus 2010, yaitu jenis ikan
swanggi dan kurisi pada umumnya berukuran relatif

Tabel 3. Persentase komposisi jenis hasil tangkapan utama cantrang di perairan offshore dan inshore
Table 3. Percentage composition of the main catch of cantrang in the offshore and inshore waters

Offshore Inshore
2006 (18) 2008 (4) 2010 (10)*) 2009 Cantrang Arad
Priacanthus spp. 11,5 27,2 21 Saurida spp. 9,6 24,1
Nemipterus spp. 4,1 7,5 21 Leiognathidae 5,2 7,5
Upeneus spp. 17,6 5,7 13,2 Nemipteridae 11,6 7,5
Scolopsis taeniopterus 22,1 12,7 9,2 P. longimanus 2,9 0,7
Scianidae 3,9 7,6 2,9 Upeneus sulphureus 5,5 0,8
Leiognathus sp. 3,2 0,6 3,7 Soleidae 2,4 0,4
P. longimanus 7,6 2,2 1,3 Pari (Dasyatidae) 2,9 2,9
Saurida spp. 3,6 0,6 2,1 Stolephorus spp. 3,1 4,2
Pari (Dasyiatis spp.) 6,8 2,5 1 Scianidae 3,1 5,6
Tetraodontidae 1,4 0,3 4,9 Ikan campuran 15,2 14,0
Selar 0,5 0,2 3,1 Cumi-cumi 22,5 2,0
Sardinella spp. 0 11 0 Sontong 3,9 4,3
Epinephelus spp. 0 3,8 0 Simping 0,4 8,5
Arius sp. 4,8 0,6 0,2 Udang 0,6 7,1
Abalistes stellaris 1,4 2,4 1,3 Rajungan 1,7 1,7
Total % 88,5 85,2 84,9 Total % 90,5 91,4
Rata-rata bulanan Rata-rata bulanan
catch/kapal (kg) 81.13 8.857 15.471 catch/kapal (kg) 66,8 71,1
Keterangan/Remarks: *) angka dalam kurung: jumlah kapal contoh
Sumber/Sources: Buku bakul/Individual/private auction book

18
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)
depleted, sedangkan kegiatan penangkapan ikan di
perairan offshore diduga memberikan keuntungan.

KESIMPULAN

1. Eksploitasi sumber daya ikan demersal di


perairan Laut Jawa sudah berlangsung sejak
lama dan mencapai puncaknya pada sekitar
tahun 1970-an di mana trawl dioperasikan
secara intensif terutama di pantai utara Jawa.

2. Tingginya tekanan penangkapan di perairan


pantai sampai kedalaman 40-an m telah
menyebabkan menurunnya kelimpahan sumber
Gambar 6. Contoh sebaran frekuensi panjang ikan daya, sebagaimana tampak pada hasil
swanggi, Priacanthus tayenus tangkapan cantrang kecil dan jaring arad yang
(14-23 cm). dioperasikan secara harian.
Figure 6. Sample of length frequency of red big
eye, Priacanthus tayenus (14-23 3. Kelimpahan dan ukuran individu ikan demersal di
cm). kawasan yang lebih dalam tampak cukup besar
sebagaimana tercermin dari hasil tangkapan
cantrang besar yang dioperasikan lebih lama.

4. Dari fenomena tersebut dapat diduga bahwa


sumber daya ikan demersal di perairan pantai
sudah mengalami overfishing yang mengarah
kepada depleted.

5. Kegiatan penangkapan ikan di perairan yang lebih


dalam di mana tekanan penangkapan relatif lebih
rendah tampak memberikan keuntungan.

PERSANTUNAN

Gambar 7. Contoh sebaran frekuensi panjang ikan Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan
kurisi, Nemipterus hexodon (9-29 hasil riset indeks kelimpahan stok dan tingkat
cm). pemanfaatan sumber daya ikan demersal di wilayah
Figure 7. Sample of length frequency of threadfin pengelolaan perikanan Laut Jawa, T. A. 2010,
fish, Nemipterus hexodon kerjasama antara Badan Riset Kelautan dan
(9-29 cm). Perikanan dan Kementerian Riset dan Teknologi.

Dari fenomena tersebut diduga terjadi DAFTAR PUSTAKA


perubahan komposisi komunitas sumber daya
ikan demersal di kawasan perairan pantai utara Aoyama, T. 1973. The Demersal Stocks and
Jawa. Sebaliknya di perairan lepas pantai Fisheries of the South China Sea.
kondisi sumber daya ikan diduga relatif stabil SCS/DEV/73/3. Food and Agriculture
sejak beberapa tahun yang lalu akibat Organization. Rome. 80 pp.
rendahnya tekanan penangkapan ikan. Dari
rata-rata bulanan hasil tangkapan arad atau Baum, G. A. 1978. A Cost/Benefit
cantrang kecil yang jumlahnya sekitar 66,8 dan Calculation for Bagansiapi-Api Trawlers
71,1 kg, dapat dikatakan bahwa sumber daya Operating Out of Surabaya and Gresik
ikan demersal di perairan inshore utara Jawa at Java. 34 pp.
sudah dalam kondisi depleted, sebagimana
telah terjadi terhadap sumber daya ikan tuna Beck, U. & A. Sudradjat. 1978. Variation in
sirip biru (southern bluefin tuna) di Samudera size and composition of demersal trawl
Hindia (Majkowski, 2007). Hal ini didasarkan catches from the North Coast of Java with
atas asumsi bahwa pergerakkan ikan demersal estimated growth parameters for three
yang lamban dan migrasi yang tidak jauh, important food fish species.
sehingga status eksploitasi di kawasan inshore
utara Jawa sudah
19
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 :

11-21 Losse, G. F. & A. Dwipoggo. 1977. Report


on the Java Sea south east monsoon
trawl survei, June-Desember 1976.
Special Report. Contrib. of the Dem. Special Report. Contrib. of the Dem.
Fish. Pro. LPPL-GTZ. No.4-1978: 1-80. Fish. Project. No.3. Marine Fisheries
Research Report. 119 pp.
Badrudin, M. 1987. The recovery of
demersal fish stock and the stock Losse, G. F. 1981. Final report of the
parameters of the splendid pony fish, Indonesian-German demersal fisheries
Leiognathus splendens, in the North project 1973-1979. Special Report.
Coast of Central Java, Indonesia. M.Sc. Contrib. of the Dem. Fish. Project. No.8.
Thesis. School of Animal Biology. Marine Fisheries Research Report.
University College of North Wales. RIMF-GTZ. 45 pp.
Bangor. U. K. 57 pp.
Lloyd, J., J. Ovenden, S. Newman, & C.
Badrudin, H. Wahyuono, & S. Umiyati. 1989. Keenan, 1996. Stock structure of
Sumber daya ikan demersal yang potensial Pristipomoides multidens resources
bagi bahan baku pakan ikan budi daya. across Northern Australia. Fish. Res.
Prosiding Temu Karya Ilmiah Penelitian Dev.Corp. Fish. WA, NT-DPIF, QDPI.
menuju Program Swa-Sembada Pakan Ikan Fishery Report No.49. 36 p+21 p Tables;
Budi Daya. Prosiding Pusat Penelitian dan 28 p App; 14 p Figs.
Pengembangan No.17/1989: 73-77.
Larcombe, J. & K. McLoughlin (Eds.). 2007.
Badrudin, S. Nurhakim, & B. Fegan. 2004. Fishery Status Report 2006. Status of Fish
Catch rate and catch composition of Stocks Managed by the Australian
trawl fish net in the Arafura Sea. Government. Australian Government.
Indonesian Fisheries Research Journal. Department of Agriculture. Fisheries and
10 (1): 1-7. Forestry. Bureau of Rural Sciences.
Canberra. 285 pp.
Badrudin, N. N. Wiadnyana, & B. Wibowo.
2005. Deep water exploratory bottom long Majkowski, J. 2007. Global fishery resources
lining in the waters of the Arafura Sea. of tuna and tuna like species. Food and
Indonesian Fisheries Research Journal. Agriculture Organization Fish.Tech.Pap.
AMFR. MMAF. 11 (1): 41-46. 483. Food and Agriculture Organization-
UN. Rome. 54 pp.
Badrudin, Wudianto, N. N. Wiadnyana, & S.
Nurhakim. 2006. Deep sea fish resources Saeger, J., P. Martosubroto, & D. Pauly.
diversity and potential in the waters of 1976. First report of the Indonesian-
Western Sumatera of the Eastern Indian German demersal fisheries project
Ocean. Indonesian Fisheries Research (result of a trawl survei in the Sunda
Journal. 12 (2): 115-129. Shelf area). Special Report. Contrib. of
the demersal fisheries project. No.1.
Food and Agriculture Organization. 2009. Marine Fisheries Research Report.
The State of World Fisheries and RIMF-GTZ. 46 pp.
Aquaculture 2008. Food and Agriculture
Organization Fisheries and Aquaculture Suprapto & Badrudin. 2006. Stock
Department. Food and Agriculture abundance index, density, composition,
Organization-UN. Rome. 176 pp. and distribution of deep sea shark and
ray resources in the Eastern Indian
Gulland, J. A. 1983. Fish Stock Ocean. Indonesian Fisheries Research
Assessment-A Manual of Basic Journal. 12 (1): 27-36.
Methods. John Wiley & Sons. New York.
223 pp.
20
Kelimpahan Stok Sumber Daya Ikan Demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa (Badrudin, et al.)

Lampiran 1. Jenis-jenis ikan trash fish (belum biasa dikonsumsi)


Appendix 1. Types of trash fish (not ordinary consumpted)

Nama ilmiah/Scientific name Nama Inggris/English name Nama lokal/local name


Anacanthidae Barbld leather jacket
Aluteridae Leather jacket
Antennaridae Toad fishes
Apogonidae Cardinal fish Serinding
Balistidae (excl. Abalistes stellaris)
Bregmacerotidae
Blenniidae Blennies
Callyonymidae Dragonets
Centriscidae Razor fish
Chaetodontidae Butterfly/coral fish Kepe-kepe
Dactylopteridae Flying gurnard
Diodontidae Porcupine fish
Echeneidae Sucker fish
Fistulariidae Flutemouth Julung-julung
Gobiidae Gobies
Labridae Wrases
Lagocephalidae Blowfish Buntal
Ostraciontidae Box fish (cowfish)
Parapercidae Grubfish
Platycephalidae Flathead Ikan anjing
Plotosidae Barble Sembilang
Pomacanthidae Angelfish
Pomacentridae Demoiselles
Scaridae Parrotfish Kakaktua
Scorpaenidae Scorpionfish
Syngnathidae Pipefish
Tetraodontidae Blowfish Buntal
Triacanthidae Tripodfish Kakitiga
Triglidae Gurnards
Uranoscopidae Stargazers
Zanclidae Moorish ideols Ikan hias

21
Daya Tangkap Kapal Pukat .. Pelagis Kecil di Laut Jawa (Purwanto & D. Nugroho)

DAYA TANGKAP KAPAL PUKAT CINCIN DAN UPAYA PENANGKAPAN


PADA PERIKANAN PELAGIS KECIL DI LAUT JAWA

Purwanto dan Duto Nugroho


Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 26 Oktober 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 28 Januari 2011;
Disetujui terbit tanggal: 7 Pebruari 2011

ABSTRAK

Pelaku usaha perikanan cenderung untuk terus memperbesar ukuran kapal, ukuran alat tangkap,
dan alat bantu penangkapan ikan guna meningkatkan daya tangkapnya agar tercapai hasil tangkapan
yang dapat memberikan jaminan kelangsungan usahanya. Oleh karena itu, estimasi perkembangan
upaya penangkapan ikan tanpa memperhitungkan perubahan daya tangkap kapal perikanan tidak
akan menggambarkan secara tepat perkembangan tekanan penangkapan terhadap sumber daya ikan.
Hasil analisis regresi berganda menggunakan ordinary least square menunjukkan bahwa faktor yang
secara signifikan mempengaruhi daya tangkap mencakup kekuatan mesin kapal, serta volume pukat
cincin dan kekuatan lampu yang digunakan dalam penangkapan ikan. Pada periode tahun 1988-2004
ketiga faktor tersebut cenderung meningkat, sehingga daya tangkap juga cenderung meningkat.
Koreksi terhadap upaya penangkapan nominal untuk mengakomodasikan pengaruh perubahan daya
tangkap dari tahun ke tahun telah memperbaiki hasil analisis produktivitas kapal. Untuk kebutuhan
pengendalian penangkapan ikan guna memperkecil ancaman terhadap kelestarian sumber daya ikan,
Pemerintah perlu mengatur kekuatan mesin kapal dan ukuran jaring kaitannya dengan ukuran kapal
serta kekuatan maksimum lampu yang digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan.

KATA KUNCI: daya tangkap, upaya penangkapan, perikanan pelagis kecil, Laut Jawa

ABSTRACT: Fishing power of purse seiners and fishing effort in the Java Sea small pelagic
fishery. By: Purwanto and Duto Nugroho

Fishers tend to increase the size of fishing vessel, fishing gear, and supporting equipment in order
to enlarge its fishing power as an attempt to get greater catch. Therefore, an estimation of the
development of fishing effort without taking into account the development of the fishing power would
not result in a correct figure of fishing pressure on a fish stock. The result shows that fishing power of
purse seiners was affected by vessel engine power, purse seine volume, and lamp power used in
fishing. During 1988-2004, there was a tendency of those three factors to increase. Consequently,
fishing power of the fleet had a tendency to increase. A correction to the nominal fishing effort by taking
into account the annual development of fishing power resulted in a better result of statistical analysis
on vessel productivity. For the purpose of controlling fishing activity to minimise risk to the sustainability
of fishery resources resulting from over exploitation, it should issue measures on the power of vessel
engine and the volume of seinenet relating to vessel size, and the maximum power of light used in
fishing.

KEYWORDS: fishing power, fishing effort, small pelagic fishery, Java Sea
(Butcher, 1995; Dwiponggo, 1987).
PENDAHULUAN Perkembangan pesat perikanan pelagis kecil
tersebut terjadi setelah diperkenalkannya alat
Penangkapan ikan di Laut Jawa merupakan tangkap pukat cincin kepada nelayan pantai
salah satu kegiatan perikanan yang relatif utara Jawa pada awal tahun 1970-an (Bailey &
dinamis di Indonesia dan memberikan Dwiponggo, 1987).
sumbangan yang relatif besar terhadap produksi
perikanan laut nasional tahun 2007, yaitu sekitar Sumber daya ikan pelagis kecil yang relatif
25,4% (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, melimpah, tingkat permintaan akan ikan yang
2009). Salah satu kelompok sumber daya ikan relatif tinggi dan cenderung terus meningkat,
utama yang menjadi sasaran kegiatan tingkat keuntungan ekonomi yang relatif menarik,
penangkapan ikan di Laut Jawa adalah sumber dan ketersediaan teknologi penangkapan pukat
daya ikan pelagis kecil. Kegiatan penangkapan cincin telah mendorong nelayan untuk terus
ikan pelagis kecil di Laut Jawa telah meningkatkan upaya penangkapannya.
dilaksanakan jauh sebelum Indonesia merdeka Peningkatan upaya penangkapan tersebut
dengan menggunakan alat tangkap tradisional berdampak penurunan hasil

___________________
Korespondensi penulis:
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur-Jakarta 14430, Telp. (021) 64711940, Fax. (021) 6402640, E-mail: rccf_office@indo.net.id 23
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 23-30 pengaruh dari perkembangan daya tangkap
terhadap produktivitas
tangkapan dan keuntungan per unit upaya
penangkapan. Namun, dengan status sumber daya
ikan yang merupakan sumber daya milik umum atau
milik bersama (common property), tidak seorang
pun memiliki hak khusus untuk memanfaatkan
sendiri atau pun melarang orang lain yang ikut
memanfaatkan sumber daya alam tersebut
meningkatkan upaya penangkapannya. Akibatnya,
setiap pelaku usaha berlomba meningkatkan upaya
penangkapannya dengan harapan mendapatkan
hasil tangkapan yang lebih banyak. Jumlah dan
ukuran kapal diperbesar guna meningkatkan daya
jelajah operasi penangkapan dan memperbesar
daya tangkap kapal agar hasil tangkapan per hari
per kapal meningkat. Peningkatan daya tangkap
juga dilakukan dengan memperbesar ukuran jaring
dan mengoperasikan alat bantu penangkapan,
antara lain berupa lampu. Upaya peningkatan daya
tangkap tersebut telah menyebabkan peningkatan
eksploitasi terhadap sumber daya ikan pelagis kecil
di Laut Jawa (Purwanto, 2003; Cardinale et al.,
2009). Kontribusi perikanan pukat cincin terhadap
produksi perikanan pelagis kecil Laut Jawa pada
tahun 2007 adalah sekitar 61,4% (Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap, 2009). Adapun
sumbangan perikanan pelagis kecil terhadap
produksi ikan dari Laut Jawa tahun 2007 adalah
sekitar 29,8% (Direktorat Jenderal Perikanan
Tangkap, 2009).

Pangkalan utama pukat cincin yang


beroperasi di Laut Jawa adalah Pekalongan dan
Juwana. Volume produksi ikan pelagis kecil yang
didaratkan di dua pangkalan ini mencapai 40%
dari produksi perikanan pelagis kecil Laut Jawa
(Nugroho, 2006). Atmaja & Nugroho (2006);
Nugroho (2006); Atmaja (2007), telah
mengestimasi upaya penangkapan dari armada
pukat cincin Pekalongan dan Juwana yang
dioperasikan untuk memanfaatkan sumber daya
ikan pelagis kecil di Laut Jawa. Upaya
penangkapan tersebut diukur dengan
menggunakan jumlah hari operasi penangkapan,
tanpa mempertimbangkan perkembangan daya
tangkap yang juga mempengaruhi produktivitas
kapal. Bila kemampuan kapal dalam menangkap
ikan meningkat dari tahun ke tahun, jumlah hari
penangkapan ikan tidak mencerminkan tingkat
upaya penangkapan, sehingga tidak dapat
digunakan untuk mengukur besarnya upaya
penangkapan riil. Oleh karena itu upaya
penangkapan yang diukur dengan jumlah hari
penangkapan perlu dikoreksi dengan
memperhitungkan perubahan daya tangkap
armada perikanan dari tahun ke tahun agar dapat
diperoleh tingkat upaya penangkapan riil. Koreksi
perlu dilakukan dalam mengestimasi upaya
penangkapan ikan dengan memperhitungkan
Ewt=It.Ent .
(1
kapal. Namun demikian, sejauh ini belum ada
kajian yang mengidentifikasikan faktor yang
Indeks daya tangkap pada tahun t (It)
mempengaruhi daya tangkap dan
dihitung dengan rumus berikut ini. Indeks daya
menggunakannya dalam mengestimasi tangkap bernilai satu pada tahun yang
perkembangan upaya penangkapan riil pada dijadikan standar.
perikanan pelagis kecil di Laut Jawa.
It= t/ ts ... (2
Tulisan ini menganalisis faktor yang
mempengaruhi daya tangkap, yaitu di mana:
kemampuan kapal dalam menangkap ikan,
t = rata-rata daya tangkap pada tahun t
dan mengevaluasi perkembangan daya
ts = rata-rata daya tangkap pada tahun t
tangkap tersebut. Hasil analisis tersebut yang dijadikan standar
kemudian digunakan untuk melakukan koreksi
terhadap upaya penangkapan yang diukur Daya tangkap (fishing power) kapal
dengan jumlah hari penangkapan ikan perikanan, yaitu kemampuan kapal dalam
sehingga diperoleh perkiraan upaya menangkap ikan, diukur dengan rata-rata
penangkapan riil yang menunjukkan tingkat kemampuan kapal menangkap ikan dengan
upaya penangkapan secara tepat. satuan ton per hari. Hubungan antara daya
tangkap kapal perikanan pada tahun t dengan
BAHAN DAN METODE sejumlah faktor yang mempengaruhinya pada
tahun t (xit) dianalisis dengan dua alternatif
Upaya penangkapan nominal diukur persamaan berikut ini:
dengan jumlah hari operasi penangkapan ikan.
Koreksi terhadap upaya penangkapan nominal ht a0 ik 1 aixit
............................... (3a
pada tahun t (Ent) dilakukan dengan indeks
daya tangkap (fishing power index) pada tahun ln ht b0 1k 1 bi ln xit
yang sama (It) sehingga diperoleh perkiraan .........................
(3b
upaya penangkapan riil pada tahun t (Ewt).
Hubungan dari ketiga variabel tersebut di mana:
sebagai berikut: a0, ai, b0, bi = koefisien

24
Daya Tangkap Kapal Pukat .. Pelagis Kecil di Laut Jawa (Purwanto & D. Nugroho)
tangkap dan indeks daya tangkap
kapal perikanan merupakan hasil
Faktor-faktor yang diperkirakan
monitoring kegiatan penangkapan
mempengaruhi daya tangkap kapal
ikan pelagis kecil Laut Jawa selama
perikanan pelagis kecil di Laut Jawa
adalah ukuran kapal dengan proxy 17 tahun mulai tahun 1988-2004.
Sementara itu data untuk
kekuatan mesin penggerak kapal (x1),
menganalisis produktivitas kapal
ukuran jaring untuk menangkap ikan
penangkap ikan merupakan hasil
(x2), dan kekuatan lampu yang
monitoring kegiatan penangkapan
merupakan alat bantu penangkapan
ikan dari armada pukat cincin yang
(x3), masing-masing diukur dengan
berpangkalan di Pekalongan dan
satuan tenaga kuda (HP), meter kubik
Juwana selama tahun 1988-2004
dan watt. Analisis untuk memilih
bersumber dari Atmaja & Nugroho
bentuk persamaan yang paling sesuai
di antara persamaan (3a) dan (3b) (2006); Nugroho (2006); Atmaja
serta untuk mengestimasi faktor yang (2007).
berpengaruh dan nilai koefisiensinya
dilakukan dengan ordinary least
square.

Selanjutnya dilakukan estimasi


produktivitas kapal penangkap ikan
yang diukur dengan satuan ton per
hari. Hasil tangkapan per unit upaya
penangkapan digunakan sebagai
indikator dari produktivitas kapal.
Angka produktivitas kapal penangkap
ikan pada tahun t (Ujt) yang diestimasi
dengan Ewt dibandingkan secara
statistik dengan angka produktivitas
yang diestimasi dengan Ent.
Persamaan yang menggambarkan
hubungan antara hasil tangkapan per
unit upaya dengan upaya
penangkapan dari Schaefer (1957);
Fox (1970) berikut ini digunakan
dalam analisis statistik tersebut:

Ujt=d0-d1 Ejt ...............................................

ln Ujt=d0-d1 Ejt ...............................................

di mana:
j = w dan n

Analisis untuk membandingkan


antara Ewt dengan Ent dan memilih
persamaan produktivitas kapal yang
paling sesuai di antara persamaan
(4a) dan (4b) serta untuk
mengestimasi nilai koefisiensinya
dilakukan dengan ordinary least
square.

Data untuk menganalisis faktor-


faktor yang mempengaruhi daya
tangkap kapal perikanan merupakan
hasil monitoring kegiatan
penangkapan ikan dari 140 kapal
yang beroperasi di perairan sekitar
Pulau-Pulau Bawean dan Masalembo
pada bulan Oktober 1993. Data untuk
mempelajari perkembangan daya
HASIL DAN BAHASAN memiliki pengaruh sangat nyata
terhadap daya tangkap kapal pukat
Hasil cincin. Dua variabel tersebut adalah
kekuatan mesin kapal dan ukuran jaring
Daya Tangkap Kapal Pukat Cincin untuk menangkap ikan. Pengaruh dari
kekuatan lampu secara statistik tidak
Hasil analisis daya tangkap dari nyata. Koefisien determinasi (R2) hasil
kapal pukat cincin yang analisis dengan model persamaan linear
dioperasikan pada perikanan pelagis tersebut adalah 0,586, yang
kecil di Laut Jawa disajikan dalam mengindikasikan bahwa persamaan ini
bentuk persamaan sebagai berikut: menjelaskan 58,6% dari variasi daya
tangkap.
h=-1048,884+8.290x 1 +0,00131x +0,124x ;R2=0,586,n=140(5a 2 3

(-2,23)* (3,97)*** (2,78)*** (1,45)ns Sementara itu, analisis dengan


menggunakan data yang
ln h=-5.502 + 0,546 ln x1+ 0,438 ln x2+ 0,498ln xditransformasikan ke dalam nilai
(2,52)** (3,30)*** (2,36)** (2,39)**
logaritma menghasilkan model
R2=0,593;n=140
persamaan yang lebih sesuai dengan
......................................................

data, yaitu persamaan (5b).


di mana:
Berdasarkan atas hasil analisis terakhir
1. Angka dalam kurung adalah nilai
ini, ketiga variabel yang diuji memiliki
t-statistik dari pengaruh variabel
pengaruh yang secara statistik signifikan
independen terhadap daya
terhadap daya tangkap. Ketiga variabel
tangkap.
tersebut adalah kekuatan mesin kapal,
2. ***, **, dan * menunjukkan bahwa ukuran jaring untuk menangkap ikan,
nilai t-statistik masing-masing dan kekuatan lampu yang merupakan
signifikan pada P<0,01, P<0,02,
alat bantu penangkapan. R2 persamaan
dan P<0,05.
(5b) adalah 0,593, yang
3. ns menunjukkan bahwa
mengindikasikan bahwa persamaan ini
pengaruh variabel yang
menjelaskan 59,3% dari variasi daya
bersangkutan secara statistik tangkap. Angka ini relatif lebih tinggi
tidak nyata.
dibanding R2 dari persamaan (5a). Oleh
karena itu persamaan (5b) digunakan
Hasil analisis dengan menggunakan
lebih lanjut dalam mengevaluasi
persamaan linear (persamaan (5a))
perkembangan daya tangkap kapal
menunjukkan bahwa di antara tiga
pukat cincin di Laut Jawa (Gambar 1).
variabel hanya dua yang secara statistik

25
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 23-30

Gambar 1. Perkembangan kekuatan mesin penggerak kapal, volume pukat cincin, dan kekuatan lampu
yang digunakan dalam penangkapan ikan pada perikanan pelagis kecil di Laut Jawa,
serta perkiraan nilai dan indeks daya tangkapnya (daya tangkap tahun 1988 sebagai
standar, IDT1988=1).
Figure 1. The development of vessel engine power, purse seine volume, and lamp power used in the
small pelagic fishery of the Java Sea, and the estimated value and index of fishing power
(average fishing power of vessels in the year 1988 as standard, FPI 1988=1).
Upaya dan Produktivitas Kapal Penangkap Ikan
Pada periode tahun 1991-1996, rata-rata
Upaya penangkapan nominal, yang diukur dengan
kekuatan mesin, ukuran jaring, dan kekuatan
jumlah hari penangkapan, cenderung meningkat selama
lampu yang digunakan kapal pukat cincin dalam
tahun 1988-2004 (Gambar 2 dan Lampiran 2). Namun,
operasi penangkapan ikan pelagis kecil di Laut
jumlah hari operasi penangkapan ikan tersebut tidak
Jawa cenderung terus meningkat (Gambar 1 dan
mencerminkan tingkat upaya penangkapan riil, karena
Lampiran 1). Karena itu, daya tangkap kapal pukat
kemampuan kapal dalam menangkap ikan per hari
cincin juga cenderung meningkat pada periode
cenderung meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 1).
tahun tersebut. Pada tahun-tahun selanjutnya
Oleh karena itu, upaya penangkapan nominal dikoreksi
sampai 2007 ketiga faktor tersebut cenderung
dengan menggunakan rata-rata daya tangkap (IDT)
tidak banyak berubah sehingga tidak terdapat
kapal pukat cincin,
perubahan menyolok pada daya tangkap kapal
yang berhubungan dengan tiga faktor tersebut. dengan IDT tahun 1988 sebagai standar (IDT 1988=1),
sehingga diperoleh perkiraan upaya penangkapan riil
tahun tahun 1988-2004 (Gambar 2).

26
Daya Tangkap Kapal Pukat .. Pelagis Kecil di Laut Jawa (Purwanto & D. Nugroho)

Gambar 2. Perkembangan upaya penangkapan dan produktivitas kapal penangkap ikan pelagis kecil di
Laut Jawa, tahun 1988-2004.
Figure 2. The development of fishing power and estimated productivity of vessels in the Java Sea small
pelagic fishery, 1988-2004.

Karena daya tangkap kapal cenderung


meningkat dari tahun ke tahun, maka
perbedaan antara upaya penangkapan
nominal dengan upaya penangkapan riil juga
semakin besar dari tahun ke tahun (Gambar
2). Penggunaan upaya penangkapan
nominal tanpa dikoreksi dengan perubahan
daya tangkap kapal perikanan menghasilkan
estimasi upaya penangkapan yang lebih
rendah (under estimated fishing effort).
Akibatnya, produktivitas kapal yang diukur
dengan hasil tangkapan per satuan upaya
penangkapan nominal tersebut menjadi lebih
tinggi dari produktivitas riil (over estimated
vessel productivity) (Gambar 2).

Hasil tangkapan per satuan upaya


penangkapan selain mencerminkan
produktivitas kapal perikanan juga
mengindikasikan kelimpahan sumber daya
ikan. Analisis hubungan antara hasil
tangkapan per unit upaya penangkapan
dengan upaya penangkapan dilakukan baik
dengan menggunakan upaya penangkapan
nominal maupun upaya penangkapan riil.
Koreksi terhadap upaya penangkapan
nominal dilakukan untuk mengakomodasikan
pengaruh dari perubahan daya tangkap dari
tahun ke tahun, dengan indeks daya
tangkap tahun 2004 sebagai standar
(IDT2004=1).

Hasil analisis produktivitas kapal


menggunakan tingkat upaya penangkapan
nominal, dengan alternatif model
persamaan linear dan non linear, sebagai
berikut:
Unt=194,11636-0,08930 Ent;R2=0,511; Uwt=561,13205-0,46817 Ewt; R2=0,873;
n=17 .. (6a (5,71)*** (-2,30)* n=17 .(7a
ln Unt=5,42161-0,00081 Ent; R2=0,541; (11,14)*** (-6,92)***
n=17 . (6b (18,97)*** (-2,49)*
ln Uwt=6,50573-0,00195 Ewt; R2=0,956;
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa n=17 .(7b (56,49)*** (-12,64)***
secara statistik model persamaan non linear
lebih sesuai dengan data. Hal ini ditunjukkan Hasil analisis tersebut juga
oleh nilai koefisien determinasi dan nilai t- menunjukkan bahwa secara statistik
statistik yang lebih tinggi. model persamaan non linear lebih sesuai
dengan data, sebagaimana ditunjukkan
Sementara itu hasil analisis oleh nilai koefisien determinasi dan nilai t-
produktivitas kapal menggunakan tingkat statistik yang lebih tinggi.
upaya penangkapan riil, juga dengan
alternatif model persamaan linear dan non Membandingkan hasil analisis yang
linear, sebagai berikut: menggunakan model persamaan non linear
(persamaan (6b) dan (7b)), dapat disimpulkan
bahwa koreksi terhadap

27
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : masing-masing kapal. Sementara itu, daya
23-30 tangkap kapal pukat cincin yang dioperasikan
untuk menangkap ikan pelagis kecil,
upaya penangkapan nominal untuk sebagaimana ditunjukkan dari hasil analisis,
mengakomodasikan pengaruh perubahan daya dipengaruhi secara signifikan oleh kekuatan
tangkap dari tahun ke tahun telah memperbaiki mesin penggerak kapal, ukuran jaring pukat
hasil analisis statistik, baik koefisien cincin, dan kekuatan lampu yang digunakan
determinasi maupun nilai t-statistiknya. Analisis dalam penangkapan ikan. Kekuatan mesin,
dengan menggunakan upaya penangkapan ukuran jaring, dan kekuatan lampu yang
tanpa koreksi menghasilkan persamaan (6b), digunakan kapal pukat cincin dalam operasi
dengan nilai koefisien determinasi 0,541, yang penangkapan ikan pelagis kecil di Laut Jawa
berarti bahwa hanya 54,1% dari variasi pada cenderung meningkat, sebagaimana dijelaskan
produktivitas kapal yang dapat dijelaskan oleh Cardinale et al. (2009), sehingga daya
dengan persamaan tersebut. Sementara itu, tangkap kapal pukat cincin juga cenderung
analisis dengan menggunakan upaya meningkat. Oleh karena itu, upaya
penangkapan yang dikoreksi dengan daya penangkapan yang diukur dengan jumlah hari
tangkap menghasilkan persamaan (7b), penangkapan ikan tanpa dikoreksi dengan
dengan nilai koefisien determinasi 0,956. Hal daya tangkap kapalnya, sebagaimana
ini berarti bahwa 95,6% dari variasi pada dilakukan oleh Atmaja & Nugroho (2006);
produktivitas kapal dapat dijelaskan dengan Nugroho (2006); Atmaja (2007), tidak akan
persamaan tersebut. Dengan demikian, model mencerminkan tingkat upaya penangkapan
produktivitas dari Fox (1970) dengan secara tepat.
menggunakan upaya penangkapan yang
dikoreksi dengan daya tangkap adalah paling Jumlah hari operasi penangkapan dari
sesuai untuk data hasil pengamatan pada seluruh kapal perikanan yang cenderung
perikanan pelagis kecil Laut Jawa. meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 2)
mengindikasikan bahwa jumlah kapal
Bahasan perikanan juga cenderung meningkat. Di lain
pihak, daya tangkap kapal perikanan juga
Upaya penangkapan pada perikanan cenderung meningkat dari tahun ke tahun
pelagis kecil di Laut Jawa pada dasarnya (Gambar 1). Konsekuensinya, tekanan
ditentukan oleh dua hal, yaitu jumlah penangkapan terhadap
keseluruhan dari hari operasi kapal perikanan
dan kemampuan kapal dalam menangkap ikan
(daya tangkap kapal perikanan). Jumlah hari
operasi penangkapan ikan dari seluruh kapal
perikanan dipengaruhi oleh jumlah kapal dan
rata-rata lama waktu operasi penangkapan dari
KESIMPULAN
sumber daya ikan pelagis kecil juga
cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
1. Daya tangkap kapal pukat cincin yang
Pengendalian terhadap kapasitas
dioperasikan untuk menangkap ikan
penangkapan ikan diperlukan untuk
pelagis kecil di Laut Jawa dipengaruhi
menjamin agar tekanan penangkapan
secara signifikan oleh kekuatan mesin
tidak melebihi daya dukung sumber daya
penggerak kapal, ukuran jaring pukat
ikannya.
cincin, dan kekuatan lampu yang
digunakan dalam penangkapan ikan.
Pemerintah telah melakukan
Ketiga faktor tersebut cenderung
pengendalian kapasitas penangkapan ikan
meningkat, sehingga daya tangkap
untuk masing-masing perusahaan dengan
kapal pukat cincin juga cenderung
menggunakan perizinan sebagai
meningkat. Oleh karena itu, upaya
instrumennya. Dalam pengendalian
penangkapan yang diukur dengan
perikanan pukat cincin, melalui perizinan
jumlah hari penangkapan ikan tanpa
penangkapan ikan, pemerintah telah
dikoreksi dengan daya tangkap tidak
membatasi tonase dan jumlah kapal, ukuran
akan mencerminkan tingkat upaya
mata jaring, maupun daerah penangkapan,
penangkapan secara tepat.
namun tidak mengatur kekuatan mesin
maksimum kaitannya dengan tonase kapal.
2. Untuk kebutuhan pengendalian
Selain itu juga belum terdapat ketentuan
penangkapan ikan, Pemerintah perlu
yang mengatur ukuran jaring kaitannya
mengatur kekuatan maksimum mesin
dengan ukuran kapal dan ukuran kekuatan
kapal, dan ukuran maksimum jaring
lampu maksimum yang dapat digunakan
kaitannya dengan ukuran kapal serta
dalam pengendaliannya. Dengan demikian,
kekuatan maksimum lampu yang
resiko ancaman terdapat kelestarian sumber
digunakan sebagai alat bantu
daya ikan memungkinkan timbul sebagai
penangkapan ikan.
akibat dari belum diaturnya kekuatan mesin
kapal dan ukuran jaring kaitannya dengan
DAFTAR PUSTAKA
ukuran kapal serta kekuatan maksimum
lampu yang digunakan sebagai alat bantu Atmaja, S. B. & D. Nugroho. 2006. Interaksi
penangkapan ikan. Untuk kebutuhan
antara biomassa dengan upaya
pengendalian penangkapan ikan pemerintah
penangkapan: Studi kasus perikanan
juga perlu mengatur hal-hal tersebut.
pukat cincin di Pekalongan dan

28
Daya Tangkap Kapal Pukat .. Pelagis Kecil di Laut Jawa (Purwanto & D. Nugroho)
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
2009. Statistik
Juwana. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 2007.
Perikanan Indonesia. 12 (1): 57-68. Direktorat Jenderal
Perikanan Tangkap. Jakarta.
Atmaja, S. B. 2007. Ketidakstabilan
besaran stok ikan dari model Fox, W. W. 1970. An exponential
produksi surplus. Jurnal Penelitian surplus yield model for optimizing
Perikanan Indonesia. 13 (1): 1-11. exploited fish populations. Trans.
Amer. Fish. Soc. 1: 80-88.
Bailey, C. & A. Dwiponggo. 1987.
Indonesian marine fisheries: Nugroho, D. 2006. Kondisi trend
Structure and change. In C. Bailey et biomassa ikan layang (Decapterus
al. spp.) di Laut Jawa dan sekitarnya.
(eds.) Indonesian Marine Capture Jurnal Penelitian Perikanan
Fisheries. ICLARM Studies and Indonesia. 12 (3): 167-174.
Reviews 10. 64-88.
Purwanto. 2003. Status and
Butcher, J. G. 1995. Extending the management of the Java Sea
frontier: the marine fisheries of fisheries. 793-832. In G. Silvestre, L.
Southeast Asia since 1850. In J. Garces, I. Stobutzki, M. Ahmed, R.
Roch et al. (eds.) Proceedings of A. Valmonte-Santos, C. Luna, L.
Socioeconomics, Innovation, and Lachica-Alio, P. Munro, V.
Management of the Java Sea Christensen, & D. Pauly (eds.)
Pelagic Fisheries (SOSEKIMA). 4-7 Assessment, Management, and
December 1995. Java Sea Pelagic Future Directions for Coastal
Fishery Assessment Project. Jakarta. Fisheries in Asian Countries.
19-28. WorldFish Center Conference
Proceeding 67. 1,120 pp.
Cardinale, M., D. Nugroho, & L.
Hernroth. 2009. Reconstructing Schaefer, M. B. 1957. Some
historical trends of small pelagic considerations of population
fish in the Java Sea using dynamics and economics in
standardized commercial trip relation to the management of
based catch per unit of effort. marine fisheries. Journal of the
Fisheries Research. 99: 151-158. Fisheries Research Board of
Canada. 14: 669-81.
Dwiponggo, A. 1987. Indonesian
marine fisheries resources. In C.
Bailey et al. (eds.). Indonesian
Marine Capture Fisheries. ICLARM
Studies and Review 10. 10-63.
29
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 23-30

Lampiran 1. Perkembangan kekuatan mesin kapal, volume pukat cincin, dan kekuatan lampu yang
dioperasikan dalam penangkapan ikan pelagis kecil di Laut Jawa, tahun 1998-2007
Appendix 1. The development of vessel engine power, purse seine volume, and lamp power used in the
small pelagic fishery of the Java Sea, 1988-2007

Keterangan/Remarks: pada tingkat upaya penangkapan ikan setara dengan kondisi tahun 1993/at the level of fishing effort equal to
that of 1993
Rata-rata
Rata-rata volume Rata-rata
Lampiran 2. Perkembangan hasil tangkapan, upaya penangkapan ikan, dan hasil tangkapan per unit
kekuatan pukat cincin/ kekuatan lamp
Tahun/ mesin kapal/ Average purse seine Average lamp
upaya pada perikanan pelagis kecil di Laut YearJawa, tahunAverage1998vessel-2004 volume power
engine power 3
Appendix 2. The development of catch, fishing effort, and catch per unit effort in the Java Sea small
(watt)
(HP) (m )
pelagic fishery, 1998-2004
1988 136 785.525
1989 124 752.135 4.560
4.291
Upaya penangkapan 1990
Hasil tangkapan per unit upaya penangkapan
114 728.232
3.932
(100 hari operasi)/ 1991 (ton/100 hari)/
105
715.610 3.831
Hasil tangkapan Fishing effort (E) 1992 Catch111 per unit effort 727.893 3.953
Tahun/ (ton)/ (100 fishing days) 1993 (tonnes/100176 days) 947.772 5.888
Year Catch 1994Estimasi dengan178E Estimasi983dengan.847 E 5.960
(tonnes) Dikoreksi/ 1995 nominal/ 172 dikoreksi/952.801 5.810
Nominal Corrected Estimation1996 by using281 Estimation1.103by.510using 15.483
1997 nominal E 271 corrected1.140.173E 15.494
1988 47.884 569 179 1998 84,21 266 1.124.842
268,03
15.506
1989 65.660 596 170 1999 110,10 263 1.157.559
386,00
15.466
1990 71.903 545 140 2000 131,85 264 .137.954
514,59
15.478
1991 102.780 606 146 2001 169,69 263 1.131.745
705,35
15.421
1992 129.719 732 186 2002 177,16 265 1.176.435
698,76
15.423
1993 115.217 769 344 2003 149,77 271 1.147.699
335,34
15.451
1994 144.200 835 383 2004 172,64 267 1.185.732
376,18
15.451
1995 123.386 903 397 2005 136,69 270 1.142.086 15.527
310,78
2006 288 1.113.484 15.589
1996 110.278 1.033 1.030 106,77 284 107,08 15.677
2007 1.176.696
1997 115.405 908 900 127,15 128,24
1998 118.077 994 970 118,83 121,70
1999 85.914 885 868 97,13 98,99
2000 82.952 892 872 92,95 95,16
2001 93.622 872 846 107,32 110,61
2002 85.337 1.203 1.192 70,94 71,57
2003 83.936 1.149 1.143 73,03 73,42
2004 79.029 1.046 1.046 75,58 75,58
30
Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang .. (Decapterus macarellus) dari Perairan Kendari (Hariati, T.)

TINGKAT PEMANFAATAN IKAN LAYANG ABU-ABU (Decapterus macrosoma)


DAN LAYANG BIRU (Decapterus macarellus) DARI PERAIRAN KENDARI

Tuti Hariati
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 10 Agustus 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 23 Nopember 2010;
Disetujui terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Sumber daya ikan layang (Decapterus macrosoma dan Decapterus macarellus) di perairan Pantai
Kendari tertangkap dengan pukat cincin mini. Sampai saat ini kajian stok belum pernah dilakukan
sehingga belum diperoleh data dan informasi tingkat pemanfaatannya. Dalam upaya pelestarian
pemanfaatan sumber daya ikan layang, dilakukan pengkajian stok untuk memperoleh nilai dugaan
parameter populasi dan tingkat pemanfaatan. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai alternatif
kebijakan dalam perkembangan dan pengelolaan. Data frekuensi panjang kedua spesies dikumpulkan
tiap bulan dari bulan Maret 2009 sampai dengan Pebruari 2010. Kemudian data dianalisis
menggunakan paket program FiSAT. Hasil kajian menunjukkan, nilai tingkat pemanfaatan (E) ikan
layang abu-abu (Decapterus macrosoma) di perairan Kendari sudah tinggi (0,56) melewati nilai E max
(0,47), sedangkan nilai E ikan layang biru (Decapterus macarellus) rendah (0,50) belum mencapai nilai
E dengan keuntungan yang maksimal (E0,10=0,56) dan nilai E yang maksimal (0,64). Dalam rangka
pengembangan pemanfaatan sumber daya ikan layang biru, alternatif perluasan daerah penangkapan
dapat dilakukan ke perairan Banggai kepulauan. Untuk sumber daya ikan layang abu-abu,
pengembangan dapat dilakukan di sepanjang perairan pantai dekat pulau-pulau kecil dari sebelah
barat Laut Kendari sampai ke perbatasan dengan wilayah Sulawesi Tengah.

KATA KUNCI: tingkat pemanfaatan, ikan layang abu-abu dan layang biru, perairan Kendari

ABSTRACT: The exploitation rate of both short fin scad (Decapterus macrosoma) and
mackerel scad (Decapterus macarellus) from Kendari waters. By: Tuti Hariati

Scads resource in the coastal waters of Kendari general caught by small purse seiner. So far, the
assessment of scads stock has not been conducted that data and information of the exploitation rate
was not available yet. In order to sustain the resource, assessment was carried out to obtain the
population parameters and exploitation rate. The result might be used as a basic for the fisheries
development or management policy. A set of length frequency data of the 2 species was collected
every month from March to June 2009. These data were analyzed using the FiSAT Package Program.
Results show, the value of exploitation rate (E) of short fin scad in the Kendari waters was high (0.56)
exceeding the value of Emax (0.47), whereas mackerel scad was 0.50, lower than E .10 (0.56). In order to
extend the exploitation of mackerel scad, it is suggested to move the fishing ground to the waters
around Banggai Archipelago. The exploitation of short fin scad could be developed along the coast
especially around the small islands lays from the waters north west of Kendari to the border with the
Central Sulawesi Province.

KEYWORDS: exploitation rate, short fin scad, mackerel scad, Kendari waters

dominan adalah ikan tongkol (Euthynnus


PENDAHULUAN affinis) (pelagis besar) 60% dan ikan layang
(pelagis kecil) 35% dari total hasil tangkapan
Perairan Kendari di Sulawesi Tenggara yang mencapai 6.330 ton. Daerah
merupakan bagian dari perairan Laut Banda di penangkapan saat ini sampai ke Pulau Manui,
tepi sebelah barat. Jenis-jenis sumber daya ikan lepas Pantai Kendari. Jika cuaca buruk operasi
yang terdapat di perairan Kendari di antaranya penangkapan terpusat di Pulau Saponda dan
terdiri atas kelompok-kelompok sumber daya ikan pantai utara Pulau Wowoni (Langara) dekat
karang (Hartati & Pralampita, 1993), ikan pelagis, mulut Teluk Kendari.
demersal, dan biota laut lainnya (Linting et al.,
1994). Ikan layang yang tertangkap dari perairan terdiri
atas ikan layang abu-abu yang bersifat neritik
Alat tangkap sumber daya ikan pelagis di oseanik dan layang biru yang bersifat oseanik.
antaranya pukat cincin yang pada tahun 2008 Kedua jenis ikan layang tersebut pada ukuran-
berjumlah 98 unit, dengan hasil tangkapan ukuran tertentu
yang

___________________
Korespondensi penulis:
Jl.Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera-Jakarta 14440, Telp.(021) 6602044 31
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 31-40

Hasil tangkapan per jenis ikan dari kapal contoh,


dapat dijadikan sebagai umpan di dalam terutama hasil tangkapan ikan layang (campuran dua
perikanan rawai tuna, di samping sebagai spesies-WL) dicatat dari nakhoda kapal. Hasil
bahan dalam industri bumbu masak. tangkapan Decapterus macrosoma atau layang abu-
abu (WLA) dan Decapterus macarellus atau layang
Dalam upaya pelestarian pemanfaatan biru (WLB) per kapal diduga berdasarkan atas
sumber daya ikan layang dilakukan pengkajian perbandingan bobot contoh tiap spesies ikan layang
stok untuk memperoleh nilai dugaan parameter (Wlb dan Wld). Bobot contoh Wla dan Wlb dari tiap kali
populasi dan tingkat pemanfaatan. Hasil yang pengamatan selain dari hasil penimbangan juga
diperoleh dapat dijadikan alternatif kebijakan. dihitung ulang dari data frekuensi panjang dengan
persamaan hubungan panjang dan bobot ikan layang
BAHAN DAN METODE sebagai berikut:

Waktu dan Tempat a. Decapterus macrosoma:


W=0,0066*Fl^3,2178 .............
Pengumpulan data sebaran frekuensi panjang . (1
ikan layang abu-abu dan layang biru dari hasil
tangkapan pukat cincin contoh di perairan Kendari b. Decapterus macarellus:
dilaksanakan tiap bulan dari bulan Maret 2009 W=0,0077*Fl^3,1557
sampai Pebruari 2010 (12 bulan). Daerah ... (2
penangkapan pukat cincin Kendari saat ini meliputi
perairan dekat Pantai Kendari ke arah utara yang di mana:
banyak pulau-pulau kecil (di antaranya Pulau W = bobot individu
Umbele), arah ke timur laut yaitu di seputar Pulau ikan FL = panjang
Menui dan Pulau Saponda, serta Pulau Wowoni arah cagak
ke timur yang hanya berjarak 1 mil dari Kendari (di
ujung Teluk Kendari). Pembobotan data contoh sebaran frekuensi
panjang terhadap data frekuensi panjang tiap
Prosedur Pengumpulan Data spesies ikan layang dari tiap kapal contoh dilakukan
pembobotan (rise) terhadap hasil tangkapan tiap
Pengambilan contoh sesuai dengan prosedur spesies ikan layang dalam kapal tersebut dengan
standar operasional (Mat et al., 2004). rising factor (rf1)=WLA/Wla untuk ikan layang abu-abu
Berdasarkan atas prosedur dalam Sparre & dan WLb/Wlb untuk ikan layang deles. Seluruh data
Venema (1999), seperti yang dilakukan oleh frekuensi panjang tiap spesies dari tiap kapal dalam
Hariati & Pralampita (2008) di perairan Laut Cina satu bulan digabung (pooled) sehingga hanya ada
Selatan. satu contoh data frekuensi panjang setiap spesies
pada tiap bulan. Data frekuensi panjang (pooled)
Satu keranjang ikan (40 kg) hasil tangkapan bulanan dari tiap lokasi tersebut diboboti lagi
diambil secara acak dari tiap kapal contoh. Tiap- terhadap hasil tangkapan bulanan ikan layang (W M)
tiap jenis ikan pelagis kecil disortir lalu ditimbang. yang terdiri atas hasil tangkapan bulanan ikan layang
Contoh ikan layang (Decapterus macrosoma dan abu-abu (WMA)
Decapterus macarellus) dipisahkan menurut dengan faktor (rf2) = W MA/W LA(1-6), dan ikan
spesies kemudian panjang cagak tiap-tiap spesies layang biru dengan faktor (rf2) = WMD/WLB(1-6), di
diukur menggunakan kertas ukur khusus. Untuk mana WM = hasil tangkapan ikan layang bulanan,
memperoleh sebaran frekuensi panjang tiap WMA = hasil
spesies ikan layang. tangkapan ikan layang abu-abu bulanan WMD =
hasil tangkapan ikan layang biru bulanan.
Pengambilan contoh pada tiap bulan dilakukan
Data yang sudah disusun menurut bulan
sekitar enam kali, dari satu minggu sebelum
periode bulan gelap sampai satu minggu (Lampiran 1 dan 2) siap untuk dianalisis lebih
sesudahnya (tiga minggu), untuk memperoleh lanjut.
jumlah yang diukur tiap spesies ikan layang
sekitar 300 ekor. Data frekuensi panjang dari Analisis Data
setiap pengambilan contoh disusun dari yang
terkecil sampai yang terbesar dan ditabulasi Untuk memperoleh dugaan parameter
menurut nilai tengah dengan kisaran 0,5 cm. pertumbuhan (L dan K), dan parameter
Nama kapal, tanggal pengukuran, dan komposisi kematian ikan (Z, M, dan F), digunakan paket
jenis ikan dicatat dalam kertas ukur. program FiSAT (Gayanilo & Pauly, 1997).
Pertumbuhan ikan yang dieksploitasi
mengikuti model von Bertalanffy dengan
persamaan berikut:

32
Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang .. (Decapterus macarellus) dari Perairan Kendari (Hariati, T.)
tingkat pemanfaatan (E) dari F dibagi Z.
Selanjutnya, panjang pertama kali tertangkap (lc)
Lt = L -eks (K*(t-t0)
masing-masing spesies ikan layang diperoleh
........................... (3
dari probability of capture.
di mana:
Lt = panjang ikan pada umur t
L = rata-rata panjang
maksimum K = konstanta
pertumbuhan
t0 = umur pada panjang 0 cm

Data frekuensi panjang bulanan


dianalisis secara langsung dengan program
ELEFAN 1. Sebaran jumlah ikan menurut
kelompok panjang diperoleh dari
pengambilan contoh hasil tangkapan
polymodal. Dalam program ELEFAN 1
modus-modus atau puncak-puncak
teridentifikasi dengan proses restrukturisasi.
Puncak-puncak tersebut diasumsikan
mewakili kohor-kohor dan paling cocok
dalam pembentukan suatu kurva
pertumbuhan von Bertalanffy secara
interaktif, nilai-nilai L dan K dari Rn yang
tertinggi.

Kematian total (Z) diperoleh dari analisis


kurva penangkapan yang dikonversikan ke
panjang (length converted catch curve):

Ln (C(L1, L2)/dt(L1,L2)) = c-Z*(t*((L1+L2)/2) .........

Dalam analisis ini, digunakan data


frekuensi panjang dan nilai-nilai L dan K
sebagai input. Setelah kurva terbentuk
dipilih data panjang ikan yang terkena
eksploitasi, untuk dianalisis (regresi)
menghasilkan Z (-b).

Kematian alami (M) diduga dengan


rumus empiris Pauly dalam Sparre &
Venema (1999):

M = Exp(-0,0152-0,279*Ln L +0,6543*Ln K+0,463*


Ln T) ..(5

di mana:
T = suhu perairan dari survei laut di
daerah penangkapan 29C
dimasukan sebagai input

Mengingat ikan layang mempunyai sifat


menggerombol (Sparre & Venema, 1999)
maka nilai M dikoreksi menjadi 20% lebih
rendah, sehingga rumus Pauly tersebut
menjadi:

M = 0,8* Exp(-0,0152-0,279*Ln L+0,6543*Ln


K+0,463*Ln T) . (6

Kematian karena penangkapan (F) diperoleh


dari nilai Z dikurangi M, sedangkan dugaan
Analisis yield per recruit relatif dilakukan perairan Teluk Ambon yang juga bagian dari
terhadap data frekuensi panjang masing- perairan Laut Banda pada tahun 1996 diperoleh
masing spesies Setelah menambahkan nilai- nilai L yang tidak jauh berbeda. Ikan layang abu-
nilai lc/L dan M/K, akan abu yang tertangkap di perairan paparan seperti
keluar nilai-nilai E0,05, E0,1, dan Emax dalam perairan Natuna dan Anambas (Hariati &
grafik untuk mengetahui status pemanfaatan Pralampita, 2008); perairan Tawi-Tawi (Aripin &
E saat ini. Showers, 2000); dan perairan Teluk Honda
(Ramos et al., 2003) keduanya di Filipina, serta
HASIL DAN BAHASAN perairan Karnabha di India (Rohit & Shanbhogue,
2005) memiliki nilai-nilai L yang lebih rendah (23
Di perairan Kendari, sebaran frekuensi cm Tl). Dalam daur hidupnya, ikan layang abu-
panjang ikan layang abu-abu (Lampiran 1) abu hidup di perairan paparan kemudian
menunjukkan kisaran panjang 7-33 cm bermigrasi ke laut yang lebih dalam (Potier,
panjang cagak sedangkan sebaran frekuensi 1995). Nilai L ikan layang biru di perairan
panjang ikan layang biru (Lampiran 2) Kendari berada dalam kisaran nilai L di perairan
menunjukkan kisaran panjang 14-32 cm Teluk Tomini (Anonimus, 2005) yang letaknya
panjang cagak. Hasil analisis dengan relatif dekat; sedangkan L ikan layang biru di
program FiSAT menghasilkan parameter perairan Sri Langka (Dayaratne, 1997),
populasi yaitu parameter pertumbuhan, Samudera Hindia bernilai lebih tinggi.
kematian, dan tingkat pemanfaatan ikan
layang.
Pada Tabel 1 juga terlihat bahwa nilai-nilai
Parameter Pertumbuhan konstanta pertumbuhan (K) ikan layang abu-
abu di perairan Anambas dan Natuna dan
Dalam Tabel 1 tercantum panjang perairan lainnya relatif tinggi dibandingkan
asimptotik (L ) Decapterus macrosoma (ikan
dengan di perairan Kendari atau memiliki
layang abu-abu) dan
kecepatan pertumbuhan yang lebih besar,
Decapterus macarellus (ikan layang biru) yang
diduga karena L yang lebih pendek dan juga
diperoleh dari perairan Kendari memiliki panjang
akibat tingginya eksploitasi.
maksimum masing-masing 34 dan 34,7 cm Tl. Di

33
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 31-40

Tabel 1. Parameter pertumbuhan dua spesies ikan layang dari perairan Kendari dan perairan-perairan
lainnya di wilayah Asia Tenggara
Table 1. Growth parameter of the 2 species of scads from Kendari waters and others in the South East of
Asia Region

Perairan/ Tahun/
Spesies/Species L (cm) K Keterangan/Remarks
Waters Year
Decapterus macrosoma 35,0 0,68 Ambon 1996 Syahailatua & Sumadiharga
(1996); Syahailatua (1997)
Decapterus macrosoma 24,9 0,77 Tawi-tawi 2000 Aripin & Showers (2000)
Decapterus macrosoma 24,76 1,3 Honda Bay 2003 Ramos et al. (2003)
Decapterus macrosoma 23,8 0,75 Karnabha 2005 Rohit & Shanbhogue (2005)
Decapterus macrosoma 24,60 1,20 Natuna 2005 Hariati & Pralampita (2008)
Decapterus macrosoma 23,1 1,20 Anambas 2005 Hariati & Pralampita (2008)
Decapterus macrosoma 33,8 0,87 Kendari 2009 This research
Decapterus macarellus 41,2 0,80 Sri Lanka 1997 Dayaratne (1997)
Decapterus macarellus 33-36 1,0-1,1 TelukTomini 2003 Anonimus (2005)
Decapterus macarellus 35,98 0,92 Kendari 2009 This research

Gambar 1. Kurva pertumbuhan layang abu-abu Decapterus macrosoma (atas) dan Decapterus
macarellus (bawah) yang tertangkap dari perairan Kendari.
Figure 1. Growth curve of mackarel scad Decapterus macrosoma (above) and Decapterus macarellus
(under) caught from Kendari waters.

34
Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang .. (Decapterus macarellus) dari Perairan Kendari (Hariati, T.)
abu-abu dari perairan Teluk Ambon dan Natuna.
Hal ini menyebabkan tingkat pemanfaatan (E)
Dalam Gambar 1 berdasarkan atas
ikan layang abu-abu dan layang biru dari
pangkal dari garis pertumbuhan, diperoleh
perairan Kendari juga relatif lebih rendah
petunjuk musim pemijahan ikan layang abu-
daripada di kedua perairan tersebut. Diduga
abu dari perairan Kendari berlangsung sekitar
karena pemanfaatan sumber daya ikan layang
bulan September, sedangkan untuk ikan
abu-abu secara intensif menggunakan pukat
layang biru sekitar bulan Oktober. Dugaan ini
cincin di perairan Kendari relatif belum lama.
perlu diperjelas dengan hasil pengamatan
Adapun nilai E ikan layang abu-abu dari perairan
kematangan gonad yang dilakukan secara
Kendari saat ini hampir sama dengan nilai E ikan
kontinu. Suwarso et al. (2008) berdasarkan
layang abu-abu dari perairan Anambas
atas pengamatan kematangan gonad,
sedangkan nilai E ikan layang biru dari perairan
menemukan bahwa musim pemijahan ikan
Kendari menyamai nilai E jenis ikan yang sama
layang di perairan Laut Cina Selatan
dari perairan Teluk Tomini.
berlangsung dari akhir musim timur (bulan
Agustus) berlanjut sampai musim peralihan 2
Dalam Tabel 2 terlihat bahwa nilai-nilai F
(bulan September sampai Nopember).
(kematian karena penangkapan) ikan layang
abu-abu hampir di setiap perairan relatif lebih
Parameter Kematian tinggi dari nilai M masing-masing. Artinya di
perairan-perairan tersebut telah mengalami
Dalam Tabel 2 ditunjukkan bahwa nilai-nilai
tekanan penangkapan dengan intensitas
parameter kematian total (Z), kematian alami
masing-masing. Kecuali di perairan Teluk
(M), dan kematian karena penangkapan (F) ikan
Tomini di mana kisaran nilai F tidak jauh dari
layang abu-abu dan layang biru dari perairan
kisaran nilai M sehingga memiliki nilai E yang
Kendari relatif rendah dibandingkan dengan nilai-
sama.
nilai Z, M, dan F ikan layang

Tabel 2. Parameter kematian (Z, M, dan F) dan tingkat pemanfaatan (E) ikan layang dari
perairan Kendari dan di perairan lainnya di wilayah Asia Tenggara
Table 2. Mortality parameters and exploitation rate (E) of scads from Kendari waters and others
in the South East of Asia region

Spesies/Species Z M F
Decapterus macrosoma 2,94 1,29 1,65
Decapterus macrosoma 4,86 0,92 3,94
Decapterus macrosoma 3,49 1,59 1,90
Decapterus macrosoma 5,09 1,76 3,33
Decapterus macrosoma 4,11 1,75 2,36
Decapterus macarellus 2,4-2,5 1,0-1,1 0,8-1,3 0
Decapterus macarellus 2,68 1,34 1,34

Gambar 2. Kurva penangkapan dan parameter kematian Decapterus macrosoma (kiri) dan
Decapterus macarellus (kanan) dari perairan Kendari.
Figure 2. Catch curve and mortality parameters of both Decapterus macrosoma and
Decapterus macarellus (right) from Kendari waters.

35
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 :
31-40
Status Tingkat Pemanfaatan
Untuk ikan layang biru dari perairan Kendari, Status tingkat pemanfaatan ikan layang
nilai F sama dengan nilai M sehingga tingkat abu-abu
pemanfaatan
dari perairan Kendari saat ini (E present) dalam
(E) ikan layang abu-abu bernilai 0,50 (Tabel 2 Tabel 4 dan Gambar 4 (kiri) sudah melewati
dan Gambar 2). Maka di perairan Kendari nilai tingkat-tingkat
E ikan layang biru lebih rendah dibandingkan E0,05 (E=0,29), E0,1 (E=0,35), dan Emax,
dengan nilai E ikan layang abu-abu. Diduga (E=0,47) sudah berada di bagian kanan
ada kaitannya dengan ketersediaan ikan kurva yang berarti upaya di daerah
layang abu-abu di perairan Kendari yang penangkapan yang sekarang sudah berlebih
selama pengamatan lebih melimpah daripada dan jika terus-menerus dilakukan akan
ikan layang biru. Ini berarti bahwa daerah membahayakan stok ikan layang.
penangkapan di perairan Kendari memiliki
kondisi lingkungan yang lebih cocok untuk
Tabel 4. Status tingkat pemanfaatan ikan
kehidupan ikan layang abu-abu (neritik
layang abu-abu dan layang
oseanik) daripada ikan layang biru yang lebih
biru dari perairan Kendari
cocok hidup di perairan oseanik.
Table 4. Status of exploitation rate of both
short fin scad and mackerel
Dalam Gambar 3, persentase keberadaan
scad caught from Kendari
ikan layang biru dalam hasil tangkapan selama
waters
pengamatan makin berkurang sedangkan ikan
layang abu-abu semakin meningkat dan
mencapai 100% pada bulan Maret 2010. Diduga
karena turunnya kadar garam di perairan Kendari
(daerah pantai Laut Banda) akibat saat itu sering
terjadi hujan.

Pengembangan daerah penangkapan Decapterus


macrosoma dapat dilakukan ke arah utara di perairan
sepanjang pantai Sulawesi Tenggara, terutama di
pulau-pulau kecil dari sebelah barat Laut Kendari

Gambar 3. Perbandingan persentase ikan layang


abu-abu dan layang biru yang
tertangkap dari perairan Kendari.
Figure 3. Percentage ratio of both short fin scad
and mackerel scad caught from
Kendari waters.
(Pulau Bahulu) sampai perbatasan dengan Sulawesi
100%
Spesies/Species E 050
E 10
E max
E prese t

Tengah seperti di Kepulauan Umbele dan Kepulauan


Salabangka.
Decapterus macrosoma 0,29 0,35 0,47 0,56

90% 0,35 0,56 0,64 0,50


Decapterus macarellus
80%
Adapun E dari ikan layang biru berada di
70% present
sebelah kiri nilai-nilai E0,1 dan Emax (Gambar 4, kanan)
60%
antara lain disebabkan karena hasil tangkapan ikan
layang biru di daerah penangkapan saat ini kurang.
50%
Keberadaan ikan layang biru yang lebih melimpah
40%

diduga terdapat di luar daerah penangkapan sekarang


30%
salah satu di antaranya di sekitar mulut Teluk Tomini
20%
bagian selatan tepatnya di perairan Banggai, Provinsi
Sulawesi Tengah, arah ke utara dari perairan Kendari.
10%
Menurut Anonimus (2005) perairan Banggai kaya akan
0%

planktonM nabatiAM sebagaiJJ makananASOikanN layangDJ biruF. M


Month 2009-2010

Layang abu-abu Layang biru

36
Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang .. (Decapterus macarellus) dari Perairan
Kendari (Hariati, T.)

Gambar 4. Kurva yield per recruit relative ikan layang abu-abu Decapterus macrosoma (kiri) dan layang
biru Decapterus macarellus (kanan) dari perairan Kendari.
Figure 4. Curve of relative yield per recruit of short fin scad Decapterus macrosoma (left) and mackerel
scad Decapterus macarellus (right) caught from Kendari waters.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Nilai tingkat pemanfaatan (E) ikan layang


abu-abu di perairan Kendari sudah tinggi (0,56)
melewati nilai Emax (0,47), sedangkan nilai E ikan
layang biru rendah (0,50) belum mencapai nilai E
dengan keuntungan
yang maksimal (E0,10=0,56) dan nilai E yang
maksimal (0,64).

Saran

Dalam rangka pengembangan


pemanfaatan sumber daya ikan layang biru,
perluasan daerah penangkapan diduga
dapat dilakukan ke perairan Banggai
kepulauan. Untuk sumber daya ikan layang
abu-abu, pengembangan dapat dilakukan di
sepanjang perairan pantai dekat pulau-
pulau kecil di barat Laut Kendari sampai ke
perbatasan dengan wilayah Sulawesi
Tengah.

PERSANTUNAN

Tulisan ini merupakan kontribusi dari


kegiatan hasil riset studi hubungan
filogenetik dan biologi ikan layang
(Decapterus spp. famili Carangidae) di
Indonesia Tahap II, T. A. 2009, di Balai Riset
Perikanan Laut-Muara Baru, Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Aripin, I. E. & P. A. T. Showers. 2000.


Population parameters of small pelagic f
Vol. 23 ishes caught of Tawi-tawi.
Philippines. Naga. 4: 21-26.
Anonimus. 2005. Teluk Tomini: Ekologi, Hartati, S. T. & W. A. Pralampita.1993.
Potensi Sumber Daya, Profil Perikanan, Potensi dan tingkat pengusahaan
dan Biologi Beberapa Jenis Ikan Ekonomis sumber daya perikanan kerang ekonomis
Penting. Balai Riset Perikanan Laut. Pusat penting di perairan Kendari, Sulawesi
Riset Perikanan Tangkap. Bada Riset Tenggara. Jurnal Penelitian Perikanan
Kelautan dan Perikanan. 114 pp. Laut. 76: 59-66.

Dayaratne, P. 1997. Review of small pelagic Hariati, T. & W. A. Pralampita. 2008. Analisis
fishes of Sri Lanka. In Devaraj, M. & P. frekuensi panjang ikan layang dari
Martosubroto (Eds.) Small pelagic fishes in perairan Laut Cina Selatan. Prosiding
Asia-Pasific region. Seminar Nasional Tahunan V: Hasil
Proceeding of the APFIC Working Party on Penelitian Perikanan dan Kelautan
Marine Fishes. 1st Session 13-15 May 1997. Tahun 2008. Jilid 2 Manajemen Sumber
Bangkok. Thailand. R. A. P. Publication 1997/31. Daya Perikanan. No. Paper MS-7. Kerja
300-336. Sama Jurusan Perikanan dan Kelautan.
Fakultas Pertanian. Universitas Gadja
Gayanilo, Jr. F. C. & D. Pauly. 1997. FiSAT- Mada dengan Balai Besar Riset
reference manual. ICLARM. Food and Pengolahan Produk dan Bioteknologi
Agriculture Organization. 262 pp. Kelautan dan Perikanan. 9 pp.

37
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 :
31-40
along Karnataka coast. India. Jur. Mar.
Biol. Ass India. 47 (2) July-December 2005.
Linting, M. L., Badruddin, & N. 180-184.
Wirdaningsih. 1994. Indeks kelimpahan
stok sumber daya ikan pelagis kecil di Syahailatua, A. & K. Sumadiharga. 1996.
perairan Sulawesi Tenggara. Jurnal Dinamika populasi dua jenis ikan layang
Penelitian Perikanan Laut. 87: 48-55. (Decapterus russelli dan Decapterus
macrosoma) di Teluk Ambon. TORANI Buletin
Mat, I. M., S. Siriraksophon, R. Rumpet, S. Ilmu Kelautan. 1 (6): 31-46.
A. S. A. Kadir, S. Ishikawa, & M.
Supongpan. 2004. Syahailatua, A. 1997. Aspek biologi dan
Standard Operating Procedures for Data
eksploitasi sumber daya perikanan ikan
Collection and Analysis in the South China layang Decapterus russelli dan
Sea. 9 pp. Decapterus macrosoma di Teluk Ambon.
Prosiding Seminar Riptek Kelautan
Potier, M. 1995. Biodynex workshop. In Nasional. IKN 218-IKN 223.
Biodynex. Potier, M. & S. Nurhakim Eds.
AARD Indonesian Ministry of Agriculture. Sparre, P. & S. C. Venema. 1999. Introduksi
Orstom. European Union. 263-272. Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku I:
Manual. Food and Agriculture Organization.
Ramos, M. H., M. B. Caudelario, E. M. UNO. 438 pp.
Mendoza, & F. C. Gonzales. 2003. An
Assessment of the Honda Bay Fisheries. Suwarso, A. Zamroni, & Wudianto. 2008.
Ramos. pdf. Adobe Reader. 50 pp. Biologi reproduksi dan dugaan musim
pemijahan ikan pelagis kecil di Laut Cina
Rohit, P. & S. L. Shanbhogue. 2005. Age and
Selatan. Jurnal Penelitian Perikanan
growth of Decapterus russelli and Indonesia. 14 (4): 379-390.
Decapterus macrosoma
38
Tingkat Pemanfaatan Ikan Layang .. (Decapterus macarellus) dari Perairan Kendari (Hariati, T.)

Lampiran 1. Frekuensi panjang ikan layang abu-abu dari perairan Kendari bulan Maret 2009 sampai
Pebruari 2010
Appendix 1. Length frequency distribution of scad from Kendari waters March 2009 to February 2010

Mid Maret Agus- Sep-


April Mei Juni Juli
length 2009 tus tember
7,25 44
7,75 271
8,25 530
8,75 59 960
9,25 0 1.052
9,75 253 1.020
10,25 693 1.331
10,75 1.384 2.792
11,25 2.332 1.201 1.077
11,75 2.553 61.280 461 3.304
12,25 5.921 142.103 878 4.014
12,75 8.103 194.467 633 1.597 3.491
13,25 11.178 268.268 1.075 3.389 9.118 1
13,75 11.354 272.488 1.211 5.854 10.957 2
14,25 15.692 376.599 49.80 4.283 10.755 2
14,75 2.028 12.987 311.693 1.012 5.104 12.017 2
15,25 1.014 16.904 405.693 5.631 5.682 10.033 2
15,75 1.014 10.871 260.903 10.620 11.819 12.190 3
16,25 10.826 3.409 22.593 542.233 5.526 16.119 14.065 4
16,75 16.989 6.072 17.491 419.786 6.854 9.605 12.275 3
17,25 11.995 2.936 20.525 492.604 6.697 13.198 15.624 2
17,75 33.070 3.652 15.426 370.223 9.178 13.890 19.464 3
18,25 54.710 8.093 17.236 413.654 17.061 13.290 22.135 3
18,75 87.261 19.312 23.639 567.332 16.422 21.401 15.788 2
19,25 100.045 37.432 11.964 287.131 19.065 22.540 18.193 4
19,75 70.364 39.754 11.670 280.080 32.351 22.847 16.465 5
20,25 89.634 44.509 14.026 336.621 49.085 30.066 20.223 6
20,75 108.088 40.218 14.169 340.051 71.296 33.476 32.167 5
21,25 96.418 56.471 12.624 302.972 86.800 42.337 33.339 6
21,75 83.288 61.173 16.682 400.373 60.010 41.175 37.426 5
22,25 62.395 54.684 17.360 416.651 79.755 43.101 57.981 5
22,75 33.728 40.797 20.128 483.073 91.786 54.011 67.468 6
23,25 41.990 44.004 18.578 445.884 109.374 62.061 55.658 8
23,75 28.755 38.719 20.929 502.307 79.645 56.120 61.588 8
24,25 59.943 44.130 17.597 422.322 72.643 53.693 78.603 1.
24,75 48.851 29.845 23.598 566.341 85.598 45.532 63.520 1.
25,25 37.709 20.046 22.067 529.618 68.466 68.341 50.806 9
25,75 18.331 5.503 11.953 286.882 112.427 72.791 39
20.615 5
26,25 10.002 2.184 10.342 248.206 96.976 48.907 19.189 3
26,75 5.328 7.314 5.120 122.868 72.132 47.637 23.303 7
27,25 2.658 1.782 7.489 179.725 80.207 78.141 6.183 5
27,75 1.014 11.737 5.034 120.825 46.385 70.664 9.834 4
28,25 1.656 3.380 2.249 53.967 53.223 54.196 10.415 5
28,75 5.970 2.672 1.552 37.254 30.323 51.882 10.415 4
29,25 445 1.117 26.804 22.895 34.636 1
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 31-40

Lampiran 2. Frekuensi panjang ikan layang biru dari perairan Kendari


Appendix 2. Length frequency distribution of scad from Kendari waters

Mid Maret Agus- Sep- Okto- Nopem- Desem- Januari Peb-


April Mei Juni Juli
length 2009 tus tember ber ber ber 2010 ruari
14,25 869
14,75 2.599
15,25 1.633 3.459
15,75 1.633 11.808
16,25 0 2.079 7.998
16,75 7.917 2.258 21.554
17,25 20.026 4.192 20.855
17,75 14.770 676 22.355
18,25 12.880 2.079 33.588 2.577
18,75 22.301 2.258 37.197 2.577 8.407
19,25 30.705 4.192 42.171 4.241 8.407
19,75 38.446 1.604 36.798 11.420 0
20,25 19.604 7.755 54.763 4.828 0
20,75 28.840 16.018 52.032 5.679 0
21,25 41.425 35.258 52.460 20.591 8.407
21,75 27.333 37.667 30.748 8.188 8.407
22,25 36.152 47.538 22.449 26.054 0
22,75 31.813 31.295 20.291 6.744 10.872
23,25 61.083 47.649 11.415 19.303 0 4.190 5.347 3.294 66.874
23,75 40.241 29.353 26.803 15.617 24.653 4.190 0 0 0 803
24,25 36.645 29.791 11.965 22.990 156.077 4.190 0 0 0 0
24,75 33.239 37.694 15.849 40.352 208.983 19.968 9.155 4.768 96.799 1.672 0
25,25 40.760 28.965 8.519 47.082 167.313 8.380 35.036 24.112 489.481 7.513 3.255
25,75 35.537 18.369 4.379 47.921 55.518 20.949 15.272 8.973 182.148 17.468 2.408
26,25 14.010 12.437 3.372 52.268 185.630 31.557 63.738 34.194 694.146 23.888 4.113 2.369
26,75 10.034 14.598 689 56.463 256.988 40.205 57.201 37.640 764.099 23.598 5.699 4.996
27,25 7.005 4.880 689 63.953 290.185 36.015 68.410 62.042 1.259.450 30.879 20.733 11.942
27,75 1.977 4.614 689 47.119 113.579 45.865 74.587 38.143 774.298 25.216 21.471 11.580
28,25 7.016 839 48.835 136.215 68.144 131.235 99.374 2.017.294 27.678 20.327 18.444
28,75 1.000 419 62.182 121.227 66.978 79.796 78.599 1.595.553 21.870 12.739 15.315
29,25 988 419 49.715 334.579 104.628 70.383 69.650 1.413.886 22.472 8.556 11.685
29,75 4.953 38.854 310.751 75.522 54.322 35.664 723.974 20.254 13.992 9.944
30,25 988 26.302 143.809 114.746 36.382 34.066 691.548 24.580 7.380 10.996
30,75 22.531 99.914 84.392 25.367 17.533 355.925 28.693 9.175 11.196
31,25 7.479 0 77.157 32.620 33.844 687.025 11.537 4.852 5.733
31,75 6.188 12.161 5.944 9.215 187.056 5.182 2.906

40
Proporsi Udang dan Hasil Tangkapan ........ Pukat Udang di Sub Area Laut Arafura (Sumiono, B., et al.)

PROPORSI UDANG DAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN


PERIKANAN PUKAT UDANG DI SUB AREA LAUT ARAFURA

Bambang Sumiono, Aisyah, dan Badrudin


Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-Jakarta
Teregistrasi I tanggal: 25 Nopember 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 25 Pebruari 2011; Disetujui
terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Dengan mengurangi hasil tangkapan sampingan secara sadar, nelayan udang telah ikut membantu
menjamin kesehatan, keanekaragaman dan keutuhan lingkungan perairan; meningkatkan stok udang
dengan cara mengurangi penangkapan yuwana udang; dan melindungi stok ikan dengan cara
membiarkan yuwana dan ikan dewasa lolos dari tertangkap jaring. Kajian ini membahas lebih dalam
proporsi udang dan ikan demersal pada perikanan pukat udang di Laut Arafura. Gambaran umum
masalah hasil tangkapan sampingan yang utama dalam perikanan udang di Indonesia adalah
tingginya hasil tangkapan sampingan sehingga mengurangi proporsi udang yang diperoleh. Proporsi
udang dan hasil tangkapan sampingan pada perikanan udang di Laut Arafura bervariasi baik pada sub
area ataupun tahunan. Makin tinggi proporsi hasil tangkapan sampingan, makin kecil proporsi udang
yang diperoleh. Bertentangan dengan logika umum di mana setelah hampir empat dekade eksploitasi,
ada anggapan proporsi udang terhadap ikan makin mengecil, ternyata tren persentase udang terhadap
ikan periode tahun 1982-2008 cenderung naik, sedangkan di sub area Kaimana relatif stabil
sebagaimana tampak pada tren yang hampir mendatar. Tren proporsi udang Laut Arafura periode
tahun 1982-2008 yang cenderung naik tampaknya ditopang (supported) oleh data proporsi udang dari
sub area Aru.

KATA KUNCI: proporsi udang, hasil tangkapan sampingan, sub area Aru, Kaimana, Dolak,
Laut Arafura

ABSTRACT: Shrimp and bycatch proportion in the shrimp trawl of the Arafura Sea shrimp
fisheries. By: Bambang Sumiono, Aisyah, and Badrudin

By reducing bycatch, the shrimp fishers involved intentionally in ensuring environmental health,
biodiversity, and environmental integrity; increasing shrimp stock by reducing catch of juvenile; and
protect the stock through releasing juvenile and adult fish caught by the net. This study discusses the
proportion of shrimp and demersal fish as bycatch in the Arafura Sea shrimp fisheries. The main
picture regarding bycatch in shrimp fisheries in Indonesia is that the higher level of bycatch will lead to
the decreasing percentage of shrimp in the net. The annual proportion of shrimp and bycatch in the
Arafura Sea shrimp fisheries varied in both by sub area and from year to year. The higher the
proportion of bycatch causes the lower the proportion of shrimp. Contrary with public opinion that after
more than four decades of shrimp exploitation in which proportion of shrimp in the catch becoming
smaller and smaller, in fact, the trend of shrimp percentage in the catch during 19982-2008 have been
increasing. The trend of shrimp proportion in Kaimana sub area was almost horizontal/stable, while in
the total Arafura Sea (Kaimana, Aru, and Dolak combined) was increasing. The proportion of shrimp on
demersal fish in the Arafura Sea was likely supported by the proportion of shrimp from Aru sub area.

KEYWORDS: shrimp proportion, bycatch, Aru sub area, Kaimana, Dolak, Arafura Sea
131.500 km2. Secara geografis dan pemusatan
PENDAHULUAN daerah penangkapan dapat dibagi menjadi empat
lokasi, yaitu sub area I atau kawasan kepala burung
Perikanan trawl udang secara komersial di dengan luas lebih kurang 27.500 km2 meliputi
perairan Arafura dan sekitarnya dengan perairan Selat Sele dan Teluk Bintuni; sub area II
yaitu kawasan Fak-Fak, sekitar Pulau Adi, dan
menggunakan teknik dan peralatan modern dimulai
Kaimana sampai muara Sungai Uta dengan luas
sejak tahun 1969 melalui usaha patungan antara
sekitar 24.000 km2; sub area III yang meliputi
Indonesia dengan Jepang dan dalam
kawasan sekitar Pulau Aru dengan luas 32.000 km2;
pengembangannya sudah menjadi usaha
sub area IV yang meliputi perairan Kokonao, Aika,
Penanaman Modal Dalam Negeri. Basis operasional
Mimika, Aiduna, muara Sungai Digul, dan Dolak
kapal penangkapan udang terutama terdapat di
dengan luas sekitar 48.000 km2 (Lampiran 1 dan
Sorong, Tual, Bintuni, Benjina, Merauke, dan
Tabel 1).
Kendari. Menurut Naamin (1984) daerah
penangkapan udang yang diusahakan secara
intensif di Laut Arafura seluas

___________________
Korespondensi penulis:
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur-Jakarta 14430, Telp. (021) 64711940, Fax. (021) 6402640, E-mail: rccf_office@indo.net.id 41
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 41-49

Tulisan ini disusun sebagai informasi


Perairan di kawasan barat Laut Papua relatif tambahan tentang kecenderungan (trend)
cukup tenang dan banyak muara sungai besar dan proporsi udang dan ikan (yang menjadi hasil
kecil. Perairan dengan kondisi tersebut merupakan tangkapan sampingan) pada perikanan pukat
daerah penangkapan udang. Perairan paparan Laut udang di Laut Arafura, yang dapat merupakan
Arafura yang dangkal merupakan salah satu daerah informasi tambahan bagi pemanfaatan dan
penangkapan sumber daya ikan demersal yang pengelolaannya.
paling produktif di Indonesia, karena perairan
tersebut secara regular diduga diperkaya oleh BAHAN DAN METODE
nutrient rich upwelling dari Laut Banda dan
tambahan nutrien dari sungai-sungai yang bermuara Data yang dianalisis merupakan sebagian hasil
yang berasal dari kawasan terrestrial Papua dengan survei atau penelitian yang dilakukan pada periode
hutan mangrove yang padat. Kondisi ini yang diduga tahun 1981-2008 oleh peneliti Balai Riset Perikanan
merupakan sumber kesuburan perairan Laut Arafura Laut atau Pusat Riset Perikanan Tangkap dan para
sektor Indonesia yang mengakibatkan perekayasa Balai (Besar) Pengembangan
berkembangnya populasi sumber daya ikan Penangkapan Ikan Semarang, dan sejumlah kajian
demersal termasuk sumber daya udang. referensi yang lebih bersifat desk study (Tabel 1).
Dibandingkan dengan kawasan sekeliling Laut Data tersebut pada umumnya merupakan data laju
Arafura, produktivitas primer yang tertinggi terdapat tangkap udang dari kapal-kapal penangkap
di pantai barat daya Papua (Purwanto, 2008). komersial dari sejumlah perusahaan anggota
Himpunan Pengusaha Penangkapan Udang dan
Penangkapan pada umumnya dilakukan pada data tambahan dari kapal penelitian dan kapal latih
kedalaman antara 5-40 m. Dasar perairan terdiri Sekolah Tinggi Perikanan. Sejumlah informasi
atas lumpur berpasir dan berwarna abu-abu. Di tambahan diperoleh melalui wawancara dengan
sepanjang Pantai Sele, Teluk Bintuni, dan beberapa nakhoda dan anak buah kapal pukat
Kaimana terdapat hutan mangrove yang cukup udang yang berbasis di Ambon, Tual, Sorong, dan
luas, demikian pula daerah Dolak. Penangkapan Merauke. Data tersebut diolah melalui analisis tren
udang di muara Sungai Digul dan sekitar Dolak sehingga kecenderungannya dapat diidentifikasi
dilakukan pada kedalaman antara 5-50 m. Dasar apakah naik, menurun, atau mendatar. Karena
perairan pada umumnya berlumpur, kadang- analisis tersebut hanya mengidentifikasi tren, maka
kadang terdiri atas campuran antara lumpur dan keeratan hubungan yang dicirikan oleh tingginya
pasir, di mana sering terdapat kulit kepiting dan koefisien korelasi, antara kedua parameter yang
kerang-kerangan. Warna air yang kecoklatan dianalisis tidak dilakukan. Tren yang mendatar
menunjukkan besarnya pengaruh aliran sungai. menunjukkan bahwa proporsi udang dan ikan yang
Perairan di sekitar Kepulauan Aru dasar menjadi hasil tangkapan sampingan pukat udang
perairannya agak keras, terdiri atas lumpur relatif stabil. Trend yang naik menunjukkan bahwa
campur pasir atau pasir. Di sepanjang Pantai proporsi udang cenderung naik dengan berjalannya
Kepulauan Aru pada umumnya terdapat hutan waktu dan tingkat eksploitasi, sebaliknya jika trend
mangrove. Penangkapan udang dilakukan pada tersebut menurun merupakan indikasi bahwa
kedalaman antara 5-50 m. populasi udang secara keseluruhan adalah makin
berkurang.
42
Proporsi Udang dan Hasil Tangkapan ........ Pukat Udang di Sub Area Laut Arafura (Sumiono, B., et al.)

Tabel 1. Proporsi hasil tangkapan sampingan dan udang di sub area Laut Arafura
Table 1. Bycatch and shrimp proportion in the Arafura Sea sub areas

Tahun/ Sub area/ Luas/ Rasio HTS/


2
Year Sub area Width (km ) Bycatch ratio Sumber/Sources
1992 I Bintuni 27.500 9:1 Prisantoso et al. (1992)
1993 I Bintuni 5:1 Badrudin & Karyana (1993)
1993 II Kaimana 24.000 4:1 Badrudin & Karyana (1993)
1995 II Kaimana 5:1 Nasution (1997)
1996 II Kaimana 9:1 Widodo (1997)
1997 II Kaimana 8:1 Suharyanto (1997)
1998 II Kaimana 8:1 Sumiono et al. (1998)
2001 II Kaimana 5:1 Sumiono & Wiadnyana (2008)
2002 II Kaimana 6:1 Budihardjo & Budiman (2003)
1982 III Aru 32.000 11:1 Sumiono (1982)
1991 III Aru 13:1 Widodo (1991)
1993 III Aru 12:1 Widodo (1997)
1996 III Aru 8:1 Widodo (1997)
1997 III Aru 11:1 Suharyanto (1997)
1998 III Aru 13:1 Sumiono et al. (1998)
2001 III Aru 12:1 Sumiono & Wiadnyana (2008)
2002 III Aru 4:1 Suariyoto et al. (2002)
2004 III Aru 17:1 Purnomo (2004)
2008 III Aru 6:1 Sumiono & Hargiyatno (2009)
1982 IV Dolak 48.000 18:1 Sumiono (1982)
1982 IV Dolak 19:1 Naamin & Sumiono (1983)
1985 IV Dolak 21:1 Rusmadji & Soselisa (1985)
1993 IV Dolak 12:1 Badrudin & Karyana (1993)
2006 IV Dolak 12:1 Anonimous (2006)
2008 IV Dolak 12:1 Sumiono & Hargiyatno (2009)
Penangkapan ikan trawl relatif merupakan metode
penangkapan yang tidak selektif, karena besarnya
HASIL DAN BAHASAN
volume hasil tangkapan sampingan yang tertahan
dalam kantong jaring yang terdiri atas ratusan jenis
Hasil Tangkapan Sampingan (Bycatch)
(species). Pada perikanan industri yang besar hasil
tangkapan sampingan ini dibuang (discarded)
Dalam arti luas, hasil tangkapan sampingan adalah
kembali ke laut. Pada perikanan skala kecil hasil
semua hasil tangkapan selain target penangkapan baik
tangkapan sampingan tersebut mempunyai nilai
hewan (termasuk ikan) ataupun material non hayati yang
komersial dan dapat digunakan untuk konsumsi
disebut debris. Dalam perikanan trawl udang, hasil
manusia ataupun hewan. Di Asia Tenggara dan Afrika
tangkapan sampingan dapat didefinisikan sebagai
Barat, bagian dari hasil tangkapan sampingan
segala sesuatu yang tidak diniatkan untuk tertangkap,
tersebut disebut ikan rucah (trash fish). Di Australia
misalnya penyu, ikan, kepiting, cucut, pari, bongkahan
bagian hasil tangkapan yang dapat dijual tersebut
karang, tanaman air, dan debris. Hasil tangkapan
disebut byproduct (Eayrs, 2007).
sampingan juga termasuk hewan-hewan dan material
non hayati yang berinteraksi dengan alat tangkap tapi
Permasalahan Hasil Tangkapan Sampingan
tidak sampai naik ke dek kapal, seperti karang (coral)
dan tanaman air (weed) yang disapu oleh tali ris bawah
Masalah hasil tangkapan sampingan yang utama
serta ikan-ikan kecil yang terjerat oleh jaring. Interaksi
dalam perikanan udang di Indonesia adalah tingginya
tersebut walaupun berlangsung hanya sekejap tapi
tingkat hasil tangkapan sampingan yang dibuang
merupakan penyebab mortalitas (kematian) yang tidak
(discard) dari industri perikanan udang di Laut Arafura,
diperhitungkan. Hasil tangkapan sampingan yang seperti
dampak buruk secara biologis dari perikanan udang
ini belum diteliti secara memadai. Jika tidak
skala kecil, langkah-langkah yang memadai untuk
diperhitungkan akan bertentangan dengan kaidah
mengurangi masalah hasil tangkapan sampingan dan
perikanan yang berlanjut (sustainable fisheries) dan
kesulitan penegakkan hukum terkait dengan peraturan
dapat merupakan ancaman bagi kesehatan ekosistem.

43
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 41-49

Menurut sumber-sumber dari pihak industri, suatu


hasil tangkapan sampingan. Dalam kajiannya, kebiasaan bagi pukat udang Arafura untuk
Kelleher (2005) vide Gillett (2006), memberikan menghentikan penggunaan bycatch reduction device
komentar tentang hasil tangkapan sampingan yang pada sekitar 10 hari menjelang akhir trip penangkapan,
dibuang, kecuali Laut Arafura perikanan trawl udang sehingga para anak buah kapal dapat memperoleh ikan
di sebagian besar Asia Tenggara telah sepakat untuk keperluan konsumsi dan untuk dijual. Langkah-
bahwa laju hasil tangkapan sampingan yang dibuang langkah lain yang menyarankan untuk menurunkan laju
adalah sekitar 1%, suatu jumlah yang oleh para ahli pembuangan hasil tangkapan sampingan di Arafura
dianggap insignificant. Perikanan trawl udang Laut antara lain mengharuskan memperbesar mata jaring,
Arafura telah membuang sekiar 80% dari hasil mengembangkan bentuk bycatch reduction device yang
tangkapan total yang jumlahnya sekitar 230.000 memadai, penegakan hukum yang lebih ketat untuk
ton/tahun. Walaupun telah diintroduksikan alat melarang pengoperasian pukat udang di kawasan
pemisah hasil tangkapan sampingan (bycatch pantai, mengingkatkan penggunaan kapal induk untuk
exclusion devices), total hasil tangkapan sampingan mengumpulkan hasil tangkapan sampingan di laut dan
yang dibuang masih tinggi, karena lemahnya mengurangi upaya penangkapan.
penegakan hukum dari peraturan yang ada dan tidak
adanya pasar setempat yang dapat menyerap hasil
tangkapan sampingan tersebut. Sebagaimana Proporsi Udang dan Ikan
diketahui bahwa kegiatan perikanan udang tersebut
terletak sangat jauh dari pusat-pusat pemukiman. Pengoperasian trawl udang di Laut Arafura
berpengaruh terhadap rasio ikan sebagai hasil
Pada tahun 2001 Komisi Nasional Pengkajian tangkapan sampingan terhadap hasil tangkapan
Sumber Daya Ikan memberikan informasi tambahan udang. Semakin banyak jumlah armada trawl yang
tentang Laut Arafura di mana hasil tangkapan beroperasi, rasio ikan terhadap udang cenderung
sampingan yang didaratkan lebih rendah karena lebih besar. Pada tahun 1981 di mana terdapat 124
beberapa faktor operasional dan kondisi sosio kapal pukat udang yang beroperasi di Laut Arafura,
ekonomi setempat. Faktor operasional tersebut memberikan rasio hasil tangkapan sampingan
antara lain kecilnya ukuran kapal (sehingga tidak terhadap udang di daerah Dolak dan Aru cukup tinggi,
cukup ruangan untuk menyimpan hasil tangkapan yaitu sekitar 19:1 di mana 95% di antaranya tidak
sampingan), waktu yang diperlukan dalam dimanfaatkan (Naamin & Sumiono, 1983). Pada
penanganan hasil tangkapan sampingan dan waktu tahun 1991 rasio tersebut berkisar antara 8:1 sampai
berlayar yang singkat antara daerah penangkapan 13:1 (Widodo, 1991; Badrudin & Karyana, 1993).
dan tempat pendaratan (Ambon, Sorong). Faktor Pada tahun 1991 jumlah kapal penangkap ikan yang
sosial ekonomi antara lain rendahnya harga ikan hasil mendapat ijin beroperasi di Laut Arafura sekitar 250
tangkapan sampingan di pasar lokal dan tingginya buah. Penelitian pada bulan Oktober sampai
biaya penyimpanan dan pengangkutan, padahal Nopember 1992 di sub area Sele dan Bintuni
jumlahnya dapat mencapai lebih dari 300.000-an ton/ diperoleh rasio hasil tangkapan sampingan terhadap
tahun (Purbayanto et al., 2004). Dari tahun 1999 udang 9:1 (Prisantoso et al., 1992). Sementara hasil
sampai saat ini jumlah ikan yang dibuang (discarded observasi pada tahun 2000 di perairan Aru
catches) dan hasil tangkapan yang tidak dilaporkan memberikan rasio 12:1 (Sumiono et al., 2001).
(misreported) cenderung menurun (Wagey et al., Rangkuman proporsi hasil tangkapan sampingan
2009). terhadap udang menurut sub area disajkan pada
Tabel 1. Dari tabel tersebut tampak bahwa proporsi
Keputusan Presiden Nomor 85 Tahun 1982 hasil tangkapan sampingan yang tinggi terdapat di
mensyaratkan bahwa alat pemisah hasil tangkapan sub area Dolak, yaitu perairan meliputi muara Sungai
sampingan digunakan pada pukat udang. Dalam Digul, perairan Pantai Aika, Mimika, dan Agats.
keputusan tersebut juga dikatakan bahwa hasil
tangkapan sampingan tersebut diserahkan kepada Berdasarkan atas data proporsi hasil tangkapan
perusahaan milik pemerintah. Kapal pukat udang di Laut sampingan tersebut (Tabel 1), proporsi udang terhadap
Arafura diharuskan untuk memasang alat untuk ikan (hasil tangkapan sampingan) disajikan pada Tabel
melepaskan penyu (turtle excluding devices) dan surat 2. Proporsi udang dan ikan di perairan Laut Arafura
Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Nomor 868/ periode tahun 1982-2008 tampak bervariasi, sesuai
Kpts/IK.340/II/2000 mensyaratkan agar alat untuk dengan lokasi daerah penangkapan. Di perairan Aru
mengurangi hasil tangkapan sampingan (bycatch proporsi udang tertinggi dalam hasil tangkapan 20% dari
reduction device) dipasang pada kapal pukat udang. total hasil tangkapan terjadi pada tahun 2002

44
Proporsi Udang dan Hasil Tangkapan ........ Pukat Udang di Sub Area Laut Arafura (Sumiono, B., et al.)
tersebut untuk sub area Aru, Kaimana, dan Dolak
periode tahun
dan yang terendah 5,6% terjadi pada tahun
2004. Di perairan Kaimana proporsi tertinggi
20% terjadi pada tahun 1993 dan terendah
10% terjadi pada tahun 1996. Di sub area
Dolak proporsi yang tinggi hanya 7,7% dan
yang terendah sekitar 4,5%. Tinggi rendahnya
proporsi udang di ketiga sub area tersebut
mencerminkan proporsi udang di perairan
Laut Arafura. Kisaran yang lebar dari proporsi
udang tersebut terjadi di sub area perairan
Aru, yaitu pada 5,6-20%. Proporsi yang relatif
terdapat di sub area Kaimana sedangkan
yang terendah terjadi di sub area Dolak.

Tabel 2. Proporsi udang (%) pada perikanan


pukat udang di sub area Laut
Arafura periode tahun 1982-
2008
Table 2. Proportion of shrimp (%) in the
shrimp trawl fisheries in the
Arafura Sea sub areas 1982-
2008

Aru Kaimana Dolak Total Arafura


1982 8,33 - 5,13 6,73
1985 - - 4,55 4,55
1991 7,14 - - 7,14
1993 7,69 20,00 7,69 11,79
1995 - 16,67 - 16,67
1996 11,11 10,00 - 10,56
1997 8,33 11,11 - 9,72
1998 7,14 11,11 - 9,13
2001 7,69 16,67 - 12,18
2002 20,00 14,29 - 17,14
2004 5,56 - - 5,56
2006 - - 7,69 7,69
2008 14,29 - 7,69 10,99
Jumlah 97,29 99,84 32,75 129,85
Rata-rata (%) 9,7 14,3 6,6 10,0

Tingginya proporsi udang di sub area Kaimana


tersebut diduga terkait dengan kondisi lingkungan
pantai yang subur. Sebagaimana dikatakan oleh
Naamin & Sumiono (1983) suburnya perairan di
sekitar Kaimana, Teluk Bintuni, dan Kepala Burung
ditopang oleh luasnya kawasan mangrove serta
banyaknya muara sungai besar dan kecil yang
bermura ke daerah tersebut. Dari rata-rata
persentase udang pada masing-masing sub area
Laut Arafura periode tahun 1982-1008, tampak
bahwa proporsi udang tertinggi 14,3% terjadi di
sub area Kaimana dan yang terendah 6,6% di sub
area Dolak (Tabel 2).

Tren Proporsi Tahunan Udang dan Ikan


Demersal

Mengacu kepada data proporsi udang (Tabel


1), telah dilakukan analisis tren dari proporsi
1982-2008. Tampak bahwa, kecuali di sub signifikan pada satu dekade terakhir ini.
area Kaimana yang menunjukkan tren yang Perbedaan yang ada terjadi pada komposisi
hampir mendatar, sub area Aru dan Dolak hasil tangkapan udang tahunan (Badrudin et al.,
menunjukkan tren yang relatif sama yaitu 2002). Hal ini diduga terkait dengan adanya
cenderung naik. Demikian juga halnya dengan fenomena interaksi jenis (species interaction)
tren proporsi udang dari gabungan ketiga sub yang terjadi dalam komunitas udang-demersal.
area Laut Arafura tampak cenderung naik Dari fenomena interaksi tersebut tampak bahwa
(Gambar 1). kelompok udang lainnya (krosok) yaitu
kelompok udang berukuran kecil diduga
Tren proporsi udang Laut Arafura periode tahun memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap
1982-2008 yang cenderung naik tampaknya tekanan penangkapan dibandingkan dengan
ditopang (supported) oleh data proporsi udang dari udang jerbung (Penaeus merguiensis) atau
sub area Aru. Kondisi tersebut tampak udang windu (Penaeus semisulcatus, Penaeus
bertentangan dengan pendapat umum yang monodon).
mengatakan bahwa proporsi hasil tangkapan
sampingan perikanan udang cenderung makin naik Perairan paparan Laut Arafura yang dangkal
dari tahun ke tahun atau dengan kata lain proporsi merupakan salah satu daerah penangkapan yang
udang cenderung menurun. Gambar tersebut paling produktif di Indonesia, karena perairan
menunjukkan suatu keadaan yang sebaliknya di tersebut secara regular diduga diperkaya oleh
mana secara umum tren proporsi udang pada nutrient rich upwelling dari Laut Banda dan
perikanan pukat udang di Laut Arafura cenderung tambahan nutrien dari sungai-sungai yang
naik. bermuara yang berasal dari kawasan terrestrial
Papua dengan hutan mangrove yang padat.
Naiknya proporsi udang dan ikan demersal Dibandingkan dengan kawasan sekeliling Laut
tersebut ternyata ditunjang oleh proporsi Arafura, produktivitas primer yang tertinggi
kelompok udang lainnya (krosok) yang terdapat di pantai barat daya Papua (Purwanto,
menunjukkan yang terus naik, sebagaimana 2008). Kondisi ini yang diduga merupakan pemicu
disajikan dalam Census of Marine Life (Wagey & suburnya perairan Laut Arafura sektor Indonesia
Arifin, 2008). Dari referensi lain diperoleh yang mengakibatkan berkembangnya populasi
informasi bahwa secara agregat estimasi sumber daya ikan demersal (Badrudin & Aisyah,
maximum sustainable yield perikanan udang di 2009), termasuk sumber daya udang.
Laut Arafura tidak menunjukkan perbedaan yang

45
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 41-49

Gambar 1. Tren persentase tahunan udang periode tahun 1982-2008 di sub area Laut Arafura.
Figure 1. Annual trend of shrimp proportion (%) in the Arafura Sea sub areas 1982-2008.

KESIMPULAN PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan kontribusi dari
1. Proporsi udang dan hasil tangkapan kegiatan hasil riset kebijakan pemanfaatan hasil
sampingan pada perikanan udang di Laut tangkapan sampingan perikanan udang di Laut
Arafura tampak bervariasi baik menurut sub Arafura, T. A. 2009, di Pusat Penelitian
area ataupun waktu (tahunan). Makin tinggi Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber
proporsi hasil tangkapan sampingan, makin Daya Ikan-Ancol, Jakarta. Penulis mengucapkan
kecil proporsi udang yang diperoleh. terima kasih kepada Kepala Pusat Penelitian
Pengelolaan Perikanan dan Korservasi Sumber
2. Bertentangan dengan logika umum di mana Daya Ikan atas dukungan moral dan material
setelah hampir empat dekade eksploitasi ada sampai terwujudnya tulisan ini.
anggapan proporsi udang terhadap ikan makin
mengecil, ternyata tren persentase udang DAFTAR PUSTAKA
terhadap ikan periode tahun 1982-2008
cenderung naik, sedangkan di sub area Kaimana Anonimus. 2006. Riset pengkajian stok sumber daya
relatif stabil sebagaimana tren yang hampir ikan, oseanografi perikanan, dan sistem perikanan
mendatar. di Laut Halmahera, Banda, dan Arafura. Laporan
Survei Lapangan. (Tidak Dipublikasikan).
3. Tren proporsi udang Laut Arafura periode tahun
1982-2008 yang cenderung naik tampaknya Badrudin & Karyana. 1993. Proporsi dan
ditopang (supported) oleh data proporsi udang komposisi hasil tangkap sampingan pukat
dari sub area Aru. Dari fenomena interaksi tampak udang di perairan Maluku, Irian Jaya. Jurnal
bahwa kelompok udang krosok yang berukuran Penelitian Perikanan Laut. 79: 14-23.
kecil diduga memiliki daya tahan yang lebih tinggi
terhadap tekanan penangkapan dibandingkan
dengan udang jerbung atau udang windu.
46
Proporsi Udang dan Hasil Tangkapan ........ Pukat Udang di Sub Area Laut Arafura (Sumiono, B., et al.)
Nasution, C. 1997. Highlight of shrimp trawling in the
Badrudin, B. Sumiono, & N. Wirdaningsih. 2002. Arafura Sea: Fleet, shrimp catch, and export in
Laju tangkap, hasil tangkapan maksimum
(maximum sustainable yield) dan upaya
optimum perikanan udang di perairan Laut
Arafura. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia. 8 (4): 23-30.

Budihardjo, S. & Budiman. 2003. Laju tangkap


udang dan ikan demersal di Laut Arafura,
bulan Agustus 2003. Laporan Observasi
pada Kapal Komersial. Balai Riset
Perikanan Laut. Jakarta. (Tidak
Dipublikasikan).

Badrudin & Aisyah. 2009. Separate stock of red


snapper exploitation and management in the
Indonesian sector of the Arafura Sea.
Indonesian Fisheries Research Journal. 15
(2) December: 81-88.

Badrudin, B. Sumiono, Wedjatmiko, Aisyah, S.


Triharyuni, I. T. Hargiyatno, H. H. Latief, R. T.
Mahulete, P. S. Sulaeman, & R. F.
Anggawangsa. 2009. Kebijakan
pemanfaatan hasil tangkapan sampingan
perikanan udang di Laut Arafura. Laporan
Akhir. Pusat Riset Perikanan Tangkap.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan dan Perikanan. (Tidak
Dipublikasikan). 57 pp.

Eayrs, S. 2007. A Guide to Bycatch Reduction


in Tropical Shrimp Trawl Fisheries. Food and
Agriculture Organization-UN. 110 pp.

Gillett, R. 2006. An overview of shrimp fishing


in Indonesia. Food and Agriculture
Organization Project on Global Shrimp
Studies. Unpublished. 27 pp.

Prisantoso, B. I., B. Sumiono, & Sarjana. 1992.


Penelitian potensi udang dan hasil tangkap
sampingan di perairan Maluku dan Irian
Jaya. Laporan Penelitian. Balai Penelitian
Perikanan Laut. (Tidak Dipublikasikan). 15
pp.

Naamin, N. & B. Sumiono. 1983. Hasil


sampingan (bycatch) pada penangkapan
udang di Laut Arafura dan sekitarnya.
Laporan Penelitian Perikanan Laut. 24: 45-
55.

Naamin, N. 1984. Dinamika populasi udang


jerbung (Penaeus merguiensis de Man) di
perairan Arafura dan alternatif
pengelolaannya. Disertasi Doktor. Fakultas
Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. 281
pp.
1995-1996. Paper in Program of Food Rusmadji, R. & Y. Soselisa. 1985. Laporan Survei
and Agriculture Organizations dengan K. M. Bawal Putih II di Perairan Irian
Cooperative Research Network in Asia Jaya, Bulan Maret sampai Mei 1985. Sub Balai
and Indian Ocean Region on Selective Penelitian Perikanan Laut. Semarang. (Tidak
Tropical Shrimp Trawling. Res. Inst. For dipublikasikan).
Mar. Fish. (Unpublished).
Sumiono, B. 1982. Survei udang dengan K. M.
Purnomo, A. 2004. Laporan Survei Binama VIII di perairan Arafura, bulan
Kegiatan September 1982.
Produktivitas Kapal Pukat Udang di Laut Laporan Survei Balai Penelitian Perikanan
Arafuru, Laut.
Bulan Juni sampai Juli 2004. (Tidak Diterbitkan). 12 pp.
Balai
Pengembangan Penangkapan Ikan Suharyanto. 1997. Laporan Survei Pengamatan
Semarang. Sumber Daya Perikanan Demersal
(Tidak Dipublikasikan). Menggunakan K. M. Bawal Putih II di Perairan
Kawasan Timur Indonesia (Bulan Januari
Purbayanto, A., S. H. Wisudo, J. Santoso, R. I. sampai Juli 1997). Balai Besar
Wahyu, Dinarwan, Zulkarnain, Pengembangan Penangkapan Ikan.
Sumintohadi, A. D. Nugraha, D. A. Semarang. (Tidak Dipublikasikan).
Soeboer, B. Pramono, A. Marpaung, & M.
Riyanto. 2004. Pedoman Umum Sumiono, B., T. S. Soselisa, & Murtoyo. 1998.
Perencanaan Pengelolaan dan Survei Laju Tangkap Udang dan Ikan
Pemanfaatan Hasil Tangkap Sampingan Demersal dengan K. M. Bawal Putih II di Laut
Pukat Udang di Laut Arafura, Provinsi Arafura, Sub Area Kaimana dan Aru (Bulan
Papua. Dinas Perikanan dan Kelautan. Agustus sampai September 1997). Balai
Provinsi Papua. Sucofindo. 68 pp. Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. (Tidak
Dipublikasikan).
Purwanto. 2008. Resource rent generated in
the Arafura shrimp fishery. A Report of a Sumiono, B., T. S. Murtoyo, Y. Soselisa, & M.
Case Study Submitted to the FAO/World Rijal. 2001. Survei Laju Tangkap dan
Bank PROFISH-Funded Project the Rent Kepadatan Stok Udang dan Ikan Demersal di
Drain Study November 2008. 29 pp. Laut Arafura dengan Armada Komersil.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. (Tidak
Dipublikasikan). 26 pp.

47
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 41- Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 63:
49 43-49.

Suariyoto, Y., A. Sumitro, Budihardjo, L.


Madrah, & E. Alves. 2002. Identifikasi dan
Pemetaan Sumber Daya Perikanan
Demersal di Laut Arafura. (Tidak
Dipublikasikan).

Sumiono, B. & N. N. Wiadnyana. 2008. Hasil


Tangkap Sampingan (Bycatch) pada
Penangkapan Udang Komersil di Laut
Arafura. Masyarakat Perikanan Nusantara.

Sumiono, B. & I. T. Hargiyatno. 2009.


Kebijakan pemanfaatan hasil tangkapan
sampingan perikanan udang di Laut
Arafura. Laporan Survei Lapangan. (Tidak
Dipublikasikan).

Widodo. 1991. Bycatch assessment of the


shrimp fishery in the Arafura Sea and its
adjacent waters.
Ministry of Marine Affairs and Fisheries.
Indonesian Institute of Sciences. United Nation
Widodo, 1997. Laporan Survei Pengamatan
Development Programme. Census of Marine
Sumber Daya Perikanan Demersal
Life. 136 pp.
Menggunakan K. M. Bawal Putih II di Perairan
Kawasan Timur Indonesia (Bulan Nopember
Wagey, G. A., S. Nurhakim, V. P. H. Nikijuluw,
1995 sampai April 1996). BPPI. Semarang.
Badrudin, & T. J. Pitcher. 2009. A Study of
(Tidak Dipublikasikan).
Illegal, Unreported and Unregulatd Fishing
Wagey, G. A. & Z. Arifin (Eds). 2008. Marine
in the Arafura Sea. RCCF.AMFR. MMAF.
Biodiversity Review of the Arafura and Timor
54 pp.
Seas.

48
Proporsi Udang dan Hasil Tangkapan ........ Pukat Udang di Sub Area Laut Arafura (Sumiono, B., et al.)

Lampiran 1. Peta daerah penangkapan udang di Laut Arafura


Appendix 1. Map of fishing ground for shrimp in the Arafura Sea

49
Komposisi dan Kelimpahan Stok ..... Saleh, Nusa Tenggara Barat (Mujiyanto & S.T. Hartati)

KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN STOK IKAN KARANG


SERTA PERTUMBUHAN BIOTA PENEMPEL PADA TERUMBU KARANG BUATAN
DI TELUK SALEH, NUSA TENGGARA BARAT

Mujiyanto1) dan Sri Turni Hartati2)


1)
Peneliti pada Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan, Jatiluhur-Purwakarta
2)
Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-
Jakarta Teregistrasi I tanggal: 18 Juni 2010; Diterima setelah perbaikan tanggal: 28 Januari 2011;
Disetujui terbit tanggal: 9 Pebruari 2011

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober dan Desember 2005 pasca pemasangan terumbu
karang buatan pada bulan Mei 2005 di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan stok ikan karang dan komposisi jenisnya serta
pertumbuhan biota penempel di terumbu karang buatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenis
ikan yang teridentifikasi selama pengamatan 121 jenis, dengan jumlah jenis bervariasi menurut waktu
dan lokasi antara 18-46 jenis. Kelimpahan stok ikan berkisar antara 4-36 ekor/m 2. Pada bulan Oktober
2005 organisme penempel yang ditemukan yaitu teritip dalam jumlah sedang, turf algae dan coralline
algae dalam jumlah yang tinggi pada setiap unit terumbu, sedangkan pada bulan Desember 2005
ditemukan jenis-jenis biota penempel pada ke empat unit terumbu karang buatan hampir sama, terdiri
atas 12-18 jenis/terumbu karang. Komunitas biota penempel yang merupakan salah satu indikator
perkembangan terumbu karang buatan yaitu jenis Enteromorpha clathrata menutupi hampir 95%
seluruh luasan permukaan terumbu.

KATA KUNCI: terumbu karang buatan, pemulihan, sumber daya, ikan, Teluk Saleh

ABSTRACT: Composition and abundance of fish stock of bio fouling and growth in artificial
reefs of the Teluk Saleh, West Nusa Tenggara. By: Mujiyanto and Sri Turni
Hartati

The study was conducted in October and December 2005 after the seltlement of artificial reefs in
May 2005 in the waters of Teluk Saleh, West Nusa Tenggara. The aim of the study is to investigate
abundance of reef fish stocks and species composition and growth of bio fouling. The results showed
that the fish species identified during the observation is 121 species, with the number of species varies
between 18-46 species according to time and location. Abundance of fish stocks ranged between 4-36
ind./m2. In October 2005 bio fouling organisms found are barnacles in artificial reef relatively moderate,
turf algae, and coralline algae in a high amount on each unit of coral, while in December 2005 found
the bio fouling organism on with relatively same artificial reef, 12-18 species/unit. Community as an
indicator of the development of artificial reefs i.e. Enteromorpha clathrata cover almost 95% of the
entire area of the reef surface.

KEYWORDS: artificial reefs, recovery, resources, fish, Teluk Saleh


perubahan lahan yang dapat meningkatkan pasokan
PENDAHULUAN sedimen pada daerah terumbu karang. Kerusakkan
terumbu karang juga diakibatkan oleh tekanan fisik
Terumbu karang mempunyai hubungan yang erat yang disebabkan oleh pengambilan karang, tingkat
dengan keanekaragaman spesies ikan-ikan karang. penyelaman yang tinggi, dan aktivitas kapal (Salvat,
Salah satu penyebab tingginya keragaman spesies di 1987 dalam Gitting, 1992). Seperti terjadinya degradasi
terumbu adalah karena adanya variasi habitat yang lingkungan akan semakin meningkat dengan adanya
terdapat di terumbu karang tersebut. Terumbu karang polusi dari industri (Burke et al., 2002).
tidak hanya terdiri atas karang, tetapi juga daerah
berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah algae, dan Permasalahan utama yang dapat menyebabkan
juga perairan yang dangkal dan dalam daerah-daerah degradasi terumbu karang adalah akibat pengelolaan
yang berbeda di antara karang (Nybakken, 1982). pantai dan daerah hulu yang kurang baik sehingga
Dewasa ini ekosistem terumbu karang mulai terancam tingginya tingkat sedimentasi yang masuk ke perairan
dengan banyaknya tekanan dari aktivitas di daratan, dan menutupi terumbu karang. Melihat kondisi dan
seperti adanya aktivitas penebangan hutan dan

___________________
Korespondensi penulis:
Jl. Cilalawi, Purwakarta, Purwakarta 41152, E-mail: irpsi@yahoo.com dan irpsi@telkomnet.id 51
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 51-59

ikan yang berasosiasi di sekitar terumbu


status terumbu karang di Indonesia, salah satu (Rachmawati, 2001; Syarani & Agung, 2006).
rumusan kebijakkan nasional pengelolaan Kelompok ikan tersebut adalah kelompok ikan
terumbu karang adalah mengupayakan target, merupakan ikan konsumsi ekonomis tinggi
pelestarian, perlindungan, perbaikan atau yang menjadi sasaran penangkapan oleh nelayan;
rehabilitasi, dan peningkatan kondisi atau kualitas kelompok ikan indikator sebagai penciri kesuburan
ekosistem terumbu karang bagi kepentingan atau keutuhan ekologis (ecological integrity); dan
seluruh masyarakat. Salah satu upaya kelompok ikan utama, sesuai dengan perannya
menanggulangi masalah kerusakkan ekosistem dalam susunan rantai makanan atau lebih
terumbu karang di Indonesia telah dilakukan berperan dalam keseimbangan ekologis.
melalui pengembangan terumbu karang buatan.
Secara umum, diketahui bahwa terumbu karang
Pengembangan terumbu karang buatan di buatan memiliki daya afinitas yang kuat untuk menarik
Indonesia telah dirintis oleh Dinas Perikanan DKI pada kedatangan ikan-ikan karang dan ikan-ikan pelagis,
tahun 1980-1988 dengan menenggelamkan bekas yang merupakan salah satu upaya konservasi
kerangka bis dan becak. Pada tahun 1990-1993 ekosistem sumber daya hayati di wilayah pesisir dan
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap juga telah laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
mengembangkan terumbu karang buatan dengan komposisi dan kelimpahan stok ikan karang dan
bahan ban mobil di enam provinsi, yaitu Sumatera komposisi jenisnya serta pertumbuhan biota penempel
Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa di terumbu karang buatan di perairan Teluk Saleh pasca
Barat, dan Bali. Demikian pula dengan Pusat Penelitian pemasangan pada bulan Mei 2005.
dan Pengembangan Perikanan, telah mendukung
pengembangan terumbu karang buatan dengan BAHAN DAN METODE
menggunakan bahan beton berbentuk kubus berongga
yang disusun dalam formasi piramid. Waktu dan Lokasi Penelitian

Kajian dan evaluasi untuk mengukur tingkat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober
keberhasilan pemasangan terumbu karang buatan, dan Desember 2005, sedangkan pemasangan
pada umumnya berdasarkan atas komunitas yang terumbu karang buatan di lakukan di perairan Pulau
muncul pada ekosistem baru tersebut, dalam hal ini Rakit dan Pulau Genteng di perairan Teluk Saleh,
adalah ikan karang. Produksi sumber daya ikan Nusa Tenggara Barat pada bulan Mei 2005 (Gambar
tergantung pada kondisi terumbu karang, kualitas 1). Terumbu karang buatan terbuat dari bahan beton
pemanfaatan, dan pengelolaan oleh masyarakat di berbentuk kubus berongga 0,6x0,6x0,6 m, disusun
sekitarnya. Pada umumnya kelompok ikan yang dapat dalam formasi piramida, dengan satu unit piramida
dijadikan sebagai indikator adanya perubahan tersusun dari 80 kubus beton, di mana setiap lokasi
lingkungan perairan di sekitar terumbu karang, terdiri atas dua piramida.
besarnya kelimpahan dan keanekaragaman jenis-jenis

52
Komposisi dan Kelimpahan Stok ..... Saleh, Nusa Tenggara Barat (Mujiyanto & S.T. Hartati)

8.5
Kondisi karang rusak
Kondisi karang bagus
Mangrove dan padang lamun

Katapang

Dompo

8.6
Ganteng Taikabo

RAKIET
Lipan
Baloso

Santigi

Jambu
8.7
Nangapela
Liang
Jontal Labuhaji

Santong

Bonto

S U M B A W A

8.8
117.8 117.9 118 118.1

Gambar 1. Lokasi penelitian di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.


Figure 1. Map of research area in the Teluk Saleh waters, West Nusa Tenggara.

Metode Pengumpulan Data Struktur Komunitas Ikan


Perhitungan untuk menentukan kelimpahan
Data indeks kelimpahan stok ikan dan komposisi ikan karang dilakukan secara langsung dengan
jenisnya, serta identifikasi dan pencacahan biota metode transek garis pada wilayah perairan
penempel pada terumbu karang buatan diperoleh penempatan terumbu karang buatan. Rumus untuk
dengan cara pengamatan sensus visual. menentukan keanekaragaman iktiofauna
digunakan indeks keanekaragaman Shannon-
Persentase Penutupan Karang Wiener sebagai berikut (Bakus, 1990):

Nilai persentase penutupan terumbu karang s ni ni


diperoleh dari hasil pengukuran lifeform (intercept H ' log 2 ................... (2
koloni) karang dengan menggunakan formula i1 N N
(English et al., 1994):
di mana:
Li
L x100% (1 H = indeks keanekaragaman
N S = jumlah spesies
di mana: ni = jumlah individu spesies ke-i
L = persentase penutupan karang (%) N = jumlah total individu
Li = panjang intercept koloni jenis ke-i yang
dilewati garis transek Perbandingan antara keanekaragaman dan
N = panjang transek (50 m) keanekaragaman maksimum dikatakan sebagai
regularitas atau keseragaman populasi, dengan
Kisaran nilai persentase tutupan terumbu karang rumus sebagai berikut (Bakus, 1990):
didasarkan atas hasil monitoring coral for global
change oleh United Nation Environment Programme
(1993), dengan masing-masing kisaran yaitu kategori
sangat rusak (1-10%), rusak (11-30%), sedang (31-
50%), baik (51-75%), dan sangat baik (76-100%).
H'
E .. (3
H
max

53
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 51-59

dan lokasi antara 18-46 jenis dengan kelimpahan


di mana: individu ikan berkisar antara 4-36 ekor/m 2. Hasil sensul
E = indeks regularitas atau keseragaman visual yang dilakukan dengan berkonsentrasi pada
H = indeks keanekaragaman Shannon- distribusi ikan di lokasi sekitar terumbu karang buatan
Wiener sebagai habitatnya yaitu kelompok atau jenis-jenis ikan
Hmax = indeks keanekaragaman maksimum diurnal (ikan siang hari), yang mana mereka mencari
Shannon-Wiener makan dan tinggal di permukaan karang dan memakan
plankton sekitarnya. Ikan karang yang ditemukan
Rumus untuk mengevaluasi adanya dominansi selama pengamatan, jumlah jenis tertinggi dari masing-
spesies, digunakan indeks dominansi Simpson masing stasiun di sekitar unit terumbu karang buatan
sebagai berikut (Bakus, 1990): memiliki jumlah jenis yang berbeda di mana jumlah jenis
2 pada stasiun di Pulau Rakit memiliki jumlah lebih tinggi
s ni dari jenisnya pada kondisi setelah penempatan terumbu
C . (4 karang buatan dibandingkan sebelum penempatan
n1 N terumbu karang buatan yaitu sebelum penempatan pada
stasiun 1, 12 jenis (bulan Mei) dan stasiun 2 berjumlah
di mana: 19 jenis (bulan Mei). Kenaikan jumlah jenis ikan karang
C = indeks dominansi Simpson yang tersaji pada Tabel 1 diduga disebabkan adanya
ni = jumlah individu spesies ke-i perbedaan lingkungan yang berpengaruh terhadap pola
N = jumlah total individu hidup dari komunitas ikan di sekitar unit terumbu karang
S = jumlah spesies buatan Pulau Rakit. Hasil pengamatan terhadap jumlah
jenis ikan di Pulau Ganteng pada stasiun 4 memiliki
HASIL DAN BAHASAN perbedaan jenis dibandingkan dari ketiga stasiun yang
lain, dengan jumlah jenis sebelum dan sesudah
Komunitas Ikan Karang penempatan unit terumbu karang buatan memiliki
perbedaan dari jumlah jenis ikan di perairan sekitar
Hasil sensus visual dan identifikasi ikan pada terumbu karang buatan (Tabel 1).
setiap lokasi dan waktu disajikan pada Tabel 1. Jenis
ikan yang teridentifikasi selama pengamatan 121
jenis, dengan jumlah yang bervariasi menurut waktu

Tabel 1. Komunitas ikan karang di sekitar terumbu karang buatan selama penelitian di perairan Teluk
Saleh, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 2005
Table 1. Reef fish communities around the artificial reefs for aquatic research in the Teluk Saleh, West
Nusa Tenggara in 2005

Pulau Rakit Pulau Ganteng


Kategori/Category Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
1* 2** 3*** 1* 2** 3*** 1* 2** 3*** 1* 2** 3***
Jumlah jenis (spesies) 32 25 20 29 22 25 46 26 28 18 22 27
Jumlah individu (ekor) 379 554 1.123 99 1.229 3.112 1.947 1.186 1.309 106 1.335 3.583
Keterangan/Remarks:* = sebelum pemasangan terumbu karang buatan (bulan Mei 2005); ** = setelah pemasangan terumbu
karang buatan (bulan Oktober 2005); *** = setelah pemasangan terumbu karang buatan (bulan Desember
2005)

Jenis komunitas ikan karang yang ditemukan


memilki perbedaan jumlah individu yang cukup
signifikan, di mana rata-rata jumlah kehadiran individu
setelah penempatan unit terumbu karang buatan
memilki perbedaan yang cukup tinggi (Tabel 1). Hal ini
diduga bahwa lingkungan sekitar habitat terumbu
karang terdapat indikasi adanya hubungan antara
kelimpahan maupun keragaman spesies ikan dengan
ekosistem terumbu karang (Risk, 1972). Selanjutnya
dikatakan juga bahwa daerah yang mempunyai
keragaman terumbu karang lebih banyak, maka akan ekosistem terumbu karang sangat menentukan pola
bervariasi pula jenis ikannya. Dengan asumsi lain, distribusi dan kelimpahan organsime laut, karena ikan
bahwa semakin kompleks habitat (terumbu karang) dapat dijadikan sebagai indikator kestabilan pada
akan memberikan relung ekologi yang lebih banyak bagi masing-masing tipe ekosistem.
organisme laut yang berasosiasi. Tingkat kesamaan

54
Komposisi dan Kelimpahan Stok ..... Saleh, Nusa Tenggara Barat (Mujiyanto & S.T. Hartati)

Tabel 2. Nilai indeks biologi komunitas ikan karang di sekitar terumbu karang buatan selama penelitian di
perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 2005
Table 2. Indeks of biology reef fish communities around the artificial reefs in the Teluk Saleh, West Nusa
Tenggara in 2005 year

Pulau Rakit Pulau Ganteng


Indeks/
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
Index
1* 2** 3*** 1* 2** 3*** 1* 2** 3*** 1* 2** 3***
- H/Keanekaragaman 2,52 1,92 0,90 2,80 1,22 1,33 1,87 1,58 1,75 2,63 1,35 0,97
- E/Keseragaman 0,73 0,59 0,30 0,83 0,39 0,41 0,49 0,49 0,52 0,91 0,39 0,29
- C/Dominans 0,131 0,261 0,658 0,80 0,426 0,396 0,382 0,284 0,274 0,87 0,510 0,553
Keterangan/Remarks:* = sebelum pemasangan terumbu karang buatan (bulan Mei 2005); ** = setelah pemasangan terumbu
karang buatan (bulan Oktober 2005); *** = setelah pemasangan terumbu karang buatan (bulan Desember
2005)
populasi biota yang dapat bertahan dan menjadi
Indeks keanekaragaman jenis ikan berkisar antara berkembang sehingga mendominansi komunitas
0,9-2,8. Dalam kondisi alamiah berdasarkan atas nilai biota tersebut. Hal ini berarti bahwa nilai indeks
indeks keanekaragaman di antara tiga dalam kategori dominansi akan mengalami perubahan lebih besar
sedang (Tabel 2). Keseimbangan populasi yang serasi dari nol dan mendekati satu. Nilai indeks dominansi
dan keanekaragaman yang tinggi adalah gambaran dari selama pengamatan pada stasiun terpilih tersebut di
suatu ekosistem yang stabil. Kondisi tersebut disebut atas, berkisar antara 0,08-0,65 (Tabel 2).
steady state, di mana kisaran keseimbangan dianggap
moderat dan berada pada skala 0,6-0,8. Secara umum, Komunitas Biota Penempel
kisaran keanekaragaman dikatakan dengan skala
simpson 0-1. Keanekaragaman maksimum, di mana Biota penempel pada terumbu karang buatan di
proporsi jumlah individu antar populasi sama besar, Pulau Rakit dan Pulau Ganteng mulai terlihat pada
tercapai apabila nilainya satu. Akan tetapi, pada waktu pengamatan bulan Oktober 2005. Biota
kenyataannya secara alamiah keanekaragaman penempel seperti algae hijau menutupi hampir
maksimum dapat terjadi di alam. Nilai indeks sepertiga bagian dari luasan permukaan terumbu
keanekaragaman pada stasiun pengamatan berkisar karang buatan.
antara 0,2-0,9 (Tabel 2).
Hasil pengamatan organisme penempel pada
Indeks dominansi berbanding terbalik dengan indeks bulan Oktober yaitu adanya kehadiran teritip pada
keanekaragaman di mana semakin besar prediksi nilai terumbu karang buatan dalam jumlah sedang dan
dominansi terhadap komunitas biota, berarti semakin terlihat adanya Turf algae dan Coralline algae dalam
kecil nilai prediksi terhadap nilai keanekaragaman jumlah yang tinggi pada setiap unit terumbu.
komunitas tersebut. Keanekaragaman komunitas Kehadiran algae ini melimpah berdasarkan atas
dianggap terbaik jika nilai dominansi mendekati nol dan intensitas cahaya yang diterima terhadap kedalaman
nilai terburuk jika nilainya mendekati satu. Dalam kondisi dan susunan terumbu karang buatan (Tabel 3).
lingkungan yang buruk dapat menyebabkan bahwa
hanya sebagian kecil

55
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 51-59

Tabel 3. Biota penempel di terumbu karang buatan perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat, pada
bulan Oktober 2005
Table 3. Fouling organism in the artificial reef of the Teluk Saleh waters, West Nusa Tenggara, in October
2005 year

Tanjung Bila Pulau Ganteng


No. Jenis/Species
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
1. Teritip (Balanus spp.) xx xx xx xx
2. Alga rumput (Turt algae) xxx xxx xxx xxx
3. Ganggang berkapur (Coralline sp.) xxx xxx xxx xxx
4. Ulva (iding hijau) (Enteromorpha sp.) xx xx
5. Termasuk alga hijau laut (Chaetomorpha sp.) x x
6. Termasuk jenis rumput laut (Bornetella sp.) xx xx x x
7. Termasuk jenis rumput laut (Cladophoropsis sp.) x
8. Alga merah (Rhodophyta sp.) x
9. Genus alga merah nama daerah: Bulung x
tombang iding (Lombok) (Acanthophora sp.)
10. Sponge x x
11. Ganggang (Macro algae) x x
12. Anemon (Stichodactyla sp.) x x
13. Kerang mutiara (Pteri sp.) x x x
14. Kerang bolang-baling (Trisidos sp.) x
15. Tiram bakau (Plicatula sp.) x x
16. Tiram mutiara (Pinctada sp.) x
17. Jenis siput laut (Latirus sp.) x
18. Kumbang kutu (Chirocerus sp.) x x
19. Jenis siput laut (Patelloida sp.) x x x x
20. Jenis siput laut (Cerithium sp.) x x
21. Ascidian sp. x x x x
22. Bulu babi (Echinoidea sp.) xx xx xx xx
23. Ubur-ubur (Aurelia aurita) x x x x
Keterangan/Remarks:x = kehadiran rendah; xx = kehadiran sedang (1/3 bagian permukaan); xxx = kehadiran tinggi (lebih dari 1/ 3
bagian permukaan)
pertumbuhan biota penempel selain teritip ditemukan
Penempelan biota pada unit terumbu karang buatan jenis biota yang memiliki pertumbuhan relatif cepat
di Pulau Rakit ditemukan jenis algae berbentuk benang yaitu Rhopalaea cussa dari kelas ascidian dan
(Enteromorpha) dan berbentuk balon (Bornetella) dalam pinctada margaritifera dari kelas bivalvia.
jumlah sedang, serta kehadiran dictyota yang rendah
dari golongan chlorophyta, anemon, bivalvia (pteria dan Enteromorpha clathrata adalah salah satu jenis
plitaula), gastropoda (lairus, chricoreus dan patelloida), dari kelompok algae hijau dengan kelimpahan sangat
ascidian dan ubur-ubur merupakan beberapa biota yang tinggi, menutupi semua permukaan luasan beton,
terlihat dengan kehadiran rendah, sedangkan baik pada terumbu karang buatan di Pulau Rakit
echinoderamata (bulu babi) terlihat dalam jumlah yang maupun di Pulau Genteng. Kelimpahan dan
sedang. komposisi jenis biota penempel pada terumbu karang
buatan bulan Desember 2005 disajikan pada Tabel 4.
Jenis-jenis biota penempel pada keempat unit
terumbu karang buatan memilki kesamaan yaitu Teritip pada terumbu karang buatan di Pulau Rakit
terdiri atas 12-18 jenis/unit. Dua jenis biota penempel dalam tingkatan juvenile, tampak berwarna keabu-
pada terumbu karang buatan di Pulau Rakit yang abuan, menutupi hampir semua bagian permukaan
perkembangan atau reproduksinya relatif cepat yaitu terumbu yang menghadap ke daratan. Sedangkan
teritip (Saccostrea cuccullata) dari kelas bivalvia dan teritip yang menempel pada terumbu karang buatan
turf algae (Avrainville erecta) dari kelas chlorophyta. di Pulau Genteng terlihat dalam kondisi lebih dewasa.
Unit terumbu karang buatan di Pulau Genteng

56
Komposisi dan Kelimpahan Stok ..... Saleh, Nusa Tenggara Barat (Mujiyanto & S.T. Hartati)

Tabel 4. Biota penempel pada terumbu karang buatan perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat, bulan
Desember 2005
Table 4. Bentic life pasting in the artificial reef waters of the Teluk Saleh, West Nusa Tenggara in
December 2005 year

Pulau Rakit (individu) Pulau Ganteng (individu)


No. Jenis/Species
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4
1. Jenis siput karang (Tectus niloticus) 1
2. Bintang laut (Siliquaria cumingi) 11
3. Jenis siput karang (Chicoreus torrefactus) 21 8 3
4. Kerang mutiara (Pinctada margaritifera) 31 129 3
5. Jenis siput laut (Pteria penguin) 1 2 1
6. Sejenis kerang (Saccostrea cuccullata) 172 106 75 135
7. Termasuk jenis sponge (Rhopalaea sp.) 20 3 144 58
8. Alga rumput (Lissoclinum japanicum) 2
9. Ganggang berkapur (Aplidium sp.) 7 13
10. Ganggang berkapur (Eusyntyela sp.) 9 10 4
11. Termasuk jenis sponge (Polycara aurata) 1 27 69
12. Termasuk jenis karang lunak (Dendonephtya 1 1 13
sp.)
13. Alga rumput (Protula sp.) 8
14. Karang dengan bentuk seperti cambuk 3 11 3 50
(Cirrihiphates sp.)
15. Alga rumput (Plumularia sp.) 1 1
16. Ubur-ubur (Aurelia aurita) 6 2 3
17. Bulu babi dengan duri warna hitam (Diadema 64 85 35 9
savignyi)
18. Bulu babi dengan duri warna putih 1
(Echinothrix calaramis)
19. Bintang laut (Fromia monilis) 1 2
20. Ganggang berkapur (Chathia sp.) 5 12 2
21. Alga coklat (Hyrtios erecta) 205 165 60 15
22. Kipas laut (Distichopora sp.) 10 3
Keterangan/Remarks:luas daerah per kubus terumbu karang buatan = 0,216 m 3; jumlah kubus per unit terumbu karang buatan = 80
buah; luas daerah terumbu karang buatan = 12,96 m2
kehadirannya rendah sampai sedang.
Avrainvillea erecta, dengan bentuk seperti daun dan e. Kelas Echinodermata, seperti bulu babi (Diadema
warna orange juga terlihat lebih banyak menempel pada savigyi) kehadirannya sedang dan bintang laut
sisi terumbu yang menghadap ke daratan. Rhopalaea (Fromia monilis) kehadirannya sangat rendah.
crussa adalah salah satu jenis dari kelas ascidian yang f. Kehadiran dari kelompok Caidarian rendah, jenis
berwarna orange. Pinctada margaritifera terlihat banyak yang diamati adalah soft coral (Dendronephyta
menempel di sela-sela beton terumbu karang buatan. sp.), ubur-ubur (Scyphozoa sp.), jelatang
Beberapa jenis biota penempel lain yang teramati (Plunnularia sp.), dan akar bahar (Cirripathes sp.).
dengan kehadiran rendah sampai sedang dapat
dikelompokan sebagai berikut: Menurut Sukarno (1981) biota penempel
a. Kelompok makro algae (Dictyota dichotoma), berasal dari pelekatan planula atau larva biota
terlihat di bagian dalam terumbu karang buatan yang terbawa arus dan sebagai pioneer adalah
dengan kehadiran rendah. kelompok algae yang dapat berkembang dengan
b. Pteria penguin dari kelas bivalvia dengan cepat, seperti Enteromorpha sp. adalah jenis dari
kehadiran sangat rendah. algae hijau yang dapat menentukan kehadiran
c. Kelas gastropoda atau keong, ditemukan pada biota lainnya, tanpa terganggu pertumbuhannya.
bagian terumbu yang menghadap ke daratan. Algae hijau tersebut memberikan kesempatan
Jenis-jenisnya adalah Chirocereus torrefactus, melekat untuk benih atau biota lainnya, seperti
Siliquaria cumingi, dan Tectus niloticus, dengan tertitip, ascidian, soft coral, dan algae lainnya.
kehadiran antara rendah sampai sedang.
d. Jenis lainnya dari kelas Ascidian adalah Aplidium
sp., Eusynstyela sp., dan Polycarpa aurata

57
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 51-59

sesudah penceburan terumbu karang buatan (bulan


Terumbu Karang Buatan (Artificial Reef) Oktober dan Desember 2005) dan pada waktu sebelum
sebagai Ekosistem Baru penceburan (bulan Mei 2005). Jumlah individu ikan yang
lebih banyak tersebut karena adanya sekelompok ikan
Terumbu karang buatan (artificial reef) merupakan mayor (kelompok ikan karang sejati atau ikan hias)
alternatif untuk membuat habitat baru dalam rangka dalam jumlah banyak berlindung pada terumbu karang
meningkatkan produktivitas perairan, di samping buatan. Kelompok ikan target atau ikan pangan yang
upaya preventif dan rehabilitasi untuk mengurangi hadir dalam kelompok besar hanya ekor kuning (Caesio
tingkat pengrusakan terumbu karang. Dasar dari cuning) dan ikan-ikan pasir (Scolopis sp.). Kelompok
pelaksanaan kegiatan pemasangan terumbu karang ikan target lainnya dijumpai dalam kelompok yang kecil.
buatan di perairan Teluk Saleh dikarenakan bahwa Kelompok ikan indikator yang merupakan petunjuk
kondisi terumbu karang di perairan tersebut sudah kesehatan terumbu karang dan memiliki kemampuan
mengalami banyak kerusakan, terutama pada ekonomis tinggi kehadirannya sangat rendah, seperti
perairan yang dangkal yaitu pada kedalaman kurang ikan kepe-kepe (Chaetodontidae). Menurut Nybakken &
dari 15 m. Kerusakkan terumbu karang tersebut Mackay dalam Edrus & Syam (1988), ketertarikkan ikan
akibat dari kegiatan penangkapan ikan dengan cara- kepe-kepe terhadap terumbu karang sangat kuat sekali
cara yang merusak. Kondisi terumbu karang di dan ini disinyalir karena alasan jenis makanan.
perairan pantai barat Teluk Saleh, Kabupaten Chaetodon trifascialis keberadaannya tergantung
Sumbawa Besar, persentase penutupan karang mati dengan adanya
(dead coral) mencapai kisaran antara 48,24-66,37%. Acropora confertus dan Acropora hyacinthus (Reese,
1977). Kehadiran Chaetodon baronessa merupakan
Hasil pengamatan terumbu karang alami di suatu pertanda adanya karang keras Acropora tubular
perairan Pulau Rakit dan perairan Pulau Genteng dan bercabang, karena makanan pokoknya adalah
terlihat adanya penurunan persentase tutupan karang polyp karang dari marga acropora. Untuk alasan
hidup antara bulan Mei dan Oktober 2005. Pada tersebut kehadiran Chaetodontidae di setiap stasiun
bulan Mei penutupan karang hidup di perairan Pulau pengamatan sangat rendah.
Rakit 16,25% menjadi 27,79% pada bulan Oktober.
Demikian juga dengan di perairan Pulau Genteng, Pertumbuhan biota penempel pada terumbu
terjadi penurunan persentase penutupan karang karang buatan di perairan Pulau Rakit terlihat tidak
hidup daripada bulan Mei 18,38% menjadi 38,26% berbeda dengan yang ada di terumbu karang buatan
pada bulan Oktober. Perbedaan titik pengambilan Pulau Genteng. Algae hijau (Enteromorpha clathrata)
contoh pada bulan Mei dan Oktober dengan menutupi hampir 95% permukaan terumbu karang
sendirinya ikut mempengaruhi perbedaan persentase buatan baik di Pulau Rakit maupun di Pulau Genteng.
penutupan karang hidup tersebut. Dari hasil Demikian juga dengan biota penempel lainnya yang
pengamatan kondisi terumbu karang pada bulan Mei mendominansi seperti teritip (Saccostrea cuccullata).
tersebut diperoleh ketepatan titik lokasi penempatan Dari hasil pengamatan posisi penempelan biota pada
terumbu karang buatan. terumbu karang buatan, kelihatannya yang
mempengaruhi kehadiran jenis biota penempel
Analisis hasil sensus visual ikan karang adalah cahaya dan arus selain kemampuan biota itu
menunjukkan bahwa jumlah jenis, marga, dan suku sendiri untuk hidup dan melekatkan bysusnya.
pada semua lokasi penempatan terumbu karang buatan
(Pulau Rakit dan Pulau Genteng) tergolong rendah jika KESIMPULAN
dibandingkan pada daerah terumbu karang yang sehat.
Seperti yang dikatakan oleh Dahuri (2000), bahwa pada 1. Jenis ikan yang teridentifikasi 121 jenis, dengan
terumbu karang yang sehat dapat ditemukan lebih dari jumlah yang bervariasi menurut waktu dan
200 jenis ikan karang. Hasil penelitian Edrus et al. lokasi antara 18-46 jenis dengan kelimpahan
(1992) dalam Hartati et al. (2005) di perairan Kepulauan individu ikan berkisar antara 4-36 ekor/m2.
Banda dijumpai 142-224 jenis ikan karang yang berasal
dari 33-41 suku. 2. Penempelan biota pada unit terumbu karang
buatan di Pulau Rakit ditemukan jenis algae
Jumlah jenis ikan pada waktu pengamatan sebelum berbentuk benang (Enteromorpha) dan berbentuk
penceburan terumbu karang buatan tidak menunjukkan balon (Bornetella) dalam jumlah sedang, serta
perbedaan yang berarti dengan waktu pengamatan kehadiran dictyota yang rendah dari golongan
sesudah penceburan, bahkan pada stasiun 3 Pulau chlorophyta, anemon, bivalvia (pteria dan
Genteng, jumlah jenis relatif banyak pada waktu plitaula), gastropoda (lairus, chricoreus, dan
sebelum penceburan. Sedangkan jumlah individu patelloida), ascidian dan ubur-ubur.
terlihat lebih banyak pada waktu pengamatan

58
Komposisi dan Kelimpahan Stok ..... Saleh, Nusa Tenggara Barat (Mujiyanto & S.T. Hartati)
Edrus, I. N. & A. R. Syam. 1998. Sebaran
ikan hias suku Chaeodontidae di
3. Di Pulau Genteng pertumbuhan biota
perairan karang Pulau Ambon dan
penempel selain teritip ditemukan
jenis biota yang memiliki peranannya dalam penentuan kondisi
pertumbuhan relatif cepat yaitu
rhopalaea cussa dari kelas ascidian
dan pinctada margaritifera dari kelas
bivalvia.

4. Secara keseluruhan, biota penempel


jenis
Enteromorpha clathrata sebagai
indikator perkembangan terumbu
karang buatan sudah tampak menutupi
hampir 95% seluruh luasan permukaan
terumbu. Diduga bahwa hal tersebut
dipengaruhi adanya kondisi dasar
perairan Pulau Rakit dan Pulau
Genteng dengan reef flat yang relatif
luas, dasar perairan keras dan tidak
berlumpur memenuhi persyaratan
untuk penempatan terumbu karang
buatan.

PERSANTUNAN

Tulisan ini merupakan kontribusi dari


kegiatan hasil riset rehabilitasi habitat
dan pemacuan stok sumber daya
perairan karang di Teluk Saleh Nusa,
Tenggara Barat, T. A. 2005, di Loka
Riset Pemacuan Stok Ikan-Jatiluhur,
Purwakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Bakus, G. J. 1990. Quantitave Ecology


and Narine Biology. Department of
Biological Science. University of
Sothern California. Los Angeles.

Burke, L., L. Selig, & M. Spalding. 2002.


Reef at Risk in Southest Asia.
http://reefsatrisk.wri.org. Diakses
Tanggal 17 Februari 2008.

Dahuri, R. 2000. Kebijakan dan strategi


pengelolaan terumbu karang Indonesia.
Prosiding Lokakarya Pengelolaan dan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Terumbu Karang Indonesia. Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia.
COREMAP. Jakarta.

English, S., C. Wilkinson, & V. Baker. 1994.


Survey Manual for Tropical Marine
Resource (2nd Edition).
Australian Institute of Marine
Science. Australia. X: 390 pp.
terumbu karang. Jurnal Penelitian
Perikanan Indonesia. (3): 1-10. Reese, E. 1977. Coevolution of coral
and coral feeding fishes of family
Gitting. 1992. Coral reef population and Chaetodontidae. Proceeding of the
growth on the flower Garden Bank, Thi International Coral Reef
North West Gulf of Maxico. Symposium. 1: 267-274.
Procceding of the 7th International
Coral Reef Rachmawati, R. 2001. Terumbu Karang
Symposium. Guam. Buatan (Artificial Reef). Badan Riset
Kelautan dan Perikanan.
Hartati, S. T., Krismono, A. Thamrin, S. Departemen Kelautan dan
E. Purnamaningtyas, Mujiyanto, I. Perikanan. 53 pp.
Supriyanto, S. M. Syarif, & Wasilun.
2005. Laporan Akhir Kegiatan Sukarno. 1981. Terumbu Karang di
Penelitian Rehabilitasi Habitat dan Indonesia: Sumber Daya,
Pemacuan Stok Sumber Daya Permasalahan, dan Pengelolaan.
Perairan Karang di Teluk Saleh, Lembaga Oseanografi Nasional.
Nusa Tenggara Barat. Loka Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan
Pemacuan Stok Ikan. Badan Riset Indonesia. Jakarta.
Kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan Perikanan. Syarani, L. & S. Agung. 2006.
(Tidak Dipublikasikan). Gambaran Umum Kepulauan
Karimun Jawa. Unissula Press.
Nybakken, J. W. 1982. Marine Biology. An Semarang. Cetakan Pertama 2006.
Ecological Approach. PT. Gramedia. 148 pp.
Jakarta. 445 pp.
United Nation Environment Programme.
Risk, M. J. 1972. Fish diversity on a 1993.
coral reef in the Virgin Island. Atoll Monitoring Coral Reef for Global
Research Bulletin. No.153. change. United
Washington. Nation Environment Programme.
Monaco.

59
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)

DAMPAK PERUBAHAN LUASAN HABITAT SUMBER DAYA IKAN


TERHADAP PERIKANAN PERANGKAP PASANG SURUT (APONG)
DI LAGUNA SEGARA ANAKAN

Hufiadi1), Suherman Banon Atmaja1), Duto Nugroho2), dan Mohamad Natsir1)


1)
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut, Muara Baru-Jakarta
2)
Peneliti pada Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumber Daya Ikan, Ancol-
Jakarta Teregistrasi I tanggal: 1 Pebruari 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 18 Pebruari 2011;
Disetujui terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Saat ini, proses sedimentasi yang terjadi di Laguna Segara Anakan telah mengakibatkan
penyempitan luasan Laguna. Berkurangnya luasan badan air berkorelasi dengan berkurangnya daerah
penangkapan maupun daya dukung keberadaan sumber daya ikan terutama spesies ikan yang
memiliki tingkah laku ruaya inter habitat. Selama periode tahun 1900-2005, laju penurunan luasan
Laguna tertinggi terjadi pada kurun waktu tahun 1983-1995. Kajian ini ditujukan untuk mengungkap
dampak perubahan luasan habitat sumber daya ikan terhadap komposisi hasil tangkapan dan produksi
perikanan jaring apong. Hasil kajian menunjukkan bahwa di wilayah Ujung Gagak, terjadi penurunan
hasil tangkapan/unit/trip sementara di daerah Kuta Weru hasil tangkapan relatif tinggi jika dibandingkan
dengan hasil tangkapan periode sebelumnya. Jumlah spesies yang tertangkap jaring apong di wilayah
Kuta Weru menurun 47% pada tahun 2010 jika dibandingkan dengan tahun 1985 dan meningkat
delapan jenis ikan jika dibandingkan dengan hasil tangkapan tahun 1999. Di daerah Ujung Gagak
jumlah jenis ikan yang tertangkap jaring apong menurun jika dibandingkan dengan tahun 1985. Jumlah
jenis yang tertangkap pada tahun 2010 menurun 36% jika dibandingkan dengan tahun 1985 dan
meningkat 12 jenis ikan jika dibandingkan dengan hasil tangkapan tahun 1999.

KATA KUNCI: Habitat, jaring pasang surut, hasil tangkapan, Segara Anakan

ABSTRACT: The impact of habitat change on tidal traps fisheries in Segara Anakan Waters.
By: Hufiadi, Suherman Banon Atmaja, Duto Nugroho, and Mohamad Natsir

Currently, the sedimentation process in Segara Anakan as a resulted in reducing the lagoon area.
Reducing area of estuarine water bodies is strongly correlated with decreasing fishing area and its
carrying capacity, particularly to the fish species which have inter habitat migrating behavior during
their life cycle. Observation based on serial available publication during 1900-2005, showed that the
highest declining rate of the lagoon area occurred in the period 1983-1995. This study aimed to reveal
the impact of diminishing habitat area to fish resource availability and alteration of catch composition
on production of tidal trap fishing nets (apong). Catch data analysis shows that declining catch/unit/trip
occurred in Ujung Gagak while in the Kuta Weru. The catch relatively high compared with previous
periods. Number of species caught in tidal traps net at Kuta Weru area decreased by 47% in 2010
compared to year 1985, but increased about 8 fish species compared with 1999. In ujung Gagak
number of fish species caught in nets decreased compared to the year 1985. The number of species
captured in 2010 decreased by 36% compared to 1985 and increased by a total of 12 species of fish
when compared to the catch in 1999.

KEYWORDS: Habitat, tidal trap fishery, catch, Segara Anakan


bahwa di samping kemajuan pembangunan juga
PENDAHULUAN terjadi degradasi lingkungan hidup. Seiring
dengan peningkatan pembangunan di Indonesia,
Peningkatan tekanan ekologis pada zona pesisir khususnya di kawasan Segara Anakan, berbagai
sebagai konsekuensi berbagai aktivitas manusia di permasalahan lingkungan telah menjadi tema
kawasan terestrial kerapkali berujung pada media massa, baik lokal, nasional, maupun
penurunan kualitas lingkungan dan hilangnya internasional. Peran nyata media massa telah
habitat sumber daya ikan yang berdampak serius berhasil menarik perhatian berbagai pihak,
pada kesehatan dan produktivitas ekosistem pantai. sehingga sejak tahun itu perhatian pada
Pada tahun 1980-an, negara-negara di dunia ini keberadaan Segara Anakan pun terus
telah menyadari fakta

___________________
Korespondensi penulis:
Jl.Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera-Jakarta 14440, Telp.(021) 6602044 61
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 61-714. Tinggi dan meningkatnya tingkat polusi
pantai.
bermunculan, termasuk pemerintah yang 5. Overfishing dan overexploitation sumber
mendapat pinjaman lunak dari Asian daya pantai, termasuk cara penangkapan
Development Bank sumber daya ikan yang merusak, seperti
pemboman terumbu karang.
(Sonjaya, 2007).

Beberapa data dan informasi yang tersedia


memperlihatkan hutan mangrove di kawasan ini
telah mengalami penebangan dalam skala berat.
Selama periode tahun 1974-2003, secara
keseluruhan kehilangan hampir 50% tutupan
hutannya (Badan Pengelola Kawasan Segara
Anakan, 2005) dan selama periode tahun 1987-
2006 penurunan hutan mangrove lebih dari 40%
(Ardli & Wolff, 2008). Sementara itu, luas badan air
Segara Anakan sangat menurun drastis sebagai
akibat dari proses sedimentasi dan pendangkalan di
kawasan muara sungai. Sonjaya (2007)
mengatakan pada tahun 1978 luas Laguna sekitar
4.038 ha menurun menjadi 400 ha pada tahun
2004. Pada tahun 1986 luas Segara Anakan 6.450
ha, namun yang tertutup air saat pasang hanya
2.700 ha atau hanya 42% dari luas Segara Anakan
dan pada tahun 1992 sekitar 1.800 ha. Pada tahun
2000 luas estuari ini hanya tinggal 1.600 ha, pada
tahun 2005 luas perairan di Segara Anakan
diperkirakan hanya tersisa 600 ha (Kusnida et al.,
2009). Pada tahun 1980 luas Laguna Segara
Anakan di atas 3,636 ha, tetapi terus menurun pada
tahun 2002 hanya sekitar 600 ha (White et al.,
1989; Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan,
2005).

Antar habitat dan keanekaragaman jenis hayati


kelautan terdapat keterkaitan di mana pada tingkat
penyusutan habitat alami 50% berakibat terhadap
penyusutan keanekaragaman spesies 10%;
sedangkan bila penyusutan habitat alami 90%
berakibat penyusutan keanekaragaman spesies
50% (Keanekaragaman Hayati Kelautan-
Keanekaragaman Hayati Laut.
web.ipb.ac.id/~mujizat/). Sukardjo (2002)
mengatakan tidak ada keraguan bahwa
permasalahan dan konflik dalam pengelolaan
terpadu daerah pantai di Indonesia, termasuk:
1. Hilangnya hutan mangrove dan rawa-rawa
pasang surut yang mendukung perikanan
tradisional, seperti perikanan artisanal,
silvofisheries, pengumpulan moluska,
kepiting bakau (Scylla serrata).
2. Pemanfaatan daerah pantai yang tidak
terkendali, seperti, konversi besar-besaran
hutan mangrove menjadi tambak dan kolam
ikan.
3. Peluang status, ketenagakerjaan dan
ekonomi sosial penduduk menurun, serta
masyarakat desa miskin yang terus
meningkat.
Analisis data dilakukan secara deskriptif, melalui
tabulasi data terkumpul untuk menjelaskan trend
6. Kurangnya pemahaman akan pentingnya
dan rata-rata baik melalui bentuk diagram maupun
ekologi daerah pantai dan pemeliharaan
grafikal.
sumber daya pantai oleh pengembang dan
pembuat keputusan di pemerintahan.
HASIL DAN BAHASAN
7. Pengembangan pertanian melalui konversi
daerah pantai.
Keadaan Umum Laguna Segara Anakan
Tujuan penelitian adalah melakukan evaluasi
Segara Anakan adalah sebuah Laguna yang
dampak sejalan krisis habitat dan pendugaan
terletak di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa
dampak-dampak yang merugikan dari aktivitas
Tengah (Gambar 1). Dari perspektif lingkungan
penangkapan sumber daya ikan di Segara
hidup, Laguna tersebut merupakan suatu
Anakan.
ekosistem unik yang terdiri atas badan air
(Laguna) bersifat payau, hutan mangrove, dan
BAHAN DAN METODE
lahan rendah yang dipengaruhi pasang surut air
laut. Ekosistem tersebut berfungsi sebagai
Survei dilakukan di dua lokasi utama yaitu
tempat pemijahan udang dan ikan, sebagai
Kuta Weru dan Ujung Gagak yang mewakili
habitat burung-burung air migran dan non migran,
aktivitas perikanan di Laguna Segara Anakan
berbagai jenis reptil dan mamalia serta berbagai
pada bulan Juli dan Nopember 2010.
jenis flora. Dari perspektif sumber daya air,
Pengumpulan data berupa jenis, komposisi, dan
Laguna tersebut termasuk dalam daerah aliran
ukuran hasil tangkapan jaring apong yang
Sungai Segara Anakan yang merupakan bagian
dilakukan melalui pengamatan dan pengukuran
hilir dari wilayah Sungai Citanduy (Anonimus,
secara langsung serta pencatatan data berkaitan
2006).
dengan ekosistem mangrove di Laguna Segara
Anakan. Sumber data lain berasal dari data
Perairan Laguna Segara Anakan merupakan
perikanan dan lingkungan yang berasal dari
perairan pasang surut yang sangat dipengaruhi oleh
instansi-instansi terkait serta temuan hasil
masa air Sungai Citanduy dan masa air pantai
penelitian terdahulu yang berhasil dirangkum dari
selatan Jawa yang terutama masuk melalui muara
berbagai sumber yang dapat diperoleh.
sungai di sekitar Desa Majingklak di bagian barat
dan muara

62
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)
merupakan penopang utama
Sungai Donan, Cilacap di bagian timur, kehidupan masyarakat pantai yang
sehingga pertukaran masa air dengan telah berjalan sejak lama.
perbedaan salinitas selalu terjadi
melalui proses pasang surut. Luasan perairan Laguna Segara
Perubahan pasang surut tersebut
Anakan telah mengalami
berhubungan erat dengan perubahan
penyempitan akibat terjadinya
karakteristik lingkungan yang
proses sedimentasi di kawasan hulu
(Ludwig, 1985 dalam White et al.,
berasosiasi dengan keberadaan dan
1989; Anonimus, 2006).
kelimpahan temporal sumber daya ikan
di kawasan ini. Pemanfaatan melalui
aktivitas penangkapan dengan
teknologi sederhana

Gambar 1. Laguna Segara Anakan (titik A adalah lokasi Ujung Gagak dan
B adalah lokasi Kuta Weru).
Figure 1. Segara Anakan Lagoon (A ferer to Ujung Gagak and B refer to
Kuta Weru location).
Sumber/Sources: Sudjastani (1989) dalam White et al. (1989)

Perubahan Luasan Laguna

Pemanfaatan lahan di kawasan hulu


bagi berbagai kepentingan masyarakat
berakibat perubahan pada kandungan
transport sedimen daerah aliran Sungai
Citanduy. Akumulasi kandungan
tersebut menyebabkan tingginya laju
pendangkalan Sungai Citanduy serta
penumpukan materi terendapkan di
kawasan Laguna Segara Anakan yang
mengakibatkan berkurangnya luasan
perairan Laguna. Laguna berfungsi
sebagai daerah pemijahan ikan di mana
sebagian besar antara lain penurunan produktivitas hasil
dimanfaatkan oleh masyarakat tangkapan para nelayan.
pesisir melalui aktivitas perikanan Perubahan historis luasan Laguna
perangkap pasang surut. Secara Segara Anakan pada kurun waktu
perekonomian masyarakat, tahun 1900-2005 memperlihatkan
kerusakkan ekosistem kecenderungan laju penyempitan
menyebabkan penduduk kesulitan yang semakin tinggi (Gambar 2).
menangkap ikan sehingga terjadi

63
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 61-71

y = -10.885x +
7000 27166

6000
y = -58.676x +
119905

5000
(Ha)

1900-
4000 1939
LUAS LAGUNA

1940-
1982
3000
y = -154.48x + 1983-
309574 1995
1998-
2005
2000
y = -83.695x +
1000 168500

0
1900 1910 1920 1930 1940 1950 1960 1970 1980 1990 2000 2010

TAHUN

dan Penaeus semisulcatus; jenis udang dogol yang terdiri atas Metapenaeus ensis,
Metapenaeus elegans, dan Metapenaeus affinis; udang campur (krosok), terdiri
atas Parapenaeopsis coromandelica, Metapenaeus dobsoni, dan Solenosera
crassiconis; Sergestidae dan Mysidaceae. Sudjastani (1982) dalam White et al.
(1989) mengatakan bahwa terdapat 21 jenis ikan demersal dan 12 jenis ikan pelagis
yang didaratkan di Cilacap, sedangkan White et al. (1989) mengatakan secara
keseluruhan terdapat 60 jenis ikan yang didaratkan di kawasan Laguna.

Alat Tangkap Perangkap Pasang Surut (Apong)


atas
Gambar Perubahan 2. laju data
Anoni
penyempitan mus
luasan Laguna (2006)
Segara Anakan
(tahun 1900-2005). Dengan menggunakan analisis
Figure 2. The rate of change of sederhana hubungan antara luasan
narrowing Segara dan tahun pengamatan pada kurun
Anakan Lagoon waktu tertentu diperoleh besarnya
(1900-2005). koefisien kecuraman yang semakin
Sumber/Sources: Diolah tinggi di mana koefisien laju
kemba penyusutan tertinggi terjadi pada
li kurun waktu tahun 1983-1995
berda kemudian cenderung melandai pada
sarkan tahun 1998-2005. Luasan minimum
terjadi pada tahun 2003 sebesar 600 Alat tangkap yang digunakan
ha kemudian relatif meningkat pada nelayan di Segara Anakan antara lain
tahun 2005 menjadi (834 ha) setelah apong (tidal traps net), bubu (trap),
tahun 2004 dilakukan pengerukkan jaring sirang (gill net), jaring ciker (gill
lumpur perairan Laguna. Menurunnya net), dan jala (cast net). Alat tangkap
luasan Laguna menyebabkan yang dominan dan banyak menangkap
penyempitan daerah asuhan ikan di udang adalah perangkap pasang surut
mana sebagian antara lain yang dikenal dengan sebutan jaring
merupakan daerah penangkapan bagi apong. Data jaring apong pada tahun
aktivitas perikanan pasang surut. 1995 adalah 645 unit, tahun 2000
sebanyak 1.660 unit, dan tahun 2003
Pemanfaatan Sumber Daya Ikan sebanyak 1.444 unit. Purnamaji (2003)
mengatakan bahwa konstribusi apong
Jenis sumber daya ikan yang terhadap hasil tangkapan udang di
didaratkan oleh aktivitas perikanan Segara Anakan berkisar antara 84,6-
tangkap sangat beragam. White et al. 93,9%. Efektivitas dan daya tangkap
(1989) mengatakan bahwa 25-40% apong untuk menangkap udang
komposisi hasil tangkapan didominansi ditentukan oleh konstruksi dan metode
oleh jenis-jenis ikan sedangkan atau cara mengoperasikan alat tangkap
selebihnya merupakan jenis krutasea tersebut.
yang terdiri atas 10 spesies sedangkan
Naamin (1972) mengatakan jenis udang Apong adalah sejenis tidal filter
di Laguna Segara Anakan terdiri atas 20 net, berbentuk kerucut yang
jenis udang di mana enam spesies memanjang dari kedua ujung sayap
antara lain memiliki nilai ekonomis tinggi paling depan ke belakang dan mulai
yaitu jenis udang jerbung yang terdiri dari bukaan mulut kantong
atas spesies Penaeus merguiensis, mengerucut sampai ujung kantong
Penaeus chinensis, Penaeus monodon, (cod end). Bentuknya mirip jaring
pukat seperti trawl dan cantrang
(Zarohman, 2001) (Gambar 3).
Bagian sayap yang berfungsi sebagai
pengarah (leader) terhadap sasaran
penangkapan menuju bagian kantong
lewat bukaan mulut jaring terbuat dari
webing PE berukuran mata jaring 6-
10 inci dan 2-5 inci dengan ukuran
panjang 8-27 m. Panjang tali ris atas
dan tali ris bawah masing-masing
berkisar 16-18 m. Tali ris atas
dilengkapi pelampung dan tali ris
bawah dilengkapi dengan pemberat.
Panjang lingkar mulut jaring berkisar
600-1.200 mata tergantung
kedalaman perairan. Ukuran mata
jaring mulai dari mulut jaring sampai
bagian badan kantong yang paling
ujung berturut turut 5; 4,5; 4; 3,5; 3;
2,75; 2,5; 2,25; 2; 1,75; 1,5; 1,25; 1;
dan 0,75 inci. Bagian ujung kantong
(cod end) pada umumnya mempunyai
ukuran mata jaring berkisar 0,75-1
inci. Panjang jaring mulai dari bagian
mulut terdepan sampai ujung
belakang bagian badan kantong
berkisar 10-28 m.

64
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)
Dua, Klaces, Motean/Ujungalang,
beberapa cabang anak sungai, alur
pelayaran Sapuregel. Hasil tangkapan
sebagian berupa udang dan ikan
demersal.

Hasil Tangkapan

Dari sejumlah 16 contoh unit


(trip) jaring apong di Kuta Weru,
diperoleh total hasil tangkapan rata-
rata 8,34 kg/unit/trip/hari dengan
kisaran 4,7-18,6 kg/unit/ trip,
sedangkan apong yang beroperasi
di daerah Ujung Gagak
Gambar 3. Jaring apong. menunjukkan hasil tangkapan yang
Figure 3. Tidal traps net. relatif lebih kecil yaitu rata-rata 2,9
Sumber/Source: kg/unit/trip dengan kisaran 0,6-9,1
Boesono (2003) kg/unit/trip.

Operasi penangkapan dilakukan Gambaran rata-rata tangkapan


dua kali dalam sebulan pada saat dari ke-16 contoh armada jaring
terjadinya arus pasang surut kuat. apong Kuta Weru dan 19 contoh
Pengoperasian bersifat menetap kapal di Ujung Gagak pada bulan
dengan cara dipancang berjajar Nopember 2010 tertera pada Gambar
menghadang arus pasang dan 4a dan 4b. Pada gambar tersebut
menyilang alur pintu masuk dari laut memperlihatkan bahwa untuk
terbuka ke perairan Laguna atau tangkapan Anguilla sp. merupakan
menyilang alur sungai dan cabang- hasil tangkapan tertinggi yaitu rata-
cabang sungai yang ada dalam Laguna. rata 3 kg, sementara hasil tangkapan
Penyebaran pasang jaring apong mulai terendah kelompok jenis teri
dari kawasan barat sampai timur adalah (Stolephorus sp.) yaitu rata-rata 0,54
dari Sungai Cibeureum, Muara kg, jenis ini pada umumnya
Cibeureum, Cimeneng ke arah selatan tertangkap pada saat musim kering di
sampai di Pelawangan Barat, dan ke mana masa air dengan salinitas tinggi
arah timur daerah Muara dapat mencapai kawasan Laguna.
Pada Gambar 4b terlihat bahwa hasil
tangkapan tertinggi di daerah Ujung
Gagak (Pangandaran) adalah
Oxyeleotris marmorata dan Anguilla
sp. masing-masing 0,13 dan 0,11 kg.

(a) (b)
Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan rata-rata jaring apong di Kuta Weru (a) dan Ujung
Gagak (b) bulan Nopember 2010.
Figure 4. Average catch composition of apong in Kuta Weru (a) and Ujung Gagak (b) during
November 2010.

65
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret
2011 : 61-71
merguensis (13%), Metapenaeus
dobsoni (11,7%). Hasil Tangkapan
Berdasarkan atas pengelompokkan udang di Ujung Gagak didominansi
jenis hasil tangkapan di Kuta Weru, oleh jenis udang krosok
rata-rata hasil tangkapan dari ke-16 (Metapenaeus lysianassa) yaitu
contoh unit jaring apong untuk
91,15% dari total keseluruhan
tangkapan udang rata-rata berturut-turut
udang yang tertangkap.
untuk udang dragon merupakan udang
berukuran kecil terdiri atas campuran Pada Gambar 5a terlihat bahwa
udang jari, udang peci, udang pletok, perbandingan hasil tangkapan
udang rebon (Paelamonidae), udang
keseluruhan ikan dan udang dari 16
jambu (Metapenaeus dobsoni) rata-rata
contoh jaring apong di Kuta Weru,
2,52 kg/trip (1,5-3,8 kg), udang jari 1,88
diperoleh komposisi hasil tangkapan
kg/trip (0,2-5,7 kg), udang jerbung
udang mencapai 93,68 kg (70,21%)
(Penaeus merguensis de man) 1,35 kg
dan hasil tangkapan ikan diperoleh
(0,5-3,1 kg), dan udang windu
39,75 kg (27,79%). Persentase rata-
(Penaeus monodon) 0,54 kg/trip (0,1-
rata hasil tangkapan jaring apong di
1,5 kg). Saputra (2005) mengatakan
Ujung Gagak dari 19 contoh jaring
bahwa bobot per jenis udang hasil
apong diperoleh tangkapan udang
tangkapan jaring apong di Segara
75,83%, ikan 18,11%, dan lain-lain
Anakan, terlihat bahwa kontribusi
6,05% (Gambar 5b).
terbesar diberikan oleh
Metapenaeus elegans yaitu 62,5%,
disusul Penaeus

Gambar 5. Perbandingan komposisi udang dan ikan hasil tangkapan


jaring apong bulan Nopember 2010
(a) Kuta Weru dan (b) Ujung Gagak.
Figure 5. Comparison between shrimp composition of apong net catches in
November 2010 (a) Kuta Weru and (b) Ujung Gagak.
Penurunan
Penurunan dan Perubahan produksi ikan diduga
Hasil Tangkapan disebabkan adanya
penyempitan habitat
bagi ikan-ikan.
Kerusakkan tersebut ditandai
berkurangnya kawasan
mangrove. Hubungan kawasan
Laguna dan produksi ikan
ditunjukkan pada Gambar 6 (hasil
reanalisis data produksi
perikanan dan luasan Laguna
dalam Boesono, 2003), adapun
persamaan hubungan antara luas
kawasan Laguna (ha) dan
produksi ikan (kg) adalah:

Y = 0,275x+465,5 dengan R2
0,942 (1

di mana: Gambar 6. Hubungan penyusutan


Y = produksi (ton) luasan Laguna
x = luasan Laguna (ha) dengan produksi
perikanan periode
tahun 1978-2008.
Figure 6. Relationship between
Laguna area and
fisheries production
1978-2008 period.

66
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)

Berkurangnya total produksi ikan


di kawasan Laguna Segara Anakan
ini mempunyai kecenderungan
bersamaan dengan berkurangnya
jenis-jenis ikan yang ada di daerah
tersebut. Jumlah alat tangkap di
Segara Anakan berperan dalam
meningkatkan produksi perikanan.
Banyaknya jumlah alat tangkap pada
tahun-tahun tertentu menyebabkan
peningkatan yang berarti pada
produksi ikan. Pada tahun 1987
produksi ikan tampak cukup tinggi
karena pada tahun tersebut jumlah
alat tangkap cukup banyak yaitu
9.691 unit, sebaliknya pada tahun Gambar 7b. Hasil tangkapan per unit
1994 dan 2001 produksi ikan upaya nominal apong
menurun akibat penurunan jumlah di Segara Anakan
alat tangkap yaitu secara berturut- bulan Nopember
turut 8.543 dan 7.948 unit. Secara
2010 di daerah Ujung
umum, dari gambaran hasil
tangkapan 16 contoh armada jaring
Gagak.
apong Kuta Weru dan 19 contoh Figure 7b. Catch per unit of nominal
kapal di Ujung Gagak pada bulan effort of Apong net in
Nopember 2010 dapat dilihat pada Segara Anakan
Gambar 7a dan 7b. Pada Gambar 7a during November
terlihat bahwa perolehan hasil 2010 in Ujung Gagak
tangkapan jaring apong di Kuta Weru
area.
total hasil tangkapan rata-rata 8,34
kg/ unit/trip yaitu berkisar dari 4,35-
18,60 kg. Berdasarkan atas hasil
pengamatan di daerah Ujung Gagak,
Kampung Laut diperoleh hasil
tangkapan jaring apong berkisar
antara 0,623-9.092 kg, dengan rata-
rata hasil tangkapan 3.261 kg
(Gambar 7b).

Figure 7a. Catch per unit of Apong


net in Segara
Anakan during
November 2010 in
Kuta Weru Area.

Berdasarkan atas hasil penelitian


terdahulu menunjukkan selama kurun
waktu 14 tahun (Djuwito, 1985; Murni,
2000) telah terjadi hilangnya beberapa
famili. Pada tahun 1985 di Segara
Anakan ditemukan 45 jenis ikan dari 36
famili (Djuwito, 1985). Murni (2000)
mengatakan bahwa di Segara Anakan
pada tahun 1999 ditemukan 16 jenis
Gambar 7a. Hasil tangkapan per
ikan dari 12 famili beberapa jenis yang
unit apong di
hilang antara lain Anguilla sp., Apogon
Segara Anakan
aureus, Areus maculates, dan lain-lain
bulan Nopember
(Lampiran 1).
2010 di daerah
Kuta Weru.
Sementara kajian Dudley (2000) ikan di Laguna Segara Anakan,
menyimpulkan bahwa hasil tangkapan terutama spesies ikan yang memiliki
jaring apong yang beroperasi tingkah laku antar koneksi habitat (inter
mencakup kawasan bagian barat habitat connectivity), seperti udang dan
Laguna Segara Anakan, tertangkap kepiting (Lampiran 1).
sekitar 27 famili.

Penurunan kondisi lingkungan yang Dari hasil perbandingan komposisi


mengakibatkan timbulnya berbagai jenis yang tertangkap pada tahun
permasalahan antara lain berkurangnya 1985, 1999, dan 2010 dapat dilihat
habitat fauna benthik dan berkurangnya adanya penurunan jumlah jenis ikan
tingkat perkembangbiakan ikan dan yang tertangkap jika dibandingkan
udang (Toro & Sukardjo, 1988). Dari dengan tahun 1985.
beberapa kajian sebelumnya juga
menunjukkan deforestasi hutan Di wilayah Kuta Weru terjadi
mangrove dan sedimentasi penurunan jumlah jenis yang tertangkap
menyebabkan berkurangnya luasan jaring apong pada tahun 2010 sebesar
badan air dan daerah penangkapan, 47% yaitu tinggal 53% (24 jenis) jika
sehingga berdampak langsung terhadap dibandingkan dengan jumlah jenis yang
daya dukung dan keberadaan sumber tertangkap tahun 1985. Sementara di
daya ikan, serta penurunan produksi daerah Ujung Gagak terjadi

67
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret daya dan lingkungan di perairan
2011 : 61-71 Segara Anakan.

penurunan jumlah jenis ikan yang Berdasarkan atas kondisi riil


tertangkap jaring apong jika kegiatan penangkapan perikanan jaring
dibandingkan dengan tahun 1985. apong di lapangan, sangat diperlukan
Penurunan jumlah jenis yang adanya alternatif dan upaya alih
tertangkap pada tahun 2010 teknologi atau alih usaha lain yang
mencapai 36% yaitu tinggal 64% (29 mengarah pada kegiatan perikanan
jenis) jika dibandingkan dengan yang lebih bertanggungjawab. Alternatif
jumlah jenis yang tertangkap tahun kegiatan nelayan jaring apong di Kuta
1985. Secara umum, jika Weru yang pernah dilakukan adalah
dibandingkan dengan komposisi budi daya lele dumbo, namun berbagai
tangkapan tahun 1999 baik di Kuta kendala saat ini sudah tidak berjalan
Weru dan Ujung Gagak ada lagi. Alternatif lainnya adalah kegiatan
peningkatan jenis, namun secara pembesaran kepiting melalui sistem
produksi hasil tangkapan mengalami mutilasi. Kegiatan budi daya kepiting
penurunan. Peningkatan jenis pada yang ada di Kuta Weru tersebut relatif
tahun 2010 diduga terkait dengan terbatas di samping banyak dijumpai
penurunan aktivitas penangkapan berbagai kendala terutama kesulitan
dengan jaring apung. memperoleh bibit dan kendala
pemasaran dari hasil pembesaran
Penurunan daya tangkap per unit kepiting tersebut. Di masa yang akan
jaring apong disikapi oleh nelayan datang sangat diperlukan adanya
Kuta Weru dengan cara menambah terobosan baru alternatif usaha selain
unit jaring apong yang dioperasikan jaring apong yang dapat diterima oleh
dalam setiap trip operasinya. nelayan lokal.
Sehingga rata-rata setiap unit perahu
membawa dua buah unit jaring apong KESIMPULAN
untuk dioperasikan dalam waktu yang
sama. Hasil tangkapan pada 1. Penurunan luasan habitat Segara
umumnya adalah jenis udang dan Anakan berdampak terhadap
ikan berukuran kecil atau muda, penurunan hasil tangkapan ikan
dengan dominannya hasil tangkapan dan udang di laut sepanjang
udang dan ikan berukuran kecil atau pesisir selatan Cilacap.
muda dapat mengganggu atau Berdasarkan atas data produksi
mengancam pada kelestarian sumber hasil tangkapan menunjukkan
kecenderungan penurunan hasil
tangkapan dari tahun ke tahun
baik di dalam maupun di luar
2. Adanya degradasi lingkungan juga
Laguna.
ditandai oleh penurunan jumlah
jenis yang tertangkap jaring apong.
Rata-rata terjadi penurunan jumlah
jenis 45,5% di kedua daerah jika
dibandingkan kondisi tahun 1985.
Terjadi perubahan strategi
penangkapan di mana nelayan
cenderung menambah jumlah jaring
apong yang dioperasikan untuk
meningkatkan hasil tangkapan.

PERSANTUNAN

Tulisan ini merupakan kontribusi


dari kegiatan hasil riset dampak krisis
habitat terhadap perikanan tangkap:
Kasus perairan Sagara Anakan,
Cilacap, T. A. 2010, di Balai Riset
Perikanan Laut-Muara Baru, Jakarta-
Dewan Riset Nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2006. Konservasi dan


Pengendalian Daya Rusak Air
Demi Penyelamatan Segara
Anakan.
Balai Data dan Informasi
Sumber Daya Air Provinsi Jawa
Barat. 15 pp.

Ardli, E. R. & M. Wolff. 2008. Land


Use and Land Cover Change
Affecting Habitat Distribution in
the Segara Anakan Lagoon, Java,
Indonesia. Regional
Environmental Change. Springer-
Verlag.

Boesono, S. H. 2003.
Perkembangan perikanan
tangkap akibat perubahan
luasan Laguna Segara Anakan
Cilacap (Jawa Tengah). Tesis.
Program Pasca Sarjana.
Universitas Diponegoro.
Semarang.

Badan Pengelola Kawasan Segara


Anakan. 2005.
Laporan Mini Survei Sosial
Ekonomi Kawasan
Segara Anakan. Cilacap.

Djuwito. 1985. Analisa struktur


komunitas ikan di Segara
Anakan, Cilacap. Tesis. Fakultas
Pasca Sarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Kusnida, D., I. W. Lugra, & L. Sarmili.
Dudley, R. G. 2000. Segara Anakan 2009. Batimetri, Pola Arus, dan
Fisheries Management Plan. Perubahan Garis Pantai di Segara
Segara Anakan Conservation and Anakan, Cilacap. Pusat Penelitian
Development Project Components dan Pengembangan Geologi
B. & C. Consultants Report. 33 Kelautan.
pp. ww.mgi.esdm.go.id/.../batimetri-
pola-arus-dan-perubahan-garis-
pantai-di-sagara-anakan-cilacap.

68
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)
Sonjaya, J. A. 2007. Kebijakan untuk
Murni, C. N. H. 2000. Perencanaan Mangrove: Mengkaji Kasus dan
pengelolaan kawasan konservasi Merumuskan Kebijakan. IUCN
estuaria dengan pendekatan tata
and Mangrove Action Project.
ruang dan zonasi (Studi kasus Segara
Indonesia. 46 pp.
Anakan Kabupaten Cilacap, Jawa
Toro, V. & Sukardjo. 1988. Mangrove
Tengah). Tesis. Program
forest of Segara Anakan Lagoon,
Pascasarjana. Institut Pertanian
fisheries resource, and substrate
Bogor. Bogor.
of paneid shrimp. Proceeding of
National Seminar on Fish and
Naamin, N. 1972. Perkembangan
Shrimp Breeding. Bandung. 5-7
Perikanan Udang di Perairan
Juli 1988. 454-481.
Cilacap dan Pangandaran.
Lembaga Penelitian Perikanan Laut.
White, A. T., P. Martosubroto, & M. S.
Jakarta. 1: 59 pp.
M. Sadorra. 1989. The coastal
environmental profile of Segara
Purnamaji, S. 2003. Analisis tingkat
Anakan, Cilacap, South Java,
eksploitasi sumber daya udang
Indonesia. Iclarm Technical
putih (Penaeus merguensis De
Reports 25. 82 pp.
Man, 1888) di Laguna Segara
Anakan dengan simulasi model
Zarochman. 2001. Penataan apong
dinamis. Tesis. Pasca Sarjana
untuk keselamatan tumbuh udang
Universitas Diponegoro. Semarang.
dalam Segara Anakan. Jurnal
Gema Segara Anakan. III (9).
Sukardjo, S. 2002. Integrated Coastal
Zone Management in Indonesia: A
View from a Mangrove
Ecologist/Southeast Asian Studies. 4
(2).
69
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 61-71

Lampiran 1. Perbandingan komposisi ikan hasil tangkapan jaring apong untuk tahun 1985, 1999, dan
2010
Appendix 1. Comparison of tidal traps nets catch composition for 1985, 1999, and 2010

Tahun/Years
No. Famili/Family Jenis/Species 2010 2010
1985 1999 Kuta Weru Ujung Gagak

1. Anguillidae Anguilla sp. v 0 v v


2. Apogonidae Apogon aureus v 0 v v
3. Aridae Arius maculatus v 0 v** v
4. Belonidae Tylosurus v 0 0 0
5. Bothhidae Crossorhombus azureus v 0 0 v**
6. Carangiadae Alectis indicus v 0 v v
7. Alepes sp.1 v 0 0 0
8. Alepes sp.2 v 0 0 0
9. Chaetodontidae Chaetodon fasciatus v 0 0 0
10. Clupeidae Anchoviella commersonii v 0 0 0
11. Cynoglossidae Cynoglossus lingua v 0 v v
12. Opisthopterus tardoore 0 0 0 v**
13. Drepanidae Drepane longimana v 0 0 0
14. Engraulidae Setipinna taty v 0 0 v
15. Stolephorus indicus v 0 v v
16. Thryssa malabarica v 0 0 0
17. Thryssa mystax v 0 v V
18. Gerreidae Geres filamentosus v 0 v v**
19. Gobiidae Acentrogbius sp. v 0 v V
20. Hemirphamlidae Hemirphamphus sp. v 0 0 0
21. Labridae 0 v**
22. Lagocephalidae Sphacnoroldes lunaris v 0 0 v**
23. Leiogonahidae Leiognathus dussumieri v 0 0 0
24. Leiognathus equulus v V
25. Leiognathus bindus v v**
26. Lutjanidae Lutjanus fulviflamma v 0 v** V
27. Lutjanus johni 0 v** 0 0
28. Lutjanus sp.1 0 v** 0 0
29. Lutjanus sp.2 v 0 0 0
30. Monodactylidae Monodactylus falciformis v** 0
31. Mugillidae Mugil buchanani v 0 0 v**
32. M. dussumieri v v** v 0
33. Mullidae Upeneus tragula v v** 0 v**
34. Muradaeneidae Muraenesox cinerius v 0 v v**
35. Polynomidae Polynemus indicus v 0 v 0
36. Pomadacidae Pamadasys hasta v 0 0 v**
37. Patabouridae Rataboura bicolor v 0 v v**
38. Scathopagidae Scatophagus argus v 0 v V
39. Scianidae Johnistus sp.1 v 0 0 0
40. Sciaenidae Johnius sp.2 0 v** 0 0
41. Scombridae Scomberomorus guttatus v 0 0 0
42. Serranidae Epinephelus sp. v 0 0 0
43. Sillago sihema v 0 0 0
44. Sparidae Acenthopagus berda v 0 0 0
45. Stromnteidae Pampus argenteus v 0 0 v
46. Synodontidae Saurida tumbil v 0 v 0
47. Thrachicephalus sp. v 0 0 0
48. Tetrodontine Tetrodon reticulatus v 0 0 0
49. Theraponidae Therapon theraps v 0 0 v**
50. Trichluridae Trichiurus lepturus v 0 v 0
51. Trygonidae Himanturus varnak v 0 0 v
52. Trypanichheridae Trypauchen vagina v 0 0 0

70
Dampak Perubahan Luasan Habitat .. di Laguna Segara Anakan (Hufiadi, et al.)

53. Serranidae Ephinepelus tauvina 0 v 0 0


54. Chaetodontidae Chaetodon auriga 0 v** 0 0
55. Apogonidae 0 v** 0 0
56. Polynomidae Eleutronema tridactylum 0 v** 0 0
57. Clupeidae Engraulis mordax 0 v** 0 0
58. Goblidae 0 v** v** 0
59. Balistidae Balistapus rectangulus 0 v** 0 0
60. Pseudobalistapus fuscus 0 v** 0 0
61. B. undulates 0 v** 0 0
62. B. encharpe 0 v** 0 v**
63. Syngnathidae Hippocampus kuda 0 v** 0 v
64. Eleotridae Oedura marmorata 0 0 v v
65. Synbranchidae Monopterus albus 0 0 v v
Keterangan/Remarks: v ditemukan lebih dari 10 ekor; v** ditemukan kurang dari 10 ekor; 0 tidak ditemukan

71
Struktur Komunitas dan Relung .. Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes (Purnomo, K. & A. Warsa)

STRUKTUR KOMUNITAS DAN RELUNG MAKANAN IKAN PASCA


INTRODUKSI IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus)
DI WADUK MALAHAYU, KABUPATEN BREBES

Kunto Purnomo dan Andri Warsa


Peneliti pada Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan, Jatiluhur-Purwakarta
Teregistrasi I tanggal: 8 Pebruari 2011; Diterima setelah perbaikan tanggal: 18 Pebruari 2011;
Disetujui terbit tanggal: 28 Pebruari 2011

ABSTRAK

Studi tentang struktur komunitas ikan dan pembagian sumber daya pakan ikan pasca introduksi
ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) di Waduk Malahayu (620 ha) dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui komposisi jenis ikan, preferensi makanan, dan luas relung tiap jenis ikan.
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survei pada bulan Agustus sampai Nopember
2009 dan bulan Maret sampai Oktober 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas
ikan terdiri atas 13 jenis ikan, yang didominansi oleh ikan nila (Oreochromis niloticus), udang
(Macrobrachium sp.), dan gabus (Channa striata). Jenis-jenis sumber daya pakan yang dimanfaatkan
oleh ikan adalah fitoplankton (20%), detritus (19%), zooplankton (17%), insekta (11%), tumbuhan air
(9%), ikan (9%), udang (9%), dan moluska (6%). Ikan patin siam, mujair (Oreochromis mossambicus),
dan beunteur (Puntius binotatus) bersifat generalis karena mampu memanfaatkan semua sumber daya
pakan alami yang tersedia. Ikan sili (Macrognathus aculeatus) dan keting (Mystus nigriceps) lebih
bersifat spesialis karena hanya memanfaatkan insekta sebagai makanan utamanya. Peluang kompetisi
antara ikan patin siam (diintroduksikan tahun 2009) dan ikan nila relatif kecil sebab sumber daya pakan
utamanya berbeda, yaitu ikan patin siam memanfaatkan moluska sebagai makanan utamanya
sedangkan ikan nila sebagian memanfaatkan fitoplankton. Hasil tangkapan ikan di waduk ini berkisar
antara 34,3-1.323,1 ton/tahun dengan rata-rata 157,3 ton/tahun.

KATA KUNCI: struktur komunitas, introduksi, patin siam, relung makanan, Waduk Malahayu

ABSTRACT: Community structure and food resource partitioning of fishes after the
introduction of catfish (Pangasianodon hypophthalmus) in Malahayu Reservoir,
Brebes Regency. By: Kunto Purnomo and Andri Warsa

Malahayu Reservoir located in Brebes Regency, was impounded in 1930, with a surface area of
620 hectares, a mean water depth of 8 m. Its main function are flood control and irrigation. Study on
fish community structure and food resource partitioning of fishes in Malahayu Reservoir were
conducted from August to November 2009 and March to October 2010. The aim of the study was to
evaluate the existing condition of fish resources, with emphasis on species composition, food
preferency, and niche breadth of fishes. Results of this study showed that the structure of fish
community compose of thirteen fish species which were dominated by nile tilapia (Oreochromis
niloticus), freshwater prawn (Macrobrachium sp.), and snakehead (Channa striata). The food
resources consumed by fishes in this reservoir are phytoplankton (20%), detritus (19%), zooplankton
(17%), insect (11%), aquatic plants (9%), fish (9%), shrimp (9%), and molusc (6%). The striped catfish,
mozambique tilapia and spotted barb were generalist because used all of the food resources. The
lesser spiny eel (Macrognathus aculeatus) and twospot catfish (Mystus nigriceps) were specialist,
only used the insect larva as the food item. The striped catfish (introduced in 2009) and nile tilapia in
this reservoir not compete each other because the main food item are different, the striped catfish
mainly eats the molusc while nile tilapia eats phytoplankton. The fish production range from 34.3-
1,323.1 ton/yr with average 157.3 ton/yr.

KEYWORDS: community structure, introduction, Siamese catfish, food resource, Malahayu


Reservoir
070148" LS, terbentuk karena pembendungan
PENDAHULUAN aliran Sungai Ciomas dan Cikabuyutan di Desa
Malahayu. Secara administratif, waduk ini termasuk
Waduk Malahayu terletak pada ketinggian 29 m, wilayah Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah.
dpl. yaitu pada koordinat geografis 1084912" BT Waduk
dan

___________________
Korespondensi penulis:
Jl. Cilalawi, Purwakarta, Purwakarta 41152, E-mail: irpsi@yahoo.com dan irpsi@telkomnet.id 73
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 73-82 berasal dari serangkaian hasil-hasil penelitian
mendasar yang aplikatif sehingga dapat
yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda
pada tahun 1930 tersebut kini luasnya hanya
tinggal 620 ha dan kedalaman rata-rata sekitar
10 m. Tujuan utama pembangunannya semula
adalah sebagai penyedia air baku untuk
kebutuhan rumah tangga dan irigasi pertanian di
daerah pantai utara. Fungsi tersebut kini sudah
bertambah, yaitu untuk pengembangan usaha
perikanan tangkap, pariwisata, dan transportasi
air. Dalam hal pemanfaatan perairan untuk
kegiatan perikanan, Kantor Badan Pengelola
Wilayah Sungai setempat berkeberatan bila
perairan waduk ini dimanfaatkan untuk
pengembangan budi daya ikan dalam keramba
jaring apung. Kekhawatiran kantor tersebut cukup
beralasan, yaitu supaya kualitas lingkungan
perairan tidak rusak seperti yang terjadi di Waduk
Saguling dan Cirata (Kartamihardja, 1991; Nastiti
et al., 2001).

Kegiatan perikanan yang berkembang di


Waduk Malahayu hanya berupa perikanan
tangkap. Produksi perikanan tangkap waduk ini
meningkat cukup signifikan, yaitu dari 348 ton
pada tahun 2003 sampai 1.025 ton pada tahun
2007 (Kustanto, 2008). Upaya untuk lebih
meningkatkan produksi tangkapan ikan sudah
lama dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini
Dinas Perikanan setempat yang bekerjasama
dengan kelompok nelayan setempat yaitu Nila
Jaya. Upaya tersebut antara lain berupa
penebaran ikan berbagai jenis ikan yaitu ikan
nila, mas (Cyprinus carpio), dan tawes (Puntius
javanicus) yang jumlahnya antara tahun 2001-
2009 berkisar antara 150.000-325.000
ekor/tahun. Jadi secara tidak disadari
sebenarnya masyarakat nelayan setempat sudah
lama melaksanakan program pengembangan
perikanan melalui pola perikanan tangkap
berbasis budi daya (culture based fisheries).
Program ini dapat dirasakan manfaatnya oleh
para nelayan dan terasa dampaknya, oleh karena
itu para nelayan sangat menghargai lembaga
kelompok nelayan yang sudah ada sekarang ini.

Untuk lebih meningkatkan capaian produksi


tangkapan ikan saat ini maka perlu dicarikan
terobosan jenis ikan baru yang juga disukai
masyarakat dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,
terlebih bila juga mempunyai pangsa ekspor yang
cukup baik. Obsesi ini untuk mewujudkannya
memerlukan dukungan data dan informasi, terutama
misalnya tentang pola dan tingkat pemanfaatan
sumber daya pakan alami oleh komunitas ikan di
Waduk Malahayu. Data dan informasi yang
diperoleh selanjutnya dapat dipakai sebagai dasar
dalam penyusunan rencana kebijakan pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya ikan ke depan.
Tentunya data dan informasi tersebut sebaiknya
Survei fisika dan kimiawi air hanya mencakup
beberapa parameter penting kualitas air yang
diserap oleh pengguna (users), dan bukan dari
diukur secara insitu menggunakan metode
hasil proses coba-coba (trial by error) di
standar seperti yang telah ditetapkan oleh
lapangan seperti yang telah banyak dilakukan
American Public Health Association (1989),
di beberapa perairan waduk dan danau selama
antara lain suhu dan kecerahan air, kandungan
ini.
oksigen terlarut (dissolved oxygen), konsentrasi
Bertolak dari permasalahan tersebut di atas karbon dioksida (CO2), dan pH air.
maka penelitian dilakukan dengan tujuan untuk
Contoh ikan untuk keperluan penelitian ini
mengetahui komposisi jenis ikan, preferensi
diperoleh dari hasil tangkapan nelayan di keempat
makanan, dan luas relung tiap jenis ikan di
stasiun penelitian di atas dan juga dari hasil
Waduk Malahayu. Hasil penelitian diharapkan
percobaan penangkapan ikan memakai jaring
bermanfaat sebagai bahan pertimbangan
insang percobaan (experimental gillnet) yang terbuat
dalam menentukan rencana pengelolaan dan
dari benang monofilamen. Jumlah jaring insang
pemanfaatan sumber daya ikan di waduk
yang dipakai dalam penelitian ini adalah empat set,
tersebut.
tiap set terdiri atas beberapa ukuran mata jaring
(mesh size), yaitu ukuran 0,50; 0,75; 1,00; 1,50;
BAHAN DAN METODE
1,75; 2,00; 2,25; 2,50; 3,0; dan 3,50 inci (stretched
mesh). Di tiap stasiun dipasang satu set jaring yang
Penelitian dilakukan di Waduk Malahayu
posisi pemasangannya adalah tegak lurus garis
menggunakan metode survei lapangan yang
pantai (perpendicular). Jaring tersebut dipasang
dilakukan pada bulan Agustus sampai Nopember
pada sore hari dan diangkat (pengambilan hasil
2009 dan bulan Maret sampai Oktober 2010. Untuk
tangkapan) pada keesokan pagi harinya. Ikan hasil
mempermudah jalannya penelitian maka di waduk
tangkapan dipisahkan menurut ukuran mata jaring,
tersebut ditetapkan beberapa stasiun penelitian
kemudian dicatat nama jenis ikannya dan ukuran
untuk pemantauan pengamatan kualitas air dan
panjang (cm) serta bobot (g) tiap individu ikan.
lokasi pemasangan jaring percobaan (experimental
Identifikasi untuk memastikan nama tiap jenis yang
gillnet). Stasiun tersebut adalah di Desa Karacak,
ditemukan dilakukan memakai buku dari Kottelat et
Malahayu (di daerah dermaga perahu), Cawiri, dan
al. (1993). Selanjutnya perut ikan dibedah dan
Pananggapan (Gambar 1).
diambil saluran pencernakannya, kemudian

74
Struktur Komunitas dan Relung .. Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes (Purnomo, K. & A. Warsa)
contoh di laboratorium mencakup
dimasukan ke dalam kantung plastik dan pengamatan organisme jenis makanan
diawetkan memakai larutan formalin 4%. secara mikroskopis dan identifikasi
Setelah itu contoh awetan tersebut dibawa ke memakai buku-buku dari Needham &
Laboratorium Biologi Balai Riset Pemulihan Needham (1963); Edmonson (1978);
Sumber Daya Ikan, Jatiluhur-Purwakarta Quigley (1977); Sachlan (1982).
untuk dianalisis lebih lanjut. Analisis

Gambar 1. Lokasi stasiun penelitian di Waduk Malahayu.


Figure 1. The sampling stations in Malahayu Reservoir.
pik = proposi jenis ikan ke-i dalam
memanfaatkan sumber daya
Analisis data untuk mengetahui makanan ke-k
preferensi dan kebiasaan makanan ikan
dilakukan menggunakan metode indeks
bagian terbesar (index of preponderance)
dari Natarajan & Jhingran dalam Effendie
(1979) sebagai berikut:

.....
IPi {vioi/(vioi)}*100%
(1

di mana:
IPi = indeks bagian terbesar (index of
preponderance) makanan ke-i
vi = persentase volume makanan ke-i
oi = persentase frekuensi kejadian
makanan ke-i

Luas relung (niche breadth) makanan


ikan dihitung menggunakan model Levins
dalam Colwell & Futuyma (1971) sebagai
berikut:

Bi=1/ k(pik)2
. (2

di mana:
Bi = luas relung jenis ikan ikan ke-i
Analisis untuk mengetahui adanya pjk = proposi jenis ikan ke-j dalam
peluang kompetisi antar jenis ikan (niche memanfaatkan sumber daya
overlap) dihitung menggunakan model dari makanan ke-k
Pianka (1986) sebagai berikut:
Tingkatan peluang terjadinya kompetisi
Oij=(pikpjk)/(pik2pjk2)1/2 ditentukan seperti menurut kriteria yang
(3 diajukan oleh Moyle & Senanayake (1984)
sebagai berikut:
di mana: 1. Bila Oij<0,3: peluang terjadinya kompetisi
Oij = tumpang-tindih relung (niche tergolong rendah.
overlap) antara jenis ikan ke-i dan 2. Bila Oije0,3-0,8: peluang terjadinya
ke-j kompetisi tergolong sedang.
pik = proposi jenis ikan ke-i dalam 3. Bila Oij> 0,8: peluang terjadinya
memanfaatkan sumber daya kompetisi tergolong tinggi.
makanan ke-k

75
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 :
73-82
Di perairan ini tidak ada stratifikasi suhu air
(rata-rata antara 27,0-25,6C) dan kandungan
HASIL DAN BAHASAN oksigen terlarut (rata-rata antara 8,8-5,0
mg/L). Hal ini disebabkan perairannya relatif
Kualitas Air dan Sumber Daya Makanan dangkal, kedalaman maksimum hanya sekitar
Alami Ikan 10-12 m sehingga kondisi perairan di bagian
bawah terpengaruh efek penyinaran oleh sinar
Hasil pengukuran beberapa parameter matahari yang dapat menembus sampai
penting fisika dan kimiawi air selama penelitian di kedalaman tertentu. Pengaruh yang sama juga
Waduk Malahayu (Tabel 1) tidak memperlihatkan terjadi untuk kandungan oksigen terlarut yang
suatu kondisi yang ekstrim, artinya nilai-nilai dari lapisan atas sampai ke bawah
konsentrasi tiap parameter terukur adalah seperti penurunannya hanya sedikit. Perairan waduk
yang lazim dijumpai di perairan lainnya. Sampai yang tidak terlalu dalam dan pengadukan
saat ini kondisi perairannya baik untuk massa air oleh angin menyebabkan perairan
kehidupan ikan, belum pernah dilaporkan menjadi keruh, tapi kekeruhan tersebut bukan
adanya kematian ikan dalam kondisi yang akibat proses siltasi melainkan karena
ekstrim sekalipun, misalnya musim kemarau kelimpahan fitoplankton yang cukup tinggi
yang panjang sehingga air waduk menjadi yaitu berkisar antara 79.104-707.600 sel/L
sangat rendah. Selain itu, sungai yang masuk ke (rata-rata 246.235 sel/L). Keadaan ini
dalam waduk yaitu Sungai Cikabuyutan dan mengindikasikan perairan Waduk Malahayu
Ciomas alirannya hanya melalui daerah tergolong subur dan cocok untuk
pertanian dan pemukiman yang tidak terlalu perkembangan jenis-jenis ikan yang tergolong
padat sehingga limbah domestik hanya relatif pemakan plankton (planktivora).
sedikit dan perairan waduk tetap terlihat bersih.

Tabel 1. Fisika, kimiawi, dan biologi perairan Waduk Malahayu, tahun 2010
Table 1. Water, physico, and chemical and biology features of Malahayu Reservoir, in
2010

Parameter Kedalaman/Depth (m)


0 2 4 10-12
Suhu Air (C) 25,7-29,3 (27,0) 25,7-27,6 (26,4) 25,9-27,4 (26,2) 25,0-25,9 (25,6)
O2 (mg/L) 5,3-13,1 (8,8) 5,3-9,5 (7,1) 5,3-8,9 (6,6) 4,7-5,3 (5,0)
CO2 (mg/L) 0,0-3,0 (0,7) 0,0-5,9 (1,7) 0,0-5,9 (1,3) 1,5-3,0 (2,2)
pH (unit) 7,0-8,0 (7,4) 7,0-8,0 (7,4) 7,0-8,0 (7,5) 7,5-8,0 (7,6)
Kelimpahan fitoplankton (sel/L) 5.752-49.483 5.792-655.568 4.658-46.204 3.805-41.749
(26.800) (176.900) (22.760) (19.776)
Kelimpahan zooplankton (ind./L) 1.475-11.569 1.006-31.438 1.006-18.443 1.006-12.072
(4.299) (9.746) (5.659) (3.420)
Keterangan/Remarks:Kecerahan air antara 29,0-160,0 cm; suhu udara antara 24,8-28,8C; angka dalam kurung
menunjukan nilai rata-rata/Water transparency 29.0-160.0 cm, air temperature 24.8-28.8
C, number in the bracket
is the average
dengan kelimpahan tertinggi setelah
Kelimpahan fitoplankton di Waduk Dinophyceae. Secara umum, genera
Malahayu didominansi oleh kelas fitoplankton yang sering ditemukan dan
Cyanophyceae dan Dinophyceae (Gambar 2). berlimpah adalah Chlorella, Pediastrum,
Kelimpahan yang tinggi tersebut terdapat baik Oscillatoria, Synedra, Peridinium,
pada kedalaman 0,5; 2,0; dan 4,0 m, yang Scenedesmus, Coleastrum, dan Nitzchia.
paling tinggi adalah pada kedalaman 2 m.
Cyanophyceae merupakan kelas fitoplankton

76
Struktur Komunitas dan Relung .. Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes (Purnomo, K. & A. Warsa)

Individu (x1000) Liter


Kelimpahan (x1000) sel/L

- 20 40 60 80 100 Bacteria

Chlorophyceae
Rotifera

Cyanophyceae
Bacillariophyce
ae Cladocera

Desmideacea

Copepoda
Dinophyceae
Euglenophycea
e
- 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000

Gambar 2. Kelimpahan fitoplankton di Waduk Malahayu, tahun 2010.


Figure 2. Abundance of phytoplankton of Malahayu Reservoir, in 2010.
alometrik positif (b = 3,144), artinya ikan ini terlihat
gemuk sebab pertambahan bobot badannya lebih
Struktur Komunitas Ikan
cepat dibanding pertumbuhan panjangnya.
Dari monitoring terhadap hasil tangkapan ikan oleh Informasi ini secara tidak langsung mengindikasikan
nelayan selama penelitian berlangsung ada 10 jenis bahwa habitat Waduk Malahayu cocok untuk
ikan yang menghuni Waduk Malahayu (Tabel 2), kehidupan ikan patin siam. Indikasi ini akan
adapun jenis ikan yang tergolong dominan adalah ikan dijelaskan lebih lanjut dalam alinea pembahasan
nila (50,83%), beunteur (18,19%), dan patin (15,06%). tentang komposisi makanan ikan di waduk tersebut.
Keberadaan ikan patin siam yang diintroduksikan oleh Selain ikan patin siam maka jenis-jenis ikan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan introduksi lainnya mampu hidup dan berkembang di
Perikanan-Kementerian Kelautan dan Perikanan pada waduk ini adalah ikan nila, mujair, mas, dan tawes.
tanggal 11 Juli 2009. Jenis ikan tersebut kini sudah Jenis-jenis ikan yang ditemukan kebanyakkan pola
berkembang pesat, ukuran terbesar yang pernah pertumbuhannya isometrik (pertumbuhan panjang
tertangkap sampai akhir tahun 2010 adalah panjang badan seimbang dengan bobot badannya), kecuali
66,0 cm dan bobot 3.900 g. Pola pertumbuhan ikan ikan beunteur, gabus dan mujair yang bersifat
patin selama ini bersifat alometrik (Tabel 2).

Tabel 2. Hubungan panjang dan bobot tiap jenis ikan di Waduk Malahayu
Table 2. Length and weight relationship of fishes in Malahayu Reservoir

Jenis ikan/Species Persamaan/Equation R2 n Pertumbuhan/Growth


2,986
Nila (Oreochromis niloticus) B=0,020P 0,970 1.657 Isometrik
Beunteur (Puntius binotatus) B=0,052P2,377 0,638 593 Alometrik
Gabus (Channa striata) B=0,068P2,383 0,825 140 Alometrik
Mujair (Oreochromis mossambicus) B=0,034P2,727 0,918 303 Alometrik
Patin (Pangasianodon hypophthalmus) B=0,006P3,144 0,930 491 Alometrik
Sepat (Trichogaster trichopterus) B=0,024P2,740 0,824 143 Isometrik
Mas (Cyprinus carpio) B=0,041P2,839 0,947 10 Isometrik
Keting (Mystus nigriceps) B=0,012P2,921 0,935 7 Isometrik
Tawes (Barbonymus gonionotus) B=0,024P2,919 0,924 12 Isometrik
Sili (Macrognathus aculeatus) 4

sungai ke dalam waduk atau danau, sebab jenis


Dalam penelitian ini juga ditemukan jenis ikan ikan ini aslinya adalah ikan sungai (riverine).
sili (Macrognathus aculeatus) dalam jumlah yang Menurut Anonimus (2010), seorang peneliti dari
tidak terlalu banyak. Jenis ikan ini juga banyak Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
ditemukan di beberapa perairan waduk seperti mengatakan bahwa di Indonesia ada 11 jenis ikan
Waduk Gajahmungkur, Kedungombo, Sempor, dan sili (nama lainnya adalah sisili, tilan) di mana tiga
lain-lain. Pada umumnya ditemukan di daerah jenis antara lain
sekitar inlet
77
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 73-82
jaring antara 1,00-1,75
inci. Hal ini sekaligus
ditemukan di Jawa
mengindikasikan
yaitu Macrognathus
bahwa populasi ikan di
aculeatus,
waduk ini didominansi
Macrognathus
oleh individu ikan yang
maculatus, dan
berukuran kecil.
Mastacembelus
Untungnya nelayan
unicolor.
setempat sangat
Macrognathus dan
mentaati Peraturan
Mastacembelus
Daerah setempat yang
sepintas sama
melarang penggunaan
perwujudannya,
ukuran mata jaring
bedanya adalah pada
kurang dari dua inci
jumlah spina dan duri
(<2 inci). Dari Tabel 3
di punggung di mana
juga terlihat bahwa
Macrognathus
ukuran ikan yang
memiliki 31 duri
tertangkap tidak
sedangkan
meningkat secara linier
Mastacembelus
dengan bertambahnya
mempunyai 33 duri.
ukuran mata jaring,
Keduanya tergolong
artinya ukuran mata
jenis ikan yang
jaring yang kecil
mahal, mulai langka
mungkin saja
dan banyak
menangkap ukuran
dimanfaatkan sebagai
ikan yang lebih besar.
ikan hias.
Ikan-ikan ini
Hasil percobaan kemungkinan hanya
tertangkap dengan
penangkapan ikan
posisi tersangkut atau
memakai jaring insang
terpuntal (tangled).
percobaan (Tabel 3)
memperlihatkan bahwa
ikan kebanyakan
tertangkap pada ukuran
mata

Tabel 3. Komposisi hasil tangkapan jaring


insang percobaan di Waduk Malahayu
Table 3. Catch composition of
experimental gillnet in Malahayu Reservoir

Jumlah/
Mata jaring/ Jenis ikan/ Panjang/Length Bobot/Weight Total bobot/
Number
Mesh size (inci) Species (cm) (g) Total weight (g)
(ekor)
1,00 Mujair 6,7 5,6 5,6 1
Beunteur 7,5-11,5 (9,3) 6,3-17,4 (11,1) 489,7 44
Sili 22 33,4 33,4 1
1,25 Mujair 6,5-12,5 (9,6) 7,2-36,8 (17,6) 1.075,5 61
Sili 25,5 53,1 53,1 1
Nila 7,5-12 (8,9) 7,2-36,8 (17,6) 1.109,0 76
Gabus 17,5-23 (20,3) 51,5-105 (78,3) 156,5 2
Sepat 8,5 9,6 9,6 1
Beunteur 10-15(11,3) 15-29,1 (19,4) 232 12
1,50 Mujair 8,2-12 (10,2) 10,5-29,1 (19,3) 573,8 30
Nila 9,2-11,5 (10,6) 14-30 (21,7) 65 3
1,75 Mujair 8,3-13,5 (11,4) 14-30 (21,7) 1.193 46
Nila 7-13 (10,9) 7-35,1 (24,6) 638,7 27
2,00 Mujair 12,5-13,5 (13,6) 43,3-50,7 (46,8) 187 4
Nila 12-15,5 (13,8) 41,7-76,9 (52,9) 582,9 11
Gabus 19,5 221,5 221,5 1
2,25 Mujair 13-16 (14,3) 49,1-77 (59,8) 599 10
Nila 12-19,5 (16,5) 35,6 (161) 642,1 7
Gabus 37 480,8 480,8 1
2,50 Nila 15,5-20 (17,6) 76,4-157 (114,3) 686 7
3,00 Nila 15,5-20 (18,3) 62,3-145,2 (120,8) 483,3 7

beberapa berbagai
Relung Makanan jenis organisme lain
Sumber Daya Ikan yang niche ekologinya
sama maka akan
Komunitas adalah terjadi kompetisi atau
kumpulan beberapa persaingan dalam
spesies yang hidup mendapatkan ruang
secara bersama-sama (spatial niche) maupun
menurut ruang dan utamanya adalah
waktu. Habitat adalah makanan (trophic
tempat keberadaan niche). Kompetisi
suatu makhluk hidup tersebut dikenal
atau organisme atau dengan istilah
komunitas guna kompetisi eksploitatif
memenuhi (Piet, 1996). Dalam
kebutuhannya. Apabila kompetisi ini masing-
kebutuhannya tidak masing spesies
ditemukan atau tidak tersebut akan
mencukupi maka mempertinggi efisiensi
organisme tadi akan cara hidup sehingga
mati atau berpindah ke masing-masing akan
lokasi lain yang lebih cenderung lebih
cocok. Relung ekologi bersifat spesialis dan
atau niche ekologi luas relungnya akan
(ecological niches) menyempit. Akan tetapi
merupakan bagian ilmu bila populasi semakin
ekologi yang lebih meningkat. maka juga
menekankan pada akan terjadi persaingan
peranan atau profesi antara individu di
suatu organisme di dalam spesies yang
dalam habitatnya (Giller, sama (Krebs, 1999;
1984; Krebs, 1999). Jika Piet, 1996).
dalam habitat tersebut
terdapat atau hidup

78
Struktur Komunitas dan Relung .. Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes (Purnomo, K. & A. Warsa)
Menurut jenis-jenis makanan alami yang
dikonsumsi oleh ikan di Waduk Malahayu
Hasil analisis isi saluran pencernaan
ternyata luas relung paling besar pada tahun
beberapa jenis ikan yang ditemukan
2009 adalah ikan beunteur, sedangkan pada
ternyata sumber daya pakan alami yang
tahun 2010 adalah ikan patin, mujair, dan
dapat dimanfaatkan oleh ikan di Waduk
beunteur (Tabel 4). Menurut Giller (1984); Piet
Malahayu cukup beragam yaitu berupa
(1996); Krebs (1999), luas relung yang besar
udang, anak ikan, tumbuhan air, moluska,
mencirikan bahwa jenis ikan tersebut bersifat
insekta, fitoplankton, zooplankton, dan
generalis, artinya dapat memanfaatkan semua
detritus (Gambar 3). Pada Gambar 3
jenis sumber daya pakan yang tersedia di
tersebut juga terlihat bahwa ikan nila,
perairan. Sebaliknya ikan dikatakan bersifat
mujair, dan sepat (Trichogaster trichopterus)
spesialis adalah bila hanya dapat memanfaatkan
makanan utamanya adalah fitoplankton.
jenis sumber daya pakan alami tertentu,
Ikan gabus makanan utamanya anak ikan.
misalnya ikan sili dan keting.
Ikan tawes makanan utamanya berupa
tumbuhan air sedangkan makanan
tambahannya berupa fitoplankton. Ikan sili
dan keting (Mystus nigriceps) makanan
utamanya adalah larva insekta.

Gambar 3. Komposisi makanan ikan di Waduk Malahayu.


Figure 3. Diet composition of fishes in Malahayu Reservoir.
pengelompokkan jenis ikan berdasarkan
Tabel 4 juga menerangkan peluang atas kesamaan makanannya, seperti tersaji
terjadinya kompetisi antar jenis ikan, yaitu dalam Gambar 4 dan 5.
dengan melihat nilai tumpang-tindih relungnya
(niche overlap), atau untuk lebih jelasnya
dapat dilihat juga dari dendrogram
79
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 : 73-82

Tabel 4. Luas dan tumpang-tindih relung ekologi ikan di Waduk Malahayu


Table 4. Niche breadth and overlap of fishes in Malahayu Reservoir

Jenis ikan/ Luas relung/ Nila Mujair Beunteur Gabus Sepat Keting
Kind of fish (tahun) Broad niche 09 09 09 09 09 09
Nila 09 1,489
Mujair 09 1,248 0,993
Beunteur 09 2,612 0,903 0,858
Gabus 09 1,220 0,000 0,000 0,000
Sepat 09 1,310 0,993 1,000 0,858 0,000
Keting 09 1,220 0,000 0,000 0,269 0,110 0,000
Patin 09 1,837 0,975 0,974 0,861 0,000 0,980 0,000
Jenis ikan/ Luas relung/ Nila Tawes Patin Mujair Gabus Sepat Sili
Kind of fish (tahun) Broad niche 10 10 10 10 10 10 10
Nila 10 1,715
Tawes 10 1,923 0,556
Patin 10 2,691 0,247 0,194
Mujaer 10 2,420 0,973 0,537 0,460
Gabus 10 1,060 0,022 0,000 0,004 0,047
Sepat 10 1,737 0,991 0,508 0,235 0,958 0,000
Sili 10 1,000 0,000 0,000 0,048 0,012 0,000 0,000
Beunteur 10 2,378 0,219 0,110 0,792 0,369 0,000 0,287 0,001
Keterangan/Remarks: Angka 09 atau 10 di belakang nama jenis ikan menunjukan tahun penelitian

47.48
41.11

64.99
60.74

82.49 80.37
Tingkatkesamaan(

Tingkatkesamaan(
%)

%)

10Beunteur
100.00 100.00
Mujaer 10

Tawes 10
Sepat 10

Patin 10

Gabus 10
Nila 10
Gabus 09
Mujair 09

Keting 09
Beunteur
Sepat 09

Patin 09

Sili 10
Nila 09

09

Jenis ikan

Jenis ikan

Gambar 5 Dendrogram pengelompokkan jenis ikan


Gambar 4. Dendrogram pengelompokkan jenis berdasarkan atas kesamaan
ikan berdasarkan atas kesamaan makanannya, pada tahun 2010.
makanannya, pada tahun 2009. Figure 5. Dendrogram indicating the similarity of
Figure 4. Dendrogram indicating the similarity of
fish diets, in 2010.
fish diets, in 2009.
2009 (nilai tumpang-tindih = 0,975) lebih besar
Bila digabungkan antara Tabel 4, Gambar 4 dan 5,
dibanding keadaannya pada tahun 2010 (nilai
maka satu hal yang menarik adalah keberadaan ikan
tumpang-tindih = 0,247). Peluang terjadinya kompetisi
nila dan patin siam sebagai sesama jenis ikan
untuk mendapatkan makanannya di alam
introduksi. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian
kemungkinan hanya terjadi pada saat ikan patin
ini diharapkan dapat menjawab kekhawatiran sebagian
berukuran kecil (kisaran panjang 4,0-29,0 cm; rata-
masyarakat nelayan dan pengelola perikanan setempat
rata 19,9 cm), sedangkan setelah berukuran lebih
terhadap kemungkinan terjadinya kompetisi dan
besar (kisaran panjang 15,0-70,0 cm; rata-rata 25,5
terdesaknya populasi ikan nila akibat introduksi ikan
cm) peluang kompetisi tersebut semakin kecil sebab
patin siam pada tahun 2009. Ikan nila luas relungnya
makanannya sudah berbeda, yaitu lebih banyak
lebih kecil dibanding ikan patin siam (Tabel 4), tapi
memanfaatkan moluska berupa kelas Bivalvia
peluang terjadinya kompetisi dalam mendapatkan
(Pelecypoda) (perhatikan juga Gambar 2). Informasi
makanan di alam pada tahun
80
Struktur Komunitas dan Relung .. Waduk Malahayu, Kabupaten Brebes (Purnomo, K. & A. Warsa)
2009-2010 (Tabel 5) memperlihatkan bahwa
ini akan semakin jelas dengan ditampilkannya hasil tangkapan nelayan di waduk ini
dendrogram pada Gambar 3 dan 4 tersebut di berkisar antara 34,3-1.323,1 ton/tahun (rata-
atas, di mana ketika ikan patin siam berukuran rata 157,3 ton/tahun). Data hasil percobaan
kecil (tahun 2009) berada dalam satu penangkapan ikan memakai gill net
kelompok bersama ikan nila sedangkan eksperimental (Tabel 2) maupun hasil
setelah besar (tahun 2010) jenis makanannya tangkapan oleh nelayan (Tabel 5)
lebih mirip dengan ikan beunteur.
menunjukkan bahwa waduk ini dihuni oleh
13 jenis ikan. Jenis ikan yang tergolong
Produksi Tangkapan Ikan dominan (hampir selalu tertangkap setiap
hari) adalah ikan nila (77,0%), udang
Hasil analisis terhadap hasil tangkapan ikan (7,3%), dan ikan gabus (6,7%).
di Waduk Malahayu yang dimonitor setiap hari
dari tahun

Tabel 5. Rata-rata hasil tangkapan ikan harian di Waduk Malahayu


Table 5. Average daily fish catch in Malahayu Reservoir

Hasil tangkapan/Fish catch (kg) Nelayan/


Bulan/ Fisherm
Month Nila Gabus Udang Belut Keting Mendo MujairParay Mas PatinBeunteur en
(orang)
Jul-09 103,6 19,7 29,9 18,6 24
Aug-09 471,2 66,1 41,0 9,5 81
Sep-09 1023,6 90,0 56,5 25,0 24,8 52,3 99
Oct-09 795,9 58,3 65,8 12,3 14,7 0,6 91
Nov-09 905,7 29,0 40,2 9,7 57,6 6,6 0,7 76
Dec-09 228,8 2,5 13,2 2,4 5,8 54
Jan-10 135,9 5,4 20,6 2,7 5,8 14,1 40
Feb-10 136,8 5,4 38,8 10,8 14,3 6,8 2,3 45
Mar-10 138,3 26,9 35,6 9,2 3,8 5,6 3,7 27
Apr-10 133,1 13,2 33,0 9,0 17,6 3,7 7,8 51
May-10 153,0 25,4 29,9 20,0 5,9 57
Jun-10 214,1 20,7 23,2 14,4 16,8 3,0 5,4 54
Jul-10 201,4 26,3 21,2 9,0 13,1 2,9 55
Aug-10 184,7 22,9 16,3 5,2 17,3 1,7 4,1 1,8 65
Sep-10 294,7 29,4 26,8 120,0 2,4 12,4 5,9 46
Oct-10 439,9 41,6 37,2 10,5 15,1 4,2 70

KESIMPULAN PERSANTUNAN
(koefisien kompetisi = 0,247) sehingga
1. Waduk Malahayu dihuni oleh 13 jenis keberadaan ikan patin siam tidak akan
ikan, adapun jenis ikan yang dominan mendesak populasi ikan nila.
adalah ikan nila 77,0%, udang 7,3%, dan
gabus 6,7,1%.

2. Sumber daya makanan alami yang


dimanfaatkan oleh ikan adalah udang,
anak ikan, tumbuhan air, moluska,
insekta, fitoplankton, zooplankton, dan
detritus.

3. Berdasarkan atas makanan alami yang


dikonsumsi menunjukkan bahwa ikan nila,
mujair, dan sepat merupakan ikan
pemakan plankton (plankton feeder), ikan
gabus bersifat predator, ikan tawes bersifat
herbivora, ikan sili, dan keting merupakan
ikan pemakan serangga (insektivora) dan
ikan patin siam bersifat omnivora.

4. Peluang kompetisi sumber daya makanan


alami antara ikan patin siam dan nila sebagai
sesama jenis ikan introduksi sangat kecil
Tulisan ini merupakan kontribusi dari American Public Health Association.
kegiatan hasil riset perikanan berbasis budi Washington D. C. 1,193 pp.
daya (culture based fisheries) di Waduk
Malahayu (Kabupaten Brebes) dan Situ Anonimus. 2010. Ikan Sili Nyaris Punah.
Panjalu (Kabupaten Ciamis), T. A. 2009 dan http://
2010, di Balai Riset Pemulihan Sumber kompas.com/read/2010/07/21/10110231/
Daya Ikan-Jatiluhur, Purwakarta. Ikan.Sili.Nyaris.Punah. Diakses Tanggal
31 Maret 2011.
DAFTAR PUSTAKA
Colwell, I. C. & D. J. Futuyma. 1971. On the
American Public Health Association. 1989. measurement of niche breadth and
Standard Methods for the Examination of overlap. Ecology. 52: 567-576.
Water and Waste Water . 17th ed.

81
J. Lit. Perikan. Ind. Vol.17 No. 1 Maret 2011 :
73-82
Moyle, P. B. & F. R. Senanayake. 1984.
Resource partitioning among fishes of
Edmonson, W. T. 1978. Freshwater Biology. rainforest streams in Sri Lanka. J. Zool.
Second Edition. University of Washington. London. 202: 195-223.
Seattle.
Nastiti, A. S., Krismono, & E. S. Kartamihardja.
Effendie, M. I. 1979. Metoda Biologi 2001. Dampak budi daya ikan dalam
Perikanan. Cetakan pertama. Yayasan keramba jaring apung terhadap
Dewi Sri. Bogor. peningkatan unsur N dan P di perairan
Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.
Giller, P. S. 1984. Community Structure and the Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7
Niche.
(2): 22-30.
Chapman and Hall. New York. 153 pp.
Needham, J. G. & P. R. Needham. 1963. A
Kartamihardja, E. S. 1991. Some Note on Guide to the Study of Freshwater
Limnological Aspects and Fisheries of Biology. Constable & Co. Ltd. London.
the Saguling, Cirata, and Jatiluhur
Reservoirs in West Java, Indonesia. Pianka, E. R. 1986. Ecology and Natural
RIFF. AARD. (Unpublished). 20 pp. History of Desert Lizards. Princeton
University Press. Princeton, N. J.
Kottelat, M., A. J. Whitten, S. N. Kartikasari,
& S. Wiroatmodjo. 1993. Freshwater Piet, G. J. 1996. (Ed). On the Ecology of a
Fishes of Western Indonesia and Tropical Fish Community. M.C.
Sulawesi (Ikan Air Tawar Indonesia Escher/Cordon Art-Boarn-Holland. 189
Bagian Barat dan Sulawesi). Periplus pp.
Editions Ltd. Indonesia.
Quigley, M. 1977. Invertebrates of stream and
Krebs, C. J. 1999. Ecological Methodology. rivers.
2nd Edition. Addison-Wesley. New York. A key to Identification . Edward Arnold.
654 pp.
Northampton. 84 pp.
Kustanto, H. 2008. Sukses story pemacuan
sumber daya ikan di Waduk Malahayu,
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas
Kabupaten Brebes. Dinas Kelautan dan
Peternakan dan Perikanan. Universitas
Perikanan, Kabupaten Brebes.
Diponegoro. Semarang. 156 pp.
Disampaikan pada Lokakarya Pemacuan
Sumber Daya Ikan di Perairan Umum.
Direktur Sumber Daya Ikan. Direktorat
Jenderal Perikanan Tangkap. Kementerian
Kelautan dan Perikanan. Hotel Saphir,
Yogyakarta, Tanggal 4-7 Nopember 2008.
82