Anda di halaman 1dari 13

VALUE FOR MONEY AUDIT DAN PROSES AUDIT KINERJA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akuntansi Sektor Publik yang diampu oleh Bapak Sulardi, S.E., M.Si, Ak.

VALUE FOR MONEY AUDIT DAN PROSES AUDIT KINERJA Disusun untuk Memenuhi Tugas Akuntansi Sektor Publik yang

Disusun oleh:

Iis Khairun Nisa

F0314044

Rima Tri Utami

F0314085

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2016

VALUE FOR MONEY AUDIT DAN PROSES AUDIT KINERJA

VALUE FOR MONEY AUDIT

  • A. KARAKTERISTIK VALUE FOR MONEY AUDIT

Audit kinerja yang meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, pada dasarnya

merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Pada audit keuangan dan audit kinerja tidak terdapat perbedaan definisi yang tajam karena definisi audit kinerja sebagai suatu proses dapat diturunkan dari definisi audit keuangan. Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian- kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi audit. Definisi audit kinerja adalah suatu proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektivitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan, dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hokum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan criteria yang telah ditetapkan sebelumnya, serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut (Malan,1984). Perbedaan VFM audit dengan conventional audit :

  • 1. Audit yang konvesional , hasil auditnya adalah berupa pendapat (opini) auditor secara independen dan obyektif tentang kewajaran laporan keuangan sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan, tanpa pemberian rekomendasi perbaikan.

  • 2. VFM audit tidak sekedar menyampaikan kesimpulan berdasarkan tahapan audit yang telah dilaksanakan, akan tetap juga dilengkapi dengan rekomendasi untuk perbaikan di masa depan.

    • B. AUDIT EKONOMI DAN EFISIENSI

Ekonomi : Biaya terendah

Efisiensi : Mengacu pada rasio terbaik antara output (biaya) dengan input Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan :

  • 1. Apakah suatu entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan sumber dayanya (seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor) secara ekonomis dan efisien.

  • 2. Penyebab terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis atau tidak efisien, termasuk ketidakmampuan organisasi dalam mengelola system informasi, prosedur administrasi, dan struktur organisasi. Pada audit ekonomi dan efisien, ukuran output idealnya dispesifikasikan oleh

organisasi yang bersangkutan dan ukuran tersebut digunakan untuk mengukur kinerja manajer. Untuk dapat mengetahui organisasi telah menghasilkan output yang optimal,

auditor dapat membandingkan output yang telah dicapai pada periode bersangkutan dengan :

  • 1. Standar yang telah ditetapkan sebelumnya

  • 2. Kinerja tahun – tahun sebelumnya

  • 3. Unit lain pada organisasi yang sama atau pada organisasi yang berbeda

Prosedur untuk melakuakan audit ekonomi dan efisiensi meliputi:

  • 1. Perencanaan audit.

  • 2. Me review system akuntansi dan pengendalian intern.

  • 3. Menguji system akuntansi dan pengendalian intern.

  • 4. Melaksanakan audit.

  • 5. Menyampaikan laporan.

    • C. AUDIT EFEKTIVITAS

Menurut Audit Commission (1986), efektivitas berarti menyediakan jasa-jasa yang benar sehingga memungkinkan pihak yang berwenang untuk mengimplementasikan kebijakan dan tujuannya. Audit efektivitas (audit program) bertujuan untuk menentukan :

  • 1. Tingkat pencapaian hasil atau manfaat yang diinginkan.

  • 2. Kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

  • 3. Apakah entitas yang diaudit telah mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil yang sama dengan biaya yang paling rendah.

Tiga kategori kegiatan Value for Money Audit :

  • 1. By product VFM work

  • 2. An Arrangement Review

  • 3. Perfomance Review

Prasyarat-prasyarat yang harus dipenuhi dalam audit kinerja yaitu :

  • 1. Auditor (orang/lembaga yang melakukan audit), auditee (pihak yang diaudit), recipient

(pihak yang menerima hasil audit).

  • 2. Hubungan akuntabilitas antara auditee (subordinate) dan recipient (otoritas yang lebih tinggi).

  • 3. Independensi antara auditor dan auditee.

  • 4. Pengujian dan evaluasi tertentu atas aktivitas yang menjadi tanggungjawab auditee oleh auditor untuk audit recipient.

Berikut dua prosedur utama melaksanakan praktik auditing kinerja organisasi secara komprehensif :

  • 1. Management and Technical Review : Telaah fungsi manajemen secara umum mengenai perenaan, pengorganisasian, pengarahan dan metode/teknik khusus yang digunakan oleh entitas.

2.

Special Studies : telaah yang diarahkan untuk mencapai kesesuaian terhadap spesifikasi tertentu sesuai dengan permintaan.

  • D. STANDAR AUDIT PEMERINTAH (SAP) TAHUN 1995

Standar-standar yang menjadi pedoman dalam audit kinerja terhadap lembaga

pemerintah menurut Standar Audit Pemerintah adalah :

  • 1. Standar Umum

    • a. Staf yang ditugasi untuk melaksanakan audit harus secara kolektif memiliki kecakapan professional yang memadai untuk tugas yang disyaratkan.

    • b. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan audit, organisasi/lembaga audit dan auditor, baik pemerintah maupun akuntan public, harus independen (secara organisasi maupun secara pribadi), bebas dari gangguan independensi yang bersifat pribadi dan yang di luar pribadinya(ekstern), yang dapat mempengaruhi independensinya, serta harus dapat mempertahankan sikap dan penampilan yang independen.

    • c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.

    • d. Setiap organisasi/lembaga yang melaksanakan audit yang berdasarkan SAP ini harus memiliki system pengendalian intern yang memadai, dan system pengendalian mutu tersebut harus di-review oleh pihak lain yang kompeten (pengendalian mutu ekstern).

  • 2. Standar Pekerjaan Lapangan Audit Kinerja

    • a. Perencanaan : Pekerjaan harus direncakanan secara memadai.

    • b. Supervisi : Staf harus diawasi (supervisi) dengan baik.

    • c. Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan : Apabila hukum, peraturan perundang-undangan, dan persyaratan kepatuhan lainnya merupakan hal yang signifikan bagi tujuan audit, auditor harus merancang audit tersebut untuk memberiakan keyakinan yang memadai mengenai kepatuhan tersebut.

    • d. Pengendalian Manajemen : Auditor harus benar-benar memahami pengendalian manajemen yang relevan dengan audit.

  • 3. Standar Pelaporan Audit Kinerja

  • 1.

    Bentuk

    : Auditor

    harus

    membuat

    laporan

    audit secara tertulis untuk dapat

    mengkomunikasikan hasil setiap audit.

    • 2. Ketepatan Waktu : Auditor harus dengan semestinya menerbitkan laporan untuk menyediakan infromasi yang dapat digunakan secara tepat waktu oleh manajemen dan pihak lain yang berkepentingan.

    • 3. Isi Laporan

      • a. Tujuan, Lingkup, dan Metodelogi Audit : Auditor harus melaporkan tujuan, lingkup, dan metodologi audit.

    • b. Hasil Audit : Auditor harus melaporkan temuan audit yang signifikan, dan jika mungkin melaporkan kesimpulan auditor.

    • c. Rekomendasi : Auditor harus menyampaikan rekomendasi untuk melakukan tindakan perbaikan atas bidang yang bermasalah dan untuk meningkatkan pelaksanaan kegiatan entitas yang diaudit.

    • d. Pernyataan Standar Audit : Auditor harus melaporkan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan Standar Audit Pemerintah.

    • e. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan

    • f. Ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan penyalahgunaan wewenang

    Pelaporan

    • g. secara

    langsung

    tentang

    unsur

    perbuatan

    melanggar/melawan

    hokum

    • h. Pengendalian manajemen

    • i. Tanggapan pejabat yang bertanggungjawab

    • j. Hasil/prestasi kerja yang patut dihargai

    • k. Hal yang memerlukan penelaahan lebih lanjut

    • l. Informasi istimewa dan rahasia

    • 4. Penyajian Laporan Laporan harus lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta jelas dan ringkas

    sepanjang hal ini dimungkinkan.

    • 5. Distribusi Laporan Laporan tertulis diserahkan oleh organisasi/lembaga audit kepada :

      • a. Pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang diaudit

      • b. Kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang meminta audit, termasuk organisasi luar yang memberikan dana, kecuali jika peraturan perundang-undangan melarangnya

      • c. Kepada pejabat lain yang mempunyai tanggungjawab atas pengawasan secara hukum atau pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan tindak lanjut berdasarkan temuan dan rekomendasi audit

      • d. Kepada pihak lain yang diberi wewenang oleh entitas yang diaudit untuk menerima laporan tersebut

    E. AUDIT KINERJA PEMERINTAH DAERAH DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH

    Terdapat tiga aspek utama yang mendukung terciptanya kepemerintahan yang baik (good governance) yaitu, pengawasan, pengendalian, dan pemeriksaan. Pengawasan mengacu pada tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh pihak di luar eksekutif (yaitu masyarakat dan DPR/DPRD) untuk mengawasi kinerja pemerintahan. Pengendalian

    (control) adalah mekanisme yang dilakukan oleh eksekutif (pemerintah) untuk menjamin dilaksanakannya system dan kebijakan manajemen sehingga tujuan organisasi tercapai. Pemeriksaan (audit) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki independensi dan memiliki kompetensi professional untuk memeriksa apakah hasil kinerja pemerintah telah sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.

    • F. PERMASALAHAN AUDIT KINERJA LEMBAGA PEMERINTAHAN DI INDONESIA

    Permasalahan otonomi dan desentralisasi yang luas, nyata, dan bertangung jawab kepada daerah kabupaten/ kota akan membawa konsekuensi perubahan pada pola dan sitem pengawasan dan pemeriksaan. Perubahan-perubahan tersebut juga memberikan

    dampak pada unit-unit kerja daerah, seperti tuntutan kepada pegawai/ aparatur pemerintah daerah untuk lebih terbuka, transparan, dan bertangungjawab atas kepusan yang dibuat. Pemberian kepercayaan kepada auditor dengan memberikan peran yang lebih besar untuk memeriksa lembaga-lembaga pemerintah, telah menjadi bagian penting dalam proses terciptanya akuntanbilitas publik. Bagi auditor, dengan diberinya peran yang lebih besar tersebut, maka auditor dituntut menjaga dan meningkatkan profesionalisme, kompetensi, dan indenpendensi dan dapat menghilangkan pratek korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang ada.

    Reposisi lembaga pemeriksa

    Harus disadari bahwa saat ini masih terdapat beberapa kelemahan dalam melakukan audit pemerintahan di Indonesia. Pertama adalah tidak tersedianya indikator kinerja yang memadai sebagai dasar untuk mengukur kinerja pemerintah daerah, hal tersebut umum dialami organisasi sektor public adalah berupa pelayanan publik yang tidak mudah diukur. Kedua terkait dengan masalah struktur lembaga pemeriksa pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. Permasalahan yang ada adalah banyaknya lembaga pemeriksa fungsional yang overlapping satu dengan yang lainnya yang menyebabkan pelaksanaan pengauditan tidak efisien dan tidak efektif. Saat ini, pemeriksaan yang dilakukan oleh aparat pemeriksa fungsional terdapat pembiayaan desentralisasi oleh BPK, BPKP, dan inspektorat dalm negeri.

    PROSES AUDIT KINERJA

    • A. STRUKTUR AUDIT KINERJA

    Secara umum, struktur audit terdiri atas:

    1.

    Tahap-tahap audit;

    • 2. Elemen masing-masing tahap audit;

    • 3. Tujuan umum masing-masing elemen; dan

    • 4. Tugas-tugas tertentu yang diperlukan untuk mencapai setiap tujuan.

    Berdasarkan kerangka umum struktur audit diatas, dapat dikembangkan struktur audit

    kinerja yang terdiri atas:

    Tabel 12.1 Struktur Audit Kinerja

    TAHAP

    ELEMEN

     

    Survei Pendahuluan

    Review Sistem Pengendalian

    Tahap Pengenalan dan Perencanaan

    Manajemen

    Tahap pengauditan

    Review Hasil-hasil Program

    Review Ekonomi

    Review Kepatuhan

    Tahap Pelaporan

    Persiapan Laporan

    Review dan Revisi

    Pengiriman dan Penyajian Laporan

    Tahap Penindaklanjutan

    Desain Follow-up

    Investigasi

    Pelaporan

    B. TAHAP

    PENGENALAN DAN PERENCANAAN

    • a) Suvei Pendahuluan (Preliminary Survei) Pada survei pendahuluan auditor akan berupaya untuk memperoleh gambaran yang akurat tentang lingkungan organisasi yang diaudit, teutama berkaitan dengan struktur dan operasi organisasi, lingkungan manajemen, kebijakan, standar dan prosedur kerja.

    • b) Review Sistem Pengendalian ( Control System Review) Pada audit kinerja, auditor harus menelaah sistem pengendalian manajemen atau sistem

    pengendalian administratif dengan tujuan untuk menemukan kelemahan pengendalian yang signifikan agar menjadi perhatian manajemen dan untuk menentukan luas, sifat, dan waktu pekerjaan pemeriksaan berikutnya. Prosedur audit yang dilakukan pada tahap review sistem pengendalian secara garis besar terdiri dari tiga langkah:

    • a. Menganalisis sistem manajemen organisasi,

    • b. Membandingkannya dengan modal yang ada

    • c. Mencatat dugaan terhadap setiap ketidakcocokan/ketidaksesuaian.

    Kriteria Pegendalian untuk Hasil-Hasil Program, Penilaian Ekonomi dan Efisiensi

    1)

    Proses pengumpulan, perhitungan dan pelaporan data

    • a. Prosedur yang ada didisain untuk memastikan fairness, dependability, dan

    reliability.

    • b. Terdapat pengendalian dalam propes pengumpulan dan penghitungan data untuk

    memastikan integritas data.

    • c. Pengendalian yang telah ditetapkan sudah dijalankan.

    • d. Terdapat dokumentasi yang memadai untuk menentukan integritas data.

    2)

    Kecukupan pelaporan data

    • a. Data yang dikumpulkan dan dihitung, dibuat dengan dasar yang konsisten dengan tahun sebelumnya.

    • b. Kewajaran dan reliabilitas data disajikan dengan kriteria tertentu. Pekerjaan audit pada tahap pengenalan dan perencanaan daiharapkan mampu

    mempersiapkan dua buah dokumen yaitu:

    • 1. Memorandun analitis (analitical memorandum), berisi identifikasi kelemahan yang material dalam sistem pengendalian manajemen dan pembuatan rekomendasi untuk perbaikan atas kelemahan tersebut.

    • 2. Memorandum perencanaan (planning memorandum), dibuat berdasarkan hasil review sistem pengendalian untuk menentukan sifat, luas dan waktu untuk pekerjaan audit berikutnya.

    • C. TAHAPAN AUDIT

    Tiga elemen tahapan dalam audit kinerja:

    • 1. Telaah hasil-hasil program (program results review)

    • 2. Telaah ekonomi dan efisiensi (economy and efficiency review); dan

    • 3. Telah kepatuhan (comliance review)

    Secara lebih rinci, komponen audit terdiri dari

    • 1. Identifikasi lingkungan manajemen Auditor harus familiar dengan lingungan manajemen klien untuk memahami keterbatasan – keterbatasan yang dihadapai organisasi. Untuk itu auditor harus mengetahui sesakma dan akurat gambaran menyeluruh gambaran organisasi dari prespektif hukum, organisasi, dan karyawan.

    • 2. Perencanaan dan tujuan Komponen ini berkaitan dangan review atas proses penetapan renncana dan tujuan organisasi, auditor menguji tujuan yang ditetapkan secara jelas dan rencana- rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Serta aktivitas yang berkaitan yang dilakukan dengan kebutuhan dan tujuan organisasi.

    Komponen ini berkaitan bagaimana sebuah unit diatur dan sumber daya yang dialokasikan untuk mencapai tujuan organisasi yang berkaitan dengan otoritas formal maupun informal dan tanggung jawab yang berkaitan dengan organisasi.

    • 4. Kebijakan dan praktik Komponen ini mengacu pada kebijakan yang berlaku umum, yang merupakan kesepakan yang dirumuskan oleh masyarakat yang diwakili oleh legislatif, dan diformalkan dalam peraturan dan petunjuk administratif yang mengacu pada sejumlah aktivitas yang harus dilaksanakan.

    • 5. Sistem dan prosedur Sistem dan prosedur merupakan rangkaian kegiatan atau aktivitas untuk menelaah struktur pengendalian, efektifitas, ketepatan, logika dan kebutuhan organisasi.

    • 6. Pengendalian dan metode pengendalian Komponen ini berhubungan dengan pengendalian intern terutama accounting control dan administrative control.

    • 7. Sumberdaya manusia dan lingkungan fisik Komponen SDM dan lingkungan fisik berkaitan dengan sikap karyawan, dokumentasi tentang berbagai aktivitas, dan kondisi fisik pekerjaan.

    • 8. Praktik pengelolaan staf Komponen ini mengacu pada metode dan prosedur untuk melindungi sumber daya manusia yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi, untuk mengatur administrasi penggajian, untuk menilai kinerja karyawan, dan kebijakan dan prosedur pelatihan karyawan.

    • 9. Analisis fiskal Diperlukan untuk menganalisa informasi keuangan yang secara langsung atau tidak langsung dapat digunakan untuk mengindentifikasi efisiensi operasi, ekonomis, dan

    efektifitas unit organisasi yang dievaluasi. 10. Area khusus investigasi Investigasi ini lebih diarahkan pada usaha untuk mengevaluasi solusi alternatif yang

    didesain untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi atau peningkatan ekonomis sebuah fungsi organisasi.

    • D. TAHAPAN PELAPORAN

    Tiga langkah utama dalam mengembangkan laporan audit secara tertulis:

    • 1. Persiapan (preparation): Pada tahap persiapan, auditor mulai mengembangkan temuan- temuan audit, menggabungkan temuan-temuan tersebut menjadi sebuah laporan yang koheren dan logis, serta menyiapkan bukti-bukti pendukung dan dokumentasi yang diperlukan.

    2.

    Penelaahan (review): Merupakan tahapan analisis kritis terhadap laporan tertulis yang

    dilakukan oleh staf audit, review dan komentar atas laporan diberikan oleh pihak manajemn atau auditee.

    • 3. Pengiriman (transmission): Meliputi persiapan tertulis sebuah laporan yang permanen agar dapat dikirim ke lembaga yang memberi tugas untuk mengaudit dan kepada auditee.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan audit kinerja:

     

    1.

    Laporan audit kinerja harus ditulis secara objektif;

    2.

    Auditor tidak boleh terlalu overstate;

    3.

    Informasi yang disajikan harus disertai suatu bukti yang kompeten;

    4.

    Auditor hendaknya menulis laporan secara konstruktif, memberikan pengakuan

     

    terhadap kinerja yang baik maupun kinerja yang buruk;

     

    5.

    Auditor hendaknya mengakomodasi usaha-usaha yang dilakukan oleh manajemen

    untuk memperbaiki kinerjanya. Beberapa keahlian yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh auditor agar mampu menghasilkan laporan yang efektif:

    1.

    Keahlian teknis (technical skills);

    2.

    Keahlian Manajerial (managerial skills);

    3.

    Keahlian interpersonal (interpersonal skills).

    Secara lebih rinci, laporan audit untuk audit kinerja terdiri atas:

    I.

    Pendahuluan

     
     

    a.

    Umum

    b.

    Surat Pengiriman atau Memorandum

    c.

    Laporan Ringkasan

    d.

    Daftar Isi Laporan secara Keseluruhan

    e.

    Daftar Tabel dan Gambar

    II. Teks

     

    a.

    Pendahuluan

    b.

    Badan (body), mencakup:

     

    1)

    Pengantar Masalah (bila perlu)

    2)

    Temuan-temuan

    3)

    Kesimpulan dan rekomendasi

     

    c.

    Komentar Auditee

    III.

    Referensi Masalah

     

    a.

    Footnotes

    b.

    Lampiran

    c.

    Bibliografi

    d.

    Komentar auditee (jika tidak dimasukan kedalam teks)

    e.

    Bahan Referensi

     

    Auditor harus melakukan hal-hal berikut untuk mengembangkan sebuah laporan audit:

    1.

    Menyiapkan temuan-temuan secara individual;

    2.

    Mengumpulkan semua referensi yang diperlukan untuk mendukung teks;

    4.

    Menyiapkan laporan inti;

    • 5. Menyiapkan memorandum pengiriman laporan

      • E. TAHAP PENINDAKLANJUTAN (FOLLOW-UP)

    Dari sisi auditor, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap penindaklanjutan:

    • 1. Dasar Pelaksanaan Follow-up Perencanaan yang dilakukan oleh pihak manajemen, untuk setiap rekomendasi yang diberikan oleh auditor, manajemen harus menentukan apakah rekomendasi tersebut ditolak atau diterima. Dan kapan implementasi rencana dilakukan.

    • 2. Pelaksanaan Review Follow-up Perencanaan manajemen memberikan dasar untuk review follow up. Berdasarkan prosedur, hal yang pertama yang diputuskan adalah penjadwalan follow up, yang mana hal ini sangat bergantung pada kompleksitas rekomendasi dan tingkat kesulitan rekomendasi.

    • 3. Batasan Follow-up Pelaksanaan follow up sebaiknya tidak terbatas pada penilaian pelaksanaan dan dampak yang diusulkan oleh auditor. Namun sebaliknya dihindari terjadinya follow up yang overload. Kegiatan follow up yang dilakukan diharapkan mampu menjelaskan peningkatan aktual yang telah dicapai setelah proses audit dilaksanakan pada organisasi tertentu.

    • 4. Implementasi Rekomendasi

      • a. Implementasi oleh Unit Kerja Unit yang diaudit memiliki kesempatan pertama kali untuk mempelajari temuan dan rekomendasi audit. Hal ini memungkinkan unit kerja untuk mengevaluasi dan menggunakan rekomendasi yang diberikan oleh staf auditor. Keterlibatan oraganisasi dalam ketelaan awal rekomendasi dan pengambilan tindakan yang tepat atas rekomendasi pendahuluan akan memberikan repon positif dari pihak legislatif sebelum dikeluarkan laporan akhir audit.

      • b. Implementasi oleh Eksekutif Manajemen (eksekutif) biasanya menerima hasil audit terlebih dahulu dibandingkan lembaga pengambilan kebijakan atau legislatif. Diskusi antara auditor dengan manajemen sebelum laporan audit dipublikasikan akan memungkinkan dihasilkan petunjuk administratif yang didesain untuk mengkoreksi permasalahan.

      • c. Peranan Auditor dalam Pengimplementasian Rekomendasi Audit Dalam proses pengimplementasikan rekomendasi audit, auditor hanya berperan sebagai pendukung, tidak terlibat langsung didalamnya. Hal ini penting untuk menjaga objektivitas dan indenpendensi auditor karena ada kemungkinan bahwa dimasa yang akan datang organisasi tersebut akan diaudit oleh auditor yang sama.

      • d. Peranan Legislatif dalam Mengimplementasikan Rekomendasi Audit

    Lembaga legislatif, baik tingkat pusat maupun daerah merupakan otoritas tingkat akhir yang dapat mengambil tindakan implementasi rekomendasi secara formal dengan mengadopsi peraturan, mosi dan sebagainya. Ada beberapa pendekatan yang dilakukan untuk memastikan implementasi rekomendasi audit :

    1)

    Tindakan legislatif secara formal

    2)

    Tindakan legislatif secara informal

    3)

    Tindakan legislatif melalui anggaran

    • 5. Pemeriksaan Kembali Secara Periodik Audit kinerja merupakan suatu usaha yang meliputi lebih dari 1 thun dan dapat berubah-ubah setiap waktu. Setiap organisasi dapat menjadi obyek pemeriksn kembali. Laporn hasil pemeriksaan sebelumnya dapat dijadikan sebagai dasar untuk memulai pekerjaan audit sehingga dapat menghemat waktu untuk perencanaan dasar untuk memulai pekerjaan audit sehingga dapat menghemat waktu untuk perencanaan audit, dan isu – isu spesifikasi dapat diidentifikasi lebih awal pada proses perencanaan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit CV ANDI OFFSET .