Anda di halaman 1dari 7

Pengantar Ilmu Jurnalistik

April 26, 2007

Oleh: Dian Amalia

1. Pengertian Jurnalistik

Definisi jurnalistik sangat banyak. Namun pada hakekatnya sama, para tokoh
komuniikasi atau tokoh jurnalistik mendefinisikan berbeda-beda. Jurnalistik
secara harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal
pemberitaan. Kata dasarnya jurnal (journal), artinya laporan atau catatan,
atau jour dalam bahasa Prancis yang berarti hari (day) atau catatan
harian (diary). Dalam bahasa Belanda journalistiek artinya penyiaran catatan
harian.

Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa.
Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian
jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang
jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai
pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari
peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang
terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau
pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.

Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau


pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa.
Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan,
mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya.

Untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan jurnalistik, dibawah ini
adalah definisi dari para tokoh tentang jurnalistik seperti yang di rangkum
oleh Kasman dalam bukunya bahwa jurnalistik adalah:

F. Fraser Bond dalam bukunya An Introduction to Journalism menyatakan:


Journalism ambraces all the forms in which and trough wich the news and
moment on the news reach the public. Jurnalistik adalah segala bentuk yang
membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok
pemerhati.
M. Djen Amar, jurnalistik adalah usaha memproduksi kata-kata dan gambar-
gambar yang dihubungkan dengan proses transfer ide atau gagasan dengan
bentuk suara, inilah cikal bakal makna jurnalistik sederhana. Pengertian
menurut Amar juga dijelaskan pada Sumadiria. Jurnalistik adalah kegiatan
mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluas-
luasnya.

M. Ridwan, adalah suatu kepandaian praktis mengumpulkan, mengedit berita


untuki pemberitaan dalam surat kabar, majalah, atau terbitan terbitan
berkala lainnya. Selain bersifat ketrampilan praktis, jurnalistik merupakan
seni.

Onong U. Effendi, jurnalistik adalah teknik mengelola berita sejak dari


mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada khalayak.
Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif
saja.

Adinegoro, jurnalistik adalah semacam kepandaian karang-mengarang yang


pokoknya memberi perkabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya
agar tersiar seluas-luasnya. Sedang menurut Summanang, mengutarakan
lebih singkat lagi, jurnalistik adalah segala sesuatu yang menyangkut
kewartawanan.

Dalam buku Jurnalistik Indonesia karya Sumadiria juga mengungkapkan


pengertian beberapa tokoh antara lain; F.Fraser Bond, Roland E. Wolseley,
Adinegoro, Astrid S. Susanto, Onong U. Effendi, Djen Amar, Erik Hodgins,
Kustadi Suhandang, dan bahkan penulis itu sendir Haris Sumadiria.

Roland E. Wolseley dalam Understanding Magazines (1969:3), jurnalistik


adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran
informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan
dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di
stasiun siaran.

Astrid S. Susanto, jurnalistik adalah kegiatan pencatatan dan atau pelaporan


serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari.

Erik Hodgins (Redaktur Majalah Time), jurnalistik adalah pengiriman informasi


dari sini ke sana dengan benar, seksama, dan cepat, dalam rangka membela
kebenaran dan keadilan.

Haris Sumadiria, pengertian secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan


menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan
menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya
dengan secepat-cepatnya.
Dalam buku Kustadi Suhandang, juga terdapa satu pakar lagi yang
mendefinisikan pengertian jurnalistik, yaitu A.W. Widjaya, menyebutkan
bahwa jurnalistik merupakan suatu kegiatan komunikasi yang dilakukan
dengan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai
peritiwaatau kejadian sehari-hari yang aktualdan factual dalam waktu yang
secepat-cepatnya.

Sedang menurut Kustadi Suhandang sendiri Kustadi, jurnalistik adalah seni


atau ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan
menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah,
dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya.

Menurut A.Muis dan Edwin Emery yaitu; A.Muis (pakar hukum komunikasi)
mengatakan bahwa definisi tentang jurnalistik cukup banyak. Namun dari
definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan secara umum. Semua definisi
juranlistik memasukan unsur media massa, penulisan berita, dan waktu yang
tertentu (aktualitas). Menurut Edwin Emery juga sama mengatakan dalam
jurnalistik selalu harus ada unsur kesegaran waktu (timeliness atau
aktualitas). Dan Emery menambahkan bahwa seorang jurnalis memiliki dua
fungsi utama. Pertama, fungsi jurnalis adalah melaporkan berita. Kedua,
membuat interpretasi dan memberikan pendapat yang didasarkan pada
beritanya.

Menurut Ensiklopedi Indonesia, jurnalistik adalah bidang profesi yang


mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan
sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan
pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan
yang ada.

Sumadiria juga menambahkan bahwa jurnalistik dalam Leksikon Komunikasi


dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis,
menyunting dan menyebarkan berita dan karangan utuk surat kabar,
majalah, dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.

2. Ruang Lingkup Jurnalistik

Ruang lingkup jurnalistik sama saja dengan ruang lingkup pers. Dalam garis
besar jurnalistik Palapah dan Syamsudin dalam diktat membagi ruang lingkup
jurnalistik ke dalam dua bagian, yaitu : news dan views (Diktat Dasar-dasar
Jurnalistik).

News dapat dibagi menjadi menjadi dua bagian besar, yaitu :

1. Stainght news, yang terdiri dari :

a. Matter of fact news


b. Interpretative report

c. Reportage

2. Feature news, yang terdiri dari :

a. Human interest features

b. Historical features

c. Biographical and persomality features

d. Travel features

e. Scientifict features

Views dapat dibagi kedalam beberapa bagian yaitu :

1. Editorial

2. Special article

3. Colomum

4. Feature article

3. Sejarah Jurnalistik

Pada mulanya jurnalistik hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informatif


saja. Itu terbukti pada Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama pada
zaman Romawi Kuno, ketika kaisar Julius Caesar berkuasa.

Sekilas tentang pengertian dan perkembangan jurnalistik, Assegaff sedikit


menceritakan sedikit sejarah. Bahwa jurnalistik berasal dari kata Acta Diurna,
yang terbit di zaman Romawi, dimana berita-berita dan pengumuman
ditempelkanatau dipasang di pusat kota yang di kala itu disebut Forum
Romanum. Namun asal kata jurnalistik adalah Journal atau Du jour yang
berarti hari, di mana segala berita atau warta sehari itu termuat dalam
lembaran tercetak. Karena kemajuan teknologi dan ditemukannyapencetakan
surat kabar dengan system silinder (rotasi), maka istilah pers muncul,
sehingga orang lalu mensenadakan istilah jurnalistik dengan pers.

Sejarah yang pasti tentang jurnalistik tidak begitu jelas sumbernya, namun
yang pasti jurnaliatik pada dasarnya sama yaitu diartikan sebagai laporan.
Dan dari pengertian ada beberapa versi. Kalau dalam dari sejarah Islam cikal
bakal jurnalistik yang pertama kali didunia adalah pada zaman Nabi Nuh.
Suhandang dalam bukunya juga menerangkan sejarah Nabi Nuh teerutama
dalam menyinggung tentang kejurnalistikan. Dikisahkan bahwa pada waktu
itu sebelum Allah SWT menurunkan banjir yang sangat hebatkepada kaum
yang kafir, maka datanglah maiakat utusan Allah SWT kepada Nabi Nuh agar
ia memberitahukan cara membuat kapal sampai selesai. Kapal yang akan
dibuatnya sebagai alat untuk evakuasi Nabi Nuh beserta sanak keluarganya,
seluruh pengikutnya yang shaleh dan segala macam hewan masing-masing
satu pasang. Tidak lama kamudian, seusainya Nabi Nuh membuat kapal,
hujan lebat pun turun berhari-hari tiada hentinya. Demikian pula angin dan
badai tiada henti, menghancurkan segala apa yang ada di dunia kecuali kapal
Nabi Nuh. Dunia pun dengan cepat menjadi lautan yang sangat besar dan
luas. Saat itu Nabi Nuh bersama oranng-orang yang beriman lainnya dan
hewan-hewan itu telah naik kapal, dan berlayar dengan selamat diatas
gelombang lautan banjir yang sangat dahsyat.

Hari larut berganti malam, hingga hari berganti hari, minggu berganti minggu.
Namun air tetap menggenang dalam, seakan-akan tidak berubah sejak
semula. Sementara itu Nabi Nuh beserta lainnya yang ada dikapal mulai
khawatir dan gelisah karena persediaan makanan mulai menipis. Masing-
masing penumpang pun mulai bertanya-tanya, apakah air bah itu memang
tyidak berubah atau bagaimana? Hanya kepastian tentang hal itu saja
rupanya yang bisa menetramkan karisuan hati mereka. Dengan menngetahui
situasi dan kondisi itu mereka mengharapkan dapat memperoleh landasan
berfikir untuk melakukan tindak lanjut dalam menghadapi penderitaanya,
terutama dalam melakukan penghematan yang cermat.

Guna memenuhi keperluan dan keinginan para penumpang kapalnya itu Nabi
Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk meneliti keadaan air
dan kemungkinan adanya makanan. Setelah beberapa lama burung itu
terbang mengamati keadaan air, dan kian kemari mencari makanan, tetapi
sia-sia belaka. Burung dara itu hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun
(olijf) yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun di patuknya
dan dibawanya pulang ke kapal. Atas datangnya kembali burung itu dengan
membawa ranting zaitun. Nabi Nuh mengambil kesimpulan bahwa air bah
sudah mulai surut, namun seluruh permukaan bumi masih tertutup air,
sehingga burung dara itu pun tidak menemukan tempat untuk istirahat
demikianlah kabar dan berita itu disampaikan kepada seluruh anggota
penumpangnya.

Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai
seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di
dunia. Bahkan sejalan dengan teknik-teknik dan caranya mencari serta
menyiarkan kabar (warta berita di zaman sekarang dengan lembaga kantor
beritannya). Mereka menunjukan bahwa sesungguhnya kantor berita yang
pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.
Data selanjutnya diperolah para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan
berdirinya kerajaan Romawi (Imam Agung) mencatat segala kejadian penting
yang diketahuinya pada annals (papan tulis yang digantungkan di serambi
rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi
setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman


kejayaannya. Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang
kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu
disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada
papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu. (60 SM) dikenal
dengan acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi)
untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang
boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian
disebarluaskan dan dikabarkan ke tempat lain.

Baik hikayat Nabi Nuh menurut keterangan Flavius Josephus maupun


munculnya acta diurna belum merupakan suatu penyiaran atau penerbitan
sebagai harian, akan tetapi jelas terlihat merupakan gejala awal
perkembangan jurnalistik. Dari kejadian tersenut dapat kita ketahui adanya
suatu kegiatanyang mempunyai prinsip-prinsip komunikasi massa pada
umumnya dan kejuruan jurnalistik pada khususnya. Karena itu tidak heran
kalau Nabi Nuh dikenal sebagai wartawan pertama di dunia. Demikian pula
acta diurna sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian.

Seiring kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari laporan harian
maka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media cetak berkembang ke
media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa
radio. Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula
terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi). Media informasi
tidak puas hanya dengan televisi, lahirlah berupa internet, sebagai jaringan
yang bebas dan tidak terbatas. Dan sekarang dengan perkembangan teknologi
telah melahirkan banyak media (multimedia).

DAFTARPUSTAKA
Assegaff,
1982, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta,
Ghalia Indonesia.
Muis, A. 1999, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu
Annutama.
Kasman, Suf. 2004, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Dawah
Bi Al-Qalam dalam Al-Quran, Jakarta, Penerbit Teraju
Romli, Asep Syamsul M. 2005, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan
dan Kepenulisan, Bandung, Batic Press
Suhandang, Kustadi. 2004, Penngantar Jurnalistik: Seputar Organisasi,
Produk, dan Kode Etik. Bandung, Penerbit Nuansa.
Sumadiria, AS Haris. 2005, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature
Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media.
Palapah dan Syamsudin. 1994, Diktat Dasar-dasar Jurnalistik
[1] Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan
Kepenulisan, Bandung, Batic Press, 2005, hlm. 01.
[2] Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Dawah Bi
Al-Qalam dalam Al-Quran, Jakarta, Penerbit Teraju, 2004, hlm. 22-23
[3] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature
Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media,
2005, hlm. 02
[4] Ibid hal, hlm. 03.
[5] Op.cit, Suf Kasman, hlm. 23-24.
[6] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature
Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media,
2005, hlm. 2-3
[7] A. Muis, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu
Annutama. 1999, hlm. 24-25
[8] AS Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature
Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media,
2005, hlm. 02.
[9] Ibid.
[10] Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Dawah Bi
Al-Qalam dalam Al-Quran, Jakarta:Penerbit Teraju, 2004, hlm. 23.
[11] Assegaff, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan,
Jakarta:Ghalia Indonesia, 1982, 9-10.
[12] Suhandang, Kustadi., Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk,
dan Kode Etik. Bandung:Penerbit Nuansa, 2004, hlm. 25-26.
Dian Amalia Mahasiswa Jurnalistik 2006