Anda di halaman 1dari 3

ADAT DIDALAM HIDUP CHALAJAK.

Apakah adat itu ? Lahir dan bertumbuhnya.

Adat adalah suatu sifat kebudayaan yang terdapt didalam tiap-tiap masyarakat
manusia. Adat sering di sebut juga dengan kepatuhan, laras atau harmonisme yang
terdapat didalam hubungan, keadaan atau benda yang satu dengan yang lain. Karena
kepatuhan itu, maka dengan sendiri perhubungan atau pertimbangan antara yang satu
dengan yang lain selalu Nampak sebagai keindahaan, yang lalu menimbulkan rasa
senang yang dalam lagi halis, jalani rasa bahagia. Maka adat itu sifatnya kehendak
manusia yang selalu menjahari senang, tentram, damai didalam hidupnya diri sendiri
itu, maka tiap tiap manusia itu juga senantiasa berisaha menjahari keadaan yang
sebaliknya dan menjauhkan segala keadaan yang agak dapat menggoda
keselamatannya. Inilah asal muala manusia selalu mengatur hubungannya diri dengan
semua keadaan disekelilingnya.

Tidak saja manusia itu selalu berusaha ( biasanya tidak dengan insyaf, yakni di
dalam onderbewustzjnnja ) untuk mengatur hubunganya dengan manusia lain, akan
tetapi ia senantiasa berusaha juga untuk menerbitkan hubungannya dengan kodrat
dalam alam, yang terus-menerus mengelilingnya. Dimana dapat, ia mencoba
mengalahkan kekuatan alam, yakni yang dinamakan kodrat, dan di sinilah timbul
perkataan de euwige striijd yang artinya perlawananyang tak berakhir antara
manusia dan kodrat. Kesudahaana dari perlawanan itu sering kali Nampak sebagai
kemenangan manusia atas penguasa kodrat akan tetapi setiap kali pula terlihat
sebagai kekalahan hindarkan panasnya matahari, kita boleh katakana menang
maupun alah

Dengan keterangan di atas itu nyatalah, bahwa yang dinamakan adat yaitu cara
hidupnya manusia yang timbul seringkali tidak dimaksud akan tetapi selalu berada
sebagai buahnya perlawanan atau hidup bersama manusia dengan manusia lain di
dalam masyarakat dan dengan segala kodratnya.

Berlaku, berubah dan matinya adat karena dijajah alam dan zaman.

Sedangkan adat itu berlaku, maka setiap orang dapat merasakan sendiri segala
manfaatnya, lambat laun adat itu disertai oleh sebagai lakunya kodrat yang amat sesuai
dengan kehendak alam, sehingga orang mengalamu bersatunya dengan alam yang
menimbukan rasa bahagia. Inilah sebabnya setiap manusia tidak melepaskan sesuat
sjarat adat dengan ikhlas dan kemerdekaan, takut kalau akan berkurang atau lenyap,
mengejar kekalnya kenikmatan diri yang selalu ada setiap manusia, itu sebabnya ada
sikap hidup yang dikehendaki terus berlangsunya keadaaan yang sudah ada, yakni
yang si sebut convervatisme. Sebaliknya manusia itu tiap waktu mengalami rasa sesal
atau kecewa yaitu pada saat ia tidak dapat mencapai pada yang diingingankanaya.
Dengan seketika ia jatuh dari keluhuruan subject ke ketendaan object object yang
setiap tak berani menjawab atas apa yang akan dilakukan olehnya. Dimana ia menemui
jalan yang bercabang.

Pengaruh lam dan zaman adalah penguasa kodrat yang tidak dapt dihindari oleh
manusia. Barang siapa tak suka takluk kepadanya, niscaya ia akan menanggung
akibatnya dan barang siapa tidak suka berpakaian tebal di musim atau di tempat yang
amat dingin, dengan sendirinya ia akan menanggung kedinginan; pada waktu atau
tempat diamana orang harus berlaku cepat, haruslah ia bertenaga sesuai dengan
keadaan itu; jika tidak suka niscayalah ia akan menanggung kesukaran. Dengan dia
contoh ini dikehendaki ini cukuplah terbukti bahwa setiap orang yang menghendaki
selamat dan bahagia, tak akan dapat menecapai apa yang dikehendakinya.

Adat dan Kemajuan ; evolusi dan konsevatisme ; garis garis hidupnya


bangsa

Adat yang dimaksud memudahkan dan menghasilkan hidup itu setiap kalu
bertentangn dengan lakunya kemajuan manusia; inilah dlam hakekatnya sudah layak
sekali, karena kemajuan itu berarti meninggalkan jalan orrang ada dibelkangnya. Waktu
dan keadaan baru ttak akan dapat bersifat baik jika memakai peralatan adat yang
sama. Untuk membuktikannya dijalan ini kita dapat menunjuk beberapa kejadian
dibeberapa daerah dapri kepulauan kita di Indonesia, misalnya di Sumatra, dimana
masih seringkali timbul pertentangan antara adat dengan keadaan baru, baik yang
mengenal sifat hidup dalam umumnya, maupun juga mengenal lakunya agama Islam
yang terbentuk menurut ajaran baru . kita di pulau jawa yabg sebabtuasa turut
dudalannya segala pembaruansetiap kali amat heran mendengar rupa-rupa pekabaran
pers tentang sifatnya hukum-hukumnya dari adat rechtspraak di Sumatra.

Pertentangan tentang adat dan kemajuan itu sering terpakai tidak hanya oleh
kaum konserfatif. Tetapi juga ileh mecam-macam hak yang merasa bahwa pergantian
adat itu akan merugikan padanya. Inilah sebabnya kita harus sekaku mengingati dani
manakah datanya andjuran untuk menerusjan adat lama itu. Watakkonservatif itu
terdapat di dalam batinya tiap-tiap manusia, baik tipis maupun tebal, yang bermaksud
jangna sampai berkurang atau lenyap rasa bahagianya seperti sudah tersebut dimuka.
Semangat tidak suka melepaskan keadaan lama inilah di dalam kemajuan hidup
manusia ada jatahnya, tetapi juga ada baiknya adapum baiknya yaitu karena manusia
selalu terpaksa berfikir yang tenang pada saat ia harus melepaskan keadaan lama
untuk mendatangkan keaadaan baru.