Anda di halaman 1dari 2

DISKUSI

Telah dirawat seorang pasien laki laki 46 tahun di bangsal penyakit dalam
RSUP Dr M Djamil Padang dengan diagnosis :
Timoma stage IV A
Sindroma vena kava superior
Bronkhopneumonia dupleks (CAP)

Diagnosis kita tegakkan dari anamnesis didapatkan nyeri dada, sesak nafas
bila os tidur terlentang, terdapat benjolan di dada sebelah kanan atas dan batuk.
Menurut penelitian yang dilakukan Mujiantoro S dkk pada tahun 1996 terhadap
penderita timoma invasif menunjukkan hasil yang sama, nyeri dada, sesak napas
dan batuk adalah 3 keluhan utama penderita. Dari pemeriksaan fisik didapatkan,
teraba benjolan di dada sebelah kanan atas ukuran (15 x 8 x 4)cm, adanya
venektasi, paningkatan JVP 5+2 cmH2O, disertai dengan pelebaran vena-vena
dileher.
Dari pemeriksaan laboratorium pasien ini kita lakukan pemeriksaan biopsi
aspirasi jarum halus. Dari biopsi didapatkan gambaran sitologi dengan kesan
timoma. Dari rontgen thoraks PA dan lateral didapatkan kesan tumor mediastinum
dengan efusi pleura dekstra. Dari CT Scan Thorak tanpa kontras didapatkan
sugestif tumor mediastinum dengan metastasis ke paru dan KGB mediastinum..
Dari USG abdomen tidak ditemukan metastasis ke hepar dan KGB para Aorta ,
kedua ginjal dalam batas Normal. Timoma adalah tumor epitel yang bersifat jinak
atau tumor dengan derajat keganasan yang rendah dan ditemukan pada
mediastinum anterior. Timoma termasuk jenis tumor yang tumbuh lambat. Sering
terjadi invasi lokal ke jaringan sekitar tetapi jarang bermetastasis ke luar toraks.
Kebanyakan terjadi setelah usia lebih dari 40 tahun dan jarang dijumpai pada anak
dan dewasa muda. Kasus terbanyak terjadi pada laki-laki. Penyebab pasti dari
tumor ini sampai saat ini belum diketahui, dari beberapa studi diduga didapatkan
dari radiasi dada sebelah atas , tapi ini tidak dapat dibuktikan.. Staging tumor ini
berdasarkan Tumor,Metastase,Nodul (T,M,N) didapatkan staging tumor
T3,M1,N0 dan dari pemeriksaan Patologi Anatomi pasien ini dapat didiagnosa
dengan timoma tipe A, berdasarkan klasifikasi WHO bahwa timoma tipe A itu
adalah dijumpai sel timoma berbentuk spindle atau oval, sedangkan berdasarkan
staging yang di bagi oleh Masaoka, timoma pada pasien ini dapat ditegakkan
yaitu timoma stage IV A (invasi ke pleura atau perikardial).
Penatalaksanaan pada pasien ini sangat komplek sekali dan rumit. Dari
literatur, pada kasus Timoma stage IV A dilakukan penatalaksanaan multimodaliti
yaitu radioterapi, kemoterapi dan debulking, karena kemungkinan relaps lebih
besar. Penatalaksanaan timoma sangat bergantung pada invasif atau tidaknya
tumor, staging dan klinis penderita. Terapi untuk timoma adalah bedah, tetapi
sangat jarang kasus datang pada stage I atau noninvasif maka multimodaliti terapi
(bedah, radiasi dan kemoterapi) memberikan hasil lebih baik. Jenis tindakan
bedah untuk timoma adalah Extended Thymo Thymectomy (ETT) atau reseksi
komplet yaitu mengangkat kelenjar timus beserta jaringan lemak sekitarnya.
ETT+ ( Extended Resection) ER yaitu tindakan reseksi komplet, sampai dengan
jaringan perikard dan debulking reseksi sebagian yaitu pengangkatan massa tumor
sebanyak mungkin. Jenis operasi ini sangat bergantung pada staging dan klinis
penderita. Reseksi komplet diyakini dapat mengurangi risiko invasi dan
meningkatkan umur harapan hidup. Pada pasien ini akan dilakukan kemoterapi
oleh karena telah terjadi metastasis ke paru dan KGB mediastinum, setelah
dilakukan radioterapi. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa pada timoma dengan
grade IV A dilakukan radioterapi dan kemoterapi.