Anda di halaman 1dari 59

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker payudara lebih banyak ditemukan di negara berkembang

dibanding dengan di negara maju dengan jumlah kasus 883.000 di negara

berkembang dan 794.000 di negara maju. Di negara berkembang kanker

payudara merupakan penyebab kematian pada wanita sebanyak 324.000

kematian dan penyebab kematian kedua di negara maju dengan jumlah

kematian 198.000, pada tahun 2015 didapatkan 17,5 juta penderita

kangker dengan angka kematian sebesar 8,7 juta jiwa (WHO, 2015).
Hasil penelitian American Cancer Society menunjukan, sekitar 1,3

juta wanita terdiagnosis menderita kanker payudara, dan setiap tahunnya

465.000 wanita meninggal karena payudara (Rasjidi, 2009). Insiden

kanker payudara yang sebelumnya banyak menyerang perempuan paruh

baya, kini mulai menjangkiti anak muda. Kejadian kanker payudara

sebanyak 1.677.00 kasus.


International Agency for Research on Cancer (IARC) diketahui

pada tahun 2012, terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan 8.201.575

kematian akibat kanker di seluruh dunia. Kanker payudara menduduki

posisi yang tertinggi yaitu sebesar 43,3% kasus baru dan 12,9% kasus

kematian. Dengan kata lain insiden kanker payudara sebesar 40 per

100.000 perempuan di dunia. Laporan dari Western Breast Services

Alliance, fibroadema umumnya terjadi pada wanita dengan umur antara 15

dan 25 tahun. Fakta lain menunjukkan bahwa sekitar 85% kaum wanita

1 sendiri melalui perabaan.


menemukan benjolan di payudaranya
2

Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2007

diketahui bahwa kanker payudara menempati urutan pertama pasien rawat

inap 16,85% dan pasien rawat jalan 21,69% (Kemenkes, 2010).

berdasarkan hasil penelitian Summarny (2002) menunjukan prevalensi

kasus tumor di Indonesia sebanyak 5,03 %. Provinsi tertinggi yaitu

Yogyakarta 9,66% dan Jawa Tenggah 8,06%. Penderita kanker stadium

awal akan mempunyai peluang hidup sejumlah 100%, pada penderita

kanker stadium dua memiliki peluang hidup sejumlah 70-80%, pada

penderita kanker stadium tiga mempunyai peluang hidup lebih kecil yaitu

hanya sebesar 40-20%, sehingga, semakin cepat ditangani, maka peluang

untuk hidup dan sembuh juga semakin besar.


Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk mendeteksi kanker

payudara adalah cara termudah dan termurah mengetahui adanya benjolan

yang kemungkinan besar berkembang menjadi kanker ganas. SADARI

atau periksa payudara sendiri dengan rutin merabanya merupakan langkah

penting untuk deteksi dini kanker payudara. Kebiasaan karena mudah,

murah, cepat, dan efektif untuk semankin mengenal dan menyadari jika

terdapat suatu hal yang tidak normal pada payudara (Summarny, 2002).
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Septiani (2012) dengan

melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) akan menurunkan

tingkat kematian akibat kanker payudara sampai 20%, namun wanita yang

melakukan SADARI masih rendah (25%-30%). Hasil penelitian diperoleh

data 84,3% tidak melakukan SADARI, 51% berusia lebih dari 15 tahun,

sebanyak 98% berpengetahuan baik tentang SADARI, 52% responden


3

bersikap positif, responden yang terpapar informasi dari media massa dan

elektronik 19%, sedangkan untuk dukungan orang tua terhadap responden

lebih dari setengahnya dikategorikan buruk (tidak mendukung) yakni

sebanyak 62% dan selebihnya sebanyak 38% terkategorikan baik.


Data Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu (2015) didapatkan bahwa

pemeriksaan payudara pada perempuan usia 30-50 tahun yaitu Kabupaten

Seluma sebanyak 216 perempuan (0.91%) Rejang Lebong 433

perempuan (1 %), Muko-muko 498 perempuan (2%), Lebong 218 (2%)

Bengkulu Tengah 409 perempuan (3%) dan kota Bengkulu 326 (1%),

berdasarkan data didapatkan bahwa pemeriksaan terendah didapatkan di

Seluma.
Kabupaten Seluma sekolah yang memiliki jumlah siswa terbanyak

terdapat di sekolah SMA N 3 seluma dengan jumlah siswa sebanyak 494

orang, dan berdasarkan hasil survey awal didapatkan 1 orang siswi yang

mengalami benjolan pada payudara, sekolah tersebut merupakan sekolah

favorit di Kabupaten Seluma, namun saat dilakukan survey awal tentang

keterpaparan siswa tentang SADARI hampir 80 % atau 395 siswa

menyatakan tidak tahu, dan 20 % atau 99 siswa lagi mengatakan tahu,

namun hanya mendapat informasi dari beberapa media seperti televisi,

handphone, hal ini menjadi suatu keprihatinan karena SMA N 3 Seluma

merupakan SMA favorit namun berada di pinggiran kota yang

menyebabkan SMA ini kurang terapar terhadap usaha dalam

meningkatkan status kesehatan.


Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma menunjukkan

bahwa dari 216 perempuan yang melakukan pemeriksaan leher rahim


4

jumlah terbanyak terdapat di air periukan dengan jumlah 70 atau 32%

dengan rincian yang mengalami benjolan di payudara positif sebanyak 5

orang atau 0.7% dan tumor jinak sebayak 27 orang atau 38, 5%.
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Meryanna R.

Simanjuntak (2009) berjudul Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap

Pengetahuan tentang Periksa Payudara Sendiri dengan subjek penelitian

mahasiswi Psikologi dengan jumlah sampel 54mahasiswi dapat ditarik

kesimpulan yaitu sebagai berikut : Pengetahuan tentang Periksa Payudara

Sendiri pada mahasiswi Psikologi FK UNS sebelum diberi pendidikan

kesehatan memiliki rata-rata nilai (mean) 13,63 dan jumlah subjek yang

dikategorikan baik sebanyak 28 mahasiswi (52%). Pengetahuan tentang

Periksa Payudara Sendiri pada mahasiswi Psikologi FK UNS setelah

diberi pendidikan kesehatan memiliki rata-rata nilai (mean) 17,72 dengan

jumlah subjek yang dikategorikan baik sebanyak 30 mahasiswi (55%).


Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dwi Sri Handayani

(2008) menunjukkan tingkat pengetahuan terbanyak pengetahuan cukup.

Sikap terbanyak dari responden adalah sikap mendukung. Perilaku dari

responden terbanyak perilaku benar. Ada hubungan antara Tingkat

pengetahuan dengan perilaku responden dalam melakukan pemeriksaan

payudara sendiri dan ada hubungan antara Sikap dengan perilaku

responden dalam melakukan pemeriksaan payudara sendiri.


Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh I Dewa Ayu Rai

Suastina (2013) menunjukkan pengetahuan mahasiswi tentang adanya

pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan siswi

tentang SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara di SMA Negeri 1


5

Manado dengan teridentifikasinya pendidikan kesehatan dan tingkat

pengetahuan serta dengan teranalisisnya pengaruh antara pendidikan

kesehatan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa sebagian

siswa yang dikategorikan baik sebanyak 79 orang (81,4%), sedangkan

yang dikategorikan kurang ada 6 orang (6,2%).


Penelitian Ahmed (2009) dalam penelitian Kesadaran dan praktek

kanker payudara dan pemeriksaan payudara-sendiri di kalangan

mahasiswa di Yaman menunjukkan bahwa mayoritas peserta memiliki

tingkat pengetahuan rendah 58,6%, hanya 1,4% memperoleh tingkat

pengetahuan tinggi, 95,3% dari peserta percaya bahwa kangker payudara

adalah penyakit serius, didapatkan bahwa 76,9% dari peserta mendengar

tentang SADARI, hanya 17,4% dari mereka melakukan SADARI. 55,9%

menyebutkan kurangnya pengetahuan tentang teknik SADARI.

Upaya deteksi dini kanker payudara adalah upaya yang dilakukan

untuk mengenali adanya kanker payudara saat masih berukuran kecil dan

sebelum sel kanker payudara tersebut menyebar, SADARI adalah suatu

upaya untuk mengetahui adanya adanya kemungkinan terkena kanker

payudara.

Pemeriksaan SADARI pada remaja putri merupakan suatu upaya

dalam mendeteksi lebih awal adanya kejadian kanker payudara, namun

tidak semua remaja putri melakukan SADARI dikarenakan banyak faktor

antaralain pengetahuan yang kurang, sikap yang tidak mendukung bahkan

media pun mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan SADARI

(Septiani, 2012)
6

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2003) menemukan tentang

teori perilaku dimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu

faktor predisposisi atau faktor pencetus yang meliputi pengetahuan, sikap,

kepercayaan, faktor reinforcing atau faktor pendorong yang meliputi sikap

dan perilaku tenaga kesehatan, factor yang terahir faktor enabling atau

factor pendukung yang meliputi sarana dan lokasi kesehatan

Intervensi yang baik berupa pelatihan dan pemberian informasi

pendidikan kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan

dan sikap tentang SADARI (Retnowati, 2007). Menurut Notoatmodjo

(2003), perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap

positif, maka perilaku akan bersifat langgeng, sebaliknya apabila perilaku

tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan

berlangsung lama. Makin tinggi pendidikan, makin mudah seseorang

menerima pengetahuan (Irmayanti, 2007).

Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan

dari proses interaksi dengan lingkungan. Perubahan bisa terjadi setiap saat,

dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Di dalam

proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh

beberapa faktor yang berasal dari dalam diri itu sendiri. Faktor-faktor

tersebut antara lain: susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, dan

belajar.

Dari fenomena di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

yang berjudul perbedaan pengetahuan dan sikap dalam pemeriksaan


7

payudara sendiri (SADARI) pada siswi SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma

tahun 2017.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka masalah

penelitian ini adalah tingginya angka kejadian kangker payudara sehingga

peneliti ingin mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap dalam

pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada sisiwi SMAN 3 Kabupaten

Seluma Tahun 2017


C. Tujuan penelitian

a. Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap dalam

pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) pada Siswi SMAN 3

Kabupaten Seluma Tahun 2017.

b. Tujuan Khusus

1) Diketahui distribusi frekuensi pengetahuan dan sikap tentang

SADARI pada Siswi SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma tahun

2016.

2) Diketahui nilai pengetahuan dan sikap sebelum dilakukan

penyuluhan SADARI pada Siswi SMAN 3 Kabupaten Seluma

Tahun 2017

3) Diketahui pengetahuan dan sikap setelah dilakukan penyuluhan

tentang SADARI pada Siswi SMAN 3 Kabupaten Seluma Tahun

2017.
8

B. Manfaat Penelitian

a. Bagi Praktisi Kesehatan

Bagi pelayanan kesehatan, hasil penelitian dapat dimanfaatkan

sebagai masukan dalam menyusun program promosi kesehatan dengan

mengarahkan masyarakat khususnya wanita untuk lebih memahami

mengenai deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI).

b. Bagi Akademik

Sebagai tambahan kepustakaan dan sebagai referensi yang nantinya

akan berguna bagi mahasiswa dan institusi.

c. Bagi Peneliti Lain

Diharapkan hasil penelitian ini merupakan salah satu sarana dalam

mengembangkan dan menyempurnakan penelitian yang akan datang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemeriksaan SADARI
a. Pengertian Sadari
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah pengembangan

kepedulian seorang wanita terhadap kondisi payudaranya sendiri.

Tindakan ini dilengkapi dengan langkah-langkah khusus untuk

mendeteksi secara awal penyakit kanker payudara. Kegiatan ini

sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua wanita tanpa perlu

merasa malu kepada pemeriksa, tidak membutuhkan biaya, dan bagi

wanita yang sibuk hanya perlu menyediakan waktuna selama kurang


9

lebih lima menit. Tidak diperlukan waktu khusus, cukup dilakukan

saat mandi atau pada saat sedang berbaring. SADARI sebaiknya

mulai dilakukan saat seorang wanita telah mengalami menstruasi.

Tingkat sensitivitasnya (kemampuannya untuk mendeteksi kanker

payudara) dalah sekitar 20-30% (Nisman, 2011).

Menurut Depkes RI (2009) pengertian SADARI adalah

pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri dengan belajar melihat

dan memeriksa payudaranya sendiri setiap bulan. Dengan melakukan

pemeriksaan secara teratur akan diketahui adanya benjolan atau

masalah lain sejak dini walaupun masih berukuran kecil sehingga

lebih efektif untuk diobati.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) Untuk mendeteksi

kanker payudara adalah cara termudah dan termurah mengetahui

adanya benjolan yang kemungkinan


9 besar berkembang menjadi

kanker ganas. SADARI atau periksa payudara sendiri dengan rutin

merabanya merupakan langkah penting untuk deteksi dini kanker

payudara. Kebiasaan karena mudah, murah, cepat, dan efektif untuk

semangkin mengenal dan menyadari jika terdapat suatu hal yang

tidak normal pada payudara.

Kemungkinan timbulnya benjolan pada payudara sebenarnya

dapat diketahui secara cepat dengan pemeriksaan sendiri. Istilah ini

disebut dengan SADARI, yaitu pemeriksaan payudara sendiri.


10

Sebaiknya pemeriksaan sendiri ini dilakukan secara berkala, yaitu

satu bulan sekali. Ini dimaksudkan agar yang bersangkutan dapat

mengantisipasi secara cepat jika ditemukan benjolan pada payudara

(Mardiana, 2009).

Menemukan gejala awal kanker payudara dapat di deteksi

sendiri oleh kaum wanita, jadi tidak perlu seorang ahli untuk

menemukan awal kanker payudara. Secara rutin wanita dapat

melakukan metode SADARI dengan cara memijat dan meraba

seputar payudara untuk mengetahui ada atau tidaknya benjolan di

sekitar payudara sendiri (Setiati, 2009)

Sebaiknya jangan tunggu ada benjolan di payudara karena jika

hal itu sudah terjadi, maka kemungkinan menderita kanker payudara

stadium 1 lebih besar. Pemeriksaan melalui ultrasonografi dan

mamografi harus dilakukan secara berkala. Untuk wanita yang

berusia 50 tahun ke atas, disarankan setiap tahun. Sementara yang

berumur di bawah itu, bisa tiga tahun sekali. Meski begitu, jika ada

benjolan, yang terdeteksi kanker payudara dari lima wanita yang

merasa ada benjolan paling hanya satu (Olfah dkk, 2013).

b. Tujuan SADARI

Tujuan SADARI adalah untuk mendeteksi terjadinya kanker

payudara dengan mengamati payudara dari depan, sisi kiri dan sisi

kanan, apakah ada benjolan, perubahan warna kulit, puting bersisik

dan pengeluaran cairan atau nanah dan darah, kanker payudara


11

merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia,

sekaligus penyebab kematian terbesar (Olfah dkk, 2013).

Tujuan utama deteksi dini kanker payudara adalah untuk

menemukan kanker dalam stadium dini sehingga pengobatannya

menjadi lebih baik. Ternyata 75-85% keganasan kanker payudara

ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan payudara sendiri.

Deteksi dini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan

payudara sendiri atau yang dikenal dengan SADARI. Ini adalah

pemeriksaan yang mudah dilakukan oleh setiap wanita untuk

mencari benjolan atau kelainan lainnya. Dengan posisi tegak

menghadap kaca dan berbaring, dilakukan pengamatan dan

perabaaan payudara secara sistematis. Pemeriksaan SADARI di

lakukan secara rutin setelah haid, sekitar 1 minggu setelah haid dan

bila sudah menopause (Purwoastuti, 2008).

c. Manfaat SADARI

Manfaat pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah

untuk mendeteksi sedini mungkin adanya kelainan pada payudara

karena payudara pada hakikatnya dapat diketahui secara dini oleh

para wanita usia subur. Setiap wanita mempunyai bentuk dan

ukuran payudara yang berbeda, bila wanita memeriksa payudara

sendiri secara teratur, setiap bulan setelah haid, wanita dapat

merasakan bagaimana payudara wanita yang normal. Bila ada


12

perubahan tentu wanita dapat mengetahuinya dengan mudah

(Manuaba, 2010).

d. Cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

Pemeriksaan payudara sendiri hendaknya dilakukan setiap

bulan jika wanita itu sudah berumur 20 tahun. Bila ada hal-hal yang

luar biasa dan mencurigakan hendaknya memeriksakan ke dokter.

Menurut Olfah et al. (2013) pemeriksaan payudara sendiri

(SADARI) di lakukan dalam 2 cara, yaitu:

a) Melihat perubahan di hadapan cermin

Lihat pada hadapan cermin, bentuk dan keseimbangan

bentuk payudara (simetris atau tidak) adapun tata cara

pelaksanaannya adalah:

1. Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara,

perubahan putting susu, serta payudara di depan kaca.

Sambil berdiri tegak depan cermin, posisi kedua lengan

lurus ke bawah disamping badan.

2. Pemeriksaan payudara dengan tangan diangkat di atas

kepala. Dengan maksud untuk melihat retraksi kulit atau

perletakan tumor terhadap otot atau fascia dibawahnya.

3. Berdiri tegak di hadapan cermin dengan tangan disamping

kanan dan kiri. Miringkan dada ke kanan dan kiri untuk

melihat perubahan pada payudara.


13

4. Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak

pinggung atau menekan pinggul dimaksudkan untuk

menegangkan otot di daerah axilla.

b) Melihat perubahan bentuk payudara dengan berbaring

1. Persiapan

Dimulai dari payudara kanan. Baring menghadap kekiri

dengan membengkokkan kedua lutut. Letakkan bantal atau

handuk mandi yang telah dilipat di bawah bahu sebelah

kanan untuk menaikkan bagian yang akan diperiksa.

Kemudian letakkan tangan kanan di bawah kepala. Gunakan

tangan kiri untuk memeriksa payudara kanan. Gunakan

telapak jari-jari untuk memeriksa sembarangan benjolan atau

penebalan. Periksa payudara dengan menggunakan vertical

strip dan circular.

c.) Pemeriksaan payudara dengan Vertical Strip

Di bagian atas ke bra-line di bagian bawah, dan garis

tengah antara kedua payudara ke garis tengah bagian ketiak.

Gunakan tangan kiri untuk mengawali pijatan pada ketiak.

Kemudian putar dan tekan kuat untuk merasakan benjolan.

Kebawah bra line dengan putaran ringan dan tekan kuat di

setiap tempat. Di bagian bawah bra line, bergerak kurang

lebih 2 cm kekiri dan terus kearah atas menuju tulang

selangkang dengan memutar dan menekan. Bergeraklah ke


14

atas dan ke bawah mengikuti pijatan dan meliputi seluruh

bagian yang ditunjuk.

d) Pemeriksaan payudara dengan cara memutar

Berawal dari bagian atas payudara, buat putaran yang

besar. Bergeraklah sekeliling payudara dengan

memperhatikan benjolan yang luar biasa. Buatlah sekurang-

kurangnya tiga putaran kecil sampai ke putting payudara.

Lakukan sebanyak 2 kali, sekali dengan tekanan ringan dan

sekali dengan tekanan kuat. Jangan lupa periksa bagian

bawah areola mammae.

e) Pemeriksaan cairan di putting payudara

Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara untuk

melihat adanya cairan abnormal dari puting payudara.

f) Memeriksa ketiak

Letakkan tangan kanan ke samping dan rasakan ketiak

dengan teliti, apakah teraba benjolan abnormal atau tidak.

e. Waktu Dilakukan SADARI

Pemeriksaan payudara sendiri sebaiknya dilakukan sebulan

sekali. Para wanita yang sedang haid sebaiknya melakukan

pemeriksaan pada hari ke-5 sampai ke-7 setelah masa haid

bermula, ketika payudara mereka sedang mengendur dan terasa

lebih lunak. Para wanita yang telah berusia 20 tahun di anjurkan

untuk mulai melakukan SADARI bulanan, dan harus melakukan


15

pemeriksaan mamografi setahun sekali bila mereka telah memasuki

usia 40 tahun. Wanita sebaiknya melakukan SADARI sekali dalam

satu bulan. Jika wanita menjadi familiar terhadap payudaranya

dengan melakukan SADARI secara rutin maka dia akan lebih

mudah mendeteksi keabnormalan pada payudaranya. Selain

SADARI, deteksi dini untuk yang berusia diatas 39 tahun adalah

lakukan mammogram secara rutin. (Pamungkas, 2011)

Pemeriksaan payudara sendiri bisa dilakukan setiap saat

yang penting adalah kesadaran untuk memeriksa bagian-bagian

payudara yang mungkin dijumpai suatu benjolan yang tidak lazim

(Trihartono, 2009). Pemeriksaan payudara sendiri tidak lebih dari

2-3 menit (Rasjidi, 2010).

B. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan

dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden

(Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6

tingkatan (Notoatmodjo, 2007) yaitu :


16

1). Tahu (Know)

Merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Tahu diartikan

sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang

termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali

(recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2).Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3).Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi yang sebenarnya.

4). Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu obyek kedalam komponen komponen tetapi

masih didalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu

sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan

kata kerja.

5). Sintesis (Syntesis)


17

Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungan bagianbagian didalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru, atau dengan kata lain suatu kemampuan

untuk menyusun formulasi baru dari formulasi formulasi yang

ada.

6). Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek yang

didasarkan pada suatu kriteria.

b. Hal-hal Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan

sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai

suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat

mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman -pemahaman baru.

1). Usia

Umur memengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih

berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih

banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri

menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak
18

menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual,

pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak

ada penurunan pada usia ini.

2). Status pernikahan

Pernikahan dikenali sebagai hubungan antara pria dan wanita yang

memberikan hubungan seksual, keturunan, membagi peran antara suami

istri. Pernikahan sebagai iktan yang bersifat kontrol sosial antara pria

dan wanita yang didalamnya diatur mengenai hak dan kewajiban,

kebersamaan emosional, juga aktivitas seksual, ekonomi dengan tujuan

membentuk keluarga serta mendapatkan kebahagiaan ketuhanan Yang

Maha Esa. Status pernikahan mahasiswi yang diukur dari nikah atau

belum menikah melihat pengetahuan SADARI pemahaman dari

Mahasiswi dengan cara pengalaman yang menikah lebih luas dapat

pengetahuan daripada mahasiswi yang belum menikah. Pengalaman

dapat diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

Semakin banyak pengalaman, semakin banyak pengetahuan seseorang.

3). Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga

terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.

4). Informasi

Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak

akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas.

5). Budaya
19

Tingkah laku manusia atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan

hidup yang meliputi sikap dan kepercayaan. biasanaya berdasarkan

garis keturunan yang dianggap sama identitas suku ditandai oleh

pengakuan dari orang lain akan citi khas kelompok tersebut seperti

kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologi.

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui

penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian

seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan.

Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu

fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial

ekonomi iniakan memengaruhi pengetahuan seseorang.

6). Pengalaman

Sesuatu yang pernah dialami seseorang menambah pengetahuan

yang bersifat informal.

7). Sosial Ekonomi

Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup

akan dapat menambah tingkat pengetahuan.

Menurut Notoadmodjo (2007), pengetahuan merupakan hasil dari

tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap

suatu obyek tertentu. Indikator pengetahuan tentang kanker payudara

diantaranya yaitu mempunyai kemampuan menjelaskan tentang kanker

payudara, memiliki kemampuan memberikan contoh tanda dan gejala

kanker payudara, memiliki kemampuan untuk berperilaku baik sesuai pola


20

hidup sehat, mempunyai kemampuan menganalisis faktor faktor risiko

kanker payudara, mempunyai kemampuan menghubungkan antara gejala

dan pengobatan/pencegahan, mempunyai kemampuan menilai tanda

tanda kanker payudara sehingga seseorang dapat melakukan pencegahan

terhadap kanker payudara

hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suastina (2013)

menunjukkan pengetahuan mahasiswi tentang adanya pengaruh

pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan siswi tentang

SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara menunjukkan bahwa

sebagian siswa yang dikategorikan baik sebanyak 79 orang (81,4%),

sedangkan yang dikategorikan kurang ada 6 orang (6,2%).

Hasil penelitian oleh Simanjuntak (2009) menyatakan setelah

diberi pendidikan kesehatan tentang SADARI memiliki rata-rata nilai

(mean) 17,72 dengan jumlah subjek yang dikategorikan baik sebanyak 30

mahasiswi (55%).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Sri Handayani

menunjukan bahwa mayoritas responden dikategorikan berpengetahuan

cukup terhadap pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yaitu sebanyak

78 responden (83,3%) dari 90 responden.

C. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi

adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang ada dalam


21

kehidupan sehari-hari merupakan reksi yang bersifat emosional terhadap

stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan

tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap tersebut

merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah

laku yang terbuka (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Allport (1954, dalam Notoatmodjo, 2003) sikap itu terdiri

dari 3 komponen pokok yaitu:

1. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek,

artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran

seseorang terhadap objek.


2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya

bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang

tersebut terhadap objek.


3. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap merupakan komponen

yang mendahului tindakan atau perlaku terbuka. Sikap adalah

ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap

yang utuh. Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2005).

a. Tingkatan Sikap
1. Menerima (receiving)

Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespons (responding)
22

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari

sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan

atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu

benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan

dengan orang lain terhadap suatu masalah.

4. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala resiko (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Brigham (dalam Dayakisni dan Hudiah, 2003) ada

beberapa ciri atau karakteristik dasar dari sikap, yaitu :

a) Sikap disimpulkan dari cara-cara individu bertingkah laku.

b) Sikap ditujukan mengarah kepada objek psikologis atau kategori,

dalam hal ini skema yang dimiliki individu menentukan bagaimana

individu mengkategorisasikan objek target dimana sikap diarahkan.

c) Sikap mempengaruhi perilaku. Memegang teguh suatu sikap yang

mengarah pada suatu objek memberikan satu alasan untuk

berperilaku mengarah pada objek itu dengan suatu cara tertentu

Menurut Azwar (2007) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain

yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan

lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu.

a. Pengalaman pribadi
23

Middlebrook (dalam Azwar, 2007) mengatakan bahwa tidak adanya

pengalaman yang dimiliki oleh seseorang dengan suatu objek psikologis,

cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap

akan lebih mudah terbentuk jika yang dialami seseorang terjadi dalam

situasi yang melibatkan faktor emosional. Situasi yang melibatkan emosi

akan menghasilkan pengalaman yang lebih mendalam dan lebih lama

membekas..

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang

konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting.

Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi

dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap

penting tersebut.

c. Pengaruh Kebudayaan

Burrhus Frederic Skinner, seperti yang dikutip Azwar sangat

menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam

membentuk pribadi seseorang. Kepribadian merupakan pola perilaku yang

konsisten yang menggambarkan sejarah penguat (reinforcement) yang kita

alami (Hergenhan dalam Azwar, 2007). Kebudayaan memberikan corak

pengalaman bagi individu dalam suatu masyarakat. Kebudayaan telah

menanamkan garis pengarah sikap individu terhadap berbagai masalah.

d. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama


24

Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai sesuatu sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya

meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh

dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat

keagamaan serta ajaran-ajarannya. Konsep moral dan ajaran agama sangat

menetukan sistem kepercayaan sehingga tidaklah mengherankan kalau

pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperanan dalam

menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal. Apabila terdapat sesuatu

hal yang bersifat kontroversial, pada umumnya orang akan mencari

informasi lain untuk memperkuat posisi sikapnya atau mungkin juga orang

tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam hal seperti itu, ajaran

moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan atau lembaga agama sering

kali menjadi determinan tunggal yang menentukan sikap.

e. Faktor Emosional

Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang berfungsi

sebagai semacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisme

pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara

dan segera berlalu begitu frustrasi telah hilang akan tetapi dapat pula

merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak

langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau

pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat


25

dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan

pendapat responden (Notoatmodjo, 2003). Untuk menilai sikap diukur

dengan skala Likert. Yang dijabarkan menjadi komponen yang dapat diukur

dengan skor : Untuk pernyataan positif yaitu : Sangat setuju (SS) : Nilai 5

Setuju (S) : Nilai 4 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak Setuju (TS) : Nilai

Sangat tidak setuju : Nilai 1. Untuk pertanyaan negative yaitu : Sangat

setuju (SS) : Nilai 1 Setuju (S) : Nilai 2 Ragu-ragu (RR) : Nilai 3 Tidak

Setuju (TS) : Nilai 4 Sangat tidak setuju : Nilai 5.

Kemudian skore skala liekert dikonversi ke dalam skor T, dengan rumus :

x x
T = 50 + 10
S

Keterangan :

x : Skor responden pada skala sikap yang hendak dirubah menjadi skor T

x : Mean skor pada kelompok

S : Standar deviasi

Selanjutnya skor T responden dibandingkan dengan mean T (50) lalu

dikategorikan sesuai dengan pertimbangan penelitian sebagai berikut :

Skor T > mean T : Favorable/Possitif

Skor T mean T : Unfavorable/Negatif (Azwar, 1998).

Faktor Eksternal yang mempengaruhi sikap


1. Sosial Budaya

Faktor sosial budaya adalah tindakan dan perbuatan manusia yang di

pengaruhi dan dilatar belakangi oleh aspek-aspek budaya masyarakat.

Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan karya manumur yang didapatkan
26

dengan belajar, diturunkan secara turun-temurun ke generasi penerus dan

dipertahankan oleh pendukung-pendukungnya. Sementara nilai-nilai sosial

budaya yang terbentuk sejak masa kanak-kanak akan mempengaruhi sikap

seseorang dalam menggunakan sarana kesehatan. Aspek-aspek sosial budaya

yang dimiliki berupa sistem nilai yang menyangkut keyakinan/pandangan

hidup, kepercayaan, kebiasaan, adat dan istiadat dan sebagainya yang

merupakan pedoman hidup kelompok masyarakat (Depkes RI,2002).

2. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan mencakup fasilitas-fasilitas waktu, tempat, tenaga

dan sebagainya. Menurut teori Green (1990) tersedianya fasilitas, sarana atau

prasarana kesehatan merupakan faktor pendukung atau yang memfasilitasi

terbentuknya prilaku kesehatan yang positif (Notoatmodjo, 2003). Pengaruh

sarana kesehatan terhadap perilaku dapat bersifat positif dan negative.

Misalnya tersedianya Puskesmas yang dekat dengan tempat tinggal

masyarakat akan mendukung terbentuknya prilaku masyarakat dan

mendorong pasien datang ke Puskesmas untuk memeriksakan kesehatannya

(Notoatmodjo, 2003), dalam hal ini termasuk pemeriksaan kesehatan terhadap

kekambuhan penyakit stroke.

3. Perilaku Petugas Kesehatan


Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2003), perilaku patugas

merupakan salah satu faktor yang berbungan dengan terbentuknya perilaku

seseorang, yaitu sebagai faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) yang

terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas yang lain,

yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.


27

Seseorang tidak tidak mau ke Puskesmas untuk memeriksakan

kesehatannya bukan hanya disebabkan orang tersebut tidak tahu pelayanan

yang diberikan Puskesmas tetapi dapat juga disebabkan karena patugas yang

kurang ramah, tidak terampil atau tokoh-tokoh masyarakat di daerah tersebut

tidak pernah mengnjungi Puskesmas tersebut.


Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwi Sri Handayani menunjukan

bahwa mayoritas responden dikategorikan berpengetahuan cukup terhadap

pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) yaitu sebanyak 78 responden

(83,3%) dari 90 responden.


Hal ini sejalan dengan penelitian Yuniarti (2005) pada perawat

wanita di RS. Dharmais menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna

antara umur dengan perilaku deteksi dini, begitu pula dengan penelitian

Imeldyanti (2010) pada siswa SMUN 2 Pasar Kemis menyatakan terdapat

hubungan yang bermakna antara umur dengan perilaku deteksi dini kanker

payudara.
D. Norma sosial
Norma sosial itu adalah sesuatu yang berada di luar individu,

membatasi mereka, dan mengendalikan tingkah laku mereka. Bagi siapapun

yang melakukan pelanggaran terhadap norma sosial akan ada sanksi atau

hukuman dari masyarakat. keberadaan norma sosial dalam masyarakat

bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan

aturan sosial yang telah terbentuk. Norma sosial dibuat oleh manusia agar

nilai-nilai sosial yang ada dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua warga

masyarakat. Apabila di dalam masyarakat telah menjalankan norma yang

berisi nilai-nilai maka di dalam masyarakat akan tercipta suatu tata hubungan
28

yang harmonis. Tingkatan norma sosial yang ada di masyarakat dibagi

menjadi 4 yaitu:
a. Cara (Usage)
Proses interaksi yang terus menerus akan melahirkan pola

tertentu yang disebut cara (usage). Cara (usage) adalah suatu

bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu

masyarakat tetapi tidak secara terus-menerus. Sanksi yang

diberikan hanya berupa celaan. Norma ini mempunyai kekuatan

yang lemah dibanding norma lain. Misalnya, bersendawa dengan

keras di kelas, cara berpakaian yang tidak sesuai dengan

tempatnya, dan lain-lain.


b. Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan

berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan

bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu. Sanksi terhadap

pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran, dan

dipergunjingkan. Sebagai contoh: berpamitan kepada orang tua

ketika keluar rumah, memberikan salam ketika bertemu dengan

orang yang dikenal, dan lain-lain.


c. Tata kelakuan (Mores)
Mores adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan

sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara

sadar guna melaksanakan pengawasan oleh kelompok terhadap

anggota-anggotanya. Pelanggaran terhadap folkways (norma

kebiasaan) akan dianggap aneh tetapi pelanggaran terhadap mores

akan dikucilkan atau dikutuk oleh sebagian besar masyarakat.


29

sebagai contoh: mempekerjakan anak dibawah umur, suka

melakukan perampasan/pemalakan, suka bertindak kekerasan, dan

lain-lain.
d. Adat istiadat (Customs)
Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan

pola perilaku masyarakat dapat mengikat menjadi adat istiadat

(customs). Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang

paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi

sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Pelanggaran

terhadap adat istiadat ini akan menerima sanksi yang keras dari

anggota lainnya. Misalnya larangan masyarakat Bali untuk mencuri

bila ketahuan tangannya kan dipotong, larangan perkawinan antar

kerabat, makan daging manusia, dan lain-lain.


E. Unsur lain yang ada di Masyarakat
Beberapa unsur yang sangat mempengaruhi individu dalam Proses

belajar sosial sehingga terbenruk interaksi sosial, serta membentuk pola

sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.

Diantara berbagai faktor yang mempengaruhinya adalah:


1) Pengalaman pribadi.
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman

pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan

lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan

faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan

akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.


2) Kebudayaan.
B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh

lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian


30

seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang

konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan,

ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk

sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
3) Orang lain yang dianggap penting.
Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah

dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan

ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan

keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap

penting tersebut.
4) Kepribadian
adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam

dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri

terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun

dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan

suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari

pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh

terhadap perilaku sehari-harinya


5) Intelegensia
adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan

bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian

tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia.

Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah laku

intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan

mudah terutama dalam mengambil keputusan


6) Media massa.
31

Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti

televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini

dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap

hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut,

apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam

mempresepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah

sikap tertentu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan sikap individu yaitu :
1. Transportasi
Menurut teori Lawrance Green, Snehandu B. Karr,

dan WHO salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku

adalah transportasi masyarakat atau individu yang berada di

daerah pedesaan atau tertinggal akan sulit mendapatkan alat

transportasi karena ketersedian alat transportasi di derah

tertinngal ini sangatlah minin sehingga masyaraka sedikit

terhambat untuk berobat ke pelayanan kesehatan.


2. Biaya
William F. Ogburn (1964) mengemukakan bahwa

ruang lingkup perubahan perilaku meliputi unsur biaya atau

material. yaitu perilaku individu juga sangat di pengaruhi

oleh biaya dimana apabila indivudu atau masyarakat yang

kurang dari aspek ekonominya maka akan terhambatlah

dalam pengobatan kanker payudara apa bila individu tersebut

sudah terkena penyakit kanker payudara


3. Kebijakan
32

Memasuki era globalisasi yang sangat tinggi juga

mempengaruhi pelayanan kesehatan yang semakin hari

semakin canggih sehingga pemerintah berupaya

menyikapi dengan mengeluarkan kebijkan dengan

adanya BPJS yang nantinya dapat membantu

masyarakat kurang mampu dalam peningkatan derajat

kesehatan masyarakat.

F. Konsep Teori

Faktor predisposisi (predisposing


Factor)
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Norma social
4. Unsur lain yang ada di
individu dan masyarakat

Perubahan
Factor pendukung (Enabling perilaku dalam
Factor)
pemeriksaan
1. Sarana kesehatan
2. Lokasi SADARI

Factor perancu
Factor pendorong (Reinforsing 1. Biaya
Factor) 2. Transportasi
1. Sikap tenaga kesehatan 3. Kebijakan
2. Perilaku tenaga kesehatan 4. Peraturan

Green dkk, (1980), Notoadmodjo (2003)


33

C. Hipotesis

Ha : Ada perbedaan pengetahuan dan sikap dalam pemeriksaan payudara sendiri

(sadari) pada siswi SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma tahun 2017.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan eksperimen semu (Quasi Eksperimen).

Penelitian ini menggunakan desain penelitian yang berbentuk one grup pre test-

post test design yaitu tanpa menggunakan kelompok pembanding atau

kelompok control. Dengan tujuan mengetahui perbedaan pengetahuan dan

sikap dalam pemeriksaan SADARI pada siswi SMAN 3 Kabupaten Seluma.

B. Variabel Penelitian

Variable penelitian penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu

pengetahuan dan sikap siswi SMAN 3 Kabupaten Seluma.

Pre Test Penyuluhan Post Test Post Test 1


O1 X O2 O3

Keterangan:

O1 : Pengetahuan dan sikap sebelum dilakukan penyuluhan SADARI

X : Penyuluhan tentang SADARI

O2 : Pengetahuan dan sikap setelah dilakukan penyuluhan SADARI

O3 : Pengetahuan dan sikap setelah 2 minggu dilakukan penyuluhan SADARI


34

35
C. Definisi Operasional

Table 3.2 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur

1 Pemeriksaan Suatu tindakan


SADARI membagi ilmu
dengan cara ceramah
dan praktik tentang
pemeriksaan
payudara sendiri

2 Pengetahuan Hal yang diketahui Kuisioner Rentan Rasio


seseorang yang nilai 1-10
didapat baik secara
formal ataupun non
formal

3 Sikap Suatu tindakan yang Kuisioner Rentan Rasio


terus menerus nilai 0- 40
dilakukan dan telah
menjadi kebiasaan
dalam meningkatkan
kesehatan

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian (Arikunto,

2002). Pada penelitian ini populasinya adalah semua siswi SMA N 3

Seluma dengan jumlah 265 siswa.


35

2. Sampel

Sampel adalah objek yang akan diteliti dan dianggap mewakili

seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Dengan asumsi hasil penelitian

suastina (2013) berdasarkan rumus sampel lamesshow (1997).

= ZZ pq

= (1.96)2 . 0.062 . 0.814

(0.05)2

= (3.84) (0.062) (0.814)

0.0025

= 0.1937

0.0025

= 77.48

= 77 Orang

E. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMAN 3 Seluma pada bulan sampai

Januari Februari 2017.

F. Pengumpulan Data

1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari

responden baik secara observasi dan kuesioner, yaitu data tentang

pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam tindakan SADARI.

G. Instrumen dan Bahan Penelitian

1. Alat pengumpul data


36

Alat yang digunakan sebagai pengumpul data dalam penelitian ini

berupa kuesioner tentang karakteristik responden. Kuesioner yang

digunakan merupakan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan

pengetahuan dan sikap.

2. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pengumpulan data dari

penelitian ini adalah lembar kuesioner.

H. Pengolahan data

Pengolahan data yang telah dikumpulkan dilakukan dengan komputer,

melalui beberapa tahap antara lain :


1) Editing (Pemeriksaan Data)
Tahapan ini dilakukan untuk memeriksa apakah data telah

terkumpul sudah dirasakan lengkap atau belum, kemudian memeriksa

setiap halaman kuisioner apakah telah diterima semua, bagaimana cara

mengisinya, kelengkapan pengisiannya, dan pengelompokan jawaban.


2) Coding (Pengkodean Data)
Merupakan kegiatan merubah data dari bentuk huruf menjadi data

berbentuk angka atau bilangan. Hal ini untuk mempermudah saat analisa

dan juga mempercepat pada saat entry data.


3) Entry data (Memasukkan Data)
Tahap memasukkan data kedalam komputer sesuai dengan

variabel yang sudah ada. Selanjutnya data yang diperoleh akan dianalisis

sesuai jenis dan kegunaan data.

4) Cleanning
Pada tahap ini dilakukan kegiatan pengecekan, pembersihan,

kalau ada ditemui kesalahan pada saat entry data, sehingga dapat
37

diperbaiki dan nilai-nilai (score) yang ada disesuaikan dengan hasil

pengumpulan data.
I. Analisa Data
Data yang sudah diperoleh akan diolah secara manual dengan

melakukan pengkodean dan penilaian. Setiap item judul observasi di rata-

ratakan. Selanjutnya dilakukan analisis secara univariat dan bivariat.


1. Analisa Univariat
Analisa univariat (analisa persentase) yaitu analisis yang dilakukan

dengan statistik deskriptif digunakan untuk mendapatkan gambaran

distribusi frekuensi serta menggambarkan variabel dependen dan

independen.

Dengan rumus :

P= X 100 %

Keterangan :
P : proporsi / jumlah presentase
F : jumlah responden setiap kategori
N : jumlah sampel (Arikunto, 1998)
Dari rumus diatas proporsi yang di dapat dalam bentuk

presentase-presentase yang dapat diinterpretasikan dengan menggunakan

skala :

0% : tidak satupun dari responden


1-25% : sebagian kecil dari responden
26-49% : hampir sebagian dari responden
50% : setengah dari respoden
51-75% : sebagian besar dari responden
76-99% : hampir seluruh dari responden
38

100% : seluruh responden (Notoatmodjo, 2010).

2. Analisa Bivariat
Yaitu analisis untuk melihat pengaruh antara variabel independen

(pengetahuan dan sikap) dengan variabel dependen (perilaku SADARI).

Analisa data dilakukan dengan uj T-Test menggunakan komputerisasi,

dengan derajat kepercayaan 95 % dengan : 0.05 dengan keputusan :

1) Jika P 0.05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya ada bagan

3.1 variabel penelitian

2) Jika P > 0.05, maka Ha ditolak atau H0 diterima, artinya tidak ada

bagan 3.1 variabel penelitian

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Jalannya Penelitian

Pelaksanaan penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan

dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan meliputi kegiatan penetapan

judul, survey awal, pengumpulan data, merumuskan masalah penelitian,

menyiapkan instrumen penelitian, ujian proposal dan mengurus izin penelitian

pada Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu dilanjutkan kepada Kepala

Sekolah SMAN 3 Seluma


39

Izin penelitian ini didapat dari pendidikan (Poltekkes Kemenkes

Bengkulu), diteruskan untuk mendapat izin dari badan kesehatan bangsa dan

perlindungan masyarakat, setelah di dapat izin penelitian dari SMAN 3

Seluma maka peneliti melanjutkan kegiatan pengumpulan data pada

responden.

Pengumpulan data dari responden dilaksanakan di SMA Negeri 3

Kabupaten Seluma sampel dalam penelitian ini adalah adalah seluruh

mahasiswi dari SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma dengan Tehnik pengambilan

sampel menggunakan tehnik Random Sampel dengan jumlah sampel

sebanyak 77 sampel

Setelah data penelitian didapat, dilanjutkan ke kegiatan pengolahan

data dan analisis data secara univariat dan bivariat.

41

B. Hasil Penelitian

1. Analisis Univariat

Dalam penelitian, dilakukan analisis terhadap karakteristik responden di

Sekolah SMAN 3 Seluma dengan riwayat penyakit kanker payudara

Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Sebelum dan
Setelah Dilakukan Penyuluhan Di SMAN 3 Seluma

No Variabel N Mean Sd Min Maks

1 Pre Pengetahuan 77 15,80 2,28 12 19


40

2 Post Pengetahuan 1 77 18,59 1,57 17 20

3 Post Pengetahuan 2 77 20,00 1,25 20 20

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan nilai rata- rata pengetahuan

sebelum dilakukan penyuluhan adalah 15, 80 dan setelah diberikan

penyuluhan menjadi 18,59 hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan

pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan tentang SADARI di

SMAN 3 Seluma sebesar 2, 27, setelah dilakukan pengecekan kembali

pada post pengetahuan ke 2 nilai rata- rata pengetahuan menjadi 20 hal

ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan siswa setelah

dilakukan penyuluhan tentang SADARI di SMAN 3 Seluma sebesar

1,41

Berdasarkan data diatas juga didapatkan dari 77 responden

didapatkan nilai minimum pre pengetahuan sebesar 12 menjadi

meningkat pada post pengetahuan setealah dilakukan penyuluhan dengan

nilai maksimum 20

Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Setelah Dilakukan
Penyuluhan Di SMAN 3 Seluma

No Variabel N Mean Sd Min Maks

1 Pre Sikap 77 24,41 2,28 19 33

2 Post Sikap 1 77 32,07 1,57 27 39

3 Post Sikap 2 77 40,00 1,25 40 40

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan nilai rata- rata sikap sebelum

diberikan penyuluhan adalah 24,41 hal ini menunjukkan bahwa ada


41

peningkatan Sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan tentang SADARI

di SMAN 3 Seluma sebesar 7,66, pada pengukuran kembali pada post

ke dua didapatkan nilai sikap menjadi 40 hal ini menunjukkan bahwa

ada peningkatan sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan tentang

SADARI di SMAN 3 Seluma sebesar 7,93

Berdasarkan data diatas juga didapatkan dari 77 responden

didapatkan nilai minimum pre sikap sebesar 19 menjadi meningkat pada

post sikap setealah dilakukan penyuluhan dengan nilai maksimum 40

Tabel 4.3
Keputusan Pelaksanaan Tindakan SADARI sebelum dan Setelah
Dilakukan Penyuluhan Di SMAN 3 Seluma

No Variabel Keputusan SADARI

Ya Tidak

1 Pre Test 0 (0%) 77 (100%)

2 Post Test 1 53 (68%) 24 (32%)

3 Post Test 2 77(100%) 0(0%)

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan sebelum dilakukan

penyuluhan keputusan untuk melakukan SADARI 0% setelah dilakukan

penyuluhan pada post 1 keputusan untuk melakukan SADARI menjadi

53 (68%) dan post ke 2 menjadi 77 (100%)

2. Analisis Bivariat
42

Analisa ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan

pengetahuan, sikap dan tindakan pemeriksaan sadari pada siswi di

SMAN 3 Seluma

Tabel 4.4
Perbedaan Pengetahuan Siswi SMAN 3 Seluma sebelum
dan setelah dilakukan penyuluhan tentang SADARI

Variabel Mean Sd mean 95% CI P


Pre -2,27
15,80 2,28
Pengetahuan 3,164 s/d
0,000
Post 2,41
18,59 1,57
Pengetahuan
Post -1,49 1,77 s/d
20,00 0,00 0,000
pengetahuan 2 1,20
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan bahwa terdapat perbedaan

Pengetahuan siswi SMAN 3 Seluma sebelum 15,80 dan sesudah

dilakukan penyuluhan tentang SADARI adalah 18,59 dengan nilai

P(0,000) dengan 95% CI (3,164 s/d 2.41)

Berdasarkan hasil uji t test didapatkan nilai p :0,000 yang mana

nilai ini lebih besar dari nilai yang artinya terdapat pengaruh

penyuluhan terhadap nilai pengetahuan pada siswa SMAN 3 seluma

Berdasarkan uji t test didapatkan nilai p (0,00) untuk perbedaan

nilai post pengetahuan 1 dengan post pengetahuan 2 dengan nilai

95% CI (1,77 s/d 1,20) artinya terdapat pengaruh penyuluhan terhadap

nilai pengetahuan pada siswa SMAN 3 seluma

Tabel 4.3
Perbedaan Sikap Siswi SMAN 3 Seluma Sebelum Dan
Setelah Dilakukan Penyuluhan Tentang SADARI
43

Variabel Mean Sd Mean 95% CI P


Pre Sikap 24,41 3,43 -7,66
8,6 s/d 6,7 0,000
Post Sikap 32,07 4,17
Post sikap -7,92 8,86 s/d 0,000
40 4,17
2 6,97
Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan bahwa terdapat perbedaan

Sikap siswi SMAN 3 Seluma sebelum dilakukan penyuluhan adalah

24,41 dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang SADARI adalah

32,07 dengan nilai P(0,000) dengan 95% CI (8,6 s/d 6,7)

Berdasarkan hasil uji t test didapatkan nilai p :0,000 yang mana

nilai ini lebih besar dari nilai yang artinya terdapat pengaruh

penyuluhan terhadap nilai Sikap pada siswa SMAN 3 seluma

Berdasarkan uji t test didapatkan nilai p (0,00) untuk perbedaan

nilai post sikap 1 dengan post sikap2 dengan nilai 95% CI (8,86 s/d

6,97) artinya terdapat pengaruh penyuluhan terhadap nilai sikap pada

siswa SMAN 3 Seluma

3. Pembahasan

a) Perbedaan Pengetahuan Sebelum dan Setelah dilakukan

Penyuluhan SADARI
44

Berdasarkan hasil analisa didapatkan didapatkan bahwa

terdapat perbedaan Pengetahuan siswi SMAN 3 Seluma sebelum dan

sesudah dilakukan penyuluhan tentang SADARI dengan nilai P(0,000)

dengan P< artinya terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan

setelah dilakukan penyuluhan SADARI

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.1 pada pre

penyuluhan 66,2% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

97,4% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.2 pada pre

penyuluhan 66,2% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

100% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.3 pada pre

penyuluhan 75,3 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

100% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.4 pada pre

penyuluhan 93 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

100% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.
45

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.5 pada pre

penyuluhan 94 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

100% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.6 pada pre

penyuluhan 100 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

98 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.7 pada pre

penyuluhan 100 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

98% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.8 pada pre

penyuluhan 96 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

97% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.10 pada pre

penyuluhan 100% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

97% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.11 pada pre

penyuluhan 93% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi


46

97% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.12 pada pre

penyuluhan 81% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

87% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.13 pada pre

penyuluhan 93% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

94% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.14 pada pre

penyuluhan 79% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

83% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.15 pada pre

penyuluhan 42% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

76% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.16 pada pre

penyuluhan 84% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi 83

% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.
47

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.17 pada pre

penyuluhan 68 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

87% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.18 pada pre

penyuluhan 25 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi 81

% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.19 pada pre

penyuluhan 68 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi 84

% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable pengetahuan pada soal no.20 pada pre

penyuluhan 75% responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

93% dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil menunjukan pada variable pengetahuan pre terendah

pada soal no.18 yang membahas tentang cekungan atau lipatan yang

tampak pada putting susu yang ditemukan saat SADARI dengan nilai

rata- rata 20 yang membahas tentang kelainan yang ditemukan saat

melakukan perabaan dengan jari-jari tangan pada payudara


48

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rat- rata nilai pengetahun

dari pre penyuluhan ke post 1 meningkat dari niali terendah pada soal

no 18 dengan persentasi kebenaran 25 % menjadi 81,8% pada nilai

post 2 hal ini dikarenakan telah diberikan penyuluhan dan praktek

dalam melakukan sadari, nilai pengetahuan menjadi semakin

meningkat pada post 3 menjadi 100 % hal ini dimungkinkan karena

peserta telah diberikan penyuluhan serta modul tentang sadari sehingga

peserta dapat lebih memahami tentang SADARI dari modul yang

diberikan

Berdasarkan hasil analisis prioritas soal didapatkan didapatkan

soal yang sangat mempengaruhi tindakan SADARI dari responden ada

pada no 11 tentang kapan seorang remaja putri harus melakukan

SADARI,soal no 17 tentang perubahan bentuk yang oerhatikan saat

dilakukan SADARI dan no 20 tentang kelaianan yang ditemukan saat

melakukan perabaan dengan jari-jari tangan pada payudara. Hal ini

memfokuskan tentang pengetahuan SADARI yang akan membantu

peserta dalam pelaksanaan praktik SADARI .

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suastina

(2013) menunjukkan pengetahuan mahasiswi tentang adanya pengaruh

pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan siswi tentang

SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara di SMA Negeri 1

Manado dengan teridentifikasinya pendidikan kesehatan dan tingkat

pengetahuan serta dengan teranalisisnya pengaruh antara pendidikan


49

kesehatan terhadap tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa sebagian

siswa yang dikategorikan baik sebanyak 79 orang (81,4%), sedangkan

yang dikategorikan kurang ada 6 orang (6,2%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah

dilakukan oleh Simanjuntak (2009) menyatakan pengetahuan tentang

Periksa Payudara Sendiri pada mahasiswi Psikologi FK UNS sebelum

diberi pendidikan kesehatan memiliki rata-rata nilai (mean) 13,63 dan

jumlah subjek yang dikategorikan baik sebanyak 28 mahasiswi (52%).

Setelah diberi pendidikan kesehatan memiliki rata-rata nilai (mean)

17,72 dengan jumlah subjek yang dikategorikan baik sebanyak 30

mahasiswi (55%).

Hal ini didukung pula dengan penelitian yang dilakukan oleh

Dwi Sri Handayani menunjukan bahwa mayoritas responden

dikategorikan berpengetahuan cukup terhadap pemeriksaan payudara

sendiri (SADARI) yaitu sebanyak 78 responden (83,3%) dari 90

responden.

Hasil penelitian diatas juga sesuai dengan tinjauan teori yang

menyebutkan bahwa berdasarkan pengalaman dan penelitian, perilaku

yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku

yang tidak didasari oleh pengetahuan yang merupakan hasil dari

tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap

suatu obyek tertentu. Indikator pengetahuan tentang kanker payudara


50

diantaranya yaitu mempunyai kemampuan menjelaskan tentang

kanker payudara, memiliki kemampuan memberikan contoh tanda dan

gejala kanker payudara, memiliki kemampuan untuk berperilaku baik

sesuai pola hidup sehat, mempunyai kemampuan menganalisis faktor

faktor risiko kanker payudara, mempunyai kemampuan

menghubungkan antara gejala dan pengobatan/pencegahan,

mempunyai kemampuan menilai tanda tanda kanker payudara

sehingga seseorang dapat melakukan pencegahan terhadap kanker

payudara

Berdasarkan teori transtheotrical model yang dikenalkan oleh

james (1994) menyatakan bahwa sesorang dapat dinyatakan berhasil

mengadopsi sesuatu baik berupa penyuluhan dan praktik jika

seseorang telah melalui lima tahap meliputi pra perenungan

(precontemplation), perenungan (contemplation)persiapan

(preparation), aksi (action) dan pemeliharaan ( Maintenance) hal ini

menunjukkan dalam penelitian ini siswi telah melalui lima tahap

tersebut dengan tetap melakukan pemeriksaan SADARI setelah 2

minggu dilakukan penyuluhan tentang SADARI.

Sesuai hasil Sarbani (2008) bahwa pengetahuan biasa didapat

dengan cara mendengarkan, melihat, merasa dan sebagainya yang

merupukan bagian dari indra manusia. Pengindraan yang buruk akan

mengurangi pemahaman terhadap suatu objek atau informasi.

Pengetahuan juga sangat erat dengan sikap, semakin tinggi pendidikan


51

dan pengetahuan akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku.

Dalam penelitian ini dapat di simpulakn bahwa pengetahuan dan sikap

sangat berpengaru dalam pemeriksaan SADARI tentang kanker

payudara terhadap siswa putri.

b) Perbedaan Sikap Sebelum dan Sesudah dilakukan Penyuluhan

SADARI

Berdasarkan hasil penelitian diatas didapatkan perbedaan

Sikap siswi SMAN 3 Seluma sebelum dan sesudah dilakukan

penyuluhan tentang SADARI dengan nilai P(0,000) dengan 95% CI

(8,6 s/d 6,7) sehingga P< artinya terdapat perbedaan Sikap sebelum

dan setelah dilakukan penyuluhan SADARI

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.1 pada pre

penyuluhan 29 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

59,7 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.2 pada pre

penyuluhan 28 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

73,2 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.3 pada pre

penyuluhan 44,2 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi


52

67 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.4 pada pre

penyuluhan 55 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

63 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.5 pada pre

penyuluhan 28 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

73,2 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.6 pada pre

penyuluhan 58 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

58 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.7 pada pre

penyuluhan 57,2 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

57,7 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.8 pada pre

penyuluhan 61,2 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

62 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.
53

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.9 pada pre

penyuluhan 59 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

57 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil penelitian variable sikap pada soal no.10 pada pre

penyuluhan 59 % responden mampu menjawab pada post 1 menjadi

58 % dan pada post 2 menjadi 100% responden mampu menjawab

dengan benar.

Hasil menunjukan pada variable sikap pre terendah pada soal

no 5 dengan hasil nilai 66 yang membahas tentang SADARI dapat

dilakukan dimana saja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rat- rata nilai sikap dari

pre penyuluhan ke post 1 meningkat dari niali terendah pada soal no 5

dengan persentasi kebenaran 16,6 % menjadi 61,7% pada nilai post 2

hal ini dikarenakan telah diberikan penyuluhan dan praktek dalam

melakukan sadari dan ada beberapa peserta yang mau mencoba dana

da yang tidak bersedia mencoba melakukan SADARI yang mungkin

dikarenakan malu, namun nilai menjadi semakin meningkat pada post

3 menjadi 100 % hal ini dimungkinkan karena peserta telah diberikan

modul tentang sadari sehingga peserta dapat lebih memahami tentang

SADARI dari modul yang diberikan serta peserta diberikan waktu 2


54

minggu untuk dapat mencoba melakukan prakti sendiri dalam

melakukan SADARI di rumah.

Hasil penelitian ini didukung oleh tinjauan teori bahwa

perilaku SADARI yang termasuk dalam perilaku kesehatan,

dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan yang bermula dari

pemikiran atas dasar pengetahuan hingga pada akhirnya muncul dalam

perilaku (Purwanto, 2009).

Hal ini didukung pula dengan penelitian yang dilakukan oleh

Dwi Sri Handayani dengan judul Hubungan Antara Tingkat

Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Para Wanita Dewasa Awal

Dalam Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri Di Kelurahan

Kalangan Kecamatan Pedan Klaten menunjukan bahwa mayoritas

responden dikategorikan berpengetahuan cukup terhadap pemeriksaan

payudara sendiri (SADARI) yaitu sebanyak 78 responden (83,3%)

dari 90 responden.

Hal ini sejalan dengan penelitian Yuniarti (2005) pada

perawat wanita di RS. Dharmais menyatakan bahwa ada hubungan

yang bermakna antara umur dengan perilaku deteksi dini, begitu

pula dengan penelitian Imeldyanti (2010) pada siswa SMUN 2

Pasar Kemis menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara

umur dengan perilaku deteksi dini kanker payudara.


55

Sesuai kutipan Notoatmodjo (2003) menyatkan bahwa sikap

merupakan bahwa merupakan kesiapan atau kesedian untuk bertindak

sehingga pelaksana motorik berasal dari pengetahuan yang di miliki.

Sehingga dalam penelitian ini peneliti dapat disimpulkan bahwa suatu

perilaku atau sikap sangat berpengaruh dengan pengetahuan.

Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo,

2005).

C. Keputusan peserta dalam melakukan SADARI

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan sebelum dilakukan

penyuluhan keputusan untuk melakukan SADARI 0% hal ini

dikarenakan sisiwa belum mengerti dan belum terpapar tentang

SADARI baik pengetahuan dan tindakan melakukan SADARI namun

setelah dilakukan penyuluhan pada post 1 keputusan untuk melakukan

SADARI meningkat menjadi 53 (68%) para siswa mulai mengetahui

apa itu SADARI dan sudah mengetahui cara melakukan SADARI dan

ada beberapa responden yang mencoba melakukan atau

mempraktekkan pemeriksaan SADARI di depan kelas, dan post ke 2

menjadi 77 (100%) hal ini siswa sudah dibekali buku saku dan cara

melakukan SADARI serta siswa diberikan waktu selama 2 minggu

untuk mencoba melakukannya dirumah dan memahami SADARI

melalui buku Saku yang diberikan.


56

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan dalam penelitian ini maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :


1. Hampir seluruh responden adalah tidak memiliki riwayat penyakit

kanker payudara
2. Terdapat perbedaan Sikap siswi SMAN 3 Seluma sebelum dan

sesudah dilakukan penyuluhan tentang SADARI


3. Terdapat perbedaan Pengetahuan siswi SMAN 3 Seluma sebelum

dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang SADARI


4. Terdapat perbedaan Pengetahuan siswi SMAN 3 Seluma sebelum

dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang SADARI

B. Saran

a. Bagi Praktisi Kesehatan

Bagi pelayanan kesehatan, hasil penelitian dapat dimanfaatkan

sebagai masukan dalam menyusun program di puskesmas dalam

promosi kesehatan dengan mengarahkan masyarakat khususnya wanita

untuk lebih memahami mengenai deteksi dini kanker payudara melalui

pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

b. Bagi Sekolah

Diharapkan hal ini dapat membantu sekolah dalam meningkatkan

kemampuan siswa dalam deteksi kangker payudara melalui tindakan

SADARI melalui peningkatan 57


kegiatan PIK-R dan meningkatkan peran

serta UKS dalam mendeteksi masalah kesehatan pada siswa.


57

c. Bagi Akademik

Sebagai tambahan kepustakaan dan sebagai referensi yang nantinya

akan berguna bagi mahasiswa dan institusi, selain itu dapat

meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan SADARI

sehingga peserta didik dapat membagi ilmu dengan masyarakat

d. Bagi Peneliti Lain

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam

penelitian berikutnya, di harapkan penelitian ini dapat melanjutkan

dengan faktor lain yang mempengaruhi pelaksanaan SADARI. Serta

berkoordinasi dengan pihak sekolah dalam pembentukan kelompok atau

kader sekolah dalam deteksi kanker payudara.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmed. N.U: Fort, J.G : Fair, L.M: Samenya, K; and Habr, G.2009. Breast Cancer
Knowladge and barriers to mammography in a law income mananged care
population. Journal of Cancet Education 24: 261-266
58

American Cancer Society. 2015. Cancer Facts For Woman. http;//www.cancer.org


diakses pada 02 November 2016.

Allport .1954. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

Alimul. 2003. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Azwar. 2007. Teori Perilaku, Pengetahuan, dan Sikap Manusia, Yogyakarta:


Nuha medika

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Profil Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta: Bidang Pemberantasan Penyakit Tidak Menular.

Depkes. 2002. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. 2015. Laporan Kasus Penyakit Tidak


Menular Tahun 2015

Gochman,2010 .Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Green, W, Lawrence.et.al. 1980. Helath Education Planing A Diagnostik


Approach, The Johns Hapkins University: Mayfield Publishing Company

Irmayati. 2007. Pentinya Pengetahuan. Jakarta : Kawan Pustaka

Mardiana. 2009. Problematika Dan Perawatan Payudara. Kawan Pustaka :


Depok

Manuaba. 2010. Memeriksa Payudara Sendiri. Artikel Majalah Female Kompas


Edisi Agustus.

Mulyani dan Olfah, dkk. 2013. Gejala-Gejala dan pencegahan Kanker


Payudara. Yogyakarta: Paradigma Indonesia.

Nisman. 2011. Deteksi Dini Kanker Payudara. Yogyakarta: Buku Biru.

Notoatmodjo. 2003. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku dan Sikap. Jakarta:
Rineka cipta

Notoatmodjo. 2007. Pentingnya Pengetahuan Dalam Menghadapi Kemajuan


Teknologi. Jakarta : Rhineka Cipta

Olfah, Y., Mendri, N. K., & Badi'ah, A. 2013. Kanker Payudara & SADARI.
Yogyakarta: Nuha Medika.
59

Purwoastuti, E. 2008. Kanker Payudara (Pencegahan & Deteksi Dini).


Yogyakarta: Kanisius

Rasjidi. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan.Cetakan I. Makassar : FakultasKesehatan


Masyarakat Universitas Hasanuddin

Rasjidi, I. 2007. Kemoterapi Kanker Ginekologi dalam Praktik Sehari-hari.


Jakarta: CV Sagung Seto.

Retnowati. 2007. Faktor Yang Mempengaruhui SADARI. Jakarta: Rhineka Cipta

Sarwono. 2004. Dasar-Dasas Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka cipta

Setiati. 2009. Kanker Payudara yang Penting dan Perlu Diketahui. Jakarta:Jurnal
Kedokteran.

Septiani. 2012. Hubungan Pengetahuan Dan Deteksi Dini (SADARI) Dengan


Keterlambatan Penderita Kanker Payudara Melakukan Pemeriksaan Di
RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. (S1), Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Pekajangan.

Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS). 2007. Kejadian Kanker Payudara.


http ://www.antara news.com/berita/1265254914/Kejadian-Kanker-
Payudara-Masih tinggi.

WHO (2012). Insiden Kanker Payudara. http;//www.WHO.go.org diakses pada 1


november 2016