Anda di halaman 1dari 36

Skripsi Geofisika

EKSPLORASI BATUBARA MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK


TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNER SCHLUMBERGER STUDI
KASUS KABUPATEN MOROWALI UTARA

OLEH :
HARTERCHANDRA BURI
H 221 12 284

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UBNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
Skripsi Geofisika

EKSPLORASI BATUBARA MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK


TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNER SCHLUMBERGER STUDI
KASUS KABUPATEN MOROWALI UTARA

Skripsi Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi


Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Fisika

OLEH :
HARTERCHANDRA BURI
H 221 12 284

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UBNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
LEMBAR PENGESAHA

EKSPLORASI BATUBARA MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK


TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNER SCHLUMBERGER STUDI
KASUS KABUPATEN MOROWALI UTARA

Makassar, Agustus 2016

Disetujui Oleh :

Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua

Syamsuddin, S.Si, MT Dra. Maria, M.Si


NIP. 197401552002121011 NIP. 196307281991032002

Pembimbing Utama

Drs. Hasanuddin, M.Si


NIP. 195712311987031021
SARI BACAAN

Besi di alam pada umumnya berbentuk oksida besi seperti hematite (Fe 2O3),
magnetit (Fe3O4) dan jenis batuan besi lainnya. Sifat dari logam ini mempunyai
daya hantar listrik yang sangat baik dan daya hambat yang rendah. Metode
geolistrik adalah salah satu metoda geofisika untuk menyelidiki kondisi bawah
permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat listrik pada batuan di bawah
permukaan bumi. Penelitian ini dilakukan di daerah Kecamatan Walenrang,
Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dengan menggunakan 4 lintasan survei
dengan spasi 10 meter/elektroda. Hasil survei resistivity berupa penampang 2D
dan blok model 3D yang memberikan informasi mengenai sebaran biji besi,
dimana penyebaran terbesar berada di sebelah batar daerah penelitian dengan arah
timur laut barat daya. Data resistivitas dari penampang resistivitas 2-D yang
diperoleh dari pengukuran lintasan 1 sampai dengan pengukuran lintasan 4 di

lapangan yaitu zona lapisan biji besi berada pada resistivitas < 40 m,

zona pelapukan batuan andesit dengan resistivitas 40 m< < 250

m dan zona batuan basalt dengan resistivitas tinggi < 250 m.

Kata kunci : Biji besi, Gelistrik, Resistivitas, Wenner-Schlumberger


ABSTRACT

Nowdays, searcing of mine entrenchment material is raising infulfillment of


industry necessity, including iron ore. Normally, iron in nature shape like hematite
(Fe2O3) magnetite (Fe3O4) and other iron rocks sort. This metal has a very good
ability to distribute electricity and low blocked capacity. Geolistrik method is one
of geophysics method to do research underground condition, that is by studying
electric characteristic in rocks above the earth surface. This research is done in
Walenreng Subdistrict, Luwu Regency, and South Sulawesi, using geolistrik
method resistance type Wenner-Schlumberger configuration with 4 survei tracks
and 10 metre/electrode. The resistivity survei result is 2D longitudinal section and
3D model block the provide information about iron ore spread, where the
northest-southwest. Resistivity data from 2D resistivity longitudinal section is
achieved from measurement of track 1 to track 4 on the field which is iron ore be

in resistivity < 40 Omegam, andesit rock corrosion zone with 40 Omegam

resistivity < < 250 Omegam and basalt rock zone with resistivity level

< 250 Omegam.

Keyword : Iron Ore, Geolectrical, Resistivity, Wenner-Schlumberger.


KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan
Karunia-Nya, guyuran Ilmu dan Manfaat-Nya serta segala Pertolongan dan
Pengawasan-Nya, sehingga Penulis senantiasa berada pada garis kesabaran dan
selalu dalam naungan keikhlasan. Skripsi dengan judul EKSPLORASI
BATUBARA MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK TAHANAN
JENIS KONFIGURASI WENNER SCHLUMBERGER STUDI KASUS
KABUPATEN MOROWALI UTARA dibuat sebagai syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Sains dan sebagai cerminan sejauh mana penulis dapat
mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dari bangku kuliah serta kursi organisasi.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari berbagai keterbatasan penulis, tertapi
berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, akhirnya dapat di selesaikan
dengan baik.

Segala bentuk saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan
penulis untuk meningkatkan kualitas pada penulisan karya-karya berikutnya.
Seuntai kata terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak adalah satu-satunya
ungkapan terindah yang dapat penulis sampaikan.

Penghargaan yang setinggi-tingginya penulis hanturkan kepada kedua orang tua


tercinta, ibunda Debora Tosuli dan ayahanda Marthen Lhuter Buri sepasang
cinta yang tak henti-hentinya memenuhi hati penulis. Yusriana Buri, S.Pt,
Stevan Pasambo dan Sevrianto Pasambo, saudara yang selalu memberikan
motovasi dan semangat dengan cara-cara yang unik, mereka adalah pinang-pinang
yang selalu membuat penulis berusaha menjadi yang terbaik dan dapat mereka
banggakan.
Senyum termanis serta ucapan terima kasih kepada mereka atas ilmu, pengetahuan
dan bimbingannya :

1. Bapak Drs. Hasanuddin, M.Si selaku pembimbing Utama, Bapak


Syamsuddin, S.Si, MT selaku pembimbing Pertama dan Ibu Dra. Maria,
M.Si selaku pembimbing kedua.
2. Bapak Prof. Dr. H. Halmar Halide, M.Sc Bapak Dr. Muhammad
Hamzah, S.Si, M.Si dan Bapak Sabrianto Aswad, S.Si selaku tim
penguji serta Ibu Nurhasanah, S.Si, M.Si selaku koordinator seminar.
3. Bapak Dr. Samsu Arif, S.Si, M.Si selaku penasehat akademik.
4. Bapak Dr. Muh. Altin Massinai, MT,Surv selaku Ketua Program Studi
Geofisika Jurusan Fisika FMIPA UNHAS.
5. Bapak Dr. Tasrief Surungan, M.Sc selaku Ketua jurusan Fisika FMIPA
UNHAS.
6. Pak Aji, Pak Sukur, Pak Latif, Pak Mus dan Pak Ali selaku Pengawai
Jurusan Fisika FMIPA UNHAS serta Pak Sangkala dan Pak Suwardi
selaku Pegawai FMIPA UNHAS.
7. Kepada teman-teman seperjuangan Geofisika Unhas 12 dan MIPA 12,
terima kasih atas kebersamaannya, bersama kalian semuanya terasa
menyenangkan. Semoga kita dapat saling mendoakan dalam kebaikan,
selamanya.
8. Kepada semua Anggota MENWA SAT. 701 UNHAS, terkhusus teman-
teman DIKSAR MENWA UNHAS Angkatan XLV yang selalu
memberikan banyak bantuan selama berada di kampus.
9. Kepada semua Komponen PMKOF MIPA_FARMASI UNHAS, secara
khusus untuk teman-teman pengurus PMKOF MIPA_FARMASI UNHAS
Periode 2015/2016 dan Periode 2016/2017. Tuhan selalu menyertai dalam
setiap kehidupannya.
10. Kepada Kak Aris Tomesa, S.Si dan Reinhard Tandisau yang selalu
bersama dan memberi motovasi dalam menjalani kehidupan dan proses
pembelajaran selama di kampus. Tuhan akan selalu memberkati dalam
kehidupannya.

Semoga apa yang telah dituliskan oleh penulis pada skripsi geofisika ini, dapat
bermanfaat bagi sesama dan berguna bagi semesta. Amin.

Makassar, Agustus 2016

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAAN
SARI BACAAN
ABSTRACT
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


I.2 Ruang Lingkup
I.3 Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Metode Resistivity


II.2 Sifat Listrik Batuan
II.3 Prinsip Kerja Metode Tahanan Jenis
II.4 Potensial Pada Medium Homogen
II.4.1 Elektroda Arus Tunggal di Dalam Bumi
II.4.2 Elektroda Arus Tunggal di permukaan Bumi
II.4.3 Dua Pasang Elektroda Arus di Permukaan Bumi
II.5 Konsep Tahanan Jenis Semu (Apparent Resistivity)
II.6 Konfigurasi Wenner-Schlumberger
II.7 Batubara
II.8 Stratigrafi Regional Daerah Morowali Utara
II.9 Mineralisasi dan Zona Alterasi Daerah Morowali Utara

BAB III METODOLOGI

III.1 Lokasi Penelitian


III.2 Peralatan yang Digunakan
III.3 Metode Penelitian
III.4 Pengolahan Data
III.5 Bagan Alir Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1 Pembahasan
IV.3 Analisis Sebaran Batubara

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
V.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Penampang Konduktor

Gambar 2.2 Sumber arus tunggal C1 dalam medium homogen seluruh-ruang


(whole-space), sementara pasangan sumber arus C 2 dianggap
terletak di tak-hingga

Gambar 2.3 Sumber arus tunggal C1 di permukaan medium homogen setengah-


ruang (half-space), sementara pasangan sumber arus C2 dianggap
terletak di tak-hingga

Gambar 2.4 Dua elektroda arus dan dua elektroda potensial di permukaan bumi
yang homogen

Gambar 2.5 Tahana Jenis Semu

Gambar 2.6 Pengaturan elektroda konfigurasi Wenner-Schlumberger

Gambar 2.7 Peta Geologi Lembar Malili, Sulawesi

Gambar 2.8 Batuan bolder yang mengandung mineral magnetis, dijumpai pada
bagian barat daerah penelitian

Gambar 2.9 Breksi vulkanik yang mengalami alterasi propilik, kehadiran


mineral sulfide berupa pyrite chalcopirite dapat di jumpai pada
veinlet kuarsa, di jumpai pada bagian selatan daerah penelitian

Gambar 2.10 Mineralisasi pada zona silisifikasi pada penggungan utara buntu
pabeolan, bongkahannya menyebar pada aliran sungai yang
mengalir menuju ke utara pada bagian selatan daerah penelitian,
sangat menarik dengan kehadiran mineral pyrite, sulfida halus
maupun mineral bijih seperti pyrite kalkopyrite

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian

Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian

Gambar 4.1 Penampang 2D Lintasan 1

Gambar 4.2 Penampang 2D Lintasan 2

Gambar 4.3 Penampang 2D Lintasan 3

Gambar 4.4 Penampang 2D Lintasan 4

Gambar 4.5 Cross-section Lintasan 1

Gambar 4.6 Cross-section Lintasan 2

Gambar 4.7 Cross-section Lintasan 3

Gambar 4.8 Cross-section Lintasan 4

Gambar 4.9 Profil 2-D hasil inverse data geolistrik Lintasan1-4

Gambar 4.10 Profil pseudo 3-D untuk Lintasan1-4

Gambar 4.11 Sebaran bijih besi dalam bentuk 3-D


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai Resistivitas Batuan

Tabel 2.2 Nilai Resistivitas Mineral


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Geofisika eksplorasi merupakan bagian dari ilmu fisika (kebumian) yang


mempelajari sifat-sifat fisik lapisan bumi dengan memanfaatkan parameter-
parameter fisik yang dimiliki bumi itu sendiri. Pada dasarnya pengamatan
geofisika dilakukan terhadap gejala-gejala gangguan yang terjadi pada keadaan
normal (anomali), baik secara statik maupun dinamik. Hal ini menyebabkan
berkembangnya berbagai macam metoda pengamatan dalam geofisika eksplorasi.
Salah satu metoda yang berkembang tersebut adalah dengan memanfaatkan sifat
kelistrikan dari lapisan bumi yang dikenal dengan sebutan metoda geolistrik.

Metoda geolistrik terdiri dari beberapa jenis, diantaranya metoda polarisasi imbas
(induce polarization, ip), metoda potensial diri (self petential, sp), dan metoda
geolistrik tahanan jenis (resistivity). Pada metoda geolistrik tahanan jenis atau
dikenal sebagai metoda resistivity merupakan metode yang bersifat dinamik
(aktif), karena menggunakan gangguan aktif berupa ijeksi arus yang diparcarkan
ke bawah permukaan bumi yang dapat diperuntukkan dalam pencarian mineral-
mineral tambang dan air tanah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Wira Sunarya
(2015) tentang Eksplorasi Biji Besi (Fe) Menggunakan Metoda Geolistrik
Tahanan Jenis konfigurasi Wenner Schumberger Studi Kabupaaten Luwu bahwa
nilai resistivitas batuan dasar (peridotite) yang didapatkan dari survei geolistrik
dapat mengidentifikasikan penyebaran biji besi di bawah permukaan.

Pencarian bahan galian tambang ini mengalami peningkatan dalam pemenuhan


kebutuhan industri, ada beberapa berbagai macam jenis barang tambang yang
sering dicari dan salah satunya adalah bijih besi. Bijih besi, termasuk unsur yang
melimpah di permukaan bumi bahkan sampai ke inti bumi dan berbagai benda
langit yang jatuh ke bumi. Sebagai logam yang apling murah dan penggunaanya
sangat luas, besi menjadi logam terbesar yang diproduksi di dunia. Endapan bijih
besi primer dapat terjadi oleh proses magmatik, metasomatik kontak dan
hidrotermal. Sedangkan endapan bijih sekunder terbentuk oleh proses sedimenter,
residual dan oksida. Besi pada pada umumnya berbetuk oksida besi seperti
hematite (Fe2O3), magnetite (Fe3O4) dan jenis batuan besi lainnya. (Jensen dan
Batemen, 1981).

Berdasarkan informasi di atas, maka akan dilakukan penelitian tentang


Eksplorasi batubara menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis konfigurasi
Wnner-Schlumberger.

I.2 Ruang Lingkup Penelitian

Pada penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metoda geolistrik


tahanan jenis atau resistivity konfigurasi Wenner_Schlumberger, dengan
menggunakan 4 lintasan survei dengan spasi 10 meter/elektroda. Hasil survei
resistivity diolah menggunakan softwere Res2dinv untuk mendapatkan
penampang 2D sementara untuk mendapatkan block model resistivity pseudo-3D
data diolah menggunakan softwere Encom PA, yang memberikan informasi
tentang sebaran batubara di daerah penelitian.

I.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Menggambarkan penampang resistivitas dengan model 2-D dan block model


resistivity pseudo-3D.

2. Mengidentifikasi sebaran batubara dan jenis batuan di daerah penelitian.


BAB II
TIJAUAN PUSTAKA

II.1 Metoda Resistivity


Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika untuk penyelidikan kondisi
bawah permukaan, yaitu dengan mempelajari sifat listrik pada batuan di bawah
permukaan bumi. Penyelidikan ini meliputi pendeteksian besarnya medan
potensial, medan elektromagnetik dan arus listrik yang mengalir di dalam bumi,
baik secara alami (metoda pasif) maupun akibat injeksi arus ke dalam bumi
(metode aktif) dari permukaan, dengan metoda elektrik (salah satunya tahanan
jenis) mempunyai prinsip dasar mengirimkan arus ke bawah permukaan dan
mengukur kembali potensial yang diterima dipermukaan. Sifat kelistrikan batuan
yang relatif sesisti akan menjadi relatif konduktif jika tersaturasi dengan air. Hal
ini bermanfaat dalam memprediksikan keberadaan lapisan bumi yang tersaturasi
air.

Metoda ini dilakukan dengan menggunakan arus listrik searah yang diijeksikan
melalui dua buah elektroda arus ke dalam bumi, lalu mengamati potensial yang
terbentuk melalui dua buah elektroda potensial yang berada ditempat lain.
Perbedaan potensial yang terukur merefleksikan distribusi tahanan jenis yang
terdapat dibawah permukaan bumi, dari analisis distribusi tahanan jenis spesifik
ini nantinya dapat diinterpretasikan keadaan di bawah permukaan bumi. Pada
dasarnya metoda ini didedikasi menggunakan konsep perambatan arus listrik di
dalam medium homogen isotropis, dimana arus listrik bergerak ke segala arah
dengan nilai sama besar. Berdasarkan asumsi tersebut. Maka bila terdapat anomali
yang membedakan jumlah rapat arus yang mengalir diasumsikan diakibatkan oleh
adanya perbedaan akibat anomali tahanan jenis. Anomali ini nantinya digunakan
untuk merekonstruksi keadaan geologi di bawah permukaan. Perbadaan
konfigurasi elektroda, variasi tahanan jenis spesifik yang akan diselidiki,
prosedur memperoleh data sangat menentukan dalam pemakaian metoda ini (Taib,
1999 dan Virgo, 2002).

Berdasarkan pada tujuan penyelidikan, metoda ini dapat dibagi dua kelompok
besar, yaitu metoda resistivity mapping dan saunding. Metoda resistivity mapping
merupakan metoda resistivitas yang bertujuan untuk mempelajari variasi tahanan
jenis lapisan bawah permukaan secara hirizontal. Oleh karena itu, pada metoda ini
digunakan kofigurasi elektroda yang sama untuk setiap titik pengamatan di
permukaan bumi. Setelah itu baru dibuat kontur isoresistivitasnya. Sementara
metoda resistivity saunding juga dikenal sebagai resistivitas drilling, resistivity
probingi dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena metoda ini bertujuan untuk
mempelajari variasi resistivitas batuan bawah permukaan bumi secara vertikal
(Hendrajaya, 1990).

II.2 Sifat Listrik Batuan

Aliran arus listrik di dalam batuan/mineral dapat digolongkan menjadi tiga


macam, yaitu konduksi secara elektronik, konduksi secara elektrolitik dan kondusi
secara dielektrik. Konduksi secara elektronik terjadi jika batuan/mineral
mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus listrik dialirkan dalam
batuan/mineral tersebut oleh elektron-elektron bebas itu. Konduksi elektrolitik
terjadi jika batuan/mineral bersifat porus dan pori-pori tersebut terisi oleh cairan-
cairan elektrolitik. Sedang konduksi dielektrik terjadi jika batuan/mineral bersifat
dielektrik terhadap aliran arus listrik yaitu terjadi polarisasi saat bahan dialiri
listrik.

Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan/mineral digolongkan menjadi tiga


yaitu :

Konduktor baik : 10-1< <1


Konduktor pertengahan : 1 < < 10-1

Isolator : < 10-1

Survei resistivitas akan memberikan gambaran tentang distribusi resistivitas


bawah permukaan. Harga resistivitas tertentu akan berasosiasi dengan kondisi
geologi tertentu. Dari hasil interpretasi harga resistivitas dapat di peroleh kondisi
(keadaan) geologi, dengan syarat diperlukan pengetahuan tentang tipikal dari
harga resistivitas untuk setiap tipe material dan struktur daerah survei. Harga
resistivitas batuan, mineral, tanah, dan unsur kimia secara umum telah diperoleh
melalui berbagai pengukuran dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk proses
konversi (Telford, et al., 1976).

Tabel 2.1 Nilai Resistivitas Batuan

Resistivity Range
Jenis Batuan
West Dry
Granite porphyry 4.5 x 103 1.3 x 106
Feldspar porphyry 4 x 103
Syenite 102 - 106
Diorite porphyry 1.9 x 103 2.8 x 104
Porphyrite 10 5 x 104 3.3 x 103
Carbonatizedm porphyry 2.5 x 103 6 x 104
Quartz diorite 2 x 104 2 x 106 1.8 x 103
Porphyry (various) 60 - 104
Dacite 2 x 104
Andesite 4.5 x 104 1.7 x 102
Diabase (various) 20 5 x 107
Lavas 102 5 x 104
Gabro 103 - 106
Basalt 10 1.3 x 107
Olivine norite 103 6 x 104
Peridotite 3 x 103 6.5 x 103
Hornfels 8 x 103 6 x 107
Schists 20 - 104
Tuffs 2 x 103 103
Graphite schists 10 - 102
Slates (various) 6 x 102 4 x 107
Gneiss (various) 6.8 x 104 3 x 106
Marble 102 2.5 x 108
Skarn 2.5 x 102 2.5 x 108
Quartzite (various) 10 2 x 108
Consolidated shale 20 2 x 103
Argilites 10 8 x 102
Conglongmerattes 2 x 103 104
Sandstone 1 6.4 x 108
Limestones 50 107
Dolomite 3.5 x 102 5 x 103
Clay 1 100
Marls 3 70
Oil sands 4 800

Sumber : Telford, 1990

Tabel 2.2 Nilai Resistivitas Mineral

Mineral Range (Ohm m) Average


3
Chalcopyrite 1.2 x 0.3 4 x 10
Galena 3 x 10-5 3 x 102 2 x 10-3
Chromite 1 - 106
Specularite 6 x 10-3
Hematite 3.5 x 10-3 10-7
Limonite 103 - 107
Magnetite 5 x 10-5 5 x 103
Quartz 4 x 1010 2 x 1014
Bismuthinite 18 570 220
Pyrite 2.9 x 10-5 1.5 3 x 10-1
Cuprite 10-3 - 300 30

Sumber : Telford, 1990

II.3 Prinsip Kerja Metoda Tahanan Jenis

Metoda sesistivitas pada dasarnya adalah pengukuran harga resistivitas (tahanan


jenis) batuan. Prinsip kerja metoda ini adalah dengan menginjeksikan arus
kebawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda potensial yang kemudian akan
didapat informasi mengenai tahanan jenis batuan. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan keempat elektroda yang disusun sebaris, salah satu dari dua buah
elektroda yang berbeda muatan digunakan untuk mengalirkan arus ke dalam tanah
dan dua elektroda lainnya dugunakan untuk mengukur tegangan yang ditimbulkan
oleh aliran arus tadi, sehingga resistivitas bawah permukaan dapat diketahui.
Resistivitas batuan adalah fungsi dari konfigurasi elektroda dan parameter-
parameter listrik batuan. Arus yang dialirkan di dalam tanah dapat berupa arus
searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi rendah. Untuk menghindari
potensial spontan, efek polarisasi dan pengaruh kapasitansi tanah yaitu
kecenderungan tanah untuk menyimpan muatan maka biasanya digunakan arus
bolak-balik yang berfrekuensi rendah (Bhattacharya & Patra, 1968).

Besarnya beda potensial di antara kedua elektroda potensial tersebut selain

bergantung pada besarnya arus yang dialirkan ke dalam bumi, juga bergantung

pada letak kedua elektroda potensial tersebut terhadap letak kedua elektroda arus

yang dugunkan. Dalam hal ini tercakup juga pengaruh batuan yang dilewati oleh

arus listrik tersebut. Aturan penempatan keempat elektroda tersebut di atas dalam

istilah Geofisika sering dinamai dengan konfigurasi elektroda (Hendrajaya L.,

1990).

II.4 Potensial Pada Medium Homogen

Tahanan listrik dari suatu material didefenisikan sebagai tahanan listrik dari suatu
penampang koduktor (Gambar 2.1) dengan luas penampang tertentu dan panjang
tertentu. Jika tahanan jenis dari penampang konduktor yang mempunyai panjang

L dan luas penampang A adalah , maka tahanan R diekpresikan oleh

persamaan (Telford, 1976).

L A
R= atau =R (2.1)
A L

keterangan : R = tahanan (Ohm)


= tahanan jenis/resistivity (Ohm m)

L = panjang penampang (m)


A = Luas penampang (m2)
Gambar Penampang Konduktor (Akhasyah, 2011)
Hambatan R diberikan sebuah tegangan V dikedua ujung silinder dan
menghasilkan arus I yang mengalir melalui silinder tersebut, oleh hukum Ohm
dinyataka :

V
R=
I

(2.2)

dimana R dinyatakan dalam Ohm sedangkan V dan I dinyatakan dalam volt dan
ampere.

Timbal balik dari resistivitas adalah konduktiviti , yang dinyatakan dalam

mhos/m atau mhos/cm. Dimana,

I
1 L A
= = = =J /E (2.3)
RA V
L


dimana J = rapat arus (ampere/m2), E= medan listrik (volt/m).

Misal ditinjau suatu medium homogen (dengan konstan) 3-D, maka arus I


(dalam ampere) yang melalui suatu elemen luas dA adalah :

I =J dA

Hukum Ohm yang berlaku pada medium 3-D menghubungkan rapat arus J
(current density) dengan medan listrik E (dalam volt/meter) melalui persamaan :

J = E

dimana adalah konduktivitas dari medium.

Mengingat medan listrik adalah gradien potensial listrik, dengan persamaan :


E= V

Sehingga persamaan menjadi :

V
J =

Jika tidak ada sumber arus (current source) atau sumur arus (current sink) pada

suatu volume yang dilingkupi oleh permukaan A maka J =0 sehingga :

J =
(
V )=0,


V + 2 V =0

Jika nilai adalah konstan, maka kita akan menghasilkan Persamaan Laplace

untuk potensial listrik :

2 V =0

II.4.1 Elektroda Arus Tunggal di Dalam Bumi


Potensial V akibat suatu sumber arus tunggal I pada medium homogen dengan

konstan pada seluruh ruang lebih sesuai jika dibahas dalam sistem koordinat

bola. Karena sifat simetri (tidak berotasi dan berevolusi) dari sistem yang ditinjau
maka potensial hanya merupakan fungsi dari jarak r atau V (r) sihingga persamaan
Laplace dalam sistem koordinat bola menjadi (Telford, 1976) :

d 2 dV
2 V =
dr
r (
dr
=0)
Integrasi dua kali berturut-turut terhadap persamaan(2.10) menghasilkan :

dV dV dV A
r 2 dr dr =0 r 2 dr =A dr = r 2

A A
V = dr= +B
r 2
r

dimana A dan B adalah konstan. Dengan menerapkan syarat batas bahwa potensial

pada jarak tak-hingga berharga nol (V = 0, r = ), maka B = 0. Selain itu, arus

mengalir ke luar secara radial kesegala arah dari titik elektroda, sehingga arus
total yang melalui permukaan bola dengan radius r dinyatakan oleh :

dV 4 A
I =4 r 2 J =4 r 2 =4 A=
dr

I
A=
4

maka,

V= ( 4I ) 1r atau =4 r
V
I
Berdasarkan persamaan tersebut, permukaan ekuipotensial yaitu permukaan
dengan potensial yang sama, membentuk permukaan bola konsentris dengan titik
pusat terletak di sumber aru. Dari titik tersebut arus listrik mengalir ke segala arah
secara homogen dan membentuk lintasan yang tegak lurus terhadap permukaan
ekuipotensial dimana r = konstan, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2.2

Gambar 2.2 Sumber arus tunggal C1 dalam medium homogen seluruh-ruang


(whole-space), sementara pasangan sumber arus C2 dianggap terletak di tak-
hingga (Telford, 1976).

II.4.2 Elektroda Arus Tunggul di Permukaan Bumi

Jika sumber arus terletak di permukaan medium homogen yang membentuk


medium setengah-ruang/setengah bola (half-space) dengan setengah-ruang

lainnya adalah udara ( udara = 0) dengan persamaan (Telford, 1976) :

I
A=
2

sehingga dari kasus ini didapatkan :


V= ( 2I ) 1r atau =2 r
V
I

Dimana faktor 4 menjadi 2 sebagai akibat distribusi arus hanya terdapat

pada setengah-ruang. Dalam hal ini distribusi arus dan permukaan ekuipotensial
diperlihatkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Sumber arus tunggal C1 di permukaan medium homogen setengah-


ruang (half-space), sementara pasangan sumber arus C2 dianggap terletak di tak-
hingga (Telford, 1976).

II.4.3 Dua Pasang Elektroda Arus di Permukaan Bumi

Bila dua elektroda memiliki jarak tertentu (Gambar 2.4), potensial pada titik di
permukaan yang letaknya antara dua elektroda arus, potensial pada setiap titik di
permukaan akan dipengaruhi oleh kedua elektroda arus (Telford, 1976).
Gambar 2.4 Dua elektroda arus dan dua elektroda potensial dipermukaan bumi
yang homogen (Telford, 1976).

Perubahan potensial sangat drastis pada daerah dekat sumber arus. Dimana
gradien potensial yang berada di luar C 1 dan C2 yang menjauh dari linier memiliki
gradien potensial yang besar, sedangkan pada daerah antara C 1 dan C2 gradien
potensial kecil dan mendekati linier. Dari alasan ini, pengukuran potensial paling
baik dilakukan pada daerah diantara C1 dan C2 yang mempunyai gradien potensial
linier. Untuk menentukan perbedaan potensial antara dua titik yang ditimbulkan
oleh sumber arus listrik C1 dan C2, maka dua elektroda potensial misalnya P1 dan
P2 ditentukan di dekat sumber seperti pada Gambar 2.4.

Potensial di titik P1 yang ditimbulkan arus C1 dan C2 adalah :

I 1 1
V 1= ( ,
2 r1 r2 )
dan di P2 potensial yang timbul adalah :

I 1 1
V 2= ( ,
2 r3 r 4)
Sehingga beda potensial antara titik P1 dan P2 adalah :
V=
I
2 {( ) (
1 1

r1 r 2
1 1
r3 r4 )}
dimana r1, r2, r3 dan r4 adalah besaran jarak, seperti terlihat pada Gambar 2.4.

II.5 Konsep Tahanan Jenis Semu (Apparent Resistivity)

Pada bagian aliran listrik dalam bumi telah disebutkan bahwa dalam metoda ini
diasumsikan bahwa bumi mempunyai sifat homogen isotropis. Dengan asumsi ini,
tahanan jenis yang terukur merupakan tahanan jenis sebenarnya dan tidak
bergantung pada spasi elektroda (sesuai dengan persamaan 2.20). Pada

kenyataannya, bumi terdiri dari atas lapisan-lapisan dengan yang berbeda-

beda, sehingga potensial yang terukur merupakan pengaruh dari lapisan-lapisan


tersebut. Maka harga tahanan jenis yang terukur bukan merupakan harga tahanan
jenis satu lapisan saja, hal ini terutama untuk spasi elektroda yang lebar, maka
(Syamsuddin, 2007) :

V=
I
2 {( ) (
1 1

r1 r 2
1 1
r3 r4
V=
K)}
I

Dengan

2
K=
( r1 r1 )( r1 r1 )
1 2 3 4

Harga resistivitas pada persamaan (2.21) merupakan harga tahanan jenis semu
(apparent resistivity) yang diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan. Tahanan

a
jenis semu dilambangkan . Oleh karena itu secara umum setiap pengukuran

menghasilkan tahanan jenis semu melalui persamaan :


V
a=K
I

a
dimana adalah tahanan jenis semu, K adalah faktor geometri, V adalah

beda potensial antara kedua elektroda potensial dan I adalah kuat arus yang
diinjeksikan. Perlu diingat bahwa tahanan jenis semu (apparent resistivity)
tergantung oleh besarnya spasi elektroda.

Untuk kasus tak homogen, bumi diasumsikan berlapis-lapis dengan masing-


masing lapisan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda. Tahanan jenis semu
merupakan tahanan jenis dari suatu medium fiktif homogen yang ekivalen dengan
medium berlapis yang ditinjau. Artinya jika medium setengah-ruang tak-homogen

a
digantikan oleh suatu medium homogen dengan harga resistivitas maka arus

sebesar I akan menghasilkan potensial sebesar V pada elektroda-elektroda dengan


faktor geometri K. Sebagai contoh medium berlapis yang ditinjau misalnya terdiri

1 2
dari dua lapis yang mempunyai tahanan jenis berbeda ( dan ) dianggap

sebagai medium satu lapis homogen yang mempunyai satu harga tahanan jenis

a
yaitu tahanan jenis semu ( ), dengan konduktansi lapisan fiktif sama dengan

f = 1+ 2
jumlah konduktansi masing-masing lapisan, yaitu . Prinsip tahanan

jenis semu ditunjukkan dalam Gambar 2.6 (Virgo, 2002).


Gambar 2.5 Tahanan Jenis Semu (Luhansa, 2009).

Harga resistivitas batuan dapat berubah-ubah, apabila kandungan fluida dalam


pori-pori batuan mengalami perubahan atau terjadi perubahan secara signifikan
kandungan kimia yang memiliki kontras harga resistivitas.

II.6 Konfigurasi Wenner-Schlumberger

Konfigurasi ini merupakan gabungan antara konfigurasi Wenner dan konfigurasi


Schlumberger. Konfigurasi Wenner-Schlumberger mempunyai penetrasi
maksimum kedalaman 15 % lebih baik dari konfigurasi Wenner.

Faktor geometri lain konfigurasi elektroda Wenner-Schlumberger adalah :

K= n (n + 1) a

Gambar 2.6 Pengaturan elektroda konfigurasi Wenner-Schlumberger (Loke, 2004)

Keunggulan dari konfigurasi Wenner-Schlumberger dibanding dengan konfigurasi


lainnya antara lain :

Karena elektroda arus dan elektroda potensial selalu berubah-ubah maka


konfigurasi ini sensitif terhadap adanya ketidakhomogenan lokal, seperti
lensa-lensa dan gawir-gawir.
Karena jarak elektroda potensial cukup besar maka beda potensial yang
terukur di antaranya juga cukup besar sehingga pengukuran yang dilakukan
cukup sensitif.
Cocok untuk memetakan batuan bawah permukaan dengan cakupan yang
dalam.

II.7 Bijih Besi

Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan terjadinya besi antara
lain :

1. Megmatik : Magmatit dan Titaniferous Magmatit


2. Metasomatik kontak : Magnetit dan Specularite
3. Pengertian/replacement : Magnetit dan Hematite
4. Sedimentasi/placer : Hmeatit, Limonit dan Siderite
5. Konsentrasi mekanik dan resudal : Hematit, Magnetit dan Limonit
6. Oksidasi : Limonit dan Hematit

Dari mineral-mineral bijih besi, magnetik adalah mineral dengan kandungan Fe


paling tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah yang kecil sementara hematite
merupakan mineral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-
mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia, kandungan
Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis

Susunan Kandungan Fe
Mineral Klasifikasi Komersil
Kimia (%)
Magnetit Fe3O4 72,4 Magnetik dan bijih hitam
Hematit Fe2O3 70 Bijih Merah
Fe2O3nH2
Limonit 59-63 Bijih coklat
O
Siderit FeCO3 48,2 Spathic, black band, clay ironstone
Sumber : psg, 2008

II.7.1 Magnetit (Fe3O4)

Magnetiti adalah mineral hasil dari peroses penyebaran hidrotermal dan


berasosiasi dengan beberapa lingkungan endapan bijih hasil dari peroses
vulkanisme yang mempunyai struktur massif dan berbagai macam formasi besi.
Magnetit adalah konstituen utama dari besi dan endapan skarn dan merupakan
komponen mirror yang sangat penting dari tembaga (Sutarto,2001).

II.7.2 Hematit (Fe2O3)

Hematit secara umum adalah mineral yang mengalami alterasi yang meruapan
salah satu bagian proses dari keseluruhan sistem hunbungan intrusi. Dalam
endapan tembaga porpritik yang berhubungan dengan diorite atau intrusi
granodorit, hematite mungkin dapat terbentuk dalam urut-urut adalah mineral
utama pada breksi dan merupakan ciri khas dari endapan yang berasosiasi dengan
intrusi, breksi dan aktivitas hidrotermal dangkal.

II.8 Stratigrafi Regional Daerah Walenrang

Stratigrafi daerah penelitian termasuk dalam peta geologi lembar malili 12-21,
2013 (Djuri, dkk. 1998).

Gambar 2.7 : Peta Geologi Lembar Malili, Sulawesi


Urutan stratigrafi batuan dari muda sampai tertua yang dijumpai di daerah lain adalah :

II.8.1 Formasi Alluvial

Formasi alluvial berumur holiosen, terdiri dari batuan sedimen berukuran lempung, pasir,
kerakal, dan revel dengan ketebalan hingga 800 meter.

II.8.2 Formasi Granit Kambuno

Formasi granit kambuno berumur miosen akhir hingga plistosen dengan ketebalan

2500 m. Menempati bagian selatan daerah penelitian, merupakan batuan terobossan


berupa granit dan granodiorit, setempat terdapat skis mika pada zona sesar geser. Di
formasi ini ditemukan kuarsit.

II.8.3 Formasi Toraja

Di atas Formasi Latimojong diendapkan secara tidak selaras, Formasi Toraja yang terdiri
dari Tersier Eosen Toraja Shale (Tets) dan Tersier Eosen Toraja. Limestone (Tetl) yang
berumur Eosen, yang terdiri dari serpih coklat kemerahan, serpih napalan kelabu,
batugamping, batupasir kuarsa, konglomerat dan setempat batubara. Ketebalan Formasi

ini 1000 m. Fosil Foraminifera besar pada batugamping menunjukkan umur Eosen-

Miosen sedangkan lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal. Formasi ini


menindih tidak selaras Formasi Latimojong dan ditindih tidak selaras oleh batuan
Gunungapi Lamasi.

II.8.4 Batuan Gunung Api Lamasi

Batuan vulkanik yang terbentuk di atas formasi toraja merupakan Tersier Oligosen Lava
Vulkanik (Tolv) yang berumur Oligosen karena menindih Formasi Toraja yang berumur
Eosen. Batuan vulkanik ini terdiri dari aliran lava bersusunan basaltik hingga andesitik,
basalt, tuff, breksi vulkanik, batupasir dan batulanau, setempat mengandung feldspatoid.
Batuan tersebut terkersikkan dan terkloritisasi. Umumnya lava asal basal berwarna kelabu
kehijauan, porfiritik-afanitik, subhedral-anhedral, berstruktur aliran dan terdiri dari
plagioklas, piroksen, dan sifatnya kompak dan keras. Breksi vulkanik umumnya berwarna
kelabu kecoklatan dan kelabu tua, tersusun dari basalt dan andesit, berbutir kasar dan
sangat kasar antara 2-8 cm, menyudut tanggung dengan kemas terbuka. Umurnya
Oligosen karena menindih Formasi Toraja yang berumuran Eosen. Ketebalan satuan ini

500 m.

II.8.5 Formasi Latimojong

Formasi Latimojong atau Kapur Latimojong (KI) yang berumur Kapur dengan ketebalan

1000 m. Secara umum formasi ini mengalami pemalihan lemah hingga sedang dan

terdiri dari : serpih, filitik, rijang, marmer, kuarsit dan breksi terkersikkan. Batuan ini
diterobos oleh batuan beku intermediet sampai basa (Djuri, dkk. 1998).

II.9 Mineralisasi dan Zona Alterasi Daerah Walenrang

II.9.1 Zona Potasik

Zona potasik dapat ditemukan di lembah buntu Mario dan buntu sikuku, bagian barat
daerah penelitian hingga ke buntu andulan bagian utara. Sebagian mineral petunjuk dalam
zona ini adalah mineral ortoklas biotit atau ortoklas biotit klorit. Terbentuk karena
adanya penambahan unsur Fe dan Mg yang diikuti mineral sulfida dengan kadar rendah.
Ditemukannya bolderMagnetis yang tersebar di aliran sungai lamasi diperkirakan dari
zona potasik.

Gambar 2.8 Batuan bolder yang mengandung mineral magnetis, dijumpai pada bagian
barat daerah penelitian.

II.9.2 Zona Alterasi Propilik/klorit


Secara umum sangat sulit untuk menemukan zona alterasi yang ideal di lokasi
penyelidikan dikarenakan tingkat pelapukan yang sangat tinggi dan vegetasi yang lebat
yang menutupi singkapan batuan. Tipe alterasi yang paling sering di jumpai adalah tipe
alterasi propilik atau kloritisasi.

Gambar 2.9 Breksi vulkanik yang mengalami alterasi propilik, kehadiran mineral sulfide
berupa pyrite chalcopyrite dapat di jumpai pada veinlet kuarsa, di jumpai pada bagian
selatan daerah penelitian

Bagian barat lokasi penyelidikan khususnya pada zona sesar di buntu santandung
dijumpai breksi vulkanik yang dicirikan dengan penggantian mineral biotit menjadi
klorit. Ciri fisik yang dijumpai di lapangan adalah perubahan warna pada batuan yang
teralterasi menjadi berwarna hijau hingga kehitaman yang mengandung nilai
mengandung nilai kemagnetan sedang tinggi, sifat kemagnetan pada batuan basal lebih
didominasi oleh klorit hasil alterasi dari pragment biotit pada satuan batuan breksi
vulkanik dan basalt.

Bagian selatan daerah penyelidikan dijumpai zona alterasi propilik, dimungkinkan


terjadi oleh zona sistem stocwork yang terisi oleh mineral karbonat. Pengkayaan mineral
pada zona ini tidak terlalu tinggi. Pirit umum dijumpai dalam bentuk pirit halus yang
tersebar pada rekahan batuan ataupun bersifat dissemineted, namun keterdapatannya
dominan sebagai pengisi rekahan. Sulfida halus yang mengisi rekahan berbentuk banded
tipis pada zona batuan yang mengalami alterasi ini. Pada batuan breksi vulkanik,
mineralisasi umumnya dijumpai pada matriks yaitu pada rekahan yang terbentuk karena
adanya kekar. Kekar tersebut terisi oleh mineral alterasi yang kadang ikut membawa
mineral bijih seperti sulfida halus.

II.9.3 Zona Silisifikasi

Zonaalterasi silifikasi ini menempati sebagian kecil bagian selatan yang dicirikan oleh
pergantian mineral-mineral utama dan pengkayaan kuarsa akibat proses hidrothermal,
dicirikan oleh kehadiran kuarsa pada fracture maupun penggantian pada tubuh batuan
gamping. Zona silifikasi yang intensif ditemukan pada punggungan buntu matande an
buntu pabeolan dimana dijumpai fragmen urat kuarsa maupun batuan terselisifikasi
berukuran bervariasi kecil hingga besar, kadang di jumpai jasper pada batuan tersebut.
Mineralisasi pada zona ini sangat menarik dengan kehadiran mineral pyrite, sulfida halus
maupun mineral bijih seperti pyrite kalkopyrite karbonat diperkirakan terjadi pada fase
akhir proses hidrothermal.