Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam sistem ekologi atau ekosistem terdapat kelompok kehidupan dari

berbagai jenis atau spesies yang saling berinteraksi sebagai suatu kesatuan hidup

yang seimbang. Hal tersebut dikarenakan di dalam hubungan interaksinya berlaku

asas atau prinsip yang meliputi keanekaragaman, kerjasama, persaingan,

kesinambungan, dan rantai kehidupan.


Bukan hanya sekedar itu alam yang kita huni bisa bekerja secara seimbang

karena bergantung pada pada aliran energi dan daur materi (mineral/biogeokimia).

Adanya saling ketergantungan menyebabkan di dalam ekosistem terjadi rantai makanan,

jaring-jaring makanan, aliran energi dan siklus biogeokimia. Pergerakan materi dan

energi melalui ekosistem saling berhubungan karena keduanya berlangsung

melalui transfer zat-zat melewati hubungan makan-memakan.


Berbicara mengenai proses makan dan dimakan tentu tak terlepas dari

konsep rantai makanan. Jika dipikirkan seandainya bila salah satu komponen

rantai makanan mati. Maka rantai makanan akan terputus. Komudian konsumen

puncak tidak memperoleh mangsa dan ada akhirnya mati kelaparan. Sebaliknya

bila predator dimusnahkan, mangsa akan berkembang biak dengan cepat. Kondisi

semacam itu akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam ekosistem.


Ketika terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Maka rantai makanan

yang menjadi jalur aliran energi. Tentu akan mengalami problematika ekosistem

akibat pengaruh energi yang mengalami perubahan. Dengan bertitik tolak pada

permasalahan mengenai aliran enegi, maka perlu pembahasan yang lebih

mendalam untuk menganalisa siklus energy tersebut. Lewat makalah ini.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang dimunculkan

ialah sebagai berikut :


1. Apa pengertian dari energi ?
2. Bagaimana cara kerja aliran energi/siklus energi ?
3. Apa keterkaitan energi dengan produktivitas ekosistem ?
4. Bagaimana rantai makanan dapat dikatakan sebagai jalur masuk aliran
energi ?
5. Bagaimana energi dapat hilang ?

1.3 Tujuan
Maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh penyusun dalam pembuatan

makalah ini adalah :


1. Mengentahui pengertian energi dan siklus energi.
2. Memahami keterkaitan energi dengan produktivitas ekosistem.
3. Menjelaskan rantai makanan dapat dikatakan sebagai jalur masuk

aliran energi.
4. Mengetahui faktor-faktor penyebab hilangnya energi.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini, ialah :
1. Agar dapat mengetahui siklus energi
2. Agar dapat menjelaskan konsep rantai makanan
3. Agar dapat mengetahui faktor-faktor penyebab hilangnya

energi pada rantai makanan.


4. Agar dapat menjelaskan hubungan antar komponen rantai

makanan dan jaring-jaring makanan pada suatu

ekosistem.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Energi


Energi berasal dari bahasa Yunani (en: dalam; ergon=kerja). Energi
didefinisikan sebagai kemampuan dalam melakukan usaha. Alasan
mengapa kita bisa bergerak, bekerja, dan berlari adalah karena kita memiliki
energi. Energi bagi manusia seperti aliran listrik pada baterai. Bila energi
berkurang tubuh menjadi lemas. Lantas, bagaimana bila manusia kehabisan
energi ?

Tahukah kalian apa sumber energi utama bumi? Sumber energi utama
bumi berasal dari cahaya matahari. Lalu bagaimana mungkin kita bisa
menggunakan cahaya matahari. Kita memang tidak bisa mengambilnya
langsung, tumbuhan yang menyimpannya untuk kita. Energi cahaya

3
matahari diubah tumbuhan menjadi energi kimia. Energi kimia tersebut
disimpan tumbuhan di dalam makanan. Jadi energi kita berasal dari
makanan yang kita makan.

Energi tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya dapat diubah dari satu
bentuk ke bentuk lainnya misalnya menjadi energi cahaya, energi listrik,
energi kimia, energi potensial, dll. Nah, maka dari kita perlu belajar tentang
proses perpindahan energi dari satu organisme ke organisme yang lain.
Tentu energi yang berpindah tersebut mengalami perubahan bentuk.

2.2 Siklus Energi (Aliran Energi)


Kalian tahu mengapa disebut aliran energi? Itu karena energi yang
mengalir dari sumber energi kekomponen biotis tidak kembali lagi ke
sumbernya (matahari). Energi cahaya matahari dikonversi tumbuhan
menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Energi kimia yang
disimpan dalam makanan oleh tumbuhan kemudian didistribusikan ke
konsumen I (herbivora) melalui proses rantai makanan. Karnivora
mendapatkan energi dengan memangsa herbivora. Detritivor dan pengurai
mendapatkan energi dari proses penguraian jasad mati makhluk hidup.
Amati gambar berikut ini.

4
Diadaptasi dari Sri Pujianto, 2011
Cahaya Matahari

90%
Terbuang
Dalam
Bentuk
Panas

Gambar 2.1 Aliran Energi

Matahari adalah penyedia energi paling besar bagi kehidupan bumi.


Walaupun demikian tidak semua energi cahaya mampu diserap klorofil
untuk menyusun bahan organik. Tumbuhan hanya mampu menyerap 0,01%
energi cahaya matahari. Energi cahaya yang ditangkap tumbuhan diubah
menjadi energi kimia dan disimpan sebagai bahan makanan.

Sekitar 10% energi produsen berpindah ke konsumen I melalui proses


rantai makanan. Konsumen I menggunakan energi tersebut untuk respirasi,
pertumbuhan, reproduksi, dan aktivitas lainnya dalam hidupnya. 10% energi
dari konsumen I berpindah ke konsumen II melalui predasi. Konsumen II
menggunakan energi sebagaimana yang terjadi pada konsumen I. Begitu
seterusnya hingga energi tersebut sampai pada konsumen puncak.
Energi yang terkandung dalam tubuh produsen maupun konsumen akan
dimanfaatkan oleh detritivor dan dekomposer jika produsen dan konsumen
mati. Detritivor dan dekomposer juga memperoleh sisa energi dari
penguraian zat buang pencernaaan organisme.

5
Konsep pembahasan siklus energi dan daur materi digambarkan dalam
skema berikut :

Gambar 2.2 Skema Aliran Energi dan Daur Biogeokimia

2.3 Keterkaitan Energi dengan Produktivitas Ekosistem


Energi yang masuk atau di serap suatu organisme tidak seluruhnya
digunakan untuk aktivitas tetapi ada sebagian yang disimpan. Pemasukan
dan penyimpanan energi dalam suatu ekosistem disebut produktivitas
ekosistem.
Produktivitas ekosistem dibagi menjadi dua yaitu produktivitas primer
dan produktivitas sekunder :
1. Produktivitas Primer
Produktivitas primer adalah kecepatan organisme autotrof menyimpan
dan mengubah energi cahaya matahari menjadi molekul organik.
Seluruh energi atau bahan organik yang dihasilkan dari fotosintesis
disebut dengan produktivitas primer kotor (PPK). Energi yang
dihasilkan tersebut tidak seluruhnya di simpan dalam tubuh tumbuhan.
Sebagian energi digunakan dalam proses respirasi. Jumlah energi yang

6
dihasilkan dari proses fotosintesis (PPK) dikurangi dengan energi yang
digunakan dalam aktivitas respirasi disebut produktivitas primer
bersih (PPB).

2. Produktivitas Sekunder
Produktivitas sekunder adalah kecepatan organisme heterotrof
mengubah energi kimia dari bahan organik yang dimakan menjadi
simpanan energi kimia baru di dalam tubuhnya. Energi kimia dalam
bahan organik yang berpindah dari produsen ke organisme heterotrop
(konsumen primer) dipergunakan untuk aktivitas hidup dan hanya
sebagian yang dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan di
dalam tubuhnya sebagai produktivitas bersih.

2.4 Rantai Makanan Sebagai Jalur Masuk Aliran Energi


Berbicara mengenai siklus/aliran energy tentu sangat
berkaitan erat dengan 3 hal ini yaitu : rantai makanan,
jarring-jaring makanan, dan piramida ekologi. Masing-
masing diantaranya saling berkesinambungan sejak dimulai
dari rantai makanan hingga dengan piramida ekologi.
a. Rantai Makanan
Rantai makanan yaitu peristiwa makan dan dimakan
pada suatu urutan tertentu. Dalam proses rantai makanan
terjadi perpindahan energi dari mulai sinar matahari yang
energinya diserap tumbuhan (produsen), kemudian dimakan
konsumen tingkat pertama (hewan herbivore). Setelah itu,
aliran energi ini dipindahkan dan melewati rentetan
organism yang memakan hewan sebelumnya dan dimakan
hewan berikutnya sebagai penyedia energi dan zat hara.

Sehingga dapat dikatakan bahwa rantai makanan


menjadi jalur masuk aliran energi bagi makhluk hidup.
Energi tersebut berasal dari matahari yang diubah oleh

7
organisme autotrof (pembuat makanan) seperti
tumbuhan menjadi energi kimia (dalam batang, buah, daun,
dll). Sementara itu organisme heterotrof (tak mampu
membuat makanan sendiri) memperoleh energi dengan
memakan organisme autotrof.

Gambar 2.3 Rantai Makanan

Ilustrasi singkat dari rantai makanan dapat disimak dari gambar :


Berdasarkan rantai makanan tersebut bunga berperan sebagai produsen,
kupu-kupu berperan sebagai konsumen I, katak berperan sebagai konsumen
II, ular berperan sebagai konsumen III, dan elang berperan sebagai
konsumen IV. Dari rantai makanan tersebut dapat kita gambarkan peristiwa
yang akan terjadi jika salah satu komponen dalam rantai makanan tersebut
tidak ada atau hilang. Misalkan pada rantai makanan di atas konsumen I
(kupu-kupu) tidak ada atau hilang, maka konsumen II (katak) akan
terganggu keseimbangannya karena tidak mendapatkan makanan.
Sebaliknya produsen (bunga) akan melimpah karena tidak ada yang
memakannya. Siklus dalam rantai makanan dapat berjalan seimbang apabila
semua komponen tersedia. Apabila salah satu komponen, misalnya
konsumen I tidak ada, maka akan terjadi ketimpangan dalam urutan makan
dan dimakan dalam rantai makanan tersebut. Agar rantai makanan dapat
berjalan terus menerut maka jumlah produsen harus lebih banyak daripada
konsumen I. Jumlah konsumen I harus lebih banyak daripada jumlah
konsumen II dan seterusnya. Kumpulan dari beberapa rantai makanan akan
membentuk jaring-jaring makanan.
b. Jaring-Jaring Makanan

8
Gambar 2.4 Jaring-Jaring Makanan

Dalam suatu ekosistem umumnya tidak hanya terdiri dari satu rantai
makanan, akan tetapi banyak rantai makanan. Tumbuhan hijau tidak hanya
dimakan oleh satu organisme saja, tetapi dapat dimakan oleh berbagai
konsumen primer. Misalnya: bunga sepatu daunnya dimakan ulat, ulat juga
makan daun sawi. Daun sawi juga dimakan belalang, belalang dimakan
katak dan burung pipit, burung pipit juga makan ulat, burung pipit dimakan
burung elang. Daun sawi juga dimakan oleh tikus, tikus dimakan oleh
burung elang. Akibatnya dalam suatu ekosistem tidak hanya terdapat satu
rantai makanan saja tetapi banyak bentuk rantai makanan. Rantai-rantai
makanan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain disebut
jaring-jaring makanan.
c. Piramida Ekologi
Hubungan organisme pada tingkat trofik ekosistem
digambarkan dalam bentuk piramida. Semakin ke atas
bentuk piramida semakin mengecil. Inilah yang disebut
dengan piramida ekologi. Piramida ekologi adalah
piramida abstrak yang menunjukkan hubungan struktur

9
trofik dan fungsi trofik komponen-komponen biotis
ekosistem. Amati gambar piramida ekologi di bawah ini.

Gambar 2.5 Piramida Ekologi


Di
dalam
piramida
ekologi produsen (tingkat trofik I) selalu berada di bagian
dasar piramida. Konsumen primer (tingkat trofik II) berada
tepat di atas produsen dan konsumen sekunder (tingkat
trofik III) berada di bagian atas konsumen primer. Kalian bisa
amati bahwa semakin tinggi tingkat trofik suatu organisme
semakin sedikit proporsinya di lingkungan.

2.5 Faktor Penyebab Hilangnya Energi


Coba perhatikan kembali gambar 2.1 di atas. Berapa banyak energi
yang dapat ditransfer dari produsen ke konsumen? Benar sekali, hanya 10%
energi yang ditransfer. Konsumen II juga hanya memperoleh 10% dari
konsumen I. Energi yang dialirkan dari satu tingkat trofik ke tingkat trofik
berikutnya terus mengalami penurunan. Ini berarti semakin panjang rantai
makanan semakin sedikit energi yang tersisa bagi konsumen puncak. Itulah
mengapa jumlah konsumen puncak di bumi sangat terbatas. Konsumen
puncak hanya menikmati sepersekian persen dari energi yang dihasilkan
produsen.

10
Sekarang kalian tahu bahwa jumlah energi yang ditransfer dari tiap
trofik hanya 10%.
Pertanyaannya, ke manakah 90% sisa energi dialirkan? Sebagian besar
energi tersebut terbuang ke alam dalam bentuk panas. Makhluk hidup
ternyata tidak mampu menggunakan seluruh energi yang tersedia secara
optimal. Mengapa demikian? Setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan
hilangnya energi dalam suatu proses ini, yaitu:
a. Populasi konsumen tidak dapat memanfaatkan seluruh sumber makanan
yang ada.
b. Ketidaksempurnaan dalam proses pencernaan makanan.
c. Gerakan serta respirasi menyebabkan energi hilang dalam bentuk panas.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat dipetik dari pembahasan masalah ini, yaitu :

a. Energi berasal dari bahasa Yunani (en: dalam; ergon=kerja). Energi

didefinisikan sebagai kemampuan dalam melakukan usaha.


b. Disebut sebagai aliaran energi karena energi yang mengalir dari

sumber energi kekomponen biotis tidak kembali lagi ke sumbernya

(matahari).
c. Pemasukan dan penyimpanan energi dalam suatu ekosistem disebut

produktivitas ekosistem.
d. Rantai makanan yaitu peristiwa makan dan dimakan pada suatu urutan

tertentu.
e. Rantai-rantai makanan yang saling berhubungan antara satu dengan

yang lain disebut jaring-jaring makanan.


f. Piramida ekologi adalah piramida abstrak yang menunjukkan

hubungan struktur trofik dan fungsi trofik komponen-komponen biotis

ekosistem.
g. Ada 3 faktor yang menyebabkan hilangnya energi dalam suatu proses

ini, yaitu:
1. Populasi konsumen tidak dapat memanfaatkan seluruh sumber

makanan yang ada.


2. Ketidaksempurnaan dalam proses pencernaan makanan.
3. Gerakan serta respirasi menyebabkan energi hilang dalam bentuk

panas.

3.2 Saran

12
Demi mewujudkan keseimbangan ekosistem atau ekologi. Maka rantai
makanan yang telah berjalan secara beruntun. Tidak diganggu oleh beberapa
hal yang akan membuat salah satu komponen rantai makanan dapat mati.
Hingga rantai makanan tersebut dapat menjadi terputus. Sehingga sebagai
manusia yang menginginkan keseimbangan tersebut. Hendaklah terus
menjaga alam sekitar terutama hutan. Yang terkadang menjadi sasaran para
penebang pohon yang sembrono, pemburu hewan liar, dll. Agar energi yang
ada berada pada porsi yang semestinya. Jaga alam kita dengan sebijak-
bijaknya.

DAFTAR PUSTAKA

13
Anonim. Makalah Aliran Energi dan Siklus Biogeokimia.(http://Makalah
Aliran Energi dan Siklus Biogeokimia - Skypiea.htm. diakses 15 Februari
2016).

Anonim. Aliran Energi Dan Daur Biogeokimia.(http://ALIRAN ENERGI DAN


DAUR BIOGEOKIMIA BIOSMADA.htm. diakses 20 Februari 2016).

Campbell, Neil A. 2000. Biologi. Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Hartono. 2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung : Citra Praya.

14