Anda di halaman 1dari 113

SKRIPSI

EFEKTIVITAS ENZIM BROMELIN BUAH NANAS DENGAN


SENAM DISMINORE TERHADAP NYERI DISMINORE
PADA REMAJA PUTRI DI SMA N 1 KECAMATAN
SIMPANG EMPAT KABUPATEN
TANAH BUMBU

Disusun Oleh :
SYARIFAH FITRIYANI
NIM 1114120218

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DARUL AZHAR


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S1)
BATULICIN
2016
SKRIPSI
EFEKTIVITAS ENZIM BROMELIN BUAH NANAS DENGAN
SENAM DISMINORE TERHADAP NYERI DISMINORE PADA
REMAJA PUTRI DI SMA N 1 KECAMATAN SIMPANG
EMPAT KABUPATEN TANAH BUMBU

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh


Gelar Keperawatan Program Studi S1 Ilmu Keperawatan (S1)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darul Azhar

Disusun Oleh :
Syarifah Fitriyani
NIM : 1114120218

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DARUL AZHAR


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S1)
BATULICIN
2016
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Syarifah Fitriyani

Umur : 24 Tahun

TTL : Marabahan, 06 April 1992

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia

No. Hp/Email : sarie.azhar@gmail.com

Nama Ayah : S. Husin (Alm)

Nama Ibu : S. Faridhah

Alamat : Jl. Batu Benawa,Istana Anak Yatim Kecamatan

Simpang 4, Kabupaten Tanah Bumbu

Riwayat Pendidikan : Lulus SDN Marabahan 3 (2005)

Lulus SMP N 1 Marabahan (2008)

Lulus SMA N 1 Marabahan (2012)


KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi ALLAH SWT, Tuhan semesta alam karena atas

rahmat dan karunia-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul Efektivitas Enzim Bromelin dengan Senam Disminore terhadap Nyeri

Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten

Tanah Bumbu Tahun 2016 .

Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar

Sarjana Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKES Darul Azhar Batulicin.

Skripsi ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada:

1. dr. H.M. Zairullah Azhar, M.Sc selaku Ketua Yayasan Pendidikan Islam

Darul Azhar Kabupaten Tanah Bumbu.


2. Dr. Ir. H. Budi Santoso, MS selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Darul Azhar Kabupaten Tanah Bumbu.


3. Ns. Herdy Juniawan, M.Kep selaku pembantu Ketua 1 Bagian

Akademik.
4. Ns. Gathut Pringgotomo, S.Kep.,M.Kep Selaku pembimbing II dan

penguji III serta Ketua Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Darul Azhar Kabupaten Tanah Bumbu.


5. Faisal Rahman, S.Kep.,Ns.,M.Kep. selaku pembimbing I dan penguji II

yang telah banyak menghabiskan waktu, pemikiran, dan perhatian dalam

membimbing serta mengarahkan peneliti dalam menyelesaikan proposal

ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Darul Azhar Kabupaten Tanah Bumbu yang telah
memberikan bantuanm bimbingan dan arahan selama peneliti mengikuti

pendidikan.
7. Hanafi, S.Kep yang telah mencurahkan waktu, fikiran dan dukungan

dalam menyelesaikan skripsi ini.


8. Seluruh keluarga yang berperan penting dalam pendidikan dan

mendukung selama perkuliahan hingga selesai.


9. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan angkatan tahun

2016 yang telah memberikan masukan dan saran dalam penyusunan

penelitian ini.
Semoga semua bantuan dan dukungan semuanya mendapatkan balasan dari

Allah SWT, aamiin yaa robbalaalamiin. Penulis menyadari dalam penulisan ini

masih banyak terdapat kekurangan baik materi maupun tata bahasanya, sehingga

peneliti mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang bersifat membangun

untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini selanjutnya.


Peneliti berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan

menambah khasah ilmu pengetahuan.

Batulicin, 2 September 2016

Penulis

RINGKASAN

SYARIFAH FITRIYANI. Efektivitas Enzim Bromelin dengan Senam


Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1
Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu (Dibawah bimbingan
FAISAL RAHMAN sebagai pembimbing I dan GATHUT PRINGGOTOMO
sebagai pembimbing II)
Disminore adalah kekakuan otot rahim. Kejadian disminore di SMA N 1
Kecamatan Simpang Empat sekitar 208 siswi. Disminore dapat membuat
seseorang sulit beraktivitas. Terapi disminore dapat dilakukan senam disminore
dan enzim bromelin dari buah nanas. Senam disminore dapat meningkatkan
hormon endorfin dan enzim bromelin dapat mengurangi peradangan didinding
rahim yang membuat nyeri berkurang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui efektivitas enzim bromelin buah nanas dengan senam disminore
terhadap nyeri disminore.
Metode penelitian ini adalah eksperimen. desain penelitian ini adalah
penelitian dengan Quasi Experiment Pretest dan Post Test With Control Groub.
Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu
bulan Juni-Juli 2016 selama 4 minggu
Hasil dari penelitian ini untuk kelompok intervensi enzim bromelin buah
nanas dan senam disminore diperoleh p-valeu 0,00 < = 0.05 dan untuk kelompok
kontrol senam disminore tanpa enzim bromelin diperoleh p-valeu 0,02 < = 0.05
sedangkan untuk kelompok kontrol enzim bromelin tanpa senam diperoleh p-
valeu 0,01 < = 0.05.
Kesimpulan H1 diterima artinya ada efektivitas enzim bromelin dengan
senam disminore terhadap nyeri disminore pada remaja putri di SMA N 1
Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu dan dari hasil dapat
dinyatakan pemberian enzim bromelin dan senam disminore lebih efektif dari
kelompok kontrol yang hanya di berikan salah satunya saja. Saran dari penelitian
ini adalah agar senam disminore dan enzim bromelin ini dapat digunakan untuk
mengurangi nyeri disminore di sekolah.

Kata kunci : Enzim Bromelin Buah Nanas, Nyeri Disminore, Senam Disminore

ABSTRACT

SYARIFAH FITRIYANI. The Effective between Bromelain Enzymes with


Dysmenorrhea Gymnastic for Problem Dysmenorrhea in SMA N 1 Simpang
Empat Kabupaten Tanah Bumbu (FAISAL RAHMAN First Advistor and
GATHUT PRINGGOTOMO as Second Advistor)
Dysmenorrhea is menstrual pain caused by uterus muscle spasms. In the
SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat there are 208 dysmenorrhea incidences,.
Dysmenorrhea could make somebody left their activity to take a rest. One of non-
pharmacological therapies that could be used to decrease the dysmenorrhea was
dysmenorrhea gymnastic and Bromelin enzymes from the pineapple.
Dysmenorrhea gymnastic could increase the Endorfin Hormone and Bromelyn
Enzym could decrease inflamacy ovarium that make the pain is decreased. The
aim of this study is to know the influence of pinnaple bromelyn enzym with
dysmenorrhea in dysmenorrhea pain.
Research Design of the study used Quasi Experiment Pretest and Post Test
With Control Group. This study has done in SMAN 1Kecamatan Simpang empat
Tanah Bumbu on June - July 2016 during 4 weeks.
The result of this study was for intervension group of pinnaple bromelyn
enzym and dysmenorrhea gymnastic has found p-valeu 0,00 < = 0.05 and for
control group of dysmenorrhea gymnastic without bromelyn enzym has found p-
valeu 0,02 < = 0.05 whereas for control group of bromelyn enzym without
gymnastic has found p-valeu 0,01 < = 0.05.
Conclusion of study H1 was accepted means have effective between
Bromelin enzymes with dysmenorrhea gymnastic for problem dysmenorrhea in
SMA N 1 Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu and the result is Bromelin
enzymes with dysmenorrhea gymnastic more effective than control group. The
suggestion of study was this dysmenorrhea gymnastic and bromelyn enzym can
use to decrease dysmenorrhea pain at school.

Keyword: Bromelin enzymes, Dysmenorrhea and Dysmenorrhea Gymnastic

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN UTAMA
HALAMAN PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR............................................................................ i
RINGKASAN ....................................................................................... iii
ABSTRACT........................................................................................... iv
DAFTAR ISI.......................................................................................... v
DAFTAR TABEL.................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR............................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................... x
DAFTAR SINGKATAN........................................................................ xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 7
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................... 7
1.5 Keaslian Penelitian .............................................................. 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Konsep Remaja .................................................................... 10
1.2 Konsep Menstruasi .............................................................. 15
1.3 Konsep Enzim Bromelin...................................................... 32
2.4 Senam Disminore.................................................................. 37
2.5 Pengaruh Enzim Bromelin Ekstrak Buah Nanas terhadap
Nyeri Disminore .................................................................. 41
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Teori Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nenas
dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada
Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat
Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016................................. 43

3.2 Kerangka Konsep Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nenas


dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada
Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat
Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016 ............................... 44
3.3 Kerangka Penelitian Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nenas
dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada
Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat
Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016................................. 45
3.4 Hipotesis................................................................................ 46
BAB 4 METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian................................................ 47
4.2 Desain Penelitian................................................................... 47
4.3 Populasi,Sampel, Besar Sampel dan Teknik......................... 49
4.4 Variabel Penelitian................................................................. 51
4.5 Definisi Operasional.............................................................. 52
4.6 Instrumen Penelitian............................................................. 54
4.7 Teknik Pengolahan Data ....................................................... 54
4.8 Teknik Analisis Data.............................................................. 58
4.8.1 Analisis Univariat............................................................... 58
4.8.2 Analisis Bivariat................................................................. 59
4.9 Etika Penelitian..................................................................... 60
BAB 5 HASIL PENELITIAN
5.1 Data Penelitian ...................................................................... 62
5.2 Analisis dan Hasil Penelitian ................................................ 63
BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan
Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu........................... 68
6.2 Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja
Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten
Tanah Bumbu........................................................................ 69
6.3 Enzim Bromelin Buah Nanas Terhadap Nyeri Disminore
pada Remaja Putri Di SMA N 1 Kecamatan Simpang
Empat Kabupaten Tanah Bumbu ......................................... 70
6.4 Enzim Bromelin dengan Senam Disminore terhadap Nyeri
Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan
Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu .......................... 70
6.5 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dan Senam
Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan
Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu .......................... 71
6.6 Keterbatasan Penelitian ........................................................ 72
BAB 7 PENUTUP
7.1 Kesimpulan .......................................................................... 74
7.2 Saran...................................................................................... 75
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1.Definisi Operasional..................................................................... 44

Tabel 5.1 Data Siswa SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten

Tanah Bumbu Tahun Ajaran 2016/2017...................................... 63

Tabel 5.2 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Nyeri Disminore............. 64

Tabel 5.3 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Senam


Disminore terhadap Nyeri Disminore......................................... 65
Tabel 5.4 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas tanpa Senam
Disminore Terhadap Nyeri Disminore........................................ 66

Tabel 5.5 Efektivitas Senam Disminore Tanpa Enzim Bromelin Buah

Nanas Terhadap Nyeri Disminore............................................... 67


DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Skala Analog Visual........................................................................ 24

Gambar 2.2 Skala Nyeri Numerik....................................................................... 25

Gambar 3.1 Kerangka Teori Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nenas dengan

Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri

di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu Tahun 2016............................................................................. 36

Gambar 3.2 Kerangka Konsep Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nenas dengan

Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri

di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu Tahun 2016......................................................................... 37

Gambar 3.3 Kerangka Penelitian Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nenas

dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja

Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu Tahun 2016.......................................................................... 38

Gambar 4.1 Kerangka Design Penelitian Efektivitas Enzim Bromelin Buah

Nenas dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore

pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang

Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016..................................

40
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar permohonan menjadi responden

Lampiran 2 : Lembar persetujuan menjadi responden

Lampiran 3 : Lembar observasi

Lampiran 4 : Lembar konsultasi

Lampiran 5 : Lembar jadwal kegiatan penelitian

Lampiran 6 : Surat persetujuan pengambilan data awal

Lampiran 7 : Lembar Tabulasi Data

Lampiran 8 : Lembar frekuensi Tabel

Lampiran 9 : Surat izin penelitian


DAFTAR SINGKATAN

WHO : World Health Organizatoin

PGG2 : Postaglandin

NSAID : Non Steroid

FSH : Follicle Stimulating Hormone

LH : Luteinizing Hormone

VAS : Intensitas Analog Visual


Syukur dan Terimakasih

Puji dan syukurku kehadirat Allah SWT untuk keluarga yang

menyayangiku. . .

Terimakasihku untuk kedua orang tuaku dan adik adikku tersayang


yang selalu mendukungku dan mendoakanku. . .
Terimakasih untuk Hanafi, S. Kep yang telah memberikan dukungan,
memotivasi
dan meluangkan waktu serta Doa kepadaku.
Terimakasihku untuk dosen pengajar STIKES Darul Azhar
yang selalu bersabar membimbingku. . .
Terimakasih untuk keluarga yang sudah mendukung dan doa...
Terimakasihku untuk semua orang yang selalu ada disampingku dan

membantuku. . .

Semoga Allah melimpahkan rahmatnya yang tiada putus kepada kalian


semua...
Amin yaA Robbal Alamiin. . .
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka kejadian disminore di dunia sangat besar, rata-rata lebih 45-90%

perempuan disetiap negara mengalami disminore yang sangat mengganggu

aktivitas mereka sehari-hari selama masa menstruasi (Purwaningtyas, 2013).

Diperkirakan 70% wanita Indonesia mengalami disminore, angka kejadian

disminore tipe primer sekitar 54,80% sedangkan sisanya adalah penderita

disminore sekunder sekitar 10-15% yang menyebabkan mereka tidak mampu

melakukan kegiatan apapun dan ini akan menurunkan kualitas hidup pada

setiap individu (Menur, 2009 dalam Yuliani, 2010).

Angka kejadian nyeri disminore pada remaja putri SMP di Kebumen

dari 120 siswa, 63 siswanya mengalami nyeri disminore dari tingkat nyeri

berat sebanyak 16 siswa (26,2%) dan nyeri sedang sebanyak 32 siswa

(52,5%) serta nyeri ringan sebanyak 13 siswi (21,35) (Fajaryati, 2010).

Disminore primer pada remaja putri di SMA N 1 Klumpang Hilir Kabupaten

Kotabaru didapatkan remaja yang mengalami disminore primer berat

sebanyak 77 responden (89%), 7 orang (8%) disminore ringan dan orang

disminore sedang (Rafikaningsih, 2012).

Dalam penelitian lain di SMP N 1 Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu didapatkan sebagian besar siswi mengalami disminore sebanyak 71%

(Halimah, 2014). Selain itu di penelitian lain didapatkan 70% dan 30% yang

tidak mengalami nyeri disminore di SMP 2 Wulas Kabupaten Kotabaru


(Sayuti, 2013). Hasil data kunjungan UKS SMA N 1 Simpang Empat

didapatkan 208 siswi mengeluh nyeri disminore bahkan hingga pingsan dan

terpaksa dipulangkan.

Disminore timbul menjelang menstruasi saat tubuh wanita

menghasilkan suatu zat yang disebut prostaglandin. Zat tersebut mempunyai

fungsi yang salah satunya adalah membuat dinding rahim sekitarnya terjepit

(kontraksi) yang menimbulkan iskemia jaringan. Intensitas kontaksi ini

berbeda setiap individunya bila berlebih akan menimbulkan nyeri saat

mentruasi. Selain itu prostaglandin juga merangsang saraf nyeri rahim

sehingga menambah intensitas nyeri prostaglandin juga bekerja di seluruh

tubuh, hal ini menjelaskan mengapa gejala yang menyertai nyeri saat

menstruasi (Purwaningtyas, 2013).

Peningkatan produksi dan pelepasan prostaglandin dari endometrium

selama menstruasi menyebabkan konstraksi uterus yang tidak dapat

terkoordinasi dan tidak teratur sehingga menimbulkan nyeri. Sifat dan derajat

nyeri itu bervariasi, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Keadaan yang

hebat dapat menggangu aktivitas harian sehingga memaksa penderita untuk

beristirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidup harian untuk

beberapa jam atau beberapa hari dalam setiap bulannya dan menjadi sebab

hilangnya waktu kerja, sekolah, kehilangan kesempatan kerja.

(Purwaningtyas, 2013).

Nyeri disminore yang sangat mengganggu ini dapat diatasi dengan

berbagai metode yang dapat dilakukan oleh remaja. Metode tersebut ada dua

macam, yaitu terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi. Terapi


farmakologi yaitu terapi yang dapat membantu mengurangi disminore dengan

mengkonsumsi obat anti peradangan non steroid (NSAID) yang mampu

menyekat sintesis prostaglandin melalui penghambatan enzim

siklooksigenase dengan kekuatan dan selektifitas yang berbeda, PGG2

(prostaglandin) dapat menimbulkan nyeri terutama yang menyertai proses

radang atau inflamasi, PGG2 (prostaglandin) berperan meningkatkan

sensitivitas reseptor nyeri menjadi penentu timbulnya nyeri (Price, 2005

dalam Laili, 2013).

Pengobatan pasien dengan obat anti inflamasi non steroid seringkali

berakibat rasa nyeri mereda selama periode yang bermakna. Obat anti

inflamasi berdasarkan mekanisme kerjanya, obat anti inflamasi golongan

streoid memiliki daya anti inflamasi kuat yang mekanismenya terutama

menghambat pelepasan prostaglandin dari sel sumbernya, sedangkan obat anti

inflamasi golongan non streoid bekerja melalui mekanisme lain seperti

inhibisi siklooksigenase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin

(Anonim, 1991 dalam Hidayat, 2010).

Terapi nonfarmakologi yaitu terapi yang dapat membantu mengurangi

disminore yang terdiri dari kompres panas, masase, distraksi, istirahat dan

olahraga atau senam. Senam merupakan cara yang dapat dilakukan untuk

mengurangi disminore, senam disminore yang dilakukan secara teratur dapat

membantu mengurangi nyeri (Sallika, 2010 dalam Laili, 2012).

Disminore dapat juga diatasi dengan melakukan senam khusus yaitu

senam disminore yang fokusnya membantu peregangan seputar otot perut,

panggul dan pinggang dengan senam tersebut dapat memberikan sensasi


rileks yang berangsur-angsur dapat mengurangi nyeri jika dilakukan secara

teratur. Senam disminore merupakan aktivitas fisik yang dapat digunakan

untuk mengurangi nyeri, saat melakukan senam tubuh akan menghasilkan

endorphin. Hormon endorphin yang semakin tinggi akan menurunkan atau

meringankan nyeri yang dirasakan seseorang sehingga seseorang menjadi

lebih nyaman, gembira dan melancarkan pengiriman oksigen ke otot, latihan

atau senam ini tidak membutuhkan biaya yang mahal, mudah dilakukan dan

tentunya tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh

(Sugani dan Priandarini, 2010 dalam Laili, 2012).

Selain obat-obatan anti inflamasi dari farmakologi kita dapat pula

menemukan obat anti Inflamasi nonfarmakologi lainnya seperti enzim

bromelin buah nanas. Inflamasi merupakan manifestasi terjadinya kerusakan

jaringan, dimana merupakan salah satu gejalanya. Karena dipandang

merugikan, maka inflamasi memerlukan obat untuk mengendalikannya.

Ketika inflamasi dikendalikan maka nyeri juga dapat dikendalikan. Bromelin

adalah nama umum dari famili enzim proteolitik yang didapat dari Ananas

Comous L, atau tanaman nanas. Penggunaan bromelin yang paling sering

adalah agen anti inflamasi dan edema, anti trombotik dan aktivitas

fibrinolitik (Hidayat, 2010).

Nanas adalah anti inflamasi yang alami dari buah, nanas memiliki

enzim proteolitik yaitu bromelin yang baik dikonsumsi untuk menurunkan

protein. Bromelin banyak didapat di batang, enzim bromelin sangat terkenal

dikalangan atlet karena dapat menjadi suplemen untuk menjaga dari cedera

fisik. (Hossain, Farid et all, 2015). Bromelin adalah nama umum dari famili
enzim proteolitik yang didapat dari Ananas Comosus atau tanaman nanas.

Penggunaan bromelin yang paling sering adalah agen anti inflamasi dan anti

edema, anti trombotik dan aktivitas fibrinolitik telah dilaporkan (Contreras,

2009 dalam Hidayat 2010).

Kandungan bromelin pada nanas memiliki aktivitas analgesik dan anti

inflamasi. Tetapi sampai saat ini belum ada penelitian mengenai efek

analgesik dan anti inflamasi jus buah nanas dan dosis efektif jus buah nanas

yang dapat menimbulkan efek analgesik dan anti inflamasi (Hidayat, 2010).

Berdasarkan hasil penelitian Muniati (2006 dalam Kurniawati, 2011) buah

nanas yang masih hijau atau belum matang mengandung bromelin lebih

sedikit dibandingkan buah nanas segar yang sudah matang.

Penelitian invitro telah menunjukan bahwa bromelin dosis rendah

dengan mudah terdegradasi oleh Inhibitor Protease dalam plasma darah dan

itulah sebabnya pemberian oral dapat membantu bromelin mempertahankan

aktivitas proteolitiknya. Direkomendasikan bromelin dikonsumsi saat perut

kosong, karena dapat berinteraksi dengan beberapa macam makanan. Dosis

yang direkomendasikan pada literatur sangat bergantung pada indikasi

klinisnya. (Hidayat, 2010). Hasil penelitian di Malaysia sekitar 59,7% remaja

mengalami nyeri disminore, nyeri disminore dirasakan 40% setelah setahun

menarche dan 58% setelah menarche, ini dirasakan sangat mengganggu

aktivitas sekolah remaja (Liliwati, 2007).

Hasil penelitian di Turki didapatkan 63,6% wanita di Turki mengalami

disminore setelah menarche (Unsal, et al. 2010). Fajaryati (2010) latihan

olahraga mampu meningkatkan kadar serotonin. Latihan olahraga teratur


dapat menurunkan stress dan kelelahan sehingga secara tidak langsung juga

mengurangi nyeri. Membiasakan olahraga ringan dan aktivitas fisik secara

teratur seperti jalan sehat, berlari, bersepeda pada saat sebelum haid dan

selama haid hal tersebut dapat membuat aliran darah pada otot sekitar rahim

menjadi lancar, sehingga rasa nyeri dapat teratasi atau berkurang. Latihan ini

sedikitnya 30-60 menit dengan frekuensi 3-5 kali seminggu.

Hasil penelitian Muntari (2010) stres adalah ketidakmampuan

mengatasi ancaman yang di hadapi oleh metal, fisik, emosional dan spritual

manusia. saat remaja mestruasi jika mereka menghadapi konflik keluarga,

masalah prestasi sekolah dan pengaruh teman yang menimbulkan stres pada

remaja, hal ini dapat memperparah nyeri disminore karena dapat meingkatkan

hormon prostaglandin yang dapat meningkatkan kontraksi uterus.

Tempat penulis akan melakukan penelitian adalah di SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu, karena disini sebanyak

208 remaja putri yang mengalami Disminore sehingga mereka sering istirahat

di UKS sekolah karena nyeri tak tertahankan dan mereka belum mengetahui

cara memanajemen nyeri disminore.

Hasil studi pendahuluan tanggal 27 April 2016 di SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat Tanah Bumbu didapatkan dari responden

didapatkan 208 siswi mengalami disminore 97% siswi istirahat di UKS

sekolah dan 3% siswi pingsan karena nyeri disminore.


1.2 Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada

Efektivitas Enzim Bromelin dengan Senam Disminore terhadap Nyeri

Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu.


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui efektivitas enzim bromelin dengan senam

disminore terhadap nyeri disminore pada remaja putri di SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016.


1.3.2 Tujuan Khusus
1. Teridentifikasi tingkat nyeri pada kelompok kontrol sebelum dan

sesudah pemberian enzim bromelin buah nanas tanpa senam

disminore
2. Teridentifikasi tingkat nyeri pada kelompok kontrol sebelum dan

sesudah pemberian senam disminore tanpa enzim bromelin buah

nanas
3. Teridentifikasi tingkat nyeri disminore pada kelompok intervensi

sebelum dan sesudah mendapat pemberian enzim bromelin buah

nanas dan senam disminore

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Institusi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

institusi sekolah untuk memberikan pengetahuan dan mampu merubah


tindakan remaja untuk mengurangi nyeri disminore agar remaja dapat

beraktivitas maksimal.
1.4.2 Profesi Keperawatan
Sebagai sumbangan aplikatif bagi tenaga kesehatan terutama

perawat agar lebih meningkatkan perhatian dalam memberikan

informasi mengenai pengetahuan dan penangganan yang maksimal

untuk mengurangi nyeri disminore.


1.4.3 Remaja dan Masyarakat
Manfaat bagi remaja dan masyarakat adalah untuk membuka

wawasan tentang pengetahuan dan penangganan yang maksimal untuk

mengurangi nyeri disminore yang memadai.

1.4.4 Penelitian Selanjutnya

Manfaat bagi peneliti selanjutnya dapat sebagai acuan untuk

meneruskan penelitian ini tentang nyeri disminore yang dipengaruhi

oleh makanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Remaja

2.1.1 Definisi

Remaja menunjukan maturasi psikologis individu dan ketika

memasuki usia pubertas akan terjadi perubahan sistem reproduksi.

Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai 21 tahun untuk

perempuan dan 13 tahun sampai 22 tahun untuk pria (Mappiare, 2009

dalam Laili, 2012).


Remaja didefinisikan sebagai periode transisi perkembangan

dari masa anak kemasa dewasa, yang mencakup aspek biologi, kognitif

dan perubahan sosial yang berlangsung antara usia 10-19 tahun

(Tarwoto, 2010).
WHO (1974, dalam Sarlito W.S, 2008) remaja adalah individu

berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda seksual

sekundernya sampai saat ini mencapai kematangan seksual. Selain itu

remaja mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari

anak menjadi dewasa dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-

ekonomi yang penuh kepada keadaan relatif lebih mandiri. WHO juga

menetapkan batas usia remaja yaitu usia 10-14 tahun termasuk remaja

awal dan usia 15-20 tahun termasuk remaja akhir.

Pubertas terjadi pada umur 12-15 tahun yang menggambarkan

fase peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Umur 12 tahun
kelenjar adrenal mulai aktif menghasilkan hormon. Peningkatan

pengeluaran androgen menyebabkan pembentukan rambut pubis atau

pubar, yang 6-12 bulan kemudian disusul dengan pembentukan rambut

ketiak. Umur 12 tahun ini juga mulai terjadi pigmentasi puting susu dan

proliferasi mukosa vagina. Vagina terlihat memanjang dan melebar,

epitel vagina mengandung banyak glikogen dan Ph cairan vagina

berkisar 4,5-5 (Saifuddin dan Rachimdani, 2005 dalam Laili, 2012).


Pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengakibatkan

secara berangsur Ovarium mulai berkembang. Pertumbuhan polikel

dimulai sesaat sebelum menarche. Meningkatnya fungsi ovarium

mengakibatkan sekresi estrogen bertambah sehingga terjadi

pertumbuhan organ genitalia interna. Menarche merupakan perdarahan

pertama dari terus yang terjadi pada remaja dan rata-rata berusia 11-13

tahun (Saifuddin & Rachimdani, 2005 dalam Laili, 2012).


2.1.2 Klasifikasi Remaja
Sarlito (2008) Remaja adalah masa transisi dari periode masa

anak menuju kedewasaan. Kedewasaan itu bukan hanya tercapainya

umur tertentu.
Tarwoto (2010) yang dimaksud dengan remaja adalah terbagi

menjadi 3, yaitu:
1. Remaja Awal (Early Adolescence)
Masa ini dimulai usia 10 sampai 12 tahun yang ditandai

dengan berbagai perubahan tubuh yang cepat, sering mengakibatkan

kesulitan dalam menyesuaikan diri, pada saat ini remaja mulai

mencari identitas diri.


Laili (2012) periode usia 10-13 tahun pada perempuan dan

anak laki-laki 10,515 tahun. Perkembangan fisik remaja awal

dibagi menjadi ciri seks primer dan sekunder, yaitu:


Ciri seks primer, adalah:
1) Anak laki-laki yaitu terjadinya spermarche yang merupakan

pematangan sperma yang dapat muncul di dalam cairan ejakulasi

sebelum puncak dari kurva percepatan tumbuh


2) Anak perempuan yaitu terjadinya ovulasi dan menarche. Ovulasi

merupakan berkembangnya dan pelepasan sel telur dari folikel

ovarium. Menarche merupakan perdarahan pertama di uterus.


Ciri seks sekunder adalah:
1) Anak laki-laki yaitu munculnya rambut pubis, aksila, muka dan

dada
2) Anak perempuan yaitu perkembangan payudara, tumbuhnya

rambut pada bagian aksila, penebalan dan pelunakan mukosa

vagina, pigmentasi bertambah, vaskularisasi dan erotisiasi dari

labia mayora serta sedikit pembesaran dari klitoris, muncul

jerawat dan body odor (bau badan)


2. Remaja Menengah (Middle Adolescense)
Laili (2012) periode usia antara 11-14 tahun pada anak

perempuan dan 12-15 tahun pada anak laki-laki. Perkembangan

fisik pada seks primernya, yaitu:


1) Laki-laki, terjadi volume testis berkisar antara 10-14 ml, terjadi

percepatan pertumbuhan di dalam besikula seminalis, epididimis

dan postat
2) Perempuan, ovarium membesar pada tahun sebelum menarche,

beratnya mencapai 6 gram. Endometrium berkembang, serviks

dan korpus uteri membesar dan kelenjar serviks mulai

mensekresi cairan menyerupai susu, tidak berbau, seperti mukus

dalam jumlah yang banyak


Ciri seks sekunder, yaitu:
1) Laki-laki, suara menjadi dalam, jerawat bertambah banyak, dan

kelenjar keringat apokrin mulai berfungsi pada saat bersamaan

dengan tumbuhnya rambuk aksila


2) Perempuan, areola payudara akan melebar
3. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Dimulai usia 16-19 tahun yaitu masa konsolidasi menuju

perpiode dewasa dan ditandai dengan pertumbuhan biologis yang

sudah melambat, tetapi masih berlangsung ditempat lain.


Laili (2012) periode usia anak perempuan antara 13-17

tahun dan anak laki-laki antara 14-16 tahun dengan perkembangan

fisik seks primernya, yaitu:


1) Laki-laki, pada masa ini testis mencapai bentuk dewasanya yaitu

volume kira-kira 25 ml masing-masing beratnya 20 gram.


2) Perempuan, semua anak perempuan normal sudah akan

mengalami menarche

Ciri seks sekunder,yaitu:

1) Laki-laki, genitalia berkembang sempurna baik dalam bentuk

maupun konfigurasinya. Rambut pubis telah mencapai bentuk

dewasanya dan adanya rambut yang tumbuh di dagu


2) Perempuan, perkembangan payudara menjadi bentuk dewasa

yang khas dan rambut pubis mencapai sekitar dan distribusi

dewasa.
2.1.3 Ciri-Ciri Remaja
Sarlito W. S (2008) dalam bukunya psikologi remaja

menyatakan usia 1124 tahun dan belum menikah dengan ciri-ciri yaitu:
1. 11 tahun umumnya muncul tanda seksual sekunder
2. 11 tahun dianggap akil balig, baik menurut adat atau agama
3. Muncul tanda penyempurnaan perkembangan psikologis, Identitas

Diri (Erikson), Fase Genital (Freud), Puncak Perkembangan

Kognitif (Piaget) dan Moral (Kohlberg)


4. 24 tahun batas maksimal jika masih bergantung pada orang tua
5. Seorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap

dewasa, baik secara hukum maupun agama.


2.1.4 Faktor Perkembangan Kognitif Remaja
Sarlito, W.S (2008) dari pandangan teori pemprosesan

informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh

meningkatnya ketersediaan sumber kognitif (cognitive resource).

Peningkatan ini disebabkan oleh kecepatan pemprosesan, pengetahuan

lintas bidang yang makin luas, meningkatnya kemampuan dalam

menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen, serta

makin mendapatkan dan menggunakan informasi.

2.2 Konsep Menstruasi

2.2.1 Definisi

Menstruasi merupakan aktivitas bersiklus yang melibatkan

peluruhan sebagian endometrium wanita yang sehat dan tidak hamil

setiap bulan secara teratur mengeluarkan darah dari alat

kandungannya yang disebut menstruasi (Syaifuddin, 2011).

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari

uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endrometrium yang keluar

dalam periode tertentu sesuai siklus (Wiknjosastro, 2005 dalam Laili,

2012).

Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus

yang klasik adalah 28 hari, tetapi hal tersebut juga bisa bervariasi

yaitu antara 25-27 hari. Lama haid biasanya antara 3-5 hari dan ada

pula 1-2 hari yang dikuti keluarnya darah sedikit demi sedikit dan 7-

8 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 16 cc (Laili,2012).


2.2.2 Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi, selaput lendir rahim dari hari ke hari terjadi

perubahan yang berulang selama satu bulan mengalami empat masa/

stadium (Syaifuddin, 2011), yaitu berikut ini:

1) Stadium Mentruasi (Desquamasi)


Pada masa ini endometrium terlepas dari dinding rahim disertai

dengan perdarahaan, hanya lapisan tipis yang tinggal disebut

stratum basale berlangsung selama empat hari. Dengan haid,

keluar darah, potongan endometrium dan lender dari serviks.

Darah ini tidak membeku karena ada fermen (Biokatalisator) yang

mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan mukosa,

banyaknya perdarahan selama haid kira-kira 50 cc. Stadium ini

berlangsung 3-7 hari.


2) Stadium Post-Menstruasi (Regenerasi)
Luka yang terjadi karena endometrium terlepas, berangsur ditutup

kembali oleh selaput lender baru yang terjadi dari sel epitel

kelenjar endometrium. Pada masa ini tebal endometrium kira-kira

0.5 mm dan berlangsung selama empat hari.


3) Stadium Intermenstruum (Proliferasi)
Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal kira-kira 3.5

mm. kelenjar tumbuhnya lebih cepat dari jaringan lain,

berlangsung kira-kira 5-14 hari dari hari pertama haid.


4) Stadium Praemenstruum (Sekresi)
Pada stadium ini endometrium tetap tebalnya tetapi bentuk

kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku dan mengeluarkan

getah. Dalam endometrium telah tertibun glikogen dan kapur


yang diperlukan sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini

untuk mempersiapkan endometrium menerima telur. Pada

endometrium sudah dapat dibedakan lapisan atas yang padat

(stratum kompaktum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran

keluar dari kelenjar, lapisan strarum spongeosum yang banyak

lubang karena disini terdapat rongga dari kelenjar dan lapisam

bawah disebut stratum basale. Stadium ini berlangsung 14-28

hari, kalau tidak terjadi kehamilan maka endometrium dilepas

dengan perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi.


2.2.3 Hormon yang Berpengaruh pada Menstruasi
Sejumlah hormon yang berpengaruh pada menstruasi

(Syaifudin, 2011) ialah:


1. Progesteron, hormon ini yang dikeluarkan oleh indung telur.
2. LH (Luteinizing Hormone) hormon yang dihasilkan oleh

hipofisis. Bekerjasama dengan FSH (Follicle Stimulating

Hormone) menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari polikel

graaf
3. FSH (Follicle Stimulating Hormone) hormon yang dikeluarkan

oleh hipofisis lobus depan. Mulai ditemukan pada gadis usia 11

tahun dan jumlahnnya terus bertambah sampai dewasa.


4. Estrogen, hormon yang dihasilkan oleh ovarium, hormon yang

disekresi oleh sel trache intrafolikel ovarium, korpus latum, dan

plansenta. Sebagian kecil dihasilkan oleh korteks adrenal.

Estrogen mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan

meningkatkan tube uterin, jumlah otot uterus, dan kadar protein

kontraktil uterus. Estrogen memengaruhi organ endrokrin dengan

menurunkan sekresi FSH (Follicle Stimulating Hormone). Dalam


beberapa keadaan menghambat sekresi LH (Luteinizing

Hormone) dan pada keadaan lain meningkatkan LH (Luteinizing

Hormone). Estrogen meningkat duktus yang terdapat pada

kelenjar mamae dan merupakan hormon feminisme wanita,

terutama disebabkan oleh hormon androgen.

2.2.4 Tanda dan Gejala Menstruasi

Tanda dan gejala menstruasi yang dirasakan oleh remaja saat

menstruasi menurut Bobak (2004 dalam Laili,2012), yaitu:

1. Payudara terasa berat, penuh, membesar dan nyeri tekan


2. Nyeri punggung, merasa rongga pelvis semakin penuh
3. Nyeri kepala dan muncul jerawat
4. Iritabiilitas atau sensitifitas meningkat
5. Metabolisme meningkat dan diikuti dengan rasa keletihan
6. Suhu basal tubuh meingkat 0,2-0,40C
7. Servik berawan, lengket, tidak dapat ditembus sperma, mengering

dengan pola granular


8. Ostium menutup secara bertahap
9. Kram uterus yang menimbulkan nyeri

2.2.5 Klasifikasi Gangguan Menstruasi

Menurut Wiknjosastro (2007 dalam Laili, 2012) gangguan

menstruasi dapat digolongkan dalam berikut ini:

1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan:


1) Hipermenorea (menoragia)
Hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari

normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari).


2) Hipomenorea
Hipomenorea ialah perdarahan haid yang lebih pendek dan

atau lebih kurang dari biasanya.


2. Kelainan siklus
1) Polimenorea
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasanya

(kurang dari 21 hari)


2) Oligomenorea
Disini siklus haid lebih panjang yaitu lebih dari 35 hari
3) Amenorea
Amenorea ialah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya 3

bulan berturut-turut.
3. Perdarahan diluar menstruasi
4. Gangguan lain yang ada hubungan dengan menstruasi
1) Premenstrual tension (keteganggan pra haid)
2) Mastodinia
3) Mittelschmers (rasa nyeri pada ovulasi)
4) Dismenore

6 Gangguan Dismenore

Disminore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan

oleh kejang otot uterus. Disminore merupakan suatu gejala yang

paling sering menyebabkan remaja pergi ke dokter untuk konsultasi

dan pengobatan (Syaifuddin, 2011).

Kemungkinan penyebab disminore merupakan hasil dari

peningkatan sekresi hormon prostaglandin yang menyebabkan

peningkatan kotraksi uterus. Nyeri haid akibat gangguan sekunder

biasanya terjadi pada wanita yang lebih tua yang sebelumnya tidak

mengalami nyeri. Biasanya rasa sakit tersebut berhubungan dengan

gangguan ginekologis seperti endometritis, penyempitan serviks,

malposisi uterus, penyakit radang panggul, dan tumor dari rongga

panggul (Muntari, 2010).

Disminore dibagi menjadi 2 yaitu disminore primer dan

sekunder (Syaifuddin, 2011)

1. Disminore Primer
1) Definisi
Disminore primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa

kelainan pada alat genital yang nyata. Disminore primer terjadi


beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan

atau lebih, sehingga siklus haid pada bulan pertama setelah

menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai

dengan rasa nyeri. Disminore primer adalah nyeri haid yang

dijumpai tanpa kelainan pada alat genital yang nyata

(Saifuddin dan Rachimadhi, 2005 dalam Laili, 2012).

Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama

dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam,

walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa

hari. Sifat rasa nyeri dapat menyebar ke daerah pinggang dan

paha. Rasa nyeri disertai dengan rasa mual, muntah, sakit

kepala, diare dan iritabilitas (Morgan dan Hamilton, 2009

dalam Laili, 2012).

2) Etiologi
Penyebab disminore primer belum jelas diketahui.

Disminore primer diduga disebabkan oleh hormon yang

mengendalikan uterus dan tidak terdapat kelainan anatomis.

Penyebab disminore primer karena adanya jumlah

prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi yang

merangsang hiperaktifitas uterus (Prince, 2006 dalam Laili,

2012).
Faktor predisposisi disminore primer menurut French

(2005, dalam Laili, 2012) faktor predisposisi terjadinya

disminore primer antara lain faktor psikologis, budaya,


persepsi individu, pengalaman masa lalu, usia, status sosial,

pekerjaan, status perkawinan dan jumlah anak, yaitu:


(1). Faktor kejiwaan
Remaja secara emosional tidak stabil, apalagi jika remaja

tidak mendapat penjelasan yang baik tentang proses

menstruasi, sehingga hal ini menyebabkan disminore

dapat muncul dengan mudah.


(2). Faktor konsitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat

juga merumuskan ketahanan rasa nyeri. Faktorfaktor

seperti anemia, penyakit menahun dapat mempengaruhi

timbulnya disminore.
(3). Faktor Obstruksi Kanalis Servikalis
Wanita yang uterusnya mengalami hiperantefleksi

kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya stenosis

kanalis servikalis. Stenosis katalis servikalis bukanlah

penyebab utama munculnya disminore primer.


(4). Faktor Endokrin
Umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada

disminore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang

berlebihan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan

tonus dan kontraktilitas otot tonus.


(5). Faktor Alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya

asosiasi antara disminore dengan urtikaria, migrain, atau

asma bronkhizle, tapi diduga karena toksin haid.


3) Fatofisiologi Disminore Primer
Nyeri pada saat menstruasi terjadi karena adanya jumlah

prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi yang

merangsang hiperaktivitas uterus. Peningkatan prostaglandin


menyebabkan konstraksi myometrium meningkat sehingga

mengakibatkan aliran darah haid berkurang dan otot dinding

uterus mengalami iskemik dan disintegrasi endometrium yang

dapat menyebabkan rangsangan pada serabut saraf nyeri yang

terdapat pada uterus meningkat (Moran dan Hamilton, 2009

dalam Laili, 2012).

Rangsangan berupa impuls nyeri tersebut kemudian

dihantarkan ke sel T sehingga ransangan pada sel T menjadi

kuat. Sel T kemudian bersinaps dengan traktus spnothalamicus

yang kemudian mengantarkan impuls nyeri tersebut ke pusat

nyeri di thalamus yaitu di gyrus centralislateralis posterior

sehingga nyeri dapat dirasakan (Guyton, 1997 dalam Laili,

2012).

4) Karakteristis Disminore Primer


Nyeri yang dirasakan oleh wanita yang mengalami

disminore biasanya hilang timbul, tajam, dan bergelombang

mengikuti arah gerakan rahim menjalar ke pinggang bagian

belakang (Price, 2006 dalam Laili, 2012).


French (2005 dalam Laili, 2012) karakteristik nyeri

menstruasi derajat nyerinya antara lain:


(1) Nyeri ringan yaitu tidak mengganggu aktifitas dan dapat

hilang dengan istirahat


(2) Nyeri sedang yaitu sedikit mengganggu aktifitas dan butuh

analgesik dosis rendah untuk mengurangi nyeri


(3) Nyeri berat yaitu mengangu aktifitas dan butuh analgesik

dosis rendah untuk mengurangi nyeri


(4) Nyeri sangat berat yaitu tidak dapat beraktifitas dan tidak

dapat hilang dengan analgesik dosis rendah


5) Manifestasi Klinis
Tanda gejala disminore primer menurut Mansjoer (2002 dalam

Laili, 2012) ,adalah:


(1) Usia lebih muda
(2) Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur
(3) Sering pada multipara
(4) Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
(5) Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari

pertama atau hari kedua


(6) Tidak djumpai keadaan patologik pelvik
(7) Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik
(8) Sering memberikan respon terhadap pengobatan medika

mentosa
(9) Pemeriksaan pelvik normal
(10) Sering disertai nausea, muntah, diare, kelelahan dan

nyeri kepala

2. Disminore Sekunder
1) Definisi

Disminiore sekunder adalah nyeri yang terjadi karena

adanya kelainan ginekologik, seperti endometriosis, polip

uteri, leiomioma, stenosis serviks atau penyakit radang

panggul . Disminore sekunder adalah nyeri yan terjadi karena

adanya kelainan ginekologik, seperti endometriosis, polip

uteri, leiomioma, stenosis serviks, atau penyakit radang pangul

(Saifuddin dan Rachimhadhi, 2005 dalam Laili, 2012).

2) Etiologi Disminore Sekunder


Large endometrial polyp yang dapat menyebabkan

perdarahan uterus yang abnormal akibat kontraksi yang terlalu

besar untuk mengeluarkan tumor yang ada di dalam uterus.


Stenosis serviks merupakan penyebab kongenital disminore

skunder. Penyebab lainnya yaitu penyakit inflamasi panggul

(Willson, 1999 dalam Laili, 2012).

3) Manifestasi Klinis
Manifestasi disminore sekunder menurut Monsjoer

(2002, dalam Laili, 2012) adalah:


(1) Usia lebih tua
(2) Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur
(3) Tidak berhubungan siklus dengan paritas
(4) Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul
(5) Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bermain dengan

keluarnya darah
(6) Berhubungan dengan kelainan pelvik
(7) Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi
(8) Seringkali memerlukan tindakan operatif
(9) Terdapat kelainan pelvik
4) Penatalaksanaan Disminore Skunder
Disminore sekunder terjadi karena adanya penyakit

patologis yang mendasarinya. Pemeriksaan laparoskopi

sebaiknya dilakukan untuk membantu menegakan diagnosa.

Prosedur pembedahan dapat dilakukan untuk mengatasi

dismenore sekunder ini (Willson, 1999 dalam Laili, 2012).

2.2.7 Faktor yang Mempengaruhi Disminore


Faktor yang dapat mempengaruhi disminore menurut Arul

Kumaran (2006 dalam Priyanti, 2014)


1) Faktor Menstruasi
(1) Menarche dini, gadis remaja dengan usia menarche dini

insiden disminore lebih tinggi


(2) Masa menstruasi yang panjang, terlihat bahwa perempuan

dengan siklus yang panjang mengalami disminore yang lebih

parah
2) Paritas, insiden disminore lebih rendah pada wanita multiparitas.

Hal ini menunjukan bahwa insiden disminore primer menurun

setelah pertama kali melahirkan juga akan menurun dalam hal

tingkat keparahan.
3) Olahraga, berbagai jenis olahraga dapat mengurangi disminore.

Hal itu juga terlihat bahwa kejadian disminore pada atlet lebih

rendah, kemungkinan karena siklus yang anovulasi. Akan tetapi,

bukti untuk penjelasan itu masih kurang.


4) Pemilihan metode kontrasepsi, jika menggunakan kontrasepsi oral

sebaiknya dapat menentukan efeknya untuk menghilangkan atau

memperburuk kondisi. Selain itu, penggunaan jenis kontrasepsi

lainnnya dapat mempengaruhi nyeri disminore


5) Riwayat keluarga, mungkin dapat membantu untuk membedakan

endometriosis dengan disminore primer.


6) Faktor Psikologis (stres)
Pada gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika

mereka tidak mendapat penjelasan yang baik tentang proses haid,

mudah timbul disminore. Selain itu, stres emosional dan

ketegangan yang dihubungkan dengan sekolah atau pekerjaan

memperjelas beratnya nyeri.


2.2.8 Transmisi Nyeri
Nosiseptor (reseptor nyeri) merupakan ujung saraf bebas

didalam kulit yang berespon pada stimulus yang kuat saja, secara

potensial dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Stimuslus dapat

bersifat termal, mekanik dan kimia (Smeltzer dan Bare, 2002 dalam

Laili, 2012).
Nosiseptor menghatarkan stimulus tersebut ke serabut saraf A

dan serabut saraf C, serabut saraf A merupakan serabut saraf


bermielin yang menghatarkan sinyal nyeri tajam sedangkan serabut

saraf C merupakan serabut saraf tidak bermielin yang

menghantarkan sinyal nyeri tumpul. Rangsangan nyeri tersebut

kemudian dihantarkan ke sel T yang kemudian bersinaps dengan

traktus spinothalamus, kemudian rangsangan nyeri dihantarkan ke

pusat nyeri di thalamus yaitu di gyrus centralis lateralis posterior

sehingga nyeri kemudian dirasakan oleh seseorang (Guyton, 1997

dalam Laili, 2012).


Nyeri adalah suatu kondisi yang tidak nyaman dan menyiksa

bagi penderitanya, namun terkadang nyeri dapat digunakan sebagai

tanda adanya kerusakan jaringan. Inflamasi merupakan manifestasi

dari terjadinya kerusakan jaringan, dimana nyeri merupakan salah

satu gejalanya (Esvandiary, 2006 dalam Hidayat, 2010).


2.2.9 Faktor yang Mempengaruhi Nyeri
Nyeri merupakan sesuatu yang komplek, banyak faktor yang

mempengaruhi pengalaman nyeri individu. Faktor yang

mempengaruhi nyeri menurut Perry & Potter (2006), yaitu:


1 Usia
Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri

khususnya pada anak dan lansia. Perbedaan perkembangan yang

ditemukan di antara kelompok usia dapat mempengaruhi

bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.


2 Jenis Kelamin
Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna

dalam berespon terhadap nyeri, laki-laki memiliki toleransi yang

lebih tinggi terhadap nyeri berbeda dengan anak perempuan.


3 Budaya
Keyakinan dan nilai budaya mempengaruhi cara individu

mengatasi nyeri, individu mempelajari apa yang diharapkan dan

apa yang diterima oleh kebudayaan mereka.


2.2.10 Intensitas Nyeri Haid
Intensitas nyeri adalah gambaran keparahan nyeri yang

dirasakan oleh seseorang. Pegukuran intensitas nyeri bersifat

subjektif dan individual. Pengukuran nyeri dengan pendekatan

objektif dilakukan dengan menggunakan respon fisiologi tubuh

terhadap nyeri yang dirasakan seseorang (Tamsuri, 2007 dalam Laili,

2012).
1. Intensitas Analog Visual (VAS)
Skala analog visual (VAS) merupakan skala nyeri yang berbentuk

garis lurus yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan

pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. VAS adalah

pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat

mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa

memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005 dalam Laili,

2012).

Gambar 2.1 Skala Analog Visual


(Smeltzer dan Bare, 2002 dalam Laili, 2012)
2. Skala Nyeri Numerik (Numeral Rating Scale)
Skala nyeri numerik adalah alat ukur tingkat nyeri seseorang yang

digunakan dengan meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya

sesuai dengan meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai

yang digunakan dengan meminta pasien untuk menilai rasa


nyerinya sesuai dengan level intensittas nyerinya pada skala

numeral dari 0-10

Gambar 2.2 Skala Nyeri Numerik


(Smeltzer dan Bare, 2002 dalam Laili, 2012)
keterangan
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan (klien dapat berkomunikasi dengan baik)
4-6 : Nyeri sedang (klien mendesis, menyeringai dapat
menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya,
dapat mengikuti perintah dengan baik)
7-9 : Nyeri berat (klien terkadang tidak dapat mengikuti
perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih
posisi nafas panjang dan distraksi.
10 : Nyeri sangat berat (klien tidak mampu berkomunikasi

dan memukul)

2.2.11 Penanganan Disminore

Disminore dapat ditangani dalam beberapa cara, yaitu

sebagai berikut:

1. Farmakologi
Pemberian kombinasi estrogen dengan progestin

diindikasikan pada nyeri haid yang tidak dapat diatasi dengan

estrogen saja. Progestin ditambahkan mulai hari ke 5 sampai ke

25 atau selama 5 hari terakhir dari siklus haid. Beberapa


pengobatan untuk disminore primer yaitu glyceryl trinitrate,

danozol dan leuprolipid acetate. glyceryl trinitrate dapat

meningkatkan relaksasi otot dinding uterus sehingga nyeri dapat

berkurang. danozol dan leuprolipid acetate dapat menekan siklus

mentruasi sehingga nyeri berkurang (French, 2005 dalam Laili,

2010).

2. Non Farmakologi
Terapi non farmakologi pada penderita disminore yaitu

dengan terapi fisik, modifikasi gaya hidup, pengobatan

tradisional. Modifikasi gaya hidup dapat digunakan untuk terapi

disminore. Terapi ini berupa makan makanan yang rendah lemak,

olahraga atau senam serta tidak merokok (French, 2005 dalam

Laili, 2010).

Senam disminore adalah salah satu bentuk olahraga yang

merupakan rangkaian gerakan secara dinamis yang dilakukan

untuk mengurangi keluhan nyeri haid. Gerakan yag dilakukan

dapat dikerjakan secara mandiri, berkelompok atau dengan

bantuan instruktur. Tujuan senam disminore, untuk membantu

mengurangi keluhan nyeri pada saat menstruasi dan membantu

remaja putri untuk rileks (Achjar, 2009 dalam Laili, 2012).

Selain itu dapat juga enzim bromelin buah nanas menjadi

obat tradisional untuk mengurangi nyeri disminore karena

kemampuan enzim bromelin sebagai agen anti inflamasi.

Bromelin dapat menstimulasi perubahan plasminogen menjadi

plasmin dan plasmin menghambat perubahan fosfolipid menjadi


asam arakidonat sehingga inflamasi dapat dihambat akibatnya

mediator inflamasi tidak dikeluarkan, dan tidak terjadi rangsangan

nyeri (Hidayat, 2010).

2.3 Konsep Enzim Bromelin

2.3.1 Definisi

Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki

nama ilmiah ananas comous. Buah nanas menandung vitamin (A dan

C), kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa,

sukrosa (gula tebu), gizi cukup tinggi dan enzim bromelin. Enzim

bromelin (enzim protease yang dapat menghidrolisis protein, protease

atau peptine) membantu mencerna protein di dalam makanan dan

diserap oleh tubuh (Anonymous, 2008 dalam Hairi, 2010).

Bromelin yang didapat dari Ananas Comosus L. Atau tanaman

nanas adalah nama umum dari famili enzim proteolitik. Penggunaan

bromelin yang paling sering adalah agen inflamasi dan anti edema, anti

trombotik dan aktivitas fibrinolitik (Contreras, 2008 dalam Hidayat,

2010).

Bromelin diisolasi dari buah nanas dengan menghancurkan

daging buah untuk mendapatkan ekstrak kasar enzim bromelin.

Bromelin tergolong kelompok enzim protease sulfhidril, merupakan

glukoprotein. Buah nanas yang muda maupun yang tua mengandung

enzim bromelin. Aktivitas nanas dipengaruhi oleh kematangan buah

nanas dan konsentrasi pemakaian. Untuk memperoleh hasil yang

maksimum digunakan buah nanas yang muda, karena aktivitas buah


nanas yang muda mengandung enzim bromelin lebih banyak. Buah

nanas yang berumur 3 bulan keaktifannya lebih tinggi dibandingkan

dengan buah nanas yang berumur 4 bulan dan 5 bulan. Aktivitas

Bromelin optimum pada suhu 500C, diatas suhu tersebut keaktifan akan

menurun Ph optimum 6,57 dimana enzim akan mempunyai

konformasi yang mantap dan aktivitas maksimal (Winarno, 1983 dalam

Hairi, 2010).

Bromelin dikategorikan sebagai suplemen makanan oleh

Amerika Serikat dan terdapat pada daftar senyawa yang diketahui

aman. Produk yang terdapat di pasaran paling sering dibuat dari

bromelin batang. Penelitian invitro telah menunjukan bahwa bromelin

dosis rendah dengan mudah terdegradasi oleh inhibitor protease dalam

plasma darah dan itulah sebabnya pemberian oral bromelin dapat

mempertahankan proteolitiknya. Direkomendasikan bromelin di

konsumsi saat perut kosong, karena dapat berinteraksi dengan beberapa

macam makanan (Hidayat, 2010). Menurut Indrawati (1992) dalam

Wulandari, 2008) enzim bromelin dapat diekstraksi dari batang nanas

yang disebut stem bromelin atau dapat pula diekstraksi dalam buahnya

yang disebut bromelin bras.

Bromelin yang didapat dari ananas comosus atau tanaman

nanas adalah nama umum dari famili enzim proteolitik. Pengunaan

bromelin yang paling sering adalah agen anti inflamasi dan anti edema,

anti trombotik dan aktivitas fibrinolotik telah dilaporkan (Contreras,

2008 dalam Hidayat, 2010).


Hidayat (2010) bromelin dikatagorikan sebagai suplemen

makanan oleh Amerika serikat dan terdapat pada daftar senyawa yang

diketahui aman. Produk yang terdapat di pasaran paling sering dibuat

dari bromelin batang. Dimana ekstrak diambil dari jus nanas yang

didinginkan yang telah disentrifugasi. Ultrafiltrasi, lipofilisasi, dan

senyawa yang telah diolah menjadi tersedia untuk umum dalam bentuk

serbuk, krim, tablet atau kapsul. Bromelin terbukti lebih efektif ketika

dikonsumsi secara oral.

2.3.2 Kandungan Kimia

Kandungan enzim bromelin pada bagian buah bervariasi,

kandungan bromelin pada masing-masing bagian buah dapat dilihat

pada tabel

Bagian buah Jumlah bromelin (%)


1. Buah utuh masak 1. 0,060-0,080
2. Daging buah masak 2. 0,080-0,125
3. Kulit buah 3. 0,050- 0,075
4. Tangkai buah 4. 0,040-0,060
5. Buah utuh matang 5. 0,040-0,060
6. Daging buah metah 6. 0,050-0,070

Sumber : (Murniati, 2006 dalam Arini, 2011)

2.3.3 Aktifitas Enzim Bromelin

Indrawati (1992 dalam Wulandari, 2008) Aktifitas enzim

bromelin dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

1. Kematangan Buah

Semakin matang buah nanas, maka enzim bromelin dalam buah

tersebut semakin kurang keaktifannya. Hal ini disebabkan pada

waktu pematangan buah terjadi pembentukan senyawa tertentu,


dalam hal ini enzim mungkin ikut terpakai dalam senyawa

terssebut sehingga sebagian struktur enzim akan rusak, akibatnya

keaktifan berkurang.

2. Ph
Aktifitas optimal dari enzim ini adalah pada derajat keasaman

sebesar 5-6, dimana enzim mempunyai aktifitas maksimal. Ph

terlalu tinggi atau rendah akan mengakibatkan terjadinya beberapa

perubahan yaitu denaturasi protein dengan kecepatan katalisa

menurun.
3. Suhu
Suhu yang paling baik adalah 500C, suhu diatas 500C

mengakibatkan keaktifan enzim rendah sehingga kecepatan reaksi

menjadi rendah.
4. Konsentrasi dan waktu
Konsentrasi enzim yang lebih dan waktu yang lebih lama maka

kecepatan katalis enzim menurun, karena konsentrasi substrat

efektif untuk tiap molekul enzim. Dengan bertambahnya molekul

enzim maka konsentrasi substrat yang tertentu, menyebabkan daya

kerja enzim untuk mengkatalis menjadi lebih lama yang tergantung

pula dengan konsentrasi yang ada.

2.3.4 Manfaat Enzim Bromelin

Enzim Bromelin memiliki potensi yang sama dengan Papain yang

ditemukan pada papaya yang dapat mencerna protein sebesar 1000 kali

beratnya. Sehingga nanas bermanfaat sebagai penghancur lemak. Selain

itu, bromelin dapat dimanfaatkan sebagai masker kecantikan,

memperbaiki produk daging kornet, berikut beberapa manfaat enzim

bromelin:
1. Mencerna protein di dalam makanan dan menyiapkannya agar

mudah untuk diserap oleh tubuh


2. Membantu proses penyembuhan luka dan mengurangi

pembengakan atau peradarahan didalam tubuh


3. Membantu melarutkan pembentukan ulkus dan juga mempercepat

pembuangan lemak melalui ginjal


4. Bromelin juga memiliki asam sitrat dan malat yang penting dan

diperlukan untuk memperbaiki proses pembuangan lemak dan

mangan, dan menjadi komponen penting enzim tertentu yang

diperlukan dalam metabolisme protein dan karbohidrat.


5. Enzim bromelin membantu membersihkan tubuh dan mengimbangi

kadar keasaman dalam darah. Nanas menaikan kadar basa darah

dan membantu meringankan penyakit edema dengan cara

mengurangi air berlebih didalam tubuh (Murniati, 2006 dalam

Arini, 2011).
Wuryanti (2006) Manfaat bromelin selain untuk penjernihan bir,

dan pengempukan daging bromelin juga digunakan untuk bahan

kontrasepsi KB untuk menjarangkan kehamilan. Ibu yang sedang

hamil tidak dianjurkan makan nanas karena dapat mengakibatkan

keguguran, selain itu bromelin juga dapat mempelancar pencernaan

protein, menyembuhkan artritis, sembelit, infeksi saluran pernafasan,

luka atletik (pada kaki) angina dan trauma.

2.4 Senam Disminore

2.4.1 Pengertian Senam Disminore

Senam dalam bahasa inggris disebut gymnastic yang berasal

dari kata gymnos bahasa Yunani. Orang Yunani kuno melakukan

latihaan senam di sebuah ruangan khusus yang disebut gymnasium.


Tujuan utama dari melakukan latihan senam adalah untuk

mendapatkan kekuatan dan keindahan jasmani. Senam terdiri dari

gerakan yang kuat atau banyak serta menyeluruh dari latihan yang

dapat membangun atau membentuk otot-otot tubuh seperti

pergelangan tangan, punggung, lengan dan sebagainya. Senam

tersebut meliputi unsur lompatan, memanjat dan keseimbangan

(Widianti, dkk, 2010 dalam Laili, 2012).

Senam adalah latihan tubuh yang diciptakan dengan sengaja,

disusun secara sistematika, dan dilakukan secara sadar dengan tujuan

membentuk dan mengembangkan pribadi yang harmonis. Senam

mengalami perkembangan dengan pesat sampai sekarang.

Perkembangan itu terlihat dalam bentuk gerakan, sistematika, latihan

maupun tujuannya. Senam memiliki banyak jenis yang sudah lazim

dilakukan oleh masyarakat di Indonesia, seperti senam nifas, senam

diabetes, senam hamil, senam kegel, senam osteoprosis, senam asma,

senam lansia, dan senam otak (Widianti, dkk, 2010 dalam Laili,

2012).

Senam merupakan olahraga yang dapat dilakukan sehari-hari,

bahkan tanpa mengunakan alat. Gerakan senam yang dirancang

untuk mengatasi keluhan tertentu, yaitu mengatasi nyeri menstruasi

selain itu dirancang untuk membentuk bagian tubuh tertentu yaitu

melangsingkan tubuh, mengecilkan paha dan perut, serta

mengembalikan bentuk tubuh ibu yang baru melahirkan (Ahira, 2008

dalam Laili, 2012).


2.4.2 Tujuan Senam

1. Membantu remaja yang mengalami disminore untuk mengurangi

dan mencegah disminore


2. Alternatif terapi dalam mengatasi disminore
3. Intervensi yang nantinya dapat ditetapkan untuk memberikan

pelayanan asuhan keperawatan bagi masalah disminore yang

sering dialami remaja.


4. Memberikan pengalaman baru bagi siswa

2.4.3 Jenis Senam

Menurut Malahayati (2010 dalam Laili, 2012) jenis senam

yang dapat dilakukan untuk wasiat adalah:

1. Senam Aerobik
adalah jenis senam yang bersifat ringan, gerakan yang dilakukan

sama dan dilakukan berulang selain itu waktu untuk melakukan

lama.

2. Senam Low Impact


adalah jenis senam yang hampir sama dengan senam aerobic, hanya

saja senam low impact dilakukan dengan irama yang lebih lambat,

gerakan dasarnya berupa jalan dan tidak ada loncatan sama sekali.
3. Senam Language
adalah senam yang berupa gabungan dari beberapa jenis senam yang

sudah ada. Antara lain senam pembentukan, senam nafas, gerakan

dasar jazz dan gerakan balet. Senam language mengutamakan

gerakan untuk kelenturan dan pembentukan otot tubuh.


4. Senam Body Performance
adalah senam dengan gerakan yang dilakukan lebih merata pada

seluruh bagian tubuh, tetapi gerakannya lebih fokus pada daerah

pinggang dan pinggul.


5. Senam Disminore
adalah aktivitas fisik yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri,

terutama nyeri pada saat menstruasi.

2.4.4 Teknik Senam Disminore

Teknik pergerakan senam disminore terdiri dari pemanasan, inti

dan pendinginan (Puji, 2009 dalam Laili, 2012).

1. Gerakan Pemanasan
(1) Tarik nafas dalam melalui hidung, sampai perut mengelembung

dan tangan kiri terangkat. Tahan sampai beberapa detik dan

hembuskan nafas lewat mulut


(2) Kedua tangan di perut samping, tunduk dan tegakkan kepala (2x

8 hitungan)
(3) Kedua tangan di perut samping patahkan leher kekiri ke kanan
(2 x 8 hitungan)
(4) Kedua tangan di perut samping tengokan kepala ke kanan -
kekiri (2 x 8 hitungan)
(5) Putar bahu bersamaan keduanya (2 x 8 hitungan)

2. Gerakan Inti
1. Gerakan Badan I
(1) Berdiri dengan tangan direntangkan ke samping dan kaki

diregangkan kira- kira 30-35 cm.


(2) Bungkukan ke pinggang berputar ke arah kiri, mencoba meraba

kaki kiri dengan tangan kanan tanpa membengkokan lutut


(3) Lakukan hal yang sama dengan tangan kiri menjamah kaki

kanan
(4) Ulangilah masing-masing sebanyak empat kali
2. Gerakan Badan II
(1) Berdirilah dengan tangan di samping dan kaki sejajar
(2) Luruskan tangan dan agkat sampai melewati kepala. Pada waktu

yang sama tentangkan kaki kekiri anda dengan kuat ke belakang


(3) Lakukan bergantian dengan kaki kanan
(4) Ulangi empat kali masing- masing kaki
3. Gerakan Pendinginan
(1) Lengan dan tangan, genggam tangan kerutkan lengan dengan

kuat tahan, lepaskan


(2) Tungkai dan kaki, luruskan kaki tahan beberpa detik, lepaskan

Seluruh tubuh, kencangkan semua otot sambil nafas dada pelan

teratur lalu rilaks (bayangkan hal yang menyenangkan).

2.5 Pengaruh Enzim Bromelin Buah Nanas dan Senam Disminore terhadap

Nyeri Disminore

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,

disertai pelepasan (deskuamasi) endrometrium (Wiknjosastro, 2005 dalam

Laili, 2012). Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus

yang klasik adalah 28 hari, tetapi hal tersebut juga bisa bervariasi yaitu

antara 25-27 hari. Lama haid biasaya antara 3-5 hari, ada pula 1-2 hari yang

dikuti keluarnya darah sedikit demi sedikit dan 7-8 hari. Jumlah darah yang

keluar rata-rata 33,2 16 cc (Laili, 2012)

Saat menstruasi beberapa remaja mengalami disminore, disminore

adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot uterus.

Disminore merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan remaja

pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan (Syaifuddin, 2011).

Saat disminore sering dirasakan nyeri di bagian perut. Nyeri adalah

suatu kondisi yang tidak nyaman dan menyiksa bagi penderitanya, namun

terkadang nyeri dapat digunakan sebagai tanda adanya kerusakan jaringan.

Inflamasi merupakan manifestasi dari terjadinya kerusakan jaringan, dimana

nyeri merupakan salah satu gejalanya (Esvandiary, 2006 dalam Hidayat,

2010).
Mengurangi nyeri disminore dapat diberikan terapi farmakologi dan

nonfamakologi, contohnya enzim bromelin yang didapat dari Ananas

Comosus L. Atau tanaman nanas yang paling sering digunakan sebagai agen

inflamasi dan anti edema, anti trombotik dan aktivitas fibrinolitik

(Contreras, 2008 dalam Hidayat, 2010). Senam dilakukan secara teratur

dengan memperhatikan konstinuitasnya, frekuensi yang sebaiknya

dilakukan 3-4 kali dalam seminggu, durasi yaitu 30-45 menit setiap kali

melakukan senam, maka endorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor

di dalam hipotalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur

emosi. Peningkatan endorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan

rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan

seksual, tekanan darah dan pernafasan (Harry, 2007 dalam Laili, 2012).

Senam yang baik untuk mengatasi disminore adalah senam khusus

yaitu senam yang fokusnya membantu peregangan otot perut, panggul dan

pinggang serta senam sebaiknya dilakukan sebelum haid, sehingga senam

akan efektif dalam mengurangi masalah nyeri terutama nyeri disminore

(Puji, 2009 dalam Laili, 2012).


BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Teori

Usia
Remaja Menarche Menstruasi

Hormon Siklus

1. Progesterone 1. Stadium Menstruasi (Desquamasi)


2. LH 2. Stadium Post Menstruasi (Regenerasi)
3. FSH 3. Stadium Intermenstrum (Proliferasi)
4. Estrogen 4. Stadium Pra Emenstruum (Sekresi)

Klasifikasi Gangguan
Manifestasi
1. Kelainan dalam banyak
1. Payudara terasa berat, penuh, membesar darah
& nyeri tekan 2. Kelainan siklus
2. Nyeri pingang,merasa rongga pelpis 3. Perdarahan diluar
penuh menstruasi
3. Nyeri kepala & muncul jerawat 4. Gangguan lain

Gangguan lain
Senam Disminore
disminore 1. Premenstrum tension
1. Primer 2. Mastodina
2. Sekunder 3. Mittelschmer
4. Disminore
Enzim
bromelin Postaglandin menurun
Meningkatnya
endorphin Nyeri diminore menurun

Gambar 3.1 : Kerangka Teori Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nenas dengan
Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1
Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016.
3.2 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dapat dilihat dari bagan efektivitas antara enzim bromelin

terhadap nyeri dismnore.

Variabel independen variabel dependen

Nyeri disminore

Enzim
Senam
bromelin buah
disminore
nanas
Faktor yang Faktor yan
mempengaruhi mempengaruh
nyeri disminore i Nyeri
1. kejiwaaan
2. konsitusi 1. Usia
Meningkatnya Agen anti 3. obstruksi kanalis 2. Jenis
endorphin inflamasi servikalis kelamin
4. endokrin 3. budaya
5. alergi

Prostaglandine

Aktifitas Aktifitas Enzim


hormon Bromelin
endorphin untuk
menurunkan 1. Kematangan
aktifitas Buah
2. Ph
prostaglandin
3. Suhu
4. Konsentrasi dan
waktu

Gambar 3.2 : Kerangka Konseptual Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas


dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja
Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah
Bumbu Tahun 2016
3.3 Kerangka Penelitian

Populasi
Remaja putri yang mengalami nyeri disminore tahun di SMA N 1 kecamatan Simpang
Empat

Teknik Accidental Sampling

Sampel
Sebagian dari Remaja putri yang mengalami nyeri disminore di SMA N 1 Kecamatan
Simpang Empat yang dipilih sesuai responden yang bertemu saat penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen


Enzim Bromelin Nanas dan senam disminore Nyeri Disminore

Pretest Pretest

Kelompok intervensi Kelompok kontrol

Enzim bromelin buah Enzim bromelin buah nanas dan tanpa


nanas dan senam senam disminore dan kelompok senam
disminore disminore tanpa enzim bromelin

Post test dengan cara Post test dengan cara NRS

Pengumpulan Data
Variabel Independen : observasi enzim bromelin dan senam disminoreaskala nyeri numerik
Variabel Dependen : observasi dengan skala nyeri numerik

Pengolahan Data dan Analisis Data Univariat dan Bivariat Uji Statistik Spss

Hipotesis
H0 : Tidak ada pengaruh
Ha : Ada pengaruh

Penyajian Hasil

Gambar 3.3 : Kerangka Penelitian Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas


dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di
SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun
2016.
3.4 Hipotesis
H1 : Ada Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Senam Disminore

terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan

Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016


BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penulis melakukan penelitian di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu karena di sekolah ini sebanyak 208 mengeluhkan

mengalami disminore sehingga mereka sering istirahat di UKS sekolah

karena nyeri tidak tertahankan dan mereka belum mengetahui cara

memanajemen nyeri disminore, sedangkan di sekolah lain hanya sedikit yang

mengeluh nyeri disminore. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juni- Juli

2016 selama 4 Minggu.

4.2 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian dengan Quasi Experiment Pretest

dan Post Test With Control Groub Design. Quasi Eksperimen adalah jenis

penelitian yang belum memenuhi persyaratan cara eksperimen yang dapat

dikatakan ilmiah mengikuti peraturan tertentu. Di dalam desain ini observasi

dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah eksperimen.


Desain control grop pre-test dan post test dengan pola sebagai berikut:

Q1I XI Q2I

Kelompok Pre test Enzim Post test


intervensi Bromelin
dan
senam

Subjek
penelitian

QIC XC Q2C
Kontrol Pre Enzim Bromelin Post
test nanas tanpa test
senam

Senam Disminorea
4.1 Kerangka Design Penelitian tanpa Enzim
Bromelin

KETERANGAN

Q1I = Pengukuran nyeri disminore pada variabel dependent sebelum

terapi pada kelompok intervensi

Q1C = Pengukuran nyeri disminore pada variabel dependent sebelum

terapi pada kelompok kontrol

Q2I = Pengukuran nyeri disminore pada variabel dependent setelah

terapi pada kelompok intervensi

Q2C = Pengukuran nyeri disminore pada variabel dependent setelah

terapi pada kelompok kontrol

XI = Perlakuan pemberian terapi enzim bromelin buah nanas dan

senam disminore kelompok eksperimen

XC = Perlakuan pemberian terapi enzim bromelin buah nanas tanpa

senam disminore kelompok kontrol


Jenis pendekatan dalam penelitian ini adalah oneshot model, yaitu

model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada

suatu saat.

4.3 Populasi, Sampel, Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang

diteliti (Notoadmodjo, 2012). Populasi adalah keseluruhan subjek dari

sebuah riset (Murti, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah semua

siswi di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu sebanyak 140 responden.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti,

pengambilan sampel harus dilakukan sedekimikian rupa sehingga

diperoleh sampel yang berfungsi sebagai contoh atau dapat

menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya (Arikunto, 2006).

Sampel dalam penelitian ini adalah siswi di SMA N 1 Kecamatan

Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu yang diambil secara

kebetulan bertemu saat penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi

dan eksklusi yaitu sebagai berikut:

1. Kriteria Inklusi
Adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi

target terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2013).

Kriteria inklusi penelitian ini adalah:


1) Siswi di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat yang diambil

secara kebetulan/ accidental


2) Mengalami disminore
3) Kelas X dan XI
2. Kriteria Ekslusi
adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang tidak

memenuhi kriteria inklusi dari studi (Nursalam,2013).


Kriteria eksklusi penelitian ini adalah:
1) Sakit/ tidak hadir pada saat penumpulan data
2) Tidak bersedia menjadi responden
3) Alergi nanas
4) Tidak sesuai dengan standar terapi

4.3.3 Besar Sampel

Besar sampel dalam penelitian ini yaitu siswi SMA N 1 kecamatan

Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu yang mengalami nyeri

disminore yang diambil secara kebetulan bertemu dengan peneliti.

Besar sampel dalam penelitian ini adalah (Nursalam, 2013)


N
n =
1+N (d)2
Keterangan:

N = Besar Populasi

n = Besar Sampel

d = Nilai Signifikan (0.05)

N
n =
1+N (d)2

140
n =
1+ 140 (0.05)2
n = 58.33
jadi, jumlah sampel dibulatkan yaitu 60 responden untuk mempermudah

membagi kelompok. Dimana 20 responden akan masuk kekelompok

intervensi dan sisanya ke kelompok kontrol untuk kelompok senam

disminore tanpa enzim bromelin buah nanas 20 responden dan untuk

kelompok enzim bromelin tanpa senam disminore sebanyak 20 responden.

4.3.4 Teknik Pengambilan Sampel

Sampling adalah proses penyeleksi porsi dari populasi untuk dapat

mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara yang ditempuh dalam

pengambilan sampel, cara memperoleh sampel yang sesuai dengan

keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2013).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara

accidental sampling yaitu sampel yang diambil yang kebetulan bertemu

dengan peneliti saat penelitian (Arikunto, 2006).

4.4 Variabel Penelitian

4.4.1 Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas (Independent Sampel)

Variabel independent adalah variabel yang menjadi sebab

perubahan atau timbulnya variabel dependent (terikat). variabel ini

juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam


mempengaruhi variabel lain. Variabel ini mempunyai nama lain

seperti variabel prediktor, resiko atau klausa ( Hidayat, A.A, 2007).

Istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut variabel

independent adalah variabel stimulus, variabel prediktor, variabel

antecedent, variabel eksogen. Dalam bahasa Indonesia disebut

variabel bebas, variabel bebas merupakan variabel yang menjadi

sebab berubahnya atau timbulnya variabel terikat. Dalam konsep

variabel bebas ditemukan bahwa variabel ini menjadi sebab hadirnya

atau timbulnya variabel lain (Idrus, 2009).Variabel bebas dalam

penelitian ini adalah enzim bromelin buah nanas dan senam

disminore

2.Variabel Terikat (Dependent Variabel)

Variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau

menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini tergantung dari

variabel bebas terhadap perubahan (Hidayat, A.A, 2007).

Variabel dependent sering disebut variabel output, variabel

kriteria, variabel konsekuen, variabel endogen. Dalam bahasa

indonesia disebut variabel terikat. Variabel terikat merupakan

variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya

variabel bebas (Idrus, 2009).

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah nyeri disminore

pada remaja putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu.

4.5 Definisi Operasional


Tabel 4.1 : Definisi Operasioal Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nenas
dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja
Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah
Bumbu.
N Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala Hasil Ukur
o Opersional
1 Enzim Enzim Aktifitas enzim bromelin Observasi Ordinal 1.diberikan
bromelin bromelin dipengaruhi, yaitu: dengan enzim
adalah enzim 1. Kematangan SOP bromelin.
yang 2. ph senam 2. tidak
berfungsi 3. Suhu disminore diberikan
sebagai agen 4. Konsentrasi dan enzim
inflamasi waktu bromelin
buah nanas

2 Senam Senam Senam disminore dapat Observasi Ordinal 1.diberikan


disminore dismiore meningkatkan hormon dengan senam
adalah senam endorpin SOP enzim disminore
yang bromelin 2. tidak
dilakukan diberikan
sebelum haid senam
untuk disminore
meregangkan
otot perut
3 Nyeri Nyeri yang Bentuk nyeri: Observasi Ordinal 1: nyeri
disminore diakibatkan 0 : tidak nyeri Skala ringan
kejang otot 1-3: nyeri ringan numerik 2: nyeri
uterus 4-6: nyeri sedang sedang
7-9: nyeri berat 3: nyeri
10: nyeri sangat berat berat
4: nyeri
sangat
berat

4 Stres Stres adalah Stres dapat menambah Observasi Ordinal 1: nyeri


emosional kerja prostaglandin ringan
yang tidak penyebab nyeri 2: nyeri
stabil sedang
3: nyeri
berat

4.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat pada waktu penelitian menggunakan

sesuatu metode (Arikunto, 2006). Alat ukur pengumpulan data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah observasi.

4.7 Teknik Pengolahan Data


4.7.1 Metode Pengolahan Data

Pengolahan data suatu proses pendekatan subyek dan

pengolahan karakter subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian

(Narboko & Achmadi, 2012).


Setiadi (2012) pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu

proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan suatu

kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga

menghasilkan informasi yang diperlukan.


Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai

berikut :
1. Editing date / memeriksa
Memerikasa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para

pengumpulan data.
2. Coding
Pemberian tanda atau kode sesuai jawaban yang diberikan oleh

responden. Kode tersebut disusun kembali dalam lembaran ke

dalam kode tersendiri untuk pedoman dalam analisis data dan

penulisan laporan.
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban dari para reponden

kedalam bentuk angka/bilangan. Biasanya klasifikasi dilakukan

dengan cara memberi tanda atau kode berbentuk angka pada

masing-masing jawaban.
Coding untuk variabel enzim bromelin buah nanas denan senam

disminore, sebagai berikut:


Jika diberikan enzim bromelin = 1
Jika tidak diberikan enzim bromelin buah nanas = 2
Jika diberikan senam disminore = 1
Jika tidak diberikan senam disminore = 2
Coding untuk variabel nyeri disminore, sebagai berikut:

0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan (klien tidak dapat berkomunikasi dengan

baik)

4-6 : Nyeri sedang (klien mendesis, menyeringai dapat

menunjukan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya,

dapat mengikuti perintah dengan baik)

7-9 : Nyeri berat (klien terkadang tidak dapat mengikuti

perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat

menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya,

tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan

distraksi.

10 : Nyeri sangat berat (klien tidak mampu berkomunikasi dan

memukul)

3. Scoring
Penilaian data dengan memberikan skor pada setiap pertanyaan dan

tahap ini meliputi nilai untuk masing-masing data hasil pengukuran

maupun hasil observasi (wawancara langsung) dan penjumlahan

hasil scoring.
Scoring untuk vaiabel enzim bromelin dan senam disminore,

sebagai berikut:
Jika terapi dilakukan = 1
Jika terapi tidak dilakukan = 2
Scoring untuk variabel nyeri disminore, sebagai berikut:
Jika nyeri ringan = 1
Jika nyeri sedang = 2
Jika nyeri berat = 3
Jika nyeri sangat berat = 4
4. Entry date
Memasukan data baik manual maupun komputerisasi dengan SPSS

23.
5. Cleaning date
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry

apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimugkinkan

terjadi pada saat kita memasukan/ entry data ke komputer.


6. Tabulating
Tabulating adalah mengorganisir data sedemikian rupa hingga

mudah dijumlah, disusun dan disajikan dalam bentuk tabel/ grafik.


Arikunto (2006), hasil tabulasi digambarkan dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi dengan menggunakan teknik analisa presentasi

scoring dengan rumus:


Sp
P = Sm x 100%

Keterangan:
P : Nilai
Sp : Skor yang didapat dari responden
Sm : Skor yang tertinggi yang diharapkan

Kemudian di bentuk presentase di interpretasikan dengan skala:

100% = Seluruhnya

76-99% = Hampirkan Seluruhnya

51-75% = Sebagian Besar

50% = Setengahnya

26- 40% = Hampir Setengahnya

1- 25% = Sebagian Kecil

0% = Tidak Satupun

4.7.2 Teknik Pengumpulan Data


Sumber data yang diperoleh meliputi:
1. Data Primer
Data primer disebut juga data tangan pertama. Data primer

diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat

pengukuran atau alat pengambil data, langsung pada subjek sebagai

sumber informasi yang dicari. Kelebihan data primer adalah


akurasinya lebih tinggi. Sedangkan kelemahannya berupa

ketidakefisienan, untuk memperolehnya memerlukan sumber daya

yang lebih besar (Saryono & Anggraeni, 2013).


2. Data Sekunder
Disebut juga data tangan kedua. Data sekunder adalah data

yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh

peneliti dari subjek penelitiannya. Biasanya berupa data

dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Keuntungan

data sekunder adalah efesiensi tinggi, dengan kelemahan kurang

akurat (Saryono & Anggraeni, 2013).

4.8 Teknik Analisis Data


Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan melakukan

penyelesaian data sesuai dengan kriteria yang ada, analisa data untuk

penelitian dengan menggunakan perangkat lunak statistik dengan program

SPSS 23 For Windows.


4.8.1 Analisis Univariat
Yaitu analisis yang dilakukan terhadap variabel dari hasil

penelitian. Pada umumnya data analisis ini hanya menghasilkan

distribusi dan presentasi dari tiap variabel


Perhitungan persentase dengan rumus:
Sp
P = Sm x 100%

Keterangan:
P : Nilai
Sp : Skor yang didapat dari responden
Sm : Skor yang tertinggi yang diharapkan

Kemudian di bentuk presentase di interpretasikan dengan skala:

100% = Seluruhnya

76-99% = Hampirkan seluruhnya

51-75% = Sebagian besar


50% = Setengahnya

26- 40% = Hampir setengahnya

1- 25% = Sebagian kecil


0% = Tidak satupun

4.8.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk menguji

hubungan antara dua variabel yang diduga mempunyai pengaruh /

korelasi. Dalam melakukan analisis, khususnya terhadap data penelitian

akan menggunakan ilmu statistik terapan dan program komputer SPSS

23 yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis.


Analisis bivariat yang digunakan adalah uji Wilcoxon, uji

Wilcoxon digunakan untuk menguji pengaruh dua variabel dimana

terdiri dari beberapa golongan/ kategori untuk menguji efektivitas

enzim bromelin buah nanas dengan senam disminore terhadap nyeri

disminore pada remaja putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat.


Tingkat signifikansi = 0.05, H0 diterima jika nilai sig > =

0,05 artinya antara variabel independen dengan variabel dependen yaitu

tidak ada efektivitas enzim bromelin dengan senam disminore terhadap

menurunkan Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016.


Tingkat signifikansi = 0.05, H0 ditolak jika nilai sig =

0,05, maka Ho diterima artinya ada efektivitas enzim bromelin dengan

senam disminore terhadap nyeri disminore pada remaja putri di SMA N

1 di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu.


4.9 Etika Penelitian
Etika keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam

penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan lansung

dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah


etika yang harus diperhatikan menurut Hidayat (2007) antara lain sebagai

berikut:
4.9.1 Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara

peneliti dan responden, penelitian dengan menghubungkan lembar

persetujuan. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian

dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi

responden. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti

maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya.


Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani

lembar persetujuan. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti

harus menghormati hak pasien. Beberapa informasi yang harus ada

dalam informed consent tersebut atara lain: partisipasi pasien, tujuan

dilakukan tindakan, jenis data yang dibutuhkan, komitmen prosedur

pelaksanaan, potensial masalah yang akan terjadi, manfaat,

kerahasiaan, informasi yang mudah dihubungkan dan lain-lain.


4.9.2 Anonim (tanpa nama)
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang

memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan

cara tidak memberikan/mencantumkan nama responden pada lembar

alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data

atau hasil penelitian yang akan disajikan.


4.9.3 Confident (rahasia)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan

jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun

masalah- masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan

di jamin kerahasiaannya leh peneliti, hanya kelompok data tertentu

yang akan dilaporkan pada hasil riset.


BAB 5
HASIL PENELITIAN

5.1 Data Penelitian

5.1.1 Keadaan Geografis

Secara geografis kabupaten Tanah Bumbu terletak di antara 252

347 Lintang Selatan dan 11515 11604 Bujur Timur. Kabupaten

Tanah Bumbu adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan

Selatan yang terletak persis di ujung tenggara pulau Kalimantan,

memiliki luas wilayah sebesar 5.066,96 km2 (506.696 ha) atau 13,50

persen dari total luas provinsi Kalimantan Selatan. Sebelah utara

Kabupaten Tanah Bumbu berbatasan dengan Kabupaten Kotabaru dan

Hulu Sungai Tengah, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa,

sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten

Banjar, dan disebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kotabaru

(Anonim, 2014).

SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat terletak tidak jauh dari

pusat keramaian Kota Kabupaten Tanah Bumbu, tepatnya berada di

jalan Transmigrasi, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu Kalimantan Selatan. Tidak sulit untuk menemukan alamatnya

dan tidak diperlukan kendaraan khusus untuk menuju SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat.


5.1.2 Keadaan Demografi

Keadaan dimografi wilayah SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu Tahun Ajaran 2016 dapat dilihat pada tabel

diberikut ini :

Tabel 5.1 Data Siswa SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten

Tanah Bumbu Tahun 2016.

No Kelas Laki Laki Perempuan Jumlah


N % N % N %
1 X 38 14 59 22.7 97 37.3
2 XI 20 7.7 57 21.9 77 26.6
3 XII 36 13.8 50 19.2 86 33
Total 260

Berdasarkan tabel 5.1 diatas diperoleh informasi dari 260 siswa

SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat, sebagian besar siswa SMA N 1

Kecamatan Simpang Empat adalah perempuan (63.8%) dan hampir

setengahnya adalah laki-laki (36.15%).

5.2 Analisis dan Hasil Penelitian

5.2.1 Analisis Univariat

Analisis Univariat bertujuan untuk mendapatkan gambaran

distribusi frekuensi pada masing- masing variabel yaitu variabel bebas

adalah Enzim bromelin buah nanas dan senam disminore dan variabel

terikat adalah nyeri disminore.


Distribusi frekuensi berdasarkan nyeri disminore remaja putri di

SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat dapat dilihat pada tabel diberikut

ini.

Tabel 5.2 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Nyeri Disminore


No Nyeri disminore Jumlah Persentase (%)
1 Nyeri ringan 0 0%
2 Nyeri sedang 15 25%
3 Nyeri berat 37 61.66
4 Nyeri sangat berat 8 13.34%
Total 60 100%

Berdasarkan tabel 5.2 diatas diperoleh informasi dari 60 responden,

sebagian besar (61,66%) sebanyak 37 responden megalami nyeri berat

dan hampir setengahnya (25%) sebanyak 15 responden mengalami nyeri

sedang dan sebagian kecil (13.34%) sebanyak 8 responden mengalami

nyeri sangat berat

5.2.2 Analisis Bivariat


Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara

variabel bebas (enzim bromelin buah nanas dengan senam disminore)

dan variabel terikat (nyeri disminore) Pengolahan data dilakukan

mengunakan uji statistik wilcoxon untuk megetahui perbedaan yang

bermakna dengan p-value = 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95%.


Kriteria pengaruh variabel ditentukan oleh nilai p- value.

Apabila p>0.05 maka hipotesis ditolak yang berarti tidak adanya

pengaruh bermakna antar variabel bebas dan terikat. Namun apabila p <

0,05 maka hipotesis diterima yang berarti ada pengaruh antara variabel

bebas dan variabel terikat.

1. Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Senam Disminore pada

Kelompok Intervensi
Tabel 5.3 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Senam
Disminore terhadap Nyeri Disminore

Enzim Bromelin Nyeri Disminore


Pretest Postest P-Value
dan senam
disminore
N % N %

Nyeri ringan 0 0% 3 15%

Nyeri sedang 6 30% 13 65%


0.00
Nyeri berat 12 60% 4 20%

Nyeri sangat Berat 2 10% 0 0%

Total 20 100% 20 100%

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan informasi sebagian besar

remaja yang mengalami nyeri disminore mengalami penurunan nyeri

disminore sebanyak 13 responden (65%) pada nyeri sedang, dan

sebagian kecil mengalami nyeri berat dan nyeri ringan sebanyak 4

responden (20%) untuk nyeri berat sedangkan nyeri ringan sebanyak 3

responden (15%).

Efektivitas enzim bromelin buah nanas dan senam disminore

terhadap nyeri disminore disajikan dalam tabel 5.4 Nilai p=0.00

menunjukan terdapat Efektivitas enzim bromelin dan senam disminore

terhadap nyeri disminore.

2 Enzim Bromelin Buah Nanas tanpa Senam Disminore terhadap


Nyeri Disminore pada Kelompok Kontrol
Tabel 5.4 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas tanpa Senam
Disminore terhadap Nyeri Disminore
Nyeri Disminore
Enzim Bromelin
tanpa senam Pretest Postest P-Value
disminore
N % N %

Nyeri ringan 0 0% 4 20%

Nyeri sedang 6 30% 11 55%


0.01
Nyeri berat 12 60% 5 25%

Nyeri sangat Berat 2 10% 0 0%

Total 20 100% 20 100%

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan informasi sebagian besar

responden mengalami penurunan nyeri disminore yaitu sebanyak 11

responden (55%) mengalami nyeri sedang setelah pemberian enzim

bromelin buah nanas dan sebagian kecil yaitu 5 responden (25%)

mengalami nyeri berat dan sebagian kecil yaitu 4 respoden (20%)

mengalami nyeri ringan.

Efektivitas enzim bromelin buah nanas tanpa senam disminore

terhadap nyeri disminore disajikan dalam tabel 5.5 Nilai p=0.01

menunjukan terdapat Efektivitas enzim bromelin dan senam

disminore terhadap nyeri disminore.

3. Efektivitas Senam Disminore tanpa Enzim Bromelin Buah Nanas


terhadap Nyeri Disminore pada Kelompok Kontrol
Tabel 5.5 Efektivitas Senam Disminore tanpa Enzim Bromelin Buah
Nanas terhadap Nyeri Disminore

Nyeri Disminore
Senam Disminore
tanpa Enzim Pretest Postest P-Value
Bromelin
N % N %

Nyeri ringan 0 0% 0 0%

Nyeri sedang 3 15% 10 50%


0.02
Nyeri berat 13 65% 10 50%

Nyeri sangat Berat 4 20% 0 0%

Total 20 100% 20 100%

Berdasarkan tabel 5.5 didapatkan informasi setengahnya

responden yang mengalami nyeri disminore setelah pemberian terapi

sebanyak 10 responden (50%) mengalami nyeri berat dan

setengahnya sebanyak 10 responden (50%) mengalami nyeri sedang.

Efektivitas senam disminore tanpa enzim bromelin buah

nanas terhadap nyeri disminore disajikan dalam tabel 5.6 Nilai

p=0.02 menunjukan terdapat Efektivitas senam disminore terhadap

nyeri disminore
BAB 6

PEMBAHASAN

6.1 Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan

Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu

Berdasarkan Tabel 5.2 Nyeri Disminore di SMA N 1 Simpang

Empat diperoleh hasil informasi dari 60 responden, sebagian besar

(61,66%) sebanyak 37 responden megalami nyeri berat dan hampir

setengahnya (25%) sebanyak 15 responden mengalami nyeri sedang dan

sebagian kecil (13.34%) sebanyak 8 responden mengalami nyeri sangat

berat
Kurniawati (2011) Hasil penelitian terhadap 85 responden diperoleh

Penurunan aktivitas pada saat dismenore yang dialami responden sebanyak

61,7%, sedangkan sisanya sebanyak 38,3% tidak mengalami penurunan

aktivitas. Nafiroh (2013) Hasil penelitian terhadap 84 siswi, Mayoritas

responden termasuk remaja pertengahan (umur 13-15 tahun) yaitu

sebanyak 39 siswa (84,8 %). Mayoritas responden memiliki pengetahuan

tentang dismenore dalam kategori kurang yaitu sebanyak 36 siswa

(78,3%). Lestari (2010) Diberikan 215 kuesioner dan 202 responden

bersedia mengisi kuesioner. Didapatkan 199 (98,5%) responden pernah

mengalami dismenorea, serta hanya tiga responden (1,5%) yang tidak

pernah mengalaminya.
Yuliani (2010) 360 siswa Hasil penelitian Distribusi responden

menurut kelompok dismenorea sebagian besar mengalami dismenorea


ringan sebanyak 36 orang (45,6%), dismenorea sedang sebanyak 33 orang

(41,8%), tidak dismenorea sebanyak 7 orang (8,9%) dan dismenorea berat

sebanyak 3 orang (3,8%). Distribusi responden menurut kelompok

aktivitas belajar sebanyak 49 orang (62%) dengan aktivitas ringan,

sebanyak 20 orang (25,3%) dengan aktivitas sedang, sxebanyak 7 orang

(8,9%) dengan tidak ada aktivitas dan sebanyak 3 orang (3,8%) dengan

aktiivtas berat.
Hasil penelitian Lestari (2010) dalam judul gambaran disminore

pada remaja putri menyatan 98.5% pernah mengalami nyeri disminore di

sekolah menengah pertama di Manado.


Hasil penelitian yang sudah dilaksakan mendapatkan bahwa ketika

responden dalam masa menstruasi perubahan hormon tubuh

mempengaruhi emosi responden ditambah lagi karena saat penelitian

responsen sedang menjalani masa ulangan. Hal ini membuat responden

stres dan meningkatkan nyeri haid responden.

6.2 Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di

SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu

Berdasarkan tabel 5.5 didapatkan informasi setengahnya responden

yang mengalami nyeri disminore setelah pemberian terapi sebanyak 10

responden (50%) mengalami nyeri berat dan setengahnya sebanyak 10

responden (50%) mengalami nyeri sedang.

Hasil penelitian Laili (2012) dalam judul pengaruh senam disminore

terhadap nyeri disminore menyatakan bahwa dari 30 sampel didapatkan

hasil uji p = 0.00 yang menyatakan ada pengaruh antara senam disminore

dengan nyeri disminore.


Hasil penelitian yang sudah dilaksakan mendapatkan bahwa ketika

responden belum menstruasi 3-4 hari sebelumnya dilakukan senam

disminore hasilnya otot berada disekitar perut menjadi longar dan tidak

tegang sehingga mengurangi tingkat nyeri disminore dengan rentang berat-

sedang hal ini terjadi karena kesibukan responden baik ulangan dan

penugasan mengakibatkan responden stres sehingga prostaglandin

meningkat ini yang menyebabkan rentang nyeri responden hanya bergeser

dari rentang berat ke rentang sedang saja.

6.3 Enzim Bromelin Buah Nanas terhadap Nyeri Disminore pada Remaja

Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah

Bumbu

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan informasi sebagian besar

responden mengalami penurunan nyeri disminore yaitu sebanyak 11

responden (55%) mengalami nyeri sedang setelah pemberian enzim

bromelin buah nanas dan sebagian kecil yaitu 5 responden (25%)

mengalami nyeri berat dan sebagian kecil yaitu 4 respoden (20%)

mengalami nyeri ringan.

Hasil penelitian oleh Hidayat (2010) dalam judul efek analgesik dan

anti inflamasi jus buah nanas menyatakan ada hubungan antara efek

anlgesik dan anti inflamasi dengan nyeri. Hasil penelitian Tochi (2008)

daam judul manfaat teraputik enzim bromelin buah nanas di Pakistan

menyatakan ada pengaruh enzim bromelin buah nanas terhadap inflamasi.


Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kumar (2012) yang

menyatakan bahwa enzim bromelin dapat menghasilkan efek terapeutik

dalam kesehatan terutama untuk peradangan.

Hasil penelitian yang sudah dilaksakan mendapatkan bahwa ketika

responden mengalami nyeri disminore diberikan terapi enzim sekitar 4-5

menit enzim bereaksi didalam tubuh dan berangsur menurun, penurunan

nyeri dari rentang berat ke rentang sedang sehingga responden dapat

beraktivitas kembali namun karena otot sekitar perut tidak terjadi

peregangan sehingga rasa sakit masih terasa walau sudah cukup berkurang

6.4 Enzim Bromelin dengan Senam Disminore terhadap Nyeri Disminore

pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu

Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan informasi sebagian besar remaja

yang mengalami nyeri disminore mengalami penurunan nyeri disminore

sebanyak 13 responden (65%) pada nyeri sedang, dan sebagian kecil

mengalami nyeri berat dan nyeri ringan sebanyak 4 responden (20%)

untuk nyeri berat sedangkan nyeri ringan sebanyak 3 responden (15%).

Hasil penelitian oleh Hidayat (2010) dalam judul efek analgesik

dan anti inflamasi jus buah nanas menyatakan ada hubungan antara efek

anlgesik dan anti inflamasi dengan nyeri. Hasil penelitian Tochi (2008)

daam judul manfaat teraputik enzim bromelin buah nanas di Pakistan

menyatakan ada pengaruh enzim bromelin buah nanas terhadap inflamasi.


Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kumar (2012)

yang menyatakan bahwa enzim bromelin dapat menghasilkan efek

terapeutik dalam kesehatan terutama untuk peradangan.

Hasil penelitian yang sudah dilaksakan mendapatkan bahwa ketika

responden 3-4 hari sebelum masa menstruasi diberikan terapi senam

disminore dan saat menstruasi diberikan enzim terjadi penurunan yang

sangat signifikan dari rentang berat ke rentang ringan. Hal ini menunjukan

kerjasama antara senam disminore yang meregangkan otot perut

menjelang menstruasi karena proses penebalan ditambah kerja enzim

bromelin yang berfungsi mengurangi inflamasi saat proses penebalan

dinding rahim dan dapat mengurangi nyeri karena gesekan antar rahim saat

kontraksi membuat nyeri disminore berkurang, setelah diberikan kedua

terapi ini 5-10 setelah itu responden sudah bisa beraktivitas kembali dan

bisa fokus dalam belajar.

6.5 Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dan Senam Disminore pada

Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat Kabupaten

Tanah Bumbu

Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan informasi sebagian dari

keseluruhan remaja yang mengalami nyeri disminore mengalami

penurunan nyeri disminore sebanyak 13 responden (65%) pada nyeri

sedang, dan sebagian dari setengahnya mengalami nyeri berat dan ringan
sebanyak 4 responden (20%) untuk nyeri berat sedangkan nyeri ringan

sebanyak 3 responden (15%).

Selain penjabaran hasil data diatas, untuk megetahui pengaruh

antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini juga

dibantu menggunakan alat bantu komputer serta aplikasi program Statistik

Komputer SPSS 23 (Statical Package And Service Solution). Kemudian

dilakukan analisis statisttik Wilcoxon (p<0.05) dan tingkat kepercayaan

95%.

Hasil uji statsistik pada penelitian ini menunjukan terdapat

Efektivitas Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Senam Disminore

terhadap Nyeri Disminore (p= 0.00). Hasil uji statistik adanya Efektivitas

bermakna antara Enzim Bromelin Buah Nanas dengan Nyeri Disminore

(p= 0.01). hasil analisis data terdapat Efektivitas antara Senam Disminore

dengan Nyeri Disminore (p=0.02).

Hasil penelitian oleh Hidayat (2010) dalam judul efek analgesik dan

anti inflamasi jus buah nanas menyatakan ada hubungan antara efek

anlgesik dan anti inflamasi dengan nyeri. Hasil penelitian Tochi (2008)

dalam judul manfaat teraputik enzim bromelin buah nanas di Pakistan

menyatakan ada pengaruh enzim bromelin buah nanas terhadap

inflamasi.Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Kumar (2012)

yang menyatakan bahwa enzim bromelin dapat menghasilkan efek

terapeutik dalam kesehatan terutama untuk peradangan.

Hasil penelitian yang sudah dilaksanakan bahwa pada responden

yang mengalami nyeri disminore jika di berikan kedua terapi maka akan
mepercepat proses penurunan nyeri disminore dan responden dapat

beraktivitas kembali di sekolah berbeda jika hanya di berikan salah satu

terapi saja penurunan nyeri lebih sedikit dan hanya sebagian responden

yang dapat beraktivitas kembali. Dari penelitian diatas dapat dilihat bahwa

lebih efektif jika terapi enzim bromelin dan senam disminore diberikan

bersamaan.

6.6 Keterbatasan Penelitian

1. Waktu melakukan penelitian terutama dalam melakukan terapi hal ini

terjadi karena waktu penelitian bertepatan dengan bulan ramadhan dan

kenaikan kelas di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat.

2. Penelitan ini tidak dapat digeneralisasikan hasil penelitian karena

hanya meneliti di satu populasi yang sesuai dengan tujuan penelitian

saja.
BAB 7
PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Dari hasil data penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan,

maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada kelompok kontrol sebagian besar nyeri berat (60%) mengalami

penurunan menjadi (25%) dari siswi SMA N 1 Kecamatan Simpang

Empat yang mengalami nyeri disminore setelah diberikan terapi enzim

bromelin buah nanas.


2. Pada kelompok kontrol sebagian besar nyeri berat (65%) mengalami

penurunan menjadi (50%) dari siswi SMA N 1 Kecamatan Simpang

Empat yang mengalami nyeri disminore setelah diberikan terapi senam

disminore.
3. Pada kelompok intervensi sebagian besar nyeri berat (60%) mengalami

penurunan menjadi (20%) dari siswi SMA N 1 Kecamatan Simpang

Empat yang mengalami nyeri disminore setelah diberikan terapi enzim

bromelin buah nanas dan senam disminore


7.2 Saran

7.2.1 Bagi Institusi Pendidikan

Setelah dilakukan penelitian ini disarankan bagi lembaga

pendidikan untuk memberikan penyuluhan kepada semua siswa dan

lebih memperhatikan bagaimana anak didiknya dalam menangani

nyeri disminore yang mereka rasakan.

7.2.2 Bagi Keperawatan


Setelah dilakukan penelitian ini disarankan bagi bidang

keperawatan khususnya perawat UKS sekolah untuk memberikan

terapi enzim bromelin dan senam disminore jika menemukan yang

mengalami disminore

7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Setelah dilakukan penelitian ini disarankan kepada peneliti

selanjutnya agar melanjutkan penelitian ini dengan mencari faktor

lainnya seperti faktor makanan dan minuman dan tingkat stress

7.2.4 Bagi Responden

Setelah dilakukan penelitian ini disarankan kepada responden

yang memiliki nyeri disminore agar lebih memahami dan mengerti

tentang nyeri haid dan penyebabnya dengan cara membaca buku atau

internet tentang menstruasi dan menerapkan terapi yang sudah di

ajarkan.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2006). Proses Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.
Asdoi Mahasatya.

Arini. (2011). Pengaruh Enzim Bromelin pada Pengempukan Daging Sapi.


Tesis. Medan: Universitas Negeri Medan.

Defrin, Dianasari & Edwin Nurdin, Adnil. (2010). Hubungan Stress dengan
Kejadian Disminore Primer. Skripsi. Sumatra: Universitas Andalas
Padang.

Fajaryati, Ninik. (2010). Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Disminore.


Skripsi. Kebumen

Hairi, Muhammad. (2010). Pengaruh Umur Buah Nanas dan Konsentrasi


Ekstrak Kasar Enzim Bromelin pada Pembuatan VCO. Skripsi. Malang:
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Halimah, Nur. (2014). Hubungan Status Gizi dengan Disminorea Siswi Kelas
VII dan VIII SMP 1 Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu. Skripsi.
Batulicin: STIKES Darul Azhar.

Hidayat, A.A. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, Ricky. (2010). Efek Analgesik Dan Anti-Inflamasi Jus Buah Nanas.
Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Hossain, Farid Et Al. (2015). Nutritional Value and Medicinal Benefits of


Pineapple. Jurnal Sains. Science PC

Idrus, Muhammad. (2009) Metodologi Penelitian Ilmu Sosial .Ed 2.


Yogyakarta: Erlangga.
Kumar, Ajay et al (2012). Aplikasi Terapeutik dari Enzim Bromelin. Skripsi.
Universitas Mangalayatan

Kurniawati, D & Kusumawati, Y. (2011). Pengaruh Disminore terhadap


Aktivitas Pada Siswi SMK. Journal Kesehatan Masyarakat. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah

Laili, Nurul. (2012). Perbedaan Tingkat Nyeri Haid disminore (Sebelum Dan
Sesudah) Senam Disminore. Skripsi. Universitas Jember

Lestari, Hesti, Jane Metusala dan Diana Yuliani Suryanto. (2010). Gambaran
Disminore pada Remaja Putri. Skripsi. Manado: FK UNSRAT.

Liliwati, LKM Verna dan Khairani. (2007). Disminorea dan Efek terhadap
Aktivitas Sekolah. Skripsi. Universitas Kebangsaan Malaysia

Muntari. (2010). Hubungan Stres pada Remaja Usia 16-18 Tahun dengan
Gangguan Mentruasi (Disminore). Skripsi. Stikes Nu Tuban.

Murti, B. (2006). Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan
Penelitian Kualitatif Dibidang Kesehatan. Skripsi. Jakarta: UGM Press.

Notoatmodjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Reneka Citra

Nursalam. (2013). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Selemba Medika.

Nuryaningsih, Siti. (2013). Pengaruh Senam Disminore terhadap Tingkat


Nyeri Haid pada Menarche Remaja Putri. Skripsi. Semarang:
Universitas Muhammadiyah.

Potter, P.A & Perry, A.G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan.
Jakarta: EGC.

Puji A, Istiqomah. (2009). Efektifitas Senam Disminore dalam Mengurangi


Disminore. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro
Purwaningtyas, Ratna. (2013). Komparasi Nyeri Haid pada Wanita. Skripsi.
Ponorogo: Universitas Muhammadiyah

Rafikaningsih, Ratih. (2012). Hubungan antara Disminore Primer dengan


Aktivitas Fisik pada Remaja Putri. Skripsi. Batulicin: STIKES Darul
Azhar.

Sarlito, W.S. (2008). Psikologi Remaja. Surabaya: Raja Grafindo Persada.

Saryono, & Anggraeni, M.D. (2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan


Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sayuti, Akhmad (2013). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Siswi SMP


dengan Penanganan Disminore di Kotabaru. Skripsi. Batulicin:
STIKES Darul Azhar.

Setiadi. (2012). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan. Edisi 2.


Yogyakarta : Graha Ilmu.

Syaifuddin, Haji. (2011). Anatomi Fisiologi. Jakarta: Ed. 4. Egc.

Tarwoto. dkk. (2010). Kesehatan Remaja (Problem dan Solusinya). Jakarta:


Selemba Medika.

Tochi, Bitange Nipa (2008) Manfaat Terapeutik Enzim Bromelin Buah Nanas.
Tesis. Pakistan: Universitas Pwani

Unsal, Aloettin et al (2010). Evaluasi dari Disminore Wanita dan Efek dari
Kualitas Hidup di Wilayah Turki. Jurnal Kesehatan. Turki

Wulandari, Fitri. (2008). Uji Kadar Protein Tape Singkong dengan


Penambahan Sari Buah Nanas. Skripsi. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah.

Wuryanti. (2006). Amobilisasi Enzim Bromelin dari Bongol Nanas dengan


Bahan Pendukung dari Rumput Laut. Skripsi. Universitas Diponegoro
Yuliani, Pungkas & Nur Hidayat, Novita. (2010). Hubungan antara Disminore
dengan Aktivitas Belajar Siswa SMP. Skripsi. Boyolali: Akbid Estu Utomo
Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada :

Remaja putri

Di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Dalam rangka memenuhi persyaratan tugas akhir mahasiswa program studi S1

Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darul Azhar Batulicin Tanah

Bumbu, saya mohon kesediaannya untuk menjadi responden dalam penelitian

dengan judul Efektivitas Enzim Bromelin dengan Senam Disminore terhadap

Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan Simpang Empat

Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2016.

Untuk keperluan tersebut saya akan memberikan terapi kepada remaja putri

dan hasil yang didapat akan dijamin kerahasiaannya.

Demikian permohonan saya, atas bantuan dan partisipasinya saya

mengucapkan terima kasih.

Peneliti

Syarifah Fitriyani

NIM : 1114120218
Lampiran 2

PENELITI : SYARIFAH FITRIYANI

Persetujuan Setelah Penjelasan


(INFORMED CONSENT)

Yang terhormat Saudari

Saya, mahasiswi Program Studi S1 Keperawatan Stikes Darul Azhar Batulicin, akan

melakukan penelitian dengan judul Efektivitas Enzim Bromelin dengan Senam

Disminore terhadap Nyeri Disminore pada Remaja Putri di SMA N 1 Kecamatan

Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam peelitian ini, saya akan melakukan

terapi senam disminore sebelum menstruasi dan terapi enzim bromelin yang terkandung

didalam buah nanas selama nyeri disminore setelah itu akan saya observasi tingkat nyeri

disminore yang dialami setelah pemberian terapi. Saya akan menjelaskan tujuan, tata cara

penelitian, dan menanyakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Disminore timbul menjelang menstruasi saat tubuh wanita menghasilkan suatu

zat yang disebut prostaglandin. Zat tersebut mempunyai fungsi yang salah satunya

adalah membuat dinding rahim sekitarnya terjepit (kontraksi) yang menimbulkan iskemia

jaringan. Intensitas kontaksi ini berbeda-beda setiap individunya bila berlebih akan

menimbulkan nyeri saat mentruasi. Selain itu prostaglandin juga merangsang saraf nyeri

rahim sehingga menambah intensitas nyeri postaglandin juga bekerja di seluruh tubuh,

hal ini menjelaskan mengapa gejala-gejala yang menyertai nyeri saat menstruasi.

Terapi nonfarmakologi yaitu terapi yang dapat membantu mengurangi disminore

yang terdiri dari kompres panas, masase, distraksi, istirahat dan olahraga atau senam.

Senam merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi disminore, senam

disminore yang dilakukan secara teratur dapat membantu mengurangi nyeri.


Disminore dapat juga diatasi dengan melakukan senam khusus yaitu senam

disminore yang fokusnya membantu peregangan seputar otot perut, panggul dan

pinggang dengan senam tersebut dapat memberikan sensasi rileks yang berangsur dapat

mengurangi nyeri jika dilakukan secara teratur. Selain obatan anti inflamasi dari

farmakologi kita dapat pula menemukan obat anti Inflamasi nonfarmakologi lainnya

seperti enzim bromelin buah nanas. Terapi ini bersifat sukarela dan rahasia. Hasil

observasi dapat diketahui dalam waktu 1 bulan dan hasil observasi akan diserahkan

kepada pihak sekolah. Jika saudari tidak bersedia mengikuti penelitian ini, saya sangat

menghargai keputusan tersebut dan tidak akan mengenakan sanksi apapun.

Jika saudara mempunyai pertanyaan mengenai penelitian ini, dapat

menghubungi:

Syarifah fitriyani (085754032257)

Terimakasih atas kerjasama saudari

Setelah mendengar dan emahami penjelasan peneliti, denganini saya menyatakan

SETUJU/ TIDAK SETUJU

Untuk ikut sebagai responden/ subyek penelitian.

Batulicin, 15 Juli 2016

Orang tua /wali Remaja

(............................) (............................)
Lampiran 3

Lembar observasi

Nama :

Kelas :

Usia :

Kelompok : Intervensi/ Kontrol

SKALA NYERI DISMINOREA:

Keterangan

0 : Tidak nyeri

1-3 : Nyeri ringan (klien tidak dapat berkomunikasi dengan baik)

4-6 : Nyeri sedan (klien mendesis, menyeringai dapat menunjukan

lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti

perintah dengan baik)

7-9 : Nyeri berat (klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi

masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri,

tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih

posisi nafas panjang dan distraksi.

10 : Nyeri sangat berat (klien tidak mampu berkomunikasi dan

memukul)
Lembar Pertanyaan Pre Test

Tanggal Haid Nyeri disminorea yang Tindakan yang dilakukan


dirasakan

Lembar Pertanyaan Post Test

Senam Disminorea Enzim Bromelin Skala Nyeri Disminorea

Alamat rumah No.Telpon


Lampiran 5
SOP Pemberian Senam Disminore

Teknik pergerakan senam disminore terdiri dari pemanasan, inti dan pendinginan

(Puji, 2009 dalam Laili, 2012).

3. Gerakan Pemanasan
(6) Tarik nafas dalam melalui hidung, sampai perut

mengelembung dan tangan kiri terangkat. Tahan sampai

beberapa detik dan hembuskan nafas lewat mulut


(7) Kedua tangan di perut samping, tunduk dan tegakkan kepala

(2x 8 hitungan)
(8) Kedua tangan di perut samping patahkan leher kekiri ke
kanan (2 x 8 hitungan)
(9) Kedua tangan di perut samping tengokan kepala ke kanan -
kekiri (2 x 8 hitungan)
(10) Putar bahu bersamaan keduanya (2 x 8 hitungan)

4. Gerakan Inti
4. Gerakan Badan I
(5) Berdiri dengan tangan direntangkan ke samping dan kaki

diregangkan kira- kira 30-35 cm.


(6) Bungkukan ke pinggang berputar ke arah kiri, mencoba

meraba kaki kiri dengan tangan kanan tanpa

membengkokan lutut
(7) Lakukan hal yang sama dengan tangan kiri menjamah

kaki kanan
(8) Ulangilah masing-masing sebanyak empat kali
5. Gerakan Badan II
(5) Berdirilah dengan tangan di samping dan kaki sejajar
(6) Luruskan tangan dan agkat sampai melewati kepala.

Pada waktu yang sama tentangkan kaki kekiri anda

dengan kuat ke belakang


(7) Lakukan bergantian dengan kaki kanan
(8) Ulangi empat kali masing- masing kaki
6. Gerakan Pendinginan
(3) Lengan dan tangan, genggam tangan kerutkan lengan

dengan kuat tahan, lepaskan


(4) Tungkai dan kaki, luruskan kaki tahan beberpa detik,

lepaskan
(5) Seluruh tubuh, kencangkan semua otot sambil nafas dada

pelan teratur lalu rilaks (bayangkan hal yang

menyenangkan).

Lampiran 6
SOP Pemberian Enzim Bromelin Buah nanas

Kriteria:
Umur nanas 3 bulan

Bagian yang di konsumsi hati nanas (bromelin brass)

Suhu yang digunakan dibawah 50oc

Ph optimum 6,5-7

Jumlah yang dikonsumsi 40 gram


Syarat:

1. Nanas tidak boleh dipanaskan


2. Di konsumsi saat nyeri haid timbul saat menstruasi

Cara pemakaian:

1. Kupas nanas sampai bersih ukuran 1000gr


2. Potong nanas menjadi 10 bagian (100 gr) secara membujur
3. Potong nanas ambil hati nanas dan cuci
4. Konsumsi hati nanas dan tunggu 5-10 menit

JADWAL RANGKAIAN PENELITIAN

Waktu
NO. Kegiatan
Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep

1 Mengumpulkan Literatur

2 Mengajukan Judul Penelitian

Menyusun Proposal
3
Penelitian

Konsultasi Proposal
4
Penelitian
5 Seminar Proposal Penelitian

Perbaikan Proposal dan


6
pengumpulan data

Pengolahan data dan


7
penyusunan Skripsi

Konsultasi pembimbing dan


8
sidang skripsi

Revisi dan Pengumpulan


9
skripsi
TABULASI DATA TERAPI ENZIM BROMELIN DAN SENAM DISMINORE

TERAPI
N PRE POS
skoring skoring hasil ENZIM SENAM
O TEST TEST
BROMELIN DISMINORE
1 8 3 7 3 1 1 1
2 7 3 4 2 1 1 1
3 9 3 5 2 1 1 1
4 7 3 4 2 1 1 1
5 8 3 3 1 2 1 1
6 9 3 6 2 1 1 1
7 10 4 8 3 1 1 1
8 8 3 6 2 1 1 1
9 7 3 4 2 1 1 1
10 10 4 7 3 1 1 1
11 8 3 7 3 2 1 1
12 8 3 5 2 2 1 1
13 7 3 5 2 1 1 1
14 6 2 4 2 1 1 1
15 6 2 3 1 1 1 1
16 5 2 5 2 1 1 1
17 6 2 3 1 1 1 1
18 8 3 6 2 2 1 1
19 5 2 4 2 2 1 1
20 6 2 4 2 1 1 1
TABULASI DATA TERAPI ENZIM BROMELIN TANPA SENAM DISMINORE

TERAPI
PRE skorin POS skorin ENZIM
NO hasil SENAM
TEST g TEST g BROMELI
DISMINORE
N
1 8 3 7 3 2 1 2
2 7 3 4 2 2 1 2
3 9 3 5 2 1 1 2
4 10 4 5 2 1 1 2
5 8 3 5 2 1 1 2
6 9 3 7 3 2 1 2
7 10 4 6 2 2 1 2
8 6 2 3 1 1 1 2
9 7 3 5 2 1 1 2
10 9 3 5 2 1 1 2
11 6 2 4 2 2 1 2
12 5 2 3 1 2 1 2
13 7 3 5 3 1 1 2
14 7 3 3 2 1 1 2
15 8 3 6 3 1 1 2
16 6 2 4 2 1 1 2
17 7 3 5 3 1 1 2
18 6 2 3 1 2 1 2
19 7 3 3 1 1 1 2
20 6 2 4 2 1 1 2
TABULASI DATA TERAPI SENAM DISMINORE TANPA ENZIM
BROMELIN
TERAPI
N PRE POS
skoring skoring ENZIM SENAM
O TEST TEST
BROMELIN DISMINORE
1 10 4 8 3 2 1
2 7 3 7 3 2 1
3 10 4 6 2 2 1
4 8 3 7 3 2 1
5 8 3 7 3 2 1
6 10 4 7 3 2 1
7 10 4 7 3 2 1
8 8 3 5 2 2 1
9 7 3 6 2 2 1
10 9 3 6 2 2 1
11 8 3 7 3 2 1
12 9 3 8 3 2 1
13 8 3 7 3 2 1
14 9 3 7 3 2 1
15 8 3 6 2 2 1
16 6 2 4 2 2 1
17 6 2 4 2 2 1
18 9 3 6 2 2 1
19 8 3 4 2 2 1
20 6 2 5 2 2 1
Enzim Bromelin dan Senam Disminore * Nyeri Disminore

Mean
N Rank Sum of Ranks
postest - Negative Ranks 13a 7.00 91.00
pretest Positive Ranks 0b .00 .00
Ties 7c
Total 20
a. postest < pretest
b. postest > pretest
c. postest = pretest

Test Statisticsb
postest -
pretest
Z -3.500a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Based on positive ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Senam Disminore * Nyeri Disminore

Ranks
Mean
N Rank Sum of Ranks
postest - pretest Negative Ranks 10a 5.50 55.00
Positive Ranks 0b .00 .00
Ties 10c
Total 20
a. postest < pretest
b. postest > pretest
c. postest = pretest
Test Statisticsb
postest -
pretest
Z -3.051a
Asymp. Sig. (2-tailed) .002
a. Based on positive ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Enzim Bromelin * Nyeri Disminore

Ranks
Sum of
N Mean Rank Ranks
postest - Negative Ranks 12a 6.50 78.00
pretest Positive Ranks 0b .00 .00
Ties 8c
Total 20
a. postest < pretest
b. postest > pretest
c. postest = pretest

Test Statisticsb
postest -
pretest
Z -3.217a
Asymp. Sig. (2-tailed) .001
a. Based on positive ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test