Anda di halaman 1dari 23

KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN ANTARA PARITAS IBU DENGAN KEJADIAN PLASENTA


PREVIA DI KECAMATAN RAPPANG KABUPATEN SIDRAP RSUD
ARIFIN NUMANG RAPPANG
TAHUN 2017

Disusun oleh:
ANDI HERMATA
044.196.1.0.007

AKADEMI KEBIDANAN PRIMA HUSADA


BOGOR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah Sekitar 160 juta perempuan 15% menderita komplikasi
berat, dengan sepertiganya mengakibatkan kematian lebih dari setengah
juta ibu setiap tahun. Dari jumlah ini diperkirakan 90% terjadi di Asia dan
Afrika subsahara, 10 % di negara berkembang lainnya, dan kurang dari 1
% di negara-negara maju. Di beberapa negara resik kematian ibu lebih
tinggi dari 1 dalam 10 kehamilan, sedangkan di negara maju resiko ini
kurang dari 1 dalam 6000.
Secara global 80% kematian ibu tergolong pada kematian ibu
langsung. Pola penyebab di mana-mana sama, yaitu perdarahan (25%),
sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%),
komplikasi aborsi tidak aman (13%), dan sebab-sebab lain (8%).
(Sarwono, 2014)
Angka Kematian Ibu masih menjadi tolak ukur untuk menilai baik
buruknya keadaan pelayanan kesehatan dan salah satu indikator tingkat
kesejahteraan ibu. (Saefuddin, 2002). Perdarahan sebagai penyebab
kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan
postpartum. Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam semasa
kehamilan dimana umur kehamilan telah melebihi 28 minggu atau berat
janin lebih dari 1000 gram (Manuaba, 2010). Sedangkan menurut Sarwono
(2014), perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang timbul
pada masa kehamilan kedua pada kira-kira 3% dari semua kehamilan. Jadi
dapat disimpulkan perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi
pada akhir usia kehamilan Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat
darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya
antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum
jelas sumbernya.
Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan
paritas tinggi dan pada usia di atas 30 tahun. Juga lebih sering terjadi pada

2
kehamilan ganda daripada kehamilan tunggal. Uterus bercacat ikut
mempertinggi angka kejadiannya. Pada beberapa Rumah Sakit Umum
pemerintah dilaprkan insidennya berkisar 1,7% sampai dengan 2,9 %. Di
negara maju insidensinya lebih rendah yaitu kurang dari 1% mungkin
disebabkan berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi. Dengan
meluasnya penggunaan ultrasonografi dan obstetrik yang memungkinkan
deteksi lebih dini, insiden plasenta previa bisa lebih tinggi. (Sarwono,
2014)

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Hubungan antara
paritas ibu dengan kejadian plasenta previa

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan kejadian
plasenta previa

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui salah satu faktor risiko ibu hamil yang mengalami
plasenta previa
b. Mengetahui hubungan antara paritas ibu dengan kejadian plasenta
previa
c. Mengetahui apakah multiparitas merupakan salah satu faktor yang
meningkatkan terjadinya plasenta previa
d. Mengetahui angka kejadian plasenta previa pada multiparitas dan
primiparitas

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan manfaat teoritis hubungan paritas ibu dengan kejadian
plasenta previa.

3
b. Menyediakan data untuk penelitian lanjutan yang berhubungan
dengan plasenta previa.
2. Manfaat Aplikatif
a. Untuk melakukan deteksi dini terhadap kejadian plasenta previa.
b. Untuk mengurangi plasenta previa dengan upaya preventif pada
ibu multiparitas.
c. Hasil penelitian dapat menjadi informasi bagi masyarakat
mengenai faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa
dan bertindak segera agar tidak terjadi keparahan akibat penyakit.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Paritas
1. Pengertian
Para adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran
bayi atau bayi mampu bertahan hidup. Titik ini dicapai pada usia
kehamilan 20 minggu atau berat janin 500 gram (Varney, 2006).
2. Klasifikasi jumlah paritas`
a. Primipara adalah seorang yang pernah melahirkan satu kali satu
janin atau lebih yang telah mencapai viabilitas. Oleh karena itu,
berakhirnya setiap kehamilan melewati tahap abortus memberikan
paritas pada ibu.
b. Primigravida yaitu wanita yang hamil untuk pertama kalinya.
(Varney, 2006)
c. Multipara adalah seorang wanita yang telah menyelesaikan dua
atau lebih kehamilan hingga viabilitas. Hal yang menentukan
paritas adalah jumlah kehamilan yang mencapai viabilitas, bukan
jumlah janin yang dilahirkan. Paritas tidak lebih besar jika wanita
yang bersagkutan melahirkan satu janin, janin kembar, atau janin
kembar lima, juga tidak lebih rendah jika janin (-janin) nya lahir
mati
d. Nuligravida : serang wanita yang belum pernah dan sekarang
sedang tidak hamil
e. Gavida : seorang wanita yang sedang atau telah hamil, tanpa
memandang hasil akhir kehamilan. Dengan terjadinya kehamilan
pertama, ia menjadi primigravida, dan dengan kehamilan
berikutnya menjadi multigravda
f. Nulipara : seorang wanita yang belum pernah mencpai kehamilan
melewati tahap abortus. Ia mungkin pernah hamil mungkin juga
tidak, atau mungkin pernah mengalami abortus spontan atau
elektif.

5
g. Parturien : seorang wanita dalam persalinan
h. Puerpera : seorang wanita yang baru melahirkan
(Kenneth J. Leveno, 2009)

B. Plasenta Previa
1. Pengertian
Plasenta Previa adalah Plasenta ada didepan jalan lahir (prae =
didepan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud adalah plasenta yang
implatasinya tidak normal ialah rendah sekali sehingga menutupi
seluruh atau sebagian ostium internum. Implantasi plasenta yang
normal adalah pada dinding depan atau dinding belakang rahim
didaerah fundus uteri. (Ai Yeyeh, dkk, 2010)
2. Klasifikasi dan Etiologi
Kita membagi plasenta previa menjadi :
1. Plasenta previa totalis seluruh ostium internum tertutup oleh
plasenta ;
2. Plasenta previa lateralis/parsialis sebagian ostium tertutup olrh
plasenta ;
3. Plasenta previa marginalis hanya dipinggir ostium terdapat
jaringan plasenta ;
4. Plasenta letak rendah implantasi plasenta rendah tapi tidak
sampai ke ostium (tepi plasenta berjarak <5cm dipinggir ostium) ;
Etiologi
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan ketika
endometrium kurang baik, misalnya akibat atrofi endometrium atau
vaskularisasi desidua yang kurang baik. Keadaan ini dapat ditemukan
pada:
1. Multipara, kalau jarak kehamilannya pendek.
2. Riwayat seksio sesarea
3. Riwayat kuretase
4. Gemeli
5. Diabetes mellitus

6
6. Pre-Eklamsi dalam kehamilan
7. Hipertensi dalam kehamilan
8. Mioma uteri.
9. Umur lanjut.
10. Bekas seksio sesarea
11. Perubahan inflantasi atau atrofi.
(Djamhoer Martaadisoebrata,dkk, 2015)
3. Patofisiologi
a. Penyebab yang pasti tidak diketahui, penyebabnya mungkin
berkaitan dengan tumor fibroid uterus atau jaringan perut pasca
bedah pada uterus
b. Factor yang dapat mempengaruhi tempat pelekatan plasenta pada
dinding uterus meliputi :
1) Vaskularisasi plasenta yang terganggu
2) Kehamilan kembar (plasenta pada kehamilan kembar
memerlukan luas permukaan yang lebih besar bagi
peletaknya)
3) Riwayat pembedahan pada uterus
4) Multiparitas
5) Usia ibu yang lanjut
c. Segmen bawah uterus tidak dapat memberikan nutrisi yang
memadai seperti halnya pada fundus uteri
d. Plasenta pada segmen ini cenderung memperluas dirinya untuk
mencari sumberdarah yang diperlukan sehingga menjadi lebih
lebar dan lebih tipis dari pada plasenta yang normal
e. Villi plasenta akan terkoyak dari dinding uterus ketika segmen
bahwa uterus melakukan kontraksi dan dilatasi pada trimester
ketiga
f. Ketika os servisis interna menipis dan membuka, pembuluh darah
uterus akan rupture
g. Sinus uterine akan terbuka ke sisi plasenta dan terjadilah
perdarahan (Dianty Maternity,dkk, 2013)

7
4. Gambaran Klinis
Pendarahan tanpa alasan dan tanpa nyeri merupakan gejala
utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi
penderita tidur atau bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak
banyak, sehingga tidak berakibatkan fatal. Akan tetapi, perdarahan
berikutnya hamper selalu lebih banyak dari pada sebelumnya, apalagi
kalau sebelumnya dilakukan pemeriksaan dalam. Walaupun
perdarahannya sering dikatakan terjadi triwulan ketiga, akan tetapi
tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20 minggu karena sejak itu
segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.
Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus
akan lebih melebar lagi, dengan serviks mulai membuka, apabila
plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah
uterus dan pembukaan seviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang
melekat disitu tahap terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus.
Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darahnya berwarna
merah segar, berlainan dengan darah yang di sebabkan solusio plasenta
yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya ialah sinus
uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus,
atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.Perdarahannya
tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen
bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak
sebagaimana serabut otot menghentikan perdarahan pada kala III
dengan plasenta yang letaknya normal.
Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi,
oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi
lebih dini pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah
setelah persalinan mulai. (Ai Yeyeh, dkk, 2010)
5. Komplikasi
Plasenta previa dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik
bagi ibu maupun pada janin yang dikandungnya, yaitu :

8
a. Predarah yang hebat dan syok sebelum atau selama persalinan,
yang dapat mengancam kehidupan ibu dan janinnya.
b. Persalinan premature/ prektem (sebelum usia kehamilan
37minggu) yang mana merupakan resiko terbesar bagi janin.
c. Defect Persalinan
d. Infeksi
e. Laserasi serviks
f. Plasenta akreta
g. Plasenta tali pusat
h. Prolaps plasenta
Plasenta previa dapat menghambat perkembangan janin.
Meskipun beberapa pengertian sering menemukan masalah
pertumbuhan janin pada plasenta previa, beberapa penelitian lainnya
tidak meneukan perbedaan antara bayi-bayi pada kelainan ini dengan
bayi-bayi dari kehamilan normal. (Dianty Maternity,dkk, 2013)
6. Diagnosis
Untuk mengejan diagnose pasti kejadian plasenta previa maka
hal-hal dibawah ini harus dilakukan antara lain :
a. Anamnesa :
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan 22 minggu berlangsung
tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Perdarahan
cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak dari
sebelumnya. Menimbulkan penyulit pada ibu maupun janin dalam
lahir.
b. Inspeksi :
Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervagina, banyak, sedikit,
atau darah beku (stolsel), bila terjadi perdarahan banyak, maka ibu
terlihat pucat atau anemia.
c. Pemeriksaan fisik ibu :
Tekanan darah, nadi, dan pernafasan dalam batas normal, tekanan
darah, nadi, dan pernafasan meningkat, daerah akral menjadi
dingin, tanpak anemia.

9
d. Pemeriksaan khusus kebidanan :
1) Palpasi abdomen didapatkan :
Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan
usia kehamilan, bagian terendah janin masih tinggi, karena
plasenta berada di segmen bawah rahim, bila cukup
pengalaman, bisa dirasakan suatu bantalan pada segmen
bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus.
2) Pemeriksaan denyut jantung :
Berfariasi dari normal sampai asviksia dan kematian dalam
rahim.
3) Pemeriksaan inspekulo :
Dengan memakai speculum secara hati-hati, dilihat dari mana
asal perdarahan, apakah dari dalam uterus, atau dari kelainan
serviks, vagina, varises pecah.
4) Pemeriksaan penunjang, sitrogravik :
Mula-mula kandungan kemih dikosongkan, lalu dimasukan 40
cc larutan N4C1 12,5% kepala janin diletakan kearah pintu
atas panggul. Bila jarak kepala dan kemih berselisih dari 1cm,
kemunginan terdapat plasenta.
5) Pemeriksaan dalam :
Dilakukan diatas meja oprasi dan siap untuk segara mengambil
tindakan. Walaupun begitu, kita harus berhati-hati karena
bahaya yang sangan besar, bahaya pemeriksaan dalam dapat
menyebabkan perdarahan yang hebat, terjadi infeksi,
menimbulkan his dan kemudia terjadi partus premature,
indikasi pemeriksaan dalam, perdarahan banyak, lebih dari
500cc perdarahan berulang-ulang, perdarahan sekali atau
banyak, sehingga H6 menjadi berkurang 8gr%, his telah ada
dan janin sudah dapat hidup diluar rahim. (Dianty
Maternity,dkk, 2013)
7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis

10
Semua pasien atau ibu dengan perdarahan pervagina pada
kehamilan trimester ke-3 harus dirawat dirumah sakit tanpa
pemeriksaan dalam (touche vagina). Bila pasien dalam keadaan
syok karena perdarahan yang banyak, harus segera dilakukan
perbaikan keadaan umumnya dengan pemberian infuse atau
transfusi darah.
Untuk itu dalam melakukan rujukan pasien dengan plasenta
previa, bidan harusnya mengambil sikap/ memperhatikan hal-hal
berikut ini :
1) Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untung tirah baring total
dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama,
menghindari penekanan tingkatan tekanan rongga perut
(misalnya : batuk, mengedan karna sulit buang air besar).
2) Pemasangan infuse untuk mengimbangi perdarahan
3) Sedapat mungkin diantar oleh petugas
4) Dilengkapi dengan keterangan secukupnya
5) Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah
Selanjutnya, penanganan atau penatalaksanaan plasenta
previa tergantung pada :
1) Keadaan umum pasien, kadar Hb
2) Jumlah perdarahan yang tinggi
3) Umur kehamilan/ taksiran berat badan janin
4) Jenis/ klasifikasi plasenta previa
5) Paritas dan kemajuan persalinan
b. Penatalaksanaan asuhan ibu dengan plasenta previa
a) Tujuan dari penatalaksanaan asuhan pasien/ ibu dengan
plasenta previa ini, antara lain :
1) Mencegah dan mengurangi timbulnya perdarahan baru
2) Mencegah terjadinya infeksi
3) Mempertahankan kesejahteraan janin dan bayi lahir sehat
4) Memperbaiki keadaan umum

11
5) Menyampaikan secara verbal pemahaman atas kondisi pasien
dan penatalaksanaan yang dilakukan
6) Mengidentifikasi dan menggunakan system pendukung yang
tersedia
7) Melakukan pembatasan aktifitas yang dianjurkan
8) Tidak ada implikasi yang berhubungan dengan perdarahan
9) Kehamilan mencapai/ mendeteksi
c. Penatalaksanaan asuhan kebidanan dirumah sakit
Penatalaksanaan ekspetatis atau yang diharapkan jika
umum kehamilan kurang dari 36minggu, tidak ada tanda-tanda
persalinan, perdarahan sedikit atau berhenti, penatalaksanaan
yang diharapkan adalah pengobatan yang umum (kolaborasi)
untuk memberikan waktu pada janin menjadi matur.
Penatalaksanaan yang diharapkan terdiri dari :
1) Istirahat atau observasi secara ketat. Ibu biasnya bedrest,
walaupun ia mampu kekamar mandi sendiri dan dibatasi
aktifitasnya. Bidan atau perawat kebidanan mengkaji
perdarahan dengan megecek jumlah perdarahan pada pembalut
dan menimbang beratnya pembalut. Meskipun tidak teratus
dilakukan, ini adalah merupakan cara tepat untuk mengkaji
kehilangan darah, dimana 1gram menunjukan 1mililiter darah.
2) Pemeriksaan USG yang biasanya dilakukan setiap 2/3minggu,
pemeriksaan vetal atau janin memiliki konsentres atau keadaan
biofisik 1/2kali seminggu.
3) Pemeriksaan laboratorium dievaluasi untuk mengetahui
penurunan hemoglobin (Hb) dan level hematokrit (Ht).
dilakukan pemasangan infuse atau pemberian heparin pada
kasus perdarahan atau terapi komponen darah. Obat-obatan
untuk meningkatkan maturitas vetal/ janin diberikan jika
kehamilan kurang dari 34 minggu. Tidak boleh melakukan
pemeriksaan dalam, seperti pemeriksaan rectal, atau vagina
atau pemasangan alat pada vagina untuk bantuan pemeriksaan

12
4) Persiapan mental
Karena pasien/ ibu dengan plasenta previa ada yang berhari-
hari bahkan berminggu-minggu dirawat, maka sering kali
pasien dan keluarganya menjadi gelisah. Dalam hal ini bidan/
perawat kebidanan harus memberikan motivasi kepada pasien/
ibu dan keluarga mengenai :
a) Mengapa terjadi perdarahan dan harus dirawat
b) Kalau terjadi perdarahan ulang atau perdarahan baru, apa
yang akan di kerjakan oleh dokter
c) Apabila pasien/ ibu menolak untuk dirawat, komplikasi apa
yang akan terjadi
d) Memberikan kekuatan mental pada pasien/ ibu dan keluarga
dalam menghadapi ini
5) Jika usia kehamilan telah mencapai 37minggu dan paru janin
telah matur, persalinan seksio caesaria dijadwalkan
6) Selama dirawat dirumah sakit, pasien dengan plasenta previa
mungkin selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya keadaan
emergensi/ kegawat daruratan karena perdarahan masih (terus
menerus dan banyak) dengan akibat syok hipovelemik yang
dapat terjadi segera. Hal ini membutuhkan persalinan section
caesaria secara emergensi.
7) Plasenta previa pada kehamilan preterm/ premature merupakan
indikasi untuk kepusat pelayanan perinatal karena ada beberapa
rumah sakit tidak memiliki persedian pelayanan persalinan
seksio caesaria emergensi 24jam atau 7hari dalam seminggu.
Penatalaksanaan aktif
1) Jika plasenta previa sudah didiagnosa, maka perencanaan
penatalaksanaan didasarkan atas umur kehamilan, jumlah
perdarahan dan kondisi janin
2) Jika umur kehamilan sudah atermdan ibu dalam masa
persalinan atau perdarahan terus menerus, maka persalinan
secara seksio caesaria secepatnya harus dilakukan

13
3) Jika pasien dengan plasenta previa parsial atau marginal yang
mengalami perdarahan minimal, persalinan melalui vagina
dapat dilakukan
4) Jika dilakukan persalinan seksio caesaria, bidan/ perawat
kebidanan secara terus menerusmengkaji keadaan ibu dan
janin, sementaraitu di persiapkan untuk pembedahan yang
perlu diperhatikan yaitu :
a) Mintalah ijin oprasi
b) Persiapkan donor untuk sewaktu-waktu bila ada perdarahan
berulang dan untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
c) Lakukan perawatan lanjut pasca bedah termaksud
pemantauan perdarahan, infeksi dan keseimbangan cairan
masuk-keluar
5) Tanda-tanda vital ibu dikaji secara teratur untuk mengetahui
adanya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi, perubahan
kesadaran dan oliguri/urine sedikit. Pengkajian pada janin
dipertahankan dengan monitoring fetal elektronik untuk
mengkaji adanya tanda hipoksia.
6) Perdarahan mungkin tidak berhenti dengan kelahiran bayi.
Pelebaran pembuluh darah pada segmen bawah rahim
mungkin terus menyebabkan perdarahan karena berkurangnya
otot segmen bawah rahim. Mekanisme natural mengontrol
perdarahan jika karakteristik otot uterus bagian atas terjalin
dengan kuat, bukan traksi mengelilingi pembuluh darah
terbuka. Hal ini tidak ada pada uterus bagian bawah.
Perdarahan pasca partum mungkin akan terjadi meskipun
kontraksi fundus kuat
7) Dukungan emosional untuk pasien/ ibu dan keluarganya sangat
penting. Perdarahan aktif pada pasien tidak hanya
mempengaruhi keadaan pasien/ ibu, tetapi juga berpengaruh
pada kesejahteraan janin. Semua prosedur harus dijelaskan dan

14
ada orang yang mendukukng ibu. Pasien/ ibu sebaiknya
didorong untuk mengekspresikan perhatian dan perasaanya.
d. Penatalaksanaan dirumah
1) Kriteria untuk penatalaksanaan perawatan dirumah, harus
diawasi oleh petugas kesehatan (bidan atau perawat home care
yang kompeten). Pertimbangan untuk referral/ rujukan ibu
dalam kondisi yang stabil dengan tidak ada perdarahan aktif
dan harus mempunyai sumber untuk dapat kembali kerumah
sakit dengan cepat. Jika terjadi perdarahan aktif.
2) Ibu harus mempunyai supervise ketat dirumah dengan
keluarga, harus tahu bangaimana mengkaji keadaan janin dan
aktifitas uterus serta perdarahan dan menghindari intercause,
douching dan enema.ibu sebaiknya membatasi aktivitas sesuai
yang dianjurkan dokter dan mengikuti perjanjian untuk
memperiksa janin, pengkajian laboratorium dan perawatan
prenatal. Kunjungan dengan petugas kesehatan sebaiknya
disusun
3) Jika perawatan dirumah dengan pembatasan aktivitas yang
lama, ibu sebaiknya memperhatikan tentang pekerjaan atau
tanggung jawab keluarga atau mungkin menjadi bosan tanpa
aktivitas, ibu sebaiknya didorong untuk berpartisipasiuntuk
perawatan dirinya dan keputusan tentang perawatan jika
memungkinkan. Aktifitas selingan perlu dianjurkan (seperti
membaca, mendengarkan radio, dan lain-lain) sehingga ibu
merasa senang dan dapat melakukannya selama tirah baring
(bedrest). (Dianty Maternity,dkk, 2013)

15
C. Kerangka teori
Bagan 2.1
Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa

Usia Ibu Hamil > 35 tahun, Endometrium yang cacat


Paritas

Vaskularisasi berkurang dan perubahan atrofi desidua akibat persalinan yang lalu

Aliran darah ke plasenta tidak cukup

mperluas permukaan mencari tempat yang banyak aliran darah yaitu di segmen bawah rahim.

plikasi :
Penyebab :
ksi
Riwayat seksio sesarea
erasi serviks Riwayat kuretase
enta akreta Plasenta Previa Gemeli
arah yang hebat Diabetes mellitus
alinan premature/ prektem Pre-Eklamsi dalam kehamilan
ect Persalinan Hipertensi dalam kehamilan

Penanganan :
Penanganan Pasif
Penanganan Aktif

Sumber : (Djamhoer Martaadisoebrata,dkk, 2015), (Dianty Maternity,dkk,


2013) (Ai Yeyeh, dkk, 2010)

16
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka konsep
Bagan 3.1
Kerangka Konsep

Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa

Kecamatan Rappang Kabupaten Sidrap

Periode Januari-Mei Tahun 2016

Paritas Plasenta Previa

17
B. Definisi Operasional
C. Tabel 3.1
D. Definisi Operasional
E. Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Kejadian Plasenta Previa Kecamatan Rappang Kabupaten Sidrap
F. Periode Januari-Mei Tahun 2016

G. H. V I. Definisi Operasional J. Al K. Cara Ukur L. Hasil Pengukuran M. S


No ariabel at Ukur kala
1. N. P O. Jumlah kehamilan yang P. Cat Q. Melihat catatan a. Primipara yaitu wanita yang R. N
aritas berakhir dengan kelahiran bayi atan medik pasien pernah hamil sekali dengan janin ominal
atau bayi telah mencapai titik medik mencapai titik mampu bertahan hidup
b. Multipara yaitu seorang wanita
mampu bertahan hidup pasien
yang telah mengalami dua kehamilan
atau lebih dengan janin mencapai titik
mampu bertahan hidup
2. S. P T. Plasenta yang terletak U. Cat V. Melihat USG dan a. Terjadi plasenta previa W. N
b. Tidak terjadi plasenta previa
lasenta menutupi atau dekat dengan ostium atan laporan operasi pada ominal
Previa uteri internum medik catatan medik pasien
pasien

18
X. Hipotesis
Y. Terdapat hubungan antara paritas ibu dengan kejadian plasenta previa.
Z.
AA.

19
AB. BAB IV
AC. METODE PENELITIAN
AD.
A. Jenis Penelitian
AE. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional
analitik dengan pendekatan cross sectional dimana variabel bebas (paritas)
dan variabel terikat (plasenta previa) diobservasi hanya sekali pada saat
yang sama.
AF.
B. Tempat dan waktu penelitian
AG. Penelitian ini dilakukan di RSUD Arifin NuMang Rappang
pada bulan April 2017 di bagian Obstetri dan Ginekologi. Kemudian untuk
melengkapi, dilakukan pengambilan data sekunder dari rekam medis
RSUD Arifin NuMang Rappang. Data sekunder tersebut merupakan data
dari bulan Januari 2016 Mei 2016.
AH.
C. Populasi dan Sample
1. Populasi
AI. Populasi sasaran (target) dalam penelitian ini
adalah seluruh ibu hamil/bersalin yang memenuhi kriteria inklusi
yaitu usia kehamilan lebih dari 22 minggu. Populasi sumber (aktual,
referensi, terjangkau) dalam penelitian ini adalah semua ibu
hamil/bersalin di RSUD Arifin NuMang Rappang
2. Sampel
AJ. Teknik memilih populasi sumber adalah purposif.
Teknik memilih sampel adalah fixed disease sampling, yaitu memilih
sampel berdasarkan status penyakit (plasenta previa atau tidak) yang
dirawat inap di RSUD Arifin NuMang Rappang sejak Januari 2016
hingga Mei 2016. Subjek yang disertakan dalam penelitian ini bila
memenuhi kriteria restriksi yaitu 34 pasien, dengan kriteria restriksi
penelitian sebagai berikut :
AK.
AL. Kriteria inklusi
a. Ibu hamil dengan usia 20 - 35 tahun.
b. Ibu hamil dengan usia kehamilan lebih dari 28 minggu di RSUD

20
Arifin NuMang Rappang mulai 1 Januari 2016 - 31 Mei 2016.
c. Ibu hamil dengan usia kehamilan lebih dari 28 minggu dengan
catatan medik lengkap sesuai data yang dibutuhkan.
AM. Kriteria eksklusi
a. Riwayat seksio sesarea
b. Riwayat kuretase
c. Gemeli
d. Diabetes mellitus
e. Pre-Eklamsi dalam kehamilan
f. Hipertensi dalam kehamilan
AN.
D. Teknik Pengumpulan Data
AO. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data
retrospektif, yaitu dengan melihat catatan medik pasien dalam hal ini ibu
bersalin pada tanggal 1 Januari 2016 - 31 Mei 2016.
AP.
E. Instrumen Pengumpulan data
AQ. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan medik
pasien yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan.
AR.
F. Pengolahan Data
1. Editing
AS. Kegiatan untuk mengkoreksi data yang tidak jelas agar bila
terjadi kekurangan atau kesalahan data dapat dengan mudah terlihat
dan segera dilakukan perbaikan.
2. Coding
AT.Kegiatan untuk memberikan kode pada check list sesuai data pada
catatan medik pasien.
3. Data Entry
AU. Mengisi kolom-kolom sesuai data pada catatan medik
pasien
4. Tabulating
AV.Kegiatan memasukkan data-data hasil penelitian ke dalam tabel
sesuai kriteria
AW.
G. Teknik Analisa Data
1. Analisis Univariate

21
AX. Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan setiap variabel penelitian.Pada umumnya dalam
analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase,
dari tiap variabel.
AY.
f
P= 100
n
AZ. Keterangan :
BA. P = Frekuensi dalam %
BB. F = Jumlah yang didapat
BC. N = Jumlah populasi
2. Analisis Bivariate
BD. Analisis bivariate yang dilakukan terdapat dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkolerasi (Analisis ini dilakukan
untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (Pengetahuan
ibu hamil) dengan variabel dependen (Hubungan tentang tanda bahaya
kehamilan), di Kecamatan Rappang Kabupaten Sidrap dan dilakukan
bulan Januari sampai Mei 2016 sesuai dengan tujuan penelitian dan
skala ukur. Dalam penelitian ini uji statistik yang digunakan adalah uji
stastik (Chi-Square x 2 ) dengan menggunakan derajat kepercayaan
95% dengan derajat kesalahan 0,05% dengan rumus :
BE. Rumus Chi-Square
BF.
( 0E )2
BG. x
2
= E
BH.
BI. Keterangan:
x 2 = Nilai Chi-Square
BJ.O = Frekuensi pengamatan (nilai yang ada)
BK. E = Frekuensi yang diharapkan
BL. Keputusan dari Uji-Square adalah :
a. Jika value < (0,05), Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti
ada hubungan antara variabel independen dan dependen .
b. Jika value > (0,05), Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti
tidak ada hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen.
BM. Untuk mengetahui besarnya faktor resiko maka digunakan
Odds Ratio (OR) dengan interpretasi sebagai berikut :

22
a. Bila nilai OR = 1, berarti variabel yang diduga faktor resiko
tersebut tidak ada pengaruhnya dalam terjadinya efek, atau bukan
merupakan faktor resiko.
b. Bila nilai OR > 1, dan rentang interval tidak mencakup angka 1,
berarti variabel tersebut merupakan faktor faktor terjadinya efek.
c. Bila nilai OR < 1, dan rentang interval tidak mencakup angka 1,
berarti variabel yang diteliti dapat mengurangi terjadinya efek
BN.
BO.
BP.
BQ.

23