Anda di halaman 1dari 15

IMUNISASI HB0

No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD


Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 2002121004

1. Pengertian Suatu tindakan pemberian kekebalan kepada tubuh bayi


terhadap penyakit Hepatitis dengan Uniject secara
intramuscular pada bayi usia 0-7 hari
2. Tujuan Agar anak mempunyai daya tahan terhadap penyakit
hepatitis
3. Kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainya dapat melakukan
sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku
4. Kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainya dapat melakukan
sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku
5. Proses A. A. Persiapan alat
1. Baki beralas
2. Bak spuit steril
3. Vaksin HB0 dalam uniject
4. Kom berisi kapas alcohol
5. Bengkok
6. Buku KIA
B. Persiapan
1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa bayinya akan
diberikan vaksin Hepatitis B dengan cara di suntik
2. Posisikan bayi terlentang
C. Pelaksanaan
1. Keluarkan vaksin HB0 dari kemasan
2. Dorong dan tekan dengan cepat penutup jarum ke dalam
port. Jarak antara penutup jarum dengan port akan hilang
dan terasa ada klik
3. Oleskan kapas alcohol di 1/3 paha luar bayi sebelah kanan
4. Pegang paha bayi sebelah kanan dengan ibu jari dan jari
telunjuk
5. Keluarkan penutup jarum
6. Pegang vaksin HB0 dan suntikan jarum dengan sudut
900 di 1/3 paha luar bayi sebelah kanan
7. Tekan reservoir (gelembung vaksin) untuk memsukkan
vaksin, setelah reservoir kempes cabut uniject dari paha
bayi dengan cepat.
8. Tekan paha bayi dengan kapas alcohol
9. Dokumentasikan pada buku KIA

D. Hal-hal yang harus di perhatikan


1. Pemberian imunisasi hepatitis B sebaiknya ditunda
pada kondisi bayi :
a. Berat badan lahir rendah (BBLR)
b. Bayi kuning
c. Tidak sehat atau lemah
E. Gambar
1. Alat-alat
a. Vaksin hb0 dalam uniject
GAMBAR
b. Bengkok
GAMBAR
c. Kom berisi kapas alcohol
GAMBAR
2. Pelaksanaan
1. Kelarkan vaksin HB0 dari kemasan
GAMBAR
2. Dorong dan tekan dengan cepat penutup jarum ke
dalam port. Jarak antara penutup jarum dengan port akan
hilang dan terasa ada klik
GAMBAR
3. Oleskan kapas alcohol di 1/3 paha luar bayi sebelah
kanan
GAMBAR
4. Dokumentasikan pada buku KIA
5. Pegang vaksin HB0 dan suntikan jarum dengan sudut
900 di 1/3 paha luar bayi sebelah kanan. Tekan reservoir
(gelembung vaksin) untuk memsukkan vaksin, setelah
reservoir kempes cabut uniject dari paha bayi dengan
cepat.

GAMBAR
6. Tekan paha bayi dengan kapas alcohol

6. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan Bayi.


2. Dokter
IMUNISASI VIT K

No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD


Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian Memberikan vitamin K1 melalui suntikan secara intra


muskuler pada bayi baru lahir
2. Tujuan Untuk mencegah terjadinya defisiensi vitamin K
3. Kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainya dapat melakukan
sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku
4. Prosedur Petugas : Bidan/Perawat.
Peralatan :
1. Vit K (phytomenadione).
2. Disposible 1 cc.
3. Kapas Alkohol.
4. Micropore/plester.
5. Bengkok.
Tindakan :
1. Siapkan alat-alat dan obat.
2. Perawat/Bidan cuci tangan.
3. Siapkan bayi yang akan di suntik.
4. Masukkan obat phytomenadione ke dalam disposable
1 cc
dengan dosis 1 mg.
5. Tentukan daerah yang akan di suntik di paha kiri atau
kanan
(muskulus vastus lateralis).
6. Desinfektan daerah yang akan di suntik.
7. Posisi jarum suntik tegak lurus.
8. Aspirasi terlebih dahulu setelah jarum masuk apakah
ada
darah atau tidak.
9. Jika tidak ada darah masukkan obat secara perlahan
dan hati-hati.
10. Jika ada darah jarum di cabut kembali dan di
tusuk di
daerah lainnya.
11. Catat di dalam buku laporan.
12. Observasi bayi.
13. Setelah obat masuk jarum di cabut dan bekas
tusukannya di
tekan dengan kapas alcohol dan kemudian di plester.
14. Rapikan kembali pakaian bayi, masukkan bayi ke
box atau
incubator.
15. Rapikan alat-alat.
16. Petugas mencuci tangan

5. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan Bayi.


2. Dokter
RAWAT GABUNG

No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD


Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian Memberikan pelayanan kepada bayi baru lahir dimana


bayi ditempatkan beserta ibunya dalam satu ruangan.

2. Tujuan 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan


bayi.
2. Memenuhi hak ibu dan bayi untuk selalu berada di
samping ibu setiap saat.
3. Menstimulasi supaya bayi memperoleh kolostrum dan
ASI.
4. Memperoleh stimulasi mental dini untuk tumbuh
kembang anak

3. Kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainya dapat melakukan


sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku
4. Prosedur A. Persyaratan dalam rawat gabung terdiri dari:
1. Kondisi bayi
- Semua bayi
- Kecuali bayi beresiko dan mempunyai kelainan
yang tidak
memungkinkan untuk menyusu pada ibu
2. Ibu
- Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
3. Ruang rawat gabung
a. Untuk bayi
1. Bayi ditempatkan dalam box tersendiri dengan
tempat tidur ibu
2. Bila tidak terdapat tempat tidur, bayi diletakkan di
tempat tidur disamping ibu (bedding in).
3. Agar mengurangi bahaya bayi jatuh,
sebaiknya diberi
4. Tersedianya pakaian bayi.
b. Untuk ibu
1. Tempat tidur diusahakan rendah agar
memudahkan ibu naik/turun (bila disediakan ada
tangga injakan untuk naik ketempat tidur).
2. Tersedianya perlengkapan perawatan nifas.
c. Ruangan
1. Ruangan cukup hangat, sirkulasi udara cukup,
suhu minimal 28C.
2. Ruangan unit/bayi yang masih memerlukan
pengamatan khusus harus dekat dengan ruang
petugas (di RS/RB).
d. Sarana
1. Lemari pakaian (ibu dan bayi).
2. Tempat mandi bayi dan perlengkapannya.
3. Tempat cuci tangan ibu (air mengalir).
4. Kamar mandi tersendiri bagi ibu.
5. Tersedianya poster, brosur, leaflet, buku-buku,
model tentang manajemen laktasi.

B. Pelaksanaan rawat gabung ibu dan bayi


1. Bayi dipindahkan dari ruang perinatologi keruang
perawatan mawar (Ruang Nifas)
2. Awali dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
pada kamar bersalin jika tidak memungkinkan
dilakukan di ruang mawar.
3. Tempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan
sedemikian rupa sehingga ibu dapat melihat dan
menjangkau bayi.Bayi dapat diletakkan ditempat
tidur bersama ibunya (bedding in) atau dalam
boks disamping tempat tidur ibu.
4. Berikan asuhan pada bayi baru lahir yang
meliputi :
1. Pencegahan hipotermi.
2. Pemeriksaan klinis bayi.
3. Perawatan umum (merawat tali pusat,
mengganti popok,
4. memandikan bayi, menjaga hygiene bayi).
5. Deteksi dini bayi baru lahir.
6. Ajarkan pada ibu mengenai tanda-tanda bayi
ingin menyusu.
6. Berikan asuhan pada ibu nifas meliputi:
1. Breast Care, termasuk memerah dan menyimpan
ASI.
2. Pendampingan menyusui, termasuk perlekatan
dan posisi menyusui yang benar, mengenali tanda
bayi ingin menyusu, dan tanda bayi telah puas
dalam menyusu.
3. Bantu ibu bila ditemukan penyulit dalam
menyusui (kelainan puting, pembengkakan
mamae, engorgement, dll)
4. Berikan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE)
7. Informasi yang diberikan sebagai berikut:
a. Nutrisi ibu menyusui.
b. Pengetahuan tentang menyusui secara eksklusif.
c. Kerugian bila bayi tidak mendapatkan ASI
d. Manajemen laktasi yang benar, termasuk kendala-
kendala
e. dalam menyusui bayi.
f. Mengenali tanda-tanda bahaya pada ibu dan
bayi.
g. Perawatan payudara.
h. Cara memerah, menyimpan dan memberikan ASI
dengan sendok.
8. Berikan imunisasi Hepatitis B pada bayi.
9. Jika bayi sakit atau perlu pengawasan yang
intensif, pindahkan bayi keruang khusus.
10. Lakukan pencatatan perkembangan bayi rawat
gabung
11. Anjurkan agar bayi yang dipulangkan melakukan
kunjungan
ulang.
C. Monitoring dan evaluasi
Indikator-indikator yang digunakan dalam penilaian
program atau
3. Menyusui secara eksklusif 100%

5. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan Bayi.


2. Dokter
MEMANDIKAN BAYI
No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD
Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian suatu cara membersihkan tubuh bayi dengan


air dengan cara menyiram, merendam diri
dalam air berdasarkan urut-urutan yang sesuai
2. Tujuan untuk menjaga kebersihan, memberikan rasa segar,
dan memberikan rangsangan pada kulit. Yang harus
diperhatikan pada saat memandikan bayi adalah :
Mencegah kedinginan, Mencegah masuknya air ke
dalam mulut, hidung, telinga bayi, memperhatikan
adanya lecet pada pantat, lipatan-lipatan kulit ketiak
bayi, lipatan paha, dan punggung bayi)

3. Kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainya dapat melakukan


sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku
4. Prosedur PERSIAPAN ALAT / BAHAN
1. Bak mandi bayi / waskom berisi air hangat
2. Sabun mandi bayi
3. Waslap 2 buah dan handuk bayi 1 buah
4. Pakaian bersih bayi lengkap
5. Baby oil, minyak telon, sisir bayi
6. Kapas untuk membersihkan mata
7. Tempat / kantong kain kotor
8. Sarung tangan steril 1 pasang
9. Bengkok 1 buah untuk sampah
10. Korentang 1 buah.
PELAKSANAAN
1. Berikan kesempatan klien atau keluarga
untuk bertanya sebelum kegiatan dimulai
2. Tanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik
yang ada pada klien
3. Mulai tindakan dengan cara yang baik
4. Berikan privasi pada klien
5. Pastikan bayi dalam posisi nyaman dalam
pegangan atau terbaring dalam incubator
6. Periksa kembali temperatur air dengan
suhu (37-38 derajat) hangat- hangat kuku, air
dalam waskom hanya digunakan untuk
membasuh (sponge bathing) dan membersihkan
rambut
7. Usap mata dari kantus dalam ke luar.
Gunakan air bersih dan bagian yang berbeda
untuk tiap mata.
8. Bersihkan wajah dengan lembut. Gunakan
air biasa tanpa menggunakan sabun
9. Pegang bayi dengan aman, gunakan foot
ball hold, basahi rambut dengan air secara
lembut
10. Usapkan sampo bayi dengan
menggunakan waslap, bilas rambut dan
keringkan kulit kepala dengan cepat
11. Bersihkan telinga dengan gerakan
memutar dan gunakan bagian yang berbeda
untuk tiap-tiap telinga.
12. Setelah melepas selimut mandi atau
pakaian bayi, bersihkan leher, dada, lengan dan
punggung dengan cara yang sama.
13. Bersihkan tubuh dengan sabun dan air,
bilas dengan hati-hati dan keringkan bagian
tubuh yang dibersihkan sebelum berpindah ke
bagian lain
14. Bersihkan bagian genetalia
15. Bilas bayi hingga bersih.
16. Keringkan bayi dengan handuk dan
diletakkan di atas meja
17. Perhatikan kelainan-kelainan pada bayi
18. Perawatan tali pusat
19. Kenakan pakaian bayi dengan lengkap
( celana / popok tidak menutupi tali pusat atau
lipatan popok di bawah tali pusat
20. Sisir rambut kemudian rapikan tempat
tidur bayi
21. Kembalikan bayi kepada orang tua
22. Bereskan semua alat-alat
23. Perawat mencuci tangan

5. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan Bayi.


2. Dokter
PROSEDUR PEMAKAIAN SARUNG TANGAN STERIL
No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD
Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian Tata cara penggunaan sarung tangan steril


2. Tujuan Tenaga medis dan para medis mampu menggunakan
sarung tangan steril secara baik dan benar
3. Kebijakan Semua tenaga medis dan para medis wajib mengenakan
sarung tangan steril pada saat melakukan tindakan bedah.
4. Prosedur 1. Lepaskan jam tangan,cincin dan lengan pakaian
panjang ditarik ke atas.
2. Inspeksi kuku dan permukaan kulit apakah ada luka
3. Perawat mencuci tangan.
4. Buka pembungkus bagian luar dari kemasan sarung
tangan dengan memisahkan sisi-sisinya.
5. Jaga agar sarung tangan tetap di atas pembukaan
bagian dalam pembungkus.
6. Identifikasi sarung tangan kiri dan kanan, gunakan
sarung tangan pada tangan yang dominan terlebih
dahulu.
7. Dengan ibu jari dan telunjuk serta jari tangan yang
dominan.
8. Dengan tangan yang dominan dan bersarung tangan
selipkan jari-jari ke dalam mancet sarung tangan
kedua.
9. Kenakan sarung tangan kedua pada tangan yang
dominan.
10. Jangan biarkan jari-jari tangan yang sudah bersarung
tangan menyentuh setiap bagian atau benda yang
terbuka.
11. Setelah sarung tangan yang kedua digunakan mancet
biasanya akan jatuh ke tangan setelah pemaikan
sarung tangan.
12. Setelah kedua tangan bersarung tangan tautkan
kedua tangan ibu jari adduksi ke belakang
13. Pastikan setelah pemakaian sarung tangan steril
hanya memegang alat-alat steril.
5. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan.
2. Dokter

AUTOPSI VERBAL KEMATIAN MATERNAL & PERINATAL

No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD


Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian Autopsi verbal adalah Suatu kegiatan untuk mencari


informasi tentang sebab kematian untuk prioritas
kesehatan masyarakat, pola penyakit, tren penyakit dan
untuk evaluasi dampak upaya preventif maupun
promotif.
Kematian perinatal adalah kematian dalam masa
kehamilan 28 minggu sampai bayi baru lahir dan berusia
7 hari
Kematian Ibu adalah kematian langsung karena
kehamilannnya sendiri maupun kematian tak langsung
karena penyakit lain.
2. Tujuan 1. Untuk menentukan sebab dan faktor-faktor terkait
dalam kematian ibu dan perinatal.
2. Untuk menelusuri system dan program gagal
dalam mencegah kematian
3. Menentukan jenis interval yang dibutuhkan
3. Kebijakan
4. Prosedur 1. ALAT DAN BAHAN:
2. 1.Buku KIA
3. 2. Format otopsi verbal kematian
4. 3. ATK
5. Prosedur
1. 1. Bidan menerima laporan tentang adanya kasus
kematian ibu atau bayi dan melaporkan kepada kepala
puskesmas
2. 2. Kepala puskesmas beserta Tim Surveilans yang terdiri
dari kepala puskesmas, dokter, bidan, dan petugas
surveilans mengecek kebenaran informasi laporan ke
lapangan dengan mendatangi ketua RT setempat dan
rumah pasien.
3. 3.Tim melakukan otopsi verbal dengan melakukan
wawancara ke pihak keluarga di antaranya mengenai :
4. - identitas pasien
- perawatan ANC
- kronologi persalinan
- riwayat rujukan
- tindakan dan pengobatan yang telah diberikan
kepada pasien
- riwayat persalinan sebelumnya.
5. Tim melakukan otopsi verbal dengan wawancara
kepada bidan penolong persalinan jika persalinan
ditolong oleh bidan.
6. jika persalinan di RS maka dinas kesehatan kab
tasikmalaya untuk melaporkan kasus tersebut
7. Bidan melaksanakan pencatatan dan pelaporan
8. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan.
2. Dokter
PEMAKAIAN ALAT PELINDUNG DIRI
No.Kode : Ditetapkan oleh Kepala UPTD
Terbitan : PUSKESMAS DTP
SOP No.Revisi : KARANGNUNGGAL
Tgl.Mulai Berlaku :

Dr.H.Syarhan, MM
NIP : 1969 1201 200212 1004

1. Pengertian Alat pelindung diri adalah alat untuk melindungi tenaga


kerja dari kecelakaan kerja yang serius atau penyakit
akibat kontak dengan bahan kimia, radiologi, listrik,
mekanik atau tempat kerja yang berbahaya lainnya.
2. Tujuan 1. Melindungi tenaga kerja dari bahaya akibat
pekerjaanya.
2. Meningkatkan efektifitas dan produktivitas kerja.
3. Menciptakan lingkungan kerja yang aman.
3. Kebijakan
4. Prosedur 6. ALAT :
1. Sarung tangan (hanscoon)
2. Masker
3. Jas pelindung
4. Pelindung kaki
Prosedur :
A. Cara penggunaan masker
1. Eratkan tali karet elastis pada bagian tengah
kepala dan leher.
2. Tepatkan klip hidung dari logam fleksibel
pada batang hidung.
3. Tepatkan dengan erat pada wajah dan
dibawah dadu sehingga melekat dengan baik.
4. Periksa ulang penggunaan masker dengan
tepat.
B. Cara penggunaan sarung tangan (hanscoon)
1. Cuci tangan terlebih dahulu
2. Identifikasi hanscoon dengan mengeluarkan
hanscoon dari kemasannya, tempatkan pada
tempat yang datar dan bersih. Buka
kemasanya sentuh badan kemasan hanya
bagian yang luar, bagian yang dalam dilarang
disentuh. Pastikan hanscoon untuk tangan kiri
berada dikiri untuk tangan kanan berada
dikanan.
3. Pakai hanscoon untuk tangan yang lebih
dominan terlebihn dahulu pada orang yang
bukan kidal tangan dominannya adalah tangan
kanan. Jepit hanscoon untuk tangan kanan
menggunakan tangan kiri dan pakaikan
handscoon ke tangan kanan.Lakukan
sebaliknya pada tangan kiri.
4. Tarik handscoon hingga menutupi
pergelangan tangan
C. Cara penggunaan jas pelindung
1. Tutup badan sepenuhnya dari leher hingga
lutut, lengan hingga bagian pergelangan
tangan dan selubungkan kebagian punggung.
2. Ikat dibagian belakang leher dan pinggang
5. Unit Terkait 1. Perawat/Bidan.
2. Dokter