Anda di halaman 1dari 2

Hakikat Kekayaan yang Sebenarnya

Kategori: Tazkiyatun Nufus

1 Komentar // 16 Februari 2013

Hanya dengan cara pandang agama, manusia akan percaya bahwa sesungguhnya kekayaan
tidak selalu berwujud harta benda. Kekayaan yang sebenarnya tidak selalu diukur dengan
besarnya angka-angka materi. Keluasan hati saat seorang hamba mampu menekan hawa
nafsunya, bersikap menerima dan mensyukuri apa yang ada justru Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam nyatakan sebagai kekayaan yang sebenarnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi
kekayaan adalah kekayaan hati. (Hadis riwayat Bukhari Muslim)

Ibnu Baththal berkata, Hadis ini bermakna bahwa kekayaan yang hakiki bukan pada harta
yang banyak. Karena, banyak orang yang Allah luaskan harta padanya namun ia tidak merasa
cukup dengan pemberian itu, ia terus bekerja untuk menambah hartanya hingga ia tidak
peduli lagi dari mana harta itu didapatkan, maka, sesungguhnya ia orang miskin, disebabkan
karena ambisinya yang sangat besar.

Oleh karena itu kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa. Orang yang merasa cukup
dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi untuk menambah hartanya dan terus-
menerus mencarinya, maka berarti ia orang yang kaya

Al-Qurthubi berkata, Hadis ini bermakna bahwa harta yang bermanfaat, agung dan terpuji
adalah kekayaan jiwa.

Dengan demikian, tidak selalu harta benda yang banyak itu mendatangkan kebahagian,
kebaikan dan kesenangan bagi pemiliknya. Kekayaan yang sebenarnya adalah sesuatu yang
manusia rasakan dalam hatinya. Hatilah yang menentukan seorang manusia menjadi senang
atau sengsara, kaya atau miskin dan bahagia atau sedih. Pangkalnya ada dalam hati.

Hati yang takut kepada azab Allah, beriman, penuh rasa syukur dan cinta kepada Pemilik dan
Pemberi rizki sebenarnyalah yang akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan dari harta
yang dimilikinya, sebesar apapun harta tersebut.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang dunia adalah


ambisinya, maka Allah akan menghancurkan kekuatannya, menjadikan kemiskinan di depan
matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan. Dan
barangsiapa akhirat adalah tujuannya, maka Allah akan menguatkan urusannya, menjadikan
kekayaannya pada hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. (HR Ibnu
Majah)

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua hati yang kaya, hati yang selalu bergantung
dan bersandar kepada Dzat yang Mahakaya.

Wallahu alam

Penulis: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc

Dari artikel 'Hakikat Kekayaan yang Sebenarnya Muslim.Or.Id'