Anda di halaman 1dari 33

ASUHAN KEPERAWATAN INDIVIDU PADA NY.

S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE)
DI RUANG HEMODIALISA
RSUD SLEMAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan


Keperawatan Medikal Bedah II

Dosen Pembimbing : Abdul Madjid, S.Kep, Ns, M.Kep

Disusun oleh :

Mona Indah Muntholib P07120214021

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
D-IV KEPERAWATAN
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis CKD ( Chronic Kidney Disease ) di
ruang Hemodialisa RSUD Sleman, telah disahkan pada:
Hari :
Tanggal :

Mahasiswa,

Mona Indah Muntholib


P07120214021

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Pendidikan

Yustina Erna Budi Astuti, S.ST Abdul Madjid, S.Kep, Ns, M.Kep
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya , sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Asuhan
Keperawatan terhadap pasien Ny. P dengan diagnosa medis CKD ( Chronic Kidney Disease )
di ruang Hemodialisa RSUD Sleman ini dengan lancar. Penulisan asuhan keperawatan ini
bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan yaitu Keperawatan Medikal
Bedah.
Asuhan keperawatan ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu atas bantuan dari
berbagai pihak, oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terimakasih kepada
yang terhormat :
1. Direktur Politeknik Kesehatan Yogyakarta yang telah menyetujui adanya praktik lab
klinik ini.
2. Ketua Jurusan yang telah mengadakan Praktik Lab Klinik Keperawatan Medikal
Bedah sehingga kami dapat berlatih dan mendapatkan keterampilan yang cukup
banyak.
3. Direktur RSUD Sleman yang telah menerima kami untuk praktik sehingga kami
mendapatkan pengalaman menangani pasien secara langsung.
4. Para perawat Hemodialisa yang telah menerima, membimbing, mengajari serta
mendampingi kami dalam melaksanakan praktik lab klinik ini.
5. Abdul Madjid, S.Kep, Ns, M.Kep sebagai pembimbing akademik yang telah
mendampingi dan membimbing kami selama kami menjalani praktik lab klinik.
6. Yustina Erna Budi Astuti, S.ST sebagai pembimbing lapangan yang telah
mendampingi dan membimbing kami selama praktik maupun dalam penyusunan
laporan harian dan asuhan keperawatan ini.
7. Rekan-rekan kelas D-4 Keperawatan yang telah memberi beberapa masukan.Secara
khusus kami menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah
memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada kami, baik
selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami berharap, Asuhan Keperawatan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,
oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Sleman, 5 September 2016

Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit ginjal kronik merupakan suatu keadaan patologis dengan penyebab yang
beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan kemudian
berakhir pada gagal ginjal tahap akhir. Penyakit ginjal tahap akhir adalah suatu keadaan
klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal kronik ireversibel yang sudah
mencapai tahapan dimana penderita memerlukan terapi pengganti ginjal, berupa dialisis
atau transplantasi ginjal (Suwitra, 2007).
Di Amerika Serikat diperkirakan 20 juta orang dewasa mengalami penyakit ginjal
kronik (K/DOQI). Data tahun 1995-1999 menunjukkan insidens PGK mencapai 100
kasus per juta penduduk per tahun di Amerika Serikat. Prevalensi PGK atau yang disebut
juga Chronic Kidney Disease (CKD) meningkat setiap tahunnya. CDC (Centers for
Disease Control) melaporkan bahwa dalam kurun waktu tahun 1999 hingga 2004,
terdapat 16.8% dari populasi penduduk usia di atas 20 tahun, mengalami PGK.
Persentase ini meningkat bila dibandingkan data pada 6 tahun sebelumnya, yakni
14.5%.2 Di negara-negara berkembang, insiden ini diperkirakan sekitar 40 60 kasus
per juta penduduk per tahun (Suwitra, 2007). Di Indonesia, dari data di beberapa bagian
nefrologi, diperkirakan insidens PGK berkisar 100-150 per 1 juta penduduk dan
prevalensi mencapai 200-250 kasus per juta penduduk (Bakri, 2005).
Pada penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis terjadi fluktuasi status
volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit plasma yang sangat tergantung pada
jumlah cairan yang diminum dan fungsi ginjal sisa (Lubis, 2009). Kelebihan ataupun
kekurangan cairan ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada pasien yang
menjalani hemodialisis (Pace, 2007), terutama yang berhubungan dengan komplikasi
kardiovaskulernya. Beberapa komplikasi akibat kegagalan mengatur asupan cairan pada
pasien gagal ginjal antara lain; hipertensi yang tak terkendali, hipotensi intradialisis,
edema perifer, asites, efusi pleura dan gagal jantung kongestif.
Salah satu penyebab terjadinya kegagalan dalam mengatur asupan cairan yang
berujung pada fluktuasi cairan adalah kurangnya pengetahuan dan ketidakpatuhan pasien
mengenai pentingnya mengatur kebiasaan minum. Konsumsi air minum melebihi batas
yang dianjurkan dapat meningkatkan resiko komplikasi seperti di atas dan terutama yang
berhubungan dengan komplikasi kardovaskular.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui penerapan asuhan keperawatan pasien dengan Chronic Kidney Disease
(CKD)
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui definisi CKD

b. Mengetahui fisologi CKD

c. Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi CKD

d. Mengetahui etiologi CKD

e. Mengetahui manifestasi klinis CKD

f. Mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan pada CKD

g. Menggambarkan asuhan keperawatan pasien tentang pengkajian, analisa data,


diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses/ hasil pada pasien
dengan CKD.

C.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Anatomi Fisiologi
Ginjal adalah organ ekskresi yang berperan penting dalam mempertahankan
keseimbangan internal dengan jalan menjaga komposisi cairan tubuh/ekstraselular. Ginjal
merupakan dua buah organ berbentuk seperti kacang polong, berwarna merah kebiruan.
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal disebelah
kanan dan kiri tulang belakang, dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal di belakang
peritoneum atau di luar rongga peritoneum. Ketinggian ginjal dapat diperkirakan dari
belakang di mulai dari ketinggian vertebra torakalis sampai vertebra lumbalis ketiga.
Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena letak hati yang menduduki ruang
lebih banyak di sebelah kanan. Masing-masing ginjal memiliki panjang 11,25 cm, lebar 5-
7 cm dan tebal2,5 cm.. Berat ginjal pada pria dewasa 150-170 gram dan wanita dewasa
115-155 gram.
Ginjal ditutupi oleh kapsul tunikafibrosa yang kuat, apabila kapsul di buka terlihat
permukaan ginjal yang licin dengan warna merah tua. Ginjal terdiri dari bagian dalam,
medula, dan bagian luar, korteks. Bagian dalam (interna) medula.Substansia medularis
terdiri dari pyramid renalis yang jumlahnya antara 8-16 buah yang mempunyai basis
sepanjang ginjal, sedangkan apeksnya menghadap ke sinus renalis. Mengandung bagian
tubulus yang lurus, ansahenle, vasa rekta dan duktuskoli gensterminal. Bagianluar
(eksternal) korteks. Subtansia kortekalis berwarna coklat merah, konsistensi lunak dan
bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika fibrosa, melengkung sepanjang basis
piramid yang berdekatan dengan sinus renalis, dan bagian dalam di antara pyramid
dinamakan kolumnarenalis. Mengandung glomerulus, tubulus proksimal dan distal yang
berkelok-kelok dan duktus koligens. Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang
merupakan satuan fungsional ginjal. Kedua ginjal bersama-sama mengandung kira-kira
2.400.000 nefron. Setiap nefron bias membentuk urin sendiri. Karena itu fungsi dari satu
nefron dapat menerangkan fungsi dari ginjal.
B. Pengertian
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus
filtration rate (GFR).(6)
CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal
mengalami penurunan fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar (insidious)
dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan metabolism, cairan, dan
keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia atau azotemia.(9)
Gagal ginjal kronik berdasarkan National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease
Outcome Quality Initiative (K/000/) Guidelines Update tahun 2002 dalam panduan
pelayanan medic model interdisiplin penatalaksanaan oleh Dr. Imam Rasjidi, definisi
penyakit gagal ginjal kronik (GGK) adalah:
1. Kerusakan ginjal > 3 bulan, berupa kelainan struktur ginjal, dapat atau tanpa disertai
penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang ditandai dengan:
- Kelainan patologi, dan
- Adanya pertanda kerusakan ginjal, dapat berupa kelainan laboratorium darah atau
urine, atau kelainan radiologi.
2. LFG < 60 ml/ menit/1,73 m2 selama >3 bulan, dapat disertai atau tanpa disertai
kerusakan ginjal.
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronik (GGK) atau
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah gangguan fungsi renal dimana terjadi
penurunan fungsi ginjal yang cukup berat secara perlahan-lahan (menahun) yang
progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan kesimbangan cairan dan elektrolit.
C. Etiologi
Beberapa individu tanpa kerusakan ginjal dan dengan GFR normal atau meningkat
dapat beresiko menjadi CKD, sehingga harus dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk
menentukan apakah individu-individu ini menderita CKD atau tidak. (3,5,8)
Kondisi-kondisi yang meningkatkan resiko terjadinya CKD:
1. Riwayat penyakit ginjal polikistik atau penyakit ginjal genetik lainnya di keluarga
2. Bayi dengan berat badan lahir rendah
3. Anak-anak dengan riwayat gagal ginjal akut akibat hipoksia perinatal atau serangan
akut lainnya pada ginjal
4. Hipoplasia atau displasia ginjal
5. Gangguan urologis, terutama uropati obstruktif
6. Refluks vesikoureter yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih berulang dan
parut di ginjal
7. Riwayat menderita sindrom nefrotik dan nefritis akut
8. Riwayat menderita purpura Henoch-Schonlein
9. Diabetes Melitus
10. Lupus Eritermatosus Sistemik
11. Riwayat menderita hipertensi
12. Penggunaan jangka panjang obat anti inflamasi non steroid

D. Klasifikasi
Pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat GFR (Glomerulus Filtrat Rate)1:
1. Stadium 1
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dengan GFR masih
normal > 90 ml/menit/1,73 m2.
2. Stadium 2
Kerusakan ginjal ringan dengen penurunan nilai GFR, belum terasa gejala yang
mengganggu.
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persistan dengan GFR 60-89
ml/menit/1,73 m2.
3. Stadium 3
Kerusakan ginjal masih bisa dipertahankan.
Kelainan ginjal dengan GFR 15-29 ml/menit/1,73 m2.
4. Stadium 5
Kerusakan parah harus cuci ginjal.
Kelainan ginjal dengan GFR < 15 ml/menit/1,73m2.

Progresi CRF melewati empat tahap, yaitu penurunan cadangan ginjal, insufiensi
ginjal, gagal ginjal, dan end-stage renal disease. Tahap perkembangan gagal ginjal
menurut Baradero yaitu:
1. Penurunan cadangan ginjal
- Sekitar 40-75% nefron tidak berfungsi
- Lajut filtrasi glomerulus 50-50% normal
- BUN dan kreatinin serum masih normal
- Pasien asimtomatik
2. Gagal ginjal (insufisiensi ginjal)
- 75-80% nefron tidak berfungsi
- Laju filtrasi glomerulus 20-40% normal
- BUN dan kreatinin serum mulai meningkat
- Anemia ringan dan azotemia ringan
- Nokturia dan poliuria
3. Gagal ginjal
- Laju filtrasi glomerulus 10-20% normal
- BUN dan kreatinin serum meningkat
- Anemia, azotemia, dan asidosis metabolik
- Berat jenis urine 1,010
- Poliuria dan nokturia
4. End stage renal disease (ESRD)
- Lebih dari 80% nefron tidak berfungsi
- Laju filtrasi glomerulus kurang dari 10% normal
- BUN dan kreatinin tinggi
- Anemia, azotemia, dan asidosis metabolik
- Berat jenis urine tetap 1,010
- Oliguria
Perbandingan nilai kreatinin, laju filtrasi glomerulus dan clearance rate untuk menilai
fungsi ginjal.(3)

GFR Kreatinin (ml/ menit/ Clearance Rate (ml/


(mg/dL) 1,73 m2) menit)

Normal >90 Pria <1,3 Pria 90-145


Wanita <1,0 Wanita 75-115

Gangguan ginjal 60-89 Pria 1,3-1,9 56-100


Wanita 1-1,9
ringan

Gangguan ginjal 30-59 2-4 35-55


sedang

Gangguan ginjal 15-29 >4 <35


berat

E. Patofisiologi
Pada awal perjalanannya, keseimbangan cairan, penanganan garam, dan penimbunan
produk sisa masih bervariasi dan bergantung pada bagian ginjal yang sakit. Sampai fungsi
ginjal turun kurang dari 25% normal, manifestasi klinis gagal ginjal kronis mungkin
minimal karena nefron-nefron lain yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak.
Nefron yang tersisa meningkatkan laju filtrasi, reabsorbsi, dan sekresinya serta
mengalami hipertrofi dalam proses tersebut. Seiring dengan mankin banyaknya nefron
yang mati, nefron yang tersisa menghadapi tugas yang semakin berat, sehingga nefron-
nefron tersebut ikut rusak dan akhirnya mati. Sebagian dari siklus kematian ini
tampaknya berkaitan dengan tuntutan pada nefron-nefron yang ada untuk meningktkan
reabsorbsi protein. Seiring dengan penyusutan progresif nefron, terjadi pembentukan
jaringan parut dan penurunan aliran darah ginjal. Pelepasan rennin dapat meningkat, dan
bersama dengan kelebihan beban cairan, dapat menyebabkan hipertensi. Hipertensi
mempercepat gagal ginjal, mungkin dengan meningkatkan filtrasi (karena tuntutan untuk
mempercepat gagal ginjal, mungkin dengan meningkatkan filtrasi (karena tuntutan untuk
reabsorbsi) protein plasma dan menimbulkan stress oksidatif.
Kegagalan ginjal membentuk eritroprotein dalam jumlah yamg adekuat seringkali
menimbulkan anemia dan keletihan akibat anemia berpengaruh buruk pada kualitas
hidup. Selain itu, anemia kronis menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan di seluruh
tubuh dan mengaktifkan refleks-refleks yang ditujukan untuk meningkatkan curah
jantung guna memperbaiki oksigenasi. Refleks ini mencakup aktivasi susunan saraf
simpatis dan peningkatan curah jantung. Akhirnya, perubahan tersebut merangsang
individu yang menderita gagal ginjal mengalami gagal jantung kongesttif sehingga
penyakit ginjal kronis menjadi satu faktor resiko yang terkait dengan penyakit jantung.(3)
Selama gagal ginjal kronik beberapa nefron termsuk glomeruli dan tubula masih
berfungsi, sedangkan nefron yang lain sudah rusak dan tidak berfungsi lagi. Nefron yang
masih utuh dan berfungsi mengalami hipetrofi dan menghasilkan filtrat dalam jumlah
banyak. Reabsorbsi tubula juga meningkat walaupun laju filtrasi glomerulus berkurang.
Kompensasi nefron yang masih masih utuh dapat membuat ginjal mempertahankan
fungsinya sampai tiga perempat nefron rusak. Solut dalam cairan menjadi lebih banyak
dari yang dapat direabsorbsi dan mengakibatkan dieresis osmotic dengan poliura dan
haus. Akhirnya, nefron yang rusak bertambah dan terjadi oliguria akibat sisa metabolisme
tidak disekresikan.
Tanda dan gejala timbul akibat cairan dan elektrolit yang tidak seimbang, perubahan
fungsi regulator tubuh, dan retensi solut. Anemia terjadi karena produksi eritrosit juga
terganggu (sekresi eritropoietin ginjal berkurang). Pasien mengeluh cepat lelah, pusing,
dan letargi. Hiperurisemia sering ditemukan pada pasien dengan ESDR. Fosfat serum
juga meningkat, tetapi kalsium mungkin normal atau di bawah normal. Hal ini disebabkan
eksresi ginjal terhadap fosfat menurun. Ada peningkatan produksi parathormon sehingga
kalsium serum mungkin normal.
Tekanan darah meningkat karena adanya hipervolemia; ginjal mengeluarkan
vasopresor (renin). Kulit pasien juga mengalami hiperpigmentasi serta kulit tampak
kekuningan atau kecoklatan. Uremic frosts adalah kristal deposit yang tampak pada pori-
pori kulit. Sisa metabolism yang tidak dapat diekskresikan oleh ginjal diekskresikan
melalui kapliler kulit yang halus sehingga tampak uremic frosts: pasien dengan gagal
ginjal yang berkembang dan menjadi berat tanpa pengobatan yang efektif), dapat
mengalami tremor otot, kesemutan betis dan kaki, perikarditis dan pleuritis. Tanda ini
dapat hilang apabila kegagalan ginjal dapat ditangani dengan midifikasi diet, medikasi,
dan atau dialysis.
Gejala uremia terjadi sangat perlahan sehingga pasien tidak dapat menyebutkan
awitan uremianya. Gejala azotemia juga berkembang, termasuk letargi, sakit kepala,
kelelahan fisik dan mental, berat badan menurun, cepat marah, dan depresi. Gagal ginjal
yang berat menunjukkan gejala anoreksia, mual dan muntah yang berlangsung terus,
pernapasa pendek, edema pitting, serta pruritus.
F. Komplikasi

1. Hiperkalemia akibat penurunana ekskresi, asidosis metabolic, katabolisme dan


masukan diet berlebih.
2. Perikarditis, efusi pericardial, dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah
uremik dan dialysis yang tidak adekuat
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi system rennin-
angiotensin-aldosteron
4. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah,
perdarahan gastrointestinal akibat iritasi toksin dna kehilangan drah selama
hemodialisa
5. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatik akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum
yang rendah dan metabolisme vitamin D abnormal.
6. Asidosis metabolic
7. Osteodistropi ginjal
8. Sepsis
9. neuropati perifer
10. hiperuremia

G. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin, 2009 gambaran klinis pada gagal ginjal yaitu:
- Pada gagal ginjal stadium 1, tidak tampak gejala-gekala klinis.
- Seiring dengan perburukan penyakit, penurunan pembentukan eritropoietin
menyebabkan keletihan kronis dan muncul tanda-tanda awal hipoksia jaringan dan
gangguan kardiovaskular.
- Dapat timbul poliuria (peningkatan pengeluaran urin) karena ginjal tidak mampu
memekatkan urin seiring dengan perburukan penyakit.
- Pada gagal ginjal stadium akhir, pengeluaran urin turut akibat GFR rendah.
Menurut Baradero, 2008:

Penyebab Tanda/ gejala Parameter pengkajian

Sistem hematopoietic
Eritropoietin menurun Anemia, cepat lelah Hematokrit
Perdarahan Trombositopenia Hemoglobin
Trombositopenia ringan Ekimosis Hitung trombosit
Kegiatan trombosit Perdarahan Petekie dan hematoma
Hematemesis dan melena
menurun

Sistem kardiovaskular
Kelebihan beban cairan Hipervolemia Tanda vital
Mekanisme renin- Hipertensi Berat badan
Takikardi Elektrocardiogram
angiotensin
Disritmia Auskultasi jantung
Anemia
Gagal jantung kongestif Pemantauan elektrolit
Hipertensi kronik
Pericarditis Kaji keluhan nyeri
Toksin uremik dalam
cairan pericardium

Sistem pernapasan
Mekanisme kompensasi Takipnea Pengkajian pernapasan
Pernapasan kussmaul Hasil pemeriksaan gas
untuk asidosis metabolic
Halitosis uremik atau
Toksin uremik darah arteri
Paru uremik fetor Inspeksi mukosa oral
Kelebihan beban cairan Sputum yang lengket Tanda vital
Batuk disertai nyeri
Suhu tubuh meningkat
Hilar pneumonitis
Pleularr friction rub
Edema paru

Sistem gastrointestinal
Perubahan kegiatan Anoreksia Asupan dan haluaran
Mual dan muntah Hematokrit
trombosit
Perdarahan Hemoglobin
Toksin uremik serum
Uji guaiak untuk feses
Ketidakseimbangan gastrointestinal
Kaji feses
Distensi abdomen
elektrolit Kaji nyeri abdomen
Diare dan konstipasi
Urea diubah menjadi
amonia oleh saliva

Sistem neurologi
Toksin uremik Perubahan tingkat Tingkat kesadaran
Ketidakseimbangan
elektrolit kesadaran; letargi, Refleks
Edema serebral karena Elektroensefalogram
bingung, stupor, dan
Keseimbangan elektrolit
perpidahan cairan
koma
Kejang
Tidur terganggu
Asteriksis

Sistem skeletal
Absorbsi kalsium Osteodistrofi ginjal Faktor serum
Rickets ginjal Kalsium serum
menurun
Nyeri sendi Kaji nyeri sendi
Ekskresi fosfat menurun
Pertumbuhan lambat
pada anak

Kulit
Anemia Pucat Lecet, lebam, dan luka
Pigmentasi Pigmentasi Kaji warna kulit
Kelenjar keringat Pruritus Perhatikan garukan pada
Ekimosis
mengecil kulit
Lecet
Kegiatan kelenjar lemak
Uremic frosts
menurun
Ekskresi sisa metabolism
melalui kulit

Sistem perkemihan
Kerusakan nefron Haluaran urin berkurang Asupan dan haluaran
Berat jenis urin menurun BUN dan kreatinin serum
Proteinuria Elektrolit serum
Fragmen dan sel dalam Berat jenis urin
urin
Natrium dalam urin
berkurang

Sistem reproduksi
Abnormalitas hormonal Infertilitas Menstruasi
Anemia Libido menurun Hamatokrit
Hipertensi Disfungsi ereksi Hemoglobin
Malnutrisi Anemorea
Lambat pubertas

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
Ditunjukkan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat kompliksi ginjal.
2. Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya massa
kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
3. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk
diagnosis histologist.
4. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
5. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
6. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta ada batu atau obstruksi lain.
7. Pielografi Intravena
Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan faal ginjal pada
usia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
8. USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises,
dan ureter proksimal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan
ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
9. Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi gangguan (vaskuler, parenkim) serta sisa
fungsi ginjal
10. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Melihat adanya kardiomegali, efusi perkarditis
11. Pemeriksaan Radiologi Paru
Melihat uremik lung yang disebabkan karena bendungan
12. EKG
Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis,
aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalimia)
13. Biopsi Ginjal
Dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostic gagal ginjal ginjal kronis atau
perlu untuk mengetahui etiologi
14. Pemeriksaan Laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
a. Laju endap darah
b. Urine
- Volume
Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau urine tidak ada (anuria).
- Warna
Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus/nanah, bakteri,
lemak, partikel koloid, fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan menunjukkan
adanya darah, miglobin, dan porfirin.
- Berat Jenis
Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat).
- Osmolalitas
Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, amrasio
urine/ureum sering 1:1.
c. Kreatinin
Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL diduga tahap akhir
d. Hiponatremia
e. Hiperkalemia
f. Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
g. Gula darah tinggi
h. Hipertrigliserida
i. Asidosis metabolic

I. Penatalaksanaan
Secara garis besar penatalaksanaan gagal ginjal kronik menurut dr. Imam Rasjidi
dalam bukunya yang berjudul Panduan Pelayanan Medik Model Interdisiplin
Penatalaksaan Kanker Serviks dengan Gangguan ginjal meliputi:
1. Pengobatan penyakit dasar atas diagnosis yang ada
2. Pengobatan terhadap penyakit penyerta
3. Penghambatan progresivitas penurunan fungsi ginjal
4. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyait kardiovaskular
5. Pencegahan dan pengobatan terhadap komplikasi
6. Persiapan dan pemilihan terapi pengganti ginjal, khususnya apabila sudah didapatkan
gejala dan tanda-tanda uremia.

Terapi non farmakologis:


1. Pengaturan asupan protein:
- Pasien non dialysis 0,6-0,75 g/ kg BB ideal/ hari sesuai dengan CCT dan toleransi
pasien
- Pasien hemodialisis 1-1,2 g/ kg BB ideal/ hari
- Pasien peritoneal dialysis 1,3 g/ kg BB/ hari
2. Pengaturan asupan kalori: 35 kal/ kg BB ideal/ hari
3. Pengaturan asupan lemak: 30-40% dari kalori total dan mengandung jumlah yang
sama antara lemak bebas jenuh dan tidak jenuh.
4. Pengaturan asupan karbohidrat: 50-60% dari kalori total
5. Pengaturan asupan garam dan mineral
- Garam (NaCl): 2-3 g/ hari
- Kalium 40-70 mEq/ kg BB/ hari
- Fosfor: 5-10 mg/ kg BB/ hari
- Pasien HD 17 mg/ hari
- Kalsium: 1400-1600 mg/ hari
- Besi: 10-18 mg/ hari
- Magnesium: 200-300 mg/ hari
- Asam folat pasien hemodialisa: 5 mg
- Air: jumlah urine 24 jam + 500 ml (IWL)
Pada CAPD air disesuaikan dengan jumlah dialisat yang keluar. Kenaikan berat badan
diantara waktu HD <5% BB kering.
1. Terapi farmakologis:
- Kontrol tekanan darah
Penghambat ACE atau antagonis reseptor Angiotensin II evaluasi kratinin dan
kalium serum. Bila kreatini serum >35% atau timbul hiperkalemi, hentikan terapi
ini.
- Penghambat kalsium
- Diuretik
- Pada pasien DM, gula darah dikontrol. Hindari memaka metforminin dan obat-
obatan sulfonylurea dengan masa kerja yang panjang. Target HbA1C untuk DM
Tipe I 0,2 di ats normal tertinggi. Untuk DM Tipe II adalah 6%.
- Koreksi anemia dengan target Hb 10-12 g/ dL
- Kontrol hiperfosfatemi: kalsium karbonat atau kalsium asetat
- Kontrol osteodistrol renal: kalsitriol
- Koreksi asidosis metabolic dengan target HCO3 20-22 mEq/L
- Koreksi hiperkalemia
- Kontrol dislipidemia dengan target LDL <100 mg/dl, dianjurkan golongan statin
- Terapi ginjal pengganti
J. Pathway
K. Pengkajian Primer
1. Airway
a. Lidah jatuh kebelakang
b. Benda asing/darah pada rongga mulut
c. Adanya secret
2. Breathing
a. Pasien sesak nafas dan cepat letih
b. Pernafasan kusmaul
c. Dipsnea
d. Nafas berbau amoniak
3. Circulation
a. TD meningkat
b. Nadi kuat
c. Disritmia
d. Adanya peningkatan JVP
e. Terdapat edema pada ekstremitas
f. Capillary refill > 3 detik
g. Akral dingin
h. Cenderung adanya perdarahan terutama pada lambung
4. Disability
Pemeriksaan neurologis : GCS menurun bahkan terjadi koma, kelemahan dan
keletihan, konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan
pada tungkai
A (Allert) : sadar penuh, respon bagus
V (Voice Respon) : kesadaran menurun, berespon terhadap suara
P (Pain Respon) : kesadaran menurun, tidak berespon terhadap suara,
tidak berespon terhadap rangsang nyeri
U (Unresponsive) : kesadaran menurun. Tidak berespon terhadap suara,
tidak berespon terhadap nyeri
L. Pengkajian Sekunder
1. Aktivitas dan Istirahat
Kelelahan, kelemahan, malaise, gangguan tidur, kelemahan otot dan tonus, penurunan
ROM
2. Sirkulasi
Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada, peningkatan JVP, takikardia,
hipotensi ortostatik, friction rub
3. Psikologis
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tidak ada kekuatan, cemas, takut.
4. Nutrisi dan Cairan
Peningkatan berat badan karena oedema, penurunan berat badan karena malnutrisi,
anoreksia, mual, muntah, rasa logam pada mulut, asites, penurunan otot, penurunan
lemak subkutan.
5. Eliminisi
Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, perubahan warna urine, urine pekat, diare,
konstipasi, abdomen kembung.
6. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot, kejang, kebas, kesemutan, gangguan status
mental, penurunan lapang penglihatan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan
memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, koma.
7. Aman dan Nyaman
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki, gelisah, kulit gatal, infeksi
berulang, pruritus, ekimosis.
8. Pernafasan
Pernafasan cepat dan dangkal, paroksismal nocturnal, dipsneau, batuk produktif
dengan frotty sputum bila terjadi oedema pulmonal.

M. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas b/d edema pulmonal, kongesti paru, hipertensi pulmonal,
penurunan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat dan penurunan curah jantung

2. Kelebihan volume cairan b/d berkurangnya curah jantung, retensi cairan dan natrium
oleh ginjal, hipoperfusi ke jaringan perifer dan hipertensi pulmonal
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat
4. Intoleransi aktivitas b/d curah jantung yang rendah, ketidakmampuan memenuhi
metabolisme otot rangka, kongesti pulmonal yang menimbulkan hipoksinia, dyspneu
dan status nutrisi yang buruk selama sakit, fatigue
5. Kerusakan integritas kulit
6. Resiko infeksi
7. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
N. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi


1. Gangguan pertukaran gas b/d edema NOC : NIC :
Respiratory Status : Gas exchange
pulmonal, kongesti paru, hipertensi Airway Management
pulmonal, penurunan perifer Respiratory Status : ventilation
yang - Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau
mengakibatkan asidosis laktat Vital Sign Status
dan jaw thrust bila perlu
penurunan curah jantung Kriteria Hasil : - Posisikan pasien untuk memaksimalkan
Setelah dilakukan tindakan ventilasi
Definisi : Kelebihan atau kekurangan keperawatan selama 3x24 jam, - Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
dalam oksigenasi dan atau pengeluaran diharapkan gangguan pertukaran gas jalan nafas buatan
karbondioksida di dalam membran teratasi dengan kriteria hasil: - Pasang mayo bila perlu
kapiler alveoli - Mendemonstrasikan - Lakukan fisioterapi dada jika perlu
peningkatan ventilasi dan - Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Batasan karakteristik : oksigenasi yang adekuat - Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
Gangguan penglihatan - Memelihara kebersihan paru tambahan
Penurunan CO2 paru dan bebas dari tanda tanda - Lakukan suction pada mayo
Takikardi distress pernafasan - Berikan bronkodilator bila perlu
Hiperkapnia Mendemonstrasikan batuk efektif - Berikan pelembab udara
Keletihan dan suara nafas yang bersih, tidak - Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
Somnolen ada sianosis dan dyspneu (mampu keseimbangan
Iritabilitas mengeluarkan sputum, mampu - Monitor respirasi dan status O2
Hypoxia bernafas dengan mudah, tidak ada Respiratory Monitoring
Kebingungan pursed lips) - Monitor rata rata, kedalaman, irama dan usaha
Dyspnoe Tanda tanda vital dalam rentang respirasi
Nasal faring normal - Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan,
AGD Normal penggunaan otot tambahan, retraksi otot
Sianosis supraclavicular dan intercostal
Warna kulit abnormal (pucat, - Monitor suara nafas, seperti dengkur
kehitaman) - Monitor pola nafas : bradipena, takipenia,
Hipoksemia kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
Hiperkarbia - Catat lokasi trakea
Sakit kepala ketika bangun - Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan
Frekuensi dan kedalaman nafas paradoksis )
abnormal - Auskultasi suara nafas, catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
Faktor faktor yang berhubungan : - Tentukan kebutuhan suction dengan
Ketidakseimbangan perfusi ventilasi mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan
Perubahan membran kapiler-alveolar napas utama
- Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya

Acid Base Managemen


- Monitor IV line
- Pertahankanjalan nafas paten
- Monitor AGD, tingkat elektrolit
- Monitor status hemodinamik(CVP, MAP, PAP)
- Monitor adanya tanda tanda gagal nafas
- Monitor pola respirasi
- Lakukan terapi oksigen
- Monitor status neurologi
- Tingkatkan oral hygiene
2. Kelebihan volume cairan b/d NOC : NIC :
Electrolit and acid base balance
berkurangnya curah jantung, retensi Fluid management
cairan dan natrium oleh Fluid balance
ginjal, - Timbang popok/pembalut jika diperlukan
hipoperfusi ke jaringan perifer dan - Pertahankan catatan intake dan output yang
hipertensi pulmonal Kriteria Hasil: akurat
Setelah dilakukan tindakan - Pasang urin kateter jika diperlukan
Definisi : Retensi cairan isotomik keperawatan selama 3x24 jam, - Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi
meningkat diharapkan kebutuhan cairan cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin )
Batasan karakteristik : terpenuhi dengan kriteria hasil: - Monitor status hemodinamik termasuk CVP,
Berat badan meningkat pada waktu - Terbebas dari edema, efusi, MAP, PAP, dan PCWP
yang singkat anaskara - Monitor vital sign
Asupan berlebihan dibanding output - Bunyi nafas bersih, tidak ada - Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan
Tekanan darah berubah, tekanan arteri dyspneu/ortopneu (cracles, CVP, edema, distensi vena leher,
pulmonalis berubah, peningkatan CVP - Terbebas dari distensi vena asites)
Distensi vena jugularis jugularis, reflek hepatojugular - Kaji lokasi dan luas edema
Perubahan pada pola nafas, (+) - Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
dyspnoe/sesak nafas, orthopnoe, suara - Memelihara tekanan vena intake kalori harian
nafas abnormal (Rales atau crakles), sentral, tekanan kapiler paru, - Monitor status nutrisi
kongestikemacetan paru, pleural output jantung dan vital sign - Berikan diuretik sesuai interuksi
effusion dalam batas normal - Batasi masukan cairan pada keadaan
Hb dan hematokrit menurun, perubahan - Terbebas dari kelelahan, hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130
elektrolit, khususnya perubahan berat kecemasan atau kebingungan mEq/l
jenis - Menjelaskan indikator - Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
Suara jantung SIII kelebihan cairan muncul memburuk
Reflek hepatojugular positif
Oliguria, azotemia Fluid Monitoring
Perubahan status mental, kegelisahan, - Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan
kecemasan dan eliminasi
- Tentukan kemungkinan faktor resiko dari
Faktor-faktor yang berhubungan : ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi
Mekanisme pengaturan melemah diuretik, kelainan renal, gagal jantung,
Asupan cairan berlebihan diaporesis, disfungsi hati, dll)
Asupan natrium berlebihan - Monitor berat badan
- Monitor serum dan elektrolit urine
- Monitor serum dan osmilalitas urine
- Monitor BP, HR, dan RR
- Monitor tekanan darah orthostatik dan
perubahan irama jantung
- Monitor parameter hemodinamik infasif
- Catat secara akutar intake dan output
- Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem
perifer dan penambahan BB
- Monitor tanda dan gejala dari odema
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari NOC : NIC :
Nutritional Status : food and Fluid Nutrition Management
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat Intake - Kaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup Kriteria Hasil : menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
untuk keperluan metabolisme tubuh. Setelah dilakukan tindakan dibutuhkan pasien.
keperawatan selama 3x24 jam, - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
Batasan karakteristik : diharapkan kebutuhan nutrisi intake Fe
Berat badan 20 % atau lebih di bawah terpenuhi dengan kriteria hasil: - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
ideal - Adanya peningkatan berat protein dan vitamin C
Dilaporkan adanya intake makanan badan sesuai dengan tujuan - Berikan substansi gula
yang kurang dari RDA (Recomended - Berat badan ideal sesuai dengan - Yakinkan diet yang dimakan mengandung
Daily Allowance) tinggi badan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Membran mukosa dan konjungtiva - Mampu mengidentifikasi - Berikan makanan yang terpilih (sudah
pucat kebutuhan nutrisi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Kelemahan otot yang digunakan untuk - Tidak ada tanda tanda - Ajarkan pasien bagaimana membuat
menelan/mengunyah malnutrisi catatan makanan harian.
Luka, inflamasi pada rongga mulut - Tidak terjadi penurunan berat - Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
Mudah merasa kenyang, sesaat setelah badan yang berarti kalori
mengunyah makanan - Berikan informasi tentang kebutuhan
Dilaporkan atau fakta adanya nutrisi
kekurangan makanan - Kaji kemampuan pasien untuk
Dilaporkan adanya perubahan sensasi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
rasa
Perasaan ketidakmampuan untuk Nutrition Monitoring
mengunyah makanan - BB pasien dalam batas normal
Miskonsepsi - Monitor adanya penurunan berat badan
Kehilangan BB dengan makanan - Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
cukup dilakukan
Keengganan untuk makan - Monitor interaksi anak atau orangtua selama
Kram pada abdomen makan
Tonus otot jelek - Monitor lingkungan selama makan
Nyeri abdominal dengan atau tanpa - Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
patologi selama jam makan
Kurang berminat terhadap makanan - Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Pembuluh darah kapiler mulai rapuh - Monitor turgor kulit
Diare dan atau steatorrhea - Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah
Kehilangan rambut yang cukup banyak patah
(rontok) - Monitor mual dan muntah
Suara usus hiperaktif - Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan
Kurangnya informasi, misinformasi kadar Ht
- Monitor makanan kesukaan
Faktor-faktor yang berhubungan : - Monitor pertumbuhan dan perkembangan
Ketidakmampuan pemasukan atau - Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan
mencerna makanan atau mengabsorpsi jaringan konjungtiva
zat-zat gizi berhubungan dengan faktor - Monitor kalori dan intake nuntrisi
biologis, psikologis atau ekonomi. - Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas oral
- Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
4. Intoleransi aktivitas b/d curah jantung NOC : NIC :
yang rendah, Energy conservation
ketidakmampuan Energy Management
Self Care : ADLs
memenuhi metabolisme otot rangka, - Observasi adanya pembatasan klien dalam
kongesti pulmonal yang menimbulkan melakukan aktivitas
hipoksinia, dyspneu dan status nutrisi Kriteria Hasil : - Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan
yang buruk selama sakit Setelah dilakukan tindakan terhadap keterbatasan
Intoleransi aktivitas b/d fatigue keperawatan selama 3x24 jam, - Kaji adanya factor yang menyebabkan
diharapkan klien dapat beraktivitas kelelahan
Definisi : Ketidakcukupan energi secara dengan kriteria hasil: - Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
fisiologis maupun psikologis untuk - Berpartisipasi dalam aktivitas - Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan
meneruskan atau menyelesaikan fisik tanpa disertai peningkatan emosi secara berlebihan
aktifitas yang diminta atau aktifitas tekanan darah, nadi dan RR - Monitor respon kardivaskuler terhadap
sehari hari. - Mampu melakukan aktivitas aktivitas
sehari hari (ADLs) secara - Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
Batasan karakteristik : mandiri pasien
Melaporkan secara verbal adanya
kelelahan atau kelemahan. Activity Therapy
Respon abnormal dari tekanan darah - Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi
atau nadi terhadap aktifitas Medik dalammerencanakan progran terapi yang
Perubahan EKG yang menunjukkan tepat
aritmia atau iskemia - Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan yang mampu dilakukan
saat beraktivitas - Bantu untuk memilih aktivitas konsisten
yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi
Faktor-factor yang berhubungan : dan social
Tirah Baring atau imobilisasi - Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan
Kelemahan menyeluruh sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
Ketidakseimbangan antara suplei diinginkan
oksigen dengan kebutuhan - Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas
Gaya hidup yang dipertahankan. seperti kursi roda, krek
- Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang
disukai
- Bantu klien untuk membuat jadwal latihan
diwaktu luang
- Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
- Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas
- Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
- Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual
5. Kerusakan integritas kulit NOC : NIC :
Definisi: Tissue integrity: skin and mucous Pressure Management
Perubahan/ gangguan epidermis dan/ membranes - Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian
atau dermis Hemodyalis akses yang longgar
- Hindari kerutan pada tempat tidur
Batasan karakteristik: Kriteria Hasil : - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
Kerusakan lapisan kulit (dermis) Setelah dilakukan tindakan kering
Gangguan permukaan kulit (epidermis) keperawatan selama 3x24 jam, - Mobilisasi pasien setiap dua jam sekali
Invasi struktur tubuh diharapkan kerusakan integritas kulit - Monitor kulit adanya kemerahan
teratasi dengan kriteria hasil: - Oleskan lotion pada daerah yang tertekan
Faktor yang berhubungan: - Integritas kulit yang baik bisa - Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Eksternal dipertahankan (sensai, - Monitor status nutrisi pasien
- Internal elastisitas, temperature, hidrasi, - Memandikan pasien dengan sabun dan air
pigmentasi) hangat
- Tidak ada luka/ lesi pada kulit Insition care
- Perfusi jaringan baik Dialysis Acces Maintenance
- Menunjukkan pemahaman
dalam proses perbaikan kulit
dan mencegah terjadinya cedera
berulang
- Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami
6. Resiko infeksi NOC : NIC:
Definisi: Mengalami Immune status
peningkatan Infection control
resiko terserang organism patogenik Knowledge: infection control - Bersihkan lingkungan setelah dipakai
Risk control - Pertahankan teknik isolasi
Faktor-faktor resiko: - Batasi pengunjung bila perlu
- Penyakit kronis Kriteria Hasil : - Instruksikan pengunjung untuk mencuci tangan
- Pengetahuan yang tidak cukup Setelah dilakukan tindakan saat berkunjung dan setelah berkunjung
untuk menghindari pemajanan keperawatan selama 3x24 jam, - Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan
patogen diharapkan resiko infeksi tidak - Tingkatkan intake nutrisi
- Pertahanan tubuh primer yang terjadi dengan kriteria hasil: - Berikan terapi antibiotic bila perlu
tidak adekuat - Klien bebas dari tanda dan Infection protection
- Ketidakadekuatan pertahanan gejala infeksi - Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
sekunder - Mendiskripsikan proses lokal
- Vaksinasi tidak adekuat penularan penyakit, factor yang - Monitor kerentanan terhadap infeksi
- Pemajanan terhadap patogen mempengaruhi penularan serta - Batasi pengunjung
lingkungan meningkat penatalaksanaannya - Pertahankan teknik isolasi
- Prosedur invasive - Menunjukkan kemampuan - Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap
- Malnutrisi untuk mencegah timbulnya kemerahan, panas, drainase
infeksi - Inspeksi kondisi lika/ insisi bedah
- Jumlah leukosit dalam batas - Dorong masukan nutrisi dan cairan
normal - Dorong istirahat
- Menunjukkan perilaku hidup - Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
sehat infeksi
- Ajarkan cara menghindari infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi

7. Ketidakefektifan perfusi jaringan NOC : NIC :


perifer Circulation status Peripheral Sensation Management
- Monitor adanya daerah tertentu yang hanya
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke
Kriteria Hasil : peka terhadap panas/ dingin/ tajam/ tumpul
perifer yang dapat mengganggu
Setelah dilakukan tindakan - Monitor adanya paretese
kesehatan
keperawatan selama 3x24 jam, - Instruksikan keluarga untuk mengobservasi
Batasan karakteristik:
diharapkan perfusi jaringan perifer kulit jika ada lesi atau laserasi
Tidak ada nadi efektif dengan kriteria hasil: - Gunakan sarung tangan untuk proteksi
Perubahan fungsi motorik
- Mendemostrasikan status - Batasi gerakan pada kepala, leher, dan
Perubahan karakteristik kulit
Perubahan tekanan darah di ekstremitas sirkulasi yang ditandai dengan: punggung
Waktu pengisian kapiler >3 detik
Tekanan systole dan diastole - Monitor kemampuan BAB
Warna kembali ke tungkai saat tungkai
dalam rentang yang diharapkan - Kolaborasi pemberian analgesic
diturunkan
Kelambatan penyembuhan luka perifer Tidak ada ortostatik hipertensi - Monitor adanya tromboplebitis
Penurunan nadi
- Mendemonstrasikan - Diskusikan mengenai penyebab perubahan
Edema
Nyeri ekstremitas kemampuan kognitif sensasi
Warna kulit pucat saat elevasi
- Menunjukkan fungsi sensori
Faktor yang berhubungan: motori cranial yang utuh
- Kurang pengetahuan tetang factor
pemberat
- Kurang pengetahuan tentang
proses penyakit
- Diabetes mellitus
- Hipertensi
- Gaya hidup monoton
- Merokok
DAFTAR PUSTAKA

1. Alam, Syamsir dan Iwan Hadibroto. 2007. Gagal ginjal: Panduan Lengkap untuk
Penderita dan keluarganya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2. Baradero, Mary. 2008. Klien gangguan ginjal. Jakarta: EGC.
3. Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta: EGC.
4. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. 2000 Nursing care plans:
Guidelines for planning and documenting patients care. Jakarta: EGC
5. Long, B.C. 1996. Essential of medical surgical nursing : A nursing process
approach. Bandung: IAPK Padjajaran
6. Nahas, Meguid El & Adeera Levin. Chronic Kidney Disease: A Practical Guide
to Understanding and Management. USA : Oxford University Press. 2010
7. Price, S.A. & Wilson, L.M. 2005. Pathophysiology: Clinical concept of disease
processes. 4th Edition. Jakarta: EGC
8. Rasjidi, Imam dkk. 2008. Panduan pelayanan medik: model interdisiplin
penatalaksanaan kanker serviks dengan gangguan ginjal. Jakarta: EGC.S
9. Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. 2001. Medical surgical nursing. J. Jakarta:
Salemba Medika
10. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2000. Medical Surgical Nursing. 8th Edition.
Jakarta: EGC