Anda di halaman 1dari 2

Tugas Pancasila

Sebelum kita ke contoh peristiwa mari kita pahami dulu tentang pengertian
Toleransi dan demokrasi
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara
dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan
warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan,
pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan
budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara
Toleransi adalah membiarkan orang lain berpendapat lain,melakukan hal yang tidak sependapat
dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. istilah dalam
konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang
adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh
mayoritas dalam suatu masyarakat atau suatu lingkungan. Dimana dalam hal ini dunia
pendidikan yang baik harus menerapkan sikap dan prilaku yang memiliki nilai demokrasi dan
toleransi.
Pendidikan harus mampu melahirkan manusia-manusia yang demokratis.
Tanpa manusia-manusia yang memegang teguh nilai-nilai demokrasi,
masyarakat yang demokratis hanya akan merupakan impian belaka.
Kehidupan masyarakat yang demokratis harus didasarkan pada kesadaran
warga bangsa atas ide dan cita-cita demokrasi yang melahirkan kesadaran
dan keyakinan bahwa hanya dalam masyarakat demokratislah
dimungkinkan warga bangsa untuk memaksimalkan kesejahteraan dan
kebebasan.
Berbicara tentang demokrasi dalam dunia pendidikan.
demokrasi basa diterapkan di sekolah terhadap siswa. Dimana Siswa tersebut
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari generasi muda.
kita langsung mulai kedalam peristiwa yang melakukan penerapan nilai toleransi dan demokrasi
dalam dunia pendidikan Di lingkungan Sekolah
Peristiwa yang menggambarkan nilai demokrasi dan toleransi
Di sebuah organisasi di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri terdapat banyak sekali
organisasi ekstrakulikuler dan salah satunya yaitu Palang Merah Remaja (PMR). PMR ini sendiri
pun disetiap tingkatan pendidikan memiliki pangkat (gelar atau sebutan) masing-masing. Untuk
di Sekolah Dasar sederajat di sebut dengan Mula, sekolah menengah pertama disebut dengan
Madya, Untuk Sekolah Menengah Atas sendiri disebut dengan Wira, dan yang terakhir
dalam Perguruan Tinggi di sebut dengan KSR (Korp Suka Rela). Tetapi untuk KSR sendiri itu
sudah termasuk kedalam tinggatan yang lebih tinggi di atas PMR yaitu PMI (Palang Merah
Indonesia). Oke kita lanjut kebagian cerita tentang salah satu SMA negeri. Sekolah ini pun
sebenarnya tidak hanya mempunyai satu ekstkull,ada ekskull lainnya yang terdapat dalam
sekolah ini yaitu pramuka, sispala, paskibra, karate, taekwondo, kesenian, dan kerohanian. dalam
organisasi PMR ini pada beberapa waktu yang lalu mereka melakukan pemilihan kepengurusan
sekaligus Ketua untuk Tahun Ajaran baru yang mana hal ini merupakan budaya demokrasi yang
mereka lakukan dalam ekskull mereka ini. Tetapi tidak hanya hal ini yang merupakan penerapan
budaya demokrasi tetapi ada beberapa hal lainnya. Semisal hal lainnya yaitu pada kegiatan rapat,
pembagian tugas, dan hal-hal lainnya yang terjadi dalam kegiatan ekskull tersebut.
Tetapi pada suatu saat pernah terjadi ketidakpuasaan yang dialami oleh beberapa siswa
setelah rapat misalnya, mereka merasa pendapat-pendapatnya tidak didengar pada saat
rapat, ini menunjukkan apa yang menjadi keinginan atau harapan dari beberapa pengurus PMR
tidak tersalurkan. Terjadi juga setelah rapat mereka berbicara tentang ide-idenya yang tidak
mereka sampaikan pada saat rapat karena takut tidak diterima dalam pertemuan rapat. Pernah
suatu ketika beberapa pendapat pengurus PMR tidak diterima pada pertemuan rapat yang
mengakibatkan mereka tidak mendukung kegiatan PMR yang dilaksanakan. Sikap beberapa
pengurus PMR yang tidak mendukung kegiatan tersebut akhirnya menimbulkan hambatan-
hambatan dalam pelaksanaan kegiatan PMR. Berbagai persoalan yang terjadi dalam
kepengurusan PMR seharusnya tidak perlu terjadi apabila pengurus PMR memahami dan
melaksanakan budaya atau nilai-nilai demokrasi dalam PMR. Budaya demokrasi harus
dilaksanakan dalam kegiatan PMR demi membentuk relawan-relawan yang demokratis dan
memiliki budaya toleransi dalam sikap dan perilaku. Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana
mereka dalam hal itu Ketika kita Melihat dalam pertemuan, sikap dan perilaku pengurus dan
anggotanya. Kita bisa menilai penerapan budaya demokrasi dalam kegiatan ini. Dan sebenarnya
jika semua pihak dalam kepungurusan ini terutama ketua mau mendengarkan aspirasi dari
pengurus dan anggotanya, mereka pun bisa menerapkan nila toleransi dengan baik dan tidak
mengakibatkan hal buruk seperti yang terjadi sekarang. Mungkin dari kejadian ini kita bisa
belajar bahwa sangat penting sekali budaya penerapan nilai demokrasi dan toleransi didalam
kehidupan sehari-hari. Karena tanpa adanya penerapan kedua nilai tersebut sekali lagi kami
jelaskan Indonesia dalam impian dan cita-citanya untuk memiliki generasi muda yang
demokratis akan hanya menjadi impian belaka saja.