Anda di halaman 1dari 3

MARDIANTO RABANG (1413041005)

SITTI HAJAR NASUTION (1413042005)

A. Sejarah Profesi Kependidikan


Perkembangan Profesi Keguruan kita ikuti perkembangan profesi keguruan
Indonesia, jelas bahwa pada mulanya guru-guru indonesia diangkat dan orang-orang
yang tidak berpendidikan khusus untuk memangku jabatan guru. Nasution (1987)
mengekukakan perkembangan guru di Indonesia pada mulanya guru diangkat dari orang-
orang yang tidak memiliki pendidikan khusus yang ditambah dengan orang-orang yang
lulus dan sekolah guru(kweekschool) yang pertama kali didirikan di Solo tahun 1852.
Karena mendesaknya keperluan guru maka Pemerintah Hindia Belanda mengangkat lima
guru, yaitu:
1. Guru lulusan sekolah guru yang dianggap sebagai guru yang berwenang penuh.
2. Guru yang bukan sekolah guru, tetapi lulus ujian yang diadakan unruk menjadi guru.
3. Guru bantu, yakni yang lulus ujian guru bantu.
4. Guru yang dimagangkan kepada seorang guru senior, yang merupakan calon guru.
5. Guru yang diangkat karena keadaan yang sangat mendesak yang berasal dan warga
yang pernah mengecap pendidikan.
Walaupun jabatan guru tidak harus disebut sebagai jabatan profesional penuh,
status mulai membaik. Di Indonesia telah ada Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI)
yang mewadahi persatuan guru dan juga mempunyai perwakilan di DPR/MPR. Dalam
sejarah pendidikan guru Indonesia, guru pernah mempunyai status yang sangat tinggi di
masyarakat, mempunyai wibawah yang sangat tinggi dan dianggap sebagai orang yang
serba tahu. Peranan guru saat itu tidak hanya mendidik anak di depan kelas, mendidik
masyarakat, tempat masyarakat untuk bertanya, baik untuk memecahkan masalah pribadi
maupun sosial. Namun, wibawa guru mulai memudar sejalan dengan kemajuan zaman,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan keperluan guru yang meningkat
tentang imbalan atau balas jasa. Keadaan demikian berlanjut sampai zaman pendudukan
Jepang dan awal perang kemerdekaan. Secara perlahan namun pasti, pendidikan guru
meningkatkan jenjang kualifikasi dan mutunya saat ini lembaga tunggal untuk
pendidikan guru, yakni Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pada
penghujung tahun 2005, pemerintah telah mengundangkan profesi guru dan dosen yang
merupakan suatu pengakuan yuridis formal bahwa profesi guru dan dosen adalah suatu
jabatan profesi, yang selama ini hanya disandang oleh Dokter, Insinyur,dan sejenisnya.
Undang-undang sistem pendidikan Nasional yang telah diundangkan belum begitu kuat
untuk memberikan pengakuan jabatan guru dan Dosen sebagai suatu profesi. Sehingga
banyak orang memandang jabatan guru dan Dosen sama sebagai pekerjaan kasar
sebagaimana yang dilakukan oleh buruh.
Kelemahan jabatan guru dan Dosen selama ini adalah karena pekerjaan ini tidak
dapat memberikan jaminan hukum, jaminan sosial, dan jaminan hidup. Jaminan hokum
artinya guru dan Dosen dapat diperlakukan oleh semena mena oleh siswa, orang tua
siswa, dan masyarakat, seperti mengancam, memukul, dan sejenisnya. Sementara
jaminan sosial dalam kehidupan sehari-hari guru masih dianggap sebagai masyarakat
kelas bawah dan segi jaminan hidup, jabatan guru dan dosen tidak dapat memberikan
pendapatan dan penghasilan yang layak, karena itu mereka harus melakukan kegiatan
yang lain untuk menambah penghasilan dan jaminan masa depan.

B. Sejarah Lembaga Kependidikan


1. Masa Belanda
Pada awalnya organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda
berdiri pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PG1-IB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru
Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sckolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda
mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Tidak
mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat,
status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan keadaan itu
maka di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Pcrsatuan
Guru Bantu (PGB), Perscrikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool
(PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hagere Kweekschool Bond (HKSB),
disamping organisasi guru yang bercorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti
Christeljke Onderwijs Vereneging (COV) Katolieke Oriderwijsbond(KOB), Vereneging
Van Muloleerkrachten (WM), dan Nederlands bidische Onderwijs Genootschap (NIOG)
yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.
2. Masa Kemerdekaan
Kesadaran kebangaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh,
mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak
Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat oleh orang
Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin
berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kemerdekaan. Perjuangan guru
tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi
dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak
merdeka. Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah
menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan nama ini mengejutkan pemerintah
Belanda, karena kata Indonesia yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak
disenangi oleh Belanda. Sebaliknya kata Indonesia ini sangat didambakan oleh guru dan
bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup,
Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Semangat
proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada
tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini segala organisasi dan
kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan,
lingkungan daerah, politik, agama dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-
guru yang aktif mengajar, pensiunan guru yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan
Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 - seratus
hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia - Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik merdeka yang bertalu-talu, di tengah bau mesiu
pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk
mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan:
1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia.
2. Mempertnggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar
kerakyatan.
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya. Sejak Kongres Guru
Indonesia itu, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).