Anda di halaman 1dari 6

Panduan Kuliah dan

Praktikum

ENDAPAN
MINERAL
Sutarto Hartosuwarno
Laboratorium Petrologi dan Bahan Galian Teknik
Geologi
Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional
Veteran
YOGYAKARTA
BAB 4
KLASIFIKASI ENDAPAN MINERAL

4.1 Perkembangan konsep dan klasifikasi endapan mineral


Pada kenyataannya tidak mudah membuat pengelompokan atau
klasifikasi endapan mineral. Terdapat klasifikasi yang didasarkan pada
genesanya, ada juga klasifikasi secara diskriptif, misal berdasarkan
komoditi logamnya, atau berdasarkan batuan yang ditempatinya (host
rocks-nya). Sebenarnya klasifikasi secara diskriptif berdasarkan komoditi
logamnya relatif mudah untuk dipahami. Tetapi pada para ahli geologi
tidak menggunakan klasifikasi tersebut, karena berbagai alasan,
diantaranya tersebarnya banyak unsure logam pada beragam tatanan
geologinya dan pembagian ini mungkin dirasa kurang ilmiah.
Pengelompokan yang sering digunakan oleh para ahli geologi,
umumnya berdasarkan pada bentuk endapannya, wall rocknya, atau control
strukturnya. Sebagai contoh Bateman (1950) dalam bukunya Economic
Mineral Deposit mengelompokkan bijih berdasarkan control strukturnya,
diantaranya bijih yang terbentuk pada sesar, pada lipatan, pada kontak
batuan beku, diseminasi dan lain sebagainya. Masalahnya terdapat juga bijih
yang terbentuk pada lipatan yang tersesarkan, atau diseminasi sepanjang
kontak batuan beku. Sehubungan dengan munculnya teori tektonik lempeng
yang dapat menjelaskan proses magmatisme dan keberadaan endapan bijih,
maka klasifikasi secara genetic makin sering digunakan.
Tokoh penting yang memulai membangun konsep dan klasifikasi
endapan mineral adalah Waldemar Lindgren (1860-1939). Lindgren
(1911) secara garis besar membagi endapan mineral menjadi dua
macam yaitu
a). endapan oleh proses mekanik dan
b). endapan oleh proses kimiawi (Tabel 3.1).
Endapan yang disebabkan oleh proses kimiawi, karena naiknya air
magmatik, dibagi menjadi 3, berturut-turut dari bagian yang paling dalam
adalah: Endapan hipotermal, Endapan Mesotermal, dan Endapan
epitermal (Tabel 1).
Endapan hipotermal terbentuk pada wilayah yang cukup dalam pada
temperature yang relative panas, endapan epitermal merupakan endapan
yang terbentuk di dekat permukaan, dengan kondisi temperature yang
rendah. Sedangkan endapan Mesotermal terbentuk pada kedalaman dan
temperature diantara endapan

4
9
Mesitermal dan hipotermal. Dalam klasifikasi ini belum muncul istilah
hidrotermal, tetapi hanya disebut dengan istilah karena naiknya air,
berhubungan dengan aktivitas batuan beku.

Tabel 4.1. Klasifikasi Lindgren (1911)

I. ENDAPAN OLEH PROSES MEKANIK


I. ENDAPAN OLEH PROSES KIMIAWI
Oleh reaksi 0-70 C P menengah-tinggi
A Evaporasi
1. KONSENTRASI KOMPONEN YANG BERASAL DARI TUBUH BATUAN SENDIRI
a. Oleh pelapukan 0-100 C P menengah
b. Oleh air tanah 0-100 C P menengah
c. Oleh metamorfosa 0-400 C P tinggi
2. PENAMBAHAN KOMPONEN DARI LUAR
a. TANPA AKTIVITAS BATUAN BEKU 0-100 C p menengah
B b. BERHUBUNGAN DENGAN AKTIVITAS BATUAN BEKU
1) KARENA NAIKNYA AIR
Hypothermal 500-600 C P tinggi
Mesothermal 150-300 C P tinggi
Epitermal 50-150 C P menengah
2). OLEH EMANASI LANGSUNG BATUAN BEKU
Pyrometasomatic 500-800 C P tinggi
Sublimates 100-600 C P rendah-menengah
Endapan magmatik 700-1500 C P tinggi
C Pegmatik 575 C P tinggi
A. Di dalam tubuh air B. Di dalam tubuh batuan C. Endapan magmatik

Tabel 4.2 Ciri-ciri umum endapan Hipotermal (Lingren 1933)

Kedalaman 3000- 15000 m


Temperatur 300-600
Pembentukan Pada atau dekat batuan plutonik asam.Pada umumnya pada
batuan prakambrium, jarang pada batuan muda.Sering ditemukan
pada sesar naik
Zona bijih Fracture-filling dan replacement, tubuh bijih umumnya tidak
beraturan, kadang tabular. Kadang terdapat ore disseminated
pada batuan samping
Logam bijih Au, Sn, Mo,W,Cu,Pb,Zn,As
Mineral bijih Magnetit, spekularit, pirhotit, kasiterit, arsenopirit, molibdenit,
bornit, kalkopirit, wolframit, scheelite, pirit,galena, sfalerit-Fe.
Mineral penyerta Garnet, plagioklas,biotit, muskovit, topas, tormalin, epidot, kuarsa,
(gangue) kloorit-fe, karbonat
Ubahan batu samping Albitisasi, tourmalinisasi, kloritisasi, seritisasi pada batuan silikaan
Tekstur dan struktur Kristal kasar, kadang berlapis, inklusi fluida hadir pada kuarsa
Zonasi Tekstur dan mineralogy makin kedalam berubah secara gradual,
Au telurida kadang hadir sebagai bonanza.

5
0
Thank you for evaluating
BCL easyConverter Desktop
This Word document was converted from PDF with an evaluation
version of BCL easyConverter Desktop software that only
converts the first 3 pages of your PDF.
CTRL+ Click on the link below to purchase

Activate your software for less than $20


http://www.pdfonline.com/easyconverter/