Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN

PENGABDIAN MASYARAKAT

PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) BAGI PERAWAT


DAN UMUM DI RS PMC PEKANBARU

OLEH:

Ns. AWALIYAH ULFAH AYUDYTHA, S.Kep, MARS (NIDN. 1016048704)


Ns. WAHYU SAPUTRA, S.Kep (NUPN. -)
ELKA RENADIKA (NIM. 13010006)
LISA ANGGRAINI (NIM. 13010012)
ANGGI (NIM.13010002)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


PEKANBARU MEDICAL CENTER (PMC)
2016
HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul : Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi Perawat


dan Umum di RS PMC Pekanbaru

2. Ketua
a. Nama : Awaliyah Ulfah Ayudytha Ezdha
b. NIDN : 1016048704
c. Jabatan/ Golongan : Asisten Ahli/ III B
d. Program Studi
e. Perguruan Tinggi : Keperawatan
f. Bidang Keahlian : STIKes Pekanbaru Medical Center Pekanbaru
g. Alamat Kantor/ Telp/ Surel : Manajemen Rumah Sakit
: Jl. Lembaga Pemasyarakatan no 25 Pekanbaru /
085271338803/ dhita_87@yahoo.com

3. Anggota Tim Pengusul


a. Jumlah Anggota : Dosen 1 (satu) orang
b. Nama Anggota/ Bidang Keahlian : Ns. Wahyu Saputra, S.Kep
c. Mahasiswa yang Terlibat
: 3 (Tiga) Orang

4. Lokasi Kegiatan/ Mitra


a. Wilayah Mitra : RS Pekanbaru Medical Center
b. Kabupaten/ Kota : Pekanbaru
c. Provinsi : Riau

5. Luaran yang Dihasilkan : Artikel Ilmiah

6. Biaya Total : Rp. 4.000.000

Pekanbaru, 2016
Mengetahui,
Ketua STIKes PMC Pekanbaru Ketua

Prof. dr. H. K. Suheimi, SpOG (K) FER Ns. Awaliyah Ulfah Ayudytha,
NIDK. 8859600016 MARS
NIDN. 1016048704

Menyetujui,
Ketua LPPM STIKes PMC
Mona Dewi Utari, SST, M.Kes
NIDN. 1015038901
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keadaan gawat darurat dapat terjadi karena ulah manusia atau alam. Gadar

sehari - hari merupakan masalah dimana sebelumnya infeksi merupakan penyebab

kematian utama, sekarang jantung koroner , penyakit degeneratif dan kecelakaan

lalulintas ( KLL ) sudah merupakan penyebeb kematian utama didaerah perkotaan.

Peningkatan kwalitas tenaga kesehatan baik yang berada di rumah sakit maupun pra

rumah sakit merupakan slah satu faktor yang berperan dalam menentukan angka

kematian.

Guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para tenaga kesehatan,

Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) Pekanbaru melakukan pelatihan

Bantuan Hidup Dasar Plus atau Basic Life Support bagi para karyawan (umum dan

perawat).

Program ini mendapat sertifikasi untuk setiap tenaga perawat yang

mengikutinya. Dikarenakan kebutuhan dari rumah sakit dan ketersediaan sumber daa

yang memberikan pelatihan maka dilakukan lah pelatihan BHD ini. Materi BHD

yang diberikan oleh para dosen STIKes PMC di fasilitasi dan dibantu oleh mahasiswa

meliputi : pengenalan alat pelindung, matarantai penyelamatan, survey awal DRABC,

manajemen Air Way, Breathing, Cirkulasi, serta ambulance dan Evakuasi, Neonatus

Life Suport, terapi cairan serta obat - obat resusitasi.


B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Peserta mampu memahami dan mengenali suatu kondosi kegawatdaruratan

serta mamapu melakukan pertolongan pertama ( bantuan Hidup Dasar )sesuai dengan

mata tantai penyelamatan sehingga dapat meningkatkan Mutu Rumah Sakit.

2. Tujuan Khusus

Peserta mampu mengenal dan menggunakan alat pelindung diri

Peserta mampu memahami mata rantai penyelamatan

Peserta mampu melakukan survay awal ( DRABC )

Peserta mampu memanggil bantuan untuk melakukan pertolongan

Peserta mampu mengenali tanda tanda sumbatan jalan napas

Peserta mampu memberikan pertolongan untuk membebaskan jalan napas

Peserta mampu mengenal dan memahami macam gangguan pernapasa

Peserta mampu mengetahui pertolongan tanpa atau dengan alat

Peserta mampu mengenali adanya tanda tanda gangguan sirkulasi

Peserta mampu memulai dan beraskhir melakukan pijat jantung

Perserta mampu melakukan pijat jantung yang baik dan benar pada semua

usia ( Dewasa, Anak , Neonatus )

Peserta mampu melakukan evakuasi bersama tim ambulance

Peserta mampu melakukan komunikasi dengan benar dengan ambulance pra

rumah sakit
C. Sasaran Kegiatan

Sasaran kegiatan pelatihan BHD adalah Seluruh karyawan / Perawat RS

Pekanbaru Medical Center (PMC) yang belum mengikuti pelatihan BHD.

D. Materi Pelatihan

1. Pre dan Post tes

2. Universal Percaution

3. Mata rantai penyelamatan

4. Survei awal ( DRABC )

5. Managemen Air Way

6. Managemen Brithing

7. Managemen Circulation

8. Praktek BHD pada dewasa, anak dan neonates

9. Komunikasi

10. Evakuasi korban/pasien

E. Metode Pelatihan

Metode pelatihan yang dikembangkan adalah metode ceramah, Tanya jawab,

diskusi, presentasi kasus, role play, Praktek BHD , evaluasi akhir dalam bentuk post

tes tulis, tes pengenalan alat, tes praktek BHD perorangan dan kelompok.

F. Sarana Pendukung

1. Manikin Untuk praktek

2. Alat - alat bantu dari UGD/ Ambulance ( Kit BHD )


3. LCD, Laptop, Soundsistem

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

Pelaksanaan Kegiatan BHD ini mendapat sambutan baik dari jajaran direksi

RS Pekanbaru Medical Center (PMC). Hal ini dikarenakan kedua belah pihak sama

sama membutuhkan pelaksanaan kegiatan ini. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan

Bantuan Hidup Dasar yang dilaksanakan selama 6 hari untuk tiap gelombang yang

dimulai dari jam 08.00 - 14.00 WIB.

A. Kegiatan dan Rincian Kegiatan

Langkah langkah kegiatan dalam pelatihan sebagai berikut :

1. Persiapan

a. Memastikan adanya kebutuhan pelatihan sesuai dengan RKA

b. Mengirimkan undangan dan permohonan tempat pelaksanaan kegiatan

pengabdian masyarakat pelatihan BHD ke RS PMC Pekanbaru

c. Menyiapkan segala keperluan menyangkut pelaksanaan pelatihan

d. Penentuan peserta berupa pemberitahuan/undangan ke bagian unit terkait

untuk menentukan peserta pelatihan

e. Bekerjasama dengan pihak lain untuk menyiapkan konsumsi bagi peserta dan

tutor pelatihan.

2. Pelaksanaan

a. Mengatur ruangan, alat audio visual dan alat peraga yang dibutuhkan

b. Peserta mengisi daftar hadir


c. Presentasi, diskusi, praktek sesuai dengan alokasi waktu yang telah

ditentukan.

d. Menyediakan konsumsi bagi peserta dan tutor pelatihan

3. Evaluasi Pelatihan : evaluasi terhadap peserta dan penyelenggaraan pelatihan

4. Pemberian sertifikat

5. Tindak lanjut

Evaluasi dari peserta pelatihan merupakan bahan masukan baik bagi

penyelenggara kegiatan ini karena diharapkan kegiatan ini dapat terus berjalan

untuk peningkatan pengetahuan kedua belah pihak.

B. Waktu Dan Tempat.

Pelatihan di laksanakan pada :

Tanggal : 10 Oktober - 14 Oktober 2016

Jam : 08 .00 - 14.00

Tempat pelaksanaan : Ruang Rapat Lt 3 RS Pekanbaru Medical Center Pekanbaru

C. Cara Melakukan Kegiatan

1. Menyiapkan Garis - Garis Besar Program Pengajaran pelatihan untuk para

tutor

2. Menyiapkan materi - materi pelatihan bagi peserta

3. Menyiapkan soal pre/post tes bagi para peserta

4. Menyiapkan tatatertip bagi peserta

5. Paling lambat 30 menit sebelum pelatihan telah disiapkan : ruangan, alat

audio visual, alat peraga, daftar hadir peserta.


6. Paling lambat 15 menit sebelum pelatihan Tutor dan peserta pelatihan sudah

berada ditempat

7. Peserta mengisi daftar hadir dengan menulis nama dan paraf pada kolom

datang.

8. Metode pelatihan : tatap muka, tanya jawab, simulasi dan praktek setiap

peserta dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan

9. Memberikan waktu istirahat bagi peserta pelatihan dan tutor selama 15 untuk

snack dan 60 menit untuk makan siang.

10. Pada akhir pelatihan dilakukan evaluasi pelaksanaan pelatihan yaitu peserta

mengisi evaluasi penyelenggaraan pelatihan tanpa menulis nama.

11. Peserta mengisi daftar hadir yaitu paraf pada kolom pulang

12. Melakukan evaluasi bagi tutor setiap selesai pelaksanaan pelatihan

13. Sertifikat bagi peserta pelatihan

D. Jadual Pelaksanaan Kegiatan dan Materi pelatihan

Pelaksanaan pelatihan Bantuan Hidup Dasar direncanakan diikuti oleh seluruh

karyawan (perawat dan bagian umum) RS PMC yang belum mengikuti BHD selama

5 hari dan lamanya 8 jam. (PoA dan Materi terlampir)

E. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan dan Pelaporan

Evaluasi pelatihan meliputi :

1. Evaluasi kemampuan peserta pelatihan baik dalam hal pengetahuan maupun

ketrampilan.

2. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan meliputi : tutor, materi, dan

pelaksanaan pelatihan.
MATERI PELATIHAN

BTCLS BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)

1. Tujuan BHD
Mempertahankan pernafasan dan sirkulasi yg adekuat sampai kondisi yg

menyebabkan henti nafas dan henti jantung dapat diatasi.


2. Definisi Henti Nafas dan Henti Jantung
Henti nafas adalah apabila pernafasan berhenti (apnea). Sedangkan henti jantung

adalah apabila jantung berhenti berkontraksi dan memompa darah. Kedua

keadaan ini saling kait-mengkait.


3. Sebab-Sebab Henti Nafas dan Henti Jantung
Henti nafas dapat disebabkan oleh gangguan atau penyakit pada jalan nafas atau

pernafasan (primer) dan henti jantung diakibatkan gangguan atau penyakit

kardiovaskular (primer). Meskipun demikian banyak penyakit-penyakit yg secara

sekunder akan membahayakan pernafasan dan jantung yg pada akhirnya

mengakibatkan henti nafas dan henti jantung.

Sistem kardiovaskuler dan pernafasan selalu berinteraksi.

Sebab-sebab henti nafas

1. Sumbatan jalan nafas Sumbatan jalan nafas dapat terjadi total atau sebagian.

Sumbatan jalan nafas total dengan cepat dapat menyebabkan edema otak atau

edema paru, kelelahan bernafas, apnea sekunder dan kerusakan otak karena

hipoksia seperti pada henti jantung. Sebab-sebab sumbatan jalan adalah:


a. Darah
b. Muntahan
c. Benda asing
d. Trauma langsung pada wajah atau tenggorokan
e. Spasme larings, bronkus
f. Radang
g. Depresi susunan syaraf pusat oleh karena trauma kepala, tumor, gangguan

metabolik dan obat-obatan misalnya narkotika.


2. Gangguan atau penyakit paru
Kelainan patologis paru yg berat akan memperburuk oksigenasi dan ventilasi,

yaitu:
a. Infeksi
b. Aspirasi
c. Asthma bronchial
d. Edema paru
e. Kontusio paru
f. Pneumotoraks, hematoraks

3. Gangguan neuromuscular

Otot-otot pernafasan utama adalah diafragma dan otot-otot interkostal. Otot-

otot interkostal dapat lumpuh bila terjadi kerusakan pada vertebra servikalis.

Mislanya pada:

a. Myasthenia gravis
b. Sindrom guillain-barre
c. Multiple sclerosis
d. Poliomyelitis
e. Kyphoscoliosis
f. Distrofi muskuler
g. Penyakit motor neuron

Sebab-sebab henti jantung

Sebab henti jantung dapat primer atau sekunder. Henti jantung primer adalah

apabila penyebab yang langsung terjadi dari jantung, yaitu:

1. Gagal jantung
2. Temponade jantung
3. Miokarditis
4. Kardiomiopatik hipertrofik
5. Fibrilasi ventrikel akibat : iskemia miokardium, infark miokardium, sengatan

listrik, obat-obatan, gangguan listrik.

Henti jantung sekunder terjadi akibat gangguan yang berasal dari luar jantung,

misalnya:

1. Asfiksia karena sumbatan jalan nafas


2. Anoksia karena tercekik, edema paru
3. Kehilangan darah banyak yang akut
4. Hipoksemia karena anemia
5. Syok septik stadium hari

Indikasi BHD

1. Henti jantung
2. Henti nafas

Tahapan-tahapan BHD

Tindakan BHD dilakukan secara berurutan dimulai dengan penilaian dan

dilanjutkan dengan tindakan. urutan tahapan BHD adalah menilai, mengaktifkan

LGD/EMS (Emergency medical System), melakukan tindakan ABCD.

Menilai kesadaran

Memeriksa pasien dan lihat responnya dengan menggoyang bahu pasien

dengan lembut dan bertanya cukup keras "apakah kami baik-baik saja?" Atau "siapa

namamu"

1. Bila pasien menjawab atau bergerak, biarkan pasien tetap lasa posisi ditemukan,

kecuali bila ada bahaya pada posisi tersebut dan dipanta5 secara terus-menerus
2. Bila pasien tidak memberikan respon, aktifkan EMS/LGD. Berteriaklah mencari

bantuan, sembari buka jalan nafas.


Gbr. Menilai Kesadaran

Mengaktifkan Unit Gawat Darurat / UGD (Emergency Medical System = EMS)

Meminta bantuan atau dengan berteriak atau menelepon UGD/EMS misalnya 118.

Pada waktu meminta bantuan sebutkan lokasi kejadian, jenis kejadian (misalnya

serangan jantung, trauma, dll) beberapa pasien yang perlu bantuan, kondisi pasien,

bantuan apa yang sudah diberikan, dll)

AIRWAY

apabila pasien tidak memberikan respon, pastikan apakah pasien bernafas dengan

sempurna. Untuk menilai pernafasan, pasien harus pada posisi terlentang dengan jalan

nafas terbuka.

Posisi pasien

Posisi pasien terbaik untuk dinilai pernafasan dan diberi bantuan resusitasi adalah

pasien posisi terlentang pada dasar yang keras dan datar. Apabila pada saat ditemukan

pasien pada posisi telungkup, maka harus ditelentangkan secara simultan antara

kepala, bahu dan dada tanpa memutar badan (teknik roll-on)

Posisi penolong

Posisi penolong disamping pasien, posisi siap untuk melakukan pemberian nafas

buatan dan kompresi dada.

buka jalan nafas

Pada pasien yang tidak sadar, maka tonus otot-otot rahang lemah sehingga lidah dan

epiglotis dapat menyumbat farings atau jalan nafas atas.

Penolong dapat membuka jalan nafas dengan cara angkat kepala, angkat dagu (head

thilt chin lift Manuever), cara lain untuk membuka jalan nafas adalah dorong rahang

bawah (jaw thrust Manuever). Cara ini hanya boleh dilakukan oleh penolong seorang
petugas kesehatan dan korban ada riwayat trauma kepala atau leher. Dengan cepat

bersihkan muntahan atau benda asing yang nampak ada dalam mulut.

head thilt chin lift Manuever

Posisikan telapak tangan pada dahi smabil mendorong dahi kebelakang, pada waktu

yang bersamaan, ujung jari tangan yang lain mengangkat dagu. Ibu jari dan telunjuk

harus bebas agar dapat digunakan menutup hidung jika perlu memberikan nafas

buatan.

jaw thrust Manuever

Posisikan setiap tangan pada sisi kanan dan kiri kepala pasien, dengan siku bersandar

pada permukaan tempat pasien terlentang dan pegang sudut rahang bawah dan angkat

dengan kedua tangan akan mendorong rahang bawah depan.

Gbr. Head thilt-chin lift manuever dan jaw thrust manuever

BREATHING

Sambil mempertahankan jalan nafas terbuka, dinilai pernafasan dengan mendekatkan

telinga ke hidung dan mulut pasien.

Look, Feel and Listen ada tidaknya udara keluar masuk :

- lihat pergerakan naik turunnya dada


- dengar suara nafas pada mulut pasien

- rasakan hembusan nafas dipipi

Gbr. Menilai Pernafasan

Penilaian ini dilakukan tidak boleh lebih dari 10 detik.

Bila pernafasan memadai:

Posisikan pasien pada posisi mantap (recovery position) bila tidak ada riwayat trauma

leher, pantau terus pasien dan mencari bantuan. Bila tidak ada pernafasan cari

bantuan (aktifkan LGD/EMS), pasien diposisikan telentang, buka jalan nafas dan

bersihkan sumbatan yang terlihat didalam mulut pasien dan berikan bantuan

pernafasan buatan.

Posisi sisi mantap (recovery position)

Pada pasien yang tidak sadar, bernafas spontan dan teraba sirkulasi spontan, maka

pertolongan ditujukan untuk mempertahankan jalan nafas bebas dari sumbatan lidah
dan mengurangi terjadinya aspirasi isi lambung. Oleh karena itu pasien diatur pada

posisi mantap, yaitu:

- lengan yang dekat penolong diluruskan kearah kepala.

- lengan yang satunya menyilang dada, kemudian tekankan tangan tersebut ke

pipinya.

- tarik tungkai hingga tubuh pasien terguling kearah penolong, baringkan miring

dengan tungkai atas membentuk sudut dan menahan tubuh dengan stabil agar tidak

menelungkup.

- periksa pernafasan terus menerus.

Gbr. Posisi Sisi Mantap (Recovery Position)

pernafasan buatan

Bantuan ini harus diberikan pada semua pasien yang tidak bernafas atau

pernafasannya tidak memadai. Nafas buatan dimulai dengan 2 kali nafas pelan,

efektif (dalam 1 detik), kemudian dilanjutkan nafas buatan 12x/menit.

Beberapa cara memberikan bantuan pernafasan buatan adalah:

- pernafasan buatan mulut ke mulut


- pernafasan buatan mulut ke hidung

- pernafasan buatan mulut ke sungkup

- pernafasan buatan dengan kantung nafas buatan (bag mask device)

1. Pernafasan Buatan Mulut ke Mulut

Nafas buatan mulut ke mulut adalah cara yang paling sederhana, cepat meskipun

menggunakan udara ekhalasi penolong dengan kadar oksigen sekitar 16% saja.

caranya :

- pertahankan head thilt chin lift

- jepit hidung dengan ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang melakukan head thilt

- buka sedikit mulut pasien

- tarik nafas panjang dan tempelkan rapat bibir penolong melingkari mulut pasien,

kemudian tiupkan lambat, setiap tiupan selama 2 detik dan pastikan sampai daa

terangkat.

- tetap pertahankan head thilt chin lift, lepaskan mulut penolong dari mulut pasien,

lihat apakah dada pasien turun waktu ekshalasi.

Gbr. Pernafasan buatan mulut ke mulut


2. Pernafasan Buatan Mulut Ke Hidung

Nafas buatan ini dilakukan bila pernafasan mulut ke mulut sulit misalkan karena

trismus, caranya adalah katupkan mulut pasien disertai chin lift, kemudian tiupkan

udara seperti pernafasan mulut ke mulut. Buka mulut pasa waktu ekshalasi.

3. Pernafasan Buatan Mulut Ke Sungkup

Penolong meniupkan udara melalui sungkup yang diletakan diatas dan melingkupi

mulut serta hidung pasien. Sungkup ini terbuat dari plastik transparan sehingga

muntahan dan warna bibir pasien dapat terlihat.

caranya :

- letakkan pasien pada posisi terlentang

- letakkan sungkup pada muka pasien dan dipegang dengan kedua ibu jari

- lakukan head thilt chin lift/jaw thrust, tekan sungkup kemuka pasien agar rapat

kemudian tiup melalui lubang sungkup sampai dada terangkat

- hentikan tiupan dan amati turunnya dada.


Gbr. Pernafasan buatan mulut kesungkup

4. Pernafasan Dengan kantung Nafas Buatan

Alat kantung nafas terdiri dari kantung dan katup satu arah yang menempel pada

sungkup muka. Volume dari kantung nafas ini 1600 ml. Alat ini bisa digunakan untuk

memberikan nafas buatan dengan atau disambungkan dengan sumber oksigen. Bila

disambungkan ke oksigen dengan kecepatan aliran 12 liter per menit (ini dapat

memberikan konsentrasi oksigen yang diinspirasi sebesar 7,40%), maka penolong

hanya memompa sebesar 400-600 ml (6-7ml/kg) dalam 1-2 detik ke pasien, bila tanpa

oksigen dipompakan 10 ml/kg berat badan pasien dalam 2 detik. Caranya dengan

menempatkan tangan untuk membuka jalan nafas dan meletakkan sungkup menutupi

muka dengan teknik E-C Clamp, yaitu ibu jari dan jari telunjuk penolong membentuk

huruf "C" dan mempertahankan sungkup dimuka pasien. Jari-jari ketiga, empat dan

lima membentuk huruf "E" dengan meletakkannya dibawah rahang bawah untuk

mengangkat dagu dan rahang bawah, tindakan ini akan mengangkat lidah dari

belakang faring dan membuka jalan nafas.

a. Bila dengan 2 penolong, satu penolong pada posisi diatas kepala pasien

menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan untuk mencegah agar tidak

terjadi kebocoran disekitar sungkup dan mulut, jari-jari yang lain mengangkat rahang

bawah dengan mengekstensikan kepala sembari melihat pergerakan dada. Penolong

kedua secara perlahan (2 detik) memompa kantung sampai dada terangkat.


b. Bila 1 penolong, dengan ibu jari dan jari telunjuk melingkari pinggir sungkup dan

jari-jari lainnya mengangkat rahang bawah, tangan yang lain memompa kantung

nafas sembari melihat dada terangkat.

Gbr. Dua penolong

Gbr. Satu penolong

ANJURAN UNTUK PERNAFASAN BUATAN

Pada awal pemberian pernafasan buatan, berikan 2 kali perlahan (2 detik setiap kali

tiupan) dan biarkan ekshalasi sempurna diantara nafas/tiupan. Bila hanya perlu nafas

buatan saja, diberikan dengan kecepatan 10-12 nafas permenit, tetapi bila disertai
kompresi jantung luar maka diberikan 30 kali kompresi dan 2 nafas per ventilasi

untuk 1 atau 2 penolong sampai pasien dilakukan Intubasi trakhea.

CIRCULATION (SIRKULASI)

Henti jantung mengakibatkan tidak adanya tanda-tanda sirkulasi, artinya tidak ada

nadi. Pada praktiknya penilaian tanda ada tidaknya sirkulasi oleh penolong adalah:

1. Setelah memberikan 2 kali nafas ke pasien yang tidak sadar, dan tidak bernafas,

lihat apakah ada tanda-tanda sirkulasi yakni ada nafas, batuk dan gerakan-gerakan

tubuh.

2. Bila pasien tidak bernafas, batuk atau melakukan gerakan, lakukan pemeriksaan

nadi karotis.

3. Penilaian ini tidak boleh lebih dari 10 detik.

Catatan : penilaian sirkulasi ini harus dilakukan oleh petugas kesehatan, sedangkan

untuk orang awam terlatih (petugas pemadam kebakaran, satpam dll) tidak

dianjurkan, pada kelompok orang-orang ini bila mendapatkan poin 1 diatas, segera

melakukan kompresi dada.

Menilai nadi karotis, caranya :

Pertahankan posisi head thilt dengan satu tangan penolong dan tangan lainnya

memegang leher pasien dan mencari trakhea dengan 2-3 jari sampai meraba batas

trakhea dan otot-otot samping leher tempat lokasi nadi karotis bisa diraba. Dengan

tekanan lembut nadi karotis akan teraba, apabila nadi karotis tidak teraba segera

lakukan kompresi dada.


Gbr. Letak nadi karotis

Kompresi dada

Teknik kompresi dada adalah memberikan tekanan pada setengah bawah tulang dada

(sternum) berulang-berulang dan berirama.

menentukan lokasi kompresi dan posisi tangan

- tentukan lokasi kompresi setengah bagian bawah tulang dada dengan telunjuk dan

jari tengah menyusur batas bawah iga sampai titik temu dengan sternum

- posisikan tumit tangan satunya diatas sternum tepat disamping telunjuk tersebut. Ini

adalah titik tumpu kompresi

- tumit tangan satunya diletakan diatas tangan yang sudah berada tepat di titik

kompresi

- jari-jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat agar tidak ikut menekan.
Gbr. Lokasi Kompresi dan posisi tangan

teknik kompresi dada

- penolong mengambil posisi tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus,

menekan sternum sedalam 4-5cm

- ulangi gerakan kompresi, lepas, kompresi, lepas, sekitar 100 kali permenit, rasio

kompresi dan melepas 1:1

- setiap selesai 30 kali kompresi dada, buka jalan nafas dan berikan 2 nafas buatan

efektif, kemudian kompresi dada lagi 30 kali dan seterusnya

- setiap selesai 5 siklus atau setiap 2 menit, dilakukan penilaian tanda-tanda

pernafasan dan sirkulasi.

penilaian pulihnya sirkulasi

- Setelah 5 siklus kompresi dan ventilasi (rasio 30:2), dinilai kembali keadaan pasien

dengan memeriksa tanda-tanda sirkulasi dan dilakukan tidak lebih dari 10 detik

- Bila tanda-tanda sirkulasi tidak ada, teruskan kompresi dada dan ventilasi

- Bila ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan penilaian terhadap pernafasan, yaitu :

Bila nafas ada, posisikan pasien pada posisi mantap (recovery position) dan
pantau pernafasan dan sirkulasi

Bila nafas tidak ada, berikan nafas buatan 12 kali permenit dan pantau sirkulasi.

Resusitasi dengan 2 penolong

Apabila ada 2 penolong, ada beberapa hal yg perlu diperhatikan :

1. Jika penolong pertama sedang memberikan nafas buatan, penolong kedua yang

baru datang mengambil posisi kompresi dada yang benar. Penolong ini mengambil

alih kompresi dada setelah penolong pertama selesai memberikan 2 nafas buatan.

Posisi kedua penolong berseberangan dari pasien.

2. Penolong kompresi dada melakukannya dengan hitungan suara yang keras

3. Jika penolong ingin berganti tempat, penolong kompresi memberi aba-aba. Pindah

tempat dilakukan akhir kompresi dada ke 30, segera pindah ke posisi nafas buatan

dan memberi 2 nafas buatan penolong yang semula memberi nafas buatan pindah ke

posisi kompresi dada dan melakukan kompresi segera setelah nafas buatan.

Komplikasi BLS

1. Regurgitasi, aspirasi

2. Fraktur sternum, costae

3. Pneumothoraks, hemotoraks, kontusio paru

4. Laserasi hati, limpa


SATUAN ACARA PENYULUHAN

A. Identifikasi Masalah

Pokok bahasan : Pelatihan BHD

Sub pokok bahasan : Pelatihan BHD bagi Karyawan (Perawat dan Umum)

Sasaran : Karyawan RS PMC

Waktu : 08.00 14.00 WIB

Hari/Tanggal : 10-15 Oktober 2016

Pembicara : Ns. Awaliyah Ulfah Ayudytha, MARS

Ns. Wahyu Saputra, S.Kep

B. Tujuan Intruksional Umum

Setelah mengikuti pelatihan BHD diharapkan karyawan RS PMC dapat

mempraktek kan cara melakukan Bantuan Hidup Dasar

C. Tujuan Intruksional Khusus

D. Materi

Terlampir

E. Metode

1. Ceramah

2. Tanya jawab

3. Simulasi

4. Praktek

F. Media penyuluhan

1. Leaflet, Infocus

2. Panthom
G. Proses Kegiatan Penyuluhan

No. Tahapan Waktu Kegiatan


1. Pembukaan 08.00-08.30 Memberi salam Menjawab salam

Memperkenalkan diri Mendengarakan

Menjelaskan tujuan

2. Penyajian 08.30-13.30 Menjelaskan tentang : Menyimak

1. Bantuan Hidup Dasar Mendengarkan

(BHD) Mencatat bila perlu

2. Kapan harus Bertanya tentang hal-

dilakukan BHD hal yang belum jelas

3. Tata cara BHD

Mempratekkan cara Memperhatikan

melakukan BHD dengan seksama

Demonstrasi BHD
Melakukan
Re-demonstrasi BHD
demonstrasi BHD

3. Penutup 13-30-14.00 Tanya jawab Bertanya

Menyimpulkan Menjawab pertanyaan

Memberi salam Menjawab salam

H. Evaluasi

1. Cara : Lisan

2. Jenis pertanyaan : Pertanyaan terbuka

3. Post Test

4. Re Demonstrasi
I. Lampiran

1. Materi Lengkap

Dana / pengeluaran untuk kegiatan pengabdian pada masyarakat


Tahun 2016

No Jenis pengeluaran @ Jumlah


1 Peralatan/ perlengkapan
Kuesioner 100 kues x 1000 Rp 100.000
Sewa Pantom BHD 1 Rp 250.000

Pre test dan post test 100 x 1000 Rp 100.000

2 Konsumsi
Snack box 100 kotak x 6.000 Rp 600.000
100 kotak x 20.000 Rp 2.000.000
Nasi kotak

3 1 Rp 200.000
Administrasi

4 2 x 500.000 Rp. 1.000.000


Narasumber
3 x 150.000 Rp 450.000
Fasilitator

Total Rp. 4.700.000

DOKUMENTASI KEGIATAN
BERITA ACARA
Pada Hari Senin - Jumat, 10-15 Oktober 2016 telah dilakukan Pelatihan

Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada seluruh karyawan RS Pekanbaru Medical

Center Pekanbaru. Pelatihan ini di fasilitasi oleh Ns. Awaliyah Ulfah Ayudytha,

MARS dan Ns. Wahyu Saputra, S.Kep bertempat di Ruang Rapat Lantai 3 RS PMC

Pekanbaru.

Demikian berita acara ini di buat untuk dapat di pergunakan sebagaimana

mestinya.

Pekanbaru, 15 Oktober 2016

Yang memberi materi Mengetahui

Ns. Awaliyah Ulfah, MARS (___________________________)

Saksi I (___________________)

Saksi II (___________________)