Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

1. Syarat Laboratorium yang Baik

Ruangan laboratorium yang memenuhi standar adalah salah satu faktor


untuk menghindari kecelakaan kerja. Syarat tersebut meliputi kondisi ruangan,
susunan ruangan, kelengkapan peralatan keselamatan, nomor telepon penting
(pemadam kebakaran, petugas medis), dll.

Ruangan laboratorium yang memiliki sistem ventilasi yang baik. Proses


keluar masuk udara yang stabil. Sirkulasi udara segar yang masuk ke dalam
ruangan. Keduanya harus diperhatikan dengan baik. Semakin baik sirkulasi udara,
maka kondisi laboratorium juga akan sehat. Seperti halnya rumah, sirkulasi udara
berada pada posisi utama dan tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Ruangan laboratorium harus ditata dengan rapi. Penempatan bahan kimia


dan peralatan percobaan harus ditata dengan rapi supaya memudahkan untuk
mencarinya. Bila perlu, berikan denah dan panduan penempatan bahan kimia di
raknya supaya semakin memudahkan untuk mencari bahan kimia tertentu.

Alat keselamatan kerja harus selalu tersedia dan dalam kondisi yang baik.
Terutama kotak P3K dan alat pemadam api. Berikan juga nomor telepon penting
seperti pemadam kebakaran dan petugas medis supaya saat terjadi kecelakaan
yang cukup parah dapat ditangani dengan segera. Berikan juga lembaran tentang
cara penggunaan alat pemadam api dan tata tertib laboratorium.

Laboratorium harus memiliki jalur evakuasi yang baik. Laboratorium


setidaknya memiliki dua pintu keluar dengan jarak yang cukup jauh. Bahan kimia
yang berbahaya harus ditempatkan di rak khusus dan pisahkan dua bahan kimia
yang dapat menimbulkan ledakan bila bereaksi.
2. Tata Tertib Keselamatan Kerja

Aturan umum dalam tata tertib keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

1. Dilarang mengambil atau membawa keluar alat-alat serta bahan dalam


laboratorium tanpa seizin petugas laboratorium.

2. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke laboratorium. Hal ini


untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Gunakan alat dan bahan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan.

4. Jangan melakukan eksperimen sebelum mengetahui informasi mengenai


bahaya bahan kimia, alat-alat, dan cara pemakaiannya.

5. Bertanyalah jika Anda merasa ragu atau tidak mengerti saat melakukan
percobaan.

6. Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk


memudahkan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja.

7. Pakailah jas laboratorium saat bekerja di laboratorium.

8. Harus mengetahui cara pemakaian alat darurat seperti pemadam


kebakaran, eye shower, respirator, dan alat keselamatan kerja yang
lainnya.

9. Jika terjadi kerusakan atau kecelakaan, sebaiknya segera melaporkannya


ke petugas laboratorium.

10. Berhati-hatilah bila bekerja dengan asam kuat reagen korosif, reagen-
reagen yang volatil dan mudah terbakar.

11. Setiap pekerja di laboratorium harus mengetahui cara memberi


pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
12. Buanglah sampah pada tempatnya.

13. Usahakan untuk tidak sendirian di ruang laboratorium. Supaya bila terjadi
kecelakaan dapat dibantu dengan segera.

14. Jangan bermain-main di dalam ruangan laboratorium.

15. Lakukan latihan keselamatan kerja secara periodik.

16. Dilarang merokok, makan, dan minum di laboratorium.

3. Cara Memindahkan Bahan Kimia

Sebelum memindahkan bahan kimia, hal yang harus dilakukan adalah


mengetahui segala informasi tentang bahan kimia yang akan digunakan. Seperti
cara membawa, bahaya yang ditimbulkan, dll. Pindahkanlah sesuai kebutuhan dan
jangan berlebihan. Bila ada sisa bahan kimia, jangan dikembalikan ke tempatnya
semula karena dapat menyebabkan kontaminasi pada bahan kimia.

Untuk memindahkan bahan kimia yang berwujud cair, pindahkan dengan


menggunakan batang pengaduk atau pipet tetes. Hindari percikan karena bisa
menyebabkan iritasi pada kulit. Jangan menaruh tutup botol diatas meja supaya
tutup botol tidak kotor oleh kotoran di atas meja.

Untuk memindahkan bahan kimia yang berwujud padat, gunakan sendok atau
alat lain yang tidak terbuat dari logam. Hindari menggunakan satu sendok untuk
mengambil beberapa jenis zat kimia supaya terhindar dari kontaminasi.

4. Pembuangan Limbah

Seperti yang kita ketahui bahwa limbah dapat mencemari lingkungan. Maka
dari itu, kita perlu menangani limbah tersebut dengan tepat. Untuk limbah kimia
hendaknya dibuang di tempat khusus karena beberapa jenis zat kimia sangat
berbahaya bagi lingkungan. Buang segera limbah sehabis melakukan percobaan.
Sementara limbah lainnya seperti kertas, korek api, dan lainnya dibuang di tempat
sampah. Sebaiknya pisahkan limbah organik dan nonorganik supaya pengolahan
sampahnya lebih mudah.

5. Penanganan Kecelakaan

Kecelakaan saat kerja biasa terjadi walaupun kita telah bekerja dengan hati-
hati. Hal yang paling utama adalah jangan panik dan ikuti prosedur penanganan
kecelakaan yang baik dan benar. Cari bantuan petugas laboratorium untuk
membantu Anda. Bila perlu, panggil petugas medis atau pemadam kebakaran.

Bila terkena bahan kimia, bersihkan bagian kulit yang terkena bahan kimia
sampai bersih. Kulit yang terkena jangan digaruk supaya tidak menyebar. Bawa
keluar korban dari laboratorium supaya mendapatkan oksigen. Bila kondisi cukup
parah, panggil petugas kesehatan secepatnya.

Bila terjadi kebakaran karena bahan kimia atau korsleting listrik, segera
bunyikan alarm tanda bahaya. Jangan langsung disiram dengan air. Gunakan
hidran untuk memadamkan api. Hindari menghirup asap. Bila kebakaran meluas,
segera panggil petugas pemadam kebakaran.

PENANGANAN HEWAN PERCOBAAN

1. Tidak bermain-main dengan hewan percobaan.


2. Memahami struktur dan fisiologi hewan.
3. Menggunakan alat pelindung terhadap gigitan dan cakaran, seperti sarung
tangan dan lap pembungkus.
4. Pemingsanan dilakukan dengan tepat.
5. Menghindari luka oleh alat bedah.
6. Sisa alat tajam dibuang pada tempat khusus.
7. Sisa hewan mati dibungkus plastik dan dibuang di TPA

PENGAMATAN KERJA DALAM LABORATORIUM


A. BAHAYA DALAM LABORATORIUM

1. Bahaya Hayati

Bahaya hayati merupakan masalah di laboratorium yang menangani


mikroorganisme atau bahan yang terkontaminasi mikroorganisme.

Bahaya bahaya ini muncul biasanya muncul di laboratorium penelitian


kimia dan penyakit menular.

Penilaian resiko bahan hayati berbahaya perlu mempertimbangkan beberapa


faktor, seperti :

organisme yang dimanipulasi

perubahan yang dilakukan terhadap organisme tersebut

hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :

a. Hindar kontak langsung antara kulit/baju dengan bahan pemeriksaan

b. Cuci tangan yang bersih dengan antiseptik

c. Bersihkan semua sisa bahan biologi dengan desinfektan


2. Bahaya Kimia

a. Bahan Kimia Beracun

Salah satu resiko yang sulit diprediksi dan paling berbahaya di


laboratorium adalah kadar racun beragam bahan kimia. Tidak ada zat yang
sepenuhnya aman, dan semua bahan kimia menghasilkan efek beracun kepada
sistem kehidupan, dalam bentuk yang berbeda beda.

Sebagian bahan kimia dapat menyebabkan effek berbahaya setelah


paparan pertama ,misalnya asam nitra korosif. Sebagian bisa menyebabkan effek
berbahaya setelah terpapar berulang kali atau dalam durasi lama, seperti
karsinogenik klorometil metil eter.

b. Bahan Kimia Mudah terbakar, Eksplosif dan Reaktif

Bahan kimia mudah terbakar adalah bahan kimia yang siap memantik api
dan membakar di udara, seperti bensin.

Bahan kimia reaktif adalah bahan kimia yang bahan bahan kimia yang
bereaksi secara liar jika dikombinasikan dengan zat lain, seperti logam alkali yang
reaktif terhadap air atau campuran asam keras dan basa yang tidak cocok.

Bahan kimia mudah meledak meliputi berbagai zat yang mudah meledak
pada kondisi tertentu, seperti beberapa bahan oksidasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

a. Jangan memegang botol pada bagian lehernya

b. Bila mengeluarkan asam pekat, tuangkan dalam wadah yang dialasi air

c. Semua reagen bahan kimia harus diberi label sesuai isinya

3. Limbah Berbahaya
Hampir setiap laboratorium menghasilkan limbah. Limbah adalah bahan
yang dibuang atau hendak dibuang, atau tidak lagi berguna sesuai peruntukannya.

Limbah juga meliputi item seperti bahan bekas laboratorium sekali pakai,
media filter, larutan cair, dan bahan kimia berbahaya.

Limbah dianggap berbahaya jika memiliki salah satu sifat berikut ini :

Bisa menyulut api

Korosif

Reaktif

Beracun

4. Bahaya Fisik

Beberapa kegiatan di laboratorium menimbulkan resiko fisik bagi petugas


karena zat atau peralatan yang digunakan, seperti misalnya :

Gas yang dimampatkan

Kriogen tidak mudah menyala

Reaksi tekanan tinggi

Kerja vakum

Bahaya frekuensi radio dan gelombang mikro

Bahaya listik
Petugas di laboratorium juga menghadapi bahaya di tempat kerja umum
akibat kondisi atau aktifitas di laboratorium, seperti :

Luka terpotong

Tergelincir

Tersandung

Terjatuh

5. Bahaya Elektron dan Mekanik

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

a. Jangan menyentuh alat-alat elektronik dengan tangan basah


b. Pemutaran sentrifuse harus seimbang
c. Jangan membuka sentrifuse bila sedang berputar

6. Bahaya Kebakaran

berbagai macam pemadam kebakaran yang dapat dipakai adalah :

a. AIR

berfungsi sebagai pendingin dan menyelimuti bahan dari O 2 oleh adanya uap
air yang terbentuk. Air amat baik untuk memadamkan api

Kelas A : Berasal dari bahan yang mudah terbakar (kertas,kain,kayu,karet)


Kelas B : kebakaran pelarut organic karena justru akan membesarkan atau
memperluas kobaran api. Kecuali pelarut organic tersebuk lebih berat air
atau larut dalam air (basa,solar,pelarut organik)
Kelas C : Kebakaran akibat listrik karena akan menimbulkan arus pendek,
Kecuali apabila listrik dipadamkan lebih dahulu
Kelas D : kebakaran logam-logam Alkali seperti Na dan K, karena akan
memperbesar reaksi kebakaran

b. BUSA

- Busa adalah dispersi gas dalam cairan yang berfungsi mengisolasi bahan
dan oksigen.
- Pemadam kebakaran jenis busa cukup efektif untuk Api kelas A dan B,
tetapi berbahaya untuk api kelas C dan D.

c. Bubuk Kering (dry Powder)


Bubuk Kering adalah bubuk halus campuran bahan kimia seperti Na2CO3,
K2CO3, KCl, (NH4)3PO4 dan sebagainya, yang mudah mengalir apabila
disemprotkan. Bahan tersebut berfungsi sebagai:
o Melindungi bahan dari O2
o Melindungi bahan dari radiasi panas
o Menyerap radikal pembentuk reaksi rantai

Jenis pemadam ini amat baik untuk api kelas A, B dan D, tetapi tidak
efektif untuk tempat yang berangin atau diluar. Selain itu, api dapat timbul
kembali (reignition) setelah dipadamkan

d. Gas CO2
- Gas CO2 bertekanan tinggi, dengan efektif dapat dipakai untuk
pemadaman segala jenis kebakaran api (A, B, C dan D).
- hal ini terjadi karena gas tersebut lebih berat dari udara dapat menutupi
atau mengisolasi bahan yang terbakar dari O2.
Tetapi kelemahannya adalah dapat terjadi penyalaan kembali
d. Halon

Halon adalah senyawa hidrokarbon yang terhalogenasi (umumnya turunan


metana dan etana). Jenis pemadam kebakaran ini berfungsi sebagai :

Pembentuk selimut inert yang mengisolasi bahan dari O2


Penyerap yang efektif terhadap radikal-radikal penyebab reaksi berantai
Halon dapat dipakai pemadaman api kelas A, B, C dan D. Mempunyai
volume yang lebih kecil sehingga lebih praktis daripada CO2.

7. Bahaya Radiasi

Pada penggunaan bahan radioaktif/molekul, hal-hal yang perlu diperhatikan


:

a. Cuci tangan dengan bersih dengan air dan sabun


b. Sisa radioaktif dimasukkan dalam plastik

PERALATAN

I. Macam-macam peralatan
Dikategorikan menjadi empat yaitu
1. Peralatan elektronik :
Yang dimaksud adalah peralatan yang
mempergunakan sumber daya listrik misalnya alat
elektrocardiografi, ventilator, unit monitor EKG dan
lain-lain.
2. Dari bahan baku logam :
Bahan baku logam yang biasa dipakai adalah nikel,
alpaka, tembaga, dan campuran lainnya. Peralatan
dari bahan baku logam ini banyak ragamnya,
misalnya forcep ekstraksi, gunting, pinset, jarum
hecting dan lain-lain.
3. Dari bahan baku gelas :
Bahan baku gelas yang biasanya dipakai adalah
pyrex, fiber gelas. Contoh ektraksi vakum, pipet,
tabung reaksi, buret dan lain-lain.
4. Dari bahan baku karet/plastik

II. Perawatan bahan


1. Perawatan alat elektronik
Peralatan elektronik sangat peka terhadap
goncangan sehingga perlu dihindari dari goncangan.
Hindari penggunaan peralatan dari medan magnet
yang kuat agar sensitvitas meter tidak berubah.
Tidak tahan suhu diatas 25oC, sehingga pada waktu
penggunaan suhu ruangan sebaiknya berkisar antara
18C-25C, rata-rata temperatur 21C. Untuk
menghindari suhu tinggi, pada alat perlu ditampat
kipas angin disekitar power supply/sumber daya alat
tersebut.
Debu dapat pula mempengaruhi kerjanya alat,
sehingga setiap saat ruangan dibersihkan dengan
menggunakan alat penyedot debu.
Pengetahuan dan ketrampilan penggunaan peralatan
memegang peranan penting dalam perawatan
peralatan agar peralatan berjalan dengan baik dan
kerusakan dapat dihindari sejauh mungkin.
Pengetahuan dan keterampilan ini meliputi :
Sasaran pengukuran telah dipahami terlebih
dahulu
Persiapan metode, waktu dan program
pengukuran
Kondisi peralatan baik atau tidak
2. Bahan baku logam
Alat-alat yang terbuat dari logam, misalnya besi,
tembaga maupun alumunium sering terjadi karatan.
Untuk menghindari terjadinya hal demikian maka
Alat-alat tersebut harus disimpan pada tempat yang
mempunyai temperatur tinggi (lebih kurang 37C)
dan lingkungan yang kering, kalau perlu memakai
bahan silikon sebagai penyerap uap air. Sebelum
disimpan alat terbuat harus bebas dari kotoran debu
maupun air yang melekat, kemudian diolesi minyak
oli, minyak rem atau parafin cair.
3. Bahan baku gelas
Bahan gelas banyak dipakai dalam laboratorium
medis. Ada beberapa keuntungan maupun
kelemahan dari bahan baku gelas tersebut.
Keuntangan : bahan gelas tahan reaksi kimia, t.u
bahan gelas pyrex, tahan terhadap perubahan
temperatur yang mendadak tinggi , koefisien muai
yang kecil dan tembus cahaya yang besar.
Kelemahan : mudah pecah dan mudah tumbuh jamur
sehingga mengganggu daya tembus sinar, kadang-
kadang dengan menggunakan kain katun untuk
membersihkan saja mudah timbul goresan.
Dengan memperhatikan keuntungan dan kelemahan
dari bahan gelas, maka segi perawatan maupun
memperlakukan alat-alat gelas harus diperhatikan :
a. Penyimpanan pada suhu 27C- 37C dan diberi
tambahan lampu 25 watt
b. Ruangan tempat penyimpanan diberi bahan
silikon sebagai higroskopis
c. Gunakan alkohol, aceton, kapas, sikat halus dan
pompa angin untuk membersihkan debu dari
permukaan kaca/gelas. Usahakan pada waktu
membersihkan lensa jangan sampai merusak
lapisan lensa.
d. Pada waktu memanaskan tabung reaksi
hendaknya tempatkan diatas kawat kasa atau
boleh melakukan pemanasan secara langsung
asalkan bahan gelas terbuat dari pyrex.
e. Gelas yang akan direbus hendaknya jangan
dimasukkan langsung kedalam air yang sedang
mendidih melainkan dimasukkan kedalam air
dingin dengan kemudian dipanaskan perlahan-
lahan. Sebaliknya untuk pendinginan medadak
tidak diperkenankan.
f. Membersihkan bahan/kotoran dari gelas
sebaiknya segera setelah dipakai, dapat
mengganakan : 1. Air yang dibersihkan, detergent
dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa
efek perubahan fisik. Larutan kalium dichromat
10gr, asam belerang 25 ml, aquadest 75ml.
Kadang-kadang memerlukan perendaman sampai
beberapa jam, kemudian dibilas dengan air bersih,
keringkan dengan udara panas lalu simpan
ditempat yang kering.
4. Perawatan alat dari bahan baku karet : sarung
tangan dari karet mudah sekali meleleh atau lengket
apabila disimpan terlalu lama. Untuk menghindari
kerusakkan dari bahan karet, sebelum melakukan
penyimpan bahan baku karet mula-mula bersihkan
kotoran darah atau cairan obat dengan cara mencuci
dengan sabun kemudian dikeringkan dengan
menjemur dibawah sinar matahari atau hembusan
udara hangat. Setelah itu taburi talk pada seluruh
permukaan karet.

Cara Membersihkan Alat Gelas Laboratorium

Proses pembersihan suatu alat gelas dalam sebuah laboratorium tergantung


dari kegiatan apa yang dilakukan alat ini sebelum dibersihkan dan tipe material
apa yang terkandung di dalamnya. Salah satu bahan yang umum digunakan dalam
pembuatan alat gelas laboratorium adalah bahan borosilikat. Alat Gelas yang
terbuat dari borosilikat mempunyai pertahanan yang sempurna dari kebanyakan
asam kecuali Asam Hidroflorat. Larutan Basa kuat akan mempengaruhi gelas,
inilah sebabnya kenapa detergen yang dilarutkan tidak boleh melebihi dari
2%. Menghindari reaksi terhadap deterjen dalam jangka waktu panjang dan
menghindari pengeringan yang sama pada alat gelas harus dibersihkan secepatnya
untuk mencegah pengerasan residu.

Membersihkan alat gelas laboratorium dapat dilakukan dengan


membersihkan dengan mesin pencuci atau secara manual, untuk lebih jelasnya
simak ulasan dibawah ini.

Pembersihan dengan Mesin Pencuci

Pilih dari sekian banyak macam campuran detergent yang ditawarkan oleh
spesialis laboratorium untuk Mesin Pencuci, detergent yang dipilih harus sesuai
dengan type kotoran apa yang akan dihilangkan. Beberapa jenis campuran ini
memang dikhususkan untuk bermacam-macam kotoran di laboratorium, jadi
pastikan anda memilih campuran yang tepat untuk membersihkan alat gelas anda.
Lalu periksa rak penunjang dan penjaganya diletakkan menempel dengan material
non-abrasive secara baik untuk menghindarkan gelas dari gesekan atau kerusakan
oleh permukaan yang keras.

Pembersihan Secara Manual

Metode ini merupakan metode yang sederhana karena metode ini hanya
menggunakanbusa halus, kain halus atau sikat plastik yang lembut dan tidak
mengadung bulu-bulu keras. Pilih dari sekian banyak macam campuran detergent
yang ditawarkan oleh spesialis laboratorium untuk pencucian manual, tergantung
dari residu yang ingin dihilangkan. Lalu bersihakan menggunakan alat tadi secara
perlahan dan teliti.

Lalu selain membersihkan dengan mesin pencuci dan secara manual masih
ada cara pembersihan khusus, dimana cara ini digunakan jika ada noda tertentu
yang sangat sulit dibersihkan menggunakan detergen, sehingga dalam kasus ini
perlu diberikan perhatian dan tindakan yang khusus, Beberapa noda yang
membutuhkan perilaku khusus serta cara penanganannya bisa anda simak di
ulasan di bawah ini.

Metode Pembersihan khusus

Noda Permanganat : Gunakan campuran yang dari 3% Asam Sulfat dan


3% Hidrogen Peroxida.

Noda besi : Gunakan larutan HCl 50 %.

Noda lemak : Gunakan larutan asam kromat, adalah larutan kalium


dikromat dalam asam sulfat pekat.

Bahan yang mengandung kontaminasi bakteri : Setelah dibersihkan


dengan deterjen ,glassware direndam dalam larutan desinfektan atau di
steam dalam Autoclave (disterilisasi).

Selama permbersihan alat gelas ini ada beberapa tindakan pencegahan dalam
membersihkan alat gelas laboratorium, beberapa tindakan ini diantaranya :

Tindakan Pencegahan Khusus selama Proses Pembersihan :

Jangan gunakan busa spons yang sudah terkikis seperti yang digunakan di
dapur untuk membersihkan piring

Hindari beberapa deterjen atau larutan pembersih yang mengandung


Partikel pengikis

Pindahkan barang-barang keras seperti spatula logam, tongkat pengaduk,


atau sikat secepatnya. Mereka dapat memecahkan gelas atau
menggoresnya.
Basa kuat domestic atau deterjen pabrikan akan melarutkan gelas dan
bahkan mengakibatkan kerusakan.

Lepaskan bermacam2 logam perhiasan seperti cincin dengan batu jika


anda akan menggunakan tangan di dalam glassware.

Dan setelah semua proses dijalankan dengan baik, maka proses terakhir dalam
pembersihan alat gelas laboratorium adalah proses pengeringan beberapa langkah
proses ini diataranya :

Cara mengeringkan glassware

Setelah dicuci dan dibilas aquadest, glassware di keringkan dengan cara di


tiriskan di rak peniris

Untuk basic glassware boleh dikeringkan dengan cara di masukkan ke


dalam oven dengan suhu dibawah 60 C

Untuk volumetric glassware dan analitycal glassware tidak boleh


dikeringkan di dalam oven

A. Cara Membersihkan Alat Gelas Baru

1. Secara umum

a. Dicuci dengan air kran

b. Kemudian rendam dalam HCl 4% + air dalam semalam

c. Bilas kembali dengan air kran mengalir

d. Rendam dalam detergent dalam semalam


d. Bilas kembali dengan air kran mengalir

e. Bilas dengan aquabidest

f. Bilas dengan deionized water

g. Letakkan terbalik supaya kering kemudian lakukan sterilisasi

2. Alat gelas pipet

a. Setelah direndam dalam detergent, bilas dengan air kran mengalir

b. Rendam dalam aquadest

c. Cuci kembali dengan deionized water

d. Kemudian keringkan dengan dioven (suhu 160C)

3. Alat slide dan cover slip

a. Rendam dalam asam 30C

b. Kemudian cuci dengan air kran

c. Kemudian rebus dalam detergent 10

d. Cuci kembali dengan aquadest

e. kemudian cuci dengan deionized water

f. Rendam dalam alkohol 70% kemudian keringkan

B. Cara Membersihkan Alat Gelas Sudah Digunakan Terutama


Terkontaminasi Virus

a. Alat gelas dimasukkan dalam larutan desinfektan (phenol 0,5-1%)

b. Kemudian masukkan dalam panci berisi larutan detergent (gunakan sarung


tangan bila virus patogen)
c. Kemudian bersama panci masukkan didalam autoclave suhu 121 C dan
tekanan 15 psi

d. Bila pipet bersumbat keluarkan penyumbatnya

C. Cara Membersihkan Alat Gelas yang Sudah Digunakan Tetapi


Tidak Terkontaminasi

a. Rendam dalam air yang mengandung detergent, jangan ada udara dalam
tabung

b. Kemudian bilas dengan air kran mengalir

c. Cuci kembali dengan aquadest dan dilanjutkan dengan deionized water


lalu keringkan dan disterilkan