Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak dilaporkan pertama kali pada tahun 1987, jumlah kasus HIV dan AIDS terus
bertambah di Indonesia. Menurut data Kemenkes RI, pada akhir Juni 2011 dilaporkan
sebanyak 26.483 kasus AIDS, sebanyak 78% diantaranya berusia reproduksi aktif (20-39
tahun). Pada tahun 2009 diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV sudah mencapai
298.000 orang dengan 25% diantaranya adalah perempuan. Kondisi ini menunjukkan telah
terjadi feminisasi epidemi HIV di Indonesia. Dari hasil proyeksi HIV yang dibuat KPAN,
diperkirakan pada waktu mendatang akan terdapat peningkatan prevalensi HIV pada populasi
usia 15-49 tahun dari 0,22% pada tahun 2008 menjadi 0,37% di tahun 2014; serta
peningkatan jumlah infeksi baru HIV pada perempuan, sehingga akan berdampak
meningkatnya jumlah infeksi HIV pada anak. Menurut estimasi Depkes, pada tahun 2009
terdapat 3.045 kasus baru HIV pada anak dengan kasus kumulatif 7.546; sedangkan pada
tahun 2014 diperkirakan terdapat 5.775 kasus baru dengan 34.287 kasus kumulatif anak HIV
di seluruh Indonesia.
Penyakit HIV&AIDS sampai saat ini belum bisa disembuhkan, tetapi terapi dari
HIV&AIDS dapat membantu individu agar tetap mempertahankan imunitasnya. Virus ini
dapat ditularkan melalui pemakaian jarum suntik tidak steril secara bergantian, donor darah,
hubungan homoseksual maupun heteroseksual, seks dengan berganti-ganti pasangan.
Semakin meningkatnya penyakit HIV&AIDS di seluruh Negara menyebabkan diperlukannya
program-program khusus untk menahan laju penularannya.
Penyakit HIV&AIDS merupakan pandemi yang sedang dialami oleh seluruh negara.
Peningkatan jumlah orang dengan HIV/ AIDS dari 36,6 juta orang pada tahun 2002 menjadi
39,4 juta orang pada tahun 2004. Pada tahun 2005 jumlah penduduk dunia yang terinfeksi
HIV adalah 40,3 juta. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur menjelaskan kepada media
bahwa peningkatan jumlah penderita ini bukan hanya dari penderita HIV/AIDS yang baru,
namun kebanyakan karena banyaknya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang akhirnya
ditemukan sebagai penderita. Layaknya fenomena gunung es, bahwa jumlah ODHA
diperkirakan sebanyak 20.810 orang, namun yang telah dilaporkan hanya hanya sekitar 11%.
Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur menempati urutan pertama dengan jumlah kasus
HIV/AIDS terbanyak yakni sebanyak 527 kasus AIDS, kemudian disusul dengan Kabupaten
Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.
Stigma masyarakat ini perlu di minimalisir karena dapat memojokkan ODHA.
Memanusiakan ODHA merupakan salah satu cara meminimalisir perkembangan virus, karena
dengan adanya dukungan dari masyarakat, ODHA pun akan melaksanakan pengobatan tanpa
harus menghadapi tekanan malu terhadap umum. Salah satu jalan masuk seseorang untuk
mengetahui status HIV adalah melalui konseling dan testing HIV, terdapat beberapa macam
diantaranya adalah Voluntary Counselling and Testing (VCT) dan Provider-Initiated Testing
and Counselling (PITC). Dua layanan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
individu tentang status dan penyakit HIV&AIDS, dapat meminimalisir stigma dan
diskriminasi ODHA, dan mengurangi laju penyebaran penyakit ini.
Kondisi di atas menunjukkan pentingnya implementasi program prevention of mother to
child transmission of HIV (PMTCT) yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi dari
infeksi HIV. Program PMTCT komprehensif berupaya meningkatkan kepedulian dan
pengetahuan perempuan perempuan usia reproduktif tentang HIV dan AIDS; meningkatkan
akses perempuan hamil untuk mendapatkan layanan konseling dan testing HIV (VCT);
meningkatkan akses perempuan hamil HIV positif untuk mendapatkan layanan pengurangan
risiko penularan HIV ke bayinya (dari semula 25 45 persen menjadi sekitar 2 persen); serta
meningkatkan akses perempuan HIV positif dan keluarganya untuk mendapatkan layanan
psikologis dan sosial agar kualitas hidupnya terjaga.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
A. HIV/AIDS
Pengertian HIV merupakan singkatan dari 'Human Immunodeficiency Virus'. HIV adalah
suatu virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan
defisiensi (kekurangan) sistem imun.
Atau HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh
manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-komponen utama sistem
kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini
mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan
mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem
tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit-penyakit.
Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap
berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami
defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang
parah dikenal sebagai "infeksi oportunistik" karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan
sistem kekebalan tubuh yang melemah.
Sedangkan Definisi AIDS adalah singkatan dari 'Acquired Immunodeficiency
Syndrome / Acquired Immune Deficiency Syndrome' yang menggambarkan berbagai gejala
dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah
ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai
infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.
B. Voluntary Counselling and Testing (VCT)
Voluntary Counselling and Testing atau yang lebih dikenal dengan VCT HIV & AIDS
merupakan salah satu program yang dilaksanakan dalam upaya mencegah penyebaran
penyakit HIV & AIDS. Voluntary Counselling and Testing (VCT) merupakan entry point
untuk memberikan perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA. VCT juga merupakan
salah satu model untuk memberikan informasi secara menyeluruh dan dukungan untuk
merubah perilaku berisiko serta mencegah penularan HIV/AIDS. (Haruddin, dkk., 2007)
Voluntary Counselling and Testing (VCT) adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog
yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan mencegah
penularan. (Nursalam, 2007)
WHO menyatakan bahwa VCT atau CITC (Client-Initiated Testing and Counselling)
merupakan pendekatan primer dalam konseling dan tes HIV & AIDS yang ditekankan pada
pengkajian dan menejemen dari perilaku beresiko, memberikan pengetahuan tentang isu-isu
dan informasi seperti keinginan dan implikasi untuk melakukan tes, dan strategi-strategi
untuk mengurangi perilaku-perilaku beresiko dengan partisipasi klien secara aktif dating ke
pelayanan kesehatan secara sukarela. Konseling dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan
tes untuk mendiagnosa HIV & AIDS, jika didapatkan hasil tes positif maka konseling akan
mengarah pada perawatan, terapi dan pelayanan pendukung lainnya.
C. Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT)
Menurut Depkes RI (2008), Prevention Mother to Child Transmission (PMTCT) atau
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), merupakan program pemerintah untuk
mencegah penularan virus HIV/AIDS dari ibu ke bayi yang dikandungnya. Program tersebut
mencegah terjadinya penularan pada perempuan usia produktif, kehamilan dengan HIV
positif, penularan dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya. Prevalensi kasus AIDS lebih
besar karena merupakan kewajiban untuk melaporkan kasus kematian karena AIDS, tetapi
kasus HIV cenderung untuk tidak dilaporkan. Kecenderungan tidak melaporkan ini secara
tidak langsung menunjukkan masih besarnya stigma terhadap HIV/AIDS di masyarakat.
Seperti fenomena gunung es, kasus HIV yang ada di masyarakat kemungkinan jauh lebih
besar daripada yang dilaporkan.
2.2 Etiologi
HIV ialah retrovirus yang di sebut lymphadenopathy Associated virus (LAV) atau human
T-cell leukemia virus 111 (HTLV-111) yang juga di sebut human T-cell lymphotrophic virus
(retrovirus) LAV di temukan oleh montagnier dkk. Pada tahun 1983 di prancis, sedangkan
HTLV-111 di temukan oleh Gallo di amerika serikat pada tahun berikutnya. Virus yang sama
ini ternyata banyak di temukan di afrika tengah. Sebuah penelitian pada 200 monyet hijau
afrika,70% dalam darahnya mengandung virus tersebut tampa menimbulkan penyakit. Nama
lain virus tersebut ialah HIV.
HIV terdiri atas HIV-1 dan HIV-2 terbanyak karena HIV-1 terdiri atas dua untaian RNA
dalam inti protein yang di lindungi envelop lipid asal sel hospes.
Virus AIDS bersifat limpotropik khas dan mempunyai kemampuan untuk merusak sel
darah putih spesifik yang di sebut limposit T-helper atau limposit pembawa factor T4 (CD4).
Virus ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah limposit T-helper secara progresif dan
menimbulkan imunodefisiensi serta untuk selanjut terjadi infeksi sekunder atau oportunistik
oleh kuman,jamur, virus dan parasit serta neoplasma. Sekali virus AIDS menginfeksi
seseorang, maka virus tersebut akan berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan
penderita akan mengadakan reaksi terhapat invasi virus AIDS dengan jalan membentuk
antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak dapat menetralisasi virus tersebut
dengan cara-cara yang biasa sehingga penderita tetap akan merupakan individu yang infektif
dan merupakan bahaya yang dapat menularkan virusnya pada orang lain di sekelilingnya.
Kebanyakan orang yang terinfeksi oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau
sama sekali tidak sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung
dan berkembang menjadi AIDS yang full-blown.
Cara penularan HIV/AIDS
Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu :
1. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS
Hubungan seksual secara vaginal, anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa
perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seksual berlangsung, air mani, cairan
vagina, dan darah dapat mengenai selaput lender vagina, penis, dubur, atau mulut sehingga
HIV yang terdapat dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah (PELKESI, 1995). Selama
berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding vagina, dubur, dan mulut yang bisa
menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah pasangan seksual (Syaiful, 2000).
2. Ibu pada bayinya
Penularan HIV dari ibu pada saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC
Amerika, prevalensi HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01% sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi
HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%,
sedangkan kalau gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%
(PELKESI, 1995). Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui transfuse
fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi
maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).
Ada 3 faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi:
a. faktor ibu
faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi
adalah kadar HIV (viral load) didarah ibu pada saat menjelang ataupun saat
persalinan dan kadar HIV diair susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Umumnya satu
atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi HIV , kadar HIV akan cepat sekali
bertambah ditubuh seseorang. Pada umumnya kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta
kopi/ml darah terjadi 3-6 minggu setelah terinfeksi atau kita sebut dengan infeksi
primer. Setelah beberapa minggu, biasanya kadar HIV mulai berkurang dan relatif
terus rendah selama beberapa tahun pada periode tanpa gelaja periode ini disebut fase
asimtomatik. Ketika memasuki masa stadium AIDS dimana tanda tanda gejala AIDS
mulai muncul , kadar HIV kembali meningkat.
Risiko penularan aka lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV (viral load) yang tinggi
pada menjelang ataupun saat persalinan (risiko penularan sebesar 10-20%).
Sedangkan risiko penularan HIV pada saat menyusui sebesar 10-15%. Dengan
demikian berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV
pada ibu yang sedang hamil dan menyusui, serta menjaga kondisi kesehatan dan
nutrisinya selama menyusui
Ibu dengan CD4 yang rendah mempunyai risiko penularan yang lebih besar, telebih
jika jumlah sel CD4 kurang dari 350. Semakin rendah jumlah sel CD4, pada
umumnya resiko penularan HIV akan semakin besar
Ibu yang memiliki berat badan yan rendah selama kehamilan serta kekurangan
vitamin dan mineral maka resiko penularan penyakit infeksi meningkat. Biasanya
juga ibu yang menderita IMS maka kader HIV akan meningkat, sehingga
meningkatkan penularan ibu ke bayi. Malaria juga meningkatkan risiko penularan
karena parasit malaria merusak plasenta plasenta sehinga memudahkan HIV
menembus plasenta menginfeksi bayi. Selain itu malaria juga meningkatkan risiko
bayi lahir prematur yang memperbesar resiko penulatan HIV ibu ke bayinya. Sifilis
ditularkan dari ibu ke bayinya . Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan
bertambah bertambah jika terdapat adanya masalah pada payudara ibui seperti
mastitis, abses, dan luka diputing payudara.
b. Faktor bayi
Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah disuga rentan untuk
tertulat HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi tersebut belum berkembang baik,
seperti sistem kulit dan mukosa. Sebuah studi Tanzamania menujukan bahwa bayi
yang dilahirkan sebelum 34 minggu memiliki risiko tertular HIV yang lebih tinggi
pada saat persalinan dan masa-masa awal kelahiran. Seorang bayi dari ibu HIV
positif bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan,
tetapi mungkin akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI.
Bayi yang diberikan ASI ekslusif kemungkinan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih
rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed feeding),
yaitu tak hanya ASI tetapi juga susu formula dan makanan padat lainnya. Penelitian
di Afrika Selatan menunjukan bahwa bayi dari ibu HIV positif yang diberi ASI
ekslusif selama 3 bulan memiliki resiko tertular HIV lebih rendah (14,6%)
dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan campuran, yaitu susu formula dan
ASI (24,1 %). Hal ini diperkirakan karena air dan makanan yang kurang bersih
(terkontaminasi) akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran,
sehingga HIV dari ASI bisa masuk ke tubuh bayi
HIV terdapat didalam ASI meskipun konsentarisnya jauh lebih kecil dibandingkan
dengan HIV dalan darah antara 10-15 %.
c. Faktor Tindakan Obstetrik
Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan, karena
saat persalinan tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya
koneksi antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika plasenta
meradang atau terinfeksi. Selain itu, saat persalinan bayi terpapar darah dan lendir
ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah
terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan
darah ataupun lendir ibu. Faktor faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan
HIV dari ibu ke bayi selama persalinan adalah sebagai berikut :
1. Jenis persalinan (per vaginam atau per abdominal/SC).
2. Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke
bayi juga semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara
bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum
persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan
jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan
3. Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan selama proses
persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau
forseps dan tindakan episiotomi.

. Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan


selama proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala
janin, penggunaan vakum atau forseps dan tindakan episiotomi.

3. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS


Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke pembuluh darah dan
menyebar ke seluruh tubuh.
4. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti speculum,tenakulum, dan alat-alat lain yang
darah,cairan vagina atau air mani yang terinfeksi HIV,dan langsung di gunakan untuk orang
lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV.(PELKESI,1995).
5. Alat-alat untuk menoleh kulit
Alat tajam dan runcing seperti jarum,pisau,silet,menyunat seseorang, membuat
tato,memotong rambut,dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut mungkin di
pakai tampa disterilkan terlebih dahulu.
6. Menggunakan jarum suntik secara bergantian
Jarum suntik yang di gunakan di fasilitas kesehatan,maupun yang di gunakan oleh parah
pengguna narkoba (injecting drug user-IDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum
suntik, pada para pemakai IDU secara bersama-sama juga mengguna tempat penyampur,
pengaduk,dan gelas pengoplos obat,sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan
HIV tidak menular melalui peralatan makan,pakaian,handuk,sapu tangan,toilet yang di
pakai secara bersama-sama,berpelukan di pipi,berjabat tangan,hidup serumah dengan
penderita HIV/AIDS, gigitan nyamuk,dan hubungan social.
. PMTCT
Penularan HIV dari ibu ke bayi (MTCT-mother-to-child transmission) selama proses
kehamilan, persalinan dan kelahiran atau menyusui disebut sebagai penularan/transmisi
perinatal. Penularan secara vertical terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya.
Penularan perinatal ini adalah cara penularan HIV yang paling sering pada bayi dan anak.
Secara statistik di US diperkirakan 6,051 orang yang terinfeksi HIV secata perinatal akan
mengalami AIDS pada akhir tahun 2005.
Untuk itu diperlukan program pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi
(PMCT). Pogram pencegahan tersebut melibatkan ibu dengan infeksi HIV, anak mereka dan
keluarganya ke dalam pengobatan, pelayanan dan dukungan. Dasar dari program pencegahan
infeksi HIV ibu ke anak (PMTCT) :
1. Tes HIV dan konseling.
2. Obat antiretroviral (obat yang menurunkan pertambahan dan jumlah virus HIV).
3. Pelayanan persalinan yang aman.
4. Pelayanan pemberian nutrisi bagi bayi yang aman.
Pelayanan PMTCT melibatkan pasangan, dimana keduanya (ibu dan pasangan) harus
sadar akan pentingnya hubungan seks yang aman selama kehamilan dan menyusui, keduanya
melakukan tes dan konsultasi HIV, keduanya peduli dan disediakan pelayanan PMTCT.
Faktor-faktor risiko penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan :
1. Viral load yang tinggi pada ibu ( HIV/AIDS baru atau tahap lanjut)
2. Infeksi plasenta oleh virus, bakteri dan parasit (terutama malaria)
3. Infeksi menular seksual
4. Kurang gizi pada ibu.
Faktor-faktor risiko penularan dari ibu ke bayi selama persalian dan kelahiran :
1. Viral load yang tinggi pada ibu ( HIV/AIDS baru atau tahap lanjut)
2. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum proses persalinan dimulai
3. Cara kelahiran yang invasif
4. Anak pertama pada kelahiran ganda
5. Peradangan pada selaput yang menyelimuti janin (korioamnionitis)
Faktor-faktor risiko penularan dari ibu ke bayi selama menyusui :
1. Viral load yang tinggi pada ibu ( HIV/AIDS baru atau tahap lanjut)
2. Durasi lama menyusui
3. Pemberian air susu dengan nutrisi pengganti yang diberikan awal
4. Abses payudara/ Peradangan atau lecet pada putting (cracked nipples)
5. Kekurangan gizi pada ibu
6. Penyakit mulut pada bayi
Oleh Karena itu strategi-strategi dari Pencegahan penularan dari ibu ke bayi (PMCTC) :
1. Pencegahan infeksi HIV
a. Promosi hubungan seksual yang bertanggung jawab dan aman
b. Menyediakan akses kepada kondom
c. Menyedialkan pelayanan untuk diagnosis dini dan pengobatan infeksi menular seksual
d. Membuat tes HIV dan konseling tersedia luas
e. Menyediakan konseling untuk perempuan HIV negatif
2. Pencegahan kehamilan tak diinginkan pada perempuan dengan infeksi HIV :
a. Menyediakan pelayanan keluarga berencana yang efektif
b. Promosi kepada kontrasepsi yang aman dan efektif
c. Promosi hubungan seks yang aman.
3. Pencegahan penularan ibu ke bayi
a. Menyediakan tes dan konseling HIV
b. Menyediakan pengobatan dan pencegahan dengan obat antiretroviral
c. Promosi praktek kelahiran yang aman
d. Edukasi dan dukungan pada praktek pemberian nutrisi untuk bayi yang aman.
4. Menyediakan pelayanan pengobatan, dukungan dan perawatan kepada perempuan dengan
infeksi HIV, bayi dan keluarga mereka
a. Menyediakan pelayanan pengobatan, perawatan dan dukungan kepada perempuan.
b. Menyediakan diagnosis awal, prawatan dan dukungan kepada bayi dan anak yang terinfeksi
HIV.
c. Promosi kepada layanan berbasis komunitas untuk memberikan pelayanan keluarga yang
menyeluruh.
Dalam rangka pelaksanaan MDG (Millennium Development Goal) dengan indikator
teknis dari kegiatan PMTCT adalah :
a. Pada tahun 2015 menurunkan angka kesakitan HIV ibu hamil,
b. Menurunkan tingkat penularan dari ibu ke anak dibawah 10 %.
Untuk itu beberapa kebijakan teknis PMTCT telah diambil oleh pemerintah, yaitu :
1. Kebijakan umum pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dilaksanakan sejalan dengan
kebijakan umum pada Kesehatan Ibu dan Anak dan kebijakan penanggulangan HIV dan
AIDS DI Indonesia.
2. Layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi diintegrasikan dengan paket pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak dan layanan Keluarga Berencana di tiap jenjang pelayanan
kesehatan
3. Semua perempuan yang datAng ke pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga
berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan mendapat informasi pencegahan penularan
HIV selama masa kehamilan dan menyusui.
B. Aspek Psikologis, meliputi :
1. Perawatan personal dan dihargai
2. Mempunyai seseorang untuk diajak bicara tentang masalah-masalahnya
3. Jawaban-jawaban yang jujur dari lingkungannya
4. Tindak lanjut medis
5. Mengurangi penghalang untuk pengobatan
6. Pendidikan/penyuluhan tentang kondisi mereka.
C. Aspek Sosial.
Seorang penderita HIV AIDS setidaknya membutuhkan bentuk dukungan dari
lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan sosial meliputi 3 hal:
1. Emotional support, miliputi; perasaan nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan.
2. Cognitive support, meliputi informasi, pengetahuan dan nasehat.
3. Materials support, meliputi bantuan / pelayanan berupa sesuatu barang dalam mengatasi
suatu masalah. (Nursalam, 2007)
Dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan
perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting.
House (2006) membedakan empat jenis dimensi dukungan social :
a. Dukungan Emosional
Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap pasien dengan HIV AIDS
yang bersangkutan.
b. Dukungan Penghargaan
Terjadi lewat ungkapan hormat / penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju
atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu
dengan orang lain.
c. Dukungan Instrumental
Mencakup bantuan langsung misalnya orang memberi pinjaman uang, kepada penderita
HIV AIDS yang membutuhkan untuk pengobatannya.
d. Dukungan Informatif
Mencakup pemberian nasehat, petunjuk, sarana.
Penyakit AIDS sampai saat ini masih merupakan penyakit dengan jumlah kasus yang
masih tinggi dan menjadi epidemi selama 20 tahun. Menghadapi percepatan penambahan
kasus baru HIV perlu dilakukan akselerasi program penanggulangan AIDS.
Bersamaan dengan itu, akan dibangun sistem penanggulangan AIDS jangkapanjang yang
mencakup program pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan. Sistem harus bersifat
komprehensif dan efektif yang jangkauannya diperluas sejak tahun 2007 sampai tahun 2010.
Secara umum Program Penanggulangan AIDS terdiri dari pengembangan kebijakan, program
pencegahan, program perawatan, dukungan dan pengobatan, serta program mitigasi.
2.6 Pencegahan HIV/AIDS
Implementasi program penanggulangan AIDS yang efektif memerlukan dukungan
kebijakan, kejelasan strategi operasional dan panduan teknis. Beberapa hal yang perlu
dilakukan untuk mendukung implementasi program adalah sebagai berikut:
1. Penelaahan dan pengembangan kebijakan untuk mendukung beberapa intervensi pokok
untuk penanggulangan AIDS, antara lain kebijakan pemakaian kondom 100%, kebijakan
penanganan penasun dan kebijakan yang menyangkut perawatan, dukungan dan pengobatan.
2. Fasilitasi untuk pengembangan kebijakan dan kesepakatan pada tingkat provinsi dan
kabupaten/kota dalam bentuk peraturan daerah untuk mendukung implementasi program
penanggulangan AIDS.
3. Pengembangan stategi operasional untuk beberapa intervensi pokok, antara lain strategi
operasional untuk program komunikasi dan intervensi perubahan perilaku, strategi
operasional untuk program penjangkauan orang muda, strategi operasional penjangkauan di
tempat kerja.
4. Penelaahan dan pengembangan panduan teknis untuk intervensi yang spesifik, antara lain
panduan teknis untuk Voluntary Conseling and Testing(VCT), panduan teknis program
penasun di penjara.
5. Pengembangan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan pencapaian target Universal
Akses
6. Pengembangan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan pencapaian target MDG.
A. Program Pencegahan
Program KIE untuk :
1. Peningkatan awareness di sektor layanan kesehatan untuk mengurangi stigma dan
diskriminasi di kalangan petugas kesehatan
2. Peningkatan awareness pada kelompok risiko tinggi dan rentan
3. Program VCT
4. Program pengamanan darah donor terhadap Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV
5. Program Pencegahan Transmisi Seksual
6. Program Pencegahan Transmisi melalui jarum suntik
7. Program Pencegahan Penularan dari Ibu ke bayi
8. Program Pencegahan lainnya : Program untuk sub populasi muda
9. Program Perawatan, Dukungan dan Pengobatan, mencakup:
a. Laboratorium
b. Gizi
c. Paliatif
d. Perawatan Berbasis Rumah
e. Hotline Service
f. Dukungan kelompok
g. Terapi Infeksi Oportunistik
h. Terapi Anti Retroviral
i. Implementasi Program