Anda di halaman 1dari 8

Daftar Isi

Kata Pengantar...i
Daftar isi....ii

1.1. Pengertian Wawancara


1.2. Jenis Wawancara.
1.3. Teknik Wawancara.
1.3.1. Santun Wawancara
1.3.2. Persiapan yang dilakukan sebelum wawancara.

ii
1.1. Pengertian Wawancara
Wawancara ialah tanya jawab antara pewawancara dengan yang diwawancara untuk meminta
keterangan atau pendapat mengenai suatu hal.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua
pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara
(interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. (Lexy J, 2006 :186).
Menurut Kartono (1980: 171) interview atau wawancara adalah suatu percakapan yang
diarahkan pada suatu masalah tertentu ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang
atau lebih berhadap-hadapan secara fisik.
Menurut Banister dkk (1994 dalam Poerwandari 1998: 72 - 73) wawancara adalah percakapan
dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.

1.2. Jenis-jenis wawancara

Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

1.Wawancara bebas
Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden,
namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang
diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.

2. Wawancara terpimpin
Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang
lengkap dan terinci.

3. Wawancara bebas terpimpin


Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas
dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa
pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.

Wawancara berdasarkan cara pelaksanaannya dibagi dua yaitu :


a. Wawancara berstruktur
wawancara secara terencana yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah
dipersiapkan sebelumnya.
b. Wawancara tak berstruktur
wawancara yang tidak berpedoman pada daftar pertanyaan.
1.3. Teknik Wawancara

Wawancara merupakan istilah yang diciptakan dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan
kata asing Interview (dari bahasa Belanda atau Inggris), yang digunakan oleh pers Indonesia
sampai akhir tahun 1950-an. Orang yang mewancarai disebut Pewawancara (interviewer) dan
yang diwawancarai disebut pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden.
Jadi, wawancara adalah tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau
pendapatnya tentang sesuatu hal atau masalah. Wawancara sering kali diasosiasikan dengan
pekerjaan kewartawanan untuk keperluan penulisan berita atau feature yang disiarkan dalam
media massa. Tetapi wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan,
misalnya, penelitian, atau penerimaan pegawai.

Yang Harus di Perhatikan Sebelum Wawancara :


1.Kenali topik wawancara yang akan dilakukan.
2.Baca berkas masalah pokok tentang wawancara
3.Buka kliping soal hal-hal yang berkaitan dengan topic wawancara
4.Tetapkan apa yang ingin Anda ketahui melalui wawancara

Menyusun Kerangka Wawancara :


Kerangka (outline) merupakan penjabaran topik. Topik diuraikan menjadi sejumlah sudut
tekanang/sudut pandang (angle). Setiap angle dikembangkan menjadi pertanyaan. Kerangka
juga berfungsi untuk menciptakan angle apa yang patut masuk dalam wawancara, kemudian
mengembagkan pertanyaan dalam cakupan angle tersebut. Hal ini penting dilakukan, karena
akan membantu Anda dalam menyusun wawancara secara teratur, tidak keluar dari topik.
Selain itu juga akan memudahkan Anda berpikir secara jelas dan fokus terhadap topik
wawancara.

Ketika Memulai Wawancara Ada Beberapa Hal yang Harus di Perhatikan :


Menjaga Suasana
Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga berjalan
dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius. Untuk
menciptakan suasana yang nyaman dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum
memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang
umum. Misalnya, soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan, hobi dan sebagainya
yang mungkin menyetuh hati.
Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik simpati supaya nara sumber sehibngga
tidak terlalu pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali kalau pewawancara sudah
sangat dekat basa-basi itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang waktu untuk wawancara
sangat terbatas, pewawancara harus tanggap. Itupun juga kita dibicarakan sebelum
melangsungkan wawancara. Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya dilakukan, antara
lain jangan membuat nara sumber marah atau tersinggung, sehingga percakapan langsung
diputus. Jangan marah-marah atau memojokkan nara sumber.

2. Bersikap Wajar
Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara sumber yang benar-benar pakar, tetapi
tidak jarang yang dihadapi tidak menguasai persoalan. Namun demikian tidak perlu rendah
diri atau merasa lebih tinggi dari nara sumber, seharusnya bisa mengimbangi atau
mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya nara sumber tidak
berceramah, karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini sangat diperlukan.
Karena itu dalam persiapan wawancara ini diperlukan,menguasai materi, selain menguasai
nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan. Apabila
menghadapi nara sumber yang tidak menguasai masalah bisa mengarahkan tetapi tanpa harus
menggurui, sehingga bisa memahami persoalan yang akan digali.

3. MemeliharaSituasi
Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa sedang menghadapi nara sumber, karena
itu dalam wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi supaya mendapat informasi
yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi perdebatan dengan nara sumber
yang diwawancarai. Juga perlu dihindari situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak
berlebihan sampai menjurus ke arah interograsi apalagi menghakimi.
Misalnya, wawancara dengan seorang direktur rumah sakit terkait dengan kasus flu burung,
karena etika kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan. Namun pewawancara
memaksakan kehendak, sehingga menimbulkan ketegangan dan menghakimi direktur
tersebut, bukan mendapat informasi malah tidak mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Dalam menghadapi kasus seperti itu pewawancara harus mampu mencari celah untuk
kembali pada situasi, agar mendapatkan informasi yang lebih jelas.

4.Tangkas Menarik Kesimpulan


Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap jawaban yang
diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas. Dengan kesimpulan yang
tepat wawancara terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang sering dilakukan
wartawan pada saat mengambil kesimpulan kurang tangkas, sehingga nara sumber harus
mengulang kembali apa yang telah disampaikan. Kalau itu terjadi berulangkali maka akan
membuat nara sumber bosan, sehingga wawancara tidak berkembang, membuat pintu
informasi menjadi tertutup. Akibat yang paling parah kehilangan sumber berita, karena nara
sumber takut salah kutip. Bagi nara sumber yang teliti dan kritis, satu persatu kalimat akan
menjadi pengamatan. Salah kutip ini harus dihindari dalam setiap wawancara, Jangan takut
minta pernyataan diulang atau bahkan ada kata yang kurang jelas seperti ucapan bahasa
Inggris harus selalu dicek kebenaran arti dan ejaannya.

5. Menjaga Pokok Persoalan


Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam menggali
informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil yang memuaskan.
Seringkali dalam menjaga pokok persoalan ini diliputi perasaan rikuh kalau kebetulan ayng
diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas dalam hal tertentu. Serngkali untuk menjaga
situasi ini ada anjuran pewawancara mengikuti apa yang dikatakan nara sumber. Meski harus
mengikuti pembicaraan nara sumber diharapkan tidak lari dari pokok persoalan bahkan
berusaha mempertajam pokok masalah, agar tetap mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Contohnya, untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang kerusakan lingkungan, pada
awalnya memang bercerita tentang lingkungan tetapi di tengah-tengah pembicaraan
membelok ke arah lain dan menyimpang dari pokok persoalan. Kalau sudah demikian maka
yang dilakukan segera mengembalikan inti persoalan.

6. Kritis
Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawancara agar mendapat informasi yang lebih
terinci dan selengkap-lengkapnya. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menangkap persoalan
yang berkaitan dengan pokok pembicaraan yang sedang dikembangkan. Jeli dan kritis
merupakan kaitan dengan kemampuan menangkap setiap kata dan kalimat yang disampaikan
oleh nara sumber. Kekritisan tersebut tidak hanya menyangkut pokok persoalan, tetapi juga
menangkap gerakan-gerakan yang diwawancarai. Berkait dengan pokok persoalan kalau
kritis menangkapnya maka bisa meluruskan data bila nara sumber salah mengungkapkannya.
Baik itu tentang angka, tempat kejadian dan sebagainya. Ini penting sebagai bahan untuk
menuliskan laporan, sehingga benar-benar utuh dan penuh warna. Kalau perlu ketika nara
sumber sedang memberikan keterangan dalam keadaan gelisah, terus menerus mengepulkan
asap rokok dan sebagainya, hal ini harus ditangkap sebagai isyarat yang bisa dituangkan
dalam tulisan. Dengan demikian pembaca mendapat gambaran utuh dan laporan tidak kering.

7. Sopan Santun
Dalam wawancara sopan santun perlu dijaga, karena ini menyangkut etikat pergaulan di
dalam masyarakat yang harus mendapat perhatian dan dipegang teguh. Dalam menghadapi
nara sumber kendali sudah mengkenal betul, tidak bisa bersikap sembarangan, sombong atau
perilaku yang tidak simpatik lainnya. Bila akan merokok, sementara nara sumber tidak
merokok harus minta izin. Apalagi kalau ruangan tempat wawancara ber-AC maka sopan
santun perlu dijaga. Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa mengucapkan rasa
terima kasih kepada nara sumber,. Karena telah memberikan kesempatan dan mendapatkan
informasi dari hasil wawancara. Pada akhir wawancara pesan kepada nara sumber untuk
tidak keberatan dihubungi bila ada data yang diperlukan ternyata masih kurang.
Hal-hal praktis yang perlu mendapat perhatian dalam mengadakan wawancara berkaitan
dengan sopan santun:
Tidak perlu gusar bila nara sumber yang menjadi target wawancara menolak dengan alasan
sibuk. Mencoba dan mencoba lagi, agar diberi waktu untuk wawancara merupakan suatu
upaya, sampai mendapat kesempatan untuk membuat perjanjian waktu.
Untuk mendapat perjanjian bisa melalui telepon atau mendatangi langsung kantor atau
rumahnya. Dihindari datang terlambat pada saat akan melakukan wawancara dan lebih baik
datang lebih awal. Jangan sampai salah mengeja nama orang yang diwawancarai dan lebih
baik minta kartu nama atau paling tidak ketika nama nara sumber itu sulit dieja diminta
dengan hormat untuk menuliskan di bloknote yang digunakan untuk mencatat hasil
wawancara.
Cek kembali peralatan tulis apakah sudah lengkap, karena kalau sampai ada peralatan tidak
terbawa bisa membuat suasana awal dari wawancara menjadi kurang berkesan.
Sebutkan alasan melakukan wawancara dengan tempat kerja, sehingga nara sumber yang
diwawancarai mengerti benar maksud wawancara. Tidak perlu menjanjikan kepada nara
sumber hasil wawancara pasti dimuat, namun bisa meberikan keyakinan kegunaan dari hasil
wawancara tersebut.

1.3.1. Santun Wawancara


Sikap Sikap yang Harus dimiliki oleh Pewawancara

Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak
kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk
itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:

1) Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi
yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari
responden, baik yang menyenangkan atau tidak.

2) Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si


responden.

3) Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama.
Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun
keberadaannya.

4) Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan


sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak
membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan
hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar
terarah.
1.3.2. Persiapan yang dilakukan sebelum wawancara

Sebelum seorang pewawancara melakukan wawancara, tentu saja ada banyak hal yang
harus dipersiapkan secara mendalam agar wawancara yang dilakukan menghasilkan data
yang akurat dan dapat menjadi berita yang aktual berdasar pada data dan fakta yang ada.
Kali ini saya akan mencoba membahas tentang apa saja yang harus dipersiapkan seorang
pewawancara sebelum melakukan wawancara. So, here they are.

Pertama yang harus dilakukan seorang pewawancara sebelum melakukan wawancara


adalah menyusun pertanyaan. Pertanyaan yang disusun tidak boleh asal-asalan sesuka
hatinya. Pertanyaan yang disusun haruslah sesuai dengan bentuk keingintahuan sesuai
dengan kompetensi narasumber yang dipilih sehingga wawancara akan berjalan dengan
lancar dan tidak terdengar rancu dan menghasil analisa yang mendalam dan berita yang
kontekstual dan tidak klise. Pertanyaan juga harus berdasar pada data dan fakta mengenai
permasalahan yang akan dibahas, sesuai dengan informasi yang ada dan mengupas isu
yang ada serta berpedoman pada Term of Reference (TOR). Pertanyaan yang tidak
terhubung pada subjek pembahasan hanya akan membuat wawancara berjalan tanpa arah
dan tujuan yang jelas dan pada akhirnya menghasilkan analisa yang kurang memuaskan
pembaca.

Beberapa hal lain yang harus dilakukan pewawancara diantaranya adalah mempelajari
materi dan latar belakang permasalahan secara mendetail agar tidak keluar dari fokus
pembicaraan ketika melakukan wawancara. Hal ini sangat penting untuk menentukan
jalannya wawancara dan agar narasumber tidak merasa kebingungan karena ditanyai
sesuatu yang tidak pada tempatnya. Selain itu, pewawancara juga diharapkan untuk
membuat suatu pertanyaan yang tajam agar narasumber memberikan penjelasan yang
detail dan langsung mengarah pada pokok pembahasan tanpa harus bertele-tele dalam
memberikan respon kepada pewawancara. Pewawancara juga diharapkan untuk mebuat
pertanyaan yang mudah dimengerti agar narasumber tidak kebingungan dalam menjawab
pertanyaan. Selain itu juga, pewawancara harus memaksimalkan waktu yang ada karena
seorang narasumber yang kompeten dan berwawasan luas biasanya hanya memiliki
waktu yang terbatas.

Sebuah wawancara akan mengalami keberhasilan jika persiapan yang dilakukan


dilaksanakan dengan benar. Wawancara yang baik adalah wawancara yang langsung
bertumpu pada topik yang ingin dibahas, tidak bertele-tele pada hal yang sebenarnya
tidak berkaitan dengan tema yang diinginkan untuk itu pertanyaan yang disiapkan
haruslah tajam mendalam dan memicunarasumber untuk menjawab dan merespon secara
cepat. Satu aspek penting yang tidak boleh dilupakan adalah waktu. Waktu adalah kunci
keberhasilan wawancara, jangan bertele-tele, maksimalkan waktu yang ada dengan
pertanyaan yang langsung bertumpu pada subjek yang ingin dikupas sehingga
narasumberpun merasa nyaman untuk menjawab.