Anda di halaman 1dari 55

ANALISA DATA

DATA MASALAH
Winshield Survey:

Hasil pengamatan di DUSUN IV, di temukan beberapa selokan Resiko terjadi penyakit DHF di DUSUN IV berhubungan

serta pembuangan air limbah yang tidak melalui saluran dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan DHF, ditandai

pembuangan limbah dibiarkan mengering dengan sendirinya, dengan tempat tendon air yang tidak ditutup 41%, tempat

beberapa rumah warga membuang air limbah ke kolam. Air minum air hewan yang tidak bersih 43%, tidak menggunakan

dalam kolam tersebut berwarna kehitaman dan keruh.Juga di Abate 57.8%, dan pernah terjadi wabah D BD 12.1%, serta

temukan beberapa rumah di gang kecil terdapat selokan dengan terhentinya kader PSN yang ada di DUSUN IV.

kondisi yang air tidak mengalir dengan baik. Hasil data yang di

dapatka

n dari Puskesmas Sukoharjo di DUSUN IV merupakan RW

dengan jumlah DBD tinggi angka kejadian dari bulan September

pada tahun 2014 di temukan 7 kasus DBD dan banyak


ditemukannya jentik-jentik nyamuk pada rumah warga.

WAWANCARA :

ANGKET :

Berdasarkan angket yang telah disebar pada warga DUSUN IV

didapatkan data pendukung sebagai berikut :

a. Tempat tandon air untuk memasak dalam keadaan selalu

tertutup yaitu selalu ditutup 59%, sedangkan tidak ditutup

sebanyak 41%.

b. Tempat penampungan air minum hewan peliharaan dalam

keadaan bersih yaitu bersih 56,6%, dan yang tidak bersih

43,4%.

c. Menggunakan kelambu saat anak sedang tidur yaitu


86,7%, sedangkan yang tidak menggunakan kelambu

yaitu 13,3%.

d. Menutup tempat tendon air yang ada didalam maupun

diluar rumah yaitu 84,4%. Sedangkan yang tidak menutup

tempat tendon air yang ada didalam maupun diluar rumah

sebanyak 15,6%.

e. Menutup rapat tempat penampungan air bersih untuk

memasak yaitu 93,6%, sedangkan yang tidak menutup

tempat penampungan air bersih sebanyak 6,4%.

f. Menelungkupkan barang atau kaleng yang tidak terpakai

sehingga dapat menjadi tempat penampungan air yaitu

8,84% sedangkan yang tidak menelungkupan sebanyak

11,6%.

g. Menguras bak mandi secara teratur 1 minggu sekali


sebanyak 95,4%, sedangkan yang tidak menguras bak

mandi secara teratur sebanyak 4,6%.

h. Menguras tempat penampungan air untuk memeasak

minimal 3 hari sekali yaitu 97,7%, sedangkan yang tidak

menguras tempat penampungan air 2,3%.

i. Menggunakan bubuk abate/memelihara ikan untuk

membersihkan jentik nyamuk sebanyak 42,2%, sedangkan

yang tidak menggunakan sebanyak 57,8%.

j. Menggunakan obat nyamuk untuk mencegah gigitan

nyamuk sebanyak 85,5%, sedangkan yang tidak

menggunakan 4,5%.

k. Menggantungkan pakaian dan handuk didalam rumah

sebanyak 8,1% sedangkan yang tidak menggantungkan

91,9%.
l. Warga DUSUN IV tidak ada yang menderita gejala

demam seperti panas 2-7hari, bercak-bercak kemerahan,

mimisan, muntah darah dengan persentasi 100%.


WINSHIELD SURVEY:

Hasil pengamatan di DUSUN IV, ditemukan adanya kegiatan Resiko peningkatan ISPA di DUSUN IV berhubungan dengan

masyarakat yaitu sedang menggiling jagung yang berada tepat di kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan,

pinggir jalan utama kampung. Mesin yang digunakan untuk ditandai dengan :

menggiling mengeluarkan asap, kotoran sisa penggilingan dan a. Jumlah tipe rumah tidak permanen 34.7%.

debu yang cukup banyak. Aktivitas lain tampak warga sedang b. Jenis lantai rumah dari tanah 41%.

membakar sampah di halaman rumah. Banyak warga yang c. Cara membersihkan rantai rumah hanya di sapu saja 52%

merokok pada tempat umum serta saat berkumpul dengan warga d. Rumah dengan ventilasi kurang 75.1%.

yang lain. e. Perabotan rumah yang berdebu 56.6%.

f. Jarak rumah dengan jalan utama < 5 meter 80.9%.

WAWANCARA : g. Anggota keluarga yang merokok 49.1%.

Wawancara yang telah dilakukan pada DUSUN IV didapatkan h. Pengelolaan sampah dengan dibakar 49.1%.
hasil, warga mengatakan banyak anak yang mengalami batuk

pilek, serta sesak nafas.. Hasil wawancara pada ketua DUSUN

IV mayoritas warga mengelola sampah dengan cara di bakar.

ANGKET :

Berdasarkan angket yang telah disebar pada warga DUSUN IV,

didapatkan data pendukung sebagai berikuit :

a. Tipe rumah di DUSUN IV, 41% semi permanen dan

34.7% tidak permanen.

b. Jenis lantai rumah tanah 41%, sedangkan plester 34.7%.

c. Cara membersihkan lantai rumah yang hanya disapu saja

sebanyak 52%.

d. Ketidakcukupan ventilasi di dalam rumah yaitu 24.9%.

e. Kebersihan perabotan rumah berdebu 56,6%


f. Cahaya matahari yang bisa masuk didalam rumah yaitu

24.9%.

g. Jarak rumah dengan jalan < 5 meter yaitu 80.9 %.

h. Kebersihan rumah berdebu 56.6%.

i. Rumah yang halamandepanya tidak terdapat tanaman

yaitu 48%.

j. Keadaan jalan yang ada dimasyarakat adalah cor 86.7%,

sedangkan yang tanah 13.3%.

k. Letak rumah berdekatan dengan home industry kayu

sebanyak 1.7%.

l. Letak rumah yang dekat dengan jalan umum sehingga

pada musim kemarau debu menjadi polusi udara, yaitu

80.9%.

m. Adanya anggota keluarga yang merokok yang merokok


yaitu 49.1%.

n. Warga RW04 melakukan kebersihan dalam rumah seperti

tempat tidur, sofa ruang tamu,kamar yaitu 54,9%.

o. Pengelolaan sampah di DUSUN IV dengan dibakar yaitu

sebanyak 49.1%, dan yang dibuang disungai sebanyak

21.4%.

p. Di lingkungan DUSUN IV banyak yang membakar

sampah, sehingga menyebabkan kabut asap sebanyak

85.5%.

q. Setiap rumah pada DUSUN IV terdapat dapur sebanyak

100%.

r. Warga yang memasak menggunakan kayu bakar sebanyak

39.6%.

s. Cara warga dalam hal pembuangan asap saat memasak


melalui jendela 52,6%,sedangkan melalui pintu 47,4%.

WINSHIELD SURVEY:

Hasil wawancara pada salah satu warga DUSUN IV RT 01 yaitu Tingginya keluhan perubahan kesehatan pada lanjut usia di

warga di sekitar DUSUN IV banyak yang mengalami darah DUSUN IV berhubungan dengan perilaku tidak sehat lansia,

tinggi serta nyeri pada kepala dan tengkuk. Warga tidak pernah ditandai dengan :

ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan tekanan darah, a. 67.7% lansia makan-makanan asin yang dapat menyebabkan

sakit akan hilang dengan istirahta tanpa menggunakan obat. hipertensi.

b. Lansia mengkonsumsi minyak goreng jlantah berulang-ulang

WAWANCARA : 74.6%.

Hasil pengamatan dan wawancara di DUSUN IV, ditemukan c. Keluhan yang diderita lansia batuk pilek 31.3%, nyeri sendi
masih banyaknya masyarakat yang belum bisa mengontrol gaya 33.3%, dan darah tinggi 21.5%.

hidup, pola makan, dan banyak pula masyarakat yang berusia d. Keluhan lansia yang diderita 3 bulan terakhir nyeri sendi

diatas 50 tahun. Masih banyak warga yang terlihat merokok. 36.4%, sakit kepala 27.2%, batuk pilek 19%, dan darah

tinggi 11.8%.

ANGKET : e. 39.4% lansia mempunyai kebiasaan minum kopi.

Berdasarkan angket yang disebar pada Dusun IV didapatkan data f. 35.2% lansia mempunyai kebiasaan beli obat di warung.

pendukung sebagai berikut:

a. Jenis keluhan yang di derita lansia yaitu batuk pilek,

31,3%, batuk berdahak 2 minggu 13,8% sesak nafas,

nyeri sendi 33,3%, darah tinggi 21,5%

b. Keluhan lansia yang sering di derita 3 bulan terakhir

yaitu batuk pilek 19%, sesak nafas 5,6%, darah tinggi

11,8%, nyeri sendi 36,4%, sakit kepala 27,2%

c. Jenis lantai rumah beralas tanah 29,6%, plester 63,4%,


keadaan lantai rumah berdebu 70,46%, bersih 29,6%

d. Upaya yang dilakukan lansia ketika sakit yaitu periksa ke

layanan kesehatan 38%, periksa ke dokter 46,5%, dan

yang dibiarkan 9,9%

e. Lansia mempunyai kebiasaan tidak berolahraga yaitu

94,4%

f. Lansia mempunyai kebiasaan minum kopi yaitu 39,4%

g. 100% lansia di DUSUN IV tidak mengkonsumsi alcohol

h. Lansia yang mengkonsumsi makanan asin yaitu 67,6%

i. Lansia yang mengkonsumsi makanan yang berlemak

yaitu 52,1%

j. Lansia yang menggunakan minyak goreng yang

berulang-ulang /jlantah yaitu 74,6%

k. Lansia mengkonsumsi makanan dengan bahan pengawet


15,5%

l.

m. Kebiasaan tidur lansia 8jam 49,3%, tidur < 8 jam 39.4%

n. Lansia mempunyai keluhan tekanan darah tinggi yaitu

88,7%

o. Lansia mengkonsumsi makanan yang di masak dengan

banyak minyak, mentega,/santan yaitu 78,9%

p. Kebiasaan lansia sebelum berobat ke pelayanan

kesehatan yaitu beli obat diwarung 35,2%

q. Rutinitas lansia pada waktu senggang yaitu berkebun

80,3%
WINSHIELD SURVEY:

Hasil kunjungan dan wawancara pada Ny. P (70th), didapatkan Tingginya kasus TB paru di DUSUN IV berhubungan dengan

data bahwa Ny. P sudah mengidap TB Paru selama 7 bulan dan perilaku penderita TB yang tidak sehat di tandai dengan :

sudah menjalani pengobatan secara teratur. Gejala yang masih a. Rumah tidak terdapat jendela 60%.
timbul antara lain batuk berdahak tetapi tidak sering dan sesak b. Tidak membuka jendela setiap hari 53.3%.

nafas. Berdasarkan hasil wawancara pada Ny. P dan keluarga c. Sinar matahari tidak dapat masuk dalam rumah 40%.

terdapat riwayat keluarga dengan TB Paru yaitu suami Ny. P dan d. Sinar matahari tidak masuk ruang tidur 40%.

anak pertama. Hasil pengamatan pada kondisi rumah Ny. P, e. Meludah sembarangan 66.7%.

didapatkan lantai masih berupa tanah, dinding rumah dari f. Tidak menutup mulut saat batuk 60%.

anyaman bambu, tidak punya kamar mandi, tidak ada tempat

untuk pembuangan sampah, tidak terdapat ventilasi, kompor

berupa tungku dan terdapat tumpukan kayu bakar di dapur, dan

ada kandang ayam tepat di depan pintu masuk rumah.

WAWANCARA :

Hasil wawancara dengan kader kesehatan di DUSUN IV

mengatakan bahwa terdapat 1 orang yang mengidap TB Paru


sejak 12 bulan yang lalu dan sudah menjalani pengobatan

selama 7 bulan. Berdasarkan wawancara dengan kader

kesehatan didapatkan bahwa mayoritas masyarakat tidak

mengetahui tentang TB Paru sehingga selama ini perilaku

masyarakat cenderung tidak peduli terhadap penderita TB Paru

dan penanganannya.

ANGKET :

Berdasarkan angket yang telah disebar pada Dusun IV

didapatkan data pendukung sebagai berikut :

a. Pada DUSUN IV terdapat lansia yang berjenis laki-laki

53,3%, sedangkan perempuan 46,7%.

b. Pendidikan lansia rata-rata yaitu tidak tamat SD 33,3%

dan tamat SLTP yaitu 46,7%


c. Pekerjaan lansia rata-rata yaitu petani 73,7%, sedangkan

yang tidak bekerja 20%

d. Sudah berapa lama tinggal dirumah ini yaitu lebih dari 6

bulan yaitu 100%,

e. Kamar tersendiri untuk anggota keluarga menderita TB

paru yaitu 80%

f. Rumah lansia terdapat jendela yaitu : 40%

g. Tidak membuka jendela rumah setiap hari yaitu : 53.3%

h. Sinar matahari tidak dapat masuk dalam rumah 60%

i. Sinar matahari tidak dapat masuk dalam ruang tidur

dengan terang dan tidak silau sehingga dapat di

pergunakan dapat membaca dengan normal yaitu 60%

j. Sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan melalui

jendela 60%
k. Menurut keluarga apakah perlu menutup mulut saat

batuk/bersin yaitu tidak 60%

l. Membuang ludah sembarangan yaitu 66,7%

m. Berapa kali keluarga menjemur peralatan tidur

(bantal,guling,kasur) yaitu 1 kali /bulan 73,3%

n. Berapa kali mencuci seprai , sarung bantal, sarung

guling, dan selimut yaitu 4 kali/bulan 53,3%


ANGKET:

Berdasarkan angket yang telah disebar pada Dusun IV

didapatkan data pendukung sebagai berikut :

a. Terdapat 44 balita di dusun IV sukoharjo


b. 90 % balita memiliki KMS
c. 87 % Jenis makanan yang dikonsumsi balita lengkap

semua suber gizi.


d. 98 % makanan balita di masak sendiri
ANGKET:

Berdasarkan angket yang telah disebar pada Dusun IV

didapatkan data pendukung sebagai berikut :

a. Terdapat 3 ibu hamil di Dusun IV Sukoharjo I


b. Jarak kehamilan dengan kehamilan yang sebelumnya > 3

tahun
c. 87 % ibu hamil memeriksakan kehamilan ke bidan desa
d. 78 % ibu hamil mengkonsumsi table fe
e. 92 % ibu hamil merencanakan persalinan di tolong oleh
f. b idan desa
A. Pembobotan Masalah Keperawatan Komunitas Di DUSUN IV Dusun IV Pekon Sukoharjo I

No Masalahkesehatan A B C D E F G H I J K L M N
1 Terjadinya penyakit ISPA 4 3 1 1 1 2 5 2 1 2 5 4 31 3
2 Terjadinya penyakit akibat lingkungan 5 5 3 2 3 3 5 3 2 2 5 4 42 1

(DHF)
3 Terjadinya penurunan derajat kesehatan 5 4 2 2 1 1 4 2 3 2 5 4 35 2

pada usia lanjut


4 Terjadinya kasus TB Paru 4 4 2 1 2 2 2 2 3 3 2 3 30 4
5
KET : KET PEMBOBOTAN :
H. Waktu
A. Risiko terjadi
I. Dana 1. Sangat rendah
B. Risiko parah 2. Rendah
J. Fasilitas kesehatan
C. Potensi untuk pendidikan kesehatan K. Sumber daya 3. Cukup
L. Sesuai dengan peran perawat 4. Tinggi
D. Minat masyarakat
M. Skor total 5. Sangat tinggi
E. Kemungkinan diatasi
N. Urutan prioritas
F. Sesuai program

G. Tempat
B. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas

1. Resiko terjadi penyakit DHF di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan DHF

2. Tingginya keluhan perubahan kesehatan pada lanjut usia di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku tidak sehat lansia

3. Resiko peningkatan ISPA di DUSUN IV berhubungan dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga

lingkungan

4. Terjadinya kasus TB paru di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku penderita TB yang tidak sehat
egiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan di Dusun IV

Pekon Sukoharjo I Kecamatan maranggen dilakukan dimulai tanggal 27

Mei 2015 sampai 8 Juni 2015 bersama POKJAKES.

1. Diagnosa Keperawatan Komunitas I

Resiko terjadi penyakit DHF di wilayah DUSUN IV Dusun IV Pekon

Sukoharjo I Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu berhubungan

dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan DHF.

Implementasi :

a. Melakukan pendidikan kesehatan tentang DHF dan cara

perawatanya pada tanggal 2 Juni 2015.

b. Melakukan kerja bakti terkait 3M (menguras, mengubur, dan

menutup) bersama warga pada tanggal 7 Juni 2015.

c. Melakukan program PSN (Pemantauan Sarang Nyamuk) pada

tanggal 7 Juni 2015.

2. Diagnosa Keperawatan II

Tingginya keluhan perubahan kesehatan lansia di RW 4 berhubungan

dengan perilaku tidak sehat lansia.

Implementasi :

a. Melakukan pendidikan kesehatan tentang cara perawatan nyeri

sendi berdasarkan keluhan dan terlaksananya pendidikan kesehatan

tentang penyakit hipertensi pada tanggal 5 Juni 2015.

b. Melakukan kegiatan posyandu lansia bersama kader pada tanggal 5

Juni 2015.
c. Memberikan penyuluhan tentang cara pembuatan parem untuk

mengurangi nyeri sendi pada tanggal 5 Juni 2015

3. Diagnosa Keperawatan III

Resiko peningkatan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di wilayah

RW 4 Dusun IV, Pekon Sukoharjo I Kecamatan Sukoharjo

berhubungan dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga

lingkungan.

Implementasi :

a. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA dan cara

perawatanya pada tanggal 27 Mei 2015.

b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA dan cara

perawatanya pada kader kesehatan pada tanggal 1 Juni 2015.

c. Melakukan penyuluhan tentang komposisasi sampah organik pada

tanggal 28 Mei 2015.

d. Melakukan penyuluhan tentang pemisahan sampah organik dan

non organik pada tanggal 28 Mei 2015.

4. Diagnosa Keperawatan IV

Tingginya kasus TB Paru di RW 4 berhubungan dengan perilaku

penderita TB yanng tidak sehat

a. Melakukan pendidikan kesehatan pada penderita TB Paru pada

tanggal 07 Juni 2015.

b. Memberikan edukasi pada PMO (Pengawas Menelan Obat) pada

tanggal 07 Juni 2015.


c. Melakukan skrining TB Paru pada penderita dan warga sekitar

rumah penderita. Skrining dilakukan pada tanggal 08 Juni 2015.

d. Pengadaan botol sputum untuk pemeriksaan sputum pasien kerja

sama dengan Puskesmas Sukoharjo 1

e. Melakukan pembentukan PMO bersama keluarga penderita, PMO

yang ditunjuk yaitu dari keluarga penderita TB Paru pada tanggal

07 Juni 2015.

C. Tahap Evaluasi

Setelah dilakukan kegiatan unutk menyelesaikan masalah keperawatan di

Dusun IV Pekon Sukoharjo I Kecamatan Sukoharjo Demak, maka

dilakukan evaluasi terhadap keberhasilan dari kegiatan tersebut sesuai

dengan diagnosa keperawatan komunitas yang muncul.

1. Diagnosa Keperawatan Komunitas I

a. Evaluasi Struktur

1) Mahasiswa siap melakukan pendidikan kesehatan Dengue

High Fever (DHF) dan cara perawatannya.

2) Materi penyuluhan telah siap sebelumnya.

3) Tersedianya tempat, waktu, saran dan prasarana untuk kegiatan

pendidikan kesehatan.

4) Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan DHF siap

mengikuti kegiatan penyuluhan.


5) Informasi tentang pendidikan kesehatan tersebar rata ke seluruh

RT.

6) Warga siap melakukan kegiatan kerja bakti terkait 3M.

7) Mahasiswa dan POKJAKES siap melakukan kegiatan PSN.

b. Evaluasi Proses

1) Keluarga menerima kehadiran mahasiswa dan POKJAKES saat

melakukan kegiatan PSN.

2) Warga antusias dalam melakukan kegiatan kerja bakti terkait

3M.

c. Evaluasi Hasil

1) 75% warga mengikuti kegiatan kerja bakti terkait 3M.

2) 75% warga telah mengikuti kegiatan PSN.

2. Diagnosa Keperawatan Komunitas II

a. Evaluasi Struktur

1) Mahasiswa siap melakukan pendidikan kesehatan tentang

perawatan nyeri sendi dan penyakit hipertensi.

2) Materi penyuluhan telah siap sebelumnya.

3) Tersedianya tempat, waktu, saran dan prasarana untuk kegiatan

pendidikan kesehatan.

4) Mahasiswa siap melakukan penyuluhan cara pembuatan parem

untuk menurangi nyeri sendi pada lansia

5) Informasi tentang pendidikan kesehatan tersebar rata ke seluruh

RT
b. Evaluasi Proses

1) Sebanyak 41 orang lanjut usia datang untuk mengikuti kegiatan

posyandu lansia.

2) Lansia berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan

kesehatan.

c. Evaluasi Hasil

1) 40% lansia mampu mengikuti cara pembuatan parem saat

dilakukan penyuluhan.

2) 40% lansia mampu mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan

tentang penyakit hipertensi dan perawatan nyeri sendi.

3. Diagnosa Keperawatan Komunitas III

a. Evaluasi Struktur

1) Mahasiswa siap melakukan pendidikan kesehatan infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) dan cara perawatannya.

2) Materi penyuluhan telah siap sebelumnya.

3) Tersedianya tempat, waktu, saran dan prasarana untuk kegiatan

pendidikan kesehatan.

4) Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan ISPA siap

mengikuti kegiatan penyuluhan.

5) Informasi tentang pendidikan kesehatan tersebar rata ke seluruh

RT.

b. Evaluasi Proses
1) Keluarga menerima kehadiran mahasiswa dan penyuluhan

dapat diberikan pada keluarga.

2) POKJAKES dan warga ikut berpartisipasi aktif dalam

penyebaran leaflet.

3) Kader kesehatan sejumlah 80% bersedia datang dan aktif

selama kegiatan penyuluhan.

c. Evaluasi Hasil

1) 80% kader mengikuti kegiatan penyuluhan dan mampu

menjelaskan kembali tentang ISPA.

2) 75% keluarga memahami tentang ISPA dan cara perawatannya

yang dimanifestasikan dapat menjelaskan kembali hal yang

telah dijelaskan.

3) Kader kesehatan menyatakan kesediaan untk melakukan

kegiatan penyuluhan tentang ISPA secara berkesinambungan.

4. Diagnosa Keperawatan Komunitas IV

a. Evaluasi Struktur

1) Mahasiswa siap melakukan pendidikan tentang TB Paru dan

cara perawatannya.

2) Materi penyuluhan telah siap sebelumnya.

3) Tersedianya tempat, waktu, saran dan prasarana untuk kegiatan

pendidikan kesehatan.

4) Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan TB Paru siap

mengikuti kegiatan penyuluhan.


5) Informasi tentang pendidikan kesehatan tersebar rata ke seluruh

RT.

6) Botol sputum siap diberikan kepada anggota keluarga yang

menderita ataupun curiga TB Paru.

7) Anggota keluarga yang akan menjadi PMO siap mengikuti

penyuluhan.

b. Evaluasi Proses

1) Warga yang di curagai menderita TB Paru bersedia di periksa

sputumnya.

2) Warga menerima mahasisiwa saat dilakukan penyuluhan

3) Keluarga yang di tunjuk menjadi PMO bersedia mengikuti

penyuluhan

c. Evaluasi Hasil

1) Skrinning dilakukan pada 6 orang di DUSUN IV dengan gejala

batuk lebih dari 3 minggu, dari hasil skrinning didapatkan hasil

negatif pada 6 warga tersebut.

2) 70% warga memahami tentang TB Paru dan cara

perawatannya.

3) Warga bersedia menjadi PMO


BAB IV

PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival individu dan

dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif dan preventif perawatan kesehatan.

Untuk sampai pada hal ini profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses

pemecahan masalah yang menggabungkan elemen yang diinginkan dari seni

keperawatan dengan elemen yang paling relevan dari sistem teori dengan

menggunakan metode ilmiah (Shore, 1998).

Sistem pelayanan asuhan keperawatan menggunakan langkah-langkah

pada proses keperawatan, mengumpulkan data, mengidentifikasi masalah atau

kebutuhan (diagnosa keperawatan), menetapkan tujuan-tujuan, mengidentifikasi

hasil dan memilih intervensi keperawatan untuk mencapai hasil serta tujuan.

Setelah intervensi dilakukan perawat mengevaluasi efektivitas rencana

keperawatan dalam mencapai hasil serta tujuan yang diharapkan dengan

menentukan apakah masalah-masalah telah diselesaikan atau belum. Bila masalah

yang telah teridentifikasi masih belum terselesaikan sampai waktu yang telah

ditetapkan, rencana harus dibuat untuk pengkajian lebih lanjut, identifikasi

masalah tambahan, perubahan hasil dan tujuan yang diharapkan dan atau

mengubah intervensi (Anderson & McFarlan, 2008).

Meskipun digunakan istilah pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan,

implementasi dan evaluasi secara terpisah, langkah-langkah progresif pada

kenyataannya semua elemen ini saling berhubungan.kesemuanya membentuk


siklus yang kontinyu tentang pemikiran dan tindakan melalui kontrak dengan

individu dan masyarakat melalui asuhan keperawatan komunitas. Proses asuhan

keperawatan komunitas menggunakan pemikiran kritis, membuat metode

pemecahan masalah yang dinamis dan bersiklus. (Anderson & McFarlan, 2008).

Elemen penting yang memberikan asuhan keperawatan terencana yang

efektif adalah relevansinya sebagai pengidentifikasian dalam pengkajian individu,

yang membutuhkan area pengkajian fisik, psikologis, sosio cultural, spiritual,

kognitif, kemampuan fungsional, perkembangan, ekonomi dan gaya hidup.

Pengkajian ini digabungkan dengan hasil-hasil temuan medis serta pemeriksaan

diagnostik, dicatat dalam data dasar dan membentuk dasar yang kuat untuk

mengembangkan rencana asuhan keperawatan (ANA, 1991).

A Pengkajian

Tahap pertama dalam asuhan keperawatan komunitas, yaitu pengkajian

yang terdiri dari pengumpulan data, pengolahan data dan analisa data. Dalam

pengumpulan data, data yang dikumpulkan meliputi data demografi (umur, jenis

kelamin, pendidikan, agama pekerjaan), nilai-nilai keyakinan masyarakat,

subsistem yang mempengaruhi komunitas seperti lingkungan fisik, perumahan,

pelayanan kesehatan, fasilitas komunitas keamanan dan keselamatan politik dan

kebijakan pemerintah yang terkait dengan kesehatan, keperawatan komunitas

menurut Neuman (1989) dalam bukunya Lancaster (2000) yang sudah dipaparkan

dalam tinjauan teori pada Bab II. Sesuai dengan teori pengkajian keperawatan
menurut Anderson dan Mc Farlane (2008) maka metode pengkajian yang

dilakukan oleh kelompok adalah observasi, wawancara, dan penyebaran angket.

Pengkajian adalah dasar pengidentifikasian kebutuhan, respon dan

masalah. Untuk memfasilitasi tahapan proses asuhan keperawatan harus dibuat

alat pengkajian yang menggunakan fokus keperawatan. Untuk mencapai fokus

tersebut menggunakan diagnosa yang dikelompokkan dalam kategori yang

berkaitan dan mencerminkan pembauran teori terutama hirarki kebutuhan

Maslows dan filosofi perawatan diri setelah data dikumpulkan diagnosa

ditegakkan yang berdasarkan respon atau kebutuhan masyarakat secara spesifik.

Dengan demikian dibutuhkan data sebanyak mungkin sebelum rumusan masalah

dibuat atau diagnosa ditegakkan.

Prioritas dan diagnosa keperawatan disusun dalam suatu prioritas yang

dapat berubah sesuai dengan kondisi masyarakat. Sedangkan hasil yang

diharapkan untuk memudahkan pemilihan intervensi yang tepat dan untuk

berfungsi sebagai evaluator keberhasilan asuhan keperawatan yang dilakukan.

Intervensi dirancang untuk menguraikan tindakan keperawatan yang

diharapkan dengan tindakan keperawatan tersebut akan dapat menyelesaikan

masalah keperawatan yang ditemukan.

Dalam melakukan pengkajian dengan menggunakan system pengkajian

winshield survey untuk memperoleh data dasar lingkungan fisik dan pengkajian

data dari masyarakat yang menggunakan metode observasi sekilas dan wawancara

terhadap masyarakat ( ketua RW, ketua RT dan kader kesehatan) untuk

memperoleh data tentang perumahan, lingkungan sekitar rumah di wilayah


DUSUN IV, batas wilayah, kepadatan pemukiman penduduk, jenis bangunan,

jalan, sistem pembuangan sampah dan air limbah, pusat pelayanan seperti sekolah,

masjid dan pelayanan kesehatan yang ada serta transportasi yang biasa digunakan

masyarakat DUSUN IV. Hal ini telah sejalan dengan teori yang dijelaskan dalam

asuhan keperawatan komunitas yang mengatakan bahwa pengkajian ditujukan

untuk menentukan semua informasi kesehatan yang meliputi data demografi,

pendidikan, kesehatan, agama, ekonomi, organisasi kemasyarakatan dan lain-lain.

Hal ini sesuai dengan teknik pengumpulan data yang menggunakan data yang ada

di masyarakat dan mengumpulkan data tertentu secara langsung yang

menggunakan angket berisi pertanyaan tertutup dengan 2 sampai 5 option pilihan.

Selain itu juga memudahkan bagi responden untuk memutuskan jawaban terhadap

pertanyaan yang telah diajukan untuk memperoleh data dasar. Teknik

pengumpulan data dasar dengan menggunakan windshield survey merupakan

sistem pengkajian yang dapat menggambarkan data-data secara supervisial dan

dapat dilakukan secara cepat serta memungkinkan besarnya keterlibatan

masyarakat dalam pengumpulan data.

Sistem pengkajian dengan menggunakan windshield survey dapat

membantu mengidentifikasi data-data yang diperlukan sebelum survey

dilaksanakan. Akan tetapi teknik ini tidak dapat menggambarkan hasil pengkajian

secara mendalam dan data yang diperoleh tidak komprehensif sehingga masih

perlu dikombinasi dengan sistem pengumpulan data yang lain. Pengkajian dengan

melakukan kombinasi sistem winshield survey dan sistem pengkajian

komprehensif dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan observasi secara


langsung serta wawancara terhadap responden. Karena system windshield survey

berbentuk kuesioner yang disebarkan kepada masyarakat sehingga responden

mengalami kesulitan dalam pengisian jawaban atau option dan jawaban yang

diberikan tidak mewakili keinginan responden sehingga masih memerlukan

penjelasan-penjelasan terlebih dahulu terhadap responden.

Ditinjau dari segi keefektifan dan keefisienan dengan menggunakan

system pengkajian windshield survey lebih menguntungkan dan lebih mudah

karena responden cukup memilih jawaban yang tersedia dan tidak memerlukan

pemikiran yang mendalam bagi responden. Akan tetapi teknik pengumpulan data

ini membutuhkan lebih banyak personel dalam pengumpulan data. Sedangkan bila

ditinjau dari segi waktu teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik

windshield survey dapat mengumpulkan data dengan cepat dalam waktu yang

singkat. Demikian juga jika ditinjau dari alat pengumpul data yang digunakan,

sistem pengkajian windshield survey menggunakan kuesioner yang dibuat untuk

memudahkan pada saat dilakukan pengumpulan data.

Dari hasil pengkajian diperoleh data dalam bentuk angka yang

menunjukkan jumlah dan prosentasi, hal ini menggambarkan keadaan masyarakat

pada umumnya sedangkan berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung

pada keluarga merupakaan data yang melengkapi dan mendukung data yang

diperoleh melalui kuesioner. Dengan demikian data yang diperoleh melalui

pengkajian secara komprehensif (penyebaran kuesioner, observasi secara langsung

dan wawancara kepada warga) merupakan data yang dapat menggambarkan

keadaan masyarakat yang sesungguhnya.


Pada pengkajian ini, kelompok melakukan pengumpulan data kesehatan

komunitas dengan menggunakan kuesioner dengan materi pertanyaan berdasarkan

konsep Betty Newman dan telah dikonsultasikan ke pembimbing komunitas

akademik. Setelah format pengkajian siap, maka penanggung jawab masing-

masing RT mempunyai hak otonom dalam mekanisme pengumpulkan datanya,

yaitu dengan melakukan kerjasama dengan ketua RT, karang taruna dan

POKJAKES Sumber Sehat.

Dari pengumpulan data didapatkan bahwa mayoritas dari warga bekerja

pagi sampai sore hari dengan tingkat pengetahuan tentang kesehatan masih

rendah. Hal tersebut merupakan kendala terutama untuk mengumpulkan warga

saat dilakukan kegiatan, namun berkat bantuan dari aparat RW dan RT, dan model

pendekatan secara persuasif dengan mengikuti kebiasaan warga, maka

permasalahan tersebut dapat diatasi. Respon yang diberikan warga DUSUN IV

sangat positif, dibuktikan dengan perhatian dari warga terhadap keberadaan

mahasiswa beserta program-programnya, sehingga keseluruhan proses

pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan baik.

Dari pengkajian didapatkan beberapa masalah kesehatan yang dialami

masyarakat, meliputi

1 Resiko terjadi penyakit DHF di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku

masyarakat dalam pencegahan DHF

2 Resiko peningkatan ISPA di DUSUN IV berhubungan dengan kurangnya

kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan


3 Tingginya keluhan perubahan kesehatan pada lanjut usia di DUSUN IV

berhubungan dengan perilaku tidak sehat lansia

4 Terjadinya kasus TB paru di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku

penderita TB yang tidak sehat.

Dari keempat masalah yang ditemukan mahasiswa, maka dikembalikan

kepada masyarakat untuk dianalisa lebih lanjut. Perumusan masalah antara

mahasiswa dan warga hampir tidak mengalami kesulitan yang berarti, karena

masyarakat telah menyadari pentingnya kesehatan dalam hidup mereka.

Pengkajian yang berlangsung selama kurang lebih tujuh hari tersebut tidak

luput dari bantuan dan dukungan warga DUSUN IV Selanjutnya akan

diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengkajian, yaitu :

1 Kekuatan (Strengh)

Pada pelaksanaan pengkajian asuhan keperawatan komunitas di wilayah

DUSUN IV Pekon Sukoharjo I mendapatkan dukungan dari kader

kesehatan dan aparat wilayah setempat, yaitu ketua RW, ketua-ketua RT,

serta tokoh agama sangat besar dalam mendukung kelancaran

pelaksanaan pengkajian asuhan keperawatan, selain itu warga masyarakat

memiliki kesediaan untuk berperan dalam pengisian angket.

2 Kelemahan (Weakness)

Pada saat pengkajian data yang diperoleh dari RW setempat masih kurang

lengkap seperti peta lokasi dan jumlah penduduk secara pasti. Tingkat

pendidikan yang bervariasi dan masih banyaknya yang berpendidikan

terakhir SD mempersulit dalam usaha pemerolehan data. Namun dengan


adanya peran serta aktif dari kader kesehatan, ketua RT dan tokoh

masyarakat yang ada maka kelemahan tersebut dapat diatasi. Selain itu

belum adanya dukungan masyarakat dalam hal pendanaan sehingga biaya

penggandaan angket ditanggung seluruhnya oleh mahasiswa.

3 Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan yang mendukung pada saat pengkajian berlangsung, yaitu

adanya izin dari Kepala Pekon Sukoharjo I bagi mahasiswa profesi

keperawatan FIKKES UNIMUS untuk melaksanakan praktek

keperawatan komunitas di wilayah DUSUN IV Pekon Sukoharjo I serta

dukungan dari kader kesehatan untuk memperoleh data yang berkaitan

dengan kegiatan pelayanan kesehatan di wilayah Desa Kangkung,

Sukoharjo, Demak.

4 Ancaman (Threat)

Validitas alat pengumpul data yang belum diukur dengan standar tertentu,

sehingga hasil dari penyebaran angket ini masih belum memberikan

gambaran tentang masalah kesehatan yang ada di masyarakat dengan

cepat. Solusinya sebelum data hasil pengkajian dianalisa, diuji terlebih

dahulu dengan uji konten dengan melakukan uji expert.

B Perencanaan

Setelah dilakukan pengumpulan data selanjutnya dilakukan pengolahan

data dan dianalisa, kemudian data disajikan oleh kader dalam pertemuan dengan

masyarakat DUSUN IV Pekon Sukoharjo I, Kecamatan Sukoharjo, Demak


(Lokakarya Mini I RW I). Setelah data terkumpul kemudian dianalisa masalah

yang muncul. Berdasarkan data kelompok mengangkat 4 masalah kesehatan yang

utama.

Selanjutnya setelah masalah keperawatan ditegakkan kemudian

dirumuskan suatu perencanaan kegiatan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Strategi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang muncul, yaitu dengan

proses kelompok, pendidikan kesehatan, serta mendemonstrasikan keterlibatan

masyarakat dalam asuhan keperawatan. Pada tahap perencanaan ini kelompok

menekankan pada 3 aspek penting yaitu pencegahan primer, pencegahan

sekunder, pencegahan tersier dengan menggunakan model pendekatan

pengembangan masyarakat (Locality Development) agar lebih memandirikan

masyarakat. Hal ini dilakukan melalui musyawarah bersama dengan warga di

rumah warga yang telah disepakati untuk menyusun rencana kegiatan.

Penyusunan rencana kegiatan ini dihadiri oleh ketua kepala desa, ketua RW, ketua

masing-masing RT 01-04 dan perwakilan tokoh masyarakat. Keempat diagnosa

keperawatan ini disusun pada saat Lokakarya Mini yang ke-1.

Rencana kegiatan yang berhubungan dengan permasalahan kesehatan

dapat disepakati saat lokakarya mini I. Adapun kegiatan-kegiatan yang disepakati

oleh mahasiswa dengan masyarakat antara lain:

1 Resiko terjadi penyakit DHF di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku

masyarakat dalam pencegahan DHF

b Pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan cara merawatnya

c Pendidikan kesehatan tentang bahaya merokok


d Pelatihan kader kesehatan lansia

e Penyuluhan tentang obat herbal untuk mengatasi penyakit hipertensi

pada lansia

f Senam lansia dan pralansia

1. Resiko terjadinya peningkatan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) di

wilayah RW I Desa Kangkung, Kecamatan Sukoharjo, Demak

berhubungan dengan perilaku masyarakat yang kurang sehat

a Penyuluhan :

Pendidikan kesehatan tentang DHF dan cara perawatannya

Pendidikan kesehatan tentang pencegahan DHF

b Kemitraan :

Pembagian bubuk abate bersama puskesmas

c Empowering :

Melakukan kerjabakti terkait 3M

Melakukan PSN bersama kad

2. Resiko peningkatan ISPA di DUSUN IV berhubungan dengan kurangnya

kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan

a Penyuluhan :

Pemberiaan pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA dan cara

perawatan pada masyarakat

Pemberiaan pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA dan cara

perawatan pada kader kesehatan


Pemberian pendidikan kesehatan tentang komposisasi sampah

organik.

b Kemitraan :

Bersama pemerintah pengadaan tempat sampah organic dan non

organik

c Empowering:

Pembagian tempat sampah organic dan non organic

Melatih kader untuk bisa mengenal kasus ISPA.

mengajarkan warga dalam pembentukan Bank sampah

mensosialisasikan komposisasi sampah

memanfaatkan sampah plastik untuk kerajinan

3. Tingginya keluhan perubahan kesehatan pada lanjut usia di DUSUN IV

berhubungan dengan perilaku tidak sehat lansia

a Penyuluhan :

Pemberian pendidikan kesehatan tentang cara perawatan nyeri sendi

berdasarkan keluhan (misalnya : mengajarkan posisi yang benar saat

mengangkat beban yang berat, bila asam urat anjurkan minum air

putih yang banyak,)

Pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit Hipertensi dan

DIIT beserta perawatannya yang diberikan pada lansia dengan

hipertensi.

b Kemitraan :

Kegiatan posyandu lansia


c Emporing :

Senam lansia bersama warga DUSUN IV Sumberejo

Mengajarkan cara pembuatan parem

Pada tahap perencanaan ini dapat diidentifikasi adanya hal-hal yang

mempengaruhi penyusunan perencanaan kegiatan meliputi :

1 Kekuatan (Strengh)

Kekuatan dalam perencanaan tindakan yang akan dilakukan adalah

dukungan dan peran serta aktif masyarakat dalam menyusun rencana

kegiatan melalui pertemuan dengan kader dan tokoh masyarakat guna

merencanakan kegiatan dalam upaya mengatasi masalah kesehatan

komunitas yang optimal secara mandiri.

2 Kelemahan (Weakness)

Kelemahan dalam perencanaan tindakan yang akan dilakukan, yaitu

kurang disiplinnya beberapa warga dan kader untuk menepati waktu sesuai

dengan rencana dalam undangan, kurang optimalnya masyarakat

menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada.

Akibat dari kelemahan tersebut perencanaan tidak berjalan sesuai waktu

yang telah ditetapkan. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan cara

mengaktifkan peran mahasiswa yang ada dengan mengarahkan kader dan

tokoh masyarakat. Selain itu, kelemahan lainnya adalah kader dan

masyarakat belum mengetahui secara pasti sumber-sumber dana yang

dapat membantu terlaksananya kegiatan, akan tetapi kelompok


menawarkan solusi dengan meminta sumbangan dana dari warga untuk

mendukung setiap kegiatan.

3 Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan dalam perencanaan tindakan yang akan dilakukan

yaitu adanya izin dari Kepala Desa Kangkung bagi mahasiswa profesi

keperawatan FIKKES UNIMUS untuk melaksanakan praktek keperawatan

komunitas diwilayah DUSUN IV untuk membuat rencana kegiatan dalam

memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat.

4 Ancaman (Threat)

Ancaman yang ditemukan dalam perencanaan kegiatan yang akan

dilakukan adalah :

a Ketidakhadiran perwakilan dari pihak Puskesmas Sukoharjo I untuk

menghadiri acara pertemuan dengan masyarakat dalam perencanaan

kegiatan bersama. Dengan kehadiran perwakilan dari institusi tersebut

diharapkan dapat meningkatkan motivasi masyarakat wilayah setempat.

Selain itu juga untuk memudahkan dukungan dalam penyediaan sarana

dan prasarana yang dibutuhkan dalam setiap kegiatan yang

direncanakan. Akibat dari ketidakhadiran pihak Puskesmas Sukoharjo I

ini dapat diantisipasi dengan cara memberikan laporan hasil kegiatan

kepada Puskesmas Sukoharjo I.

b Ancaman yang lain adalah adanya tamu undangan yang tidak dapat

hadir dikarenakan ada suatu urusan pribadi sehingga dapat

mempengaruhi keberhasilan dalam penyusunan rencana kegiatan.


C Pelaksanaan

Pelayanan Asuhan Keperawatan Komunitas atau yang sering disebut

dengan istilah implementasi mengacu pada teori sistem Newman (1957),

kesehatan masyarakat ditentukan oleh hasil interaksi yang dinamis antara

komunitas dan lingkungan serta tenaga kesehatan untuk melakukan tiga tingkat

pencegahan yaitu pertama pencegahan primer, dari arti sebenarnya terjadi sebelum

sakit atau diaplikasikan ke populasi yang sehat pada umumnya. Pencegahan

primer ini mencakup kegiatan mengidentifikasi faktor resiko yang terjadinya

penyakit, mengkaji kegiatan-kegiatan promosi kesehatan dan pendidikan dalam

komunitas. Pencegahan ini mencakup peningkatan kesehatan pada umumnya dan

perlindungan khusus terhadap penyakit. Kedua pencegahan sekunder adalah

intervensi yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat kesehatan

masyarakat dan ditemukannya masalah kesehatan. Pencegahan sekunder

menekankan pada diagnosa dini intervensi yang tepat, memperpendek waktu sakit

dan tingkat keparahan atau keseriusan penyakit. Dan ketiga pencegahan tersier.

Tingkat pencegahan ini adalah untuk mempertahankan kesehatan setelah terjadi

gangguan beberapa sistem tubuh. Rehabilitasi sebagai tujuan pencegahan tersier

tidak hanya untuk menghambat proses penyakitnya, tetapi juga mengendalikan

individu kepada tingkat berfungsi yang optimal dari ketidakmampuannya.

Dalam rangka upaya mengatasi masalah dengan menghilangkan atau

mengurangi penyebab terhadap empat masalah yang telah dirumuskan

berdasarkan hasil pengkajian dilakukan tindakan-tindakan antara lain, Kegiatan

yang direncanakan dan berhasil dilaksanakan antara lain : Pendidikan kesehatan


tentang DHF dan cara perawatannya, Pendidikan kesehatan tentang pencegahan

DHF, Pembagian bubuk abate, Melakukan kerjabakti terkait 3M, Melakukan PSN

bersama kader, Pemberiaan pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA dan cara

perawatan pada masyarakat, Pemberiaan pendidikan kesehatan tentang penyakit

ISPA dan cara perawatan pada kader kesehatan, Pemberian pendidikan kesehatan

tentang komposisasi sampah organic, Bersama pemerintah pengadaan tempat

sampah organic dan non organic, Pembagian tempat sampah organic dan non

organic, Melatih kader untuk bisa mengenal kasus ISPA., mengajarkan warga

dalam pembentukan Bank sampah, mensosialisasikan komposisasi sampah,

memanfaatkan sampah plastik untuk kerajinan, Pemberian pendidikan kesehatan

tentang cara perawatan nyeri sendi berdasarkan keluhan (misalnya : mengajarkan

posisi yang benar saat mengangkat beban yang berat, bila asam urat anjurkan

minum air putih yang banyak,), Pemberian pendidikan kesehatan tentang penyakit

Hipertensi dan DIIT beserta perawatannya yang diberikan pada lansia dengan

hipertensi, Kegiatan posyandu lansia, Senam lansia bersama warga DUSUN IV

Sumberejo, Mengajarkan cara pembuatan parem, Pendidikan kesehatan tentang

penyakit TB dan perawatannya, Pendidikan kesehatan tentang cara pencegahan

TB, Pendidikan kesehatan bersama kader tentang deteksi dini TB, Edukasi

mengenai pentingnya PMO untuk penyembuhan TB, Melakukan skrining TB pada

warga yang dicurrigai terkena TB, Bersama puskesmas untuk pengadaan botol

sputum, Pembentukan PMO bersama warga.

Penyuluhan kesehatan pada masyarakat DUSUN IV Pekon Sukoharjo I

dilakukan secara merata di tiap RT. Materi penyuluhan yang disampaikan


disesuaikan dengan rumusan prioritas masalah yang ada di DUSUN IV, yaitu

tentang DHF, ISPA, degeneratif, dan TB Paru. Penyuluhan ini dilaksanakan

bersamaan dengan kegiatan pengajian, pertemuan RT, Posyandu dan dilaksanakan

dengan mendatangi rumah warga satu per satu. Minat dan partisipasi masyarakat

terhadap pelaksanaan kegiatan penyuluhan tinggi, hal ini ditunjukan dengan

banyaknya masyarakat yang hadir dalam setiap kegiatan penyuluhan kesehatan

yang diadakan di DUSUN IV. Akan tetapi jika ditinjau dari bervariasinya latar

belakang pendidikan dan usia masyarakat yang menerima penyuluhan

memungkinkan materi penyuluhan belum dapat dipahami secara maksimal.

Demikian juga jika ditinjau dari terbatasnya waktu yang tersedia untuk diskusi

dan tanya jawab, tidak memungkinkan untuk membahas materi secara mendalam.

Kegiatan lain yang berhasil dilaksanakan adalah pembentukan posyandu

lansia yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni jam 08.00 WIB-selesai dilaksanakan

di salah satu rumah warga di RT 01 Pekon Sukoharjo I dengan sistem lima meja.

Kegiatan kerja bakti di masyarakat wilayah DUSUN IV dilaksanakan

pada tanggal 24 Mei 2015 berdasarkan dari pengamatan, partisipasi warga yang

mengikuti kerja bakti dapat dinyatakan bahwa warga memiliki kepedulian

terhadap kesehatan lingkungan mereka akan tetapi hal ini memerlukan perhatian

dan kesinambungan kegiatan yang dapat dilakukan secara rutin oleh warga

sehingga upaya pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh lingkungan

yang tidak sehat dapat dilakukan secara kontinyu. sehubungan dengan lingkungan

yang sehat.
Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan untuk menghilangkan atau

mengurangi penyebab terhadap masalah yang dirumuskan dapat dianggap

tindakan keperawatan komunitas telah dapat mengatasi masalah keperawatan

sebagaimana yang telah dirumuskan sebelumnya. Selanjutnya akan diidentifikasi

faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan atau implementasi yaitu :

1 Kekuatan (Strengt)

Kekuatan dalam melaksanakan tindakan untuk mengatasi masalah-

masalah kesehatan tersebut adalah peran serta aktif masyarakat (RT, RW,

dan kader kesehatan) dengan memberikan dukungan baik moril maupun

materiil sehingga memudahkan diadakan kegiatan-kegiatan untuk

mengatasi masalah kesehatan. Selain itu dengan adanya dukungan dari

pihak kelurahan dan institusi kesehatan masyarakat, dalam hal ini yaitu

Puskesmas Sukoharjo I.

2 Kelemahan (Weakness)

Kelemahan dalam mengatasi tindakan untuk menangani masalah

kesehatan tersebut adalah ketidakdisiplinan warga masyarakat dalam

setiap kegiatan dimana tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan

sebelumnya. Selain itu, kegiatan yang mengundang Bidan Desa yang

tidak dihadiri oleh petugas atau pejabat yang bersangkutan.

3 Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan dalam melaksanakan tindakan untuk mengatasi masalah

kesehatan tersebut adalah dukungan dan keterlibatan masyarakat dan

kader kesehatan dengan menyediakan sarana yang dibutuhkan serta


adanya program pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah

kesehatan seperti masalah lingkungan, peningkatan kesehatan balita serta

kesehatan lansia.

4 Ancaman (Threath)

Ancaman yang dirasakan dapat menghambat dalam pelaksanaan

tindakan keperawatan untuk menyelesaikan masalah kesehatan adalah

setiap kegiatan membutuhkan biaya, sedangkan sumber dana dari RT

atau RW tidak ada dan tidak adanya alokasi dana dari pihak kelurahan

maupun puskesmas untuk kelancaran kegiatan tersebut.

D Evaluasi

Tahap evaluasi merupakan tahap akhir asuhan keperawatan komunitas.

Evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan yang dicapai dengan

diarahkan pada penilaian terhadap program yang telah direncanakan dibandingkan

dengan tujuan. Evaluasi ini dijadikan dasar untuk menyusun rencana tindakan

selanjutnya. Pada pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas DUSUN IV Pekon

Sukoharjo I, evaluasi dilakukan sesuai teori dengan menggunakan konsep evaluasi

struktur, evaluasi proses dan evaluasi hasil kerja. Tindakan keperawatan yang

telah dilakukan sebagian besar telah dilakukan dengan baik oleh masyarakat

bekerja sama dengan mahasiswa dan kader kesehatan. Selain itu ada kegiatan

yang perlu ditindaklanjuti dan dibicarakan bersama-sama antara masyarakat dan

kader kesehatan serta tokoh masyarakat dalam kegiatan terminasi komunitas.

1 Evaluasi Struktur
Evaluasi struktur berupa evaluasi terhadap persiapan-persiapan yang

diperlukan selama pelaksanaan kegiatan meliputi pre planning, kontrak

waktu, dan media yang digunakan. Dari kegiatan yang telah

dilaksanakan, secara struktur kegiatan telah dilakukan seperti yang

dimaksud diatas, sebelum diadakan suatu kegiatan telah mempersiapkan

pre planning, kontrak waktu dengan warga dan mempersiapkan media

yang akan digunakan.

Dengan adanya evaluasi terhadap struktur kegiatan akan memberi arah

pada kemantapan persiapan yang akan dilakukan sehingga perencanaan

kegiatan akan lebih matang dan dapat memilih waktu yang tepat serta

media yang digunakan sesuai dengan jumlah dan karakteristik sasaran.

2 Evaluasi Proses

Pentingnya melaksanakan evaluasi proses kerja untuk mengetahui suatu

kegiatan yang dilakukan dari seberapa besar partisipasi audiens atau

sasaran dalam mengikuti suatu kegiatan. Hal ini sangat erat hubungannya

dengan topik yang tertuang, kebutuhan masyarakat serta media yang

digunakan.

Pada setiap kegiatan yang telah dilaksanakan sebagian besar telah

ditentukan topiknya dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat

saat pengkajian yang dilaksanakan secara sistematis berdasarkan prioritas

masalah yang ditemukan, sedangkan penggunaan media telah

disesuaikan dengan jumlah audiens dan tingkat pendidikan serta usia

rata-rata audiens atau sasaran.


Akan tetapi evaluasi proses yang dilaksanakan menonjolkan kuantitasnya

saja, karena batasan evaluasi lebih condong pada ada tidaknya kriteria

yang ditentukan saat sebelum pelaksanaan kegiatan. Namun evaluasi ini

akan lebih sempurna apabila diukur juga secara kualitasnya dengan cara

mengobservasi lebih lanjut terhadap setiap item yang terdapat pada

evaluasi proses.

3 Evaluasi hasil

Dari hasil evaluasi melalui pengamatan langsung yang dilakukan pada

tahap akhir setiap kegiatan dapat dinyatakan bahwa hampir rata-rata

mencapai 80 % telah terjadi peningkatan pengetahuan. Pada kader

sebagai sasaran utama kegiatan, hal ini mungkin ditunjang oleh motivasi

yang tinggi dari kader serta adanya tuntutan kebutuhan yang semakin

meningkat dari masyarakat. Keadaan ini sebagaimana digambarkan oleh

Kurt Lewin (1951) yang menjelaskan bahwa salah satu tahapan dari

perubahan yaitu pencairan (unfreezing), yaitu motivasi yang kuat untuk

beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada

merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah, menyiapkan

diri dan siap untuk berubah atau melakukan perubahan. Hal ini terjadi

menurut Maslow (1954) adanya tuntutan akan kebutuhan yang semakin

meningkat atau adanya kebutuhan yang belum terpenuhi sehingga akan

memotivasi perilaku untuk berubah.

Perubahan pada tingkat pengetahuan pada kader dan masyarakat di

wilayah DUSUN IV Pekon Sukoharjo I mendorong masyarakat untuk


bergerak (berubah) yang dapat ditunjukkan dari aktifnya kader dalam

mengikuti kegiatan mulai dari pelatihan keterlibatan kader dalam

membentuk pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan atau

direncanakan sebelumnya.

Kurt Lewin (1951) menyatakan bahwa tahapan berikutnya pada

perubahan, yaitu dimana seseorang atau sekelompok orang bergerak

menuju pada keadaan yang baru atau tingkat dan tahap perkembangan

baru karena telah memiliki cukup infomasi, sikap dan pengetahuan untuk

berubah, memahami masalah yang dihadapi dan mengetahui langkah-

langkah yang nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahapan

yang baru.

Pendapat ini dapat mengukur adanya perubahan terhadap kebutuhan

interpersonal menurut Maslow (1954), menjelaskan bahwa yang

melandasi kebutuhan perubahan sebagian besar perilaku seseorang yaitu

kebutuhan untuk melakukan sesuatu secara bersama, kebutuhan untuk

melakukan kontrol dan kebutuhan untuk menerima bantuan dan perasaan

atau kedekatan emosional.

Pada setiap item kegiatan yang telah dilaksanakan masih ada sebagian

belum dapat mencapai hasil yang maksimal. Hal ini mungkin karena

adanya beberapa faktor penghambat sebagaimana yang dijelaskan pada

evaluasi hasil kegiatan. Sehingga dalam kegiatan ini masih memerlukan


adanya tindak lanjut agar tidak mengalami kemunduran atau kembalinya

pada keadaan semula atau sebelum dilakukan tindakan.

Salah satu tingkat perubahan paling akhir dalam suatu kegiatan dapat

diukur dari adanya tindak lanjut dalam kegiatan tersebut (Lewin, 1951).

Perubahan pada tahap ketiga akan dicapainya suatu tingkat atau tahapan

baru dimana akan terdapat suatu keseimbangan baru atau tidak

mengalami kemunduran atau kembali seperti semula. Oleh karena itu

harus ada umpan balik, kritik yang konstruktif dan upaya pembinaan

yang terus menerus.

Dalam pertemuan Lokmin wilayah DUSUN IV yang kedua yang

merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk melakukan evaluasi

secara komprehensif, kemudian pada akhir kegiatan dilakukan

penyusunan rencana tindak lanjut.

E Rencana Tindak Lanjut

Rencana tindak lanjut yang disepakati mencakup tiga kategori yaitu

rencana tindak lanjut untuk puskesmas, untuk kader kesehatan bersama warga,

dan rencana tindak lanjut untuk pihak Balai Pekon Sukoharjo I. Rencana tindak

lanjut untuk Puskesmas Sukoharjo I meliputi pemantauan pelaksanaan Posbindu

setiap 1 bulan sekali. Rencana tindak lanjut untuk kader kesehatan dan warga

meliputi kerja bakti secara rutin di masing-masing RT seminggu sekali,

penyuluhan tentang hipertensi, ISPA, DHF, dan TB Paru. Rencana tindak lanjut

untuk pihak Balai Pekon Sukoharjo I adalah kepala desa menganggarkan dana
khusus untuk kegiatan posbindu dan para kader Pokjakes. Kunjungan, motivasi

serta dukungan (baik material maupun non materiil) dari kepala desa sangat

diharapkan untuk meningkatkan keaktifan kader Pokjakes.

Sedangkan untuk mengetahui perkembangan dari hasil tindak lanjut yang

telah disusun masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk dievaluasi,

sehingga perlu untuk didelegasiakan pada pihak-pihak yang terkait seperti

Puskesmas, pemerintah desa, pengurus RT, dan masyarakat sendiri untuk

mengevaluasinya.
BAB V

PENUTUP

A KESIMPULAN

Praktik keperawatan kesehatan komunitas yang dilaksanakan mahasiswa

Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan STIKes

AISYAH Pringsewu Kelompok IV, merupakan suatu program profesi untuk

mengaplikasikan konsep-konsep perawatan kesehatan masyarakat dengan

menggunakan proses keperawatan masyarakat sebagai suatu pendekatan ilmiah.

Mahasiswa program Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan dan

Kesehatan STIKes AISYAH Pringsewu tahun 2014-2015 telah melaksanakan

praktik keperawatan komunitas di wilayah DUSUN IV Pekon Sukoharjo I,

Kecamatan Sukoharjo, Demak. Strategi yang digunakan oleh mahasiswa selama

praktik salah satunya adalah untuk meningkatkan peran serta masyarakat untuk

aktif terlibat dalam upaya kesehatan dilingkungannya sendiri melalui Kelompok

Kerja Kesehatan masyarakat di wilayah DUSUN IV Pekon Sukoharjo I,

Kecamatan Sukoharjo, Demak. Dasar dari keterlibatan masyarakat ini dengan

alasan bahwa kesehatan bukan hanya merupakan tanggung jawab petugas

kesehatan saja, melainkan masyarakat juga memiliki hak dan potensi untuk

mengenal dan mengatasi masalah kesehatan.

Upaya melibatkan peran serta masyarakat dilakukan dengan membina

kerjasama dengan masyarakat melalui pengaktifan peran kader, melakukan

identifikasi masalah kesehatan, membuat alat pengumpul data untuk mendapatkan


gambaran yang jelas tentang masalah kesehatan dan prioritas yang ada di

masyarakat. Masalah kesehatan yang ditemukan di wilayah DUSUN IV Pekon

Sukoharjo I, Kecamatan Sukoharjo, Demak. Berdasarkan prioritas adalah Resiko

terjadi penyakit DHF di DUSUN IV berhubungan dengan perilaku masyarakat

dalam pencegahan DHF, Resiko peningkatan ISPA di DUSUN IV berhubungan

dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, Tingginya

keluhan perubahan kesehatan pada lanjut usia di DUSUN IV berhubungan dengan

perilaku tidak sehat lansia, Tingginya kasus TB paru di DUSUN IV berhubungan

dengan perilaku penderita TB yang tidak sehat.

Berdasarkan teori keperawatan kesehatan komunitas yang menyebutkan

bahwa untuk melatih kemandirian masyarakat dapat dilakukan dengan

mengembangkan potensi yang ada di masyarakat tersebut, sehingga pendekatan

locality development dapat terselenggara dengan baik. Maka apa yang telah

dilakukan di wilayah DUSUN IV Pekon Sukoharjo I dengan segala potensinya

telah mampu melaksanakan kegiatan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan

evaluasi dengan di fasilitasi oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan dan

Kesehatan STIKes AISYAH Pringsewu. Diharapkan setelah proses desiminasi

ilmu pengetahuan dari mahasiswa berakhir, masyarakat DUSUN IV Pekon

Sukoharjo I dapat melaksanakan tugas-tugas untuk mengatasi masalah kesehatan

secara mandiri.
B SARAN

Berdasarkan dari kesimpulan diatas, maka disarankan untuk :

1 Kader Kesehatan

Kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan baik seperti posyandu balita,

sedangkan Posbindu lansia hendaknya dapat dapat dilaksanakan secara

bertahap dan ditingkatkan. Posbindu lansia dengan menggunakan sistem 5

tahap, kegiatan tersebut hendaknya dilaksanakan secara rutin dengan

koordinasi dari pihak Puskesmas.

2 Masyarakat

a Peran serta dari kader, masyarakat, tokoh masyarakat, dan pengurus

RT-RW perlu ditingkatkan terus dalam berbagai kegiatan di bidang

kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seoptimal

mungkin. Antara lain para lansia aktif mengikuti posbindu lansia,

warga aktif mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan dan

masyarakat aktif menjaga kebersihan dan kesehatan rumah.

b Pertemuan rutin kader kesehatan dilakukan dilakukan di wilayah

DUSUN IV Pekon Sukoharjo I yaitu guna memantau kesehatan

masyarakat dengan cara melakukan penyuluhan kesehatan

diperkumpulan RT dan RW setiap 35 hari dan setiap ada pengajian.

3 Pemerintah Desa

Perlunya penambahan kader kesehatan di desa untuk mengkoordinasi

kegiatan kesehatan desa, terutama dalam kegiatan posyandu lansia/

posbindu di tingkat RW.


4 Puskesmas

Diharapkan ada bantuan dana dan prasarana serta supervisi dari pihak

puskesmas dan Balai Desa yang berkesinambungan untuk memantau

kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh warga DUSUN IV Pekon

Sukoharjo I.