Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pondok pesantren memiliki fokus dan memiliki banyak kegiatan
didalam ajarannya, yakni dengan pengajaran sistem pengajian atau
madrasah di dalam sebuah asrama yang dipimpin oleh seorang atau
beberapa orang kiai yang bersifat karistimatik serta independen. (Qomar,
2007). Fokus kegiatan di pondok pesantren yakni berfokus pada
pendidikan agama islam, santri di ajarkan untuk dapat memahami dan
menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama islam, sehingga
setelah keluar dari pondok pesantren, santri diharapkan dapat menerapkan
ke islamannya dalam kehidupan bermasyarakat, selama tinggal di pondok
pesantren santri diwajibkan untuk mengikuti segala kegiatan yang ada
dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok pesantren, tapi tak
sedikit juga santri melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok
pesantren dikarenakan kemampuan adaptasi yang kurang terhadap
kegiatan dan peraturan yang ada di pondok pesantren, permasalahan yang
sering terjadi pada santri baru yakni merasa tidak betah berada di
pesantren, kabur dari pesantren, bolos mengikuti pelajaran pesantren, serta
tidak mengikuti kegiatan-kegiatan di dalam pondok pesantren lainnya,
permasalahan ini disebabkan karena kondisi tidak nyamannya santri
berada di lingkungan pesantren, dan paksaan orang tua untuk masuk
pesantren pun menjadi penyebab santri tidak betah berada di lingkungan
pesantren, permasalahan seperti ini pun tak hanya terjadi pada santri awal
tetapi juga terjadi pada santri lama yang tinggal di pondok pesantren
dikarenakan sulitnya melakukan adaptasi, serta telah memahami
bagaimana seluk beluk lingkungan pesantren sehingga memudahkan
mereka untuk mencari celah kabur dari pondok (Setiawan, Kosasih, &
Komariah, 2015)
Hasil dari penelitian Anita (2015) diketahui sebanyak 60.77% santri
menunjukkan ketidakpatuhan terhadap aturan pondok pesantren yang
memiliki latar belakang masuk pondok pesantren karena permintaan orang
tua, sehingga santri kurang memiliki memiliki kesadaran dalam mematuhi
peraturan pondok pesantren, latar belakang lain yang menjadikan santri
tidak patuh terhadap peraturan pondok yakni daerah tempat tinggal santri
yang jauh dari pondok pesantren sebanyak 65.38% , hasil penelitian
fuadah (2011) siswa yang tinggal bersama kedua orang tua memiliki
tingkat kenakalan rendah dikarenakan mendapatkan pengawasan,
dukungan dan perhatian dari keluarga atau orang tua, sedangkan siswa
dengan tingkat kenakalan tinggi tidak mendapatkan pengawasan,
dukungan dan perhatian oleh keluarga atau orang tua. Dari hasil
pengambilan data awal di pondok pesantren Assaidiyyah Bahrul Ulum1
Tambak Beras Jombang, dari data pengawas pondok pesantren terdapat
santri yang kabur-kaburan serta tidak mengikuti kegiatan pondok, dan dari
data setahun terakhir terdapat 5 dari 55 santri yang memutuskan untuk
berhenti atau keluar dari pondok pesantren dengan alasan tidak betahnya
berada dilingkungan pondok pesantren.
Kemampuan adaptasi yang dimiliki seseorang menurut Roy dibagi
menjadi 3 hal yakni input, kontrol dan output, dimana input terdiri dari
stimulus fokal (stimulus internal) seperti fisiologis, perubahan konsep diri,
perubahan fungsi peran, atau perubahan dalam mempertahankan
keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan, yang kedua
stimulus kontekstual yaitu stimulus yang diterima individu baik internal
(karakteristik diri) ataupun eksternal (lingkungan, keluarga, teman,
masyarakat, dan petugas kesehatan), yang ketiga yaitu stimulus residual
contohnya keyakinan, sikap dan sifat individu yang berkembang sesuai
dengan pengalaman masa lalu. Aspek berikutnya yang mempengaruhi
kemampuan adaptasi menurut Roy yakni kontrol, atau koping regulator
dan kognator, dimana regulator adalah sistem kimiawi ,saraf, endokrin,
otak, dan medula spinalis yang diteruskan sebagai perilaku atau respon,
sedangkan kognator berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses
informasi, penilaian, dan emosi. Aspek yang terakhir menurut Roy yang
mempengaruhi kemampuan adaptasi seseorang adalah output yang berupa
sistem adaptif dan sistem maladaptif, dimana jika sistem adaptif maka
individu dapat meredakan atau menghilangkan stress, sebaliknya jika
sistem maladaptif maka akan memperburuk kesehatan dan memperbesar
potensi terjadinya sakit (Asmadi, 2008 & sholeh, 2006)
Kemampuan Adaptasi Santri di dalam Pondok Pesantren tidak pernah
di identifikasi di dalam lingkungan pondok pesantren karena pondok
pesantren hanya berfokus pada kegiatan keagamaan saja. Berdasarkan
permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk mempelajari faktor-faktor
yang berhubungan dengan kemampuan Adaptasi santri yang berada di
dalam pondok pesantren. Untuk memudahkan peneliti dalam
menganalisis, teori Model Adaptasi Roy dijadikan sebagai Acuan.

1.2 Rumusan Masalah


Faktor apa sajakah yang berhubungan dengan Kemampuan
Adaptasi pada Santri di Pondok Pesantren Assaidiyyah Tambak Beras
Jombang Jawa Timur ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
Kemampuan Adaptasi santri di Pondok Pesantren Assaidiyyah
Tambak Beras Jombang Jawa Timur berdasarkan teori Model Adaptasi
Roy.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menganalisis faktor input yang berhubungan dengan kemampuan
adaptasi santri di pondok pesantren
2. Menganalisis faktor kontrol yang berhubungan dengan dengan
kemampuan adaptasi santri di pondok pesantren
3. Menganalisis faktor output yang berhubungan dengan kemampuan
adaptasi santri dipondok pesantren
1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini merupakan aplikasi dari model adaptasi Roy. Apabila
seseorang dapat mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
kemampuan adaptasi, maka ia akan dapat menyesuaikan diri terhadap
lingkungan baru dan secara otomatis akan memberikan respon yang
adaptif.
2. Manfaat praktis
a. Bagi peneliti : mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan
kemampuan adaptasi santri di pondok pesantren.
b. Bagi pengelola pondok pesantren : membentuk kegiatan yang dapat
meningkatkan kemampuan Adaptasi santri sehingga dapat mencegah
terjadinya kenakalan santri.
c. Bagi perawat : Dapat memberikan masukan kepada pengelola pondok
pesantren untuk mengurangi respon maladaptif santri sehingga dapat
mencegah terjadinya tindakan yang mengancam jiwa dan mencegah
penurunan derajat kesehatan pada santri. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan tambahan bagi
pendidkan ilmu keperawatan terutama Keperawatan Anak dan
Keperawatan Jiwa yang bisa dijadikan referensi dalam proses belajar.