Anda di halaman 1dari 142

PROTAP PELAYANAN MTBS

DI PUSKESMAS SUKARAJA

1. TUJUAN :

Sebagai Pedoman kerja bagi Petugas / Paramedis dalam pelayanan / pemeriksaan Balita sakit.

2. SASARAN :

Petugas / Paramedis dalam melaksanakan MTBS.

3. URAIAN UMUM :

Anamnesa :

Wawancara terhadap orang tua bayi dan balita mengenai keluhan utama, keluhan tambahan,
lamanya sakit, pengobatan yang telah diberikan, riwayat penyakit lainnya.

Pemeriksaan :

a. Untuk bayi muda umur 1 hari s/d 2 bulan :

Periksa kemungkinan kejang.

Periksa gangguan nafas.

Ukur suhu tubuh.

Periksa kemungkinan adanya infeksi bakteri.

Periksa kemungkinan adanya icterus.

Periksa kemungkinan gangguan pencernaan dan diare.

Ukur berat badan.

Periksa status imunisasi.

Dan seterusnya lihat formulir MTBS.

b. Untuk bayi umur 2 bulan s/d 5 tahun :

Keadaan Umum.

Respirasi ( menghitung nafas )/


Derajat dehidrasi ( turgor kulit ).

Suhu tubuh.

Periksa telinga ( apakah keluar cairan dari lubang telinga ).

Periksa status gizi.

Periksa status imunisasi dan pemberian vitamin A.

Penilaian pemberian makanan untuk anemia / BGM.

Menentukan klasifikasi, tindakan, penyuluhan dan konsultasi dokter.

4. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN :

a. Pasien bayi / balita dari loket pendaftaran menuju ruang KIA / Gizi untuk ditimbang berat
badannya, lanjut menuju ruang pelayanan MTBS.

b. Petugas menulis identitas pasien pada kartu rawat jalan.

c. Petugas melaksanakan anamnesa :

Keluhan Utama.

Keluhan tambahan.

Lamanya sakit.

Pengobatan yang telah diberikan.

Riwayat penyakit lainnya.

d. Petugas melakukan pemeriksaan :

Keadaan Umum.

Respirasi.

Derajat dehidrasi

Suhu tubuh.

Telinga.

Status gizi.
Status imunisasi dan pemberian Vitamin A.

e. Petugas menulis hasil anamnesa dan pemeriksaan serta mengklasifikasi dalam form klasifikasi
dan memberikan penyuluhan.

f. Petugas memberikan pengobatan sesuai Buku Pedoman MTBS, bila perlu dirujuk ke ruang
Pengobatan untuk konsultasi dokter.

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook


PENATALAKSANAAN ISPA
( INFEKSI SALUREN PERNAFASAN AKUT )

No. Kode : 01/SOP-RPU/NGASEM/2014


No.Revisi : 00
Tgl. MulaiBerlaku : 30 September 2014

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
Halaman : 1dari 4

UPTD.
PuskesmasNgasem
Kabupaten Kediri

1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penatalaksanan pelanggan dengan ISPA di UPTD Puskesmas Ngasem.

2. RUANG LINGKUP
Tindakan dimulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, tindakan, sampai pencatatan

3. KRITERIA PENCAPAIAN
Penatalaksanaan kasus ISPA di UPTD Puskesmas Ngasem dapat dilaksanakan 100% sesuai prosedur
penatalaksanaan ISPA

4. DEFINISI
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyaki tinfeksi yang bersifat akut yang melibatkan organ
saluran pernapasan mulai dari hidung, sinus, laring hingga alveoli. Disebut juga URI, singkatan dari
Under Respiratory Infection.

5. URAIAN UMUM
5.1 Infeksi adalah invasi tubuh oleh pathogen atau mikro organisme yang mampu menyebabkan sakit
5.2 Organ adalah kelompok jaringan yang melakukan beberapa fungsi.
5.3 Saluran pernafasan adalah organ tubuh yang memiliki fungsi menyalurkan udara atmosfer ke
paru-paru begitu pula sebaliknya. Saluran pernafasan dimulai dari hidung, rongga telinga tengah,
laring, trakea, bronkus, alveoli, termasuk pleura.
5.4 Hidung merupakan organ pertama yang dilalui oleh udara. Di dalam rongga hidung terdapat
rambut-rambut dan selaput lendir, yang berfungsi sebagai penyaring, penghangat, dan pengatur
kelembaban udara yang akan masuk ke paru-paru. Sebaiknya bernapas selalu melalui hidung.
5.5 Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar hidung, mata dan pipi
5.6 Laring adalah pangkal tenggorokan, terdiri atas kepingan tulang rawan membentuk jakun dan
terdapat celah menuju batang tenggorok (trakea) disebut glotis, di dalamnya terdapat pita suara
dan beberapa otot yang mengatur ketegangan pita suara sehingga timbul bunyi.
5.7 Alveoli adalah kantung-kantung udara di paru-paru di mana oksigen dan karbondioksida
dipertukarkan

6. PERALATAN
6.1 Alat
6.1.1 Stetoskop
6.1.2 Senter atau pen light
6.1.3 Respirasi rate time
6.2 Bahan
6.2.1 Sepasang sarung tangan
7. ALUR PROSES
NO INSTRUKSI KERJA PETUGAS
1. Petugas menerima pelanggan dengan ramah Perawat
2. Petugas melakukan anamnesa Perawat
3. Petugas mencuci tangan dan persetujuan tindakan dan memakai sarung tangan Perawat
4. Petugas melakukan pemeriksaan, dan menegakkan diagnosa Perawat
5. Petugas melakukan edukasi kepada pelanggan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh
virus dan dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa hari, cukup dengan istirahat Perawat
yang baik, makanan yang bergizi dan pengobatan simptomatis.
6. Apabila ada kecurigaan infeksi sekunder, petugas member pelanggan resep dengan
pengobatan simptomtis dan antibiotika.
Petugas mempersilahkan pelanggan untuk menuju ruang obat.
Obat yang dapat dipakai adalah paracetamol 3 4 x 500mg (10 15 mg/kgBB/ 3-4 kali
Dokter
dalam 24 jam), amoxicilin 4 x 500 mg (10 15 mg/kgBB/ 24 jam), cotrimoxazole 2 x 960
mg (15 18 mg/kgBB/ 12 jam), dextromethorphan 3 x 10 mg, chloperheniraminmaletae 3
x 4 mg (0.35 mg/kgBB/ 24 jam), gliserilguiakolat 3 x 100 mg dan Erithromycins 4 x 500
mg ( 30 50mg/ kgBB/ 24jam)
7. Petugas membereskan alat dan cuci tangan Perawat
8. Petugas melakukan pencatatan Perawat

9. REFERENSI
9.1 Standart puskesmas bidang bina pelayanan kesehatan, Dinkes Provinsi Jatim, 2013
9.2 ISO 9001:2008 klausal 7.5.1 tentang pengadaan produksi dan penyediaan jasa
9.3 Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Tahun 2007

10. DOKUMEN TERKAIT.


10.1 Rekam Medis pelanggan
10.2 Register Harian RPU
10.3 Kertas Resep
10.4 Form inform consent

11. RUANG TERKAIT


11.1 Ruang Pemeriksaan Umum
11.2 Ruang Farmasi

PROTAP / SOP PENANGANAN DIARE AKUT DI PUSKESMAS


Pengertian Kriteria diagnosis :

Mencret, ubun-ubun cekung, mulut/bibir kering, turgor menurun, nadi cepat, mata cekung, nafas cepat
dan dalam, oliguri
Tujuan Sebagai acuan penatalaksanaan tentang diare akut
Kebijakan Dibawah tanggungjawab UGD dan rawat inap.
Prosedur
Diagnosis Diferensial

Menret psikologi (shigella, V. Cholera, Salmonella, E. Coli, Raota Firus, Campilo bacter)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan rutin tinja.


Perawatan

Rawat Inap, bila terdapat dehidrasi berat / sedang

Terapi

Rehidrasi oral / prenteral, antibiotik atas indikasi, diit

Penyulit

Asidosis, hipokalemi, renjatan, hipernatremi, kejang

Informet concent (tertulis)

Diperlukan pada tindakan invasif

Lama perawatan

Tiga sampai lima hari

Masa pemulihan

Dua sampai tiga minggu

Out Put

Sembuh total

Terapi

Dehidrasi ringan : (BB s/d 5%)

- Oralit

- Diit sesuai dengan umur


- Susu - Pengeceran (1 T = 40-50 cc)

- Susu rendah laktosa / bebesa laktosa

- Antibiotik : atas indikasi

Dehidrasi sedang : (BB s/d 10%)

- Infus Ringer Laktat

Dehidrasi berat : (BB s/d 5%)

- Infus RL : 1-2 jam I 20cc/KgBB

- Selanjutnya sesuai jumlah cc/24 jam

Unit RAWAT INAP, BP, PUSTU/POLINDES


terkait

LAPORAN PENDAHULUAN ISPA PADA ANAK

LAPORAN PENDAULUAN

ISPA PADA ANAK


A. KONSEP MEDIS
1. Definisi
ISPA atau infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang terutama mengenai
struktur saluran pernafasan di atas laring,tetapi kebanyakan,penyakit ini mengenai
bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau berurutan.(Nelson,edisi 15).
2. Etilogi
1. Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri
stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang di udara bebas akan masuk
dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung.
2. .Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun
yang kekebalan tubuhnya lemah atau belum sempurna.
3. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menimbulkan risiko serangan ISPA.
4. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada
anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya
sanitasi lingkungan.
5. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
3. Patofisiologi
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.
Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang
terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah
faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks
tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran
pernafasan (Kending dan Chernick, 1983 dalam DepKes RI, 1992).
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu :
- Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi
apa-apa
- Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa karena nya tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
- Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam
dan batuk.
- Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan atelektasis,menjadi kronos dan meninggal akibat pneumonia.
4. Manifestasi Klinis
- Tanda dan gejala dari penyakit ISPA adalah sebagai berikut:
a. Batuk
b. Nafas cepat
c. Bersin
d. Pengeluaran sekret atau lendir dari hidung
e. Nyeri kepala
f. Demam ringan
g. Tidak enak badan
h. Hidung tersumbat
i. Kadang-kadang sakit saat menelan
- Tanda-tanda bahaya klinis ISPA
a. Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing.
b. Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan
cardiac arrest.
c. Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung,
papil bendung, kejang dan coma.
d. Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan kultur dan biopsi adalah proses yang paling sering digunakan dalam
menegakkan diagnosis pada gangguan pernapasan atas.
- Kultur : Kultur tenggorok dapat dilakukan untuk mengidentifikasi organisme yang
menyebabkan faringitis.
- Biopsi : Prosedur biopsi mencakup tindakan mengeksisi sejumlah kecil jaringan
tubuh, dilakukan untuk memungkinkan pemeriksaan sel-sel dari faring, laring, dan
rongga hidung.
- Pemeriksaan pencitraan
termasuk di dalamnya pemeriksaan sinar-X jaringan lunak, CT Scan, pemeriksaan
dengan zat kontras dan MRI (pencitraan resonansi magnetik). Pemeriksaan tersebut
mungkin dilakukan sebagai bagian integral dari pemeriksaan diagnostik untuk
menentukan keluasan infeksi.
6. Penatalaksanan
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat
batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula
petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan
penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
- Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
- Immunisasi.
- Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
- Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Prinsip perawatan ISPA antara lain :
- Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
- Meningkatkan makanan bergizi
- Bila demam beri kompres dan banyak minum
- Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan
yang bersih
- Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
- Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih
menetek

Penatalaksanaan Medis

- Medikasi : gunakan semprot hidung atau tetes hidung dua atau tiga kali sehari
atau sesuai yang diharuskan untuk mengatasi gejala hidung tersumbat.
- Diberikan antibiotik apabila penyebabnya adalah bakteri.
7. Komplikasi
SPA (saluran pernafasan akut ) sebenarnya merupakan self limited disease yang
sembuh sendiri dalam 5 6 hari jika tidak terjaidi infasi kuman lain, tetapi penyakit
ispa yang tidak mendapatkan pengibatan dan perawatan yang baik dapat
menimbulkan penyakit seperti : sinusitis paranosal, penutupan tuba eustachii,
laryngitis, tracheitis, bronchitis, dan brhoncopneumonia dan berlanjut pada
kematian karna adanya sepsis yang meluas
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, tanggal masuk RS,
tanggal pengkajian, no. MR, diagnosa medis, nama orang tua, umur orang tua,
pekerjaan, agama, alamat, dan lain-lain.
b. Riwayat Kesehatan
Riwayat penyakit sekarang
biasanya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot
dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
Riwayat penyakit dahulu
biasanya klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit ini
Riwayat penyakit keluarga
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit
klien tersebut.
Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat
penduduknya
c. Pemeriksaan fisik
- Keadaan Umum : Bagaimana keadaan klien, apakah letih, lemah atau sakit berat.
- Tanda vital :
- Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala, rambut serta bentuk kepala, apakah
ada kelainan atau lesi pada kepala
- Wajah : Bagaimana bentuk wajah, kulit wajah pucat/tidak.
- Mata : Bagaimana bentuk mata, keadaan konjungtiva anemis/tidak, sclera ikterik/
tidak, keadaan pupil, palpebra dan apakah ada gangguan dalam penglihatan
- Hidung : Bentuk hidung, keadaan bersih/tidak, ada/tidak sekret pada hidung serta
cairan yang keluar, ada sinus/ tidak dan apakah ada gangguan dalam penciuman
- Mulut : Bentuk mulut, membran membran mukosa kering/ lembab, lidah kotor/
tidak, apakah ada kemerahan/ tidak pada lidah, apakah ada gangguan dalam
menelan, apakah ada kesulitan dalam berbicara.
- Leher : Apakah terjadi pembengkakan kelenjar tyroid, apakah ditemukan distensi
vena jugularis
- Thoraks : Bagaimana bentuk dada, simetris/tidak, kaji pola pernafasan, apakah ada
wheezing, apakah ada gangguan dalam pernafasan. Pemeriksaan Fisik Difokuskan
Pada Pengkajian Sistem Pernafasan
- Inspeksi
Membran mukosa- faring tamppak kemerahan
Tonsil tampak kemerahan dan edema
Tampak batuk tidak produktif
Tidak ada jaringan parut dan leher
Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping
hidung
- Palpasi
Adanya demam
Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada
nodus limfe servikalis
Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
- Perkusi
Suara paru normal (resonance)
- Auskultasi
Suara nafas terdengar ronchi pada kedua sisi paru
- Abdomen : Bagaimana bentuk abdomen, turgor kulit kering/ tidak, apakah terdapat
nyeri tekan pada abdomen, apakah perut terasa kembung, lakukan pemeriksaan
bising usus, apakah terjadi peningkatan bising usus/tidak.
- Genitalia : Bagaimana bentuk alat kelamin, distribusi rambut kelamin ,warna
rambut kelamin. Pada laki-laki lihat keadaan penis, apakah ada kelainan/tidak. Pada
wanita lihat keadaan labia minora, biasanya labia minora tertutup oleh labia
mayora.
- Integumen : Kaji warna kulit, integritas kulit utuh/tidak, turgor kulit kering/ tidak,
apakah ada nyeri tekan pada kulit, apakah kulit teraba panas.
- Ekstremitas atas : Adakah terjadi tremor atau tidak, kelemahan fisik, nyeri otot
serta kelainan bentuk.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
2. Ketidakefektifan Pola Nafas
3. Gangguan pertukaran gas
4. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. Hipertermi
6. Nyeri akut
3. Intervensi Keperawatan

No
Diagnosa Keperawatan NOC NIC
.

1. Bersihan jalan napas tidak NOC: NIC


efektif Respiratory status :
Ventilation Airway Manajemen
Definisi : Respiratory status :
1. Monitor status
Airway patency
Ketidakmampuan untuk
Aspiration Control oksigen pasien
membersihkan sekresi 2. Auskultasi suara
atau obstruksi dari saluran Tujuan dan Kriteria nafas sebelum dan
pernafasan untuk Hasil: setelah dilakukan sesudah suctioning.
mempertahankan 3. Pastikan kebutuhan
tindakan keperawatan
kebersihan jalan nafas. oral / tracheal
selama 2 x 24 jam
suctioning
bersihan jalan napas
Batasan Karakteristik: 4. Minta klien nafas
tidak efektof teratasi/
Dispneu, Penurunan suara dalam sebelum suction
berkurang dengan
nafas dilakukan.
Orthopneu indicator : 5. Berikan O2 dengan
Cyanosis Mendemonstrasikan
menggunakan nasal
Kelainan suara nafas (rales, batuk efektif dan suara untuk memfasilitasi
wheezing) nafas yang bersih, tidak suksion nasotrakeal
Kesulitan berbicara ada sianosis dan6. Gunakan alat yang
Batuk, tidak efekotif atau dyspneu (mampu steril sitiap melakukan
tidak ada mengeluarkan sputum, tindakan
Mata melebar mampu bernafas 7. Hentikan suksion dan
Produksi sputum dengan mudah, tidak berikan oksigen
Gelisah ada pursed lips) apabila pasien
Perubahan frekuensi dan Menunjukkan jalan menunjukkan
irama nafas nafas yang paten (klien bradikardi,
tidak merasa tercekik, peningkatan saturasi
Faktor-Faktor yang
irama nafas, frekuensi O2, dll.
berhubungan:
pernafasan dalam
Lingkungan : merokok, rentang normal, tidak Airway Management
menghirup asap rokok, ada suara nafas
8. Auskultasi suara
perokok pasif-POK, infeksi abnormal)
nafas, catat adanya
Fisiologis : disfungsi Mampu
suara tambahan
neuromuskular, mengidentifikasi-kan 9. Monitor respirasi dan
hiperplasia dinding dan mencegah factor status O2
bronkus, alergi jalan nafas, yang dapat 10. Identifikasi pasien
asma. menghambat jalan perlunya pemasangan
nafas alat jalan nafas buatan
Obstruksi jalan nafas : 11. Atur intake untuk
spasme jalan nafas, cairan
sekresi tertahan, mengoptimalkan
banyaknya mukus, adanya keseimbangan
jalan nafas buatan, sekresi 12. Buka jalan nafas,
bronkus, adanya eksudat guanakan teknik chin
di alveolus, adanya benda lift atau jawthrust bila
asing di jalan nafas. perlu
13. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan
ventilasi
14. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
15. Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
16. Berikan bronkodilator
bila perlu

HE

17. Ajarkan keluarga


bagaimana cara
melakukan suksion
18. Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas
dalam setelah kateter
dikeluarkan dari
nasotrakeal
19. Informasikan pada
klien dan keluarga
tentang suctioning

2. Ketidakefektifan Pola Status Pernapasan: Memfasilitasi Jalan


Nafas Kepatenan Jalan Napas Nafas
Definisi Membuka jalan nafas
inspirasi dan atau Status Pernapasan: dengan cara dagu
ekspirasi yang tidak Ventilasi diangkat atau rahang
menyediakan ventilasi ditinggikan.
Status Tanda-Tanda Vital
yang adekuat Memposisikan pasien
batasan karakteristik agar mendapatkan
Setelah dilakukan
tindakan ventilasi yang
Penurunan kapasitas vital
keperawatan ...x24 jam maksimal.
Penurunan tekanan klien dapat Mengidentifikasi pasien
inspirasi menunjukkan efektifnya berdasarkan
pola nafas dengan penghirupan nafas
Penurunan tekanan kriteria hasil: yang potensial pada
ekspirasi Klien tidak menunjukkan jalan nafas
sesak nafas Memberikan terapi fisik
Perubahan gerakan dada Tidak adanya suara pada dada
nafas tambahan Mengeluarkan sekret
Napas dalam Klien menunjukkan dengan cara batuk
frekuensi nafas dalam atau penyedotan
Napas cuping hidung
rentang normal Mendengarkan bunyi
Fase ekspirasi yang lama Perkembangan dada nafas, mancatat
simetris daerah yang
Penggunaan otot-otot bantu Tidak menggunakan ototmangalami penurunan
untuk bernapas pernafasan tambahan atau ada tidaknya
ventilasi dan adanya
Faktor yang berhubungan bunyi tambahan
Memberikan oksigen
Posisi tubuh
yang tepat
Deformitas dinding dada Pemantauan
pernafasan
Kerusakan kognitif Monitor tingkat, irama,
kedalaman, dan upaya
Kerusakan muskuloskeletal bernapas
Catat pergerakan dada,
Disfungsi neuromuskular lihat kesimetrisan,
penggunaan otot
bantu, dan retraction
otot intercostals dan
supraclavicular
Palpasi ekspansi paru-
paru di kedua sisi (kiri-
kanan)
Tentukan kebutuhan
untuk suction
Monitor bila ada
kelelahan dari otot
diafragma
Lakukan pengobatan
terapi pernapasan
(seperti nebulizer) jika
dibutuhkan
Peningkatan Batuk

Memeriksa hasil tes


fungsi paru-paru,
bagian dari kapasitas
vital, kekuatan
inspirasi maksimal,
kekuatan volume
ekspirasi dalam 1 detik
(FEV1), dan FEV1/FVO2

Pada waktu pasien


batuk, perut bagian
bawah xiphoid
dipadatkan dengan
telapak tangan ketika
membantu pasien
untruk fleksi
Menginstruksikan
pasien untuk batuk
yang dimulai dengan
penghirupan nafas
secara maksimal
Ventilasi Mekanik
Memeriksa kelelahan
otot pernafasan
Memeriksa gangguan
pada pernafasan
Merencanakan dan
mengaplikasikan
ventilator
Memeriksa
ketidakefektifan
ventilasi mekanik baik
keadaan fisik maupun
mekanik
Memastikan pertukaran
ventilasi setiap 24 jam
Pemeriksaan Tanda-
tanda Vital
Memeriksa tekanan
darah ,nadi, suhu
tubuh, dan pernapasan
dengan tepat.
Mencatat
kecenderungan dan
pelebaran fluktuasi
dalam tekanan darah.
Mendengarkan dan
membandingkan bunyi
tekanan darah di
kedua lengan dengan
tepat.
Memeriksa dengan
tepat tekanan darah
denyut nadi, dan
pernapasan sebelum,
selama, dan sesudah
beraktivitas.
Kolaborasi
Pemberian obat anti
lumpuh, obat bius, dan
narkotik analgesic
HE
Menginstruksikan
bagaimana batuk yang
efektif
Mengajarkan pasien
bagaimana
penghirupan

3. Gangguan Pertukaran Respiratory Status : Airway Management


gas Gas exchange
Respiratory Status 1.: Buka jalan nafas,
Definisi : Kelebihan atau ventilation guanakan teknik chin
kekurangan dalam Vital Sign Status lift atau jaw thrust bila
oksigenasi dan atau perlu
pengeluaran Setelah dilakukan2. Posisikan pasien
karbondioksida di dalam tindakan keperawatan untuk memaksimalkan
membran kapiler alveoli selama ...x24 jam ventilasi
diharapkan tidak terjadi 3. Identifikasi pasien
Batasan karakteristik : gangguan pertukaran perlunya pemasangan
gas dengan Kriteria alat jalan nafas buatan
Gangguan penglihatan 4. Pasang mayo bila
Hasil :
Penurunan CO2
perlu
Takikardi Mendemonstrasikan 5. Lakukan fisioterapi
Hiperkapnia
peningkatan ventilasi dada jika perlu
Keletihan
Somnolen dan oksigenasi yang 6. Keluarkan sekret
Iritabilitas adekuat dengan batuk atau
Hypoxia Memelihara suction
Kebingungan kebersihan paru paru 7. Auskultasi suara
Dyspnoe dan bebas dari tanda nafas, catat adanya
nasal faring tanda distress suara tambahan
AGD Normal Pernafasan 8. Lakukan suction pada
sianosis Mendemonstrasikan mayo
warna kulit abnormal 9. Berika bronkodilator
batuk efektif dan suara
(pucat, kehitaman)
nafas yang bersih, tidak
Hipoksemia ada sianosis dan bial perlu
hiperkarbia dyspneu 10.
(mampu Barikan pelembab
sakit kepala ketika mengeluarkan sputum, udara
bangun mampu 11.
bernafas Atur intake untuk
frekuensi dan kedalaman cairan
dengan mudah, tidak
nafas abnormal mengoptimalkan
ada pursed lips)
Tanda tanda vital keseimbangan.
dalam rentang norma 12. Monitor respirasi dan
Faktor faktor yang status O2
berhubungan :

ketidakseimbangan Respiratory Monitoring


perfusi ventilasi
perubahan membran 13. Monitor rata rata,
kapiler-alveolar kedalaman, irama dan
usaha respirasi
14. Catat pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan, retraksi
otot supraclavicular
dan intercostal
15. Monitor suara nafas,
seperti dengkur
16. Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes, biot
17. Catat lokasi trakea
18. Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
19. Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi dan
suara tambahan
20. Tentukan kebutuhan
suction dengan
mengauskultasi
crakles dan ronkhi
pada jalan napas
utama
21. auskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya

4. Resiko Setelah dilakukan Nutritiont


Ketidakseimbangan tindakan keperawatan Management
nutrisi tubuh : kurang selama ...x24 jam klien
dari kebutuhan tubuh menunjukkan nutrisi1. Kaji makanan yang
Definisi sesuai dengan disukai oleh klien
2. Kaji adanya alergi
kebutuhan tubuh
Ketidakseimbangan nutrisi makanan
dengan kriteria hasil:
adalah resiko asupan Laporkan nutrisi adekuat3. Monitor jumlah nutrisi
nutrisi yang tidak Masukan makanan dan dan kandungan kalori.
mencukupi kebutuhan cairan adekuat 4. Kaji kemampuan
metabolik. pasien untuk
Energi adekuat
Massa tubuh normal mendapatkan nutrisi
Batasan Karakteristik Ukuran biokimia normal yang dibutuhkan
Persepesi ketidakmampuan 5. Pantau adanya mual
untuk mencerna makanan. Dengan skala : atau muntah.
Kekurangan makanan 6. Yakinkan diet yang
Tonus otot buruk 1 = Sangat kompromi dimakan mengandung
Kelemahan otot yang tinggi serat untuk
berfungsi untuk menelan 2 = Cukup kompromi mencegah konstipasi
atau mengunyah 7. Kolaborasi dengan
3 = Sedang kompromi
Faktor yang berhubungan ahli gizi untuk
Ketidakmampuan untuk 4 = Sedikit kompromi menentukan jumlah
menelan atau mencerna kalori dan nutrisi yang
makanan atau menyerap 5 = Tidak kompromi dibutuhkan pasien.
nurtien akibat faktor 8. Berikan makanan
biologi : yang terpilih ( sudah
Penyakit kronis dikonsultasikan
Kesulitan mengunyah atau dengan ahli gizi)
menelan 9. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk diet
yang tepat bagi anak
dengan sindrom
nefrotik.

Weight Management

10. Diskusikan bersama


pasien mengenai
hubungan antara
intake makanan,
latihan, peningkatan
BB dan penurunan BB.
11. Diskusikan bersama
pasien mengani
kondisi medis yang
dapat mempengaruhi
BB
12. Diskusikan bersama
pasien mengenai
kebiasaan, gaya hidup
dan factor herediter
yang dapat
mempengaruhi BB
13. Diskusikan bersama
pasien mengenai risiko
yang berhubungan
dengan BB berlebih
dan penurunan BB
14. Perkirakan BB badan
ideal pasien
Weight reduction
Assistance

15. Fasilitasi keinginan


pasien untuk
menurunkan BB
16. Perkirakan bersama
pasien mengenai
penurunan BB
17. Tentukan tujuan
penurunan BB
18. Beri pujian/reward
saat pasien berhasil
mencapai tujuan

HE

19. Dorong pasien untuk


merubah kebiasaan
makan
20. Ajarkan pemilihan
makanan
21. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake
Fe
22. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein
dan vitamin C
23. Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
24. Anjurkan klien untuk
makan sedikit namun
sering.
25. Anjurkan keluarga
untuk tidak
membolehkan anak
makan-makanan yang
banyak mengandung
garam.

5. hipertermi Thermoregulation Fever treatment

Definisi : suhu tubuh naik - Monitor suhu sesering


diatas rentang normal mungkin
Setelah dilakukan- Monitor warna dan
tindakan keperawatan suhu kulit
selama 1x24 jam- Monitor tekanan
Batasan Karakteristik: diharapkan suhu tubuh darah, nadi dan RR
- kenaikan suhu tubuh kembali normal dengan- Monitor penurunan
Kriteria Hasil : tingkat kesadaran
diatas rentang normal
- Monitor WBC, Hb, dan
- serangan atau konvulsi
- Suhu tubuh dalam Hct
(kejang)
rentang normal - Monitor intake dan
- kulit kemeraha
- Nadi dan RR dalam output
- pertambahan RR
- takikardi rentang normal - Berikan anti piretik
- saat disentuh tangan- Tidak ada perubahan- Berikan pengobatan
terasa hangat warna kulit dan untuk mengatasi
tidak ada pusing penyebab demam
- Selimuti pasien
- Berikan cairan
Faktor faktor yang intravena
berhubungan : - Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
- penyakit/ trauma - Tingkatkan sirkulasi
- peningkatan metabolisme udara
- aktivitas yang berlebih - Berikan pengobatan
- pengaruh
untuk mencegah
medikasi/anastesi
terjadinya menggigil
-
ketidakmampuan/penurun Temperature
an kemampuan untuk
regulation

- Monitor suhu minimal


tiap 2 jam
- Rencanakan
monitoring suhu
secara kontinyu
- Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
- Ajarkan pada pasien
cara mencegah
keletihan akibat panas
berkeringat Vital sign
- terpapar dilingkungan
Monitoring
panas
- dehidrasi - Monitor TD, nadi,
- pakaian yang tidak tepat suhu, dan RR
- Catat adanya
fluktuasi tekanan
darah
- Monitor pola
pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis
perifer
- Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign

6. Nyeri akut NOC : NIC

Definisi: Pain Level, Pain Management


pain control,
Sensori yang tidak
comfort level 1. Lakukan pengkajian
menyenangkan dan nyeri secara
pengalaman emosional komprehensif
yang muncul secara termasuk lokasi,
Tujuan dan kriteria
aktual atau potensial karakteristik, durasi,
hasil :
kerusakan jaringan atau frekuensi, kualitas
menggambarkan adanya dan faktor presipitasi
Setelah dilakukan
kerusakan (Asosiasi Studi 2. Observasi reaksi
tindakan keperawatan
Nyeri nonverbal dari
selama 2 x 24 jam,
Internasional):serangan ketidaknyamanan
nyeri berkurang atau 3. Kaji kultur yang
mendadak atau pelan terkontrol. mempengaruhi respon
intensitasnya dari ringan
sampai berat yang dapat Mampu mengontrol nyeri
diantisipasi dengan akhir nyeri (tahu penyebab 4. Kaji tipe dan sumber
yang dapat diprediksi dan nyeri, mampu nyeri untuk
dengan durasi kurang dari Menggunakan tehnik menentukan intervensi
6 bulan. nonfarmakologi 5. Monitor penerimaan
untuk mengurangi klien tentang
Batasan karakteristik: manajemen nyeri
nyeri, mencari bantuan)
6. Gunakan teknik
Mengungkapkan secara Melaporkan bahwa
komunikasi terapeutik
nyeri berkurang dengan
verbal atau melaporkan untuk mengetahui
menggunakan
dengan isyarat pengalaman nyeri
Posisi untuk menghindari manajemen nyeri klien
Mampu mengenali
nyeri 7. Kontrol lingkungan
Mengkomunikasikan nyeri (skala, intensitas, yang dapat
deskriptor nyeri (misalnya frekuensi dan tanda mempengaruhi nyeri
rasa tidak nyaman). nyeri)
seperti suhu ruangan,
Menyatakan rasa
pencahayaan dan
Faktor yang nyaman setelah
kebisingan
berhubungan : nyeri berkurang
8. Kurangi faktor
Tanda vital dalam
Agen-agen penyebab rentang normal presipitasi nyeri
9. Evaluasi keefektifan
cedera (misalnya biologis,
kontrol nyeri
kimia, fisik dan psikologis.
10. Tingkatkan istirahat
11. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi dan
inter personal)
12. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
13. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri
tidak berhasil

Analgesic
Administration

14. Tentukan lokasi,


karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
15. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
16. Cek riwayat alergi
17. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
18. Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
19. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
20. Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya
nyeri
21. Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
22. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
23. Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat

HE :

24. Instrusikan pasien


untuk
menginformasikan
kepada peraway jika
peredaan nyeri tidak
dapat dicapai
25. Informasikan kepada
klien tentang prosedur
yang dapat
meningkatkan nyeri
dan tawarkan strategi
koping yang
disarankan.
26. Berikan informasi
tentang nyeri, seperti
penyebab nyeri,
berapa lama akan
berlangsung, dan
antisipasi
ketidaknyamanan
akibat prosedur
Referensi

Brunner and Suddarths. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 volume 2.
Jakarta : EGC.

Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta.

Price A, Sylvia, dkk, 2012. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit, Edisi 6. EGC:
Jakarta.

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis NANDA, intervensi
NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC
DIARE

1. DEFENISI

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan
demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi
(Hendarwanto, 1999).

Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.

Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak
dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah
(Ngastiyah, 1997).

Anak usia TODDLER adalah anak usia antara 1 sampai 3 tahun (Donna L. Wong)

1. ETIOLOGI
1. Faktor infeksi
1. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus,
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica,
G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
2. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat
menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia,
ensefalitis dan sebagainya.
2. Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida


(intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang
terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

1. Faktor Makanan

Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan
tertentu.

1. Faktor Psikologis

Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi tetapi dapat
ditemukan pada anak yang lebih besar.

1. MANIFESTASI KLINIS

Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, napsu makan berkurang kemudian timbul
diare. Tinja mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah kehijauan karena
bercampur dengan empedu. Daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet karena sering defekasi dan
tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare.

Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut
meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus
berlangsung tanpa penggantian yang memadai, gejala dehidrasi mulai tampak yaitu: berat badan
menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung (pada bayi), selaput lendir bibir
dan mulut serta kulit kering.

Bila dehidrasi terus berlanjut dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi
cepat, denyut nadi cepat dan lemah bahkan tidak teraba, tekanan darah menurun, klien tampak lemah
dengan kesadaran menurun. Karena kekurangan cairan, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat, pernapasan cepat dan dalam (pernapasan
Kussmaul).

1. PATOFIIOLOGI

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:

1. Gangguan osmotic

Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen
usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus
yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

1. Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningklatan sekresi, air
dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.

1. Gangguan motilitas usus

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga
timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan,
selanjutnya dapat timbul diare pula.

1. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan diare akut pada anak:

1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.

Cara menilai derajat dehidrasi

1. Kehilangan berat badan

2,5 % tidak ada dehidrasi

2,5-5% Dehidrasi ringan

5-10 % dehidrasi sedang


> 10% dehidrasi berat

1. Skor Maurice King

Bagian Tubuh N I LAI


Yang Diperiksa 0 1 2
Keadaan Umum Sehat Gelisah cengeng, apatis, Mengigau, koma/syok
ngantuk
Turgor Normal Sangat kurang
Sedikit, kurang
Mata Nomral Sangat cekung
Sedikit cekung
UUB Normal Sangat cekung
Sedikit cekung
Mulut Normal Kering, sianosis
Kering
Denyut Nadi Kuat Lemah
Sedang
< 120 > 140
(120-140)

KETERANGAN :

Skor :

0-2 dehidrasi ringan

3-6 dehidrasi sedang

7-12 Dehidrasi berat

Pada anak-anak Ubun Ubun Besar sudah menutup


Untuk kekenyalan kulit :

1 detik : dehidrasi ringan

1-2 detik : dehidrasi sedang

> 2 detik : dehidrasi berat

Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:

1. Jenis cairan yang hendak digunakan.

Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran
meskipun jumlah aliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia
dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml
pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan
oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
1. Jumlah cairan yang hendak diberikan.

Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan
yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus:

1) Mengukur BJ Plasma

Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:

BJ Plasma 1,025

- x BB x 4 ml

0,001

2) Metode Pierce

Berdasarkan keadaan klinis, yakni:

diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB


diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB

diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB

3) Metode Perbandingan BB dan Umur

BB (kg) Umur PWL NWL CWL Total Kehilangan Cairan


<3 < 1 bln 150 125 25 300

3-10 1 bln-2 thn 125 100 25 250

10-15 2-5 thn 100 080 25 205

15-25 5-10 thn 080 025 25 130

Sumber: Ngastiyah (1997)

Keterangan:

PWL : Previus Water Lose (ml/kgBB) = cairan muntah

NWL : Normal Water Lose (ml/kgBB) = cairan diuresis, penguapan, pernapasan

CWL : Concomitant Water Lose (ml/KgBB) = cairan diare dan muntah yang terus menerus

1. Dietetik

Untuk mencegah kekurangan nutrisi, diet pada anak diare harus tetap dipertahankan yang meliputi:
Susu (ASI atau PASI rendah laktosa)
Makanan setengah padat atau makanan padat (nasi tim)

1. Obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:

Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)


Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)

Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)

PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN

1. A. PENGKAJIAN
1. Identitas

Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak, frekuensi diare untuk neonatus > 4 kali/hari
sedangkan untuk anak > 3 kali/hari dalam sehari. Status ekonomi yang rendah merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya diare pada nak ditinjau dari pola makan, kebersihan dan
perawatan. Tingkat pengetahuan perlu dikaji untuk mengetahui tingkat perlaku kesehatan dan
komunikasi dalam pengumpulan data melalui wawancara atau interview. Alamat berhubungan dengan
epidemiologi (tempat, waktu dan orang)

1. Keluhan utama

yang membuat klien dibawa ke rumah sakit. Manifestasi klnis berupa BAB yang tidaknomral/cair lebih
banyak dari biasanya

1. Riwayat Keperawatan Sekarang

Paliatif, apakah yang menyebabkan gejala diare dan apa yang telah dilakukan. Diare dapat disebabkan
oleh karena infeksi, malabsorbsi, faktor makanan dan faktor psikologis.

Kuatitatif, gejala yang dirasakan akibat diare bisanya berak lebih dari 3 kali dalam sehari dengan atau
tanpa darah atau lendir, mules, muntak. Kualitas, Bab konsistensi, awitan, badan terasa lemah,
sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari .

Regonal,perut teras mules, anus terasa basah.

Skala/keparahan, kondisi lemah dapat menurunkan daya tahan tubuh dan aktivitas sehari-hari.

Timing, gejala diare ini dapat terjadi secara mendadak yang terjadi karena infeksi atau faktor lain,
lamanya untuk diare akut 3-5 hari, diare berkepanjangan > 7 hari dan Diare kronis > 14 hari

Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik desertai atau
tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan atau darah. Keluhan lain yang mungkin
didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala
penurunan kesadaran.
1. Riwayat Keperawatan Sebelumnya

Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah
dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk),
psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain.

1. Prenatal

Pengaruh konsumsi jamu-jamuan terutamma pada kehamilan semester pertama, penyakti selama
kehamilan yang menyertai seperti TORCH, DM, Hipertiroid yang dapat mempengaruhi pertunbuhan
dan perkembangan janin di dalam rahim.

1. Natal

Umur kehamilan, persalinan dengan bantuan alat yang dapat mempengaruhi fungsi dan maturitas organ
vital .

1. Post natal

Apgar skor < 6 berhubungan dengan asfiksia, resusitasi atau hiperbilirubinemia. BErat badan dan
panjang badan untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia sekelompoknya.
Pemberian ASI dan PASI terhadap perkembangan daya tahan tubuh alami dan imunisasi buatan yang
dapat mengurangi pengaruh infeksi pada tubuh.

1. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan menjadi bahan pertimbangan yang penting karena setiap individu
mempunyai ciri-ciri struktur dan fungsi yang berbeda, sehingga pendekatan pengkajian fisik dan
tindakan haruys disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan (Robert Priharjo, 1995)

1. Riwayat Kesehatan Keluarga


1. Penyakit

Apakah ada anggota keluarga yangmenderita diare atau tetangga yang berhubungan dengan distribusi
penularan.

1. Lingkungan rumah dan komunita

Lingkungan yang kotor dan kumuh serta personal hygiene yang kurang mudah terkena kuma penyebab
diare.

1. Perilaku yang mempengaruhi kesehatan

BAB yang tidak pada tempat (sembarang)/ di sungai dan cara bermain anak yangkurang higienis dapat
mempermudah masuknya kuman lewat Fecal-oral.

1. Persepsi keluarga
Kondisi lemah dan mencret yang berlebihan perlu suatu keputusan untuk penangan awal atau lanjutan
ini bergantung pada tingkat pengetahuan dan penglaman yang dimiliki oleh anggota keluarga (orang
tua).

1. Pola Fungsi kesehatan


1. Pola Nutrisi

Makanan yang terinfeksi, pengelolaan yang kurang hygiene berpengaruh terjadinya diare, sehingga
status gizi dapat berubah ringan samapai jelek dan dapat terjadi hipoglikemia. Kehilangan Berat Badan
dapat dimanifestasikan tahap-tahap dehidrasi. Dietik pada anak < 1tahun/> 1tahun dengan Berat badan
< 7 kg dapat diberikan ASI/ susu formula dengan rendahlaktosa, umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg
dapat diberikan makananpadat atau makanan cair.

1. Pola eliminasi

BAB (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah dapat mendukung secara
makroskopis terhadap kuman penyebab dan cara penangana lebih lanjut. BAK perlu dikaji untuk
output terhadap kehilangan cairan lewat urine.

1. Pola istirahat

Pada bayi, anak dengan diare kebutuhan istirahat dapat terganggu karena frekuensi diare yang
berlebihan, sehingga menjadi rewel.

1. Pola aktivitas

Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan
pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku
yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.

1. Pengkajian Fisik

Pengakajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan
status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-
urinaria.

Fokus pengkajian pada anak dengan diare adalah penemuan tanda-tanda yang mungkin didapatkan
yang meliputi: penurunan BB, denyut nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, mata cekung,
mukosa bibir dan mulut kering, kulit kering dengan turgor berkurang. Dapat ditemukan peningkatan
frekuensi pernapasan, peningkatan peristaltik usus dan adanya luka lecet sekitar anus

1. a. Sistem Neurologi

Subyektif, klien tidak sadar, kadang-kadang disertai kejang


Inspeksi, Keadaan umum klien yang diamati mulai pertama kali bertemu dengan klien.
Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang, ringan atau tidak tampak sakit. KeSadaran diamati
komposmentis, apatis, samnolen, delirium, stupor dan koma.
Palpasi, adakah parese, anestesia,

Perkusi, refleks fisiologis dan refleks patologis.

1. b. Sistem Penginderaan

Subyektif, klien merasa haus, mata berkunang-kunang,

Inspeksi :Kepala, kesemitiras muka, cephal hematoma (-), caput sucedum (-), warna dan
distibusi rambut serta kondisi kulit kepala kering, pada neonatus dan bayi ubun-ubun besar
tampak cekung.

Mata, Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah icterus. Reflek mata dan pupil terhadap
cahaya, isokor, miosis atau midriasis. Pada keadaan diare yang lebih lanjut atau syok hipovolumia
reflek pupil (-), mata cowong.

Hidung, pada klien dengan dehidrasi berat dapat menimbulkan asidosis metabolik sehingga
kompensasinya adalah alkalosis respiratorik untuk mengeluarkan CO2 dan mengambil O2,nampak
adanya pernafasan cuping hidung.

Telinga, adakah infeksi telinga (OMA, OMP) berpengaruh pada kemungkinaninfeksi parenteal yang
pada akhirnya menyebabkan terjadinya diare (Lab. IKA FKUA, 1984)

Palpasi,

Kepala, Ubun-ubun besar cekung, kulit kepala kering, sedangkan untuk anak-anak ubun-ubun besar
sudah menutup maximal umur 2 tahun.

Mata, tekanan bola mata dapat menurun,

Telinga, nyeri tekan, mastoiditis

1. c. Sistem Integumen

Subyektif, kulit kering

Inspeksi , kulit kering, sekresi sedikit, selaput mokosa kering

Palpasi, tidak berkeringat, turgor kulit (kekenyalan kulit kembali dalam 1 detik = dehidrasi
ringan, 1-2 detik = dehidrasi sedang dan > 2 detik = dehidrasi berat (Lab IKA FKUI, 1988).

1. d. Sistem Kardiovaskuler

Subyektif, badan terasa panas tetapi bagian tangan dan kaki terasa dingin

Inspeksi, pucat, tekanan vena jugularis menurun, pulasisi ictus cordis (-), adakah pembesaran
jantung, suhu tubuh meningkat.
Palpasi, suhu akral dingin karena perfusi jaringan menurun, heart rate meningkat karena
vasodilatasi pembuluh darah, tahanan perifer menurun sehingga cardiac output meningkat. Kaji
frekuensi, irama dan kekuatan nadi.
Perkusi, normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada kausus diare akut masih
dalam batas normal (batas kiri umumnya tidak lebih dari 4-7 dan 10 cm ke arah kiri dari garis
midsternal pada ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
Auskultasi, pada dehidrasiberat dapat terjadi gangguansirkulasi, auskulatasi bunyi jantung S1,
S2, murmur atau bunyi tambahan lainnya. Kaji tekanan darah.

1. e. Sistem Pernafasan

Subyektif, sesak atau tidak

Inspeksi, bentuk simetris, ekspansi , retraksi interkostal atau subcostal. Kaji frekuensi, irama
dan tingkat kedalaman pernafasan, adakah penumpukan sekresi, stridor pernafas inspirasi atau
ekspirasi.
Palpasi, kajik adanya massa, nyeri tekan , kesemitrisan ekspansi, tacti vremitus (-).

Auskultasi, dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler, intensitas, nada dan
durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk mendeteksi adanya penyakit penyerta seperti broncho
pnemonia atau infeksi lainnya.

1. f. Sistem Pencernaan

Subyektif, Kelaparan, haus

Inspeksi, BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensilebih dari 3 kali dalam sehari,
adakah bau, disertai lendi atau darah. Kontur permukaan kulit menurun, retraksi (-)
dankesemitrisan abdomen.
Auskultasi, Bising usus (dengan menggunakan diafragma stetoskope), peristaltik usus
meningkat (gurgling) > 5-20 detik dengan durasi 1 detik.
Perkusi, mendengar aanya gas, cairan atau massa (-), hepar dan lien tidak membesar suara
tymphani.
Palpasi, adakahnyueri tekan, superfisial pemuluh darah, massa (-). Hepar dan lien tidak teraba.

1. g. Sistem Perkemihan

Subyektif, kencing sedikit lain dari biasanya

Inspeksi, testis positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio mayor menutupi labio minor,
pembesaran scrotum (-), rambut(-). BAK frekuensi, warna dan bau serta cara pengeluaran
kencing spontan atau mengunakan alat. Observasi output tiap 24 jam atau sesuai ketentuan.
Palpasi, adakah pembesaran scrotum,infeksi testis atau femosis.

1. h. Sistem Muskuloskletal
Subyektif, lemah

Inspeksi, klien tampak lemah, aktivitas menurun

Palpasi, hipotoni, kulit kering , elastisitas menurun. Kemudian dilanjutkan dengan pengukuran
berat badan dan tinggi badan , kekuatan otot.

1. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium

1) Faeces lengkap

Makroskopis dan mikroskopis (bakteri (+) mis. E. Coli, PH dan kadar gula, Biakan dan uji resistensi

2) Pemeriksaan Asam Basa

Analisa Baood Gas Darah dapat menimbulkan Asidosis metabolik dengan kompensasi alkalosis
respiratorik.

3) Pemeriksaan kadar ureum kreatinin

Untuk mengetahui faali ginjal

4) Serum elektrolit (Na, K, Ca dan Fosfor)

Pada diare dapat terjadi hiponatremia, hipokalsemia yang memungkinkan terjadi penuruna kesadaran
dan kejang.

1. Pemeriksaan intubasi duodenum

Terutama untuk diare kronik dapat dideteksi jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif.

1. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi diperlukan kalau ada penyulit atau penyakit penyerta seperti bronchopnemonia
dll seperti foto thorax AP/PA Lateral.

1. Penatalaksanaan
1. Rehidrasi

i. Jenis cairan

cara rehidrasi oral : Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti oralit,pedyalit
setiap kali diare, Formula sederhana (NaCl dan Sukrosa/KH lain) seperti LGG, tajin
cairan parenteral : usia 0-2 hari dengan BB < 2500 D5%, BB > 2500 (aterm) D10%, Usia 2
hari-3 bulan d100,18 NS, Usia 3 bulan- 3 tahun D51/4 NS, Usia > 3 tahun D51/2NS, HSD
(Half Strength Darrow) D1/2 2,5 NS cairan khusus untuk diare > usia 3 bulan.

ii. Jalan pemberian


Oral (dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi, anak mau minum serta kesadaran baik)
Intragastrik (dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi, anak tidak mau makan dan kesadaran
menurun).
IV line bila dehidrasi berat

iii. Jumlah cairan

Jumlah cairan yang diberikan tergantung pada :

Defisit (derajat dehidrasi)


Kehilangan sesaat (concurent loss)

Rumatan (maintenance)

iv. Jadwal/kecepatan

Jadwal atau kecepatan pemberian cairan tergantung pada tingkat dehidrasi dan umur. Untuk defisit
diberikan 3 jampertama dan dilanjutkan maintenance.

1. Obat-obatan

Obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hr dengan dosisminimal 30 mg, Klorpromasin, 0,5-1 mg/
kg BB/hr
Obat antispasmotiliti

Papaverin, opium. Loperamid

Antibiotik

Penyebab jelas, ada penyakit penyerta

1. Dietetik
1. Anak < 1 tahun atau > 1 tahun denga BB < 7 kg

Susu ASI/ susu formula dengan laktosa rendah

Makanan setengah padat (bubur susu), makana padat

1. Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg

Makanan padat/ maknan cair/susu

1. Dalam keadaan malabsorbsi berat serta allergi protein susu sapi dapat diberikan elemental/semi
elemental formula.
1. Supportif

Vitamin A 200.000 iu IM usia < 1 tahun

Vitamin A 100.000 iu IM usia 1-5 tahun


Vitamin A 5000 iu usia > 5 tahun

Vitamin A 2.500 iu po usia < 1 tahun

Vitamin A 5.000 iu po usia > 1 tahun

Vitamin B kompleks, vit C

1. MASALAH KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta
intake terbatas (mual).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
3. Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
4. Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya
5. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d
pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.

1. INTERVENSI
1. 1. DX. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual).

Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan secara optimal

Criteria :

Tanda-tanda vital dalam batas normal


Tanda-tanda dehidrasi (-), turgor kulit elastis, membran mukosa basah, haluaran urine
terkontrol, mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak cekung.
Konsistensi BAB liat/lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari

Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit BJ urine 1,008-1,010; BUN dalam batas normal.

Blood Gas Analysis dalam batas normal

Intervensi :

1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan (dehidrasi)

Rasional: Penurunan volume cairan bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan pemekatan
urine. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.

1. Pantau intake dan out put


Rasional : Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya tidak mencukupi untuk
mengkompensasi kehilangan cairan. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat
haluaran tak adeguat untuk membersihkan sesa metabolisme.

1. Timbang BB setiap hari

Rasional : Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.

1. Penatalaksanaan rehidrasi :
1. Anjurkan keluarga bersama klien untuk meinum yang banyak (LGG, oralit atau pedyalit
10 cc/kg BB/mencret

Rasional : Kandungan Na, K dan glukosa dalam LGG, oralit dan pedyalit mengandung elektrolit
sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral. Bula menyebarkan gelombang udara dan mengurangi
distensi.

1. Pemberian cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur dan penyulit (penyakit penyerta)

Rasional : Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang intakenya atau
dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV line sebai pengganti cairan yang telah hilang.

1. Kolaborasi :
1. Pemeriksaan serum elektrolit (Na, K dan Ca serta BUN)

Rasional : Serum elektrolit sebagai koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. BUN untuk
mengetahui faali ginjal (kompensasi).

1. Obat-obatan (antisekresi, antispasmolitik dan antibiotik)

Rasional : Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit untuk
keseimbangannya. Antispasmolitik berfungsi untuk proses absrobsi normal. Antibiotik sebagai
antibakteri berspektrum luas untuk menghambat endoktoksin.

1. 2. DX.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus.

Tujuan :

Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Criteria :

Nafsu makan baik


BB ideal sesuai dengan umur dan kondisi tubuh

Hasil pemeriksaan laborat protein dalam batas normal (3-5 mg/dalam)

Intrvensi :
1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang berserat tinggi, berlemak dan
air panas atau dingin)

Rasional : Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.

1. Timbang BB setiap hari

Rasional : Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan kebutuhan kalori,
protein dan vitamin.

1. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan bantu sesuai dengan
kebutuhan.

Rasional : Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi releks dan menyenangkan.

1. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan kesehatan dan
peningkatan daya tahan tubuh.

Rasional : Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dan katabolisme
serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan sakit. Penjelasan yang diterima dapat
membuka jalan pikiran untuk mencoba dan melaksanakan apa yang diketahuinya.

1. Kolaborasi :
1. Dietetik

anak , 1 tahun/> 1 tahun dengan BB < 7 kg diberi susu (ASI atau formula rendah laktosa),
makan setengah padat/makanan padat.

Rasional : Pada diare dengan usus yang terinfeksi enzim laktose inaktif sehingga intoleransi laktose.

Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg diberi makan susu/cair dan padat

Rasional : Makanan cukup gizi dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan.

1. Rehidrasi parenteral (IV line)

Rasional : Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang intakenya atau
dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV line sebai pengganti cairan yang telah hilang.

1. Supporatif (pemberian vitamin A)

Rasional : Vitamin merupakan bagian dari kandungan zat gizi yang diperlukan tubuh terutama pada
bayi untuk proses pertumbuhan.

1. 3. DX.Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Tujuan : nyeri teratasi

Intervensi :
1. Kaji keluhan nyeri (skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal

Rasional : Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

1. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.

Rasional : Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri.

1. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan
kompres hangat abdomen

Rasional : Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan


koping.

1. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan
kulit

Rasional : Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi.

1. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi

Rasional : Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI
dapat diberikan sesuai indikasi klinis.

1. 4. DX.Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya

Tujuan

kecemasan berkurang

Intervensi

1. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang
mekanisme koping yang tepat.

Rasional : Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah.

1. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang
anaknya mengalami masalah yang sama.

Rasional : Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang
yang mengalami masalah yang demikian.

1. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu
klien.

Rasional : Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecamasan.


1. 5. DX.Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi
b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.

Tujuan

Intervensi

1. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit
dan perawatan anaknya.

Rasional : Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang
pengetahuan sebelumnya.

1. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan
pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.

Rasional : Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan
keluarga dalam proses perawatan klien.

1. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping
yang mungkin timbul.

Rasional : Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.

1. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi.

Rasional : Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri
anaknya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An N DENGAN DIARE DI RUANG PERAWATAN X RSU.X

Tanggal pengkajian : 11 desember 2013

Ruangan :

Rekam medic : 094204

1. BIODATA
2. Identitas Klien

Nama : An. A

Tanggal lahir : 3-12-2011 ( 2 tahun )

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam
Alamat : t____

Tanggal masuk : 10-12-2013

Diagnose medic : Diare

1.
1. Ibu

Nama : NY. A

Usia : 25 tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan :IRT

Agama : Islam

Alamat : T______

Identitas orang tua

1. Ayah

Nama : Tn.K

Usia : 28 tahun

Pendidikan : S1

Pekerjaan : Pegawai koperasi

Agama : Islam

Alamat : Tamalate VI

1. KELUHAN UTAMA
2. Keluhan utama

Muntah kurang dari 10 kali dan BAB kurang dari 4 kali

1. Riwayat keluhan utama

Klien masuk di RS dengan keluhan muntah kurang dari 10 kali sejak 1 hari sebelum masuk rs serta
BAB kurang dari 4 kali dengan konsistensi encer sejak 3 hari sebelum masuk RS

1. RIWAYAT KESEHATAN
2. Riwayat kesehatan sekarang
Saat dikaji, pasien Nampak lemah

1. Riwayat kesehatan masa lalu


1. Penyakit yang pernah dialami klien yaitu demam
2. Klien tidak pernah mengalami kecelakaan

1. Riwayat kesehatan keluarga

Genogram

2thn

Keterangan :

: perempuan : pasien

: laki-laki : meninggal

: garis keturunan

GI : meninggal karena factor yang tidak diketahui

GII :

GIII : klien dengan penyakit diare

IV. RIWAYAT IMUNISASI

No Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi Setelah pemberian


1. BCG 1X
2. DPT 3X DEMAM
3. POLIO 4X
4. CAMPAK
5. HEPATITIS B 3X

V. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG ANAK

1. Pertumbuhan fisik
1. Berat bdan saat lahir : 2.500 gr
2. Tinggi badan : 48 cm
3. Waktu tumbuh gigi : 7 bulan
4. Perkembangan tiap tahap

Usia saat anak :

1. Berguling : 3 bulan
2. Duduk : 4 bulan
3. Merangkak : lupa
4. Berdiri : 8 bulan
5. Senyum kepada orang lain pertama kali : lupa
6. Bicara pertama kali : 12 bulan
7. Berpakaian tanpa bantuan : 9 bulan

VI. RIWAYAT NUTRISI

1. Pemberian ASI
1. Pertama kali disusui sejak 2 hari lahir karena asi ibu belum ada
2. Lama pemberian : 1 tahun 8 bulan
3. Pemberian susu formula
1. Alasan pemberian : asi ibu belum keluar
2. Jumlah pemberian : 4 gelas sehari
3. Cara pemberian dengan sendok
4. Pemberian makanan tambahan
1. Pertama kali diberikan , pada usia 6 bulan
2. Jenis : bubur, biskuit
5. Perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai saat ini

No Usia Jenis nutrisi Lama pemberian


1. 0-4 bulan ASI 1 tahun 8 bulan
2. 4-12 bulan ASI, bubur susu, buah-buahan 6 bulan sampai sekarang
3. Sekarang Bubur, sayur, daging, ikan,
buah, susu
1. RIWAYAT PSIKOLOGI
2. Lingkungan rumah berada dikota
3. Tidak ada tetangga yang berbahaya
4. Hubungan dengan anggota keluarga harmonis
5. Anak diasuh oleh orang tua

1. RIWAYAT SPIRITUAL
2. Hubungan dengan keluarga harmonis
3. Kegiatan keagamaan diselenggarakan dirumah dan dimesjid

1. REAKSI HOSPITALISASI
2. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
1. Ibu membawah anaknya ke RS karena demam
2. Ibu mengatakan bahwa anaknya selalu menangis
3. Orang tua selalu mengunjungi anaknya di RS
4. Yang tinggal bersama anak adalah ayah, ibu,dan nenek
5. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
1. Anak belum mengerti bahwa ia dibawah dirumah sakit karena sakit
2. Klien belum mengerti apa yang menyebabkan dia sakit
3. AKTIVITAS SEHARI-HARI
1. Nutrisi

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


1. Selera makan Baik Kurang
2. Menu makan Nasi +sayur+lauk Bubur
3 Frekuensi makan 3 x sehari 1x sehari
4 Makanan yang disukai semua Apel
5 Makanan pantangan
6 Pembatasan pola
8 Cara makan Disuapi Disuapi
9 Ritual saat makan
1. Cairan

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


1 Jenis minuman Air putih, susu, teh Air putih, susu
2 Frekuensi minum 6 gelas/hari 4 gelas/hari
3 Kebutuhan cairan 800-1000 cc/hari 800-100 cc/hr
4 Cara pemenuhan Gelas Gelas, cairan infus
1. Eliminasi (BAB/BAK)

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


BAB BAK BAB BAK
1 Tempat pembuangan Wc Wc Wc Wc
2 Frekuensi 1x sehari 3x sehari 1x sehari, 3x sehari
3 Konsistensi Lunak Kuning Lunak Kuning
4 Kesulitan
5 Obat pencahar
1. Istirahat tidur

No Kondisi jam tidur Sebelum sakit Saat sakit


1 Siang Jam 13.00-15.00 Tidak teratur
2 Malam Jam 09.30-05.00 Tidak teratur
1. Olah raga

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


1 Program olahraga
2 Jenis dan frekuensi
3 Kondisi setelah olahraga
1. Personal hygiene

No Kegiatan Sebelum sakit Saat sakit


1 Mandi 2x sehari 2 x sehari
1. Frekuensi Sabun+air Di lap memakaai
2. Cara waslap

3. Alat mandi
2 Cuci rambut 3x seminggu Belum pernah
1. Frekuensi Shampoo+air

2. Cara
3 Gunting kuku 1x seminggu Belum pernah
1. Frekuensi Pake gunting kuku

2. Cara
4 Gosok gigi 2x sehari Belum pernah
1. frekuensi Pasta gigi+sikat gigi,
pagi dan malam
2. cara sebelum tidur
1. Aktivitas mobilitas fisik

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


1 Kegiatan sehari-hari main, nonton tv
2 Pengaturan jadwal harian
3 Penggunaan alat bantu aktivitas
4 Kesulitan pergerakan tubuh
1. Rekreasi

No Kondisi Sebelum sakit Saat sakit


1 Perasaan saat sekolah
2 Waktu luang Main, nonton tv,
3 Perasaan setelah rekreasi/bermain Senang
4 Waktu senggang keluarga Nonton tv
5 Kegiatan hari libur Main, nonton tv
1. PEMERIKSAAN FISIK
2. Keadaan umum klien

Lemah

1. Tanda-tanda vital
1. Suhu : 36,5
2. Nadi : 128x/ i
3. Respirasi : 38 x/i
4. Tekanan darah : 90/60 mmhg
5. Antropometri
1. Tinggi badan :
2. Berat badan : 9 kg
3. Lingkar lengan atas :
4. Lingkar kepala :
5. Lingkar dada :
6. Lingkar perut :
7. System pernafasan
1. Hidung
1. Inspeksi

Lubang hidung simetris kiri dan kanan

Tidak tampak polip,epitaksis

Tidak tampak pernafasan cuping hidung

1. Palpasi

Tidak ada nyeri tekan


Tidak teraba adanya massa

1. Leher
1. Inspeksi

Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan limfe

1. Palpasi

Tidak teraba adanya massa

Tidak ada nyeri tekan

1. Dada
1. Inspeksi

Bentuk dada normal

Selama insipirasi dada mengembang

Tidak Nampak menggunakan otot bantu pernafasan

Frekuensi nafas 38 x/i

1. Palpasi

Tidak ada nyeri tekan

Tidak teraba addanya massa

1. Auskultasi

Bunyi nafas bronkovesikuler pada daerah bronkus

Tidak terdapat bunyi nafas tambahan

1. Perkusi

Resonan pada semua lapang paru

1. System kardiovaskuler
1. Konjungtiva tampak pucat
2. Suara jantung I/II murni regular

1. System pencernaan
1. Skelera tidak ikterus
2. Mulut : tidak stomatitis,
3. Nyeri tekan pada abdomen kuadran kiri atas
4. Jumlah gigi

212 212

212 212

1. System indra
1. Mata
1. Inspeksi

Alis dan bulu mata tumbuh merata

Kelopak mata menutup dengan sempurna

Skera tidak ikterus

Lapang pandang baik

Anemis

1. Palpasi

Tidak terdapat massa

1. Hidung
1. Penciuman baik
2. Tampak adanya secret
3. Tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba massa
4. Telinga
1. Inspeksi

Daun telinga simetris kiri dan kanan

Fungsi pendengaran baik

1. Palpasi

Tidak ada nyeri tekan

Tidak terdapat massa


1. System saraf
1. Fungsi cerebral
1. Status mental :
2. Kesadaran : compos mentis dgn GCS 15 ( E4 M6 V5)
3. Fungsi cranial
1. Nervus I (olfaktorius ) : klien dapat membedakan bau
2. Nervus II (optikus ) : lapang pandang baik
3. Nervus III( okulomotorius )

Klien dapat menggerakkan bola mata ke atas

Pupil isokor

1. Nervus IV (troclearis )

Klien mampu menggerakkan bola mata ke bawah

1. Nervus V ( trigeminus)

Sensorik

Klien dapat merasakan sensasi pada daerah maksila dan mandibula

Motorik
Klien dapat tersenyum, menutup mata dengan rapat, mengangkat kedua alis dan mampu
mengembangkan pipinya

1. Nervus VI ( abdusen)

Klien mampu menggerakkan bola mata kesamping

Reflex kornea baik

1. Nervus VII ( pasialis )

Sensorik

Klien dapat merasakan rasa asam, manis, asin, dan pahit

Motorik

Klien dapat tersenyum, menutup mata dengan rapat, mengangkat kedua alis, mengembangkan pipinya.

1. Nervus VIII ( akustikus )


Klien dapat mendengar dengan baik

1. Nervus IX ( glosofaringeus )

Klien dapat merasakan fungsi pengecapan pada 1/3 posterior lidah

1. Nervus X ( vagus )

Fungsi menelan baik

Gerakan ovula simetris dan tertarik ke atas

1. Nervus XI ( aksesorius )

Klien dapat mengangkat bahu

Klien dapat mengalihkan kepala ke samping

1. Nervus XII ( hypoglosus)

Klien dapat menggerakkan lidah

1. Fungsi motorik

Keterangan :

5 : normal

4 : dapat melawan tekanan

3 : dapat menahan berat tapi tidak dapat melawan tekanan

2 : hanya dapat menggerakkan anggota badan

1 : teraba gerakan kontraksi otot, tidak dapat bergerak

0 : tidak ada kontraksi

Tonus otot

3 3

3 3

1. Fungsi sensorik

Dapat merasakan sensasi panas dan dingin


1. Fungsi cerebellum

Tidak ada tremor

1. Reflex
1. Bisep ka/ki : +/+ (normal )
2. Trisep ka/ki : +/+ ( normal)
3. Patella ka/ki :+/+ (normal )

1. System musculoskeletal
1. Inspeksi

Bentuk kepala hormocepal

Tidak Nampak skoliosis, dordosis, maupun kepotis

Tidak Nampak pembengkakan pada lutut dan kaki

Tidak terdapat pembengkakan pada tangan

1. Palpasi

Tidak teraba pembengkakan pada tangan dan kaki

1. System integument
1. Warna rambut hitam merata
2. Warna kulit sawo matang
3. Turgor kulit kering
4. Suhu 37
5. System endokrin
1. Eksresi urine tidak berlebih
2. Tidak ada bekas air seni dikelilingi semut
3. System perkemihan
1. Tidak Nampak udeme palpebral
2. Tidak teraba distensi kandung kemih
3. System imun
1. Tidak ada riwayat alergi
2. Penyakit yang berhubungan dengan cuaca adalah flu
3. Pemeriksaan nyeri
1. Ibu klien mengatakan bahwa anaknya merasa nyeri pada
perut timbul sejak 3 hari sebelum masuk RS
2. Lama nyeri : hilang timbul
3. Pencetus yang memperburuk nyeri : pada saat beraktivitas
4. Anak Nampak menangis
5. Intensitas nyeri : sedang

Visual analog scale (VAS)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1. TEST DIAGNOSTIK
2. Darah rutin
3. Feses rutin
4. GDS
5. Eletrolit

1. PENGOBATAN
2. Zimpit syrup 11
3. Probit sachet 21
4. Elkana syrup 21

KLASIFIKASI DATA

DATA SUBJEKTIF:

Ibu klien mengatakan bahwa anaknya merasa nyeri pada perut


Ibu klien mengatakan bahwa klien muntah kurang dari 10 kali sebelum masuk rs

Ibu klien mengatakan bahwa klien BAB kurang dari 4 kali sejak 3 hari sebelum masuk rs

DATA OBJEKTIF :

BB 9 kg
TTV

TD: 90/60 mmhg

N :128 x/i

P : 38 x/i
S :36,5

Makanan tidak dihabiskan


Anak Nampak menangis

ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1. DS: Malabsorbsi, Makanan, Gangguan cairan dan
Ibu klien mengatakan bahwa klien Psikologis eletrolit
muntah kurang dari 10 kali
sebelum masuk rs Gangguan sekresi
Ibu klien mengatakan bahwa klien
BAB kurang dari 4 kali sejak 3 hari Rangsangan tertentu
sebelum masuk rs ( toksin ) pada dinding
usus
DO:
Peningkatan sekresi air
BB: 9 kg dan elektrolit kedalam
TTV rongga usus

TD: 90/60 mmhg Isi usus berlebihan

N :128 x/i Diare

P : 38 x/i Pengeluaran cairan


berlebihan
S :36,5
Dehidrasi

Defisit volume cairan
1. DS: Faktor Infeksi, Nutrisi kurang dari
Ibu klien mengatakan bahwa klien kebutuhan
muntah kurang dari 10 kali Mengkontaminasi
sebelum masuk rs makanan dan air
Ibu klien mengatakan bahwa klien
BAB kurang dari 4 kali sejak 3 hari Masuk ke dalam saluran
sebelum masuk rs pencernaan

DO: Nutrisi kurang dari


kebutuhan
BB: 9 kg
Makanan tidak dihabiskan

TTV

TD: 90/60 mmhg


N :128 x/i

P : 38 x/i

S :36,5
1. DS : Reaksi peradangan pada Nyeri
Ibu klien mengatakan bahwa usus
anaknya merasa nyeri pada perut
Kerusakan mukosa usus
DO :
Merangsang reseptor
Skala nyeri (VAS) : 4 ( nyeri nyeri
sedang )
TTV Mengeluarkaan
neurotransmitter
TD: 90/60 mmhg histamine ke SSP

N :128 x/i Persepsi nyeri

P : 38 x/i

S :36,5

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN RASIONAL
TUJUAN INTERVENSI
1. Devisit Volume Cairan dan Tidak terjadinya 1. Kaji intake dan 1. Membantu
elekrolit b/d defisit volume output klien mendeteksi
Ketidakseimbangan intake dan cairan dan adanya
output ditandai dengan : elektrolit ketidakseimban
gan cairan dan
DS: Dengan kriteria: 1. Observasi tanda- elektrolit.
tanda dehidrasi.
Ibu klien mengatakan Klien 2. Untuk
bahwa klien muntah tampak menentukan
kurang dari 10 kali segar tingkat
sebelum masuk rs dehidrasi dan
Ibu klien mengatakan Bibir sebagai acuan
bahwa klien BAB klien 1. Catat frekuensi untuk
kurang dari 4 kali sejak tidak BAB,karakteristik, mmelanjutkan
3 hari sebelum masuk kering dan konsistensi. intervensi
RS selanjutnya.
3. Dapat
menentukan
1. Observasi tanda- bertanya status
DO: tanda vital. diare klien
serta untuk
BB: 9 kg menentukan
Makanan tidak tindakan
dihabiskan selanjutnya.

Klien tampak lemah. 4. Perubahan


tanda-tanda
Bibir klien tampak vital
1. Penatalaksanaan
kering merupakan
Pemberian cairan
gambaran
Tampak Terpasang keadaan umum
Infus pasien dan
o TTV : merupakn
dasar intervensi
TD : 90/60 berikutnya.
5. Mengganti
S : 36,5 c cairan yang
hilang.
P : 38 x/i

N : 128 x/i

DIAGNOSA RENCANA KEPERAWATAN


NO RASIONAL
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI
2. Nutrisi kurang dari Pemenuhan 1. Kaji pola nutrisi klien
kebutuhan nutrisi terpenuhi, 1. mengetahui
berhubungan dengan kriteria : adanya
dengan Nafsu penurunan atau
makan kenaikan berat
DS: meningk badan.
at 2. mengurangi
Ibu klien kerja usus,
mengatakan BB 1. Kaji makan yang di sukai dan menghindari
bahwa klien normal tidak disukai kebosanan
muntah sesuai makan.
kurang dari usia
10 kali 3. mengetahui
sebelum makanan apa
masuk rs saja yang
Ibu klien 1. Anjurkan tirah baring / dianjurkan dan
mengatakan pembatasan aktivitas selama makanan yang
bahwa klien fase akut tidak boleh
BAB kurang 2. Timbang berat badan tiap hari dikonsumsi.
dari 4 kali
sejak 3 hari
sebelum
masuk rs 1. Anjurkan klien makan sedikit
tapi sering
DO:

BB: 9 kg
Makanan 1. Kolaborasi dengan ahli gizi
tidak untuk pemberian diet
dihabiskan 1. mengetahui pola makan,
kebiasaan makan,
TTV keteraturan waktu
makan.
TD: 90/60 mmhg
2. meningkatkan status
N :128 x/i makanan yang disukai
dan menghindari
P : 38 x/i pemberian makan yang
tidak disukai.
S :36,5
3. penghematan tenaga,
mengurangi kerja tubuh.
DIAGNOSA RENCANA KEPERAWATAN
NO RASIONAL
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI
3. Nyeri berhubungan Nyeri teratasi 1. Kaji keluhan 1. Mengevaluasi
dengan hiperperistaltik nyeri (skala 1- perkembangan nyeri
Dengan criteria 10), perubahan untuk menetapkan
DS : karakteristik intervensi selanjutnya
Anak nyeri, petunjuk
Ibu klien mengatakan verbal dan non
mengatakan tidak verbal
bahwa anaknya merasa
merasa nyeri nyeri 2. Atur posisi yang
pada perut Skala nyeri nyaman bagi 1. Menurunkan
0 klien, misalnya tegangan permukaan
DO : dengan lutut abdomen dan
Anak tidak
fleksi. mengurangi nyeri
Skala nyeri menangis 3. Lakukan aktivitas
(VAS) : 4 pengalihan untuk
( nyeri sedang ) memberikan rasa
TTV nyaman seperti 1. Meningkatkan
masase punggung relaksasi,
TD: 90/60 mmhg dan kompres mengalihkan fokus
hangat abdomen perhatian kliendan
N :128 x/i meningkatkan
4. Bersihkan area kemampuan koping.
P : 38 x/i anorektal dengan
sabun ringan dan
S :36,5 airsetelah
defekasi dan
Anak nampak berikan
menangis perawatan kulit 1. Melindungi kulit dari
keasaman feses,
5. Kolaborasi mencegah iritasi.
pemberian obat
analgetika dan
atau
antikolinergik
sesuai indikasi

1. Analgetik sebagai
agen anti nyeri dan
antikolinergik untuk
menurunkan spasme
traktus GI dapat
diberikan sesuai
indikasi klinis.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Tujuan Pembelajaran :

Setelah mengikuti pembelajaran mahasiswa dapat :

1. Menjelaskan definisi kejang demam

2. Menyebutkan penyebab kejang demam pada anak

3. Menyebutkan tanda dan gejala kejang demam

4. Menjelaskan patofisiologi kejang demam

5. Menyebutkan komplikasi kejang demam

6. Menyebutkan pemeriksaan penunjang pada klien dengan kejang demam

7. Menjelaskan penatalaksanaan klien dengan kejang demam


8. Menjelaskan asuhan keperawatan pada anak dengan kejang demam

KONSEP DASAR TEORITIS

A. PENGERTIAN

Apa yang dimaksud dengan Kejang Demam?, Kejang demam merupakan kejang yang
terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf
pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk
beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif
untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari
biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir
kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rektal
lebih dari 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (diluar rongga
kepala). Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980), kejang demam adalah
suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5
tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi
yang berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.

(Kejang Demam. Info Kesehatan, MER-C. Maret 2004)

Kejang demam, dalam istilah medis dikenal sebagai febrile konvulsi, adalah bangkitan
kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal > 38oC), yang disebabkan
oleh suatu proses ekstrakranium (di luar susunan saraf pusat). Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan
listrik. Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran
sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang.

Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi
dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis
(peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.
Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan
sadar kembali tanpa kelainan saraf.

Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat
berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.

(Artikel Medis. ThreeInOne. Hal. 5)


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (rectal >
38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Anak yang pernah mengalami
kejang tanpa demam kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang
demam. Kejang demam biasanya terjadi pada anak umur 6bln - 5th. Bila anak berumur
kurang dari 6bln atau lebih dari 5th mengalami kejang didahului demam perlu dipikirkan
kemungkinan lain, misalnya infeksi susunan saraf pusat, epilepsy yang kebetulan terjadi
bersamaan dengan demam.Beberapa faktor penting pada kejang demam adalah demam,
umur, dan genetic.

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang


mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
demam (Walley and Wongs edisi III,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di
atas 38 c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga
disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di
bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul
mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995

Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang
paling tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menyebabkan
kejang. Bila kejang telah terjadi pada demam yang tidak tinggi, anak mempunyai risiko
tinggi untuk berulangnya kejang. Kejang demam dibedakan menjadi dua yaitu kejang
demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana berlangsung
singkat, kurang dari 10 menit, tonik klonik, serangan akan berhenti sendiri, tanpa
gerakan fokal atau berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam kompleks cirinya
kejang berlangsung > 15 menit; kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang partial; berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

(Natalina Soesilawati, dr. Sp.A. RS. Mitra Keluarga)

Kejang disebabkan oleh pelepasan hantaran listrik yang abnormal di otak. Gejala-gejala
yang timbul dapat bermacam-macam tergantung pada bagian otak yang terpengaruh,
tetapi umumnya kejang berkaitan dengan suatu sensasi aneh, kekakuan otot yang
tidak terkendali, dan hilangnya kesadaran.

Kejang dapat terjadi akibat adanya kelainan medis. Rendahnya kadar gula darah, infeksi,
cedera kepala, keracunan, atau overdosis obat-obatan dapat menyebabkan kejang.
Selain itu, kejang juga dapat disebabkan oleh tumor otak atau kelainan saraf lainnya.
Kurangnya oksigen ke otak juga dapat menyebabkan kejang. Pada beberapa kasus,
penyebab kejang mungkin tidak diketahui. Kejang yang terjadi berulang mungkin
merupakan suatu indikasi akan adanya suatu kondisi kronik yang dikenal sebagai
epilepsi.
Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak-anak yang
berusia dibawah 5 tahun. Kejang demam dapat timbul bila seorang anak mengalami
demam tinggi, biasanya suhu tubuh meningkat dengan cepat mencapai 39 derajat
Celsius atau lebih. Walaupun hal ini sangat mengkhawatirkan bagi orang tua, kejang
seperti ini umumnya terjadi singkat dan jarang menimbulkan masalah, kecuali bila
demam yang terjadi berkaitan dengan infeksi serius seperti meningitis. Anak yang
mengalami kejang demam tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami epilepsi.

(Kejang Demam. Tips-tips, Pediatrik.Com. 24 April 2004)

Febrile convulsions are seizures (sometimes known as fits) that occur in a child with a
high fever of over 39oC (102.2oF). These most typically occur during the early stages of a
viral infection such as a respiratory infection, while the temperature is rising rapidly.

Febrile convulsions can be frightening but theyre rarely serious.

(Dr Trisha Macnair. Febrile convulsions. Health, BBC)

In children between 6 months and 5 years, fever can trigger seizures, called febrile
convulsions. These usually happen during the first few hours of a febrile illness. The child
may look peculiar for a few moments, then stiffen out, twitch and roll his eyes. He will
be unresponsive for a short time, and his skin may appear a little darker than usual
during the episode. The entire convulsion usually will last no more than three or four
minutes and may be over in a few seconds, but it can seem like a lifetime to a frightened
parent. It is reassuring to know that febrile convulsions almost always are harmless,
although he should be examined by your pediatrician as soon as possible, particularly if
this is the first time it has occurred or if it is more severe or prolonged than others he has
had. You need to be sure that the seizure is due to fever and not to a more serious
condition such as meningitis.

(Febrile convulsions. Medical Library, American Academy of Pediatrics.)

A febrile convulsion is a common medical condition when a convulsion or fit is brought on


by an elevated temperature. Babies and young children often have illnesses that are
accompanied by fever - this is a normal part of growing up. Most children with fever
suffer only minor discomfort. However, in about 3-4% of infants and toddlers fever brings
on a convulsion. These kinds of convulsions are not harmful to the child and do not cause
brain damage.

(Febrile convulsions. Kids health info for parents, Royal Childrens Hospital. Melbourne
Australia

Umum ditemui pada anak-anak dalam rentang usia 3 bulan hingga 6 tahun. Lebih detail;
2-4% pada usia dibawah 5 tahun, 4% pada 6 bulan pertama kelahiran, 90% diantara 6
bulan hingga 3 tahun, dan 6% pada usia diatas 3 tahun. (Lihat: Febrile convulsion.
PRODIGY Guidance, U.K. National Health Service. April 2002.)

Kejang demam terjadi dalam waktu singkat, umumnya pada rentang waktu dibawah 15
menit. Lebih detail; 78% dialami kurang dari 6 menit, 50% terjadi dibawah 3 menit.
sekitar 5% terjadi diatas 30 menit. Diatas rentang waktu 15 menit, serangan tersebut
perlu diwaspadai, karena tergolong serangan kompleks yang bisa terjadi lebih dari 1 kali
dalam kurun waktu 24 jam.

Kejang terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan (demam) yang tinggi dan cepat
hingga mencapai suhu luar tubuh 38oC atau lebih.

Wujud kejang dapat berupa (bola) mata berbalik ke atas disertai kekakuan atau
kelemahan. Atau, terjadi gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan pada
anggota gerak. (Lihat: Nanny Selamihardja. Tetaplah Tenang Jika Anak Kejang Demam.
Terapi, Intisari. Mei 2001.)

Untuk kasus kejang demam kompleks, biasanya penderita memiliki kelainan neurologis
dan atau memiliki riwayat kejang bahkan epilepsi dalam keluarganya

Penderita biasanya akan tidur pulas atau nyenyak setelah mengalami kejang demam.

Secepatnya menurunkan panas badan adalah hal utama menghindari kejang.

Longgarkan pakaian yang ketat atau yang berbahan dasar dengan sifat memerangkap
panas.

Gunakan kompres air hangat dan perbanyak minum air putih untuk merangsang
turunnya panas badan penderita, hindari penggunaan air dingin dan kompres alkohol.
Obat penurun panas dapat pula digunakan bila dibutuhkan. (Lihat: Anak Demam Perlu
Kompres?. Keluarga, Bali Post dan Bagaimana Menolong Anak Kejang?. Bias Wanita, Pusat
Data dan Informasi PERSI. 16 Feb 2004.).

Hindari penggunaan kopi sebagai anti kejang, gunakan obat pencegah kejang yang
diberikan lewat dubur jika penderita tidak dapat mengkonsumsi obat.

Bila terjadi kejang, jangan menahan gerakan-gerakan anak seperti memegangi tangan
atau kakinya. Segera miringkan anak apabila kejang telah berhenti.

Keadaan ini tidak identik dengan epilepsi, dimana serangan kejang terjadi berulang-ulang
tanpa demam. Ada sekitar 15% kasus epilepsi yang didahului dengan gejala kejang
demam. Namun, kurang dari 5% anak kejang demam berkembang menjadi epilepsi.

Tetap monitor suhu tubuh penderita selama 16 hingga 24 jam sejak awal serangan.
Karena kemungkinan serangan ulang masih mengintainya.

Yang paling penting, tetap tenang dan tidak panik saat menghadapi gejala dan serangan
kejang demam yang terjadi pada penderita.

Kejang demam yang banyak dialami anak balita yang memiliki sifat bawaan mudah
mendapatkan gangguan kesehatan tersebut. Tidak seperti epilepsi, pencetus kejang
demam pada umumnya demam tinggi. Bila kejang demam terjadi, tenanglah. Namun bila
serangan itu berlanjut lebih dari lima menit, segeralah mencari bantuan dokter.

Orangtua disarankan tetap waspada terhadap kemungkinan serangan kejang demam.


Kalau serangan datang, orang tua hendaknya tetap tenang. Menulis dan mngatakan
untuk tetap tetang memang tidak semudah melakukannya saat kita berhadapan dengan
penderita, apalagi bila penderita adalah buah hati tercinta. Namun hal tersebut teramat
sangat penting, untuk menghindari hal-hal bodoh yang kelak justru akan berakhir dengan
kesal tak berkesudahan. Sebab emosi atau kebingungan tidak akan menyelesaikan
masalah dengan cepat!

B. KLASIFIKASI KEJANG DEMAM

Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
- Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana) : kejang menyeluruh yang
berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
- Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks) : kejang
fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau
berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Lalu apa yang membedakan kejang demam ini dengan epilepsi? Walaupun gejalanya
sama yaitu kejang dan berulang, namun pada anak yang menderita epilepsi, episode
kejang tidak disertai dengan demam.

Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai
dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang
mioklonik.

a. Kejang Tonik

Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan
masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.
Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik
yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang
disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus

b. Kejang Klonik

Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak
diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.

c. Kejang Mioklonik

Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan
hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA KEJANG DEMAM BERULANG

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
- Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
- Riwayat kejang demam dalam keluarga
- Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
- Riwayat demam yang sering
- Kejang pertama adalah complex febrile seizure

Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka besar
kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam. Risiko berulangnya kejang demam
adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko,
dan dapat mencapai 100% dengan = 3 faktor risiko.

Bagaimana jika anak anda demam yang disebabkan oleh imunisasi?Walaupun imunisasi
dapat menimbulkan demam, namun imunisasi jarang diikuti kejang demam. Suatu
penelitian yang dilakukan memperlihatkan risiko kejang demam pada beberapa jenis
imunisasi sebagai berikut :

DTP : 6-9 per 100.000 imunisasi. Risiko ini tinggi pada hari imunisasi, dan menurun
setelahnya.

MMR : 25-34 per 100.000 imunisasi. Risiko meningkat pada hari 8-14 setelah imunisasi.

Kejang demam pasca imunisasi tidak memiliki kecenderungan berulang yang lebih besar
daripada kejang demam pada umumnya. Dan kejang demam pasca imunisasi
kemungkinan besar tidak akan berulang pada imunisasi berikutnya. Jadi kejang demam
bukan merupakan kontra indikasi imunisasi.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi dalam tubuh saat anak mengalami kejang demam?
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan
listrik.

Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di
dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang. Kejang tersebut
kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang
disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada
amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.

Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan
sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya
tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung
lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari
otak.

Melihat paparan kejadian dalam tubuh diatas, saya tarik benang merah gejala yang bisa
anda lihat saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak mengalami demam
(terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang
tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir
selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung
selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan
berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau
rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar
kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.

D. ETIOLOGI

Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma,
bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus
alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia
serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).

1) Intrakranial

Asfiksia : Ensefolopati hipoksik iskemik


Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular
Infeksi : Bakteri, virus, parasit

Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith Lemli
Opitz.

2) Ekstra kranial

Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit


(Na dan K)

Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.


Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan
dankekurangan produksi kernikterus.

3) Idiopatik

Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)
E. Patofisiologi

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan
keotak melalui system kardiovaskuler.

Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi,
dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam
keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,
kecuali ion clorida.

Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion
diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri
karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh
tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat
mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+
maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan
listrik.

Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter
sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada
umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.

Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA
meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi
hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.

F. MANIFESTASI KLINIK
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan
saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya
terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat
bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.

Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul
pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita
epilepsy.

untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :

1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)

2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever

Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah
dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam
sederhana, yaitu :

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun

2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.

3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam

5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.

G. PENATALAKSANAAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM

Saat anak mengalami Kejang Demam, hal hal penting yang harus kita lakukan antara lain
:

- Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
- Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau
tajam
- Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir
keluar dari mulut
- Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya
sendiri.
- Hubungi dokter anak anda

Akhirnya timbul pertanyaan bagaimana cara mencegah agar anak tidak mengalami
Kejang Demam, seperti yang saya tulis diatas kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik
atau turun dengan cepat. Pada sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau
tidak dapat dicegah. Dulu digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan pada
anak-anak yang sering mengalami kejang demam, tetapi hal ini sekarang sudah jarang
dilakukan.

Pada anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam, pada saat mereka
menderita demam bisa diberikan diazepam (baik yang melalui mulut maupun melalui
rektal).

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, perjalanan penyakitnya baik dan tidak
menimbulkan kematian.

Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang merupakan tanda adanya
penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang memerlukan tindakan segera untuk mencegah
kerusakan otak lebih lanjut.

Penatalaksanaan Umum terdiri dari :


engawasi bayi dengan teliti dan hati-hati

emonitor pernafasan dan denyut jantung

ahakan suhu tetap stabil

rlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain

meriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena

Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila
terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 4 ml/kg BB secara
intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 % sebanyak 60
80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca glukosa hendaknya disertai dengan
monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan
peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca
glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.

Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50%
Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 6
ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy
infant dapat muncul.
Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti
hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi
baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel
yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena
asfiksia dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2
dosis selama 20 menit.

Diazepam jarang digunakan untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan

a. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya

b. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan

c. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi


peningkatan bilirubin dalam darah.

6. Pemeriksaan fisik dan laboratorium

a. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik,


pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :

1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang
berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan
struktur otak.

2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti
nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan
terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.

3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang
disebabkan oleh trauma. Ubun ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan
adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan
sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu
dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan
karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.

4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang
mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.
5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid
yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. Ditemukannya
korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan rubella. Tanda
stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok kelok di retina terlihat pada
sindom hiperviskositas.

6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural
atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.

7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising
jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.

b. Pemeriksaan laboratorium
Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula
dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap
terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.

Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu

1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara berkala
penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.

2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan analisis
gas darah.

3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila


cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan
berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya trauma
pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang
diisi cairan serebro spinal

4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia

5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan untuk
menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG latar
belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust
supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12 %
diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat
juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur
dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis.
6) Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang
pasti yaitu mencakup :

a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic

b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella,


citomegalovirus dan virus herpes

c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari
aturan baku

d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular,


dan vertikular

e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi dan
kelainan bawaan otak

e) Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila


transluminasi positif dengan ubun ubun besar tegang,
membenjol dan kepala membesar.

7. Tumbuh kembang pada anak usia 1 3 tahu


1. Fisik

f. Ubun-ubun anterior tertutup.

g. Physiologis dapat mengontrol spinkter

2. Motorik kasar

a. Berlari dengan tidak mantap

b. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan

c. Menarik dan mendorong mainan

d. Melompat ditempat dengan kedua kaki

e. Dapat duduk sendiri ditempat duduk

f. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh

3. Motorik halus

a. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan


b. Melepaskan dan meraih dengan baik

c. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu

d. Menggambar dengan membuat tiruan

4. Vokal atau suara

a. Mengatakan 10 kata atau lebih

b. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh

5. Sosialisasi atau kognitif

a. Meniru

b. Menggunakan sendok dengan baik

c. Menggunakan sarung tangan

d. Watak pemarah mungkin lebih jelas

e. Mulai sadar dengan barang miliknya

8. Dampak hospitalisasi
Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang
kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut
terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.

Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :

a) Rasa takut

1) Memandang penyakit dan hospitalisasi

2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal

3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit

4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan

5) Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh


tubuh yang sakit berulang-ulang.

b. Ansietas
1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal

2) Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)

3) Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat

4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit

5) Tidak berdaya

6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan

7) Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi
pengobatan atau perawatan

8) Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol

9) Protes dan Ansietas karena restrain

c. Gangguan citra diri

1) Sedih dengan perubahan citra diri

2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)

3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


1. Pengkajian

Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya dan
gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang berbeda
misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot
lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan lamanya kejang.

Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor


pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kejang.

1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.


Gerakan involunter
2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan

3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau
penanganan, peka rangsangan.

4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter

5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi

6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra

7. Riwayat jatuh / trauma

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi
otot.

2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular

3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

3. INTERVENSI
Diagnosa 1

Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan


koordinasi otot.

Tujuan

Cidera / trauma tidak terjadi

Kriteria hasil

Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan


keamanan lingkungan
Intervensi

Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum,
sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali
terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi klien dari
trauma atau kejang.

Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi anti
compulsan

Diagnosa 2

Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular

Tujuan

Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi

Kriteria hasil

Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR
dalam batas normal

Intervensi

Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan
penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi

Diagnosa 3

Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh

Tujuan

Aktivitas kejang tidak berulang

Kriteria hasil

Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal

Intervensi

Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda
daerah dahi dan ketiak.
Diagnosa 4

Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

Tujuan

Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

Kriteria hasil

Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi

Intervensi

Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam
pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.

Diagnosa 5

Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil

Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya
lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.

Intervensi

Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Jelaskan
pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan
pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan keluarga dalam
setiap tindakan pada klien.

6. EVALUASI
1. Cidera / trauma tidak terjadi

2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi


3. Aktivitas kejang tidak berulang

4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi

5. Pengetahuan keluarga meningkat

FEBRIS (DEMAM)
I. DEFINISI

Febris (demam) yaitu meningkatnya temperature tubuh secara


abnormal (Asuhan Keperawatan Anak 2001).
Febris (demam) yaitu meningkatnya suhu tubuh yang melewati batas
normal yaitu lebih dari 38 0C (Fadjari Dalam Nakita 2003).
Febris (demam) yaitu merupakan rspon yang sangat berguna dan
menolong tubuh dalam memerangi infeksi (KesehatanAnak 1999).
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu
tubuh secara abnormal.

Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain :

1. Demam septik

Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam
hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering
disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi
tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.

2. Demam remiten

Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai
suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat
mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat
demam septik.
3. Demam intermiten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam
satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut
tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua
serangan demam disebut kuartana.

4. Demam kontinyu

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut
hiperpireksia.

5. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh
beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian
diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit


tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang
pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera
dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi
saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat
dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek
90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada
dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti
influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak
berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap inveksi bakterial.
JENIS DEMAM CIRI-CIRI
Demam septik Malam hari suhu naik sekali, pagi hari
turun hingga diatas normal, sering
disertai menggigil dan berkeringat
Demam remitten Suhu badan dapat turun setiap hari
tapi tidak pernah mencapai normal.
Perbedaan suhu mungkin mencapai 2
derajat namun perbedaannya tidak
sebesar demam septik.

Demam intermiten Suhu badan turun menjadi normal


selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam terjadi dua hari sekali
disebut tertiana dan apabila terjadi 2
hari bebas demam diantara 2 serangan
demam disebut kuartana.
Demam kontinyu Variasi suhu sepanjang hari tidak
berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang terus menerus
tinggi sekali disebut hiperpireksia
Demam siklik kenaikan suhu badan selama beberapa
hari yang diikuti oleh periode bebas
demam untuk beberapa hari yang
diikuti kenaikan suhu seperti semula

(Nelwan, 2007).

II. ETIOLOGI

Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan


toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada
gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak,
koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab
demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat
penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan
penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain
secara tepat dan holistik.

Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara


timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala
lain yang menyertai demam.

Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang


pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu
badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap belum didapat
penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara
intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang
medis lainnya.

III. PATOFISIOLOGI

Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan


toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat
menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu
sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat
berupa protein, pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin
polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan dari
degenerasi jaringan tubuh menyebabkan demam selama keadaan
sakit.

Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh


terhadap pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan
akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit
pembunuh bergranula besar.

Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke


dalamcairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit. Zat ini
ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara
meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 10 menit. Zat ini
juga menginduksi pembentukan prostaglandin E2 zat ini, yang
selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi
demam.

PATHWAY

Exogenous pyrogens
(seperti : bakteri, virus, kompleks antigen antibody)

Sel host inflamasi

(seperti : makrofag, netrofil, sel kuffer, makrofag splenic dan


alveolar)

Memproduksi endogenous pyrogens

(interleukin 1, interieukin 6, factor nekrosis tumor, dan cytokine


pyrogenic lain)

Sintesis PGE2 dalam hipotalamus

Pusat termoregulator

(neuron preoptik pada hipotalamus anterior)

Perubahan fisiologi dan tingkah laku

demam
IV. TANDA DAN GEJALA

Demam.
Suhu meningkat > 37,10 C.
Menggigil.
Lesu, gelisah dan rewel serta sulit tidur.
Berkeringat, wajah merah dan mata berair.
Selera makan turun.
(Fadjari dalan Nakita 2003 dan Kesehatan Anak 1999).

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap


untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning,
masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan
tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui
biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan
pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.

VI. TERAPI MEDIS

a. Antipiretik (Parasetamol)

b. Anti biotik sesuai program

c. Hindari kompres alkohol atau es

VII. PENGKAJIAN
1. Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul
demam, gejala lain yang menyertai demam (miasalnya: mual muntah,
nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah
anak menggigil, gelisah atau lhetargi, upaya yang harus dilakukan.
2. Melakukan pemeriksaan fisik.
3. Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4. Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan
laboratotium, foto rontgent ataupun USG.

VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

1. Hyperthermia berhubungan dengan proses infeksi.


2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan
diaporsis.

IX. RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosa Rencana Keperawatan


N
Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
o
hasil
1 Hypertermi Setelah dilakukan 1. Pantau suhu klien (derajat
b/d proses tindakan dan pola) perhatikan
infeksi keperawatan menggigil/diaforsis
selama.x24jam
2. Pantau suhu lingkungan,
menujukan
batasi/tambahkan linen
temperatur dalan
tempat tidur sesuai indikasi
batas normal
dengan kriteria: 3. Berikan kompres hangat
hindri penggunaan akohol
-Suhu Tubuh dalam
batas normal 4. Berikan miman sesuai
kebutuhan
-bebas dari
kedinginan 5. Kolaborasi untuk
-suhu tubuh stabil pemberian antipiretik
360-370c (parasetamol)
-termoregulasi dbn

-nadi dbn

<1 bln : 90-170

<1 thn : 80-160

2 thn : 80-120

6 thn : 75-115

10 thn : 70-110

14 thn : 65-100

>14thn : 60-100

-respirasi dbn

BBL : 30-50 x/m

Anak-anak : 15-30
x/m
Dewasa : 12-20
x/m

2 Resiko injuri Setelah dilakukan 1. Kaji tanda-tanda komplikasi


b/d infeksi tindakan lanjut
mikroorganis keperawatan
2. Kaji status kardiopulmonar
me selama .....x 24 jam
anak bebas dari 3. Kolaborasi untuk
cidera dengan pemantauan laboratorium:
kriteria: monitor darah rutin

- menunjukan 4. Kolaborasi untuk


homeostatis pembereian antibiotik

- tidak ada
perdarahan
mukosa dan bebas
dari komplikasi lain
3 Resiko kurang Setelah dilakukan 1. Ukur/catat haluaran urine
volume cairan tindakan dan berat jenis. Catat
b/d intake perawatan selama ketidak seimbangan
yang kurang .x 24 jam volume masukan dan haluran
dan deperosis cairn adekuat kumulatif
dengan kriteria:
2. Pantau tekanan darah dan
- tanda vital dalam denyut jantung ukur CVP
batas normal
3. Palpasi denyut perifer
- nadi perifer teraba
4. Kaji membran mukosa
kuat
kering, tugor kulit yang
- haluran urine kurang baik dan rasa halus
adekuat
5. Kolaborasi untuk
- tidak ada tanda- pemberian cairan IV sesuai
tanda dehidrasi indikasi

6. Pantau nilai laboratorium,


Ht/jumlah sel darah merah,
BUN,cre, Elek,LED, GDS
4 Cemas Setelah dilakukan 1. Kaji dan identifikasi serta
berhubungan tindakan luruskan informasi yang
dengan perawatan selama dimiliki klien mengenai
hipertermi, 2 x 24 jam cemas hipertermi
efek proses hilang dengan
2. Berikan informasi yang
penyakit kriteria:
akurat tentang penyebab
- klien dapat hipertermi
mengidentifikasi
3. Validasi perasaan klien dan
hal-hal yang dapat
yakinkan klien bahwa
meningkatkan dan
kecemasam merupakan
menurunkan suhu
respon yang normal
tubuh
- klien mau 4. Diskusikan rencana
berpartisipasi tindakan yang dilakukan
dalam setiap berhubungan dengan
tidakan yang hipertermi dan keadaan
dilakukan penyakit

- klien
mengungkapkan
penurunan cemas
yang berhubungan
dengan hipertermi,
proses penyakit

X. DAFTAR PUSTAKA

1. Komite medik RSUP Dr. Sardjito, 2000. Standar Pelayanan Medis,


Edisi 2, Cetakan I, Medika FK UGM, Yogyakarta
2. Mc Closkey, Joanne C and Bulechek, Gloria M, 1996, Nursing
Intervention Classification (NIC), Second edition, Mosby Year Book Inc,
St. Louis
3. Nanda, 2001, Nursing Diagnosis: Definitions & Classification 2001-
2002, Ed-, United States of America
4. http://health.yahoo.com/ency/adam/00615.last reviewed: 1/7/2003
5. www.google.com/askep febris demam
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN MALARIA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis. Penyakit ini sangat
dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk
berkembangbiak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan
parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban,
arah dan kecepatan angin, ketinggian. Salah satu faktor lingkungan yang juga
mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-
hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya
hanya tinggal di hutan, dapat berpindah di pemukiman manusia, kerusakan hutan bakau
dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi
tidak terkontrol.

Malaria masih merupakan masalah penyakit endemik di wilayah Indonesia Timur


khususnya NusaTenggara Barat. Salah satu masalah yang dihadapi adalah kesulitan
mendiagnosis secara cepat dan tepat. Berdasarkan hasil evaluasi Program Pemantapan
Mutu Eksternal Laboratorium Kesehatan pada pemeriksaan mikroskopis malaria, yang
dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Mataram, dari 19 laboratorium di NTB yang
mengevaluasi menggunakan preparat positif malaria, hanya 79% peteknik laboratorium
yang dapat membaca preparat dengan benar. Kepentingan untuk mendapatkan diagnosis
yang cepat pada penderita yang diduga menderita malaria merupakan tantangan untuk
mendapatkan uji/metode laboratorik yang tepat, cepat, sensitif, mudah dilakukan, serta
ekonomis.

Peranan keendemikan (endemisitas) malaria, migrasi penduduk yang cepat, serta


berpindah-pindah (traveling) dari daerah endemis, secara tidak langsung mempengaruhi
masalah diagnostik laboratorik maupun terapi malaria. Perubahan gambaran morfologi
parasit malaria, serta variasi galur (strain), yang kemungkinan disebabkan oleh
pemakaian obat antimalaria secara tidak tepat (irasional), membuat masalah semakin
sulit terpecahkan bila hanya mengandalkan teknik diagnosis mikroskopis.

Ditambah lagi rendahnya mutu mikroskop dan pereaksi (reagen) serta kurang
terlatihnya tenaga pemeriksa, menimbulkan kendala dalam memeriksa parasit malaria
secara mikroskopis yang selama ini merupakan standar emas (gold standard)
pemeriksaan laboratoris malaria.

Penelitian terbaru telah mengembangkan metode diagnostik yang dapat


diperbandingkan dengan metode yang lazim (konvensional). WHO bersama para
ilmuwan, ahli laboratorik, serta peklinik mengembangkan alat uji diagnostik cepat (Rapid
Diagnostic Test/RDTs) yang mudah dilakukan, tepat, sensitif, dan sesuai biaya (cost-
effective).

Sebagian besar RDTs malaria menggunakan asas imunokromatografi yang


menggunakan antibodi monoklonal yaitu HRP-2 (Histidine Rich Protein) untuk
Plasmodium falciparum dan pLDH (parasite Lactate Dehydrogenase) untuk mengetahui
Plasmodium vivax sebagai indikator infeksi.

Ada beberapa antigen malaria yang dapat digunakan sebagai sasaran (target)
pemeriksaan ini, yaitu: HRP-2, pLDH, dan Plasmodium aldolase. HRP-2 adalah protein
larut air yang dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit Plasmodium falciparum dan
dikeluartekankan (diekspresikan) di membran sel eritrosit. HRP-2 banyak dihasilkan oleh
Plasmodium falciparum, sehingga merupakan sasaran (target) antigen utama dalam
membuat uji diagnostik cepat malaria. pLDH adalah enzim glikolitik di Plasmodium sp,
yang dihasilkan pada tahap seksual dan aseksual parasit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji diagnostik metode


imunokromatografi diperbandingkan dengan pemeriksaan laboratorik mikroskopis
malaria. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna dan memberikan sumbangan serta
masukan bagi perkembangan teknologi diagnostik laboratoris malaria.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan sistem pencernaan pada anak dengan
malaria.
2. Tujuan Khusus

a. Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan pengkajian pada klien dengan malaria.
b. Agar mahasiswa mampu melakukan intervensi dan implementasi pada klien dengan
malaria.
c. Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan evaluasi pada klien dengan malaria.

C. Manfaat

Manfaat yang diharapkan oleh penulis pada anak dengan malaria adalah sebagai
berikut :

1. Untuk masyarakat : sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan kesehatan

2. Untuk Mahasiswa : di harapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan


pembanding tugas serupa.

3. Untuk Insatansi : agar tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal

4. Untuk tenaga kesehatan : makalh ini bisa di jadikan bahan acuan untuk melakuakan
tindakan asuhan keperawatan pada kasus yang serupa.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori

1. Pengertian/Definisi

Malaria adalah suatu penyakit infeksi yang menginvasi sistem hematologi melalui
vektor nyamuk yang terinfeksi protozoa plasmodium. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)

Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh
protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali
(Mansjoer, 2001, hal 406).
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa
spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin,
2000, hal 125).

Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler
dari genus plasmodium (Harijanto, 2000, hal 1).
Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh Parasit
Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000).

Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang
menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah.
(Ilmu Penyakit Dalam, 2009)

Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus
Plasmodium yang termasuk golongan protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan)
nyamuk Anopheles spp. (www.depkes.go.id)

Malaria adalah penyakit akut dan dapat menjadi kronik yang disebabkan oleh
protozoa (genus plasmodium) yang hidup intra sel (Iskandar Zulkarnain, 1999).

2. Etiologi

Malaria paling sering di sebabkan oleh gigitan nyamuk spesies Anopheles betina
yang terinfeksi dengan spesies dari protozoa genus plasmodium. Terdapat lima spesies
paling umum yang memberikan pengaruh ceddera terhadap manusia (fernandez, 2009),
yaitu sebagai berikut.

a. Plasmodium Falcifarum

b. Plasmodium Vivax

c. Plasmodium Ovale

d. Plasmodium Malariae

e. Plasmodium Knowlesi

Plasmodium Knowlesi, baru-baru ini di identifikasi di Asia tenggara sebagai patogen


bermakna secara klinis pada amanusia (Cox-Singh, 2008) (Arif Muttaqin, dkk, 2011).

3. Jenis-jenis Malaria
Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis plasmodiumnya.
(Arif Muttaqin, dkk, 2011)

JENIS MALARIA

Jenis Penyebab Klinis

Malaria Plasmodium Malaria tropika adalah jenis malaria yang


Tropika Falcifarum paling berat, di tandai dengan panas yang
iriguler, anemia, splenomogali,
parasitemia, dan sering terjadi komplikasi.
Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria ini
menyerang semua bentuk eritrosit.
Plasmodium Falcifarum menyerang sel
darah merah seumur hidup. Infeksi
plasmodium falcifarum sering sekali
menyebabkan sel darah merah yang
mengandung parasit menghasilkan
banyak tonjolan untuk melekat pada
lapisan endotel dinding kapiler dengan
akibat obstruksi trombosis dan iskemik
lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dan
infeksi lainnya dengan angka komplikasi
tinggi (Murphy, 1996)

Malaria Plasmodium Plasmodium malariae mempunyai


Kwartana malariae tropozoit yang serupa dengan plasmodium
vivak, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih
kompak/lebih biru.tropozoit matur
mempunyai granula coklat tua sampia
hitam dan terkadang mengumpul sampai
terbentuk pita. Skizon plasmodium
malariae mempunyai 8-10 merozoit yang
tersusun seperti kelopak bunga/rosate.
Bentuk gametosit sangat mirip dengan
plasmodium vivax tetapi lebih kecil.
(Cunha, 2008)

Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah


puncak 48 jam. Gejala lain adalah nyeri
pada kepala dan punggung, mual,
pembesaran limpa, dan melaise umum.
Komplikasi jarang terjadi, namun dapat
terjadi seperti sindrome nefrotik dan
komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada
pemeriksaan akan di temukan edema,
asites, proteinuria, hipoproteinemia, tanpa
uremia dan hipertensi (Dorsey, 2000)

Malaria Plasmodium Ovale Malaria tersiana (plasmodium Ovale)


Ovale bentuknya mirip plasmodium malariae,
skizonnya hanya mempunyai 8 merozoid
dengan masa pigmen hitam di tengah.
Karakteristik yang dapat di pakai untuk
identifikasi adalah bentuk eritrosit yang
terinfeksi plasmodium ovale dimana
biasanya oval atau ireguler dan fibriated.
Malaria ovale merupakan bentuk yang
paling ringan dari semua bentuk malaria
yang di sebabkan oleh plasmodium ovale.
Masa inkubasi 11-16 hari, walaupun priode
laten sampai 4 tahun. Serangan
proksismal 3-4 hari dan jarang terjadi
lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi
dan terjadi pada amalam hari ( Busch,
2003)

Malaria Plasmodium Vivax Malaria tersiana (plasmodium vivax)


Tersiana biasanya menginfeksi eritrosit muda yang
diameternya lebih besar dari eritrosit
noramal, bentuknya mirip dengan
plasmodium falcifarum, namun seiring
dengan maturasi, tropozoid vivax berubah
menjadi amoeboid. Terjadi atas 12-24
merozoid ovale dan pigment kuning
tengguli. Gametosit berbentuk aval
hampir memenuhi seluruh eritrosit,
kromatinin eksternis, pigmen kuning.
Gejala malaria jenis ini secara periodik 48
jam dengan gejala klasik trias malaria dan
mengakibatkan demam berkala 4 hari
sekali dengan puncak demam 72 jam
(karmona, 2009).

4. Proses Kehidupan Plasmodium

Sebagaimana makhluk hidup lainnya, plasmodium juga melakukan proses


kehidupan yang meliputi:

a. Metabolisme (pertukaran zat).

Untuk proses hidupnya, plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan


dari haemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa
pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah
satu indikator dalam identifikasi.

b. Pertumbuhan.

Yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang


meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. Perubahan
ini mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies,
menjadi bervariasi.Setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium
parasit yang ada pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah.
Ini berkaitan dengan jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada
gambar morfologi parasit yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang
berbeda.

c. Pergerakan.

Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang


berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada Plasmodium vivax, penyebaran
sitoplasma ini lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk
penyebaran ini dikenal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bentuk).

d. Berkembang biak.
Berkembang biak artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi
beberapa sel baru.

5. Karakteristik Nyamuk

Menurut Harijanto (2000) malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh
nyamuk betina Anopheles. Lebih dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya sekitar 67
yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di Indonesia telah
ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Sarang nyamuk Anopheles bervariasi, ada yang di air tawar, air payau dan ada
pula yang bersarang pada genangan air pada cabang-cabang pohon yang besar (Slamet,
2002, hal 103). Karakteristik nyamuk Anopeles adalah sebagai berikut :

a. Hidup di daerah tropic dan sub tropic, ditemukan hidup di dataran rendah

b. Menggigit antara waktu senja (malam hari) dan subuh hari

c. Biasanya tinggal di dalam rumah, di luar rumah, dan senang mengigit manusia
(menghisap darah)

d. Jarak terbangnya tidak lebih dari 2-3 km

e. Pada saat menggigit bagian belakangnya mengarah ke atas dengan sudut 48 derajat

f. Daur hidupnya memerlukan waktu 1 minggu .

g. Lebih senang hidup di daerah rawa

6. Faktor Host Yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit Malaria

a. Umur

Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak
dengan gizi buruk (Rampengan T.H., 2000). Infeksi akan berlangsung lebih hebat pada
usia muda atau sangat muda karena belum matangnya system imun pada usia muda
sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh misalnya oleh
karena penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus (Weir D.M., 1987). Perbedaan angka
kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan
juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk
(Departemen Kesehatan RI,2000).

b. Jenis kelamin
Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi
oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain (Departemen Kesehatan., RI 1991).

c. Riwayat malaria sebelumnya

Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk


imunitas sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli
daerah endemik akan lebih tahan dibandingkan dengan transmigran yang dating dari
daerah non endemis (Dachlan Y.P., 1986 : Smith, 1995 : Maitland, 1997)

d. Ras

Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah


terhadap malaria, misalnya siekle cell anemia merupakan kelainan yang timbul karena
penggantian asam amino glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot
dapat mencegah timbulnya malaria berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi.
Mekanisme perlindungannya belum jelas, diduga karena eritrosit Hb S (sickle cell train0
yang terinfeksi parasit lebih mudah rusak di system retikuloendothelial, dan/atau karena
penghambatan pertumbuhan parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah serta
perubahan kadar kalium intra sel yang akan mengganggu pertumbuhan parasit atau
karena adanya akulasi bentuk heme tertentu yang toksik bagi parasit (Nugroho A., 2000).
Selain itu penderita ovalositosis (kelainan morfologi eritrosit berbentuk oval) di Indonesia
banyak terdapat di Indonesia bagian timur dan sedikit di Indonesia bagian barat.
Prevalensi ovalosis mulai dari 0,25 % (suku Jawa) sampai 23,7 % suku Roti
(Setyaningrum, 1999).

e. Kebiasaan

Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan


tidak menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam
hari. Seperti pada penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan
penduduk menggunakan kelambu masih rendah (Suhardja, 1997)

f. Status gizi

Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin
baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan
sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena
penyakit (Nursanyoto, 1992).
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan dengan demam,
terjadi banyak kehilangan nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan
protein tubuh. Agar seseorang pulih pada keadaan kesehatan yang normal, diperlukan
peningkatan dalam protein makanan. Penting diperhatikan pula bahwa fungsi dari dari
semua pertahanan tubuh membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk membentuk
protein baru. Inilah sebabnya maka setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat
makanan yang mempengaruhi setiap system protein dapat pula menyebabkan gangguan
fungsi beberapa mekanisme pertahanan tubuih sehingga pada umumnya melemahkan
resistensi host. Malnutrisi selalu menyebabkan peningkatan insiden penyakit-penyakit
infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada dapat meningkatkan keparahannya
(Maria, 1992).

g. Sosial ekonomi

Faktor social ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk


mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan dan papan. Semakin tinggi
sosisla ekonomi seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan
hidupnya termasuk di dalamnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang
bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain-lain . Menurut Biro Pusat Statistik,
semakain tinggi status social ekonomi seseorang maka pengeluaran cenderung bergeser
dari bahan makanan ke bahan non makanan. Jadi faktor social ekonomi seperti
kemiskinan, harga barang yang tinggi, pendapatan keluarga rendah, dan produksi
makanan rendah merupakan resiko untuk terjangkitnya malaria (Wirjatmadi B., 1985).

h. Immunitas

Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di


daerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai
pertahanan alam terhadap infeksi malaria.

7. Patofisiologi

Pasien malaria biasanya memperoleh infeksi di daerah endemik melalui gigitan


nyamuk. Vektor, spesies nyamuk Anopheles, melewati plasmodia, yang terkandung
dalam air liur masuk ke dalam tubuh manusia saat nyamuk tersebut menghisap darah

Hasil infeksi tergantung pada imunitas host. Individu dengan kekebalan dapat
secara spontan menghapus parasit. Pada mereka yang tidak memiliki kekebalan, parasit,
memperluas infeksi. Sejumlah kecil parasit menjadi gametocytes, yang mengalami
reproduks, seksual ketika diisap oleh nyamuk. Hal ini dapat berkembang menjadi infeksi
sporozoites. yang terus berkembang menjadi siklus transmisi baru setelah menggigit ke
dalam host baru. Secara garis besar semua jenis plasmodium memiliki siklus hidup yang
sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia dan sebagian di tubuh nyamuk.

Kondisi masuknya sporozit ke dalam tubuh manusia, maka akan terjadi siklus
malaria yang terdiri atas siklus eksoeritrosit, siklus eritrosit, dan siklus sporogonik (CDC,
2009).

a. Siklus eksoeritrosit.

Siklus ini terjadi di dalam tubuh manusia dan terjadi di dalam hati. Penularan
terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit, menyengat manusia dan dengan
ludahnya memasukkan sporozoit ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya
bermukim pada sel hepatosit di parenkim hati. Parasit tumbuh dan mengalami
pembelahan. Setelah 6-9 hari skizon menjadi dewasa dan pecah dengan melepaskan
beribu-ribu merozoit. Sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan berkembang
di sini menjadi trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain limpa atau
diam di hati. Dalam waktu 48-72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang
dilepaskan dapat memasuki siklus dimulai kembali.

b. Siklus eritrosit.

Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk
tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizonmerozoit. Setelah 2-3 generasi
merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara
permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten,
sedangkan masa tunas dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai
timbulnya gejala klinis demam.

c. Siklus sporogonik.

Siklus ini terjadi di dalam tubuh nyamuk (sporogoni). Setelah beberapa siklus,
sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk-bentuk seksual
jantan dan betina. Gametosit ini tidak akan berkembang lalu mati bila tidak diisap oleh
Anopheles betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit
jantan dan betina menjadi zigot, yang kemudian melakukan penetrasi pada dinding
lambung dan berkembang menjadi okista. Dalam waktu 3 minggu, sporozoit kecil akan
memasuki kelenjar ludah nyamuk.

Di dalam vaskular, protozoa bereplikasi di dalam sel dan menginduksi sitolisis sel
darah merah menyebabkan pelepasan produk metabolik toksik ke dalam aliran darah
dan memberikan gejala, seperti menggigil, sakit kepala, mialgia, dan malaise. Kondisi ini
terjadi dalam siklus eritrosit. Parasit juga dapat menyebabkan ikterus dan anemia.
Plasmodium. falciparum merupakan jenis yang paling berbahaya dari lima spesies
plasmodium karena dapat menyebabkan gagal ginjal, koma, dan kematian. Kematian
akibat malaria dapat dicegah. jika perawatan yang tepat dicari dan diimplementasikan.

Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dapat menghasilkan bentuk yang tidak
aktif tetapi masih tetap ada dalam hati orang yang terinfeksi dan muncul di lain waktu.

Parasit memperoleh energi mereka semata-mata dari glukosa dan mereka


mencernanya 70 kali lebih cepat dari sel darah merah yang mereka tempati sehingga
menyebabkan insufisiensi insulin (Gambar 2.2) yang akan memberikan manifestasi
penurunan intake glukosa jaringan. Kondisi ini akan memberikan dampak terhadap
hipoglikemia intrasel dan ekstrasel.

Hipoglikemia intrasel akan dilanjutkan dengan respons peningkatan glukogenesis


dan glukoneogenesis yang memberikan manifestasi pemecahan lemak dan perubahan
sintesis protein. Peningkatan pemecahan lemak akan meningkatkan produksi keton yang
juga akan meningkatkan risiko terjadinya ketoasidosis diabetikum. Perubahan sintesis
protein akan meningkatkan risiko kaheksia, letargi, dan terjadi penurunan gama globulin
yang juga meningkatkan risiko infeksi akibat kerusakan jaringan kulit.

Pada hipoglikemi ekstrasel akan memberikan manifestasi peningkatan osmotik


plasma dan peningkatan pengeluaran glukosa oleh ginjal. Pada kondisi peningkatan
osmotik plasma akan terjadi dehidrasi sel yang berlanjut pada koma hiperglikemi.
Respons dari peningkatan pengeluaran glukosa oleh ginjal akan menyebabkan diuresis
osmotik dengan manifestasi poliuri, polidipsi, hipokalemi, dan hiponatremi.

Plasmodia juga menyebabkan lisis dari sel darah merah (baik yang terinfeksi dan
yang tidak terinfeksi), penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan
sel darah merah oleh limpa yang menyebabkan kondisi anemia serta splenomegali.
Seiring waktu, malaria dan infeksi juga dapat menyebabkan trombositopenia.

Kondisi malaria akan memberikan berbagai masalah keperawatan yang muncul


pada pasien (Gambar 2.3) dan memberikan implikasi pada asuhan keperawatan. Masalah
keperawatan yang muncul berhubungan dengan pelepasan produk metabolik toksik ke
dalam aliran darah yang memberikan berbagai manifestasi pada respons sistemik,
respons intestinal, respons sistem saraf pusat, respons kardiorespirasi, dan
muskuloskeletal.

8. Pathway

9. Komplikasi

Komplikasi yang lazim terjadi pada malaria terutama yang disebabkan oleh
Plasmodium falcifarum adalah sebagai berikut.

a. Koma (malaria serebral).

Koma pada malaria meliputi kondisi penurunan kesadaran, perubahan status


mental, dan kejang. Kondisi koma malaria merupakan kondisi paling umum yang
menyebabkan kematian pada pasien dengan penyakit malaria. Jika tidak diobati,
komplikasi ini sangat mematikan. Gejala malaria serebral mirip dengan ensefalopati
toksik.

b. Kejang (sekunder baik untuk hipoglikemia atau serebral malaria).

c. Gagal ginjal akut.

Sebanyak 30% dari orang dewasa yang terinfeksi dengan Plasmodium falciparum
menderita gagal ginjal akut (Hanson, 2009).

d. Hipoglikemia.

e. Hemoglobinuria (blackwater fever).

Kondisi hemoglobinuria ditandai dengan urine sangat gelap yang merupakan


manifestasi dari hemolisis, hemoglobinemia yang berlanjut pada hemoglobinuria dan
hemozoinuria.

f. ARDS, edema paru nonkardiogenik.


Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita hamil dan menyebabkan kematian
pada 80% pasien (Perez-Jorge, 2009).

g. Anemia.

h. Pendarahan (koagulopati).

10. Manifestasi Klinis

a. Plasmodium vivax ( malaria tertiana )

1) Meriang

2) Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)

3) Keringat dingin

4) Kejang-kejang

5) Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

b. Plasmodium falcifarum ( malaria tropika )

1) Meriang

2) Panas dingin menggigil/ demam ( lebih dari 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 miggu setelah infeksi)

3) Keringat dingin

4) Kejang-kejang

5) Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

c. Plasmodium malariae ( malaria kuartana )

1) Meriang

2) Panas dingin menggigil/ demam ( gejala pertama tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari
setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari )

3) Keringat dingin

4) Kejang-kejang
5) Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi

d. Plasmodium ovale ( jarang ditemukan ).

Dimana manifestasi klinisnya mirip malaria tertiana :

1) Meriang

2) Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)

3) Keringat dingin

4) Kejang-kejang

5) Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

11. Pemeriksaan diagnostik

a. Pemeriksaan mikroskopis malaria

Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada


manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit
(plasmodium) di dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-
macam target dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang
diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan
mikrokopis tidak dapat dilakukan.

Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit


plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi
hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan
pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.

Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar


mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).

1) Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki
periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai
maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit.

2) Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick) dengan
volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis.
3) Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang
tepat.

4) Identifikasi spesies plasmodium

5) Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan


selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.

b. QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)

Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang
dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium.
QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan
diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan
spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.

c. Pemeriksaan imunoserologis

Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi


spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau
eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama
menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay.

d. Pemeriksan Biomolekuler

Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik


parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap
yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.

12. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung


dari jenis plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut :

a. Malaria Tersiana/ Kuartana

Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di


tambahkan mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari).
Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14 hari)

b. Malaria Ovale
Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama
6 hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan interval 4-
6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang biasanya di
kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).

c. Malaria Falcifarum

Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam


dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti
tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari selama 7
hari
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a) Anamnesa

Keluhan utama pada pasien malaria bervariasi sesuai dengan siklus yang terjadi di
dalam tubuh pasien. Pada pengkajian, perawat mungkin mendapatkan keluhan utama
demam. Serangan klasik demam tiba-tiba dimulai dengan periode menggigil yang
berlangsung selama sekitar 1-2 jam dan diikuti dengan demam tinggi. Setelah itu akan
terjadi penurunan suhu tubuh secara berlebihan disertai diaforesis dan suhu tubuh
pasien turun menjadi normal atau di bawah normal. Menurut Dorsey (2000) terdapat
trias klasik malaria yang terbagi dalam 3 periode. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)

Trias Klasik Malaria (Malaria Proxysm)

Fase Klinis

Fase dingin Pada fase ini pasien terlihat menggigil dan


kedinginan, pasien sering membungkus diri dengan
selimut dan pada saat menggigil disertai badan
bergetar, pucat sampai sianosis. Fase ini berlangsung
15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya
temperatur

Fase hipertermi Perubahan integumen dengan muka menjadi merah,


kulit ppanas dan kering. Perubahan TTV dengan nadi
cepat dan panas tetap tinggi sampai 400C atau lebih,
respirasi meningkat. Perubahan sistemik dengan
adanya nyeri kepala, mual-muntah, gejala syok
(takanan darah menurun), penurunan tingkat
kesadaran menjadi delirium dan kejang. Fase ini lebih
lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jamatau lebih,
di ikuti dengan keadaan berkeringat.

Fase diaforesis Pasien berkeringat mulai dari kening, di ikuti seluruh


tubuh, sampai basah sampai seluruh tubuh,
temperatur turun, pasien kemudian keletihan dan
kemudian tertidur. Bila pasien bangun akan merasa
sehat dan dapat melakukan aktivitas rutin seperti
biasa.

(Dimodifikasi dari Dorsey G, Gandhi M, Oyugi JH, Rosenthai PJ., 2000)

Keluhan klinis sistemik secara umum yang mengikuti, meliputi batuk, cepat letih,
malaise, nyeri otot (mialgia), nyeri sendi (artralgia), dan peningkatan produksi keringat
(setiap 48 atau 72 jam, tergantung pada spesies). Keluhan sistemik lainnya bisa
didapatkan adanya anoreksia dan letargi, mual dan muntah, sakit kepala, serta ikterus
mungkin didapatkan pada beberapa kasus.

Pada riwayat kesehatan, pengkajian awal yang penting bagi perawat untuk
ditanyakan adalah apakah pasien pernah pergi atau diam di tempat endemik malaria.
Kebanyakan pasien tinggal di atau baru saja bepergian ke daerah endemik, namun
beberapa kasus dilaporkan setiap tahun di mana pasien tidak memiliki riwayat perjalanan
tersebut (misalnya kendaraan daran atau air yang pernah singgah atau melewati daerah
endemik).

Pengkajian lainnya adalah untuk menentukan status kekebalan pasien, seperti


umur, alergi, kondisi-kondisi medis lainnya, obat lain, dan status kehamilan.

Pengkajian psikososial terutama ditujukan dalam penurunan kecemasan dan


pemenuhan informasi.

b) Pemeriksaan Fisik

Secara umum pasien terlihat sangat sakit, terdapat perubahan status kesadaran
yang semakin menurun sesuai dengan tingkat keaktifan kuman dalam tubuh. TTV
biasanya mengalami perubahan seperti takikardia, hipertermi, peningkatan frekuensi
napas, dan penurunan tekanan darah.

Bl : Fungsi pernapasan biasanya tidak ada masalah, tetapi pada malaria falcifarum dengan
komplikasi akan didapatkan adanya perubahan takipnu dengan penurunan kedalaman
pernapasan, serta napas pendek pada istirahat dan aktivitas.

B2 : Pada fase demam akan didapatkan takikardia, tekanan darah menurun, kulit hangat,
dan diuresis (diaforesis) karena vasodilatasi. Pucat dan lembap berhubungan dengan
adanya anemia, hipovolemia, dan penurunan aliran darah. Pada pasien malaria dengan
komplikasi berat sering didapatkan adanya tanda-tanda syok hipovolemik dan tanda DIC.

B3 : Sistem neuromotorik biasanya tidak ada masalah. Pada beberapa kasus pasien terkihat
gelisah dan ketakutan. Pada kondisi yang lebih berat akan didapatkan adanya perubahan
tingkat kesadaran dengan manifestasi disorientasi, delirium, bahkan koma. Pada
beberapa kasus pasien dengan adanya perubahan elektrolit sering didapatkan adanya
kejang.

B4 : Sistem perkemihan biasanya tidak masalah, tetapi pada saat fase demam didapatkan
adanya penurunan produksi urine, sedangkan pada fase lanjut didapatka adanya poliuri
sekunder dari perubahan glukosa darah.

B5 : Pada inspeksi didapatkan gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah, diare atau
konstipasi. Pada auskultasi didapatkan penurunan bising usus. Pada perkusi didapatkan
adanya timfani abdomen. Pada palpasi abdomen sangat sering didapatkan acaura
splenomegali.

B6 : Pada pengkajian integumen didapatkan adanya tanda-tanda anemia dan ikterus. Pada
pemeriksaan muskuloskeletal didapatkan adanya keletihan dan kelemahan fisik umum,
malaise, dan penurunan kekuatan otot.

c) Pemeriksaan Diagnostik

1) Pemeriksaan imunoserologis.

Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibody


spesifik terhadap parasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit
yang terinfeksi plasmodium. Teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan radio
immunoassay dan enzim immunoassay.

2) Pemeriksan Biomolekuler.
Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik
parasit/plasmodium dalam darah penderita malaria. Tes ini menggunakan DNA lengkap,
yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.

d) Penatalaksanaan Medis

Intervensi medis disesuaikan dengan kondisi klinis pada pasien malaria. Tujuan
pemberian terapi, meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Intervensi darurat.

Rehidrasi dengan pemberian IVFD.

Tranfusi RBC (red blood cells)

Mengatasi hiponatremi dan hipokalemi.

Monitor dan mengobati hipoglikemia.

Monitor kasus malaria dengan penurunan daya tahan tubuh (pada anak-anak,
kehamilan, imunodefisiensi).

Perawatan di ruang intensif (koagulopati atau kegagalan organ akhir, malaria serebral,
penurunan kesadaran, kejang berulang, koma).

2) Terapi malaria.

Malaria Tersiana/Kuartana.

Biasanya ditanggulangi dengan kloroquin, namun jika pasien resisten perlu ditambahkan
mefloquin dosis tunggal 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini
disusul dengan pemberian primaquin 15 mg/hari selama 14 hari).

Malaria Ovale. .

Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari) atau
mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval 4-6 jam).
Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet) yang biasanya dikombinasikan
dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).

Malaria falcifarum.
Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal
sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250
mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/hari selama 7 hari.

e) Analisa Data

Symtom Etiologi Masalah

Ds : Pelepasan Hipertermi
produksi
Klien biasanya
metabolik toksik
mengeluh badannya
kedalam aliran
panas
darah

Orangtua Klien

biasanya mengatakan
panasnya kurang Respon inflamasi

lebih 2-4 hari dirumah sistemik

Klien biasanya susah

tidur Hipertermi

Do :

Keadan umum :
lemah

Wajah pasien
biasanya kemerahan
dan suhu tubuhnya
39,50C

Nadi : 98 x / menit

Pernapasan : 28
X /menit

Ds : Anemia Penurunan
hipovolemi perfusi
Klien biasanya
jaringan
mengeluh pusing.

Penurunan aliran
Do : darah dan
penurunan
Klien akan terlihat
imunitas
sesak dan pucat

Suhu 39,5-400C
Penurunan perfusi
jaringan

Ds : Anemia Resiko tinggi


hipovolemi gangguan
Klien biasanya
elektrolit
mengeluh nyeri
kepala dan mual.
Penurunan aliran
Do : darah dan
penurunan
Klien akan terlihat
imunitas
gelisah

Suhu 39,5-400C
Resiko tinggi
Klien biasanya gangguan
terlihat lemas dan elektrolit
keringat dingin

Ds : Respon intestinal Nutrisi kurang


darikebutuhan
Klien biasanya
tubuh
mengatakan tidak
Mual, muntah,
ada nafsu buat makan
anoreksia dan
Do : penurunan
motilitas
Klien akan terlihat
kurus dan lemas. intake nutrisi
tidak adekuat
Porsi makanan yang konstipasi
disediakan, biasanya
hanya porsi yang

dihabiskan Nutrisi kurang


darikebutuhan
Berat badan pasien tubuh
biasanya menurun
dari sebelumnya.

Ds : Anemia Resiko infeksi


hipovolemi
Klien biasanya
mengeluh badannya
panas
Penurunan aliran
Do : darah dan
penurunan
Biasanya leukosit
imunitas
dalam batas tidak
normal

Suhu badan : 39,50C Resiko infeksi

Nadi : 98 x/menit

Pernapasan : 28
X/menit

Kulit biasanya
tanpak kotor

Ds : Resiko inflamasi Nyeri


sitemik
Klien biasanya
mengeluh nyeri pada
seluruh badan
Mialgia dan
Klien biasanya Artralgia

mengatakan badanya

terasa lemas
Nyeri
Do :

Klien akan terlihat


gelisah

Tidur kurang dari 6


jam

Sering terjaga

Ds : Invasi kuman ke Cemas


hepatosit
Orang tua biasanya
bertanya tanya
tentang penyakit
Malaria
anaknya.

Orang tua akan
mengatakan khawatir Respon
tentang penyakit psikososial
anaknya.

Do :
Cemas

Klien akan terlihat


cemas atau ketakutan

Klien akan tampak


gelisah.

Orang tua biasanya


tampak gelisah.

2. Diagnosa Keperawatan

a) Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman


pada hipotalamus.

b) Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.

c) Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis osmotik,


diaforesis

d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake makanan yang tidak adekuat,
anoreksia, mual/muntah.

e) Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh


f) Nyeri dan ketidaknyamanan b/d resfon inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.

g) Kecemasan b/d kondisi sakit, prognosis penyakit malaria falciparum

h) Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d


kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.

3. Rencana Keperawatan

Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung


sirkulasi kuman pada hipotalamus.

Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam terjadi penurunan suhu tubuh

Kriteria Hasil :

1. Klien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang di berikan

2. Klien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah di


berikan

Intervensi Rasional

Evaluasi TTV pada setiap Sebagai pengawasan terhadap adanya


pergantian sif atau setiap ada perubahan keadaan umum klien
keluhan dari klien sehingga dapat di lakukan penanganan
dan perawatan secara cepat dan tepat

Kaji pengetahuan klien dan Sebagai data dasar untuk memberikan


keluarga tentang cara menurunkan intervensi selanjutnya.
suhu tubuh

Lakuakan tirah bafring total Penurunan aktivitas akan menurunkan


laju metabolisme yang tinggi pada fase
akut, dengan demikian akan
membantu menurunkan suhu tubuh

Beri kompres dengan hangat pada Dapat membentu mengurangi demam,


daerah aksila, lipat paha dan penggunaan es/alkohol mungkin dapat
temporal bila terjadi panas menyebabkan kedinginan dan
menggigil. Selain itu, alkohol dapat
mengeringkan kulit.

Anjurkan klien untuk memakai Pengeluaran suhu tubuh seecara


pakaian yang menyerap keringat evaporasii berkisar 22% dari
seperti katun. pengeluaran suhu tubuh. Pakaian yang
mudah menyerap keringan sangat
efektif meningkatkan efek dari
evaporasi.

Anjurkan keluarga untuk melakukan Masase di lakukan untuk meningkatkan


masase pada ekstermitas. aliran darah ke perifer dan terjadi
vasodilatasi perifer yang akan
meningkatkan efek evaporasi.
Penggunaan cairan penghangat seperti
minyak kayu putih dapat digunakan
untuk meningkatkan efektivitas
intervensi masase.

Kolaborasi dengan dokter dalam Antipiretik bertujuan untuk memblok


pemberian obat antipiretik. respons panas sehingga suhu tubuh
klien dapat lebih cepat menurun.

Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen


seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam
tubuh.

Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terjadi penurunan tingkat kesadaran dan


dapat mempertahankan Cardiac Output secara adekuat guna meningklatkan
perfusi jaringan.

Kriteria Hasil :

1. Klien tidak mengeluh pusing

2. TTV dalam batas normal, tidak terjadi sesak, mual dan muntahtanda
diaforesis dan pucat/sianosis hilang, akral hangat, kulit segar, produksi urine
>30 ml/jam, respon verbal baik, EKG Normal.

Intervensi Rasional

Kaji status mental klien secara Mengetahui derajat hipoksia pada otak.
teratur.

Pertahankan tirah baring bantu Menurunkan kerja miokard dan


dengan aktivitas perawatan. konsumsi oksigen, memaksimalkan
efektivitas dari perfusi jaringan.

Panatau terhadap kecendrungan Hipotensi akan berkembangbersamaan


tekanan darah, mencatat dengan kuman yang menyerang darah.
perkembangan hipotensi, dan
perubahan pada tekanan nadi.

Perhatikan kualitas dan kekuatan Pada awalnya nadi cepat dan kuat
dari denyut perifer. karena peningkatan curah jantung,
nadi dapat lemah atau lambat karena
hipotensi yang terus menerus,
penurunan curah jantung dan
vasokontriksi perifer.

Observasi perubahan sensori dan Bukti aktual terhadap penurunan aliran


tingkat kesadran pasien yang darah ke jaringan serebral adalah
menunjukkan penurunan perfusi adanya perubahan respons sensori dan
otak (gelisah, Confuse/bingung, penurunan tingkat kesadaran pada
apatis, samnolen). fase akut. Adanya kegagalan harus di
lakuakan monitoring yang ketat.

Kurangi aktivitas yang merangsang Respons valsava akan meningkatkan


timbulnya respons valsava / beban jantung sehingga akan
aktivitas. menurunkan curah jantung ke otak.

Catat adnya keluhan pusing Keluhan pusing merupakan manifestasi


penurunan suplai darah ke jaringan
otak.

Kolaborasi dengan tenaga Jalur yang paten penting untuk


kesehatan lain dalam pemberian pemenuhan lisis darah sebagai
transfusi darah PRC (packed red intervensi kedaruratan.
cells).

Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi)


b/d diuresis osmotik, diaforesis

Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam tidak terjadi hiponatremi atau kondisi


hiponatremi dan hipokalemi dapat teratasi.

Kriteria Hasil :
1. Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepal, mual dan muntah, GCS
: 4, 5, 6.

2. TTV dalam batas normal.

3. Klien tidak mengalami defisit neurologis.

Intervensi Rasional

Kaji faktor penyebab dari situasi Kehilangan natrium yang


atau keadaan individu dan faktor- mengakibatkan defletional
faktor yang dapat menurunkan hyponatremia dapat disebabkan oleh
osmolalitas serum. mekanisme ginjal dan nonginjal.
Kehilangn garam melalui nonginjal
terjadi pada kehilangan volume cairan
seperti pada muntah, diare, atau
diaforesis yang berlebihan.

Monitor temperatur dan pengaturan Panas merupakan refleks dari


suhu lingkungan. hipotalamus. Peningkatan kebutuhan
metabolisme dan oksigen akan
menunjang peningkatan TIK/ICP
(Intracranial Pressure).

Bantu pasien untuk membatasi Aktivitas ini dapat meningkatkan


muntah dan batuk. Anjurkan pasien tekanan intrkarnial dan intraabdominal.
untuk mengeluarkan napas apbila Mengeluarkan nafas sewaktu bergerak
bergerak atau berbalik di tempat atau mengubah posisi dapat
tidur. melindungi diri dari efek valsava.

Perttahankan kepala/leher pada Perubahan kepala pada satu sisi dapat


posisi yang netral, usahakan menimbulakan penekanan pada vena
dengan sedikit bantal. Hindari jugularis dan menghambat aliran darah
penggunaan bantal yang tinggi otak sehingga dapat meningkatkan
pada kepala. tekanan intrakarnial.

Bantu pasien jika batuk atau Aktivitas ini dapat meningkatkan


muntah. intratoraks atau tekanan dalam toraks
dan tekanan pada abdomen dimana
aktivitas ini dapat meningkatkan
tekanan TIK.
Observasi tingkat kesadaran Perubahan kesadaran menunjukkan
dengan GCS. peningkatan TIK dan berguna
menentukan lokasi dan perkembangan
penyakit.

Kolaborasi :

Pemberian oksigen sesuai indikasi Mengurangi hipoksemia, dimana


dapat meningkatkan vasodilatasi
cerebral dan volume darah dan
menaikkan TIK.

Berikan cairan intrvena jenis NaCL Pemenuhan natrium secara intravena


akan meningkatkan kadar natrium ke
sirkulasi otak

Berikan obat deuretik osmotic


Diuretik mungkin digunakan pada fase
contohnya : mannitol, furoscide
akut untuk mengalirkan air dari brain
cells dan mengurangi edema cerebral
dan TIK.

Memonitor tanda-tanda vital tiap 4 Adanya perubahan TTV secara cepat


jam. dapat menjadi pencetus aritmia pada
klien hipokalemi.

Berikan diet sumber kalium Sumber-sumber kalium termasuk buah


dan sari buah, sayur-sayuran segardan
beku,daging segar,dan makanan
olahan. Sementara itu pisang, aprikot,
jeruk, avokad, kacang-kacangan,
kismis, kentang merupakan pengganti
garam yang mengandung 50 sampai
60 mEq kalium.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d


ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder dari nyeri,
ketidaknyamanan lambung dan intestinal

Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam klien akan mempertahankan kebutuhan


nutrisi yang adekuat.

Kriteria Hasil :

1. Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi


individu,menunjukkan peningkatan BB.

Intervensi Rasional

Kaji pengetahuan klien tentang Tingkat pengetahuandipengaruhi


intake nutrisi olehkondisi sosial ekonomi klien.
Perawat menggunakan pendekatan
yang sesuai dengan kondisi individu
klien. Dengan mengetahui tingkat
pengetahuan tersebut, perawat dapat
lebih terarah dalam memberikan
pendidikan yang sesuai dengan
pengetahuan klien secara efesien dab
efedktif.

Kaji riwayat nutrisi termasuk Peran perawat dalam mengawasi


makanan yang disukai. Observasi masukan kalori atau kualitas
dan catat masukan makanan kekurangan konsumsi makanan.
pasien.

Diskusikan yang disukai klien dan Dapat meningkatkan masukan,


masukan dalam diet murni. meningkatkan rasa berpartisipasi atau
kontrol.

Observasi dan catat kejadian mual gejalaGI dapat menunjukkan efek


atau muntah dan gejala lain yang anemia (hipoksia) pada organ.
berhubungan.

Monitor perkembangan berat Penimbangan berat badan dilakuakan


badan. sebagai evaluasi terhadap intervensi
yang di berikan.

Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh

Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi berhubungan dengan


penurunan sistem kekebalan tubuh.
Kriteria Hasil :

1. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradanganm sistemik

2. Leukosit dalam batas normal

3. TTV dalam batas normal.

Intervensi Rasional

Pantau terhadap kecendrungan Demam yang di sebabkan oleh


peningkatan suhu tubuh. endoktoksin pada hipotalamus dan
hipotermia adalah tanda-tanda penting
yang merefleksikan perkembangan
status syok/penurunan perfusi
jaringan.

Amati adanya menggigil dan Menggigil sering kali mendahului


diaforesis memuncaknya suhu pada infeksi
umum.

Observasi tanda-tanda Dapat menunjukkan ketidaktepatan


penyimpangan kondisi/kegagalan terapi antibiotik atau pertumbuhan dari
untuk memperbaiki selama masa organisme.
terapi.

Berikan obat anti malaria sesuai Dapat membasmi atau memberikan


petunjuk. imunitas sementara untuk infeksi
umum.

Pantau pemeriksaan laboratoris. Identifikasi terhadap penyebab jenis


infeksi malaria.

Nyeri dan ketidaknyamanan b/d respons inflamasi sistemik, mialgia,


artralgia, diaforesis.

Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam terjadi penurunan keluhan nyeri dan


ketidaknyamanan.

Kriteria Hasil :

1. Secara objektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi

2. Skal nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan


atau menurunkan nyeri

3. Klien tidak gelisah

Intervensi Rasional

Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan menggunakan relaksasi


tindakan pereda nyeri dan nonfarmakologi lainnya telah
nonfarmakologi dan noninvasif. menunjukkan kesepakatan keefektifan
dalam mengurangi nyeri.

Lakukan manajmen nyeri


keperawatan.

Istirahatkan klien pada saat nyeri


Istirahat secara fisikologis akan
muncul
menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme basal.

Meningkatkan intake oksigen sehingga


Ajarkanteknik relaksasi pernapasan
akan menurunkan nyeri sekunder dari
dalam pada saat nyeri muncul
iskemia spina.
Manajmen lingkungan
Lingkungan tenang akan menurunkan
1. Lingkungan tenang stimulus nyeri eksternal dan batasan
pengunjung akan membantu
2. Batasi pengunjung
meningkatkan kondisi oksigen ruangan
3. Istirahatkan klien yang akan berkurang apabila banyak
pengunjung yang berada di ruangan.
Istirahat akan menurunkan kebutuhan
oksigen jaringan perifer.

Tingkatkan pengetahuan tentang Pengetahuan mengenai hal yang akan


sebab-sebab nyeri dan di rasakan membantu mengurangi
menghubungkan berapa lama nyeri nyerinya dan dapat membantu
akan berlangsung. mengembangkan kepatuhan klien
terhadap rencana terapeutik.

Kecemasan b/d kondisi sakit,prognosis penyakit malaria falcifarum


Tujuan : secara objektif melaporkan rasa cemas berkurang

Kriteria Hasil :

1. Klien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat.

2. Klien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya


koping dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi.

3. Klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar.

4. Klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.

Intervensi Rasional

Monitor respon fisik, seperti Digunakan dalam mengevaluasi


kelemahan, perubahan tanda vital, derajat/tingkat kesadaran/konsentrasi,
dan gerakan yang berulang-ulang. khususnya ketika melakukan
Catat kesesuaian respons verbal komunikasi verbal.
dan nonverbal selama komunikasi.

Anjurkan klien dan keluarga untuk Kesempatan diberikan pada klien untuk
mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takutdan
mengekspresikan rasa takutnya. kekhawatiran tentang akan merasa
malu akibat kurang kontrol terhadap
eliminasi usus. Ketakutan akan rasa
malu ini sering menjadi masalah
utama.

Catat redaksi dari klien atau Anggota keluarga dengan responnya


keluarga. berikan kesempatan padaa apa yang terjadi dan
untuk mendiskusikan perasaannya kecemasannya dapat disampaikan
atau konsentrasinya dan harapan kepada perawat.
masadepan.

Anjurkan aktivitas pengalihan Meningkatkan distraksi dari pikiran


perhatian sesuai kemampuan klien dengan kondisi sakit.
individu, seperti nonton TV.

Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognesis dan kebutuhan


pengobatan b/d kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi
informasi, keterbatasan kognitif.

Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah
di informasikan.

Kriteria Hasil :

1. Klien mampu mengulang kembali informasi penting yang di berikan.

2. Klien terlihat termotivasi terhadap informasi yang di jelaskan.

Intervensi Rasional

Kaji kemampuan klien untuk Keberhasilan proses pembelajaran di


mengikuti pembelajaran (tingkat pengaruhi oleh kesiapan fisik,
kecemasan, kelelahan umum, emosional dan lingkungan yang
pengetahuan klien sebelumnya dan kondusif.
suasana yang tepat).

Tinjau proses penyakit dan harapan Memberikan pengetahuan dasar


masa depan. dimana pasien membuat pilihan.

Berikan informasi mengenai terapi Meningkatkan pemahaman dan


obat-obatan, interaksi obat, efek kerjasama dalam penyembuhan serta
samping, dan ketaatan terhadap mengurangi kambuhnya komplikasi
program.

Diskusikan kebutuhan untuk Perlu untuk penyembuhan optimal dan


pemasukan nutrisional yang tepat kesejahteraan umum.
dan seimbang

Dorong periode istirahat dan Mencegah pemenatan, penghematan


aktivitas yang terjadwal energi dan meningkatkan
penyembuhan.

Tinjau perlunya kesehatan pribadi Membantu mengontrol pemajanan


dan kebersihan lingkungan lingkungan dengan mengurangi jumlah
penyebab penyakit yang ada.

Tekankan pentingnya terapi Penggunaan terhadap pencegahan


antibiotik sesuai kebutuhan . terhadapinfeksi.

4. Implementasi
Sesuai dengan intervensi

5. Evaluasi

Hasil yang di harapkan pada asuhan keperawatan pada anak dengan malaria meliputi :

a) Penurunan suhu tubuh

b) Terpenuhinya perfusi jaringan

c) Tidak terjadi gangguan elektrolit

d) Terpenuhinya kebutuhan nutrisi

e) Tidak terjadi infeksi

f) Tidak mengeluh nyeri dan peningkatan perasaan nyaman

g) Kecemasan berkurang atau teradaptasi

h) Terpenuhinya kebutuhan pengetahuan individu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Malaria adalah suatu penyakit infeksi yang menginvasi sistem hematologi melalui
vektor nyamuk yang terinfeksi protozoa plasmodium. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)

Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh
protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali
(Mansjoer, 2001, hal 406).

Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu
protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk
(Corwin, 2000, hal 125).

Terdapat lima spesies paling umum yang memberikan pengaruh cedera terhadap
manusia (fernandez, 2009), yaitu sebagai berikut.

1. Plasmodium Falcifarum
2. Plasmodium Vivax

3. Plasmodium Ovale

4. Plasmodium Malariae

5. Plasmodium Knowlesi

Plasmodium Knowlesi, baru-baru ini di identifikasi di Asia tenggara sebagai patogen


bermakna secara klinis pada amanusia (Cox-Singh, 2008) (Arif Muttaqin, dkk, 2011).

Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis plasmodiumnya.


(Arif Muttaqin, dkk, 2011)

Pasien malaria biasanya memperoleh infeksi di daerah endemik melalui gigitan


nyamuk. Vektor, spesies nyamuk Anopheles, melewati plasmodia, yang terkandung
dalam air liur masuk ke dalam tubuh manusia saat nyamuk tersebut menghisap darah.

Hasil infeksi tergantung pada imunitas host. Individu dengan kekebalan dapat
secara spontan menghapus parasit. Pada mereka yang tidak memiliki kekebalan, parasit,
memperluas infeksi. Sejumlah kecil parasit menjadi gametocytes, yang mengalami
reproduks, seksual ketika diisap oleh nyamuk. Hal ini dapat berkembang menjadi infeksi
sporozoites. yang terus berkembang menjadi siklus transmisi baru setelah menggigit ke
dalam host baru. Secara garis besar semua jenis plasmodium memiliki siklus hidup yang
sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia dan sebagian di tubuh nyamuk.

B. Saran

Diharapkan oleh penulis adalah penulis lebih memahami prosester jadinya


penyakit malaria pada anak, penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala sampai pengobatan
yang tepat sesuai dengan keadaan penyakit klien dan rasional sesuai dengan fakta yang
ada. Selain itu diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu teman-teman
dalam mengenal dan memahami penyakit malaria secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Gastrointestinal. Aplikasi
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.

http://dezlicious.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html
http://wwwdagul88.blogspot.com/2009/11/askep-malaria-pada-anak.html

http://dimas-nursehalut.blogspot.com/2010/08/askep-malaria-pada-anak.html

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Varisella


1.1. Latar Belakang
Varicella Zooster Virus (VZV) adalah penyebab dari sindroma klinik Varicella atau
Chickenpox. Varicella merupakan penyakit yang biasanya tidak berat, sembuh dengan
sendirinya, dan merupakan infeksi primer (1,2,3). Zooster sebagai kesatuan klinis yang
berbeda, disebabkan oleh reaktivitas dari VZV setelah infeksi primer, dimana VZV
(disebut juga Human Herpes Virus 3 / HVH-3) sendiri adalah virus dengan DNA double-
stranded yang termasuk Alphaherpesvirinae(1,4).
Setelah infeksi primer, VZV menempati sistem saraf sensoris terutama di Geniculatum,
Trigeminal, atau akar Ganglia Dorsalis dan dormant di sana untuk beberapa tahun.
Dengan bertambahnya umur atau keadaan immunocompromised, virus menjadi aktif
kembali dan turun dari sistem saraf sensoris ke kulit sehingga muncul erupsi di kulit atau
keluhan lain seperti nyeri tanpa manifestasi yang nampak di kulit (3,4,5).
Varicella atau Chickenpox merupakan penyakit yang banyak ditemukan pada anak usia
sekolah, dimana lebih dari 90% kasus diderita anak usia kurang dari 10 tahun. Penyakit
ini tidak berat pada anak yang sehat, meskipun morbiditas meningkat pada orang
dewasa dan pada pasien dengan immunocompromised.
Data lain menyebutkan bahwa morbiditas penyakit ini 4000 kasus di rumah sakit dalam
satu tahun, dan mortalitasnya 50 100 kematian dalam satu tahun, dengan perkiraan
biaya perawatan mencapai 400 juta dollar sehingga pada tahun 1995 diadopsilah
vaksinasi untuk penyakit ini (1,2).

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi Varisela


Varisela adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela-zoster (V-Z virus) yang
sangat menular bersifat akut yang umumnya menganai anak, yang ditandai oleh demam
yang mendadak, malaise, dan erupsi kulit berupa makulopapular untuk beberapa jam
yang kemudian berubah menjadi vesikel selama 3-4 hari dan dapat meninggalkan
keropeng. (Thomson, 1986, p. 1483).
Varisela yang mempunyai sinonim cacar air atau chickenpox adalah infeksi akut primer
oleh virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa yang secara klinis terdapat
gejala konstitusi, kelainan kulit polimorfi terutama dibagian sentral tubuh. (Djuanda,
1993).

2.2. Anatomi Fisiologi


Organ kulit antara lain :
1. Epidermis (Kutilkula) Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit, yang memiliki
struktur tipis dengan ketebalan sekitar 0,07 mm terdiri atas beberapa lapisan, antara lain
seperti berikut :
a. Stratum korneum yang disebut juga lapisan zat tanduk. Letak lapisan ini berada paling
luar dan merupakan kulit mati. Jaringan epidermis ini disusun oleh 50 lapisan sel-sel mati,
dan akan mengalami pengelupasansecara perlahan-lahan, digantikan dengan sel telur
yang baru.
b. Stratum lusidum, yang berfungsi melakukan pengecatan terhadap kulit dan rambut.
Semakin banyak melanin yang dihasilkan dari sel-sel ini, maka warna kulit akan menjadi
semakin gelap.
c. Stratum granulosum, yang menghasilkan pigmen warna kulit, yang disebut melamin.
Lapisan ini terdiri atas sel-sel hidup dan terletak pada bagian paling bawah dari jaringan
epidermis.
d. Stratum germinativum, sering dikatakan sebagai sel hidup karena lapisan ini
merupakan lapisan yang aktif membelah. Sel-selnya membelah ke arah luar untuk
membentuk sel-sel kulit teluar. Sel-sel yang baru terbentuk akan mendorong sel-sel yang
ada di atasnya selanjutnya sel ini juga akan didorong dari bawah oleh sel yang lebih baru
lagi. Pada saat yang sama sel-sel lapisan paling luar mengelupas dan gugur.
2. Jaringan dermis memiliki struktur yang lebih rumit daripada epidermis, yang terdiri
atas banyak lapisan. Jaringan ini lebih tebal daripada epidermis yaitu sekitar 2,5 mm.
Dermis dibentuk oleh serabut-serabut khusus yang membuatnya lentur, yang terdiri atas
kolagen, yaitu suatu jenis protein yang membentuk sekitar 30% dari protein tubuh.
Kolagen akan berangsur-angsur berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Itulah
sebabnya seorang yang sudah tua tekstur kulitnya kasar dan keriput. Lapisan dermis
terletak di bawah lapisan epidermis. Lapisan dermis terdiri atas bagian-bagian berikut.
Folikel rambut dan struktur sekitarnya :
a. Akar Rambut
Di sekitar akar rambut terdapat otot polos penegak rambut (Musculus arektor pili), dan
ujung saraf indera perasa nyeri. Udara dingin akan membuat otot-otot ini berkontraksi
dan mengakibatkan rambut akan berdiri. Adanya saraf-saraf perasa mengakibatkan rasa
nyeri apabila rambut dicabut.
b. Pembuluh Darah
Pembuluh darah banyak terdapat di sekitar akar rambut. Melalui pembuluh darah ini
akar-akar rambut mendapatkan makanan, sehingga rambut dapat tumbuh.
c. Kelenjar Minyak (glandula sebasea)
Kelenjar minyak terdapat di sekitar akar rambut. Adanya kelenjar minyak ini dapat
menjaga agar rambut tidak kering.
d. Kelenjar Keringat (glandula sudorifera)
Kelenjar keringat dapat menghasilkan keringat. Kelenjar keringat berbentuk botol dan
bermuara di dalam folikel rambut. Bagian tubuh yang banyak terdapat kelenjar keringat
adalah bagian kepala, muka, sekitar hidung, dan lain-lain. Kelenjar keringat tidak
terdapat dalam kulit tapak tangan dan telapak kaki.
e. Serabut Saraf
Pada lapisan dermis terdapat puting peraba yang merupakan ujung akhir saraf sensoris.
Ujung-ujung saraf tersebut merupakan indera perasa panas, dingin, nyeri, dan
sebagainya.

2.3. Etiologi
Penyebab dari varisela adalah virus varisela-zoster. Penamaan virus ini memberi
pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan timbulnya penyakit varisela,
sedangkan reaktivasi (keadaan kambuh setelah sembuh dari varisela) menyebabkan
herves zoster.

2.4. Patofisiologi
Varicella dimulai dengan infiltrasi virus ke dalam mukosa yang ditularkan melalui sekresi
saluran pernafasan atau dengan kontak langsung lesi kulit varicella atau herpes zoster.
Infiltrasi virus disertai dengan masa inkubasi 10 21 hari pada saat tersebut terjadi
penyebaran virus sub klinis. Bila masuk fase viremi, sel mononuklear darah perifer
membawa virus infeksius menghasilkan kelompok vesikel baru selama 3 7 hari.
VVZ juga diangkut kembali ke tempat mukosa saluran pernafasan selama akhir masa
inkubasi memungkinkan penyebaran melalui kontak langsung rentan terjadi sebelum
ruam muncul. Varicella mendatangkan imunitas humoral dan seluler yang sangat
protektif terhadap infeksi ulang bergejala.

Infeksi Varisella Zozter


Kontak Langsung Inhalasi
Virus II Virus I
Partiikel virus Infeksi
Menyebar dikulit mukosa saluran nafas Selaput konjungtiva
4-16 hari 4-6 hari
Ensepalitis, hepatitis, typical vesikuler, pneumonia Menggandakan diri
Menularkan penyakit Diliver, spleen dan organ lain
Lesi mengeras
Virus varisella
Kekebalan tubuh

2.5. Manifestasi Klinis


Masa inkubasi dari varicella 7 21 hari setelah paparan, dengan kasus terbanyak terjadi
antara 14 17 hari. Misalnya, satu anak dalam sebuah keluarga tertular varicella pada
sekolah, kakak atau adiknya kemungkinan akan timbul gejala varicella sekitar 2 minggu
kemudian. Varicella umumnya berakhir 7 10 hari pada anak-anak, dan lebih lama pada
orang dewasa.
Masa penularan varicella mulai 2 hari sebelum vesikel muncul dan berakhir saat semua
vesikel menjadi krusta. Anak dengan varicella harus diistirahatkan sekitar 1 minggu.
Anda tidak harus menunggu hingga lesi pada kulit hilang semua. Orang yang sedang
sakit atau mempunyai problem dengan sistem immun harus menghindari kontak dengan
penderita varicella. Begitu pula wanita hamil.

2.6. Gejala
Gejala yang timbul dibagi menjadi dua tahap:
1. Tahap awal (fase prodromal), 24 jam sebelum timbul gejala kelainan pada kulit
terhadap gejala-gejala panas, perasaan lemah, malas, tidak nafsu makan dan kadang-
kadang disertai kemerahan seperti biang keringat.
2. Tahap selanjutnya (fase erups) dimulai dengan timbulnya bintik merah kecil yang
berubah menjadi benjolan berisi cairan jernih dan mempunyai dasar kemerahan. Cairan
veksikel setelah beberapa hari berubah menjadi keruh. Dalam 3-4 hari veksikel ini
menebar keseluruh tubuh mula-mula dari dada lalu ke muka, bahu dan anggota gerak.
Pada tahap ini dapat tumbuh perasan gatal di tubuh.
Gejala yang mungkin timbul berupa :
o Demam
o Kelemahan tubuh
o Mual
o Nyeri kepala
o Lesi kulit yang berbentuk bentolan berisi air, sangat gatal, yang biasanya dari badan
dan menyebar keluar (muka, kepala dan anggota gerak)
o Les dapat juga terjadi di tenggorokan

2.7. Frekuensi
Pada masa sebelum vaksinasi disbarluaskan insidensi pada tahun 19881994 didapatkan
95,5% orang dewasa 20-25 tahun, 98,8% usia 30-39 tahun, 99,6% usia >40 tahun telah
kebal terhadap virus ini. Sehingga pada tahun 2000 vaksinasi dilakukan untuk melindungi
anak dengan usia 1935 bulan, sehingga terjadi penurunan yang signifikan terhadap
angka kejadian varisella di usia-usia tersebut.
Varisella menyebar secara mendunia, tetapi pada masing-masing negara memiliki
insidensi yang berbeda bergantung suhu, musim. Insidensi cacar air tidak memiliki
predileksi usia dan paling sering terjadi pada anak-anak usia 36 tahun.

2.8. Mortalitas / Morbiditas


Angka kesakitan diakibatkan oleh penyebaran virus dalam darah, infeksi otak dan
selaputnya, adanya infeksi bakteri, dan infeksi paru-paru. Komplikasi lainnya berupa
rendahnya jumlah trombosit, infeksi pada sendi, infeksi hati dan infeksi ginjal.
Pada wanita hamil, infeksi varisela pada usia kehamilan 20 minggu akan menyebabkan
kelainan kongenital pada bayi termasuk atrofi anggota gerak, abnormalitas saraf dan
mata, dan juga retardasi mental.
Bayi yang lahir dari ibu yang menderita cacar air beberapa hari sebelum kelahiran atau 2
hari setelah lahir dapat menimbulkan disseminated varicella neonatorum. Lesi
perdarahan di hati dan paru-paru merupakan potensi terjadinya kematian.

2.9. Komplikasi
Komplikasi Tersering secara umum :
a. Pnemonia
b. Kelainan ginjal.
c. Ensefalitis.
d. Meningitis.
Komplikasi yang langka :
a. Radang sumsum tulang.
b. Kegagalan hati.
c. Hepatitis.
d. Sindrom Reye.
Komplikasi yang biasa terjadi pada anak-anak hanya berupa infeksi varisela pada kulit,
sedangkan pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi berupa radang pari-
paru atau pnemonia 10 25 lebih tinggi dari pada anak-anak.

2.10. Penatalaksanaan
Pasien harus diisolasikan dari orang lain, begitu juga untuk kebutuhan sehari-harinya.
Biasanya yang dilakukan adalah :
a. Isolasi untuk mencegah penularan
b. Diet bergizi tinggi (tinggi kalori dan protein)
c. Bila demam tinggi kompres dengan air hangat
d. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit misalnya pemberian antiseptic pada air
e. Upayakan agar vesikel tidak pecah
o Jangan menggaruk vesikel
o Kuku jangan dibiarkan panjang
o Bila hendak mengeringkan badan, cukup dengan handuk pada kulit dan jangan
digosok.
Pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti gatal (antihistamin-
difenhidramin), demam (parasetamol) diperlukan agar mengurangi tingkat berat
penyakit. Pemberian obat antivirus berupa acyclovir per oral direkomendasikan dalam 48
jam awal pasien mengeluh gejala cacar air. Pemberian acyclovir per vena di
rekomendasikan pada pasien dengan komplikasi berat, gangguan sistem imunitas dan
bayi.
Pemberian varicella-zooster immuno globulin (VZIG) diberikan kurang dari 96 jam setelah
terpapar, yaitu pada :
a. Wanita dengan kehamilan
b. Anak dengan gangguan sistem pertahanan tubuh
c. Bayi baru lahir dengan ibu tertular varicella dalam 5 hari sebelum melahirkan atau 48
jam setelah melahirkan.
d. Bayi prematur usia 28 minggu atau lebih muda dengan orangtua tanpa riwayat cacar
air sebelumnya.

2.11. Pencegahan
Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain :
1. Hindari kontak dengan penderita.
2. Tingkatkan daya tahan tubuh.
3. Imunoglobulin Varicella Zoster
- Dapat mencegah (atau setidaknya meringankan) terjadinya cacar air. Bila diberikan
dalam waktu maksimal 96 jam sesudah terpapar.
- Dianjurkan pula bagi bayi baru lahir yang ibunya menderita cacar iar beberapa saat
sebelum atau sesudah melahirkan.
4. Memberikan vaksin
Vaksin Varisella biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:
1. Kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
2. Menjaga kebersihan tangan
3. Kuku dipotong pendek
4. Pakaian tetap kering dan bersih.

Dan untuk Menghilangkan bekasnya :


Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan perawatan bekas luka
yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral untuk menetralisir ginjal
setelah mengkonsumsi obat. Konsumsi vitamin C plasebo ataupun yang langsung dari
buah-buahan segar seperti juice jambu biji, juice tomat dan anggur. Vitamin E untuk
kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo, minuman dari lidah buaya, ataupun rumput
laut. Penggunaan lotion yang mengandung pelembab ekstra saat luka sudah benar-
benar sembuh diperlukan untuk menghindari iritasi lebih lanjut.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN VARISELLA

1. Pengkajian
1) Data subjektif
Pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu makan dan sakit kepala.
2) Data Objektif
a. Integumen : kulit hangat, pucat. adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi
cairan jernih. Pada kulit dan membran mukosa : Lesi dalam berbagai tahap
perkembangannya : mulai dari makula eritematosa yang muncul selama 4-5 hari
kemudian berkembang dengan cepat menjadi vesikel dan krusta yang dimulai pada
badan dan menyebar secara sentrifubal ke muka dan ekstremitas. Lesi dapat pula terjadi
pada mukosa, palatum dan konjunctiva.
b. Suhu : dapat terjadi demam antara 380-390 C.
c. Metabolik : peningkatan suhu tubuh.
d. Psikologis : menarik diri.
e. GI : anoreksia.
f. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela.

2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan leukosit biasanya mennjukkan hasil yang normal, rendah, atau meningkat
sedikit. Multinucleated giant cells pada pemeriksaan Tzanck smear dari lepuhan kulit.
Hasil positif pada pemeriksaan kultur jaringan.

3. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake
makanan.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.

4. Intervensi
1. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam.
Intervensi :
- Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang dating
kontak dengan pasien
R/ Mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi
- Gunakan sarung tangan, masker dan teknik aseptic selama perawatan
R/ Mencegah masuknya organism infeksius
- Awasi atau batasi pengunjung bila perlu
R/ Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung
- Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi
R/ Rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
- Bersihkan jaringan nekrotik yang lepas
R/ Meningkatkan penyembuhan
- Awasi tanda-tanda vital
R/ Indikator terjadinya infeksi.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan
Intervensi :
- Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka
R/ Mengetahui keadaan integritas kulit
- Berikan perawatan kulit
R/ Menghindari gangguan integritas kulit
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake
makanan.
Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan
Intervensi :
- Berikan makanan sedikit tapi sering
R/ Membantu mencegah ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan
- Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat untuk membawa
makanan dari rumah
R/ Meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuh
Intervensi :
- Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini
R/ Memanfaatkan kemampuan dan menutupi kekurangan
- Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan
R/ Memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan : adanyan pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan
Intervensi :
- Diskusikan perawatan erupsi pada kulit
R/ Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan meningkatkan kemandirian.

5. Implementasi
1. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
a. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang
datang kontak dengan pasien.
b. Menggunakan skort,masker, sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka.
c. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu.
d. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi.
e. Membersihkan jaringan mefrotik.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).
f. Mengawasi tanda vital.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
a. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
b. Memberikan perawatan kulit.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake
makanan.
a. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
b. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat untuk
membawa makanan dari rumah yang tepat.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
a. Memberikan makanan sedikit tapi sering.
b. Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat untuk
membawa makanan dari rumah yang tepat.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
a. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit

6. Evaluasi
Masalah gangguan intebritas kulit dikatakan teratasi apabila :
a. Fungsi kulit dan membran mukosa baik dengan parut minimal.
b. Krusta berkurang
c. Suhu kulit, kelembaban dan warna kulit serta membran mukosa normal alami
d. Tidak terjadi komplikasi dan infeksi sekunder
e. Tidak terdapat kelainan neurologic
f. Tidak terjadi kelainan respiratorik.
g. Suhu tubuh normal.

DAFTA PUSTAKA

Adhi Djuanda (1993). Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Edisi Kedua, FK Universitas
Indonesia, Jakarta, 1993.
Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid :
1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis.
June M. Thomson, et. al. (1986). Clinical Nursing Practice, The C.V. Mosby Company,
Toronto.
Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.
PELAYANAN MTBS
No. Dokumen : ........
No. Revisi : 00
SOP
TanggalTerbit :
Halaman : 1/2
UPT
....................
PUSKESMAS .......................................
NIP ..................
.............
1. Pengertian

2. Tujuan

3. Kebijakan

4. Referensi

5. Prosedur 1.
2.
3.
4.
5.
6.

6. BaganAlr

7. Unit terkait 1.
2.
3.