Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Remaja

2.1.1 Definisi

Remaja menunjukan maturasi psikologis individu dan ketika

memasuki usia pubertas akan terjadi perubahan sistem reproduksi.

Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai 21 tahun untuk

perempuan dan 13 tahun sampai 22 tahun untuk pria (Mappiare, 2009

dalam Laili, 2012).


Remaja didefinisikan sebagai periode transisi perkembangan

dari masa anak kemasa dewasa, yang mencakup aspek biologi, kognitif

dan perubahan sosial yang berlangsung antara usia 10-19 tahun

(Tarwoto, 2010).
WHO (1974, dalam Sarlito W.S, 2008) remaja adalah individu

berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda seksual

sekundernya sampai saat ini mencapai kematangan seksual. Selain itu

remaja mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari

anak menjadi dewasa dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-

ekonomi yang penuh kepada keadaan relatif lebih mandiri. WHO juga

menetapkan batas usia remaja yaitu usia 10-14 tahun termasuk remaja

awal dan usia 15-20 tahun termasuk remaja akhir.

Pubertas terjadi pada umur 12-15 tahun yang menggambarkan

fase peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Umur 12 tahun

kelenjar adrenal mulai aktif menghasilkan hormon. Peningkatan

10
11

pengeluaran androgen menyebabkan pembentukan rambut pubis atau

pubar, yang 6-12 bulan kemudian disusul dengan pembentukan rambut

ketiak. Umur 12 tahun ini juga mulai terjadi pigmentasi puting susu dan

proliferasi mukosa vagina. Vagina terlihat memanjang dan melebar,

epitel vagina mengandung banyak glikogen dan Ph cairan vagina

berkisar 4,5-5 (Saifuddin dan Rachimdani, 2005 dalam Laili, 2012).


Pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengakibatkan

secara berangsur Ovarium mulai berkembang. Pertumbuhan polikel

dimulai sesaat sebelum menarche. Meningkatnya fungsi ovarium

mengakibatkan sekresi estrogen bertambah sehingga terjadi

pertumbuhan organ genitalia interna. Menarche merupakan perdarahan

pertama dari terus yang terjadi pada remaja dan rata-rata berusia 11-13

tahun (Saifuddin & Rachimdani, 2005 dalam Laili, 2012).


2.1.2 Klasifikasi Remaja
Sarlito (2008) Remaja adalah masa transisi dari periode masa

anak menuju kedewasaan. Kedewasaan itu bukan hanya tercapainya

umur tertentu.
Tarwoto (2010) yang dimaksud dengan remaja adalah terbagi

menjadi 3, yaitu:
1. Remaja Awal (Early Adolescence)
Masa ini dimulai usia 10 sampai 12 tahun yang ditandai

dengan berbagai perubahan tubuh yang cepat, sering mengakibatkan

kesulitan dalam menyesuaikan diri, pada saat ini remaja mulai

mencari identitas diri.


Laili (2012) periode usia 10-13 tahun pada perempuan dan

anak laki-laki 10,515 tahun. Perkembangan fisik remaja awal

dibagi menjadi ciri seks primer dan sekunder, yaitu:


Ciri seks primer, adalah:
12

1) Anak laki-laki yaitu terjadinya spermarche yang merupakan

pematangan sperma yang dapat muncul di dalam cairan ejakulasi

sebelum puncak dari kurva percepatan tumbuh


2) Anak perempuan yaitu terjadinya ovulasi dan menarche. Ovulasi

merupakan berkembangnya dan pelepasan sel telur dari folikel

ovarium. Menarche merupakan perdarahan pertama di uterus.


Ciri seks sekunder adalah:
1) Anak laki-laki yaitu munculnya rambut pubis, aksila, muka dan

dada
2) Anak perempuan yaitu perkembangan payudara, tumbuhnya

rambut pada bagian aksila, penebalan dan pelunakan mukosa

vagina, pigmentasi bertambah, vaskularisasi dan erotisiasi dari

labia mayora serta sedikit pembesaran dari klitoris, muncul

jerawat dan body odor (bau badan)


2. Remaja Menengah (Middle Adolescense)
Laili (2012) periode usia antara 11-14 tahun pada anak

perempuan dan 12-15 tahun pada anak laki-laki. Perkembangan

fisik pada seks primernya, yaitu:


1) Laki-laki, terjadi volume testis berkisar antara 10-14 ml, terjadi

percepatan pertumbuhan di dalam besikula seminalis, epididimis

dan postat
2) Perempuan, ovarium membesar pada tahun sebelum menarche,

beratnya mencapai 6 gram. Endometrium berkembang, serviks

dan korpus uteri membesar dan kelenjar serviks mulai

mensekresi cairan menyerupai susu, tidak berbau, seperti mukus

dalam jumlah yang banyak.


Ciri seks sekunder, yaitu:
13

1) Laki-laki, suara menjadi dalam, jerawat bertambah banyak, dan

kelenjar keringat apokrin mulai berfungsi pada saat bersamaan

dengan tumbuhnya rambuk aksila


2) Perempuan, areola payudara akan melebar
3. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Dimulai usia 16-19 tahun yaitu masa konsolidasi menuju

perpiode dewasa dan ditandai dengan pertumbuhan biologis yang

sudah melambat, tetapi masih berlangsung ditempat lain.


Laili (2012) periode usia anak perempuan antara 13-17

tahun dan anak laki-laki antara 14-16 tahun dengan perkembangan

fisik seks primernya, yaitu:


1) Laki-laki, pada masa ini testis mencapai bentuk dewasanya yaitu

volume kira-kira 25 ml masing-masing beratnya 20 gram.


2) Perempuan, semua anak perempuan normal sudah akan

mengalami menarche

Ciri seks sekunder,yaitu:

1) Laki-laki, genitalia berkembang sempurna baik dalam bentuk

maupun konfigurasinya. Rambut pubis telah mencapai bentuk

dewasanya dan adanya rambut yang tumbuh di dagu


2) Perempuan, perkembangan payudara menjadi bentuk dewasa

yang khas dan rambut pubis mencapai sekitar dan distribusi

dewasa.
2.1.3 Ciri-Ciri Remaja
Sarlito W. S (2008) dalam bukunya psikologi remaja

menyatakan usia 1124 tahun dan belum menikah dengan ciri-ciri yaitu:
1. 11 tahun umumnya muncul tanda seksual sekunder
2. 11 tahun dianggap akil balig, baik menurut adat atau agama
3. Muncul tanda penyempurnaan perkembangan psikologis, Identitas

Diri (Erikson), Fase Genital (Freud), Puncak Perkembangan

Kognitif (Piaget) dan Moral (Kohlberg)


4. 24 tahun batas maksimal jika masih bergantung pada orang tua
14

5. Seorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap

dewasa, baik secara hukum maupun agama.


2.1.4 Faktor Perkembangan Kognitif Remaja
Sarlito, W.S (2008) dari pandangan teori pemprosesan

informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh

meningkatnya ketersediaan sumber kognitif (cognitive resource).

Peningkatan ini disebabkan oleh kecepatan pemprosesan, pengetahuan

lintas bidang yang makin luas, meningkatnya kemampuan dalam

menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen, serta

makin mendapatkan dan menggunakan informasi.

2.2 Konsep Menstruasi

2.2.1 Definisi

Menstruasi merupakan aktivitas bersiklus yang melibatkan

peluruhan sebagian endometrium wanita yang sehat dan tidak hamil

setiap bulan secara teratur mengeluarkan darah dari alat

kandungannya yang disebut menstruasi (Syaifuddin, 2011).

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari

uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endrometrium yang keluar

dalam periode tertentu sesuai siklus (Wiknjosastro, 2005 dalam Laili,

2012).

Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus

yang klasik adalah 28 hari, tetapi hal tersebut juga bisa bervariasi

yaitu antara 25-27 hari. Lama haid biasanya antara 3-5 hari dan ada

pula 1-2 hari yang dikuti keluarnya darah sedikit demi sedikit dan 7-

8 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 16 cc (Laili,2012).


15

2.2.2 Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi, selaput lendir rahim dari hari ke hari terjadi

perubahan yang berulang selama satu bulan mengalami empat masa/

stadium (Syaifuddin, 2011), yaitu berikut ini:

1) Stadium Mentruasi (Desquamasi)


Pada masa ini endometrium terlepas dari dinding rahim disertai

dengan perdarahaan, hanya lapisan tipis yang tinggal disebut

stratum basale berlangsung selama empat hari. Dengan haid,

keluar darah, potongan endometrium dan lender dari serviks.

Darah ini tidak membeku karena ada fermen (Biokatalisator) yang

mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan mukosa,

banyaknya perdarahan selama haid kira-kira 50 cc. Stadium ini

berlangsung 3-7 hari.


2) Stadium Post-Menstruasi (Regenerasi)
Luka yang terjadi karena endometrium terlepas, berangsur ditutup

kembali oleh selaput lender baru yang terjadi dari sel epitel

kelenjar endometrium. Pada masa ini tebal endometrium kira-kira

0.5 mm dan berlangsung selama empat hari.


3) Stadium Intermenstruum (Proliferasi)
Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal kira-kira 3.5

mm. kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain,

berlangsung kira-kira 5-14 hari dari hari pertama haid.


4) Stadium Praemenstruum (Sekresi)
Pada stadium ini endometrium tetap tebalnya tetapi bentuk

kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku dan mengeluarkan

getah. Dalam endometrium telah tertibun glikogen dan kapur


16

yang diperlukan sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini

untuk mempersiapkan endometrium menerima telur. Pada

endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat

(stratum kompaktum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran

keluar dari kelenjar, lapisan strarum spongeosum yang banyak

lubang karena disini terdapat rongga dari kelenjar dan lapisam

bawah disebut stratum basale. Stadium ini berlangsung 14-28

hari, kalau tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepas

dengan perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi.


2.2.3 Hormon yang Berpengaruh pada Menstruasi
Sejumlah hormon yang berpengaruh pada menstruasi

(Syaifudin, 2011) ialah:


1. Progesteron, hormon ini yang dikeluarkan oleh indung telur.
2. LH (Luteinizing Hormone) hormon yang dihasilkan oleh

hipofisis. Bekerjasama dengan FSH (Follicle Stimulating

Hormone) menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari polikel

graaf
3. FSH (Follicle Stimulating Hormone) hormon yang dikeluarkan

oleh hipofisis lobus depan. Mulai ditemukan pada gadis usia 11

tahun dan jumlahnnya terus bertambah sampai dewasa.


4. Estrogen, hormon yang dihasilkan oleh ovarium, hormon yang

disekresi oleh sel trache intrafolikel ovarium, korpus latum, dan

plansenta. Sebagian kecil dihasilkan oleh korteks adrenal.

Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan

meningkatkan tube uterin, jumlah otot uterus, dan kadar protein

kontraktil uterus. Estrogen memengaruhi organ endrokrin dengan

menurunkan sekresi FSH (Follicle Stimulating Hormone). Dalam


17

beberapa keadaan menghambat sekresi LH (Luteinizing

Hormone) dan pada keadaan lain meningkatkan LH (Luteinizing

Hormone). Estrogen meningkat duktus yang terdapat pada

kelenjar mamae dan merupakan hormon feminisme wanita,

terutama disebabkan oleh hormon androgen.

2.2.4 Tanda dan Gejala Menstruasi

Tanda dan gejala menstruasi yang dirasakan oleh remaja saat

menstruasi menurut Bobak (2004 dalam Laili,2012), yaitu:

1. Payudara terasa berat, penuh, membesar dan nyeri tekan


2. Nyeri punggung, merasa rongga pelvis semakin penuh
3. Nyeri kepala dan muncul jerawat
4. Iritabiilitas atau sensitifitas meningkat
5. Metabolisme meningkat dan diikuti dengan rasa keletihan
6. Suhu basal tubuh meingkat 0,2-0,40C
7. Servik berawan, lengket, tidak dapat ditembus sperma, mengering

dengan pola granular


8. Ostium menutup secara bertahap
9. Kram uterus yang menimbulkan nyeri

2.2.5 Klasifikasi Gangguan Menstruasi

Menurut Wiknjosastro (2007 dalam Laili, 2012) gangguan

menstruasi dapat digolongkan dalam berikut ini:

1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan:


1) Hipermenorea (menoragia)
Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari

normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari).


2) Hipomenorea
18

Hipomenorea ialah perdarahan haid yang lebih pendek dan

atau lebih kurang dari biasanya.


2. Kelainan siklus
1) Polimenorea
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasanya

(kurang dari 21 hari)


2) Oligomenorea
Disini siklus haid lebih panjang yaitu lebih dari 35 hari
3) Amenorea
Amenorea ialah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3

bulan berturut-turut.
3. Perdarahan diluar menstruasi
4. Gangguan lain yang ada hubungan dengan menstruasi
1) Premenstrual tension (keteganggan pra haid)
2) Mastodinia
3) Mittelschmers (rasa nyeri pada ovulasi)
4) Dismenore

2.2.6 Gangguan Dismenore

Disminore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan

oleh kejang otot uterus. Disminore merupakan suatu gejala yang

paling sering menyebabkan remaja pergi ke dokter untuk konsultasi

dan pengobatan (Syaifuddin, 2011).

Kemungkinan penyebab disminore merupakan hasil dari

peningkatan sekresi hormon prostaglandin yang menyebabkan

peningkatan kotraksi uterus. Nyeri haid akibat gangguan sekunder

biasanya terjadi pada wanita yang lebih tua yang sebelumnya tidak

mengalami nyeri. Biasanya rasa sakit tersebut berhubungan dengan

gangguan ginekologis seperti endometritis, penyempitan serviks,


19

malposisi uterus, penyakit radang panggul, dan tumor dari rongga

panggul (Muntari, 2010).

Disminore dibagi menjadi 2 yaitu disminore primer dan

sekunder (Syaifuddin, 2011)

1. Disminore Primer
1) Definisi
Disminore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa

kelainan pada alat genital yang nyata. Disminore primer terjadi

beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan

atau lebih, sehingga siklus haid pada bulan pertama setelah

menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai

dengan rasa nyeri. Disminore primer adalah nyeri haid yang

dijumpai tanpa kelainan pada alat genital yang nyata

(Saifuddin dan Rachimadhi, 2005 dalam Laili, 2012).

Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama

dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam,

walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa

hari. Sifat rasa nyeri dapat menyebar ke daerah pinggang dan

paha. Rasa nyeri disertai dengan rasa mual, muntah, sakit

kepala, diare dan iritabilitas (Morgan dan Hamilton, 2009

dalam Laili, 2012).

2) Etiologi
Penyebab disminore primer belum jelas diketahui.

Disminore primer diduga disebabkan oleh hormon yang

mengendalikan uterus dan tidak terdapat kelainan anatomis.

Penyebab disminore primer karena adanya jumlah


20

prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi yang

merangsang hiperaktifitas uterus (Prince, 2006 dalam Laili,

2012).
Faktor predisposisi disminore primer menurut French

(2005, dalam Laili, 2012) faktor predisposisi terjadinya

disminore primer antara lain faktor psikologis, budaya,

persepsi individu, pengalaman masa lalu, usia, status sosial,

pekerjaan, status perkawinan dan jumlah anak, yaitu:


(1). Faktor kejiwaan
Remaja secara emosional tidak stabil, apalagi jika remaja

tidak mendapat penjelasan yang baik tentang proses

menstruasi, sehingga hal ini menyebabkan disminore

dapat muncul dengan mudah.


(2). Faktor konsitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat

juga merumuskan ketahanan rasa nyeri. Faktorfaktor

seperti anemia, penyakit menahun dapat mempengaruhi

timbulnya disminore.
(3). Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
Wanita yang uterusnya mengalami hiperantefleksi

kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya stenosis

kanalis servikalis. Stenosis katalis servikalis bukanlah

penyebab utama munculnya disminore primer.


(4). Faktor Endokrin
Umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada

disminore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang

berlebihan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan

tonus dan kontraktilitas otot tonus.


(5). Faktor Alergi
21

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya

asosiasi antara disminore dengan urtikaria, migrain, atau

asma bronkhizle, tapi diduga karena toksin haid.


3) Fatofisiologi Disminore Primer
Nyeri pada saat menstruasi terjadi karena adanya jumlah

prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi yang

merangsang hiperaktivitas uterus. Peningkatan prostaglandin

menyebabkan konstraksi myometrium meningkat sehingga

mengakibatkan aliran darah haid berkurang dan otot dinding

uterus mengalami iskemik dan disintegrasi endometrium yang

dapat menyebabkan rangsangan pada serabut saraf nyeri yang

terdapat pada uterus meningkat (Moran dan Hamilton, 2009

dalam Laili, 2012).

Rangsangan berupa impuls nyeri tersebut kemudian

dihantarkan ke sel T sehingga ransangan pada sel T menjadi

kuat. Sel T kemudian bersinaps dengan traktus spnothalamicus

yang kemudian mengantarkan impuls nyeri tersebut ke pusat

nyeri di thalamus yaitu di gyrus centralislateralis posterior

sehingga nyeri dapat dirasakan (Guyton, 1997 dalam Laili,

2012).

4) Karakteristis Disminore Primer


Nyeri yang dirasakan oleh wanita yang mengalami

disminore biasanya hilang timbul, tajam, dan bergelombang

mengikuti arah gerakan rahim menjalar ke pinggang bagian

belakang (Price, 2006 dalam Laili, 2012).


22

French (2005 dalam Laili, 2012) karakteristik nyeri

menstruasi derajat nyerinya antara lain:


(1) Nyeri ringan yaitu tidak mengganggu aktifitas dan dapat

hilang dengan istirahat


(2) Nyeri sedang yaitu sedikit mengganggu aktifitas dan butuh

analgesik dosis rendah untuk mengurangi nyeri


(3) Nyeri berat yaitu mengangu aktifitas dan butuh analgesik

dosis rendah untuk mengurangi nyeri


(4) Nyeri sangat berat yaitu tidak dapat beraktifitas dan tidak

dapat hilang dengan analgesik dosis rendah


5) Manifestasi Klinis
Tanda gejala disminore primer menurut Mansjoer (2002 dalam

Laili, 2012) ,adalah:


(1) Usia lebih muda
(2) Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur
(3) Sering pada multipara
(4) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
(5) Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari

pertama atau hari kedua


(6) Tidak djumpai keadaan patologik pelvik
(7) Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik
(8) Sering memberikan respon terhadap pengobatan medika

mentosa
(9) Pemeriksaan pelvik normal
(10) Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan dan

nyeri kepala

2. Disminore Sekunder
1) Definisi

Disminiore sekunder adalah nyeri yang terjadi karena

adanya kelainan ginekologik, seperti endometriosis, polip

uteri, leiomioma, stenosis serviks atau penyakit radang

panggul . Disminore sekunder adalah nyeri yan terjadi karena

adanya kelainan ginekologik, seperti endometriosis, polip


23

uteri, leiomioma, stenosis serviks, atau penyakit radang pangul

(Saifuddin dan Rachimhadhi, 2005 dalam Laili, 2012).

2) Etiologi Disminore Sekunder


Large endometrial polyp yang dapat menyebabkan

perdarahan uterus yang abnormal akibat kontraksi yang terlalu

besar untuk mengeluarkan tumor yang ada di dalam uterus.

Stenosis serviks merupakan penyebab kongenital disminore

skunder. Penyebab lainnya yaitu penyakit inflamasi panggul

(Willson, 1999 dalam Laili, 2012).

3) Manifestasi Klinis
Manifestasi disminore sekunder menurut Monsjoer

(2002, dalam Laili, 2012) adalah:


(1) Usia lebih tua
(2) Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur
(3) Tidak berhubungan siklus dengan paritas
(4) Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul
(5) Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bermain dengan

keluarnya darah
(6) Berhubungan dengan kelainan pelvik
(7) Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
(8) Seringkali memerlukan tindakan operatif
(9) Terdapat kelainan pelvik

4) Penatalaksanaan Disminore Skunder


Disminore sekunder terjadi karena adanya penyakit

patologis yang mendasarinya. Pemeriksaan laparoskopi

sebaiknya dilakukan untuk membantu menegakan diagnosa.


24

Prosedur pembedahan dapat dilakukan untuk mengatasi

dismenore sekunder ini (Willson, 1999 dalam Laili, 2012).


2.2.7 Faktor yang Mempengaruhi Disminore
Faktor yang dapat mempengaruhi disminore menurut Arul

Kumaran (2006 dalam Priyanti, 2014)


1) Faktor Menstruasi
(1) Menarche dini, gadis remaja dengan usia menarche dini

insiden disminore lebih tinggi


(2) Masa menstruasi yang panjang, terlihat bahwa perempuan

dengan siklus yang panjang mengalami disminore yang lebih

parah
2) Paritas, insiden disminore lebih rendah pada wanita multiparitas.

Hal ini menunjukan bahwa insiden disminore primer menurun

setelah pertama kali melahirkan juga akan menurun dalam hal

tingkat keparahan.
3) Olahraga, berbagai jenis olahraga dapat mengurangi disminore.

Hal itu juga terlihat bahwa kejadian disminore pada atlet lebih

rendah, kemungkinan karena siklus yang anovulasi. Akan tetapi,

bukti untuk penjelasan itu masih kurang.


4) Pemilihan metode kontrasepsi, jika menggunakan kontrasepsi oral

sebaiknya dapat menentukan efeknya untuk menghilangkan atau

memperburuk kondisi. Selain itu, penggunaan jenis kontrasepsi

lainnnya dapat mempengaruhi nyeri disminore


5) Riwayat keluarga, mungkin dapat membantu untuk membedakan

endometriosis dengan disminore primer.


6) Faktor Psikologis (stres)
Pada gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika

mereka tidak mendapat penjelasan yang baik tentang proses haid,

mudah timbul disminore. Selain itu, stres emosional dan


25

ketegangan yang dihubungkan dengan sekolah atau pekerjaan

memperjelas beratnya nyeri.


2.2.8 Transmisi Nyeri
Nosiseptor (reseptor nyeri) merupakan ujung saraf bebas

didalam kulit yang berespon pada stimulus yang kuat saja, secara

potensial dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Stimuslus dapat

bersifat termal, mekanik dan kimia (Smeltzer dan Bare, 2002 dalam

Laili, 2012).
Nosiseptor menghatarkan stimulus tersebut ke serabut saraf A

dan serabut saraf C, serabut saraf A merupakan serabut saraf

bermielin yang menghatarkan sinyal nyeri tajam sedangkan serabut

saraf C merupakan serabut saraf tidak bermielin yang

menghantarkan sinyal nyeri tumpul. Rangsangan nyeri tersebut

kemudian dihantarkan ke sel T yang kemudian bersinaps dengan

traktus spinothalamus, kemudian rangsangan nyeri dihantarkan ke

pusat nyeri di thalamus yaitu di gyrus centralis lateralis posterior

sehingga nyeri kemudian dirasakan oleh seseorang (Guyton, 1997

dalam Laili, 2012).


Nyeri adalah suatu kondisi yang tidak nyaman dan menyiksa

bagi penderitanya, namun terkadang nyeri dapat digunakan sebagai

tanda adanya kerusakan jaringan. Inflamasi merupakan manifestasi

dari terjadinya kerusakan jaringan, dimana nyeri merupakan salah

satu gejalanya (Esvandiary, 2006 dalam Hidayat, 2010).


2.2.9 Faktor yang Mempengaruhi Nyeri
Nyeri merupakan sesuatu yang komplek, banyak faktor yang

mempengaruhi pengalaman nyeri individu. Faktor yang

mempengaruhi nyeri menurut Perry & Potter (2006), yaitu:


1 Usia
26

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri

khususnya pada anak dan lansia. Perbedaan perkembangan yang

ditemukan di antara kelompok usia dapat mempengaruhi

bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.


2 Jenis Kelamin
Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna

dalam berespon terhadap nyeri, laki-laki memiliki toleransi yang

lebih tinggi terhadap nyeri berbeda dengan anak perempuan.


3 Budaya
Keyakinan dan nilai budaya mempengaruhi cara individu

mengatasi nyeri, individu mempelajari apa yang diharapkan dan

apa yang diterima oleh kebudayaan mereka.


2.2.10 Intensitas Nyeri Haid
Intensitas nyeri adalah gambaran keparahan nyeri yang

dirasakan oleh seseorang. Pegukuran intensitas nyeri bersifat

subjektif dan individual. Pengukuran nyeri dengan pendekatan

objektif dilakukan dengan menggunakan respon fisiologi tubuh

terhadap nyeri yang dirasakan seseorang (Tamsuri, 2007 dalam Laili,

2012).
1. Intensitas Analog Visual (VAS)
Skala analog visual (VAS) merupakan skala nyeri yang berbentuk

garis lurus yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan

pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. VAS adalah

pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat

mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa

memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005 dalam Laili,

2012).
27

Gambar 2.1 Skala Analog Visual


(Smeltzer dan Bare, 2002 dalam Laili, 2012)
2. Skala Nyeri Numerik (Numeral Rating Scale)
Skala nyeri numerik adalah alat ukur tingkat nyeri seseorang yang

digunakan dengan meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya

sesuai dengan meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai

yang digunakan dengan meminta pasien untuk menilai rasa

nyerinya sesuai dengan level intensittas nyerinya pada skala

numeral dari 0-10

Gambar 2.2 Skala Nyeri Numerik


(Smeltzer dan Bare, 2002 dalam Laili, 2012)
keterangan
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan (klien dapat berkomunikasi dengan baik)
4-6 : Nyeri sedang (klien mendesis, menyeringai dapat
menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya,
dapat mengikuti perintah dengan baik)
7-9 : Nyeri berat (klien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih
posisi nafas panjang dan distraksi.
10 : Nyeri sangat berat (klien tidak mampu berkomunikasi
dan memukul)
2.2.11 Penanganan Disminore
28

Disminore dapat ditangani dalam beberapa cara, yaitu


sebagai berikut:
1. Farmakologi
Pemberian kombinasi estrogen dengan progestin

diindikasikan pada nyeri haid yang tidak dapat diatasi dengan

estrogen saja. Progestin ditambahkan mulai hari ke 5 sampai ke

25 atau selama 5 hari terakhir dari siklus haid. Beberapa

pengobatan untuk disminore primer yaitu glyceryl trinitrate,

danozol dan leuprolipid acetate. glyceryl trinitrate dapat

meningkatkan relaksasi otot dinding uterus sehingga nyeri dapat

berkurang. danozol dan leuprolipid acetate dapat menekan siklus

mentruasi sehingga nyeri berkurang (French, 2005 dalam Laili,

2010).

2. Non Farmakologi
Terapi non farmakologi pada penderita disminore yaitu

dengan terapi fisik, modifikasi gaya hidup, pengobatan

tradisional. Modifikasi gaya hidup dapat digunakan untuk terapi

disminore. Terapi ini berupa makan makanan yang rendah lemak,

olahraga atau senam serta tidak merokok (French, 2005 dalam

Laili, 2010).

Senam disminore adalah salah satu bentuk olahraga yang

merupakan rangkaian gerakan secara dinamis yang dilakukan

untuk mengurangi keluhan nyeri haid. Gerakan yag dilakukan

dapat dikerjakan secara mandiri, berkelompok atau dengan

bantuan instruktur. Tujuan senam disminore, untuk membantu


29

mengurangi keluhan nyeri pada saat menstruasi dan membantu

remaja putri untuk rileks (Achjar, 2009 dalam Laili, 2012).

Selain itu dapat juga enzim bromelin buah nanas menjadi

obat tradisional untuk mengurangi nyeri disminore karena

kemampuan enzim bromelin sebagai agen anti inflamasi.

Bromelin dapat menstimulasi perubahan plasminogen menjadi

plasmin dan plasmin menghambat perubahan fosfolipid menjadi

asam arakidonat sehingga inflamasi dapat dihambat akibatnya

mediator inflamasi tidak dikeluarkan, dan tidak terjadi rangsangan

nyeri (Hidayat, 2010).

2.3 Konsep Enzim Bromelin

2.3.1 Definisi

Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki

nama ilmiah ananas comous. Buah nanas menandung vitamin (A dan

C), kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa,

sukrosa (gula tebu), gizi cukup tinggi dan enzim bromelin. Enzim

bromelin (enzim protease yang dapat menghidrolisis protein, protease

atau peptine) membantu mencerna protein di dalam makanan dan

diserap oleh tubuh (Anonymous, 2008 dalam Hairi, 2010).

Bromelin yang didapat dari Ananas Comosus L. Atau tanaman

nanas adalah nama umum dari famili enzim proteolitik. Penggunaan

bromelin yang paling sering adalah agen inflamasi dan anti edema, anti

trombotik dan aktivitas fibrinolitik (Contreras, 2008 dalam Hidayat,

2010).
30

Bromelin diisolasi dari buah nanas dengan menghancurkan

daging buah untuk mendapatkan ekstrak kasar enzim bromelin.

Bromelin tergolong kelompok enzim protease sulfhidril, merupakan

glukoprotein. Buah nanas yang muda maupun yang tua mengandung

enzim bromelin. Aktivitas nanas dipengaruhi oleh kematangan buah

nanas dan konsentrasi pemakaian. Untuk memperoleh hasil yang

maksimum digunakan buah nanas yang muda, karena aktivitas buah

nanas yang muda mengandung enzim bromelin lebih banyak. Buah

nanas yang berumur 3 bulan keaktifannya lebih tinggi dibandingkan

dengan buah nanas yang berumur 4 bulan dan 5 bulan. Aktivitas

Bromelin optimum pada suhu 500C, diatas suhu tersebut keaktifan akan

menurun Ph optimum 6,57 dimana enzim akan mempunyai

konformasi yang mantap dan aktivitas maksimal (Winarno, 1983 dalam

Hairi, 2010).

Bromelin dikategorikan sebagai suplemen makanan oleh

Amerika Serikat dan terdapat pada daftar senyawa yang diketahui

aman. Produk yang terdapat di pasaran paling sering dibuat dari

bromelin batang. Penelitian invitro telah menunjukan bahwa bromelin

dosis rendah dengan mudah terdegradasi oleh inhibitor protease dalam

plasma darah dan itulah sebabnya pemberian oral bromelin dapat

mempertahankan proteolitiknya. Direkomendasikan bromelin di

konsumsi saat perut kosong, karena dapat berinteraksi dengan beberapa

macam makanan (Hidayat, 2010). Menurut Indrawati (1992) dalam

Wulandari, 2008) enzim bromelin dapat diekstraksi dari batang nanas


31

yang disebut stem bromelin atau dapat pula diekstraksi dalam buahnya

yang disebut bromelin bras.

Bromelin yang didapat dari ananas comosus atau tanaman

nanas adalah nama umum dari famili enzim proteolitik. Pengunaan

bromelin yang paling sering adalah agen anti inflamasi dan anti edema,

anti trombotik dan aktivitas fibrinolotik telah dilaporkan (Contreras,

2008 dalam Hidayat, 2010).

Hidayat (2010) bromelin dikatagorikan sebagai suplemen

makanan oleh Amerika serikat dan terdapat pada daftar senyawa yang

diketahui aman. Produk yang terdapat di pasaran paling sering dibuat

dari bromelin batang. Dimana ekstrak diambil dari jus nanas yang

didinginkan yang telah disentrifugasi. Ultrafiltrasi, lipofilisasi, dan

senyawa yang telah diolah menjadi tersedia untuk umum dalam bentuk

serbuk, krim, tablet atau kapsul. Bromelin terbukti lebih efektif ketika

dikonsumsi secara oral.

2.3.2 Kandungan Kimia


Kandungan enzim bromelin pada bagian buah bervariasi,

kandungan bromelin pada masing-masing bagian buah dapat dilihat

pada tabel

Bagian buah Jumlah bromelin (%)


1. Buah utuh masak 1. 0,060-0,080
2. Daging buah masak 2. 0,080-0,125
3. Kulit buah 3. 0,050- 0,075
4. Tangkai buah 4. 0,040-0,060
5. Buah utuh matang 5. 0,040-0,060
6. Daging buah metah 6. 0,050-0,070

Sumber : (Murniati, 2006 dalam Arini, 2011)

2.3.3 Aktifitas Enzim Bromelin


32

Indrawati (1992 dalam Wulandari, 2008) Aktifitas enzim

bromelin dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

1. Kematangan Buah

Semakin matang buah nanas, maka enzim bromelin dalam buah

tersebut semakin kurang keaktifannya. Hal ini disebabkan pada

waktu pematangan buah terjadi pembentukan senyawa tertentu,

dalam hal ini enzim mungkin ikut terpakai dalam senyawa

terssebut sehingga sebagian struktur enzim akan rusak, akibatnya

keaktifan berkurang.

2. Ph
Aktifitas optimal dari enzim ini adalah pada derajat keasaman

sebesar 5-6, dimana enzim mempunyai aktifitas maksimal. Ph

terlalu tinggi atau rendah akan mengakibatkan terjadinya beberapa

perubahan yaitu denaturasi protein dengan kecepatan katalisa

menurun.
3. Suhu
Suhu yang paling baik adalah 500C, suhu diatas 500C

mengakibatkan keaktifan enzim rendah sehingga kecepatan reaksi

menjadi rendah.
4. Konsentrasi dan waktu
Konsentrasi enzim yang lebih dan waktu yang lebih lama maka

kecepatan katalis enzim menurun, karena konsentrasi substrat

efektif untuk tiap molekul enzim. Dengan bertambahnya molekul

enzim maka konsentrasi substrat yang tertentu, menyebabkan daya

kerja enzim untuk mengkatalis menjadi lebih lama yang tergantung

pula dengan konsentrasi yang ada.

2.3.4 Manfaat Enzim Bromelin


33

Enzim Bromelin memiliki potensi yang sama dengan Papain yang

ditemukan pada papaya yang dapat mencerna protein sebesar 1000 kali

beratnya. Sehingga nanas bermanfaat sebagai penghancur lemak. Selain

itu, bromelin dapat dimanfaatkan sebagai masker kecantikan,

memperbaiki produk daging kornet, berikut beberapa manfaat enzim

bromelin:

1. Mencerna protein di dalam makanan dan menyiapkannya agar

mudah untuk diserap oleh tubuh


2. Membantu proses penyembuhan luka dan mengurangi

pembengakan atau peradarahan didalam tubuh


3. Membantu melarutkan pembentukan ulkus dan juga mempercepat

pembuangan lemak melalui ginjal


4. Bromelin juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting dan

diperlukan untuk memperbaiki proses pembuangan lemak dan

mangan, dan menjadi komponen penting enzim tertentu yang

diperlukan dalam metabolisme protein dan karbohidrat.


5. Enzim bromelin membantu membersihkan tubuh dan mengimbangi

kadar keasaman dalam darah. Nanas menaikan kadar basa darah

dan membantu meringankan penyakit edema dengan cara

mengurangi air berlebih didalam tubuh (Murniati, 2006 dalam

Arini, 2011).
Wuryanti (2006) Manfaat bromelin selain untuk penjernihan bir,

dan pengempukan daging bromelin juga digunakan untuk bahan

kontrasepsi KB untuk menjarangkan kehamilan. Ibu yang sedang

hamil tidak dianjurkan makan nanas karena dapat mengakibatkan

keguguran, selain itu bromelin juga dapat mempelancar pencernaan


34

protein, menyembuhkan artritis, sembelit, infeksi saluran pernafasan,

luka atletik (pada kaki) angina dan trauma.

2.4 Senam Disminore


2.4.1 Pengertian Senam Disminore
Senam dalam bahasa inggris disebut gymnastic yang berasal

dari kata gymnos bahasa Yunani. Orang Yunani kuno melakukan

latihaan senam di sebuah ruangan khusus yang disebut gymnasium.

Tujuan utama dari melakukan latihan senam adalah untuk

mendapatkan kekuatan dan keindahan jasmani. Senam terdiri dari

gerakan yang kuat atau banyak serta menyeluruh dari latihan yang

dapat membangun atau membentuk otot-otot tubuh seperti

pergelangan tangan, punggung, lengan dan sebagainya. Senam

tersebut meliputi unsur lompatan, memanjat dan keseimbangan

(Widianti, dkk, 2010 dalam Laili, 2012).

Senam adalah latihan tubuh yang diciptakan dengan sengaja,

disusun secara sistematika, dan dilakukan secara sadar dengan tujuan

membentuk dan mengembangkan pribadi yang harmonis. Senam

mengalami perkembangan dengan pesat sampai sekarang.

Perkembangan itu terlihat dalam bentuk gerakan, sistematika, latihan

maupun tujuannya. Senam memiliki banyak jenis yang sudah lazim

dilakukan oleh masyarakat di Indonesia, seperti senam nifas, senam

diabetes, senam hamil, senam kegel, senam osteoprosis, senam asma,

senam lansia, dan senam otak (Widianti, dkk, 2010 dalam Laili,

2012).
35

Senam merupakan olahraga yang dapat dilakukan sehari-hari,

bahkan tanpa mengunakan alat. Gerakan senam yang dirancang

untuk mengatasi keluhan tertentu, yaitu mengatasi nyeri menstruasi

selain itu dirancang untuk membentuk bagian tubuh tertentu yaitu

melangsingkan tubuh, mengecilkan paha dan perut, serta

mengembalikan bentuk tubuh ibu yang baru melahirkan (Ahira, 2008

dalam Laili, 2012).

2.4.2 Tujuan Senam

1. Membantu remaja yang mengalami disminore untuk mengurangi

dan mencegah disminore


2. Alternatif terapi dalam mengatasi disminore
3. Intervensi yang nantinya dapat ditetapkan untuk memberikan

pelayanan asuhan keperawatan bagi masalah disminore yang

sering dialami remaja.


4. Memberikan pengalaman baru bagi siswa

2.4.3 Jenis Senam

Menurut Malahayati (2010 dalam Laili, 2012) jenis senam

yang dapat dilakukan untuk wasiat adalah:

1. Senam Aerobik
adalah jenis senam yang bersifat ringan, gerakan yang dilakukan

sama dan dilakukan berulang selain itu waktu untuk melakukan

lama.
2. Senam Low Impact
adalah jenis senam yang hampir sama dengan senam aerobic, hanya

saja senam low impact dilakukan dengan irama yang lebih lambat,

gerakan dasarnya berupa jalan dan tidak ada loncatan sama sekali.
3. Senam Language
36

adalah senam yang berupa gabungan dari beberapa jenis senam yang

sudah ada. Antara lain senam pembentukan, senam nafas, gerakan

dasar jazz dan gerakan balet. Senam language mengutamakan

gerakan untuk kelenturan dan pembentukan otot tubuh.


4. Senam Body Performance
adalah senam dengan gerakan yang dilakukan lebih merata pada

seluruh bagian tubuh, tetapi gerakannya lebih fokus pada daerah

pinggang dan pinggul.


5. Senam Disminore
adalah aktivitas fisik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri,

terutama nyeri pada saat menstruasi.

2.4.4 Teknik Senam Disminore

Teknik pergerakan senam disminore terdiri dari pemanasan, inti

dan pendinginan (Puji, 2009 dalam Laili, 2012).

1. Gerakan Pemanasan
(1) Tarik nafas dalam melalui hidung, sampai perut mengelembung

dan tangan kiri terangkat. Tahan sampai beberapa detik dan

hembuskan nafas lewat mulut


(2) Kedua tangan di perut samping, tunduk dan tegakkan kepala (2x

8 hitungan)
(3) Kedua tangan di perut samping patahkan leher kekiri ke kanan
(2 x 8 hitungan)
(4) Kedua tangan di perut samping tengokan kepala ke kanan -
kekiri (2 x 8 hitungan)
(5) Putar bahu bersamaan keduanya (2 x 8 hitungan)

2. Gerakan Inti
1. Gerakan Badan I
(1) Berdiri dengan tangan direntangkan ke samping dan kaki

diregangkan kira- kira 30-35 cm.


(2) Bungkukan ke pinggang berputar ke arah kiri, mencoba meraba

kaki kiri dengan tangan kanan tanpa membengkokan lutut


37

(3) Lakukan hal yang sama dengan tangan kiri menjamah kaki

kanan
(4) Ulangilah masing-masing sebanyak empat kali
2. Gerakan Badan II
(1) Berdirilah dengan tangan di samping dan kaki sejajar
(2) Luruskan tangan dan agkat sampai melewati kepala. Pada waktu

yang sama tentangkan kaki kekiri anda dengan kuat ke belakang


(3) Lakukan bergantian dengan kaki kanan
(4) Ulangi empat kali masing- masing kaki
3. Gerakan Pendinginan
(1) Lengan dan tangan, genggam tangan kerutkan lengan dengan

kuat tahan, lepaskan


(2) Tungkai dan kaki, luruskan kaki tahan beberpa detik, lepaskan
(3) Seluruh tubuh, kencangkan semua otot sambil nafas dada pelan

teratur lalu rilaks (bayangkan hal yang menyenangkan).

2.5 Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nanas dan Senam Disminore terhadap

Nyeri Disminore

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,

disertai pelepasan (deskuamasi) endrometrium (Wiknjosastro, 2005 dalam

Laili, 2012). Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus

yang klasik adalah 28 hari, tetapi hal tersebut juga bisa bervariasi yaitu

antara 25-27 hari. Lama haid biasaya antara 3-5 hari, ada pula 1-2 hari yang

dikuti keluarnya darah sedikit demi sedikit dan 7-8 hari. Jumlah darah yang

keluar rata-rata 33,2 16 cc (Laili, 2012)

Saat menstruasi beberapa remaja mengalami disminore, disminore

adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot uterus.
38

Disminore merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan remaja

pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Syaifuddin, 2011).

Saat disminore sering dirasakan nyeri di bagian perut. Nyeri adalah

suatu kondisi yang tidak nyaman dan menyiksa bagi penderitanya, namun

terkadang nyeri dapat digunakan sebagai tanda adanya kerusakan jaringan.

Inflamasi merupakan manifestasi dari terjadinya kerusakan jaringan, dimana

nyeri merupakan salah satu gejalanya (Esvandiary, 2006 dalam Hidayat,

2010).

Mengurangi nyeri disminore dapat diberikan terapi farmakologi dan

nonfamakologi, contohnya enzim bromelin yang didapat dari Ananas

Comosus L. Atau tanaman nanas yang paling sering digunakan sebagai agen

inflamasi dan anti edema, anti trombotik dan aktivitas fibrinolitik

(Contreras, 2008 dalam Hidayat, 2010). Senam dilakukan secara teratur

dengan memperhatikan konstinuitasnya, frekuensi yang sebaiknya

dilakukan 3-4 kali dalam seminggu, durasi yaitu 30-45 menit setiap kali

melakukan senam, maka endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor

di dalam hipotalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur

emosi. Peningkatan endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan

rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan

seksual, tekanan darah dan pernafasan (Harry, 2007 dalam Laili, 2012).

Senam yang baik untuk mengatasi disminore adalah senam khusus

yaitu senam yang fokusnya membantu peregangan otot perut, panggul dan

pinggang serta senam sebaiknya dilakukan sebelum haid, sehingga senam


39

akan efektif dalam mengurangi masalah nyeri terutama nyeri disminore

(Puji, 2009 dalam Laili, 2012).