Anda di halaman 1dari 26

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Pengertian Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, ada dua istilah yang hampir sama

bentuknya dan juga sering digunakan, yaitu paedagogie dan

paedagigiek. Paedagogie berarti pendidikan, sedangkan

paedagogiek artinya ilmu pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu indikator utama

pembangunan dan kualitas sumber daya manusia, sehingga

kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas

pendidikan. Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting

dan strategis dalam pembangunan nasional, karena merupakan

salah satu penentu kemajuan suatu bangsa. Pendidikan bahkan

merupakan sarana paling efektif untuk meningkatkan kualitas hidup

dan derajat kesejahteraan masyarakat, serta yang dapat

mengantarkan bangsa mencapai kemakmuran.

Tilaar (2002: 435) menyatakan bahwa hakikat pendidikan

adalah memanusiakan manusia, yaitu suatu proses yang melihat

manusia sebagai suatu keseluruhan di dalam eksistensinya.

Mencermati pernyataan dari Tilaar tersebut dapat diperoleh

gambaran bahwa dalam proses pendidikan, ada proses belajar dan


14

pembelajaran, sehingga dalam pendidikan jelas terjadi proses

pembentukan manusia yang lebih manusia. Proses mendidik dan

dididik merupakan perbuatan yang bersifat mendasar

(fundamental), karena di dalamnya terjadi proses dan perbuatan

yang mengubah serta menentukan jalan hidup manusia.

Dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003

pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk


mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara.

Pengertian pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang

Sisdiknas tersebut menjelaskan bahwa pendidikan sebagai proses

yang di dalamnya seseorang belajar untuk mengetahui,

mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah

laku lainnya untuk menyesuaikan dengan lingkungan di mana dia

hidup. Hal ini juga sebagaimana yang dinyatakan oleh Muhammad

Saroni (2011: 10) bahwa, pendidikan merupakan suatu proses

yang berlangsung dalam kehidupan sebagai upaya untuk

menyeimbangkan kondisi dalam diri dengan kondisi luar diri.

Proses penyeimbangan ini merupakan bentuk survive yang

dilakukan agar diri dapat mengikuti setiap kegiatan yang

berlangsung dalam kehidupan. Beberapa konsep pendidikan yang


15

telah dipaparkan tersebut meskipun terlihat berbeda, namun

sebenarnya memiliki kesamaan dimana di dalamnya terdapat

kesatuan unsur-unsur yaitu: pendidikan merupakan suatu proses,

ada hubungan antara pendidik dan peserta didik, serta memiliki

tujuan.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa

pendidikan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi

(penyusunan kembali) pengalaman yang bertujuan menambah

efisiensi individu dalam interaksinya dengan lingkungan.

Dalam tujuan pembangunan, pendidikan merupakan sesuatu

yang mendasar terutama pada pembentukan kualitas sumber daya

manusia. Menurut Herbison dan Myers (Panpan Achmad Fadjri,

2000: 36) pembangunan sumber daya manusia berarti perlunya

peningkatan pengetahuan, keterampilan dari kemampuan semua

orang dalam suatu masyarakat. Tujuan pendidikan memuat

gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan

indah untuk kehidupan. Melalui pendidikan selain dapat diberikan

bekal berbagai pengetahuan, kemampuan dan sikap juga dapat

dikembangkan berbagai kemampuan yang dibutuhkan oleh setiap

anggota masyarakat sehingga dapat berpartisipasi dalam

pembangunan.

Tujuan pokok pendidikan adalah membentuk anggota


masyarakat menjadi orang-orang yang berpribadi,
berperikemanusiaan maupun menjadi anggota masyarakat
yang dapat mendidik dirinya sesuai dengan watak
16

masyarakat itu sendiri, mengurangi beberapa kesulitan atau


hambatan perkembangan hidupnya dan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan hidup maupun mengatasi
problematikanya (Nazili Shaleh Ahmad, 2011: 3).

Pentingnya pendidikan tercermin dalam UUD 1945, yang

mengamanatkan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga

negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini

kemudian dirumuskan dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 yang

menyebutkan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan


kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab

Mencermati tujuan pendidikan yang disebutkan dalam

Undang-Undang Sisdiknas tersebut dapat dikemukakan bahwa

pendidikan merupakanwahana terbentuknya masyarakat madani

yang dapat membangun dan meningkatkan martabat bangsa.

Pendidikan juga merupakan salah satu bentuk investasi manusia

yang dapat meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Kyridis, et al. (2011: 3) mengungkapkan bahwa for many years the

belief that education can increase social equality and promote

social justice, has been predominant. Hal senada dikemukakan

oleh Herera (Muhadjir Darwin, 2010: 271) bahwa melalui


17

pendidikan, transformasi kehidupan sosial dan ekonomi akan

membaik, dengan asumsi bahwa melalui pendidikan, maka

pekerjaan yang layak lebih mudah didapatkan. Dari apa yang

dikemukaka oleh Kyridis dkk dan Herera tersebut dapat memberi

gambaran bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan

dasar yang sangat penting dalam mencapai kesejahteraan hidup.

Todaro & Smith (2003: 404) menyatakan bahwa pendidikan

memainkan peran kunci dalam membentuk kemampuan manusia

untuk menyerap teknologi modern, dan untuk mengembangkan

kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang

berkelanjutan. Jadi, pendidikan dapat digunakan untuk menggapai

kehidupan yang memuaskan dan berharga. Dengan pendidikan

akan terbentuk kapabilitas manusia yang lebih luas yang berada

pada inti makna pembangunan. Hal senada juga diungkapkan oleh

Bruns, dkk (2003: 1) bahwa:

Education is fundamental for the construction of globally


competitive economies and democratic societies. Education
is key to creating, applying, and spreading new ideas and
technologies which in turn are critical for sustained growth; it
augments cognitive and other skills, which in turn increase
labor productivity.

Ilmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah yang bersifat kritis,

metodis dan sistematis. Kritis artinya semua pernyataan harus

mempunyai dasar yang kuat. Metodis artinya proses berfikir dan

menyelidiki, menggunakan cara-cara tertentu. Sistematis artinya

pemikir ilmiah dalam prosesnya di jiwai oleh ide yang menyeluruh


18

sehingga pikiran dan pendapatnya merupakan satu kesatuan

(Drikarya, 2000, p1).

Pendidikan menurut Carter V. Good dimaknai oleh

Djumransjah dalam bukunya Filsafat Pendidikan sebagai proses

sosial yang dapat mempengaruhi individu. Pendidikan menentukan

cara hidup seseorang, karena terjadinya modifikasi dalam

pandangan seseorang disebabkan pula oleh terjadinya pengaruh

interaksi antara kecerdasan, perhatian, pengalaman dan

sebagainya. Pengertian itu dapat dikatakan hampir sama dengan

apa yang dikatakan Godfrey Thompson bahwa pendidikan

merupakan pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan

perubahan-perubahan yang tetap di dalam kebiasaan tingkah

lakunya, pikirannya dan sikapnya

Tim Dosen IKIP Malang dalam bahasan mereka

menyimpulkan pengertian pendidikan sebagai berikut: Aktifitas dan

usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan

membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa,

cipta dan budi nurani), dan jasmani (pancaindera serta

keterampilan).

a. Lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita

(tujuan) pendidikan, isi, sistem, dan organisasi

pendidikan. Lembaga-lembaga ini meliputi keluarga,

sekolah dan masyarakat (negara).


19

b. Hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan

manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam

mencapai tujuannya.

Dalam pengertian yang sederhana dan umum, makna

pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan

mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani

maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam

masyarakat dan kebudayaan. Sebagaimana yang dikemukakan

oleh para tokoh UNESCO bahwa education is now engaged is

preparinment for a tipe society which does not yet exist. Atau,

sekarang ini pendidikan sibuk mempersiapkan manusia bagi suatu

tipe masyarakat yang belum ada.

Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan yang telah

diuraikan tadi, maka terdapat beberapa ciri atau unsur umum yang

dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu

individu yang kemampuan-kemampuan dirinya

berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan

hidupnya, baik sebagai seorang individu maupun sebagai

warga negara atau warga masyarakat.

b. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu

melakukan usaha yang disengaja dan terencana untuk


20

memilih isi (bahan materi), strategi kegiatan, dan teknik

penilaian yang sesuai.

c. Kegiatan tersebut dapat diberikan di lingkungan keluarga,

sekolah dan masyarakat, berupa pendidikan jalur sekolah

(formal) dan pendidikan jalur luar sekolah (informal dan

nonformal).

Menurut Wanei (2000, pp10-11), penggolongan pendidikan

menurut pengelolaannya sebagai berikut :

a. Pendidikan Informal

Merupakan pendidikan yang diperoleh seseorang secara

sadar atau tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari

sepanjang hidupnya, bisa berasal dari keluarga,

pekerjaan, pergaulan.

Ciri-cirinya adalah: 1) Tidak diselenggarakan secara

khusus; 2) Lingkungan pendidikan tidak diadakan dengan

maksud khusus menyelenggarakan pendidikan; 3) Tidak

diprogram secara khusus; 4) Tidak ada waktu belajar

tertentu; 5) Metodenya tidak formal; 5) Tidak ada evaluasi

yang sistematis dan 6) Tidak diselenggarakan oleh

pemerintah.

b. Pendidikan Formal
21

Merupakan pendidikan yang diperoleh seseorang

disekolah secara teratur, sistematis bertingkat dan

mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.

Ciri-cirinya adalah : 1) Diselenggarakan secara khusus;

2) Usia relatif homogeny; 3) Waktu pendidikan relatif

sama; 4) Isi pendidikan bersifat akademis umum; 5) Mutu

pendidikan ditekankan sebagai jawaban terhadap

kebutuhan dimasa yang akan datang.

c. Pendidikan Nonformal

Merupakan pendidikan yang diperoleh seseorang secara

teratur, terarah disengaja tetapi tidak mengikuti peraturan

yang ketat.

Ciri-cirinya adalah : 1) Diselenggarakan sengaja di luar

sekolah; 2) Peserta pada umumnya sudah tidak

bersekolah; 3) Tidak mengenal jenjang; 4) Program

pendidikan untuk jangka pendek; 5) Usia tidak perlu

homogeny; 6) Ada waktu belajar dan metode formal serta

evaluasi sistematis; 7) Isi pendidikan bersifat praktis dan

khusus dan 8) Keterampilan kerja merupakan jawaban

terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup.

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Barbara dkk

tersebut tampak bahwa, pendidikan merupakan dasar bagi

pembangunan ekonomi dan masyarakat. Pendidikan merupakan


22

kunci untuk menciptakan ide-ide baru dan teknologi yang sangat

penting dalam keberlanjutan pembangunan, bahkan dengan

pendidikan pula akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Dari

berbagai tujuan pendidikan yang telah dikemukakan dapat ditarik

suatu kesimpulan bahwa, tujuan pendidikan adalah membentuk

sumber daya manusia yang handal dan memiliki kemampuan

mengembangkan diri untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Hal ini berarti, dengan pendidikan manusia akan memiliki bekal

kemampuan dasar untuk mengembangkan kehidupan sebagai

pribadi, anggota masyarakat, warga negara ataupun sebagai

bagian dari anggota masyarakat dunia. Dengan pendidikan pula,

memungkinkan sesorang memiliki kesempatan untuk dapat

meningkatkan taraf hidupannya menjadi lebih baik dan sejahtera.

Salah satu ciri upaya pengembangan pendidikan yang

relevant adalah peralihan dari pola pendidikan teacher centered

learning ke pola student centered learning. Pola teacher centered

learning adalah pola pendidikan yang menekankan peranan tenaga

kerja pengajar dimana tenaga pengajar dianggap sebagai sumber

belajar utama. Sedangkan pola student centered learning adalah

pola pendidikan yang menekankan peranan siswa, dimana siswa

dipandang sebagai titik pusat terjadinya proses belajar. Disini siswa

sebagai subjek yang berkembang melalui pengalaman belajar dan


23

tenaga pengajar lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator

belajarnya siswa (Suryabrata, 2001, pp1-2).

2. Pengertian Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja identik dengan Sasaran Pembangunan

Nasional, khususnya pembangunan ekonomi. Oleh karena

kesempatan kerja merupakan sumber pendapatan bagi mereka

yang memperoleh kesempatan kerja, di samping merupakan

sumber dari peningkatan Pendapatan Nasional, melalui

peningkatan Produk Nasional Bruto. Oleh karena itulah dalam

GBHN pun disebutkan bahwa tujuan Pembangunan Nasional di

samping meningkatkan produksi nasional, maka pertumbuhan

ekonomi harus mempercepat pula pertumbuhan lapangan

pekerjaan, oleh karena kesempatan kerja bukan saja memiliki nilai

ekonomis, tetapi juga mangadung nilai kemanusiaan dengan

menumbuhkan rasa harga diri, sehingga memberikan isi kepada

asas kemanusian.

Kesempatan kerja juga dapat diartikan sebagai permintaan

tenaga kerja (demand for labor) yaitu suatu keadaan yang

menggambarkan tersedianya lapangan kerja yang siap diisi oleh

para penawar kerja (pencari kerja). Pertumbuhan angkatan kerja

yang masih tinggi serta keterbatasan kesempatan kerja akan

mengakibatkan semakin meningkatnya tingkat pengangguran.


24

Secara konsisten pertumbuhan angkatan kerja ini masih selalu

lebih besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk.

Disamping itu angkatan kerja yang termasuk setengah

pengangguran masih tetap tinggi. Hal ini menandakan bahwa

produktivitas para tenaga kerja tersebut belum optimal. Dimana

kesempatan kerja merupakan perbandingan antara jumlah

angkatan kerja yang bekerja terhadap angkatan kerja.

Sejak tahun 1976 hingga saat ini, konsep dan defenisi

perihal ketenagakerjaan yang dipakai Badan Pusat Statistik adalah

sama. Konsep dan defenisi tersebut sesuai dengan The Labour

Force Concept yang disarankan oleh International Labor

Organization (ILO). Pendekatan inipun banyak diterapkan oleh

Negara-negara berkembang selain Indonesia.

Konsep dan defenisi yang digunakan oleh Badan Pusat

Statistik dalam penelitian ketenagakerjaan sejak tahun 1976 adalah

sebagai berikut :

a. Bekerja adalah mereka yang melakukan suatu pekerjaan

dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh

pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling

sedikit 1 jam yang secara kontiniu dalam seminggu yang lalu

(seminggu sebelum pencacahan). Dengan demikian pekerjaan

keluarga tanpa upah yang membantu dalam satu

usaha/kegiatan ekonomi, dimasukkan sebagai pekerja.


25

b. Punya pekerjaan, sementara tidak bekerja adalah mereka yang

mempunyai pekerjaan, tetapi selama seminggu yang lalu tidak

bekerja karena berbagai alas an seperti sakit, cuti, menunggu

panen, mogok dan sebagainya, termasuk mereka yang sudah

diterima bekerja tetapi selama seminggu yang lalu belum

bekerja. Mereka ini dikategorikan sebagai bekerja.

c. Mencari pekerjaan adalah mereka yang tidak bekerja dan

mencari pekerjaan seperti mereka yang belum pernah dan atau

mereka yang sudah pernah bekerja karena sesuatu hal berhenti

atau diberhentikan dan saling berusaha untuk mendapatkan

pekerjaan. Seseorang yang mencari pekerjaan tetapi dia sudah

punya pekerjaan atau masih sedang bekerja, tetapi digolongkan

sebagai bekerja.

d. Sekolah adalah mereka yang melakukan kegiatan bersekolah

disekolah formal, mulai dari pendidikan dasar sampai dengan

pendidikan tinggi selama seminggu yang lalu sebelum

pencacahan .Termasuk pula kegiatan dari mereka yang sedang

libur sekolah.

e. Mengurus Rumah Tangga adalah mereka yang mengurus

rumah tangga tanpa mendapatkan upah, misalnya ibu-ibu

rumah tangga atau anaknya yang membantu mengurus rumah

tangga. Sebaliknya pembantu rumah tangga yang mendapatkan


26

upah walaupun pekerjaannya mengurus rumah tangga

dianggap bekerja.

f. Kegiatan lainnya kegiatan seseorang selain disebutkan di atas,

yakni mereka yang sudah pensiun, penerima royalty, penerima

deviden dan orang-orang yang cacat jasmani (buta, bisu dan

sebagainya) yang tidak mampu melakukan pekerjaan.

g. Pendidikan tinggi yang ditamatkan adalah tingkat pendidikan

yang dicapai seseorang setelah mengikuti pelajaran pada kelas

tertinggi suatu tingkatan sekolah dengan mendapatkan tanda

tamat (ijazah).

h. Jumlah jam kerja seluruh pekerjaan adalah jumlah jam kerja

yang dilakukan oleh seseorang (tidak termasuk jam kerja

istirahat resmi dan jam kerja yang digunakan untuk hal-hal di

luar pekerjaan) selama seminggu yang lalu. Bagi pedagang

keliling, jumlah jam kerja dihitung mulai berangkat dari rumah

sampai tiba kembali di rumah dikurangi waktu yang tidak

merupakan jamlah kerja, seperti mampir ke rumah famili/kawan

dan sebagainya.

i. Lapangan usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/

perusahaan/ kantor tempat seseorang bekerja.

j. Jenis Pekerjaan/Jabatan adalah macam pekerjaan yang

dilakukan oleh seseorang/atau ditugaskan kepada seseorang

yang sedang bekerja atau yang sementara tidak bekerja.


27

k. Upah/gaji bersih adalah penerimaan buruh/karyawan berupa

uang atau barang yang dibayarkan perusahaan/kantor/majikan

tersebut. Penerimaan dalam bentuk barang dinilai dengan

barang setempat. Penerimaan bersih yang dimaksud tersebut

adalah setelah dikurangi dengan potonganpotongan iuran

wajib, pajak penghasilan dan sebagainya oleh

perusahaan/kantor/majikan.

l. Status pekerjaan adalah kedudukan seseorang dalam

melakukan pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Mulai tahun

2001 status pekerjaan dibedakan menjadi 7 kategori yaitu :

1) Berusaha sendiri adalah bekerja atau berusaha dengan

menanggung resiko secara ekonomis, yaitu dengan tidak

kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam

rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja

tak dibayar, termasuk yang sifat pekerjaannya memerlukan

teknologi atau keahlian khusus

2) Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar adalah

bekerja atau berusaha atas resiko sendiri dan menggunakan

buruh/pekerja tak dibayar dan atau buruh/pekerja tidak tetap.

3) Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar adalah

berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling

sedikit satu orang buruh/pekerja tetap yang dibayar.


28

4) Buruh/karyawan/pegawai adalah seseorang yang bekerja

pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara

tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun

barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak di

golongkan sebagai buruh/karyawan, tetapi sebagai pekerja

bebas. Seseorang dianggap memiliki majikan tetap jika

memiliki 1 majikan (orang/rumah tangga) yang sama

sebulan terakhir, khusus pada sektor bangunan batasannya

tiga bulan. Apabila majikannya instansi/lembaga boleh lebih

dari satu.

5) Pekerja bebas di pertanian adalah seseorang yang bekerja

pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari

1 majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian baik

berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah

tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau

imbalan baik berupa uang atau barang, dan baik dengan

sistem pembayaran harian maupun borongan. Usaha

pertanian meliputi : pertanian tanaman pangan, perkebunan,

kehutanan, peternakan, perikanan dan perburuan, termasuk

juga jasa pertanian.

6) Pekerja bebas di non pertanian adalah seseorang yang

bekerja pada orang lain/majikan/institusi yang tidak tetap

(lebih dari 1 majikan dalam sebulan terakhir), di usaha non


29

pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa

uang maupun barang dan baik dengan sistem pembayaran

harian maupun borongan. Usaha non pertanian meliputi :

usaha di sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air,

sektor konstruksi/bangunan, sektor perdagangan, sektor

angkutan, pergudangan dan komunikasi, sektor keuangan,

asuransi, upah persewaan bangunan, tanah dan jasa

perusahaan, sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan

perorangan.

7) Pekerja tak dibayar adalah seseorang yang bekerja

membantu orang lain yang berusaha dengan tidak mendapat

upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Pekerja tak

dibayar tersebut dapat terdiri dari :

a) Anggota rumah tangga dari orang yang dibantunya,

seperti istri yang membantu suaminya bekerja di sawah.

b) Bukan anggota rumah tangga tetapi keluarga dari orang

yang dibantunya, seperti famili yang membantu melayani

penjualan di warung.

c) Bukan anggota rumah tangga dan bukan keluarga dari

orang yang dibantunya, seperti orang yang membantu

menganyam topi pada industri rumah tangga

tetangganya.
30

m. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (10 tahun dan lebih)

yang bekerja atau punya pekerjaan sementara tidak bekerja dan

atau mereka yang mencari pekerjaan. Mereka adalah penduduk

usia kerja dengan kegiatan, seperti pada butir 1, 2, dan 3 di atas

selama seminggu sebelum pencacahan.

n. Bukan Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja dengan

kegiatan kerja seperti pada butir 4, 5, dan 6 di atas selama

seminggu sebelum pencacahan.

o. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja atau dalam penulisan ini

dinyatakan dengan kesempatan/peluang kerja adalah

persentase angkatan kerja tehadap total penduduk usia kerja.

Kesempatan kerja secara umum diartikan sebagai suatu

keadaan yang mencerminkan jumlah dari total angkatan kerja yang

dapat diserap atau ikut secara aktif dalam kegiatan perekonomian.

Kesempatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang

bekerja atau disebut pula pekerja. Bekerja yang dimaksud disini

adalah paling sedikit satu jam secara terus menerus selama

seminggu yang lalu

Esmara (1995 : 134), kesempatan kerja dapat diartikan

sebagai jumlah penduduk yang bekerja atau orang yang sudah

memperoleh pekerjaan; semakin banyak orang yang bekerja

semakin luas kesempatan kerja.


31

Sagir (1994 : 52), memberi pengertian kesempatan kerja

sebagai lapangan usaha atau kesempatan kerja yang tersedia

untuk bekerja akibat dari suatu kegiatan ekonomi, dengan demikian

kesempatan kerja mencakup lapangan pekerjaan yang sudah diisi

dan kesempatan kerja juga dapat diartikan sebagai partisipasi

dalam pembangunan. Sedangkan Sukirno (2000 : 68), memberikan

pengertian kesempatan kerja sebagai suatu keadaan dimana

semua pekerja yang ingin bekerja pada suatu tingkat upah tertentu

akan dengan mudah mendapat pekerjaan.

Swasono dan Sulistyaningsih (1993), memberi pengertian

kesempatan kerja adalah termasuk lapangan pekerjaan yang

sudah diduduki (employment) dan masih lowong (vacancy). Dari

lapangan pekerjaan yang masih lowong tersebut timbul kemudian

kebutuhan tenaga kerja yang datang misalnya dari perusahaan

swasta atau BUMN dan departemen-departemen pemerintah.

Adanya kebutuhan tersebut berarti ada kesempatan kerja bagi

orang yang menganggur. Dengan demikian kesempatan kerja

(employment) yaitu kesempatan kerja yang sudah diduduki.

Dari definisi di atas, maka kesempatan kerja apat dibedakan

menjadi dua golongan yaitu

a. Kesempatan kerja permanen yaitu kesempatan kerja yang

memungkinkan orang bekerja secara terus-menerus sampai

mereka pensiun atau tidak mampu lagi untuk bekerja. Misalnya


32

adalah orang yang bekerja pada instansi pemerintah atau

swasta yang memiliki jaminan sosial hingga hari tua dan tidak

bekerja ditempat lain.

b. Kesempatan kerja temporer yaitu kesempatan kerja yang

memungkinkan seseorang bekerja dalam waktu yang relatif

singkat, kemudian menganggur untuk menunggu kesempatan

kerja baru. Misalnya adalah orang yang bekerja sebagai

pegawai lepas pada perusahaan swata dimana pekerja mereka

tergantung order.

Secara umum, kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang

mencerminkan seberapa jumlah dari total angkatan kerja yang

dapat diserap atau ikut serta secara aktif dalam kegiatan

perekonomian. Selain itu kesempatan kerja juga dapat diartikan

sebagai jumlah penduduk yang bekerja atau orang yang sudah

memperoleh pekerjaan, semakin banyak orang yang bekerja

semakin luas kesempatan kerja.

Kesempatan kerja dimaknai sebagai lapangan pekerjaan atau

kesempatan yang tersedia untuk bekerja akibat dari suatu kegiatan

ekonomi atau produksi. Dengan demikian pengertian kesempatan

kerja nyata mencakup lapangan pekerjaan yang masih lowong.

Kesempatan kerja nyata bisa juga dilihat dari jumlah lapangan

pekerjaan yang tersedia, yang tercermin dari jumlah penduduk usia

kerja (15 tahun) ke atas yang bekerja (Sapsuha, 2009).


33

Kesempatan kerja merupakan partisipasi seseorang dalam

pembangunan baik dalam arti memikul beban pembangunan

maupun dalam menerima kembali hasil pembangunan. Dari definisi

tersebut, maka kesempatan kerja dapat dibedakan menjadi dua

golongan, yaitu :

a. Kesempatan kerja permanen, yaitu kesempatan kerja yang

memungkinkan orang bekerja secara terus menerus sampai

mereka pensiun atau tidak mampu lagi untuk bekerja.

Dimisalkan orang yang bekerja pada instansi pemerintah atau

swasta yang mempunyai jaminan sosial hingga tua dan tidak

bekerja di tempat lain.

b. Kesempatan kerja temporer, adalah kesempatan kerja yang

memungkinkan orang bekerja dalam waktu yang relatif singkat,

kemudian menganggur untuk menunggu kesempatan kerja

yang baru. Dalam hal ini dimisalkan pegawai lepas pada

perusahaan swasta di mana pekerjaan mereka tergantung

pesanan.

B. Kerangka Pemikiran

Hak untuk memperoleh pendidikan yang layak merupakan salah

satu hak asasi manusia yang utama. Pemerintah pada umumnya

maupun orang tua bertanggung jawab secara penuh atas pendidikan

anak. Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam

Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 ayat 7 yang


34

menyatakan bahwa orang tua dari anak usia belajar berkewajiban

memberikan pendidikan dasar bagi anaknya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan memeliki peranan vital

dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Apabila pendidikan di

suatu negara atau wilayah buruk maka pembangunan masa depan

negara tersebut juga akan menurun, karena pendidikan menyangkut

tentang berbagai aspek penting, seperti karakter sekaligus sebagai jati

diri suatu bangsa. Sehingga apabila ingin memajukan suatu bangsa

maka harus mempeerhatikan pendidikan dan menjadikannya sebagai

prioritas yang paling utama. Hal ini akan berdampak pada

kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan, karena mereka

lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. Akibatnya,

kebodohan akan menghantui, dan kemiskinan pun akan mengiringi.

Sehingga, kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial, dimana dari

kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat

kurangnya pendidikan, dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan

pun kembali menjerat.

Kesempatan kerja adalah banyaknya orang yang dapat tertampung

untuk bekerja pada suatu perusahaan atau suatu instansi

(Disnakertrans, 2002). Kesempatan kerja ini akan menampung semua

tenaga kerja yang tersedia apabila lapangan pekerjaan yang tersedia

mencukupi atau seimbang dengan banyaknya tenaga kerja yang

tersedia. Kebijaksanaan negara dalam kesempatan kerja meliputi


35

upaya-upaya untuk mendorong pertumbuhan dan perluasan lapangan

kerja di setiap daerah serta, per kembangan jumlah dan. kualitas

angkatan kerja yang tersedia agar dapat memanfaaatkan seluruh

potensi pembangunan di daerah masing-masing. Bertitik tolak, dari

kebijaksanaan tersebut maka dalarn rangka mengatasi masalah

perluasan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran,

Departemen Tenaga Kerja dalam UU No. 13 Tahun 2002 tentang

Ketenagakerjaan memandang perlu untuk menyusun program yang

mampu baik secara langsung maupun tidak langsung dapat

mendorong penciptaan lapangan kerja dan mengurangi

pengangguran.

Kesempatan kerja di Indonesia dijamin dalam UUD 1945 pada

pasal 27 ayat 2 yang berbunyi Tiap-tiap warga Negara berhak atas

pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dari bunyi UUD 1945 pasal

27 ayat 2 itu jelas bahwa pemerintah Indonesia untuk menciptakan

lapangan kerja bagi anggota masyarakat karena hal ini berhubungan

dengan usaha masyarakat untuk mendapat penghasilan.


Jumlah penduduk adalah banyaknya orang yang mendiami suatu

wilayah Negara. Dari sisi tenaga kerja, penduduk suatu Negara dapat

dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok penduduk usia kerja dan

kelompok bukan usia kerja. Penduduk usia kerja adalah mereka yang

berumur 10 hingga 65 tahun. Namun dewasa ini usia kerja tersebut

telah diubah menjadi yang berumur 15 hingga 65 tahun.


36

Penduduk usia kerja dapat pula kita bagi dalam dua kelompok,

yakni kelompok angkatan kerja dan kelompok bukan angkatan kerja.

Angkatan kerja adalah semua orang yang siap bekerja disuatu Negara.

Kelompok tersebut biasanya disebut sebagai kelompok usia produktif.

Dari seluruhan angkata kerja dalam suatu Negara tidak semuanya

mendapat kesempatan bekerja. Diantaranya ada pula yang tidak

bekerja. Mereka inilah yang disebut pengangguran. Pengangguran

adalah angkatan kerja atau kelompok usia produktif yang tidak bekerja.

(YB Kadarusman, 2004:65)


Angkatan kerja banyak yang membutuhkan lapangan pekerjaan,

namun umumnya baik di Negara berkembang maupun Negara maju,

laju pertumbuhan penduduknya lebih besar dari pada laju

pertumbuhan lapangan kerjanya. Oleh karena itu, dari sekian banyak

angkatan kerja tersebut, sebagian tidak bekerja atau menganggur.

Dengan demikian, kesempatan kerja dan mpengangguran

berhubungan erat dengan ketersedianya lapangan kerja bagi

masyarakat. Semakin banyak lapangan kerja yang tersedia di suatu

Negara, semakin besar pula kesempatan kerja bagi penduduk usia

produktifnya, sehingga semakin kecil tingkat penganggurannya.

Sebaliknya, semakin sedikit lapangan kerja di suatu Negara, semakin

kecil pula kesempatan kerja bagi penduduk usia produktifnya. Dengan

demikian, semaki tinggi tingkat penganggurannya

Kerangka pemikiran dibuat untuk memudahkan penulis

menjelaskan hasil penelitian dan menciptakan model yang akan


37

menjelaskan penelitian ini. Hubungan variabel bebas terhadap variabel

terikat akan dijelaskan dalam diagram atau bagan kerangka pemikiran.

Berdasarkan telaah pustaka diatas, maka disusun suatu kerangka

berfikir teoritis yang menyatakan pengaruh antara variabel dalam

penelitian ini, untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran teoritis

digambarkan dalam gambar 2.1:

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran

Pendidikan Kesempatan
Pendidikan Kesempatan
(X) Kerja
(X) Kerja(Y)
(Y)

Keterangan :

Variabel bebas (X) = Pendidikan

Variabel terikat (Y) = Kesempatan Kerja

C. Hipotesis

Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka pemikiran di atas, maka

dapat diajukan tiga hipotesis penelitian sebagai berikut :

H0 : Tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan

kesempatan kerja

Ha : Terdapat hubungan antara pendidikan dengan kesempatan

kerja
38