Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

Kanker Mammae Stadium Lanjut

Pembimbing :
dr. Lopo Triyanto, Sp.B (K) Onk

Disusun Oleh :
Nyimas Eva Fitriani G4A015064

SMF ILMU PENYAKIT BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN UMUM
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
PURWOKERTO

2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui tugas referat:


Kanker Mammae Stadium Lanjut

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian


di Bagian Ilmu Penyakit Bedah Program Profesi Dokter
di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh :

Nyimas Eva Fitriani G4A015064

Purwokerto, Februari 2017


Mengetahui,
Dokter Pembimbing,

dr. Lopo Triyanto, Sp.B (K) Onk


I. PENDAHULUAN

Kanker payudara adalah salah satu penyakit yang paling banyak


ditakuti oleh wanita karena kanker payudara banyak menyerang wanita.
Kanker payudara adalah penyakit yang bersifat ganas akibat tumbuhnya
sel kanker yang berasal dari sel-sel normal di payudara bisa berasal dari
kelenjar susu, saluran susu, atau jaringan penunjang seperti lemak dan
saraf (Sjamsuhidajat & De Jong, 2004).
Berdasarkan data dari IARC (International Agency for Research on
Cancer), pada tahun 2002 kanker payudara menempati urutan pertama dari
seluruh kanker pada perempuan (incident rate 38 per 100.000 perempuan)
dengan kasus baru sebesar 22,7% dan jumlah kematian 14% per tahun dari
seluruh kanker pada perempuan di dunia (Jemal et al., 2011).
The American Cancer Society memperkirakan 211.240 wanita di
Amerika Serikat didiagnosis menderita kanker payudara (stadium I-IV)
dan 40.140 orang meninggal pada tahun 2005. Selanjutnya, Canadian
Cancer Society mengatakan penderita kanker payudara pada tahun 2005 di
Kanada mencapai 21.600 wanita dan 5.300 orang meninggal dunia (Siegel
et al., 2013).
Insiden kanker di Indonesia masih belum diketahui secara pasti
karena belum ada registrasi kanker berbasis populasi yang dilaksanakan,
tetapi IARC memperkirakan insidens kanker payudara di Indonesia pada
tahun 2002 sebesar 26 per 100.000 perempuan (Supit, 2002).
Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KPD
menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%. (Data
Kanker di Indonesia Tahun 2010, menurut data Histopatologik ; Badan
Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia
(IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)). Diperkirakan angka
kejadiannya di Indonesia adalah 12/100.000 wanita, sedangkan di Amerika
adalah sekitar 92/100.000 wanita dengan mortalitas yang cukup tinggi
yaitu 27/100.000 atau 18 % dari kematian yang dijumpai pada wanita.
Penyakit ini juga dapat diderita pada laki - laki dengan frekuensi sekitar 1
%.Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan berada pada stadium
yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulit dilakukan. Oleh karena itu
perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini, pengobatan
kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan
pada penderita dapat dilakukan secara optimal (Komite Penanggulangan
Kanker Nasional).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Mammae
Payudara wanita dewasa berlokasi dalam fascia superficial dari
dinding depan dada. Dasar dari payudara terbentang dari iga kedua di
sebelah atas sampai iga keenam atau ketujuh di sebelah bawah, dan dari
sternum batas medialnya sampai ke garis midaksilrasis sebagai batas
lateralnya. Duapertiga dasar tersebut terletak di depan M.pectoralis major
dan sebagian M.serratus anterior. Sebagian kecil terletak di atas
M.obliquus externus.

Gambar 2. 1 anatomi Mammae


Gambar 2. 2 anatomi Mammae

Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus, beberapa lebih


besar daripada yang lainnya, berada dalam fascia superficial, dimana
dihubungkan secara bebas dengan fascia sebelah dalam. Antara fascia
superficial dan yang sebelah dalam terdapat ruang retromammary
(submammary) yang mana kaya akan limfatik.
Lobus-lobus parenkim beserta duktusnya tersusun secara radial
berkenaan dengan posisi dari papilla mammae, sehingga duktus berjalan
sentral menuju papilla seperti jari-jari roda berakhir secara terpisah di
puncak dari papilla.Segmen dari duktus dalam papilla merupakan bagian
duktus yang tersempit. Oleh karena itu, sekresi atau pergantian sel-sel
cenderung untuk terkumpul dalam bagian duktus yang berada dalam
papilla, mengakibatkan ekspansi yang jelas dari duktus dimana ketika
berdilatasi akibat isinya dinamakan lactiferous sinuse .Pada area bebas
lemak di bawah areola, bagian yang dilatasi dari duktus laktiferus
(lactiferous sinuses) merupakan satu-satunya tempat untuk menyimpan
susu.
Mammae diperdarahi dari 2 sumber, yaitu A. thoracica interna,
cabang dari A. axillaries, dan A. intercostal. Vena aksilaris, vena thoracica
interna, dan vena intercostals 3-5 mengalirkan darah dari kelenjar mamma.
Vena aksilaris terbentuk dari gabungan vena brachialis dan vena basilica,
terletak di medial atau superficial terhadaop arteri aksilaris, menerima juga
1 atau 2 cabang pectoral dari mammae.Setelah vena ini melewati tepi
lateral dari iga pertama, vena ini menjadi vena subclavia. Di belakang,
vena intercostalis berhubungan dengan sistem vena vertebra dimana
masuk vena azygos, hemiazygos, dan accessory hemiazygos, kemudian
mengalirkan ke dalam vena cava superior. Ke depan, berhubungan dengan
brachiocephalica. Mammae dipersarafi oleh nervus intercosta 2-6, dengan
cabang-cabangnya melewati permukaan kelenjar. 2 cabang mammae dari
nervus kutaneus lateral keempat juga mempersarafi papilla mammae.
Gambar 2. 3 vaskularisasi Mammae

Gambar 2.4 persarafan


Mammar

B. Kanker Payudara
1. Definisi
Kanker payudara (KPD) merupakan keganasan pada jaringan
payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya.
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di
Indonesia (Komite Penanggulangan Kanker Nasional).
2. Epidemiologi

Berdasarkan data dari IARC (International Agency for Research


on Cancer), pada tahun 2002 kanker payudara menempati urutan
pertama dari seluruh kanker pada perempuan (incident rate 38 per
100.000 perempuan) dengan kasus baru sebesar 22,7% dan jumlah
kematian 14% per tahun dari seluruh kanker pada perempuan di dunia
(Jemal et al., 2011).
The American Cancer Society memperkirakan 211.240 wanita di
Amerika Serikat didiagnosis menderita kanker payudara (stadium I-
IV) dan 40.140 orang meninggal pada tahun 2005. Selanjutnya,
Canadian Cancer Society mengatakan penderita kanker payudara pada
tahun 2005 di Kanada mencapai 21.600 wanita dan 5.300 orang
meninggal dunia (Siegel et al., 2013).
Insiden kanker di Indonesia masih belum diketahui secara pasti
karena belum ada registrasi kanker berbasis populasi yang
dilaksanakan, tetapi IARC memperkirakan insidens kanker payudara di
Indonesia pada tahun 2002 sebesar 26 per 100.000 perempuan (Supit,
2002).
Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, KPD
menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%.
(Data Kanker di Indonesia Tahun 2010, menurut data Histopatologik ;
Badan Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi
Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI)). Diperkirakan
angka kejadiannya di Indonesia adalah 12/100.000 wanita, sedangkan
di Amerika adalah sekitar 92/100.000 wanita dengan mortalitas yang
cukup tinggi yaitu 27/100.000 atau 18 % dari kematian yang dijumpai
pada wanita. Penyakit ini juga dapat diderita pada laki - laki dengan
frekuensi sekitar 1 %.Di Indonesia, lebih dari 80% kasus ditemukan
berada pada stadium yang lanjut, dimana upaya pengobatan sulit
dilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya
pencegahan, diagnosis dini, pengobatan kuratif maupun paliatif serta
upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada penderita dapat
dilakukan secara optimal (Komite Penanggulangan Kanker Nasional).

3. Faktor risiko dan Etiologi


a. Faktor risiko (Komite Penanggulangan Kanker Nasional)
1) Jenis kelamin perempuan
2) Usia > 50 tahun
3) Riwayat keluarga dan genetik (pembawa mutasi gen BRCA 1,
2 atau p53)
4) Riwayat penyakit payudara sebelumnya
5) Riwayat menstruasi dini atau lambat
6) Tidak memiliki anak
7) Hormonal
8) Obesitas
9) Konsumsi alkohol
10) Riwayta radiasi dinding dada
11) Faktor lingkungan
b. Etiologi
Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan
kejadian kanker payudara, namun belum diketahui secara pasti
penyebab terjadinya kanker payudara. Mutasi genetik yang terjadi
merubah sel normal menjadi sel kanker. Tubuh manusia memiliki
oncogen dan protogen. Oncogens merupakan yang berproliferasi
sangat cepat, sedangkan protogen memrupakan sel yang dapat
mensupresi proliferasi sel yang berlebihan, apabila terdapat ketidak
seimbangan anatara oncogen dan protogen maka akan terjadi
kanker (ACS, 2016).
Selain oncogen dan protogen, tubuh manusia juga memiliki
tumor suppresion genes, gen tersebut berfungsi sebagai repair
DNA yang memiliki kelainan, apabila gen tersebut tidak berfungsi
dengan baik maka DNA yang mengalami mutasi tidak dapat
diperbaiki dan akan menyebabkan kanker (ACS, 2016).
4. Penegakan Diagnosis
a. Gejala
Gejala yang timbul saat penyakit memasuki stadium lanjut, antara
lain (Khasanah, 2013):
1) Timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan
tangan, makin lama benjolan ini makin mengeras dan
bentuknya tidak beraturan
2) Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa
sakit (nyeri) saat payudara ditekan karena terbentuk penebalan
pada kulit payudara.
3) Bentuk, ukuran, atau berat salah satu payudara berubah kerena
terjadi pembengkakan.
4) Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak atau timbul
benjolan kecil di bawah ketiak.
5) Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah
diobati.
6) Terdapat keluhan tambahan seperti nyeri tulang (vertebrata,
femur), sesak nafas, perdarahan pervaginam, dan lain
sebagainya
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status lokalis,
regionalis, dan sistemik.Biasanya pemeriksaan fisik dimulai dengan
menilai status generalis (tanda vital-pemeriksaan menyeluruh
tubuh) untuk mencari kemungkinan adanya metastase dan atau
kelainan medis sekunder. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk
menilai status lokalis dan regionalis.Pemeriksaan ini dilakukan
secara sistematis, inspeksi dan palpasi.
1) Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan pasien duduk, pakaian atas dan bra
dilepas dan posisi lengan di samping, di atas kepala dan
bertolak pinggang.Inspeksi pada kedua payudara, aksila dan
sekitar klavikula yang bertujuan untuk mengidentifikasi tanda
tumor primer dan kemungkinan metastasis ke kelenjar getah
bening.
Inspkesi bentuk, ukuran, dan simetris dari kedua payudara,
apakah terdapat edema (peau dorange), retraksi kulit atau
puting susu, dan eritema.
Gambar 2. 5 inspeksi mammae
2) Palpasi
Palpasi payudara dilakukan pada pasien dalam posisi
terlentang (supine), lengan ipsilateral di atas kepala dan
punggung diganjal bantal. kedua payudara dipalpasi secara
sistematis, dan menyeluruh baik secara sirkular ataupun radial.
Palpasi aksila dilakukan dilakukan dalam posisi pasien duduk
dengan lengan pemeriksa menopang lengan pasien. Palpasi
juga dilakukan pada infra dan supraklavikula.
Dilakukan palpasi pada payudara apakah terdapat massa,
termasuk palpasi kelenjar limfe di aksila, supraklavikula, dan
parasternal. Setiap massa yang teraba atau suatu
lymphadenopathy, harus dinilai lokasinya, ukurannya,
konsistensinya, bentuk, mobilitas atau fiksasinya.
Gambar 2. 6 Palpasi Mammae
3) Status lokalis menilai (Komite Penanggulangan Kanker
Nasional):
a) Payudara kanan atau kiri atau bilateral
b) Massa tumor :
i. Lokasi
ii. Ukuran
iii. Konsistensi
iv. Bentuk dan batas tumor
v. Terfiksasi atau tidak ke kulit, m.pectoral atau
dinding dada
vi. Perubahan kulit
Kemerahan, dimpling, edema/nodul satelit
Peau de orange, ulserasi
vii. Perubahan puting susu/nipple
Tertarik
Erosi
Krusta
Discharge
4) Status kelenjar getah bening (Komite Penanggulangan Kanker
Nasional).
a) Kelenjar getah bening aksila: Jumlah, ukuran, konsistensi,
terfiksir terhadap sesama atau jaringan sekitar
b) Kelenjar getah bening infraklavikula:Jumlah, ukuran,
konsistensi, terfiksir terhadap sesama atau jaringan sekitar
c) Kelenjar getah bening supraklavikula:Jumlah, ukuran,
konsistensi, terfiksir terhadap sesama atau jaringan sekitar
5) Pemeriksaan pada daerah metastasis (Komite Penanggulangan
Kanker Nasional).
a) Lokasi : tulang, hati, paru, otak
b) Bentuk
c) Keluhan
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan kimia darah disesuaikan dengan perkiraan
metastasis
b) Tumor marker
2) Mammografi
Mammografi merupakan pemeriksaan yang paling dapat
diandalkan untuk mendeteksi kanker payudara sebelum
benjolan atau massa dapat dipalpasi. Karsinoma yang tumbuh
lambat dapat diidentifikasi dengan mammografi setidaknya 2
tahun sebelum mencapai ukuran yang dapat dideteksi melalui
palpasi (Ramli, 2015).
Protokol saat ini berdasarkan National Cancer Center
Network (NCCN) menyarankan bahwa setiap wanita diatas 20
tahun harus dilakukan pemeriksaan payudara setiap 3 tahun.
Pada usia di atas 40 tahun, pemeriksaan payudara dilakukan
setiap tahun disertai dengan pemeriksaan mammografi. Pada
suatu penelitian atas screening mammography, menunjukkan
reduksi sebesar 40% terhadap karsinoma mammae stadium II,
III dan IV pada populasi yang dilakukan skrining dengan
mammografi (Ramli, 2015).
3) Ultrasonografi (USG)
Penggunaan USG merupakan pemeriksaan penunjang
yang penting untuk membantu hasil mammografi yang tidak
jelas atau meragukan, baik digunakan untuk menentukan massa
yang kistik atau massa yang padat. Pada pemeriksaan dengan
USG, kista mammae mempunyai gambaran dengan batas yang
tegas dengan batas yang halus dan daerah bebas echo di bagian
tengahnya. Massa payudara jinak biasanya menunjukkan kontur
yang halus, berbentuk oval atau bulat, echo yang lemah di
bagian sentral dengan batas yang tegas. Karsinoma mammae
disertai dengan dinding yang tidak beraturan, tetapi dapat juga
berbatas tegas dengan peningkatan akustik. USG juga
digunakan untuk mengarahkan fine-needle aspiration biopsy
(FNAB), core-needle biopsy dan lokalisasi jarum pada lesi
payudara. USG merupakan pemeriksaan yang praktis dan
sangat dapat diterima oleh pasien tetapi tidak dapat mendeteksi
lesi dengan diameter 1 cm (Ramli, 2015).
4) Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI sangat sensitif tetapi tidak spesifik dan tidak
seharusnya digunakan untuk skrining. Sebagai contoh, MRI
berguna dalam membedakan karsinoma mammae yang rekuren
atau jaringan parut. MRI juga bermanfaat dalam memeriksa
mammae kontralateral pada wanita dengan karsinoma
payudara, menentukan penyebaran dari karsinoma terutama
karsinoma lobuler atau menentukan respon terhadap kemoterapi
neoadjuvan (Ramli, 2015).
5) Biopsi
Fine-needle aspiration biopsy (FNAB) dilanjutkan dengan
pemeriksaan sitologi merupakan cara praktis dan lebih murah
daripada biopsi eksisional dengan resiko yang rendah. Large-
needle (core-needle) biopsy mengambil bagian sentral atau inti
jaringan dengan jarum yang besar. Alat biopsi genggam
menbuat large-core needle biopsy dari massa yang dapat
dipalpasi menjadi mudah dilakukan di klinik dan cost-effective
dengan anestesi lokal (Ramli, 2015).
Open biopsy dengan lokal anestesi sebagai prosedur awal
sebelum memutuskan tindakan defintif merupakan cara
diagnosis yang paling dapat dipercaya. FNAB atau core-needle
biopsy, ketika hasilnya positif, memberikan hasil yang cepat
dengan biaya dan resiko yang rendah, tetapi ketika hasilnya
negatif maka harus dilanjutkan dengan open biopsy.Open
biopsy dapat berupa biopsy insisional atau biopsi eksisional.
Pada biopsi insisional mengambil sebagian massa payudara
yang dicurigai, dilakukan bila tidak tersedianya core-needle
biopsy atau massa tersebut hanya menunjukkan klinis curiga
suatu inflammatory carcinoma tetapi tidak tersedia core-needle
biopsy. Pada biopsi eksisional, seluruh massa payudara diambil
(Ramli, 2015).
6) Biomarker
Biomarker ini digunakan sebagai hasil akhir dalam
penelitian kemopreventif jangka pendek dan termasuk
perubahan histologis, indeks dari proliferasi dan gangguan
genetik yang mengarah pada karsinoma (Ramli, 2015).
Nilai prognostik dan prediktif dari biomarker untuk
karsinoma mammae antara lain petanda proliferasi seperti
proliferating cell nuclear antigen (PNCA), BrUdr dan Ki-67,
petanda apoptosis seperti bcl-2 dan rasio bax:bcl-2, petanda
angiogenesis seperti vascular endothelial growth factor
(VEGF) dan indeks angiogenesis, growth factors dan growth
factor receptors seperti human epidermal growth receptor
(HER)-2/neu dan epidermal growth factor receptor (EGFr) dan
p53 (Ramli, 2015).

5. Klasifikasi
Stadium kanker payudara ditentukan berdasarkan Sistem
Klasifikasi TNM American Joint Committee on Cancer (AJCC) 2010,
Edisi 7, untuk Kanker Payudara (Komite Penanggulangan Kanker
Nasional) :
a. Kategori T (Tumor)
TX Tumor primer tidak bisa diperiksa
T0 Tumor primer tidak terbukti
1) Tis Karsinoma in situ
2) Tis (DCIS) = ductal carcinoma in situ
3) Tis (LCIS) = lobular carcinoma in situ
4) Tis (Pagets) = Pagets disease pada puting payudara tanpa
tumor
T1 Tumor 2 cm atau kurang pada dimensi terbesar
1) T1mic Mikroinvasi 0.1 cm atau kurang pada dimensi
terbesar
2) T1 a Tumor lebih dari 0.1 cm tetapi tidak lebih dari 0.5 cm
pada dimensi terbesar
3) T1b Tumor lebih dari 0.5 cm tetapi tidak lebih dari 1 cm
pada dimensi terbesar
4) T1c Tumor lebih dari 1 cm tetapi tidak lebih dari 2 cm pada
dimensi terbesar
T2 Tumor lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm padadimensi
terbesar
T3 Tumor berukuran lebih dari 5 cm pada dimensi terbesar
T4 Tumor berukuran apapun dengan ekstensi langsung ke dinding
dada / kulit
1) T4a Ekstensi ke dinding dada, tidak termasuk otot pectoralis
2) T4b Edema (termasuk peau dorange) atau ulserasi kulit
payudara atau satellite skin nodules pada payudara yang
sama
3) T4c Gabungan T4a dan T4b
4) T4d Inflammatory carcinoma
b. Kelenjar Getah Bening (KGB) regional (N)
Nx KGB regional tak dapat dinilai (mis.: sudah diangkat)
N0 Tak ada metastasis KGB regional
N1 Metastasis pada KGB aksila ipsilateral level I dan II yang
masih dapat digerakkan
1) pN1mi Mikrometastasis >0,2 mm < 2 mm
2) pN1a 1-3 KGB aksila
3) pN1b KGB mamaria interna dengan metastasis mikro
melalui sentinel node biopsy tetapi tidak terlihat secara
klinis
4) pN1c T1-3 KGB aksila dan KGB mamaria interna
denganmetastasis mikro melalui sentinel node biopsy tetapi
tidakterlihat secara klinis
N2 Metastasis pada KGB aksila ipsilateral yang terfiksir atau
matted, atau KGB mamaria interna yang terdekteksi secara klinis*
jika tidak terdapat metastasis KGB aksila secara klinis.
a) N2a Metastatis pada KGB aksila ipsilateral yang terfiksir
satu sama lain (matted) atau terfiksir pada struktur lain
b) pN2a 4-9 KGB aksila
c) N2b Metastasis hanya pada KGB mamaria interna yang
terdekteksi secara klinis* dan jika tidak terdapat metastasis
KGB aksila secara klinis.
d) pN2b KGB mamaria interna, terlihat secara klinis tanpa
KGB aksila
N3 Metastatis pada KGB infraklavikula ipsilateral dengan atau
tanpa keterlibatan KGB aksila, atau pada KGB mamaria interna
yang terdekteksi secara klinis* dan jika terdapat metastasis KGB
aksila secara klinis; atau metastasis pada KGB supraklavikula
ipsilateral dengan atau tanpa keterlibatan KGB aksila atau mamaria
interna
a) N3a Metastasis pada KGB infraklavikula ipsilateral
b) pN3a > 10 KGB aksila atau infraklavikula
c) N3b Metastasis pada KGB mamaria interna ipsilateral dan
KGB aksila
d) pN3b KGB mamaria interna, terlihat secara klinis, dengan
KGB aksila atau >3 KGB aksila dan mamaria interna
dengan metastasis mikro melalui sentinel node biopsy
namun tidak terlihat secara klinis
e) N3c Metastasis pada KGB supraklavikula ipsilateral
f) pN3c KGB supraklavikula
*Terdeteksi secara klinis maksudnya terdeteksi pada pemeriksaan
imaging (tidak termasuk lymphoscintigraphy) atau pada
pemeriksaan fisis atau terlihat jelas pada pemeriksaan patologis
c. Metastasis Jauh (M)
Mx Metastasis jauh tak dapat dinilai
M0 Tak ada metastasis jauh
M1 Terdapat Metastasis jauh
Tabel 2.1 pembagian stadium kanker mammae

Stadium T M N
Stadium 0 Tis N0 M0
Stadium IA T1 N0 M0
Stadium IB T0 N1mic M0
T1 N1mic M0
Stadium IIA T0 N1 M0
T1 N1 M0
T2 N0 M0
Stadium IIB T2 N1 M0
T3 N0 M0
Stadium IIIA T0 N2 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N1-N2 M0
Stadium IIIB T4 N1-N2 M0
6. Stadium IIIC Semua T N3 M0
Stadium IV Semua T Semua N M1
Penatalaksanaan
Terapi pada kanker payudara harus didahului dengan diagnosa
yang lengkap dan akurat ( termasuk penetapan stadium ). Diagnosa
dan terapi pada kanker payudara haruslah dilakukan dengan
pendekatan humanis dan komprehensif (Komite Penanggulangan
Kanker Nasional).
Terapi pada kanker payudara sangat ditentukan luasnya penyakit
atau stadium dan ekspresi dari agen biomolekuler atau biomolekuler-
signaling.Terapi pada kanker payudara selain mempunyai efek terapi
yang diharapkan, juga mempunyai beberapa efek yang tak diinginkan
(adverse effect), sehingga sebelum memberikan terapi haruslah
dipertimbangkan untung ruginya dan harus dikomunikasikan dengan
pasien dan keluarga. Selain itu juga harus dipertimbangkan mengenai
faktor usia, co-morbid, evidence-based, cost effective, dan kapan
menghentikan seri pengobatan sistemik (Komite Penanggulangan
Kanker Nasional).
Penatalaksanaan kanker payudara lokal lanjut adalah (Komite
Penanggulangan Kanker Nasional):
a. Operabel (IIIA)
1)Mastektomi simpel + radiasi dengan kemoterapi adjuvant
dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target
2) Mastektomi radikal modifikasi + radiasi dengan
kemoterapi adjuvant, dengan/tanpa hormonal, dengan/
tanpa terapi target
3) Kemoradiasi preoperasi dilanjutkan dengan atau tanpa
Breast Conserving Therapy (BCT) atau mastektomi
simple, dengan/tanpa hormonal, dengan/tanpa terapi target
b. Inoperabel (IIIB)
1) Radiasi preoperasi dengan/tanpa operasi + kemoterapi +
hormonal terapi
2) Kemoterapi preoperasi/neoadjuvan dengan/tanpa operasi +
kemoterapi + radiasi + terapi hormonal + dengan/tanpa
terapi target

3) Kemoradiasi preoperasi/neoadjuvan dengan/tanpa operasi


dengan/ tanpa radiasi adjuvan dengan/ kemoterapi +
dengan/ tanpa terapi target
Penatalaksaan kanker payudara stadium lanjut, prinsipnya adalah
terapi paliatif, terapi sistemik merupakan terapi primer (kemoterapi
dan hormonal), terapi lokoregional (radiasi dan bedah) apabila
dibutuhkan, hospice home care. Apabila dibutuhkan penatalaksanaan
non medikamentosa berupa operatif, perlu dilakukan mastektomi
simple yaitu pengangkatan seluruh payudara beserta kompleks puting
areolar tanpa diseksi kelenjar getah bening aksila yang bertujuan
untuk menghilangkan tumor. Tindakan Salfingo Ovariektomi Bilateral
(SOB) pengangkatan kedua ovarium dengan/tanpa pengangkatan tuba
falopii baik secara terbuka mapun laparoskopo, namun tindakan ini
dilakukan hanya pada premenopausal dengan reseptor hormon positif
(Komite Penanggulangan Kanker Nasional)
Penatalaksanaan kanker payudara stadium lanjut menurut NCCN
adalah sebagai berikut (NCCN, 2006).

Kanker rekurens di
mamae

Terapi awal Terapi awal


mastektomi lumpectomy dan
terapi radiasi

Apabila dimungkinkan, hilangkan Mastektomi


kanker, kemudian terapi radiasi
apabila belum pernah diberikan
sebelumnya

Terapi hormon/ trastuzumab/ kemoterapi


setelah dilakukan operatif dan radiasi

Gambar 2. 7 alur penangan kanker payudara rekurens (NCCN,


2006)
Kanker
metastasis ke
organlain

Kanker Kanker tidak memiliki


mengandung reseptor hormon , atau tidak
reseptor hormon berespon terhadap terapi
hormon

Terapi Tidak diberikan (Human (Human


Antiestrogen terapi Epidermal Epidermal
sebelumnya antiestrogen Growth Growth
sebelumnya Factor Factor
Reseptor 2) Reseptor 2)
Terapi hormon HER 2/Neu + HER 2/Neu
lain -
Post Pre
menopausa menopausa
l l
Trastuzumab kemoterapi
dengan atau
tanpa
kemoterapi
Inhibitor Ablasi
aromatase ovarium
(anastrozol dan
e, Inhibitor
letrozole)/ aromatase
antiestroge (anastrozol
n e, Jika tidak terjadi respon, atau
(tamoxifen) letrozole)/ keadaan semakin memburuk
antiestroge
n
(tamoxifen)

Berikan terapi
suportif, dan
terapi
symtomatik
Gambar 2. 8 alur penangan kanker payudara metastasis (NCCN,
2006)
7. Prognosis
Survival rates untuk wanita yang didiagnosis karsinoma mammae
antara tahun 1983-1987 telah dikalkulasi berdasarkan pengamatan,
epidemiologi dan hasil akhir program data, didapatkan bahwa angka 5-
year survival untuk stadium I adalah 94%, stadium IIa 85%, IIb 70%,
dimana pada stadium IIIa sekitar 52%, IIIb 48% dan untuk stasium IV
adalah 18% (Komite Penanggulangan Kanker Nasional).
DAFTAR PUSTAKA

Americans Cancer Society (ACS). 2016. Breast Cancer. www.cancer.org

Jemal A, Bray F, Center MM, Ferlay J, Ward E, Forman D. 2011. Global cancer
statistics. CA Cancer J Clin. 61(2):69-90.

Khasanah. 2013. Mammary Carcinoma Stage IV With Signs Of Dyspneu And


Extremity Paraplegia Inferior. Medula. Vol 1. No 2

Komite Penanggulangan Kanker Nasional. Panduan Penatalaksanaan


Penatalaksanaan Kanker Payudara. Kementerian Kesehatan

National Comprehensive Cancer Network (NCCN). 2006. Breast Cancer


Treatment Guidelines For Patiens.

Ramli. 2015. Update Breast Cancer Management Diagnostic And Treatment.


Majalah Kedokteran Andalas. Vol 38. No 1

Siegel R, Naishadham D, Jemal A. 2013. Cancer statistics, 2013. CA Cancer J


Clin. 63(1):11-30.

Singh MM, Devi R, Walia I, Kumar R. 1999. Breast self examination for early
detection of breast cancer. Indian Journal of Medical Sciences. 53 (3): 120-
26.

Sjamsuhidajat R, De Jong W. 2004. Buku ajar ilmu bedah, edisi ke-2. Jakarta:
EGC. hlm. 388-89, 399-402.

Supit, IS. 2002. Deteksi Dini Keganasan Payudara dalam Deteksi Dini Kanker.
Jakarta : FK UI. hlm. 56-62.
Tiolena HR. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan
Pengobatan pada Wanita Penderita Kanker Payudara RSUP H. Adam
Malik Medan Tahun 2008. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.