Anda di halaman 1dari 80

PERAN PIMPINAN DALAM MENYELESAIKAN

KONFLIK DI ORGANISASI

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi


Universitas Negeri Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Profesi Ahli Madya

Oleh:

Denis Yuniaty
10411134001

PROGRAM STUDI SEKRETARI DIII


JURUSAN PENDIDIKAN ADMINISTRASI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : Denis Yuniaty

NIM : 10411134001

Program Study : Sekretari

Judul Tugas Akhir : Peran Pimpinan Dalam Menyelesaikan

Konflik Di Organisasi

Menyatakan bahwa karya ilmiah ini merupakan hasil kerja sendiri dan sepanjang

pengetahuan saya tidak berisi materi yang dipublikasikan atau dipergunakan

sebagai persyaratan penyelesaian studi di perguruan tinggi oleh orang lain kecuali

pada bagian-bagian tertentu yang saya ambil sebagai acuan atau kutipan dengan

mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim. Apabila terbukti

pernyataan ini tidak benar sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.


ii
iii
iv
Motto

Setiap orang di antaramu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung


jawab atas kepemimpinannya
( HR. Bukhari Muslim)

janganlah kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebathilan dan janganlah


kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya
( QS. Al-Baqarah :42)

Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan


sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal
(QS. Al-Mumin :39)

Satu-satunya hal pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri


(Albert Einstein)

Anda tidak harus kaya untuk mencapai potensi anda


(Barrack Obama)

Tersenyumlah saat kau menyadari bahwa suatu kehilangan


Amatlah menyakitkan
( Penulis )
v
PERSEMBAHAN

Karya kecilku ini dengan ketulusan hati kupersembahkan untuk :

Bapak dan Ibu tercinta yang slalu mendoakanku dan mengorbankan waktu serta
materi dan selalu ada ketika dalam keadaan terbaik dan terburuk maupun dalam
keadaan sedih dan bahagia .

Almarhum Mas Agus tersayang yang berada disisi Tuhan yang setia
memberikan semangat dan kasih sayang dimasa hidup hingga almarhum tiada.

Almamater.
vi
ABSTRAK

PERAN PIMPINAN DALAM MENYELESAIKAN


KONFLIK DI ORGANISASI

Oleh :
Denis Yuniaty
104111343001

Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan (1) pengertian kepemimpinan (2)


hubungan kepemimpinan dengan organisasi (3) konflik yang berpengaruh
terhadap perkembangan organisasi (4) peran pimpinan dalam menyelesaikan
konflik di organisasi.
Pembahasan permasalahan pada tulisan ini, dilakukan menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode deduktif yaitu membahas permasalahan yang
akan dikaji dengan cara menulis topik-topik pembahasan yang digambarkan
secara umum kemudian ditarik suatu kesimpulan secara khusus.
Hasil pembahasan menjelaskan bahwa (1) Kepemimpinan adalah suatu
hubungan yang saling mempengaruhi antara pemimpin dengan bawahannya yang
berusaha untuk mencapai tujuan bersama. Dalam kepemimpinan harus melibatkan
orang lain atau bawahan, mengambil andil dalam pembagian tugas, dan mampu
mengarahkan bawahannya agar tujuan dapat tercapai. (2) Seorang pemimpin
memerlukan organisasi karena pengorganisasian adalah proses menejemen yang
beruhungan erat dengan kegiatan kerjasama antar manusia, fungsi dan faktor
jasmaniah sehingga dapat membentuk satuan menejemen yang terawasi dan
merupakan rangka dasar tempat orang-orang melakukan sesuatu. (3) Konflik
merupakan masalah yang serius yang dapat merugikan suatu organisasi. Konflik
dapat bersifat menguntungkan dan merugikan, konflik yang merugikan dapat
menghambat laju perkembangan organisasi yang nantinya menyebabkan
kemuduruan dalam organisasi. (4) Peran seorang pemimpin dalam menyelesaikan
konflik dapat ditempuh dengan berbagai cara : pertama , apabila konflik terjadi
karena muncul dari dalam dirinya sendiri yang dapat meresahkan bagi orang yang
berhubungan dengan dirinya yaitu :memberikan berberapa saran yang membuat
rasa percaya diri timbul, memberikan kesempatan bawahan untuk merenung dan
instropeksi, kedua, apabila konflik terjadi antar individu strategi yang dapat
digunakan adalah dengan menghindari konflik, Memecahkan masalah melalui
sikap kooperatif,Mempersatukan tujuan dan Menghindari konflik agar tidak
merusak perkembangan di daam organisasi.
vii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. atas segala nikmat dan

rahmat-Nya yang diberikan sehingga Tugas Akhir yang berjudul : PERAN

PIMPINAN DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK DI ORGANISASI dapat

terselesaikan dengan baik. Penulisan ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagai

syarat penyelesaian studi pada program Diploma III Universitas Negeri

Yogyakarta, untuk memperoleh gelar Ahli Madya Sekretari (A.Md).

Terselesaikannya penyusunan Tugas Akhir ini , penulis tidak sendiri dan

berkat dukungan serta mendapat bantuan dari berbagai pihak , penulis

mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A Rektor Universitas Negeri

Yogyakarta

2. Bapak Dr. Sugiharsono, M.Si Dekan Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas

Negeri Yogyakarta

3. Bapak Dapan, M.Kes Pengelola Universitas Negeri Yogyakarta Kampus

Wates

4. Ibu Rosidah, M.Si Ketua Program Studi Diploma III Sekretari

5. Bapak Djihad Hisyam M.Pd selaku Dosen pembimbing yang dengan

penuh kesabaran memberikan bimbingan, motivasi, dan arahannya disela

sela kesibukkanya.

6. Kedua orang tua yang dengan tulus memberikan doa serta dukungannya

sehingga penulis dapat melewati segala hambatan dalam penyusunan

Tugas Akhir ini .

viii
7. Seluruh Teman- teman seperjuangan Sekretari angkatan 2010 yang saling

bekerjasama dan saling memberikan semangatnya.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu dan membantu

dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

Disadari sepenuhnya bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari

kesempurnaan oleh karena itu saran dan kritik selalu diharapkan guna

tersempurnakannya Tugas Akhir ini dan bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 9 April 2013

Penulis

Denis Yuniaty.
ix
DAFTAR ISI

ABSTRAK..........................................................................................vii

KATA PENGANTAR......................................................................... viii

DAFTAR ISI........................................................................................x

BAB I PENDAHULUAN....................................................................1

A. Latar Belakang Masalah.........................................................1


B. Pembatasan Masalah..............................................................5
C. Rumusan Masalah..................................................................5
D. Tujuan Tugas Akhir................................................................6
E. Manfaat Tugas Akhir..............................................................7
BAB II KAJIAN PUSTAKA...............................................................8

A. Pengertian kepemimpinan......................................................8
B. Sifat Kepemimpinan...............................................................16
C. Gaya dan Tipe Kepemimpinan...............................................20
D. Pengertian Konflik.................................................................27
E. Faktor Penyebab Konflik........................................................29
F. Pengaruh Terjadinya Konflik.................................................30
G. Pentingnya Organisasi............................................................34
BAB III METODE PENGKAJIAN.....................................................36

A. Pendekatan..............................................................................36
B. Metode Pengumpulan data.....................................................36
C. Metode Pemecahan Masalah..................................................37
x
BAB IV PEMBAHASAN...................................................................38
A. Hubungan Kepemimpinan dengan Organisasi......................39
B. Konflik Berpengaruh Terhadap Perkembangan
Organisasi..............................................................................44
C. Peran Pimpinan dalam Menyelesaikan Konflik
di Organisasi.........................................................................51
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..............................................56

A. Kesimpulan............................................................................56
B. Saran......................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................59
xi
BAB I

PENDAHULUA

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah manusia telah memperlihatkan bahwa sejak zaman dahulu

manusia yang hidup berkelompok sudah mengenal pemimpin yang akan

memimpin mereka. Ada beberapa macam pemimpin misal pemimpin

formal, pemimpin informal, pemimpin bidang keagamaan, pemimpin

bidang politik, pemimpin perusahaan, pemimpin rumah tangga dan masih

banyak lagi macamnya sesuai dengan bidang yang dihadapi.

Gaya seorang pemimpin dipergunakan oleh seseorang pada saat orang

tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Seorang pemimpin

akan menggunakan gaya kepemimpinan sesuai dengan kemampuan dan

kepribadiannya. Setiap pemimpin dalam menggerakkan dan mengarahkan

semua potensi pegawai di lingkungannya memiliki pola yang berbeda-

beda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu disebabkan oleh gaya

kepemimpinan , norma-norma dan budaya organisasi dipandang sebagai

suatu kunci kesuksesan pencapaian tujuan organisasi.

Peranan pemimpin dalam membina pegawai sangat terkait dengan

gaya kepemimpinannya yang ditampilkan. Seorang pemimpin diharapkan

dapat menampilkan gaya kepemimpinan dalam segala situasi , dan mampu

memberi motivasi dimasa-masa sulit sehingga tercipata rasa keyakinan

akan atasan dalam diri para bawahannya.


1
2

Didalam suatu organisasi keberadaan seorang pemimpin sangat

penting karena pemimpin menjadi salah satu ujung tombak dari

keberhasilan dalam berorganisasi. Maka tugas pemimpin adalah

mempengaruhi bawahannya untuk mencapai perubahan dengan

menciptakan koordinasi yang lebih mudah, membentuk tim kerja dalam

mencapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin menekan ego sendiri,

menghargai kontribusi orang lain dan menunjukkan pada bawahan bahwa

mereka sangat dihargai. Pemimpin mendorong keberanian untuk

menerima kegagalan dan kesalahan, mendengar apa yang dikatakan

bawahan , menunjukkan kepercayaan pada orang lain dan mau belajar dari

orang lain termasuk dengan bawahannya.

Dalam mencapai tujuan organisasi membutuhkan beberapa faktor

pendukung yaitu alat, modal, alam dan manusia. Diantara faktor-faktor

tersebut manusialah yang sangat dominan untuk memegang peranan

penting dalam menentukan masa depan organisasi. Walaupun modal yang

tersedia besar dan teknologi yang digunakan canggih, organisasi tidak

akan mampu berjalan dengan baik jika tidak ada manusia yang berada di

organisasi tersebut. Dan perlu di sadari bahwa keberhasilan pengelolaan

organisasi sangat ditentukan oleh sumber daya manusia dengan didukung

seorang pemimpin yang mampu memimpin suatu organisasi, dituntut

untuk mempunyai pemikiran terbuka, mau menerima ide-ide baru, rela

menerima kritikan dan mau belajar serta mendengarkan kebenaran yang

disampaikan oleh bawahnnya.


Pemimpin dituntut untuk menciptakan hubungan personal dengan

orang lain dari pada kebutuhannya sendiri, dan harus berani menerima

kegagalan. Setiap pemimpin perlu menyadari bahwa untuk mewujudkan

hubungan manusiawi yang efektif , perlu memilki kemampuan

memperlakukan orang lain sebagai subyek bukan objek, sebagaimana

layaknya benda mati, yang dapat diperlukan sekehendak hati. Istilah dalam

kepemimpinan Return On Individual yang artinya agar pemimpin

menaruh perhatian pada setiap individu yang dipimpinnya.

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memilki kecakapan dan

kelebihan sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama

melakukan aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Jadi, pemimpin ialah seorang yang memiliki satu atau beberapa kelebihan

sebagai predisposisi (bakat yang dibawa sejak lahir), dan merupakan

kebutuhan dari satu situasi/zaman, sehingga pemimpin mempunyai

kekuasaan dan kewibawaan untuk mengarahkan dan membimbing

bawahan. Pemimpin juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari

bawahannya dan mampu menggerakkan bawahan kearah tujuan tertentu.

Tanda-tanda awal konflik terlihat dalam peningkatan intensitas

ketidak sepakatan diantara anggota-anggota. Konflik dalam diri individu

dinyatakan melalui keluh kesah, gerakan-gerakan kegelisahan pada wajah,

perilaku gagap, melamun, dan ucapan-ucapan yang ketus. Sedangkan

konflik antar individu maupun kelompok ditandai dengan semakin

menurunnya ketidak saling percayaan, ketidak saling terbukaan, dan


kerjasama kelompok diantara kedua belah pihak. Akibat adanya konflik

yang terjadi disuatu organisasi berakibat pada renggangnya hubungan

antar individu di organisasi tersebut. Selain itu berakibat pula pada

perkembangan organisasi itu sendiri.

Perkembangan organisasi adalah menghabiskan waktu atau energi

yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat

dan kinerja karyawan menjadi rendah sehingga sulit mencapai tujuan yang

telah direncanakan sebelumnya.

Akibat konflik yang timbul tidak seluruhnya menghambat

perkembangan organisasi. Ada konflik yang dapat menjamin kehidupan

dan kemajuan organisasi, dikatakan demikian karena adanya situasi-situasi

konflik dapat meningkatkan kesadaran organisasi akan masalah-masalah

yang harus diatasi, mendorong pencarian solusi-solusi secara lebih luas

dan juga dapat memfasilitasi perubahan-perubahan secara positif dan

inovatif. Walaupun demikian konflik yang sudah melampaui batas

kewajaran yang dapat menghambat perkembangan organisasi harus segera

diatasi.

Tidak mudah bagi pemimpin dalam menyelesaikan konflik yang

terjadi di suatu organisasi yang dipimpinnya, sehingga pimpinan

mempunyai hambatan dalam mengatasi konflik tersebut. Hal itu

disebabkan adanya ketidak terbukaan antara bawahan dan atasan.

Di dalam suatu organisasi memang terdapat sumber daya manusia

yang terdiri dari bermacam-macam individu atau pribadi. Setiap individu


pasti memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Salah satu tugas atau peran

pimpinan yaitu harus dapat menyelesaikan konflik yang sifatnya

merugikan untuk menciptakan suatu organisasi yang sehat dan tertib

dengan cara menggunakan metode pendekatan penyelesaian yang tepat

untuk menangani konflik sehingga setiap konflik itu dapat diselesaikan

dengan baik dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Dari latar belakang tersebut, penulis akan membahas lebih lanjut

mengenai konflik yang dapat merugikann organisasi, maka penulis

mengambil judul tentang Peran Pimpinan Dalam Menyelesaikan

Konflik di Organisasi.

B. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sangatlah

menarik untuk dikaji, namun penulis memfokuskan bidang yang dikaji

dalam penulisan ini yaitu peran pimpinan dalam menyekesaikan konflik di

organisasi.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah, penulis merumuskan permasalahan yang

akan dibahas yaitu :

1. Bagaimana Hubungan Kepemimpinan dengan Organisasi?

2. Bagaimana Suatu Konflik Berpengaruh Terhadap Perkembangan

Organisasi ?
3. Bagaimana Peran Pimpinan dalam Menyelesaikan Konflik di

Organisasi ?

D. Tujuan Tugas Akhir

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu ataupun

kelompok, oleh suatu organisasi pasti memiliki tujuan, ini dimaksudkan

agar langkah yang dtempuh atau diambil terarah dan jelas. Begitu juga

penulisan Tugas Akhir memiliki tujuan untuk mengetahui :

1. Persyaratan memperoleh gelar profesi ahli madya

2. Hubungan kepemimpinan dengan organisasi.

3. Konflik yang berpengaruh terhadap perkembangan organisasi

4. Peran pimpinan dalam menyelesaikan konflik di organisasi.


E. Manfaat Tugas Akhir

Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan oleh penulis diatas, maka

manfaat yang dapat diperoleh dari pembahasan ini adalah :

1. Secara Teoritik

Menambah pengetahuan dan pengalaman dari penyusunan tugas

akhit ini terutama mengetahui peran pimpinan dalam menyelesaikan

konflik di organisasi berdasarkan teori yang telah diperoleh selama

dibangku kuliah.

2. Secara Praktis

a. Bagi Mahasiswa

Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari

penyusunan tugas akhir ini

b. Bagi Perguruan Tinggi

Mengetahui sejauh mana mutu dan kualitas pendidikan yang telah

diberikan kepada mahasiswa sehingga dapat mengevaluasi serta

meningkatkannya, dan dapat menghasilkan calon sekretaris yang

produktif dari Universitas Negeri Yogyakarta.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Kepemimpinan

Definisi kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi

dalam menentukan tujuan organisasi, meliputi proses mempengaruhi

dalam menentukan tujuan organisasi, mempengaruhi untuk memperbaiki

kelompok, mempengaruhi interpretasi pengorganisasian, untuk mencapai

sasaran, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok dari orang-

orang di luar organisasi.

Menurut Josept C.Rost dikutip oleh Triantoro Safaria (2004:3),

Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di

antara pemimpin dan bawahan yang menginginkan perubahan nyata yang

mencerminkan tujuan bersama

Menurut Oemar Hamalik (2005:168) Kepemimpinan adalah Suatu

proses pemberian petunjuk dan pengaruh kepada anggota kelompok atau

organisasi dalam melaksanakan tugas-tugas. Maka kepemimpinan

mempunyai ciri-ciri:

a. Kepemimpinan harus melibatkan orang lain yaitu bawahan atau


anggota organisasi. Keberadaan orang lain tersebut yang
menyebabkan kedudukan seorang pemimpin.
b. Kepemimpinan tampak pada perbedaan pembagian kekuasaan
antara pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin mempunyai
kekuasaan memberikanb petunjuk kepada anggota kelompok atau
organisasi , dapat sama atau berbeda.

8
9

c. Kepemimpinan harus dapat mempengaruhi anggotanya. Pemimpin


tidak hanya memberitahukan bentuk kegiatan, tetapi juga
mengarahkan bawahannya agar memahami perintah yang diberikan
kepada mereka untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Pada masa kini banyak sekali yang berpendapat tentang kepemimpinan,

yaitu:

a. Kepemimpinan sebagai seni : menempatkan bakat sebagai faktor

penting dan berpengaruh besar terhadap kemampuan mewujudkan,

artinya kepemimpinan akan efektif dan efisien bila di tangan orang-

orang yang berkuantitas, bakatnya besar dan tinggi.

b. Kepemimpinan sebagai ilmu : lebih menitikberatkan pada proses

belajar dan latihan, artinya kepemimpinan akan efektif dan efisien, bila

di tangan orang yang terampil/terlatih dan ahli dalam memimpin.

Kemampuan itu dapat diperoleh melalui proses belajar dan melatih diri

secara intensif.

c. Definisi kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi

dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku bawahan

untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok

dan budayanya.
10

Kepemimpinan terkadang dipahami sebagai kekuatan untuk

menggerakkan dan mempengaruhi orang. Menjadi seorang pemimpin

kerap kali menghadapi perubahan dalam dirinya sebagai hasil proses

antara pematangan jiwa dan perubahan yang terjadi diluar dirinya

termasuk dalam menghadapi konflik saat berjalannya suatu organisasi,

konflik merupakan segala macam interaksi pertentangan dan

anagonistik antara dua atau lebih pihak.

Mengelola suatu organisasi termasuk didalamnya mengelola sumber

daya manusia, memerlukan prinsip-prinsip manajemen termasuk prinsip

dan teori kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mempunyai

kemampuan dalam memimpin organisasinya, terutama dalam hal

manajemen sumber daya manusia. Dengan demikian seorang pimpinan

dalam suatu organisai merupakan faktor yang menentukan atas

keberhasilan organisasi yang dipimpinnya. Menurut Luther Gulick

sebagaimana dikutip oleh Sutarto (1993:28) tentang pengertian organisasi

dalam hubungannya dengan kepemimpinan mengatakan bahwa :

Organization is the means of interrelating the subdivisions of work


by allotting them to men who are placed in a structure of authority,
so that to work may be coordinated by orders of superior to
subordinates, reaching from the top to the bottom of the entire
enterprice. (organisasi adalah alat saling hubungan satuan-satuan
kerja yang memberikan mereka kepada orang-orang yang
ditempatkan dalam struktur wewenang, sehingga pekerjaan dapat
dikoordinasikan oleh perintah para atasan kepada bawahan yang
menjangkau dari puncak sampai ke bawah dair seluruh badan usaha)
11

Seorang pemimpin akan berhasil apabila menempatkan orang-orang

yang benar ke dalam posisi yang tepat seperti ungkapan The Right Man

In The Right Place. Apabila hal tersebut dipenuhi, besar kemungkinan

pemimpin tersebut akan berhasil menjalankan tugas kepemimpinannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan diorganisasi adalah

seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seseorang sesuai

kedudukannya sebagai seorang pemimpin didalam organisasi yang

dipimpinnya. Menurut Oemar Hamalik (2005:166) ada 5(lima) hal yang

perlu diperhatikan agar pemimpin dapat berperan baik didalam organisasi

yang dipimpinnya. Meliputi :

a. Peran sebagai katalisator

Seorang pemimpin harus menumbuhkan pemahaman dan

kesadaran orang-orang yang dipimpinannya, agar tindakan yang

dilakukan dapat bermanfaat untuk kepentingan semua anggota

organisasi. Para anggota merasa bahwa hasil kerja pimpinannya

tidak semata-mata menguntungkan dirinya, tetapi menguntungkan

semua anggota organisasi secara keseluruhan. Maka pemimpin

harus melaksanakan tugas :

1.) Melakukan identifikasi masalah yang dihadapi oleh kelompok,

baik masalah intern maupun masalah ekstern. Sebagai contoh

masalah intern adalah masalah yang ada didalam organisasi

seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem


pengambilan keputusan dan lain-lain, sedangkan masalah

ekstern dapat dilihat dari cara melakukan kerjasama antar

organisasi.

2.) Merumusksan masalah yang paling penting dan masalah yang

sangat sering terjadi dan dihadapi oleh oleh anggota kelompok.

Misalnya seperti perbedaan persepsi oleh komunikasi yang

digunkakan kurang jelas sehingga sulit dipahami.

3.) Merumuskan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya

masalah dan mencari berbagai alternatif pemecahannya.

Sebagai missal faktor-faktor tersebut adalah adanya sumber

daya yang langka sehingga alternative yang ditempuh oleh

seorang pimpinan adalah memperbesar sumber daya tersebut.

b. Peran sebagai Fasilitator

Seorang pemimpin harus dapat mendorong dan menumbuhkan

kesadaran para kelompok di suatu organisasi yang dipimpinnya

supaya kesadaran para kelompok di suatu organisasi yang

dipimpinnya supaya melakukan perubahan yang diharapkan untuk

meningkatkan perkembangan suatu organisasinya. Pemimpin

harus dapat memberikan berbagai kemudahan bagi para

kelompoknya dengan cara :


1.) Mengorganisasikan kegiatan para kelompok untuk memudahkan

organisasi mencapai tujuannya.

2.) Membuat keputusan yang mengacu kepada penyusunan skala

prioritas tugas-tugas yang hendak dikerjakan oleh organisasi dan

para kelompoknya.

c. Peran sebagai pemecah masalah

Seorang pemimoin harus mampu bertindak cepat, tepat, dan

tanggap permasalahan yang dihadapi oleh organisasi, dan berusaha

memecahkan masalah tersebut dengan secepat-cepatnya. Pemimpin

harus mampu menentukan saat dan bentuk pemberian bantuan

kepada anggota atau kelompok, sehingga dapat menyesuaikan diri

dengan setiap gerak langkah yang dilakukan untuk memecahkan

permasalahan yang ada.

d. Peran sebagai penghubung sumber

Seorang pemimpin harus dapat mencari sumber0sumber yang

berkenaan dengan kondisi dan kebutuhan organisasi. Dengan

sumber-sumbver tersebut, pemimpin dapat membantu organisasi

atau kelompok untuk mengetahui cara-cara pendekatan yang dapat

dilakukan untuk memperoleh bantuan yang diperlukan dalam

rangka memecahkan masalah yang sedang dihadapi.


e. Peran sebagai komunikator

Seorang pemimpin harus dapat mengkomunikasikan gagasannya

kepada orang lain, yang kemudian disampaikan kepada orang lain,

yang kemudian disampaikan kepada orang lain secara berlanjut.

Bentuk komunikasi harus dilakukan secara dua arah supaya

gagasan yang disampaikan dapat dibahas secara luas, yang

mencakup para pelaksana dan khalayak sasaran perlu menguasai

teknik berkomunikasi secara efektif.

Sesuai dengan peran-peran tersebut, seorang pemimpin harus

mampu mengelola organisasi. Apabila salah satru individu maupun

kelompok mempunyai perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan

suatu konflik, maka seorang pemimpin harus dapat mengatasi konflik

dengan penuh kewibawaan tanpa memihak salah satu dari mereka yang

sedang berkonflik sehingga masalah tersebut dapat segera berkyurang atau

teratasi dengan baik dan tidak ada yang merasa dirugikan.

Dengan demikian peran kepemimpinan sangat penting dimiliki setiap

pemimpin organisasi untuk menciptakan suasana tempat kerja menjadi

nyaman, harmonis, kekeluargaan sehingga tujuan organisai dapat tercapai

selain itu juga citra perusahaan akan naik.


Sedangkan menurut konsepsi mengenai persyaratan kepemimpinan itu

harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting yaitu :

a. Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan

wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan

menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.

b. Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga

orang mampu mbawani atau mengatur orang lain, sehingga

orang tersebut patuh pada pemimpin, dan bersedia melakukan

perbuatan-perbuatan tertentu.

c. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan, dan

kecakapan/keterampilan teknis maupun sosial. Yang dianggap

melebihi dari kemampuan anggota biasa.


B. Sifat Kepemimpinan

Teori awal tentang sifat ini dapat ditelusuri kembali mulai dari zaman

Yunani Kuno dan Zaman Roma. Teori The Great Man mengatakan bahwa

seseorang yang dilahirkan sebagai pemimpin , ia akan menjadi pemimpin,

apakah ia mempunyai sifat atau tidak mempunyai sifat sebagai pemimpin.

Mengingat pentingnya peranan pimpinan, selain memperhatikan

beberapa hal yang dapat mengakibatkan konflik antar individu maupun

kelompok yang terjadi di dalam organisasi, sebaiknya pimpinan perlu

memiliki sifat-sifat yang baik dan tepat sehingga dapat dengan mudah

memberikan pengarahan maupun bimbingan kepada individu yang

memiliki konflik dengan rekannya. Menurut George R.Terry sebagaimana

dikutip oleh Kartini Kartono (2003: 41-44), sifat pemimpin yang unggul

adalah:

a. Kekuatan.

Kekuatan Badaniah dan rohaniah merupakan syarat pokok bagi

pemimpin yang harus bekerja lama daan berat pada waktu-waktu

yang lama serta tidak teratur, dan ditengah-tengah situasi yang

sering tidak menentu. Oleh karena itu daya tahan untuk mengatasi

berbagai rintangan adalah syarat yang harus ada pada pemimpin.


b. Stabilitas Emosi

Pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil. Artinya

dia tidak mudah marah, tersinggung perasaan dan tidak meledak-

ledak secara emosional. Ia menghormati martabat orang lain,

toleran terhadap kelemahan orang lain, dan bisa memaafkan

kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipil. Semua itu

diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun damai,

harmonis, dan menyenangkan.

c. Pengetahuan Tentang Hubungan antar manusia

Salah satu pokok pemimpin ialah memajukan dan

mengembangkan semua bakat serta potensi anak buah, untuk bisa

bersama-sama maju dan mengecap kesejahteraan. Karena itu

pemimpin diharapkan memiliki pengetahuan tentang sifat, watak

dan perilaku anggota kelompoknya, agar ia bisa menikai kelebihan

dan keterbatasan bawahannya sesuai dengan tugas-tugas yang

diberikan masing-masing individu.

d. Kejujuran

Pemimpin yang baik harus memiliki kejujuran yang tinggi

yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain terutama

bawahannya, dia selalu menepati janji, berlaku adil terhadap semua

orang dan dapat dipercaya.


e. Bersifat Obyektif

Pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang

bersih, supaya objektif seorang pemimpin akan mencari bukti-bkti

dan sebab-sebab kejadian yang dapat memberikan alasan yang

rasional untuk menolaknya.

f. Motivasi Pribadi

Keinginan dan kesediaan untuk memimpin harus muncul dari

dalam pribadinya sendiri dan bukan paksaan dari luar dirinya,

dukungan dari luar akan memperkuat hasrat sendiri untuk

memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan

orang banyak.

g. Keterampilan Berkomunikasi

Pemimpindiharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah

menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi pernyataan

orang luar, mudah memahami maksud para anggotanya, juga

pandai mengkoordinasikan macam-macam sumber tenaga manusia

dan mahir mengintegrasikan berbagai opini untuk mencapai

kerukunan dan keseimbangan.


h. Kemampuan mengajar

Pemimpin yang baik itu diharapkan juga menjadi guru yang

baik. Mengajar itu adalah membawa siswa(orang yang belajar)

secara sistematis dan intensional pada sasaran tertentu dengan

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan teknis tertentu dan

menambah pengalaman. Yang dituju ialah para bawahan yang bisa

mandiri mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.

i. Keterampilan sosial

Pemimpin juga diharapkan memiliki kemampuan untuk

mengelola manusia agar mereka dapat mengembangkan bakat

potensinya. Pemimoin dapat mengenali segi-segi kelemahan dan

kekuatan setiap anggotanya, agar bisa ditempatkan pada tugas-

tugas yang cocok dengan pembawaan masing-masing. Pemimpin

juga mampu mendorong setiap orang yang dibawahinya untuk

berusaha dan mengembangkan diri dengan cara-caranya sendiri

yang dianggap paling cocok. Pemimpin bersikap ramah, terbuka,

dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan rasa saling percaya-

mempercayai. Pemimpin menghargai pendapat orang lain,untuk

bisa memupuk kerja sama yang baik dalam suasana rukun dan

damai.
20

j. Kecakapan teknis

Pemimpin harus seperti superior dalam satu atau beberapa

kemahiran teknis tertentu. Juga memiliki kemahiran manajerial

untuk membuat rencana, mengelola, menganalisa keadaan,

membuat keputusan, mengarahkan, mengontrol, dan memperbaiki

situasi yang tidak mapan. Tujuan smua ini ialah agar tercapainya

efektivitas kerja, keuntungan maksimal dan kebahagian-

kesejahteraan anggota sebanyak banyaknya.

C. Gaya dan Tipe Kepemimpinan

Dalam menghadapi perubahan lingkungan, suatu organisasi

membutuhkan pemimpin yang tanggap, kritis dan berani mengambil

keputusan strategis untuk mencapai organisasi yang kompetitif. Seorang

pemimpin mempunyai strategi untuk mengarahkan dan memotivasi

bawahan agar secara sadar terlibat dalam kerjasama untuk mencapai

tujuan. Perilaku kepemimpinan yang ditampilkan dalam proses manajerial

secara konsisten disebut gaya (style) kepemimpinan. Gaya kepemimpinan

dimaksudkan sebagai cara berperilaku yang khas dari seorang pemimpin

terhadap para anggota kelompoknya. Dengan demikian, gaya

kepemimipinnan adalah cara pemimpin berperilaku secara konsisten

terhadap bawahan sebagai kelompoknya.


21

Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan cirri yang

digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran

organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan sebagai pola perilaku dan

strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin. Gaya

kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasikan tipe

kepemimpinan. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu yang

mementingkan pelaksanaan tugas, mementingkan hubungan kerjasama,

dan mementingkan hasil yang dapat dicapai dengan segala situasi.

Gaya kepemimpinan diterapkan bergantung pada tingkat kematangan

atau kedewasaan bawahan dan tujuan yang ingin dicapai. Bawahan

sebagai unsur penting yang terlibat dalam pencapaian tujaun mempunyai

perbedaan dalam hal kemampuan, kebutuhan dan kepribadian, sehingga

pendekatan yang dilakukan pemimpin sesuai dengan tingkat kematangan

bawahan.

Menurut Hersey dan Blanchard dikutip oleh Wahyudi (2011:3)

mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif itu berbeda-beda

sesuai dengan kematangan bawahan. Kematangan atau kedewasaan

menurutnya bukan dalam arti usia atau stabilitas emosional melainkan

keinginan untuk berprestasi, kesediaan untuk menerima tanggungjawab,

dan mempunyai kemamouan serta pengalaman yang berhubungan dengan

tugas. Dengan demikian tingkat kematangan bawahan, dan situasi tempat

sangat berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan yang diterapkan.


Macam-macam gaya kepemimpinan

1. Gaya Kepemimpinan Otoriter

Adalah gaya pemimpin yang memuaskan segala keputusan dan

kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Pada gaya

kepemimpinan ini pemimpin memberitahu sasaran apa saja yang ingin

dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut baik saran utama

maupun sasaran minornya. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas

teerhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila

anggota mengalami masalah. Dengan kata lain, anggota cukup

melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin. Kepemimpinan otokrasi

cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi rendah tapi

komitmennya tinggi.

2. Gaya kepemimpinan Demokratis

Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya ppemimpin yang

memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada

permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim

yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin

memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para

bawahannya. Pada kepemimpinan demokrasi, anggota memiliki

peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin

harus menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara untuk

mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu


anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang

dihadapinya. Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang

memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi.

3. Gaya Kepemimpinan Bebas

Pemimpin jenis ini hanya terlibat dalam kuantitas yang kecil dimana

para bawahannya secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian

masalah yang dihadapi.

Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses

kepemimpinannya terjadi adanya sesuatu perbedaan antara pemimpin satu

dengan yang lainnya, ada 5 Tipe Kepemimpinan dikutip oleh Sondang

P.Siagian (1999:31) :

1. Tipe Kepemimpinan Otokratik

Seorang pemimpin yang otokratik adalah seorang pemimpin

sangat egois. Egoismenya yang sangat besar akan mendorongnya

memutarbalikkan kenyataan yang sebenarnya sehingga sesuai

dengan apa yang yang secara subjektif di interpretasikan disiplin

para bawahan dalam organisasi. Seorang pemimpin yang otokratik

melihat perananannya sebagai sumber segala sesuatu dalam

kehidupan organisasi seperti kekuasaan yang tidak perlu dibagi

dengan orang lain. Pemimpin cenderung menganut nilai

organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang


ditempuh untuk pencapaian tujuan. Seorang pemimpin yang

otoriter akan menunjukkan berbagai sikap yang menonjol :

a. Kecenderungan memperlakukan bawahan sama dengan

alat-alat lain dalam organisasi dengan demikian kurang

menghargai mereka.

b. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan

penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan itu

dengan kepentingan dan kebutuhan bawahan

Efektivitas kepemimpinan yang otokratik sangat dikaitkan dengan

kekuasaan untuk mengambil tindakan yang punitif, yang nantinya

membuat ketaatan para bawahan mengendor dan disiplin kerja pun

merosot.

2. Tipe Kepemimpinan Paternalistik

Tipe Pemimpin Paternalistik terdapat di lingkungan masyarakat

yang masih bersifat tradisional,salah satu cirri dari masyarakat

tradisional ialah rasa hormat yang tinggi ditunjukan oleh anggota

masyarakat kepada seseorang yang dituakan.

Seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya

dalam organisasi diwarnai harapan para pengikutnyaharapan itu

berwujud keinginan agar pemimpin mampu berlaku sebagai bapak

yang bersifat melindungi dan yang layak dijadikan tempat bertanya

untuk memperoleh petunjuk. Pemimpin Paternalistik berusaha


memperlakukan semua orang yang ada di organisasi seadil dan

serata mungkin.

3. Tipe Kepemimpinan Kharismatik

Seorang pemimpin kharismatik mempunyai daya tarik yang

sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang

jumnlahnya sangat besar. Tegasnya pemimpin ini adalah seseorang

yang dikagumi oleh banyak pengikut, jumlah pemimpin

kharismatik tidak besar dan mungkin jumlahnya sedikit.

4. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire

Seorang pemimpin Laissez Faire cenderung memilih peranan

yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan sesuai temponya

sendiri tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi bisa

dijalankan dan digerakkan. Nilai-nilai yang dianut pemimpin

Laissez Faire dalam menyelenggarakan fungsi kepemimpinanya

biasanya bertolak belakang dari filsafat hidup bahwa manusia

memiliki rasa solidaritas dalam kehidupan bersama.

Dengan sikap yang pesimis, perilaku seorang pemimpin

cenderung mengarah kepada tindak-tanduk yang memperlakukan

bawahan sebagai rekan sekerja, hanya saja kehadirannya sebagai

pimpinan diperlukan sebagai akibat adanya struktur organisasi.


5. Tipe Kepemimpinan Demokratik

Tipe pemimpin yang ideal dan paling didambakan adalah

pemimpin yang demokratik. Diakui bahwa pemimpin yang

demokratik tidak selalu merupakan pemimpin yang efektif dalam

kehidupan organisasional. Karena ada kalanya, dalam bertindak

dan mengambil keputusan bisa terjadi keterlambatan sebagai

konsekuensi keterlibatan para bawahan dalam proses pengambilan

keputusan.

Seorang pemimpin yang demokratik dihormati dan disegani

dan bukan ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan organisasi

mendorong para bawahan menumbuhkan dan mengembangan daya

inovasi dan kreativnya. Jika terjadi kesalahan, pimpinan akan

meluruskan permaslahan sehingga bawahan tersebut bisa belajar

dari kesalahannya dan lenih bertanggung jawab.


D. Konflik

1. Pengertian Konflik

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam

kehidupan manusia, walaupun kehidupan masyarakat kelihatan sangat

damai dan rukun belum tentu masyarakat itu tidak mempunyai konflik.

Konflik sering terjadi karena terdapat beraneka ragam karakter, sifat,

perilaku yang dimiliki individu yang berbeda satu sama lain.

Konflik terjadi apabila dalam hubungan antara dua orang atau

kelompok, perbuatan yang satu berlawanan dengan perbuatan yang

lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Perbuatan

dapat mengganggu karena tidak didukung, tidak memudahkan kegiatan

yang sedang berlangsungf atau dapat merugikan sehingga dengan

adanya suatu konflik yang terjadi merusak suatu tujuan yang telah

direncanakan sebelumnya.

Keberadaan konflik tidak dapat dihindarkan, dengan kata lain

bahwa konflik selalu selalu muncul dan terjadi pada setiap organisasi.

Menurut Luthans,F dikutip oleh Wahyudi (2011:17) mengartikan

konflik merupakan ketidaksesuian nilai atau tujuan antara anggota

organisasi, sebagaimana dikemukakan berikut;perilaku konflik

dimaksud adalah perbedaan kepentingan perilaku kerja,perbedaan sifat

individu, dan perbedaan tanggung jawab dalam aktivitas organisasi.

Konflik organisasi adalah ketidaksesuaian antara dua atau lebih


anggota atau kelompok organisasi yang timbul karena adanya

kenyataan bahwa mereka harus membagi kegiatan-kegiatan kerja

karena kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan

status,tujuan,nilai atau persepsi. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa konflik adalah pertentangan dalam hubungan kemanusiaan

antara satu pihak dengan pihak yang lain dalam mencapai suatu tujuan

yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan, emosi dan nilai.

Menurut Clinton F.Fink sebagaimana dikutip oleh Kartini Kartono

(2003:213) mendefinisikan sebagai berikut:

Konflik ialah relasi-relasi psikologis yang antagonis, berkaitan


dengan tujuan-tujuan yang tidak bisa disesuaikan;interest-interest
ekslusif dan tidak bisa dipertemukan, sikap-sikap emosional yang
bermusuhan, dan struktur-struktur nilai yang berbeda

Jadi pengertian tersebut penulis dapat menyimpulkan definisi

konflik yaitui suatu perbedaan pendapat antara dua atau lebih pihak

yang dapat menimbulkan perilaku pada emosi yang tidak sama yang

kemudian akan mengarah pada permusuhan yang menyebabkan

ketidakpercayaan dan kerjasama tidak dapat terjalin diantara kedua

belah pihak di organisasi tempat kerja. Maka peran pimpinan adalah

memperhatikan dan juga meredam bahkan menyelesaikan konflik yang

sedang terjadi diorganisasi supaya pihak-pihak yang telah berkonflik

dapat saling mempercayai satu sama lain, sehingga didalam organisasi

dapat tercipta suasana kerjasama dan rasa kekeluargaan. Dengan

demikian seorang pemimpin sangat diperlukan dimanapun ia berada


guna memimpin negaranya maupun didalam organisasi yang

dikelolanya yang sedang mengalami suatu konflik.

E. Faktor Penyebab Konflik

Suatu konflik tidak selalu merugikan, didalam organisasi konflik

diperlukan dan diciptakan bahkan diakui eksistensinya. Sehubungan

dengan ini perlu pula dikatakan bahwa konflik bukan merupakan tanda

kelemahan organisasi atau bukti kegagalan pimpinannya.

konflik seperti halnya rasa sakit, merupakan pertanda bahwa suatu


organisasi sedang berada dalam atau sedang berdiri di ambang
kesulitan. Suatu organisasi atau sistem sosial yang berusaha menekan
adanya konflik, melarang pengungkapan perbedaan pendapat,
kehilangan umpan balik untuk memperbaiki diri dan menciptakan
stabilitas. (Adam, 2009:170)

Walaupun demikian pemimpin perlu memahami beberapa sebab yang

dapat memahami suatu konflik, terutama untuk mendapatkan manfaat

dalam menanganinya serta mampu menciptakan perilaku organisasi yang

berguna bagi peningkatan efektivitas organisasi.

Organisasi sebagai kumpulan individu tidak terlepas dari persoalan

konflik dalam mencapai tujuan, karena itu agar konflik dapat berdampak

positif bagi kelangsungan organisasi harus dikelola secara baik dengan

mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.


30

Ada beberapa sumber konflik dalam sebuah organisasi :

1. Faktor Komunikasi (communication factors) : disebabkan oleh

kesalahan komunikasi atau komunikasi yang kurang baik antar

bawahan,antar pimpinan ataupun antar bawahan dan pimpinan.

2. Faktor Struktur tugas maupun struktur organisasi (job structure or

organization structure) : disebabkan oleh kurang baiknya susunan

struktur organisasi yang dibuat

3. Faktor yang bersifat personal (personal factors) : disebabkan oleh

faktor individu yang memang sudah saling memilki konflik satu sama

lainnya

4. Faktor lingkungan (environmental factors) : faktor lingkungan yang

kurang mendukung organisasi tersebut

F. Pengaruh Terjadinya Konflik

Konflik mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan manusia ,

baik secara individual maupun kelompok. Konflik mempunyai

pengaruh positif dan negative. Kedua pengaruh tersebut menciptakan

perubahan bagi kehidupan manusia. Konflik mengubah dan

mengembangkan manusia menjadi lebih baik.


31

1. Pengaruh Negatif :

a. Menghambat kerjasama : secara langsung maupun tidak langsung,

konflik akan berdampak buruk terhadap kerjasama yang akan

direncanakan

b. Saling menjatuhkan : ini merupakan akibat yang paling nyata dari

konflik yang terjadi didalam suatu organisasi, akan selalu muncul

tidakan atau upaya saling menjatuhkan satu sama lain dan

membuat kesan lawan masing-masing rendah dan penuh dengan

masalah.

c. Merusak sistem organisasi : organisasi merupakan sistem sosial

yang saling berhubungan, saling membantu, dan saling tergantung

satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Konflik merusak

suatu sistem dan dapat menimbulkan ketidakpastian pencapaian

tujuan organisasi.

d. Menurunkan mutu pengambilan keputusan : Konflik yang

desktruktif atau konflik tidak sehat akan menghilangkan kebuntuan

diskusi, fitnah, agresi, dan sabotase, serta menghilangkan sikap

percaya. Situasi seperti ini tidak mungkin mengembangkan sumber

dalam pengambilan keputusan.

e. Kehilangan waktu kerja : Jika konflik berkembang menjadi konflik

dekstruktif, atau konflik yang tidak sehat. Hal ini mengurangi

waktu untuk berproduksi dan menurunkan produktivitas organisasi,


karena waktu digunakan untuk menyelesaikan konflik

dan menyebabkan kerugian terhadap produktivitas

perusahaan.

2. Pengaruh Positif :

a. Mendorong untuk kembali mengoreksi diri: dengan adanya konflik

yang terjadi mungkin akan membuat kesempatan bagi salah satu

atau kedua belah pihak untuk saling merenungi kembali, berpikir

ulang kenapa konflik bisa terjadi diantara mereka.

b. Meningkatkan Prestasi kerja : dengan adanya konflik bisa

membuat orang yang terimajinasikan oleh konflik merasa

mempunyai kekuatan sendiri untuk membuktikanbahwa ia mampu

dan sukses dantidak pantas untuk dihina

c. Mengembangkan hubungan kerja yang baik : dengan adanya

konflik yang terjadi membuat orang berpikir untuk mulai mencari

alternatif yang lebih baik misalnya bekerjasama dengan orang lain.

d. Menciptakan Perubahan : Konflik berpengaruh besar terhadap

kehidupan manusia karena suatu konflik yang terjadi dapat

mengubah dan mengembangkan kehidupan manusia. Seperti

contoh di Indonesia konflik menciptakan perubahan kehidupan

politik

e. Mampu memahami orang lebih baik : Konflik membuat orang

memahami adanya orang lain yang berbeda pendapat, berbeda pola

pikir dan berbeda karakter. Perbedaan tersebut perlu dimanajemeni


dengan hati-hati agar menghasilkan solusi yang menguntungkan

dirinya atau kedua belah pihak.

f. Meningkatkan kreativitas dan cara berpikir yang kritis : Konflik

akan menstimuli orang untuk berpikir kritis terhadap posisi lawan

konfliknya dan posisi dirinya sendiri. Orang harus memahami

mengapa lawan konfliknya mempunyai pendapat yang berbeda dan

mempertahankan pendapatnya. Meningkatnya kreativitas

digunakan dalam menyusun strategi dan traktik untuk menghadapi

konflik tersebut.

g. Manajemen konflik dalam menciptakan solusi terbaik : Jika suatu

konflik yang terjadi dimanajemeni dengan baik dapat

menghasilkan solusi yang memuaskan kedua belah pihak yang

terlibat. Solusi yang memuaskan akan menghilangkan perbedaan

mengenai objek konflik. Hilangnya perbedaan membawa keduanya

kembali dalam interaksi sosial yang harmonis.

h. Konflik menciptakan revitalisasi norma : norma yang berlaku dan

mengatur kehidupan masyarakat berkembang lebih lambat

daripada perkembangan anggota masyarakat. Perubahan norma

sering dimulai dengan terjadinya perbedaan pendapat mengenai

norma yang berlaku antara pihak yang ingin mempertahankannya

dan mengubahnya. Perbedaan tersebut berkembang menjadi suatu

konflik dekstruktif, apabila konflik tersebut dimanajemeni dengan


baik, maka norma baru yang merupakan revitalisasi norma yang

akan berkembang.

G. Pentingnya Organisasi

Organisasi didefinisikan sebagai suatu pengaturan orang-orang yang

sengaja untuk mencapai tujuan tertentu, karena setiap organisasi harus

mempunyai tujuan. Tujuan dicerminkan oleh sasaran-sasaran yang

dilakukan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan organisasi

yaitu keuntungan (profitability),pertumbuhan (growth), bertahan hidup

(survive). ketiganya harus berjalan berkesinambungan demi kemajuan

organisasi. Menurut Oliver Shelcdon yang dikutip oleh Sutarto (2006:22)

mengemukakan :

Organization is the process of so combining the work which


individuals or groups have to perform with the facilities necessary
for the execution that the duties, so formed, provide the best
channels for the efficient, systematic, positive, and coordinated
application of the available effort.(Organisasi adalah proses
penggabungan pekerjaan para individu atau kelompok harus
melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melaksanakan
tugas-tugas sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik untuk
pemakaian yang efisien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari
usaha yang tersedia.)

Menurut Darwis Suyantoro, penting adanya organisasi adalah :

1. Organisasi sebagai pencapaian tujuan, pencapaian tujuan akan lebih

efektif dengan adanya organisasi yang baik

2. Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat, jika organisasi

bergerak dibidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi


dan memiliki pola hidup sehat.organisasi kepramukaan akan

menciptakan generasi muda yang tangguh dan ksatria.

3. Organisasi menawarkan karir, karir berhubungan dengan pengetahuan

dan keterampilan. Jika kita menginginkan karir untuk kemajuan hidup,

berorganisasi dapat menjadi solusi.

4. Organisasi cagar ilmu pengetahuan, organisasi selalu berkembang

seiring dengan munculnya fenomena-fenomena munculnya organisasi

tertentu. Peran penelitian dan pengembangan sangat dibutuhkan

sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu

pengetahuan.

Menurut William G. Scott yang dikutip oleh Sutarto (2006:32)

mendefinisikan organisasi adalah suatu sistem mengenai aktivitas-

aktivitas yang dikoordinasikan dari sekelompok orang yang bekerjasama

kearah suatu tujuan bersama dibawah wewenang dan kepemimpinan.


BAB III

METODE PENGKAJIAN

A. Pendekatan

Pendekatan merupakan keseluruhan proses yang digunakan untuk

menyusun karya ilmiah, mulai dari awal sampai akhir baik dari menjawab

perumusan masalah yang dikaji dan kemudian sampai pada penarikan

kesimpulan.

Pendekatan kualitatif adalah pendekatan pemecahan masalah dengan

berdasarkan uraian yang tidak berwujud angka. Dengan adanya

pendekatan tersebut diatas, maka penulis dalam menyusun tugas akhir

yang berjudul : Peran Pimpinan Dalam Menyelesaikan Konflik di

Organisasi yaitu dengan menggunakan pendekatan kualitatif,

B. Metode Pengumpulan Data

Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan:

1. Studi Pustaka

Metode studi pustaka yaitu mengumpulkan berbagai data informasi

dari berbagai sumber seperti buku, internet, majalah,Koran, dan lain-

lain yang relevan sesuai dengan permasalahan yang dibahas yaitu

tentang peran pimpinan dalam menyelesaikan konflik di organisasi.

2. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara

mencatat dokumen sumber-sumber data yang tersedia.

36
37

C. Metode Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan permasalahan permasalahan yang dihadapi,

langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan pengkajian

masalah menggunakan metode deduktif, antara lain :

1. Mengumpulkan sumber-sumber pustaka yang sesuai dengan

permasalahan yang dibahas

2. Mempelajari dan mengkaji sumber-sumber pustaka dengan demikian

dapat diketahui permasalahan yang timbul tentang topic yang dibahas.

3. Menarik kesimpulan dari permasalahan yang dibahas.


BAB IV
PEMBAHASA
N

Di dalam suatu organisasi terdapat beranekaragam orang yang

memiliki perilaku,emosi,watak, kepribadian yang berbeda-beda satu sama

lain. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut di dalam organisasi

dapat mengakibatkan timbunya suatu konflik. Konflik merupakan suatu

hal yang membutuhkan pikiran, waktu, tenaga dan lain-lain untuk

menyelesaikannya. Apabila di dalam organisasi itu sering terjadi konflik

dan dalam penyelesaiannya memerlukan waktu yang cukup lama akan

memperlemah kedudukan pihak-pihak yang saling berkonflik dan

organisasi secara keseluruhan. Pihak-pihak yang berkonflik menjadi lemah

dan lesu untuk melaksanakan tugas-tugas sampai konflik tersebut

terselesaikan dan memuaskan semua pihak.

Adanya Masalah yang muncul sebagai akibat adanya konflik

membutuhkan peran seorang pimpinan untuk segera menyelesaikan

konflik yang dapat merusak dan merugikan organisasi. Dengan adanya

peran pimpinan maka di dalam organisasi dapat tercipta suasana atau

keadaan organisasi yang sehat. Suasana organisasi tersebut muncul

berdasarkan proses yang dapat dilihat dari peran seorang pemimpin.

Antara lain bagaimana seorang pimpinan mampu mengambil keputusan

yang tepat tanpa ada pihak yang merasa dirugikan, dan bagaimana

pimpinan menciptakan sesuatu yang positif sehingga mengurangi resiko

38
39

terjadinya konflik. Selain itu peran seorang pimpinan harus dapat

memotivasi bawahannya supaya bersemangat dalam melaksanakan tugas-

tugas yang diperintahkannya. Jadi peran seorang pemimpin sangat

diperlukan dalam mengelola organisasi yang didalamnya terdapat berbagai

macam daya alam maupun sumber daya manusia.

A. Hubungan Kepemimpinan dengan Organisasi

Suatu Organisasi yang kuat merupakan hasil dari kepemimpinan

yang unggul. Organisasi tanpa pemimpin yang unggul ibarat kapal perang

yang besar tanpa nahkodanya. Kapal perang tersebut akan kehilangan arah

dan orientasi , tanpa tujuan dan makna. Akibat yang bisa dirasakan bagi

organisasi tanpa pemimpin yang unggul adalah kemunduran produktivitas

organisasi,inovasi yang terhambat, iklim dan budaya organisasi tidak

adaptif yang nantinya akan menghambat perkembangan organisasi di masa

depan.

Pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk melihat masa

depan, mampu memprediksikan perubahan-perubahan yang akan terjadi

dimasa depan, mampu melihat hambatan sekaligus peluang yang

menghadang organisasi pada tahun 10 tahun sampai 20 tahun ke depan.

Pemimpin dituntut untuk menggunakan seluruh potesinya secara harmonis

dalam mengembangkan dan mengarahkan organisasi.


Pemimpin tidak semata-mata membuat keputusan berdasarkan

objektif, rasionalitas, teknik-teknik statistic, dan riset-riset yang

mendalam, tetapi juga harus mampu menggunakan rasa ingin tahunya,

intuisinya,emosinya, pemikiran yang mendalam, pengalaman

pribadi,mimpi-mimpinya dan harapan-harapannya. Visi dan strategi yang

terlalu berdasarkan rasionalitas kadang tidak mampu menciptakan daya

dorong dan pengaruh kuat bagi seluruh anggota organisasinya. Ketika

pemimpin hanya mendasarkan diri pada perencanaan strategis formal,

analisis persaingan , atau riset pasar, mereka bisa jadi kehilangan

kesempatan dan peluang. Sebab, data-data objektif belum mampu

menjelaskan apa-apa tanpa kemampuan pemimpin untuk

menterjemahkannya menjadi sesuatu yang bermakna.

Pemimpin yang memiliki visi yang tinggi, tetapi tidak di

implementasikan dalam tindakan hanya pemimpin yang suka bermimpi,

pemimpin yang tidak memiliki visi kedepan dan tidak banyak melakukan

tindakan stragtegis dikatakan sebagai pemimpin yang tidak terlibat.

Pemimpin yang banyak melakukan tindakan strategis, tetapi tanpa visi

yang jelas sering dikatakan sebagai pemimpin pekerja yang hanya mampu

mengerjakan hal-hal yang rutin. Pemimpin yang unggul adalah pemimpin

yang memiliki visi kedepan, serta dibarengi dengan tindakan yang

strategis yang tinggi juga, maka akan menghasilkan pemimpin visioner

dan efektif. Pemimpin jenis ini ingin mengembangkan organisasi menuju

tujuan yang tinggi.


41

Dalam buku Office management Handbook dikemukakan 12


macam kelemahan-kelemahan organisasi, yaitu :
1. Jenjang organisasi yang terlalu panjang
2. Kemungkinan kekembaran fungsi
3. Satuan-satuan organisasi yang berbeda tujuan ditempatkan dalam
satu kelompok
4. Adanya pejabat yang melapor kepada lebih dari atasan
5. Pengangkatan atau pemakaian pembantu yang salah
6. Terlalu banyak pejabat yang melapor kepada seorang kepala
7. Sebutan jabatan yang tidak jelas fungsinya
8. Satuan organisasi yang membawahkan hanya satu
satuan organisasi lainnya padahal hanya seorang
9. Satuan-satuan organisasi yang tidak seimbang fungsinya
ditempatkan pada jenjang yang sama
10. Satuan organisasi dengan fungsi menyeluruh hanya ditempatkan
dibawah satuan lain secara salah
11. Penanaman suatu fungsi yang tidak jelas
12. Ketidaktepatan dalam menempatkan fungsi yang penting

Pemimpinan mempunyai hubungan berfokus pada orang yang

menginspirasi dan memotivasi bawahan berdasarkan pada kekuasaan

personal, berlaku seperti pelatih, fasilitator dan pelayanan. Pemimpin

dipilih karena sifat serta kualitas pribadinya yang menonjol dibandingkan

dengan orang lain dan lebih banyak dianggap sebagai seorang pahlawan.

Pemimpin mempunyai pengetahuan mengatur segala jenis pekerjaan untuk

mencapai tujuan organisasi, pemimpin bekerja untuk menciptakan budaya

organisasi, strategi yang melingkupi seluruh organisasi. Partisipasi dan

pendelegasian tugas menjadi prioritas, dan pemimpin menciptakan

kemampuan organisasi untuk menjadi pembelajaran bagi dirinya sendiri.


Cara pandang (paradigma) pemimpin dalam memahami dunia

sangat mempengaruhi keputusannya dan bagaimana dia bertindak didalam

organisasi. Pemimpin yang memiliki perspektif yang sempit cenderung

terjebak dalam sudut pandang yang memenjarakan diri sendiri,

membuatnya tidak mampu melihat masalah dengan wawasan yang lebih

luas. Pemimpin menjadi kurang efektif dalam pengambilan keputusan dan

pemecahan masalah. Jika pemimpin hanya memusatkan perhatian pada

satu perspektif semata, maka organisasi yang dipimpinnya akan sulit

berkembang secara cepat dan beradaptasi dengan efektif terhadap

perubahan global. Cara pandang yang luas tidak hanya membantu

pemimpin dalam pemecahan masalah, tetapi juga akan membuat

pemimpin tajam dalam mengevaluasi setiap kejadian yang akan

mempengaruhi organisasinya.

Empat sudut pandang (paradigma) organisasional pemimpin :

1. Paradigma Struktural : pemimpin yang berfokus pada pemikiran

structural ini akan melihat organisasi sebagai mesin yang menuntut

efisiensi , dan membuat keputusan berdasarkan efisiensi ekonomik.

Pemimpin melihat organisasi dengan menggunakan sistem

rasional,mengklarifikasikan tugas-tugas secara mendetail. Pemimpin

menuntut adanya deskripsi pekerjaan yang jelas, kebijakan dan prosedur

spesifik dalam kegiatan kerja, semua ini untuk menyediakan keteraturan,

efisiensi dan kontinuitas kinerja.


2. Paradigma Sumber Daya Manusia : Pemimpin lebih banyak berusaha

menyesuaikan sistem yang ada di organisasinya agar sesuai dengan

kebutuhan manusia dan anggotanya. Pemimpin menghargai hubungan

manusiawi, perasaan dan memimpin melalui pemberdayaan dan

dukungan. Pemimpin memberikan kesempatan untuk pengembangan

pribadi dan profesionalitas bawahannya, dengan memberikan ruang

terbuka untuk mengemukakan pendapatnya, mau membantu dan

melayani bawahannya.

3. Paradigma Politik : Pemimpin yang memiliki cara pandang seperti ini

membangun jaringan kerja dan koalisi kekuasaan untuk mempengaruhi

keputusan. Hal positif dari pemimpin adalah kemampuannya dalam

membangun koalisi kekuasaan, mampu melakukan negosiasi, dan

kemampuan menyatukan seluruh anggota organisasi dalam satu visi agar

kebutuhan organisasi terpenuhi. Bahaya yang muncul dari pemimpin ini

adalah munculnya penipuan, kebohongan public dan bermain politik

untuk kepentingan diri sendiri.

4. Paradigma Simbolik : Pemimpin memandang organisasi sebagai sebuah

sistem makna bersama yang penuh dengan nilai-nilai yang harus

dipenuhi. Pemimpin simbolik berfokus pada visi bersama, budaya dan

nilai-nilai dalam memimpin organisasi dan secara terus-menerus

memberikan inspirasi bawahannya agar mencapai tingkat tertinggi

dalam kinerja dan komitmennya terhadap organisasi. Bahaya yang


mungkin muncul adalah pemimpin yang pada akhirnya mementingkan

diri sendiri disbanding dengan organisasi dan bawahannya.

Dengan pemimpin mengembangkan keempat perspektif di atas maka

pemimpin akan lebih efektif di dalam mengatasi masalahyang sedang

dihadapi oleh organisasi. Sebaliknya, jika pemimpin hanya berfokus

pada satu perspektif saja, maka kemampuan pemimpin di dalam

memecahkan masalah menjadi kurang efektif, pemahamannya akan

terlalu sempit organisasi bisa mengalami kemunduran yang nyata.

B. Konflik Berpengaruh Terhadap Perkembangan Organisasi

Setiap organisasi yang didalamnya terdapat banyak individu

mungkin pernah mengalami konflik. Didalam kehidupan organisasi,

meskipun telah terdapat seorang pemimpin yang handal dan berkualitas

yang mampu memimpin para bawahannya dengan penuh bijaksana,

masih juga konflik di dalam organisasi tidak dapat dihindarkan. Konflik

pada dasarnya sangat mudah terjadi di dalam situasi-situasi yang

melibatkan individu- individu di dalamnya.

Konflik merupakan segala sesuatu yang membuat seseorang

menjadi tidak percaya, was-was dan tidak nyaman berada ditempat kerja.

Konflik dapat terjadi diantara pimpinan dan bawahan, hal itu dapat

disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat, kepentingan,

ketidakpastian pekerjaan, dan pertentangan pekerjaan diantara kedua


belah pihak yang akan mengakibatkan kinerja organisasi menjadi rendah

yang kemudian berdampak pada perkembangan organisasi tersebut.

Adanya konflik yang dapat merusak dan merugikan organisasi

disebabkan oelh manusia yang selalu membesar-besarkan masalah yang

ada dan menyebarkan isu-isu yang belum jelas permasalahannya kepada

orang lain. Ada berbagai jenis konflik yang mampu merusak

perkembangan suatu organisasi. Jenis-jenis organisasi yaitu:

1. Konflik Personal dan Konflik Interpersonal

Konflik Personal adalah konflik yang terjadi di dalam diri individu

karena harus memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang ada atau

karena mempunyai kepribadian ganda. Konflik ini terdiri atas

a. Konflik pendekatan ke pendekatan (approach to approach conflict).

Konflik yang terjadi karena harus memilih dua alternatif yang

berbeda, tetapi sama-sama menarik atau sama baik kualitasnya.

contohnya : seorang lulusan SMA yang akan melanjutkan sekolah

harus memilih dua universitas negeri yang sama kualitasnya.

b. Konflik menghindar ke menghindar (avoidance to avoidance

conflict). Konflik yang terjadi karena harus memilih alternatif yang

sama-sama harus dihindari. Sebagai contoh, seseorang harus memilih

apakah harus menjual mobil untuk melanjutkan sekolah atau tidak

menjual mobil, tetapi tidak bisa melanjutkan sekolah.

c. Konflik pendektan ke menghindar (approach to avoidance conflict).

Konflik yang terjadi karena seseorang mempunyai perasaan positif


dan negatif terhadap sesuatu yang sama. Sebagai contoh, amin

mengambil telepon untuk menyatakan cintanya kepada Aminah.

Akan tetapi, ia takut cintanya ditolak. Oleh karena itu ia tutup

kembali teleponnya.

Konflik personal juga bisa terjadi pada diri seseorang yang

mempunyai kepribadian ganda. Ia adalah seseorang yang munafik

dan melaksanakan sesuatu yang berbeda antara perkataan dan

perbuatan.

Konflik Interpersonal adalah konflik yang terjadi didalam

organisasi atau konflik di tempat kerja. Konflik yang terjadi diantara

mereka bekerja untuk suatu organisasi proft-nonprofit. Konflik

interpersonal adalah pada suatu organisasi diantara pihak-pihak yang

terlibat konflik dan saling tergantung dalam melaksanakan pekerjaan

untuk mencapai tujuan organisasi.

a. Konflik antarmanajer. Bentuk konflik diantara manajer atau

birokrat organisasi dalam rangka melaksanakan fungsinya

sebagai pimpinan organisasi

b. Konflik antar pegawai dan manajernya. Konflik ini terjadi antara

manajer unit karyawan dan karyawan dibawahnya, objek yang

menjadi konflik sangat bervariasi tergantung dari aktivitas

organisasinya.
c. Konflik antar kelompok kerja. Dalam organisasi terdapat

sejumlah kelompok kerja yang melaksanakan tugas yang berbeda

untuk mencapai tujuan organisasi yang sama. Masing-masing

kelompok harus memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan

organisasi.

2. Konflik Interes (Conflict of Interest)

Jenis konflik yang mempunyai cirri konflik individual dan konflik

interpersonal adalah konflik kepentingan dan konflik interest

(conflict of interest). Konflik ini berkaitan dengan konflik dalam

diri seorang individu dalam suatu sistem sosial(organisasi atau

perusahaan) yang membawa implikasi bagi individu dan sistem

sosialnya. Konflik interst adalah suatu situasi konflik dimana

seorang individumempunyai inters personal lebih besar daripada

interes organisasinya sehingga mempengaruhi pelaksanaan

kewajibanya sebagai pejabat sistem sosial dalam melaksanakan

kepentingan(tujuan) sosial.

3. Konflik Realistis dan Konflik Nonrealistis

a. Konflik Realistis. Konflik yang terjadi karena perbvedaan

ketidaksepahaman cara pencapaian tujuan atau mengenai

tujuan yang akan dicapai. Dalam konflik jenis ini, interaksi

konflik memfokuskan pada isu ketidaksepahaman mengenai

substansi atau objek konflik yang harus diselesaikan oleh pihak

yang terlibat konflik. Metode manajemen konflik yang


digunakan adalah dialog, persuasi, musyawarah, voting, dan

negosiasi. Kekuasaan dan agresi sedikit sekali digunakan.

b. Konflik nonrealistic. Konflik yang terjadi tidak berhubungan

dengan isu penyebab konflik. Konflik ini dipicu oleh kebencian

atau prasangka terhadap lawan konflik yang mendorong

melakukan agresi untuk mengalahkan atau menghancurkan

lawan konfliknya . manajemen konflik yang digunakan adalah

agresi, menggunakan kekuasaan, kekuatan, dan paksaaan.

4. Konflik Destruktif dan Konflik Konstruktif

Konflik Konstruktif adalah konflik yang prosesnya mengarah

kepada mencari solusi mengenai substansi konflik. Konflik jenis

ini membangun sesuatu yang baru atau mempererat hubungan

pihak-pihak yang terlibat konflik ataupun mereka memperoleh

sesuatu yang bermanfaat dari konflik.

Karakteristik Konflik Konstruktif :

a. Berusaha menyelesaikan perbedaan mengenai substansi konflik

b. Berhasil mendefinisikan dan mengklarifikasikan permasalahan

konflik

c. Komunikasi dan negosiasi intensif untuk menjelaskan posisi

masing-masing

d. Berupaya mengendalikan emosi, marah, kekawatiran, dan

stress
Konflik Destruktif, pihak-pihak yang terlibat konflik tidak

fleksibel atau kaku karena tujuan konflik yang didefinisikan secara

sempit yaitu untuk mengalahkan satu sama lain interaksi konflik

berlarut-larut, siklus konflik tidak terkontrol karena menghindari

isu konflik yang sesungguhnya.

Karakteristik Konflik Destruktif :

a. Polarisasi perbedaan

b. Berkurangnya kerjasama

c. Konflik tidak berpusat pada substansi konflik

d. Terjadi spiral konflik yang makin membesar dan meninggi

Selain jenis konflik yang merusak perkembangan suatu organisasi ada pula

permasalahan yang timbul dari rendahnya kedisiplinan dalam suatu

organisasi yang nantinya dapat berdampak bagi organisasi, yaitu :

1. Meningkatnya jumlah absensi karyawan/bawahan dan seringnya

bawahan/karyawan mangkir pada jam-jam kerja berlangsung seperti

ngobrol berjam-jam, berjalan mondar-mandir menyibukkan diri, tidur

selama pimpinan tidak ada ditempat, pulang lebih awal atau datang

terlambat dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Hal ini disebabkan

oleh pimpinan yang kurang disiplin sering tidak masuk kerja sehingga

bawahan akan mengkuti pola pemimpin yang kurang disiplin.

2. Banyak bawahan /karyawan yang mengeluh karena sikap atau perilaku

teman kerjanya yang dirasakan kurang adil dalam membagi tugas dan
50

tanggung jawab. Hal demikian disebabkan oleh struktur organisasi

yang kurang jelas selain itu juga dapat disebabkan oleh adanya sifat

senioritas yang dimiliki.

3. Seringnya bawahan/karyawan melakukan mekanisme pertahanan diri

bila memperoleh teguran dari atasan, misalnya mengadakan sabotase

terhadap jalannya produksi, dengan cara merusak mesin-mesin atau

peralatan kerja, mengadakan provokasi terhadap rekan kerja, membuat

trik-trik yang merugikan orang lain. Hal ini disebabkan oleh pimpinan

yang selalu menekan para bawahan untuk memproduksi barang yang

sebanyak-banyaknya sedangkan kemampuan bawahan terbatas.

Konflik didiperlukan untuk menciptakan perubahan dan kemajuan.

Konflik merupakan proses untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi

para anggota tim. Konflik yang terjadi di manajemeni dengan baik dan

diarahkan menjadi konflik konstruktif untuk menciptakan pembelajaran

organisasi, dapat disimpulkan adanya permasalahan tersebut menurunkan

kinerja organisasi dan akhirnya mengancam laju perkembangan organisasi

karena dapat menyebabkan pemborosan sumber daya di dalam organisasi

dan akhirnya dapat merusak kehidupan di organisasi.


51

C. Peran Pimpinan Dalam Menyelesaikan Konflik di Organisasi

Tugas seorang pemimpin yaitu mampu memecahklan masalah

dengan baik, mampu mengembangkan konflik sehingga dapat mencapai

titik kritis namun jangan sampai tiba pada titik kepatahan atau breaking

point , adalah betul-betul mengandung resiko dan bahaya dan merupakan

tugas yang sangat berat. Seorang Pemimpin memerlukan jiwa yang

dinamis, kreatif, berani, bertanggung jawab dan berdedikasi penuh

pengabdian, yang hanya dimiliki oleh pribadi pemimpin yang berkarakter

kuat.

Pemimpin modern harus mampu mendorong bawahannya agar

menemukan ide-ide sendiri, berpartisipasi aktif dan mau menerima banyak

perbedaan dan keragaman. Lalu menciptakan kondisi yang merangsang

konflik positif yang terkendali dan menyelesaikannya dengan baik.

Adapun cara pemimpin untuk mengatasi konflik yang terjadi di dalam

organisasi,yaitu:

1. Konflik dari dalam diri individu (individual conflict)

Konflik yang terjadi dalam organisasi jika dibiarkan akan

menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan, konflik yang ada

didalam diri individu dapat menyebabkan seseorang merasa

bimbang bingung sehingga dalam menyelesaikan pekerjaan tidak

bisa dilakukan dengan maksimal. Peran seorang pemimpin harus

dapat memberikan arahan terhadap bawahannya, yaitu :


a. Memberikan waktu kepada bawahan untuk merenung dan

memikirkan jalan keluarnya

b. Apabila cara tidak berhasil, pimpinan mencarikan beberapa

alternatif, saran, masukan yang baik dan memberikan rasa

percaya diri kepada bawahan supaya yakin apa yang akan

dipilih adalah solusi terbaik untuk menentukan tujuan yang

dilaksanakannya.

2. Konflik antar individu maupun antar kelompok

Banyak cara untuk memecahkan persoalan konflik antar pribadi

maupun antar kelompok, misalnya membuka diri, menerima

umpan balik, menaruh kepercayaan terhadap orang lain. Ada

beberapa strategi untuk mengurangi konflik di organisasi,yaitu :

Memecahkan masalah melalui sikap kooperatif

Bila dua kelompok atau dua individu memiliki tujuan yang berbeda

karena masing-masing menganut sistem nilai yang berbeda, maka

penyelesaian masalahnya ialah:

a. Duduk bersama, berunding, dan bermusyawarah

b. Melihat masalah dengan kepala dingin dan mendiskusikannya

c. Melelui sikap kooperati orang berusaha melepaskan perbedaan-

perbedaan yang tidak prinsipil, untuk lebih banyak menemukan

titik-titik persamaan
d. Tidak selalu mau menang sendiri dan mengharuskan pihak lain

mengalah. Bersedialah mengalah dengan itikad baik untuk

memecahkan masalah.

Mempersatukan tujuan

Tujuan yang dipersatukan ini sama dengan tujuan yang harus

dicapai oleh kelompok yang tengah berselisih. Tujuan bersama itu

harus bisa dicapai karena sifatnya imperative atau memaksa.

Melalui jalan kooperatif dan disertai rasa solidaritas tinggi, orang

harus bisa bekerjasama atas dasar saling percaya-mempercayai satu

sama lain.

Menghindari konflik

Cara paling wajar dan mudah yaitu menghindari suatu konflik,

yang bertujuan untuk tidak melakukan, menentang, lalu mendesak

semua kesebalan dan kekecewaan kedalam ketidaksabaran

sehingga menjadi kompleks-kompleksterdesak, yang sering

menjadi sumber pengganggu bagi ketenangan batin sendiri.

Dengan jalan pendesakan bertujuan menghindari kesusahan. Yang

penting adalah menghindari orang yang tidak disenangi, dan

menghindari konflik terbuka. Selanjutnya cepat atau lambat orang

harus berani saling berkonfrontasi dan mencari jalan

penyelesaiannya.
Memperhalus konflik

Memperhalus konflik itu berarti melicinkan jalan atau

memperhalus penyelesaian konflik dengan jalan:

a. Mengecilkan perbedaan-perbedaan sikap dan ide dari

perorangan dan kelompok yang tengah bertikai

b. Dan memperbesar titik persamaan/ titik singgungdari tujuan

atau kepentingan bersama, yang harus dicapai dengan cara

kooperatif.

Dengan memperhalus konflik dan melicinkan jalan penyelesaian

orang berusaha dengan sengaja dan sadar menyingkirkan

perbedaan untuk lebih menonjolkan persamaan serta kepentingan

bersama, sehingga jalan damai dapat ditempuh untuk memecahkan

masalah yang dipertengkarkan.

Kompromi

Kompromi merupakan proses saling berjanjiantara kedua belah

pihak yang bersedia melepaskan sebagian dari tuntutannya. Dalam

peristiwa kompromi boleh dikatakan tidak ada pihak yang menang

dan yang kalah secara mutlak. Kedua belah pihak bersedia

mengorbankan sedikit dari pendirian dan tuntutanya sehingga

tersapai satu keputusan bersama, sekalipun keputusan itu tidak bisa

disebut sebagai hasil yang optimal bagi kedua belah piha.

Keputusan hasil kompromi itu merupakan produk penalaran,saling


mengalah, saling memberi dan menerima dimana kedua belah

pihak saling terpuaskan.

Tindakan yang otoriter

Dalam struktur organisasi formal dengan adanya relasi atasan-

bawahan, maka otoritas dan kewibawaan pemimpin yang

berkedudukan paling tinggi merupakan suara pemutus bagi konflik

antar-individu dan antar-kelompok. Kekuasaan formal merupakan

bentuk arbitrage atau perwasitan dan sebagai alat penentu.

Kepemimpinan otoriter dengan tindakan-tindakan yang tegas dan

drastis itu disaat genting itu bisa menegakkan orde, bisa menjadi

alat koordinasi yang efektif.

Mengubah struktur individual dan struktur organisasi

Cara lain untuk mengurangi konflik yaitu dengan cara mengubah

struktur organisasi. Memindahkan dan mempertukarkan anggota-

anggota kelompok dan pemimpinnya, dengan semboyan the right

man in the right place, membentuk badan koordinasi,

memperkenalkan sistem konsultasi dan sistem apel, memperluas

partisipasi aktif para anggota dan anak buah.

Dengan menukar-nukar anggota dan pemimpin dapat tercapai iklim

psikis baru, sehingga suasana kompetitif dan konfliktius bisa dikurangi

menjadi seminim mungkin.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang diambil, maka penulis dapat

mengambil kesimpulan mengenai peran pimpinan dalam

menyelesaikan konflik di organisasi yaitu:

1. Organisasi tanpa pemimpin ibarat kapal perang yang besar tanpa

nahkodanyayang terjadi nantinya adalah kemuduran produktivitas

didalam organisasi. Pemimpin mempunyai hubungan dalam

mempengaruhi jalannya organisasi dengan visi misi yang sedang

dijalankan dengan berbagai sudut pandang sebagai seorang

pemimpin, susdut pandang structural, sumber daya manusia,politik

dan simbolik.

2. Konflik dapat diartikan dengan perbedaan,pertentangan dan

perselisihan. Konflik merupakan masalah yang serius dalam setiap

organisasi yang dapat merugikan kinerja suatu organisasi maupun

mendorong kerugian bagi banyak karyawan yang baik. Konflik

dapat bersifat menguntungkan atau konstruktif bagi organisasi,

namun ada konflik yang bersifat destruktif yang dapat mengganggu

laju perkembangan organisasi akan menurun, dan mengakibatkan

kemunduran dalam organisasi.

56
57

3. Peran pemimpin dalam menangani konflik antara lain harus dapat

membuat keputusan yang tepat dan tidak merugikan kedua belah

pihak atau pihak yang berkonflik. Pendekatan konflik yang

digunakan oleh pemimpin untuk mengurangi konflik yang ada di

organisasi antara lain adalah Memecahkan masalah melalui sikap

kooperatif, Mempersatukan tujuan, Menghindari konflik,

Memperhalus konflik, Kompromi, Tindakan yang otoriter,

Mengubah struktur individual dan struktur organisasi. Beberapa

pendekatan yang digunakan untuk menangani konflik yang terjadi

di organisasi tergantung pada permasalahan dan situasi konflik.

B. Saran

1. Seorang pemimpin hendaknya menerapkan dan memiliki gaya

yang dimiliki oleh ketiga gaya kepemimpinan ( Otoriter,

Demokratis, Laissez Faire) karena ketiga gaya tersebut memiliki

sifat disiplin, melindungi, berkharisma, bertanggung jawab dan

partisipatif sehingga perusahaan menjadi sejahtera dan

menciptakan kinerja yang kondusif.


2. Seorang pemimpin mampu menuntut orang-orang yang ada di

dalam organisasi supaya mempunyai rasa introspeksi diri dan

mengevaluasi diri sendiri ketika konflik terjadi di organisasi

sehingga adanya sikap tersebut konflik tidak akan terjadi berlarut-

larut.

3. Seorang pemimpin sebaiknya dapat mengetahui perilaku dari

masing-masing bawahan untuk membantu dalam menangani

konflik yang terjadi dalam organisasi. Dengan cara seorang

pemimpin harus mengetahui secara mendalam mengenai perilaku

setiap individu seperti sifat-sifat yang dimiliki setiap individu dan

mau mendengarkan setiap keluhan bawahan.


DAFTAR PUSTAKA

Adam I. Indrawijaya.(2009).Perilaku Organisasi.Bandung: Sinar Baru


Algensindo

Hani Handoko.(2003). Manajemen Edisi2. Yogyakarta : BPFE

Heidjrachman dan Suad Husnan.(1986).Manajemen Personalia

Edisi
Ketiga.Yogyakarta:BPFE

Harry L.Wylie.(1958).Manajemen Handbook.New York: Ronal Press

Kartini Kartono.(2003). Pemimpin dan Kepemimpinan (edisi baru).


Jakarta: CV Rajawali

Komarudin.(1985).Menejemen Kantor, Teori dan Praktek.Jakarta: Sinar


Baru

Oemar Hamalik.(2005).Pengembangan Sumber Daya Manusia


Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan.Jakarta:PT Bumi Aksara

Sutarto.(1993).Dasar-Dasar Organisasi.Yogyakarta: Gajah Mada


University Press

Suyanto.(2006).Revolusi Organisasi dengan Memberdayakan Kecerdasan


Spiritual.Yogyakarta: CV. Andi Offset

Sondang P.Siagan MPA.(1999). Teori dan Praktek Kepemimpinan.


Jakarta: Rineka Cipta

Triantoro Safaria.(2004).Kepemimpinan.Yogyakarta: Graha Ilmu

Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi.(2012).Kepemimpinan dan Perilaku


Organisasi.Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada Wahyudi.

(2011).Manajemen Konflik dalam Organisasi.Bandung:Alfabeta


59
60

William Hendricks.(2004).Bagaimana Mengelola Konflik.Jakarta:PT


Bumi Aksara

Wirawan.(2010).Konflik dan Manajemen Konflik.Jakarta: Salemba


Humanika

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemipinan-menurut-para-
ahli/#ixxz1ijX4CPTU

http://organisasi.org/jenis_dan_macam_gaya_kepemimpinan_pemimpin_k
lasik_otoriter_demokratis_dan_bebas_manajemen_sumber_daya_
manusia

http://Wapannuri.com/a.kepemimpinan/kepemimpinan_efektif.html