Anda di halaman 1dari 12

CONTOH PRAKTIK PENERAPAN DAN PRAKTIK YANG

BERTENTANGAN DENGAN NILAI TOLERANSI DAN DEMOKRASI DI


LINGKUNGAN SEKITAR

UJIAN AKHIR SEMESTER


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

PENDIDIKAN PANCASILA

Yang diampu oleh Ibu Rani Prita Prabawangi, S.Hub.Int,M.Si

Oleh :

Moh.Dedy Indra Setiawan 160514610063

Maftuchul Himam Al Kautsar 160514610103

Maulana Ahsanul Mubarok 160514610076

Muhamad Rifki Ardiansyah 160514610042

Muhamad Chairil 160514601722

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN


OFFERING E2
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2016
Contoh 1 : Toleransi Antara Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa
Merpati Putih Universitas Negeri Malang

Kami melakukan pengamatan terhadap toleransi yang ada pada


salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) beladiri Merpati Putih. UKM
Merpati Putih melakukan latihan rutin dua kali dalam seminggu yaitu pada
hari selasa dan jumat. Kami memutuskan untuk melakukan observasi
pada hari selasa ketika banyak anggota yang datang latihan. Pada
awalnya terkesan normal dan biasa saja akan tetapi setelah kami cermati
dan berbincang-bincang dengan beberapa anggotanya ternyata kami
mendapati bahwa anggota Perguruan silat yang datang latihan tidak
hanya mahasiswa yang berasal dari Universitas Negeri Malang tetapi juga
ada yang berasal dari universitas lain dan bahkan ada yang sudah
bekerja. Beberapa yang datang adalah mahasiswa dari STT yang ikut
bergabung latihan bersama di Universitas Negeri Malang. Menurut ketua
umum UKM Merpati Putih sebut saja Mas Manu bahwasannya tidak
hanya STT tetapi UB juga terkadang datang untuk ikut latihan bersama
maupun berdiskusi. Hal ini benar-benar tidak terpikirkan sama sekali
karena biasanya mahasiswa tiap universitas memiliki gengsinya sendiri
tetapi para anggota Merpati Putih ini bisa berbaur dan bergaul satu sama
lain tanpa memperdulikan perbedaan yang ada diantara mereka. Tidak
hanya perbedaan universitas, dalam UKM ini juga terdapat perbedaan
agama. Salah satunya adalah Mas Macrus yang beragama Budha. Ketika
kami tanya ternyata Mas Macrus selama berlatih bersama anggota lain
yang mayoritas beragama Islam ternyata mengaku tidak pernah
mengalami diskriminasi apapun dan tidak pernah dipandang rendah oleh
anggota yang lain. Dari hasil pengamatan kami ini kami menyimpulkan
bahwa para anggota UKM Merpati Putih memiliki tingkat toleransi dan
kekeluargaan yang tinggi.

Toleransi ini dapat tercapai dikarenakan beberapa sebab, seperti


sifat kekeluargaan yang memang ditekankan dalam perguruan silat
tersebut. Sifat kekeluargaan inilah yang menjadikan para anggota UKM
Merpati Putih dapat berbaur layaknya sebuah keluarga besar meskipun
pada dasarnya berasal dari berbagai daerah berbeda yang tentunya
memiliki ciri khas dan budayanya sendiri-sendiri. Selain itu juga kesadaran
dari masing-masing anggota akan pentingnya toleransi juga memegang
peranan penting dalam terciptanya toleransi dan demokrasi yang ideal
dalam unit kegiatan mahasiswa ini. Faktor ketiga yang membuat toleransi
ini dapat tercipta ialah karena rasa saling menghormati sesama anggota
UKM Merpati Putih. Dengan menerapkan sikap saling menghormati antar
sesama anggota, membuat para anggota Merpati Putih, antara anggota
yang satu dengan anggota yang lain dapat menghindari konflik yang
mungkin terjadi karena adanya perbedaan diantara mereka. Sehingga
sikap saling menghormati ini memang sangat diperlukan untuk
mewujudkan toleransi sesama anggota. Selain itu kami juga mengamati
bahwa setiap anggota UKM Merpati Putih juga menerapkan sikap saling
menghargai satu sama lain.

Dampak yang terjadi ketika sikap dan nilai-nilai toleransi ini dapat
diterapkan sebagaimana mestinya ialah :

1. Terciptanya keharmonisan dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Merpati


Putih
2. Terhindarnya konflik internal sesama anggota Unit Kegiatan
Mahasiswa Merpati Putih
Contoh 2 : Pelanggaran Demokrasi pada Saat Pemilu (Politik Uang
yang Marak Terjadi Di Masyarakat Kita)

DEFINISI PEMILU YANG DEMOKRATIS

Pemilihan umum (Pemilu) adalah salah satu cara dalam sistem


demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga
perwakilan rakyat, serta salah satu bentuk pemenuhan hak asasi warga
negara di bidang politik. Pemilu dilaksanakan untuk mewujudkan
kedaulatan rakyat. Sebab, rakyat tidak mungkin memerintah secara
langsung. Karena itu, diperlukan cara untuk memilih wakil rakyat dalam
memerintah suatu negara selama jangka waktu tertentu. Pemilu
dilaksanakan dengan menganut asas langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur, dan adil.

Pemilihan umum mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai:

Sarana memilih pejabat publik (pembentukan pemerintahan),

Sarana pertanggungjawaban pejabat publik, dan

Sarana pendidikan politik rakyat.

Menurut Austin Ranney, pemilu dikatakan demokratis apabila


memenuhi kriteria sebgai berikut:

Penyelenggaraan secara periodik (regular election),

Pilihan yang bermakna (meaningful choices),

Kebebasan untuk mengusulkan calon (freedom to put forth


candidate),
Hak pilih umum bagi kaum dewasa (universal adult suffrage),

Kesetaraan bobot suara (equal weighting votes),

Kebebasan untuk memilih (free registration oh choice),

Kejujuran dalam perhitungan suara dan pelaporan hasil (accurate


counting of choices and reporting of results)

Pemilihan umum dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

Cara langsung, dimana rakyat secara langasung memilih wakil-


wakilnya yang akan duduk di badan-badan perwakilan rakyat.
Contohnya, pemilu di Indonesia untuk memilih anggota DPRD,
DPR, dan Presiden.

Cara bertingkat, di mana rakyat terlebih dahulu memilih wakilnya


(senat), lantas wakil rakyat itulah yang memilih wakil rakyat yang
akan duduk di badan-badan perwakilan rakyat.

Dalam suatu pemilu, setidaknya ada tiga sistem utama yang sering
berlaku, yaitu:

Sistem Distrik: Sistem distrik merupakan sistem yang paling tua.


Sistem ini didasarkan kepada kesatuan geografis. Dalam sistem
distrik satu kesatuan geografis mempunyai satu wakil di parlemen.
Sistem ini sering dipakai di negara yang menganut sistem
dwipartai, seperti Inggris dan Amerika.

Sistem perwakilan proporsional: Dalam sistem perwakilan


proporsional, jumlah kursi di DPR dibagi kepada tiap-tiap partai
politik, sesuai dengan perolehan jumlah suara dalam pemilihan
umum. khusus di daerah pemilihan. Untuk keperluan itu, maka
ditentukan suatu pertimbangan, misalnya 1 orang wakil di DPR
mewakili 500 ribu penduduk.

Sistem campuran: Sistem ini merupakan campuran antara sistem


distrik dengan proporsional. Sistem ini membagi wilayah negara ke
dalam beberapa daerah pemilihan. Sisa suara pemilih tidak hilang,
melainkan diperhitungkan dengan jumlah kursi yang belum dibagi.
Sistem ini diterapkan di Indonesia sejak pemilu tahun 1977 dalam
memilih anggota DPR dan DPRD. Sistem ini disebut juga
proporsional berdasarkan stelsel daftar.
KASUS YANG TERJADI DI MASYARAKAT KITA

Di negara Indonesia pada saat pelaksaan pemilu masih banyak


pelanggaran. Terutama pelanggaran asas jujur dan adil. Banyak calon
wakil rakyat mngeluarkan uang yang tidak sedikit untuk biaya kampanye
dan biaya mengiming-iming rakyat dengan sejumlah uang (menyogok).
Semakin banyak uang yang dikeluarkan oleh calon wakil rakyat, maka
semakin besar pula peluang calon wakil rakyat untuk keluar sebagai
pemenang.

Pelanggaran menyogok dengan sejumlah uang yang dilakukan


calon wakil rakyat terhadap rakyat sesungguhnya sangat tidak perlu dan
sangat tidak boleh dilakukan.Rakyat bebas memilih sesuai dengan hati
nurani mereka calon pemimipin yang pantas menang dalam pemilu tanpa
pengaruh sogokan sejumlah uang. Dengan hanya pengaruh sejumlah
uang nasib bangsa dan negara dipertaruhkan.

Dampak negatif dari penyogokan tersebut adalah calon wakil


rakyat yang menang dalam pemilu dengan cara menyogok, mereka akan
kehilangan banyak uang, tentunya mereka tidak akan mau rugi, akhirnya
pada saat sudah menjabat wakil rakyat mereka akan menggerogoti uang
negara demi menutup kerugian biaya pemilu, akhirnya korupsi akan
merajalela. Kita sebagai rakyat indonesia seharusnya memilh calon wakil
rakyat sesuai hati nurani kita, demi kemajuan negara indonesia, hati
nurani kita seharusnya tidak bisa dipengaruhi walaupun dengan jumlah
berapa pun nilainya, hanya rakyat yg bermental bobroklah yg hati
nuraninya bisa dibeli dan dipengaruhi.

Contoh 3 : Toleransi Umat Kristen Terhadap Jemaah Shalat Idul Fitri


di Malang

Umat Muslim di Malang salat Ied di halaman gereja. Peristiwa ini


terjadi ketika jumlah jamaah yang hendak menunaikan salat Idul Fitri di
Masjid Agung Jami, Kota Malang, Jawa Timur, mencapai ribuan orang.
Untuk itu, sebagian di antara mereka membentangkan sajadah di halaman
Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus.

Peristiwa ini biasa terjadi tiap tahun, tapi memang jarang diketahui
orang. Halaman gereja yang terletak sekitar 100 meter dari mesjid itu
dipenuhi jamaah perempuan. Pengurus Gereja Paroki Hati Kudus Yesus,
Yohanes Kristiawan, mengaku menyiapkan halaman gereja untuk ibadah
salat Ied sejak pukul 05.00 WIB. Ia, tambahnya, bersama jamaah Kristen
turut bersama-sama para muslim membersihkan koran dan alas selepas
ibadah.

Dan Bentuk toleransi tak hanya tercermin pada saat salat Ied saja,
pada malam takbiran Idul Fitri tahun ini kebaktian dimajukan pukul 16.30
WIB. Padahal ibadat gereja dimulai Pukul 18.00 WIB. Perubahan jadwal
kebaktian untuk menghormati umat muslim yang tengah menggelar
takbiran.

Sikap toleransi ini menunjukkan kedewasaan kedua belah umat


beragama di tempat ibadah yang termasuk kuno. Meski berhimpitan
selama seabad lebih namun tak pernah ada gesekan atau pertentangan.
Bahkan, kedua pengurus tempat ibadat sering bekerjasama dan
membangun toleransi. Saat perayaan natal, pemuda Islam dari Barisan
Ansor Serbaguna (Banser) dan Remaja Masjid membantu berjaga
keamanan dan tempat parkir jemaat.

Sebab terjadinya toleransi adalah Menyadari akan


keanekaragaman dengan saling menghormati dan menghargai antar
sesama. Perbedaan yang ada tersebut tidak membuat umat tercerai berai.
Namun sebaliknya perbedaan yang ada tersebut dianggap sebagai
kekayaan bangsa yang menjadi ciri khas bangsa kita. Tertanamkannya
rasa nasionalisme dan cinta tanah air dalam diri generasi penerus bangsa
sejak kecil membuat mereka semakin memahami dan akhirnya dapat
saling menghargai setiap perbedaan yang ada. Melakukan kegiatan sosial
yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda dengan pembinaan
individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang memiliki budi
pekerti luhur.

Dampak yang ditimbulkan oleh sikap toleransi ini adalah

Tidak Terjadinya Perpecahan

Bersikap toleran merupakan solusi agar tidak terjadi perpecahan


dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu
kesadaran pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial.
Toleransi dalam kehidupan beragama menjadi sangat mutlak adanya
dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun agama ardli dalam
kehidupan umat manusia ini.

Memperkokoh Silaturahmi

Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan
memperkokoh tali silaturahmi antarumat beragama dan menjaga
hubungan baik dengan manusia lainnya. Pada umumnya manusia tidak
dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan dijadikan
alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan agama
merupakan salah satu faktor penyebab utama adanya konflik
antarsesama manusia.

Contoh 4 : Nilai Demokrasi dan Pancasila dalam Organisasi Palang


Merah Remaja (PMR)

Di sebuah organisasi di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri


terdapat banyak sekali organisasi ekstrakulikuler dan salah satunya yaitu
Palang Merah Remaja (PMR). PMR ini sendiri pun disetiap tingkatan
pendidikan memiliki pangkat (gelaratausebutan) masing-masing. Untuk di
Sekolah Dasar sederajat di sebut dengan Mula, sekolah menengah
pertama disebut dengan Madya, Untuk Sekolah Menengah Atas sendiri
disebut dengan Wira, dan yang terakhir dalam PerguruanTinggi di sebut
dengan KSR (KorpSukaRela). Tetapi untuk KSR sendiri itu sudah
termasuk ke dalam tinggatan yang lebih tinggi di atas PMR yaitu PMI
(PalangMerah Indonesia). Oke kita lanjut kebagian cerita tentang salah
satu SMA negeri. Sekolah ini pun sebenarnya tidak hanya mempunyai
satu ekstkull,ada ekskull lainnya yang terdapat dalam sekolah ini yaitu
pramuka, sispala, paskibra, karate, taekwondo, kesenian, dan kerohanian.
Dalam organisasi PMR ini pada beberapa waktu yang lalu mereka
melakukan pemilihan kepengurusan sekaligus Ketua untuk Tahun Ajaran
baru yang mana hal ini merupakan budaya demokrasi yang mereka
lakukan dalam ekskull mereka ini. Tetapi tidak hanya hal ini yang
merupakan penerapan budaya demokrasi tetapi ada beberapa hal lainnya.
Semisal hal lainnya yaitu pada kegiatan rapat, pembagian tugas, dan hal-
hal lainnya yang terjadi dalam kegiatan ekskull tersebut.
Tetapi pada suatu saat pernah terjadi ketidakpuasaan yang dialami
oleh beberapa siswa setelah rapat misalnya, mereka merasa pendapat-
pendapatnya tidakdi dengar pada saat rapat, ini menunjukkan apa yang
menjadi keinginan atau harapan dari beberapa pengurus PMR tidak
tersalurkan. Terjadi juga setelah rapat mereka berbicara tentang ide-
idenya yang tidak mereka sampaikan pada saat rapat karena takut tidak
diterima dalam pertemuan rapat. Pernah suatu ketika beberapa pendapat
pengurus PMR tidak diterima pada pertemuan rapat yang mengakibatkan
mereka tidak mendukung kegiatan PMR yang dilaksanakan. Sikap
beberapa pengurus PMR yang tidak mendukung kegiatan tersebut
akhirnya menimbulkan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kegiatan
PMR. Berbagai persoalan yang terjadi dalam kepengurusan PMR
seharusnya tidak perlu terjadi apabila pengurus PMR memahami dan
melaksanakan budaya atau nilai-nilai demokrasi dalam PMR. Budaya
demokrasi harus dilaksanakan dalam kegiatan PMR demi membentuk
relawan-relawan yang demokratis dan memiliki budaya toleransi dalam
sikap dan perilaku. Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana mereka dalam
hal itu Ketika kita Melihat dalam pertemuan, sikap dan perilaku pengurus
dan anggotanya. Kita bisa menilai penerapan budaya demokrasi dalam
kegiatan ini. Dan sebenarnya jika semua pihak dalam kepungurusan ini
terutama ketua mau mendengarkan aspirasidaripengurusdananggotanya,
mereka pun bisa menerapkan nila toleransi dengan baik dan tidak
mengakibatkan hal buruk seperti yang terjadi sekarang. Mungkin dari
kejadian ini kita bisa belajar bahwa sangat penting sekali budaya
penerapan nilai demokrasi dan toleransi didalam kehidupan sehari-hari.
Karena tanpa adanya penerapan kedua nilai tersebut sekali lagi kami
jelaskan Indonesia dalam impian dan cita-citanya untuk memiliki generasi
muda yang demokratis akan hanya menjadi impian belaka saja.

Contoh 5 : Sikap Tidak Toleran Antar Agama

Sepanjang sejarah agama dapat memberi sumbangsih positif bagi


masyarakat dengan memupuk persaudaraan dan semangat kerjasama
antar anggota masyarakat. Namun sisi yang lain, agama juga dapat
sebagai pemicu konflik antar masyarakat beragama. Ini adalah sisi negatif
dari agama dalam mempengaruhi masyarakat dan hal ini telah terjadi di
beberapa tempat di Indonesia. Dengan keanekaragaman agama yang ada
di Indonesia membuat masyarakat Indonesia memiliki pemahaman yang
berbeda-beda sesuai dengan yang diajarkan oleh agamanya masing-
masing. Perbedaan ini timbul karena adanya doktrin-doktrin dari agama-
agama, suku, ras, perbedaan kebudayaan, dan dari kelompok minoritas
dan mayoritas.
Pada bagian ini akan diuraikan sebab terjadinya konflik antar masyarakat
beragama khususnya yang terjadi di Indonesia;

- Perbedaan Doktrin
Semua pihak umat beragama yang sedang terlibat dalam
bentrokan masing-masing menyadari bahwa justru perbedaan doktrin
itulah yang menjadi penyebab dari benturan itu. Entah sadar atau tidak,
setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya,
membandingkan dengan ajaran agama lawan, memberikan penilaian atas
agama sendiri dan agama lawannya. Dalam skala penilaian yang dibuat
(subyektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan
agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan lawan dinilai
menurut patokan itu. Agama Islam dan Kristen di Indonesia, merupakan
agama samawi (revealed religion), yang meyakini terbentuk dari wahyu
Ilahi Karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang berasal dari
Tuhan.

- Perbedaan Suku dan Ras


Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama
memperlebar jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan suku dan ras
ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk
menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.

- Perbedaan Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan
membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa di dunia tidak sama.
Tempat-tempat terjadinya konflik antar kelompok masyarakat agama Islam
- Kristen, perbedaan antara dua kelompok yang konflik. Kelompok
masyarakat setempat memiliki budaya yang sederhana atau tradisional:
sedangkan kaum pendatang memiliki budaya yang lebih maju atau
modern. Karena itu bentuk rumah gereja lebih berwajah budaya Barat
yang mewah. Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang
berbeda agama di suatu tempat atau daerah ternyata sebagai faktor
pendorong yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok
agama di Indonesia.

- Masalah Mayoritas dan Minoritas

Fenomena konflik sosial mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam


masyarakat agama pluralitas penyebab terdekat adalah masalah
mayoritas dan minoritas golongan agama. Masalah mayoritas dan
minoritas ini timbul dikarenakan kekuatan dan kekuasaan yang lebih besar
kelompok Lex Administratum, Vol.I/No.2/Jan-Mrt/2013 moyoritas dari pada
kelompok minoritas sehingga timbul konflik yang tak terelakan.
Dikarenakan saling menunjukan pembenaran dari masing-masing
pemahaman dari doktrin-doktirn yang di berikan dalam kelompok
mayoritas dan minoritas. Mengakibatkan timbulnya konflik dari kelompok
mayoritas dengan kelompok minoritas. Tentu akibat dari sikap toleransi
yang kurang dapat mnimbulkan berbagai konflik,kerusuhan dan bisa
terjadi tawuran antar agama. Tetapi jika kita bisa menghargai agama
orang lain menghormati agama lainya kita bisa menjalin tali silaturahim
yang kuat,sehingga akan menjadikan daerah itu tentram dan sejahtera
karena tidak terdapat kericuhan. Tentu kita harus menjaga kesatuan
Negara ini karena kita hidup dinegara yang penuh akan kekayaan alam
keragaman budaya,suku dan agama. Karena itulah kita harus mempunyai
toleransi yang besar juga agara Negara kita tidak terjadi perpecahan dan
konflik. Dari berbagai macam suku kita jadi bisa mengenal adat istiadat
suku yang bukan dari suku kita, dari berbeda agama kita harus saling
menghormati dengan cara sebisa kita walaupun yang berbeda agama itu
lebihy kaya, kita tidak boeh mengintimidasi mereka. Dalam kehipudan itu
harus perbanyak toleransi dan rendah hati agar tidak timbul suatu hal
yang membuat perpecahan.

Nama: Moh. Dedy Indra


Setiawan

NIM : 160514610063

Nama: Maftuchul Himam Al


Kautsar

NIM : 160514610103

Nama: Muhamad Rifki Ardiansyah

NIM : 160514610042
Nama: Muhamad Chairil

NIM : 160514601722

Nama: Maulana Ahsanul Mubarok

NIM : 160514610076