Anda di halaman 1dari 12

Mu'tazilah, Kelompok Sesat Pemuja Akal

Rabu, 18-Januari-2006, Penulis: Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Lc

Sejarah Munculnya Mutazilah


Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2
Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah
Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya
adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang
bernama Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah
pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan
bidahnya, ia didukung oleh Amr bin Ubaid (seorang gembong Qadariyyah
kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bidah,
yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat Firaq Muashirah, karya
Dr. Ghalib bin Ali Awaji, 2/821, Siyar Alam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi,
5/464-465, dan Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48)

Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mutazilah semakin


berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para
dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di
masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-
benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan
mencampakkan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah -pen). (Al-Milal Wan-
Nihal, hal.29)
Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: Akal
lebih didahulukan daripada syariat (Al Quran, As Sunnah dan Ijma, pen) dan
akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan
dengan akal menurut persangkaan mereka maka sungguh syariat tersebut
harus dibuang atau ditakwil. (Lihat kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi
alal Mutazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/65)
(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari
syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika
terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk
merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat
dalam Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka
Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka
membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat
dalam An-Nahl: 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal
siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain
yang menunjukkan batilnya kaidah ini. Untuk lebih rincinya lihat kitab Daru
Taarrudhil Aqli wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab
Ash-Shawaiq Al-Mursalah Alal-Jahmiyyatil-Muaththilah, karya Al-Imam
Ibnul-Qayyim.)

Mengapa Disebut Mutazilah?


Mutazilah, secara etimologis bermakna: orang-orang yang memisahkan diri.
Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak bisa dipisahkan dengan
sosok Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang imam di kalangan tabiin.
Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-
Hasan Al-Bashri seraya berkata: Wahai imam dalam agama, telah muncul di
zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah
dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat
mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij.
Sedangkan kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa
besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap
keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun
dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan
sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah
Murjiah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar
kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)?
Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut.
Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha
berseloroh: Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia
juga tidak kafir, bahkan ia berada pada suatu keadaan di antara dua
keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir. Lalu ia berdiri dan duduk
menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya
tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan Al-

Bashri berkata: Washil telah memisahkan diri dari kita,

maka disebutlah dia dan para pengikutnya dengan sebutan Mutazilah.(Al-
Milal Wan-Nihal,hal.47-48 )
Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban
Ahlussunnah Wal Jamaah: Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa
syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena
keimanannya, ia masih disebut mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut
fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna). (Lihat kitab Lamhah
Anil-Firaq Adh-Dhallah, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal.42)

Asas dan Landasan Mutazilah


Mutazilah mempunyai asas dan landasan yang selalu dipegang erat oleh
mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun.
Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima
landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut:
Landasan Pertama: At-Tauhid
Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan
sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti
telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan
kepada Allah, menurut mereka (Firaq Muashirah, 2/832). Oleh karena itu
mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah
(orang-orang yang mensucikan Allah).
Bantahan:
1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
Dalil ini sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sami
(naqli) dan aqli yang menerangkan tentang kebatilannya. Adapun dalil
mensifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat yangsami: bahwa Allah
berfirman:begitu banyak, padahal Dia Dzat Yang MahaTunggal. Allah

0
0

0 0


0

Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang


menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali),
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai Arsy
lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Buruuj:
12-16)
0 0

0 0
0 0
0 0






0
Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan
Menyempurnakan (penciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-
masing) dan Memberi Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia
jadikan rerumputan itu kering kehitam-hitaman. (Al-Ala: 1-5)
Adapun dalil aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari
yang disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak
menunjukkan bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari
sekian sifat yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu
yang ada ini pasti mempunyai berbagai macam sifat (Al-Qawaidul-
Mutsla, hal. 10-11)
2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat
makhluq bukanlah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah Al-Hamawiyah: Menetapkan sifat-
sifat Allah tidak termasuk meniadakan kesucian Allah, tidak pula menyelisihi
tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Bahkan ini termasuk
konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang
meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam
kesyirikan. Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka
terlebih dahulu menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.
Lebih dari itu, ketika mereka meniadakan sifat-sifat Allah yang sempurna itu,
sungguh mereka menyamakan Allah dengan sesuatu yang penuh
kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tidak mungkin sesuatu itu ada
namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena itu Ibnul-Qayyim
rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan Abidul-
Maduum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). (Untuk lebih
rincinya lihat kitab At- Tadmuriyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,
hal.79-81)
Atas dasar ini mereka lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Muaththilah,
dan penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.
Landasan kedua: Al-Adl (keadilan)
Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya
kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan kejelekan datang dari makhluk
dan di luar :. Dalilnya adalah firman Allah kehendak (masyiah) Allah

Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan. (Al-Baqarah: 205)

Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. (Az-Zumar: 7)


Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan,
kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi
(mentaqdirkannya). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan
Ahlul-Adl atau Al-Adliyyah.
Bantahan:
Asy-Syaikh Yahya bin Abil-Khair Al-Imrani t berkata: Kita tidak sepakat
bahwa kesukaan dan keinginan itu satu. :Dasarnya adalah firman Allah

Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Ali Imran:


32)
Padahal kita semua tahu bahwa Allah-lah yang menginginkan adanya orang-
orang kafir tersebut dan Dialah yang menciptakan mereka. (Al-Intishar
Firraddi Alal- Mutazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/315)
Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwasanya apa yang dikehendaki dan
dikerjakan hamba berfirman:tidak lepas dari kehendak dan ciptaan-Nya.
Allah

Dan kalian tidak akan mampu menghendaki (jalan itu), kecuali bila
dikehendaki Allah. (Al-Insan: 30)

Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang kalian perbuat. (Ash-
Shaaffaat: 96)
Dari sini kita tahu, ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai yang
merupakan bagian darikedok untuk mengingkari kehendak Allah . Atas
dasar inilah mereka lebih pantas disebut dengantaqdir Allah Qadariyyah,
Majusiyyah, dan orang-orang yang zalim.
Landasan Ketiga: Al-Wadu Wal-Waid
Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah I
untuk memenuhi janji-Nya (al-wad) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan
ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-waid) bagi pelaku
dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar,
kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya.
Karena inilah mereka disebut dengan Waidiyyah.
Bantahan:
1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan
pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-
Nya. Dan tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang , karena
termasuk pelecehan terhadapdemikian itu kepada Allah Rububiyyah-Nya
dan sebagai bentuk keraguan terhadap firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji (-Nya). (Ali Imran: 9)


Bahkan Allah mewajibkan bagi diri-Nya sendiri sebagai keutamaan untuk
para hamba-Nya.
Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa
besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu,
maka sesuai dengan kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan
ancaman-Nya dan Maha berhak pula untuk tidak melaksanakannya, karena
Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha
Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Terlebih lagi Dia telah menyatakan:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya


meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di
bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa: 48)
(Diringkas dari kitab Al-Intishar Firraddi Alal-Mutazilatil-Qadariyyah Al-
Asyrar, 3/676, dengan beberapa tambahan).
2. Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik)
kekal abadi di An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah
dalam Surat An-Nisa ayat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda
Rasulullah r yang artinya: Telah datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar
gembira, bahwasanya siapa saja dari umatku yang meninggal dunia dalam
keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya akan masuk ke dalam al-jannah.
Aku (Abu Dzar) berkata: Walaupun berzina dan mencuri? Beliau menjawab:
Walaupun berzina dan mencuri. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat
Abu Dzar Al-Ghifari)
(Meskipun mungkin mereka masuk neraka lebih dahulu (ed).)

Landasan Keempat: Suatu keadaan di antara dua keadaan


Yang mereka maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak
bertingkat-tingkat, sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar
(walaupun di bawah syirik) maka telah keluar dari keimanan, namun tidak
kafir (di dunia). Sehingga ia berada pada suatu keadaan di antara dua
keadaan (antara keimanan dan kekafiran).
Bantahan:
1.Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan
dan berkurang :dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah




Dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah
keimanan mereka. (Al-Anfal: 2)
Dan juga firman-Nya:

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang


munafik) ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah
imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman,
maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan
adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan
surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah
ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (At-Taubah: 124-125)
Dan firman-Nya:

Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke


dalam Al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang
demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah. (Al-Fath: 4)



























0

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat. Dan
tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan sebagai cobaan
bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi
yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mumin itu tidak ragu-ragu
dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-
orang kafir (mengatakan): Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan
ini sebagai suatu perumpamaan? Demikianlah Allah menyesatkan orang-
orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu
melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi
manusia. (Al-Muddatstsir: 31)

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka
ada orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya manusia telah
mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada
mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-
baik Pelindung. (Ali Imran: 173)

0

0




Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku


bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman: Belum
yakinkah kamu? Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi
agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)... (Al-Baqarah: 260)
bersabda: Keimanan ituRasulullah (mempunyai) enam puluh sekian atau
tujuh puluh sekian cabang/tingkat, yang paling utama ucapan Laa ilaaha
illallah, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan
sifat malu itu cabang dari iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat
Abu Hurairah z)
2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa
dikeluarkan dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin
namun kurang iman, karena Allah masih menyebut dua golongan yang saling
bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang
yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:







Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling
bertempur, maka damaikanlah antara keduanya... (Al-Hujurat: 9)
Landasan Kelima: Amar Maruf Nahi Mungkar
Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap
pemerintah (muslim) yang zalim.
Bantahan:
Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip
sesat yang bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah.
berfirman:Allah



0
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan
ulil amri (pimpinan) di antara kalian. (An-Nisa: 59)
Rasulullah r bersabda: Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak
mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan
ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.
(Hudzaifah berkata): Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku
mendapati mereka? Beliau menjawab: Hendaknya engkau mendengar
(perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan
hartamu diambil. (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman)
[Untuk lebih rincinya, lihat majalah AsySyariah edisi Menyikapi Kejahatan
Penguasa]

Sesatkah Mutazilah?
Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al
Quran dan As-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan
mereka. Lalu bagaimana bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya
yang mereka punyai, seperti:
- Mendahulukan akal daripada Al Quran, As Sunnah, dan Ijma Ulama.
- Mengingkari adzab kubur, syafaat Rasulullah untuk para pelaku dosa,
ruyatullah (dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari
kiamat, Ash-Shirath (jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam),
telaga Rasulullah di padang Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah
diciptakannya Al-Jannah dan An-Naar (saat ini), turunnya Allah ke langit
dunia setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir), dan lain sebagainya.
- Vonis mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam
pertempuran Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabiin), bahwa
mereka adalah orang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima
persaksiannya. Dan engkau sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa
besar, di dunia tidak mukmin dan juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal
abadi di dalam an-naar.
- Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya
merupakan kesyirikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam
(berbicara) bagi Allah dengan sifat Menciptakan, sehingga mereka
terjerumus ke dalam keyakinan kufur bahwa Al-Quran itu makhluq, bukan
Kalamullah. Demikian pula mereka mentakwil sifat Istiwaa Allah dengan sifat
Istilaa (menguasai).
Kalau memang menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan,
mengapa mereka tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa bagi Allah?! (Lihat
kitab Al-Intishar Firraddi Alal-Mutazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, Al-Milal Wan-
Nihal, Al-Ibanah an Ushulid-Diyanah, Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah dan
Ash-Shawaiq Al-Mursalah alal Jahmiyyatil-Muaththilah)
Para pembaca, betapa nyata dan jelasnya kesesatan kelompok pemuja akal
ini. Oleh karena itu Al-Imam Abul-Hasan Al-Asyari (yang sebelumnya sebagai
tokoh Mutazilah) setelah mengetahui kesesatan mereka yang nyata, berdiri
di masjid pada hari Jumat untuk mengumumkan baraa (berlepas diri) dari
madzhab Mutazilah. Beliau melepas pakaian yang dikenakannya seraya
mengatakan: Aku lepas madzhab Mutazilah sebagaimana aku melepas
pakaianku ini. Dan ketika Allah beri karunia beliau hidayah untuk menapak
manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, maka beliau tulis sebuah kitab bantahan
untuk Mutazilah dan kelompok sesat lainnya dengan judul Al-Ibanah an
Ushulid-Diyanah. (Diringkas dari kitab Lamhah Anil-Firaq Adh-Dhallah, hal.
44-45).
Wallahu alam bish-shawab.

(http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=171