Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) Kartini adalah
alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA disuatu wilayah kerja secara
terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Program KIA yang
dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi
kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan
balita. Dengan manajemen PWS KIA diharapkan cakupan pelayanan dapat menjangkau
seluruh sasaran di suatu wilayah kerja sehingga kasus dengan risiko/komplikasi kebidanan
dapat ditemukan sedini mungkin untuk dapat memperoleh penanganan yang memadai.

Penyajian PWS KIA juga dapat dipakai sebagai alat motivasi, informasi dan
komunikasi kepada sektor terkait, khususnya aparat setempat yang berperan dalam
pendataan dan penggerakan sasaran maupun membantu dalam memecahkan masalah
non teknis misalnya: bumil KEK, rujukan kasus dengan risiko. Pelaksanaan PWS KIA
baru berarti bila dilengkapi dengan tindak lanjut berupa perbaikan dalam pelaksanaan
pelayanan KIA. PWS KIA dikembangkan untuk intensifikasi manajemen program.
Walaupun demikian, hasil rekapitulasinya di tingkat puskesmas dan kabupaten dapat
dipakai untuk menentukan puskesmas dan desa/kelurahan yang rawan. Demikian pula
rekapitulasi PWS KIA di tingkat propinsi dapat dipakai untuk menentukan kabupaten
yang rawan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Sistem Informasi Kesehatan ?


2. Apa pengertian dari pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak ?
3. Apa saja program pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak ?
4. Bagaiamana prinsip program pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan
anak ?
5. Apa saja batasan dan indikator pemantauan wilayah kesehatan ibu dan anak ?
6. Bagaimana grafik pemantauan wilayah kesehatan kesehatan ibu dan anak?

7. Bagaimana pembuaatan grafik pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan


anak ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari Sistem Informasi Kesehatan ?


2. Untuk mengetahui pengertian dari pemantauan wilayah setempat kesehatan
ibu dan anak ?
3. Untuk mengetahui apa saja program pemantauan wilayah setempat kesehatan
ibu dan anak ?

1
4. Untuk mengetahui bagaiamana prinsip program pemantauan wilayah
setempat kesehatan ibu dan anak ?
5. Untuk mengetahui apa saja batasan dan indikator pemantauan wilayah
kesehatan ibu dan anak ?
6. Untuk mengetahui bagaimana grafik pemantauan wilayah kesehatan kesehatan
ibu dan anak?

7. Untuk mengetahui bagaimana pembuaatan grafik pemantauan wilayah


setempat kesehatan ibu dan anak ?

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Informasi Kesehatan

Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi diseluruh


seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan
pelayanan kepada masyarakat. Paraturan perundang-undangan yang menyebutkan
sistem informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang
kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan dan Kepmenkes Nomor
932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem
laporan informasi kesehatan kabupaten/kota. Pengertian sistem informasi kesehatan
adalah gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus
informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi)
untuk mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan kinerja sistem kesehatan. Informasi kesehatan selalu diperlukan dalam
pembuatan program kesehatan mulai dari analisis situasi, penentuan prioritas,
pembuatan alternatif solusi, pengembangan program, pelaksanaan dan pemantauan
hingga proses evaluasi, subsistem dalam sistem informasi kesehatan secara umum

2.2 Pengertian Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak

Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA) adalah
alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja
secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat.
Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas,
ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir
dengan komplikasi, bayi, dan balita. Kegiatan PWS KIA terdiri dari pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interpretasi data serta penyebarluasan informasi ke
penyelenggara program dan pihak/instansi terkait dan tindak lanjut. Definisi dan
kegiatan PWS tersebut sama dengan definisi Surveilens. Menurut WHO, Surveilens
adalah suatu kegiatan sistematis berkesinambungan, mulai dari kegiatan
mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasikan data yang untuk selanjutnya
dijadikan landasan yang esensial dalam membuat rencana, implementasi dan evaluasi
suatu kebijakan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan surveilens dalam
kesehatan ibu dan anak adalah dengan melaksanakan PWS KIA. Dengan PWS KIA
diharapkan cakupan pelayanan dapat ditingkatkan dengan menjangkau seluruh
sasaran di suatu wilayah kerja. Dengan terjangkaunya seluruh sasaran maka
diharapkan seluruh kasus dengan faktor risiko atau komplikasi dapat ditemukan sedini
mungkin agar dapat memperoleh penanganan yang memadai.Penyajian PWS KIA
juga dapat dipakai sebagai alat advokasi, informasi dan komunikasi kepada sektor
terkait, khususnya lintas sektor setempat yang berperan dalam pendataan dan
penggerakan sasaran. Dengan demikian PWS KIA dapat digunakan untuk

3
memecahkan masalah teknis dan non teknis. Pelaksanaan PWS KIA harus
ditindaklanjuti dengan upaya perbaikan dalam pelaksanaan pelayanan KIA,
intensifikasi manajemen program, penggerakan sasaran dan sumber daya yang
diperlukan dalam rangka meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA. Hasil
analisis PWS KIA di tingkat puskesmas dan kabupaten/kota dapat digunakan untuk
menentukan puskesmas dan desa/kelurahan yang rawan. Demikian pula hasil analisis
PWS KIA di tingkat propinsi dapat digunakan untuk menentukan kabupaten/kota
yang rawan.

2.3 Program Pemantauan Wilayah Kesehatan Ibu dan Anak

Program PPWS KIA dikembangkan sejak tahun 2008 dengan menggunakan


sistem database dengan pengembangan konsep penelusuran data. Program ini diberi
nama Kartini mengingatkan pada pahlawan nasional R.A Kartini yang meninggal
akibat pendarahan post partum.

a. Fitur dan Laporan Pada Program Kartini:


1) Master Data:

Input Profil Puskemas


Tampilan fitur puskesmas ini diisi, dirubah maupun dihapus
Input Data Desa
Input Data Posyandu
Input Data Bidan

2) Kegiatan PWS

Identifikasi WUS Pemeriksaan


Register Bumil Neonatus
Pemeriksaan ANC Pemeriksaan Bayi &
Persalinan Ibu Balita
Bayi Baru Lahir Kematian Ibu
Pemeriksaan PNC Kematian Bayi


3) Laporan- Kartu Ibu
Laporan: Kartu Bayi
Laporan Kohort Surat Kelahiran
Laporan Dasar Laporan Imunisasi
Laporan Pelayanan Laporan Kematian
KIA Laporan PWS
Taksiran Persalinan Laporan

4
Penelusuran Grafik Laporan
Grafik Pelayanan PWS
KIA Grafik Trend PWS

5
Pada program kartini, semua transaksi data pada kegiatan-kegiatan
PWS disimpan dalam database menggunakan mesin database MySQL Server 5.0
sedangkan sistem Antar muka program (interface) di desain dengan menggunakan
program Delphi 7.0 yang di buat oleh Borland Inc. Dengan demikian, kerja antar
kedua program ini (MySQL dan Delphi) dibantu oleh sebuah koneksi yakni
ODBC (Open Database Connectivity). ODBC adalah sebuah standar terbuka
untuk konektivitas antar mesin basis data. Standar ini menyediakan API yang
dapat digunakan untuk menjalankan dan mengoneksikan sebuah aplikasi dengan
sebuah sistem manajemen basis data (SMBD). Para desainer ODBC
membuatnya dengan tujuan agar ODBC terbebas dari penggunaan bahasa
pemrograman tertentu, sistem manajemen basis data tertentu, dan sistem operasi
tertentu.Dengan cara transaksi data yang bersifat stand alone (komputer mandiri)
maupun dengan sistem client-server (Jaringan), hal penting dalam proses ini
yakni, keseluruhan data tersimpan dalam harddisk pada komputer server. Jika
menggunakan sistem stand alone maka artinya komputer menjadi server sekaligus
client. Pada pengelolaan sistem informasi, perawatan data yang meliputi sistem
backup dan restore bisa didesain secara otomatis. Melalui pengaturan oleh
administrator program hal ini sangat membantu pengguna dalam mengamankan
data yang dimiliki. Dengan menggunakan program kartini, sistem pengelolaan
data dibagi dalam 2 kelompok berdasarkan fungsinya yakni, backup
menggunakan progam kartini dari Modul Administrator dan DUMP SQL FILE
dari program navicate. Apabila menggunakan fitur backup dari modul
administrator maka pemahaman pemeliharaan data disini adalah untuk melakukan
pengambilan data dari database PPWSKIA dari komputer di puskesmas untuk
selanjutnya dilakukan penyatuan data di komputer Dinas Kesehatan Kabupaten
(DKK). Sedangkan fitur di program navicate adalah untuk melakukan
pengamanan database PPWSKIA yang meluputi Struktur Data dan Record Data
Perbedaan pokok pada metode pertama dan kedua adalah pada metode pertama
yang diambil pada proses ini hanyalah Record Data saja tanpa memperhatikan
Struktur Data sehingga apabila terjadi kerusakan pada komputer yang
menyebabkan harus dilakukannya install ulang pada Operating System dengan
cara Format Hard Disk maka metode ini tidak mampu melakukan penyelamatan
data.

2.4 Prinsip Pengelolaan Program KIA

Pengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan


meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien.

6
Pemantapan pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok
sebagai berikut:
1. Peningkatan pelayanan antenatal bagi seluruh ibu hamil di semua
pelayanan kesehatan dengan mutu sesuai standar serta menjangkau seluruh
sasaran.
2. Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan diarahkan ke
fasilitas kesehatan.
3. Peningkatan pelayanan kesehatan bayi baru lahir, bayi dan anak balita di
semua pelayanan kesehatan yang bermutu dan sesuai standar serta
menjangkau seluruh sasaran.
4. Peningkatan deteksi dini risiko/komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.
5. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir secara
adekuat dan pengamatan secara terus-menerus oleh tenaga kesehatan.
6. Peningkatan pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak balita
sesuai standar dan menjangkau seluruh sasaran.
7. Peningkatan pelayanan KB berkualitas.
8. Peningkatan deteksi dini tanda bahaya dan penanganannya sesuai standar
pada bayi baru lahir, bayi dan anak balita.
9. Peningkatan penanganan bayi baru lahir dengan komplikasi sesuai standar.

Penjelasan dari di atas sebagai berikut:

1. Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal yang berkualitas adalah yang sesuai


dengan standar pelayanan antenatal seperti yang ditetapkan dalam buku
Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar
meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan),
pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan
khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam
penerapannya terdiri atas:

a. Timbang berat badan dan ukur Tinggi badan


b. Ukur Tekanan darah
c. Ukur Tinggi fundus uteri
d. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus
Toksoid (TT) bila diperlukan
e. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
f. Test laboratorium (rutin dan khusus)
g. Tata laksana kasus
h. Temu wicara (konseling).

7
Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan
hemoglobin, protein urine, gula darah, dan hepatitis B. Pemeriksaan
khusus dilakukan didaerah prevalensi tinggi dan atau kelompok perilaku
berrisiko dilakukan terhadap HIV, sifilis, malaria, tuberkulosis, kecacingan
dan thalasemia. Dengan demikian maka secara operasional, pelayanan
antenatal disebut layak apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta
memenuhi standar 7T tersebut. Ditetapkan pula bahwa frekuensi
pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan
distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai berikut :

a. Minimal 1 kali pada triwulan pertama.

b. Minimal 1 kali pada triwulan kedua.

c. Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan


untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini
risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.

2. Pertolongan Persalinan

Pada prinsipnya, penolong persalinan harus memperhatikan


hal-hal sebagai berikut :

a. Pencegahan infeksi

b. Metode pertolongan persalinan yang sesuai standar.

c. Merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi.

d. Melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).

e. Memberikan pada bayi baru lahir : Vit K 1, salep mata dan


imunisasi Hepatitis B0 (Hep B0).

3. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas

Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan


pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan
nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu:

a. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam setelah persalinan


sampai dengan 7 hari.

8
b. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah
persalinan.

c. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah


persalinan.

Pelayanan yang diberikan adalah :

Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.

Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).

Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.

Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.

Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24


jam).

Pelayanan KB pasca persalinan


4. Deteksi Dini dan penanganan risiko/komplikasi kebidanan dan bayi baru
lahir.
Penjaringan dini kehamilan berisiko adalah kegiatan yang
dilakukan untuk menemukan ibu hamil dengan risiko/komplikasi
kebidanan. Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi
tetap mempunyai risiko untuk terjadinya komplikasi. Oleh karenanya
deteksi dini oleh tenaga kesehatan dan masyarakat tentang adanya risiko
dan komplikasi, serta penanganan yang adekuat sedini mungkin,
merupakan kunci keberhasilan penurunan angka kematian ibu dan bayi
yang dilahirkannya. Faktor risiko pada ibu hamil adalah :

a. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.

b. Anak lebih dari 4.

c. Jarak persalinan terakhir dan kehamilan skarang kurang dari 2


tahun.

9
d. Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar lengan atas kurang
dari 23,5 cm, atau gizi buruk dengan Indeks massa tubuh

e. Anemia : Hemoglobin

f. Tinggi badan kurang dari 145 cm, atau dengan kelainan bentuk
panggul dan tulang belakang

g. Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum


kehamilan ini.

h. Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara lain:


Tuberkulosis, Kelainan jantung-ginjal-hati, Psikosis, Kelainan
endokrin (Diabetes Mellitus, Sistemik Lupus Eritematosus dll),
Tumor dan Keganasan

i. Riwayat kehamilan buruk: Keguguran berulang, Kehamilan


Ektopik Terganggu, Mola Hidatidosa, Ketuban Pecah Dini, Bayi
dengan cacat kongenital

j. Riwayat persalinan berisiko: Persalinan dengan seksio sesarea,


ekstraksi vakum/ forseps

k. Riwayat nifas berisiko: Perdarahan pasca persalinan, Infeksi masa


nifas, Psikosis post partum (post partum blues)

l. Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi


dan riwayat cacat kongenital.
Komplikasi pada ibu hamil, bersalin dan nifas antara lain:

a. Perdarahan pervaginam pada kehamilan: Keguguran, Plasenta


Previa, Solusio Plasenta

b. Hipertensi dalam Kehamilan (HDK): Tekanan darah tinggi (sistolik


>140 mmHg, diastolik >90 mmHg), dengan atau tanpa edema pre-
tibial.

c. Kelainan jumlah janin: Kehamilan ganda, janin dampit, monster.

d. Kelainan besar janin: Pertumbuhan janin terhambat, Janin besar.

10
e. Kelainan letak & posisi janin: Lintang/Oblique, Sungsang pada
usia kehamilan lebih dari 32 minggu.

f. Ancaman persalinan prematur.

g. Ketuban pecah dini.

h. Infeksi berat dalam kehamilan: Demam berdarah, Tifus


abdominalis, Sepsis.

i. Distosia: Persalinan macet, persalinan tak maju.

j. Perdarahan pasca persalinan: atonia uteri, retensi plasenta, robekan


jalan lahir, kelainan darah.

k. Infeksi masa nifas.


Sebagian besar kematian ibu dapat dicegah apabila
mendapat penanganan yang adekuat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Faktor waktu dan transportasi merupakan hal yang sangat menentukan
dalam merujuk kasus risiko tinggi. Oleh karenanya Deteksi faktor risiko
pada ibu baik oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat merupakan salah
satu upaya penting dalam mencegah kematian dan kesakitan ibu.

5. Penanganan Komplikasi Kebidanan

Pelayanan Nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar


pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga
kesehatan. Diperkirakan sekitar 15-20% ibu hamil akan mengalami
komplikasi kebidanan. Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak
selalu dapat diduga atau diramalkan sebelumnya, oleh karenanya semua
persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan agar komplikasi
kebidanan dapat segera dideteksi dan ditangani. Untuk meningkatkan
cakupan dan kualitas penanganan komplikasi kebidanan, maka diperlukan
adanya fasilititas pelayanan kesehatan yang mampu memberikan
pelayanan obstetri dan neonatal emergensi secara berjenjang mulai dari
bidan, puskesmas mampu PONED sampai rumah sakit PONEK 24 jam.
Pelayanan medis yang dapat dilakukan di Puskesmas mampu PONED
meliputi pelayanan obstetri yang terdiri dari :

a. Penanganan perdarahan pada kehamilan, persalinan dan nifas.

11
b. Pencegahan dan penanganan Hipertensi dalam Kehamilan (pre-
eklampsi dan eklampsi)

c. Pencegahan dan penanganan infeksi.

d. Penanganan partus lama/macet.

e. Penanganan abortus.

Sedangkan pelayanan neonatus meliputi :

a. Pencegahan dan penanganan asfiksia.

b. Pencegahan dan penanganan hipotermia.

c. Penanganan bayi berat lahir rendah (BBLR).

d. Pencegahan dan penanganan infeksi neonatus, kejang neonatus,


ikterus ringansedang

e. Pencegahan dan penanganan gangguan minum.

6. Pelayanan Kesehatan Neonatus

Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses


neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin
bila terdapat kelainan pada bayi atau bayi mengalami masalah kesehatan.
Risiko terbesar kematian Bayi Baru Lahir terjadi pada 24 jam pertama
kehidupan, minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Sehingga
jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal
di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama. Bidan dalam memberikan
pelayanan kesehatan neonatal I sekaligus memastikan bahwa bayi dalam
keadaan sehat pada saat bayi pulang atau bidan meninggalkan bayi jika
persalinan di rumah. Pelayanan kesehatan neonatal dasar menggunakan
pendekatan komprehensif, Manajemen Terpadu Bayi Muda untuk
bidan/perawat, yang meliputi:

a. Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan infeksi


bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah.

b. Perawatan tali pusat

c. Pemberian vitamin K1 bila belum diberikan pada saat lahir

12
d. Imunisasi Hep B 0 bila belum diberikan pada saat lahir

e. Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk memberikan ASI


eksklusif, pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru
lahir di rumah dengan menggunakan Buku KIA

f. Penanganan dan rujukan kasus

g. Pelayanan kesehatan neonatus (bayi berumur 0 - 28 hari)


dilaksanakan oleh dokter spesialis anak/dokter/bidan/perawat terlatih,
baik di fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah. Setiap
neonatus harus diberikan pelayanan kesehatan sedikitnya dua kali pada
minggu pertama, dan satu kali pada minggu kedua setelah lahir.

7. Pelayanan Kesehatan Bayi

Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi


terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila
terdapat kelainan pada bayi sehingga cepat mendapat pertolongan,
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan
pertumbuhan, imunisasi, serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan
stimulasi tumbuh kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan
pelayanan kesehatan terpenuhi. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi:

a. Pemberian imunisasi dasar (BCG, Polio 1-4, DPT-HB 1-3,


Campak)

b. Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi


(SDIDTK)

c. Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 - 11 bulan)

d. Konseling ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping


ASI

e. Konseling pencegahan hipotermi dan perawatan kesehatan bayi di


rumah menggunakan Buku KIA

f. Penanganan dan rujukan kasus

13
Pelayanan kesehatan bayi (29 hari-11 bulan) dilaksanakan
oleh dokter spesialis anak/dokter/bidan/perawat terlatih baik di fasilitas
kesehatan maupun melalui kunjungan rumah. Setiap bayi berhak
mendapatkan pelayanan kesehatan sedikitnya satu kali pada triwulan I,
satu kali pada triwulan II, satu kali pada triwulan III dan satu kali pada
triwulan IV. Pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi:

Kunjungan bayi antara umur 29 hari 3 bulan

Kunjungan bayi antara umur 3 6 bln

Kunjungan bayi antara umur 6 9 bln

Kunjungan bayi antara umur 9 11 bln


8. Pelayanan kesehatan anak balita

Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan


intelektual berkembang pesat. Masa ini merupakan masa keemasan atau
golden period dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan keindraan,
berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan
awal pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk
mengoptimalkan fungsi-fungsi organ tubuh dan rangsangan
pengembangan otak. Dilain pihak upaya deteksi dini gangguan
pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat
penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin dan atau mencegah gangguan
ke arah yang lebih berat . Pelayanan kesehatan anak balita adalah
pelayanan kesehatan terhadap anak yang berumur 12 - 59 bulan yang
sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan, ahli gizi, penyuluh kesehatan
masyarakat dan petugas sektor lain, yang meliputi :

a. Pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan yang tercatat


dalam Buku KIA/KMS, dan pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) serta mendapat Vitamin A 2 kali dalam
setahun.

b. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak


balita setiap bulan yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat badan
tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau berat badan anak balita di
bawah garis merah harus dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan

14
c. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan
motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal
2 kali pertahun (setiap 6 bulan). Pelayanan SDIDTK diberikan di dalam
gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung.

d. Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) diberikan


pada anak balita minimal 2 kali pertahun. Kepemilikan dan pemanfaatan
buku KIA oleh setiap anak balita

9. Pelayanan KB Berkualitas

Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB yang


sesuai dengan standar dengan menghormati hak individu sehingga
diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan dan menurunkan
tingkat fertilitas (kesuburan). Pelayanan KB bertujuan untuk menunda,
menjarangkan dan/atau menghentikan kehamilan, dengan menggunakan
metode kontrasepsi. Metode kontrasepsi meliputi:

a. KB alamiah (sistem kalender, metode amenore laktasi).

b. Metode KB hormonal (pil, suntik, susuk).

c. Metode KB non-hormonal (kondom, AKDR/IUD, vasektomi dan


tubektomi).

Sampai saat ini di Indonesia cakupan peserta KB aktif


(Contraceptive Prevalence Rate/CPR) mencapai 60,3% (SDKI 2002) dan
angka ini merupakan pencapaian tertinggi diantara negara-negara ASEAN.
Namun demikian metode yang dipakai lebih banyak menggunakan metode
jangka pendek seperti pil dan suntik. Menurut data SDKI 2002 akseptor
KB yang menggunakan suntik sebesar 21,1%, pil 15,4 %, AKDR 8,1%,
susuk 6%, tubektomi 3%, vasektomi 0,4% dan kondom 0,7%. Hal ini
terkait dengan tingginya angka putus pemakain (DO) pada metode jangka
pendek sehingga perlu pemantauan yang terus-menerus. Disamping itu
pengelola program KB perlu memfokuskan sasaran pada kategori PUS
dengan 4 terlalu (terlalu muda, tua, sering dan banyak). Untuk
mempertahankan dan meningkatkan cakupan peserta KB perlu diupayakan
pengelolaan program yang berhubungan dengan peningkatan aspek
kualitas, teknis dan aspek manajerial pelayanan KB. Dari aspek kualitas
perlu diterapkan pelayanan yang sesuai standard an variasi pilihan metode
KB, sedangkan dari segi teknis perlu dilakukan pelatihan klinis dan non-
klinis secara berkesinambungan. Selanjutnya aspek manajerial, pengelola

15
program KB perlu melakukan revitalisasi dalam segi analisis situasi
program KB dan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB.

2.5 Batasan dan Indikator Pemantauan

1. Batasan
a. Pelayanan antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga


kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai
dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan.

b. Penjaringan/deteksi dini kehamilan beresiko

Kegiatan ini bertujuan menemukn bumil bresiko/komplikasi oleh


kader, dukun bayi dan tenaga kesehatan.

c. Kunjungan ibu hamil

Yang dimaksud kunjungan ibu hamil disini adalah kontak


ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan
antenatal sesuai dengan standart yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini
tidak mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke fasilitas
pelayanan, tetapi tidak kontak tenaga kesehatan (di posyandu, pondok
bersalin desa, kunjungan rumah) dengan ibu hamil untuk dapat
memberikan pelayanan antenatal sesuai standar dapat dianggap sebagai
kunjungan ibu hamil.

d. Kunjungan baru ibu hamil (K1)

Adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa


kehamilan.

e. K4

Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat


atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang
ditetapkan dengan syarat :

1) Minimal 1 kali pada triwulan pertama.

16
2) Minimal 1 kali pada triwulan kedua.

3) Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

f. Kunjungan Neonatal (KN)

Adalah kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal 2


kali untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal
baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan didesa,
polindes dan kunjungan rumah) dengan ketentuan :

1) Kunjungan pertama kali pada hari pertama sampai hari ketujuh


(sejak 6 jam sampai setelah lahir 7 hari)

2) Kunjungan ke dua kali pada hari ke delapan sampai hari ke


duapuluh delapan (8-28 hari)

3) Pertolongan pertama oleh tenaga kesehatan bukan merupakan


kunjungan neonatal.

g. Kunjungan ibu nifas (KF)

Adalah kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan minimal 3 kali


untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik
didalam maupun diluar gedung puskesmas termasuk bidan didesa, polindes
dan kunjungan rumah dengan ketentuan :

1) Kunjungan pertama kali pada hari pertama sampai hari ketujuh (1-7
hari)

2) Kunjungan ke dua kali pada hari ke delapan sampai hari ke duapuluh


delapan (8-28 hari)

3) Kunjungan ketiga kali pada hari keduapuluh sembilan sampai


dengan hari ke empatpuluh dua (29-42hari)

h. Sasaran ibu hamil

Sasaran ibu hamil adalah jumlah semua ibu hamil disuatu wilayah
dalam kurun waktu 1 tahun.

i. Ibu hamil beresiko

17
Adalah ibu hamil yang mempunyai faktor resiko dan resiko tinggi.

2. Indikator Pemantauan

Indikator pemantauan terdiri dari 2 kelompok yaitu indikator


pemantauan tehnis dan non tehnis.

a. Indikator Pemantauan Teknis

1) Akses Pelayanan Antenatal (Cakupan KI)

Cakupan K1 adalah persentase ibu hamil yang pertama kali mendapat


pelayanan oleh tenaga kesehatan.
Indikator akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan
antenatal serta kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
Rumus yang dipakai untuk perhitungannya adalah :
Jumlah sasaran ibu hamil dalam 1 tahun
Contoh Perhitungan :

Untuk menghitung perkiraan jumlah ibu hamil di desa/kelurahan X


di kabupaten Y yang mempunyai penduduk sebanyak 2.000 jiwa, maka:
Jumlah ibu hamil = 1,10 X 0,027 (CBR kabupaten Y) x 2.000 = 59,4. Jadi
sasaran ibu hamil di desa/kelurahan X adalah 59 orang.

2) Cakupan Ibu Hamil (Cakupan K4)

Cakupan ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh
pelayanan antenatal sesuai dengan standar, paling sedikit empat kali disuatu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
antenatal sesuai dengan standar, paling sedikit empat kali dengan distribusi
pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan
pertama, satu kali pada triwulan kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga umur
kehamilan.
Kunjungan ibu hamil sesuai standar
Dengan indikator ini dapat diketahui cakupan pelayanan antenatal secara
lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan),
yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, di
samping menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan
program KIA.

18

3) Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn) yang memiliki


kompetensi kebidanan.

Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn) yang memiliki kompetensi


kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan disatu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu.
Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan dimulai dari kala
I sampai dengan kala IV persalinan.
Tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah tenaga
kesehatan yang memiliki kemampuan klinis kebidanan sesuai dengan
standar.
Dengan indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani
oleh tenaga kesehatan, dan ini menggambarkan kemampuan manajemen
program KIA dalam pertolongan persalinan sesuai standar.
Jumlah seluruh sasaran persalinan dalam 1 tahun diperkirakan melalui
perhitungan : CBR x 1,05 x Jumlah penduduk setempat.
Untuk menghitung perkiraan jumlah ibu bersalin di desa/kelurahan X di
kabupaten Y yang mempunyai penduduk sebanyak 2.000 jiwa, maka:
Jumlah ibu bersalin = 1,05 X 0,027 (CBR kabupaten Y) x 2.000 = 56,7. Jadi
sasaran ibu bersalin di desa/kelurahan X adalah 56 orang.

4). Cakupan pelayanan nifas oleh tenaga kesehatan

Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada
masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar.
Nifas adalah periode mulai 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.
Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya
3 kali, pada 6 jam pasca persalinan sampai dengan 3 hari, pada minggu
kedua, pada minggu ke empat termasuk pemberian vitamin A 2 kali serta
persiapan dan pemasangan KB pasca persalinan.
Jumlah seluruh ibu nifas dihitung melalui estimasi dengan rumus : 1,05 x
CBR x jumlah penduduk. Angka CBR dan jumlah penduduk kab/kota
didapat dari BPS masing masing kab/kota/propinsi pada kurun waktu
tertentu. 1,05 adalah konstanta untuk menghitung ibu nifas.
Dengan indikator ini dapat diketahui jangkauan dan kualitas pelayanan
kesehatan ibu nifas.

19

Contoh perhitungan :

Jumlah penduduk 500.000, angka kelahiran kasar (CBR) 2,3%, hasil


pelayanan nifas = 10.000 januari desember 2008. maka cakupan
pelayanan nifas adalah 10000 X 100% = 82,82% .

5) Penjaringan (deteksi) ibu hamil oleh masyarakat.

Dengan indikator ini dapat diukur tingkat kemampuan dan peran


serta masyarakat dalam melakukan deteksi ibu hamil beresiko di suatu
wilayah.

6) Cakupan pelayanan Neonatal (KN 1) oleh tenaga kesehatan

Dengan indikator ini dapat diketahui akses/ jangkauan dan kualitas


pelayanan kesehatan neonatal. Jumlah sasaran bayi dalam 1 tahun dihitung
berdasarkan jumlah perkiraan (angka proyeksi) bayi dalam suatu wilayah
tertentu. Contoh perhitungan :

Untuk menghitung jumlah perkiraan bayi di suatu desa Z diN Kabupaten


Dumai Propinsi Riau yang mempunyai penduduk sebanyak 1500 jiwa, maka
Jumlah bayi = 0,0248 (CBR Kabupaten Dumai) x 1500 = 37,2. Jadi sasaran
bayi di desa Z adalah 37 bayi.

7) Cakupan pelayanan nifas oleh tenaga kesehatan

Dengan indikator ini dapat diketahui jangkauan dan kualitas


pelayanan kesehatan ibu nifas

8) Penanganan komplikasi obstetri

Indikator ini menunjukkan kemampuan sarana pelayanan


kesehatan menangani kasus kasus kegawatdaruratan obstetri pada ibu
bersalin, yang kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangannya, atau
dapat dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi.

9) Penanganan komplikasi neonatal

Indikator ini menunjukkan kemampuan sarana pelayanan


kesehatan menangani kasus kasus kegawatdaruratan neonatal, yang

20
kemudian ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangannya, atau dapat dirujuk
ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi.

Indikator pemantauan program KIA tersebut merupakan indikator


yang digunakan para program pengelola KIA dan disesuaikan dengan
kebutuhan program. Oleh karena itu indikator tersebut disebut dengan
pemantauan tehnis.

b. Indikator pemantauan Non Teknis

Dalam upaya melibatkan lintas sektor terkait, khususnya para aparat


setempat, dipergunakan indikator indikator yang terpilih yaitu

1) Cakupan K1, yang menggambarkan keterjangkauan pelayanan KIA.

2) CakupanK4, yang menggambarkan kualitas pelayanan KIA.

3) Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN/ pernakes), yang


menggambarkan tingkat keamanan persalinan

4) Cakupan penanganan komplikasi kebidanan.

5) Cakupan kunjungan nifas.

6) Cakupan pelayanan KB aktif.

7) Cakupan kunjungan neonatus.

8) Cakupan kunjungan bayi.

Penyajian indikatorindikator tersebut kepada lintas sektor ditujukan


sebagai alat motivasi, informasi dan komunikasi dalam menyampaikan kemajuan
maupun permasalahan operasional program KIA, sehingga para aparat dapat
memahami program KIA dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Indikator
pemantauan ini dapat dipergunakan dalam berbagai pertemuan lintas sektor di
semua tingkat administrasi pemerintah secara berkala dan disajikan setiap bulan,
untuk melihat kemajuan suatu wilayah. Bagi wilayah yang cakupannya masih
rendah diharapkan lintas sektor dapat menindak lanjuti sesuai kebutuhan dengan
menggerakkan masyarakat dan menggali sumber daya setempat yang diperlukan.

21
2.6 Grafik Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak

PWS KIA disajikan dalam bentuk grafik dari tiap indikator yang
dipakai, yang juga menggambarkan pencapaian tiap desa/kelurahan
dalam tiap bulan. Langkah langkah pokok dalam pembuatan
grafik PWS KIA :

1. Penyiapan data

a. Data yang diperlukan untuk membuat grafik dari tiap indikator


diperoleh dari catatan ibu hamil per desa/kelurahan, register kegiatan harian,
register kohort ibu dan bayi, kegiatan pemantauan ibu hamil per
desa/kelurahan, catatan posyandu, laporan dari bidan/dokter praktik swasta,
rumah sakit bersalin dan sebagainya.

b. Untuk grafik antar wilayah, data yang diperlukan adalah data cakupan
per desa/kelurahan dalam kurun waktu yang sama

b. Misalnya: untuk membuat grafik cakupan K4 bulan juni di wilayah


kerja puskesmas X, maka diperlukan data cakupan K4 desa/kelurahan A,
desa/kelurahan B, desa/kelurahan C, dst pada bulan Juni.

c. Untuk grafik antar waktu, data yang perlu disiapkan adalah data
cakupan per bulan

d. Untuk grafik antar variabel diperlukan data variabel yang mempunyai


korelasi misalnya K1, K4 dan Pn.

2.7 Pembuatan Grafik.

Grafik Antar Wilayah ++++> PR

Contoh grafik cakupan K1 bulan Juni 2008 di puskesmas X.

Indikator Desa/ kelurahan A Desa/ kelurahan B Desa/ kelurahan C


Desa/ kelurahan D Puskesmas X

K1 Kumulatif

K1 Juni 2008 40% 30% 50% 60%

22
K1 Mei 2008

a. Perhitungan untuk cakupan K1(akses).

Pencapaian kumulatif per desa/kelurahan adalah :

Pencapaian cakupan kunjungan pertama ibu hamil per desa selama bulan
Juni 2007 X 100% .Sasaran ibu hamil per desa selama 1 tahun. Langkah
langkah yang dilakukan dalam membuat grafik PWS KIA (dengan
menggunakan contoh indikator cakupan K1) adalah sebagai berikut
menentukan target rata rata per bulan untuk menggambarkan skala pada
garis vertical (sumbu Y).

Misalnya : target cakupan ibu hamil baru (cakupan K1) dalam 1 tahun
ditentukan 100 % (garis a), maka sasaran pencapaian kumulatif sampai
dengan bulan Juni adalah (6 x 8,3 %) = 50,0% (garis b).

b. Hasil perhitungan pencapaian kumulatif cakupan K1 per


desa/kelurahan sampai dengan bulan Juni dimasukkan ke dalam jalur %
kumulatif secara berurutan sesuai peringkat. Pencapaian tertinggi di sebelah
kiri dan terendah di sebelah kanan, sedangkan pencapaian untuk puskesmas
dimasukkan ke dalam kolom terakhir.

c. Nama desa/kelurahan bersangkutan dituliskan pada lajur


desa/kelurahan, sesuai dengan cakupan kumulatif masingmasing
desa/kelurahan yang dituliskan pada butir b diatas.

d. Hasil perhitungan pencapaian pada bulan ini (Juni) dan bulan lalu
(Mei) untuk tiap desa/kelurahan dimasukkan ke dalam lajur masing
masing.

Gambar anak panah dipergunakan untuk mengisi lajur tren. Bila


pencapaian cakupan bulan ini lebih besar dari bulan lalu, maka digambar
anak panah yang menunjuk ke atas. Sebaliknya, untuk cakupan bulan ini
yang lebih rendah dari cakupan bulan lalu, digambarkan anak panah yang
menunjukkan kebawah, sedangkan untuk cakupan yang tetap/sama
gambarkan dengan tanda (-).

23

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Proses input, backup dan integrasi data pada program ini merupakan
kunci pokok dalam penggunan program ini sehingga data yang
tersimpan sesuai harapan.
2. Sistem informasi PWS KIA yang dibuat pemerintah melalui
kementerian kesehatan dalam pelaksanaannya masih banyak kendala-
kendala dan hambatan yang dihadapi, keterbatasan sistem yang
dikembangkan, kemampuan daerah, dan sumber daya manusia.

3.2 Saran

1. Perlunya dilakukan kajian mengenai kendala-kendala yang dihadapi


dalam pelaksanaan sistem informasi ini.
2. Perlu adanya pelatihan SDM secara periodik.
3. Perlu adanya sosialisasi mengenai program ini sehingga dat yang
tersedia dalam program ini dapat diakses oleh masyarakat pengguna
tanpa merubah, menambah atau menghapus data yang ada.

24

DAFTAR PUSTAKA

http://kesehatanibu.depkes.go.id Pemantauan Wilayah Setempat


Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA) Kartini . Diakses pada Rabu, 10
Agustus 2016

http://lindamelin.blogspot.co.id/2014/06/pemantauan-wilayah-setempat-
pws-kia.html Diakses pada Rabu, 10 Agustus 2016

https://staff.blog.ui.ac.id/r-suti/files/2010/03/buku-pws-bab-i-
pendahuluan.pdf Diakses pada Rabu, 10 Agustus 2016

25