Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit malaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dengan morbiditas
dan mortalitas yang cukup tinggi. Malaria dapat ditemui hampir di seluruh dunia, terutama
negara-negara beriklim tropis dan subtropis. Setiap tahunnya ditemukan 300-500 juta kasus
malaria yang mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian terutama di negara-negara benua Afrika.

Upaya penanggulangan di Indonesia telah sejak lama dilaksanakan, namun daerah


endemis malaria bertambah luas, bahkan menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, terdapat 15 juta
kasus malaria dengan 38.000 kematian setiap tahunnya. Dari 295 kabupaten/kota yang ada di
Indonesia, 167 kabupaten/kota merupakan wilayah endemis malaria.

B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang didapatkan antara lain:
1. Apa definisi dari penyakit malaria?
2. Bagaimana sifat dari Plasmodium falciparum?
3. Bagaimana patogenesis penyakit malaria?
4. Apa saja gejala dan tanda orang yang terserang penyakit malaria?
5. Apa saja komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit malaria?
6. Apa saja diagnosis serta diagnosis banding dari penyakit malaria?
7. Bagaimana penatalaksanaan penyakit malaria?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
1. Agar dapat mengetahui definisi dari penyakit malaria
2. Agar dapat mengetahui sifat dari Plasmodium falciparum
3. Agar dapat mengetahui patogenesis penyakit malaria
4. Agar dapat mengetahui gejala dan tanda orang yang terserang penyakit malaria
5. Agar dapat mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit malaria
6. Agar dapat mengetahui diagnosis serta diagnosis banding dari penyakit malaria
7. Agar dapat mengetahui penatalaksanaan penyakit malaria

D. Manfaat
Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
1. Mengetahui definisi dari penyakit malaria
2. Mengetahui sifat dari Plasmodium falciparum
3. Mengetahui patogenesis penyakit malaria
4. Mengetahui gejala dan tanda orang yang terserang penyakit malaria
5. Mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit malaria
6. Mengetahui diagnosis serta diagnosis banding dari penyakit malaria
7. Mengetahui penatalaksanaan penyakit malaria

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Penyakit malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa jenis
plasmodium yang menyeranng eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di
dalam darah. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi ataupun mengalami
komplikasi sistemik yang dikenal sebagai malaria berat. (Sudoyo, 2007)
B. Etiologi
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi manusia juga
mengeinfeksi binatang seperti golongan burung, reptil, dan mamalia. Termasuk dalam genus
plasmodium dari famili plasmodidae. Pada manusia, plasmodium menginfeksi eritrosit dan
mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit (Sudoyo, 2007). Pembiakan
seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina. Plasmodium sebagai penyebab
malaria terdiri dari 4 spesies, yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium
malariae, dan Plasmodium ovale. Secara keseluruhan ada lebih dari 100 plasmodium yang
menginfeksi binatang (82 pada jenis burung dan reptil dan 22 pada binatang primata).
Malaria juga melibatkan hospes perantara, yaitu manusia maupun vertebra lainnya.
Sedangkan hospes definitifnya yaitu nyamuk anopheles. (Mansjoer, 2001)
C. Epidemiologi
Infeksi malaria tersebar lebih dari 100 negara di benua Afrika, Asia, Amerika, dan
daerah Oceania serta kepulauan Karibia. Lebih dari 1,6 triliun manusia terpapar oleh malaria
dengan dugaan morbiditas 200-300 juta dan mortalitas lebih dari 1 juta per tahun. Di
Indonesia kawasan timur mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tengah sampai ke Utara, Maluku,
Irian Jaya serta dari Lombok hingga Nusa Tenggara merupakan daerah endemis malaria
dengan P. Falciparum dan P. Vivax. Beberapa daerah di Sumatera nulai dari Lampung, Riau,
Jambi, dan Batam kasus malaria cenderung meningkat. (Sudoyo, 2007)
Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin lebih berkaitan dengan
perbedaan derajat kekebalan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan
mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan
dapat meningkatkan resiko malaria. Ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi seseorang
terinfeksi malaria adalah: (Gunawan, 2000)
1. Ras atau suku bangsa
Pada penduduk benua Afrika prevalensi Hemoglobin S (HbS) cukup tinggi sehingga lebih
tahan terhadap infeksi P. Falciparum karena HbS dapat menghambat perkembangbiakan P.
Falciparum.
2. Kekurangan enzim tertentu
Kekurangan terhadap enzim Glukosa 6 Phosphat Dehidrogenase (G6PD) memberikan
perlindungan terhadap infeksi P. Falciparum yang berat. Defisiensi terhadap enzim ini
merupakan penyakit genetik dengan manifestasi utama pada wanita.
3. Kekebalan pada malaria terjadi apabila tubuh mampu menghancurkan Plasmodium
yang masuk atau mampu menghalangi perkembangannya.
D. Daur Hidup
Parasit malaria memerlukan dua hospes untuk siklus hidupnya, yaitu manusia dan
nyamuk anopheles betina.
1. Siklus pada manusia
Pada waktu nyamuk anopheles infektif mengisap darah manusia, sporozoit yang berada
dalam kelenjar liur nyamuk akan masuk ke dsalam peredaran darah selama kurang lebih 30
menit. Setelah itu sporozoit akan masuk ke dalam sel hati dan menjadi tropozoit hati.
Kemudian berkembang menjadi skizon hati yang terdiri dari 10.000 sampai 30.000 merozoit
hati. Siklus ini disebut siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih 2 minggu.
Pada P. vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi
skizon, tetapi ada yang memjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut
dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat
bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps.
(Nugroho, 2000)
Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah
dan menginfeksi sela darah merah. Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang
dari stadium tropozoit sampai skizon (8-30 merozoit). Proses perkembangan aseksual ini
disebut skizogoni. Selanjutnya eritrosit yang terinfeksi skizon) pecah dan merozoit yang
keluar akan menginfeksi sel darah merah lainnya. Siklus inilah yang disebut dengan siklus
eritrositer. Setelah 2-3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang meninfeksi sel darah
merah dan membentuk stadium seksual yaitu gametosit jantan dan betina. (Nugroho, 2000)
2. Siklus pada nyamuk anopheles betina
Apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit, di
dalam tubuh nyamuk, gamet jantan dan gamet betina melakukan pembuahan menjadi zigot.
Zigot ini akan berkembang menjadi ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk.
Di luas dinding lambung nyamuk ookinet akan menjadi ookista dan selanjutnya menjadi
sporozoit yang nantinya akan bersifat infektif dan siap ditularkan ke manusia. (Sudoyo, 2007)
Masa inkubasi atau rentang waktu yang diperlukan mulai dari sporozoit masuk ke tubuh
manusia sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam bervariasi, tergantung
dari spesies Plasmodium. Sedangkan masa prepaten atau rentang waktu mulai dari sporozoit
masuk sampai parasit dapat dideteksi dalam darah dengan pemeriksaan mikroskopik.
(Nugroho, 2000)
E. Patogenesis Malaria
Patogenesis malaria akibat dari interaksi kompleks antara parasit, inang dan
lingkungan. Patogenesis lebih ditekankan pada terjadinya peningkatan permeabilitas
pembuluh darah daripada koagulasi intravaskuler. Oleh karena skizogoni menyebabkan
kerusakan eritrosit maka akan terjadi anemia. Beratnya anemi tidak sebanding dengan
parasitemia menunjukkan adanya kelainan eritrosit selain yang mengandung parasit. Hal ini
diduga akibat adanya toksin malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit dan
sebagian eritrosit pecah melalui limpa sehingga parasit keluar. Faktor lain yang menyebabkan
terjadinya anemia mungkin karena terbentuknya antibodi terhadap eritrosit. (Gandahusada,
1998)
Limpa mengalami pembesaran dan pembendungan serta pigmentasi sehingga mudah
pecah. Dalam limpa dijumpai banyak parasit dalam makrofag dan sering terjadi fagositosis
dari eritrosit yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Pada malaria kronis terjadi
hyperplasia dari retikulosit diserta peningkatan makrofag.
Pada malaria berat mekanisme patogenesisnya berkaitan dengan invasi merozoit ke
dalam eritrosit sehingga menyebabkan eritrosit yang mengandung parasit mengalami
perubahan struktur danmbiomolekular sel untuk mempertahankan kehidupan parasit.
Perubahan tersebut meliputi mekanisme, diantaranya transport membran sel, sitoadherensi,
sekuestrasi dan resetting.
Sitoadherensi merupakan peristiwa perlekatan eritrosit yang telah terinfeksi P.
falciparum pada reseptor di bagian endotelium venule dan kapiler. Selain itu eritrosit juga
dapat melekat pada eritrosit yang tidak terinfeksi sehingga terbentuk roset.
Resetting adalah suatu fenomena perlekatan antara sebuah eritrosit yang mengandung
merozoit matang yang diselubungi oleh sekitar 10 atau lebih eritrosit non parasit, sehingga
berbentu seperti bunga. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya resetting adalah
golongan darah dimana terdapatnya antigen golongan darah A dan B yang bertindak sebagai
reseptor pada permukaan eritrosit yang tidak terinfeksi.
Menurut pendapat ahli lain, patogenesis malaria adalah multifaktorial dan berhubungan
dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Penghancuran eritrosit
Fagositosis tidak hanya pada eritrosit yang mengandung parasit tetapi juga terhadap eritrosit
yang tidak mengandung parasit sehingga menimbulkan anemia dan hipoksemia jaringan.
Pada hemolisis intravascular yang berat dapat terjadi hemoglobinuria (black white fever) dan
dapat menyebabkan gagal ginjal.
2. Mediator endotoksin-makrofag
Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitive
endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator. Endotoksin mungkin berasal dari saluran
cerna dan parasit malaria sendiri dapat melepaskan faktor nekrosis tumor (TNF) yang
merupakan suatu monokin, ditemukan dalam peredaran darah manusia dan hewan yang
terinfeksi parasit malaria. TNF dan sitokin dapat menimbulkan demam, hipoglikemia, dan
sndrom penyakit pernapasan pada orang dewasa.
3. Sekuestrasi eritrosit yang terluka
Eritrosit yang terinfeksi oleh Plasmodium dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada
permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen dan bereaksi dengan antibodi malaria
dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung parasit terhadap endothelium
kapiler alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi alat dalam. Eritrosit yang
terinfeksi menempel pada endothelium dan membentuk gumpalan yang mengandung kapiler
yang bocor dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan.
F. Gejala
Malaria sebagai penyebab infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium mempunyai gejala
utama yaitu demam. Demam yang terjadi diduga berhubungan dengan proses skizogoni
(pecahnya merozoit atau skizon), pengaruh GPI (glycosyl phosphatidylinositol) atau
terbentuknya sitokin atau toksin lainnya. Pada beberapa penderita, demam tidak terjadi
(misalnya pada daerah hiperendemik) banyak orang dengan parasitemia tanpa gejala.
Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam periodic, anemia dan splenomegali.
Manifestasi umum malaria adalah sebagai berikut: (Nugroho, 2000)
1. Masa inkubasi
Masa inkubasi biasanya berlangsung 8-37 hari tergantung dari spesies parasit
(terpendek untuk P. falciparum dan terpanjanga untuk P. malariae), beratnya infeksi dan pada
pengobatan sebelumnya atau pada derajat resistensi hospes. Selain itu juga cara infeksi yang
mungkin disebabkan gigitan nyamuk atau secara induksi (misalnya transfuse darah yang
mengandung stadium aseksual).
2. Keluhan-keluhan prodromal
Keluhan-keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam, berupa: malaise,
lesu, sakit kepala, sakit tulang belakang, nyeri pada tulang dan otot, anoreksia, perut tidak
enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin di punggung. Keluhan prodromal sering
terjadi pada P. vivax dan P. ovale, sedangkan P. falciparum dan P. malariae keluhan
prodromal tidak jelas.
3. Gejala-gejala umum
Gejala-gejala klasik umum yaitu terjadinya trias malaria (malaria proxym) secara
berurutan: (Sudoyo, 2007)
a. Periode dingin
Dimulai dengan menggigil, kulit dingin, dan kering, penderita sering membungkus dirinya
dengan selimut atau sarung pada saat menggigil, sering seluruh badan gemetar, pucat sampai
sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam
diikuti dengan meningkatnya temperatur.
b. Periode panas
Wajah penderita terlihat merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tubuh tetap
tinggi, dapat sampai 40oC atau lebih, penderita membuka selimutnya, respirasi meningkat,
nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah dan dapat terjadi syok. Periode ini
berlangsung lebih lama dari fase dingin dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan
keadaan berkeringat.
c. Periode berkeringat
Penderita berkeringan mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, penderita merasa capek dan
sering tertidur. Bial penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan
biasa.
G. Komplikasi
Hampir semua kematian akibat malaria disebabkan oleh P. falciparum. pada infeksi P.
falciparum dapat meimbulkan malaria berat dengan komplikasi umumnya digolongkan
sebagai malaria berat yang menurut WHO didefinisikan sebagai infeksi P. falciparum
stadium aseksual dengan satu atau lebih komplikasi sebagai berikut: (Mansjoer, 2001)
1. Malaria serebral, derajat kesadaran berdasarkan GCS kurang dari 11.
2. Anemia berat (Hb<5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan hitung parasit >10.000/l.
3. Gagal ginjal akut (urin kurang dari 400ml/24jam pada orang dewasa atau <12 ml/kgBB pada
anak-anak setelah dilakukan rehidrasi, diserta kelainan kreatinin >3mg%.
4. Edema paru.
5. Hipoglikemia: gula darah <40 mg%.
6. Gagal sirkulasi/syok: tekanan sistolik <70 mmHg diserta keringat dingin atau perbedaan
temperature kulit-mukosa >1oC.
7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, saluran cerna dan atau disertai kelainan laboratorik
adanya gangguan koagulasi intravaskuler.
8. Kejang berulang lebih dari 2 kali/24jam setelah pendinginan pada hipertermis.
9. Asidemia (Ph<7,25) atau asidosis (plasma bikarbonat <15mmol/L).
10. Makroskopik hemaglobinuri oleh karena infeksi malaria akut bukan karena obat antimalaria
pada kekurangan Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
11. Diagnosa post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada pembuluh kapiler
jaringan otak.
H. Diagnosis
Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti infeksi malaria ditegakkan
dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopik atau tes diagnostik cepat. (Sudoyo,
2007)
1. Anamnesis
a. Keluhan utama, yaitu demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual,
muntah, diare, nyeri otot dan pegal-pegal.
b. Riwayat berkunjung dan bermalam lebih kurang 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik
malaria.
c. Riwayat tinggal di daerah endemik malaria.
d. Riwayat sakit malaria.
e. Riwayat minum obat malaria satu bulan terakhir.
f. Riwayat mendapat transfusi darah.
Selain hal-hal tersebut di atas, pada tersangka penderita malaria berat, dapat ditemukan
keadaan di bawah ini:
a. Gangguan kesadaran dalam berbagai derajat.
b. Keadaan umum yang lemah.
c. Kejang-kejang.
d. Panas sangat tinggi.
e. Mata dan tubuh kuning.
f. Perdarahan hidung, gusi, tau saluran cerna.
g. Nafas cepat (sesak napas).
h. Muntah terus menerus dan tidak dapat makan minum.
i. Warna air seni seperti the pekat dan dapat sampai kehitaman.
j. Jumlah air seni kurang bahkan sampai tidak ada.
k. Telapak tangan sangat pucat.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Demam (37,5oC)
b. Kunjunctiva atau telapak tangan pucat
c. Pembesaran limpa
d. Pembesaran hati
Pada penderita tersangaka malaria berat ditemukan tanda-tanda klinis sebagai berikut:
a. Temperature rectal 40oC.
b. Nadi capat dan lemah.
c. Tekanan darah sistolik <70 mmHg pada orang dewasa dan <50 mmHg pada anak-anak.
d. Frekuensi napas >35 kali permenit pada orang dewasa atau >40 kali permenit pada balita,
dan >50 kali permenit pada anak dibawah 1 tahun.
e. Penurunan kesadaran.
f. Manifestasi perdarahan: ptekie, purpura, hematom.
g. Tanda-tanda dehidrasi.
h. Tanda-tanda anemia berat.
i. Sklera mata kuning.
j. Pembesaran limpa dan atau hepar.
k. Gagal ginjal ditandai dengan oligouria sampai anuria.
l. Gejala neurologik: kaku kuduk, refleks patologis positif.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan dengan mikroskopik
Sebagai standar emas pemeriksaan laboratoris demam malaria pada penderita adalah
mikroskopik untuk menemukan parasit di dalam darah tepi(13). Pemeriksaan darah tebal dan
tipis untuk menentukan:
1) Ada/tidaknya parasit malaria.
2) Spesies dan stadium Plasmodium
3) Kepadatan parasit
b. Pemeriksaan dengan tes diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan
menggunakan metoda immunokromatografi dalam bentuk dipstik.
c. Tes serologi
Tes ini berguna untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria atau pada
keadaan dimana parasit sangat minimal. Tes ini kurang bermanfaat sebagai alat diagnostic
sebab antibodi baru terbentuk setelah beberapa hari parasitemia. Titer >1:200 dianggap
sebagai infeksi baru, dan tes >1:20 dinyatakan positif.
I. Pengobatan Malaria

Obat anti malaria yang tersedia di Indonesia antara lain klorokuin, sulfadoksin-
pirimetamin, kina, primakuin, serta derivate artemisin. Klorokuin merupakan obat antimalaria
standar untuk profilaksis, pengobatan malaria klinis dan pengobatan radikal malaria tanpa
komplikasi dalam program pemberantasan malaria, sulfadoksin-pirimetamin digunakan untuk
pengobatan radikal penderita malaria falciparum tanpa komplikasi. Kina merupakan obat anti
malaria pilihan untuk pengobatan radikal malaria falciparum tanpa komplikasi. Selain itu
kina juga digunakan untuk pengobatan malaria berat atau malaria dengan komplikasi.
Primakuin digunakan sebagai obat antimalaria pelengkap pada malaria klinis, pengobatan
radikal dan pengobatan malaria berat. Artemisin digunakan untuk pengobatan malaria tanpa
atau dengan komplikasi yang resisten multidrugs. (Katzung, 1998)
Beberapa obat antibiotika dapat bersifat sebagai antimalaria. Khusus di Rumah Sakit,
obat tersebut dapat digunakan dengan kombinasi obat antimalaria lain, untuk mengobati
penderita resisten multidrugs. Obat antibiotika yang sudah diujicoba sebagai profilaksis dan
pengobatan malaria diantaranya adalah derivate tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin,
sulfametoksazol-trimetoprim dan siprofloksasin. Obat-obat tersebut digunakan bersama obat
anti malaria yang bekerja cepat dan menghasilkan efek potensiasi antara lain dengan kina.
(Katzung, 1998)

BAB III
PEMBAHASAN
Pada skenario yang berjudul Trekked in The Jungle dapat ditarik kesimpulan bahwa
penderita terkena penyakit malaria tropikana atau malaria tertiana maligna yang disebabkan
oleh plasmodium falciparum. Adapun beberapa masalah yang didapatkan, diantaranya:
Pak Darwin, seorang tentara berusia 35 tahun datang ke Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah dengan keluhan demam sejak 2 minggu yang lalu, keringat dingin, sakit
kepala, mual, pening , dan lelah. Suhu tubuhnya mencapai 40oC dan tipe demam intermitten,
tampak lemah, pucat, dan kekuningan, dengan pernapasan dan tekanan darah yang normal.
Dari gejala penyakit malaria di atas didapatkan gejala demam yang bersifat intermitten yakni
demam yang dalam satu hari terdapat stadium bebas demam atau suhu tubuh mencapai
normal selama beberapa jam. Hal ini disebabkan karena daur hidup P. Falciparum di dalam
tubuh itu sendiri, berkaitan dengan saat pecahnya scizont matang. Selain itu terdapat gejala
keringat dingin akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah.
Adapun gejala klasik yang tercakup dalam Trias Malaria. Secara berurutan yaitu: (Brooks,
2007)
1. Periode dingin (15-60 menit), yaitu penderita selalu merasa kedinginan hingga menggigil.
Terjadi setelah pecahnya scizont dalam eritrosit sehingga keluar zat-zat antigenik yang
menyebabkan perasaan dingin dan menggigil.
2. Periode panas (2-6 jam), dengan suhu sekitar 37,5 o-40oC. panas badan tetap tinggi selama
beberapa jam.
3. Periode berkeringat (2-4 jam), mengeluarkan keringat banyak dan temperatur berangsur
turun, sehingga penderita merasa telah sehat.
Kekuningan atau ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan pada hepar. Penderita
terlihat pucat serta lemah karena mengalami anemia. Anemia ini disebabkan oleh: (Mansjoer,
2001)
a. Penghancuran eritrosit yang berlebihan
b. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time)
c. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang
(diseritropoesis)
Dari pemeriksaan fisik, hepar nya teraba, 1 cm di bawah garis tepi tulang iga di
pertengahan garis klavikula dan limpa nya dapat teraba di Schuffner 2. Dalam kondisi
normal, hepar tidak akan teraba. Tetapi dalam kasus ini, hepar teraba disebabkan karena
terjadi pembesaran. Hepatomegali atau pembesaran pada hepar disebabkan karena
parasitemia. Sebagai organ yang berfungsi sebagai penyaring dan penyimpan darah, hati
dapat beresiko tinggi terjadi gangguan. Hal ini dikarenakan dalam darah banyak mengandung
parasit atau parasitemia. Adapun urutan pelaksanaan palpasi pada hepar yaitu: (Delp, 1996)
1. Berdiri di sisi kanan penderita
2. Letakkan tangan kiri di bawah pinggang kiri penderita
3. Angkat dengan hati-hati ke atas untuk meninggikan massa hati ke lokasi yang lebih mudah
dicapai
4. Lakukan palpasi dengan meletakkan tangan kanan pada kuadran kanan bawah, dengan ujung
jari mendatar dan mengarah ke pinggir iga kanan
5. Saat penderita menarik dan mengeluarkan napas, gerakkan tangan ke atas, sambil menekan
ke bawah
6. Ulangi dengan hati-hati, sambil tangan bergerak ke pinggir iga pada setiap inspirasi
7. Penurunan diafragma selama inspirasi dalam akan menyebabkan hepar ikut terdorong ke
bawah dan batas bawah hati yang membesar dapat dirasa.
Pada palpasi limpa normal, seharusnya tidak teraba. Tetapi dalam skenario limpa dapat teraba
pada Schuffner 2. Schuffner merupakan satuan dalam pengukuran limpa, dengan cara
menarik garis diagonal ke umbilikus. Splenomegali atau pembesaran limpa disebabkan oleh
kongesti atau akumulasi cairan yang yang berlebihan dan dapat dikatakan abnormal.
Kemudian limpa berubah menjadi warna hitam karena pigmen yang ditimbun dalam eritrosit
mengandung parasit dalam kapiler dan sinusoid. Palpasi untuk limpa hampir sama dengan
hepar. Urutannya yaitu: (Delp, 1996)
1. Suruh penderita berbaring terlentang
2. Berdiri pada sisi kanan penderita, letakkan tangan kanan secara datar pada dinding perut
tepat pada pinggir bawah iga, pada garis midklavikularis
3. Letakkan tangan kiri di bawah pinggang kiri dan angkat dengan hati-hati ke atas
4. Suruh penderita melakukan inspirasi dalam, yang menyebabkan limpa turun terdesak oleh
diafragma
5. Limpa mudah diraba bila berbaring miring ke kanan dengan kedua tungkai bawah
difleksikan
6. Jika limpa membesar, akan menyentuh ujung jari tangan kanan, selain itu limpa terasa keras
dan padat
Pasien tersebut baru saja selesai melaksanakan tugasnya di Lampung. Dia bertugas di
hutan selama 7 hari. Dia tidak melakukan kemoprofilaksis apapun. Gejalanya timbul 11 hari
setelah meninggalkan hutan di Lampung. Lampung merupakan salah satu daerah endemis
malaria di pulau Sumatera. Oleh karena itu, sebelum seseorang datang ke daerah endemis
disarankan untuk menggunakan agen kemoterapik sebagai sarana pencegahan timbulnya
suatu penyakit spesifik atau yang biasa disebut dengan kemoprofilaksis. Kemoprofilaksis
bertujuan untuk mengurangi resiko terinfeksi malaria sehingga bila terinfeksi maka gejala
klinisnya tidak berat. Kemoprofilaksis ini ditujukan kepada orang yang bepergian ke daerah
endemis malaria dalam waktu yang tidak terlalu lama. Adapun kemoterapik yang dapat
digunakan untuk daerah dengan malaria P. Falciparum yang resisten terhadap klorokuin
antara lain: (Katzung, 1997)
1. Meflokuin (metode yang dipakai)
Dosis dewasa: Satu tablet 250 mg garam (228 mg basa). Berikan dosis tunggal meflokuin
setiap minggu dimulai satu minggu sebelum masuk ke daerah endemik, sementara disana,
dan untuk 4 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut.
2. Doksisiklin (metode alternatif)
Dosis dewasa: 100 mg/hari. Berikan dosis harian untuk 2 hari sebelum berangkat ke daerah
endemis sebagai uji dosis. Sementara di daerah tersebut, berikan dosis harian; diteruskan
setiap hari selama 4 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut.
3. Klorokuin (metode alternatif kedua)
Dosis dewasa: Klorokuin fosfat, 500 mg garam (300 mg basa). Berikan dosis tunggal
klorokuin setiap minggu dimulai 2 minggu sebelum masuk daerah endemis, sementara di
sana, dan untuk 4 minggu setelah meninggalkan daerah tersebut.
4. Proguanil (bila tersedia)
Dosis dewasa: 1 x 200 mg/hari.
5. Pirimetamin-sulfadoxin (Fansidar)
Hanya satu dosis, dosis dewasa: 3 tablet. Untuk satu kali pengobatan diri sendiri terhadap
kemungkinan infeksi.
Gejala baru timbul setelah 11 hari dikarenakan masa inkubasi dari P. Falciparum yaitu 9-14
hari. Oleh karena itu, dalam rentang waktu tersebut, gejala baru muncul. (Brooks, 2007)
Apusan darah diambil saat pasien sedang demam dan hasilnya ditemukan trofozoit P.
Falciparum 12/1000 RBC (sama dengan parasitemia 51.245/L). Apusan darah diambil saat
pasien demam dikarenakan saat demam banyak ditemukan parasit dalam darah, sehingga
memudahkan dalam pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan 12 parasit
dalam darah. (Katzung, 1997)

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Malaria merupakan suatu penyakit yang bersifat akut maupun kronik, yang disebabkan
oleh protozoa genus Plasmodium, yang ditandai dengan demam, anemia dan pembesaran
limpa. Plasmodium sebagai penyebab malaria terdiri dari 4 spesies, yaitu P. falciparum, P.
ovale, P. vivax, dan P. malariae. Malaria juga melibatkan hospes perantara yaitu nyamuk
anopheles betina. Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual dalam tubuh nyamuk
anopheles betina dan fase aseksual dalam tubuh manusia. Manifestasin klinik dari penyakit
malaria ditandai dengan gejala prodromal, trias malaria (menggigil-panas-berkeringat),
anemia dan splenomegali. Diagnosis malaria ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik
dan laboratorium.
B. Saran
Adapun saran-saran perlunya program pemberantasan malaria melalui kegiatan:
1. Menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk anopheles betina
2. Menganjurkan kepada masyarakat yang akan bepergian ke daerah endemis malaria agar
mengkonsumsi kemoprofilaksis malaria
3. Penatalaksanaan yang efektif dan efisien kepada pasien yang meliputi diagnosis secara dini
dan pengobatan yang cepat dan tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal.