Anda di halaman 1dari 7

DASAR TEORI

Deskripsi Access Point


Access Point adalah sebuah perangkat jaringan yang berisi sebuah transceiver dan antena untuk
transmisi dan menerima sinyal ke dan dari remote clients. Wireless Access Point (WAP) adalah
alat yang digunakan untuk menghubungkan alat-alat dalam suatu jaringan dari dan ke jaringan
Wireless Router. Access Point berfungsi sebagai pengatur lalu lintas data, sehingga
memungkinkan banyak klien dapat saling terhubung melalui jaringan. Dalam aplikasi sehari-
hari, Access Point digunakan untuk membagi internet ke perangkat komputer atau mengatur
jalur jaringan tanpa kabel.
Jaringan Komputer Tanpa Kabel (Wireless Network)
Jaringan komputer tanpa kabel (wireless network) merupakan jaringan komputer yang tidak
menggunakan kabel jaringan (UTP, coaxial, fiber optic), namun memanfaatkan sinyal
elektromagnetik. Satu hal utama yang menjadi kelebihan jaringan wireless adalah kemudahan
dan praktis. Pengguna cukup mengaktifkan fitur wireless pada perangkat komputer atau mobile,
lalu menghubungkan diri ke koneksi wireless yang ada. Akan tetapi, jaringan wireless
menyimpan sejumlah kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut antara lain:
a. Ancaman interferensi dengan gelombang lainnya yang akan mengganggu koneksi jaringan.
b. Kemungkinan untuk diserang oleh attacker secara remote.
c. Penghalang fisik berupa tembok bangunan, pepohonan, dan benda-benda lainnya yang
mengganggu sinyal yang digunakan pada jaringan wireless.
Pembagian Kelas Alamat IP
Alamat IP digunakan sebagai alamat dalam hubungan antar host di internet, sehingga
merupakan sebuah sistem komunikasi yang universal karena merupakan metode pengalamatan
yang telah diterima di seluruh dunia. Jadi, kita telah memberikan identitas yang universal bagi
setiap interface komputer. Jika suatu komputer memiliki lebih dari satu interface (misalkan
menggunakan dua ethernet), maka kita harus memberi dua alamat IP untuk komputer tersebut
masing-masing untuk setiap interface-nya.
Alamat IP terdiri dari bilangan biner 32 bit yang dipisahkan oleh tanda titik setiap 8 bitnya.
Tiap 8 bit ini disebut sebagai oktet. Notasi alamat IP dengan bilangan biner seperti ini susah
untuk digunakan, sehingga sering ditulis dalam 4 bilangan desimal yang masing-masing
dipisahkan oleh 4 buah titik yang lebih dikenal dengan notasi desimal bertitik. Setiap
bilangan desimal merupakan nilai dari satu oktet alamat IP.
Jumlah alamat IP yang tersedia secara teoritis adalah 255x255x255x255 atau sekitar 4 milyar
lebih yang harus dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia. Pembagian
kelas-kelas ini ditujukan untuk mempermudah alokasi alamat IP, baik untuk host/jaringan
tertentu atau untuk keperluan tertentu.
Alamat IP dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (net ID) dan bagian host
(host ID). Net ID berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan

1
host ID berperan untuk identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang
tersambung dalam jaringan yang sama memiliki net ID yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian
awal dari alamat IP merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host.
Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network.
Alamat IP dibagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E.
Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan jumlahnya. Contohnya adalah IP kelas A dipakai
oleh sedikit jaringan namun jumlah host yang dapat ditampung oleh tiap jaringan sangat besar.
Kelas D dan E tidak digunakan secara umum, kelas D digunakan bagi jaringan multicast dan
kelas E untuk keperluan eksperimental. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan
pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari alamat IP. Penentuan kelas
ini dilakukan dengan cara berikut:
1. Kelas A
Bit pertama alamat IP kelas A adalah 0, dengan panjang net ID 8 bit dan panjang host ID
24 bit. Byte pertama alamat IP kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi, kelas A terdapat
127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16 juta host (255x255x255).
Alamat IP kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar.

2. Kelas B
Dua bit alamat IP kelas B selalu dibuat 10, sehingga byte pertamanya selalu bernilai antara
128-191. Net ID adalah 16 bit pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID, sehingga jika ada
komputer mempunyai alamat IP 192.168.26.161, net ID = 192.168 dan host ID = 26.161.
Alamat IP kelas B ini mempunyai range IP dari 128.0.xxx.xxx sampai 191.155.xxx.xxx,
yakni berjumlah 65.255 network dengan jumlah host tiap network 255x255 host atau
sekitar 65.000 host.

3. Kelas C
Alamat IP kelas C digunakan untuk jaringan berukuran kecil, seperti LAN. Tiga bit
pertama alamat IP kelas C selalu dibuat 111. Net ID terdiri dari 24 bit dan host ID 8 bit

2
sisanya, sehingga dapat terbentuk sekitar 2 juta network dengan masing-masing network
memiliki 256 host.

4. Kelas D
Alamat IP kelas D digunakan untuk keperluan multicasting. Empat bit pertama alamat IP
kelas D selalu dibuat 1110, sehingga byte pertamanya berkisar antara 224-247. Bit-bit
berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan alamat IP ini.
Dalam multicasting tidak dikenal istilah net ID dan host ID.
5. Kelas E
Alamat IP kelas E tidak diperlukan untuk keperluan umum. Empat bit pertama alamat IP
kelas ini dibuat 1111, sehingga byte pertamanya berkisar antara 248-255.

LANGKAH KERJA
1. Hidupkan Access Point, lalu hubungkanlah ke PC (internet) dan laptop (setting ulang) dengan
menggunakan kabel Straight.
2. Konfigurasilah IP laptop sesuai kelas alamat IP router (192.168.0.1) yaitu kelas C untuk
menyamakan segmentasi alamat IP (misal: 192.168.0.2).
3. Ketikkan alamat IP router pada web browser dan masukkan default username (admin) dan
password (admin). Jika proses login telah berhasil, maka tampilan awal menu pengaturan
Access Point adalah sebagai berikut:

3
4. Klik menu Network > Internet Access dan pilih mode akses internet WAN Only untuk
menggunakan jaringan WAN sebagai satu-satunya akses ke internet. Selanjutnya, klik tombol
Save untuk menyimpan hasil pengaturan.

5. Untuk melakukan pengaturan alamat IP, klik menu Network > WAN. Selanjutnya, pada bagian
WAN Connection Type, aturlah menjadi Static IP. Selanjutnya, aturlah IP Address, Subnet
Mask, Default Gateway, dan Primary DNS sesuai dengan pembagian alamat IP yang telah
ditentukan di awal praktikum. Selanjutnya, klik tombol Save untuk menyimpan hasil
pengaturan.

4
a. WAN Connection Type: IP statis adalah IP yang dedicated dengan sebuah PC, sedangkan
IP dinamis adalah IP yang didapatkan dari komputer atau router lain melalui sistem DHCP
sehingga alamat IP-nya selalu berubah.
b. MTU Size (in bytes): MTU adalah batasan data maksimum yang dapat dibawa dalam
sebuah frame pada lapisan network interface dari pemodelan TCP/IP. Oleh karena itu, IP
datagram harus lebih kecil atau sama dengan besar MTU yang ditetapkan agar bisa
dienkapsulasi untuk pengiriman.
6. Untuk melakukan pengaturan jaringan wireless, klik menu Wireless > Wireless Settings.
Selanjutnya, pada bagian Wireless Network Name, ubahlah nama jaringan wireless (SSID)
sesuai dengan keinginan kita (misal: TP-LINK_95F51C). Selanjutnya, klik tombol Save untuk
menyimpan hasil pengaturan.

a. Channel: Penggunaan wi-fi channel yang tidak tepat dapat menimbulkan interferensi. Oleh
karena itu, gunakanlah non-overlapping channel seperti channel 1, 6, 11, atau 14 pada
jaringan wireless yang berbeda.
b. Mode: Bagian ini adalah bagian standardisasi LAN dan MAN yang dibuat oleh IEEE pada
tahun 1980. Adapun standardisasi tersebut adalah sebagai berikut:
1) IEEE 802.11 legacy: standar jaringan wireless pertama yang bekerja pada frekuensi
2,4 GHz dengan kecepatan transfer data maksimum 2 Mbps.
2) IEEE 802.11b: masih menggunakan frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer
datanya mencapai 11 Mbps dan jangkauan sinyal sampai 30 meter di luar ruangan.
3) IEEE 802.11a: sudah bekerja pada frekuensi 5 GHz dengan kecepatan transfer datanya
mencapai 58 Mbps.

5
4) IEEE 802.11g: gabungan dari standar 802.11a dan 802.11b yang menggunakan
frekuensi 2,4 GHz. Kecepatan akses datanya hanya mencapai 54 Mbps. Standar inilah
yang umum digunakan di pasaran.
5) IEEE 802.11n: sebagian buku menyebutnya sebagai standar masa depan yang bekerja
pada frekuensi 2,4 GHz dan dikabarkan kecepatan transfer datanya dapat mencapai
100-200 Mbps.
7. Untuk melakukan pengaturan keamanan jaringan wireless (memberi password pada jaringan
wireless), klik menu Wireless > Wireless Security > WPA/WPA2-Personal dan berilah
password sesuai dengan keinginan kita. Selanjutnya, klik tombol Save untuk menyimpan hasil
pengaturan.

a. Version
1) WPA-PSK (Wi-Fi Protected Access-Pre Shared Key): pengamanan jaringan wireless
dengan menggunakan mode WPA tanpa bantuan komputer lain sebagai server. WPA
dianggap lebih aman karena sulit ditembus dengan metode sederhana.
2) WPA2-PSK (Wi-Fi Protected Access-Pre Shared Key): sertifikasi produk yang
tersedia melalui wi-fi alliance. Dalam WPA2-PSK ada dua jenis dekripsi, yaitu
Advanced Encryption Standard (AES) dan Temporal Key Integrity Protocol (TKIP).
b. Encryption
1) AES: standar enkripsi dengan kunci-simetris yang diadopsi oleh pemerintah Amerika
Serikat.
2) TKIP: mengenkripsi semua paket data yang dikirimkan dengan kunci enkripsi yang
unik.
8. Untuk melakukan pengaturan alamat IP dinamis, klik menu DHCP > DHCP Settings dan pilih
Enable. Selanjutnya, aturlah rentang alamt IP sesuai dengan keinginan kita pada bagian Start
IP Address dan End IP Address.

6
KESIMPULAN
Hal-hal yang harus diatur untuk membuat jaringan wireless dalam Access Point adalah mode akses
internet, alamat IP WAN, alamat IP klien, SSID (jika perlu), beserta keamanan jaringannya.

DAFTAR RUJUKAN
Pratama, I Putu Agus Eka. 2014. Handbook Jaringan Komputer. Bandung: Penerbit Informatika.