Anda di halaman 1dari 9

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES


PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES

KULON PROGO YOGYAKARTA

NOMOR : TAHUN 2015

TENTANG

PANDUAN PUSAT PENANGANAN KRISIS TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK


(PPKPA) DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES KULON PROGO YOGYAKARTA

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES KULON PROGO YOGYAKARTA,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang


berkualitas pada masyarakat diperlukan suatu system yang dapat bekerja secara
efektif, efisien dan berkualitas;

b. bahwa dalam rangka memberikan pelayanan bagi korban kekerasan


berbasis gender dan anak, pelaksanaannya perlu dilakukan secara terpadu
oleh instansi atau lembaga terkait berdasarkan standarisasi operasional
prosedur;

c. bahwa sebagaimana maksud pada huruf a dan b perlu adanya panduan


pusat penanganan krisis terhadap perempuan anak di rumah sakit umum
daerah wates kulon progo yogyakarta yang ditetapkan dan ditetapkan dan
diatur dengan peraturan direktur.

Mengingat : 1. Undang undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan;

2. undang undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 tentang


penyelenggaraan dan kerjasama pemulihan korban kekerasan dalam rumah
tangga;

4. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor. 3 Tahun 2009 tentang


penyelenggaran pelayanan terpadu Korban Kekerasan Berbasis Gender dan
Anak;

5. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang


Organisasi dan Tata kerja Rumah Sakit Umum Daerah dan Rumah Sakit
Jiwa Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 nomor 8 seri D nomor 4
Tambahan (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Terah Nomor 14);

6. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 95 Tahun 2008 Tentang


Penjabaran Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum
Daerah Tugurejo Provinsi Jawa Tengah;

7. Peraturan Gubernur Nomor 460.05/110/2003 tahun 2003 tentang


pembentukan tim penanggulangan krisis untuk perempuan dan anak korban
tindak kekerasan Provinsi Jawa Tengah;
8. Peraturan Gubernur Nomor 76 Tahun 2006 tentang pembentukan komisi
perlindungan perempuan dan anak Provinsi Jawa Tengah;

9. Peraturan Gubernur Nomor 106 Tahun 2008 Tentang standart operasional


prosedur dan mekanisme kerja pelayanan terpadu bagi korban kekerasan
berbasis gender dan anak di Jawa Tengah.

10. Keputusan Gubernur No. 411/91/2009 tanggal 16 November 2009


tentang Pembentukan Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Berbasis
Gender dan Anak Provinsi Jwa Tengah dan Perbaikan Struktur Organisasi
PPKPA menyesuaikan keputusan Gubernur tersebut;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH WATES KULON PROGO YOGYAKARTA

TENTANG PANDUAN PUSAT PENANGANAN KRISIS TERHADAP


PEREMPUAN DAN ANAK (PPKPA) DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH
WATES KULON PROGO YOGYAKARTA

Pasal 1

Panduan pusat penanganan krisis terhadap perempuan dan anak (PPKA)


di Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo Yogyakarta
sebagaimana tercantum dalam Lampiran ini merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Direktur ini.

Pasal 2

Panduan Pusat Penanganan Krisis Terhadap Perempuan dan Anak


(PPKA) di Rumah Sakit Umum Daerah Wates sebagaimana dimaksud
dalam pasal 1 harus dijadikan acuan dalam memberikan pelayanan
kepada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rumah Sakit
Umum Daerah Wates Kulon Progo Yogyakarta

Pasal 3

Peraturan Direktur ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Kulon Progo


Pada tanggal : 1 Juli 2015

DIREKTUR RSUD WATES


KABUPATEN KULONPROGO

LIES INDRIYATI
Lampiran : PERATURAN DIREKTUR RSUD
WATES KABUPATEN KULON PROGO
TENTANG PANDUAN PUSAT
PENANGANAN KRISIS TERHADAP
PEREMPUAN DAN ANAK (PPKA)
DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH
WATES KABUPATEN KULON PROGO

NOMOR : TAHUN 2015

PANDUAN PUSAT PENANGAN KRISIS

TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK (PPKA)

BAB I

DEFINISI
Kekerasan terhadap perempuan (Ktp) adalah segala bentuk tindak kekerasan
berbasis gender yang berakibat, atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik,
seksual, mental, atau penderitaan terhadap perempuan, termasuk ancaman dari
tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan semena mena kebebasan, baik yang
terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap


seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga
termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hokum dalam lingkup rumah tangga.

Kekerasan terhadap anak (KtA) adalah semua bentuk tindakan / perlakuan


menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, trafficking,
penelantaran, eksploitasi seksual komersial anak (ESKA) yang mengakibatkan cidera /
kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak
atau martabat anak yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab,
kepercayaan atau kekuasaan.

Kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan untuk melukai, menyiksa atau
menganiaya orang lain, dengan menggunakan anggota, tubuh pelaku (tangan,kaki)
atau dengan alat lain.

Kekerasan fisik anak adalah kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata
atau potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi
yang layaknya ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan posisi
tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.

Kekerasan seksual adalah kekerasan yang bernuansa seksual, termasuk


berbagai perilaku yang tidak diinginkan dan mempunyai makna seksual yang disebut
pelecehan seksual, maupun berbagai bentuk pemaksaan hubungan seksual yang
disebut perkosaan.
Kekerasan seksual anak adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, dimana
ia sendiri tidak sepenuhnya memahami atau tidak mampu memberi persetujuan, yang
ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak
lain dengan tujuan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut.

Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya


rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan / atau
penderitaan psikologis berat pada seseorang.

Kekerasan psikis anak adalah suatu perbuatan terhadap anak yang


mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau
perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan social, misalnya pembatasan gerak,
sikap tindak yang meremehkan, mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengancam,
menakut nakuti,

Mendiskriminasi, mengejek atau mentertawakan anak, atau perlakuan kasar lain atau
penolakan.

Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang


dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, seperti kesehatan, pendidikan,
perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernaung, serta keadaan hidup
yang aman dan layak.

Eksploitasi perempuan dan anak adalah penggunaan anak dan perempuan


dalam pekerjaan atau aktivitas lain untuk keuntungan orang lain, termasuk pekerjaan
perempuan dan / anak serta prostitusi.

Konseling adalah hubungan yang saling membantu antara konselor/petugas


konseling dan klien hingga tercapai komunikasi yang baik dan pada saatnya
konselor/petugas konseling dapat menawarkan dukungan, keahlian dan
pengetahuannya secara berkesinambungan hingga klien dapat mengerti dirinya sendiri
serta permasalahannya yang dihadapinya dengan lebih baik dan selanjutnya menolong
dirinya sendiri dengan bantuan beberapa aspek dari kehidupannya.

Kekerasan ekonomi adalah kekerasan dalam bentuk penelantaran ekonomi


dimana tidak diberi nafkah secara rutin atau dalam jumlah yang cukup, membatasi
dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau diluar rumah sehingga
korban dibawah kendali orang tersebut.

Pesat pelayanan terpadu (PPT) / Pusat Krisis Terpadu (PKT) adalah tempat
dilaksanakannya pelayanan kepada korban kekerasan baik di rumah sakit umum
pemerintah dan swasta termasuk rumah sakit POLRI, secara komprehensif oleh
multidisiplin dibawah satu atap.

Jejaring adalah suatu hubungan kerjasama antara 2 pihak atau lebih


berdasarkan prinsip kemitraan untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati
sesuai peran, tanggung jawab dan fungsi masing-masing.

Perdagangan orang / trafiking adalah tindakan perekrutan, pengangkatan,


penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman
kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,
penyalahgunaan atau manfaat, sihingga memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan didalam Negara
maupun antar Negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang
tereksploitasi.
BAB II

RUANG LINGKUP
Smua korban kekerasan terhadap perempuan dan anak akan dilakukan
pemeriksaan awal di IGD. Ruang pemeriksaan memiliki privasi, dengan kata lain ruang
pemeriksaan untuk korban tidak bercampur dengan pasien IGD yang lain.

Apabila korban harus dirawat inap, bangsal yang digunakan adalah bangsal
kelas 1 diruang alamanda, dimana satu kamar terdiri dari dua bed yang khusus untuk
sesama korban. Sehingga apabila hanya ada satu korban maka kamar akan ditempati
korban sendiri.

Adapun korban korban yang termasuk dalam PPKA antara lain adalah
perempuan dan anak korban :

KDRT

Perkosaan

Pelecehan Seksual

Trafiking

Korban anak disini tidak hanya anak perempuan tetapi juga korban anak laki
laki dan pelaku yang masih anak.

BAB III

TATA LAKSANA
Standar pelayanan kesehatan dalam penanganan kasus KtP/A agak berbeda
dengan standar pelayanan kesehatan pada umumnya. Selain mencakup aspek
pelayanan medis secara komprehensif, juga harus mencakup aspek pelayanan
medikolegal dan psikososial, sehingga penanganan tidak mungkin dikerjakan sendiri
dan harus bekerjasama dengan lintas program dan sector terkait melalui jejaring.

Upaya pelayanan kesehatan terhadap korban KtP/A meliputi promotif, preventif,


kuratif dan rehabilitative.Upaya promotif dan preventif bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan tentang hak hak perempuan dan anak, meningkatkan kesadaran
masyarakat tergadap dampak tindakan KtP/A, meningkatkan kemampuan
mengendalikan emosi untuk tidak melakukan tindakan kekerasan serta upaya
memperoleh akses pelayanan kesehatan yang diperlukan.Upaya kuratif bertujuan untuk
pengobatan, sedangkan upaya rehabilitatif bertujuan untuk pemulihan.

Dalam pelayanan kesehatan terhadap tindak kekerasan sering kali tenaga


kesehatan bersentuhan dengan masalah hukun, sehingga mereka harus memahami
kaidah hokum yang berlaku di Indonesia.Pemahaman ini diharapkan dapat membantu
tenaga kesehata dalam menangani masalah kesehatan sesuai kompetensinya
sekaligus dapat membantu penegakan hokum.Selain itu tenaga kesehatan juga harus
yakin bahwa setiap tindakan yang dilakukan terhadap kasus KtP/A didukung oleh
hokum formal sebagai perlindungan untuk mencegah tuntutan hokum dikemudian hari.

Dalam penanganan kasus KtP/A hal hal yang perlu diperhatikan :

- Merahasiakan identitas pelapor demi keamanannya


- Lindungi korban dari pelaku dan upaya bunuh diri
- Laporkan kejadian kekerasan kepada pihak yang berwenang dengan
persetejuan korban. Bila terdapat ancaman pembunuhan, ancaman terhadap
anak atau wajib lapor lainnya, tenaga kesehata dapat melaporkan kasusnya
tanpa harus minta persetujuan.
- Penanganan medis komprehensif
- Perhatikan kondisi keluarga demi keamanan korban
- Rujuk ke jejaring untuk pendampingan paripurnadan penanganan aspek non
medis
- Dahulukan kepentingan terbaik bagi anak, baik sebagai korban maupun pelaku.
Sanksi hokum terhadap pelaku, hanya bisa dilakukan sebagai pilihan terakhir.
Langkah langkah penanganan kasus KtP/A dikenal dengan istilah RADAR

Recognize : Kenali kemungkinan kekerasan


Ask & Listen : tanyakan secara langsung dan dengarkan dengan empati
Discuss options : bicarakan berbagai hal
Assess : nilai kemungkinan adanya bahaya
Refer to other : rujuk ke lembaga atau kelompok yang membantu

Aspek medis pada kasus KtP/A terdiri dari :


a. Pemeriksaan Medis
b. Pemeriksaan Status Mental
c. Pemeriksaan Penunjang
d. Penatalaksanaan Medik

1. Anamnesis

- Anamnesis diperoleh secara cermat baik dari pengantar maupun korban dengan
menggunakan ruang tersendiri dan harus dijamin kerahasiaanya.
- Bila memungkinkan anamnesis terhadap korban dan pengantar dilakukan secara
terpisah.
- Lengkapi rekam medis dengan identitas dokter pemeriksa, pengantar korban,
tanggal, tempat dan waktu pemeriksaan serta identitas korban, terutama umur
dan perkembangan seksnya serta hubungan seks terakhir, siklus haid terakhir,
dan apakah masih haid saat kejadian.
- Konfirmasi ulang urutan kejadian, aapa yang menjadi pemiicu, penyiksaan apa
yang telah terjadi, oleh siapa, dengan menggunakan apa, berapa kali, apa
akibatnya terhadap korban.
- Gali informasi tentang :
Keadaan kesehatan sebelum trauma
Adakah riwayat trauma seperti ini sebelumnya
Adakah riwayat penyakit dan perilaku seperti ini sebelumnya
Adakah Faktor factor social budaya ekonomi yang berpengaruh ppada
perilaku didalam keluarga

Pada kasus kekerasan seksual, ditambah dengan pertanyaan tentang hal hal
sebagai berikut :

Waktu dan lokasi kejadian, ada tidaknya kekerasan sebelum kejadian, segala
bentuk kegiatan seksual yang terjadi, termasuk bagian-bagian tubuh yang
mengalami kekerasa, ada tidaknya penetrasi, serta dengan apa penetrasi
dilakukan.
Apa yang dilakukan korban setelah kejadian kekerasan, apakah korban
mengganti pakaian buang air kecil, membersihkan bagian kelamin/dubur,
mandi atau gosok gigi
Kemungkinan adanya hubungan seksual dua minggu sebelumnya
Riwayat penggunaan kontrasepsi
2. Pemeriksaan fisik

- Dilakukan pemeriksaan fisik yang menyeluruh dengan ramah dan sopan


- Lakukan pemeriksaan keadaan umum, kesadaran dan tanda tanda vital
- Perhatikan apakah ada luka lama dan baru yang sesuai urutan kejadian
peristiwa kekerasan yang dialami
Pada kasus kekerasan seksual perlu dilakukan pemeriksaan :
- Tanda-tanda perlawanan atau kekerasan seperti gigitan, cakaran, ekimosis,
hematom dan perhatikan kesesuaian tanda kekerasan dengan riwayat kejadian.
- Bila pada tubuh korban ditemukan adanya kerak, kerok dengan skalpel,
masukan dalam amplop dan bubuhkan label identitas
- Bila terdapat bercak basah, ambil dengan usapan lidi kapas kemudian keringkan
dan masukan dalam amplop. Periksa tanda-tanda lecet pada pelatum, bila
dicurigai terjadi persetubuhan oral secara paksa, jika dimungkinkan dapat
dilakukan swab laring.

Pemeriksaan fisik pada korban meliputi :

Rambut pubis disisir, rambut yang lepas mungkin milik pelaku (dimasukkan
dalam amplop)
Periksa adanya luka didaerah sekitar paha, vullva dan perineum. Catat jenis
luka, lokasi, bentuk, dasar dan tepi luka.
Periksa saluran vagina dan selaput dara, pada selaput dara tentukan ada
tidaknya robekan-robekan baru dan lama, lokasi robekan dan teliti apakah
sampai dasar atau tidak.
Lakukan swab vagina pada forniks posterior bila kejadiannya kurang dari 72 jam

- Pemeriksaan dubur

o Pada korban yang sudah sering mendapat perlakuan sodomi, dubur


terlihat berbentuk corong
o Pada korban yang baru pertama kali / belum sering mendapat perlakuan
sodomi, lakukan pemeriksaan colok dubur dengan menggunakan jari
untuk mengetahui kekuatan shyngter ani
o Untuk melihat luka baru dan gambaran rugae gunakan anuskop

B. Pemeriksaan status mental

Kekerasan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, korban yang membutuhkan


daya adaptasi yang luar biasa dan menimbulkan distress serta gejala-gejala pasca
trauma. Gejala-gejala yang muncul antara lain :

- Ketakutan
o Takut akan reaksi keluarga maupun teman teman
o Takut orang lain tidak akan mempercayai keterangannya
o Takut diperiksa oleh dokter pria
o Takut melaporkan kejadian yang dialaminya
o Takut terhadap pelaku
o Reaksi emosional lain, seperti syok, rasa tidak percaya, marah, malu,
menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung, histeris yang menyebabkan sulit
tidur (insomnia), hilang nafsu makan, mimpi buruk, selalu ingat peristiwa
itu

- Siaga berlebihan (mudah kaget, terkejut dan cemas)


- Panik
- Berduka (perasaan sedih terus menerus)

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam wawancara psikiatrik pada korban KtP/A :

- Menjadi pendengar yang baik selama berkomunikasi


- Mampu berempati
- Bila perlu, buat rekaman proses wawancara
- Hindari mengulang ulang pertanyaan yang sama atau memberi beberapa
pertanyaan sekaligus
- Hindari pertanyaan yang menggiring atau mengarahkan jawaban tertentu
- Ulangi pertanyaan dengan format berbeda untuk menilai konsistensi jawaban
- Ulangi jawaban untuk meyakinkan bahwa pemeriksa mengerti apa yang
dikemukakan korban.
- Jangan memberikan pertanyaan yang akan menambah trauma

C. Pemeriksaan penunjang

- Rontgen dan USG


- Pemeriksaan laboratorium : darah dan urin rutin
Untuk kasus kekerasan seksual perlu dilakukan tambahan pemeriksaan
penunjang :
- Penapisan (screening) penyakit kelamin
- Tes kehamilan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kehamilan
- Pemeriksaan mikroskopik adanya sperma dengan menggunakan NaCI. Apabila
diperlukan, dilakukan pengambilan darah dan urin untuk pemeriksaan
kandungan HAPZA

D. Penatalaksanaan medis

- Tangani kegawatdaruratan yang mengancam nyawa terlebih dahulu


- Tangani luka sesuai kondisi
- Bila dicurigai terdapat patah tulang, lakukan rontgen dan penanganan yang
sesuai
- Bila dicurigai terdapat perdarahan dalam, lakukan USG
- Pastikan keamanan korban
- Periksa dengan teliti dan lakukan pencatatan
- Jika ditemukan masalah gangguan mental, lakukan konseling

Pada kasus kekerasan seksual, dengan tambahan :

- Periksa / cegah kehamilan


- Berikan kontrasepsi darurat yaitu kontrasepsi yang dapat mencegah
kehamilan bila digunakan sebelum 72 jam setelah perkosaa, setelah
dilakukan inform consent
- Periksa, cegah dan obati infeksi menular seksual
- Berikan konseling untuk pemeriksaan HIV/AODS dalam 6-8 minggu

BAB IV
DOKUMENTASI
Pendokumentasian semua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak
dituangkan dalam catatan rekam medis.Terdapat rekam medis khusus untuk korban
kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tersedia di IGD. Rekam medis untuk
kasus korban KtP/A ini hanya ada di IGD dan harus dilengkapi di IGD.
Untuk kasus korban KtP/A yang memerlukan rawat inap maka rekam medis yang
digunakan sama seperti kasus kasus pasien rawat inap yang lain.
Apabila korban sudah diperbolehkan pulang, status rekam medis di tempatkan
dogudang rekam seperti halnya pasien pasien yang lain.

DIREKTUR RSUD WATES


KABUPATEN KULON PROGO,

LIES INDRIYATI