Anda di halaman 1dari 11

PEMBUATAN BIOETANOL DARI JERAMI PADI

DENGAN METODE OZONOLISIS SIMULTANEOUS


SACCHARIFICATION AND FERMENTATION (SSF)
Novia *, Astriana Windarti, Rosmawati
*Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Palembang-Prabumulih KM. 32 Indralaya-Ogan Ilir 30662

Abstrak

Jerami padi dapat di manfaatkan untuk pembuatan energi alternatif. Hal ini dikarenakan jerami padi
mengandung lignosellulosa yang merupakan bahan baku bioetanol generasi-2. Proses hidrolisis dan
fermentasi untuk memproduksi bioetanol biasanya dilakukan secara terpisah atau disebut Separate
Hydrolysis and Fermentation (SHF). Namun proses tersebut masih kurang efektif karena dilakukan dalam
dua buah reaktor dan tidak dilakukan secara berkelanjutan atau simultan. Untuk mengatasi masalah ini,
dilakukan proses Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF). Kelebihan proses ini tanpa
melalui tenggang waktu yang lama, dilakukan dalam satu reaktor sehingga dapat menghemat biaya.
Pretreatment yang dilakukan untuk menguraikan senyawa lignin yang mengikat selulosa adalah proses
alkaline pretreatment dan ozonolisis. Ozon dapat digunakan untuk mendegradasi lignin dan hemiselulosa
pada kebanyakan bahan-bahan biomassa seperti residu hasil pertanian, bagas, jerami, batang jagung,
potongan kayu. Metode ini meningkatkan kecepatan hidrolisis enzim. Proses ini juga sangat efektif
menyisihkan lignin dan proses tidak menghasilkan residu beracun. Pada penelitian ini variabel yang
digunakan adalah lamanya waktu tinggal proses Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF)
dan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae. Waktu tinggal yang digunakan mulai dari 3, 4, 5, 6 dan 7
hari. Sedangkan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae yang digunakan adalah 10%; 20%; 30%; dan
40%. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapat kadar etanol yang tertinggi 5,65336% dengan waktu
tinggal 7 hari dan konsentrasi ragi saccharomyces cereviceae 40%.

Kata kunci : Bioetanol, Jerami Padi, Ozonolisis, Simultaneous Saccharification and Fermentation
(SSF).

Abstract

The rice straw can be utilized to an alternative energy such as bioethanol. This is due to the rice straw
contained the lignosellulose as raw material the second generation of bioethanol. Hydrolysis and
fermentation process to produce bioethanol is usually done separately called Separate Hydrolysis and
Fermentation (SHF). However, this process is less effective since it was carried out in two reactors. To
overcome this problem, the Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) was chosen. The
advantages of this process are the short period of Saccharification and Fermentation, occuring in one
reactor and saving the production cost. The pretreatment used to decompose the lignin with alkaline
pretreatment process and ozonolysis. Ozone can be used to degrade lignin and hemicellulose in the
biomass materials such as agricultural residues, bagasse, straw, corn stalks, wood chips. This method can
increase the speed of enzymatic hydrolysis. It is very effective to decompose the lignin due to no toxic
residue. In this research, the variable used are the residence time of SSF, the concentration of yeast
Saccharomyces cereviceae . The residence time used was from 3, 4, 5, 6 and 7 days. While the yeast
Saccharomyces cereviceae concentration used was 10 % ; 20 %, 30 % and 40 %. The results showed the
highest levels of bioethanol is about 5.65336 % with a residence time of 7 days and the concentration of
the yeast Saccharomyces cereviceae of 40 %.

Key Words : Bioethanol, Ozonolysis, Rice straw, Simultaneous Saccharification and Fermentation
(SSF).

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 38


1. PENDAHULUAN membantu mengatasi permasalahan lingkungan
seperti polusi air, udara, dan tanah (Noordwijk,
Kebutuhan energi dari bahan bakar minyak 2003).
bumi (BBM) di berbagai negara di dunia dalam Salah satu faktor penentu harga produksi
tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang bioetanol dari biomassa limbah agroindustri
sangat tajam. Tidak hanya pada negara - negara adalah harga enzim pendegradasi biomassa yang
maju, tetapi juga di negara berkembang seperti mengandung selulosa dan hemiselulosa [Yinbo et
Indonesia. Untuk mengantisipasi terjadinya krisis al, 2006]. Komponen terbesar polisakarida dalam
bahan bakar minyak bumi (BBM) pada masa yang biomassa adalah selulosa dan hemiselulosa,
akan datang, maka perlu dikembangkan sehingga untuk memecah komponenkomponen
pemanfaatan bioenergi sebagai sumber energi tersebut diperlukan enzim yang spesifik. Proses
terbarukan. hidrolisis dan fermentasi untuk memproduksi
Salah satu energi alternatif yang mulai bioetanol biasanya dilakukan secara terpisah, atau
dikembangkan baik di Indonesia maupun di Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF).
berbagai negara di dunia adalah biofuel. Bioetanol Namun proses tersebut masih kurang efektif
merupakan salah satu jenis biofuel ramah karena dilakukan dalam dua buah reaktor dan
lingkungan dan berasal dari biomassa yang tidak dilakukan secara berkelanjutan atau
dikembangkan dengan teknologi bioproses. simultan. Untuk mengatasi masalah ini, dilakukan
Namun, saat ini sebagian besar produsen bioetanol proses Simultaneous Saccharification and
masih menggunakan bahan baku yang Fermentation (SSF). Kelebihan proses ini tanpa
mengandung gula dan pati dan bersumber dari melalui tenggang waktu yang lama, dilakukan
bahan pangan. Hal tersebut akan berdampak buruk dalam satu reaktor sehingga dapat menghemat
bagi penyediaan kebutuhan pangan. Untuk biaya.
menghindari hal tersebut, maka perlu
dikembangkan teknologi yang mampu Jerami Padi
memproduksi bioetanol dari biomassa limbah Padi merupakan tumbuhan monocotyl yang
agroindustri yang memiliki banyak lignoselulosa. tumbuh di daerah tropis. Tanaman padi yang telah
Penggunaan biomassa limbah agro industri untuk siap panen akan diambil butiran butirannya,
memproduksi bioetanol juga mengurangi biaya sementara batang serta daunnya akan dibuang.
proses pengolahan biomassa sebelum dibuang ke Batang dan daun inilah yang disebut dengan
lingkungan dan dapat mengurangi masalah jerami. Jerami merupakan salah satu limbah
pencemaran lingkungan [Gomez et al, 1995]. pertanian yang belum dimanfaatkan secara
Jerami padi merupakan salah satu bahan optimal. Selama ini jerami padi digunakan untuk
baku pembuatan bioetanol generasi-2 karena pakan ternak dan media tumbuh jamur. Meskipun
mengandung selulosa. Selama ini pemanfaatan demikian jerami masih berlimpah dan terkadang
limbah jerami belum optimal, biasanya jerami harus dibakar. Sebatang jerami yang telah
digunakan untuk pakan ternak dan sisanya dirontokkan gabahnya terdiri atas
dibiarkan membusuk atau dibakar. Hal ini akan (http://www.scribd.com/doc/120147579/Biomass-
menghasilkan polutan (CO2, NOx, SOx) yang Wes-Ringkes) :
dapat merusak lingkungan dan penyumbang gas 1. Batang (lidi jerami)
rumah kaca. Oleh karena itu sebaiknya jerami padi Bagian batang jerami kurang lebih sebesar lidi
diolah menjadi bioetanol. kelapa dengan rongga udara memanjang di
Produksi jerami padi dapat melimpah dalamnya.
tergantung pada variasi lokasi dan varietas 2. Ranting jerami
tanaman padi yang digunakan. Salah satu bahan Ranting jerami merupakan tempat dimana
yang dapat dihasilkan dari jerami padi ini adalah butiran butiran menempel. Ranting jerami ini
bioetanol. Hal ini dikarenakan jerami padi lebih kecil, seperti rambut yang bercabang
mengandung selulosa. Selulosa merupakan cabang meskipun demikian ranting jerami
komponen utama yang terkandung dalam dinding mempunyai tekstur yang kasar dan kuat.
sel tumbuhan dan mendominasi hingga 50% berat 3. Selongsong jerami
kering tumbuhan. Jerami padi diketahui memiliki Selongsong jerami adalah pangkal daun pada
kandungan selulosa yang tinggi, mencapai 34.2% jerami yang membungkus batang atau lidi
berat kering, 24.5% hemiselulosa dan kandungan jerami.
lignin hingga 23.4%.(Yulianto, 2009) Jerami merupakan golongan kayu lunak yang
Produksi bioetanol dari limbah tidak mempunyai komponen utama selulosa. Selulosa
membutuhkan penanaman khusus sehingga tidak adalah serat polisakarida yang berwarna putih
perlu perluasan lahan dan penggunaan pupuk yang merupakan hasil dari fotosintesa tumbuh -
kimia. Selain itu, penggunaan limbah juga tumbuhan. Jumlah kandungan selulosa dalam

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 39


jerami antara 35 - 40%. Kandungan lain pada oksalat, asam asetat dan gugus asam dikarboksilat
jerami adalah lignin, hemiselulosa dan komponen lainnya, yang semuanya dapat dimetabolisme oleh
lainnya dalam jumlah sedikit. ruminansia (Vidal, 1988).
Secara umum jerami dan bahan lignoselulosa
lainnya tersusun dari selulosa, hemiselulosa, dan Simultan Sakarifikasi dan Fermentasi
lignin. Selulosa dan hemiselulosa tersusun dari Secara umum sintesis bioetanol yang berasal
monomer-monomer gula sama seperti gula yang dari biomassa terdiri dari dua tahap utama, yaitu
menyusun pati (glukosa). Selulosa ini berbentuk hidrolisis dan fermentasi. Pada metode terdahulu
serat-serat yang terpilin dan diikat oleh proses hidrolisis dan fermentasi dilakukan secara
hemiselulosa, kemudian dilindungi oleh lignin terpisah atau Separated Hydrolisys and
yang sangat kuat. Akibat dari perlindungan lignin Fermentation (SHF) dan yang terbaru adalah
dan hemiselulosa ini, selulosa menjadi sulit untuk proses Simultaneous Saccharification and
dipotong-potong menjadi gula (proses hidrolisis). Fermentation (SSF) atau Sakarifikasi dan
Salah satu langkah penting untuk biokonversi Fermentasi Serentak (SFS). Satu diantara
jerami menjadi etanol adalah memecah beberapa keuntungan dari proses SSF adalah
perlindungan lignin ini. hidrolisis dan fermentasi dilakukan dalam satu
Tabel 1. Kandungan jerami menurut Karimi wadah atau reaktor sehingga dapat berlangsung
(2006) secara efisien. Hidrolisis bertujuan untuk
Komponen Kandungan (%) memecah polisakarida menjadi monosakarida
Hemiselulosa 27 ( 0,5) sehingga dapat langsung difermentasi oleh yeast.
Selulosa 39 ( 1) Pada penelitian ini hidrolisis dilakukan secara
Lignin 12 ( 0,5) biologis, yaitu menggunakan enzim. Enzim
Abu 11( 0,5) merupakan protein yang bersifat katalis, sehingga
sering disebut biokatalis. Enzim memiliki
Ozonolisis kemampuan mengaktifkan senyawa lain secara
Pembentukan ozon dengan electrical spesifik dan dapat meningkatkan kecepatan reaksi
discharge ini secara prinsip sangat mudah. Prinsip kimia yang akan berlangsung lama apabila tidak
ini dijelaskan oleh Devins pada tahun 1956. Ia menggunakan enzim. Enzim yang digunakan
menjelaskan bahwa tumbukan dari elektron yang harus sesuai dengan polisakarida yang akan
dihasilkan oleh electrical discharge dengan dihidrolisis.
molekul oksigen menghasilkan dua buah atom SSF pertama kali dikenalkan oleh Takagi et
oksigen. Selanjutnya atom oksigen ini secara al, 1977, yaitu kombinasi antara hidrolisis
alamiah bertumbukan kembali dengan molekul menggunakan enzim selulase dan yeast S.
oksigen di sekitarnya, lalu terbentuklah ozon. cerevisiae untuk fermentasi gula menjadi etanol
Dewasa ini, metode electrical discharge secara simultan. Proses SSF sebenarnya hampir
merupakan metode yang paling banyak sama dengan dengan proses yang terpisah antara
dipergunakan dalam pembuatan ozon diberbagai hidrolisis dengan enzim dan proses fermentasi,
kegiatan industri. Ozon adalah spesies aktif yang hanya dalam proses SSF hidrolisis dan
mempunyai sifat radikal, memerlukan perhatian fermentasi dilakukan dalam satu reaktor.
khusus dalam penyimpanannya. Kadar 100 persen Keuntungan dari proses ini adalah
ozon pada suhu kamar mudah sekali meledak. polisakarida yang terkonversi menjadi
Karena sifat oksidatornya yang sangat monosakarida tidak kembali menjadi polisakarida
kuat, maka ozon bisa dimanfaatkan untuk karena monosakarida langsung difermentasi
desinfeksi (membunuh kuman), detoksifikasi menjadi etanol. Selain itu dengan menggunakan
(menetralkan zat beracun) dan deodorisasi satu reaktor dalam prosesnya akan mengurangi
(menghilangkan bau tidak enak) dalam air dan biaya peralatan yang digunakan. (Samsuri,
udara. Pemanfaatan ozon telah dilakukan lebih 2007)
dari seratus tahun yang lalu. Fermentasi adalah proses produksi energi
Ozonolisis sebelumnya telah diusulkan dalam sel pada keadaan anaerobik (tanpa oksigen).
sebagai proses pretreatment untuk limbah kayu Secara umum, fermentasi adalah salah satu
yang banyak digunakan untuk pakan ternak. Daya bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat
tarik menggunakan ozon ( O3 ) untuk peningkatan definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan
bahan baku disebabkan oleh aksesibilitas fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan
kandungan nutrisi dari karbohidrat yang tidak anaerobik dengan tanpa akseptor elektron
terlarut. sedangkan pretreatment lainnya biasanya eksternal.
akan menghasilkan turunan lignin yang tidak
diinginkan, ozonolisis umumnya menghasilkan
gugus asam karboksilat, seperti asam format, asam

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 40


Bioetanol 9.Water bath
Bioetanol adalah etanol yang. Berasal 10. Statif
dari sumber hayati. Bioetanol bersumber dari 11. Oven
karbohidrat yang potensial sebagai bahan baku 12. Kertas pH
seperti tebu, nira sorgum, ubi kayu, garut, ubi 13. Kertas Saring
jalar, sagu, jagung: jerami, bonggol jagung dan 14. Beaker Gelas
kayu. Etanol dihasilkan melalui proses 15. Batang Pengaduk
fermentasi. Etanol adalah senyawa organik yang 16. Labu Ukur
terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen, 17. Alat Ozonolisis
sehingga dapat dilihat sebagai derivat senyawa 18. Rotary Shaker
hidrokarbon yang mempunyai gugus hidroksil 19. Pipet Tetes
dengan rumus C2H5OH. Etanol merupakan zat 20. Auto Klaf
cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah 21. Vacuum dryer
terbakar dan menguap, dapat bercampur dalam air 22. Refrigerator
dengan segala perbandingan. 23. Crusher
Bioetanol adalah sebuah bahan bakar b) Bahan
alternatif yang diolah dari tumbuhan, dimana 1.Jerami Padi
memiliki keunggulan mampu menurunkan emisi 2.Ragi saccharomyses cereviceae
CO2 hingga 18%. DiIndonesia, minyak bioethanol 3.Enzim selulase
sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan 4.Aspergillus Nigger
karena bahan bakunya merupakan jenis tanaman 5.HCl
yang banyak tumbuh di negara ini dan sangat 6.Aquadest
dikenal masyarakat. Tumbuhan yang potensial 7.KI
untuk menghasilkan bioetanol adalah tanaman 8.NaOH
yang memiliki kadar karbohidrat tinggi, seperti: 9.H2SO4
tebu, nira, sorgum, ubi kayu, garut, ubi jalar, sagu, 10. Sukrosa
jagung, jerami, bonggol jagung, dan kayu. 11. (NH4)2SO4
Banyaknya variasi tumbuhan yang tersedia 12. KH2PO4
memungkinkan kita lebih leluasa memilih jenis 13. PDA
yang sesuai dengan kondisi tanah yang ada. 14. MgSO4.7H2O
Sebagai contoh ubi kayu dapat tumbuh di tanah 15. Nutrisi Urea
yang kurang subur, memiliki daya tahan yang 16. (KMnO4) 0,1 N
tinggi terhadap penyakit dan dapat diatur waktu 17. (Na2SO3) 0,1 N
panennya. Namun kadar patinya yang hanya 30%, 18. (KI) 1 N
masih lebih rendah dibandingkan dengan jagung 19. (H2SO4) 4 N
(70%) dan tebu (55%) sehingga bioetanol yang 20. Amylum 1 %
dihasilkan jumlahnya pun lebih sedikit.
Biaya produksi bioetanol tergolong murah Prosedur Kerja
karena sumber bahan bakunya merupakan limbah Persiapan Bahan Baku
pertanian atau produk pertanian yang nilai Biomassa berupa jerami padi dihancurkan
ekonomisnya rendah serta berasal dari hasil menggunakan alat pencacah (Crusher). Kemudian
pertanian budidaya tanaman pekarangan dikeringkan di panas matahari selama 3 hari. Lalu
(hortikultura) yang dapat diambil dengan mudah. dipanaskan di oven bersuhu 45oC untuk
Dilihat dari proses produksinya juga relatif menghilangkan kandungan air dalam biomassa
sederhana dan murah. tersebut. Setelah kering, ukurannya diperkecil
dengan alat blander lalu diayak untuk
2. METODOLOGI PENELITIAN memperoleh ukuran jerami 80 mesh.

Alat dan Bahan Delignifikasi


a) Alat 1. Proses Alkaline Pretreatment
1.Gelas ukur Proses dilakukan untuk mengurangi kadar
2.Termometer lignin didalam jerami padi dengan menggunakan
3.Mesh Screening basa kuat NaOH, 50 gram jerami ditempatkan
4.Neraca Analitik didalam Erlenmeyer dan di tambahkan NaOH 5%
5.Blender lalu dipanaskan menggunakan water bath pada
6.Erlenmeyer suhu 85oC selama satu jam, dengan rasio NaOH
7.Buret Titrasi dan jerami padi 1:10, setelah itu jerami di cuci
8.Hot Plate

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 41


hingga memiliki pH yang netral kembali dan di hingga diperoleh pH = 3 4,5. Kemudian ujung
keringkan hingga tingkat kadar air yang rendah. kawat ose dicelupkan ke dalam etanol 96 % lalu
dipanaskan pada api bunsen sampai berwana
Proses Ozonolisis merah. Selanjutnya biakan Aspergillus niger dari
Pretreatment ini dilakukan dalam reaktor media PDA diambil dengan menggunakan kawat
fixed bed pada kondisi kamar. Biomassa dengan ose dan dicelupkan beberapa saat pada media cair
ukuran 80 mesh dimasukkan ke dalam reaktor hingga tampak keruh. Pekerjaan ini dilakukan di
sebanyak 50 gram. Proses pengozonan ruang aseptik. Media cair ditutup dengan kapas
dilaksanakan pada tegangan konstan, yakni 8500 dan diinkubasi pada suhu 30C selama 24 jam.
volt. Perlakuan terhadap laju alir terdiri dari
variabel 5 L/menit dan waktu proses 15 menit. Produksi Enzim selulase dalam media cair
Proses diawali dengan menghubungkan kabel padat
listrik dengan generator listrik. Lalu dipastikan Jerami padi dicacah dan dikeringkan
bahwa posisi regulator voltase diset pada titik kemudian dihaluskan. Sebanyak 20 gram jerami
terendah (nol), sehingga generator ozon masih padi dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml
bertegangan rendah (220 V). Gas oksigen serta ditambahkan nutrisi urea 0,03 gr;
dialirkan, laju alir diatur sesuai kebutuhan, dan MgSO4.7H2O 0,005 gr dan KH2PO4 0,0023 gr.
dijaga agar tetap stabil. Selanjutnya voltase listrik Selanjutnya menambahkan 80 ml aquadest ke
dinaikkan secara perlahan-lahan sampai pada dalam media tersebut. pH diatur hingga mencapai
voltase yang diinginkan. pH = 5, lalu media disterilkan di dalam auto klaf
Sebelum mengozonisasi biomassa, kadar pada suhu 121 C selama 15 menit. Media yang
ozon dianalisis terlebih dahulu dengan metode telah disterilkan kemudian didinginkan. Suspensi
Iodometri. Larutan KI 2% yang dimasukkan ke spora aspergillus niger ditambahkan sebanyak 10
dalam tabung analisis ke-1 (tabung bawah). Gas ml pada media tersebut. Media diinkubasi pada
yang mengandung ozon dialirkan ke dalam tabung suhu 30 oC dengan waktu fermentasi 96 jam.
analisis sampai waktu tertentu (penggelembungan
/bubbling). Setelah proses penggelembungan Pengambilan Enzim
selesai dilakukan, aliran gas yang mengandung Hasil fermentasi diekstrak dengan aquadest
ozon dihentikan. Larutan di dalam tabung analisis sebanyak 100 ml lalu di letakkan pada rotary
diambil sebagian dan dititrasi dengan larutan shaker 150 rpm selama 1 jam. Cairan hasil
Na2S2O3, dengan indikator kanji. fermentasi dipisahkan dengan menggunakan
Proses ozonolisis jerami padi dilaksanakan di kertas saring. Enzim yang diperoleh kemudian
reaktor ozonisasi. 50 gram sampel jerami padi disimpan di lemari pendingin dan siap untuk
dalam kondisi moisture content 10% dimasukkan digunakan.
ke dalam reaktor ozonisasi. Larutan KI 2%
dimasukkan ke dalam tabung analisis ke-2 (tabung Simultaneous Saccharification and
atas). Gas ozon dialirkan ke dalam reaktor Fermentation (SSF)
ozonisasi, gas sisa dialirkan ke tabung analisis ke- Stock pembiakan Saccharomyces Cerevisiae
2. Kandungan ozon sisa reaksi ozonisasi dianalisis Saccharomyces Cerevisiae di preculture
sebagaimana pada tabung analisis ke-1 dengan pada Potato Dextrose Agar (PDA) 2%, Agar (0,25
metode Iodometri. Sampel yang telah diozonasi, g), H2O (50ml) dan diinkubasi selama 1-3 hari
dianalisa kandungan ligninnya dengan pada suhu 28oC, kemudian digunakan sebagai
menggunakan metode Kappa. yeast pada proses SSF.

Pembuatan Enzim Selulase Dari Aspergillus Persiapan yeast inoculum


Niger Saccharomyces Cereviceae dari stock di-
Pembenihan Inokulasi preculture pada 50 ml medium (glukosa, 10 g l-1;
Mikroba yang digunakan adalah Aspergillus yeast extract, 1,0 g l-1; KH2PO4, 0,1 g l-1;
niger. Pembenihan dilakukan pada media Jerami MgSO4.7H2O, 0,1 g l-1; dan (NH4)2SO4, 0,1 g l-1)
padi secara zig-zag dengan menggunakan kawat dalam 200 ml flask, kemudian diinkubasi pada
inokulasi di dalam cawan petri secara aseptik. suhu 30oC selama 24 jam menggunakan orbital
Mikroba diinkubasi pada suhu 30C selama 120 shaker dengan kecepatan 100 rpm.
jam.
Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak
Penyiapan Inokulum Medium untuk SSF sebanyak 50 ml terdiri
Membuat 100 ml media cair yang terdiri dari dari sampel jerami padi (2,5 g), nutrients medium
sukrosa 12,5%, (NH4)2SO4 0,25 % dan KH2PO4 (25 ml), 0,05 M HCl (hingga mencapai pH 5.0),
0,2 %. Lalu pH media cair diatur dengan HCl enzim selulase 20% (v/v), dan variasi 10%, 20%,

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 42


30% dan 40% (v/v) yeast inoculum. Sampel, Pada kondisi asam, ozon mudah bereaksi
nutrients medium dan buffer disterilisasi selama dengan I- membentuk I2. Thiosulfat diuraikan
121oC dan 20 menit pada autoclave, namun lambat dalam larutan asam dengan membentuk
larutan enzim ditambahkan tanpa sterilisasi. belerang sebagai endapan mirip susu. Reaksinya
Nutrients medium teridiri dari 1,0 g l-1 (NH4)2PO4 adalah sebagai berikut :
dan 0,05 g l-1 MgSO4.7H2O. Proses SSF dilakukan S2O32- + 2H+ H2S2O3 H2SO3 + S(s)
pada rotary shaker 100 rpm selama 3,4,5,6 dan 7 Reaksi diatas tidak akan mengganggu bila
hari pada suhu ruangan. Sampel diambil dan diuji titrasi dilakukan dengan cepat dan larutan
etanol yang dihasilkan. diaduk dengan baik. Reaksi antara Iod dan
Thiosulfat berlangsung lebih cepat daripada
Destilasi reaksi penguraiannya. Metode iodometri ini
Distilasi dilakukan untuk memurnikan atau langsung diterapkan pada kisaran 1g/m3 sampai
memisahkan substrat bioetanol dengan 200g/m3 dari ozone, volume dinyatakan pada
pengotornya. Prosedur distilasi yaitu : NTP (Normal Temperature and Pressure), yang
1. Menyiapkan 1 set peralatan destilasi. Lalu sama dengan : 0oC atau 273.15 K dan 1.01325 x
merangkai dan menghidupkan peralatan 105 Pa atau 1 Atm (Masschelein , et al, 1998).
destilasi dengan baik. Standarisasi titran berdasarkan prinsip :
2. Memasukkan hasil SSF yang telah disaring ke 5 KI + 5H+ 5 HI + 5 K+
dalam labu, kemudian memasang labu tersebut KIO3 + H+ HIO3 + K+
pada alat destilasi. HIO3 + 5 HI 3 I2 + 3 H2O
3. Mengatur temperatur nya 79-80oC. 3 I2 + 6 S2O3- 6 I- + 3 S4O6 (Sumber
4. Proses destilasi dilakukan selama 1 - 1,5 jam : Masschelein, et al, 1998)
sampai bioetanol tidak menetes lagi. Dalam penentuan jumlah ozon yang
5. Destilat (bioetanol) yang dihasilkan disimpan dihasilkan dari ozon generator, ozon dialirkan
di dalam botol yang tertutup rapat. kedalam wadah tertutup yang berisi larutan KI
6. Bioetanol di ukur densitas nya dengan dengan konsentrasi tertentu. Persamaan reaksi
menggunakan piknometer. kimianya :
O3(g) + 2I-(aq) + 2H+(aq) O2(g) + I2(g) +
Analisa Kadar Ozon H2O
Perhitungan kadar ozon dilakukan dengan Untuk menghindari I2 yang terlepas, kelarutan
metode iodometri. Larutan KI 2% dimasukkan I2 dalam air dapat diperbesar dengan sedikit
kedalam Erlenmeyer 500 ml ditambah larutan kelebihan I- dalam larutan.
H2SO4 2 N sebanyak 10 ml dan warna larutan I2(g) + I-(aq) I3-(aq)
akan berubah menjadi kuning. Lalu titrasi dengan Selanjutnya Natrium Thiosulfat yang sudah
menggunakan larutan Natrium Tiosulfat 0,2 N distandarisasi digunakan sebagai titran untuk
hingga larutan berubah warna menjadi kuning penentuan I2 yang terbentuk.
muda. Selanjutnya tambahkan beberapa tetes I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62-
indikator kanji berupa Larutan amylum 0,2% Dari persamaan diatas dapat diketahui
hingga larutan berubah warna lagi menjadi biru. perbandingan mol grek antara O3 dengan I-.
Kemudian larutan dititrasi kembali dengan Dimana 1 mol O3 = 1 mol I2, sedangkan 1 mol I2
natrium tiosulfat 0,2 N, hingga terjadi perubahan = 2 mol I-, sehingga 1 mol O3 = 2 mol I-. Jadi,
warna dari biru menjadi tidak berwarna (putih persamaan untuk mengetahui konsentrasi ozon
bening). dalam satuan g/L = (1/2 x BM O3) x Volume
Jumlah ozon ditentukan secara tidak thiosulfat dalam L x Normalitas Thiosulfat
langsung melalui titrasi iodometri. Penentuan dibagi volume inlet gas dalam L (Masschelein, et
jumlah ozon didasari oleh reaksi I- dengan O3 al, 1998).
yang menghasilkan I2 pada kondisi sedikit asam.
Selanjutnya jumlah ekuivalen I2 ditentukan Analisa Kadar Lignin
melalui titrasi dengan Natrium Thiosulfat yang Sampel dimasukkan sebanyak 3,5 gram ke
sebelumnya sudah distandarisasi dengan Kalium dalam gelas piala dan ditambahkan 400 ml
Iodat. Jumlah ekuivalen KI yang kira-kira akuades dan dimasukkan magnetic stirrer lalu.
digunakan untuk menampung ozon ditentukan Kemudian ditambahkan 50 ml larutan kalium
berdasarkan nilai teoritis ini. Konsentrasi I- harus permanganat 0,1 N dan 50 ml larutan asam sulfat
sedikit berlebih agar menambah kelarutan I2 4 N secara bersamaan. Kemudian pengadukan
dalam air, sehingga kemungkinan I2 yang hilang dibiarkan berlangsung selama 10 menit lalu
dapat diperkecil. Larutan KI harus sedikit asam, ditambahkan larutan kalium Iodida 1 N sebanyak
biasanya dengan penambahan HCl atau H 2SO4 10 ml. Selanjutnya dititrasi dengan larutan natrium
dengan konsentrasi tertentu. Tiosulfat 0,1 N hingga larutan berubah warna

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 43


menjadi kuning dan ditambahkan indikator 5. Menyuntikan larutan baku minimal 1L
amylum 1% hingga larutan berubah warna etanol.
menjadi biru. Selanjutnya dititrasi hingga larutan 6. Puncak etanol tampak pada kromatogram (alat
tak berwarna (putih bening). perekam).
7. Hasil analisa akan tertulis oleh integrator
dalam bentuk laporan RT (waktu retensi),
Analisis Density AREA (luas puncak), TYPE (tipe puncak),
Analisis density digunakan untuk AREA% (persen senyawa dalam larutan).
menganalisa kadar alkohol (bioetanol) yang 8. Menyuntikan larutan cuplikan minimal 1L
diperoleh. Analisis density ini dilakukan dengan etanol dan membuat kromatogramnya.
menggunakan alat piknometer 5 ml pada suhu 9. Membandingkan antara kromatogram larutan
kamar. Dimana prosedur perhitungan density baku dan larutan cuplikan.
dengan menggunakan piknometer yaitu :
1. Menimbang berat piknometer kosong pada 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
suhu kamar sehingga diperoleh a gr.
2. Menimbang berat piknometer yang telah berisi Hasil Analisa Kadar Lignin
aquadest penuh pada suhu kamar diperoleh b
gr. Tabel 2. Kadar Lignin Sebelum dan Sesudah
3. Menghitung volume piknometer dengan Pretreatment
menggunakan rumus No. Keadaan Kadar
ba Jerami Lignin
Vol c ml 1 Sebelum 8,526
0.995797 Pretreatment
2 Sesudah 4,557
4. Menimbang berat piknometer yang telah diisi
alkaline
penuh dengan zat (bioetanol) yang akan
Pretreatment
ditentukan densitynya pada suhu kamar
3 Sesudah 2,352
diperoleh d gr.
Ozonolisis

Kadar bioetanol didalam jerami padi

Tabel 3. Hasil Analisa Kadar Biotanol Jerami


padi
Waktu Konsentrasi Ragi Saccharomyces
Dari density yang diperoleh, dapat ditentukan SSF cereviceae
kadar alkohol (bioetanol) yang terkandung dengan
melihat tabel density standar etanol pada suhu (Hari) 10% 20% 30% 40%
kamar. Analisa ini dilakukan terhadap hasil
fermentasi yang telah di destilasi, untuk 3 1,87008 1,87421 1,88763 1,89692
mengetahui kadar alkohol (bioetanol) yang
terdapat dalam hasil fermentasi. 4 1,87215 1,90001 1,90621 1,91446

Analisa Gas Kromatografi 5 1,88040 1,90827 2,04999 2,30881


Untuk melihat kadar bioetanol yang
6 2,21759 2,65992 3,63217 4,26310
dihasilkan dengan lebih akurat maka dilakukan
analisa dengan menggunakan Gas Kromatografi 7 2,23456 3,74127 5,53622 5,65336
dengan tahapan analisa sebagai berikut :
1. Sampel disiapkan dengan komposisi belum
diketahui dan larutan baku dengan komposisi Pengaruh Proses Pretreatment terhadap
diketahui. penurunan kadar lignin
2. Running alat, dengan kondisi suhu maksimum Dari tabel hasil perhitungan kadar lignin
200oC dan jenis detektor FID (Flame hasil analisa dengan menggunakan metode kappa
Ionisasion Detector). maka didapatkan hubungan seperti gambar 1.
3. Mengatur tekanan manometer pada tabung Dari grafik tersebut dapat diambil
sebesar 3,5 kg/cm. kesimpulan bahwa kadar lignin didalam jerami
4. Mengatur kecepatan gas pembawa (Helium) ke padi mengalami penurunan setelah dilakukan
kanan atau ke kiri sebesar 300ml/min. alkaline pretreatment dan proses ozonolisis, kadar

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 44


lignin awal yaitu 8,256 % turun menjadi 4,557 % Konsentrasi ragi yang ditambahkan pada
setelah proses alkaline pretreatment yang berarti proses SSF bervariasi, yaitu 10%, 20%, 30%, dan
53,4 % lignin berkurang didalam jerami padi. 40%. Dari gambar 2. terlihat bahwa kenaikan
Jenis alkali yang digunakan adalah basa NaOH persen bioetanol berbanding lurus dengan
dimana basa NaOH dapat mendegradasi penambahan ragi dan lama waktu proses SSF.
kandungan lignin yang ada didalam jerami padi Lama fermentasi berkaitan dengan pertumbuhan
dengan melarutkannya kedalam NaOH. Setelah dari Saccharomyces cerevisiae. Seperti
proses ozonolisis kadar lignin turun hingga mikroorganisme yang lain, pertumbuhan dari
mencapai 2,352 % yaitu 51,6 % kadar lignin turun Saccharomyces cerevisiae dapat digambarkan
didalam jerami padi hal ini disebabkan karena dengan kurva pertumbuhan yang menunjukkan
ozon memiliki sifat oksidasi yang kuat dan masingmasing fase pertumbuhan.
bersifat radikal yaitu mudah bereaksi dengan Ada 4 fase pertumbuhan yang meliputi fase
senyawa disekitarnya sehingga mampu adaptasi (lag fase), fase tumbuh cepat (fase
mendegradasi kandungan lignin yang ada didalam log/fase eksponensial), fase stasioner (fase tumbuh
jerami padi. Banyaknya ozon yang digunakan konstan), dan fase kematian. Fase adaptasi
untuk mendegradasi lignin dalam penelitian digambarkan dengan garis kurva dari keadaan nol
adalah 0,011936 g/l yang dihitung dengan kemudian sedikit ada kenaikan. Di dalam fase ini
menggunakan metode iodometri berdasarkan Saccharomyces cerevisiae mengalami masa
banyaknya ozon yang terbentuk didalam tabung 1 adaptasi dengan lingkungan dan belum ada
dan tabung 2 yang perhitungannya terdapat pertumbuhan.
didalam lampiran A. Dalam penelitian ini Alkaline Fase tumbuh cepat yang digambarkan
pre-treatment dilanjutkan dengan pre-treatment dengan garis kurva yang mulai menunjukkan
ozonolisis adalah untuk menjadikan penurunan adanya peningkatan yang tajam. Pada fase ini
kadar lignin yang lebih signifikan. Saccharomyces cerevisiae mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat. Di dalam fase ini
terjadi pemecahan gula secara besar-besaran guna
memenuhi kebutuhan pertumbuhan
Saccharomyces cerevisiae. Hasil pemecahan gula
oleh Saccharomyces cerevisiae dalam keadaan
anaerob menghasilkan alkohol. Kemungkinan
dihasilkan alkohol paling tinggi pada fase ini. Fase
stasioner digambarkan dengan garis kurva
mendatar yang menunjukkan jumlah
Saccharomyces cerevisiae yang hidup sebanding
dengan jumlah yang mati. Fase kematian
Gambar 1. Perbandingan kadar lignin sebelum digambarkan dengan penurunan garis kurva. Pada
dan sesudah pretreatment. fase ini jumlah Saccharomyces cerevisiae yang
mati jumlahnya lebih banyak sampai akhirnya
Pengaruh Konsentrasi Ragi Terhadap Kadar semua Saccharomyces cerevisiae mati. Pada
Bioetanol Pada Berbagai Variasi Waktu SSF. penlitian ini ragi Saccharomyces cerevisiae hanya
Dari tabel hasil perhitungan kadar bioetanol dapat dilihat fase lag dan fase eksponensialnya
hasil analisa dengan menggunakan metode untuk merubah glukosa menjadi bioetanol.
piknometer maka didapatkan hubungan seperti Pada perlakuan dengan menggunakan dosis
pada gambar berikut: ragi 10 % didapatkan kadar alkohol yang
terbanyak sebesar 2,23 % terbentuk pada proses
Grafik Kadar bioetanol Vs Lama waktu SSF
SSF selama 7 hari. hal ini terjadi karena
6
rendahnya populasi awal sehingga gula yang ada
Kadar bioetanol (%)

5
hanya sedikit yang dirombak menjadi alkohol, bila
4
3
10% pertumbuhan ragi terhambat maka akan
2 20% mengakibatkan aktivitas dari raginya akan
1 30% berkurang, sehingga enzim yang dihasilkan juga
0 40% berkurang dan alkohol pun akan berkurang juga.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 Pengaruh banyaknya kadar ragi pada
Lama Waktu SSF (hari) pembentukan bioetanol berhubungan dengan
pertumbuhan sel saccharomyces sereviceae,
apabila sel tumbuh di dalam medium yang
Gambar 2. Perbandingan kadar bioetanol pada kekurangan nutrien atau ekses nutrien, maka
konsentrasi ragi dan hari yang berbeda-beda. waktu fase lag lebih lama. Karena sel harus

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 45


menghasilkan enzim yang sesuai dengan jenis larutan glukosa diinokulasi dengan yeast
nutrien yang ada. Parameter lain yang Sacharomicess cerevisiae dan diinkubasi secara
mempengaruhi waktu fase lag adalah banyaknya anaerob selama 3 hari.
inokulum. Apabila sel yang jumlah sedikit
ditumbuhkan dalam media yang volumenya besar, Analisa Kadar Bioetanol Dengan
sel akan mengalami fase lag yang lama. Untuk Menggunakan Gas Kromatografi
memproduksi biomasa skala besar tujuan yang Sampel yang dianalisa menggunakan Gas
akan dicapai adalah memperpendek fase lag oleh Chromatograph merupakan 4 sampel yang
karena itu untuk memporoduksi sel dalam skala memiliki kadar bioetanol tertinggi pada saat
besar, diperlukan inokulasi yang relatif besar. analisa menggunakan piknometer.
Semakin besar konsentrasi ragi maka nutrient
yang diperlukan oleh saccharomyces sereviceae Grafik Kadar bioetanol
untuk melewati fase lag semakin menurun dan berdasarkan analisa gas

Kadar Bioetanol (%)


akhirnya saccharomyces sereviceae mampu
dengan cepat memproduksi bioetanol dari gula
kromatografi
dan menyebabkan pembentukan kadar bioetanol 0,15
yang semakin banyak karena pemanfaatan glukosa
yang optimal. Dari grafik diatas dapat dilihat 0,1
30%
bahwa kondisi terbaik dari penelitian ini yaitu 0,05
pada saat waktu SSF 7 hari dengan konsentrasi 40%
ragi 40% yang menghasilkan bioetanol sebanyak 0
5,65336 %. 5 6 7 8
Konsentrasi bioetanol dengan proses
Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak (SSF) dapat Lama Waktu SSF (hari)
dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yaitu
dengan proses Sakarifikasi Filtrasi Fermentasi Gambar 3. Grafik Kadar Bioetanol Berdasarkan
(SFF) (Mursyid, 2011), hasil yang diperoleh dari Analisa Gas Chromatography.
proses SSF lebih tinggi daripada proses SFF.
Perbedaan dari proses ini terletak pada enzim yang Dari Gambar 3 terlihat bahwa semakin lama
digunakan. Perbandingan konsentrasi etanol hasil waktu SSF dan semakin banyak kadar ragi maka
penelitian menggunakan proses SSF dan SFF kadar bioetanol semakin naik. Hal ini
dapat dilihat pada Tabel 4. menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi
ragi maka semakin sempurna proses pembentukan
Tabel 4. Perbandingan Konsentrasi Bioetanol bioetanol yang dibentuk dari perubahan struktur
pada Penelitian ini dengan Penelitian Terdahulu glukosa.
Variabel SSF SFF Dari hasil analisa kadar bioetanol dengan
menggunakan Gas Chromatography ini juga
Bahan Baku Jerami padi Jerami padi menunjukkan perbedaan yang signifikan bila
dibandingkan dengan metode analisa piknometer,
Enzim aspergillus Trichoderma
hal ini diduga dapat disebabkan oleh beberapa
niger AA1 faktor, antara lain:
Sacharomicess Sacharomicess 1) Nilai hasil analisa merupakan densitas
Yeast
campuran sehingga lebih besar jika
cerevisiae cerevisiae
dibandingkan dengan analisa GC. Sedangkan
Waktu 7 Hari 3 Hari dengan analisa GC, hanya etanol yang
optimum dideteksi untuk diukur nilainya.
2) Jarak waktu antara analisa piknometer dengan
Konsentrasi 5,653 1,054 analisa GC cukup lama.
Bioetanol 3) Penyimpanan sampel yang tidak terlalu hati-
maksimum hati sehingga menyebabkan beberapa sampel
mengalami penguapan kadar bioetanolnya
sebelum mengalami proses analisa GC.

Mursyid, 2011 melakukan proses SFF 4. KESIMPULAN DAN SARAN


dengan bahan baku jerami padi. Medium jerami
padi diinokulasi dengan spora mutan Trichoderma Kesimpulan
AA1 yang diinkubasi selama 3 hari dan Dari penelitian yang dilakukan, dapat diambil
didapatkan hasil glukosa. Kemudian medium beberapa kesimpulan :

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 46


1. Semakin lama waktu Simultaneous Institute, Nehru Marg, Nagpur 440 020
Saccharifichation and Fermentation (SSF), Maharashtra, India.
maka kadar bioetanol yang dihasilkan Chen, Hongzhang & Weihua Qiu. 2010. Key
semakin tinggi. Lamanya waktu SSF Technologies for Bioethanol
menjadikan ragi saccharomyce cereviceae Production from Lignocellulose. State
memiliki waktu yang lebih optimal dalam Key Laboratory of Biochemical
memaksimalkan pembentukan bioetanol. Engineering, Institute of Process
Waktu SSF terbaik adalah 7 hari yang Engineering, Chinese Academy of
merupakan waktu SSF terlama pada penilitian Sciences, Beijing 100190, China.
ini dengan kadar bioetanol 5,653% pada saat Considine, Douglas.1996. Van Nostrand
konsentrasi ragi 40%. Scientifics Encyclopedia. New York.
2. Semakin besar konsentrasi ragi, maka Van Nostrand Reinhod Company.
semakin tinggi kadar bioetanol yang di Fessenden & Fessenden. 1986. Kimia Organik,
hasilkan. Semakin besar konsentrasi ragi Jilid 2, Jakarta : Gramedia.
maka nutrient yang diperlukan oleh Freudenberg, K. 1920. Die chemie der
saccharomyces sereviceae untuk melewati &aturlichen Gorbstoffe. Berlin, Germany,
fase lag semakin menurun dan akhirnya Springer.
saccharomyces sereviceae mampu dengan Gomez, A.A & Kwanchai A. (1995). Prosedur
cepat memproduksi bioetanol dari gula dan Statistik untuk Penelitian Pertanian
menyebabkan pembentukan kadar bioetanol [Edisi kedua]. Terjemahan Endang
yang semakin banyak karena pemanfaatan Sjamsuddin dan Justika S. Baharsjah.
glukosa yang optimal. Kadar bioetanol Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
tertinggi adalah 5,653% diperoleh pada saat Gullichsen, J. & Paulapuro, H. (2000).
konsentrasi ragi 40% dan waktu SSF 7 hari. Papermaking Science and Technology,
Book 3: Forest Products Chemistry.
Saran Fapet Oy, Helsinki, Finland.
1. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan Hartono, R. et. al. 2010. Pemutihan Pulp Eceng
selain memvariasikan konsentrasi ragi juga Gondok Menggunakan Proses
diikuti dengan memvariasikan kadar enzim. Ozonolisis
2. Untuk penelitian yang selanjutnya disarankan Holliday, R.L., Y.M. Jong and J.W. Kolis, 1998.
menggunakan waktu SSF lebih lama dengan Organic synthesis in subcritical water:
jarak waktu yang signifikan, agar dapat di Oxidation of alkyl aromatics. J. Supercritic.
lihat perbandingan persen bioetanol dengan Fluid, 12: 255-260. DOI: 10.1016/S0896
jelas. 8446(98)000849.
Hormeyer, H.F., W. Schwals, G. Bonn and O.
DAFTAR PUSTAKA Bobleter, 1988. Hydrothermolysis of
birchwood as pretreatment for enzymatic
Achmadi SS. 1990. Kimia Kayu. Departemen saccharification. Holzforschung, 42: 96-
Pendidikan dan Kebudayaan. Bogor : IPB 98. DOI: 10.1515/hfsg.1988.42.295/1988.
Press Kaparaju, P & M. Serrano, dkk. 2009. Bioethanol,
Alvira, P. et. al. 2009. Pretreatment Technologies biohydrogen and biogas production from
for an Efcient Bioethanol Production wheat straw in a biorefinery concept.
Process Basedon Enzymatic Hydrolysis. Bioresour. Technol., 100: 2562-2568. DOI:
CIEMAT, Renewable Energy Division, 10.1016/j.biortech.2008.11.011.
Biomass Unit, Avda. Complutense 22, Masschelein, W.J. (1998), Ozone generation: use
Madrid 28040, Spain. of air, oxygen, or air simpsonized with
Anggorodi.1979. limit Makanan Ternak Umum. oxygen, Ozone Science and Engineering,
PT. Gramedia: Jakarta. 20, 191-203.
Anindyawati, Trisanti.2009. Prospek Enzim Dan Mursyid, Ali & dkk. 2011. Fermentasi Etanol
Limbah Lignoselulosa Untuk Dari Jerami Padi. Universitas Veteran
Produksi Bioetanol.Pusat Penelitian Bangunan Nusantara: Yogyakarta
Bioteknologi LIPI: Bogor. Samsuri, M & dkk. 2007. Pemanfaatan Sellulosa
Banerjee, Saumita. et.al. 2009. Evaluation of Wet Bagas Untuk Produksi Ethanol
Air Oxidation as a Pretreatmentstrategy Melalui Sakarifikasi Dan Fermentasi
for Bioethanol Production from Rice Husk Serentak Dengan Enzim Xylanase.
and Process Optimization. Environmental Universitas Indonesia : Depok.
Biotechnology Division, National Vidal, P. F. and J. Molinier. 1988. "Ozonolysis of
Environmental Engineering Research lignin - Improvement of in vitro

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 47


digestibility of poplar sawdust.". Biomass
16(1): 1-17.
Wulandari, Annissa. 2012. Studi Awal Fermentasi
Air Perasan Jerami Padi Menjadi Bioetanol
dengan Ragi Komersial.
http://digilib.itb.ac.id/
gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptit
bpp-gdl-annissawul-26767. Diakses pada
tanggal 24 Oktober 2012
Yinbo, Q., M. Zhu, K. Liu, X. Bao, dan J. Lin.
2006. Studies on Cellulosic Ethanol
Production for Sustainable Supply of
Liquid Fuel in China. Biotechnology J. 1:
1235-1240.
Yulianto, M.E & Dkk. 2009. Pengembangan
Hidrolisis Enzimatis Biomassa Jerami Padi
Untuk Produksi Bioetanol.UNDIP :
Semarang.

Jurnal Teknik Kimia No. 3, Vol. 20, Agustus 2014 Page | 48