Anda di halaman 1dari 3

Pelanggaran Demokrasi pada Saat Pemilu

Pemilihan umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem demokrasi untuk
memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga perwakilan rakyat, serta salah satu
bentuk pemenuhan hak asasi warga negara di bidang politik. Pemilu dilaksanakan untuk
mewujudkan kedaulatan rakyat. Sebab, rakyat tidak mungkin memerintah secara langsung.
Karena itu, diperlukan cara untuk memilih wakil rakyat dalam memerintah suatu negara
selama jangka waktu tertentu. Pemilu dilaksanakan dengan menganut asas langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Pemilihan umum mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai:

Sarana memilih pejabat publik (pembentukan pemerintahan),

Sarana pertanggungjawaban pejabat publik, dan

Sarana pendidikan politik rakyat.

Menurut Austin Ranney, pemilu dikatakan demokratis apabila memenuhi kriteria


sebgai berikut:

Penyelenggaraan secara periodik (regular election),

Pilihan yang bermakna (meaningful choices),

Kebebasan untuk mengusulkan calon (freedom to put forth candidate),

Hak pilih umum bagi kaum dewasa (universal adult suffrage),

Kesetaraan bobot suara (equal weighting votes),

Kebebasan untuk memilih (free registration oh choice),


Kejujuran dalam perhitungan suara dan pelaporan hasil (accurate counting of choices
and reporting of results)

Pemilihan umum dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Cara langsung, dimana rakyat secara langasung memilih wakil-wakilnya yang akan
duduk di badan-badan perwakilan rakyat. Contohnya, pemilu di Indonesia untuk
memilih anggota DPRD, DPR, dan Presiden.

Cara bertingkat, di mana rakyat terlebih dahulu memilih wakilnya (senat), lantas
wakil rakyat itulah yang memilih wakil rakyat yang akan duduk di badan-badan
perwakilan rakyat.

Dalam suatu pemilu, setidaknya ada tiga sistem utama yang sering berlaku, yaitu:

Sistem Distrik: Sistem distrik merupakan sistem yang paling tua. Sistem ini
didasarkan kepada kesatuan geografis. Dalam sistem distrik satu kesatuan geografis
mempunyai satu wakil di parlemen. Sistem ini sering dipakai di negara yang
menganut sistem dwipartai, seperti Inggris dan Amerika.

Sistem perwakilan proporsional: Dalam sistem perwakilan proporsional, jumlah


kursi di DPR dibagi kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan perolehan jumlah
suara dalam pemilihan umum. khusus di daerah pemilihan. Untuk keperluan itu, maka
ditentukan suatu pertimbangan, misalnya 1 orang wakil di DPR mewakili 500 ribu
penduduk.

Sistem campuran: Sistem ini merupakan campuran antara sistem distrik dengan
proporsional. Sistem ini membagi wilayah negara ke dalam beberapa daerah
pemilihan. Sisa suara pemilih tidak hilang, melainkan diperhitungkan dengan jumlah
kursi yang belum dibagi. Sistem ini diterapkan di Indonesia sejak pemilu tahun 1977
dalam memilih anggota DPR dan DPRD. Sistem ini disebut juga proporsional
berdasarkan stelsel daftar.

Di negara Indonesia pada saat pelaksaan pemilu masih banyak pelanggaran. Terutama
pelanggaran asas jujur dan adil. Banyak calon wakil rakyat mngeluarkan uang yang tidak
sedikit untuk biaya kampanye dan biaya mengiming-iming rakyat dengan sejumlah uang
(menyogok). Semakin banyak uang yang dikeluarkan oleh calon wakil rakyat, maka semakin
besar pula peluang calon wakil rakyat untuk keluar sebagai pemenang.

Pelanggaran menyogok dengan sejumlah uang yang dilakukan calon wakil rakyat
terhadap rakyat sesungguhnya sangat tidak perlu dan sangat tidak boleh dilakukan.Rakyat
bebas memilih sesuai dengan hati nurani mereka calon pemimipin yang pantas menang dalam
pemilu tanpa pengaruh sogokan sejumlah uang. Dengan hanya pengaruh sejumlah uang nasib
bangsa dan negara dipertaruhkan.

Dampak negatif dari penyogokan tersebut adalah calon wakil rakyat yang menang
dalam pemilu dengan cara menyogok, mereka akan kehilangan banyak uang, tentunya
mereka tidak akan mau rugi, akhirnya pada saat sudah menjabat wakil rakyat mereka akan
menggerogoti uang negara demi menutup kerugian biaya pemilu, akhirnya korupsi akan
merajalela. Kita sebagai rakyat indonesia seharusnya memilh calon wakil rakyat sesuai hati
nurani kita, demi kemajuan negara indonesia, hati nurani kita seharusnya tidak bisa
dipengaruhi walaupun dengan jumlah berapa pun nilainya, hanya rakyat yg bermental bobrok
lah yg hati nurani nya bisa dibeli dan dipengaruhi.