Anda di halaman 1dari 29

Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi

Bencana
Nama : M. Fadhil

NIM : 11041020100029

Prod : Mesin

Fak : Teknik

Gambar 1. Penanggulangan bencana

1. Bidang Kegiatan Yang Dipilih

Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana). Mitigasi didefinisikan sebagai upaya yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari
bencana.Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana. (UU No 24 Tahun 2007, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 9) (PP No 21 Tahun
2008, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 6).

Dalam konteks bencana, dikenal dua macam yaitu (1) Bencana alam yang merupakan suatu
serangkaian peristiwa bencana yang disebabkan oleh faktor alam, yaitu berupa gempa, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan tanah longsor, dll. (2) Bencana sosial
merupakan suatu bencana yang diakibatkan oleh manusia, seperti konflik sosial, penyakit
masyarakat dan teror. Mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai
suatu titik tolak utama dari manajemen bencana.

Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana, yaitu :

1. Tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana.

2. Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam


menghadapi bencana, karena bermukim di daerah rawan bencana.

3. Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari, serta mengetahui cara
penyelamatan diri jika bencana timbul.

4. Penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana.

2. Maksud, tujuan, dan sasaran yang ingin dicapai

Saat ini anak anak selalu menjadi korban terbesar dari suatu bencana, sehingga pengetahuan
tentang mitigasi bencana untuk anak- anak dianggap sangat perlu sehingga anak- anak tidak
selalu menjadi korban terbesar dari bencana tetapi menjadi bagian dari penanggulangan
bencana, dapat membantu orang tuanya untuk menghadapi bencana dan membantu setelah
terjadi bencana.

Adapun maksud dan tujuan dari Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi Bencana adalah :

1. Mengurangi risiko/dampak yang ditimbulkan oleh bencana khususnya bagi anak anak.

2. Meningkatkan pengetahuan anak anak dalam menghadapi serta mengurangi


dampak/risiko bencana, sehingga anak anak dapat hidup dan beraktivitas dengan
aman.

3. untuk mengurangi risiko kematian dan cedera terhadap anak anak

Anak-anak sangat antusias mendengarkan penyuluhan tentang Mitigasi Bencana

3. Hasil yang dicapai dan tindak lanjut


Program utama, yaitu Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi Bencana dengan menggunakan
media elektronik dan lisan. Dilaksanakan oleh M.Fadhil dibantu oleh Misliani, Nur Maulina, Aulia
Ramadhan, UstiNesfia, AhlulFikri dan Masna. Acara ini dilakukan sebanyak 2 kali selama KKN
pada tanggal 16 dan 30 Januari 2015. Kegiatan ini dilakukan di Balai Merdeka dan SDN 1
Trienggadeng. Keseluruhan kegiatan acara Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi Bencana
ini diikuti oleh anak-anak yang masih duduk di kelas 5-6 SD. Kegiatan ini berlangsung dari pukul
08:30 WIB 10:20 WIB.

Hasil yang dicapai dari kegiatan ini diharapkan anak-anak akan mampu menghadapi bencana,
baik bencana banjir, gempa bumi maupun Tsunami. Sehingga ketika terjadi bencana anak- anak
tidak panik dan mampu untuk berpikir cepat bagaimana cara untuk menyelamatkan diri dan
mampu untuk menolong orang tuanya.

Tindak lanjut dari program ini adalah anak-anak kelas 5-6 agar dapat membantu masyarakat,
guru maupun keluarga dalam menghadapi bencana . Anak- anak dapat menjaga adik- adiknya
ketika terjadi bencana, sehingga orang tua mereka terbatu dalam kondisi kepanikan saat terjadi
bencana. Jadi anak- anak tidak selalu menjadi korban terbanyak dari suatu bencana, tetapi
menjadi bagian dari penanggulangan bencana tersebut.

4. Faktor Pendukung dan penghambat

Adapun faktor pendukung dari program ini yaitu terlihat dari antusias anak anak dalam
mendengar, memperhatikan dan bertanya hal- hal yang tidak mereka ketahui mengenai cara
untuk menghadapi bencana dan terlihat dari dukungan kepala sekolah , dewan guru dan
aparatur gampong yang meluangkan waktu dan memberi tempat untuk terlaksananya acara
Sosialisasi / Penyuluhan Tentang Mitigasi Bencana.

Adapun faktor penghambat dalam program ini adalah tidak bisa dilakukan simulasi bagaimana
ketika terjadi bencana mengingat traumatis yang masih melekat di dalam pikiran anak anak
tersebut .
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Indonesia, selain terkenal karena kekayaan dan keindahan alamnya, juga merupakan
negara yang rawan terhadap bencana. Hal ini disebabkan posisi geografis dan
geodinamiknya, sehingga Indonesia memiliki aktivitas vulkanik dan kegempaan yang cukup
tinggi. Posisi ini juga menyebabkan bentuk relief Indonesia yang sangat bervariasi, mulai dari
pegunungan dengan lereng yang curam sampai daerah landai di sepanjang garis pantai yang
sangat panjang, yang kesemuanya memiliki kerentanan terhadap ancaman bahaya tanah
longsor, banjir, abrasi dan tsunami. Kondisi hidrometeorologis yang beragam juga kadang-
kadang menimbulkan ancaman bahaya banjir dan longsor, angin ribut atau angin puting
beliung, bahaya kekeringan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lain-lain. Ancaman
lainnya adalah bencana yang disebabkan oleh berbagai kegagalan teknologi.
Umumnya bencana yang terjadi mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat baik
berupa korban jiwa manusia, kerugian harta benda maupun kerusakan lingkungan serta
musnahnya hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai antara lain kerusakan sarana dan
prasarana serta fasilitas umum, penderitaan masyarakat dan sebagainya.
Terjadinya bencana besar tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2004 dan
gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah (Kabupaten Klaten) pada tahun 2006 dan
beberapa bencana lain sebelum dan sesudahnya telah mendorong bangsa Indonesia untuk
menerima kenyataan hidup berdampingan dengan bencana. Sebagai konsekuensi atas
penerimaan tersebut, bangsa Indonesia telah melahirkan Undang Undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana. Untuk merealisasikan Undang-Undang tersebut,
pada tahun 2008 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 22 tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bencana, Peraturan Pemerintah Nomor 23 tentang Peranserta Lembaga
Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana.
Dari latar belakang diatas, pentingnya pemahaman mengenai manajemen bencana akan
menjadi landasan atau dasar dalam mengembangkan intervensi pengurangan risiko bencana
dalam penanggulangan bencana yang tepat dan akurat.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Bagaimana manajemen penanggulangan pasca bencana ?

1.3. TUJUAN PENULISAN


Memberikan pengetahuan dasar tentang manajemen pasca bencana

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Manajemen Bencana


Manajemen PB adalah serangkaian kegiatan yang berkesinambungan yang dikelola untuk
pengendalian dampak bencana untuk mempersiapkan kerangka kerja bagi masyarakat untuk
menghindari atau mengatasi dampak bencana yang melanda wilayah/lingkungannya;

Manajemen PB adalah serangkaian kegiatan, yang dilaksanakan sejak sebelum terjadinya


suatu peristiwa bencana, selama kejadian bencana, dan sesudah terjadinya bencana, dalam
rangka mencegah, mengurangi dan mengatasi dampak bencana, yang ditimbulkannya;

2.2. Tujuan Manajemen Bencana


Mengurangi, menghindari tingkat ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia, potensi
kerugian fisik dan ekonomi serta kerusakan infrastruktur;

Mengurangi dampak yang merugikan terhadap Individu;

Mencapai upaya pemulihan yang cepat dan berkelanjutan; Tujuan utama manajemen
pasca bencana

2.3. Pasca Bencana


Kondisi pasca bencana adalah keadaan suatu wilayah dalam proses pemulihan setelah
terjadinya bencana. Pada kondisi ini dipelajari langkah apa yang dilakukan oleh berbagai
pihak terkait dalam hal upaya untuk mengembalikan tatanan masyarakat seperti semula
sebelum terjadinya bencana. Beberapa hal yang dipelajari dalam kondisi pasca bencana ini
adalah kecepatan dan ketepatan terutama dalam hal:
1. Penanganan korban (pengungsi)
2. Livelyhood recovery
3. Pembangunan infrastruktur
4. Konseling trauma
5. Tindakan-tindakan preventif ke depan
6. Organisasi kelembagaan
7. Stakeholders yg terlibat
Dalam hal ini, dipelajari kebijakan pembangunan apa yang telah dilakukan sehingga
secara positif turut mencegah/menghambat terjadinya bencana, serta kebijakan pembangunan
apa yang telah dilakukan sehingga secara negatif turut memacu/menyebabkan timbulnya
bencana. Ruang lingkup studi ini meliputi kajian berbagai aspek penanggulangan bencana
alam yang terjadi di Indonesia, Fase pasca bencana: meliputi penanggulangan korban
(misalnya pengungsi), pendanaan, rehabilitasi bangunan, rekonstruksi fisik dan non fisik,
organisasi dan kelembagaan, dan social capital (Sunarti, 2009).

2.4. Manajemen Pasca Bencana


Manajemen pemulihan (pasca bencana) adalah pengaturan upaya penanggulangan
bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat mengembalikan kondisi
masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali
kelembagaan, prasarana, dan sarana secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh
setelah terjadinya bencana dengan fase-fasenyanya yaitu :
a. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pasca bencana.
b. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada
wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran
utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya
hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

2.5. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama
untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pasca bencana.
Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan : perbaikan lingkungan daerah bencana,
perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat,
pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi dan resolusi konflik,
pemulihan sosial ekonomi budaya, pemulihan keamanan dan ketertiban, pemulihan fungsi
pemerintahan, dan pemulihan fungsi pelayanan publik.
Dalam penentuan kebijakan rehabilitasi prinsip dasar yang digunakan adalah sebagai
berikut :
Menempatkan masyarakat tidak saja sebagai korban bencana, namun juga sebagai pelaku
aktif dalam kegiatan rehabilitasi.
Kegiatan rehabilitasi merupakan rangkaian kegiatan yang terkait dan terintegrasi dengan
kegiatan prabencana, tanggap darurat dan pemulihan dini serta kegiatan rekonstruksi.
Early recovery dilakukan oleh Rapid Assessment Team segera setelah terjadi bencana.
Program rehabilitasi dimulai segera setelah masa tanggap darurat (sesuai dengan Perpres
tentang Penetapan Status dan Tingkatan Bencana) dan diakhiri setelah tujuan utama
rehabilitasi tercapai.

Prinsip prinsip yang diutamakan dalam Rehabilitasi :


a. Partisipatif, artinya dalam setiap tahapan proses (perencanaan, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban) selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku sekaligus penerima
manfaat.
b. Transparan dan Akuntabel, artinya dalam setiap langkah dan kegiatan harus dilakukan
secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.
c. Sederhana, artinya pelaksanaan seluruh proses kegiatan diupayakan sederhana dan bisa
dilakukan masyarakat dengan tahap mengacu pada tujuan dan ketentuan dasar pelaksanaan
program rehabilitasi ini.
d. Akuntabilitas, artinya seluruh proses pelaksanaan dan pendanaan dilakukan dengan penuh
tanggung jawab.

Perlakuan pola khusus bentuk kegiatan rehabilitasi pasca bencana yang akan diberlakukan,
didasarkan atas hasil kajian masyarakat melalui Musyawarah Desa (MD) dan Musyawarah
Antar Desa (MAD). Perlakuan pola khusus ini meliputi 2 tahapan pokok :
1. Persiapan Pemulihan
Terdiri dari serangkaian kegiatan yang merupakan bentuk respon cepat sebagai bagian
dari upaya pemulihan (recovery) sebelum dilakukan rehabilitasi dan rekontruksi pasca
bencana yang lebih terencana. Tahapan ini dilakukan melalui proses review secara partisipatif
dampak bencana dan kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Mandiri Perdesaan yang sudah direncanakan dan atau sedang dilaksanakan.
Kegiatan tindak cepat adalah kegiatan-kegiatan yang dapat secara cepat diidentifikasi
dan dikuantifikasi bersama masyarakat tanpa harus menunggu selesainya semua pendataan
kerusakan sarana prasarana social ekonomi pedesaan. Dari hasil review tersebut, masyarakat
bisa memilih dan memutuskan pendanaan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan
pendapatan kepada warga/keluarga yang terkena dampak bencana, terutama misalnya
kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara padat karya.
Kegiatan-kegiatan padat karya yang dilakukan misalnya : kegiatan untuk pembersihan
puing, penataan lokasi atau padat karya untuk pemulihan cepat sarana-prasarana umum
perdesaan yang rusak akibat bencana (jalan tertimbun longsoran, pembersihan kawasan
pemukiman yang dapat dipergunakan kembali). Secara parallel, sambil melakukan kegiatan
tindak cepat juga terus dilakukan pendataan atau pemetaan terhadap sarana prasana umum
social atau ekonomi yang mengalami kerusakan secara lebih teliti, sebagai bahan
perencanaan untuk tahap rehabilitasi selanjutnya.
2. Rehabilitasi
Ruang lingkup pelaksanaan dalam rehabilitasi adalah :
1. Perbaikan Lingkungan Daerah Bencana
Perbaikan lingkungan fisik meliputi kegiatan : perbaikan lingkungan fisik untuk kawasan
pemukiman, kawasan industri, kawasan usaha dan kawasan gedung.
Indikator yang harus dicapai pada perbaikan lingkungan adalah kondisi lingkungan yang
memenuhi persyaratan teknis, sosial, ekonomi, dan budaya serta ekosistem

2. Perbaikan Prasarana dan Sarana Umum


Prasarana dan sarana umum adalah jaringan infrastruktur dan fasilitas fisik yang menunjang
kegiatan kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat. Prasarana umum atau jaringan
infrastruktur fisik disini mencakup : jaringan jalan/ perhubungan, jaringan air bersih, jaringan
listrik, jaringan komunikasi, jaringan sanitasi dan limbah, dan jaringan irigasi/ pertanian.
Sarana umum atau fasilitas sosial dan umum mencakup : fasilitas kesehatan, fasilitas
perekonomian, fasilitas pendidikan, fasilitas perkantoran pemerintah, dan fasilitas
peribadatan.

3. Pemberian Bantuan Perbaikan Rumah Masyarakat


Yang menjadi target pemberian bantuan adalah masyarakat korban bencana yang rumah/
lingkungannya mengalami kerusakan struktural hingga tingkat sedang akibat bencana, dan
masyarakat korban berkehendak untuk tetap tinggal di tempat semula. Kerusakan tingkat
sedang adalah kerusakan fisik bangunan sebagaimana Pedoman Teknis (DepPU, 2006) dan/
atau kerusakan pada halaman dan/ atau kerusakan pada utilitas, sehingga mengganggu
penyelenggaraan fungsi huniannya. Untuk bangunan rumah rusak berat atau roboh diarahkan
untuk rekonstruksi.
Tidak termasuk sasaran pemberian bantuan rehabilitasi adalah rumah/ lingkungan dalam
kategori:
Pembangunan kembali (masuk dalam rekonstruksi)
Pemukiman kembali (resettlement dan relokasi)
Transmigrasi ke luar daerah bencana

4. Pemulihan Sosial Psikologis


Pemulihan sosial psikologis adalah pemberian bantuan kepada masyarakat yang terkena
dampak bencana agar dapat berfungsi kembali secara normal. Sedangkan kegiatan
psikososial adalah kegiatan mengaktifkan elemen-elemen masyarakat agar dapat kembali
menjalankan fungsi sosial secara normal. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang
sudah terlatih.
Pemulihan sosial psikologis bertujuan agar masyarakat mampu melakukan tugas sosial
seperti sebelum terjadi bencana, serta tercegah dari mengalami dampak psikologis lebih
lanjut yang mengarah pada gangguan kesehatan mental.

5. Pelayanan Kesehatan
Pemulihan pelayanan kesehatan adalah aktivitas memulihkan kembali segala bentuk
pelayanan kesehatan sehingga minimal tercapai kondisi seperti sebelum terjadi bencana.
Pemulihan sistem pelayanan kesehatan adalah semua usaha yang dilakukan untuk
memulihkan kembali fungsi sistem pelayanan kesehatan yang meliputi : SDM Kesehatan,
sarana/prasarana kesehatan, kepercayaan masyarakat.

6. Rekonsiliasi dan Resolusi Konflik


Kegiatan rekonsiliasi adalah merukunkan atau mendamaikan kembali pihak-pihak yang
terlibat dalam perselisihan, pertengkaran dan konflik. Sedangkan kegiatan resolusi adalah
memposisikan perbedaan pendapat, perselisihan, pertengkaran atau konflik dan
menyelesaikan masalah atas perselisihan, pertengkaran atau konflik tersebut.
Rekonsiliasi dan resolusi ditujukan untuk membantu masyarakat di daerah bencana untuk
menurunkan eskalasi konflik sosial dan ketegangan serta memulihkan kondisi sosial
kehidupan masyarakat.

7. Pemulihan Sosial Ekonomi Budaya


Pemulihan sosial ekonomi budaya adalah upaya untuk memfungsikan kembali kegiatan dan/
atau lembaga sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di daerah bencana.
Kegiatan pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya ditujukan untuk menghidupkan kembali
kegiatan dan lembaga sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di daerah bencana seperti
sebelum terjadi bencana.

8. Pemulihan Keamanan dan Ketertiban


Pemulihan keamanan adalah kegiatan mengembalikan kondisi keamanan dan ketertiban
masyarakat sebagaimana sebelum terjadi bencana dan menghilangkan gangguan keamanan
dan ketertiban di daerah bencana.
Pemulihan keamanan dan ketertiban ditujukan untuk membantu memulihkan kondisi
keamanan dan ketertiban masyarakat di daerah bencana agar kembali seperti kondisi sebelum
terjadi bencana dan terbebas dari rasa tidak aman dan tidak tertib.

9. Pemulihan Fungsi Pemerintahan


Indikator yang harus dicapai pada pemulihan fungsi pemerintahan adalah :
Keaktifan kembali petugas pemerintahan.
Terselamatkan dan terjaganya dokumen-dokumen negara dan pemerintahan.
Konsolidasi dan pengaturan tugas pokok dan fungsi petugas pemerintahan.
Berfungsinya kembali peralatan pendukung tugas-tugas pemerintahan.
Pengaturan kembali tugas-tugas instansi/lembaga yang saling terkait.

10. Pemulihan Fungsi Pelayanan Publik


Pemulihan fungsi pelayanan publik adalah berlangsungnya kembali berbagai pelayanan
publik yang mendukung kegiatan/ kehidupan sosial dan perekonomian wilayah yang terkena
bencana.
Pemulihan fungsi pelayanan publik ini meliputi : pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan,
pelayanan perekonomian, pelayanan perkantoran umum/pemerintah, dan pelayanan
peribadatan.

2.6. Rekontruksi
Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan dan usaha serta langkah-langkah nyata yang
terencana baik, konsisten dan berkelanjutan untuk membangun kembali secara permanen
semua prasarana, sarana dan sistem kelembagaan, baik di tingkat pemerintahan maupun
masyarakat, dengan sasaran utama tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial
dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi
masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana.
Rencana Rekonstruksi adalah dokumen yang akan digunakan sebagai acuan bagi
penyelenggaraan program rekonstruksi pasca-bencana, yang memuat informasi gambaran
umum daerah pasca bencana meliputi antara lain informasi kependudukan, sosial, budaya,
ekonomi, sarana dan prasarana sebelum terjadi bencana, gambaran kejadian dan dampak
bencana beserta semua informasi tentang kerusakan yang diakibatkannya, informasi
mengenai sumber daya, kebijakan dan strategi rekonstruksi, program dan kegiatan, jadwal
implementasi, rencana anggaran, mekanisme/prosedur kelembagaan pelaksanaan.
Pelaksana Rekonstruksi adalah semua unit kerja yang terlibat dalam kegiatan
rekonstruksi, di bawah koordinasi pengelola dan penanggungjawab kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi pasca bencana pada lembaga yang berwenang menyelenggarakan
penanggulangan bencana di tingkat nasional dan daerah.

Lingkup Pelaksanaan Rekontruksi :


1. Program Rekonstruksi Fisik
Rekonstruksi fisik adalah tindakan untuk memulihkan kondisi fisik melalui pembangunan
kembali secara permanen prasarana dan sarana permukiman, pemerintahan dan pelayanan
masyarakat (kesehatan, pendidikan dan lain-lain), prasarana dan sarana ekonomi (jaringan
perhubungan, air bersih, sanitasi dan drainase, irigasi, listrik dan telekomunikasi dan lain-
lain), prasarana dan sarana sosial (ibadah, budaya dan lain-lain.) yang rusak akibat bencana,
agar kembali ke kondisi semula atau bahkan lebih baik dari kondisi sebelum bencana.
Cakupan kegiatan rekonstruksi fisik mencakup, tapi tidak terbatas pada, kegiatan membangun
kembali sarana dan prasarana fisik dengan lebih baik dari hal-hal berikut:
o Prasarana dan sarana
o Sarana sosial masyarakat;
o Penerapan rancang bangun dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana.

2. Program Rekonstruksi Non Fisik


Rekonstruksi non fisik adalah tindakan untuk memperbaiki atau memulihkan kegiatan
pelayanan publik dan kegiatan sosial, ekonomi serta kehidupan masyarakat, antara lain sektor
kesehatan, pendidikan, perekonomian, pelayanan kantor pemerintahan, peribadatan dan
kondisi mental/sosial masyarakat yang terganggu oleh bencana, kembali ke kondisi pelayanan
dan kegiatan semula atau bahkan lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Cakupan kegiatan rekonstruksi non-fisik di antaranya adalah:
Kegiatan pemulihan layanan yang berhubungan dengan kehidupan sosial dan budaya
masyarakat.
Partisipasi dan peran serta lembaga/organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat.
Kegiatan pemulihan kegiatan perekonomian masyarakat.
Fungsi pelayanan publik dan pelayanan utama dalam masyarakat.
Kesehatan mental masyarakat.

Prinsip prinsip pemulihan :


Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 17 Tahun
2010 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca
Bencana, maka prinsip dasar penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana
adalah
1. Merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah dan Pemerintah
2. Membangun menjadi lebih baik (build back better) yang terpadu dengan konsep pengurangan
risiko bencana dalam bentuk pengalokasian dana minimal 10% dari dana rehabilitasi dan
rekonstruksi
3. Mendahulukan kepentingan kelompok rentan seperti lansia, perempuan, anak dan
penyandang cacat
4. Mengoptimalkan sumberdaya daerah
5. Mengarah pada pencapaian kemandirian masyarakat, keberlanjutan program dan kegiatan
serta perwujudan tatakelola pemerintahan yang baik
6. Mengedepankan keadilan dan kesetaraan gender.
Mengacu pada arahan Presiden Republik Indonesia pada Sidang Kabinet Paripurna 25
November 2010, maka pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi agar dilaksanakan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip dasar, sebagai berikut:
1. Dilaksanakan dengan memperhatikan UU nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pasca bencana
2. Dilaksanakan dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dan Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan
Hutan;
3. Dilaksanakan dengan memperhatikan Undang Undang nomor 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang dalam proses perencanaan tata ruang, proses pemanfaatan ruang dan proses
pengendalian pemanfaatan ruang;
4. Dilaksanakan dengan memperhatikan UU 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil dalam perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan
pengendalian sumber daya pesisir dan pulau pulau kecil;
5. Dilaksanakan dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama
untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana.
Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan : perbaikan lingkungan daerah bencana,
perbaikan prasarana dan sarana umum, pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat,
pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi dan resolusi konflik,
pemulihan sosial ekonomi budaya, pemulihan keamanan dan ketertiban, pemulihan fungsi
pemerintahan, dan pemulihan fungsi pelayanan publik.
Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan dan usaha serta langkah-langkah nyata yang
terencana baik, konsisten dan berkelanjutan untuk membangun kembali secara permanen
semua prasarana, sarana dan sistem kelembagaan, baik di tingkat pemerintahan maupun
masyarakat, dengan sasaran utama tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial
dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi
masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana.
Lingkup pelaksanaan rekonstruksi terdiri atas program rekonstruksi fisik dan program
rekonstruksi non fisik.

B. Saran
Setelah membaca makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan bagi
pembaca khususnya tentang pemulihan pasca bencana.

PENDAHULUAN Dewasa ini Indonesia terus-menerus ditimpa bencana. Belum sempat beranjak dari
penderitaan bencana yang satu, sudah terjadi lagi bencana yang lain. Indonesia merupakan wilayah yang rawan
terhadap bencana, baik bencana alam, bencana non alam maupun bencana sosial. Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya bencana adalah kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang rawan,
epidemic, wabah penyakit dan penyebab lain seperti keragaman sosial ekonomi budaya dan etnik yang akan
memicu terjadinya kerawanan sosial. Kejadian bencana di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, baik frekuensi maupun intensitasnya. Baru-baru ini ada kabar terbaru tentang peristiwa terjadinya
tanah longsor di Banjarnegara. Bencana tanah longsor yang memporak-porandakan salah satu kampung di
dusun Jemblung, desa Sampang, kecamatan Karangkobar, Banjarnegara membuat para korban yang masih
hidup mengalami trauma bencana. Salah satu yang banyak merekam memori menyedihkan tersebut adalah
anak-anak korban bencana. Rentetan longsor susulan pun terjadi di sejumlah titik di Banjarnegara. Kondisi tanah
yang labil serta hujan deras membuat tanah kembali retak dan bergerak di kecamatan Karangkobar, Kalibening
dan Punggelan. Longsor terjadi di dusun Gintung, kecamatan Karangkobar, yang dihuni 30 kepala keluarga (KK),
di desa Krakal, Kalangkobar, dihuni 8 KK, di desa Kertosari, kecamatan Kalibening, dihuni 120 KK, dan di dusun
Sripat, kecamatan Punggelen, dihuni 180 KK. Kerugian-kerugian akibat tanah longsor yang ditanggung oleh
masyarakat, tidak hanya menyangkut kerugian materi, rumah , fisik, harta benda, aset-aset, pekerjaan, serta
kehilangan anggota keluarga dan family, melainkan juga kerugian psikologis yang membutuhkan waktu yang
relatif lama untuk proses pemulihannya. Peristiwa tersebut dapat menciptakan trauma tersendiri bagi masyarakat
di sekitar tanah longsor di Banjarnegara, terutama terhadap anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah.
Hal ini diakibatkan oleh tekanan yang muncul dari rasa sakit yang diderita saat kejadian, kehilangan orang tua
dan harta bendanya serta perubahan akan kegiatan sosial anak. Penanggulangan untuk menghilangkan trauma
sangat penting dilakukan terutama bagi anak dan remaja yang mengalami langsung kejadian tersebut. Oleh
karena itu, untuk dapat menghilangkan atau meminimalisir traumatis tersebut diperlukan layanan konseling yang
diberikan oleh pihak ahli yang kompeten. PEMBAHASAN Dari paparan hasil di atas, banyak para korban tanah
longsor yang selamat tentu saja memberikan dampak psikologis dan trauma, terlebih kepada anak-anak dan
remaja yang masih sekolah. Dampak-dampak tersebut menyangkut kapasitas-kapasitas psikologi, konsep diri,
perkembangan dan hubungan seseorang. Jika tidak ditangani, trauma psikologis akan bertambah parah dan
memberikan dampak munculnya gangguan aspek fisik, emosi, mental, perilaku dan spiritual. Simptom yang
muncul pada aspek fisik diantaranya adalah kelelahan, suhu badan meninggi, menggigil, badan lesu, mual-mual,
pening, sesak napas dan panik. Sementara itu pada aspek emosi muncul simptom di antaranya adalah
kehilangan gairah hidup, ketakutan, dikendalikan emosi dan merasa rendah diri. Pada aspek mental terjadi
kebingungan, ketidakmampuan menyelesaikan masalah, tidak dapat berkonsentrasi, tidak mampu mengingat
dengan baik dan lain-lain. Aspek perilaku menujukkan simptom-simptom di antaranya adalah sulit tidur,
kehilangan selera makan, makan berlebihan, banyak merokok, menghindar, menangis, tidak mampu berbicara,
tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak, mudah marah, ingin bunuh diri, menggerakkan anggota tubuh
secara berulang-ulang, rasa malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan orang lain. Pada aspek spiritual,
seseorang akan mengalami gejala-gejala putus asa, hilang harapan, menyalahkan Tuhan, berhenti ibadah, tidak
berdaya, meragukan keyakinan, tidak tulus dan lain-lain. Melihat kondisi yang seperti itu, sangat perlulah untuk
memberikan layanan konseling pada individu-individu yang mengalami trauma-trauma maupun dampak
psikologis agar tidak sampai berlebihan seperti stress, depresi, yang akan dapat menjadikan mereka tidak dapat
melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Layanan konseling sebagai bagian yang integral dalam
pendidikan, mempunyai peranan untuk memfasilitasi perkembangan anak sehingga potensi yang dimiliki anak
dapat berkembang optimal. Terjadinya perilaku-perilaku seperti di atas dapat mempengaruhi potensi yang dimiliki
individu (anak) tidak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, pembimbing di sekolah dapat
membantu individu mencapai perkembangan potensi yang optimal dengan memberikan layanan dengan setting
pendidikan akademik yang menerapkan juga pencapaian perkembangan diri. Bimbingan dan konseling
hakikatnya adalah layanan kemanusiaan yang diwarnai oleh pandangannya tentang manusia. Dalam perspektif
pendidikan, bimbingan dan konseling merupakan proses yang menunjang keseluruhan pelaksanaan pendidikan
dalam mencapai tujuannya, yaitu membantu perkembangan optimal sebagai individu maupun sebagai makhluk
sosial sesuai dengan kemampuan, minat dan nilai-nilai yang dianutnya. Tujuan bimbingan dan konseling
disamping harus mampu merefleksikan kebutuhan individu, juga harus mampu membantu individu
mengembangakan diri secara optimalsesuai dengan latar belakang sosial budaya, dan tuntutan positif
lingkungan, sehingga mampu mengantarkan individu kepada pengembangan pribadi secara utuh dan bermakna,
baik bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Sesuai dengan kompleksitas permasalahan menyangkut trauma
psikologis, maka diperlukan pendekatan yang bersifat komprehensif dan profesional. Konseling merupakan
pemberian pelayanan baik konseling perorangan ataupun kelompok. Spiritual adalah pendampingan dalam
berdoa bersama, pengajian, dan sejenisnya. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pakar atau ahli profesional
yang terkait dibutuhkan dalam pendekatan ini. Konseling traumatik atau konseling krisis merupakan jawaban
atas bentuk kepedulian terhadap individu yang mengalami trauma. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa dalam
upaya penyembuhan tekanan, kecemasan, atau stress yang dialaminya memerlukan sentuhan-sentuhan
psikologis melalui peran tenaga-tenaga profesional yang ahli dalam bidangnya. Misi utama layanan konseling
krisis sebagai salah satu pihak yang berkompeten ialah membantu memulihkan kondisi psikologis dan sosio-
emosional korban longsor agar dapat kembali memiliki kehidupan yang wajar. Layanan konseling krisis
membantu individu korban tanah longsor dalam mengambil keputusan-keputusan secara tepat terhadap problem
psikologis yang dihadapinya dan bertindak atas pilihan-pilihannya, sekaligus dalam rangka menjalankan fungsi
konseling itu dalam dimensi kuratif (penyembuhan), supportif (dorongan), semangat, penyejuk suasana,
penetralisir, reeducatif, maupun preventif (dalam arti agar masalahnya tidak meluas dan mendalam, sehingga
semakin berat dan kompleks. Di Banjarnegara, relawan perempuan setempat melakuan lagkah trauma healing
untuk para korban tersebut. Trauma healing adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membantu orang lain
untuk mengurangi bahkan menghilangkan gangguan psikologis yang sedang dialami yang diakibatkan syok atau
trauma, dalam kasus ini adalah anak-anak korban tanah longsor di Banjarnegara tersebut. Korban bencana
dimana anak-anak mengalami trauma yang sangat mendalam yang tentu saja tidak akan mudah untuk
melupakannya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membuat mereka ceria kembali.
Terhitung sejak Senin (15/12/2014) hingga beberapa pekan kedepan, program trauma healing pasca bencana ini
akan terus digencarkan untuk anak-anak korban bencana. Lokasi trauma healing yang dilakukan inisiatif relawan
setempat adalah di desa Ngaliyan, kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, sekitar 500 meter dari lokasi
bencana. Harapannya dengan program tersebut bisa menghilangkan trauma dan memunculkan semangat untuk
belajar. Program yang akan terus dijalankan adalah berbagai macam permainan, pendidikan dan berbagai
kegiatan yang menyenangkan. Program anak-anak diantaranya adalah game education, dongeng, permainan
tradisional dan modern, serta belajar sambil bermain. Dari pemaparan di atas, perlulah kepekaan dan rasa
tanggung jawab para konselor untuk dapat membantu mereka menghilangkan atau meminimalisir dampak-
dampak psikologis yang mengakibatkan mereka mengalami trauma maupun gangguan-gangguan yang lain agar
perkembangan potensi pada diri individu mereka dapat berkembang secara optimal. KESIMPULAN Trauma,
shock, dan ketakuan yang berlebihan dialami oleh hampir semua korban longsor, terutama pada anak-anak dan
remaja. Penanganan efek psikososial pasca longsor bagi para korban merupakan hal mutlak yang harus
dilaksanakan oleh profesi bimbingan dan konseling. Dengan kondisi tersebut perlu diadakan konseling bagi para
korban. Konseling diberikan oleh konselor-konselor serta pihak-pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang
kejiwaan. Konseling diberikan agar beban kehilangan keluarga, harta benda, dan trauma psikis lainnya dapat
terobati. Perhatian dan empati adalah dasar utama program pemulihan kondisi psikologis bagi para korban yang
selamat. Pengkondisian senyaman mungkin akan sangat membantu mempercepat pemulihan kondisi psikologis
korban, sehingga dapat mengurangi tekanan dan beban psikologis yang dialaminya. SARAN Bencana yang
terus saja mendera bangsa Indonesia, agaknya perlu dijadikan bahan introspeksi bagi bangsa Indonesia.
Masyarakat perlu lebih arif dan bijaksana dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Dengan bencana tersebut,
sepatutnya bangsa perlu terus mawas diri dan selalu mengingat kebesaran-Nya. Allah SWT tidak akan
memberikan cobaan melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Para konselor dan orang-orang terdekat harus
memberikan dukungan, perhatian dan empati kepada para korban terutama mereka yang mengalami dampak-
dampak psikologis seperti trauma, stress, ketakutan yang berlebihan dan gangguan-gangguan psikologis yang
lain. DAFTAR PUSTAKA Corey, G. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika
Aditama Hawari, D. (2011). Pendekatan Psikoreligi pada Trauma Bencana. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta: Ghalia Sunardi. (2006). Gangguan Stress
Pasca Trauma dalam Perspektif Konseling. Bandung: PLB FIP UPI Bandung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/haristaalkhoiriyah/konseling-traumatik-korban-tanah-
longsor_54f38eae745513802b6c7aa1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Jawa Tengah mempunyai 35 kota atau kubupaten. Semarang sendiri


merupakan kota pusat atau ibukota jawatengah. Luas wilayah kota Semarang
yaitu 373,70 km Dimana kota Semarang terbagi menjadi 16 kecamatan dan 177
kelurahan. Dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 adalah sebesar
1.739.989 jiwa.

Kota Semarang merupakan salah satu kota besar yang unik. Dikarenakan kota
ini terbagi dalam dua alam yang kontras dengan jarak yang sangat
berdekatan.kawasan kota bawah berbatasan langsung dengan pantai,
sedangakan kawasan perbukitan jaraknya sangat pendek. Kawasan kota yang
berada dibawah tentu rawan banjir dan rob dikarenakan jaraknya dengan pantai
yang sangat dekat dan padatnya lahan-lahan yang dijadikan bangunan
menjadikan sulit sekali ditemukan tumbuhan atau pohon besar dikota ini, hampir
tidak ada sela antara bangunan yang satu dengan yang satunya. Sementara
daerah perbukitan sangat rawan longsor tujuh kecamatan dari 16 kecamatan
dikota Semarang memiliki titik rawan longsor. Ketujuh kecamatan itu adalah
Gunungpati, Gajahmungkur, Manyaran, Tembalang, Ngaliyan, Mijen, dan Tugu.
Kontur tanah dikecamatan-kecamatan itu sebagian adalah perbukitan dan
daerah patahan dengan struktur tanah yang labil.

Baru-baru ini Trangkil, daerah atas kota Semarang terjadi longsor yang
menjadikan satu Rt kehilanagn tempat tinggalnya. Hal ini dirasa tidak
mengherankan dikarenakan melihat letak goegrafisnya yang berada dilereng-
lereng perbukitan, menjadikan daerah ini rawan longsor. Musim hujan sangat
berpotensi menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan
masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan
lateral.

B. Rumusan Masalah

1. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tanah longsor?

2. Bagaimana proses terjadinya tanah longsor?

3. Apa saja dampak yang timbul dari bancana tersebut?

4. Apa solusi dari bancana tanah longsor?

C. Tujuan

1. Mengetahui penyebab dan proses terjadinya tanah longsor

2. Mengetahui dampak terjadinya bencana tanah longsor

3. Memberikan solusi melalui empat pilar konservasi

BAB II

PEMBAHASAN

Bencana alam terkadang sulit untuk diprediksi kapan akan terjadi.


Sehingga perlu adanya usaha preventif sebelum bencana itu tejadi. Bencana
tanah longsor juga seperti itu tidak dapat diprediksikan. namun bencana ini
dapat terjadi karena alam dan juga karena ulah manusia. Manusia menjadi fakor
dominan yang menyebabkan terjadinya tanah longsor. Sebagai contoh banyak
lahan-lahan miring diperbukitan yang dijadikan atau didirikan bangunan
sehingga terjadi tanah longsor. Baru-baru ini Trangkil, daerah atas kota
Semarang terjadi longsor yang menjadikan satu Rt kehilanagn tempat
tinggalnya. Hal ini dirasa tidak mengherankan dikarenakan melihat letak
goegrafisnya yang berada dilereng-lereng perbukitan, menjadikan daerah ini
rawan longsor. Musim hujan sangat berpotensi menimbulkan longsor, karena
melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar
lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral.

A. Penyebab terjadinya tanah longsor

Tanah longsor atau dalam bahasa inggris disebut Landslide, adalah


perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah
atau material campuran tersebut, bergerak kebawah atau keluar lereng. Pada
prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar
daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan
batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh
besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. Adapun faktor-
faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor tersebut yaitu :

1. Hujan

Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena


meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan
menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar.
Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi
retakan dan merekahnya tanah permukaan.

Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah
dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan
yang tinggi biasanya sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi
jenuh dalam waktu singkat.

Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui
tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng,
sehingga menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya,
tanah longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar
tumbuhan juga akan berfungsi mengikat tanah.

2. Lereng terjal

Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong.


Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan
angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila
ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

3. Tanah yang kurang padat dan tebal

Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat
dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini
memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan.
Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi
lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

4. Batuan yang kurang kuat

Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan
campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan
tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan
umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.

5. Jenis tata lahan

Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan,


perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan
persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat
tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor.
Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar
pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya
terjadi di daerah longsoran lama.

6. Getaran

Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan,


getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya
adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

7. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng
menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran
dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

8. Adanya beban tambahan

Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan


kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di
sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya
penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

9. Pengikisan/erosi

Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu
akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi
terjal.

10. Adanya material timbunan pada tebing

Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya


dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada
lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di
bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian
diikuti dengan retakan tanah.

11. Bekas longsoran lama

Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi


pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat
atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri :

Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda

Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya
gembur dan subur

Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai


Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah

Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada
longsoran lama

Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.

Longsoran lama ini cukup luas.

12. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)

Bidang tidak sinambung ini memiliki cirri :

o Bidang perlapisan batuan

o Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar

o Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat

o Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang
tidak melewatkan air (kedap air).

o Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat

o Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai


bidang luncuran tanah longsor.

13. Penggundulan hutan

Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul


dimana pengikatan air tanah sangat kurang.

14. Daerah pembuangan sampah

Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah


dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah
dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir
Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih
meninggal.
B. Proses Terjadinya Tanah Longsor

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan,


bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah
atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai
berikut. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air
tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang
gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng.

Jenis-Jenis Tanah Longsor


1.

Longsoran Translasi

longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

2.

Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.

3.

Pergerakan Blok

pergerakan Blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir
berbentuk rata. Longsoran ini juga longsoran translasi blok batu.

Runtuhan Batu

runtuhan Batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak
kebawah dengan jatuh bebas.umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga
menggantung, terutama didaerah pantai. Batu-batu yang besar yang jatuh dapat
menyebabkan kerusakan yang parah.
5. Rayapan Tanah

Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya
berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat
dikenali. Setelah waktu yang cukup lama, longsor jenis rayapan ini bisa
menyebab-kan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.

6. Aliran

Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air.
Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air,
dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu
mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter,
seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi. Aliran tanah ini dapat
menelan korban cukup banyak.

Gejala Umum Tanah Longsor

Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.

Biasanya terjadi setelah hujan.

Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.

Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

Trangkil termasuk kedalam formasi kerek yang dilambangkan TM ( Tersier


Marine). Formasi kerek merupakan formasi endapan laut, mengandung fosil laut
seperti, Foraminifera dan juga terdapat kandungan kapur. Jenis tanah trangkil
adalah lempung ( grumusol/fertisol), tanah ini sangat lentur (plastis) dengan
indeks tinggi. Tanah jenis ini terasa licin karena banyak kandungan debu dan
liat. Tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut
lereng cukup tinggi memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama
bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah
karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.
Informasi yang didapat dari warga mengenai tanah longsor yang terjadi di
Trangkil pada tanggal 23 januari 2014 pukul 07.00, dipicu karena terjadi hujan
deras pada tanggal 22 januari. Pergerakan tanah ini mengakibatkan tembok-
tembok retak dan disusul dengan ambruknya tembok rumah. Pergerakan tanah
terjadi pada tiap harinya, karena tanah Trangkil adalah tanah lempung dan
sebelumnya terjadi hujan deras akan memicu pergerakan tanah yang cepat
karena kelembekannya.

C. Dampak bencana tanah longsor

1. Korban jiwa

Kebanyakan bencana alam yang terjadi dinegeri ini memakan korban jiwa.
Begitu juga bencana tanah longsor. bencana tanah longsor memakan korban
karena biasanya terjadi pada saathujan deras. Sudah tentu pada saat hujan
deras orang-orang sedang berkumpul dirumah. Sedangkan itu bencana tanah
longsor datang tiba-tiba.

Masyarakat sulit menyelamatkan diri karena ketika tanah longsor datang mereka
langsung tertimbun tanah ataupun bebatua yang ada disekitar. Cara
mengevakuasi korbanpun tidak semudah yang kita bayangkan.para relawanpun
akan sangat berhati-hati mengevakuasi para korban.

Selain mereka kesulitan mengevakuasi, mereka juga harus waspada jika ada
susulan tanah longsor. bahkan ada yang sampai beberapa hari korban korban
tanah longsorbaru ditemukan. Namun terkadang ada pula korban tanah longsor
yang tidak ditemukan jasadnya Karen proses evakuasi yang begitu sulit. Denga
demikian bencana tanah longsor yang terjadi memakan korban jiwa.

2. Rusaknya infrastuktur

Tanah longsor juga mengakibatkan rusaknya infrstuktur yaitu pemukiman


penduduk. Pemukiman penduduk pastinya akan mengalami rusak yang
parah.bahkan tanah longsor juga mengakibatkan rusaknya jalan dan jembatan
yang menuju arah terjadinya tanah longsor. hal ini juga menjadi kendala pada
saat evakuasi korban.

Selain itu dampak dari tanah longsor yaitu rusaknya sarana kesehatan,
pendidikan dan tempat peribadatan. Jika dihitung materinya maka bencaa ini
selain memakan korban jiwa juga merugikan dalam hal materi terutama bagi
masyarakat sekirat tanah longsor.

3. Rusaknya sumber mata pencaharian warga

Yang dimaksud rusaknya sumber mata pencaharian warga yaitu kebanyakan


warga yang berada dilereng gunung mereka bekerja dibidang pertaian,
peternakan, pehutanan dan perkebunan. Dengan adanya bencana tanah longsor
itu, sudah tentu lahan yang mereka gunakan untuk becocok tanam, baternak,
berkebun rusak karena bancana tanah longsor ini.

Warga sekitar menjadi kehilangan mata pencaharianna sehari-hari. Selain lahan


mereka rusak merekapun tidak bisa menikmati hasil panennya. Bahkan bagi
peternak merekapun harus rela kehilangan hewan ternaknya.

4. Buruknya sanitasi lingkungan

Akibat tanah longsor menjadikan sanitasi lingkungan buruk. Terutama pada saat
bencana tanah longsor saluran air bersih menjadi terputus. Padahal air adalah
hal yang sangat mendukung kehidupan manusia atau sangat penting sekali.

D. Solusi terhadap bencana tanah longsor

Solusi terhadap bencana longsor melalui empat pilar utama :

1. Departemen pendidikan nasional

Departemen pendidikan nasional sudah semestinya tanggap dalam berbagai


masalah yang terjadi dimasyarakat, begitu pula dengan berbagai bencana yang
terjadi. Akhir-akhir ini banyak terjadi bencana tanah longsor yang disebabkan
berbagai hal, seperti hujan, penggundulan lahan, dan lain sebagainya. Adapun
hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam hal ini Departemen pendidikan yaitu
:

a) pendidikan sekolah anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah


seharusnya sudah diberikan pengajaran mengenai pendidikan lingkungan hidup,
dengan cara penanaman sikap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,
merawat atau memelihara lingkungan, tidak menyebabkan kerusakan pada
lingkungan mengimplementasikan konservasi dalam bidang akademik, salah
satunya dengan cara menanamkan nilai-nilai spiritual, social, pengetahuan dan
keterampilan, serta disisipkan melalui perangkat pembelajarannya. Disamping
itu diberikan juga pengetahuan mengenai isu permasalahan lingkungan yang
selanjutnya dapat menggerakkan peserta didik untuk berperan aktif dalam
upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi
sekarang dan yang akan datang.

2. Instansi Pemerintah

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Peran Badan Penanggulangan Bencana dalam menanggulangi bencana


diantaranya :

Pertama adalah menghilangkan atau secara signifikan mengurangi


kemungkinan terjadinya bencana. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan,

Kedua adalah mengurangi besarnya dampak dan keganasan bencana dengan


mengubah karakteristik ancaman, meramalkan atau mendeteksi potensi
bencana (sistem peringatan dini), atau mengurangi kerentanan dengan
memperbaiki unsur-unsur struktural dan non-struktural masyarakat. Bila
bencana tidak dapat terhindarkan lagi,

Ketiga adalah mempersiapkan pemerintah dan masyarakat untuk menghindari


atau merespon bencana dengan tepat dan efektif sehingga kerugian dapat
dikurangi. Strategi terakhir ini mencakup upaya meningkatkan kapasitas
masyarakat untuk dengan secepatnya memulihkan diri setelah terjadi bencana
danmenguatkan diri untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di
masa depan. Jadi strategi penanggulangan bencana tidak terbatas pada
tanggap darurat dan pemulihan pasca bencana saja, tetapi juga meliputi upaya
membangun ketangguhan masyarakat untuk menghadapi ancaman
bahaya bencana.

Balai Bumi Pekemahan

Balai Bumi Perkemahan menyediakan bibit-bibit yang dapat digunakan


masyarakat untuk menanam pada daerah yang berpotensi longsor, misalnya di
lereng dekat pemukiman atau rumah warga. Lembaga Swadaya Masyarakat

Masyarakat bekerja sama dalam memelihara lingkungan, misalnya bersama-


sama menanam tanaman pada tanah yang berpotensi longsor dengan pohon
yang akar-akarnya kuat sehingga tetap menjaga kestabilan tanah, selain itu
dapat juga dibentuk terassering dan ditanami tanaman-tanaman yang dapat
dikonsumsi warga atau dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alamnya.

Lembaga hokum

Membentuk peraturan mengenai kewajiban menjaga lingkungan serta


dibentuknya peraturan yang memuat hukuman bagi masyarakat yang merusak
lingkungan baik itu menebang pohon secara liar, membuang sampah
sembarangan, mengalih fungsikan lahan, dan kegiatan lainnya yang berpotensi
pada kerusakan lingkungan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan,


bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah
atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor adalah air yang meresap ke
dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai
tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin
dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar
lereng. Gejala-gejalanya yaituMunculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar
dengan arah tebing,Biasanya terjadi setelah hujan,Munculnya mata air baru
secara tiba-tiba,Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

B. Saran
Ada beberapa tindakan perlindungan dan perbaikan yang bisa ditambah untuk
tempat-tempat hunian, antara lain :

Perbaikan drainase tanah (menambah materi-materi yang bisa menyerap).

Modifikasi lereng (pengurangan sudut lereng sebelum pembangunan)

Vegetasi kembali lereng-lereng.

Beton-beton yang menahan tembok mungkin bisa menstabilkan lokasi hunian.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.ksdasulsel.org/artikel/karhut/248-faktor-penyebab-tanah-longsor

http://www.ibnurusydy.com/geo-bencana/longsor/

http://www.anneahira.com/dampak-tanah-longsor.htm

SOSIALISASI MITIGASI BENCANA ALAM


Program :Informasi tentang mitigasi bencana alam
Sasaran : Pelajar dan Masyarakat
Tujuan : Sosialisasi tanda dan mitigasi bencana alam

Upaya Mitigasi Bencana Longsor

A. Sebelum terjadi :
Jangan Menebang Pohon Dilereng
Tidak mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal
Memastikan bahwa struktur dan letak rumah terhindar dari bahaya
yang disebabkan longsor.
Mengetahui tempat-tempat yang rawan terjadi longsor
Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas
di dekat pemukiman
Belajar melakukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.
Belajar menggunakan Pemadam Kebakaran
Mencatat Nomor Telpon Penting

-- Perlu disiapkan alat-alat penting seperti : --


1)Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
2)Senter/ lampu Batter
3)Radio/Handphone (Alat Komunikasi)

B. Saat Terjadi

Keluar dari dalam rumah, jangan tergesa-gesa dan tetap tenang


Matikan listrik,air dan benda yang mudah terbakar
Ingat anggota keluarga,jangan ada yang tertinggal
Segera mengungsi ke daerah yang aman bila terancam tanah longsor

C. Sesudah Terjadi

Penguatan rumah/bangunan di daerah yang habis terkena longsor


Perbaikan drainase tanah (menambah materi materi yang bisa menyerap)
atau reboisasi
Jika kamu selamat, lihatlah lingkungan sekitar. Jika belum ada bantuan
segaralah hubungi pemerintah setempat, PMI cabang terdekat, atau polisi yang
dapat memberikan pertolongan.
Tetap bertahan di daerah yang aman, jangan kembali ke rumah jika
kondisi belum ditetapkan aman.
Membuat tembok beton di sekitar rumah,untuk menstabilikan hunian
Jika belum ada buat lah terasering di daerah yang rawan longsor

Tindakan Mitigasi Bencana Alam


"Tanah Longsor"
09:25 tanah longsor
Disini,kami akan membahas bagamaina upaya/tindakan
mitigasi saat terjadi tanah longsor.kita harus tangggap
bagaimana sih tindakan kita disaat terjadi,sebelum terjadi,dan
sesudah terjadi.dengan taunya tindakan ini pemerintah dapat
meminimalkan korban jiwa dan kerugian-kerugian yang
disebabkan tanah longsor.So mari kita lihat tulisan dibawah ini
ya.Semoga Bermanfaat guys :)

Mitigasi Tanah Longsor memiliki beberapa tahapan.berikut tahapan mitigasi


bencana tanah longsor :

1. Pemetaan
Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di
suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah
kabupaten /kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan
wilayah agar terhindar dari bencana.

2. Pemeriksaan
Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat
diketahui penyebab dan cara penaggulangannya.

3.Pemantauan
Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara
ekonomi danjasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan
masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.

4.Sosialisasi
Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau
masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang
ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain,
mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapatjuga secara langsung kepada
masyarakat dan aparat pemerintah.

5.Pemeriksaan bencana longsor


Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana dan tata
cara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda bencana tanah
longsor.

Lalu setelah kita tau tahapan mitigasi kita juga harus tau bagaimana
melakukan tindakan ketika sebelum,saat,dan sesudah terjadi tanah
longsor.berikut tindakan tindakannya :

1.Tindakan sebelum terjadi tanah longsor:


1. a)Waspada terhadap curah hujan yang tinggi

b) Persiapkan dukungan logistik

Makanan siap saji dan minuman


Lampu senter dan baterai cadangan
Uang tunai secukupnya
Obat-obatan khusus sesuai pemakai
c) Simak informasi dari radio mengenai informasi hujan dan
kemungkinan tanah longsor
d) Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera
lakukan hal tsb

2.Tindakan saat terjadi tanah longsor


a) Apabila Anda di dalam rumah dan terdengar suara
gemuruh, segera keluar cari tempat lapang dan tanpa
penghalang

b) Apabila Anda di luar, cari tempat yang lapang dan perhatikan sisi tebih
atau tanah yang mengalami longsor.

3. Tindakan sesudah terjadi tanah longsor

a) Jangan segera kembali kerumah Anda, perhatikan apakah longsor susulan


masih akan terjadi.

b) Apabila Anda diminta untuk membantu proses evakuasi, gunakan


sepatu khusus dan peralatan yang menjamin keselamatan Anda

.
c) Perhatikan kondisi tanah sebagai pijakan yang kokoh bagi langkah
Anda.

d) Apabila harus menghadapi reruntuhan bangunan untuk


menyelamatkan korban, pastikan tidak menimbulkan dampak
yang lebih buruk.

Setelah mengetahui bagaimana tindakan mitigasinya,kita


juga harus tau bagaimana pencegahannya bencana tanah
longsor.berikut Pencegahan Bencana Tanah Longsor :

1. Jangan mencetak sawah dan membuat kolam pada lereng bagian atas di
dekat pemukiman.Buatlah terasering (sengkedan) ada lereng yang
terjal bila membangun permukiman.

2.Segera menutup retakan tanah dan dipadatkan agar air tidak masuk
kedalam tanah melalui retakan. Jangan melakukan penggalian di bawah
lereng terjal.

3.Jangan menebang pohon di lereng. Jangan membangun rumah di bawah


tebing.

4.Jangan mendirikan permukiman di tepi lereng yang terjal. Pembangunan


rumah yang benar di lereng bukit.

5.Jangan mendirikan bangunan di bawah tebing yang terjal. Pembangunan


rumah yang salah di lereng bukit.

6.Jangan memotong tebing jalan menjadi tegak. Jangan mendirikan rumah


di tepi sungai yang rawan erosi.