Anda di halaman 1dari 3

Kajian Analisis Artikel

Kewibawaan dalam pendidikan.Guru sebagai pendidik harus memilki


kewibawaan, baik dalam pembelajaran maupun di luar kelas artinya diluar juga juga
harus memilki sosok yang berwibawa. Hal ini menunjukan hal yang hakiki antara
pendidikan dan kewibawaan , yaitu kewibawaan yang diperlukan oleh pendidikan.
Kewibawaan yang mutlak dalam pendidikan artinya jika tidak ada pendidikan maka
pendidikan itu tidak mungkin terjadi. Wibawa yaitu sikap dewasa, disiplin,adanya
kelebihan dari anak didiknya.

Seperti dalam hadist yaitu Barang siapa melihatnya sepintas, ia akan


tampak berwibawa. Dan barang siapa mengenal dan bergaul dengannya, niscaya ia
akan menyukainya. ( H.R . At-Tirmidzi)

Dalam makna kewibawaan seorang pendidik adalah terpancar dari dirinya


terhadap anak didiknya yang artinya pendidik memiliki kekuasaan batin yang
mendidik. Kewibawaan yang dapat menimbulkan pada pihak lain sikap untuk
mengakui,menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas pengaruh tersebut.
Seperti pada artikel, anak-anak itu pada saat bel istirahat sekelompok anak sudah
masuk dan sekelompok anak belum masuk karena guru kelasnya yang belum datang
akan tetapi pada saat guru akan menghampiri kelas anak-anak pun masuk kelas dengan
berlarian padahal guru belum memerintahnya ataupun memarahinya, itulah adanya
kewibawaan seorang guru. Dalam hal tersebut anak-anak sudah paham dalam bahasa
yang guru sampaikan walaupun guru itu tidak berkata secara langsung.

Dalam kewibawaanpun datang dengan sendirinya tanpa ada paksaan.


Kewibawaan pun dimilki oleh seseorang yang sudah dewasa yaitu dewasa secara
rohaniah yang didukung kedewasaan jasmaniah. Kedewasaan ini kan tercapai apabila
sudah mengalami puncak perkembangan jasmaniah yang optimal, tercapainya apabila
telah memilki cita-cita dan pandangan hidup yang tetap.

Kewibaawan adanya pada orang dewasa berarti orang tua ( Ayah dan ibu )
terlibat dalam kewibawaan atau bahkan yang sesungguhnya. Orang tua yang
mempunyai tugas langsung dari Allah untuk mendidik anaknya, dan merupakan suatu
hak yang tidak dapat dicabut karena merupakan suatu kewajiban.
Kewibawaan adalah suatu daya mempengaruhi yang terdapat pada
seorang,sehingga orang lain yang berhadapan dengan dia, secara sadar dan suka rela
menjadi tunduk dan patuh kepadanya. Jadi barang siapa yang memilki kewibawaan,
akan dipatuhi secara sadar, dengan tidak terpaksa, dengan tidak haruskan dari luar,
dengan penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh menuruti semua yang dikehendaki
oleh pemilk kewibawaan tersebut.

Seperti pada artikel dalam kehadiran fisik guru pun anak-anak sadar akan
tugasnya, mana yang harus dilakukan mana yang dilarang dan itulah bentuk kehadiran
fisik sudah menghadirkan sosok yang berwibawa untuk guru tersebut

Penerimaan kewibawaan olen anak hanya dapat dilakukan dengan pembuktian atau atas
dasar keterkaitan pada pribadi pendidik ataupun dengan pakasaan maka si anak akan
tetap tinggal tak terdidik. Sebab kewibawaan merupakan syarat mutlak untuk
mendidik. Anak didik mendapatkan keberanian moral untuk mencoba menjalankan
dan menuruti kewibawaan dalam rasa kasih yang menjadi pengikat bagi anak didik.
Anak didik mampu mencurahkan kepercayaannya dengan murni yang mendorong
sebagai pemberi semangat bagi pendidik untuk melakukan tugasnya serta member
keyakinan akan kesanggupan diri sendiri kepada guru atau pendidiknya.

Dalam mempertahakan kewibawaan seorang pendidik harus dipelihara dan


dibina . seperti pada artikel diatas yaitu Bekal yang Harus dimiliki oleh seseorang
untuk menjadi Guru yang Baik jadi diartikel tersebut dijelaskan dalam mendidik kita
seperti berdagang adanya produk yang pendidik tawarkan dalam mendidik untuk
peserta didik. Pendidik harus mampu menarik perhatian peserta didik dalam
pembelajaran. Jika pendidik mampu menarik perhatian dan mampu menuruti atau
perintah seorang pendidik maka disitulah pendidik dikatakan berhail dalam
berdagangnya. Dalam berdagang atau mendidik guru harus mempunyai kreativitas
untuk menciptakan inovasi-inovasi baru terhadap anak agar anak lebih semangat
dalam belajarnya. Tentunya hal ini sangat membantu dan guru juga harus
meningkatkan kualitas nya agar potensi yang ada pada guru terus bertambah dan
menambahkan kewibawaannya. Lageveld ( dalam Umar Tirtaraharja, dkk, 2000)
mengemukakan tiga sendi kewibawaan untuk memeliharanya, yaitu : Kepercayaan,
kasih sayang, dan kemampuan mendidik. Dalam ketiga tersebut sangat membantu
untuk seorang pendidik menambah potensinya dalam menjadi seorang pendidik,
tentunya dalam kewibawaan akan bertambah.

Adapun dalam artikel Ciri-ciri guru yang berwibawa sangat membantu


untuk menjadi guru yang professional dan berwibawa.

Mengurangi kewibawaan dalam pendidikan yaitu pendidik merasa bosan


atau jenuh dengan mendidik anak. Namun gurupun harus tetap mengawasi anak dalam
mendidik akan tetapi tidak melepasnya dengan begitu saja hanya metode yang berbeda
dengan cara memberi luang kebebasan sedikit akan tetapi guru tetap mengawasinya
dan tidak lepas tanggung jawab begitu saja. Dalam artikel diatas juga dia ingin
menjadi guru yang disenangi oleh anak didiknya bukan ditakuti dan dia ingin anak
didiknya menurut karena kewibawaan dia bukan karena ada rasa takut dan disegani.
Dia ingin terus dekat dengan anak didiknya tetapi terus dihormati dan hargai, adanya
batasan guru dan seorang anak dalam interaksi, sebagai guru atau pun teman mereka
harus ada batasan atau tahu temapt dimana dia harus berinteraksi dengan baik.

Agar kewibawaan yang dimilki oleh pendidik tidak goyah, tidak melemah,
maka hendaknya pendidik itu yang pertama selalu memberi alasan yaitu guru
mendidik dengan adanya alasan bahkan untuk melarang pun harus diseratai dengan
alasan yang baik agar anak mengerti yang guru maksudkan. Kedua, bersikap demi
kamu artinya guru harus menunjukan bahwa yang telah guru nasihati itu semua demi
kebaikan anak didiknya juga bukan untuk kebaikan guru. Ketiga, bersikap sabar yaitu
guru harus memilki rasa yang sabar untuk mendidik dari berbagai macam anak didik
guru harus mengerti dan memahami dari perbedaan anak didik, maka dari itulah guru
harus terus bersabar dalam sikap perilaku anak didiknya, dan selalu menciptakan
kreasi dan inovasi baru dalam hal belajar.

Bersikap memberi kebebasan yaitu memberikan peluang untuk anak bebas


untuk menuju kedewasaan anak artinya sedikit kebebasan yang tetap pada jalurnya
guru hanya mengarahkan akan tetapi guru terus mengawasinya agar tetap
mendapatkan pendidikan yang baik.