Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berdasarkan data Kabupaten Ketapang dalam Angka tahun 2016, Kabupaten
Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan
Barat dengan penggunaan air bersih pada tahun 2015 sebesar 1.201.987 m 3.
Penggunaan air bersih dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi cuci
kakus menghasilkan 70% air kotor yang dibuang ke saluran (Suhardjono, 1984).
Air kotor yang dibuang ke saluran akan bercampur dengan limpasan air hujan.
Beberapa debit limpasan air hujan yang tidak masuk ke dalam saluran akan
mengalir di permukaan tanah dan masuk ke dalam tanah sedangkan sisa debit
lainnya akan mengalir ke badan air terdekat seperti sungai. Namun debit limpasan
hujan yang seharusnya masuk ke dalam saluran dapat menjadi masalah pada
lingkungan apabila menjadi genangan pada badan jalan.
Kecamatan Pemahan salah satu kecamatan di Kabupaten Ketapang dengan
persentase luas wilayah sebesar 1,03%. Penggunaan air bersih pada kecamatan ini
hanya 1,04% berdasarkan perbandingan penduduk di Kecamatan Pemahan dan
Kabupaten Ketapang (Kabupaten Ketapang dalam Angka, 2016). Air limbah yang
dihasilkan dari penggunaan air bersih pada wilayah ini masih belum memiliki
sistem penyalurannya sehigga air limbah tersebut langsung dibuang ke badan air
ataupun saluran yang digunakan untuk mengalirkan limpasan air hujan atau
disebut drainase. Sedangkan drainase yang terdapat pada wilayah ini masih
menggunakan paradigma lama yaitu mengalirkan secepatnya air hujan berupa
limpasan ke penerima air atau badan air terdekat.
Jenis drainase yang terdapat di Kecamatan Pemahan adalah drainase alami.
Diketahui bahwa drainase berfungsi untuk mengeringkan daerah laliran limpasan
air hujan disekitarnya. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi jalan di
Kecamatan Pemahan. Beberapa jalan di wilayah ini mengalami kerusakan ringan
pada musim hujan sehingga mengganggu aktivitas lalu lintas. Berbeda halnya
apabila pada musim kemarau, drainase tersebut hanya terisi oleh air limbah
permukiman yang memiliki debit kecil dibandingkan debit air limpasan hujan.
Hal ini mengakibatkan aliran pada drainase menjadi lambat sehingga berpotensi
timbulnya permasalahan pada drainase yaitu terjadi pendangkalan akibat sedimen
dan buruknya estetika yaitu timbulnya bau serta berpotensi menjadi tempat
berkembangbiaknya vektor penyakit seperti nyamuk, lalat, dan lain-lainnya.
Menurut Masduki (1988) hal tersebut dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit seperti malaria, muntaber, diare, dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Perencanaan ini merupakan salah satu solusi alternatif untuk mengurangi
permasalahan yang terjadi pada Kecamatan Pemahan akibat buruknya sistem
pengelolaan air limbah. Sehingga perlu direncanakan sistem penyaluran air
limbah yang tepat. Selain itu direncanakan drainase dengan dimensi yang tepat
agar tidak terjadi genangan pada kawasan tersebut yang dapat mengganggu
estetika dan kenyamanan penduduk sekitar. Oleh karena itu perencanaan ini
diharapkan dapat memenuhi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
2015-2019 pada pembangunan kawasan permukiman dimana salah satu
sasarannya yaitu meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak.

1.2 Tujuan

Tujuan dari perencanaan ini untuk merancang sistem penyaluran air


buangan dan drainase, serta menganalisis rancangan berdasarkan kriteria desain.

1.3 Cakupan Pekerjaan


Cakuapan pekerjaan dalam perencanaan ini meliputi analisis air buangan
serta merancang saluran drainase untuk menampung air buangan setiap rumah,
skema aliran air rencana drainase, gambar tata letak saluran drainase dan saluran
air buangan, dimensi saluran drainase dan saluran air buangan, dan gambar detail
penampang saluran. Kemudian dilakukan analisa rencana anggaran biaya dari
perencanaan air buangan dan drainase. Pembangunan sistem penyalur air buangan
dan drainase direncanakan selama 20 tahun. Hal ini berdasarkan Kementerian
Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2013 dalam Modul 04
Penyusunan Perencanaan Sistem Pengelolaan Air Limbah bahwa rencana induk
pengembangan sarana dan prasarana air limbah direncanakan untuk periode
perencanaan 20 tahun. Hal tersebut juga bersesuaian dengan UU No 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembanguan Nasional.