Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Pasien Ny. A, usia 29 tahun, G4P2A1M0 datang ke rumah sakit pada tanggal 10
April 2015 dengan keluhan mules perut bagian bawah. mules jarang. Pengeluaran air-
air-dari jalan lahir disangkal, pengeluaran darah dari jalan lahir disangkal,
pengeluaran lendir dari jalan lahir (+) sedikit dan jarang. Pasien sebelumnya pernah
di USG pada tanggal 23 Januari 2015, dokter yang memeriksa mengatakan pasien
sedang hamil kembar dan usia kehamilan 23 minggu..
Sekarang Kehamilan keempat (G4P2A1M0) pasien. HPHT lupa. Total periksa
kehamilan 4 kali dengan bidan. Kehamilan pertama persalinan aterm spontan dengan
dukun, kehamilan kedua aterm spontan dengan dukun, kehamilan ketiga abortus pada
usia kehamilan 18 minggu dan tidak dikuret. Anak terakhir berusia 5 tahun. Riwayat
penggantian kontrasepsi oral ke suntikan sebelum hamil ke-4.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tanda-tanda vital dalam
batas normal yaitu tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 20
x/menit, dan suhu 36,30C. Status obstetrik pemeriksaan leopold Teraba bagian kepala
(keras dan melenting) pada fundus uteri kanan abdomen. Teraba punggung pada
bagian kanan ibu (keras, memanjang dan datar). Teraba bagian kepala (keras dan
melenting) pada pada bagian terbawah janin. Bagian terbawah janin belum masuk
pintu atas panggul. Tinggi fundus uteri 38 cm, denyut jantung janin 1 yaitu 142
x/menit teratur dan denyut jantung janin 2 yaitu 138 x/menit teratur. His jarang.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien ini memiliki kriteria
diagnostik preterm yaitu usia gestasi 22-36 minggu 1 (pada pasien 34-35 minggu) dan
terdapat penegluaran lendir sedikit, namun His belum adekuat, sehingga hanya
merupakan ancaman untuk persalinan preterm. Dari anamnesis didapatkan pasien
pernah memeriksa kandungan dengan USG dan dinyatakan kembar. Dari
pemeriksaan fisik leopold didapatkan bagian kepala janin ada dua di fundus kanan
abdomen dan bagian bawah janin, serta ditemukan 2 tempat berbeda sumber denyut
jantung janin yang mengindikasikan pasien memiliki kehamilan kembar2. Sehingga
diagnosis pasien ini adalah G4P2A1M0 hamil 34-35 minggu dengan gemelli letak

1
vertex-non vertex dan partus prematurus imminens. Salah satu komplikasi dari
gemelli adalah persalinan preterm yang mana dapat menyeybabkan berat badan lahir
rendah3. Resiko preterm ini diakibatkan oleh peregangan berlebih dari miometrium.
Agen simpatomimeik dapat diberikan sebagai profilaksis.
Pada pasien ini didapatkan riwayat keluarga dari sepupu ibunya memiliki anak
kembar. Ini merupakan faktor resiko terjadinya kehamilan gemelli dizigot. Gemelli
merupakan autosomal resesi melalui keturunan ibu2. Kehamilan gemelli dizigot
merupakan fertilisasi dari dua telur dengan dua sperma yang mnghasikan dikorionik,
diamnion4.
Saran peemriksaan pada pasien ini adalah USG untuk mengetahui perkiraan
usia kehamilan sekarang, estimasi berat janin I dan II dan mengetahui letak presentasi
dari janin yang sangat mempengaruhi tatalaksana pasien ini.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah menunda persalinan sampai aterm
dengan memberikan tokolitik beta-mimetik yaitu Isoxsuprine HCl. Cara kerja obat
tersebut adalah dengan cara merelaksasi otot uterus sehingga mencegah kontraksi
uterus. Indeks tokolitik > 8 menunjukkan kontraindikasi pemberian tokolitik

0 1 2 3 4
Kontraksi Tidak ada Irregular Regular - -
Ketuban Tidak ada - Tinggi/tidak - Rendah/pecah
pecah jelas
Perdarahan Tidak ada Spotting Perdarahan - -
Pembukaan Tidak ada 1 cm 2 cm 3 cm 4 cm

Pada pasien ini indeks tokolitiknya adalah 1 sehingga perlu diberikan tokolitik.
Deksametason perlu diberikan untuk pematangan paru selama 2 hari.
Deksametason bekerja mempertahankan surfaktan pada alveolus dengan
menyeimbangkan rasio lesitin/spingomielin >2. Manfaat optimal kortikosteroid
terlihat pada 24 jam setelah pemberian, puncaknya pada 48 jam dan berlanjut sampai
7 hari. Jika terapi preterm sukses dan kehamilan berlanjut sampai 1 minggu, tdak
perlu lagi memberikan kortikosteroid. Pemberian berulang dapat meningkatkan

2
abnormalitas pertumbuhan dan keetrlambatan perkembangan psikomotor pada bayi.
Tidak ada peningkatan resiko infeksi atau penekanan kelenjar adrenal1.
Penundaan persalinan dikontraindikasikan pada gawat janin, korioamnionitis
dan perdarahan antepartum banyak. Untuk rencana cara persalinan pada pasien
ini.rata-rata persalinan kembar terjajdi pada usia kehamilan 36 minggu atau berat
janin 2000 gram. Rute persalinan berdasarkan presentasi jika keduanya vertex
lakukan pervaginam karena dapat menyeybakan interlocked yang harus segera di SC.
Jika yang pertama presentasi nonvertex lakukan SC. SC juga direkomendasikan pada
monoamnionik karena memiliki resiko belitan tali pusat dan pada twin-twin
transfusion. SC dilakukan jika keduanya 2500 gr. SC jika salah satu janin
menunjukkan tanda gawat janin. SC jika keduanya nonvertex presentasi. SC juga
dilakukan pada nonvertx janin kedua dimana estimasi berat janin kedua melebihi
janin pertama. Pada janin pertama presentasi bokong dan kedua kepala dapat
menyeybakan interlocked yang harus segera di SC1.

DAFTAR PUSTAKA

3
1. Alan H. DeCherney, MD., Lauren Nathan, MD., T. Murphy Goodwin, MD.,
Neri Laufer, MD. 2007. Current Diagnosis and Treatments in Obstetrics and
Gynecology, 10 th ed. USA, McGraw-Hill Companies.
2. Kaplan. 2014. Obstetrics & Gynecology. USA. Kaplan Medical.
3. Neville F. Hacker, Joseph C. Gambone, Calvin J. Hobel. 2010. Essentials of
Obstetrics and Gynecology, 5th ed. USA. Saunders.
4. Geoffry, Chamberlain and Margery, Morgan. 2002. ABC of Antenatal Care,
4th ed. London. BMJ Book.