Anda di halaman 1dari 22

BOTANI UMUM

MINYAK ATSIRI

DisusunOleh :

VEKO APRIANTO

(163112620120055)
PROGRAM STUDI BIOLOGI MEDIK

FAKULTAS BIOLOGI

UNIVERSITAS NASIONAL

2016

A. DEFINISI MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri merupakan minyak dari tanaman yang komponennya secara
umum mudah menguap sehingga banyak yang menyebut minyak terbang. Minyak
atsiri disebut juga etherial oil atau minyak eteris karena bersifat seperti eter dalam
bahasa internasional biasa disebut essential oil (minyak essen) karena bersifat khas
sebagai pemberi aroma/bau. Minyak atsiri dalam keadaan segar dan murni
umumnya tidak berwarna, namun pada penyimpanan yang lama warnanya berubah
menjadi lebih gelap. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya
rendah sebagaimana minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut dalam
air dan pelarut polar lainnya. Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran
yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung
jawab atas suatu aroma tertentu. Minyak atsiri sebagian besar termasuk dalam
golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak
(lipofil).
Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun,
bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rhizome. Berbagai macam
tanaman yang dibudidayakan atau tumbuh dengan sendirinya di berbagai daerah di
Indonesia memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi minyak atsiri, baik
yang unggulan maupun potensial untuk dikembangkan.
Walaupun minyak atsiri mengandung banyak bahan kimia yang berbeda, akan
tetapi rasa atau aroma intinya masih dapat ditambahkan oleh satu sampai lima
bahan campuran lain yang berbeda. Untuk alasan inilah bahan sintetik atau nature-
identical dapat mengancam keberlanjutan produksi dari beberapa jenis minyak
atsiri. Meskipun demikian, karena alasan kontribusi minyak atsiri pada setiap
produk hanya sedikit, banyak perusahaan produk makanan yang memerlukan jenis
minyak atsiri sebagai salah satu bagian kecil dalam kebutuhan bahan bakunya
berusaha terus mendapatkan suplai yang kontinu dengan keseragaman mutu yang
baik untuk menjaga tidak terjadinya perubahan rasa pada produk yang dihasilkan.

B. CIRI-CIRI MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu,
susunan senyawa komponennya kuat memengaruhi saraf manusia (terutama di
hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu. Setiap senyawa
penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa
yang berbeda. Karena pengaruh psikologis ini, minyak atsiri merupakan komponen
penting dalam aromaterapi atau kegiatan-kegiatan liturgi dan olah pikiran/jiwa,
seperti yoga atau ayurveda.
Sebagaimana minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut dalam
air dan pelarut polar lainnya. Dalam parfum, pelarut yang digunakan biasanya
alkohol. Dalam tradisi timur, pelarut yang digunakan biasanya minyak yang mudah
diperoleh, seperti minyak kelapa.
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai
senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu
aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa
organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak (lipofil).

C. SIPAT MINYAK ATSIRI


Sifat sifat minyak atsiri tersusun bermacam-macam komponen senyawa yang
memiliki bau khas, umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau minyak
atsiri satu dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dari macam dan
intensitas bau dari masing-masing komponen penyusunnya. Mempunyai rasa getir,
kadang-kadang berasa tajam, menggigit, memberi kesan hangat sampai panas, atau
justru dingin ketika terasa di kulit, tergantung dari jenis komponen penyusunnya.
Dalam keadaan murni (belum tercemar oleh senyawa lain) mudah menguap
pada suhu kamar. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik
pengaruh oksigen udara, sinar matahari (terutama gelombang ultra violet) dan
panas, karena terdiri dari berbagai macam komponen penyusun. Bersifat optis aktif
dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi yang spesifik karena banyak
komponen penyusunnya memiliki atom C asimetrik, juga mempunyai indeks bias
yang tinggi. Pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air, dapat larut
walaupun kelarutannya sangat kecil, tetapi sangat mudah larut dalam pelarut
organik.
1. Sifat Fisik
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu,
susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di
hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat).
Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat
menghasilkan rasa yang berbeda.
2. Sifat Kimia
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai
senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas
suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan
senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam
minyak/lipofil. Secara kimia, minyak atsiri bukan merupakan senyawa
tunggal, tetapi tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis
besar terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propana.
3. Sifat Biologi
Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna.
Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk
mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna
gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan
sejuk.

D. KLASIFIKASI MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok:
1. Minyak atsiri yang dapat dipisahkan menjadi komponen-komponen atau
penyusun murninya, komponen-komponen ini dapat menjadi bahan dasar untuk
diproses menjadi produk-produk lain. Contohnya: minyak sereh, minyak daun
cengkeh, minyak permen, dan minyak terpentin. Biasanya komponen utama
yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut dipisahkan atau diisolasai dengan
penyulingan bertingkat atau dengan proses kimia yang sederhana. Pada saat
isolasi dengan penyulingan bertingkat selalu dilakukan dalam keadaan vakum.
Isolasi yang dilakukan berdasarkan reaksi kimia hanya terdapat pada beberapa
minyak atsiri. Contoh isolasi Eugenol dari komponen yang lain yang terdapat di
dalam minyak daun cengkeh
2. Minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi komponen murninya. Contoh
minyak atsiri kelompok kedua ini antara lain: minyak akar wangi, minyak nilam,
dan minyak kenanga. Lazimnya minyak atsiri tersebut langsung dapat
digunakan, tanpa diisolasi komponen-komponenya, sebagai pewangi berbagai
produk.

Minyak atsiri biasanya dinamakan menurut sumber utamanya, yaitu:


1. Minyak Adas

Minyak adas digolongkan kedalam minyak atsiri yaitu minyak hasil


destilasi uap baik dari buah masak, bunga, batang maupun akar tanaman adas.
Varietas tanaman adas ada 12 macam, menghasilkan minyak adas dengan
perbedaan dalam warna dan aroma. Salah satu varietas terpenting adalah
tanaman Foeniculum vulgare Miller yang menghasilkan minyak adas dengan
aroma terbaik. Minyak adas merupakan salah satu minyak atsiri yang terdapat di
Indonesia, diperoleh dengan cara penyulingan uap biji adas. komposisi kimia
minyak adas bervariasi menurut jenis dan asal tanamannya.
Minyak adas digunakan sebagai zat aditif dalam berbagai jenis masakan,
roti, kembang gula, dan dalam industri farmasi dan kosmetik. Di Indonesia
digunakan sebagai pengharum masakan dan simplisia jamu, sebagai obat gosok
dan di pulau Jawa minyak ini dikenal dengan nama minyak telon untuk
keperluan bayi.
Anetol merupakan komponen utama minyak adas dan minyak adas manis
manis. Minyak adas mengandung 50-60% anetol, sedangkan minyak adas manis
mengandung sekitar 80-90% anetol. Kualitas minyak adas perdagangan
ditentukan oleh besar kecilnya kandungan anetol. Semakin besar kandungan
anetol, kualitas minyak adas semakin baik.
2. Minyak nilam

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman


yang menghasilkan minyak atsiri dan sudah lama dikenal oleh masyarakat
Indonesia yaitu sebagai pengharum pakaian. Di pasar perdagangan internasional,
nilam diperdagangkan dalm bentuk minyak dan dikenal dengan nama patchouli
oil. Di antara berbagai jenis minyak atsiri di Indonesia minyak nilam lah yang
jadi primadona.
Untuk produk minyak nilam, Indonesia memegang peranan yang cukup
besar, sekitar 90 % kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari Indonesia. Salah
satu sifat minyak nilam yang khas adalah daya fiksasinya yang cukup tinggi.
Dengan adanya sifat ini, maka penggantian minyak nilam dengan produk
sintesis kurang memungkinkan. Seperti minyak atsiri lainnya, minyak nilam
mengandung lebih dari satu senyawa. Senyawa yang terdapat pada minyak
nilam dapat diketahui dengan mengisolasi dan identifikasi komponen penyusun
minyak nilam. Minyak nilam mengandung patchouli alkohol dan merupakan
penyusun utama minyak nilam. kadar patchouli dalam minyak nilam sekitar 50-
60%. Minyak nilam diperoleh dengan cara destilasi uap dan air, dan minyak
nilam ini terdiri dari campuran persenyawan terpen dengan alkohol-alkohol,
aldehid, dan ester-ester yang memberikan bau yang khas.
3. Minyak lawang
Minyak lawang mempunyai karakteristik bau cengkeh dan pala. Tanaman
lawang (Cinnamomun culliawan Blume) memiliki ciri-ciri daun berlendir, kayu
berwarna putih dan rapuh. Tumbuhan ini termasuk dalam kelompok kayu manis.
Minyak lawang didapat dengan menyuling serbuk kulit kayunya. Minyak
lawang mengandung eugenol, metieugenol, terpeniol, dan memiliki bau yang
mirip campuran cengkeh, kayu manis, pala dan massoi.
Minyak kulit lawang mengandung dua komponen utama yaitu eugenol dan
safrol. Eugenol adalah cairan berwarna kuning muda, bila terkena sinar akan
mudah teroksidasi sehingga warnanya berubah kecoklatan. Eugenol berbau
keras dan terasa pedas, digunakan secara luas dalam pembutan obat-obatan,
parfum dan kosmetika. Safrol digunakan secara luas untuk penyegar dalam
minuman tertentu, pada permen karet, dalam bidang farmasi, obat mulut, pasta
gigi dan pengharum sabun. Penggunaan utama adalah untuk diubah menjadi
isosafrol kemudian menjadi piperonal (heliotropin). safrol memiliki kemiripan
dengan eugenol yaitu memiliki gugus alkil sehingga mudah untuk disintesis
menjadi senyawa-senyawa deviratnya
4. Minyak daun cengkeh
Minyak cengkeh adalah salah satu jenis dari minyak atsiri yang terdapat di
Indonesia, terutama di propinsi Jawa Tengah seperti kabupaten Tegal,
Banyumas, Salatiga,Solo dan sekitarnya. Ada 3 tipe cengkeh yang
dibudidayakan di Indonesia yaitu siputih, sikotok dan zanzibar, yang dibedakan
dari ciri-ciri pada pucuk, cabang muda, daun, ranting, bunga, percabangan atau
bentuk mahkota pohon.
Pengolahan cengkeh dilakukan dengan cara ekstraksi. Ekstraksi minyak
dilakukan pada bagian bunga, tangkai bunga dan daunnya. Dari ketiga bagian
tersebut yang paling ekonomis adalah ekstrak bagian daunnya. Oleh karena itu
jenis minyak cengkeh yang umum diperjualbelikan adalah minyak daun cengkeh
( clove leaf oil ). Dirajang dimasukkan ke dalam alat penyuling sebanyak 300
gram, kemudian di isi air sebanyak 2.250 ml. Alat penyuling dihubungkan
dengan kondensor yang dilengkapi dengan sirkulasi air, hidupkan air pet dan
disuling sesuai perlakuan. Isolasi minyak sereh dilakukan dengan cara destilasi
uap dan destilasi air. Sebelum daun di destilasi terlebih dahulu dikeringkan di
bawah sinar matahari. di jawa pengeringan ukup selama 3 sampai 4 jam. Pada
saat musim penghujan pengeringan di lakukan diatas rak dekat tungku
pembangkit uap air dan sering dibalik untuk mencegah terjadinya fermentasi
atau terbentuknya jamur. Destilasi uap menghasilkan minyak 0,33% dan hasil ini
lebih tinggi dibandingkan dengan destilasi air dengan hasil 0,32%.
5. Minyak permen
Minyak permen adalah salah satu minyak atsiri yang terdapat di Indonesia.
Minyak permen terdapat pada tanaman Mentha piperita dan Mentha arvensis.
Minyak permen terdapat pada kelenjar-kelenjar pada bagian atas dan bawah dari
daun. Minyak ini mengandung ester, meton, metol, dan aseton.
Minyak permen diperoleh dengan destilasi uap dari tanaman Mentha
arvensis. Daun yang dikeringkan ditempatkan dalam ketel destilasi kemudian
didestilasi uap. Waktu destilasi uap tergantung jumlah daun yang diproses dan
ukuran ketel destilasi yang digunakan. Kegunaan minyak permen adalah sebagai
bahan obat-obatan, pasta gigi, makanan dan sebagainya.
6. Minyak terpentin

Minyak terpentin sering disebut dengan sprits of turpentine berupa cairan


yang mudah menguap, berasal dari hasil penyulingan getah jenis pohon yang
tergolong dalam genus pinus. Di Indonesia jenis pohon pinus penghasil minyak
terpentin adalah pinus merkusii Jung et de Vr.
Di Indonesia penyulingan getah pinus dilakukan dengan 2 cara, yaitu
penyulingan langsung/kohobasi dan penyulingan uap. Minyak terpentin secara
garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu yang dihasilkan dari getah pinus dan
dari kayu pohon pinus. secara umum minyak terpentin dapat diperoleh dengan 4
cara:
a) Destilasi getah pinus yang diperoleh dengan menyadap pohon pinus yang
masih hidup (terpentin dari getah).
b) Ekstraksi potong-potongan/iris ujung batang pohon pinus yang tua dan
dilanjutkan dengan destilasi (terpentin kayu hasil destilasi uap dan
ekstraksi).
c) Destilasi destruktif, yaitu destilasi terhadap potongan kayu pinus yang
berumur tua (terpentin kayu dari destilasi destuktif).
d) Proses sulfat, yakitu pemasakan bubur kayu pinus yang masih berumur
muda (terpentin kayu proses sulfat

E. GOLONGAN MINYAK ATSIRI


Komponen minyak atsiri adalah senyawa yang bersifat kimi fisika sertam
mempunyai bau dan aroma yang khas, demikian pula peranannya sangat besar
sebagai obat. Komponen penyusun minyak atsiri dibagi menjadi beberapa golongan
sebagai berikut :
1. Minyak atsiri hidrokarbon
Minyak atsiri kelompok ini komponen penyusunnya sebagian besar terdiri
dari senyawa-senyawa hidrokarbon, misalnya minyak terpentin diperoleh dari
tanaman-tanaman golongan pinus (famili Pinaceae). Komponen terpentin
sebagian besar berupa asam-asam resin (hingga 90%), ester-ester dari asam-
asam lemak, dan senyawa inert yang netral disebut resena. Terpentin larut dalam
alkohol, eter, kloroform, dan asam asetat glasial dan bersifat optis aktif.
Kegunaannya dalam farmasi adalah sebagai obat luar, melebarkan pembulu
darah kapiler, dan merangsang keluarnya keringat. Terpentin jarang digunakan
sebagai obat dalam.

2. Minyak atsiri alkohol


Minyak pipermin dihasilkan oleh daun tanaman poko atau Mentha piperita
Linn. Daun poko segar mengandung minyak atsiri sekitar 1%, juga mengandung
resin dan tanin. Sementara daun yang telah dikeringkan mengandung 2%
minyak permen. Sebagai penyusun utamanya adalah mentol. Pada bidang
farmasi digunakan sebagai anti gatal, bahan pewangi dan pelega hidung
tersumbat. Sementara pada industri digunakan sebagai pewangi pasta gigi.
3. Minyak atsiri fenol
Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri fenol. Minyak ini diperoleh dari
tanaman cengkeh yang memiliki nama latin yaitu Eugenia caryophyllata atau
Syzigium caryophyllum (famili Myrtaceae). Bagian yang dimanfaatkan bunga
dan daun. Namun demikian bunga lebih utama dimanfaatkan karena
mengandung minyak atsiri sampai 20%. Minyak cengkeh tersusun eugenol yaitu
sampai 95% dari jumlah minyak atsiri keseluruhan. Selain eugenol, juga
mengandung aseton-eugenol, beberapa senyawa dari kelompok seskuiterpen,
serta bahan-bahan yang tidak mudah menguap seperti tanin, lilin, dan bahan
serupa damar. Kegunaan minyak cengkeh antara lain obat mulas, menghilangkan
rasa mual dan muntah.
4. Minyak atsiri eter fenol
Minyak adas merupakan minyak atsiri eter fenol. Minyak adas berasal dari
hasil penyulingan buah Pimpinella anisum atau dari Foeniculum vulgare (famili
Apiaceae atau Umbelliferae). Minyak yang dihasilkan, terutama tersusun oleh
komponen-komponen terpenoid seperti anetol, sineol, pinena dan felandrena.
Miyak adas digunakan dalam pelengkap sediaan obat batuk, sebagai korigen
odoris untuk menutup bau tidak enak pada sediaan farmasi dan bahan farfum.
5. Minyak atsiri oksida
Minyak kayu putih merupakan minyak atsiri oksida. Diperoleh dari isolasi
daun Melaleuca leucadendon L (famili Myrtaceae). Komponen penyusun
minyak atsiri kayu putih paling utama adalah sineol (85%).
6. Minyak atsiri ester
Minyak gondopuro merupakan atsiri ester. Minyak atsiri ini diperoleh dari
isolasi daun dan batang Gaultheria procumbens L (famili Erycaceae). Komponen
penyusun minyak ini adalah metil salisilat yang merupakan bentuk ester. Minyak
ini digunakan sebagai korigen odoris, bahan farfum, dalam industri permen, dan
minuman tidak beralkohol

F. PROSES ATAU METODE MEMPEROLEH MINYAK ATSIRI

1. Destilasi atau Penyulingan.


Pembuatan minyak atsiri dengan penyulingan dipengaruhi oleh 3 faktor,
yaitu: besarnya tekanan uap yang digunakan, bobot molekul masing-masing
komponen dalam minyak, dan kecepatan keluarnya minyak atsiri dari simplisia.
Namun demikian, pembuatan minyak atisiri dengan cara penyulingan mempunyai
beberapa kelemahan:
a) Tidak baik terhadap beberapa jenis minyak yang mengalami kerusakan oleh
adanya panas dan air.
b) Minyak atisiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisis karena adanya
air dan panas.
c) Komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat tersuling.
d) Komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi dan
mempunyai daya ikat terhadap bau, sebgaian tidak ikut tersuling dan tetap
tertinggal dalam bahan.
Jenis-jenis destilasi / penyulingan, ada 3 yaitu: destilasi air, destilasi uap dan
air, dan destilasi uap.
a. Destilasi air
Pada destilasi air terjadi kontank langsung antara simplisia dengan air
mendidih. Simplisia yang telah dipotong-potong, digiling kasar, atau digerus
halus dididihkan dengan air, uap air dialirkan melalui pendingin, sulingan
berupa minyak yang belum murni ditampung. Penyulingan dengan cara ini
sesuai untuk simplisia kering yang tidak rusak dengan pendidihan. Penyulingan
air biasa digunakan untuk menyari minyak atsiri yang tahan panas dari grabahan
maupun bahan yang berkayu dan keras.
Keuntungan metode ini adalah: kualitas minyak atsiri baik (jika
diperhatikan suhu tidak terlalu tinggi), alat sederhana dan mudah diperoleh, dan
mudah pengerjaannya. Kerugian dari metode ini adalah: tidak semua bahan
dapat dilakukan dengan cara ini (terutama bahan yang mengandung sabun,
bahan yang larut dalam air, dan bahan yang mudah hangus), adanya air sering
menyebabkan terjadinya hidrolisis, dan waktu penyulingan yang lama.
b. Destilasi uap dan air
Penyulingan degnan cara ini memakali alat semacam dandang. Simplisia
diletakkan di atas bagian yang berlubang-lubang sedangkan air di lapisan bawah.
Uap dialirkan melalui pendingin dan sulingan ditampung, minyak yang
diperoleh belum murni. Cara ini baik untuk simplisia basah atau kering yang
rusak pada pendidihan. Untuk simplisia basah atau kering yang rusak pada
pendidihan. Untuk simplisia kering harus dimaserasi lebih dulu, sedangkan
untuk simplisia segar yang baru dipetik tidak perlu dimaserasi. Cara
penyulingan ini banyak dilakukan sebagai industri rumah, karena peralatan
mudah didapat dan hasil yang diperoleh cukup baik.
Kerugian cara ini, hanya minyak dengan titik didih lebih rendah dari air
yang dapat tersuling sehingga hasil penyulingan tidak sempurna (masih banyak
minyak yang tertinggal di ampas).
c. Destilasi uap.
Minyak atsiri biasanya didapatkan dengan penyulingan uap pada bagian
tanaman yang mengandung minyak. Metode penyulingan ini tergantung pada
kondisi bahan tanaman. Penyulingan dengan uap memerlukan air, uap panas
yang biasanya bertekanan lebih dari 1 atmosfer dialirkan melalui suatu pipa
uap. Peralatan yang dipakai tidak berbeda dnegn penyulingan air dan uap,
hanya diperlukan alat tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan. Bila
pemeriksaan telah dilakukan degnan air dan uap, hanya diperlukan alat
tambahan untuk memeriksa suhu dan tekanan. Bila pemeriksaan telah
dilakukan dengan baik, dengan cara ini akan diperoleh minyak yang lebih
banyak. Cara ini bisa juga digunakan untuk membuat minyak atisiri dari biji,
akar, kayu, yang umumnya mengandugn komponen minyak yang bertitik didih
tinggi. Penyulingan ini dapat digunakan utnuk membuat minyak cengkeh,
minyak kayumanis, minyak akar wangi, minyak sereh, minyak kayuputih, dll.
Keuntungan dari cara ini adalah: kualitas minyak yang dihasilkan cukup
baik, tekanan dan suhu dapat diatur, waktu penyulingan pendek, hidrolisis tidak
terjadi. Kerugian metode ini yaitu: peralatan yang mahal dan memerlukan
tenaga ahli.
Selain penyulingan dengan cara di atas, dikembangkan juga cara sebagai berikut:
a) Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai dengan
pengurangan tekanan. Pengurangan tekanan akan memperpendek waktu
penyulingan pada tekanan 1 atmosfir. Keuntungan utama dengan cara ini
ialah minyak atsiri yang diperoleh berbau sama dengan bau aslinya, karena
penyulingan dilakukan pada suhu kurang dari 70 oC (biasanya pada suhu
50oC) hingga penguraian karena suhu tinggi dapat dihindari. Kelemahannya,
alat yang dibutuhkan mahal.
b) Penyulingan dengan air dan penyulingan dengan uap disertai penaikkan
tekanan. Penyulingan dengan uap dengan menaikkan tekanan, baik dilakukan
untuk simplisia yang keras sepeti kayu, biji, kulit kayu. Dengan penyulingan
ini akan diperoleh minyak lebih banyak dan akan memperpendek waktu
penyulingan. Kerugian degnan penyulingan ini ialah terjadi peruraian
minyak atisiri sehingga berbeda dengan bentuk aslinya dan diperoleh lebih
sedikit dibanding dengan cara lain.

Tanaman yang mengandung minyak atisiri bertitik didih rendah, lebih baik
disuling dengan tekanan kurang dari 1 atmosfir sedangkan yang mengandung
minyak bertitik didih tinggi dapat dengan penyulingan uap bertekanan lebih
tinggi dari 1 atmosfer.

Dalam metode penyulingan uap langsung (direct steam destillation) ang


dapat dipakai pada obat-obatan tanaman segar (peppermint, spearmint), hasilnya
dipotong dan ditempatkan secara langsung ke dalam tangki penyuling logam
pada truck bed. Truck ini digerakkan pada shed penyuling dimana steam lines
ditempelkan pada bagian bawah tangki penyuling. Cara ini digunakan untuk
daun dan mengandung kadar minyak yang tinggi sehingga tidak perlu maserasi.
Uap ditekan melalui pipa dan membawa tetesan minyak melalui pipa yang
akhirnya melewati ruang pengembun.

Selama penyulingan uap, komponen tertentu minyak atsiri dapat


terhidrolisis, sementara unsur lainnya dapat terdekomposisi dengan suhu udara
tinggi. Metode penyulingan ideal yang menggunakan uap harus memberikan
tingkat difusi setinggi mungkin dari uap dan air melalui membran tanaman
sehingga hidrolisis dan dekomposisi tetap minimal.

2. Enflurasi
Enflurasi yaitu pengambilan minyak atsiri dari tanaman menggunakan
lemak atau vaselin. Seringkali kandungan minyak atsiri dari bagian tanaman
sangatlah kecil, misal pada mahkota bunga. Cara yang bisa dilakukan dengan
menghamparkan lemak (vaselin) pada lapisan tipis pelat kaca. Mahkota bunga
ditempatkan pada lemak selama beberapa jam, kemudian diulangi yang baru
beberapa kali. Setelah minyak terserap dalam lemak padat tersebut, selanjutnya
diekstraksi dengan alkohol. Selanjutnya dipisahkan antara alkohol dan minyak
atsiri. Penyarian minyak atsiri dengan lemak padat tersebut dikenal dengan
enfleurage.
Bunga-bunga tertentu seperti melati, mawar yang disuling akan
menghasilkan minyak yang tidak berbau sama dengan buanganya. Minyak atsiri
dari bunga-bunga tersebut di atas, dperoleh dengan cara:

a. Pembuatan dengan lemak tanpa pemanasan (Enflurasi / enfleurage). Cara ini


sudah dilkukan sejak berabad-abad yang lalu secara primitif. Estela tanaman
dipetik tanaman tersebut akan meneruskan proses fisiologisnya dengan
mengeluarkan bau khasnya. Sesegera setelah bunga dipetik ditaburkan diatas
lemak, lemak mengabsorbsi minyak tersebut. Untuk memperbesar
absorbsinya permukaan lemak digores. Tiap 1 kg lemak diperlukan bunga
melati sebanyak 2,5 sampai 3 kg. Untuk seluruh proses enflurasi memerlukan
waktu 8 sampai 10 minggu. Lemak yang telah jenuh dengan minyak
menguap, dikerok dengan sudip, kemudian dilelehkan pada tempat tertutup.
Lemak tersebut kemudian diekstraksi dengan alkohol, lalu didinginkan pda
suhu rendah (kalau mungkin 15oC) untuk memisahkan dari lemaknya,
disaring, kemudian dipekatkan degna cara penyulingan. Cara ini dilkukan
hanya untuk bunga-bunga tertentu, memerlukan waktu lama dan memerlukan
banyak tenaga yang terlatih untuk mengerjakannya. Walaupun dengan cara ini
dapat menghasilkan minyak yang lebih baik. Syarat lemak yang digunakan
adlah tidak berbau dan mempunyai konsistensi tertentu.

b. Pembuatan dengan lemak panas.


Lemak dipanaskan pada suhu lebih kurang 80oC. Bugna segar dimaserasi
dengan lemak panas tersebut selama 1,5 jam. Bunga tesebut harus sering
diganti dengan yang baru sampai tiap kg lemak kontak dengan 2 sd 2,5 kg
bunga, kemudian dibiarkan selama lebih kurang satu jam dan disaring melalui
saringan logam. Untuk memisahkan lemak yang melekat, bunga disiram
dngan air panas kemunidan diperas dengan saringan kain. Air akan mudah
dipisahkan dari lemak tersebut. Selanjutnya seperti cara enflurasi pada point a.
3. Ekstraksi dengan pelarut minyak atsiri
Prinsip dari ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atisiri yang terdapat
dalam simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap. Simplisia
diekstraksi dengan plarut yang cocok dalam suatu ekstraktor pada suhu kamar,
kemudian pelarut diuapkan dengan tekanan yang dikurangi. Dengan cara ini
diperlukan banyak pelarut sehingga biaya cukup mahal dan harus dilakukan oleh
tenaga ahli. Sebagai pelarut biasanya dipakai eter minyak tanah.

Pelarut yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:


Melarutkan sempurna komponen dari minyak atsiri yang terdapat dalam
tanaman.
Mempunyai titik didih rendah.
Tidak campur dengan air.
Inert, tidak bereaksi dengan komponen minyak atsiri.
Mempunyai satu titik didih, bila diuapkan tidk meninggalkan sisa.
Harga murah.
Bila mungkin tidak mudah terbakar.

Pelarut yang paling banyak digunakan adalah eter minyak tanah. Alkohol
tidak baik digunakan karena alkohol melarutkan air yang terdapat dalam
tanaman. Untuk simplisia tertentu alkohol menghasilkan bau yang tidak enak.
Alkohol baik digunakan untuk simplisia kering. Sari yang diperoleh dikenal
dengan nama tingtur yang banyak digunakan untuk sediaan farmasi. Ekstraksi
dengan pelarut mudah menguap, banyak banyak digunakan di berbagai negara
dan secara umum dapat dipakai untuk sediaan farmasi. Ekstraksi dengan pelarut
mudah menguap, banyak digunakan di berbagai negara dan secara umum dapat
dipakai untuk bermacam simplisia dan diperoleh minyak atsiri sesuai dengan
aslinya.

Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi


minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air. Cara ini
baik untuk mengekstraksi minyak dari bunga-bungaan, misal: bunga cempaka,
melati, mawar, dll.
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana, yaitu dengan
cara memasukkan bahan yang akan diekstraksi ke dalam ketel ekstraktor khusus
dan kemudian ekstraksi berlangsung secara sistematik pada suhu kamar, dengan
menggunakan petroleum eter sebagai pelarut. Pelarut akan berpenetrasi ke dalam
bahan dan melarutkan minyak bunga beserta beberapa jenis lilin dan albumin
serta zat warna. Larutan tersebut selanjutnya dipompa ke dalam evaporator dan
minyak dipekatkan pada suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam
keadan vakum, maka diperoleh minyak bunga yang pekat. Suhu harus tetap
dijaga tidak terlalu tinggi selama proses ini. Dengan demikian uap aktif yang
terbentuk tidak akan merusak persenyawan minyak bunga. Jika dibandingkan
dengan mutu minyak bunga hasil penyulingan, maka minyak bunga hasil
ekstraksi menggunakan pelarut lebih mendekati bau bunga alamiah. Semua
minyak yang diekstraksi dengan pelarut menguap mempunyai warna gelap,
karena mengandung pigmen alamiah yang bersifat tidak dapat menguap.
Sebaliknya hasil penyulingan uap, umumnya berwarna cerah dan bersifat larut
dalam alkohol 95%.

Dalam industri parfum, sebagian besar produksi minyak atsiri modern


dilakukan dengan ekstraksi, dengan menggunakan sistem pelarut yang berdasar
pelarut yang mudah menguap seperti eter minyak tanah. Keuntungan utama
ekstraksi adalah suhu yang bisa dipertahankan kurang lebih 50 oC selama proses.
Hasilnya minyak atsiri yang didapat mempunyai bau yang lebih alami yang tidak
dapat ditandingi minyak suling. Hal ini karena selama penyulingan, dengan suhu
yang tinggi, dapat mengubah konstituen minyak atsiri. Namun demikian, metode
penyulingan operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan proses ekstraksi.

Simplisia dimasukkan ke dalam ekstraktor dan selanjutnya pelarut oraganik


murni dipompakan ke dalam ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke
dalam ekstraktor. Pelarut organik akan menembus ke dalam jaringan simplisia
dan akan melarutkan minyak serta bahan lainnya seperti dmar dan lilin.
Komponen tersebut merupakan pengotor, dan dipisahkan dengan cara
penyulingan pada suhu rendah dan tekanan rendah. Dengan cara penyulingan ini
diperoleh campuran pelarut dan minyak atsiri disebut concrete.
Pemurnian concrete (pelarut + minyak atsiri) ini dilakukan dengan
melarutkan dalam alcohol, diambil fase alcohol. Fase alcohol ini didinginkan
0oC, diperoleh minyak atsiri dalam alcohol dan lilin. Dilakukan penyaringan
terhadap campuran ini, diambil fase minyak atsiri dalam alkohol. Untuk
memisahkan alkohol dan minyak atsiri, dilakukan penyulingan pada tekanan dan
suhu rendah, akan diperoleh alkohol dan minyak atsiri murni.

4. Pengepresan
Pembuatan minyak atsiri dengan cara pengepresan (ekspresi) dilakukan
terhadap bahan berupa biji, buah atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman
yang termasuk jenis Sitrus, karena minyak atsiri dari jenis tanaman tersebut akan
mengalami kerusakan bila dibuat dengan cara penyulingan. Cara ini juga
digunakan untuk mengambil minyak atsiri dari biji. Berdasar tipe alat ekspresi
dibedakan menjadi 2 macam yaitu hidraulic expressing, dan expeller expressing.

5. Hidrolisis glikosida
Dilakukan hidrolisis untuk memecah menjadi aglikonnya (minyak atsirinya).
Contoh minyak atsiri yang diperoleh dengan cara ini hdala minyak mustar,
diperoleh dengan hidrolisis enzimatis dari glikosida. Dalam biji mustar hitam,
glikosida sinigrin, dihidrolisis oleh myrosin dengan menghasilkan minyak
mustar. Biosintesis terjadinya hidrolisis dapat dilihat dalam pembahasan
glikosida, sub bab glikosida alil isotiosianat.
6. Ecuelle
Beberapa minyak atsiri tidak dapat disuling tanpa terjadi dekomposisi, jadi
dilakukan cara yang lain yaitu pengepresan (expression) misalnya minyak lemon
dan minyak jeruk. Di Amerika Serikat, metode umum mendapat citrus oil
meliputi menusuk kelenjar minhyak dengan menggulingkan buah di atas sebuah
bak yang dilapis dengan duri-duri yang tajam guna merembeskan kulit ari dan
menembus kelenjar minyak yang ditempatkan di bagian luar kulit. Cara ini
disebut dengan metode ecuelle. Langkah menekan pada buah menghilangkan
minyak dari kelenjar dan semprotan air membasuh minyak yang masih melekat
pada kulit sementara ampas tersaring melalui tabung pusat yang membuang
bagian tengah buah. Emulsi minyak-air yang dihasilkan dipisahkan dengan
sentrifugasi.
G. MANFAAT MINYAK ATSIRI
Dalam industri farmasi minyak atsiri digunakan sebagai antibakteri, antifungi,
antiseptik, pengobatan lesi, antinyeri, dapat digunakan sangat luas dan spesifik,
khususnya dalam berbagai bidang industri. Banyak contoh kegunaan minyak atsiri,
antara lain dalam industri kosmetik (sabun, pasta gigi, sampo dan losion) dalam
industri makanan digunakan sebagai bahan penyedap atau penambah cita rasa
dalam industri parfum sebagai pewangi dalam berbagai produk minyak wangi,
dalam industri bahan pengawet bahkan digunakan pula sebagai insektisida. Oleh
karena itu, tidak heran jika minyak atsiri banyak diburu berbagai negara.

1. Menyegarkan Udara

Anda bisa menemukan berbagai jenis aroma atau pewangi ruangan dengan
berbagai aroma yang berbeda. Aroma yang dihasilkan dari bahan pewangi
ruangan sebenarnya didapatkan dari minyak atsiri dengan berbagai sumber
tanaman. Setiap tanaman biasanya memiliki sifat yang berbeda sehingga Anda
bisa menemukan pewangi ruangan dengan aroma yang diinginkan. Bahkan
sekarang banyak jenis minyak atsiri tertentu yang dijual dengan campuran
minyak esensial sehingga bisa menjadi aroma terapi.

2. Produk Kecantikan dan Perawatan Tubuh

Berbagai jenis produk yang digunakan untuk perawatan tubuh memiliki


aroma yang sangat menyegarkan. Aroma yang dihasilkan berasal dari minyak
atsiri yang digunakan sebagai komponen utama. Berbagai aroma minyak atsiri
akan dicampur dengan jenis bahan tertentu sehingga bisa digunakan untuk
bahan sabun, pewangi, minyak untuk mandi dan produk lain. Beberapa sumber
tanaman yang sering digunakan sebagai bahan minyak atsiri untuk produk
kecantikan dan perawatan tubuh antaralain adalah: melati, mawar, adas, lada,
kemangi, jahe dan berbagai jenis aroma lain.

3. Mengompres

Mengompres biasanya dilakukan untuk menurunkan demam atau panas


tubuh saat sedang terkena flu atau masuk angin. Minyak atsiri digunakan
sebagai salah satu bahan yang bisa menyembuhkan beberapa keluahan ini. Ada
beberapa bahan minyak atsiri khusus yang digunakan untuk membuat bahan ini
seperti minyak kayu putih, minyak serai, dan jenis minyak lain. Bahkan
kandungan minyak atsiri dalam produk ini bisa menyembuhkan demam, sakit
kepala, sakit perut dan berbagai keluhan ringan lainnya.

4. Produk Perawatan Rambut

Minyak atsiri juga digunakan sebagai bahan untuk produksi berbagai


kosmetik yang digunakan untuk perawatan rambut. Minyak atsiri yang
didapatkan dari berbagai tanaman bisa membuat rambut menjadi lebih lembut,
membuat otot kepala menjadi santai, membersihkan kulit kepala dan merawat
kesehatan rambut. Bahkan manfaat minyak atsiri tertentu bisa mengatasi
berbagai keluhan kesehatan rambut seperti ketombe, kulit kepala kering, gatal
dan rambut rontok. Beberapa jenis bahan yang sering digunakan biasanya
berasal dari tanaman teh hijau, buah jeruk, orang-aring, pohon waru dan
berbagai bahan lain.

5. Bahan untuk Pijat dan Terapi

Minyak atsiri dari beberapa jenis bahan seperti minyak yang dihasilkan
dari tanaman kayu putih sangat bermanfaat untuk mengatasi berbagai masalah
keluhan badan seperti pegal, lelah , dan cedera ringan. Minyak atsiri juga bisa
digunakan untuk mengatasi beberapa keluhan lain seperti sulit tidur, demam,
mual, sakit kepala, membuat pikiran menjadi lebih tenang, dan mengatasi
gelisah. Karena itulah beberapa orang lanjut usia sering memakai bahan yang
mengandung minyak atsiri saat sore atau malam hari.

6. Bahan Krim untuk Kulit

Semua jenis krim alami yang digunakan untuk perawatan kulit biasanya
memakai bahan minyak atsiri sebagai komponen utama. Minyak atsiri
memiliki sifat yang bisa menenangkan dan membuat kulit menjadi lebih
santai. Produk yang menggunakan minyak atsiri biasanya tidak membuat efek
khusus untuk kulit sehingga sangat aman untuk digunakan.

Daftar Pustaka

RA Naibaho, 2010. Minyak atsiri atau dikenal juga dengan minyak eteris.Universitas
sumaterautara.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16902/4/Chapter
%20II.pdf. Diakses tanggal 20 Desember 2016 jam 19.00 WIB
Wa Fellytasarie, 2014. PDF (BAB II) minyak atsiri.
http://eprints.undip.ac.id/44625/4/BAB_II.pdf. diakses tanggal 20 desember
pukul 19.30 WIB

dokumen.tips, 2015. Makalah Minyak Atsiri Auto Saved) - Documents - Dokumen.tips.


http://dokumen.tips/documents/makalah-minyak-atsiri-auto-saved.html. diakses
tanggal 20 Desember 2016 pukul 20.30 WIB.

Novri Oksianus Harahap, 2015. Makalah Minyak Atsiri. Mbingboo29.


http://www.mbingboo29.com/2015/12/makalah-minyak-atsiri.html diakses
tanggal 20 Desember 2016 pukul 21.30 WIB.