Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN ILMU BEDAH REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI 06 AGUSTUS 2016


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

FRAKTUR MAKSILLA

OLEH :
Yunikartika
162 2016 1 023

PEMBIMBING
dr. Azis Beru Gani, M.Kes, Sp.B

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Trauma wajah merupakan kasus yang sering terjadi, menimbulkan masalah

pada medis dan kehidupan sosial. Fraktur maksilla merupakan bagian dari

trauma maxillofacial yang cukup sering ditemukan, walaupun lebih jarang

dibandingkan dengan fraktur mandibula. Kecelakaan kendaraan bermotor

merupakan penyebab tersering fraktur maksilla maupun fraktur wajah lainnya.

Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk di Indonesia semakin bertambah

setiap tahunnya, sehingga meningkatkan mobilitas penduduk baik di desa

maupun dikota. Jumlah kendaraan bermotor pun meningkat seiring dengan

kebutuhan transportasi. Pertambahan volume kendaraan tersebut, meningkatkan

resiko kecelakaan lalu lintas.1


Maksilla atau rahang atas merupakan tulang berpasangan. Maksilla

memiliki sepasang rongga berupa sinus maksillaris, ke atas berhubungan dengan

tulang frontal dan tulang nasal, ke lateral dengan tulang zygoma dan inferior-

medial pada prosesus frontalis maksilla. Maksilla merupakan tulang yang tipis,

pada bagian lateral lebih tebal dan padat, pada bagian ini disangga oleh

zygomatikomaksilari. 2
Fraktur maksilla juga dapat muncul berbagai komplikasi yang cukup berat,

apabila tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kecacatan bahkan

kematian. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI FRAKTUR MAKSILLA
Fraktur adalah hilangnya atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh.

Menurut Reksoprodjo, fraktur adalah suatu keadaan dimana tulang retak, pecah

1
atau patah, baik tulang maupun tulang rawan. Bentuk dari patah tulang bisa

haya retakan saja, sampai hancur berkeping-keping.3,4


Penyebab fraktur adalah trauma, misalnya kecelakaan lalu lintas, jatuh dari

ketinggian, kecelakaan kerja, dan kecelakaan atau cedera olahraga. Menurut

Trott et al., penyebab utama dari fraktur adalah kecelakaan kendaraan bermotor

dan perkelahian, sedangkan penyebab lainnya adalah jatuh, kecelakaan

olahraga, kecelakaan kerja, dan fraktur patologis.4,5

B. ANATOMI MAKSILLA
Secara konseptual kerangka wajah terdiri dari empat pasag dinding

penopang (buttress) vertikal dan horizontal. Buttress merupaka daerah tulang

yang lebih tebal yang menyokong unit fungsional wajah (otot, mata, oklusi

dental, dan airway) dalam relasi yang optimal dan menentukan bentuk wajah

dengan memproyeksika selubung soft tissue diatasnya. Vertical buttresses

terdirri dari sepasang maksilari lateral (dinding orbita lateral) atau zygomatic

buttress, maksilari medial (dinding orbital medial) atau nasofrontal buttress,

pterygomaxillary buttress, dan posterior vertical buttress atau mandibular

buttress. Horizontal buttresses juga terdiri dari sepasang maksilari transversal

atas (lantai orbital), maksilari transversal bawah (palatum), mandibular

transversal atas dan mandibular transversal bawah.11

2
Gambar (a) Kerangka Wajah

Maksilla terbentuk dari dua komponen piramidal ireguler yang

berkontribusi terhadap pembentukan bagian tengah wajah dan bagian orbita,

hidung, dan palatum. Maksilla berlubang pada aspek anteriorya untuk

menyediakan celah bagi sinus maksilla sehingga membentuk bagian besar dari

orbita, nasal fossa, oral cavity, dan sebagian besar palatum, nasal cavity, serta

apertura piriformis. Maksilla terdiri dari badan dan empat prosessus yaitu

frontal, zygomatic, palatina, dan alveolar. Badan maksilla mengandung sinus

maksilla yang besar. Pada masa anak-anak, ukuran sinus masih kecil, tapi pada

saat dewasa ukuran akan membesar dan menembus sebagian besar struktur

sentral pada wajah.14

3
Gambar (b) Maksilla

C. EPIDEMIOLOGI FRAKTUR MAKSILLA


Fraktur pada midface seringkali terjadi akibat kecelakaan kendaraan

bermotor, terjatuh, kekerasan, dan akibat trauma benda tumpul lainnya.

Fraktur maksilla kejadiannya lebih rendah dibanding fraktur midface lainnya.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Rowe dan Killey, rasio antara fraktur

mandibula dan maksilla adalah 4:1. Beberapa studi terakhir yang dilakukan di

rumah sakit pada beberapa negara menunjukkan bahwa insiden fraktur

maksilla lebih banyak terkait dengan fraktur mandibula. Data lainnya juga

dilaporkan bahwa diantara 663 pasien fraktur tulang wajah, hanya 25,5%

berupa fraktur maksilla.6


Di University of Kentucky Medical Centre, dari 326 pasien wanita

dewasa dengan facial trauma, sebanyak 42,6% trauma terjadi akibat

kecelakaan kendaraan bermotor, 21,5% akibat terjatuh, akibat kekerasan

4
13,8%, penyebab yang tidak ingin diungkapkan oleh pasien 10,7%, cedera

saat olahraga 7,7%, akibat kecelakaan lainnya 2,4% dan luka tembak sebagai

percobaan bunuh diri serta kecelakaan kerja masing-masing 0,6%. Diantara

45 pasien korban kekerasans, 19 orang diantaranya mengalami trauma wajah

akibat kekerasan dalam rumah tangga.7

D. ETIOLOGI
Dalam empat dekade terakhir, kejadian fraktur maksillofasial terus

meningkat disebabkan terutama akibat peningkatan kecelakaan lalu lintas dan

kekerasan. Hubungan penggunaan alkohol, obat-obatan, mengemudi mobil,

dan peningkatan kekerasan merupakan penyebab utama terjadinya frakur

maksillofasial. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab tertinggi dari

fraktur maksillofasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada

orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angkat terbesar

biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun. Di india, 74,3%

fraktur maksillofasial disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, diikuti oleh

penyebab lain yaitu terjatuh dari ketinggian, kekerasan, olahraga, dan

kecelakaan kerja. Selain faktor eksternal diatas, fraktur maksilla juga dapat

terjadi karena faktor internal yaitu karena keadaan patologis dari rahang

sebelumnya.2
E. KLASIFIKASI FRAKTUR MAKSILLA
Klasifikasi fraktur maksilla yang paling utama dilakukan oleh Rene Le

Fort pada tahun 1901 di Perancis. Klasifikasi Le Fort terbagi menjadi tiga,

yaitu :8,9,10
1. Le Fort I (fraktur Guerin, transversal)
Garis fraktur pada maksilla bagian bawah dapat memisahkan

palatum dari korpus maksilla. Bila komplit garis fraktur dapat meliputi

5
septum nasi bagian bawah, dasar hidung, bagian lateral apertura piriformis,

fosa kanina, dasar sinus maksillaris dan dinding anterolateral maksilla.

Gambar (c) Le Fort I

2. Le Fort II (piramidal)
Merupakan 35-55% dari fraktur maksilofasial, arah dapat juga dari

horizontal. Bila komplit garis fraktur pada tulang nasal, prosesus frontalis

maksilla, tulang lakrimal, daerah infra orbita (mendekati garis sutura

zygomatiko maksillaris) dan lateral dinding sinus maksillaris.

Gambar (b) Le Fort II

3. Le Fort III (craniofacial disjunction)


Merupakan tipe terberat karena dapat memisahkan bagian bawah

maksilla dengan basis kepala, namu tipe ini jarang dijumpai sekitar 5-

15%. Arah trauma dapat oblik maupun horizontal. Bila komplit garis

fraktur terletak pada sisi atas hidung (sutura fronto nasal) yaitu fraktur

6
tulang nasal, prosesus frontal maksilla, tulang lakrimal, lamina papirasea,

sinus ethmoid dan fissura orbitalis inferior.

Gambar (d) Le Fort III

F. PEMERIKSAAN
Anamnesis
Keluhan, riwayat cedera: kapan dan posisi jatuh, mekanisme cedera, alergi,

obat yang pernah dikonsumsi, riwayat kesehatan, riwayat dental.11


Pemeriksaan klinis
Fraktur maksilla terbagi atas fraktur Le Fort I, Le Fort II, dan Le Fort III,

dimana pemeriksaan klinis pada masing-masing frkatur Le Fort tersebut

berbeda.12

Gambar (e) Teknik Palpasi

7
1. Fraktur Le Fort I
Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort I dilakukan dalam dua

pemeriksaaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan

ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Secara

inspeksi dapat terlihat adanya edema pada bibir atas dan ekimosis.

Sedangkan secara palpasi terdapat bergeraknya lengkung rahang atas.

Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara inspeksi dan

palpasi. Secara inspeksi dapat terlihat adanya open bite anterior.

Sedangkan secara palpasi terdapat rasa nyeri.

Gambar (f) Le Fort I

Selanjutnya pemeriksaan fraktur Le Fort I dilakukan dengan foto

rontgen dengan proyeksi wajah anterolateral.


2. Fraktur Le Fort II
Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort II dilakukan dalam dua

pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan

ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Secara

inspeksi dapat terlihat pupil cenderung sama tinggi, ekimosis, dan edema

8
periorbital. Sedangkan secara palpasi terdapat tulang hidung bergerak

bersama dengan wajah tengah, mati rasa pada daerah kulit yang

dipersarafi oleh nervus infraorbitalis. Pada pemeriksaan intra oral,

pemeriksaan dilakukan secara inspeksi dan palpasi. Secara inspeksi dapat

terlihat adanya gangguan oklusi tetapi tidak separah jika dibandingkan

dengan fraktur Le Fort I. Sedangkan secara palpasi terdapat bergeraknya

lengkung rahang atas.

Gambar (g) Le Fort II

Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pemeriksaan dengan

foto rontgen proyeksi wajah anterolateral, foto wajah, dan CT Scan.


3. Fraktur Le Fort III
Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort III dilakukan secara ekstra

oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan

inspeksi. Secara inspeksi dapat terlihat pembengkakan pada daerah

kelopak mata, ekimosis periorbital bilateral. Usaha untuk melakukan tes

mobilitas pada maksilla akan mengakibatkan pergeseran seluruh bagian

atas wajah.
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pemeriksaan dengan

foto rontgen proyeksi wajah anterolateral, foto wajah polos, dan CT Scan.

9
Gambar (h) CT Scan

G. PENATALAKSANAAN
Pada fraktur Le Fort I dirawat dengan menggunakan arch bar, fiksasi

maksilomandibular, dan suspensi kraniomandibular yang didapatkan dari

pengawatan sirkumzigomatik. Apabila segmen fraktur mengalami impaksi,

maka dilakukan pengungkitan dengan menggunakan tang pengungkit, atau

secara tidak langsung dengan menggunakan tekanan pada splint/ arch bar.
Perawatan pada fraktur Le Fort II serupa dengan fraktur Le Fort I.

Perbedaannya hanya perlu dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita.

Fraktur nasal biasanya direduksi dengan menggunakan molding digital dan

splinting.
Fraktur Le Fort III dirawat dengan menggunakan arch bar, fikasasi

maksilomandibular, pengawatan langsung bilateral, atau pemasangan plat

pada sutura zygomatikofrontalis dan suspensi kraniomandibular pada

prosessus zygomatikus ossis frontalis.1,5,13

10
Gambar (i) Penggunaan mini plate

H. PROGNOSIS
Fikasasi intermaksilari merupakan treatment paling sederhana dan salah

satu yang paling efektif pada fraktur maksilla. Jika teknik ini dapat dilakukan

sesegera mungkin setelah terjadi fraktur, maka akan banyak deformitas wajah

akibat fraktur dapat kita eliminasi. Mandibula yang utuh dalam fiksasi ini

dapat membatasi pergeseran wajah bagian tengah menuju kebawah dan

belakang, sehingga elongasi dan retrusi wajah dapat dihindari. Sedangkan

fraktur yang baru akan ditangani setelah beberapa minnggu kejadian, dimana

sudah mengalami penyembuhan secara parsial, hampir tidak mungkin untuk

reduksi tanpa full open reduction, bahkan kalaupun dilakukan tetap sulit

untuk direduksi.11
I. KOMPLIKASI
Komplikasi awal fraktur maksilla dapat berupa perdarahan ekstensif

serta gangguan pada jalan nafas akibat pergeseran fragmen fraktur, edema,

dan pembengkakan jaringan lunak. Infeksi pada luka maksilari lebih jarang

pada luka fraktur mandibula. Padahal luka terkontaminasi saat cedera oleh

segmen gigi dan sinus yang juga mengalami fraktur. Infeksi akibat fraktur

yang melewati sinus biasanya tidak akan terjadi kecuali obstruksi

11
sebelumnya. Pada fraktur Le Fort I, II, dan IIII, daerah kribiform dapat pula

mengalami fraktur, sehingga terjadi rhinorrhea cairan serebrospinal. Selain

itu, kebutaan juga dapat tterjadi akibat pendarahan dalam selubung dural

nervus optikus. Komplikasi akhir dapat berupa kegagalan penyatuan tulang

yang mengalami fraktur, penyatua yang salah, obstruksi sistem lakrimal,

anesthesia/hipoestesia infraorbita, devitalisasi gigi, ketidakseimbangan otot

ekstraokuler, diplopia, dan enoftalmus. Kenampakan wajah juga dapat

berubah (memanjang, retrusi).6

BAB III
PENUTUP

Fraktur maksilla merupakan bagian dari trauma maxillofacial yang cukup

sering ditemukan, walaupun lebih jarang dibandingkan dengan fraktur mandibula.

Fraktur adalah hilangnya atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. Menurut

Reksoprodjo, fraktur adalah suatu keadaan dimana tulang retak, pecah atau patah,

baik tulang maupun tulang rawan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Rowe dan

Killey, rasio antara fraktur mandibula dan maksilla adalah 4:1. Beberapa studi

terakhir yang dilakukan di rumah sakit pada beberapa negara menunjukkan bahwa

insiden fraktur maksilla lebih banyak terkait dengan fraktur mandibula. Kecelakaan

lalu lintas merupakan penyebab tertinggi dari fraktur maksillofasial yang dapat

membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50

12
tahun dan angkat terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 21-30 tahun.

Klasifikasi fraktur maksilla yang paling utama dilakukan oleh Rene Le Fort pada

tahun 1901 di Perancis. Klasifikasi Le Fort terbagi menjadi tiga, yaitu Fraktur Le

Fort I, II, dan III. Penatalaksanaan yaitu dengan reposisi, fiksasi, immobilisasi.

Komplikasi awal fraktur maksilla dapat berupa perdarahan ekstensif serta gangguan

pada jalan nafas akibat pergeseran fragmen fraktur, edema, dan pembengkakan

jaringan lunak.

DAFTAR PUSTAKA

1. Fraioli Rebecca E, MD, et al. Facial Fractures: Beyond Le Fort. Otolaryngol

Clin N Am. 2008; 41: 51-76.


2. Stack CB, Ruggiero PF. Maxillary and Periorbital fractures. In: Bailey JB,

Johnson TJ, eds. Head and Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Lippincott

Williams dan Wilkins. Philadelphia; 2006: 975-993.


3. Bailey H. Ilmu bedah gawat darurat Ed. II. Yogyakarta: Gajah Mada University

Press, 1992.
4. Reksoprodjo S. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta: Binarupa Aksara, 1995.
5. Fitriana E, Syamsuddin E, Fathurrahman. Karakteristik, insiden, dan

penatalaksanaan fraktur maksillofasial pada anak di Rumah Sakit Dr. Hasan

Sadikin Bandung. Bandung FK Universitas Padjajaran, 2013: p. 1-14.


6. Rhea James T, Novelline Robert A. How to simplify the CT diagnosis of Le Fort

Fractures. AJR. 2005; p: 1700-1705.


7. Werning John W, MD, et al. The impact of osteoporosis on patients with

maxillofacial trauma. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2004; p. 353-356.

13
8. SJ Mathes ed. Facial fracture. In: Plastic Surgery Vol 3, 2nd ed. Elseiver Inc:

Philadelphia; 2006. p. 229-255.


9. Murr HA. Maxillofacial trauma. In: Lalwani KA ed. Current Diagnosis and

Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2 nd ed. Lange Mc Graw

Hill. New York; 2003. P. 203-213.


10. Thornton FJ, Talvera F, Garza`RJ eds. Facialtrauma, maxillary and Le Fort

fractures. E medicine. Last update june 8, 2006. Accesed 9-20. 2008.


11. Hopper Richard A, MD, et al. Diagnosis of midface fractures with CT: What the

surgeon need to know. Radiographics; 2006. p . 783-793.


12. Malik A. Insidensi fraktur maksilofasial akibat kecelakaan lalu lintas pada

pengendara sepeda motor yang dirawat di RSUP. Medan.


13. Baumann A, Troulis MJ, Kaban LB. Facial trauma: dentoalveolar injuries and

mandibular fractures. In: Kaban LB, Troulis MJ, Pediatric oral and

maxillofacialsurgery. USA: Elseivier Science; 2004. P.446.


14. Tiwana Paul S, et al. Maxillary sinus augmentation. Dent Clin N Am. 2006; p.

409-424.

14