Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang menyusui.

Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan akibat saluran susu tersumbat

dan tidak segera diatasi. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena

timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian

ibu yang tidak paham akan masalah itu, kegagalan menyusui sering dianggap problem

pada anak saja.


Masalah dari ibu yang sering timbul selama menyusui dapat dimulai sejak masa

kehamilan, pada masa pasca persalinan dini, dan masa pasca persalinan lanjut. Mastitis

ditandai dengan nyeri pada payudara kemerahan area payudara yang

membengkak,demam,menggigil, dan lemah. Penyebabnya adalah infeksi stafilokokus

aureus.
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mamma .Infeksi terjadi

melalui luka pada putting susu,tetapi juga melalui peredaran darah.Penyakit yang

menyerang payudara ternyata tidak hanya kanker saja ,ada penyakit lain yang tak kalah

berbahayanya.Yaitu mastitis atau biasa disebut dengan radang payudara.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-

kuman kedalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau
morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Morbiditas

puerperalis ialah kenaikan suhu tubuh sampai 38C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari

pertama postpartum, dengan mengecualikan hari pertama.

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak,

yang disebabkan oleh kuman terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting

susu atau melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga

disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka

pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan

ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.

Abses payudara, penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan

komplikasi berat dari mastitis. Macam-macam mastitis dibedakan berdasarkan tempatnya

serta berdasarkan penyebab dan kondisinya.

Mastitis berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi 3, yaitu:

1. Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae


2. Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu
3. Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan

abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya.


Sedangkan pembagian mastitis menurut kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu :

1. Mastitis periductal
Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause,

penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan

mammary duct ectasia, yang berarti peleburan saluran karena adanya penyumbatan

pada saluran di payudara.


2. Mastitis puerperalis/lactational
Mastitis puerperalis banyak dialami oleh wanita hamil atau menyusui.

Penyebab utama mastitis puerperalis yaitu kuman yang menginfeksi payudara ibu,

yang ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung.

3. Mastitis supurativa
Mastitis supurativa paling banyak dijumpai. Penyebabnya bisa dari kuman

Staphylococcus, jamur, kuman TBC dan juga sifilis. Infeksi kuman TBC memerlukan

penanganan yang ekstra intensif. Bila penanganannya tidak tuntas, bisa menyebabkan

pengangkatan payudara/mastektomi.

Berdasarkan etiloginya:

- Mastitis karena stasis ASI/ non infeksiosa


- Mastitis infeksiosa yang paling sering adalah Staphylococcus aureus dan

Streptococcus.

Klasifikasi lain:

- Mastitis puerperalis epidemik


- Mastitis monensiosa
- Mastitis sublkinis
- Mastitis tuberkulosis

B. Penyebab
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit

yang normal (Staphylococcus aureus).Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan

masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada

puting susu).Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering

terjadidalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan.Sekitar 1-3% wanita menyusui

mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Pada wanita

pasca menopause, infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari

saluran air susu yang terletak di bawah puting susu.Perubahan hormonal di dalam tubuh

wanita menyebabkan penyumbatansaluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran

yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.


Pada umumnya yang dianggap porte dentre dari kuman penyebab ialah putting susu

yang luka atau lecet, dan kuman menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Sebagian

besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah stafilokokus aureus.


Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara ( misalnya : glandular, jaringan ikat,

areolar, lemak ) oleh organisme infeksius atau adanya cidera payudara. Organisme yang

umum termasuk S. aureus, streptococci, dan H. parainfluenzae. Cidera payudara

mungkin disebabkan memar karena manipulasi yang kasar, pembesaran payudara, statis

air susu ibu dalam duktus, atau pecahnya atau fisura putting susu.

Bakteri dapat bersal dari beberapa sumber :


1. Tangan ibu
2. Tangan orang yang merawat ibu atau bayi
3. Bayi
4. Duktus laktiferus
5. Darah sirkulasi
Stress dan keletihan dikaitkan dengan mastitis. Hal ini masuk akal karena stress dan

keletihan dapat menyebabkan kecerobohan dalam teknik penanganan, terutama saat

mencuci tangan, atau melewatkan waktu menyusui, atau mengubah frekuensi menyusui

yang dapat menyebabkan pembesaran dan stasis.


Infeksi jamur pada payudara juga dapat terjadi jika bayi mengalami sariawan, atau

jika ibu mengalami infeksi jamur vagina persisten. Jika putting susu cidera, atau jika ibu

menggunakan antibiotic yang mempengaruhi flora normal kulit, jamur payudara

cenderung terjadi. Infeksi ini dapat diidentifikasi dengan awitan akut nyeri tajam,

menusuk pada putting susu jika bayi menyusu.


Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan

penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi.


1. Statis ASI

Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini

terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi

tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak

efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai

ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih.

2. Infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah

organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus.

Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang

ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid.

C. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu :
1. Umur

Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada wanita di

bawah usia 21 tahun atau di atas 35 tahun.

2. Paritas
Mastitis lebih banyak diderita oleh primipara.
3. Serangan sebelumnya

Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan akibat teknik

menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki.

4. Melahirkan

Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan risiko mastitis, walupun penggunaan

oksitosin tidak meningkatkan resiko.

5. Gizi

Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi terjadinya

mastitis. Antioksidan dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat mengurangi resiko

mastitis.

6. Faktor kekebalan dalam ASI

Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam

payudara.

7. Stres dan kelelahan

Wanita yang merasa nyeri dan demam sering merasa lelah dan ingin istirahat, tetapi

tidak jelas apakah kelelahan dapat menyebabkan keadaan ini atau tidak.
8. Pekerjaan di luar rumah

Ini diakibatkan oleh statis ASI karena interval antar menyusui yang panjang dan

kekurangan waktu dalam pengeluaran ASI yang adekuat.

9. Trauma

Trauma pada payudara karena penyabab apapun dapat merusak jaringan kelenjar dan

saluran susu dan hal ini dapat menyebabkan mastitis.

D. Gejala
Gejalanya berupa:
- Nyeri payudara
- Benjolan pada payudara
- Pembengkakan pada salah satu payudara
- Jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan, kemerahan dan teraba hangat
- Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung nanah)
- Gatal-gatal
- Kemerahan dengan batas jelas
- Biasanya hanya satu payudara
- Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan
a. Gejala mastitis infeksiosa
o Lemah, mialgia, nyeri kepala seperti gejala flu dan ada juga yang di sertai

takikardia
o Demam suhu > 38,5 derajat celcius
o Ada luka pada puting payudara
o Kulit payudara kemerahan atau mengkilat
o Terasa keras dan tegang
o Payudara membengkak, mengeras, lebih hangat, kemerahan yang berbatas

tegas
o Peningkatan kadar natrium sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang

tersa asin

b. Gejala mastitis non infeksiosa


- Adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut
- Bercak kecil keras yang nyeri tekan
- Tidak ada demam dan ibu masih merasa naik-baik saja.
Gejala abses ini adalah nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses

mengkilat dan suhu meningkat tinggi (390-400C). dan bayi dengan sendirinya tidak mau

minum pada payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu disebelah itu

bercampur dengan nanah.


Selain pembesaran berat, precursor tanda dan gejala mastitis biasanya tidak ada sebelum

akhir minggu pertama pasca partum. Setelah masa itu, wanita mungkin mengalami

gejala-gejala berikut :
a. Nyeri ringan pada salah satu lobus payudara, yang diperberat jika bayi menyusu.
b. Gejala seperti flu : nyeri otot, sakit kepala, keputihan.
Mastitis hampir selalu terbatas pada satu payudara. Tanda dan gejala actual mastitis

meliputi :
1. Peningkatan suhu yang cepat dari 39,5 40
2. Peningkatan kecepatan nadi.
3. Menggigil
4. Malaise umum, sakit kepala.
5. Nyeri hebat, bengkak, inflamasi, area payudara keras.
Mastitis yang tidak ditangani memiliki hampir 10 % resiko terbentuknya abses. Tanda

dan gejala abses meliputi :


1. Discharge putting susu purulenta
2. Demam remiten (suhu naik turun) disertai menggigil.
3. Pembengkakan payudara dan sangat nyeri; massa besar dank eras dengan area kuliut

berwarna berfluktuasi kemerahan dan kebiruan mengindikasikan lokaso abses berisi

pus.
Perbedaan tanda dan gejala

Bendungan Mastitis Abses Payudara


ASI
Nyeri payudara Nyeri payudara Nyeri payudara
Benjolan pada Benjolan pada payudara
dan tegang,
Jaringan payudara
kadang payudara
Pembengkakan pada membengkak dan teraba
payudara
salah satu payudara hangat.
mengeras dan Jaringan payudara Nipple discharge (keluar cairan
membesar. membengkak, nyeri dari putting susu, bisa
Biasanya terjadi
bila ditekan, mengandung nanah)
antara hari 3-5
kemerahan dan teraba
pasca persalinan
hangat
. Gatal-gatal
Biasanya Pembesaran kelenjar
bilateral muncul getah bening ketiak
bertahap pada sisi yang sama
menyebabkan
demam dan
tidak
berhubungan
dengan gejala
sistemik.
Payudara
biasanya hangat
saat disentuh

E. Pengobatan
a. Payudara dikompres dengan air hangat
b. Untuk mengurangi rasa sakit dan demam dapat diberikan pengobatan analgetika-

antipiretik. (asetaminofen, ibuprofen (Thylenol))


c. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika.
d. Pompa pada payudara untuk mengosongkan payudara
e. Bayi mulai menyusu dari payudara yang mengalami peradangan.
f. Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya serta menggunakan BH yang dapat menopang

payudara
g. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat cukup
h. Jika ibu demam tinggi (> 39oC), periksa kultur susu terhadap kemungkinan adanya

infeksi streptokokal.
i. Pada abses di tangani dengan pembedahan untuk mengeluarkan abses. Jika terjadi

abses, bawa penderita ke Rumah Sakit untuk mendapatkan antibiotik intravena,

aspirasi atau insisi. Setiap cairan aspirasi dilakukan pemeriksaan histologik untuk

menyingkirkan keganasan, dapat pula dilakukan drainase

Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan

pengobatan sebagai berikut :

1. Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.


2. Sangga payudara
3. Kompres dingin
4. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
5. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
- Komplikasi infeksi payudara
Jika infeksi payudara sangat berat maka kemungkinan dapat terjadi abses. Jika

telah terjadi abses maka pengobatannya adalah dengan melakukan drainase yaitu
pembersihan dan pengaliran/mengeluarkan cairan dan nanah pada payudara yang

mengalami abses

F. Pencegahan
Sikap bidan untuk dapat meningkatkan usaha preventif dan promotif dalam mencegah

terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:


1. Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
2. Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara

dengan cara memompanya


3. Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah robekan/luka pada

puting susu
4. Minum banyak cairan
5. Menjaga kebersihan puting susu
6. Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis tidak

selalu diperlukan. World Health Organization (WHO) menganjurkan pemeriksaan

kultur dan uji sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:


pengobatan dengan antibiotik tidak memperlihatkan respons yang baik dalam 2

hari
terjadi mastitis berulang
mastitis terjadi di rumah sakit
penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.
Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang langsung

ditampung menggunakan penampung urin steril. Puting harus dibersihkan terlebih dulu

dan bibir penampung diusahakan tidak menyentuh puting untuk mengurangi kontaminasi

dari kuman yang terdapat di kulit yang dapat memberikan hasil positif palsu dari kultur.

Beberapa penelitian memperlihatkan beratnya gejala yang muncul berhubungan erat

dengan tingginya jumlah bakteri atau patogenitas bakteri.


H. Penatalaksanaan
Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah

mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan puting susu dengan sabun sebelum dan

sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain

itu yang memberi pertolongan kepada ibu yang menyusui bayinya harus bebas dari
infeksi stapilococus. Bila ada kerak atau luka pada puting sebaiknya bayi jangan

menyusu pada mamae yang bersangkutan sampai luka itu sembuh. Air susu ibu

dikeluarkan dengan pijatan.


1. Mastitis
a. Berikan antibiotika :
- Kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari
- atau Eritromisim 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
b. Bantulah agar Ibu :
- Tetap meneteki
- Kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk

mengurangi bengkak dan nyeri


c. Berikan paracetamol 500 mg per oral
d. Evaluasi 3 hari
2. Abses payudara
a. Berikan antibiotika :
Kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari
ATAU Eritromisim 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
b. Drain abses
Anastesia umum di anjurkan
Lakukan insisi radial dari batas putting ke lateral untuk menghindari cedera

atau duktus
Gunakan sarung tangan steril
Tampon longgar dengan kassa
Lepaskan tampon 24 jam, ganti dengan tampon kecil
c. Jika masih banyak pus, tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya
d. Yakinkan ibu untuk:
Tetap meneteki meskipun masih keluar nanah
Gunakan kutang
Kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk

mengurangi bengkak dan nyeri


e. Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
f. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya

acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui

dan bayinya
g. Evaluasi 3 hari

Segera setelah mastitis ditemukan, pemberian susu kepada bayi dari mamae yang

sakit dihentikan dan diberi antibiotika. Dengan tindakan ini terjadinya abses sering

kali dapat dicegah karena biasanya infeksi disebabkan oleh Stapilococus aureus.
Penicilin dalam dosis cukup tinggi dapat diberikan. Sebelum pemberian penicilin

dapat diadakan pembiakan air susu, supaya penyebab mastitis benar-benar diketahui.

Bila ada abses dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses agar

nanah dapat keluar terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan

dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus itu

a. Terapi suportif
-Bedrest
-Cairan yag cukup
-Nutrisi yang cukup
-Hindari stress
-Kompres air hangat dan lotion
-Laktasi tetap dianjurkan
-Cegah komplikasi
b. Medikamentosa
- Analgesik
- Antipiretik
- Antibiotik: dikloksasin, sefalosporin > eritromisin/sulfa

HASIL ASUHAN KEBIDANAN POST NATAL CARE PATOLOGI PADA


NY.B P1 A0 POST PARTUM MINGGU 1 DENGAN MASTITIS
DI BLUD RS BENYAMIN GULUH RUANG NIFAS
TANGGAL 28 DESEMBER 2013
No. Reg :
Tgl. Masuk RS : 22 februari 2014 jam 10.00 Wita
Tgl. Bersalin : 22 februari 2014 jam 16.00 Wita
Tgl. Pengkajian : 28 februari 2014 jam 10. 00 Wita

Identitas Ibu/Suami
Nama : Ny.B / Tn.S
Umur : 26 Tahun / 29 Tahun
Nikah : 1 Kali + 1 Tahun
Suku : bugis / tolaki
Agama : islam / islsm
Pendidikan : SMA / SMA
Pekerjaan : IRT / wiraswasta
Alamat : Dawi dawi kec pomalaa

SUBJEKTIF (S)
1. Ibu melahirkan tanggal 22 desember 2013 , jam 10.00 wita.
2. Ibu mengeluh nyeri pada payudara hari ketujuh
3. Ibu merasa demam dan menggigil
4. Ibu mengatakan payudaranya membengkak
5. Ibu mengatakan asinya tidak keluar

OBJEKTIF (O)
1. TTV: TD : 90/70 mmHg P : 20 x/menit N : 80 x/menit S : 37 0C
2. Tampak adanya pembengkakan dan kemerah-merahan pada payudara ibu
3. Ekspresi wajah ibu meringis karena nyeri yang dirasakan pada payudaranya
4. Tidak ada pengeluaran asi
5. Palpasi : ibu merasakan nyeri bila payudaranya disentuh/tekan
6. Bayi tidak menyusui karena payudara terasa nyeri

ASSESMENT
Ny. B umur 26 tahun PIA0 Dalam masa nifas hari ke tujuh dengan infeksi payudara

mastitis

PLANNING
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu bahwa ada pembengkakan

pada payudara dan terasa nyeri yang merupakan tanda infeksi pada payudara
2. hasil : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan bidan dan merasa gelisah
3. Menjelaskan pada ibu supaya ibu segera mendapatkan penanganan yang tepat untuk

infeksi payudara yang diderita yaitu :


- payudara dikompres dengan air hangat
- untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika
- untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika
4. hasil :penanganan telah dilakukan dan ibu mengerti apa yang disampaikan bidan
5. Memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan payudara,yaitu dengan memberikan

payudara dulu sebelum meyusui,membantu ibu tentang teknik menyusui yang benar
dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudara,mendorong untuk

sering menyusui,sesering dan selama bayi menghendaki, tanpa pembatasan,bila perlu

peras ASI dengan tangan atau dengan pompa,samapai menyusui dapat dimulai lagi
6. hasil : ibu mengerti dan akan melakukannya
Memberikan KIE kepada ibu supaya bayi mulai menyusui dari payudara yang

mengalami peradangan dan selalu menyusui bayinya


7. hasil :ibu mengerti dan akan menyusui bayinya
Memberikan konseling suportif pada ibu tentang mastitis. Mastitis merupakan

pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustasi, dan membuat banyak wanita

merasa sangat sakit. Selain dengan penganan yang efektif dan mengendalikan

nyeri.wanita membutuhkan dukungan emosional, ibu harus diyakinkan kembali tentang

nilai menyusui, yang aman untu diteruskan: bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak

akan membahayakan bayinya; dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun

fungsinya.
8. hasil : ibu mengerti penjelasan bidan dan tidak merasa takut lagi menyusui bayinya.
Menjelaskan pada ibu untuk tetap mempertahankan pemenuhan pola nutrisi yang sudah

baik dilakukan dengan mengkomsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang yaitu

karbohidrat (nasi,kentang roti) protein (tahu,tempe, daging, ikan ,telur) vitamin( sayur

dan buah)dan memperbanyak komsumsi makanan yang mengandung protein untuk

mempercepat penyubahan luka.


9. hasil : ibu bersedia untuk melakukan pola pemenuhan nutrisi yang sehat dan seimbang

terutama komsumsi protein.


Menjelaskan kepada ibu untuk tetap mendapatkan istirahat yang cukup dan tidak terlalu

lelah agar produksi ASI tidak mengganggu dan tidak cepat lelah
10. hasil : ibu mengerti dan akan melakukannya
Bidan menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan genetalia dan menganjurkan pada ibu

untuk membersihkan alat genetali dengan sabun sesudah BAK ataupun BAB dari arah

atas menuju anus.


11. Hasil : ibu mengerti penjelasan bidan dan mau megikuti anjuran yang diberikan oleh

bidan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mastitis adalah suatu peradangan pada jaringan payudara. Pada infeksi yang berat

atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara),

yang disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal

(Staphylococcus aureus). Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam

saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu) dan

biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3

bulan setelah melahirkan.


Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama

setelah melahirkan.Abses payudara berbeda dengan mastitis. Abses payudara terjadi

apabila mastitis tidak tertangani dengan baik, sehingga memperberat infeksi. Dengan

gejala sakit pada payudara ibu tampak lebih parah, payudara lebih mengkilap dan

berwarna merah, benjolan terasa lunak karena berisi nanah.


B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan kita harus tahu dan mampu mengatasi mastitis.Sehingga

presenstase wanita yang mempunyai resiko untuk menderita mastitis dapat ditangani

dengan semaksimal mungkin dan secepat mungkin.


DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, sarwono. 2011. Ilmu Kandungan. bina pustaka sarwono prawiroharjo. Jakarta
Proverawati, atikah, SKM,MPH. Kapita Selekta ASI dan Menyusui. nuha medika, jln

ringroad selatan,bantul.agustus 2010


Maryunani,anik,ns,S.kep,ETN. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Postpartum). trans info

media,jakarta.2009
Rosita,syarifah. Asi Untuk Kecerdasan Bayi. ayyanamagunnegaran-yogyakarta.2008
Dr,nugroho taupan.obstetri.nuha medika.jln ringroad selatan,yogyakarta.2010