Anda di halaman 1dari 63

Pengaruh Viskositas dan Laju Alir ...

(Haryani dan Widayat)

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Proses Kimia berjudul Hidrodinamika Reaktor ini telah


disahkan pada

Hari, Tanggal : Selasa, 8 Maret 2016


Nama/NIM : Shesar Anis R 21030114130133
Aditya Dwi Wahyu N 21030114130130
Fauzia Dara Q 21030114130139
Kelompok : 3/ Senin Siang

Semarang, 8 Maret 2016

Dosen Pembimbing Asisten Pembimbing

192
Pengaruh Viskositas dan Laju Alir ... (Haryani dan Widayat)

Luqman Buchori, S.T., M.T. Qonita Anggraini


NIP.19710501 1997021 001 NIM.21030112130112

193
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-
Nya sehingga praktikan dapat menyusun Laporan Praktikum Proses Kimia. Laporan
ini disusun sebagai kelengkapan tugas mata kuliah Praktikum Proses Kimia. Laporan
Proses Kimia ini berisi materi tentang praktikum Hidrodinamika Reaktor. Penyusun
mengucapkan terima kasih kepada.

1. Prof. Dr. Ir. Purwanto, DEA selaku Penanggung Jawab Praktikum Proses Kimia
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang Tahun
2016.

2. Asisten Laboratorium Proses Kimia Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Diponegoro Semarang Tahun 2016.

Penyusun menyadari pasti ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Maka dari itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan.

Semarang, 8 Maret 2016

Ttd

Praktikan

3
DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................i
Halaman Pengesahan.......................................................................................ii
Kata Pengantar.................................................................................................iii
Daftar Isi..........................................................................................................iv
Daftar Gambar.................................................................................................vi
Daftar Tabel......................................................................................................vii
Intisari..............................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Tujuan Percobaan......................................................................................1
1.3 Manfaat Percobaan....................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reaktor Kolom Gelembung dan Air-Lift..................................................2
2.2 Hidrodinamika Reaktor.............................................................................3
2.3 Perpindahan Massa...................................................................................6
2.4 Kegunaan Hidrodinamika Reaktor dalam Industri...................................8
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan...............................................................9
3.2 Gambar Alat..............................................................................................9
3.3 Variabel Operasi........................................................................................10
3.4 Respon Uji Hasil.......................................................................................10
3.5 Prosedur Percobaan...................................................................................10
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan.......................................................................................12

4
4.2 Pembahasan...............................................................................................13
4.2.1 Pengaruh Laju Alir Gas terhadap Hold-Up Gas.....................................13
4.2.2 Pengaruh Laju Alir Gas terhadap Laju Sirkulasi....................................15
4.2.3 Pengaruh Laju Alir Gas terhadap Kla rata-rata.......................................17
4.2.4 Pengaruh Waktu Tinggal terhadap Kla...................................................18
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................................20
5.2 Saran..........................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................21
LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN..........................................................22
LEMBAR PERHITUNGAN...........................................................................23
LAPORAN SEMENTARA.............................................................................26
REFERENSI

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tipe Reaktor Air-lift......................................................................2


Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hidrodinamika Reaktor.......................................9
Gambar 4.1 Hubungan antara Laju alir gas dengan hold-up gas......................13
Gambar 4.2 Hubungan antara laju alir gas dengan laju sirkulasi.....................15

Gambar 4.3 Hubungan antara Laju Alir Gas dengan Kla rata-rata..................17
Gambar 4.4 Hubungan antara waktu tinggal dengan Kla................................18

6
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Pengaruh Laju Alir Udara terhadap Hold Up Gas............................12


Tabel 4.2 Pengaruh Laju Alir Udara terhadap Laju Sirkulasi...........................12
Tabel 4.3 Pengaruh Waktu terhadap Nilai Kla pada Berbagai Laju Alir..........12

7
INTISARI

Reaktor adalah suatu alat tempat terjadinya suatu reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis lebih
tinggi Pada perancangan reaktor, fenomena hidrodinamika meliputi hold up gas dan
laju sirkulasi cairan yang merupakan faktor penting yang berkaitan dengan laju
perpindahan massa. Tujuan percobaan ini akan mempelajari hidrodinamika pada
reaktor air-lift terutama pengaruh laju alir udara terhadap hold up gas (), laju
sirkulasi (UL) dan koefisien tansfer massa gas-cair (KLa).
Hidrodinamika reaktor mempelajari perubahan dinamika cairan dalam
reaktor sebagai akibat laju alir yang masuk reaktor. Hidrodinamika reaktor meliputi
hold up gas (rasio volume gas terhadap gas cairan dalam reaktor) dan laju sirkulasi
cairan disperse dalam fase tersebut.
Variabel tetap dalam percobaan ini yaitu tinggi cairan 91,5 cm, konsentrasi
Na2S2O3.5H2O 0,1 N dan Na2SO3 0,05 N. Sedangkan variabel berubahnya yaitu laju
alir udara masing-masing 4,5,6 cc/detik. Prosedur percobaan adalah menentukan
hold up pada riser dan downcomer dengan melihat perubahan ketinggian inverted
manometer sebelum dan sesudah ditambahkan Na2SO3. Kemudian menentukan
konstanta perpindahan massa gas-cair dengan mencampurkan sampel 10ml dan KI 5
ml, setelah ditambah dengan KI larutan dititrasi dengan Na2S2O3.5H2O hingga
berwarna kuning jernih lalu ditetesi amilum dan dititrasi kembali sampai warna biru
keruh hingga volume titran konstan tiap 5 menit pengambilan sampel. Setelah itu
menentukan laju sirkulasi dengan mengukur waktu yang dibutuhkan oleh cairan
dengan indikator zat warna pada bagian downcomer hingga mencapai lintasan yang
ditentukan.
Dari percobaan yang telah dilakukan, nilai hold up gas pada riser dan
downcomer semakin meningkat seiring dengan bertambahnya laju alir. Laju alir
besar maka gelembung udara yang terdispersi didalam air bertambah sehingga fraksi
volume udara dalam larutan bertambah. Begitu halnya dengan laju sirkulasi. Laju
alir besar, maka daya dorong aliran semakin besar sehingga laju sirkulasi pada riser
dan downcomer bertambah dan harus sesuai dengan persamaan kontinuitas dengan
ketentuan tidak ada gas yang keluar dari reaktor. Hubungan antara laju alir dengan
nilai Kla seharusnya adalah semakin besar laju alir gas maka Kla akan semakin
besar karena akan semakin besar konsentrasi oksigen dalam medium sehingga
perpindahannya akan semakin cepat namun ada faktor yang meyebabkan perbedaan
pada Kla pada percobaan ini yaitu ketidakkonstanan laju alir gas.
Kesimpulan yang diperoleh yaitu semakin besar laju alir udara yang
digunakan, maka hold up gas dan laju sirkulasi cairan semakin besar dan koefisien
transfer massa gas-cair juga semakin besar. Saran yang diberikan yaitu pengamatan
inverted manometer harus benar-benar teliti. Laju alir gas harus selalu diperhatikan
agar tidak berubah-ubah selama proses 1 variabel, dan kompresor harus terus
menyala selama proses berlangsung.

8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Reaktor merupakan alat utama pada industri yang digunakan untuk proses
kimia yaitu untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Reaktor dapat
diklasifikasikan atas dasar cara operasi, geometrinya, dan fase reaksinya. Berdasarkan
cara operasinya dikenal reaktor batch, semi batch, dan kontinyu. Jika ditinjau dari
geometrinya dibedakan menjadi reaktor tangki berpengaduk, reaktor kolom, reaktor
fluidisasi. Sedangkan bila ditinjau berdasarkan fase reaksi yang terjadi didalamnya,
reaktor diklasifikasikan menjadi reaktor homogen dan reaktor heterogen
Reaktor heterogen adalah reaktor yang digunakan untuk mereaksikan
komponen yang terdiri dari minimal 2 fase, seperti fase gas-cair. Reaktor yang
digunakan untuk kontak fase gas-cair, diantaranya dikenal reaktor kolom gelembung
(bubble column reaktor) dan reaktor air-lift. Reaktor jenis ini banyak digunakan pada
proses industri kimia dengan reaksi yang sangat lambat, proses produksi yang
menggunakan mikroba (bioreaktor) dan juga pada unit pengolahan limbah secara
biologis menggunakan lumpur aktif.
Pada perancangan reaktor pengetahuan kinetika reaksi harus dipelajari secara
komprehensif dengan peristiwa-peristiwa perpindahan massa, panas dan momentum
untuk mengoptimalkan kinerja reaktor. Fenomena hidrodinamika yang meliputi hold
up gas dan cairan, laju sirkulasi merupakan faktor yang penting yang berkaitan
dengan laju perpindahan massa. Pada percobaan ini akan mempelajari hidrodinamika
pada reaktor air-lift, terutama berkaitan dengan pengaruh laju alir udara, viskositas,
dan densitas terhadap hold up, laju sirkulasi dan koefisien perpindahan massa gas-cair
pada sistem sequantial batch.

1.2. Tujuan Percobaan


Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menentukan pengaruh laju alir gas terhadap hold-up gas ()
2. Menentukan pengaruh laju alir gas terhadap laju sirkulasi (VL)
3. Menentukan pengaruh laju alir gas terhadap koefisien transfer massa gas-cair
(KLa)
1.3. Manfaat Percobaan
1. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh laju alir gas terhadap hold up gas ()
2. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh laju alir gas terhadap laju sirkulasi
(VL)
3. Mahasiswa dapat menentukan pengaruh laju alir gas terhadap koefisien transfer massa
gas-cair (KLa)
4. Mahasiswa dapat mengetahui peran hidrodinamika reaktor pada industri kimia

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Reaktor Kolom Gelembung dan Air-Lift

Reaktor adalah suatu alat tempat terjadinya suatu reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan menjadi bahan lain yang mempunyai nilai ekonomis lebih
tinggi. Reaktor Air-lift adalah reaktor yang berbentuk kolom dengan sirkulasi aliran.
Kolom berisi cairan atau slurry yang terbagi menjadi 2 bagian yaitu raiser dan
downcomer. Raiser adalah bagian kolom yang selalu disemprotkan gas dan
mempunyai aliran ke atas. Sedangkan downcomer adalah daerah yang tidak
disemprotkan gas dan mempunyai aliran ke bawah. Pada zona downcomer atau riser
memungkinkan terdapat plate penyaringan pada dinding, terdapat satu atau dua buah
baffle. Jadi banyak sekali kemungkinan bentuk reaktor dengan keuntungan
penggunaan dan tujuan yang berbeda-beda (Widayat,2004).
Secara umum reaktor air-lift dikelompokkan menjadi 2, yaitu reaktor airlift
dengan internal loop dan eksternal loop (Christi, 1988; William, 2002). Reaktor air-
lift dengan internal loop merupakan kolom bergelembung yang dibagi menjadi 2
bagian, riser dan downcomer dengan internal baffle dimana bagian atas dan bawah
raiser dan downcomer terhubung. Reaktor air-lift dengan eksternal loop merupakan
kolom bergelembung dimana riser dan downcomer merupakan 2 tabung yang terpisah
dan dihubungkan secara horizontal antara bagian atas dan bawah reaktor. Selain itu
reaktor air-lift juga dikelompokkan berdasarkan sparger yang dipakai, yaitu statis dan
dinamis. Pada reaktor air lift dengan sparger dinamis, sparger ditempatkan pada riser
dan atau downcomer yang dapat diubahubah letaknya ( Christi, 1989., dan
William,2002)
Secara teoritis reaktor air-lift digunakan untuk beberapa proses kontak
gascairan atau slurry. Reaktor ini sering digunakan untuk beberapa fermentasi aerob,
pengolahan limbah, dan operasi-operasi sejenis.

Internal Loop Eksternal Loop

2
Gambar 2.1 Tipe Reaktor Air-lift

Keuntungan penggunaan reaktor air-lift dibanding reaktor konvensional lainnya,


diantaranya :
1. Perancangannya sederhana, tanpa ada bagian yang bergerak
2. Aliran dan pengadukan mudah dikendalikan
3. Waktu tinggal dalam reaktor seragam
4. Kontak area lebih luas dengan input yang rendah
5. Meningkatkan perpindahan massa
6. Memungkinkan tangki yang besar sehingga meningkatkan produk
Kelemahan rekator air lift antara lain :
1. Biaya investasi awal mahal terutama skala besar
2. Membutuhkan tekanan tinggi untuk skala proses yang besar
3. Efisiensi kompresi gas rendah
4. Pemisahan gas dan cairan tidak efisien karena timbul busa (foamin
Dalam aplikasi reaktor air-lift terdapat 2 hal yang mendasari mekanisme kerja
dari reaktor tersebut, yaitu hidrodinamika dan transfer gas-cair.

2.2. Hidrodinamika Reaktor


Di dalam perancangan bioreaktor, faktor yang sangat berpengaruh adalah
hidrodinamika reaktor, transfer massa gas-cair, rheologi proses dan morfologi
produktifitas organisme. Hidrodinamika reaktor mempelajari perubahan dinamika
cairan dalam reaktor sebagai akibat laju alir yang masuk reaktor dan karakterisik
cairannya. Hidrodinamika reaktor meliputi hold up gas (fraksi gas saat
penghamburan) dan laju sirkulasi cairan. Kecepatan sirkulasi cairan dikontrol oleh
hold up gas, sedangkan hold up gas dipengaruhi oleh kecepatan kenaikan gelembung.
Sirkulasi juga mempengaruhi turbulensi, koefisien perpindahan massa dan panas serta
tenaga yang dihasilkan.
Hold up gas atau fraksi kekosongan gas adalah fraksi volume fase gas pada
disperse gas-cair atau slurry. Hold up gas keseluruhan ().

...(1)

3
dimana : = hold up gas
V = volume gas (cc/s)

VL = volume cairan (cc/s)


Hold up gas digunakan untuk menentukan waktu tinggal gas dalam cairan. Hold
up gas dan ukuran gelembung mempengaruhi luas permukaan gas cair yang
diperlukan untuk perpindahan massa. Hold up gas tergantung pada kecepatan
kenaikan gelembung, luas gelembung dan pola aliran. Inverted manometer adalah
manometer yang digunakan untuk mengetahui beda tinggi cairan akibat aliran gas,
yang selanjutnya dipakai pada perhitungan hold up gas () pada riser dan downcomer.
Besarnya hold up gas pada riser dan downcomer dapat dihitung dengan persamaan :

...(2)

. ..(3)

...(4)

dimana : = hold up gas


r = hold up gas riser
d = hold up gas downcomer
L = densitas cairan (gr/cc)
g = densitas gas (gr/cc)
hr = perbedaan tinggi manometer riser (cm)
hd = perbedaan tinggi manometer downcomer (cm)
Z = perbedaan antara taps tekanan (cm)
Hold up gas total dalam reaktor dapat dihitung dari keadaan tinggi dispersi
pada saat aliran gas masuk reaktor sudah mencapai keadaan tunak (steady state).
Persamaan untuk menghitung hol up gas total adalah sebagai berikut :

....(5)
dimana : = hold up gas

ho = tinggi campuran gas setelah kondisi tunak (cm)

hi = tinggi cairan mula-mula dalam reaktor (cm)

4
Hubungan antara hold up gas riser ( r) dan donwcomer ( d) dapat dinyatakan
dengan persamaan 6 :

....(6)
dimana : Ar = luas bidang zona riser (cm2)
Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)
Sirkulasi cairan dalam reaktor air lift disebabkan oleh perbedaan hold up gas
riser dan downcomer. Sirkulasi fluida ini dapat dilihat dari perubahan fluida, yaitu
naiknya aliran fluida pada riser dan menurunnya aliran pada downcomer. Besarnya
laju sirkulasi cairan pada downcomer (ULd) ditunjukkan oleh persamaan 7 dan laju
sirkulasi cairan pada riser ditunjukan oleh persamaan 8 :

....(7)

dimana : Uld = laju sirkulasi cairan pada downcomer (cm/s)


Lc = panjang lintasan dalam reaktor (cm)
tc = waktu (s)
Dikarenakan tinggi dan volumetric aliran liquid pada raiser dan downcomer
sama, maka hubungan antara laju aliran cairan pada riser dan downcomer yaitu:
Ulr.Ar = Uld.Ad ....(8)
dimana : Ulr = laju sirkulasi cairan riser (cm/s)

Uld = laju sirkulasi cairan downcomer (cm/s)

Ar = luas bidang zona riser (cm2)

Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)


Waktu tinggal tld dan tlr dari sirkulasi liquid pada downcomer dan riser tergantung
pada hold up gas seperti ditunjukan pada persamaan berikut :

.(9)

Dimana : tlr = waktu tinggal sirkulasi liquid pada riser (s)


tld = waktu tinggal sirkulasi liquid pada downcomer (s)
Ar = luas bidang zona riser (cm2)

5
Ad = luas bidang zona downcomer (cm2)
r = hold up gas

d = hold up gas downcomer

2.3. Perpindahan Massa

Perpindahan massa antar fase gas-cair terjadi karena adanya beda konsentrasi
antara kedua fase. Perpindahan massa yang terjadi yaitu oksigen dari fase gas ke fase
cair. Kecepatan perpindahan massa ini dapat ditentukan dengan koefisien perpindahan
massa.
Koefisien perpindahan masssa volumetric (KLa) adalah kecepatan spesifik dari
perpindahan massa (gas teradsobsi per unit waktu, per unit luas kontak, per beda
konsentrasi). KLa tergantung pada sifat fisik dari sistem dan dinamika fluida.
Terdapat 2 istilah tentang koefisien transfer massa volumetric, yaitu:
1. Koefisien transfer massa KLa, dimana tergantung pada sifat fisik dari cairan dan
dinamika fluida yang dekat dengan permukaan cairan.
2. Luas dari gelembung per unit volum dari reaktor
Ketergantungan KLa pada energi masuk adalah kecil, dimana luas kontak
adalah fungsi dari sifat fisik design geometri dan hidrodinamika.
Luas kontak adalah parameter gelembung yang tidak bisa ditetapkan. Di sisi
lain koefisien transfer massa pada kenyataannya merupakan faktor yang proposional
antara fluks massa dan substrat (atau bahan kimia yang ditransfer), Ns, dan gradient
yang mempengaruhi fenomena beda konsentrasi. Hal ini dapat dirumuskan dengan
persamaan 11 :
N = KLa (C1-C2) ....(11)
dimana : N = fluks massa
KLa = koefisien transfer massa gas-cair (1/detik)
C1 = konsentrasi O2 masuk (gr/L)
C2 = konsentasi O2 keluar (gr/L)
Untuk perpindahan massa oksigen ke dalam cairan dapat dirumuskan sebagai
kinetika proses, seperti di dalam persamaan 10 :

....(12)
dimana: C = konsentrasi udara (gr/L)

6
Koefisien perpindahan gas-cair merupakan fungsi dari laju alir udara atau
kecepatan superfitial gas, viskositas, dan luas area riser dan downcomer/geometric
alat. Pengukuran konstanta perpindahan massa gas-cair dapat dilakukan dengan
metode sebagai berikut :
1. Metode OTR-Cd
Dasar dari metode ini adalah persamaan perpindahan massa (persamaan 12)
semua variabel kecuali K0A dapat terukur. Ini berarti bahwa dapat digunakan dalam
sistem kebutuhan oksigen, konsentrasi oksigen dari fase gas yang masuk dan
meninggalkan bioreaktor dapat dianalisa.
2. Metode Dinamik
Metode ini berdasarkan pengukuran C0i dari cairan, deoksigenasi sebagai
fungsi waktu, setelah aliran udara masuk. Deoksigenasi dapat diperoleh dengan
mengalirkan oksigen melalui cairan atau menghentikan aliran udara, dalam hal ini
kebutuhan oksigen dalam fermentasi.
3. Metode Serapan Kimia
Metode ini berdasarkan reaksi kimia dari absorbsi gas (O 2, CO2) dengan
penambahan bahan kimia pada fase cair (Na2SO3, KOH). Reaksi ini sering digunakan
pada reaksi bagian dimana konsentrasi bulk cairan dalam komponen gas = 0 dan
absorpsi dapat mempertinggi perpindahan kimia.
4. Metode Kimia OTR-C0i
Metode ini pada dasarnya sama dengan metode OTR-Cd. Namun, seperti
diketahui beberapa sulfit secara terus-menerus ditambahkan pada cairan selama
kondisi reaksi tetap dijaga pada daerah dimana nilai C 0i dapat diketahui. C0i dapat
diukur dari penambahan sulfit. Juga reaksi konsumsi oksigen yang lain dapat
digunakan.
5. Metode Sulfit
Metode ini berdasarkan pada reaksi reduksi natrium sulfit. Mekanisme reaksi
yang terjadi : Reaksi dalam reaktor :
Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)
Reaksi saat analisa :
Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 + I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Mol Na2SO3 mula-mula (a)

7
N Na2 SO3
xV reaktor
eq

Mol I2 excess (b)


N KI
xV KI
eq

Mol Na2SO3 sisa (c)


1 N Na 2 SO 3
b
2 ( eq )
xV Na SO
2 3

Mol O2 yang bereaksi (d)

O2 yang masuk reaktor (e)

Koefisien transfer massa gas-cair (KLa)

KLa

2.4. Kegunaan Hidrodinamika Reaktor dalam Industri


Berikut ini beberapa proses yang dasar dalam perancangan dan operasinya
menggunakan prinsip hidrodinamika reaktor :
1. Bubble Column Reactor
Contoh aplikasi bubble column reactor antara lain :
a. Absorbsi polutan dengan zat tertentu (misal CO2 dengan KOH)
b. Untuk bioreactor
2. Air-lift Reactor
Contoh aplikasi air-lift reactor antara lain :
a. Proses produksi laktase (enzim lignin analitik yang dapat mendegradasi lignin) dengan
mikroba

8
b. Proses produksi glukan (polisakarida yang tersusun dari monomer glukosa dengan
ikatan 1,3 yang digunakan sebagai bahan baku obat kanker dan tumor) menggunakan
mikroba
c. Water treatment pada pengolahan air minum
d. Pengolahan limbah biologis.

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

3.1. Bahan dan Alat yang Digunakanan


3.1.1. Bahan yang digunakan
Na2S2O3.5H2O 0,1 N

KI 0,1 N
Na2SO3 0,05 N

Larutan amylum
Zat Warna

Aquadest
3.1.2. Alat yang digunakan
Buret, statif, klem Rotameter
Beaker glass Sparger
Erlenmeyer Pipet tetes
Gelas ukur Tangki cairan
Kompresor Picnometer
Sendok reagen Gelas arloji
Inverted manometer Reaktor

Gamb
3.2. ar Alat

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hidrodinamika Reaktor

Keterangan :
A. Kompresor
B. Sparger
C. Rotameter
D. Tangki Cairan
E. Pompa
F Reaktor
G. Inverted manometer daerah riser
H. Inverted manometer daerah downcomer

3.3. Variabel Operasi


a. Variabel tetap :
- Tinggi Cairan : 91,5 cm
- Konsentrasi Na2SO3.5H2O : 0,1 N
- Konsentrasi Na2SO3 : 0,05 N
b. Variabel berubah
- Laju Alir Gas Masuk : 4, 5, dan 6 liter/menit

3.4. Respon Uji Hasil


a. Tinggi riser dan downcomer

10
b. Volume titran Na2S2O3.5H2O 0,1 N
c. Densitas cairan
d. Kecepatan sirkulasi

3.5. Prosedur percobaan


1. Menentukan hold-up pada riser dan downcomer
a. Mengisi reaktor dengan air dan menghidupkan pompa, setelah reaktor terisi air 91,5
cm maka pompa dimatikan.
b. Menambahkan Na2SO3 0,05N ke dalam reaktor, ditunggu 5 menit agar larutan Na 2SO3
larut dalam air.
c. Melihat ketinggian inverted manometer.
d. Hidupkan kompressor kemudian melihat ketinggian inverted manometer setelah
kompresor dihidupkan. Ambil sampel untuk titrasi dan menghitung densitasnya.
e. Menghitung besarnya hold up gas.

2. Menentukan konstanta perpindahan massa gas-cair
a. Mengambil sampel sebanyak 10 ml.
b. Menambahkan KI sebanyak 5 ml ke dalam sampel.
c. Menitrasi dengan Na2SO3.5H2O 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari coklat tua
menjadi kuning jernih.
d. Menambahkan 3 tetes amilum.
e. Menitrasi sampel kembali dengan larutan Na2SO3.5H2O 0,1 N.
f. TAT didapat setelah warna putih keruh.
g. Mencatat kebutuhan titran.
h. Ulangi sampai volume titran tiap 5 menit konstan.
3. Menentukan kecepatan sirkulasi
a. Merangkai alat yang digunakan.
b. Mengisi reaktor dengan air dan Na2SO3 0,05 N.
c. Menghidupkan kompresor.

11
d. Memasukkan zat warna pada reaktor downcomer.
e. Mengukur waktu yang dibutuhkan oleh cairan dengan indikator zat warna tertentu
untuk mencapai lintasan yang telah digunakan.
f. Menghitung besarnya kecepatan sirkulasi.

12
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Percobaan
a. Hold Up Gas
Tabel 4.1 Pengaruh Laju Alir Udara terhadap Hold Up Gas
Hold Up Gas
La


U


(gr d

(c

0,
0,
4 0, 00245 0,
00122
0,
5 1, 006142 0, 0,

0,
6 1, 011 0, 0,


b. Laju Sirkulasi
Tabel 4.2 Pengaruh Laju Alir Udara terhadap Laju Sirkulasi

L U U


4 4 2


5 4 3


6 4 3


c. Koefisien Transfer Massa Gas-Cair (KLa)

Tabel 4.3 Pengaruh Waktu terhadap Nilai Kla pada Berbagai Laju Alir

KLa (L/s)

Laju Alir
t
Gas
(
(mL/s)
menit)

0

5 2,96 2,96


10 1,48 1,48


15 0.98 0,98


20 0,73 0,73


25 0,59


30 .......


35 ....... ........

r
ata-rata 1,032 1,081

4.2 Pembahasan
4.2.1. Pengaruh laju alir gas terhadap hold-up gas

0.01

0.01

0.01
Hold-up gas riser Hold-up gas downcomer
Hold-up gas () 0.01
0

0
Hold-up gas rata-rata
0
4 5 6

Variabel Laju alir gas ( mL/s )

Gambar 4.1 Hubungan antara Laju alir gas dengan


hold-up gas

Pada gambar diatas terlihat bahwa semakin besar laju alir maka
nilai hold-up nya juga semakin besar dengan data didapatkan hold-up gas
riser 0,00245, 0,00614, 0,011, hold-up gas downcomer 0,00122, 0,00368,
0,00733, dan hold-up gas rata-rata 0,00194, 0,00513, 0,00949 . Hal ini
dikarenakan semakin besar laju alir, gelembung udara yang ada di dalam air
(di dalam reaktor) akan bertambah banyak pula sehingga fraksi volume
udara dalam larutan juga akan bertambah banyak. Bertambahnya fraksi
volume udara akan meningkatkan nilai hold-up gas (Haryani dan Widayat,
2011).

Dari gambar 4.1 juga dapat diketahui hubungan antara r, d,


dan total. Hubungan ketiganya dapat dilihat berdasarkan rumus hold-up gas
berikut :

...

...


Dari rumus diatas dapat dilihat bahwa nilai hold-up gas
dipengaruhi oleh perubahan ketinggian inverted manometer (hr dan hd)
yang berhubungan dengan reaktor. Perbedaan ketinggian tersebut terjadi
karena masuknya gas ke dalam reaktor. Berdasarkan tabel 4.1, nilai hr
yang didapatkan lebih besar daripada nilai hd. Hal ini dikarenakan pada
bagian riser terdapat sparger yang berfungsi menghasilkan gas yang berasal
dari kompresor sehingga terjadi perbedaan tekanan yang mengakibatkan
perbedaan ketinggian inverted manometer. Ketika sampai permukaan,
cairan gelembung tersebut akan terlepas kembali ke udara tanpa melalui
area downcomer. Oleh karena itu nilai hr lebih besar daripada nilai hd.

(Haryani dan Widayat, 2011)

Dari gambar 4.1 juga dapat diketahui bahwa downcomer


lebih kecil dari total dan riser. Hal ini karena hold up gas dipengaruhi
oleh laju sirkulasi cairan di dalam reaktor. Selain itu, hold up gas juga
tergantung kecepatan kenaikan gelembung, luas gelembung dan pola aliran.
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa pada bagian riser terdapat
terdapat sparger yang berfungsi menghasilkan gas yang berasal dari
kompresor, sehingga dapat diketahui bahwa pada bagian riser akan terjadi
kontak terlebih dahulu dengan gas yang dihasilkan oleh sparger baru
kemudian bergeser dan turun pada area downcomer. Oleh karena itu, nilai
downcomer lebih rendah daripada riser dan total.
Sedangkan hubungan antara total dengan riser dan
downcomer pada percobaan ini yaitu nilai total berada diantara riser dan
downcomer. Hal itu dikarenakan nilai riser diasumsikan sebagai batas
atas dan downcomer diasumsikan sebagai bawah. Maksud dari batas atas
yaitu keadaan dimana laju alir gas masuk ke dalam reaktor dalam jumlah
maksimal, sedangkan batas bawah yaitu keadaan dimana gas yang berasal
dari kompresor ada dalam reaktor dengan jumlah sedikit/minimal. Dengan
begitu dapat disimpulkan bahwa nilai total berada diantara riser dan
downcomer, karena total dipengaruhi oleh riser dan downcomer.

(Widayat,dkk. 2004)

4.2.2.Pengaruh laju alir gas terhadap laju sirkulasi


50

40

30
Laju sirkulasi (cm/s)
20

10

0
4 5 6

Variabel Laju alir gas ( mL/s )

Laju Sirkulasi Rise (Ulr)


Laju Sirkulasi Downcomer (Uld)

Gambar 4.2 Hubungan antara laju alir gas dengan


laju sirkulasi
Dari gambar 4.2 dapat diketahui bahwa semakin besar nilai laju
alir gas maka nilai Ulr dan Uld akan semakin besar pula. Percobaan ini
dilakukan dengan menggunakan zat warna yang diteteskan pada area
downcomer. Semakin besar laju alir gas yang diberikan pada reaktor
mengakibatkan daya dorong area downcomer semakin besar sehingga
waktu yang diperlukan untuk menempuh lintasan yang ditentukan menjadi
semakin sedikit/kecil dan laju sirkulasi cairan menjadi semakin besar. Hal
ini sesuai dengan persamaan beikut:

Lc
Uld = tc

dimana : Uld = laju sirkulasi cairan downcomer


(cm/s) Lc = panjang lintasan dalam reaktor
(cm) tc = waktu (s)

Hal ini diperkuat pula dengan penelitian Haryani dan Widayat


(2011) yang menyebutkan pada konsentrasi larutan yang sama, maka laju
sirkulasi semakin cepat dengan bertambahnya laju alir.
Berdasarkan gambar 4.2 juga dapat dilihat bahwa nilai Ulr lebih
besar daripada Uld. Hal ini berbanding terbalik dengan referensi dimana
Uld seharusnya lebih besar dibandingkan dengan Ulr, fenomena ini dapat
terjadi karena jumlah gas yang terlarut dalam cairan tidak sebanding dengan
banyaknya udara yang dibutuhkan dalam rekasi. Dengan kata lain,
gelembung tidak bertahan cukup lama di dalam air dan udara yang
diumpankan ke dalam larutan tidak banyak termanfaatkan atau terbuang sia-
sia ke luar dari reaktor sehingga tidak mengalir ke area downcomer yang
menyebabkan nilai Ulr tampak lebih besar dibandingkan nilai Uld.
(Nurhasanah, dkk. 2007)







4.2.3. Pengaruh laju alir gas terhadap nilai koefisien transfer massa-gas cair
(KLa)
rata-rata

1.14
1.12
1.1
1.08

Kla rata-rata (L/s) 1.06


1.04
1.02
1
0.98
4 5 6

Variabel Laju alir gas (mL/s)

Gambar 4.3 Hubungan antara Laju Alir Gas dengan Kla rata-
rata

Dari referensi Haryani dan Widayat (2011) dapat diketahui
bahwa semakin besar laju alir udara, maka semakin besar nilai koefisien
perpindahan massa gas-cair (KLa) rata-rata nya. Namun, kondisi yang
berbeda pada percobaan ini, diketahui bahwa Kla rata-rata pada variabel 1
sebesar 1,123 L/s, variabel 2 dengan laju alir gas 5mL/s mengalami
penurunan dengan nilai sebesai 1,032 L/s, dan variabel 3 sebesar 1,081 L/s.
Hal tersebut dikarenakan pengontrolan laju alir gas masuk yang tidak
konstan pada saat percobaan yakni dibawah batas variabel, dapat diartikan
bahwa kontrol gerak turbulensi yang tidak tetap. Kontrol turbulensi dapat
mengakibatkan kenaikan dan penurunan perpindahan massa. Nilai koefisien
perpindahan massa terpengaruhi dengan turunnya laju alir gas yang masuk.
( Prasetyo, 2009 )

Fenomena ini tidak sesuai dengan pernyataan Haryani dan


Widayat (2011) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa semakin
besar laju alir udara, maka nilai Kla akan semakin besar. Hal itu
dikarenakan, semakin besar laju alir udara maka udara yang dapat
dipindahkan ke dalam larutan semakin besar pula sehingga Kla semakin
besar. Selain itu Widayat (2011) juga menyatakan bahwa semakin besar laju
alir maka konsentrasi oksigen dalam medium bertambah sehingga akan
terjadi perpindahan massa oksigen secara cepat. Sehingga perbedaan
konsentrasi oksigen semakin besar dan Kla akan semakin besar pula.
(Haryani dan Widayat, 2011)

4.2.4. Pengaruh Waktu terhadap Nilai Kla


3.5
3
2.5
2
KLa (L/s) 1.5
1
0.5
0
0 5 10 15 20 25 30 35

Waktu Tinggal ( menit )

6 mL/s 4 mL/s 5 mL/s

Gambar 4.4 Hubungan antara waktu tinggal dengan


Kla

Dari gambar 4.4, dapat diketahui bahwa semakin lama waktu,
maka semakin kecil nilai koefisien perpindahan massa gas-cair (Kla). Hal
ini dikarenakan semakin lama waktu, Na 2SO3 yang bereaksi dengan O2
semakin berkurang. Reaksinya adalah sebagai berikut :
Na2SO3 + O2 Na2SO4 + Na2SO3 [sisa]
Na2SO3[sisa] + KIO3 Na2SO4 + KIO2 + I2 [sisa]
I2 [sisa] + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Semakin berkurangnya Na2SO3 mengakibatkan reaktan akan
semakin jenuh oleh gas. Keadaan jenuh ini ditandai dengan menurunnya
koefisien perpindahan massa cairan (Kla). Sehingga, harga Kla akan
semakin kecil dengan bertambahnya waktu.

Pada berbagai laju alir gas, nilai Kla per menitnya mengalami
penurunan. Namun hanya terjadi perubahan yang sangat kecil atau dapat
dikatakan bahwa perubahannya tidak signifikan. Hal itu dikarenakan
perbedaan waktu TAT (titik akhir titrasi) pada setiap variabelnya, pada
variabel 1 hanya sampai 25 menit sementara variabel 2 30 menit dan
variabel 3 35 menit. Semakin lama waktu TAT akan mengakibatkan volume
titran semakin banyak dan Kla rata-rata semakin menurun sesuai dengan
rumus

Jumlah Kla
Kla rata-rata = banyaknya data .

Pernyataan diatas diambil setelah perhitungan dengan rumus Kla


sebagai berikut :

Mol Na2SO3 mula-mula (a) =


N Na2 SO 3
xV reaktor
eq

N KI
Mol I2 excess (b) = xV KI
eq

1 N Na 2 SO 3
Mol Na2SO3 sisa (c) = b
2( eq )
xV

Na2SO3
1
Mol O2 yang bereaksi (d) = x ( ac )
2

O2 yang masuk (e) = ( dxBM O2


t .60 )

e
Koefisien transfer massa gas-cair (KLa) = ( 0,008 )

Berdasarkan beberapa persamaan diatas, dapat diketahui bahwa


nilai Kla dipengaruhi langsung oleh lamanya waktu TAT.

(Nurhasanah, dkk. 2007)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Semakin besar laju alir udara, maka hold up gas semakin besar pula karena gelembung
udara yang ada di dalam reaktor akan bertambah banyak pula sehingga fraksi volume
udara dalam larutan juga akan bertambah banyak. Pada percobaan ini didapatkan r
lebih besar dibandingkan d dikarenakan pada area riser terjadi kontak terlebih
dahulu dengan gas yang dihasilkan oleh sparger baru kemudian bergeser turun ke area
downcomer.
2. Semakin besar laju alir, maka laju sirkulasi untuk riser dan downcomer semakin
meningkat karena adanya daya dorong yang semakin besar. Namun pada percobaan
ini didapatkan nilai Ulr lebih besar dibandingkan Uld dikarenakan gas yang
diumpankan masuk terbuang sia-sia ke udara dan tidak mengalami sirkulasi ke bagian
downcomer.
3. Semakin besar laju alir udara, maka semakin besar nilai koefisien transfer massa gas-
cair (KLa) karena konsentrasi oksigen dalam medium menjadi bertambah, namun pada
percobaan ini terdapat perbedaan hasil Kla dikarenakan pengontrolan laju alir gas
yang tidak konstran.
4. Semakin lama waktu, maka semakin kecil nilai koefisien transfer massa gas-cair (K La)
karena semakin sedikit Na2SO3 yang bereaksi dengan O2 sehingga reaktan menjadi
jenuh. Perbedaan nilai Kla juga dipengaruhi oleh waktu TAT yang terlalu cepat.
5.2 Saran

1. Luas alas riser dan downcomer diberikan keterangan agar tidak didapati luas daerah
riser dan downcomer yang berbeda-beda dalam pengukurannya.
2. Alat timbang sebaiknya mengunakan digital daripada neraca ohaus dikarenakan hasil
yang lebih akurat dan mempermudah dalam percobaan.
3. Panjang lintasan sirkulasi untuk menentukan kecepatan laju sirkulasi sebaiknya di
bagian mendekati atas reaktor dikarenakan untuk menghindari terdispersinya zat
warna yang terlalu cepat
4. Ditambahkan kran/valve pada bagian setelah pompa seperti pada gambar rangkaian
alat hidrodinamika reaktor untuk menghindari terjadinya arus balik ketika larutan
pada reaktor dibuang.
DAFTAR PUSTAKA

Christi, M. Y., 1989, Air - lift Bioreactor , El Sevier Applied Science,
London.
Christi Yusuf, Fu Wengen dan Murray Moo Young. 1994. Relationship
Between Riser and Downcomer Gas Hold-Up In Internal-Loop Airlift Reactors
Without Gas-Liquid Separator. The Chemical Engineering Journal,57 (1995)
B7-B13. Canada
Coulson, J.M dan Richardson, J.I. 1997. Chemical Engineering. 3rd ed.
Pergamon Press : Oxford
Haryani dan Widayat. 2011. Pengaruh Viskositas dan Laju Alir terhadap
Hidrodinamika dan Perpindahan Massa dalam Proses Produksi Asam Sitrat
dengan Bioreaktor Air-Lift dan Kapang Aspergillus Niger. Jurnal Reaktor Vol.
13. Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (diakses tanggal 2 Maret
2016)
Kawase, Y., Halard, B., and Moo-Young, M., (1987), Theoretical Prediction of
Volumetric Mass Transfer Coefficients in Bubble Column for Newtonian and
Non Newtonian Fluids, Chem. Eng. Sci., pp. 1609-1617
Nurhasanah,dkk. 2007. Efektivitas Pemberian Udara Berkecepatan
Tinggi Dalam
Menurunkan Polutan Leachate Tpa Sampah : Studi Kasus Di Tpa
Sampah
Galuga Kota Bogor .http://repository.ipb.ac.id/ojs/index.php/ijc/article
(diakses
tanggal 6 Maret 2016)
Prasetyo,Indrawan. 2008. Perpindahan Massa Konservatif. Fakultas Teknik
Universitas Indonesia. (diakses tanggal 2 Maret 2016)
Widayat. 2004. Pengaruh Laju Alir dan Viskositas Terhadap Perpindahan
Massa Gas-
Cair Fluida Non Newtonian Dalam Reaktor Air Lift
Rectangular. Posiding
Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2004 ISSN : 1411-4216
(diakses
tanggal 2 Maret 2016)
Widayat dkk. 2011. Perpindahan Massa Gas-Cair dalam Proses Fermentasi
Asam Sitrat dengan Bioreaktor Bergelembung. Momentum Vol. 7, No. 2.
Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (diakses tanggal 2 Maret 2016)
William, J. A., 2002, Keys To Bioreactor Selections , Chem. Eng.
Prog, hal 3441

LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN

Keteranga 1 2 3
n/ Variabel
riser 0,2 0,5 cm 0,9
cm cm
downco 0,1 0,3 cm 0,6
mer cm cm
awal 0,98 1,008 1,009
gr/cm3 gr/cm3
gr/cm3
Panjang 40 40 cm 40 cm
Lintasan cm
T sirkulasi 1s 0,9 s 0,85 s

1. N Na2SO3 = gr/Mr x 1/18.446

0,05 N = gr/126 x1/18.446

Gr = 58,1 gram

2. N Na2S2O3. 5H2O = gr/Mr x 1000/500 x2 (basis 500 ml)

0,05 N = gr/248,15 x1000/500 x 2

Gr = 6,2 gram
3. KI 0,1N @5ml
4. Amilum 6 gram dalam 200 ml aquadest
5. Luas Area Riser (Ar) = (8,2 cm x 14 cm) = 114,8 cm2

6. Luas Area Downcomer (Ad) = (5,7 cm x 14 cm) = 79,8 cm2


7. Volume Reaktor = Luas alas total x tinggi cairan
= (114,8 cm + 79,8 cm) x 91,5 cm
= 17805 cm3 = 17,8 dm3
8. Perbedaan Tinggi Alas dengan Sparger = 10 cm
LEMBAR PERHITUNGAN

1. Penentuan Hold Up Gas gas = 0,0012 gr/ml

Z = 91,5 cm 10 cm = 81,5 cm
a. Variabel 1 ( Laju alir udara 4 cm3/s ) hr = 0,2 cm ; hd = 0,1 cm
(39,525) gr
cairan = =0,98 gr /ml
25 ml

L hr 0,98 gr /ml 0,2


x = x =0,00245
r = L g z ( 0,980,0012 ) gr / ml 81,5

L hd 0,98 gr /ml 0,1


d = x = x =0,00122
L g z ( 0,980,0012) gr /ml 81,5

Ar . r+ Add
total = Ar+ Ad =

(114,8 x 0,00245)+(79,8 x 0,00122)


=0,00194
( 114,8+79,8)


b. Variabel 2 ( Laju alir udara 5 cm3/s ) hr = 0,5 cm ; hd = 0,3cm
(40,2225) gr
cairan = =1,008 gr /ml
25 ml

r =
L hr 1,008 gr /ml 0,5
x = x =0,006142
L g z ( 1,0080,0012 ) gr /ml 81,5

d =
L hd 1,008 gr / ml 0,3
x = x =0,00368
L g z ( 1,0080,0012 ) gr /ml 81,5

Ar . r+ Add
total = Ar+ Ad =

(114,8 x 0,006142)+(79,8 x 0,00368)


=0,00513
( 114,8+79,8)

c. Variabel 3 ( Laju alir udara 6 cm3/s ) hr = 0,9 cm ; hd = 0,6 cm
(40,23225) gr
cairan = =1,009 gr /ml
25 ml

L hr 1,009 gr /ml 0,9


r = x = x =0,011
L g z ( 1,0090,0012 ) gr /ml 81,5

d =
L hd 1,009 gr / ml 0,6
x = x =0,00733
L g z ( 1,0090,0012 ) gr /ml 81,5

Ar . r+ Add
total = Ar+ Ad =

(114,8 x 0,011)+(79,8 x 0,00733)


=0,00949
(114,8 +79,8)


2. Perhitungan Laju Sirkulasi
Lc = 40 cm
Lc
ULd = tc

Ad
Ulr = Uld x Ar

a. Variabel 1 ( Laju alir udara 4 cm3/s ) ; tc = 1s


Lc 4 o cm
Uld = = =40 cm/s
tc 1s

Ad 79,8 cm 2
Ulr = Uld x = 40 cm/s x =27,8 cm/s
Ar 114,8 cm2


b. Variabel 2 ( Laju alir udara 5 cm3/s ) ; tc = 0,9s
Lc 4 o cm
Uld = = =44,44 cm/s
tc 0,9 s
Ad
Ulr = Uld x Ar = 44,44 cm/s x

79,8 cm 2
=30,89 cm/s
114,8 cm2


c. Variabel 3 ( Laju alir udara 6 cm3/s ) ; tc = 0,85s
Lc 4 o cm
Uld = tc = 0,85 s =47 cm/s

Ad 79,8 cm 2
Ulr = Uld x = 47 cm/s x =32,71 cm/s
Ar 114,8 cm2


3. Perhitungan Koefisien Transfer Perpindahan Massa Gas-Cair (KLa)
Reaksi dalam Reaktor :
Na2SO3 + 0,5 O2 Na2SO4 + Na2SO3(sisa)

Reaksi saat analisa :


Na2SO3(sisa) + KI + KIO3 Na2SO4 + 2KIO2 +
I2(sisa)
I2 (sisa) + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2NaI
N Na2 SO 3
Mol Na2SO3 mula-mula (a) = xV reaktor
eq

N KI
Mol I2 excess (b) = xV KI
eq

1 N Na 2 SO 3
Mol Na2SO3 sisa (c) = b
2( eq )
xV Na SO
2 3

1
Mol O2 yang bereaksi (d) = x ( ac )
2

O2 yang masuk (e) = ( dxBM O2


t .60 )
e
Koefisien transfer massa gas-cair (KLa) = ( 0,008 )

Variabel 1 (Laju alir udara 4 cm3/s)


e
(mgr/s)
( ( ( (
(m mmol) mmol) mmol) mmol)

4 0 0 2 0
45,14 ,5 ,475 22.33 0
4 0 0 23
45,14 ,5 ,46625 ,715 2,96

0 0 11
10 ,5 ,46125 ,85 1,48

0 0 7,
15 ,5 ,455 9 0.98

0 0 5,
20 ,5 ,455 9 0,73

0 0 4,
25 ,5 ,45375 74 0,59

Kla rata-rata
1,123

e
c d (mgr/s) KLa
( ( ( ( ( (L/s)
menit) mmol) mmol) mmol) mmol)

2,2 0,5 0,4 0 0


2,7 0,5 0,4 2,96


10 0,5 0,4 1,48


15 3,1 0,5 0,4 7, 0,98


20 3,8 0,5 0,4 5, 0,73


25 3,8 0,5 0,4 4,


30 3,9 0,5 0,4 3,

Kla rata-rata
1,032
Variabel 2 (Laju alir udara 5 cm3/s)

Variabel 3 (Laju alir udara 6 cm3/s)



e
( ( ( ( (
menit) mmol) mmol) mmol) mmol)
0

2
3.71

1
1,85

7,
9

5,
92

4,
74

3,
95

3,
38

Kla rata-rata 1,081


Momentum, Vol. 7, No. 2, Oktober 2011 : 14- 17

PERPINDAHAN MASSA GAS CAIR DALAM


PROSES FERMENTASI ASAM SITRAT DENGAN
BIOREAKTOR BERGELEMBUNG


Proses fermentasi asam sitrat dapat dilangsungkan dalam fase cair.
Widayat1), Proses fermentasi ini berlangsung secara aerob, sehingga keberadaan oksigen

Abdullah1), dalam fase cair sangat menentukan keberhasilan proses fermentasi. Penelitian
D. soetrisnanto1) ini proses bertujuan fermentasi untuk asam mempelajari sitrat, prosdengan
2)
es perpindahan variabel yang massa dipelajari gas-cair adalah dalam dan M. Hadi
konsentrasi jamur dan laju alir udara. Penelitian dilakukan pada suhu kamar
30o dan tekanan 1 atm. Laju volumetrik udara divariasi pada rentang 27.4 6 dan 20 x 106
58.07spora. cc/detikPegukuran perpindahan massa d, dan konsentrasi jamur
Aspergillus nengan metode dinamik, yaitu dengan iger 10 x 10 mengukur konsentrasi oksigen terlarut dengan
DO meter setiap detik secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi awal 1)
Jurusan Teknik Kimia Fakultas kapang akan mengakibatkan penurunan koefisien transfer massa.
Peningkatan

Teknik UNDIP Semarang laju alir udara akan meningkatkan koefisien transfer massa. Hubungan

Jl Prof Sudarto SH Tembalang E konstanta perpindahan massa terhadap laju alir volumetrik udara pada mail:
yayat_99@yahoo.com fermentasi asam sitrat diperoleh persamaa kLa = 8.0031.Vg0.698. Pada
2)

Jurusan Biologi fakultas MIPA penelitian yang dilakukan Shah et al., 1982
diperoleh hubungan : kLa =
UNDIP Semarang 0.82
.

0.467 .Vg
Kata kunci: bioreaktor bergelembung, proses perpindahan massa, konsentrasi jamur,
laju alir dan konstanta perpindahan massa


Pendahuluan dipengaruhi oleh kecepatan
Bioreaktor bergelembung kenaikan gelembung.
merupakan salah satu jenis bioreaktor yang Sirkulasi juga mempengaruhi
banyak digunakan. Bioreaktor ini turbulensi, koefisien transfer
mempunyai banyak kelebihan jika massa dan panas dan juga
dibandingkan dengan bioreaktor tenaga yang dikeluarkan.
berpengaduk. Reaktor ini banyak dipakai Penelitian ini bertujuan untuk
dalam operasi kontak antar fase gas-cair mempelajari
(transfer massa) dalam proses industri pengaruh laju alir dan
kimia, bioteknologi (sebagai bioreaktor), konsentrasi awal mikroba
dan pengolahan limbah secara biologis terhadap koefisien
(aerob) yang menggunakan lumpur aktif. perpindahan massa (kLa).
Keuntungan itu diantaranya Transfer massa dapat
perancangannya sederhana, tanpa ada bagian diperkirakan dengan
yang bergerak,, aliran dan pengadukan koefisien perpindahan massa
mudah dikendalikan, waktu tinggal dalam volumetrik (kLa), yang mana
reaktor seragam, kontak area lebih luas kLa dan luas perpindahan
dengan energi input yang rendah, dan massa gas cair sangat
meningkatkan perpindahan massa penting digunakan untuk
(Williams, 2002).. design dan scale up reaktor
Di dalam perancangan bioreaktor gas cair
faktor yang sangat berpengaruh adalah Penelitian tentang
hidrodinamika reaktor, transfer massa gas- perpindahan massa yang
cair, rheologi proses dan morfologi telah dilakukan diantaranya,
produktifitas organisme. Hidrodinamika adalah perpindahan massa
reaktor mempelajari kelakuan dinamik pada fluida non-newtonian
larutan CMC dan xanthan
cairan dalam reaktor sebagai akibat laju alir
menggunakan reaktor tangki
gas masuk reaktor dan karakteristik berpengaduk.
cairannya. Hidrodinamika reaktor meliputi Hasil penelitian menunjukkan
hold up gas (fraksi gas saat penghamburan) bahwa bertambahnya laju alir
dan laju sirkulasi cairan. Perpindahan massa udara akan menaikkan
mempelajari perpindahan massa dari gas ke koefisien transfer massa
cair. Kecepatan sirkulasi cairan dikontrol (Martinov dan Vlaev, 2002).
oleh hold up gas, sedang hold up gas Proses perpindahan massa
pada cairan organik
(methanol, air, toluene dan
ligroin) dalam reaktor
bergelembung juga telah
dilakukan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
bertambahnya laju alir udara
akan meningkatkan koefisien
perpindahan massa (Quicker,
Schumpe dan Deckwer,
1984). Demikian juga pada
proses perpindahan massa
larutan CMC juga diperoleh
fenomena yang sama
(Deckwer 1991, Merchuk

14

Perpindahan Massa Gas-Cair dalam Proses Fermentasi.... (Widayat, dkk.)

dan Ben-Zvi, 1992). Penelitian lain 4 Dil V bs ..........


yang pernah dilakukan yaitu tentang efek (2) kil
keadaan cairan terhadap perpindahan db
massa pada reaktor bergelembung Persamaan ini adalah perkiraan pertama
menunjukkan bahwa semakin tinggi untuk harga kil pada dinamika gelembung pada
viskositas suatu cairan maka akan film cair.
menurunkan luas permukaan Sedangkan pada permukaan gas - cair
perpindahan massa gas cair yang dimana seluruh permukaan tersebut tidak
menyebabkan penurunan koefisien terdapat tranport konvektif dapat
transfer massa (Mouza et al, 2005). dikalkulasikan sebagai berikut :
Proses perpindahan massa gacair dalam
bioreaktor dengan keberadaan mikroba kil d b Sh 2 ........................ (3)
belum banyak dilakukan. Padahal
keberadaan oksigen dalam larutan sangat
berpenaruh pada proses fermentasi. Dil keadaan ini biasanya tidak akan
berlangsung lama karena meningkatnya kecepatan
Perpindahan massa adalah gelembung udara pada film cair dan adanya
perpindahan massa antar fase gas-cair transport konvektif pada jarak tertentu pada
terjadi karena adanya beda konsentrasi permukaan. Peneletian yang dilakukan oleh
antar kedua fase. Perpindahan massa Calderbank dan Moo-Youbng-1961 menyatakan
terjadi yaitu oksigen dari fase gas ke fase bahwa :
cair. Kecepatan perpindahan massa ini
dapat ditentukan dengan koefisien kil db db3. gl.
g
perpindahan massa. Koefisien 2 0,3
Dil . Dil
perpindahan massa oksigen dapat diukur i

dengan metode dinamik. Koefisen 0,33


perpindahan massa secara dinamik telah
diuraikan oleh Benyahia and Jones Sh(4)
(1997). Metode ini berdasar pada
konsentrasi oksigen terlarut (Disolved Sh = f(Re, Sc)
Oxygen) dalam media cair sebagai fungsi
waktu.
Penelitian yang dilakukan oleh Metodologi Penelitian
Shah et al. (1982) dengan menggunakan
bubble column reaktor. Fluida yang Reaktor bergelembung berdimensi
digunakan adalah tap water, dan diameter 10 cm dan ketinggian 85 cm. Fluida non
pengukuran transfer massa adalah Newtonian yang digunakan adalah larutan nanas
dengan metode dinamis. Hasil yang dan udara yang diperoleh dari kompresor.
diperoleh dari penelitian tersebut berupa Percobaan dilakukan pada suhu kamar 30oC dan
persamaan matematika yang tekanan 1 atm. Laju volumetrik udara divariasi
menghubungkan konstanta laju pada skala rotameter 1 - 3. Peralatan yang
perpindahan massa gas-cair dengan laju digunakan untuk penelitian seperti disajikan
alir volumetric udara. Persamaan tersebut dalam gambar 1.
seperti disajikan dalam Persamaan 1: Percobaan pendahuluan dilakukan dengan
proses kalibrasi flowmeter. Proses kalibrasi untuk
mengetahui laju alir udara yang terukur dalam alat
kLa 0.467.Vg 0.82 . flowmeter. Untuk mempelajari perpindahan massa
(1) gas-cair dengan mengukur oksigen terlarut dengan
DO meter. Media fermentasi dan suspensi
Aspergillus niger dimasukkan kedalam reaktor.
Lewis and Whitman (1924) dalam Sampel diambil untuk diukur konsentrasi oksigen
Riet dan Tramper, 1991 menggambarkan terlarut dengan DO meter, densitas dan viskositas
bahwa transfer massa sebagai proses larutannya.
difusi pada reaktor bubble column
dengan ketebalan film yang dinotasikan
dengan diameter gelembung ( db) dan
kecepatan gelembung gas (Vbs) dan
dengan asumsi profil konsentrasi yang
linier, dapat dinyatakan :
berakibat konsentrasi oksigen terlarut menjadi
berkurang, sehingga dengan bertambahnya waktu
perpindahan massa juga mengalami kenaikan.
Untuk konsentrasi biomass atau kapang akan
mempengaruhi densitas (seperti terlihat pada
Gambar 3) bahwa konsentrasi kapang yang tinggi
densitas lebih besar, sehingga perpindahan massa
menjadi lebih kecil. Hal ini juga ditunjukan oleh
Gambar 2 bahwa konstanta perpindahan massa
nilai lebih kecil pada medium dengan jumlah
kapang 2 x 106 spora dibandingkan medium
dengan kapang 10 x106 spora.

Kla, 1/detik
Gambar 1. rangkaian alat
percobaan

Hasil dan Pembahasan
Studi perpindahan massa dengan
adanya kapang Aspergillus niger diamati

15

konsentrasi oksigen dengan DO meter,


setiap waktunya. Selanjutnya untuk 1.00E-02
memperoleh diskripsi yang jelas
9.00E-03
Momentum, Vol. 7, No. 2, Oktober 2011 :
8.00E-03
14- 17
7.00E-03
6.00E-03
setelah diolah konstanta perpindahan 5.00E-03
massa gascair (Kla) dibuat grafik hubungan 4.00E-03
Kla dengan waktu. Hasil yang diperoleh
3.00E-03
seperti disajikan dalam Gambar 5.8.
2.00E-03 laju alir udara 27,4 cc/detik
Gambar 2. menunjukan bahwa setiap 1.00E-03 laju alir udara 42,3 cc/detik

terjadi kenaikan laju alir diperoleh nilai 0.00E+00


laju alir udara 58,1 cc/detik

konsntnata perpindahan massa gas-cair 0 50 100 150 200


waktu, jam
(Kla) semakin bertambah dan juga dengan
bertambahanya waktu nilai konstanta
perpindahan massa gas-cair (Kla) juga 8.0E-03
bertambah. Hasil lain yang diperoleh bahwa
konsentrasi jamur juga berpengaruh 7.0E-03
terhadap nilai konstanta perpindahan massa.
Hal ini dikarenakan bahwa laju alir udara 6.0E-03
yang bertambah maka konsentrasi oksigen 5.0E-03
dalam medium juga bertambah, dengan kla, 1/detik
demikian akan terjadi perpindahan massa 4.0E-03
oksigen secara cepat. Hal ini terjadi karena
perbedaan konsentrasi oksigen yang cukup 3.0E-03

besar. Dengan demikian konstanta 2.0E-03 laju alir udara 27,4 cc/detik
perpindahan massa gas-cair (Kla) juga
bertambah. Proses fermentasi berlangsung 1.0E-03 laju alir udara 42,4 cc/detik
akan menyebabkan terjadinya konsumsi
laju alir udara 58,1 cc/detik
oksigen oleh kapang Aspergillus niger untuk
pertumbuhan atau metabolisme. Hal ini 0.0E+00
0 50 100 b. jumlah kapang 20 x 106 spora
150 200
waktu, jam

Gambar 3. Grafik hubungan


waktu fermentasi terhadap
a. jumlah kapang 10 x 106 spora densitas
b. jumlah kapang 20 x 106 spora

Gambar 2. Grafik Hubungan waktu fermentasi
terhadap konstanta perpindahan massa gas cair
(Kla)

Gambar 3 menunjukkan kenaikan
densitas dengan bertambahnya waktu
fermentasi. Kenaikan terjadi secara linier
dengan slope yang kecil. Hal ini terjadi
dengan aihasilkan produk-produk dari
proses fermentasi seperti asam sitrat,
asam oksalat dan asam malat. Dengan
terbentuknya produk ini kenaikan densitas
hanya kecil.

0.9
0.85
0.8 laju alir udara 27,4 cc/detik

laju alir udara 42,4 cc/detik


densitas,0.75
g/ml laju alir udara 58,1 cc/detik
0.7
0.65
0.6
0.55
0.5
0 50 100 150 200

waktu, jam

0.9 laju alir udara 27,4 cc/detik


laju alir udara 42,4 cc/detik
0.8
laju alir udara 58,1 cc/detik
densitas, g/ml
0.7

0.6

0.5

0.4
0 50 100 150 200

waktu, jam


a. jumlah kapang 10 x 106 spora
16

Perpindahan Massa Gas-Cair dalam Proses Fermentasi.... (Widayat, dkk.)

Persamaan (Shah et al., 1982) pada gl = perbedaan antara spesifik density


percobaan dengan reaktor fase
bergelembung menggunakan air diperoleh cair dan gas(kg m ) -3

persamaan : = viskositas dinamik pada fase


kla 0,467 V g 0,82 cair
( N s m -2)
Pada percobaan kali ini db = diameter gelembung
dengan menggunakan larutan nanas pada laju
Dil = koefisien difusi komponen i
alir 27,4 cc/det, 42,37 cc/det, dan 58,07 cc/det
pada fase cair. g = percepatan grafitasi
pada reaktor bergelembung didapatkan
(m s-2)
hubungan persamaan : kla 8,0031V g0,698
kLa = koefisien perpindahan massa
Dari penelitian ini didapat gas-cair
kecenderungan yang sama yaitu semakin besar Vbs = kecepatan gelembung gas
laju alir udara maka koefisien Vg = laju alir volumetrik udara
perpindahan massa gas-cair semakin besar.
Perbedaan pada konstanta yang ada dalam
Daftar Pustaka
model tersebut,cukup signifikan.
A.A. Mouza et al. 2005. Effect of
liquid properties on the performance
Kesimpulan of bubble column reactors with fine
Dari penelitian ini dapat diambil pore spargers. Chemical Engineering
kesimpulan sebagai berikut; Konstanta Science 60, hal :1465 1475 .
perpindahan massa (Kla) semakin bertambah
Grund, G, A. Schumpe dan
dengan berlangsungnya proses fermentasi,
dengan bertambahnya laju alir. Bertambahnya W.D.Deckwer, 1992, Gas-Liquid Mass
konsentrasi kapang menyebabkan penurunan Transfer in A Bubble
konstnta perpindahan massa. Densitas Column with Organic Liquids,
mengalami kenaikan namun dengan slope Chem Eng.Sci., hal 3509-3516,
kecil, dengan bertambahnya waktu fermentasi. Pergamin Press Ltd.
Model matematika hubungan konstanta Krishna R, Van Baten JM.2003. Mass
perpindahan massa dengan laju alir volumetrik transfer in bubble columns.
adalah CatalToday.hal;79 80:6775.
kla 8,0031Vg0,698 . Mandal. A et all. 2003.Interfacial
Area and Liquid-Side Volumetric Mass
Transfer
Ucapan Terima Kasih Coefficient in a Downflow
Bubble Column. The Canadian
Pada kesempatan ini penulis Journal of Chemical Engineering,
mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Volume 81.
Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Merchuk, J.C. dan S. Ben-Zvi (Yona),
Pendidikan Tinggi Nasional, sesuai dengan 1992, A Novel Approach to The
Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah penugasan Correlation of Mass Transfer Rates in
Penelitian Desentralisasi Tahun Anggaran Bubble Column with Non-Newtonian
2007, Nomor : 014/SP2H/PP/DP2M/III/2007
Liquids, Chem. Eng. Sci., hal 3517-
tanggal 29 Maret 2007 yang telah membiayai
penelitian dalam program Hibah Bersaing. 3523, Pergamon Press Ltd.
Merchuk, J.C. dan Asenjo,
J.A. , 1995, Fundamental of
Daftar Notasi
Bioreactor Design, New York, Marcell
Dekker Inc. Moucha T, Linek V, Prokopova E.
2003. Gas hold-up, mixing time and gas
liquid columetric mass transfer coefficient of
various multi-impellerconfigurations:
Rushton turbine, pitched blade and techmix
impeller andtheir combinations. Chem Eng
Sci 2, hal:18391846. Prakash A,
Margaritis A, Li H.2001.
Hydrodynamics and local heattransfer
measurements in a bubble column with
suspension of yeast.Biochem Eng J;hal
9:15563.
Quicker G, Schumpe A, Deckwer WD.
1984. Gasliquid interfacial areas ina
bubble column with suspended solids.
Chem Eng Sci. hal :39-179.
Shah, Y. T., Kelkar, B. G., Godbole, S.
P., &
Deckwer, W. -D. 1982. Design
Parameters Estimations for Bubble
Column Reactor, American Institute
of Chemical Engineering Journal, 28,
353 379.
Williams, J.A., 2002, Keys To
Bioreactor Selections, Chem. Eng.
Prog, hal 34-41.
17

PENGARUH VISKOSITAS DAN LAJU ALIR TERHADAP


HIDRODINAMIKA DAN PERPINDAHAN MASSA DALAM
PROSES PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN
BIOREAKTOR AIR-LIFT DAN KAPANG Aspergilus
Niger


Kristinah Haryani dan Widayat

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jln. Prof. Sudarto SH., Kampus Undip Tembalang, Semarang 50239,
Telp. 024-7460058, Fax. 024-76480675
*)
Penulis korespondensi: krisyani_83@yahoo.co.id


Abstract

EFFECT OF VISCOSITY AND FLOW RATE ON THE HYDRODYNAMICS AND MASS
TRANSFER ON CITRIC ACID PRODUCTION USING Aspergilus Niger YEAST IN AN
AIRLIFT BIOREACTOR. Citric acid is an important organic acid that has many advantages used in
foods, drinks, pharmaceuticals industries. Waste of pine apple (covers and core of the fruit) still have high
contents of glucose and sucrose components, that these are potentially used as basic material for making
citric acid by means of fermentation using Aspergillus niger. The reactor to do so is a reactor air-lift
external loop with 88 cm in height, 45.41 cm 2 in riser area, and 2.01 cm 2 in downcomer area. This
research is intended to study the influence of volumetric flow and viscosity upon mass transfer in the
fermentation process of citric. The variable factors are concentration of total sugar (5 to 25%) and of
volumetric flow of gas 9.4 to 23.3 cc/second. A dynamic method used to measure of the constants transfer
of gas-fluid mass where oxygen concentration soluted is measured every 30 second using DO meter
device. Result of this research shows that the increase of viscosity causes the decrease of hold up gas and
fluid circulation speed of the fluid, and the decrease of the constants of mass transfer. The increase of air
speed flow will cause the increase of hold up gas and fluid circulation speed, and constants of mass
transfer. Relation of the constraints of mass transfer to volumetric flow and viscosity is formulated as
follow kLa = 26,17 x 10-4 (JG )0.647 (1 + AdAr )0.853 app-1,844

Keywords: airlift reactor; citric acid; fermentation; hydrodynamic and mass transfer


Abstrak

Asam sitrat adalah asam organik penting yang sangat banyak kegunaannya seperti untuk industri
makanan, minuman, farmasi, dan sebagainya. Limbah nanas (kulit dan bonggol) masih mengandung
kadar glukosa dan sukrosa yang cukup tinggi, sehingga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan
asam sitrat dengan cara fermentasi bantuan kapang Aspergillus niger. Reaktor yang digunakan adalah
reactor air-lift external loop. Reaktor yang digunakan berdimensi tinggi 88 cm, luas daerah riser 46,41
cm2, dan luas daerah downcomer 2,01 cm 2. Penelitian ini mempelajari pengaruh laju alir dan viskositas
terhadap proses perpindahan massa dalam proses fermentasi asam sitrat. Variabel berubah adalah
konsentrasi gula total (5-25%) dan laju alir gas 9,4-23,3 cc/detik. Metode untuk pengukuran konstanta
perpindahan massa gas-cair dengan metode dinamik, dimana konsentrasi oksigen terlarut diukur tiap 30
detik menggunakan alat DO meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan viskositas
mengakibatkan penurunan hold up gas dan laju sirkulasi cairan, juga penurunan konstanta perpindahan
massa. Kenaikan laju alir udara akan mengakibatkan kenaikan hold up gas, laju sirkulasi cairan,
konstanta perpindahan massa. Hubungan konstanta perpindahan massa terhadap laju alir dan viskositas
diperoleh persamaan
kLa = 26,17 x 10-4 (JG )0.647 (1 + AdAr )0.853 app-1,844

Kata kunci: reaktor airlift; asam sitrat; fermentasi; hidrodinamika dan perpindahan massa





PENDAHULUAN Penggunaan bioreaktor air lift untuk produksi
Asam sitrat merupakan salah satu produk asam sitrat telah dilakukan oleh Berovic dan Popovic,
industri bioteknologi, dimana sekitar 10% dari total (2001) dimana dipelajari pengaruh pencampuran,
produksinya digunakan dalam industri farmasi yaitu perpindahan massa oksigen di dalam reaktor
sebagai sumber zat besi yaitu sebagai Fe-sitrat, 25% bergelembung dan bioreaktor air lift dengan external
dimanfaatkan oleh industri kimia sebagai bahan loop. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
pelunak dan anti buih dan 60% digunakan dalam pertumbuhan mikroba lebih baik pada bioreaktor air
industri makanan dan minuman sebagai pengasam lift dengan external loop dari reaktor bergelembung,
minuman berkarbonasi, jamu, dan selai. Asam sitrat belum ditinjau dari produktifitas asam sitrat. Widayat
merupakan senyawa alami yang banyak terdapat pada dkk. (2003) juga telah mempelajari koefisien
berbagai jenis tanaman terutama buah-buahan. perpindahan massa pada reaktor air lift internal loop
Umumnya pembuatan asam sitrat menggunakan bahan berbentuk rectangular dengan fluida non-newtonian
baku onggok, gaplek, bekatul, dan tepung aren dan (tepung pati) tanpa adanya mikroba dalam media.
dengan proses fermentasi (Darwis dan Said, 1992). Dalam perancangan suatu reaktor, informasi
Proses produksi asam sitrat dengan fermentasi tentang kelakuan/hidrodinamika dan perpindahan
mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan massa yang terjadi di dalamnya sangat penting. Hal ini
dengan proses kimia yaitu; bahan baku yang murah, akan menggambarkan peristiwa yang terjadi nantinya.
suhu dan tekanan operasi yang rendah, dan hemat Hidrodinamika reaktor dalam bioreaktor airlift
energi. meliputi hold up gas dan laju sirkulasi cairan. Hold up
Selain bahan-bahan diatas, buangan gas atau fraksi kekosongan gas adalah fraksi volume
buahbuahan juga sudah digunakan untuk pembuatan fase gas pada disperse gas-cair/slurry. Hold up gas
asam sitrat (Kumar dkk., 2003). Proses fermentasi dapat dinyatakan secara keseluruhan dengan
asam sitrat dilakukan pada fase padat dimana persamaan
dipelajari pengaruh penambahan metanol. Dalam
penelitian tersebut diperoleh bahwa penambahan
Vg
metanol akan meningkatkan perolehan asam sitrat. = (1)
Untuk proses fermentasi asam sitrat fase cair
umumnya menggunakan bioreaktor yang berbentuk Vg + Vl
tangki berpengaduk (Brauer, 1985). Jenis reaktor ini
mempunyai keuntungan seperti keseragaman waktu Kegunaan hold up gas untuk menentukan
tinggalnya fase gas, intensitas pengaduk, perpindahan waktu tinggal gas dalam cairan. Hold up gas dan
massa dan panas dapat divariasi, sedangkan kerugian ukuran gelembung mempengaruhi luas permukaan
adalah biaya perawatan mahal dan membutuhkan gas cair yang diperlukan untuk perpindahan massa.
energi yang besar (Berovic dan Popovic, 2001). Hold up gas tergantung pada kecepatan kenaikan
Bioreaktor yang lain adalah bioreaktor bergelembung, gelembung, luas gelembung, dan pola aliran.
dimana salah satunya adalah bioreaktor air lift. Inverted manometer digunakan untuk menentukan
Bioreaktor air lift mempunyai keuntungan jika beda tinggi cairan akibat aliran gas, selanjutnya
dibandingkan dengan bioreaktor lainnya diantaranya; dipakai pada perhitungan hold up gas () pada riser
perancangan sederhana, tanpa ada bagian yang dan downcomer. Besarnya hold up gas dapat
bergerak, aliran dan pengadukan mudah dikendalikan, dihitung dengan persamaan 2,
waktu tinggal dalam reaktor seragam, kontak area
lebih luas dengan energi input yang rendah, adanya l h
peningkatan perpindahan massa dan memungkinkan
tangki yang besar sehingga kapasitas dapat = x (2)
ditingkatkan (Williams, 2002).
Nsh =12C40,51,070,5Sc1/2 Re3g/4 Fr7/60Bo3/5 (6)
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
Popovic dan Robinson (1989) memperoleh hidrodinamika dan perpindahan massa gas-
hubungan konstanta perpindahan massa volumetrik cair pada proses pembuatan asam sitrat dengan
(kLa) dengan laju alir dan viskositas pada proses fermentasi dengan mikroba Aspergilus niger
bioreaktor air lift external loop dengan larutan dalam bioreaktor air lift.
CMC (Carboxyl
Methyl Cellulose) seperti disajikan
dalam persamaan METODOLOGI
7.
kLa = 1,911 x 10-4 (JG)r0.525 (1+Ad/Ar)0.853 app-0.89 Penelitian pembuatan asam sitrat dari
(7) limbah buah nanas dalam bioreaktor air lift dengan
kapang Aspergilus niger ditekankan pada studi
Pada persamaan tersebut, koefisien perpindahan massa gas-cair Bahan baku yang
perpindahan massa gas-cair merupakan fungsi dari digunakan adalah limbah buah nanas (kulit dan
laju alir udara/kecepatan superficial gas, bonggol nanas) diperoleh dari pasar yang ada di
viskositas, dan perbandingan luas area riser dan
kota Semarang, diperas untuk mengambil
downcomer/geometrik alat.
cairannya. Bahan kimia sebagai nutrien N, P, dan K
Perpindahan massa antar fase gas-cair yaitu kalium fosfat dan amonium nitrat mempunyai
terjadi karena adanya beda konsentrasi antar kedua spesifik pro analisis yang dibuat oleh MERCK.
fase. Dalam penelitian ini perpindahan massa Strain Aspergillus niger dan potato dextrose
terjadi yaitu oksigen dari fase gas ke fase cair. diperoleh dari Lab. Mikrobiologi Jurusan Teknik
Kecepatan perpindahan massa ini dapat ditentukan Kimia UNDIP Semarang. Rangkaian peralatan
dengan koefisien perpindahan massa. Koefisien utama untuk proses fermentasi seperti disajikan
perpindahan massa oksigen dapat diukur dengan dalam Gambar 1.
metode dinamik.
Metode dinamik sesuai digunakan untuk Untuk studi hidrodinamika reaktor dan
medium fermentasi untuk skala kecil dan biayanya perpindahan massa, variabel berubah adalah
murah. Metode ini didasarkan pada konsentrasi konsentrasi gula total (5-25%) dan laju alir gas
oksigen terlarut dalam media cair sebagai fungsi 9,423,3 cc/detik. Metode untuk pengukuran
waktu. Data konsentrasi oksigen terlarut yang konstanta perpindahan massa gas-cair dengan
terhitung dianalisa untuk menentukan koefisien metode dinamik, dimana konsentrasi oksigen
transfer massa kLa untuk fase cair berdasar model terlarut diukur tiap 30 detik menggunakan alat DO
berikut: meter.



Gambar 1. Rangkaian alat percobaan untuk proses fermentasi
l g Z
Hold up gas total dalam reaktor dapat
dihitung dari kenaikan tinggi dispersi pada saat dalam hubungan ini C
aliran gas masuk reaktor sudah mencapai keadaan
tunak. Untuk menentukan hold up gas dapat
digunakan persamaan
3,

hD h l (3) =

hD

Sirkulasi cairan dalam reaktor air lift


disebabkan oleh perbedaan bulk densitas fluida pada
riser dan downcomer. Sirkulasi fluida ini dapat
dilihat kelakuan fluida, yaitu naiknya aliran fluida
pada riser dan menurunnya aliran pada downcomer.
Besarnya laju sirkulasi cairan ( U Ld) dapat diukur
dengan persamaan 4,

Lc

ULD =
(4) tc

Adapun koefisien perpindahan massa


volumetrik (kLa) adalah kecepatan spesifik dari
perpindahan massa yang dinyatakan dalam
banyaknya gas terabsorbsi per unit waktu, per unit
luas kontak, per unit beda konsentrasi. Koefisien
perpindahan massa volumetrik (k La) bergantung
pada sifat fisik dari sistem dan dinamika fluida.
Koefisien perpindahan massa pada kenyataannya
merupakan faktor yang proposional antara fluks
massa dari substrat (N s) dan gradien konsentrasi
yang dinyatakan dengan persamaan 5,
Ns = kLa (C1 C2) (5)
Di dalam persamaan 5, notasi 1 dan 2
mengindikasikan dua titik massa yang berpindah.
Dalam reaktor yang riil perbedaan yang besar dari
harga gradien mungkin coexist secara simultan,
sehingga nilai konstanta perpindahan massa sangat
berpengaruh. Kawase dkk. (1987)
mempelajari pendekatan teoritis koefisien perpindahan
massa volumetris dalam kolom bergelembung untuk
fluida newtonian dan fluida non newtonian. Koefisien
perpindahan massa dinyatakan sebagai bilangan
sherwood yaitu mengikuti persamaan 6.
= kLa (C C)

dt
d
Integrasi dari persamaan (8) C
adalah:
C* =1 exp(kLa(tt0))
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hidrodinamika Reaktor
Gambar 2 menunjukkan bahwa kenaikan )t
d
/
m
viskositas cairan akan menyebabkan menurunnya c(
i
s
hold up gas. Semakin viscous suatu zat cair akan a
ul
k
mengakibatkan zat tersebut sulit ditembus oleh ri
s
udara, karena daya yang akan mengakibatkan zat ju
a
30
tersebut sulit ditembus oleh udara, karena daya yang
akan diperlukan untuk menembus cairan semakin
25
besar sebagai akibat dari semakin kuatnya gaya
gesek antara lapisan gas dan cairannya. Jadi daya
laju alir 9.4 cc/detik
yang ada pada gas juga harus digunakan untuk 20
laju alir 16.13 cc/detik
melawan gaya gesek antara lapisan gas dan laju alir 23.30 cc/detik
l
cairannya. Hal ini menyebabkan fraksi udara dalam 15

cairan berkurang .5

10

0
0 0.5 1 1.5 2 2

viskositas (cp)

s
ga
d up

ikianhold upgas menurun.
dengan dem Gambar 3. Hubungan viskositas terhadap laju
0.025 laju alir 9.4 cc/dt sirkulasi cairan pada berbagai laju alir udara
laju alir 16.13 cc/dt
laju alir 23.3 cc/dt
Pada penelitian Widayat dkk., (2004)
0.02 dengan menggunakan reaktor air-lift internal loop
rectangular serta menggunakan larutan tepung pati
didapatkan bahwa semakin tinggi viskositas larutan
0.015 tepung pati semakin rendah hold up gas dan laju
sirkulasi cairan. Dalam penelitian ini dengan
menggunakan reaktor air-lift external loop dan
0.01
hol fluiad larutan nanas didapatkan kecenderungan hasil
yang sama, tetapi bila dilihat dari nilainya ada
0.005
perbedaan karena larutan yang digunakan berbeda
dan rentang konsentrasinya berbeda
Gambar 4 menunjukkan bahwa
0
0 0.5 1 1.5 2
bertambahnya
2.5
laju alir udara akan menyebabkan
bertambahnya hold up gas. Hal ini bisa dipahami
viskosits (cp) bahwa dengan semakin bertambahnya laju alir udara
maka akan bertambah pula fraksi volume udara
dalam larutan. Bertambahnya fraksi volume udara
akan meningkatkan nilai hold up gas.
Gambar 2. Hubungan viskositas terhadap
hold up gas pada berbagai laju alir udara

Gambar 3 menunjukkan bahwa kenaikan
viskositas akan menyebabkan menurunnya laju
sirkulasi cairan dan penurunannya merupakan
penurunan yang linier. Hal ini bisa dijelaskan
dengan naiknya viskositas akan menaikkan
hambatan terhadap aliran fluida. Gaya gesek antara
lapisan gas dan cairan yang semakin besar
menyebabkan penurunan laju sirkulasi cairan.

laju alir (cc/dt)


Gambar
% 4. Hubungan laju alir udara terhadp
hold up gas pada berbagai kosentrasi larutan
25

Gambar
5 menunjukkan bahwa
bertambahnya laju alir udara akan menyebabkan
meningkatnya laju

20

15

% laju alir udara (cc/dt)


10
Gambar 5. Hubungan laju alir udara terhadap
laju sirkulasi cairan pada berbagai kosentrasi

Hal ini bisa dipahami dengan bertambahnya
laju alir udara berarti daya dorong akan semakin besar.
Apabila konsentrasi larutan tetap, maka laju sirkulasi
akan semakin cepat.
%
Karena dengan daya dorong yang
lebih besar untuk mensirkulasikan sejumlah massa
yang sama (konsentrasi tetap) dibutuhkan waktu yang
lebih sedikit. Pada penelitian Widayat dkk. (2004),
semakin tinggi 5laju alir udara semakin besar hold up
gas dan laju sikulasi cairan yang didapat. Penelitian
kali ini yang menggunakan larutan nanas juga
memiliki kecenderungan hasil yang sama dengan hasil
penelitian Widayat dkk. (2004), tetapi dilihat dari
nilainya berbeda, hal ini disebabkan karena larutan
yang digunakan berbeda dan rentang konsentrasinya
berbeda.

Perpindahan Massa dalam Bioreaktor
Gambar 6 menunjukkan bahwa
s
bertambahnya
a
g viskositas larutan nanas akan
p
menyebabkan
u
ld
penurunan koefisien perpindahan
massa
o
0.025gas-cair. Penurunan nilai koefisien
perpindahan massa karena dengan bertambahnya
viskositas larutan tepung nanas, maka larutan akan
semakin0.02jenuh sehingga laju perpindahan oksigen
akan semakin kecil. Hal ini mengakibatkan koefisien
perpindahan
0.015
massa semakin berkurang juga.

h
0.01
0.005

0
0 5 10 15 20 25


viskositas (cp) Gambar 7. Hubungan laju alir udara
terhadap koefisien perpindahan massa
(kLa)

Gambar 6. Hubungan viskositas terhadap Pada penelitian Widayat
k
koefisien perpindahan massa (kLa) pada berbagai laju alir (2004) dengan menggunakan reaktor air-lift
udara
internal loop rectangular dan fluida tepung pati
i diperoleh semakin besar laju alir udara semakin tinggi
Gambar7 menunjukkan bahwa koefisien transfer massa (kLa) yang didapat. Pada
penelitian ini dengan menggunakan larutan nanas
bertambahnya laju alir udara (dengan konsentrasi
det diperoleh kecenderungan yang sama. Kecenderungan
larutan nanas yang sama) akan mengakibatkan yang diperoleh juga sama dengan yang diperoleh oleh
peningkatan koefisien perpindahan massa. Stang dkk. (2001).
Kecenderungan yang diperoleh hampir sama / untuk
semua konsentrasi (hubungan linier atau Pada percobaan Popovic dan Robinson
eksponensial) kecuali pada konsentrasi 5% (1989) dengan menggunakan larutan CMC (Carboxyl
kecenderungannya adalah polinomial. Laju alirc udara Methyl Cellulose) pada reaktor air-lift
semakin besar maka udara yang dapat dipindahkan external loop didapatkan hubungan antara koefisien
ke dalam larutan nanas akan semakin besar pula dan transfer massa gas-cair dengan laju alir udara,
mengakibatkan laju perpindahan oksigen semakinc viskositas, dan luas penampang riser dan downcomer,
besar. Dengan demikian koefisien perpindahan persamaan :
massa juga akan bertambah besar. Fenomena ini
30
sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan untuk 0,853

reaktor tangki maupun reaktor bergelembung. kLa =1,911x104


60 23. (JG )0,5251+ AA dr
app 0,89 (10)

50 r

)t
/d
-4
40
i
Sedang pada penelitian Widayat, (2004)
10
x
dengan menganggap luas riser dan downcomer
a(
al konstan dan harga (1 + Ad/Ar)0.853 didapat
kL 30 persamaan berikut;

u 0,853

konsentrasi 5%
konsentrasi 10%
kLa =
konsentrasi 15% j 10 G 1+ Adr app0,425 (11)
konsentrasi 20%
konsentrasi 25%
4,561x 4 (J )0,206 A
a

l
Pada penelitian ini digunakan larutan nanas
dengan konsentrasi 5-25% dan rentang laju alir 1-3
k
liter/menit pada reaktor air-lift external loop
didapatkan hubungan persamaan sebagai berikut:

i
0,853

20
kLa = 26,17x104 (JG )0,647 1+
AA dr app1,844 (12)
det
10

0 /
Hubungan diatas diperoleh dengan
5 10 15 20 25 mengasumsi harga (1+Ad/Ar)0.853 dan dianggap sama
dengan persamaan yang didapat Popovic dan
Laju alir udara (cc/detik)
c Robinson (1989), karena selama penelitian luas riser
dan downcomer konstan. Adanya perbedaan
pada hubungan koefisien perpindahan
massa dengan laju alir dan virkositas
13
dikarenakan metode dan fluida yang Viskositas cairan,
digunakan berbeda-beda. [cP]
Pada penelitian Popovic dan Robinson Luas penampang
menggunakan reaktor air-lift external loop dan fluida riser, [cm2]
CMC (Carboxymethyl cellulose), sedang pada Luas penampang
penelitian Widayat (2004) menggunakan reaktor airlift downcomer, [cm2]
internal loop rectangular dan fluida larutan pati. Kosentrasi oksigen
Pada penelitian ini, menggunakan reaktor air terlarut normal pada
lift external loop dan fluida larutan nanas. Jika ditinjau waktu t, [gr/l]
dari fluida yang digunakan yaitu fluida non Kosentrasi oksigen
Newtonian, namun mempunyai sifat fisis yang terlarut pada waktu t,
berbeda. Metode pengukuran perpindahan massa
dalam penelitian ini adalah dengan metode dinamik, [gr/l]
sedangkan untuk Widayat (2004) dan Popovic dan Kosentrasi oksigen
Robinson (1989) dengan metode reaksi kimia. terlarut pada waktu
Penelitian tentang perpindahan massa sistem t 0,
cair-cair dalam media etanol-oleum dan media [gr/l]
fermentasi etanol telah dilakukan oleh Stang dkk. tinggi cairan mula-
(2001), dengan hasil yang diperoleh pada laju alir gas mula di dalam
9,4 cc/dt koefisien perpindahan massa 8.10-6 detik-1. reaktor, [cm]
Pada penelitian ini menggunakan laju alir udara 9,4
cc/detik dan konsentrasi gula 10-20% diperoleh hasil
tinggi campuran
kLa terkecil 1,74.10-6/s dan yang terbesar 1,50.10-3/s. cairan-gas
Pada penelitian ini menggunakan jamur untuk proses setelah
fermentasi, dimana oksigen yang terlarut dikonsumsi mencapai keadaan
jamur untuk pertumbuhan jamur dalam proses tunak, [cm]
fermentasi. Keberadaan kapang akan menyebabkan Laju alir udara
beda konsentrasi oksigen kecil, sehingga koefisien masuk, [cc/detik]
perpindahan massa gas-cair juga lebih kecil. Konstanta
perpindahan massa
gas-cair volumetrik,
KESIMPULAN [1/detik]
Penelitian tentang proses perpindahan massa panjang lintasan
gas-cair dilakukan pada rentang konsentrasi 5-25% dalam reaktor, [cm]
berat dan laju alir udara 1-3 liter/menit. Hasil waktu yang
penelitian dapat menunjukkan bahwa kenaikan dibutuhkan untuk
viskositas larutan akan mengakibatkan penurunan menempuh lintasan,
koefisien transfer massa dan kenaikan laju alir udara [s]
akan mengakibatkan kenaikan koefisien transfer
massa. Hubungan antara koefisien transfer massa
volume gas pada
gascair dengan viskositas dan laju alir udara yang reaktor, [cc]
diperoleh adalah volume cairan atau
slurry dalam reaktor,
0,853 [cc]
kLa = 26,17x10 4 (
J
G )0, 647
1+ AA dr kecepatan interstitial
cairan riser, [cm/s]
app1,844
kecepatan interstitial
cairan downcomer,
[cm/s]
laju sirkulasi cairan
riser, [cm/s]
DAFTAR NOTASI
laju sirkulasi cairan
downcomer, [cm/s]
perbedaan tinggi
perbedaan antara taps
pada pembacaan
tekanan, [cm]
inverted manometer
U, [cm]

densitas cairan,
DAFTAR PUSTAKA
[gr/cc] Berovic, M. and Popovic, M., (2001),
densitas gas, [gr/cc] Characterization of Gas Mixed Bioreactors in
hold up gas, [ ] Submerged Citric Acid Fermentation, Chem.
Biochem. Eng., pp. 65-69. for Citric Acid Production by Solid State
Fermentation, Process Biochemistry, pp. 1725-1729
Brauer, H., (1985), Stirred Vessel reactors,
in Biotechnology, editor Rehm H. J. and Reed, G., Merchuk, J.C. and Asenjo, J.A., (1995),
VCH, Weinheim, 2, pp. 397-444 Fundamental of Bioreactor Design, New York,
Marcell Dekker Inc.
Darwis, A.Z. dan Said, E.G., (1992),
Teknologi Fermentasi, PAU Bioteknologi IPB, Milsom, P.E. and Meers, J.L., Citric Acid;
Rajawali Press, Jakarta Comphrehensive Biotechnology : The Principles,
Application and Regulation of Biotechnology in
Kawase, Y., Halard, B., and Moo-Young, Industry, Agriculture and Medicine, edited by M
Moo-Young, Pergamon Pres. Ltd., 3, pp. 665-680
M., (1987), Theoretical Prediction of Volumetric
Mass Transfer Coefficients in Bubble Column for
Newtonian and
Popovic, M.K. and Robinson, C.W.,
(1989), Mass Transfer Stuy of External Loop airlift
Non Newtonian Fluids, Chem. Eng. Sci., pp. and a Buble Column, AICheJ., 35(3), pp. 393-405.
1609-
1617 Stang, D., Macdonald, G., and Hill A.,
(2001), Mass Transfer and Bioethanol Production in
Kumar, D., Jain, V.K., Shanker, G., and an External Loop Liquid Lift Bioreactor, Ind. Eng.
Srivastava, A., (2003), Utilization of Fruits Waste Chem. Res.

det

30

23.
r

al

Widayat, Susilo, D., dan Sigit Pranoto, S., (2003), Koefisien Perpindahan Massa Gas-Cair
pada Fluida Non Newtonian dalam Reaktor Airlift, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia
u
Indonesia,
Yogyakarta ISBN. 979-97893-0-3, 2, hal. SO-5.1- SO-5.6
j
Widayat, Susilo, D., dan Sigit Pranoto, S., (2004) Pengaruh Viskositas dan Laju Alir Udara
terhadap Hold Up Gas dan Laju Sirkulasi Fluida Non Newtonian dalam Bioreaktor Airlift, Prosiding
Seminar Nasional II Teknik
a Kimia Teknologi Tepat
Guna Berbasis SDA Indonesia, Jurusan Teknik Kimia, FTI, Universitas Katolik Parahyangan
Bandung, hal.C.02.1- lC.02.7
Widayat, (2004), Pengaruh Laju Alir dan Viskositas terhadap Perpindahan Massa Gas-Cair
Fluida Non Newtonian dalam Reaktor Air Lift Rectangular, Prosiding Semnas Rekayasa Kimia dan
k
Proses,
Jurusan Teknik Kimia Fak Teknik UNDIP Semarang,
hal. I.9.1- I.9.4
i

Williams, J.A., (2002), Keys To Bioreactor


Selections, Chem. Eng. Prog., pp. 34-41.
det

13

16.

al

l
k

det

9.

al

l
)t
/d
-4
0
1
a(x
60

50

40

30

kL
20

10

0
0.5 1 1.5 2 2.5
Biasanya kebutuhan gas yang dibutuhkan dalam sebuah reaksi terpenuhi
dengan adanya sejumlah gas yang terlarut dalam cairan sebagai akibat fenomena
kelarutan gas dalam sebuah cairan. Namun kelarutan gas dalam cairan memiliki
keterbatasan kondisi. Kelarutan akan menurun bila terjadi penurunan tekanan ataupun
kenaikan temperatur. Pada kondisi tertentu, jumlah gas yang terlarut dalam cairan
akan sampai ke suatu nilai tertentu saja dimana nilainya tidak bisa ditingkatkan lagi.

Reaksi antara fasa gas dan cair membutuhkan hold up yang tinggi karena
reaksi berlangsung secara lambat. hold up yang tinggi dapat dicapai dengan
meningkatkan jumlah gas yang diumpankan ke dalam reaksi. Padahal jumlah gas
yang terlarut dalam cairan tidak sebanding dengan banyaknya udara yang dibutuhkan
dalam rekasi sehingga udara tersebut mampu menjadi faktor pembatas laju rekasi.
Namun harapannya bahwa kita harus menyuplai udara agar udara yang terlarut tinggi
sehingga udara bukanlah pereaksi pembatas.
Pada saat ini, teknologi yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan udara
dalam cairan yaitu dengan mengalirkan gelembung-gelembung udara dalam air.
Semakin luas permukaan gelembung yang bersentuhan dengan air maka transfer
massa yang terjadi akan semakin baik. Namun gelembung ini tidak bisa bertahan
cukup lama di dalam air. Jika hal itu terjadi, udara yang diumpankan ke dalam larutan
nantinya tidak banyak termanfaatkan dan terbuang sia-sia. Maka, dibutuhkan suplai
gas umpan yang mampu waktu tinggal yang lebih lama agar hampir seluruh gas yang
diumpankan dapat berekasi dengan cairan untuk membentuk produk secara optimal.

Proses perpindahan massa sangat penting dalam bidang ilmu pengetahuan


teknik. Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam campuran berpindah dalam
fase yang sama atau dari fase satu ke fase yang lain karena adanya perbedaan
konsentrasi (Welasih, 2006). Proses perpindahan masa antara fasa liquid dan fasa
solid banyak dipakai dalam industri, oleh karena itu data-data berhubungan dengan
proses perpindahan masa tersebut sangat dibutuhkan.
Menurut Singh (2001), proses transfer massa dipengaruhi oleh 9 faktor:

1. Luas permukaan kontak bahan dengan air perendam. Semakin besar luas
permukaan kontak bahan dengan air perendam maka transfer massa yang terjadi
semakin banyak.
2. Kadar air di dalam bahan. Semakin tinggi kadar air bahan, maka makin
lambat pula kecepatan difusinya.
3. Konsentrasi, semakin besar perbedaan konsentrasi, maka transfer massa
semakin cepat.
4. Jarak dari permukaan ke pusat bahan. Semakin besar jarak dari permukaan
ke pusat bahan maka transfer massa terjadi semakin lama karena untuk mencapai
kesetimbangan yang merata dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.
5. Lama waktu dalam penentuan titik akhir titrasi dengan titran. Hubungannya
yaitu semakin lama waktu titrasi yang dibutuhkan akan membuat transfer massa akan
semakin berkurang

6. Karakteristik bahan mempengaruhi transfer massa dalam kecepatan


difusivitas. Hubungan keduanya yaitu semakin besar nilai difusivitas maka transfer
massa semakin cepat.
7. Suhu juga mempengaruhi laju proses transfer massa, semakin tinggi suhu
maka pori-pori semakin besar karena protein pada membran rusak (terdenaturasi) dan
proses difusivitas semakin cepat.
8. Tekanan osmosis juga dapat mempengaruhi laju proses difusivitas.
Semakin tinggi tekanan osmosis maka transfer massa semakin cepat.

9. Dan yang terakhir yaitu porositas. Semakin besar/semakin banyak pori pada
bahan maka semakin cepat transfer massa. Hal ini dikarenakan semakin banyak
porositasnya menyebabkan luas permukaannya semakin besar